Jurnal Hati

Sabtu, 15 Februari 2020

5 Hal Bikin Hepi Gabung di Gandjel Rel

Saya masih baper gegara nggak bisa gabung di perayaan ultah Komunitas Gandjel Rel yang ke lima. Selain gegara sempat bermasalah dengan kaki sehingga dilarang suami naik motor atau mobil jauh-jauh, sudah ada agenda yang dirancang anak-anak di hari itu jauh hari sehingga saya nggak tega mengecewakan mereka. 

Saya udah ngebayangin hepinya ketemu temen-temen Gres. Udah lama nggak ngumpul tuh bikin kangen. Kebayang deh serunya acara tahun kemarin. Pokoknya komunitas Gandjel Rel itu salah satu komunitas terbaik yang pernah saya ikuti. 

Sering loh saya ditanya. Saya kan tinggal di Muntilan. Kok mau-maunya ikutan event atau ngumpul ke Semarang. Nah ... Ini nih lima hal kenapa saya hepi banget ngumpul dengan mereka.

Persaudaraan yang kuat
Saya kenal beberapa member Gandjel Rel udah lama banget. Pokoknya seumuran Alde anaknya mb Dedew deh. Soalnya ketemu pertama tuh pas Mb Dedew masih hamil Alde. Setelah pertemuan pertama jadilah kami sering ketemu kalau pas sayanya ke Semarang. Pokoknya nyari waktu banget untuk ketemuan kalau pas di Semarang. Rugi banget kalau nggak ngumpul. Udah gitu kalau ngumpul wajib sampai sore pula. Terus kalau pas ada teman member Gandjel Rel yang kena musibah, dengan ringan tangan member yang lain ikutan support. 

Nggak pelit berbagi ilmu
Siapapun bisa berbagi ilmu di Gandjel Rel. Mau pertemuan off air atau di WAG sering banget dapet ilmu yang bermanfaat. Mau nanya tentang psikologi ada mb Nia dan mb Rizka Alyna, mau nanya tentang blogging bisa ke mb Untari, mb Marita, atau founder Gandjel Rel yang emang udah lama blogging. Mau nanya tentang asuransi atau keuangan? Bisalah nanya sama Bu Rinas yang expert pengetahuannya. Atau pengen nanya tempat wisata keren? Bisa dong ke Mara, Tina, Erina, Lee, atau mb Ika dan mb Wati. Tentang perbukuan, cus langsung ke Mb Dedew, mb Dian Nafi, atau mb Lia Herliana yang aktif banget nerbitin buku. Pokoknya terlove deh.

Suka bagi-bagi kerjaan
Ini mungkin bagian yang paling disukai. Semua orang bisa bagi-bagi kerjaan. Pokoknya tinggal ngelist aja. Insya Allah listnya bakal disetor ke klien dan di approve. Nggak ada yang pilih kasih. Semua punya kesempatan yang sama untuk dapat kerjaan di grup itu. Oke kan?

No baper baper club
Nggak ada namanya member left grup gegara baper. Misal ada hal yang perlu diomongin ya dijerengin aja di WAG. Beda pendapat biasa aja. Dan senengnya saya tuh ada mb Uniek yang selalu ngingetin supaya jadi pekerja yang profesional di dunia digital. Doi macak antagonis, tapi sebenarnya hatinya lembuut banget. Gampang mewek benernya kalau tersentuh.

Profesional
Meski persaudaraan kuat, masalah pekerjaan tetap dilakukan dengan profesional. Kalau memang tidak memenuhi standar ya jangan harap dapat pekerjaan lagi. Coba deh lihat blog nya member Gandjel Rel. Mulai tampilan blog sampai penulisan dilakukan dengan baik. Konten dan infografis dibuat dengan serius sehingga menghasilkan blogpost yang menyenangkan untuk dilihat dan dibaca. 

Nggak salah kan saya betah aja di Gandjel Rel ini? Pokoknya Selamat Ulang Tahun yang ke lima ya Gandjel Rel? I love you more 3000


Minggu, 09 Februari 2020

Cerita Adek : Ketika remaja memilih bersikap tegas


Sedari SD sepertinya Adek punya daya tarik untuk disukai lawan jenis. Sejak klas 5 SD ada aja anak yang mengiriminya surat atau ngajak ngobrol via Direct Message. Bahkan cerita gurunya, ketika klas 6 dulu, ada beberapa anak perempuan klas 1 sering menunggunya di masjid saat shalat Dhuhur. Hanya sekadar melihatnya keluar, anak-anak itu sudah senang. 

Allah juga memberinya anugerah bahasa tulis yang bagus. Hanya menulis pesan untuk saya pun manis banget. Marah pun lebih sering menulis pesan untuk saya. Meski terkadang saya terkaget-kaget juga dengan apa yang ia tuliskan. Namun ia mampu mengendalikan diri, tidak bersuara keras, ataupun bertindak anarkis. Itu wajib saya syukuri juga, karena dahulu pernah mengalami hambatan emosi sehingga saya harus menemui profesional untuk meminta bantuan. 

Sejak klas lima SD keingintahuan tentang rasa cinta memang besar. Mungkin melihat teman-temannya sudah mulai menggunakan emoji hati merah jambu. Bahkan ada juga yang katanya 'jadian'. Selain bertanya, ia memang banyak cerita. Buat saya itu poin penting menjalin kedekatan dengan anak laki-laki. Saya tahu siapa saja perempuan yang ia sukai dan menyukainya. Sampai ia SMP klas 8, ia tetap banyak bercerita. Ia juga membolehkan saya membuka ponselnya.

