Jurnal Hati

Selasa, 15 September 2020

8 Drakor Lawas yang Menarik Ditonton



Assalamualaikum temans

Saya penikmat drama korea sejak pertama kali drakor masuk ke Indonesia. Seingat saya drama korea yang pertama masuk ke Indonesia tahun 2000 an adalah Winter Sonata yang dimainkan oleh Bae Young Jun dan Le Min Kyung. Setelah itu ada Endless Love (Autumn in My Heart) yang dimainkan oleh Song Seung Hun, Won Bin dan Song Hye Kyo. Setelah itu ada What Happened in Bali, Hotelier, Jewel in the Palace, Queen Seon Deok, dan banjir drama korea yang masuk ke stasiun televisi Indonesia mulai tahun 2004. 

Selama beberapa tahun entah berapa drakor sudah saya tonton, baik yang tayang di Indonesia atau enggak. Pernah dalam fase laptop nyala semaleman buat maraton drakor. Bener-bener begadang, apalagi kalau sudah baca sinopsisnya duluan di blog-blog yang ngebahas tentang sinopsis drakor (yang cenderung spoiler)

Karena nggak berhenti nonton drakor, nularlah kebiasaan itu ke si Kakak. Dulu saya sama sekali nggak ngefilter apa yang Kakak lihat. Bayangan saya sih, yang penting saya dampingin aja. Si Kakak terpapar drakor sejak usia tujuh tahun. Kebangetan banget deh saya. 

Melihat perkembangan yang kurang baik pada si Kakak karena terpapar budaya asing, akhirnya saya menyapih diri sendiri untuk stop nonton drakor. Hanya saja si Kakak sudah kadung cinta dengan budaya negeri ginseng itu. Nggak cuma drakornya, tapi juga musik dan bahasa. Saat SMP dia sudah bisa nulis dan membaca huruf hangeul. Sekarang sedikit-sedikit ia bisa mengartikan bahasa korea yang tertulis dalam huruf hangeul. Semuanya ia pelajari dengan otodidak. 

Ada beberapa drama korea yang buat saya tak terlupa. Entah karena aktor dan aktrisnya ataupun alur cerita yang menurut saya memikat. Meski sekarang mereka sudah jadi ahjussi dan ahjumma, buat saya mereka tetap terlihat menarik. Coba deh, lihat saja Song Seun Hun yang sekarang berusia 45 tahun, Jo Sang Wook yang sudah berusia 42 tahun, lalu Ha Ji Won dan Soo Ae yang usianya sudah 40 tahun ke atas masih kelihatan awet muda. Coba deh dijejerin sama Lee Jung Suk yang main di W-Two Worlds atau Romance is a Bonus Book. Nggak kelihatanlah kalau umur mereka jauh (maksa banget)

Di luar drama-drama yang akan saya sebutkan masih banyak banget drama-drama lawas yang masih menarik untuk dilihat. Misalnya saeguk semacam The Moon That Embraces The Sun, Empress Ki, Jang Ok Jung, atau K-drama yang berlatar medis semacam Good Doctor. 


Kuy, simak 8 drakor lawas yang menarik versi saya


What happened in Bali (2004)




Drama ini bertabur bintang deh. Ada Jo In Sung, Ha Ji Won, serta So Ji Sub yang saat ini masih eksis menjadi aktor dan aktris papan atas di Korea Selatan. Kehadiran pemain-pemain baru tak membuat nama-nama mereka tenggelam. 

Dari judulnya udah ketahuan kan ya, kalau menggunakan Bali sebagai setting cerita? Setting tempat ini sebenarnya hanya di awal dan akhir cerita saja sih. Meski tak begitu mengekspos keindahannya, namun Bali tak sekadar tempelan belaka. Nuansanya tetap tergambar di film itu. O ya, drama korea ini juga dikenal dengan judul Memories of Bali

Lee So Jung (Ha Ji Won) seorang gadis yatim piatu. Untuk menghidupi dirinya ia bekerja sebagai pemandu wisata. Saat memandu wisata di Bali ia bertemu dengan Jung Jae Min (Jo In Sung, Kang In Wook (So Ji Sub) dan Choi Young Jo (Park Ye Jin) yang sedang berlibur di Bali. Jae Min adalah anak seorang konglomerat yang sudah bertunangan dengan Young Jo. Sementara itu In Wook adalah karyawan dari perusahaan milik keluarga Jae Min. 

Jae Min memanfaatkan So Jung untuk memancing kecemburuan Young Jo. Sementara itu So Jung mau aja didekati Jae Min karena butuh uang. Tak disangka mereka jatuh cinta beneran. Namun keluarga Jae Min tak menyukai So Jung, bahkan ingin melenyapkannya. 

In Wook yang tinggal sebelahan dengan So Jung pun jatuh cinta padanya. Ia berusaha melindungi So Jung dari keluarga Jae Min yang tak menyukainya. Ia berusaha menjauhkan So Jung dan Jae Min dengan segala cara, sampai cara paling licik sekalipun. 

Kalau banyak orang bilang bahwa hidup ini tak seindah drama korea, mereka kudu nonton drakor yang satu ini. Kalau udah nonton, kira-kira masih punya pendapat yang sama nggak ga?


Prosecutor Princess (2010)




Beberapa waktu yang lalu drakor ini ditayangkan kembali oleh salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. Drama bergenre komedi romantis ini ngulik tentang dunia hukum di Korea Selatan. 

Kim Yo Seon cute banget di drakor ini. Beda banget dengan peran sebelumnya di tahun 2009 sebagai Kim Sun Hwa, seorang agen rahasia Korea Utara di Iris, drama korea yang bergenre action thriller. 

