Jurnal Hati Irfa Hudaya

Minggu, 22 Januari 2023

Saat Hobi Menjadi Pekerjaan
Hobi jadi penghasilan



Assalamualaikum temans, saat ini saya lagi hobi berolahraga. Saya lagi seneng dengan senam zumba meskipun tetap melakukan olahraga lain yaitu jogging kalau pas suami ada di rumah. Selain nggak perlu keluar rumah untuk beraktivitas saya cukup menikmati berolahraga tanpa perlu memakai jilbab dan kelihatan rapi seperti layaknya jika keluar rumah.

Setelah dari September 2021 saya berhenti olahraga karena sakit dan keterusan di tahun 2022. Ternyata membuat tubuh gampang banget sakit. Akibatnya tahun 2022 selain berat badan yang bertambah sebanyak enam kilo saya jadi lebih sering ke dokter. Lantas memulai olahraga kembali ketika recovery tindakan medis dari tumor mamae sinistra. Saya memulai olahraga kembali di bulan September 2022. Itu pun masih terbatas banget. awalnya seminggu sekali, lantas seminggu dua kali. Dan di Desember 2022 saya melakukan olah raga minimal seminggu tiga kali dengan durasi 30-40 menit. Tentunya membuat tubuh makin bugar meski belum bisa menurunkan berat badan.

Saat Hobi menjadi Pekerjaan


Ngobrolin tentang hobi nih, saya masih melakukan pekerjaan yang terkait dengan hobi. Katanya pekerjaan yang paling menyenangkan adalah hobi yang dibayar. Saya memulai pekerjaan sebagai penulis buku di tahun 2012 dengan beberapa antologi yang saya ikuti. Lantas di tahun 2017 saya mulai menekuni pekerjaan saya sebagai blogger dan nano influencer. Lantas 2022 kemarin kembali menulis novel dengan jumlah halaman yang buat saya wow banget. Tahun ini pun saya tetap berkutat dengan kepenulisan buku.

Sepuluh tahun berkutat di kepenulisan. Meski awalnya dilakukan karena hobi lantas menjadi industri karena menghasilkan penghasilan. Di awal tentunya senang bukan kepalang. Semangat untuk melakukan hobi yang dibayar masih terjaga. Apalagi jika menerima pekerjaan dengan jumlah yang cukup banyak. Bisa nambahin uang dapur atau sekadar jajan untuk diri sendiri.

Setelah 10 tahun berlalu. Sering kali saya dihinggapi rasa jenuh. Apalagi saat ngeblog sering banget menulis dengan tema yang sama. Harus mencari sudut pandang yang berbeda. Bisa, tetapi feel menulis sudah jauh berkurang. Kayak sekadar menggugurkan kewajiban saja. Begitu juga dengan menulis buku. Saat ini saya tetap berkutat di genre novel sejarah atau novel biografi. Capeknya luar biasa, apalagi harus riset beberapa buku dan harus meneliti kesahihan sejarah sehingga tak bisa berimajinasi dengan bebas. Pagar-pagar itu membuat saya jadi lebih cepat lelah sekarang karena umur pun berbeda dengan saat menulis novel-novel sebelumnya.

Terkadang pengen ngerjain pekerjaan lain. Tapi apa coba? Saya nggak punya keterampilan lain yang berpotensi menjadikannya sebagai peluang usaha atau mencari penghasilan dari pekerjaan lain. Satu-satunya keterampilan yang saya miliki dan sudah diakui oleh orang lain ya memberikan makna dalam tulisan yang saya buat. Masa nggak mau menerima apa yang sudah Allah anugerahkan pada saya?

Kalau sudah merasa jenuh dan lelah, saya mencoba mengafirmasi diri sendiri. Allah pasti punya mau ketika saya hanya memiliki satu-satunya keterampilan yaitu menulis. Toh saya nggak di rumah terus kok. Saya juga mengajar ekstra kurikuler dimana saya bisa berinteraksi dengan anak-anak SD dan memberikan value yang saat ini sudah banyak yang luntur pada anak-anak generasi alpha. Saya juga beberapa kali diundang sebagai narasumber di beberapa kegiatan yang membuat saya harus keluar kota.

Jenuh dan lelah itu sangat manusiawi kok. Saya bisa menjeda dari kegiatan yang menurut saya sudah menjemukan itu barang sebentar. Biasanya nanti juga kangen sendiri kalau lihat laptop nggak dipakai berhari-hari. Bagaimanapun juga hobi juga melibatkan perasaan. Kalau sudah sayang, tentunya nggak bakal ninggalin bukan?