Kalau waktu SD ia mendapatkan surat atau direct message di IG dari lawan jenis, sejak awal klas 7 saya lihat WA nya tak pernah sepi dari chat lawan jenis. Modusnya macam-macam. Sampai saya hafal siapa yang benar-benar tulus berteman ataupun modus. Dari bahasa chat nya pun saya tahu siapa perempuan yang tak ia sukai, namun tetap ia balas chatnya. Sopan santun aja, katanya ketika saya tanya mengapa membalas chat orang yang tak ia sukai.


Nah, si Adek ini punya perasaan spesial pada seorang temannya. Teman SD nya yang sekarang beda SMP. Bahkan sampai klas 8 ini rasanya tak berubah. Saya tahu, keduanya punya perasaan yang sama dan kuat. Karena tak pernah sekalipun punya perasaan itu ke lawan jenis yang lain. Yang saya salut, keduanya benar-benar berusaha menahan diri. Obrolan pun hanya sekedar kegiatan sekolah dan pelajaran. Saling memuji pun tidak sama sekali. Chat nya pun hanya pendek-pendek. Terkadang hanya menyemangati saat keduanya mengikuti perlombaan. 

"Semangat ya? Do the best. Chayo Lilo"
"Ok. Thanks."


"Kamu sakit ya? Syafakallah ya?
"Makasih ya? Kamu lagi ngapain?"
"Belajar. Besok ulangan."
"Semangat belajar ya? Biar bagus nilainya."

Sependek itu. Atau jika ada percakapan panjang beberapa kali ketika ia menunggu giliran berlomba. 

Sampai minggu lalu. Si Adek terlihat gelisah. Ia menyimpan ponselnya rapat-rapat. Biasanya ia cuek aja naruh ponsel. Ini kok disimpan terus. Saat saya tanya ia mengatakan tak ada hal yang penting. Lupa naruhnya, begitu alasannya. Namun tiga hari berturut-turut ia membuat story WA hanya sebuah background warna hitam. 

Sampai kemarin. Ia meminta saya membuka ponselnya. Saya diminta melihat seluruh chatnya. Saya menemukan chat dari gadis yang ia sukai. Kemudian scrolling chat nya.

"Aku boleh tanya, Lo?"
"Apa?"
"Jan marah tapi?"
"Ok."
"Kita ini sebenernya gimana?"
"Apanya?"
Emm ... Gimana ya ngomongnya? Kita itu teman atau lebih dari sekedar teman?"

"Teman. Nggak lebih."

Dari pertanyaan sampai ia menjawab 'teman' itu selisih satu jam. Ia berpikir panjang untuk menjawab bagian tersulit ini. 

Saya tahu ini berat untuknya.  Sebenarnya ia bisa memilih untuk mengatakan perasaannya kalau dia memiliki perasaan yang indah untuk gadis itu. Saya yakin gadis itu akan menerima jika Adek mengajaknya untuk merajut hati. Namun Adek memilih untuk memprioritaskan kewajibannya sebagai seorang pelajar. Ia sudah memikirkan dengan matang sebelum mengambil keputusan.

Mungkin salah satunya karena di kelas 8 ini nilainya turun drastis. Saya sih sebenarnya memahami karena ia pengurus OSIS dan sering mengikuti berbagai kejuaraan olahraga dan pramuka. Namun ia yang tak enak hati melihat nilai-nilainya jeblok. Sehingga ia merasa hal terbaik yang bisa ia lakukan untuk mendongkrak nilainya adalah tidak melibatkan urusan hati.

Pagi ini ia bercerita saat saya mengantarnya berangkat sekolah.

"Tiga hari itu aku nggak karuan rasanya. Aku bisa menahan perasaanku. Tapi aku takut dia patah hati terus nilainya jeblok.
"Padahal Adek masih suka banget ya sama dia?"
"Iyalah ... Aku pengen sama-sama fokus sekolah. Bentar lagi klas 9, terus SMA."
"Rasanya jadi anak yang tegas gimana?" Tanya saya.
" Kalau urusan ini yo sakit nggak berdarah to, Nda."
"Adek lega udah nyampein?"
"Iya. Aku galaunya udah lama. Pengen fokus sekolah, tapi yo nggak kuat sama perasaanku."
"Harapannya Adek ke depan apa?"
"Dia nggak WA aku terus, fokus sekolah. Kasihan orang tuanya kalau dia jeblok nilainya."
"Proud of you, Dek. Bunda bangga banget kamu berani bersikap tegas."

Ia tersenyum. 
"Adek nangis pas ambil keputusan?"
"Enggak. Abis itu mataku kok pedih."

Saya tertawa. Ia juga. Masih melihat matanya kurang bercahaya. Namun saya tahu ia mampu melewati semuanya. Ia anak yang kuat hati.

Saya memang melarang anak-anak berpacaran. Namun saya tak pernah melarang anak saya menyukai atau mencintai lawan jenis sejak mereka SD. Buat saya cinta atau suka kepada lawan jenisnya itu fitrah. Semuanya anugerah Allah. Kita nggak bisa meminta untuk menyukai atau mencintai seseorang. Allah lah yang memiliki kuasa atas hal itu.