Di Prosecutor Princess ini ia berperan sebagai Ma Hye Ri, seorang jaksa muda yang polos, naif, ceria dan shopaholic. Meski ia adalah lulusan fakultas hukum sebuah universitas terkenal di Korsel tak lantas membuatnya dihargai saat bekerja di kejaksaan. Penampilannya yang mewah dan cheerful membuat semua orang memandang remeh kemampuannya.

Pertemuannya dengan Seo In Woo (Park Shi Hoo) seorang pengacara membuatnya belajar banyak hal. Ia belajar tentang hukum dan kehidupan. Ia tak menyangka persahabatan yang berubah jadi cinta dengan Seo In Woo menjadi rumit karena masa lalu orang tua keduanya.

Pas nonton Prosecutor Princess ini, saya tergila-gila dengan soundtrack nya Good Bye My Princess. Kayaknya dulu sampai hapal deh hahaha ... 

Menikmati drakor ini kayak nikmatin kripik yang crunchy. Renyah namun berasa. Romantisnya dapet, komedinya meski nggak bikin ngakak sengakak-ngakaknya, tapi tetap bikin senyum dan ketawa di banyak episodenya. Ada kesedihan menjelang ending, sempet mrebes mili dikit. Tapi endingnya ya bikin senyum-senyum sih. Ada beberapa part yang lebay sih, tapi nggak lantas ganggu banget. Masih nyaman untuk dinikmati kok.


Cinderella Stepsister (2010)




Moon Geun Young selalu jadi aktris favorit buat saya. Wajahnya yang sendu membuat siapapun bakalan jatuh sayang padanya. Wajahnya menjadi benchmark saya membuat karakter tokoh waktu menulis novel ketiga yang batal naik cetak namun sudah dibeli putus hehehe ...

Moon Geun Young menurut saya sukses memerankan seorang gadis yang cerdas namun sarkas. Gadis yang terlihat tanpa emosi, namun sebenarnya menyimpan kerinduan pada kasih sayang tulus. 

Di drakor ini Moon Geun Young beradu akting dengan Chun Jung Myun, Seo Woo dan Taecyon, anggota boyband 2PM. Meski saat itu masih pendatang baru, Taecyon keren juga mainnya sebagai second male. 

Seo Woo sendiri bermain bagus sebagai seorang gadis manja dan drama queen. Wajahnya yang cantik dan terlihat menyenangkan hati membuatnya terlihat seperti princess. Penampilan mereka sungguh menipu dan membuat penonton gemas.

Harusnya Song Eun Jo (Moon Geun Young) bahagia saat ibunya menikah kembali dengan seseorang yang baik dan kaya. Namun pernikahan itu tak membuatnya lebih baik karena merasa kasih sayang ibunya diambil oleh Hyo Sun, adik tirinya. Ia menjadi gadis pemberontak dan emosional. 

Persaingan antara Eun Jo dan Hyo Sun tetap berlangsung sampai mereka dewasa. Apalagi mereka menyukai laki-laki yang sama, Hong Ki Hoon (Chun Jung Myun) Ditambah lagi sosok Ki Hoon yang menyimpan misteri sedikit demi sedikit terkuak. 

Konflik drama keluarga dibalut dengan percintaan dan dunia usaha dikemas apik dalam melodrama ini. Seperti biasa, saya banjir air mata kayak nonton drakor yang lain pas nonton Cinderella's sister ini. 


Pasta (2010)




Gong Hyo Jin termasuk salah satu aktris drakor favorit saya selain Moon Geun Young dan Kim Tae Hee. Wajahnya yang manis dan aktingnya totalitas banget membuatnya sering mendapatkan penghargaan. Banyak dramanya yang dapet rating bagus, termasuk Pasta, sebuah drama bertema kuliner ini.

Seo Yo Kyung (Gong Hyo Jin) bercita-cita menjadi koki terkenal. Karirnya dimulai dari asisten koki di restoran La Sfera. Ia berangkat paling awal dan pulang paling akhir. Namun ia selalu bekerja dengan penuh semangat. 

Choi Hyun Wook (Lee Sun Gyun) seorang koki lulusan seni kuliner dari Italia menjadi koki baru di La Sfera. Ia seseorang yang keras dan temperamental. Dengan mudah ia membentak atau membanting hasil karya anak buahnya jika plattingnya jelek.

Awalnya Yo Kyung yang takut-takut berhadapan dengan Hyun Wook, kemudian kayak frenemy, lantas saling suka tuh bikin gemoy lah. Belum lagi banyak persoalan di dapur yang harus memisahkan perasaan pribadi dengan urusan kerja. 

Konflik yang terjadi di dapur sebuah restoran ternyata asyik juga dikulik. Yang saya suka dengan drama korea tuh ketika menyajikan drama dengan tema tertentu misalnya kuliner, nggak sekadar tempelan doang. Bener-bener detil. Misalnya istilah sous-chef. Kirain saya sous chef itu adalah chef yang khusus bikin saus. Nggak tahunya itu adalah istilah bagi orang kedua pengendali dapur dibawah executive chef. 


My Princess (2011)




Duh ... Kalau sama Song Seung Hun ini saya sudah jatuh sayang sejak ia main di Autumn in My Heart, drakor yang masuk ke Indonesia sekitar tahun 2000. Makin kesini makin ganteng aja dia, meski masih jomblo di usia 45. 

Di K-dramanya yang ke 13 ini Song Seun Heun bermain dengan Kim Tae Hee, perempuan cantik istri Rain, seorang aktor dan penyanyi dari negara ginseng itu. 