Minggu, 15 Januari 2023

 Perempuan-perempuan yang Memberikan Inspirasi dalam Kehidupanku
Perempuan inspiratif



Usia mendekati setengah abad itu emang terasa banget ya? Nggak hanya di urusan fisik dan kesehatan, namun kematangan dan kedewasaan dalam berpikir terasa banget. Kayaknya sudah nggak dalam fase punya banyak target. Pokoknya yang dicari hidup ayem dan tentrem bareng dengan keluarga.

Harapan sih masih banyak. tentu saja yang terkait dengan anak-anak. Namun untuk diri sendiri kayaknya sudah lebih banyak harapan yang sifatnya spiritual. Misalnya pengen bisa umroh, soalnya kalau pengen naik haji keknya kok jauh banget. Dan hal-hal untuk memperkaya ruhiyah supaya tujuan hidup ayem tentrem itu bisa tercapai sesegera mungkin.

Di luar hal-hal yang bersifat pribadi aku pun bertemu dengan banyak orang dalam hidup yang membuatku banyak memilah dan memilih tempat di mana aku harus berada. Semakin berumur maka lingkaran pertemanan makin mengerucut.

Saat ini aku masih menikmati kehidupanku di dunia tulis menulis. Aktif di komunitas menulis yang isinya para perempuan. Baru aja gabung di sebuah penerbit yang girl power banget karena mulai dari pimpinan dan staf kantor rata-rata perempuan. Tentu saja hal ini membuatku lebih nyaman untuk melakukan meeting dan segala kegiatannya.

Di luar kegiatan pribadi aku merasa hidupku harus lebih berarti untuk orang lain. Makanya aku juga aktif di organisasi keagamaan. Cukup berada di level terbawah saja. Kayaknya untuk organisasi keagamaan yang aku ikuti malah lebih banyak kegiatan di level ranting, yaitu Aisyiyah Ranting Gunungpring.

Dan mereka, para perempuan ini keren-keren banget. Dengan segala kiprah yang dimiliki. Meskipun terkadang dengan keterbatasan yang dimiliki, namun tak membuat mereka merasa tak berdaya.


Para Perempuan yang memberiku inspirasi dalam kehidupan


Ibu Khundariyati

Ibuku ibuku ibuku



Beliau adalah ibuku. Bahasa cintanya bukan word of affirmation. Tipikal ibu-ibu zaman dulu yang rasa cintanya lebih dinyatakan dengan pelayanan. Namun saat mulai kuliah aku merasakan bahwa Ibuk selalu memiliki quality time bersamaku.

Saat Bapak meninggal, itu adalah waktu tersulit bagi ibuku. Nggak bisa berlama-lama bersedih karena yang beliau pikirkan adalah kami, anak-anaknya. Aku yang sudah kuliah, adikku masuk kuliah dan satunya masuk SMA. Apapun beliau lakukan demi pendidikan anak-anaknya. Yang selalu dikatakan saat itu adalah, “Aku tak bisa membekali kalian dengan harta benda. Hanya ilmu yang bisa kusediakan meskipun aku harus pontang panting supaya kalian tak terputus di tengah jalan. Jangan sia-siakan. Kalian bersekolah dengan baik artinya kalian sudah membantu ibumu banyak.”

Beliau pun selalu berpesan untuk menjaga kerukunan antar kakak beradik. Yen ra iso ngragati yo ngragani. Kerjasama antar saudara itu perlu banget supaya kalian nggak banyak mengeluh seberapa yang kalian kelurkan. Baik yang mengeluarkan biaya atau tenaga. Kalian sama-sama berbakti dan saling menghormati.

Dari Ibuk aku banyak belajar tentang kehidupan. Beliau benar-benar mempersiapkan diri di masa tuanya. Aku ingat banget kalau sejak umur empat puluh kehidupan spiritualitasnya meningkat. Apalagi saat beliau terkena stroke pertama. Meski banyak perubahan psikologis karena kesehatannya, namun kepasrahan dan kepercayaan terhadap Yang Maha Kuasa tak pernah pudar sedikitpun. Bahkan makin tinggi. Beliau begitu mempersiapkan diri sewaktu-waktu Allah memanggil. Dan aku belum mampu seperti itu di usiaku sekarang.



