Jurnal Hati

Kamis, 23 Agustus 2018

Yang Istimewa di Puri Asri Hotel & Resort Magelang


Sebagai orang Magelang, rasanya saya kok ‘ndeso’ sekali nggak pernah main-main ke Puri Asri Hotel Magelang. Terakhir kali menginap di Puri Asri Hotel hampir 14 tahun yang lalu, saat kantor suami mengadakan family gathering. Ketika itu pun si Kakak masih bayi sehingga sama sekali tak bisa menikmati keindahan yang ditawarkan di sana. Sekedar pindah tidur aja. 

Kebetulan banget nih beberapa waktu lalu saya diajakin Mbak Muna untuk menginap dan mengikuti upacara dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ke-73. Gegap gempita dong saya. Event langka gitu loh. Kapan lagi menikmati keunikan tujuhbelasan di pinggir Kali Progo? 

Tanggal 16 Agustus 2018 saya pun meluncur ke Puri Asri Hotel. Di sana sudah ada Mara, Diko serta Koko teman-teman blogger dan vlogger dari Semarang. Di sana Mas Yudha, sang sales marketing manager dan staf menyambut dengan ramah. 

Lantas kami pun diajak melihat suasana di Hotel dan resort seluas 9Ha dengan di atas tanah seluas 22Ha. Kebayang capeknya kalau kita pengen jalan-jalan kan? Apalagi dengan kontur tanah terasering yang naik turun. 

Dibanding membayangkan capeknya naik turun, saya lebih suka menikmati keindahan yang tersaji di depan mata ketika diajak jalan-jalan oleh Mas Arif, sales marketing Puri Asri Hotel. Dengan menaiki shuttle kami diajak untuk melihat-lihat beberapa jenis layanan kamar yang dimiliki oleh Puri Asri Hotel 

The Royal Village 


Puri Asri Hotel memiliki 12 kamar Royal Suite dengan luas 86m2 di setiap kamarnya. Di setiap area The Royal Village terdapat dua kamar dengan satu kolam renang. Jika hanya ingin bersantai sambil menikmati pemandangan di pagi ataupun sore hari, anda tinggal keluar kamar dan menikmatinya di teras. 

Untuk menghubungan Royal Village satu dengan yang lainnya sebuah jalan setapak yang tentunya sayang sekali anda lewatkan untuk tidak berfoto di jalan tersebut.



Penthouse Suite 

Kapan ya, saya bisa menikmati second honeymoon di sini? Tempat ini recomended banget buat para honeymooners yang menginginkan area privat dengan keindahan alam yang luar biasa indah. Dilengkapi dengan jacuzzi serta kolam renang privat tentunya semakin membuat suasana makin romantis. 



Tak ketinggalan sebuah patio bagi anda yang menginginkan sekedar duduk-duduk menikmati sunset atau bersantai bersama pasangan. Mewah dan istimewa deh pokoknya. 

The New Executive 

Saya dan teman sekamar, Noorma ditempatkan di Anyelir New Executive 151. Kamar ini bikin betah deh. Kamar yang cukup luas untuk dua orang dengan TV LED dilengkai dengan kulkas, almari pakaian, safety box, aminities room lengkap dengan sandalnya. Sandalnya swallow pula, kayak yang dipakai di rumah ya? Kali aja nih, pihak Puri Asri Hotel nyediain sandal swallow supaya kami ngerasa homy banget. (hahaha ...kidding) 


Sempat ada dramanya nih. Saya pas mau masuk rest room kebetulan pintunya masih tertutup. Saya sempat menjerit kaget soalnya si pintu ternyata menggunakan kaca cermin, sehingga pas mau masuk rest room berasa ketemu sama orang lain. Untung aja deh nggak nyampe pingsan. Bisa berjilid dramanya nanti. 

Yang wow banget dari kamar yang saya tempati adalah pemandangan di luar. Saya disuguhi Gunung Sindoro yang biru beserta awan-awan yang berjalan. Wuaaahhh ... berasa ngeliat lukisan aja deh. Maha Besar Allah yang telah melukis alam begitu indahnya. 

High Tea dan Breakfast di Pringgodani Resto 



High Tea 

Kalau masalah makanan, duh ... gimana ya? Saya nih tukang makan. Jadi kalau nyemil tuh rasanya cuma enak sama enak banget. Jadi setelah diajak jalan-jalan muterin fasilitas kamar di Puri Asri, kami para blogger dan vlogger dipersilakan untuk menikmati high tea di Pringgodani Resto. Banyak banget finger food yang disajikan. Ada cemilan tradisional, ada pula kue-kuean khas bule gitu. 


Di barisan kue khas tradisional ada onde-onde, serabi kuah, lemper, kue kaca mata, rujak serta lumpia sayur. Onde-onde dan lumpia sayur menjadi pilihan saya. Lumpia sayur yang disajikan beserta sambal bangkok kalau buat saya pas banget. Soalnya saya nggak begitu suka makanan yang banyak banget bumbunya. Lalu onde-onde, kue yang dibuat dari tepung beras dengan isian kacang ijo dan dibalut wijen rasanya juga nggak eneg. Manisnya pas, dan isian kacang ijonya lumer di lidah. 

Sementara untuk international finger food, saya ambil semuanya deh. Kemaruk hahaha ... Ada delight cake, kayaknya sih (cheese cake dan tiramisu cake) pudding, serta bitterballen. Rahasia lho, untuk cheese cake dan vanilla cake nya saya ngambil dua kali lho. Rasanya super deh kalau di mulut saya. Mau cake atau creamnya semuanya lezatto deh. 

Selain menikmati high tea, pemandangan dari balkon Pringgodani Resto emang warbiyasak. Saya yang niatnya mau ngambil foto sunset sampai lupa lho. 


Breakfast 

Kalau menginap di hotel, saya paling senang menikmati makan paginya. Namanya juga tukang makan, segala macam yang tersedia sebagian besar pasti dicoba. Mulai dari buah, bread and waffle, serta buffet akan saya ambil meski sedikit. 

Menu breakfast di Puri Asri Hotel kalau menurut saya lumayan lengkap. Buffet tradisional maupun western tersedia. Ada pula yang tersedia menu stall seperti gudeg, pecel, bubur, soto serta omelet tersedia. Tak ketinggalan tumpeng merah putih disajikan istimewa untuk memperingati hari ulang tahun Republik Indonesia. 



Jika tak suka makanan tradisional yang pastinya tak lepas dari nasi, kita bisa mengambil bread & wafel atau cereal. Bisa juga menyantap salad yang bisa pilih sendiri isinya maupun sausnya. 

Untuk minuman, tersedia juice dan infuse water. Jika kita menginginkan minuman lain, ada teh atau kopi yang akan membuat badan terasa lebih hangat. 

Semuanya komplit tersedia di Pringgodani Resto. Jangan tanya deh rasanya. Kalau buat saya yang sudah nyicipin buffet dan roti, saya akan bilang sarapannya endes surendes. 



Apung Chinese Restaurant 


Sebelum paginya mengikuti upacara memperingati kemerdekaan RI, saya dan teman-teman diundang untuk makan malam di Apung Chinese Restaurant. Restaurantnya unik banget karena berada di tengah kolam. Saya merasa deja vu deh. Belasan tahun yang lalu saat family gathering kantor suami makan paginya di tempat ini. 

Suasana oriental terbangun dari hiasan yang ada di restaurant itu. Lampion dan hiasan lain berwarna merah dan emas mendominasi. Kami pun bergiliran berfoto di jembatan kayu menuju Apung Chinese Restaurant. 

Kemudian acara di mulai. Setelah menyanyikan lagu-lagu perjuangan, Mas Bimo Captain Restaurant pun memberikan informasi mengenai chinese food yang akan dihidangkan untuk makan malam. Pertama kali yang diinformasikan adalah kehalalan dari makanan ini. Pihak Puri Asri sampai mengundang chef dari Malaysia untuk memberikan semacam training kepada para chef untuk memasak chinese food yang halal. 

Pertama kali kami menikmati chinese tea. Kalau di China, penyajian teh yang dilakukan oleh penyaji makanan untuk tuangan pertama adalah mencuci peralatan yang akan dipakai selama perjamuan. Lantas penyajian kedua untuk diminum dan akan disajikan oleh penyaji makanan. 


Sajian kedua adalah sechuan soup. Soup yang terdiri dari jamur, asinan sayur serta tofu ini kuahnya terasa asam dan pedas. Warnanya kecoklatan, dan disajikan panas. Kalau buat saya yang sudah beberapa tahun ini menghindari makanan bercabai, maka Sechuan soup ini terlalu pedas buat saya. 

Kemudian disajikan secara berurutan adalah oriental fried rice, pandan chicken dan pok coy tofu shitake. Buat saya yang nggak terlalu suka makanan yang spicy maka oriental fried rice ini cocok sekali di lidah. Begitu juga dengan pandan chicken, ayam panggang yang terbungkus daun pandan. Teksturnya yang empuk sehingga bumbu pun merasuk ke dalam daging ayam. Manisnya tidak membuat eneg di lidah. 

Pok Coy Tofu Shitake menjawab kerinduan saya untuk makan sayuran. Yang namanya orang ‘ndeso’ itu kalau belum ketemu sayur kayak belum ketemu pacar (lebay). Perpaduan saus tiram dan jahe membut sausnya terasa unik. Saya suka sekali dengan jamurnya yang terasa moist di dalam mulut. 

