Februari 2020 - Jurnal Hati

Jumat, 21 Februari 2020

Tips Memulai Bisnis Online Shop


Pada jaman ini, sudah memasuki era dimana segala sesuatu kebutuhan serta kepentingan dapat diakses dengan mudah melalui internet. Seperti salah satu contoh yang dapat diambil adalah ketika kita akan melakukan pengambilan suatu keputusan bersama atau polling, dimana melakukan hal itu tidak harus saling bertemu bertatapan muka, cukup dengan membuka satu aplikasi media sosial yang memiliki fitur tersebut dan pengambilan keputusan akan terlaksana saat itu juga dengan baik. bahkan selain itu yang sangat populer dan digemari banyak orang adalah melakukan jual – beli secara online seperti berbelanja kemaja wanita. Segala keperluan hidup dari ujung rambut hinga ujung kaki ataupun kebutuhan lainnya dapat ditemukan dengan mudah melalui beberapa situs – situ belanja online maupun melalui platform platform media sosial yang dapat digunakan dengan mudah. Lalu dengan kata lain siapapun bisa untuk berkesempatan memulai berbisnis didunia online yang sangat marak ini, bahkan bagi anda yang ingin mencobanya namun masih banyak hal hal di khawatirkan, sebaiknya tidak perlu dipikirkan karna itu hanyak akan membuang buang waktu saja, maka lebih baik langsung saja untuk membaca artikel ini yang mudah-mudahan dapat membantu anda juga memberanikan diri tuk memulai bisnis online yang tentu mengiurkan.

Anda sebaiknya memiliki website resmi terlebih dahulu sebagai tempatnya bernaung produk yang anda jual di internet. Dengan adanya website maka para konsumen akan dengan mudah melihat – lihat produk anda dalam satu halaman di internet. Dengan memiliki website resmi maka akan menjadikan nilai plus bagi produk yang anda jual dibandingkan dengan yang belum memiliki website. Dalam website akan terdapat informasi mengenai toko, alamat, kontak telpon dan identitas penting lainnya yang dapat disimpan di website, kemudian informasi seputar produk secara detail, harga produk, cara memesan dan pembayaran hingga cara pengembalian produk jika terjadi kesalahan. 

Selanjutnya manfaatkanlah media sosial untuk penjualan serta pemasaran produk, mengiklan kan produk pada beberapa platform media sosial yang populer disemua kalangan. Dikarnakan saat ini media sosial sangat berperan aktif dalam memajukan bisnis online, dimana semua konsumen memiliki media sosial dan selalu aktif setiap saat membuka media sosialnya yang tentu merupakan target untuk penjualan bisnis online. Maka pergunakanlah fitur-fitur canggih yang tersedia. Untuk itu agar lebih mudah anda dapat menggunakan salah satu tools yang gunanya ketika anda memposting satu konten yang dapat langsung tersambung dengan banyak akun sosial media, seperti instagram, facebook, twitter dan lainnya yaitu, hootsuite dan bufferapp untuk manajemen media sosial dan juga tools google analytics, google trends yang bermanfaat untuk pemasaran.

Melakukan promosi melalui akun terkenal dari publik figur atau lebih sering dikenal dengan sebutan endorsement. Melakukan promosi yang berulang-ulang dilakukan oleh artis-artis atau seorang influencer lainnya yang dapat mempengaruhi para konsumen lain yang melihatnya sehingga memiliki ketertarikan untuk melihat produk anda. Namun melakukan promosi ini mempunyai tarif yang beragam sesuai dengan jumlah followers dari akun tersebut. 

Agar membuat produk anda lebih menarik maka buatlah suatu desain untuk memasarkan produk anda di media sosial, dapat mengunakan tools canva yang mudah untuk membuat desain dengan beragam template yang tersedia, kemudian dihiasi dengan berbagai tambahan stiker ataupun foto juga caption menarik dan banyak lagi yang bisa anda kreasikan. Walaupun banyak kekurangan dan kelebihan belanja di tempat terpercaya maupun yang baru memasuki dunia bisnis online, namun alangkah baiknya untuk menjadi tempat online shop yang baik juga terpercaya bagi pelanggan, karna hal tersebut akan memberikan reputasi yang baik pada produk.. 