Riana Mashar

Riana Mashar



Ia adalah saudara beda bapak dan ibu. Buatku Mbak Yana adalah pengganti orang tuaku setelah Ibuk tiada. Seorang single parent yang berjuang sendiri untuk anak-anaknya. Aku tak pernah mendengarnya mengeluh dengan apa yang Allah berikan untuknya. Selalu berpikir positif dengan apa yang terjadi dalam kehidupannya.

Ia seorang pembelajar. Dari secuil waktunya yang tersisa pun ia tak segan untuk terus belajar. Kadang aku suka pusing sendiri ngeliatnya masih bisa ngikutin webinar seharian, dengan bahasa asing pula. Kalau aku sudah dadah babay lah.

Lebih dari 10 tahun ia sendiri. Ia benar-benar menjaga marwahnya sebagai perempuan. Tak sedikit yang menginginkan sebagai pendamping atau menggodanya. Namun ia tak cukup punya waktu untuk meladeni hal-hal remeh seperti itu.

Meskipun ia seorang single parent, tapi dalam kepengasuhan anak beliau sungguh luar biasa. Menurutnya kondisi seperti apapun bukanlah hal pembenar untuk seorang ibu tak terlibat dalam pendidikan pada anaknya. Sudah memilih menjadi seorang ibu harusnya bertanggung jawab terhadap pilihan tersebut.

Melihat anak-anaknya yang tak pernah membantah. Anak-anak yang memiliki kematangan kepribadian sesuai dengan umur mereka. Jika banyak anak-anak yang orang tuanya berpisah menganggap bahwa dirinya adalah anak broken home. Aku tak melihat itu dalam anak-anak Mbak Yana. Mereka tumbuh dalam kasih sayang meski tak utuh.

Dalam kesibukannya sebagai seorang pengajar dan berbagai kegiatannya sebagai psikolog dan asessor, ia tak ragu membagi ilmu ke berbagai tempat. Mungkin kalau waktunya 50 jam sehari rasanya tak cukup buatnya untuk pekerjaan, belajar, dan berbagi ilmu. Kebermanfaatan ilmunya Insya Allah menjadi jariyah baginya.

Darinya aku banyak belajar tentang kehidupan terutama kepengasuhan anak. Bagiku ia adalah partner dalam mendidik anak-anak. Banyak hal yang tak aku mengerti seringkali mendapatkan pencerahan darinya. Dalam ketidaksempurnaan sebagai manusia selalu ada perjalanan terbaik yang memang sudah Allah sediakan.



Miftahul Jannah

Cr : FB dari mbak Miftahul Jannah


Seorang penulis buku bacaan anak dan psikolog ini baru kukenal sekitar sembilan tahunan ini. Namun lima tahun terakhir aku merasa cukup dekat dengannya saat Kakak memiliki masalah dan mendapatkan problem solving darinya. Ia juga partnerku dalam kepengasuhan anak. Si Kakak lumayan dekat dengannya, dan bisa berbicara apapun dengannya. Begitu juga denganku. Aku betah banget silaturahmi ke rumahnya. Waktu dua jam itu terasa sebentar. Tak jarang aku berada di rumahnya sampai lima jam hanya sekadar ngobrol.

Umurnya jauh di bawahku. Namun keilmuannya tentang agama luar biasa. Sering kali jika aku merasa ruhku terasa kering aku datang padanya. Sekadar ngobrol dan selalu saja perkara iman masuk ke dalam pembicaraan kami. Dan saat pulang dari rumahnya, selalu ada hal-hal yang membuatku merasa adem karena mendapatkan siraman rohani secara privat.

Ketaatan pada suami jangan ditanya. Masya Allah. Dengan suami yang memiliki ketenaran Mbak Ita nggak silau dengan hal-hal yang bersifat keduniawian. Romantisme dengan suami kelihatan genuine banget. pengen sebenernya nulis novel tentang perjalanan beliau berdua saat menjemput jodoh. Beneran, bagus banget buat novel loh. Sayangnya belum dapet lampu ijo nih.

Ia pun tak segan membagi ilmu. Sering sekali menjadi pembicara parenting dengan jamaah perempuan yang menjadi audience nya. Ia pun membuka diri untuk para perempuan berkonsultasi tentang kesehatan mental dengannya. Namun ia lebih suka untuk bertatap muka karena lebih efektif dalam berkomunikasi.

Perempuan itu memiliki kekuatan yang tak dimiliki oleh laki-laki. Dan masih ada begitu banyak perempuan yang menginspirasi di sekitar kita.

Minggu, 08 Januari 2023

 Lato-lato & yang Viral di Akhir Tahun 2022
yang viral



Assalamualaikum temans,

2022 baru saja berlalu. Namun berbagai hal gaungnya masih berasa hingga awal tahun 2023. Ada hal-hal yang membuat kita para netizen banyak tertawa. Namun ada pula yang bikin ngelus dada tapi juga memberikan pembelajaran bagi kita bahwa hal-hal yang buruk tak perlu kita lakukan. Cukup menjadi kaca benggala bagi kita.

Yang Viral di Akhir 2022


Lato-lato

Mainan yang dulu pernah ada akhirnya viral lagi di penghujung tahun 2022. Mainan yang terdiri dari dua bandulan bola yang terbuat dari bahan polimer. Cara main lato-lato ini membenturkan dua bandulan bola sehingga menimbulkan bunyi. Mainan yang pernah ada di tahun 90an menimbulkan suara yang cukup keras. Apabila sudah jago, cara mainnya nggak sekadar dibenturkan saja. Namun bisa juga berputar-putar.

Mainan ini sebenarnya diperuntukkan bagi anak-anak. Namun yang terjadi orang dewasa pun ikutan main. Mungkin bagian dari refreshing karena jenuh dengan kegiatan sehari-hari. Meski begitu main lato-lato juga perlu kehati-hatian. Kemarin saya baca di sebuah artikel seorang anak main lato-lato. Qodarullah bandulan bolanya lepas mengenai mata anak yang main lato-lato sehingga harus ada tindakan medis pada matanya.

Seingat saya di zaman itu bola bolanya tak hanya terhubung dengan tali seperti yang saat ini ada. Kalau tak salah dulu ada gagangnya sehingga tak begitu membahayakan seperti sekarang. Penampakannya kayak yang dimainin sama Rayyanza, anak bungsu Raffi Ahmad itu.


Fajar Sad Boy

Anak Gorontalo umur 15 tahun ini patah hati karena ditolak seorang perempuan. Videonya nangis sesenggukan ini diunggah oleh seseorang di media sosial dan menuai berbagai komentar dari netizen. Makin viral lagi saat ia diundang di channel youtube nya Denny Cagur karena ketidakpahaman dan ketidaksesuaian jawaban atas pertanyaan Denny Cagur yang sebenarnya cukup sederhana. Awalnya saya kira gimick. Tapi apa iya anak usia 15 tahun sudah paham bermain dengan persona di atas panggung?

Ternyata ia laris diundang ke berbagai channel youtube orang-orang terkenal macam Ria Ricis dan Ari Untung. Ia pun banyak diundang di berbagai variety show. Rasa-rasanya makin lama ia bisa saja menjadi Vicky Prasetyo KW dengan berbagai macam quote tentang cinta. Anak ini keterampilan bahasanya bagus juga lho.

Sebagai orang tua sebenarnya saya prihatin dengan pertumbuhan jiwa anak ini. Bukan membandingkan. Anak saya dan teman-temannya di usia 15 tahun memang sudah mengenal virus merah jambu. Akan tetapi mereka juga masih sibuk dengan berbagai permainan olah raga seperti basket atau game model balapan atau bola. Mereka juga sedang menikmati pertemanan yang kuat dengan berbagai circle mereka.

Cinta bukanlah berada di urutan pertama. Meski ada satu dua temannya yang mulai berpacaran. Akan tetapi mereka memahami bahwa hidup itu masih begitu panjang dan keras. Belajar aja masih susah, apalagi mau mikirin cinta selayaknya manusia dewasa. Apalagi sampai mewek-mewek begitu. Bukan berarti laki-laki nggak boleh nangis lho ya? Boleh kok, tapi di momen yang lebih tepat.

Melihat Fajar tuh menjadi satu pembelajaran buat saya juga sebagai orang tua. Bahwa anak harus diajari untuk memiliki adversity quotient. Bagaimana anak itu bisa bertahan dengan rasa ketidaknyamanan. Anak harus harus memiliki daya juang untuk keluar dari ketidaknyamanan dan berekspresi dengan tepat ketika mengalami hal-hal yang tak menyenangkan.

Antara Rozi, Norma Risma dan ibu kandungnya.

Buat saya ini nggak masuk akal. Tapi kayaknya sekarang ini sudah akhir zaman ya, sehingga semua kejadian yang terjadi diambil hikmahnya aja. Kisah perselingkuhan antara menantu dan mertua memang nggak sekali ini saja. Ada juga tuh drama korea tentang perselingkuhan bapak mertua dengan menantu perempuannya. Namun kali ini ada di Banten perselingkuhan antara menantu laki-laki dan ibu mertua. Anak menantu yang umurnya separuh dari umur ibu mertua.

Bermula dari postingan Norma Risma rame di tiktok yang membuat ia akhirnya mengklarifikasi berbagai hal yang beredar di media sosial dalam podcast nya bersama Denny Sumargo.
Norma bercerita bahwa ia sudah berpacaran dengan Rozi selama lima tahun. Ia menemukan chat antara ibunya dengan Rozi yang mengarah pada hal-hal berbau seksual. Setelah itu ia menemukan sms panjang ibunya pada pacarnya itu tentang hal yang sama. Rozi mengakui itu namun tak mau pisah dari Norma. Karena Norma cinta banget akhirnya mereka menikah. Setelah beberapa bulan menikah mereka berpindah ke kontrakan baru. Dan ternyata keduanya mengulang lagi tindakan amoral di rumah kontrakan saat Norma bekerja. Keduanya digrebek oleh pemuda setempat karena laporan warga yang curiga. Lalu mereka pun bercerai.

Di awal tahun ini Rozi mengklarifikasi, meski begitu banyak hal yang pada akhirnya malah menguatkan sangkaan berbagai pihak. Baca aja di berbagai media sosial, dan cukup membuat saya beristighfar.

Sebuah peristiwa yang mengingatkan bahwa namanya hubungan laki-laki dan perempuan itu ada adabnya. Bahkan terhadap mertua sekalipun. Batas-batas aurat tetaplah dijaga. Etika dalam berelasi tetap ada batasannya.

Meski mertua harus kita perlakukan seperti orang tua sendiri. Menurut saya physical touch harus dijaga. Sampai sekarang saya masih merasa sungkan untuk memeluk dan mencium pipi bapak mertua saya. Buat saya penghormatan pada beliau cukup dengan cium tangan. Rasanya risih saja melakukan peluk cium bukan dengan suami, meski itu ayahnya sekalipun. Dan suami saya tahu banget tentang hal itu dan memahaminya.

Berharap banget tahun 2023 ini adem ayem, tentrem tanpa banyak gejolak. Apalagi tahun ini adalah tahun politik dimana kampanye bakal masuk ke ruang digital lebih banyak lagi. Pengen ngerasain gitu loh medsos tanpa war wer wor, santai kayak di pantai. Kayaknya mustahil ya?

Senin, 19 Desember 2022

Gathering MPR dan Netizen Yogyakarta : Diskusi Santai tentang Media Sosial MPR RI
Gathering MPR dan Netizen di Yogyakarta



Sabtu 17 Desember 2022 saya dan beberapa blogger di Yogyakarta diundang oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia untuk bincang santai. Acara yang dilakukan di Hotel Porta Ambarukmo Yogyakarta ini baru pertama kali saya ikuti. Sebelumnya MPR Gathering pernah dilakukan di di beberapa kota seluruh Indonesia termasuk Yogyakarta sendiri.

Event kali ini dihadiri oleh ibu Siti Fauziah, SE, M.M selaku Plt Deputi Administrasi sekaligus Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Bapak Muhammad Jaya, S.IP, M.Si selalu Plt Kepala Biro Sumber Daya Manusia MPR RI beserta staf.


Diskusi Santai mengenai Media Sosial MPR RI


Sebelumnya Ibu Fauziah dan Pak Jaya menyampaikan tentang tugas MPR serta tetap mensosialisakan mengenai empat pilar kebangsaan yaitu :

1. Pancasila
2. Undang Undang Dasar 1945
3. Negara Kesatuan Republik Indonesia
4. Bhineka Tunggal Ika

Empat pilar ini masih terus disosialisasikan karena empat hal ini merupakan satu kesatuan dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Semua masyarakat dari berbagai golongan harus memahami empat pilar ini termasuk anak-anak serta golongan muda yang saat ini sudah berbeda generasi sehingga bagaimana cara menyosialisasikan hal ini pasti memiliki cara dan alat yang berbeda

Saat ini media sosial sudah menjadi alat yang paling mudah untuk membagi informasi di seluruh lapisan masyarakat. Instansi-instansi pemerintah dan sejumlah tokoh politik maupun pejabat pemerintah sudah menggunakan media sosial untuk berkomunikasi dengan masyarakat. Begitu juga dengan MPR RI.

Dalam kesempatan ini Ibu Fauziah menyampaikan harapan diadakannya gathering ini. Begitu juga dengan Pak Jaya yang menginginkan adanya inovasi dan ide segar dalam pemanfaatan media sosial serta pengembangannya. Selama ini MPR sudah memiliki akun media sosial hanya saja belum memaksimalkan media sosial khususnya instagram menjadi media informasi bagi masyarakat mengenai apa yang sudah dilakukan oleh MPR.

Saran dari Pegiat Media Sosial dalam Diskusi antara MPR dengan Netizen Yogyakarta

Dialog MPR dan Netizen Yogyakarta



MPR perlu melihat insight yang sudah ada di akun media sosial resmi MPR. Dari insight aku media sosial akan terlihat berapa rentang usia netizen yang berinteraksi, apakah lebih banyak laki-laki atau perempuan yang mengakses media sosial MPR. Dan berbagai data akan terlihat bagaimana seharusnya media sosial milik MPR memberikan informasi dalam masyarakat.

Setelah mempelajari insight yang ada, admin medsos MPR pun perlu mempelajari bagaimana membuat sebuah unggahan yang tak hanya informatif, namun juga humanis. Perlu juga mempelajari bagaimana berbagai medos milik instansi pemerintah mendapatkan respon yang cukup banyak dari berbagai kalangan masyarakat. Mulai dari bagaimana sebuah caption ditulis, pilihan foto serta tone warna dari unggahan medsos MPR.

Karena MPR memiliki keterbatasan dalam mengunggah tone warna supaya tak dianggap sebagai pendukung partai tertentu, MPR perlu memiliki semacam corporate colour khusus untuk unggahan di media sosial yang membuat orang langsung mengenali bahwa warna itu hanya MPR yang menggunakannya.

Memperbanyak foto yang lebih humanis dan memberikan caption yang lebih pendek supaya memberikan efek penasaran bagi pembaca. Selama ini yang dilakukan oleh admin medsos MPR lebih banyak menggunakan rilis yang dikeluarkan dari MPR sendiri. Ada baiknya untuk mengurangi foto pejabat MPR di unggahan media sosial.

Ada figur atau maskot yang dimiliki oleh MPR sehingga dalam setiap grafis unggahan MPR dalam medsosnya sudah menjadi ciri khas bagi MPR itu sendiri

Memperbanyak reel dalam postingan instagram. Saat ini konten video banyak digemari oleh berbagai kalangan. Fitur ini harus diperbanyak apalagi jika terkait dengan acara-acara kenegaraan sehingga video yang pendek menjadi padat informasi.

Ada kuis atau challenge dalam hari yang ditentukan. Tentu saja unggahan itu bersifat santai untuk lebih mendekatkan MPR dengan masyarakat umum.


Mengelola akun media sosial memang perlu perencanaan. Tantangannya adalah bagaimana sebuah konten dalam media sosial menerbitkan rasa ingin tahu di kalangan masyarakat. Keingin tahuan tersebut akan menjadikan masyarakat mencari informasi. Dan saat ini yang paling mudah mencari informasi tentunya dari media sosial.

Harapan saya akan makin banyak inovasi yang dilakukan oleh MPR setelah acara ini. Semoga yang diharapkan oleh MPR dan jajarannya terlaksana dengan berbagai perubahan yang telah disarankan tentang media sosial ini. Senang sekali rasanya, menjadi bagian dari perencanaan perubahan yang dilakukan oleh MPR.

Kamis, 24 November 2022

5 Alasan Mengapa Penulis Buku Perlu Ngeblog
Penulis buku perlu memiliki blog


Assalamualaikum temans.
Tahun ini rasanya banyak waktu saya tersita untuk berurusan dengan penulisan naskah buku. Hal ini membuat saya agak keteter menulis blog. Ada beberapa waktu saya skip ngeblog karena deadline menulis naskah novel rapet banget. Hal ini membuat blog saya sepi dari traffic pembaca.

Lalu saat Gandjel Rel, Komunitas Blogger Semarang yang saya ikuti membuat aktivitas one week one post, saya pun langsung ikutan. Kali ini saya berusaha meluangkan waktu untuk menulis artikel sesuai dengan tema supaya nggak nunggak posting. Nggak ada hukumannya sih. Tapi lebih pada tanggung jawab dan konsekuensi jika saya sudah menyanggupi sesuatu maka saya harus melakukannya tanpa ada alasan apapun. Apalagi waktu seminggu menurut saya ya sudah lebih dari cukup untuk mencari ide dan menuliskan satu artikel minimal 300 kata.

Alasan Penulis Buku Perlu Ngeblog

Ada beberapa alasan yang membuat saya berusaha mengikuti one week one post ini.

Memperlancar kepenulisan
Menulis novel memang beda dengan menulis artikel di blog. Kalau menulis novel banyak metafora bahkan kadang hiperbolik. Sementara menulis artikel adalah memberikan informasi pada pembaca dengan bahasa yang lugas dan jelas supaya pembaca paham apa yang dimaksud oleh penulis. Akan tetapi tujuan menulis sama. Memperkaya diksi dan memperlancar penulis untuk mempraktekkan apa yang dimiliki dalam kepenulisan

Melepas writer’s block
Banyak penulis yang bilang bahwa writer’s block itu nggak ada. Semacam males doang dan alasan supaya penulis nggak perlu susah-susah berusaha kembali menulis. Buat saya, menulis blog di sela-sela menulis novel itu semacam refreshing saat sudah merasa kehabisan imajinasi. Pokoknya asal nulis dan ninggalin rutinitas menulis dengan diksi-diksi indah.

Etalase karya
Di blog, saya bisa mempromosikan karya-karya yang sudah saya tuliskan. Saya juga bisa bercerita tentang behind the story dari sebuah novel yang saya tuliskan. Di blog saya, calon pembaca buku bisa mendapatkan gambaran karya-karya saya lebih dari sekadar blurb di cover belakang buku.

Personal Branding
Di setiap buku selalu ada profil penulis. Jika saya menuliskan profil penulis, semua media sosial yang saya miliki akan saya cantumkan. Mulai dari akun instagram, facebook, twitter, tiktok, dan tak ketinggalan alamat blog selalu saya cantumkan. Pembaca bisa melihat gambaran lengkap saya dari semua media sosial dan web yang saya punya. Dari berbagai tulisan dan gaya bahasa yang saya pakai, pembaca bisa mengenal gambaran seperti apa penulis yang punya nama Irfa Hudaya ini.

Sumber pendapatan lain
Nggak ada salahnya kan, kalau penulis buku memiliki sumber pendapatan lain melalui blog yang dimiliki? Jika konsisten dalam menulis blog tentunya banyak klien maupun agency yang mempercayakan produknya untuk direview. Walaupun sekarang banyak banget blogger di penjuru nusantara ini. tentu saja masih tetap ada celah dimana kita mendapatkan sumber pendapatan dari blog maupun media sosial yang dimiliki.

Tahun ini saya masih akan berkutat dengan naskah buku. Salah seorang relasi yang berprofesi sebagai pendidik sekaligus psikolog anak akan mengajak bekerja sama. Selain itu penerbit yang akan menerbitkan ulang The Beloved Aisyah yang nantinya akan berganti judul menjadi Aisyah, Sirah Kasih Istri Tercinta Rasulullah sudah meminta saya menulis novel biografi wanita pejuang Islam berikutnya.

Akan tetapi jika aktivitas one week one post ini akan dilaksanakan lagi, saya bakal ngacung pertama kali. Kapan lagi nulis postingan tanpa repot mikirin tema karena udah ditentukan. Itu kalau saya sih. Kalian gimana? masih terus kan?

Rabu, 16 November 2022

Kebaya Merah dan Pornografi
mencegah anak terpapar pornografi



Beberapa waktu yang lalu jadi trending topic nih tentang kebaya merah. Kirain tuh tentang pelestarian budaya. Nggak tahunya film bokep yang dibuat secara amatir oleh pasangan kekasih di sebuah hotel di Surabaya. Katanya sih, mereka bikin film bokep itu berdasarkan pesanan. Sudah ada 92 video lagi yang siap diunggah di dunia maya. Satu link video seharga 750 ribu rupiah.

Teknologi informasi yang semakin berkembang sejalan dengan kemudahan akses yang didapat saat ini membuat pornografi bukan lagi hal yang sulit didapatkan. Berbagai cara untuk menanggulangi pornografi tetap saja masih bisa jebol hanya dengan satu kata keyword.

Pernah ngobrol nih dengan salah satu kepala sekolah di SMP yang berbasis agama. Dari survey yang dilakukan pihak sekolah untuk klas 7-9 ternyata 95% anak-anak sudah terpapar pornografi . Ada yang memang sengaja mencari konten pornografi, atau tak sengaja melihat unggahan yang ada di media sosial. Dari 95% anak yang terpapar itu sekitar 2% mereka dapatkan dari laptop atau ponsel milik orang tuanya.

Yang menyedihkan. Orang tua anak anak ini merasa bersalah bukan karena menyimpan konten pornografi akan tetapi hanya karena ketidakhati-hatian dalam menyimpan atau memasang sandi untuk ponselnya. Apa yang salah dengan orang tua zaman sekarang ya, sampai merasa perlu menyimpan konten pornografi di laptop atau ponsel. Kan jadi pertanyaan baru lagi. Ada apa dengan para orang tua ini?

Bagi saya pribadi rasanya kok tak masuk akal bagi orang tua yang masih membutuhkan konten pornografi. Apakah alasannya untuk untuk keharmonisan rumah tangga? Benarkah jika menonton pornografi lantas kehidupan suami istri di tempat tidur dijamin bakal sejahtera? Di luar dari sisi agama yang sudah pasti ada larangan menonton aurat orang lain dan dosa yang akan didapatkan. Apakah akan mendapatkan kepuasan dari pengalaman seksual via virtual saja?

Bagi saya yang pernah ngalamin anak terpapar pornografi di usia SD. Pornografi seperti monster yang tak terlihat namun siap menghancurkan otak anak-anak kita. Meski hanya dalam hitungan detik, ingatan terhadap pornografi itu kuat mencengkeram di benak anak-anak. Keingintahuan terhadap hal-hal yang berbau seksualitas jadi makin besar. Bahkan dulu si Kakak sampai bisa bikin cerita tentang pornografi yang memaparnya. Ceritanya bisa dibaca DISINI

Itu dulu, 8 tahun yang lalu saat akses internet tidak semudah sekarang. Sementara saat ini jika mendengar cerita murid-murid saya di ektra jurnalistik rasanya pengen ngelus dada. Mereka sering sekali cerita jika anak laki-laki di kelas sering kali ngobrolin tentang dirty mind. Sedih nggak sih dengernya?

Apa sih yang bisa kita lakukan sebagai orang tua yang terkait dengan pornografi ini?


Yang terpenting tentu saja memperhatikan pola asuh yang kita berikan untuk anak-anak. Apakah sudah tepat pola asuh kita? Pola asuh yang keliru bisa membuat anak-anak menjadi tak dihargai, pemarah, jenuh, tertekan atau kesepian. Masih banyak lagi hal negatif yang diakibatkan oleh pola asuh yang tak tepat bagi anak-anak kita. Jika pola asuh kita sudah tepat anak-anak akan bersikap asertif. Semua hal dikomunikasikan dengan orang tua, bahkan untuk hal-hal buruk sekalipun.

Lantas saat anak-anak mengakses internet usahakan untuk melakukan pendampingan meskipun sudah melakukan pembatasan akses internet. Berikan pemahaman tentang internet sehat dan aman bagi anak. Buatlah aturan dan kesepakatan saat anak hendak menggunakan gawai. Jika anak hendak menggunakan komputer maupun ponsel, usahakan pengunaan itu berada di ruang keluarga sehingga memudahkan orang tua melakukan pengawasan.

Mengenali teman dan lingkungan serta melatih anak berkata tidak untuk ajakan pornografi. Berikan pengetahuan tentang pendidikan seksual sesuai dengan perkembangannya. Jika anak terlanjur ketahuan mengakses pornografi ajak anak untuk berdialog dan diskusi tentang dampak pornografi.

Pendidikan agama dan moral sangat penting ditanamkan sejak dini sehingga anak-anak paham mengenai konsep benar salah. Agama dan moral akan membentengi anak-anak kita dan membentuk anak-anak memiliki karakter tangguh dan mulia.

Pornografi tuh nggak kerasa langsung dampaknya. Awalnya cuma pengen jadi suka. dari suka jadi kecanduan. Dan kecanduan akan membentuk kebiasaan. hati dan pikiran yang kotor tentu saja menjadikan tubuh dan jiwa tak sehat. 
Kalau menurut kalian gimana?