Sajian berikut adalah Beef cinto, Singaporean prawn curry, serta hongkong roasted duck. Beef Cinto kalau menurut saya sih, mirip dengan beef teriyaki. Hanya saja disajikan dengan irisan yang lebih besar. Sausnya sih oke, merasuk sampai ke dalam daging. Namun buat saya yang suka pada makanan empuk, maka Beef Cinto ini terasa alot untuk gigi saya. Saya harus mengunyah begitu lama supaya bisa menelan daging sapi impor ini. 


Sementara untuk Singaporean prawn curry berasa banget karinya. Ada pedesnya dan bumbunya merasuk ke dalam udang. Suka banget sama makanan ini, karena tidak berasa amis seperti makanan laut lainnya. 

Saya memberikan penghargaan yang tinggi deh buat Chef Puri Asri Hotel. Saya yang nggak doyan pada masakan berbahan bebek ternyata mau lho makan Hongkong Roasted Duck lebih dari sepotong. Teksturnya empuk dan moist di mulut. Enggak berasa eneg dan amis lho. Great Job! 

Yang terakhir kami pun menyantap pudding saus mangga dan pudding strawberry. Buat saya penyuka makanan manis, puding saus mangganya nggak kemanisan, cocok buat dessert malam itu. 

Upacara, Rafting, dan dhahar kembul 

Setelah sarapan di Pringgodani Resto kami pun menuju ke Sungai Progo untuk mengikuti upacara memperingati kemerdekaan RI yang ke-73. Kami memakai pelampung dan helm untuk rafting. Peserta upacara sih berdiri di pinggir Sungai. Sementara petugas dan inspektur upacara lah yang turun ke sungai. Benernya pengen lho ikut nyempung ke sungai. Seru aja, memperingati hari penting dengan sesuatu yang beda. 

Selesai upacara diadakan lomba-lomba yang semuanya dilakukan di sungai. Ada pukul bantal, makan kerupuk, juga tarik tambang yang dilakukan di atas perahu rafting. Seru banget loh. Yangg ngeliat aja ikut ketawa hepi. 


Kami dikasih kejutan lho! Progo Rafting dan Puri Asri Hotel mengajak kami untuk short trip rafting. Yeeeaayyyy! Saya yang sudah beberapa kali ikutan rafting pun excited. Selama ini kalau saya ikutan rafting lokasinya di Sungai Elo, sementara sekarang saya akan mengarungi Sungai Progo yang jeramnya lebih banyak. Asyik deh main air saling nyiratin air dengan tim lain. 

Selesai rafting kami pun diajak untuk dhahar kembul di pinggir Sungai Elo. Yang namanya orang laper, apapun yang disajikan semua terasa nikmat. Klubanan, tempe, teri, ayam dan krupuk pun bersatu padu dalam perut kami. 

Terima kasih Mbak Muna yang sudah mengajak untuk ikut serta di acara seru kali ini. Terima kasih banget buat Mas Yudha, teman-teman Puri Asri Hotel, serta Progo Rafting yang sudah memberikan kegembiraan dan keriaan di liburan kami. Nggak nolak deh kalau diundang lagi (plak!) 

Pengen menikmati liburan di Puri Asri Hotel? 

Silakan meluncur ke sini deh : 

Hotel Puri Asri Magelang 
Jl. Cempaka no 9 Magelang 56122 
Telp : 0293- 365115 Fax. 0293 - 364400 







Selasa, 14 Agustus 2018

Kontribusi Keluarga dalam Pendidikan di Era Millenial

Hampir empat tahun yang lalu, anak sulung saya pernah terpapar pornografi. Anak perempuan saya. Usianya saat itu belum genap 12 tahun. Saya tak pernah membayangkan jika Kakak, begitu saya memanggil anak sulung saya, pernah menonton tayangan yang tak layak ia lihat ketika masih berada di bangku SD. Padahal saya sudah sangat berhati-hati sekali dengan penggunaan internet di dalam rumah. Saya benar-benar tegas dalam membuat aturan penggunaan teknologi informasi di dalam rumah. Anak saya terpapar konten negatif ketika berada di luar rumah bersama temannya satu SD sesama perempuan. 

Saat itu setidaknya seminggu sekali anak saya dan temannya membuat tugas kelompok. Saya tak mengijinkan anak saya menggunakan fasilitas daring di luar rumah. Meski tak terbersit dalam pikiran saya tentang hal negatif, saya tetap merasa aman ketika anak-anak berselancar di dunia maya melalui fasilitas dalam rumah. 

Satu ketika anak saya pamit akan mengerjakan tugas di warnet. Kondisi saya yang sedang mengerjakan pekerjaan membuat saya tak berkonsentrasi dengan apa yang diucapkan oleh anak saya. Saya lengah, sampai melupakan aturan yang selama itu sudah berlaku. 

Saya ingat, tiga kali ia pamit untuk pergi ke warung internet di dekat rumah. Sebenarnya yang ketiga kalinya saya sudah tak enak hati. Antara mengijinkan dan tidak. Melihat tatapannya memohon, saya tak tega menolak. Saya pun mengijinkannya. 

Satu minggu setelahnya. Tiba-tiba saja saya ingin menata buku-buku Kakak yang berserakan. Di antara buku-buku itu terselip sebuah buku tulis warna merah jambu. Entah mengapa, hati saya tergerak untuk mengambil buku itu kemudian membukanya. 

Sebuah cerita Kakak tuliskan dalam buku itu. Saat itu ia memang sangat suka menulis cerita. Saya senang mengetahui kemampuan menulisnya semakin bagus. Namun sampai di halaman yang ketiga jantung saya mau copot rasanya. Tangan saya pun bergetar. Kakak menuliskan adegan yang tak pernah saya bayangkan ia mampu menerjemahkan ke dalam sebuah tulisan. 

Kakak menuliskan adegan yang hanya boleh dilakukan oleh laki-laki dan perempuan dalam ikatan perkawinan. Saya pening seketika. Berbagai pertanyaan pun muncul di kepala saya. Bagaimana bisa Kakak menuliskan hal seperti itu? 

Saya terkejut luar biasa. Tak mungkin Kakak bisa menuliskan adegan sedetil itu jika belum pernah sama sekali melihat. Saya yakin ia melihat adegan seperti itu tak hanya sekali. Ini pukulan berat bagi saya. berbagai pikiran buruk langsung menyerang kepala. Saya merasa gagal menjadi orang tua. 

Yang saya lakukan saat itu adalah berbicara pada suami. Karena beliau bekerja di luar kota sehingga hanya seminggu sekali di rumah kami pun sepakat sayalah yang akan berbicara pada Kakak. Suami akan banyak mendampingi ketika berada di rumah. 

Kakak menangis saat ia tahu saya sudah membaca buku berwarna merah jambu itu. Antara takut jika saya marah dan bersalah membuat ia hanya bisa meminta maaf. Sejatinya ia tahu bahwa yang ia lakukan itu salah. Namun ia tak bisa menolak ketika temannya membuka konten dewasa di aplikasi youtube, kemudian memintanya menuliskan dalam sebuah cerita. 

Lantas saya dan Kakak ngobrol panjang sampai tengah malam setelah ia lebih tenang. Meski saya harus banyak mengucap istighfar dan menarik napas panjang berulang kali. Apalagi di bagian cerita temannya sudah sering membuka tautan itu di telepon genggam milik kakaknya. Mirisnya lagi, temannya adalah anak seorang pendakwah. 

Bayangkan, saya berbicara tentang syahwat pada anak klas enam SD yang tadinya hanya mengenal film kartun produksi negara tetangga. Menerjemahkan hal-hal yang berbau seksual dalam bahasa yang dipahami anak terasa begitu sulit. Air mata saya jatuh kala ia mengatakan ada yang menggelitik di bawah perut ketika ia melihat konten yang hanya tayang tak lebih dari satu menit. 

Sebelumnya saya membayangkan membicarakan hal ini ketika Kakak sudah berada di bangku SMP klas 9 saat transisinya menuju SMA. Namun perkiraan saya meleset. Saya sudah harus berbicara jauh lebih awal. 

Sebenarnya, saya termasuk ibu yang tidak mudah memberikan fasilitas pada anak apalagi yang terkait dengan dunia digital. Di usia SD anak-anak sama sekali tidak saya ijinkan mempunyai gawai sendiri. Jika ingin membuat tugas, di rumah sudah ada fasilitas yang bisa digunakan. Jaringan internet tersedia, begitu juga dengan komputer jinjing. Semua anggota keluarga bisa memakai fasilitas itu di ruang keluarga dimana layarnya menghadap ke ruangan sehingga bisa dilihat oleh siapapun. Hal ini memang untuk mengantisipasi kemungkinan anak-anak membuka konten yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Saya yang sudah sedemikian tegas memberi batasan pun masih kecolongan. Bagaimana mereka yang dengan mudah memberikan gawai pada anak-anak dengan alasan kasih sayang? 

Kejadian itu membuat saya trauma. Saya jadi semakin berhati-hati. Lantas semakin menyadari bahwa keluarga menjadi bagian terpenting dalam pendidikan anak. Sudah semestinya keluarga berbagi tugas dan saling mendukung dengan satuan pendidikan untuk menjadikan anak-anak kita pribadi yang berkarakter mulia. 

Keluarga adalah pusat peradaban. 


Keluarga adalah institusi terkecil dimana kita bisa membangun kebudayaan. Orang tua menjadikan anak sebagai agen perubahan menuju kebaikan. Pembiasaan pada anak dalam membangun kepribadian yang berkarakter. 

Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak-anak. Saat mereka membuka mata keluarga lah yang dilihat oleh anak-anak. Mereka menjadi kamera yang akan merekam segala hal yang terjadi dalam keluarga. Pola asuh yang diterapkan dalam keluarga akan membentuk karakter anak yang akan dibawa sampai dewasa nanti. 

Mentransfer keilmuan menjadi keharusan untuk sebuah keluarga. Penanaman keimanan atau agama, ilmu, karakter dan pendidikan budaya (pembiasaan) selalu dilakukan dalam sebuah keluarga di mulai saat anak-anak usia dini. Semua pembelajaran pendidikan dimulai dari tahapan dengan jenjang usia. 

Menjadi pusat peradaban bagi anak-anak berarti memberikan apapun yang dibutuhkan mereka. Kebutuhan fisik berupa sandang, pangan dan papan idealnya tersedia dengan baik. Namun tak berhenti sampai di situ saja. Keluarga melimpahi anak-anak dengan kasih sayang, pendidikan moral serta keteladanan yang berjalan terus menerus sehingga kebutuhan jiwanya terpenuhi. 

Mendidik tidak mendadak. 

Memiliki anak yang berprestasi dan berkualitas menjadi dambaan setiap keluarga. Tak salah pula setiap orang tua menginginkan kesempurnaan bagi putra dan putrinya. Anak adalah investasi. Oleh karena itu untuk investasi jangka panjang ini harus selalu diikhtiarkan. Semua melalui proses. 

Tak ada proses yang instan. Begitu juga saat kita memberikan pendidikan untuk anak dalam keluarga. Ada beberapa metode yang bisa dilakukan orang tua dalam pendidikan dalam keluarga. 

1. Memberikan keteladanan bukan hanya sekadar contoh. 
Anak-anak tak belajar dari apa yang masuk dalam telinga mereka, namun apa yang dilihat oleh mata. Memberikan contoh hanyalah cukup pada tataran bisa melakukan. Namun keteladanan yang konsisten itulah yang dibutuhkan oleh anak-anak. Contohnya saja mengajak anak shalat. Anak kecil pun diberikan contoh gerakan shalat beberapa kali tentunya akan segera hafal. Jika menginginkan anak yang rajin shalat tentunya orang tua terlebih dahulu yang memberikan keteladanan. 

2. Membentuk tanggung jawab dengan memberikan penugasan. 
Tanggung jawab berkaitan dengan pengajaran kemandirian. Berlatih bertanggung jawab salah satunya dengan memberikan anak penugasan. Dimulai dari tugas yang paling sederhana, misalnya anak yang masih balita membawa piring bekas makannya sendiri ke wastafel. Kemudian jenjang usia lebih tinggi bisa diberikan tugas yang lebih berat. 

3. Memberikan nasihat 
Nasihat tak bisa diabaikan begitu saja. Meski orang tua sudah memberikan keteladanan dan membentuk tanggung jawab, hati pun pantas diketuk dengan nasihat. Nasihat yang disampaikan secara baik, lembut dan menyenangkan tentu saja akan disimpan dalam alam bawah sadar anak. 

Nasihat yang diberikan tak harus menunggu kita melalui kejadian. Sifat dari nasihat adalah preventif. Seperti sebuah pepatah yang mengatakan lebih baik mencegah sebuah penyakit daripada mengobati. 
Kita sebagai orang tua tak boleh bosan memberikan nasihat bagi anak-anak. Fitrahnya manusia adalah mudah melupakan. Jadi nasihat yang berulang-ulang akan menjadi pengingat bagi anak-anak. 

4. Memberikan penghargaan dan hukuman 
Anak adalah manusia yang berproses menjadi dewasa. Dalam perjalanannya sering kali membutuhkan tantangan untuk pembuktian. Terkadang tantangan tersebut membuatnya jatuh dalam kesalahan. 

Anak perlu diberikan penghargaan ketika berprestasi dan diberikan hukuman saat melakukan kesalahan. Prestasi bukan berarti selalu memenangkan kejuaraan. Memenangkan hawa nafsunya pun merupakan sebuah prestasi. 

Sebuah hukuman bisa diberikan untuk memberikan efek jera sekaligus melatih keberanian anak untuk menanggung resiko. Hal ini berkaitan dengan rasa tanggung jawab sebagai manusia. Ketika anak dikenakan hukuman bukan hanya hukuman fisik. Bisa jadi hukuman yang diberikan adalah teguran yang disesuaikan dengan tingkat kesalahan atau kelalaian anak. 

Orang tua tak boleh melakukan pembiaran saat anak melakukan kesalahan. Hal itu hanya akan membuat anak menjadi pecundang. 

Tantangan keluarga era milenial 


Dunia terus berputar. Anak-anak pun bertumbuh. Tak bisa dielakkan lagi bahwa masyarakat dengan segala teknologi pun semakin berkembang. Informasi pun pergerakannya semakin cepat. Hal ini membawa banyak perubahan dalam tatanan masyarakat maupun dunia. 

Kita melihat bagaimana teknologi dan informasi berkolaborasi sedemikian dahsyatnya. Arus informasi mengguyur anak-anak kita sedemikian hebatnya. Sehingga anak-anak yang hidup di zaman sekarang begitu akrab dengan teknologi informasi. Bahkan teknologi informasi menjadi satu kebutuhan penting, kalau tak bisa dikatakan kebutuhan pokok di luar sandang, pangan dan papan. 

Gawai menjadi barang terpenting bagi anak-anak. dimana terdapat berbagai macam media sosial maupun aplikasi di dalamnya. Informasi apapun bisa dicari dengan peramban. Tak ketinggalan permainan daring maupun luring. Hanya mengandalkan jempol dunia pun berada dalam genggaman. Keasyikan yang didapat jika tak dikontrol oleh orang tua akan menjadi bumerang. Teknologi informasi yang seharusnya bermanfaat pun jika tanpa batasan akan menjadi candu. Tentunya hal itu membawa dampak buruk bagi anak-anak. Begitu banyak kejadian penyalahgunaan teknologi yang mengakibatkan berbagai masalah dalam diri anak-anak. Mulai dari masalah perilaku, kecanduan, perundungan, ataupun kemauan belajar yang menipis. Ini menjadi PR besar bagi kita para orang tua 

Banyak orang tua yang cemas dengan perkembangan teknologi informasi saat ini. Namun lebih banyak lagi orang tua yang tak menyadari bahwa bahaya mengintip anak-anak kita melalui gawai yang diberikan dengan alasan kasih sayang. Namun apakah sebagai orang tua kita berhenti pada cemas saja dan tak melakukan apapun untuk menjaga anak-anak? 

Banyak hal yang bisa kita lakukan tanpa mengurangi keceriaan anak-anak. Keluarga menjadi rumah bagi anak-anak dimana mereka bisa pulang. Orang tua yang asyik buat anak-anak, kakak atau adik yang bisa menjadi tempat mencurahkan hati merupakan dambaan anak manapun. Keluarga yang hangat akan menjadi wahana pendidikan terbaik untuk anak selain satuan pendidikan. 

Sebenarnya sebagai orang tua kita sangat berhak untuk mengontrol aktivitas daring anak-anak kita meski mereka sudah berada di usia menuju dewasa. Namun semua itu harus dilakukan karena keikhlasan bukan keterpaksaan. Bagaimana anak-anak kita bisa mengikhlaskan? 

Semua diawali dengan kesepakatan. Saat orang tua memberikan atau mengijinkan anak memiliki gawai sendiri ada hal-hal yang bisa disepakati. 


1. Kepemilikan 
Saat anak-anak masih berada di usia SD saya sama sekali tak memperbolehkan anak memiliki gawai. Jika mereka akan berkomunikasi dengan teman maka mereka akan menggunakan milik suami atau milik saya. Saya memperbolehkan mereka memiliki gawai ketika mereka mulai SMP. Memiliki gawai pun jika tabungan mereka cukup untuk membeli. Maka gawai yang mereka punyai adalah seharga tabungan mereka, atau saya hanya menambah maksimal 20% dari harga gawai yang akan dibeli. 

2. Kerahasiaan 
Pengalaman saya saat membuat kesepakatan dengan anak adalah saya harus mengetahui sandi dan diperbolehkan membuka gawai mereka. Jika kesepakatan pertama ini tak terjadi maka anak-anak tak bisa memiliki gawai. 

3. Waktu. 
Waktu menggunakan gawai berlaku untuk anak SMP maupun SMA. Mulai hari Minggu sampai hari Jumat waktu penggunaaan gawai maksimal saat adzan Maghrib berkumandang. Jika setelah itu mereka membutuhkan menggunakan gawai maka gawai sayalah yang akan mereka pakai. Itu pun tetap terbatas. Namun di hari Sabtu saya memberikan sedikit kebebasan menggunakan gawai sampai jam 21.00. Hari Minggu anak-anak boleh menggunakan gawai jika pekerjaan rumah yang menjadi tugas mereka telah selesai sampai Adzan Maghrib berkumandang. Waktu kesepakatan penggunaan gawai pun berlaku untuk saya. Saya pun harus meletakkan gawai di saat jam belajar anak karena menemani mereka. Namun untuk saya ada kelonggaran untuk mengecek chat karena suami berada di luar kota. 

4. Tempat 
Ruang keluarga adalah tempat khusus bagi anak-anak untuk menggunakan gawai. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan mereka membuka konten negatif. 

5. Memilih aplikasi 
Saya dan anak-anak bersepakat memilih aplikasi apa yang akan diunduh pada gawai mereka. Saya pun memberikan pandangan dan kontrol apalagi yang berkaitan dengan permainan. Saya hanya mengijinkan anak mengunduh dan memasang satu permainan dalam gawai mereka. Jika ingin permainan yang lain, maka mereka harus mencopot permainan lama. Khusus untuk aplikasi youtube saya menyetel untuk mode terbatas serta memasang aplikasi parental control untuk meminimalisir konten negatif tampil saat mereka berselancar di dunia maya. 

6. Media sosial 
Kami masing-masing hanya memiliki satu akun untuk satu jenis media sosial. Kamipun harus saling mengikuti akun media sosial masing-masing. Hal ini bisa menjadi kontrol anak-anak jika ingin mengunggah sesuatu. Saya pun diperbolehkan mengetahui sandi media sosial milik anak-anak. Itu menjadi syarat bagi anak-anak jika ingin memiliki media sosial. 

Lalu bagaimana jika kesepakatan dilanggar oleh anak-anak? Akan ada pemberlakuan hukuman dengan menarik gawai mereka lebih awal atau tidak memperbolehkan mereka menggunakan gawai dengan waktu tertentu. Jika kesalahan berulang terus menerus, maka gawai mereka akan saya titipkan ke sekolah dalam jangka waktu tertentu. 

Lantas jika tak memakai gawai mereka tidak mati gaya?

Saya rasa tidak. Setiap selesai shalat Maghrib kami mengaji kemudian ngobrol seru. Kadang obrolan kami pindah ke meja makan. Anak-anak akan bergantian bercerita tentang kejadian di sekolah baik yang menyenangkan atau tidak. Kadang menjelang tidur pun kami berkumpul berbicara tentang hal-hal ringan namun bermakna. Keterbukaan dan kesabaran dalam membersamai anak-anak pasti akan berbuah manis.


Sementara itu untuk prestasi belajarnya kami membuat kontrak belajar. Berapa nilai yang mampu dicapai oleh anak-anak di setiap mata pelajarannya. Mereka sendiri yang menentukan target nilai. Nilai itulah yang menjadi acuan dari prestasi mereka.


Hal itu sejalan dengan kerjasama yang sudah dilakukan dengan satuan pendidikan dimana anak-anak bersekolah. Saya bersyukur karena satuan pendidikan dimana anak-anak bersekolah secara berkala mengadakan pertemuan antara wali murid dan sekolah. Untuk memudahkan komunikasi pun telah dibentuk grup di media sosial baik secara angkatan maupun kelas. Komunikasi dengan wali kelas pun berjalan dengan nyaman sehingga semangat membangun kualitas anak-anak pun selalu terjaga.

Anak adalah kamera di sekeliling kita. Jika anak tak lagi merasa kita menjadi teladan bagi mereka, maka medialah yang akan menggantikan peran kita sebagai orang tua. Ikhlaskah kita saat anak-anak menjadikan barang yang berada dalam genggaman mereka sebagai pengganti orang tua? 
#sahabatkeluarga

Referensi :

Falah, Saiful, 2014. Parents Power : Membangun Karakter anak melalui Pendidikan Keluarga, Penerbit Republika
Keluarga Gama Mandiri, 2018. Seminar Parenting "Mempersiapkan Generasi Emas"
Pentingnya membangun Komunikasi Efektif Orang Tua - Sekolah.
https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4918




Rabu, 11 Juli 2018

Mendampingi Taaruf #3


Assalamualaikum Temans,
Masih ingat kan kisah Pak guru introvert dengan dedek barbie yang saya tuliskan minggu lalu? Untuk teman-teman yang belum membaca silakan membaca chapter pertama dan keduanya.

Baca juga :

Setelah minggu kemarin saya bersama banyak orang tua yang menghadapi drama SKTM dan zonasi yang cukup melelahkan, hari ini saya pengen refreshing nih, menulis tentang kisah saya saat mendampingi taaruf.

Mendampingi taaruf itu ternyata bikin baper sendiri. Saat pak guru introvert mengatakan sulit kemudian saya WA berkali-kali cuma centang satu saya merasa khawatir. Mengapa ia mengatakan sulit setelah saya minta ia matur ke bapak dan ibunya ya? Atau jangan-jangan orang tua pak guru introvert ini kurang suka terhadap sosok dedek barbie?

Jika tidak suka, apa ya yang kurang disukai dari sosok dedek barbie ini? Apa karena terlihat masih terlalu muda sehingga orang tua pak guru introvert menginginkan sosok yang lebih dewasa? Atau karena dedek barbie berasal dari keluarga yang sederhana sementara keluarga pak guru introvert berasal dari keluarga terpandang?

Pikiran fiksi saya pun mengembara kemana-mana. Saya sendiri juga bingung. Jika dedek barbie ditolak oleh keluarga pak guru introvert, saya pasti patah hati beneran. Pastinya juga malu dan merasa nggak enak banget, memberikan harapan bagi seorang perempuan baik yang saya yakini shalihah.
Keesokan harinya saya teringat bahwa saya harus memastikan pengisi acara untuk acara halal bihalal yang akan diselenggarakan di rumah. Nah ... pengisi acara ini adalah bapak dari pak guru introvert memberikan taushiyah ringan untuk keluarga besar saya. Pagi-pagi saya meluncur ke rumah pak guru introvert untuk menemui bapaknya. Meski pengen juga rasanya sekalian nemuin pak guru introvert. Tapi saya berusaha untuk tak ikut campur karena sudah ranah keluarga. Bagaimanapun juga saya adalah orang luar.

Si ibu yang menemui. Ternyata si bapak sudah berangkat takziah ke Jogja beberapa menit yang lalu. Sejenak saya ngobrol ringan dengan sang ibu, kemudian saya pun mohon diri.

“Eh ... Mbak, aku mau nanya.”
“O... Nggih Bu, tentang apa?”

Feeling saya, ini tentang pak guru introvert. Eh ... beneran, saya setengah mati menahan jantung saya yang berdegup lebih kencang. Kayak saya yang ditanya sama calon mertua.

“Ceritane anakku itu gimana to?”
“Oh ... sudah matur ya Bu?”
“Iya ... lha tapi yo saya sama bapak yo harus mikir panjang to? Bayangin aja mbak, lha tiba-tiba nodong orang tua buat nglamarin anak orang dan tiga bulan kemudian harus nikah. Yo kaget to mbak? Kami kan yo nggak bisa terburu-buru gitu. Dari keluarga yang sana minta tiga bulan lagi nikah to?”

Sepertinya ada miskomunikasi nih.
“Kan belum ketemu Bu, jadi belum tahu keinginan dari pihak perempuan seperti apa. Kan baru tanggal 1 besok mau ketemu.”
“Lho, kok katanya dari keluarga sana minta tiga bulan? Kami ya keberatan wong belum ada persiapan sama sekali. Lagi pula kalau minta tiga bulan yo kami pas repot wong adike juga lahiran.”

Duh ... jangan-jangan saya yang salah ngomong ya? Perasaan kemarin waktu ngobrol sama pak guru introvert itu saya nerangin kalau proses taaruf itu nggak lama. Yang sudah-sudah tiga bulan kemudian menikah.
“Nyuwun ngapunten, Bu. Mungkin putro njenengan salah paham dengan omongan saya. saya yang minta maaf. Kemarin kalau kata tiga bulan itu datang dari saya. kami ngobrol kemudian saya sampaikan kalau biasanya proses taaruf itu tiga bulan terus nikah. Biasanya lho Bu. Tapi kan semua tergantung rembugan dua keluarga nggih? Lha ini juga belum ketemu sama pihak perempuan. Tanggal 1 besok baru mau ketemuan. Nanti saya dan satu lagi temen yang nemenin ketemunya.”
“ Oalah ... gitu ceritanya. Lha kemarin sampai rodo panas pas bicara sama saya dan bapaknya. Ngotot gitu. Ya kan pertimbangannya Bapak dan saya kan yang namanya pihak laki-laki kan ke sana nggak cuma bawa badan. Memang dalam Islam itu kalau mau menikah dipermudah. Tetapi kita yo orang Jawa, harus mrajakke keluarga. Ada peningset, oleh-oleh, juga uang dapur. Uang dapur yo nggak mungkin seratus dua ratus ribu to?”

Well, I got the point. Sulit yang dikatakan pak guru introvert hanya masalah waktu.

“Tapi nggak keberatan sama sosoknya Ustadzah **** kan Bu?”
“Yang mana to orangnya? Yang waktu penutupan itu jadi MC? Lak yo yang cantik itu to? Kami sih seneng aja. Wong berasal dari lingkungan yang bisa dipertanggungjawabkan. Nggak masalah kok sama pilihannya.”

Wuih ... sebagian rasa berat yang tadinya membebani pundak hilang seketika. Saya pun bisa bernapas lega. Lantas sang ibu meminta saya untuk bicara dengan pak guru introvert.

“Dari semalem nggak mau keluar kamar. Dia kalau lagi nggak enak hati pasti mengurung diri gitu. Itu lho yang bikin saya khawatir. Takut kalau dia stress. Saya sampai bilang sama Bapak, ‘mbok ya dituruti ajalah Pak, masalah uang nanti bisa dicari-cariin gitu. Kalau anaknya stress piye?’ Lha si Bapak malah bilang, ‘nggak mungkin stress. Kayak nggak punya agama aja’. Gitu mbak.”

Saya tersenyum. Mau sedewasa apapun seorang anak, ibu akan selalu mengkhawatirkan.

“Njenengan bicara sama anakku aja ya? Biar tak panggilin.”
Saya mendengar sang ibu mengetok kamar pak guru introvert. Nggak ada jawaban sama sekali. Bolak balik beliau mengatakan ada saya di ruang tamu pun pak guru introvert nggak segera keluar kamar.

“Kayak gitu lho, Mbak. Gimana saya nggak takut kalau dia stress? Saya aja ngadepin begini stress sendiri. Dia itu sebenarnya dewasa pemikirannya. Tapi untuk masalah ini kok dia jadi kayak anak-anak. Bayangin mbak, lha minta nikah kok kayak minta dibeliin balon, sak deg sak nyet (istilah jawa : harus sekarang).”
“Nanti saya WA aja Bu, anaknya.”

Sang ibu masih berjuang mengetok pintu kamar pak guru introvert. Akhirnya si pak guru introvert keluar kamar juga. Tebakan saya sampai jam segini dia belum mandi.
Wajahnya ditekuk. Ia duduk di samping saya sambil melipat tangan. Rahangnya terlihat mengeras. Ia sama sekali tak memandang saya maupun ibunya. Tatapnya kosong.


“Le, Ibu sudah dengar cerita dari Mbak Irfa. Ibu tuh nggak keberatan sama pilihanmu. Malah seneng kamu sudah punya pilihan. Tapi kan semua itu nggak bisa cepet-cepet. Butuh biaya. Pakai uang to, nggak pake daun. Lha nek cuma pake daun yo ayok, kita ngunduh daun di depan rumah itu bisa terkumpul banyak.”

Sebenarnya saya pengen ketawa mendengar sang ibu berbicara. Tapi melihat mata pak guru introvert berkaca-kaca saya kasih kode ke ibu untuk berhenti berbicara dahulu.

‘Yo wis mbak, sekecakke. Saya tak cuci piring dulu,” kata sang ibu dan beranjak pergi.
Saya mengajak bicara pak guru introvert. Nggak ada respon sama sekali. Hanya serin menarik napas berat. Matanya terus berkaca-kaca. Saya bicara panjang pun ekspresinya masih begitu.

“Kalau kamu diem aja, aku nggak ngerti maumu apa. Kalau kamu diem aja, yang sakit kamu sendiri. Nggak ada yang memahami,” kata saya.
Ia mencoba bersuara. Namun tercekat di tenggorokan. Ia menarik napas berkali-kali. Lantas dengan terbata-bata ia berbicara.
“Saya itu dua kali ditolak perempuan karena kondisi saya.  Sekarang ada yang mau, tapi kok dipersulit.”

Air matanya meleleh sudah. Ia tersedu. Saya speechless. Bingung mau bilang apa. Lah gimana? Suami aja nggak pernah nangis di depan saya. Laki-laki yang sering saya bujuk untuk diem kalau nangis Cuma si Adek. Lha ini? Anak orang pula.

Pelan saya sentuh punggungnya. Rasanya kok kayak ngadepin Adek kalau pas ngambek yak?
“Bukan dipersulit. Ini cuma masalah waktu, bisa dibicarakan. Bapak sama ibu cuma minta waktu. Aku yakin kok, dari pihak Ustadzah **** bisa memahami. Mereka pasti juga butuh waktu. Mereka kan bukan dari keluarga yang kaya raya yang jika nikah besok langsung bisa nyiapin gedung sampai kateringnya. Wis to, yang tenang,” bujuk saya.

Pak guru introvert terdiam. Ia menghapus air matanya. Saya tersenyum kecil. Biasanya saya melihat pak guru introvert ini sebagai pribadi yang tenang, kalem, dan cool. Lha kok sekarang saya melihat sisi lain yang nggak pernah terbayang oleh saya.

“Kamu takut kehilangan Ust **** yo?” tebak saya.
Dia mengangguk.

“Cinta pake banget ya sama Ust ****?”
Ia kembali mengangguk-anggukkan kepalanya. Fix. Saya sedang ngadepin Adek kalau pas ngambek J

“Yo wis, semua udah jelas masalah Bapak sama ibu. Nanti tanggal 1 semua dibicarakan,”  kata saya.
“Nggih,” ucapnya lirih.
Sehari kemudian saya dapet WA dari sang ibu.
“Anakku sudah ngurusin anggreknya. Sudah mau keluar kamar. Sudah ke masjid juga.”

Tanggal 1 Juni 2018
Saya datang duluan di sebuah rumah makan. Rumah makan itu berada di sebuah kecamatan antara temat tinggal saya dan dedek berbie. Nggak kejauhan buat saya ataupun buat si dedek berbie, biar nggak kemalaman. Setelah itu Pak guru introvert yang datang. Ia senyum-senyum, namun dari gesture nya saya  tahu bahwa ia gelisah.

Nggak berapa lama Ustadzah Anne dan dedek berbie dateng. Ekspresi dedek berbie saat itu kelihatan malu. Saat bersalaman dengan saya tangannya terasa dingin.
“Ust Irfaaaa ... saya maluuuuuu. Pulang aja yaaaaa?”

Saya ketawa dengan ekspresi spontannya. Pak guru introvert pun tertawa mendengar kata-kata Dedek berbie. Kemudian setelah sempat berbasa basi sebentar, saya pun membuka pembicaraan. Awalnya mungkin agak kagok juga. Dulu di SMA boarding school mereka bisa bicara santai. Dengan kondisi yang berbeda begini ada awkward moment nya, saat mereka berdua bicara tidak saling memandang. Dedek berbie ngomong ke pak guru introvert, yang dipandang wajah saya.

Giliran pak guru introvert bicara, bibirnya kelihatan bergetar. Mata pun tak berani langsung menatap dedek berbie. Saya dan ustadzah Anne ketawa aja melihat kondisi begini. Sesekali kami menggoda membuat mereka tersipu.

Mereka bernegosiasi. Sifat apa yang bisa diterima dan tidak. Kondisi apa yang bisa dimaklumi dan tidak. Apa yang diinginkan pak guru introvert, atau apa yang tak diinginkan oleh Dedek berbie. Suasana pun mulai cair. Ceria dan lucunya Dedek berbie membawa pengaruh juga ke pak guru introvert. Mulai bergurau yang membaperkan hati.

“Saya orangnya nggak bisa ngatur uang. Uang yang saya pegang sering banget habis, nggak ketauan kemana. Kadang beli-beli barang yang nggak seharusnya saya beli,” kata Pak guru introvert satu saat berkata.
“Oh... gampang, nanti saya yang atur,” canda dedek berbie.
Pak guru introvert tertawa.

“Saya tuh sering banget kesasar. mau berapa kali berkunjung ke satu tempat selalu saja nyasar. Mau ke rumah temen sampai harus di jemput karena kesasar jauh,” kata dedek berbie.
“Besok-besok saya yang nganter. Saya boncengin,” ujar pak guru introvert sambil tertawa.

Dedek berbie meminta waktu paling nggak 6 bulan untuk mempersiapkan pernikahan. Ia ingin menabung karena baru saja bekerja. Ia tak ingin terlalu memberatkan orang tua di perniakahannya nanti. Sesederhana apapun sebuah pernikahan, tetap harus diumumkan melalui perjamuan walimah.
Mereka pun sepakat bahwa lebaran hari ketiga pak guru introvert akan datang ke rumah dedek berbie untuk bicara pada orang tua dedek berbie.

Paginya, saat bertemu ibu pak guru introvert di kuliah subuh saya ditodong untuk cerita. Ada kilatan bahagia di mata sang ibu mendengar cerita saya. Ia pun tertawa mendengar cerita saya.
“Semalem dia nyetel lagunya udah ganti lagu-lagu cinta, Mbak. Sebelumnya lagu sik embuh. Gedubrakan tiada tara,” kata sang ibu. Saya pun ngikik berdua.

Alhamdulillah, akhir bulan lalu, dedek berbie sudah dikhitbah oleh keluarga pak guru introvert. Dalam waktu dekat mereka akan melangsungkan pernikahan. Semoga last forever deh dan sakinah mawaddah warrahmah. Last forever tapi enggak sakinah ngapain juga. Iya kan?


Selasa, 10 Juli 2018

Tiktok, Generasi Z, dan Orang Tua

Assalamualaikum Temans,
Beberapa hari belakangan di timeline media sosial saya rame banget nanggapin diblokirnya sebuah aplikasi yang banyak digemari anak ABG saat ini. Aplikasi itu bernama tiktok.
Aplikasi ini awalnya muncul di negeri Cina, dan banyak sekali pengguna dari Tiongkok sebelum aplikasi ini tersedia dalam bahasa Inggris maupun Indonesia. Sementara Tiktok sendiri dibuat oleh raksasa digital bytedance yang menyediakan fasilitas memberikan efek unik bagi pengguna saat membuat video pendek.

cr :www.gadgetren.com

Aplikasi ini memiliki dukungan musik yang bisa digunakan oleh pengguna untuk menari, gaya bebas,dan masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk mendorong kreativitas anak muda menjadi kreator konten.

Lantas kenapa anak-anak ABG ini sangat menyukai aplikasi Tiktok?
ABG jaman sekarang yang biasa dikenal dengan generasi Z dimana generasi ini terpengaruh oleh teknologi yang terus berkembang, internet serta media sosial. Tiga hal ini turut mempengaruhi sifat umum anak-anak yang berada di generasi Z yaitu sangat tergantung pada teknologi, menerima banyak perbedaan serta ingin memiliki pengalaman yang lebih dari orang lain.

Generasi ini menyukai pekerjaan yang terkait dengan passionnya. Mereka berusaha menjadikan passionnya sebagai lahan untuk berkreasi dan wirausaha. Jarang sekali anak dijaman ini ketika ditanya cita-citanya lantas menjawab ingin menjadi pegawai negeri.

Coba tanyakan pada anak-anak sekarang yang ‘mengonsumsi’ media sosial tentang cita-cita. Kalau di jaman saya dulu informasi berkembang terlebih dahulu di perkotaan, sehingga anak-anak di desa terlihat cupu dan kurang gaul. Sekarang teknologi informasi berkembang begitu cepat sehingga tak ada bedanya hidup di kota maupun di desa. Saya udah nemuin anak sepantaran ponakan saya ketika ditanya cita-citanya jadi apa, jawabnya pengen jadi youtuber.  Kemudian jika ditanya kembali mengapa ingin jadi youtuber, jawabannya adalah pengen terkenal dan banyak duit. Hei ... anak umur delapan tahunan udah kenal duit nih.

Balik lagi ke Tiktok. Kenapa bahasan tentang Tiktok rame banget? Kasus yang lagi anget sih ada seleb tiktok yang punya follower sampai ratusan ribu ngadain meet and greet. Untuk bisa berfoto dengan si seleb tiktok ini ada htmnya, sebesar Rp80.000,00.

Si seleb tiktok ini namanya Bowo. Katanya sih kalau di tiktok anaknya kelihatan ganteng dan  ngegemesin. Makanya ia punya banyak fans. Dan fans nya inilah merespon keberadaan Bowo dengan komen yang berlebihan.

Selain fans, haters Bowo ini juga makin mem-viralkan keberadaannya sehingga tadinya ibu-ibu yang nggak tahu tiktok itu apaan ikut-ikutan berkomentar. Ikut share ke berbagai media sosialnya hanya melihat postingan fans atau haters si Bowo.

Yuk, kita obrolin tentang fenomena ini

Generasi Z ini merupakan generasi yang kebanyakan terkena syndrom FOMO. Fear of missing out. Takut kalau nggak apdet. Takut kalau dia nggak kayak temen-temennya yang ngerti info apa aja. Takut nggak eksis. Syndrom FOMO nggak cuma terjadi pada generasi Z lho. Kita yang berada di generasi post boomers banyak yang khawatir banget kalau nggak apdet sehingga ponsel berbasis android pun selalu di tangan. Kayaknya takut banget kalau satu jam ketinggalan berita.

Nah, menjadi terkenal juga menjadi cita-cita si Bowo. Kalau ngelihat vlog nya Arief Muhammad si Bowo ini masih kelihatan anak-anak. Nonton TV nggak pernah, tapi hobi banget main tiktok. Karena apa? Tiktok menjadi jalan untuk dikenal orang. Untuk eksis. Dan menurut Bowo, Tiktok itu menjadi bagian dari karyanya.

Sebagai orang dewasa yang nggak doyan tiktok, awalnya saya tertawa. Namun berkaca pada anak-anak saya yang ingin selalu diapresiasi sekecil apapun, saya bisa memahami bagaiaman seorang anak ingin eksis. Ingin dipandang lebih dari yang lain. Dan itu tak cuma terjadi pada anak-anak kan?

Ketika seseorang dipandang mempunyai kelebihan, maka anak-anak pun memuja. Seperti generasi post boomers yang tergila-gila pada Tomy Page. Layaknya generasi ‘90an mendewakan New Kids On The Block atau Gun ‘N’ Roses. Seperti saya yang menyetel dan mengikuti nyanyian mereka dengan keras lagu-lagu Bon Jovi, Europe, ataupun White Lion. Bagaimana perasaan kita saat itu? Mereka hebat luar biasa kan?

Nah, ketika anak-anak kita begitu tergila-gila pada seleb tiktok, selebgram atau whatever lah, apakah kita akan mencaci maki mereka? Nggak kan?
Dalam otak remaja bagian amygdala lah yang memegang kendali dalam diri mereka. Amygdala berkaitan dengan emosional mereka. Itulah mengapa remaja ini sangat impulsif, ada keinginan agresi dalam diri mereka namun juga punya ketakutan yang besar terhadap apa yang dianggap mengancam.  
Wajarkah mereka menuhankan Bowo, menginginkan menjual ginjal ibu mereka, atau melepas keperawanan untuk si Bowo?
Tentu saja tidak. Mereka reaktif terhadap keberadaan Bowo yang dianggap ‘mereka’ banget. Yang memahami kebutuhan mereka akan hiburan dan idola. Lantas ketika idola mereka tak seganteng tampilan di  media sosial lantas diseranglah dengan makian yang bikin mata kita sepet. Ya iyalah, aslinya nggak ganteng. Aslinya item. Kayak kita nggak pernah pake aplikasi Camera 360 atau beautification pada gawai aja. Kecantikan atau kegantengan bisa naik sampai 80% kan?

Remaja, anak-anak kita ini butuh teladan dari kita orang tuanya. Pendidikan karakter tak hanya dibentuk di sekolah. Paling utama bagi remaja adalah bagaimana keluarga memberikan support system yang bagus bagi anak-anak. Ayah yang berperan menjadi penjaga moral, membentuk sifat baik bagi anak-anaknya. Ibu sebagai sumur kasih sayang, yang siap kapan pun menimba cinta untuk anak-anak dan diguyurkan perlahan sehingga cinta itu meresap dalam diri anak-anak.

Jika orang tua tak ingin anaknya hanya bergaul dengan gawai, bagaimana dengan orang tua? Siapkah meletakkan gadget dan keasyikan ngobrol di WA grup untuk mendengarkan cerita ringan atau keluh kesah anak dan menyiapkan kata-kata yang tepat untuk menenteramkan? Jika orang tua berang dengan keberadaan tiktok, mengapa tak ada yang marah dengan keberadaan bigo live yang sering disalahgunakan?

Menjadi orang tua yang asyik buat anak sebenarnya juga anugerah tersendiri bagi kita orang tuanya. Apalagi sekarang gawai merupakan rival orang tua dalam membangun kedekatan dengan anak-anak. Terkadang kita sudah merasa dekat namun tak memahami apa yang sedang mereka lakukan atau sukai. Taukah kita tentang wattpad, webtoon, tiktok, hypstar, bigo, atau musical.ly? pernah nggak kita mencoba googling tentang BTS, Wanna One, Alan Walker atau Anne Marie? Tahu Tom Holland atau Deadpool? Pernah nggak buka i-flix atau Viu bersama anak-anak?

Memang tak mudah menjadi orang tua. Tak ada sekolahnya. Tetaplah menjadi orang tua yang tenang, tidak gumunan, kalau kata Bapak saya. Jangan sampai kita mempunyai jejak yang buruk di sosial media. Anak adalah cerminan orang tua. Bagaimana anak akan respek ketika orang tua tanpa tabayyun share berita hoax atau malah memviralkan hal yang tak perlu?

Orang tua berang melihat anak-anak dan remaja kita menuhankan Bowo. Tak pernahkah orang tua menuhankan pekerjaan atau kesenangan sehingga mengabaikan anak-anak?
Yuk, introspeksi diri. Sudahkah kita menjadi orang tua yang benar-benar bermanfaat untuk anak-anak kita kemarin, hari ini dan di masa depan nanti?



Rabu, 04 Juli 2018

Sahabat Generasi Maju, Dukungan SGM Eksplor terhadap perkembangan potensi buah hati

Tanggal 30 Juni 2018 yang lalu saya menghadiri siaran pers yang menghadirkan teman-teman dari media dan blogger yang diadakan oleh SGM Eksplor di Gedung Kotak Taman Pintar Jogjakarta. Suasana begitu rame karena acara ini berbarengan dengan kegiatan festival sahabat generasi maju Yogyakarta.

Di awal siaran pers yang mengusung tema Dukung Potensi Si Kecil Jadi Anak Generasi Maju Melalui Pemenuhan Nutrisi Dan Edukasi ini dikatakan bahwa sebagai orang tua yang mengharapkan anak mempunyai masa depan yang terbaik biasanya mereka akan berusaha dengan berbagai cara supaya anak mendapatkan kesempatan untuk kehidupan yang lebih baik. Karena anak adalah pribadi yang unik, maka orang tua perlu memahami berbagai tahapan perkembangan anak, aspek apa saya yang mempengaruhi tumbuh kembang anak, serta menajamkan potensi yang dipunyai anak untuk mendukung menjadi anak generasi maju.


Astrid Prasetyo, Marketing Manager SGM Eksplor menjelaskan bahwa Selama lebih dari 50 tahun SGM Eksplor mendukung orang tua Indonesia melengkapi kebutuhan nutrisi anak dan mengadakan edukasi nutrisi secara rutin. Hal ini untuk mendukung si kecil supaya memiliki lima potensi prestasi anak generasi maju yang cerdas, kreatif, tumbuh tinggi dan kuat, supel, mandiri serta percaya diri. Hal ini sejalan dengan visi SGM Eksplor bahwa setiap anak berhak memiliki masa depan yang lebih baik sehingga memudahkan mereka menggapai cita-cita.

Apa yang disampaikan oleh Astrid Prasetyo ini diamini oleh Psikolog Anak dan Keluarga Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Psi., Psi., yang akrab dipanggil Mbak Nina. Beliau mengatakan bahwa orang tua harus menggali lima aspek pertumbuhan anak yaitu fisik, kognitif, emosi, bahasa dan sosial yang saling terkait satu sama lain supaya tumbuh kembang anak lebih optimal. Orang tua dan lingkungan diharapkan untuk selalu menstimulasi kelima aspek tersebut secara bertahap. Hal itu perlu dilakukan karena pertumbuhan anak bukanlah sesuatu yang instan, namun melalui sebuah proses yang harus dikembangkan sejak dini. Mbak Nina juga menjelaskan bahwa lima potensi prestasi anak generasi maju yaitu cerdas kreatif, tumbuh tinggi dan kuat, supel, mandiri, dan percaya diri merupakan pengejawantahan dari perkembangan lima aspek dasar pertumbuhan anak. 


Sesuai dengan komitmen SGM Eksplor di bidang pendidikan, sebagai wujud nyata diadakanlah berbagai kegiatan untuk mengajak orang tua merayakan dan mendukung potensi prestasi yang dimiliki oleh setiap anak Indonesia. 

Sahabat Generasi Maju
Kegiatan ini dilakukan melalui media sosial yaitu facebook dimana orang tua diajak untuk menceritakan potensi prestasi putra putri mereka dengan mengunggah foto dan cerita mulai 19 april 2018 sampai dengan Juli 2018. Para orang tua ini memiliki kesempatan mendapatkan total beasiswa sebesar satu miliar untuk 25 pemenang. Penjurian grand final untuk memilih 25 pemenang akan dilakukan pada tanggal 27-29 Juli 2018 di Sumarecon Mall Bekasi. 

Festival Sahabat Generasi Maju
Rangkaian kegiatan Festival Sahabat Generasi Maju akan diadakan di 4 kota besar di Indonesia yaitu Yogyakarta, Surabaya, Medan dan Bandung. Yogyakarta mendapat kesempatan pertama kali mengadakan Festival Sahabat Generasi Maju yang bertempat di Taman Pintar Yogyakarta. Festival Sahabat Generasi Maju merupakan area rekreasi edukatif untuk anak dan keluarga dimana orangg tua selain bisa menstimulasi potensi anak. Berbagai permainan edukatif tersebar di area Taman Pintar. 

Ada area panggung untuk anak-anak tampil menari , bernyanyi maupun atraksi lainnya. 


Sementara di gedung kotak ratusan anak-anak didampingi oleh orang tua mengikuti lomba mewarnai. 

Ada juga arena kreativitas untuk menstimulasi potensi kreativitas anak




Tersedia arena olah raga untuk anak-anak yang aktif




Tak ketinggalan minimobi dimana anak-anak bisa beraktivitas dengan berbagai permainan edukatif yang ditujukan untuk edukasi nutrisi dan stimulasi otak anak. Minimobi ini sudah berkeliling ke 8000 area di Indonesia lho.




Kami pun diajak berkeliling ke sebuah wahana edukatif yang dinamakan Jejak Nutrisi dimana anak-anak akan diajak untuk memahami bagaimana pembuatan susu SGM dengan permainan yang menarik dan edukatif.


Sayangnya nih, anak-anak udah remaja semua. Ponakan juga jauh. Kalau misalnya dekat pasti deh hepi banget saya ajakin ke kegiatan ini.

Jumat, 29 Juni 2018

Mendampingi Taaruf (Chapter #2)

Assalamualaikum Temans,

Sudah baca tulisan saya tentang mendampingi taaruf chapter 1? Nah tulisan ini adalah kelanjutan nih. Untuk chapter 1 nya bisa dibaca DISINI.
Saya memang sengaja memotong jadi beberapa bagian. Bukan karena yang baca biar penasaran. Namun saya khawatir tulisan yang terlalu panjang akan terasa membosankan. Jadi, siap ngikutin kelanjutannya kan?

Pak guru introvert mengirimkan 11 lembar tulisan tentang biodatanya setelah saya kritik biodatanya mirip orang ngelamar pekerjaan. Saya katakan padanya bahwa yang bekerja untuk menuliskan biodata ini bukan otak, namun hati. Eh ... beneran. Pak guru introvert ini membuat sebuah tulisan yang menyentuh. Bahkan ia sukses membuat saya meneteskan air mata.

Dimulai dari tulisan ini. Kalau pembaca menganggap tulisan ini hasil editan saya, itu salah besar. saya sama sekali tak mengedit tulisannya. Ia menulis dengan hati.

Pendidikan                  :Bapak dan Ibu saya adalah sarjana. Sementara saya sempat berkuliah selama beberapa tahun  di UNY tapi tidak sampai selesai. Walaupun bapak menginginkan anak-anaknya menjadi sarjana, namun yang paling ditekankan oleh bapak adalah apapun pekerjaan anak-anaknya harus bisa memberi manfaat bagi masyarakat sekitar dan memiliki nilai/makna.            Bagi saya pengalaman pernah kuliah selama 4 tahun memberikan banyak pelajaran berharga bagi saya. Salah satunya adalah bagaimana pelajaran-pelajaran agama dan teori-teori yang saya dapatkan di kelas ternyata tidak cukup membuat saya menjadi orang yang bisa berislam secara kaffah. Selama enam tahun saya menjalani kehidupan pesantren dengan nilai-nilai relijius yang tinggi. Tapi begitu lulus dari pondok dan memasuki bangku perkuliahan, saya mengalami gagap budaya.            Di pesantren saya terbiasa dengan peraturan-peraturan yang mengikat untuk santri, sehingga ibadah dan kebiasaan relijius saya bisa terjaga dengan baik. Tapi kemudian saya menemukan sesuatu yang berkebalikan ketika memasuki dunia luar. Di luar tidak ada lagi peraturan-peraturan ketat yang mengontrol, saya merasa bebas bisa melakukan ini-itu yang tidak bisa saya lakukan di pondok. Saya mulai masuk kedalam pergaulan yang negatif. Apalagi mayoritas teman kuliah saya tidak memiliki dasar pendidikan agama yang kuat. Sebenarnya saya bisa memilih teman pergaulan lain yang lebih baik, tapi rasa jenuh dengan kehidupan di pondok membuat saya enggan untuk mendekati mereka yang suka berkumpul dalam forum-forum keagamaan.
            Empat tahun dalam masa perkuliahan saya mengalami masa-masa yang menurut saya paling kelam dalam hidup saya. Walaupun secara akademik kuliah saya tetap berjalan dengan baik, tapi nilai-nilai Islam yang ada dalam diri saya mulai luntur. Saya mulai sering meninggalkan shalat dan lebih suka nongkrong di warung kopi, main kartu dan sebagainya. Saya mulai dekat dengan hal-hal yang dilarang dalam agama Islam. Bergaul dengan peminum, bergaul dengan pemakai narkoba, bergaul dengan segala yang buruk dan dilarang dalam agama Islam. Tapi Alhamdulillah walaupun teman pergaulan saya seperti itu saya tidak pernah mencicipi sedikitpun barang-barang yang diharamkan oleh agama Islam.            Pada tahun keempat kuliah saya mulai mengalami titik jenuh dalam kehidupan saya yang seperti itu. Waktu itu adalah proses awal saya mengerjakan tugas akhir. Tapi saya merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidup saya. Saya merasa hampa. Saya merasa apa yang saya lakukan empat tahun di bangku kuliah tidak memiliki manfaat apapun kecuali pengetahuan-pengetahuan yang bertambah tapi tidak bisa saya aplikasikan dalam kehidupan saya. Tidak ada sesuatu yang bermanfaat yang bisa saya bagi untuk orang lain.
            Pada satu momen, ingatan-ingatan masa kecil saya kemudian muncul dan terbayang di depan saya dengan jelas. Ingatan ketika bapak menggandeng tangan saya ke masjid. Ingatan ketika bapak mengajari saya mengeja huruf arab di papan tulis. Ingatan ketika bapak mengantar saya pertama kali masuk ke pondok. Ingatan ketika bapak memberi saya uang yang hanya cukup untuk naik bis kembali ke pondok karena waktu itu bapak memang tidak memiliki uang lagi. Semua memori-memori dari masa kecil saya dengan bapak membuat saya sadar kalau saya selama ini hanya melakukan hal-hal bodoh dan sia-sia.
            Akhirnya saya memutuskan untuk istirahat dari bangku perkuliahan dan mencari kegiatan-kegiatan lain di rumah. Mencoba menata kembali diri saya. Enam tahun di pondok ditambah empat tahun di bangku perkuliahan membuat saya merasa asing dengan lingkungan sekitar ketika saya kembali ke rumah. Saya mulai beradaptasi lagi dengan lingkungan tempat tinggal saya. Butuh beberapa bulan untuk saya mulai terbiasa dengan lingkungan tempat tinggal saya. Saya mulai mencoba kembali untuk ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan masjid, mengikuti kajian-kajian yang diselenggarakan oleh masjid.            Tidak berselang lama, Alhamdulillah saya ditawari untuk membantu di SD Muhammadiyah Gunungpring. Awalnya hanya untuk membantu mengajar anak-anak mengaji di jam pagi, tapi kemudian diminta juga untuk membantu mengajar di jam siang setelah shalat dhuhur. Keigatan-kegiatan tersebut kemudian menjadi rutinitas harian saya sampai kemudian saya mulai lupa dengan tugas akhir saya. Sempat bapak bertanya dan meminta saya untuk menyelesaikan tugas akhir saya. Saya juga sempat mencoba kembali memulai untuk menyelesaikan tugas akhir saya.            Tapi saya mulai mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas akhir saya. Selain karena saya sudah mulai jarang ke kampus, saya juga membatasi berkomunikasi dengan teman-teman saya di kampus. Saya mulai kehilangan ritme dalam menyelesaikan tugas akhir. Dalam jangka waktu yang cukup lama saya tidak bersinggungan dengan tugas-tugas akademik kampus. Saya juga tidak mempunyai teman untuk diajak bertukar pikiran. Saya mulai menikmati dan terbiasa dengan kegiatan harian saya dirumah yang bagi saya membuat saya lebih bahagia.

Tulisan itu membuat saya berkaca-kaca. Buat saya, ini istimewa. Ia merelakan kehilangan sesuatu yang bisa membanggakan untuk agama. Ia meninggalkan lingkungan yang baginya telah menjauhkan dari rasa syukur buat seorang anak muda bukanlah sesuatu yang mudah. Namun ia bisa melakukan itu.

Jangan khawatir, ia sudah berencana untuk kembali ke bangku kuliah. Ia akan kembali ke bangku kuliah yang berkaitan dengan keilmuan Islam yang menurutnya akan lebih banyak bermanfaat untuk murid, keluarga dan masyarakat.

Satu lagi tulisannya yang sukses membuat saya meneteskan air mata. Tulisan ini di bagian akhir dari biodatanya.

Catatan :

Saya pernah ditanya mau punya istri yang seperti apa. Saya yang saat itu memang belum memiliki rencana untuk menikah hanya memberi jawaban yang umum, istri yang bagus agamanya dan cantik. Sudah itu saja. Tapi waktu demi waktu saya mulai memikirkan kembali sosok istri yang saya inginkan.

Kemudian ingatan-ingatan tentang ibu ketika mendampingi bapak dalam fase-fase yang berat di keluarga kami muncul kembali. Ibu saya bukan tipe ibu yang kalem. Kadang-kadang menjengkelkan kami. Tapi saat itu saya kemudian ingat bagaimana kesetiaan ibu terhadap bapak. Bagaimana ibu terus mencoba kuat dan tegar didepan anak-anaknya. Semua yang menjengkelkan luruh sudah.

Ketika saya kelas 5 SD, Bapak sakit parah. Itu tahun kedua bapak sakit dan kondisi bapak terus menurun dari waktu ke waktu. Saat itu bulan Ramadhan, dan bapak menghabiskan bulan itu di Rumah Sakit. Malam hari sebelum bapak masuk RS, saya sempat melihat ibu saya menangis di kamar dan mencoba ditenangkan oleh orang-orang. Saya baru tahu kalau waktu itu secara medis bapak sudah tidak memiliki harapan untuk sembuh. Badan bapak sudah sangat kurus, bahkan terlihat jelas tulang-tulang di badan bapak. Penyakit yang diderita bapak juga tidak kunjung ketahuan. Tidak ada lagi makanan yang bisa masuk ke perut bapak. Tapi ibu masih mencoba yang terbaik untuk kesembuhan bapak. Akhirnya bapak dirawat di RS lagi. Selama beberapa minggu di RS kondisi bapak semakin menurun. Ibu masih tetap setia menemani bapak pada fase itu.
Saya ingat suatu hari ibu pulang ke rumah. Ibu kemudian mengajak saya dan adik ke pasar untuk beli sandal dan baju baru. Saat itu ibu tidak menampakkan rasa cemas di wajahnya. Karena tidak punya kendaraan, kami naik andong ke pasar. Sorenya, ibu kembali lagi ke RS menemani bapak. Setelah itu bapak mulai mengalami masa-masa kritis. Sampai kemudian tim dokter mengambil keputusan untuk mengoperasi bapak. Waktu itu tengah malam. Dan operasi dilakukan secara mendadak. Dokter memberi tahu kalau operasi bapak kemungkinannya kecil untuk berhasil dan ibu diminta untuk siap-siap dengan kemungkinan terburuk. Saya tidak tahu bagaimana perasaan ibu saat mengambil keputusan waktu itu. Tapi akhirnya bapak dioperasi. Saya baru tahu kalau bapak dioperasi keesokan paginya. Dan Alhamdulillah operasi bapak berhasil. Saya juga tidak tahu bagaimana bahagianya ibu ketika itu. Yang pasti saat itu ibu adalah orang yang paling bahagia dan bersyukur dengan kesembuhan bapak.
Saya tidak tahu seberat apa kesulitan-kesulitan yang akan saya alami dalam kehidupan keluarga saya nanti. Saya hanya berharap dan berdo’a kalau istri saya nanti adalah orang yang kuat, tegar, dan setia seperti ibu. Rela jatuh-bangun bersama, yang bersedia menemani saya melewati cobaan-cobaan, yang bisa menguatkan ketika saya goyah.

Ia mencintai ibunya. Sangat. Setiap laki-laki yang mencintai ibunya saya yakin akan memuliakan istrinya. Ia takkan egois menjadikan seorang istri sebagai konco wingking saja. Namun pastinya ia akan menjadi support system istri yang paling bisa diandalkan.

Membaca tulisan Pak guru introvert membuat saya yakin. Ia akan mulus melalui tahapan taaruf ini. Ini baru dua bagian tulisannya. Sementara yang membuat hati saya meleleh tak cuma itu. Jika orang tua dedek barbie membaca, bener deh, pasti ikut kebaperan seperti saya.
Lantas biodata itu saya kirimkan ke ustadzah Anne. Ust Anne mengatakan bahwa biodata itu akan dikirimkan ke dedek barbie malam hari saja setelah tarawih. Saya tanyakan ke pak guru introvert kapan mau dikirim. Katanya begini.


Namun saya nggak sabar. Saat kultum tarawih malam itu saya kirimkan biodata dedek barbie ke pak guru introvert. Saya kaget juga. Kok WA saya langsung centang biru. Saya pun tertawa sendiri. Kami sebenarnya tak biasa membawa ponsel ke masjid. Kayaknya force majeur nih, nggak sabaran semua untuk mengirim dan menerima gambaran masa depan (#eaaaaaa)

Malem itu saya WA Ust Anne. Keesokan harinya  Ustadzah Anne bales WA saya.





Beberapa hari kemudian saya ketemu Pak guru introvert di parkiran masjid. Meski ia tak banyak bicara, namun saya melihat kilatan bahagia di matanya. Ia bertanya kelanjutan dari taaruf ini. Saya pun menjelaskan bahwa biasanya yang namanya taaruf itu nggak lama kemudian khitbah kemudian akad.  Prosesnya sekitar tiga bulanan.
“Sudah sejauh ini, sudah saatnya disampaikan ke Bapak dan Ibu yo?” kata saya.
“Nggih, Mbak. Paling do kaget yo, ngerti-ngerti saya prosesnya sampai seperti ini.”
“Mature alon-alon. Biar nggak ngageti banget. Kamu siap ketemuan tanggal  1 kan?”
“Insya Allah, Mbak.”

Saya pun berkoordinasi dengan Ust Anne untuk pertemuan itu. Sehari kemudian saya mengabari pak guru introvert.

“Kamu siap ketemu tanggal 1 kan? Pihak beliau Insya Allah siap.”

Tak ada jawaban dari pak guru introvert. Hanya centang satu. Bukber di masjid pun pak guru introvert nggak kelihatan. Ada perasaan nggak enak di hati saya. Tapi saya nggak mau mikir macem-macem.
Selepas maghrib Pak guru introvert membalas WA saya.

“Mbak, saya bingung. Ini kok sulit ...”

Duh ... apalagi ini?
Saya WA lagi pak guru introvert berkali-kali namun WA saya hanya centang satu. Saya khawatir. Apakah orang tua pak guru introvert keberatan dengan sosok dedek barbie? Saya nggak yakin. Saya mengenal orang tua pak guru introvert. Keluarga mereka bukanlah keluarga yang pilih-pilih dalam bergaul. Mereka memandang orang selalu dari sisi positifnya. Lalu apa yang sulit?

Malam itu saya kepikiran banget. Apa yang salah ya dengan proses ini? Sepertinya Allah begitu memudahkan jalan mereka untuk bertaaruf. Ada apa ini?

Tengah malam itu saya menggelar sajadah. Saya hanya ingin berdoa. Bahkan saya tak tahu apakah saya shalat tahajud ataupun shalat hajat. Saya melangitkan doa untuk pak guru introvert dan si dedek barbie. Tak terasa pipi saya pun basah.

Well ... saya ada acara nih. Nyambung chapter 3 yak?