Kepada anak-anak saya selalu katakan bahwa mencintai sebelum menikah bukan berarti harus memiliki. Karena jika memiliki sering kali manusia bersikap sesukanya. Bahkan terkadang merusak atas nama cinta. 

Cinta sebenarnya itu adanya ya di pernikahan. Saya katakan kalau ingin memiliki berarti siap untuk menikah. Siap menjalani kehidupan yang sering kali tak sesuai dengan harapan. Namun diridhoi oleh Allah. 

Saya katakan pada anak-anak bahwa menahan diri itu jauh lebih baik. Itu artinya kita mampu mengontrol diri dan berpikir jernih saat melakukan sesuatu. 

Alhamdulillah, semua berjalan dengan seperti yang diinginkan baik Kakak maupun Adek. Sampai hari ini. 







Selasa, 04 Februari 2020

Menghargai Ragam Perbedaan versi Yogyakarta Independent School

Assalamualaikum temans,

Jumat 31 Januari 2020 Yogyakarta Independent School atau biasa dikenal dengan nama YIS mengadakan Barongsai Event. Saya termasuk orang yang beruntung bisa hadir dan bergabung untuk mengenal bagaimana sekolah yang ternyata sudah berusia 30 tahun ini mendidik siswa siswinya. Saya dan Vera teman sesama blogger mendapatkan kesempatan untuk berbincang dengan dengan kepala sekolah ibu Kimberly Kingry dan wakil kepala sekolah Ibu Karin Albers. 

Masuk ke lingkungan sekolah internasional di Yogyakarta ini, saya seperti berkunjung ke sebuah ‘dunia kecil’ dimana beberapa suku dan ras di dunia ada di sini. 
Menyenangkan melihat mereka saling menyapa dengan akrab. Saya melihat bagaimana Ibu Karin berinteraksi dengan seorang gadis kecil siswa kindergarten. Kelihatan tulus banget. 

Murid YIS sedang menunjukkan karyanya pada Ibu Karin 
Agak kaget juga saya ketika mendengar siswa Yogyakarta Independent School ini menyapa gurunya dengan sebutan Ibu. Bayangan saya karena sekolah ini berbasis kurikulum internasional, maka panggilan terhadap pengajar ya menggunakan Mr atau Mrs. Ternyata pepatah ‘dimana kaki dipijak disitulah langit dijunjung’ berlaku di sini. Senangnya saya di lingkungan ini. 

Yogyakarta Independent School (YIS) selalu mengadakan kegiatan-kegiatan keagamaan ataupun budaya yang terkait dengan siswa siswi yang bersekolah di YIS. Kegiatan tersebut rutin dilakukan setiap tahunnya. Tak hanya siswa yang terlibat dalam kegiatan ini. Walimurid pun menjadi partner sekolah dalam mempersiapkan setiap event yang berlangsung.

Sebelum acara dimulai saya sempat berkeliling masuk atau sekedar mengintip ke beberapa kelas. Menyenangkan sekali merasakan tempat sekolah yang jauh dari cuaca panas meski di luar matahari sungguh menyengat. Sirkulasi udara gedung YIS bagus banget sehingga di dalam ruangan pun tetap adem. 



Saya sempat masuk ke kelas kindergarten. Fasilitas yang dimiliki kelas sedemikian lengkap. Saya suka sekali dengan pojok buku yang tertata rapi. Karya anak-anak yang tertempel, dan yang menurut saya kece parah tuh waktu anak-anak mengisi absennya sendiri-sendiri. Anak-anak juga kelihatan excited banget dengan kegiatan mereka.



Di papan tulis ditempelkan beberapa kalimat yang biasa digunakan untuk berkomunikasi. Menurut saya magical words itu benar-benar mengajarkan anak untuk bersopan santun antar teman. Ini adalah tindakan nyata dari sekolah untuk menghindarkan kekerasan yang terjadi antar siswa. Jadi membentuk anak yang berkarakter tak sekadar slogan semata. 



Lantas kami diajak untuk melihat berbagai karya anak di kelas yang tingkatannya lebih tinggi. Saya makin kagum aja dengan cara pembelajaran di sekolah ini. Anak diajarkan untuk mengenali dirinya, , passion, dan apa yang mereka inginkan di masa depan. Gerakan literasi dasar pun dilakukan dengan menyenangkan dan membutuhkan kreativitas. 



Di sebuah tembok menuju lantai atas, karya anak-anak yang memiliki passion melukis pun terpajang di sisi tangga. Selain itu beberapa karya anak pun berada di kelas art. Semua karya anak diapresiasi di sini. Semua anak bisa merasa bangga bahwa karyanya dinikmati oleh banyak orang. Saya pun makin kagum dengan keberadaan sekolah ini.



Semua kekaguman saya itu terjawab. Yogyakarta Independent School ini menggunakan kurikulum internasional untuk menyusun teknis pembelajarannya. Ada banyak kurikulum internasional yang dipakai oleh sekolah internasional. Dan YIS memilih menggunakan kurikulum International Baccalaureate.

Kurikulum International Baccalaureate ini berasal dari Swiss. Kurikulum ini ditujukan untuk anak dengan usia 3-18 tahun. Kurikulum ini diterapkan untuk pre-school sampai high school. Program IB yang ditawarkan oleh YIS adalah: 

  • IB Primary Years Programme (PYP) untuk usia 3-12 tahun (setara TK dan SD)
  • IB Middle Years Programme (MYP) untuk usia 11-14 tahun (setara SMP)
  • IB Diploma Programme (DP) untuk usia 15-18 tahun (setara SMA)

Apa sih kelebihan dari kurikulum International Baccalaureate ini?

Kelebihan dari kurikulum ini adalah mengeksplorasi kemampuan anak di berbagai bidang. Jadi nggak hanya seputar sains, matematika, atau bahasa. Tetapi kurikulum ini mendorong siswanya untuk berwawasan global, kreatif, mengembangkan kemampuan emosi, intelektual dan sosial. Mereka juga diharapkan berkontribusi positif terhadap lingkungan dan budayanya. Dengan kurikulum ini diharapkan bakat dan minat anak semakin berkembang. 

Di YIS tempo hari kebetulan sekali saya ketemu Mbak Atik, salah satu sahabat di komunitas menulis. Ngobrol dengan mbak Atik membuat saya yakin kualitas dari YIS sendiri.

Mbak Atiek, walimurid YIS, teman komunitas IIDN Jogja. Tiga putra putrinya di sekolahkan di YIS

Menurut mbak Atik, YIS mempunyai kurikulum IB yg menyiapkan murid-muridnya bisa mengaplikasikan apa yang diperoleh di sekolah ke dalam kegiatan sehari-hari dan dalam kehidupan yang nyata. 

“Kami memilih anak-anak untuk belajar di YIS, karena sebelumnya mereka sudah belajar dengan kurikulum IB, jadi tidak perlu adaptasi lagi dalam proses belajar mengajar. Dalam proses IB dikenal dengan nama UoI (Unit of Inquiry) yang akan dibahas selama beberapa minggu sebagai patokan untuk kegiatan proses belajar. Saya melihat anak-anak saya jadi lebih kreatif dan biasa membahas suatu topik jadi lebih dalam. Sebenarnya di kurikulum sekolah nasional sebenarnya juga sudah dikenal dengan nama tematik. Tetapi saya kurang tahu bagaimana aplikasinya pada sekolah nasional. Kalau di IB standardnya jelas, karena pengawasan yang cukup ketat. O ya, yang menyenangkan lagi guru-gurunya siap membantu setiap saat. Kalau menjelang ulangan dirasa kurang siap, murid akan diajari lebih mendalam, ditambah latihan,” begitu kata Mbak Atik. 

Lalu beliau melanjutkan,”Berbicara tentang YIS, situasi sekolah dan hubungan antar personal begitu akrab. Baik itu antar murid, guru maupun dengan karyawan, semuanya akrab. Bullying dilarang keras dan yang pasti anak-anak saya happy bersekolah di sini.”

Saya jadi tahu sekarang mengapa Mbak Atik menyekolahkan tiga anak beliau di Yogyakarta Independent School. 


Menghargai perbedaan

Diadakannya Barongsai event ini tentu saja terkait dengan tahun baru imlek. Beberapa siswa yang bersekolah di sana merayakannya. Untuk mengajarkan toleransi diantara suku dan ras siswa yang memang heterogen ini YIS pun mendatangkan penari Barongsai. Anak-anak begitu antusias menyambut event ini. Begitu juga dengan para walimurid. Warna merah mendominasi Yogyakarta Independent School hari itu. 

Add caption

Antusiasme anak-anak terlihat saat penari dengan membawa boneka naga mulai menari meliuk liuk disertai dengan formasi yang berubah-ubah. Suara musik yang berasal dari simbal dan drum membuat tarian semakin meriah. Setelah itu baby barongsai dengan warna merah, pink dan biru membuat anak-anak khususnya di tingkat pre-school tertawa terbahak-bahak. Lantas ketika pertunjukan selesai anak-anak ini memberikan angpau kepada pemain barongsai kemudian berfoto bersama.



Ada yang menarik ketika suara musik seni Barongsai berkumandang. Anak-anak SD yang berada di sekolah dekat YIS melongkok melihat dari kejauhan. Pihak sekolah pun mempersilakan anak-anak SD sebelah untuk mendekat. Bahkan disediakan kursi untuk anak-anak dari luar sekolah. Anak-anak dari SD sebelah pun bisa menikmati kesenian barongsai selama mereka mau. Indah bukan?



Mungkin anak-anak belum memahami arti toleransi. Namun saya yakin mereka memahami apa itu berbagi. Contoh nyata pihak sekolah mengajarkan pada anak-anak. Bahwa sebelum mereka mengajarkan kebaikan, mereka memberikan keteladanan. 

Jadi, buat anda yang menginginkan anak-anak bersekolah dengan kurikulum internasional, saya rekomendasi banget sekolah ini, khususnya di wilayah Yogyakarta. Yuk cus ke:

YOGYAKARTA INDEPENDENT SCHOOL (YIS)

Jl. Tegal Mlati No. 1, Jombor Lor, Sinduadi, Mlati, Sleman,
Daerah Istimewa Yogyakarta, 55284, Indonesia
Phone: +6282241044242 // (0274) 5305147 dan 5305148









Rabu, 29 Januari 2020

Aman dan Nyaman, 6 Helm Ini Punya Fitur Menarik yang Wajib Kamu Coba!

Sumber : flickr.com

Sekarang ini semua kalangan sudah bisa mengendarai sepeda motor, mulai dari remaja, orang tua bahkan anak-anak. Salah satu safety first yang harus digunakan oleh pengendara sepeda motor adalah helm. Helm mempunyai peran yang penting dalam berkendara, yakni untuk melindungi kepala dari benturan saat terjadi hal tidak diinginkan. Berbagai produsen helm ternama seperti NHK, GM, Shoei, ZEUS, INK dan lainnya telah merilis helm terbaik dengan desain stylish. 

Nah, di artikel ini kami akan memberikan rekomendasi helm stylish yang tentunya sudah SNI. Check this out!

1. JBX Helmet Bogo Retro

Sumber : moladin.com

Dengan memaksimalkan gaya berkendara ala motor klasik, berbagai macam helm desain retro, JBX Helmet Bogo Retro ini cukup laris manis di toko online. JBX sendiri merupakan salah satu produk buatan lokal. Punya banyak koleksi helm, desain dari JBX ini juga cukup variatif sehingga kamu bisa memilihnya sesuai selera. Salah satu desain warna yang feminim adalah putih fanta hingga bermotif loreng yang begitu maskulin.

2. NHK R1 Solid

Sumber : kotakhelm.com

Masih dari produk lokal, helm berkualitas tinggi selanjutnya hadir dari merk NHK R1 Solid. Dengan tipe helm half face, NHK memberikan lensa double visor yang membuat mata pengguna tidak silau karena sudah menggunakan lensa pelindung anti-UV. Kamu tinggal menggeser switch pada sisi helmnya. Jadi lebih praktis dong pastinya. 


3. KYT Galaxy Slide

Sumber : pegemart.com

Berkat adanya lensa pelindung UV, helm ini dapat melindungi wajah kamu seharian dari terik sinar ultraviolet di jalanan. Selain itu pelindungnya juga berbahan polikarbonat anti gores. Jadi kamu tidak akan kesulitan lagi untuk mengganti lensanya. Apalagi dengan fitur quick visornya yang bisa memudahkan kamu untuk menggantinya tanpa harus menggunakan alat apapun.


4. Zeus Helmet ZS-811

Sumber : zeus-helmets.co.id

Helm buatan Zeus ini tidak pegal saat dipakai serta kepala kamu juga akan tetap terlindungi. Zeus sendiri merupakan salah satu merk helm yang mengeluarkan produk full face kuat berbobot ringan. Helm ini tetap terjaga kokoh dan tahan benturan berkat material ABS yang dipakainya. Buat kamu yang lebih mengutamakan keamanan optimal pada sebuah helm selama berkendara, Zeus Helmet ZS-811 ini bisa menjadi pilihan tepat. Selain itu helm full face murah ini juga dibekali dengan kenyamanan yang begitu baik.


5. Tarakusuma Indah INK modular aventure

Sumber : m.inkuiri.com

Kalau kamu merasa helm full face terlalu berat dan sesak, Modular helmet ini harus kamu pertimbangkan. Dengan fitur full face sekaligus half face menjadikan helm INK ini 2 in 1. Untuk mengubahnya menjadi bentuk full face menjadi half face kamu hanya perlu menggeser tuas pada sisi helm dengan mudahnya. Selain itu kamu akan mendapatkan kenyamanan serta keamanannya. INK menawarkan harga helm full face ini sekitar Rp 800 ribuan. 


6. AGV K-3 SV EE205 Multi Myth

Sumber : youtube.com

Helm full face buatan AGV ini punya fitur double visor serta dry comfort yang dapat memungkin pengguna tidak kegerahan berkat ventilasi efisien. AGV K-3 ini juga punya penglihatan bidang yang cukup luas. Dengan konstruksinya yang kokoh serta modelnya dapat membuat kamu merasa nyaman ketika dipakai pada cuaca panas maupun dingin.

Helm ini menjadi barang yang paling penting karena dapat melindungi kepala dari benturan saat berkendara. Kamu harus perhatikan dalam memilih helm supaya benar-benar bisa melindungi kepala pengendara. Selain itu kamu juga harus memilih helm yang berlogo SNI (Standar Nasional Indonesia) agar berkendara lebih nyaman dan aman. 

Selamat berkendaraan dengan nyaman, temans. O ya, jangan lupa untuk selalu ngecek masa berlaku STNK ya?  Bisa cek di sini ya buat yang pengen ngurus sendiri pajak kendaraan bermotor.

Selasa, 28 Januari 2020

Remaja berbicara tentang parenting

Assalamualaikum temans, 
Belum surut berita mengenai seorang pelajar SMP di Jakarta yang melakukan bunuh diri, Sabtu lalu di kota kecil saya dihebohkan dengan kasus anak klas 6 SD mengakhiri hidupnya. Menurut berita yang beredar di WAG dan berita online motif si anak tersebut menginginkan ponsel sementara orang tua menjanjikannya jika SMP nanti.

Namun informasi lain, anak ini mengalami kekerasan verbal dari teman-temannya. Umurnya 15 tahun, namun masih klas 6 SD. Beberapa kali ia tak naik kelas. Sementara teman sebayanya sudah menjelang SMA. Hal itu yang menjadi bahan bercanda teman-temannya.

Lagi-lagi kekerasan verbal melukai harga diri anak remaja sehingga melakukan sesuatu di luar pemikiran orang dewasa. Satu hal yang perlu diwaspadai karena pelaku kekerasan verbal sering kali tak menyadari bahwa yang keluar dari bibirnya itu menyakitkan.

Masyarakat pun banyak berpendapat. Tak sedikit pula komentar mengenai anak-anak milenial yang tak memiliki Adversity quotient yang tinggi. Tak memiliki kekuatan untuk bertahan dalam kondisi buruk. Anak yang lahir setelah tahun 2000 dianggap lemah karena dimanjakan oleh fasilitas dan teknologi. Sudah dianggap lemah, jauh dari unggah ungguh pula. Cobalah untuk melihat bagaimana anak-anak sekarang berkomunikasi. Caci maki bertebaran di media sosial. Banyak hal yang dulu dianggap tabu sekarang ini malah dianggap guyonan. Kreativitas tanpa batas cenderung berlebihan sehingga hampir tak ada limit mana serius mana bercanda. Semua sama saja.

Anak milenial inikah yang patut disalahkan?


Obrolan dengan Kakak

"Anak-anak belajar bullying darimana? Belajar memaki apa cuma dari TV atau internet? Yang hobi nyebar hoax siapa? Yang memberikan fasilitas siapa?"

Pertanyaan-pertanyaan Kakak itu benar-benar menohok. Ini bukan untuk membela diri karena generasinya dianggap lemah atau nggak punya etika. Namun menyadarkan betapa banyak PR bagi para orang tua untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anaknya.

Anak-anak yang hidup di zaman generasi alpha ini adalah produk produk kita. Mereka anak-anak yang lahir dari rahim kita. Tidakkah disadari bahwa kitalah yang memberikan pengaruh terbesar bagi perkembangan batin mereka?

Kata-kata yang menghakimi sering sekali kita ucapkan. Kalimat melecehkan dianggap bercanda. Tak berpikir bahwa candaan pun bisa melukai harga diri. Makian dianggap bagian dari keakraban. Bangga melanggar peraturan meski sekecil apapun. Ketakjujuran dilindungi. Kesalahan selalu dimaafkan tanpa ada konsekuensi. Siapa di antara kita yang belum pernah sama sekali melakukan satu di antara sekian hal yang sudah tertulis. Ia orang yang hebat

"Orang memutuskan melakukan suicide itu masalahnya pasti nggak cuma satu. Kompleks dan lama. Hanya orang-orang di sekitar yang nggak peka. Dianggapnya ketika orang itu tertawa ya bahagia tok. Padahal bisa jadi loh tawanya itu menutupi sakit hatinya yang sudah dalem," lanjutnya.

Saya sedang berpikir tentang bagaimana peran agama dalam kehidupan anak-anak di zaman sekarang.

"Jangan ngomongin si anak itu lemah iman juga. Lha wong anak-anak sekarang kan banyak yang ngedapetin pengertian tentang agama itu nggak tepat. Banyak juga kan orang tua bisanya cuma nasehatin doang? Padahal remaja itu butuh dikasih tahu kalau Allah itu Maha Penyayang, Maha Pengasih, Maha Lembut. Orang tua sekarang ngasih tahunya kalau anak ngelawan Allah marah. Kalau anak bandel dikit dibilang nanti Allah murka. Kalau melakukan kekhilafan dibilang nanti masuk neraka. Kenapa orang tua nggak bilang kalau Allah itu selalu kasih kesempatan kedua bagi orang yang mau berusaha jadi baik?"

Kalimat panjang itu benar-benar masuk ke hati saya. Saya pernah lho ngasih tahu anak seperti yang diomongin si Kakak waktu anak-anak masih kecil. Banyak kesalahan di masa lalu pada akhirnya membuat saya menyadari bahwa menjadi orang tua itu ya siap belajar sepanjang hayat.

"Kalau gitu menurut Kakak gimana?"

"Menurutku, orang tua tuh kudu introspeksi. Aku yakin kok kalau orang tua sudah tepat ngedidik anak, anak nggak akan berbuat macam-macam. Anak bandel, nakal, berperilaku buruk biasanya bentuk protes yang nggak nyampe ngomongnya. Bisa juga itu dampak dari orang tua memanjakan anak."

"Itu bukan hal yang mudah buat orang tua."

"Sama aja. Nggak gampang juga buat anak ngadepin masalahnya sendiri. Bayangin aja misalnya aku punya masalah sama temen, ngadu sama Bunda, malah diremehin, dianggap sepele. Ya pasti sakit hati to yo? Coba tiap aku cerita ke Bunda atau Ayah nggak respon dengan baik, kira-kira aku ngadu kemana? Banyak anak ngerasain kayak gitu, Nda. Diremehkan orang tua, harga diri anak direndahkan. Belum lagi dituntut untuk menyenangkan hati orang tua. Gimana bisa bahagia?" Ucapnya dengan raut wajah sedih.

Saya menghela napas. Saya dan Kakak pun pernah mengalami masa-masa sulit dalam berelasi. Beberapa tahun yang lalu. Selama tujuh tahun relasi kami benar-benar naik turun seperti roller coaster. Beberapa kali harus datang kepada dua orang profesional untuk membantu memperbaiki. Insya Allah sekarang jauh lebih baik, meski tetap tak bisa sempurna.

Membangun karakter anak sering kali digaungkan oleh pemerintah. Namun di masyarakat sendiri implementasi membangun karakter anak masih jauh dari pemahaman. Banyak orang menganggap bahwa mendidik anak itu akan bisa dilakukan secara naluriah. Padahal menjaga titipan Allah itu juga tak mudah.

Tegas berbeda dengan galak. Mencintai tak sama dengan memanjakan. Banyak sekali bahasa cinta yang bisa kita lakukan. Namun semuanya harus disampaikan dengan sesuai porsinya sehingga anak dan orang tua sama-sama berbahagia.













Minggu, 12 Januari 2020

Catatan Kecil Tentangmu, Mbak Tih ...

Seminggu telah berlalu. Ternyata aku menghitung berapa lama kamu pergi. Harapku kamu sudah tenang di sana, melihat kami dari jauh dengan senyummu. Aku pernah menuliskan tentangmu di awal kisah terakhirmu. Namun hari ini, aku ingin bercerita tentangmu kembali. 

Mungkin memang tak banyak memori tentangmu. Dari sekian lama kita bersahabat bisa dihitung dengan jari kita bertemu setelah sama-sama berkeluarga.

Bukannya aku tak ikhlas. Terkadang ada rasa sesal mengapa sering kali aku membatalkan mengunjungimu karena waktu. Padahal Juli kemarin, hatiku berbisik supaya aku datang ke rumahmu saat kamu minta aku datang. Sayangnya aku yang tak bisa mengukur waktu. Aku merasa terlalu malam saat itu jika berkunjung.

Aku bersyukur, ada di masa-masa terakhirmu. Mendapatkan kabar sakitmu, bertemu denganmu dalam kondisi mudah tertawa meski sel-sel ganas itu perlahan namun cepat menjeratmu. Melihat sinar matamu yang berkilat karena semangat.

Aku menjengukmu pertama kali 5 hari setelah diagnosa sakitmu tegak. Kamu kaget begitu tahu aku datang pagi itu. 

"Kamu tahu darimana Fa? Mbak No ya?" Begitu cecarmu. Aku tersenyum dan mengajakmu ngobrol hal yang lain. Ngecengin ponakanmu yang saat itu ikut menunggumu. Hari itu penuh tawa. Meski begitu aku membaca kegundahanmu, saat kamu bertanya tentang teman kita yang meninggal tiga hari sebelum hari itu.

"Fahrur yang mana to Fa?" Tanyamu.
"Anak A2 mbak, ketua osis."
"Kok aku nggak inget ya Fa? Mana fotonya?"

Aku menunjukkan foto teman kita. Namun kamu tetap tak ingat. Padahal semua orang pasti ingat karena teman kita pernah mendapatkan jabatan tertinggi di organisasi siswa di sekolah. Dengan enteng kamu bertanya tentangnya. Aku jawab sepengetahuanku. Sempat aku mengalihkan pembicaraan. Namun pertanyaanmu setelah itu membuatku harus berhati-hati.

"Kamu ketemu mbak No kapan to?"
"Kemarin mbak, pas njenguk putrane mb Inayah."
"Kok iso tekan kono? Putrane mbak Inayah kenopo?"
"Ngg ..."

Aku susah untuk berbohong. Yang kita bicarakan telah tiada dua hari sebelumnya.

"Keno kanker opo Fa, putrane mbak Inayah?"
"Kelenjar getah bening mbak."
"Kondisine saiki piye? Kok iki malah dikekke aku susune?"

Aku mengalihkan pembicaraan lagi. Kamu pun curiga.
"Fa, pertanyaanku rung tok jawab lho."
"Sik endi to mbak?"
"Putrane mbak Inayah mau lho."
Aku terdiam.

"Wis dimakamke mbak."

Sejenak kamu terdiam, namun secepat itu pula kamu mengganti ekspresi wajahmu. Seperti tak terjadi apa-apa.

Hari itu aku masih melihatmu berjalan. Bahkan lebih cepat dari kami yang sehat. Namu saat itu aku tahu, kamu belum sepenuhnya bisa menerima sakit yang kamu rasakan.

Maafkan aku, sempat berbohong padamu. Saat itu aku memang sengaja membezukmu. Kukatakan padamu ada acara di kotamu. Kalau kau sadari. Aku sempat gelagapan saat kau beri aku pertanyaan. Aku hanya ingin menjaga perasaanmu saja. Informasi yang aku dapat seorang penderita kanker sering kali jadi mudah tersinggung. Serba salah. Tidak mau terlihat sakit. Itu yang dari dulu aku tahu. Kamu nggak pernah ingin terlihat lemah. Kamu selalu ingin terlihat kuat. Sesakit apapun, seluka apapun hatimu. Kamu menutup itu dengan ekspresi wajah tegasmu.

Karena kamu tak ingin terlihat sakit, itulah kenapa kamu tak mau ditengok. Bahkan olehku. Itu sudah kusampaikan ke teman-teman yang lain. Setelah itu, untuk menengokmu pun aku harus bertanya. Kalau tidak hanya menunggu info. Sampai kemudian kamu sendiri yang menghubungiku.

Lantas aku dan beberapa teman diijinkan menengokmu. Dan kamu terlihat sangat senang. Banyak tertawa, banyak bercerita. Teman SMP dan SMA yang datang bersamaku pun membuatmu lebih bersemangat. Aku sempat merekam sebentar adegan itu. Namun aku tak mengabadikan pertemuan itu dalam sebuah foto bersama. Aku tak tega. 

29 Oktober 2019, sebelum tindakan pertama

Mengabadikanmu dengan selang-selang kecil yang menempel di tubuh dan wajahmu bersama kami yang berjilbab dan berdandan rapi. Aku tak mau. Mauku, kau berfoto bersama kami di sebuah tempat yang layak sebagai background. Nanti, ada saatnya, batinku saat itu. Meski sebelah hatiku yang lain bertanya, sempatkah?

Sebuah fragmen yang tak mungkin aku lupakan hari itu. Saat kami berpamitan. Teman-teman menyalamimu lebih dulu. Aku yang terakhir berpamitan. Menatapku dengan mata berkaca-kaca, berbicara dengan suara yang bergelombang. Aku merasa kamu mengetatkan pelukanmu. Pertahananku jebol sudah. Namun aku masih berusaha untuk menahan hatiku supaya tak luluh lantak. Tak apa kamu melihat mataku direndam air mata. Namun aku masih bisa mengukir senyum untuk memberimu semangat.

Sehari setelah itu, kamu mengirimkan pesan. Kita sempat ngobrol sebentar. Kamu meminta doa, beberapa jam lagi akan ada tindakan untuk penyakitmu. Saat itu kubiarkan air mata jatuh. Toh kamu nggak lihat kan? Sejak hari itu, kesembuhanmu selalu terpanjat dalam doaku. Dalam sujudku.

Setelah tindakan itu, aku tak menghubungimu. Foto-foto perkembanganmu aku dapat dari keluargamu. Semua informasi pun aku dapat dari keluarga. Sama sekali tak menghubungimu.

Aku ingin kamu fokus dengan penyembuhanmu. Tak ingin mengganggumu dengan pertanyaan-pertanyaan tak penting. Yang paling tepat untukmu saat itu adalah doa sebanyak-banyaknya. Bahkan terkadang cenderung memaksa-Nya dengan air mata.

Lantas salah seorang teman memiliki sakit yang sama denganmu. Saat informasi support untuknya dibagikan di grup SMA, kamu yang pertama menghubungiku. Kamu yang pertama mengirim support untuknya. Katamu, "Aku tahu rasanya."

Sejujurnya, saat itu dadaku menyesak haru. Dalam sakitmu, kamu masih memikirkan orang lain. Masih peduli. Dan itu sangat kuhargai.

Kita pun bicara tentang rencana bertemu di akhir Desember ketika liburan tiba. Aku sudah menyusun rencana akan membawa sesuatu untukmu. Kita menyusun rencana. Namun rencana itu harus tertunda. Kondisimu makin menurun. Sampai kemudian tanggal 30 Desember 2019 di Paviliun Garuda RS Karyadi kita bertemu. Sehari setelah kemo pertama dilakukan.

Tubuhmu berbeda dari 2 bulan sebelumnya. Kamu menyapaku saat aku masuk ke ruanganmu. Aku tak ingin mendeskripsikan seperti apa kamu saat itu. Semua yang kulihat sudah cukup membuat dadaku sesak.

Kamu memohon maafku. Aku tak sanggup menjawab. Aku hanya memijit tangan kirimu. Bersama Mamah dan Bapak. Tak berapa lama kamu tertidur. Kemudian terbangun merasakan ketaknyamanan. Sempat kamu berbicara padaku bahwa kamu akan melakukan kemo sebanyak empat kali. Beberapa menit kemudian tertidur kembali.

Keluar dari ruanganmu air mataku tak terbendung lagi. Dengan dipeluk anak-anakku aku berjalan dan duduk di sebuah kursi kosong. Mereka membiarkan air mataku luruh. Setelah tenang, kami pun beranjak.


5 Januari 2020

Hari itu, aku merasa sedih luar biasa. Tiba-tiba saja aku merasa berbeda. Memang tak ada tangis, namun hatiku begitu hampa. Aku mencari sebab, mengapa rasaku begitu sedih. Mengapa aku merasa ada yang terampas dari hati. Sampai aku datang pada mbakku untuk bercerita. Namun tetap saja tak terurai apa penyebabnya. Sampai jam 20.30 aku di sana. Lantas aku pun pulang. Tak biasanya aku melewati depan rumahmu. Itu bukan rute yang biasanya kulewati jika pulang dari rumah kakakku.

Melambatkan kendaraanku, aku menengok rumahmu. Sepi, batinku. Aku tertegun. Kenapa aku membatin seperti itu?

Biasanya setelah bepergian aku meletakkan ponselku. Namun kali ini ponsel tetap kupegang. Membaca beberapa artikel dan scrolling media sosial. Kuletakkan sejenak. Namun hatiku memintaku mengambil ponselku lagi. Begitu ponsel ditangan kakakmu mengirim pesan. Kondisimu makin drop. Hanya bisa meminta yang terbaik untukmu. 10 menit kemudian ponselku berdering. Aku tahu. Ini pasti tentangmu.

Suaraku yang serak menyapa. Kakakmu hanya mengucap salam pun aku sudah tahu. Kami sama-sama tersedu. Namun kami mencoba mengikhlaskan. Ini yang terbaik untukmu.

Mbak Tih, Allah telah membebaskanmu dari rasa sakit. Ia telah memelukmu. Pangkuan-Nya adalah yang terbaik untukmu. Insya Allah doa-doa selalu ada untukmu.

Sister till jannah ya mbak Tih ...