Selasa, 18 Februari 2020

Perempuan Kuat itu Bernama Bunga Citra Lestari
Cr : Instagram @bclsinclair

Masyarakat Indonesia dikejutkan dengan berita meninggalnya Ashraff Sinclair, seorang aktor yang merupakan suami dari penyanyi Bunga Citra Lestari. Sehari sebelumnya keluarga Sinclair baru saja melakukan perjalanan dari luar negeri. Malamnya pun Unge, panggilan akrab Bunga Citra Lestari masih menjadi juri Indonesian Idol. Beberapa jam kemudian ia harus menerima takdir Allah menghendaki kembalinya sang belahan jiwa.

Saya hanya mengetahui mereka lewat media. Namun ternyata saya juga bersedih mendengar berita tersebut. Keluarga Sinclair relatif sepi dari berita miring. Couple goals mereka digadang-gadang menjadi pengganti pasangan Widyawati dan Sophan Sophiaan. Sebagian masyarakat Indonesia menganggap mereka adalah Indonesia' sweetheart. 

Mereka sering membagi kebersamaan bersama keluarga di sosial media. Saya sampai stalking instagram keduanya. Bahkan sampai IG uminya Ashraff. Mereka terlihat saling menyayangi. Bahkan ibu Ashraff pun tak segan memuji menantunya. Mereka keluarga besar yang harmonis. Melihat channel youtube BCL pun saya merasakan kehangatan hubungan keluarga mereka. Ketulusan senyum dan tawa yang hadir di antara mereka. Sentuhan ringan selalu hadir dalam bahasa tubuh mereka. 

Hari ini seperti sebuah mimpi buruk bagi keluarga Sinclair. Begitu mengagetkan ketika sebelumnya Ashraff masih bercanda dengan BCL sebelum Ashraff tidur. Laki-laki berasal dari Malaysia ini pergi dalam tidurnya. 

Saya membayangkan betapa shock nya BCL. Bisa jadi ia pingsan berkali-kali. Apalagi pernah dalam tayangan berita entertainment ia mengatakan tak bisa hidup tanpa Ashraff. Namun tayangan di sebuah liputan berita entertainment yang saya tonton tadi jauh dari bayangan saya. Di parkiran rumah sakit, BCL berdiri kuat. Ia memeluk Noah sang buah hati. Diciumnya berkali-kali pucuk kepala Noah yang terdiam dalam pelukan ibunda. 

Benar, wajahnya sembab. Masih terlihat basah oleh air mata. Langkahnya gontai. Namun ia masih kuat berjalan dengan menggandeng tangan Noah. 

Saya pun mencari berita lain hari ini. Terlihat BCL tabah menerima tamu. Ia masih bisa bercakap dengan pentakziah di sisi jenazah sang suami. Tangannya memegang tasbih. Ia menggerakkan butir tasbihnya dalam keterdiaman. Saya yakin, di hatinya ia sedang berdzikir. Memanggil asma-Nya. Memohon kekuatan. Bahkan saat berada di dalam mobil saat hendak mengantar sang suami dalam beberapa detik pun terlihat tangan lentiknya masih menggerakkan butir tasbihnya. Dengan tatapan kosong. Sesekali memejamkan mata. Saya yakin mata masyarakat yang sedang tertuju padanya pasti meneteskan air mata melihat adegan ini sekilas.

Bunga Citra Lestari tetap begitu kuat berjalan mendekati 'rumah' baru kekasihnya. Ia sangat tegar menerima ucapan dan pelukan sahabat-sahabatnya. Duduk di samping Noah ia sering membisikkan sesuatu di telinga putra satu-satunya ini. Terlihat Noah mengusap air matanya. Ekspresi kehilangan tampak di wajahnya. Namun kekuatan sang ibu menular padanya. Ia mewarisi ketegaran sang ibunda. 

