Menghargai Ragam Perbedaan versi Yogyakarta Independent School - Jurnal Hati

Selasa, 04 Februari 2020

Menghargai Ragam Perbedaan versi Yogyakarta Independent School


Assalamualaikum temans,

Jumat 31 Januari 2020 Yogyakarta Independent School atau biasa dikenal dengan nama YIS mengadakan Barongsai Event. Saya termasuk orang yang beruntung bisa hadir dan bergabung untuk mengenal bagaimana sekolah yang ternyata sudah berusia 30 tahun ini mendidik siswa siswinya. Saya dan Vera teman sesama blogger mendapatkan kesempatan untuk berbincang dengan dengan kepala sekolah ibu Kimberly Kingry dan wakil kepala sekolah Ibu Karin Albers. 

Masuk ke lingkungan sekolah internasional di Yogyakarta ini, saya seperti berkunjung ke sebuah ‘dunia kecil’ dimana beberapa suku dan ras di dunia ada di sini. 
Menyenangkan melihat mereka saling menyapa dengan akrab. Saya melihat bagaimana Ibu Karin berinteraksi dengan seorang gadis kecil siswa kindergarten. Kelihatan tulus banget. 

Murid YIS sedang menunjukkan karyanya pada Ibu Karin 
Agak kaget juga saya ketika mendengar siswa Yogyakarta Independent School ini menyapa gurunya dengan sebutan Ibu. Bayangan saya karena sekolah ini berbasis kurikulum internasional, maka panggilan terhadap pengajar ya menggunakan Mr atau Mrs. Ternyata pepatah ‘dimana kaki dipijak disitulah langit dijunjung’ berlaku di sini. Senangnya saya di lingkungan ini. 

Yogyakarta Independent School (YIS) selalu mengadakan kegiatan-kegiatan keagamaan ataupun budaya yang terkait dengan siswa siswi yang bersekolah di YIS. Kegiatan tersebut rutin dilakukan setiap tahunnya. Tak hanya siswa yang terlibat dalam kegiatan ini. Walimurid pun menjadi partner sekolah dalam mempersiapkan setiap event yang berlangsung.

Sebelum acara dimulai saya sempat berkeliling masuk atau sekedar mengintip ke beberapa kelas. Menyenangkan sekali merasakan tempat sekolah yang jauh dari cuaca panas meski di luar matahari sungguh menyengat. Sirkulasi udara gedung YIS bagus banget sehingga di dalam ruangan pun tetap adem. 



Saya sempat masuk ke kelas kindergarten. Fasilitas yang dimiliki kelas sedemikian lengkap. Saya suka sekali dengan pojok buku yang tertata rapi. Karya anak-anak yang tertempel, dan yang menurut saya kece parah tuh waktu anak-anak mengisi absennya sendiri-sendiri. Anak-anak juga kelihatan excited banget dengan kegiatan mereka.



Di papan tulis ditempelkan beberapa kalimat yang biasa digunakan untuk berkomunikasi. Menurut saya magical words itu benar-benar mengajarkan anak untuk bersopan santun antar teman. Ini adalah tindakan nyata dari sekolah untuk menghindarkan kekerasan yang terjadi antar siswa. Jadi membentuk anak yang berkarakter tak sekadar slogan semata. 



Lantas kami diajak untuk melihat berbagai karya anak di kelas yang tingkatannya lebih tinggi. Saya makin kagum aja dengan cara pembelajaran di sekolah ini. Anak diajarkan untuk mengenali dirinya, , passion, dan apa yang mereka inginkan di masa depan. Gerakan literasi dasar pun dilakukan dengan menyenangkan dan membutuhkan kreativitas. 



Di sebuah tembok menuju lantai atas, karya anak-anak yang memiliki passion melukis pun terpajang di sisi tangga. Selain itu beberapa karya anak pun berada di kelas art. Semua karya anak diapresiasi di sini. Semua anak bisa merasa bangga bahwa karyanya dinikmati oleh banyak orang. Saya pun makin kagum dengan keberadaan sekolah ini.



Semua kekaguman saya itu terjawab. Yogyakarta Independent School ini menggunakan kurikulum internasional untuk menyusun teknis pembelajarannya. Ada banyak kurikulum internasional yang dipakai oleh sekolah internasional. Dan YIS memilih menggunakan kurikulum International Baccalaureate.

Kurikulum International Baccalaureate ini berasal dari Swiss. Kurikulum ini ditujukan untuk anak dengan usia 3-18 tahun. Kurikulum ini diterapkan untuk pre-school sampai high school. Program IB yang ditawarkan oleh YIS adalah: 

  • IB Primary Years Programme (PYP) untuk usia 3-12 tahun (setara TK dan SD)
  • IB Middle Years Programme (MYP) untuk usia 11-14 tahun (setara SMP)
  • IB Diploma Programme (DP) untuk usia 15-18 tahun (setara SMA)

Apa sih kelebihan dari kurikulum International Baccalaureate ini?