My Princess ini berkisah tentang Lee Seol (Kim Tae Hee), seorang gadis ceria dan lucu. Karena kondisinya yang jauh dari kata berharta, ia bekerja paruh waktu supaya bisa kuliah di sebuah universitas ternama. Ia sering berkhayal menjadi seorang putri kerajaan yang kaya raya. 

Pertemuannya dengan Park Hae Yong (Song Seun Heun) membawanya pada kenyataan bahwa ia adalah cucu buyut terakhir Kaisar Sunjong dari dinasti Chosun. Ia pun dibawa ke sebuah istana yang tertutup dari publik dan harus belajar menjadi seorang seorang putri penerus dinasti Chosun.

Ada cinta segi empat, iri dan dengki, ketamakan, serta ketulusan membawa drama korea ini dalam keseruan. Gelombang emosinya dapet banget. Dari ketawa ngakak, tiba-tiba sebel sama Oh Yon Joo, lalu kayak dapet vitamin ngeliatin Nam Jung Woo. Gado-gado banget lah kalau nonton drama korea ini.

Kim Tae Hee juga berakting natural. Kocak berat saat berperan menjadi Lee Seol. Wajahnya yang cantik tanpa operasi plastik ini emang mempesona. Coba aja sekarang, lihat dramanya di tahun 2020, Hi Bye Mama. Nggak beda jauh kan? 

Drama komedi romantis ini memberi kita banyak pelajaran dalam hidup meski disampaikan dengan cara sedemikian ringan. Bahwasanya kebahagiaan itu tidak melulu diletakkan pada kekuasaan ataupun kekayaan. Ketulusan dan kesetiaan menjadi faktor penting dalam memenuhi tangki hati kita dengan cinta.


Thorn birds (2012)




Drama Korea yang dibintangi oleh Han Hye Jin, Kim Min Jung dan Joo Sang Wook. Drama ini bercerita tentang perjuangan gadis yatim piatu Seo Jung Eun (Han Hye-jin) mencapai cita-citanya sebagai seorang artis terkenal. Bersahabat dengan Han Yoo Kyung sejak kecil. Namun persahabatan itu putus karena sebuah masalah. Yoo Kyung pun pergi ke luar negeri dan kembali dengan posisinya yang cukup bagus di dunia perfilman. Sayangnya ia masih menyimpan dendam pada Jung Eun sehingga berusaha menghalanginya merintis jalan menjadi seorang artis. 

Bertemu dengan Lee Young Jo membuat konflik di antara dua gadis ini meruncing. Silang sengkarut antara persahabatan, rindu, cinta dan benci menjadi bumbu dari drama korea yang pernah masuk ke Indonesia di tahun 2013.

Drama ini mengajarkan saya arti kasih sayang yang tak terputus oleh apapun. Seberapapun dendam dan benci seseorang, namun akan selalu luluh pada kasih sayang yang tulus 



Queen of Ambition (2012)




Cinta akan menjadi indah jika engkau tulus. Sekali kau mengucapkan emosi tak terkendali akan tumbuh.

Ini adalah salah satu quote yang diucapkan oleh Soo Ae dengan wajahnya yang dingin dalam perannya sebagai Joo Da Hae, seorang perempuan miskin yang memiliki keinginan kuat untuk mengubah nasib. Sayangnya keinginan yang berlebihan itu menjadikannya seorang perempuan yang ambisius, dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.

Hidup yang awalnya menyedihkan untuknya, ditambah pelecehan seksual yang dilakukan oleh sang ayah tiri membuatnya jadi perempuan berdarah dingin, mengorbankan apapun, bahkan suami yang mempertaruhkan hati dan jiwa untuk Joo Da Hae. 

Drakor ini menjadi salah satu drakor favorit saya. Soo Ae, yang berwajah lembut aktingnya luar biasa. Meski berperan menjadi tokoh antagonis, namun tak lantas membuat penonton membenci. Penonton malah mengasihani Da Hae. 

Drama ini berakhir dengan kesedihan. Namun juga kelegaan. Bahwa kejahatan yang disimpan serapi apapun pasti ada celah untuk terbuka. 


49 days (2011)



Drama romantis ini adalah drama korea yang pertama kali ditonton si Kakak. Drama yang dimainkan oleh Nam Gyu Ri, Jung Il Soo, Lee Yo Won, dan Jo Hyun Jae ini menguras air mata sedari awalnya. Sebuah drama fantasi, konsepnya keren banget, dan buat saya unforgetable banget. 

Shin Ji Hyun (Nam Gyu Ri) adalah seorang wanita yang mempunyai hidup yang mendekati sempurna. Ia berwajah jelita, keluarga yang kaya raya, orang tua yang sangat menyayangi, seorang tunangan yang menawan dan mencintainya, serta sahabat-sahabat yang setia. 

Namun semuanya berubah drastis saat Ji Hyun mengalami kecelakaan lalu lintas. Ia mengalami koma. Namun dalam komanya ia diberikan kesempatan untuk dapat hidup dengan syarat bisa menemukan 3 orang yang menangis untuknya dengan hati yang tulus. Ia harus mengumpulkan air mata 'tulus' itu dalam waktu 49 hari. 

Untuk melaksanakan misinya, Ji Hyun meminjam tubuh So Yi Kyung (Lee Yo Won) yang hidup tanpa emosi. Malaikat maut mengawasi apapun yang ia lakukan. Kehidupan yang dijalani Ji Hyun pun menjadi sangat berat karena harus melakukan apapun sendiri menghidupi dirinya sendiri. Hanya sahabatnya Han Kang (Jo Hyun Jae) menjadi penolongnya di masa-masa sulit.

Dalam hidup sering kali kita menemukan hal-hal di luar pemikiran kita. Banyak kejutan yang hadir dalam setiap sketsa hidup yang dihadirkan oleh Sang Maha Kuasa. Sering kali Tuhan memberikan manusia kesempatan untuk memperbaiki kehidupan. Hanya saja manusia mampu membaca kesempatan itu atau tidak. 



Aktor drama korea favorit


Kehadiran Lee Jung Suk, Yoo Ah In, Ji Chang Wook, Park Bo Gum, Kim So Hyun, bahkan Cha Eun Wook atau Nam Joo Hyuk tak membuat saya goyah. Bagi saya Song Seung Heun menjadi aktor drakor favorit saya. Bukan hanya karena wajahnya yang ganteng, namun eksistensinya di dunia entertainment sejak tahun 1995 sampai sekarang masih tetap terjaga. Di tahun ini ia main di drama korea berjudul Dinner Mate yang diproduksi oleh MBC. Harapan saya sih, aktor dan aktris senior ini masih selalu berkarya, apalagi sekarang penikmat drakor nggak melulu anak muda kan? 

Thanks for reading ya temans, stay safe keep healthy ya?













Rabu, 09 September 2020

Kota Lama, Wisata Semarang yang Murah Meriah



Assalamualaikum temans, 

Kalau pas berkunjung ke Semarang nengok mertua, saya dan keluarga pasti nyempetin main ke Kota Lama. Buat saya dan anak-anak, Kota Lama tuh selalu jadi tujuan wisata keluarga buat kami, dengan dua anak remaja. 

Anak-anak yang sudah remaja kan nggak butuh lagi area luas buat lari-larian, atau puas-puasin main air. Yang mereka butuhkan ya eksis di media sosial dong. Rata-rata remaja sekarang kan takut kalau nggak sama dengan temen-temennya yang selalu update kemana aja mereka pergi. Jadi kalau sekarang main sama anak-anak udah nggak rempong lagi. Udah ketahuan maunya ngapain. 

Jadi, kalau berwisata ngajak anak-anak yang sudah remaja apalagi coba yang dicari kalau bukan tempat-tempat yang instagramable? Mereka akan sibuk cari spot sendiri-sendiri. Terkadang spot yang menarik buat saya dipandang B aja oleh anak-anak. Begitu juga sebaliknya. Spot yang menurut saya jelek, bagi anak-anak bisa jadi sesuatu yang unik. 

Kalau si Adek diajak wisata spot foto gitu, doi ya ngikut gimana si Kakak aja. Tugasnya tuh nemenin. Difoto juga kurang suka. Kecuali kalau si Kakak yang maksa. Tapi begitu mau difoto, dia bakal tampil maksimal. Printilannya banyak. Berpuluh-puluh foto akan diulang kalau dia merasa belum sreg. Entah senyumnya kurang bagus, matanya nggak fokus. Pokoknya ada aja yang dikomenin. 

Sementara kalau si Kakak suka pada spot foto yang agak horor. Sayanya sudah merinding disko, dianya ngajak aja ke gedung-gedung tua yang suasananya bikin bulu kuduk berdiri. Pernah suatu saat, lebaran hari pertama, sudah sore pula, dia ngajak ke Kota Lama. Alasannya, biar feel horornya dapet. 




Bener aja. Sampai di Kota Lama menjelang jam 17.00. Kami mengejar cahaya supaya nggak horor-horor amat. Dia kegirangan nemuin spot-spot horor, sementara saya celingukan, berharap ada orang yang lewat. Ya namanya juga lebaran hari pertama. Untuk umat muslim biasanya masih riweh dengan urusan silaturahmi dengan sanak saudara. 

Kami sempat bertemu dengan wisatawan yang memang memanfaatkan momen menghindari keramaian. Nggak berapa lama, mereka juga kabur. Mungkin ngerasain bulu kuduk yang mulai berdiri seiring cahaya kian meredup. 

Nah ... Lebaran berikut, si Kakak minta ke Kota Lama lagi. Namun kali ini nggak nyari spot horor lagi. Banyak perubahan yang menjadikan Kota Lama makin diminati oleh wisatawan. 

Hanya selisih setahun banyak banget perubahan yang membuat Kota Lama makin menyenangkan untuk dikunjungi. 




Berbagai cafe bertebaran, spot foto makin banyak, Lebaran hari pertama tahun lalu Kota Lama pun ramai oleh wisatawan dadakan. Ada yang sekadar lewat kemudian mampir. Ataupun sengaja ke sana seperti kami saat itu. 

Beberapa masyarakat pun menyediakan spot foto. Tinggal membayar Rp. 10.000,- atau Rp. 15.000,- bisalah foto romantis bersama pasangan atau keluarga. Kalau pengen yang gratisan sepanjang area jalanan bisa jadi spot foto yang menarik. 

Lebaran tahun ini kami melewatkan momen berkunjung ke wisata Semarang. Pandemi membuat saya dan keluarga tidak mengunjungi sanak saudara satupun. Bagaimanapun juga kami menjaga supaya semuanya tetap aman dan nyaman. 

Stay Safe and Keep Healthy ya temans

Minggu, 23 Agustus 2020

Ada tumor di payudara saya


Tumor?

Sering kali saya begidik mendengar kata tersebut. Entahlah, mungkin ada sedikit trauma di diri saya. Beberapa orang dekat dan teman mengalami hal itu membuat saya lebih baik tidak membicarakan ketika ada topik tersebut melewati pendengaran saya.

Seorang sahabat, udah kayak sodara. Ia sudah saya anggap pengganti orang tua mengalami tumor otak. Tak pernah terlihat sakit sebelumnya. Hanya dua bulan sebelum terdeteksi mengidap tumor otak yang ganas ia memperlihatkan tanda-tanda. Sempat berpamitan. Sebelum pada akhirnya ia drop sampai dipanggil oleh Sang Pencipta empat tahun yang lalu.

Kemudian Yaya, anak sahabat saya, mbak Atih sahabat saya. Ani, teman SMP dan SMA saya. Sempat menguatkan hati untuk memberikan support pada mbak Atih dan Ani. Yang paling terasa adalah saat saya memberikan support pada mbak Atih. Benar benar membolakbalikkan hati.

Lantas, kurang dari sebulan yang lalu, saya terdeteksi mengidap tumor payudara. Rasanya tak percaya. Benjolan yang baru teraba ketika saya bercanda dengan Kakak dan sisi di benjolan itu tidak sengaja tersodok tangan Kakak. Rasa nyeri yang benar-benar saya rasakan saat itu membawa sebuah kenyataan. Ada tumor payudara di tubuh saya.

Rasanya tidak percaya. Menangis pun saya tak bisa. Saya melewati fase denial. Saya menyangkal. Bagaimana bisa saya yang rajin berolah raga dan mengonsumsi makanan sehat bisa ada tumornya?

Saya mencoba tenang. Tak memperlihatkan emosi di rumah. Saya tak mau anak-anak terpengaruh, secara kami terbiasa bertiga di rumah setiap harinya. Berkegiatan seperti biasa. Bercanda seperti biasa, meski anak-anak merasakan sedikit perbedaan.

Saya menjalani pemeriksaan setelah dirujuk ke Rumah Sakit Umum Kota Magelang. Bersyukurnya saya, dokter di faskes 1 adalah ibu teman sekelas Adek. Beliau mengirim rujukan ke rumah sakit tipe B dengan pertimbangan di sana ada pemeriksaan mammografi. Kalau rumah sakit tipe C baru menggunakan USG untuk mendeteksi pemeriksaan.

Hari Jumat saya bertemu dokter bedah umum. Diagnosa awal adalah tumor jinak. Kemungkinan tumor itu bersarang di payudara saya sudah satu tahun. Sudah besar. Tak hanya sebesar kelereng. Sang dokter langsung meminta saya untuk cek lab hari itu juga. Ada pemeriksaan darah dan rontgen. Tindakan medis dilaksanakan hari Selasa, setelah hasil cek lab keluar dan diserahkan ke dokter hari Senin.

Sejak awal terdeteksi saya hanya bercerita pada suami, anak-anak, adik-adik dan dua sahabat terdekat yang sudah saya anggap sebagai kakak. Saya menjaga hati supaya tenang, tak banyak informasi masuk sehingga menggoyahkan hati. Saya ingin fokus. Menyiapkan diri dan keluarga supaya bisa bertahan. Lantas dalam perjalanan menuju rumah sakit sebelum tindakan medis barulah saya mengabari beberapa sahabat di circle terdekat.

Mempersiapkan hati anak-anak itu yang paling menguras hati. Berusaha tak menangis itu sebuah perjuangan yang berat. Melihat si Kakak meneteskan air mata di tengah doanya. Memeluk saya dengan erat. Berusaha untuk menahan diri supaya tangisnya tak meledak. Dengan mata yang berkaca-kaca si Adek pun memeluk saya setelah berdoa. Pemandangan emosional itu membuat saya berusaha berbicara dengan suara yang tak bergetar. Sesekali menarik napas dengan maha berat. It was work out. Meski dada mau pecah rasanya.


Menjelang Tindakan Medis.

Program tindakan medis dilakukan hari Selasa. Namun Senin sore saya sudah harus stand by di RS. Was wasnya dobel karena rumah sakit itu merupakan rumah sakit rujukan Covid. Setiap saat melihat nakes memakai APD lengkap keluar masuk membawa pasien.

Saya menempati kamar Anyelir 1. Meski BPJS saya harusnya menempati kelas 2, saya tetap berusaha berhati-hati untuk tidak sharing kamar atau toilet dengan orang lain. Walaupun sebelum masuk bangsal semua pasien selalu melewati rapid test. Lebih baik saya menambah biaya demi keamanan semuanya, kan? O ya, sebagai informasi tambahan sekarang ini jika hendak rawat inap di RS harus melakukan rapid test terlebih dahulu. Selain itu pihak keluarga juga menandatangani pernyataan bahwa pasien tidak boleh dijenguk sama sekali. Penunggu pasien pun maksimal 2 orang.

Bakda Maghrib sedikit drama terjadi. Adek tiba-tiba chat saya begini.


Saya yang panikan pun langsung VCall ke Adek. Makin panik ketika melihat Adek menangis. Adek itu nggak pernah nangis kalau menahan sakit. Lha kok ini bisa nangis tersedu-sedu. PakSu pun langsung pulang ke rumah.

Hati saya embuh rasanya. Melihat Adek menangis, Kakak yang ikut meneteskan air mata sambil mengelus kepala Adek. Sementara saya sendiri harus menyiapkan mental untuk tindakan medis esok hari. Jantung tak segera reda berdebum. Alhamdulillah, nggak berapa lama, pakde nya anak-anak yang ada di sebelah rumah mengabari kalau Adek sudah mendingan. Meski nggak sepenuhnya tenang, setidaknya jantung saya sudah nggak jedag jedug lagi.


Tindakan Medis

Mulai jam 06.00 infus mulai terpasang di tangan saya. Jarumnya jauh lebih besar dari jarum infus yang biasa saya lihat. Sampai delapan hari pasca tindakan medis pun bekas lukanya masih terlihat. Baju operasi pun sudah mulai dipakai di waktu yang sama.

Jadwal operasi di RSU Tidar tak bisa saya ketahui dengan pasti. Semua berdasar on calling dari ruang operasi. Sampai pukul 09.00 saya tanyakan ke perawat pun masih belum ada jawaban. Sampai kemudian pukul 10.15 beberapa perawat masuk ke ruangan saya. Inilah waktu saya menjalani tindakan medis tersebut. Penutup kepala dipasang, begitu juga dengan masker. PakSu membersamai saya sampai depan pintu ruang operasi.

Sejujurnya saya takut. Mau operasi sesimpel apapun perasaan takut mati itu pasti menyelusup dalam hati. Kata bagaimana dan jika selalu melintas dalam pikiran. Saya pun memejamkan mata. Bertahlil. Berpasrah. Tempat saya berbaring pun mulai didorong memasuki sebuah tempat dengan hawa dingin yang menusuk tulang.

Saya nggak mau membuka mata. Saya tak mau melihat berbagai alat dan lampu di ruangan itu. Sekitar 15 menit persiapan dilakukan. Lantas saya mendengar suara sang dokter bedah. Seorang perawat berkata pada saya, 

"Ibu, berdoa ya? Semoga tindakan hari ini berjalan lancar dan ibu kembali sehat."

Saya mengangguk. Tahlil tak berhenti terucap. Sesuatu masuk ke dalam tubuh saya. Saya tahu. Itulah saatnya. Lantas saya tak ingat apa-apa lagi.

Saya terbangun saat mendengar adzan. Mata saya berkejap. Merasakan balutan di dada begitu kuat. Nyeri bekas sayatan terasa.

"Shalat ..," desis saya.

"Ini masih di ruang operasi, Bu. Sabar ya, sebentar lagi kembali ke bangsal."

Total waktu tindakan medis kurang dari 1,5 jam. Bersyukurnya saya, tidak disertai penyulit sehingga operasi pun berjalan lebih cepat dari perkiraan.


Alhamdulillah ...

Selang beberapa waktu saya pun keluar dari ruang operasi, dan dipindah ke ranjang pasien yang sudah disiapkan oleh bangsal. Dari sudut mata saya menangkap senyum PakSu yang menunggu di balik pintu.

Efek bius bertahan sampai esok pagi. Saya lebih banyak tertidur meski tak lama. Beberapa kali video call dengan keluarga supaya mereka sudah merasa tenang. Dan membalas beberapa WA beberapa sahabat. Meski pada akhirnya sulit membalas satu persatu. Tapi saya usahakan untuk membalas semua WA yang masuk keesokan harinya.


Pasca tindakan medis

Dokter visite sekitar jam 07.30. Dari awal beliau sudah mengatakan bahwa tumor tersebut Insya Allah tumor jinak. Hal itu ditandai dengan :

1. Ada batas yang jelas

2. Benjolan bisa bergerak kesana kemari

3. Permukaan halus

4. Saat puting ditekan tidak ada cairan yang keluar

5. Tidak ada gangguan kulit disekitar payudara, misal bersisik, gatal, atau puting melesak ke dalam.


Saya harus menunggu beberapa jam untuk administrasi. Infus pun dicopot sekitar pukul 10.00. Sebelum infus dicopot pun saya sudah bisa beraktivitas ringan seperti makan atau ke toilet sendiri tanpa bantuan.

Saya pun pulang dari rumah sakit bakda Ashar. Di rumah anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Salah satu yang saya syukuri adalah saya mendapatkan tindakan medis saat anak-anak sudah besar. Semua pekerjaan rumah dihandel oleh anak-anak, terutama si Kakak. Semua tugas yang terkait dengan belanja mingguan dan urusan perdapuran Kakak lakuin dengan baik banget.

Terkadang merasa kasihan juga pagi hari dia sudah bangun, cuci piring dan peralatan lain. Setelah itu ia harus prepare untuk memasak sarapan. Selesai memasak ia harus bersiap untuk masuk kelas dan mengerjakan tugas-tugas sekolah. Belum selesai mengerjakan tugas, ia harus memasak untuk siang hari.

Trenyuh, pasti. Nggak pernah saya dengar ia mengeluh. Berusaha selalu membuat saya tersenyum. Bicara pada adiknya pun pelan, nggak ada ngegasnya sama sekali. Si Adek juga nurut banget. Mau bantuin segala macam urusan rumah tangga yang dilakuin Kakaknya.

Sejujurnya ya pengen banget bisa bantuin. Apa daya, saya sendiri untuk melakukan sesuatu pun lebih banyak menggunakan tangan kiri. Masih banyak hal-hal yang saya lakukan selalu butuh bantuan. Dan itu bikin saya down banget.


Perasaan seorang pasien

Kelemahan seseorang yang terbiasa mandiri itu ketika berada di posisi pasien menjadi merasa tidak berdaya, merasa tidak berguna. Itu saya rasakan ketika saya harus selalu dibantu untuk mandi, memakai baju, dan menyiapkan beberapa hal. Terkadang berusaha untuk tidak merepotkan ternyata nggak berhasil.

Kepercayaan diri berada di titik yang paling rendah. Sensitif dengan kata-kata yang terucap dari lawan bicara. Baperan. Overthinking. Mudah tersinggung, apalagi terkait dengan komentar dari beberapa orang yang menjenguk dan mendoakan.

Saya memang menerima tamu yang ingin menjenguk dan mendoakan. Saya anggap itu adalah wujud cinta dan perhatian. Apalagi doa-doa yang terpanjat selalu mengalir untuk saya demi kesehatan dan kesempurnaan pemulihan. Kita nggak pernah tahu juga darimana doa-doa itu akan diijabah Allah.

Hanya saja kita nggak bisa menutup bibir orang lain untuk berkomentar apa saja. Bisa jadi yang dikatakan akan saya terima dengan biasa aja kalau kondisi saya sehat wal afiat. Tapi status sebagai 'pasien' membuat saya mudah sekali memasukkan berbagai kalimat ke dalam hati.

Misalnya ada yang berkomentar, "Eh ... Lha dene, nggak papa. Bisa jalan gitu kok. Ngapain sampai opname?"

Saya menerjemahkannya gini.

"Emange saya kudu tiduran? Emangnya lebih seneng saya nggak bisa ngapa-ngapain?"

Atau ada saudara yang nggak bisa ngebedain tumor jinak dan ganas, udah mangkel aja, berasa didoain yang enggak-enggak.

Emosi yang naik turun itu bikin saya inget alm ibuk pun ketik mengalami stroke pertama jadi pribadi yang susah dimengerti. Ibuk gampang marah, sementara kami yang merawat juga kelelahan karena keterbatasan kemampuan berkomunikasi yang efektif.

8 hari pasca operasi saya mengalami fase emosi yang naik turun. Serba salah. Nggak bisa nangis, mungkin karena gengsi juga, nggak pengen terlihat lemah. Sampai kemudian di satu hari seorang teman menengok dengan berbagai wejangan tentang menu makanan, dan treatment yang bisa saya lakukan. Apa yang disampaikan sebenarnya baik. Namun tidak dengan penerimaan saya.

Saya menangis. Pertama kali menangis dan mengeluarkan uneg-uneg di depan suami dan Kakak. Ngomong nggak pakai filter. Beberapa hal yang sebenarnya ingin saya tahan akhirnya keluar juga. Meskipun setelah beberapa waktu saya mengucap istighfar dan memohon ampun, mencabut kata-kata yang sempat terucap. Takut aja, gimana kalau kata-kata yang kurang baik itu diijabah Allah?

Dengan kejadian ini, saya pun memahami. Kesehatan itu nggak cuma mahal, tetapi juga sangat berharga. Rasa sakit selalu diiringi oleh emosi yang sering kali meledak-ledak, dan sulit dikendalikan. Perasaan 'kamu nggak ada di posisiku' lebih dominan.

Saya sudah berusaha untuk mengontrol emosi ketika berhadapan dengan mereka yang memberi perhatian. Namun sering kali kalah oleh kata yang terucap dari orang lain. Lantas saya pun seperti menyerahkan remote kontrol emosi saya pada orang lain. Mudah tersulut dengan informasi yang tidak saya kehendaki.

Dalam kondisi seperti ini saya bersyukur karena dimengerti oleh keluarga dan sahabat terdekat. Simpati dan empati jadi obat hati paling besar yang bisa menenangkan.


12 hari pasca tindakan medis

All is well.

Salah satu penyemangat saya adalah perawat homecare yang rutin datang dua hari sekali merawat luka. Orangnya masih muda, cekatan, tegas dan informatif.

Namanya mbak Shafa. Ia bekerja di sebuah rumah sakit di Jogja, dan bersertifikasi sebagai perawat luka. Saya baru tahu ternyata tak semua perawat memiliki ijin praktek home care.

"Di luar kuasa Allah, kesembuhan itu bukan dari dokter ataupun saya. Kami, tenaga medis hanya membantu, Bu. Kesembuhan itu berasal dari keyakinan pasien sendiri. Semangat itu nggak dari orang lain, Bu. Semua berasal dari diri sendiri."

Kata-kata itu selalu diulang setiap kali merawat luka. Hal itu membuat saya ingin sesegera bisa beraktivitas seperti biasa. Di hari ke 10, saya mulai bisa mandi sendiri (mandi bebek, karena luka tidak ditutup dengan perban anti air), mulai menyiapkan makanan sendiri, dan membantu Kakak di dapur.


Hari ini hari ke 12 pasca operasi. Insya Allah kondisi badan sudah makin baik. Kangen sekali bisa ngezumba seperti biasa. Kangen bisa menemani si Kakak puasa Daud, setelah berhari-hari harus konsumsi obat di jam-jam tertentu sehingga belum bisa kembali berpuasa. Kondisi emosi juga mulai stabil. Ini salah satu yang sangat saya syukuri. Tiga hari lagi saya harus kontrol kembali. Insya Allah jahitan akan diambil dan hasil PA akan keluar. Semoga semuanya aman terkendali.

O ya, hampir kelupaan. Mungkin ini bisa jadi pertimbangan saat teman-teman menjenguk seorang pasien.

1. Jangan banyak bertanya mengenai rasa sakitnya, kecuali si pasien sendiri yang ingin bercerita.

2. Ajak berbicara tentang hal-hal yang membuatnya bersemangat misalnya ngomongin passionnya atau hal-hal yang disukai.

3. Hindari membicarakan orang lain yang memiliki sakit yang lebih parah

4. Tidak perlu memberikan informasi seputar kesehatan atau alternatif kesehatan. Si pasien biasanya sudah memiliki pilihan atau referensi sendiri.