Sungguh luar biasa kekuatannya. Sama sekali ia tak meratap. Saya tak melihat histeria kehilangan nampak di dirinya. Cukup dengan tetesan air mata yang tak berhenti mengalir, semua orang sudah tahu. Kehilangan suami sungguh memukul hati dan jiwanya.

Dalam Islam memang tak dianjurkan seorang perempuan hadir di pemakaman karena dikhawatirkan akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Di masa Rasulullah banyak wanita di pemakaman yang menangis menjerit-jerit dan berteriak-teriak karena kesedihannya. Bahkan tak jarang seorang wanita merobek-robek pakaiannya karena hilang kendali. Itulah mengapa perempuan dianjurkan untuk berada di rumah saat pemakaman jenazah dilakukan. Namun jika perempuan mampu mengendalikan dirinya, hal itu dibolehkan. 
Hal itu diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang disampaikan oleh Ummu Athiyah :
“Kami (para perempuan) dilarang mengiringi jenazah. Namun larangannya tidak terlalu keras bagi kami.”


BCL dan stigma yang melekat
Orang mengenal Bunga Citra Lestari adalah perempuan yang suka mengenakan baju terbuka. Banyak laki-laki mengagumi tubuh dan wajahnya. Saya yakin dalam posisinya saat Ashraff masih berada di sisinya perempuan cantik ini masih banyak yag mencoba mendekat. Namun BCL begitu menjaga hati. Sebelas tahun pernikahan tanpa berita miring merupakan sebuah prestasi dalam dunia entertainment Indonesia yang penuh gimick dan drama. Kesaksian tetangga pun menyebutkan bahwa keluarga Sinclair sering shalat berjamaah di masjid dekat rumah. Itu artinya Unge yang sering dianggap negatif oleh sebagian masyarakat karena pakaian terbukanya masih menegakkan tiang agamanya. 

Ketegarannya menerima takdir Allah inipun menurut saya juga bagian dari pemahaman yang baik tentang agamanya. Walaupun masyarakat akan memaklumi jika saja ia menangis histeris atau meratapi kepergian Ashraff, ia tak melakukan itu. Ia tak hanya menguatkan dirinya sendiri. Ada Noah yang harus ia jaga. Ada orang tua Ashraff yang tak kalah kehilangannya. Dan bagi saya pribadi, semua yang terlihat hari ini adalah Unge tanpa gelar diva Indonesia. Seorang ibu, seorang istri yang memahami bahwa yang ia miliki sesungguhnya hanya titipan Allah. 

Unge, my heart goes with you. Be strong and be brave with Allah. 




Sabtu, 15 Februari 2020

5 Hal Bikin Hepi Gabung di Gandjel Rel

Saya masih baper gegara nggak bisa gabung di perayaan ultah Komunitas Gandjel Rel yang ke lima. Selain gegara sempat bermasalah dengan kaki sehingga dilarang suami naik motor atau mobil jauh-jauh, sudah ada agenda yang dirancang anak-anak di hari itu jauh hari sehingga saya nggak tega mengecewakan mereka. 

Saya udah ngebayangin hepinya ketemu temen-temen Gres. Udah lama nggak ngumpul tuh bikin kangen. Kebayang deh serunya acara tahun kemarin. Pokoknya komunitas Gandjel Rel itu salah satu komunitas terbaik yang pernah saya ikuti. 

Sering loh saya ditanya. Saya kan tinggal di Muntilan. Kok mau-maunya ikutan event atau ngumpul ke Semarang. Nah ... Ini nih lima hal kenapa saya hepi banget ngumpul dengan mereka.