Kelebihan dari kurikulum ini adalah mengeksplorasi kemampuan anak di berbagai bidang. Jadi nggak hanya seputar sains, matematika, atau bahasa. Tetapi kurikulum ini mendorong siswanya untuk berwawasan global, kreatif, mengembangkan kemampuan emosi, intelektual dan sosial. Mereka juga diharapkan berkontribusi positif terhadap lingkungan dan budayanya. Dengan kurikulum ini diharapkan bakat dan minat anak semakin berkembang. 

Di YIS tempo hari kebetulan sekali saya ketemu Mbak Atik, salah satu sahabat di komunitas menulis. Ngobrol dengan mbak Atik membuat saya yakin kualitas dari YIS sendiri.

Mbak Atiek, walimurid YIS, teman komunitas IIDN Jogja. Tiga putra putrinya di sekolahkan di YIS

Menurut mbak Atik, YIS mempunyai kurikulum IB yg menyiapkan murid-muridnya bisa mengaplikasikan apa yang diperoleh di sekolah ke dalam kegiatan sehari-hari dan dalam kehidupan yang nyata. 

“Kami memilih anak-anak untuk belajar di YIS, karena sebelumnya mereka sudah belajar dengan kurikulum IB, jadi tidak perlu adaptasi lagi dalam proses belajar mengajar. Dalam proses IB dikenal dengan nama UoI (Unit of Inquiry) yang akan dibahas selama beberapa minggu sebagai patokan untuk kegiatan proses belajar. Saya melihat anak-anak saya jadi lebih kreatif dan biasa membahas suatu topik jadi lebih dalam. Sebenarnya di kurikulum sekolah nasional sebenarnya juga sudah dikenal dengan nama tematik. Tetapi saya kurang tahu bagaimana aplikasinya pada sekolah nasional. Kalau di IB standardnya jelas, karena pengawasan yang cukup ketat. O ya, yang menyenangkan lagi guru-gurunya siap membantu setiap saat. Kalau menjelang ulangan dirasa kurang siap, murid akan diajari lebih mendalam, ditambah latihan,” begitu kata Mbak Atik. 

Lalu beliau melanjutkan,”Berbicara tentang YIS, situasi sekolah dan hubungan antar personal begitu akrab. Baik itu antar murid, guru maupun dengan karyawan, semuanya akrab. Bullying dilarang keras dan yang pasti anak-anak saya happy bersekolah di sini.”

Saya jadi tahu sekarang mengapa Mbak Atik menyekolahkan tiga anak beliau di Yogyakarta Independent School. 


Menghargai perbedaan

Diadakannya Barongsai event ini tentu saja terkait dengan tahun baru imlek. Beberapa siswa yang bersekolah di sana merayakannya. Untuk mengajarkan toleransi diantara suku dan ras siswa yang memang heterogen ini YIS pun mendatangkan penari Barongsai. Anak-anak begitu antusias menyambut event ini. Begitu juga dengan para walimurid. Warna merah mendominasi Yogyakarta Independent School hari itu. 

Add caption

Antusiasme anak-anak terlihat saat penari dengan membawa boneka naga mulai menari meliuk liuk disertai dengan formasi yang berubah-ubah. Suara musik yang berasal dari simbal dan drum membuat tarian semakin meriah. Setelah itu baby barongsai dengan warna merah, pink dan biru membuat anak-anak khususnya di tingkat pre-school tertawa terbahak-bahak. Lantas ketika pertunjukan selesai anak-anak ini memberikan angpau kepada pemain barongsai kemudian berfoto bersama.



Ada yang menarik ketika suara musik seni Barongsai berkumandang. Anak-anak SD yang berada di sekolah dekat YIS melongkok melihat dari kejauhan. Pihak sekolah pun mempersilakan anak-anak SD sebelah untuk mendekat. Bahkan disediakan kursi untuk anak-anak dari luar sekolah. Anak-anak dari SD sebelah pun bisa menikmati kesenian barongsai selama mereka mau. Indah bukan?



Mungkin anak-anak belum memahami arti toleransi. Namun saya yakin mereka memahami apa itu berbagi. Contoh nyata pihak sekolah mengajarkan pada anak-anak. Bahwa sebelum mereka mengajarkan kebaikan, mereka memberikan keteladanan. 

Jadi, buat anda yang menginginkan anak-anak bersekolah dengan kurikulum internasional, saya rekomendasi banget sekolah ini, khususnya di wilayah Yogyakarta. Yuk cus ke:

YOGYAKARTA INDEPENDENT SCHOOL (YIS)

Jl. Tegal Mlati No. 1, Jombor Lor, Sinduadi, Mlati, Sleman,
Daerah Istimewa Yogyakarta, 55284, Indonesia
Phone: +6282241044242 // (0274) 5305147 dan 5305148









Tidak ada komentar: