Jurnal Hati

Selasa, 02 Maret 2021

Scabies : Mengobati dan Pencegahannya pada Anak


Anak-anak termasuk dalam golongan paling rentan terhadap penyakit. Tak terkecuali dengan penyakit kulit. Banyak orang masih saja abai terhadap kulit mereka. Banyak anggapan bahwa penyakit kulit itu bisa sembuh secara sendirian. 

Padahal yang namanya penyakit kan mau seringan apapun ya harus diobati kalau sudah masuk dalam tubuh. Sesuatu yang ringan namun diabaikan lama-lama kan akan memperparah. Bisa jadi dampak dalam tubuh tidak begitu terasa. Namun tetap saja mengganggu. 

Salah satu penyakit kulit yang sering menyerang anak anak adalah scabies. Scabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh kutu kecil disebut sarcoptes scabiei. Kutu ini tak bisa dilihat dengan mata telanjang. Kutu ini bisa menyebabkan gatal yang intens membuat anak-anak rewel karena tak nyaman. 

Gejala yang timbul saat anak terkena scabies adalah :
1. Gatal parah. Biasanya gatal itu memburuk pada malam hari atau setelah mandi air panas.
2. Terdapat bentol atau lepuhan pada kulit tempat kutu bersembunyi.
3. Kulit kemerahan dan muncul ruam.
4. Kulit bersisik atau berkerak. 

Gejala tersebut baru biasanya muncul sekitar 4-6 minggu setelah kutu tersebut menyerang kulit anak. 

Coba cek anak-anak anda. Biasanya bentol scabies di anak berusia dua tahun ke atas muncul di tangan, sela-sela jari, pergelangan tangan, pinggang, paha, pusar, daerah selangkangan, dan ketiak. Sementara pada anak di bawah dua tahun benjolan sering kali timbul di kepala, leher, telapak tangan, dan telapak kaki. 


Mengobati scabies pada anak 

Jika anak anda mengalami gejala tersebut segera bawa ke dokter untuk menjalani pemeriksaan dan pengobatan. Biasanya untuk memastikan diagnosis, dokter akan melihat kondisi kulit anak untuk menemukan tanda-tanda scabies. 
Setelah dipastikan anak anda terkena scabies biasanya dokter akan meresepkan obat-obatan seperti di bawah ini:
1. Krim dan lotion yang mengandung permethrin, lindane, sulfur, atau crotamiton.
2. Obat antihistamin untuk membantu meringankan rasa gatal.
3. Obat ivermectin untuk scabies yang luas dan berat.
4. Antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri pada kulit anak-anak 

Biasanya pengobatan ini membutuhkan waktu kurang lebih empat sampai enam minggu sampai penyakit ini sembuh dan gejalanya hilang. Yang perlu diingat jangan menghentikan pengobatan tanpa anjuran dokter. 

Pencegahan Scabies pada Anak 

Penyakit scabies adalah penyakit kulit yang mudah menular ketika seseorang yang sehat mengalami kontak langsung pada bagian kulit yang mengalami scabies. Tidur berdekatan atau menggunakan alat pribadi bersama dengan pengidap scabies pun bisa menjadi jalan penularan. 

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk mencegah scabies pada anak yaitu: 

1. Memperhatikan lingkungan bermain anak
2. Cuci bersih barang milik anak dengan bersih. Jika barang-barang milik anak pernah dipakai bersama orang lain segeralah dicuci dengan air panas untuk menghilangkan kutu penyebab scabies.
3. Menjaga kebersihan lingkungan bermain anak dengan sering menyapu lantai dan mengepel lantai dengan pembersih lantai.
4. Jika memiliki hewan peliharaan perhatikan juga kebersihan hewan dan kandangnya. Scabies juga bisa ditularkan melalui hewan. O ya, ada baiknya hewan peliharaan pun diberikan vaksin supaya kesehatannya terjaga 

Jika artikel ini belum memberikan informasi yang dibutuhkan, ada baiknya anda membuka www.halodoc.com. Website ini memberikan begitu banyak informasi kesehatan. Mulai dari penyakit yang sangat ringan sampai penyakit berat akan anda temukan informasi yang lengkap beserta solusinya. 

Anda pun bisa mengunduh halodoc melalui aplikasi di ponsel anda. Banyak fitur bermanfaat yang bisa anda gunakan. Tak hanya informasi ataupun saran kesehatan. Konsultasi dengan dokter secara jarak jauh pun bisa anda lakukan. 

Yuk, lakukan tindakan preventif bagi kesehatan. Lebih baik mencegah daripada mengobati bukan?




Senin, 01 Maret 2021

Harapan tahun ini : menjadi rekanan ISC sebagai penyedia produk



Assalamualaikum temans,

Sedih nggak sih, pandemi sudah setahun, tapi virusnya masih ada di sekitar kita? Kalau dulu awal pandemi rasanya masih di awang-awang, kayaknya nggak mungkin nyamper jauh sampai pedesaan. Nggak tahunya,tuh virus deket banget sama kita. Di tempat saya aja, samping kanan, kiri dan belakang rumah semuanya sudah terpapar covid. 

Masalah kesehatan begitu memprihatinkan. Belum lagi kalau bicara tentang perekonomian. Banyak banget masyarakat yang kehilangan mata pencaharian. 

Dulu jalan menuju arah rumah saya sepi pedagang. Paling ada satu atau dua pedagang, itu pun penduduk sekitar dan sudah lama mencari nafkah lewat jual beli. Namun hampir setahun ini pinggir jalan itu penuh pedagang. Hampir setiap 20 meter ada pedagang yang mencoba mengais rezeki. Apapun ada di jalan itu. Tak hanya makanan, jualan pakaian pun ada, dan semuanya dijual dengan harga yang kompetitif. 




Sayangnya, tak semuanya mendapatkan peruntungannya. Banyak sudah pedagang yang datang dan pergi atau mengganti dagangan. Kalau yang memiliki modal lumayan sih mungkin nggak terlalu khawatir. Yang kasihan justru pedagang-pedagang kecil yang modalnya mungkin nggak sampai jutaan. Bahkan ratusan ribu pun tak sampai. Prihatin juga. Yang bisa saya lakukan salah satunya ya membeli aja jualan mereka. Niatnya bukan jajan. Nglarisi aja. Siapa tahu uang yang saya belanjakan itu ternyata memang dibutuhkan banget. 


Usaha dari rumah

Saya pernah juga kok ngerasain hidup yang prihatin banget. Ketika suami resign dari pekerjaan di kantor lama. Dengan modal seadanya saya dan suami kulakan emping kemudian kami packing kecil-kecil. Lalu kami titipkan ke warung-warung. Waktu itu kami belum paham bagaimana mengemas produk dengan kemasan yang lebih bagus. Istilahnya orang jawa 'waton.' seadanya. Alhasil emping manis jualan kami jarang dilirik orang. 

Sedih itu ketika suami pulang bawa uang hanya cukup untuk belanja sayur dan lauk untuk makan sehari. Padahal kebutuhan dan perut itu nggak bisa nunggu. Namun kami yakin, Tuhan nggak bakalan diem aja. Pasti rezeki akan dilimpahkan di waktu yang tepat. 

Benar saja. Bersamaan dengan suami bekerja di kantor sekarang. Mulai jualan hanya di kala Ramadhan dan menjelang idul fitri. Setiap tahunnya mengalami peningkatan. Kami pun memutuskan hanya mengemas emping manis dalam ukuran 250gr saja. Secara harga pun tidak terlalu memberatkan. Dan yang penting nggak harus ditaruh di toples karena bisa dicemil rame-rame dan dalam sehari bisa langsung habis. 

Cobaan datang saat pandemi datang. Lebaran kemarin kami hanya menjual 25% dari jumlah yang terjual tahun sebelumnya. Namun lagi-lagi Tuhan memberi jalan yang nggak disangka. Setelah lebaran kami dipertemukan dengan produsen-produsen cemilan dalam skala kecil. Akhirnya terkumpullah produk-produk teman yang kami pasarkan. Produk-produk tersebut kami jual dengan merk Mas Fay, seperti emping manis kami. 

Karena terkumpul beberapa produk akhirnya sosmed kami yang tadinya menggunakan emping mas Fay sebagai nama akun akhirnya kami ganti. Warung Mas Fay adalah akun tempat kami berjualan online. 




Bersyukurnya kami, saat ini kami berjualan setiap hari. Meski masih mengandalkan customer di kantor suami. Tapi kami punya dua reseller untuk produk-produk kami. Alhamdulillah. Meski sedikit-sedikit setidaknya dari warung online ini kami memiliki pendapatan lain. 

Sejujurnya kami tak hanya ingin berhenti di sini. Pengen sekali bisa bergabung dengan rantai penjualan besar. Kalau kami bisa menjadi supplier, tentunya produsen-produsen kecil rekanan kami pun bisa ikut berkembang dan tentunya memiliki pendapatan yang lebih dibanding saat ini. Emping manis pedas, emping asin, usus goreng, kacang bawang, puyur (emping singkong), slondok, peyek lombok, tape ketan dan cobek batu bisa menemukan peminatnya dengan jangkauan yang lebih luas. 



Dan mungkin ini jalan Tuhan juga ketika saya membaca tulisan teman tentang ISC Globe. 



Indo Supply Chain Globe

Mungkin saya yang kudet selama ini tidak mengenal ISC Globe, sebuah perusahaan penyedia barang-barang kebutuhan dasar seperti beras, minyak dan barang kebutuhan lainnya. PT Indo Supply Chain (ISC), yang berkantor pusat di MTH Square, Jakarta Timur, didirikan di tahun 2017. ISC memiliki visi yang menarik yaitu membantu masyarakat untuk mendapat kehidupan yang lebih baik.

ISC memberikan alternatif solusi untuk mendapatkan produk serta sumber penghasilan dari penjualan langsung produk produk kebutuhan dasar dengan dasar kemitraan dan semangat gotong royong. 

Siapapun bisa bergabung sebagai mitra. Hanya dengan modal minim kita bisa bergabung dan bersama mengembangkan bisnis ini. Yang istimewa lagi, bisnis ini bisa diwariskan. 

Pada tahun 2018 PT Indo Supply Chain meluncurkan aplikasi mobil (Mobile Application) ISCGlobe untuk mempermudah proses kemitraan. Calon mitra usaha bisa dengan mudah melakukan pendaftaran secara daring baik melalui aplikasi mobil atau website. 

Tak hanya pendaftaran mitra saja, pemesanan produk pun bisa dilakukan secara daring. Sampai akhir tahun 2020, ISC terus memperluas jangkauan area pengiriman ke beberapa kota seperti Karawang, Tasikmalaya, Cirebon, Pekalongan, Yogyakarta, Solo, Sidoarjo dan Malang.

Ini yang paling menarik bagi saya. ISC tidak hanya fokus pada pengembangan bisnisnya saja. ISC memiliki misi membantu perkembangan UKM lokal di Indonesia. Saat ini ISC telah bekerjasama dengan puluhan UKM sebagai penyedia produk ISC. UKM yang menjadi supplier ISC tersebar di Pulau Jawa dan Bali. 

Inilah yang dinamakan dengan prinsip gotong royong yang menjadi semangat bagi ISC dalam mengembangkan usaha. Cocok banget dengan prinsip masyarakat di Indonesia bukan?

Dengan mengenal ISC ini saya jadi memiliki harapan. Kita nggak pernah tahu darimana pintu rezeki dibukakan oleh-Nya. Pengen juga bisa menjadi rekanan ISC sebagai penyedia produk. Saya yakin produk-produk saya kompetitif kok dari segi kualitas produk dan harga. 

Setelah menulis ini saya langsung hubungi ISC ah. Setidaknya kalau peluang menjadi penyedia produk kecil, masih bisalah menjadi mitra bisnis tanpa modal. Lumayan juga kan, belanja dengan jumlah nggak banyak bisa dapet komisi? 





















































Selasa, 09 Februari 2021

1000 hari untuk selamanya





Ia melangkah mendekati nisan itu. Tangan kanannya membawa sebuah mini red velvet cake dengan beberapa lilin yang menyala di atasnya. Sebuah mawar putih tergenggam di tangan kirinya. Sebelum ia letakkan mawar itu di atas nisan, ia mendekatkan mawar itu ke hidungnya. 

Ia menghela napas. Kemudian berjongkok. Sejenak ia memejamkan mata. Ia menggigit bibirnya, menahan air yang hendak tumpah dari matanya.

“I hate you ...,” bisiknya sambil menatap nama yang tertera di nisan itu. Lalu ia meletakkan kue kecilnya. 

“But I miss you so much.”

Suaranya makin memelan. 
Angin sepoi meniup bunga kamboja yang berada di dekat gadis itu. 


Sehelai daun kamboja jatuh di kepalanya. Menyadarkan bahwa ia tak hanya ingin berkunjung saja.

"Kamu baik kan? Awas kalau kamu sedih di sana. Kan kamu sudah nggak sakit. Kamu sudah bahagia sama Allah. Bisa nggak bilang ke Mama supaya nggak worried lagi sama kamu?"

Matanya memburam. Ia mengatupkan rahangnya. Mencoba bertahan untuk tidak mengeluarkan air mata.

Kamu sudah pergi, Kak. Tapi kenapa kamu masih aja ngambil kasih sayang Mama semuanya? Nggak nyisain dikit aja buatku. Di pikiran dan hati Mama cuma ada kamu."

Dadanya pepat. Isak tak mampu lagi di tahan. Ia membiarkan air matanya luruh. Sampai seseorang yang melangkah dari kejauhan mendekat pun ia tak menyadari. Seseorang yang lantas berdiri tak jauh darinya. 

"Seribu hari. Hampir tiga tahun kepergianmu. Sampai umurku tujuh belas tahun hari ini. Aku tak pernah ada dalam kepala Mama. Padahal aku yang masih bernapas. Aku yang masih butuh cinta Mama. Mungkin, Mama akan mencintaiku kalau aku hanya butuh doa sepertimu, Kak."

Suaranya melirih. Meski sudah tak ada lagi yang menyumbat kerongkongannya. 

"Ayo Kak, ucapin Happy Birthday buatku. Kayak dulu-dulu. Jangan sok lupa kalau hari ini umurku udah 17. Udah kubawain kue nih, supaya kita tiup barengan."

Ia menyalakan lilin yang tadi sudah padam. Menyanyi dengan lirih. Memberikan ucapan selamat pada diri sendiri. Lantas meniupnya. 

"Udah ah, aku pulang. Di rumah ada acara 1000 hari kepergianmu. Nggak enak kalau aku telat sampai rumah. Sejujurnya, aku benci harus selalu berkala mengingatmu sudah pergi. Menyakitkan, sudah selama ini Mama tak menganggapku ada. Jangankan ulang tahunku, sekadar membangunkanku tidur pun tidak."

Ia berkemas. Kemudian berbalik hendak melangkah. Namun langkahnya terhenti. Melihat seseorang berdiri menatapnya sendu. 

Hatinya menghangat. Ingin rasanya menghambur ke dalam pelukan sosok perempuan yang menatapnya dengan berkaca-kaca. Sejenak saja keinginan itu hadir. Lantas ia mulai melangkah kembali. Meskipun kakinya seperti dijerat tali.

"Kia ..."

Langkahnya terhenti. 

"Tunggu Mama ya? Kita pulang sama-sama. Mama akan menyapa Kakak dulu."

Kembali napasnya menyesak. Ia merasa bahwa ia bukanlah pilihan. Ia membalikkan badannya.

"Kia pulang duluan aja."

Mama pun lantas membalik dan berjongkok di depan nisan kakak Kia. Membuat hati Kia semakin perih. Ia begitu ingin Mama menahan langkahnya. Namun harapan memang tak pernah berbanding lurus dengan kenyataan. Benar ucapnya tadi. Ia akan dicinta saat Mama hanya bisa berdoa. 

Ia kembali melangkah. Meninggalkan Mama yang khusuk berdoa. Air matanya meleleh satu-satu. Matanya pun memburam. Saat Kia hendak menyeberang jalan, sebuah mobil berjalan zig zag menuju ke arahnya. Ia terbelalak.

Brraaakkkk!

Benturan keras memekakkan telinga di sekitar area pemakaman itu. Mama terlonjak. Jantungnya berdebar keras.

Kia!

Mama berlari dan meraung.

"Kiaaaaaaa!"

Jantungnya makin berdebum melihat kerumunan orang di luar area pemakaman. Matanya sudah berkunang-kunang melihat sebuah mobil menabrak pohon di pinggir jalan. Semakin dekat. Semakin tak berjarak.

"Kiaaaaaaaaaa!"

Gadis itu terduduk hanya dua meter dari pohon yang dahannya patah karena tertabrak. Wajahnya pucat pasi. 

Mama pun jatuh terduduk dengan air mata berderai. Dengan sisa tenaganya ia bersujud. Mengucap syukur.

***


Rumah kembali sepi. Acara 1000 hari kepergian Leon telah berlalu. Setelah ini takkan ada lagi ritual mengingat Leon. Takkan ada lagi kesibukan menyiapkan segala hal berbau Leon. Semuanya tertinggal di hati. 

"Waktuku untuk move on," bisik perempuan usia empat puluhan tahun itu sambil mengelus foto Leon yang terpampang di dinding. Foto yang takkan berganti-ganti karena takkan ada lagi kesempatan memasang foto Leon yang makin dewasa. 

"Harusnya sudah sejak lama kamu move on, Ma." 

Mama menoleh, kemudian berjalan mendekati Papa. Dengan lembut Papa menggandeng tangan Mama. Lantas diajaknya Mama masuk ke kamar. 

"Aku pernah bilang, jangan memaksaku melupakan Leon, kan?" 

Papa tersenyum, lantas menyentuh pipi Mama pelan.

"Tak ada yang melupakan Leon. Kamu, aku ataupun Kia. Aku cuma mengingatkan. Ada Kia yang harusnya mendapatkan cinta kita penuh-penuh."

"Kia pasti paham kenapa aku begitu mencintai kakaknya."

"Ia paham kamu begitu mencintai Leon. Yang ia tak paham adalah obsesimu terhadap kenangan."

Mama menatap Papa tak suka. 

"Aku nggak pernah terobsesi terhadap apapun."

"Lalu apa namanya kalau setiap hari kamu selalu membicarakannya tak kenal waktu. Yang kamu bicarakan itu sudah nggak bernapas lagi, Ma. Harusnya kita lebih memikirkan nyawa lain yang kering dari perhatian kita."

Mata Mama memerah. Kedua tangannya mengepal erat.

"Yang sudah nggak bernapas itu pergi karena menyelamatkan nyawa lain itu, Pa!"

Mama setengah berteriak. Napasnya tersegal-segal menahan rasa sakit di dada.

Papa menghela napas. Ia berusaha memeluk, namun lengannya ditepis kasar oleh Mama.

"Jangan lupa, Ma. Kia sampai sekarang tak bisa mengingat hal itu. Ia juga mengalami trauma. Benturan di kepalanya membuat sebagian memorinya hilang. Ia takkan pernah ingat bagaimana Leon bisa tertabrak motor karena menyelamatkan Kia. Yang ia ingat hanya Leon melambaikan tangannya dan tersenyum. Ia tak ingat setelah itu ia hendak menyeberang jalan. Ia tak pernah tahu ada motor ngebut yang mendekatinya lalu Leon berlari menyelamatkannya."

Yang bertahun-tahun ingin dilupakan dihadirkan kembali oleh suaminya. Anak lelaki kebanggaannya. Yang selalu berprestasi di sekolahnya. Lelaki yang mulai mendewasa. Yang santun dan lembut mewarisi sifat ayahnya. Anak muda yang dikagumi oleh banyak lawan jenisnya. Si penyayang yang tercinta. Yang tak pernah disangka diambil paksa oleh Sang Pencipta. 

Mama tersedu. Inginnya meraung mendengar kata-kata Papa. Inginnya Mama Leon tetap hidup di rumah ini. Leon hanya pergi sebentar. Ada kegiatan OSIS atau sedang bermain basket. Leon sedang di kamarnya, lagi nggak mau diganggu. Leon sedang belajar. Leon sedang ...

Mama tak ingin kehilangan Leon. Menghadirkan Leon di rumah ini sejatinya hanya menutup lukanya karena pernah menganggap Kialah penyebab Leon pergi. Menghadirkan milyaran cinta untuk Leon di permukaan sebenarnya hanya untuk mengikis kebencian yang timbul karena Leon mengorbankan diri sendiri. 

Leon berkorban untuk adik kecilnya. Adik yang juga lahir dari rahim yang sama. Adik yang didambakan semua orang di keluarga besar. Yang kelahirannya ditunggu banyak orang karena memiliki predikat sebagai cucu perempuan satu-satunya. 

Kia ...

Sebelumnya menjadi tumpahan kasih sayang banyak orang. Setiap tahun selalu merayakan ulang tahunnya dengan berbagai hadiah serta dikelilingi orang-orang tercinta. Terakhir kalinya ia berulang tahun dipenuhi peluk dan cium adalah ulang tahunnya yang ke 14. Ketika semua orang berbahagia. Saat Mama belum terluka seperti hari ini.

Mengingat Kia membuat Mama tergugu. Sejujurnya kejadian tadi siang cukup memukul perasaannya. Betapa ia pun takut kehilangan Kia. Seperti tulang-tulangnya terlepas dari tubuh ketika mendengar suara tabrakan yang demikian keras. Napasnya sedemikian sesak karena takut kehilangan yang kedua kalinya. Sesal mulai beterbangan di kepala, mengingat kata-kata Kia yang terucap di depan nisan Leon. 

Benarkah Leon telah merampas seluruh cinta Mama? Tak ada sedikitpun yang tersisa untuk Kia? Benarkah cintanya pada Kia akan muncul saat Mama hanya bisa mendoakan saja? Apakah Mama akan menunggu cinta datang saat sudah tak mampu lagi mendekap?

Mama menggelengkan kepalanya. Benar kata Papa. Ada hati lain yang menunggu cinta. Hati lain yang begitu terluka karena diabaikan sedemikian lama. 


Tuhan ...

Jangan sampai cahaya di hatinya redup karena kesalahanku, batin Mama. 

***


Mata Kia sulit terpejam. Meski jam di dinding sudah menunjukkan pukul 02.00. Tetap saja kantuk tak segera menyapa. 

Ia masih mengingat Mama. Ekspresi Mama, kekhawatiran Mama. Meski ditunjukkan tak lama. Namun cukup membuat hatinya menghangat.

Ada percikan kasih di mata Mama. Sujud syukur disertai air mata yang meleleh saat mengetahui Kia baik baik saja cukup membuat Kia merasa. Ada harapan yang tersemai untuknya. Mendapatkan cinta yang selama ini ia anggap diambil habis oleh Kak Leon. 

Tertatihnya Mama saat berjalan mendekatinya. Dekapan erat Mama sehingga Kia pun merasakan degup jantung Mama. 

Dalam diam Kia menikmati napas Mama di kepalanya. Mensyukuri basah rambutnya karena air mata Mama. Rasanya ingin membiarkan pipinya tetap memerah karena bekas lipstik Mama. Kia makin memahami. Mama hanya butuh diberi waktu. Membiarkan Mama melepaskan Kak Leon dengan keikhlasan tanpa paksaan. 

Mama ...
Maafkan Kia ...

Ingin rasanya menghambur dalam pelukan Mama. Namun Kia tahu. Ia harus bersabar menunggu datangnya matahari. Mama pasti lelah mengurus sendiri acara 1000 hari kepergian Kak Leon. 

Tiba-tiba saja Kia memiliki rasa rindu. Untuk perempuan yang melahirkannya. Untuk perempuan yang 1000 hari ini telah terluka. Sayangnya tak ada foto Mama di kamarnya. Ia harus ke ruang keluarga untuk menatap wajah Mama. 

Namun Kia juga khawatir. Apakah rindunya akan disambut Mama. Apakah rindunya tak melukai jika besok kenyataannya tak seindah harapan? 

Kia tak ingin berandai-andai. Biarlah, jika harapannya harus tetap membumbung tinggi. Yang terpenting baginya, Kia akan memberikan waktu sebanyak yang Mama mau. 

Pelan-pelan ia keluar dari kamarnya lalu berjalan ke ruang keluarga. Tiba-tiba darahnya tersirap. Mama sedang berdiri menatap foto keluarga. 

"Kia ..."

Kia tak jadi melangkah pergi saat ia sudah membalikkan badannya. Dalam temaram lampu, ia melihat wajah kelelahan Mama dengan jelas. Mata sembab Mama tak mampu ditutupi. 

Mama melangkah mendekati Kia. Membelai rambut Kia sekilas, kemudian menatap Kia lekat-lekat sampai Kia pun jengah dibuatnya.

"Mama apaan sih?"

Mama tertawa. Sejurus kemudian mulut Mama terkatup rapat. Hidung Mama tiba-tiba memerah. Mata Mama pun berkaca-kaca. 

"Kak Leon tak pernah merampas habis cinta Mama, Ki. Mama yang tak bisa memaruh cinta Mama dengan baik."

Mama terisak. Kia masih saja mematung di depan Mama. Kia tak kuasa untuk bergerak. 

"Maafkan Mama, Ki. Mulai hari ini. Kita saling menyembuhkan luka ya?"

Sebelum Mama menyelesaikan kalimatnya, Kia sudah menghambur. Ia tak perlu memberikan Mama banyak waktu. 1000 hari sudah cukup bagi Mama. Untuk selamanya memberi cinta untuk Kia. 

"Selamat Ulang Tahun ya, Ki. Kamu pengen kado apa?"
Sejenak Mama melepas pelukan. 

Kia menatap Mama, lalu menggeleng. Kembali ia mengetatkan pelukan.

Kia tak ingin kado apapun di ulang tahunnya kali ini. Hadiah yang tak ternilai baru saja ia dapatkan dari Mama.

***

Kamis, 28 Januari 2021

Ngefans di usia matang, yay or nay?


Assalamualaikum temans,

Pasca operasi tumor payudara, saya mengalami banyak hal yang saya sendiri masih kebingungan sendiri mencari jawaban. Saya kehilangan banyak hal di diri saya. Kehilangan terbesar yang saya rasakan adalah kehilangan kepercayaan diri dan semangat. Saya belum menemukan jawaban atas semua itu. 

Saya sudah merasa lelah dengan kondisi saat ini. Pandemi yang tak kunjung mereda. Situasi perekonomian yang tak makin membaik. Berbagai macam pikiran berkelindan di kepala. 

Menulis, satu hal yang sebelumnya sangat saya sukai pun saya tinggalkan. Bermula dari dua laptop yang dipakai anak-anak untuk sekolah online. Saat anak-anak sudah selesai melakukan pembelajaran, saya sudah merasa lelah dan malas untuk menyalakan laptop kembali. Benar-benar satu hal yang tak produktif. Pada akhirnya saya menghibur diri dengan bermain sosial media. 


Sebelumnya saya sering menertawakan mereka yang bermain sosial media tanpa batas. Hidup hanya untuk scrolling instagram, nonton youtube mulai dari yang sangat berfaedah sampai hal-hal terreceh, atau joget-joget tiktok nggak inget umur. 

Ternyata saya pun membuang waktu di tempat yang sama. Seperti emak-emak lain, saya bergembira ria menonton tayangan pasangan artis yang dijodohkan oleh netizen. Hampir setiap hari di berbagai sosial media saya mengikuti mereka. Dari pagi sampai malam. Ngeuwuin kelakuan mereka. Meski nggak sampai ikut menulis komentar. Hanya membaca dan menyimak saja. Saya sadar diri, sudah nggak masanya ikut serta dalam keriuhan tersebut. 

Anak-anak pun protes. Pasangan viral itu sering saya masukkan dalam obrolan dengan anak-anak. Iya sih, saya tuh biasanya kalau ngobrol dengan anak-anak ya sesuatu yang relate dengan mereka. Lha ini kok bisa berbeda banget. Meski begitu tetap tak mengubah saya.

Namun lambat laun ada sesuatu yang mengusik pikiran saya. Sering membaca postingan dan komentar dari fanbase pasangan tersebut kok membuat saya seperti pelan-pelan terbangun dari tidur. 

Mereka penggemar fanatik yang tak terima saat idolanya dikritik atau diberi saran. Menutupi kesalahan idola mereka dengan melempar kesalahan pada idola lain. Membandingkan. Dan bar bar. Bahkan ada semacam polisi yang mencari akun haters lalu mengajak anggota fanbase untuk mereport akun yang dianggap merugikan. 

Saya pun kepo, kemudian membuka beberapa akun anggota fanbase tersebut. Banyak juga yang seumuran saya berperilaku seperti bocah. Ikut menghujat orang lain yang tak sependapat. Membela idola sampai seperti pasukan berani mati. Ada apa ini? Mengapa emak-emak seumuran saya bisa berperilaku seperti itu? 

Bisa jadi, mereka mencari kebahagiaan. Banyak orang di usia saya adalah manusia-manusia yang kurang terpenuhi afeksinya. Sudah tak lagi mendapatkan pemujaan dari pasangan. Dalam kepalanya sudah penuh oleh tanggung jawab akan keluarga. Urusan suami, anak, rumah, urusan sosial, lingkungan, ataupun pekerjaan. Banyak di antara mereka kemudian lelah dan mencari kebahagiaan semu di sosial media. 

Pada akhirnya, mereka menggantungkan kebahagiaan kepada sang idola. Idola yang selalu tersorot kamera menjadi sosok sempurna yang bisa mewujudkan kebahagiaan. 

Nggak ada yang salah ketika seumuran saya memiliki idola. Saya yakin, semua orang memiliki idola di umur yang tak lagi remaja. Bahkan salah satu teman saya mbak Siti Maryamah pun viral saat Reza Rahardian membaca suratnya dengan mata yang berkaca-kaca. 

Hanya saja sebagai orang yang sudah berumur dan menjadi orang tua. Rasanya pantas sekali jika kita mampu menempatkan diri. Sewajarnya dalam bersikap ketika menjadi seorang fans. Jangan salah. Anak-anak, apalagi yang sudah menjelang dewasa pun memantau kita dalam bersosial media.


Tak ada salahnya bagi kita untuk lebih menahan dan menjaga diri dalam bersosial media.

Jumat, 08 Januari 2021

Pendidikan Anak Remaja di Era Pandemi



Assalamualaikum temans, 

Pandemi ini sudah berjalan satu tahun. Belum ada tanda-tanda pandemi ini segera pergi. Di berbagai tempat malah kondisinya makin parah. 

Di kabupaten Magelang, setelah sekian lama dikategorikan sebagai daerah merah, minggu ini sudah mulai berganti warna menjadi orange. Dari data yang ada kecamatan dengan resiko penularan sedang berada di kecamatan empat kecamatan yaitu Salaman, Borobudur, Bandongan dan Mertoyudan. Satu kecamatan sudah zero pasien covid, sementara kecamatan lainnya beresiko rendah. Agak khawatir juga pasca liburan begini. Khawatir aja ada penambahan pasien pasca liburan lalu. Harapannya sih semua orang menati protokol kesehatan sehingga bisa meminimalisir penularan. 


Meski berita tersebut termasuk menggembirakan, ada juga berita duka melingkupi keluarga besar saya. Salah satu anggota keluarga besar, seorang dokter akhirnya syahid setelah tertular dari pasien. Semoga beliau husnul khotimah.


Apa kabar dengan anak-anak di rumah? Bagaimana dengan para ibu di rumah? 

Sejujurnya saya pun sudah lelah. Menghadapi dua remaja di rumah memang tak seberat jika mendampingi pembelajaran jarak jauh pada anak usia SD. Saya harus banyak bersyukur karena anak masih relatif tertib saat pembelajaran jarak jauh. Namun banyak berkurang kualitasnya. 

Nggak bisa dipungkiri pandemi ini mengubah banyak hal, termasuk di rumah. Era new normal terjadi juga dalam keluarga. Banyak value yang bergeser dalam pendidikan dan pengasuhan anak. Contohnya, karena cuaca dingin di rumah membuat anak-anak malas mandi jika hendak pembelajaran. Biasanya bakda shalat shubuh mereka melakukan persiapan sekolah, di saat pembelajaran jarak jauh pasca shalat Shubuh pun tidur lagi. Bangun pun menjelang pembelajaran. 

Gadget yang biasanya terpegang di sore hari, saat ini terpegang tanpa jeda. Tahun lalu nggak kepikiran game online, akhir-akhir ini si Adek pun minta izin untuk main game online. Alasannya sudah menjelang 15 tahun. Sudah bisa mengontrol diri nggak main game online melulu. 

Akhirnya saya mengizinkan. Dengan catatan hanya satu game online yang dia unduh. Itu pun di HP saya. Kontrol tak hanya berada di tangannya. Namun dari saya juga sebagai orang tua. 

Marah nggak kalau tiba-tiba saya minta HPnya? Sama sekali nggak. Kadang ia minta waktu untuk menyelesaikan satu term permainan. Setelah itu akan ia serahkan. Waktu bermainnya pun menunggu saya tak menggunakan HP. Itu salah satu cara mengajarkan anak untuk bersabar dan tahu diri. 

Saya tak terlalu berharap banyak dengan nilai akademis anak-anak. Pada akhirnya ketika ia melaksanakan pendidikan di rumah, maka mengajarkan life skill merupakan hal terpenting yang bisa kita ajarkan pada anak-anak. Makna parenting di masa pandemi ini begitu terasa. Menjadi orang tua. Menjadi rumah untuk hati anak-anak. 

Untuk si Kakak sih, masalah life skill sudah auto pilot. Sudah teruji pasca saya operasi tumor payudara. Ia sudah mampu menggantikan peran saya mengurus rumah tangga. 


Sebenarnya Adek pun ya nggak gagap-gagap amat dengan pekerjaan rumah tangga. Setiap kali saya memintanya melakukan pekerjaan rumah tangga ada kalimat yang sering kali saya ulang untuk memotivasinya.

"Di luar negeri tuh bayar asisten rumah tangga mahal banget. Kalau Adek nanti sekolah di luar negeri, Adek udah terbiasa melakukan sendiri. Jadi nggak keluar biaya lebih banyak lagi."

Dan Adek pun sudah nggak pernah lagi mempertanyakan kenapa ia mesti melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh kaum perempuan. Di rumah ia sudah terbiasa menjemur pakaian seluruh anggota keluarga. Ia pun paham kapan harus mengangkat jemuran saat sudah kering atau karena mendung menggantung.




Menyapu lantai saat ART libur sudah biasa ia lakukan. Memetik sayuran saat saya meminta pertolongan pun sudah terampil. Bahkan saat saya dan Kakak puasa sunnah, ia terbiasa menyiapkan makan siang sendiri. Memang masih masakan sederhana. Paling suka ia membuat omelet telur atau nasi goreng. Terkadang saya menyetok bumbu nasi goreng siap pakai. Namun saat stok habis, Adek tahu bagaimana meracik bumbu nasi goreng. Rasanya pun lumayan. 




Selain life skill,  hikmah adanya pandemi ini saya dan anak-anak makin memahami dan kedekatan pun semakin bertambah. Kalau dulu kami mengobrol saat makan dan menjelang tidur. Sekarang kapan aja kami bisa ngobrol. Lha bosen ngikut daring aja bisa langsung nyamperin simboknya. Ngobrol random setiap hari. Makin terlihat anak-anak bertumbuh jiwa dan raganya.

Salah satu yang saya syukuri adalah Kakak dan Adek makin dekat. Saling menolong saat pembelajaran daring. Nggak pernah bertengkar. Karena sudah terbiasa berbagi, mereka nggak egois sama sekali. Kalau toh ada keributan kecil karena salah satu gabut dan mengganggu yang lainnya. 

Namun tetap ada yang membuat saya galau. Tahun ini Kakak akan lulus SMA dan Adek lulus SMP. Sama-sama mencari institusi pendidikan yang baru. Tempo hari waktu ke Semarang Kakak minta dianterin ke universitas negeri yang ada di sana. Lihat-lihat dari mobil doang. Setidaknya ia punya bayangan jika hendak kuliah di Semarang seberapa jauh jarak dari rumah eyangnya ke kampus-kampus itu. 

Si Kakak masih galau dengan jurusan yang hendak ia pilih. Meski saya memberikan arahan, tetap si Kakak yang memilih sesuai minat bakatnya. 

Sementara si Adek sudah mantap memilih jurusan IPS saat SMA nanti. Sejujurnya saya berharap ia memilih jurusan IPA untuk sekolah lanjutannya. Hanya saja saya harus legowo. Bukan saya yang sekolah. Saya memilih si Adek sekolah dengan bahagia. Tidak akan saya memaksa burung untuk bisa berenang. Takkan pernah saya meminta ikan untuk belajar terbang. Yang terpenting ia menjadi yang terbaik versi dirinya.

Semoga semuanya berjalan lancar ya temans. Mohon doanya.




























Jumat, 18 Desember 2020

5 Kelebihan Asus Zenfone 5 ZE620KL



Di tahun 2018 lalu, Asus memperkenalkan seri Asus Zenfone 5 yang terdiri dari tiga produk yaitu Asus Zenfone 5 ZE620KL, Asus Zenfone 5Z ZS620KL, serta Asus Zenfone 5Q ZC600KL. Ketiga seri Asus Zenfone 5 tersebut menawarkan kualitas kamera yang tergolong baik lengkap dengan berbagai kelebihannya masing masing. 

Tetapi yang akan dibahas disini hanya Asus Zenfone 5 ZE620KL yang dibandrol dengan harga Rp. 4 jutaan. Asus Zenfone 5 ZE620KL ini dihadirkan dengan dibekali banyak kelebihan, seperti diantaranya :


1. Perfoma Cukup Baik Untuk Gaming
Kamu tidak perlu meragukan lagi perfoma Snapdragon 636. Untuk kelas menengah, chipset ini bisa dibilang cukup mumpuni untuk digunakan bermain game. Memang chipset ini tidak sekencang Snapdragon 660, tetapi perfoma Snapdragon 636 tergolong lumayan. Perfoma Snapdragon 636 pada HP Asus Zenfone 5 ZE620KL ini kurang lebih hampir sama dengan perfoma Asus Zenfone Max Pro M1 atau Xiaomi Redmi Note 5. 

2. Kamera Dengan Fitur AI
Asus Zenfone 5 ZE620KL telah dibekali dengan kamera yang tergolong cukup baik. HP ini mengusung kamera ganda 12 MP + 8 MP dibagian belakangnya. Kameranya dilengkapi fitur AI yang tergolong cukup baik. Kamera belakang HP ini dilengkapi sensor Sony IMX363 yang mampu menangkap gambar dengan kualitas baik. 

3. Kualitas Layar Tergolong Baik
Asus Zenfone 5 ZE620KL hadir dengan mengusung layar 6.2 inci dengan resolusi Full HD+ 1080 x 2246 piksel. Layarnya yang menggunakan panel IPS dihadirkan dengan notch yang pastinya bisa dipilih untuk disembunyikan atau ditampilkan. Layar Asus Zenfone 5 ZE620KL yang mengusung panel IPS ini mampu menampilkan tampilan warna yang cerah serta lebih hidup. Reproduksi warnanya juga tampak bagus. Disediakan juga opsi untuk mengatur tingkat kecerahan layarnya. 

4. Desain Bodi Kokoh Dan Cantik
Asus Zenfone 5 ZE620KL tidak hanya hadir dengan tampilan layarnya saja yang baik, tetapi desainnya juga cantik. HP ini memiliki bodi yang cukup lain dari yang lain serta memiliki khas tersendiri. HP ini dibalut dengan desain bodi berbingkai logam yang dilapisi kaca pada bagian belakangnya. Lapisan kaca tersebut membuat HP ini tampak terlihat lebih cerah serta terasa lebih mahal. HP ini memiliki bodi yang tidak terkesan plastik dan murahan sama sekali. Bodinya juga tergolong kokoh sehingga Asus Zenfone 5 ZE620KL bisa dibilang sebagai salah satu HP yang memiliki bodi kokoh.

5. NFC Dan Fitur Lengkap Lainnya 
Asus Zenfone 5 ZE620KL memiliki fitur lengkap, bahkan tergolong paling lengkap dibandingkan dengan HP 4 jutaan lainnya. Misalnya saja ada fitur NFC yang kini sudah banyak dicari orang pada HP kelas menengah. Fitur lainnya adalah sensor pada HP ini yang tergolong cukup lengkap. Semua sensor yang dibutuhkan HP berkelas bisa ditemukan di HP ini, terkecuali Pressure Sensor dan Temperature Sensor. 

Fitur lain yang ditawarkannya adalah kelengkapan konektivitas misalnya 4G LTE, WiFi 802.11 a/b/g/b/ac, Bluetooth 5.0, dan pastinya saja GPS. Asus Zenfone 5 ZE620KL juga memiliki fitur penting bernama Noise Canceling yaitu sebuah fitur untuk menghadirkan kualitas suara panggilan yang baik. 


Dengan banyaknya fitur yang dimilikinya, sehingga tidak heran jika Asus Zenfone 5 ZE620KL ini tergolong memiliki kelebihan sebagai HP yang memiliki fitur yang memang seharusnya ada pada HP kelas menengah.