Persaudaraan yang kuat
Saya kenal beberapa member Gandjel Rel udah lama banget. Pokoknya seumuran Alde anaknya mb Dedew deh. Soalnya ketemu pertama tuh pas Mb Dedew masih hamil Alde. Setelah pertemuan pertama jadilah kami sering ketemu kalau pas sayanya ke Semarang. Pokoknya nyari waktu banget untuk ketemuan kalau pas di Semarang. Rugi banget kalau nggak ngumpul. Udah gitu kalau ngumpul wajib sampai sore pula. Terus kalau pas ada teman member Gandjel Rel yang kena musibah, dengan ringan tangan member yang lain ikutan support. 

Nggak pelit berbagi ilmu
Siapapun bisa berbagi ilmu di Gandjel Rel. Mau pertemuan off air atau di WAG sering banget dapet ilmu yang bermanfaat. Mau nanya tentang psikologi ada mb Nia dan mb Rizka Alyna, mau nanya tentang blogging bisa ke mb Untari, mb Marita, atau founder Gandjel Rel yang emang udah lama blogging. Mau nanya tentang asuransi atau keuangan? Bisalah nanya sama Bu Rinas yang expert pengetahuannya. Atau pengen nanya tempat wisata keren? Bisa dong ke Mara, Tina, Erina, Lee, atau mb Ika dan mb Wati. Tentang perbukuan, cus langsung ke Mb Dedew, mb Dian Nafi, atau mb Lia Herliana yang aktif banget nerbitin buku. Pokoknya terlove deh.

Suka bagi-bagi kerjaan
Ini mungkin bagian yang paling disukai. Semua orang bisa bagi-bagi kerjaan. Pokoknya tinggal ngelist aja. Insya Allah listnya bakal disetor ke klien dan di approve. Nggak ada yang pilih kasih. Semua punya kesempatan yang sama untuk dapat kerjaan di grup itu. Oke kan?

No baper baper club
Nggak ada namanya member left grup gegara baper. Misal ada hal yang perlu diomongin ya dijerengin aja di WAG. Beda pendapat biasa aja. Dan senengnya saya tuh ada mb Uniek yang selalu ngingetin supaya jadi pekerja yang profesional di dunia digital. Doi macak antagonis, tapi sebenarnya hatinya lembuut banget. Gampang mewek benernya kalau tersentuh.

Profesional
Meski persaudaraan kuat, masalah pekerjaan tetap dilakukan dengan profesional. Kalau memang tidak memenuhi standar ya jangan harap dapat pekerjaan lagi. Coba deh lihat blog nya member Gandjel Rel. Mulai tampilan blog sampai penulisan dilakukan dengan baik. Konten dan infografis dibuat dengan serius sehingga menghasilkan blogpost yang menyenangkan untuk dilihat dan dibaca. 

Nggak salah kan saya betah aja di Gandjel Rel ini? Pokoknya Selamat Ulang Tahun yang ke lima ya Gandjel Rel? I love you more 3000


Minggu, 09 Februari 2020

Cerita Adek : Ketika remaja memilih bersikap tegas


Sedari SD sepertinya Adek punya daya tarik untuk disukai lawan jenis. Sejak klas 5 SD ada aja anak yang mengiriminya surat atau ngajak ngobrol via Direct Message. Bahkan cerita gurunya, ketika klas 6 dulu, ada beberapa anak perempuan klas 1 sering menunggunya di masjid saat shalat Dhuhur. Hanya sekadar melihatnya keluar, anak-anak itu sudah senang. 

Allah juga memberinya anugerah bahasa tulis yang bagus. Hanya menulis pesan untuk saya pun manis banget. Marah pun lebih sering menulis pesan untuk saya. Meski terkadang saya terkaget-kaget juga dengan apa yang ia tuliskan. Namun ia mampu mengendalikan diri, tidak bersuara keras, ataupun bertindak anarkis. Itu wajib saya syukuri juga, karena dahulu pernah mengalami hambatan emosi sehingga saya harus menemui profesional untuk meminta bantuan. 

Sejak klas lima SD keingintahuan tentang rasa cinta memang besar. Mungkin melihat teman-temannya sudah mulai menggunakan emoji hati merah jambu. Bahkan ada juga yang katanya 'jadian'. Selain bertanya, ia memang banyak cerita. Buat saya itu poin penting menjalin kedekatan dengan anak laki-laki. Saya tahu siapa saja perempuan yang ia sukai dan menyukainya. Sampai ia SMP klas 8, ia tetap banyak bercerita. Ia juga membolehkan saya membuka ponselnya.

Kalau waktu SD ia mendapatkan surat atau direct message di IG dari lawan jenis, sejak awal klas 7 saya lihat WA nya tak pernah sepi dari chat lawan jenis. Modusnya macam-macam. Sampai saya hafal siapa yang benar-benar tulus berteman ataupun modus. Dari bahasa chat nya pun saya tahu siapa perempuan yang tak ia sukai, namun tetap ia balas chatnya. Sopan santun aja, katanya ketika saya tanya mengapa membalas chat orang yang tak ia sukai.


Nah, si Adek ini punya perasaan spesial pada seorang temannya. Teman SD nya yang sekarang beda SMP. Bahkan sampai klas 8 ini rasanya tak berubah. Saya tahu, keduanya punya perasaan yang sama dan kuat. Karena tak pernah sekalipun punya perasaan itu ke lawan jenis yang lain. Yang saya salut, keduanya benar-benar berusaha menahan diri. Obrolan pun hanya sekedar kegiatan sekolah dan pelajaran. Saling memuji pun tidak sama sekali. Chat nya pun hanya pendek-pendek. Terkadang hanya menyemangati saat keduanya mengikuti perlombaan. 

"Semangat ya? Do the best. Chayo Lilo"
"Ok. Thanks."


"Kamu sakit ya? Syafakallah ya?
"Makasih ya? Kamu lagi ngapain?"
"Belajar. Besok ulangan."
"Semangat belajar ya? Biar bagus nilainya."

Sependek itu. Atau jika ada percakapan panjang beberapa kali ketika ia menunggu giliran berlomba. 

Sampai minggu lalu. Si Adek terlihat gelisah. Ia menyimpan ponselnya rapat-rapat. Biasanya ia cuek aja naruh ponsel. Ini kok disimpan terus. Saat saya tanya ia mengatakan tak ada hal yang penting. Lupa naruhnya, begitu alasannya. Namun tiga hari berturut-turut ia membuat story WA hanya sebuah background warna hitam. 

Sampai kemarin. Ia meminta saya membuka ponselnya. Saya diminta melihat seluruh chatnya. Saya menemukan chat dari gadis yang ia sukai. Kemudian scrolling chat nya.

"Aku boleh tanya, Lo?"
"Apa?"
"Jan marah tapi?"
"Ok."
"Kita ini sebenernya gimana?"
"Apanya?"
Emm ... Gimana ya ngomongnya? Kita itu teman atau lebih dari sekedar teman?"

"Teman. Nggak lebih."

Dari pertanyaan sampai ia menjawab 'teman' itu selisih satu jam. Ia berpikir panjang untuk menjawab bagian tersulit ini. 

Saya tahu ini berat untuknya.  Sebenarnya ia bisa memilih untuk mengatakan perasaannya kalau dia memiliki perasaan yang indah untuk gadis itu. Saya yakin gadis itu akan menerima jika Adek mengajaknya untuk merajut hati. Namun Adek memilih untuk memprioritaskan kewajibannya sebagai seorang pelajar. Ia sudah memikirkan dengan matang sebelum mengambil keputusan.

Mungkin salah satunya karena di kelas 8 ini nilainya turun drastis. Saya sih sebenarnya memahami karena ia pengurus OSIS dan sering mengikuti berbagai kejuaraan olahraga dan pramuka. Namun ia yang tak enak hati melihat nilai-nilainya jeblok. Sehingga ia merasa hal terbaik yang bisa ia lakukan untuk mendongkrak nilainya adalah tidak melibatkan urusan hati.

Pagi ini ia bercerita saat saya mengantarnya berangkat sekolah.

"Tiga hari itu aku nggak karuan rasanya. Aku bisa menahan perasaanku. Tapi aku takut dia patah hati terus nilainya jeblok.
"Padahal Adek masih suka banget ya sama dia?"
"Iyalah ... Aku pengen sama-sama fokus sekolah. Bentar lagi klas 9, terus SMA."
"Rasanya jadi anak yang tegas gimana?" Tanya saya.
" Kalau urusan ini yo sakit nggak berdarah to, Nda."
"Adek lega udah nyampein?"
"Iya. Aku galaunya udah lama. Pengen fokus sekolah, tapi yo nggak kuat sama perasaanku."
"Harapannya Adek ke depan apa?"
"Dia nggak WA aku terus, fokus sekolah. Kasihan orang tuanya kalau dia jeblok nilainya."
"Proud of you, Dek. Bunda bangga banget kamu berani bersikap tegas."

Ia tersenyum. 
"Adek nangis pas ambil keputusan?"
"Enggak. Abis itu mataku kok pedih."

Saya tertawa. Ia juga. Masih melihat matanya kurang bercahaya. Namun saya tahu ia mampu melewati semuanya. Ia anak yang kuat hati.

Saya memang melarang anak-anak berpacaran. Namun saya tak pernah melarang anak saya menyukai atau mencintai lawan jenis sejak mereka SD. Buat saya cinta atau suka kepada lawan jenisnya itu fitrah. Semuanya anugerah Allah. Kita nggak bisa meminta untuk menyukai atau mencintai seseorang. Allah lah yang memiliki kuasa atas hal itu.

Kepada anak-anak saya selalu katakan bahwa mencintai sebelum menikah bukan berarti harus memiliki. Karena jika memiliki sering kali manusia bersikap sesukanya. Bahkan terkadang merusak atas nama cinta. 

Cinta sebenarnya itu adanya ya di pernikahan. Saya katakan kalau ingin memiliki berarti siap untuk menikah. Siap menjalani kehidupan yang sering kali tak sesuai dengan harapan. Namun diridhoi oleh Allah. 

Saya katakan pada anak-anak bahwa menahan diri itu jauh lebih baik. Itu artinya kita mampu mengontrol diri dan berpikir jernih saat melakukan sesuatu. 

Alhamdulillah, semua berjalan dengan seperti yang diinginkan baik Kakak maupun Adek. Sampai hari ini. 







Selasa, 04 Februari 2020

Menghargai Ragam Perbedaan versi Yogyakarta Independent School

Assalamualaikum temans,

Jumat 31 Januari 2020 Yogyakarta Independent School atau biasa dikenal dengan nama YIS mengadakan Barongsai Event. Saya termasuk orang yang beruntung bisa hadir dan bergabung untuk mengenal bagaimana sekolah yang ternyata sudah berusia 30 tahun ini mendidik siswa siswinya. Saya dan Vera teman sesama blogger mendapatkan kesempatan untuk berbincang dengan dengan kepala sekolah ibu Kimberly Kingry dan wakil kepala sekolah Ibu Karin Albers. 

Masuk ke lingkungan sekolah internasional di Yogyakarta ini, saya seperti berkunjung ke sebuah ‘dunia kecil’ dimana beberapa suku dan ras di dunia ada di sini. 
Menyenangkan melihat mereka saling menyapa dengan akrab. Saya melihat bagaimana Ibu Karin berinteraksi dengan seorang gadis kecil siswa kindergarten. Kelihatan tulus banget. 

Murid YIS sedang menunjukkan karyanya pada Ibu Karin 
Agak kaget juga saya ketika mendengar siswa Yogyakarta Independent School ini menyapa gurunya dengan sebutan Ibu. Bayangan saya karena sekolah ini berbasis kurikulum internasional, maka panggilan terhadap pengajar ya menggunakan Mr atau Mrs. Ternyata pepatah ‘dimana kaki dipijak disitulah langit dijunjung’ berlaku di sini. Senangnya saya di lingkungan ini. 

Yogyakarta Independent School (YIS) selalu mengadakan kegiatan-kegiatan keagamaan ataupun budaya yang terkait dengan siswa siswi yang bersekolah di YIS. Kegiatan tersebut rutin dilakukan setiap tahunnya. Tak hanya siswa yang terlibat dalam kegiatan ini. Walimurid pun menjadi partner sekolah dalam mempersiapkan setiap event yang berlangsung.

Sebelum acara dimulai saya sempat berkeliling masuk atau sekedar mengintip ke beberapa kelas. Menyenangkan sekali merasakan tempat sekolah yang jauh dari cuaca panas meski di luar matahari sungguh menyengat. Sirkulasi udara gedung YIS bagus banget sehingga di dalam ruangan pun tetap adem. 



Saya sempat masuk ke kelas kindergarten. Fasilitas yang dimiliki kelas sedemikian lengkap. Saya suka sekali dengan pojok buku yang tertata rapi. Karya anak-anak yang tertempel, dan yang menurut saya kece parah tuh waktu anak-anak mengisi absennya sendiri-sendiri. Anak-anak juga kelihatan excited banget dengan kegiatan mereka.



Di papan tulis ditempelkan beberapa kalimat yang biasa digunakan untuk berkomunikasi. Menurut saya magical words itu benar-benar mengajarkan anak untuk bersopan santun antar teman. Ini adalah tindakan nyata dari sekolah untuk menghindarkan kekerasan yang terjadi antar siswa. Jadi membentuk anak yang berkarakter tak sekadar slogan semata. 



Lantas kami diajak untuk melihat berbagai karya anak di kelas yang tingkatannya lebih tinggi. Saya makin kagum aja dengan cara pembelajaran di sekolah ini. Anak diajarkan untuk mengenali dirinya, , passion, dan apa yang mereka inginkan di masa depan. Gerakan literasi dasar pun dilakukan dengan menyenangkan dan membutuhkan kreativitas. 



Di sebuah tembok menuju lantai atas, karya anak-anak yang memiliki passion melukis pun terpajang di sisi tangga. Selain itu beberapa karya anak pun berada di kelas art. Semua karya anak diapresiasi di sini. Semua anak bisa merasa bangga bahwa karyanya dinikmati oleh banyak orang. Saya pun makin kagum dengan keberadaan sekolah ini.



Semua kekaguman saya itu terjawab. Yogyakarta Independent School ini menggunakan kurikulum internasional untuk menyusun teknis pembelajarannya. Ada banyak kurikulum internasional yang dipakai oleh sekolah internasional. Dan YIS memilih menggunakan kurikulum International Baccalaureate.

Kurikulum International Baccalaureate ini berasal dari Swiss. Kurikulum ini ditujukan untuk anak dengan usia 3-18 tahun. Kurikulum ini diterapkan untuk pre-school sampai high school. Program IB yang ditawarkan oleh YIS adalah: 

  • IB Primary Years Programme (PYP) untuk usia 3-12 tahun (setara TK dan SD)
  • IB Middle Years Programme (MYP) untuk usia 11-14 tahun (setara SMP)
  • IB Diploma Programme (DP) untuk usia 15-18 tahun (setara SMA)

Apa sih kelebihan dari kurikulum International Baccalaureate ini?

Kelebihan dari kurikulum ini adalah mengeksplorasi kemampuan anak di berbagai bidang. Jadi nggak hanya seputar sains, matematika, atau bahasa. Tetapi kurikulum ini mendorong siswanya untuk berwawasan global, kreatif, mengembangkan kemampuan emosi, intelektual dan sosial. Mereka juga diharapkan berkontribusi positif terhadap lingkungan dan budayanya. Dengan kurikulum ini diharapkan bakat dan minat anak semakin berkembang. 

Di YIS tempo hari kebetulan sekali saya ketemu Mbak Atik, salah satu sahabat di komunitas menulis. Ngobrol dengan mbak Atik membuat saya yakin kualitas dari YIS sendiri.

Mbak Atiek, walimurid YIS, teman komunitas IIDN Jogja. Tiga putra putrinya di sekolahkan di YIS

Menurut mbak Atik, YIS mempunyai kurikulum IB yg menyiapkan murid-muridnya bisa mengaplikasikan apa yang diperoleh di sekolah ke dalam kegiatan sehari-hari dan dalam kehidupan yang nyata. 

“Kami memilih anak-anak untuk belajar di YIS, karena sebelumnya mereka sudah belajar dengan kurikulum IB, jadi tidak perlu adaptasi lagi dalam proses belajar mengajar. Dalam proses IB dikenal dengan nama UoI (Unit of Inquiry) yang akan dibahas selama beberapa minggu sebagai patokan untuk kegiatan proses belajar. Saya melihat anak-anak saya jadi lebih kreatif dan biasa membahas suatu topik jadi lebih dalam. Sebenarnya di kurikulum sekolah nasional sebenarnya juga sudah dikenal dengan nama tematik. Tetapi saya kurang tahu bagaimana aplikasinya pada sekolah nasional. Kalau di IB standardnya jelas, karena pengawasan yang cukup ketat. O ya, yang menyenangkan lagi guru-gurunya siap membantu setiap saat. Kalau menjelang ulangan dirasa kurang siap, murid akan diajari lebih mendalam, ditambah latihan,” begitu kata Mbak Atik. 

Lalu beliau melanjutkan,”Berbicara tentang YIS, situasi sekolah dan hubungan antar personal begitu akrab. Baik itu antar murid, guru maupun dengan karyawan, semuanya akrab. Bullying dilarang keras dan yang pasti anak-anak saya happy bersekolah di sini.”

Saya jadi tahu sekarang mengapa Mbak Atik menyekolahkan tiga anak beliau di Yogyakarta Independent School. 


Menghargai perbedaan

Diadakannya Barongsai event ini tentu saja terkait dengan tahun baru imlek. Beberapa siswa yang bersekolah di sana merayakannya. Untuk mengajarkan toleransi diantara suku dan ras siswa yang memang heterogen ini YIS pun mendatangkan penari Barongsai. Anak-anak begitu antusias menyambut event ini. Begitu juga dengan para walimurid. Warna merah mendominasi Yogyakarta Independent School hari itu. 

Add caption

Antusiasme anak-anak terlihat saat penari dengan membawa boneka naga mulai menari meliuk liuk disertai dengan formasi yang berubah-ubah. Suara musik yang berasal dari simbal dan drum membuat tarian semakin meriah. Setelah itu baby barongsai dengan warna merah, pink dan biru membuat anak-anak khususnya di tingkat pre-school tertawa terbahak-bahak. Lantas ketika pertunjukan selesai anak-anak ini memberikan angpau kepada pemain barongsai kemudian berfoto bersama.



Ada yang menarik ketika suara musik seni Barongsai berkumandang. Anak-anak SD yang berada di sekolah dekat YIS melongkok melihat dari kejauhan. Pihak sekolah pun mempersilakan anak-anak SD sebelah untuk mendekat. Bahkan disediakan kursi untuk anak-anak dari luar sekolah. Anak-anak dari SD sebelah pun bisa menikmati kesenian barongsai selama mereka mau. Indah bukan?



Mungkin anak-anak belum memahami arti toleransi. Namun saya yakin mereka memahami apa itu berbagi. Contoh nyata pihak sekolah mengajarkan pada anak-anak. Bahwa sebelum mereka mengajarkan kebaikan, mereka memberikan keteladanan. 

Jadi, buat anda yang menginginkan anak-anak bersekolah dengan kurikulum internasional, saya rekomendasi banget sekolah ini, khususnya di wilayah Yogyakarta. Yuk cus ke:

YOGYAKARTA INDEPENDENT SCHOOL (YIS)

Jl. Tegal Mlati No. 1, Jombor Lor, Sinduadi, Mlati, Sleman,
Daerah Istimewa Yogyakarta, 55284, Indonesia
Phone: +6282241044242 // (0274) 5305147 dan 5305148