5. Mendoakan adalah pilihan terbaik jika menengok pasien.


Semangat sehat ya temans ...


























Senin, 27 Juli 2020

Asuransi Salam Anugerah Keluarga, perlindungan keluarga secara menyeluruh berbasis syariah


Assalamualaikum temans,

Suami saya pernah bekerja di sebuah bank konvensional. Sementara di saat yang sama saya mulai aktif mengikuti taklim dan kajian-kajian keislaman. Dalam kajian-kajian yang saya ikuti pun pernah membahas tentang ekonomi Islam. Awalnya saya anggap itu sebagai bagian dari keilmuan. Namun semakin lama saya pun semakin risau. Bagaimanapun juga sistem perekonomian terbaik menurut agama saya ya yang sesuai syariah. 

Ternyata kerisauan itu tak hanya melanda hati saya. Begitu juga dengan suami. Dengan gaji yang cukup untuk kehidupan rumah tangga dengan dua dapur, karena saya dan suami tinggal beda kota, saya sama sekali tak punya tabungan yang cukup. Nggak tahu penghasilan itu larinya kemana. Bahkan dengan penghasilan yang cukup kami mempunyai hutang yang cukup besar untuk ukuran keluarga kami. 

Kerisauan kami sebenarnya adalah hidayah kecil yang dihadirkan Allah. Namun kami menolak hidayah yang datang memanggil. Suami masih berkutat dengan pekerjaan yang terkait dengan riba dan hal-hal yang bersifat syubhat. Sampai di satu waktu, ada hal-hal yang tak bisa dikendalikan oleh suami di kantor membuat suami pun berkeputusan untuk resign. 

Menjalani hidup dalam keprihatinan itu tak mudah. Banyak godaan yang datang pada keluarga kami. Banyak pekerjaan yang sesuai pengalaman kerjaan suami datang. Semuanya sama. Berasal dari perbankan konvensional. Sedih rasanya. Saat kami membutuhkan penghasilan sekadar menyambung hidup ternyata yang datang adalah sesuatu yang kami hindari. Kami mencoba bertahan. Sampai kemudian sebuah tawaran dari perbankan syariah datang pada suami. Meski dengan gaji yang lebih kecil dari pekerjaan sebelumnya, suami terlihat lebih tenang. Alhamdulillah Allah mencukupkan rezeki dari pintu-pintu yang tak kami kira.

Sedikit demi sedikit kami pun mulai menata perekonomian keluarga dengan berpatokan pada hukum-hukum Islam. Termasuk salah satunya adalah mempertimbangkan mengikuti asuransi syariah sebagai perlindungan dari keluarga kami. 

Mengapa asuransi syariah?



Dalam prinsip syariah ada nilai-nilai keislaman yang harus dipenuhi dan dipatuhi. Karena dalam Islam ada kepastian dalam prinsip beragama. Hal-hal yang syubhat akan selalu dihindari. Beberapa prinsip syar’i yang terkandung dalam asuransi syariah adalah :

1. Menjalankan prinsip tauhid.
Ini adalah poin utama yang harus dipahami. Niat dasar memiliki asuransi bukan semata meraih keuntungan namun ikut serta dalam menerapkan prinsip syariah dalam berasuransi. Asuransi syariah bertujuan untuk saling tolong menolong, bukan sarana perlindungan semata ketika mengalami resiko di kemudian hari.

2. Mengamalkan prinsip keadilan
Keadilan di sini adalah antara perusahaan asuransi dan nasabah harus berkeadilan terkait dengan hak dan kewajibannya. Tidak ada yang merasa dirugikan ataupun didzalimi atas penggunaan produk asuransi tersebut.

3. Prinsip tolong menolong
Satu poin penting dalam asuransi syariah adalah tolong menolong. Sesame nasabah saing berderma dan saling membantu. Jika ada nasabah yang mengalami musibah perusahaan asuransi bertindak sebagai pengelola dana saja. 

4. Ada prinsip kerjasama
Perusahaan asuransi merupakan pengelola dana antar nasabah. Kerjasama ini dilakukan sesuai dengan akad yang telah disepakati sejak awal oleh kedua belah pihak. Dengan begitu keduanya melaksanakan hak dan kewajiban dengan seimbang.

5. Berlandaskan prinsip amanah
Antara perusahaan asuransi dan nasabah harus benar-benar jujur. Perusahaan jujur dengan pengelolaan dana, nasabah jujur jika mengajukan klaim. Perusahaan asuransi tak diperbolehkan semena-mena dalam mencari keuntungan dan mengambil keputusan.

6. Memiliki prinsip saling ridha
Keridhaan menjadi prinsip utama dalam setiap transaksi. Nasabah ridha dananya dikelola oleh perusahaan asuransi. Sementara perusahaan asuransi pun ridha dengan amanah yang diterima dari nasabah. Perusahaan pun harus mengelola dana nasabah dengan ketentuan yang berlaku.

7. Prinsip menghindari riba
Dalam asuransi syariah dana dari nasabah yang dibayarkan wajib diinvestasikan dalam berbagai bisnis tertentu yang sesuai dengan prinsip syariah. 

8. Menghindari maysir
Secara harafiah kata maysir adalah memperoleh sesuatu tanpa kerja keras dan mendapatkan keuntungan tanpa bekerja. Hal ini merujuk pada perjudian atau gambling. Asuransi syariah menerapkan system risk sharing dalam pelayanannya.

9. Menghindari gharar
Secara harfiah gharar berarti ketidakjelasan. Dalam asuransi syariah menggunakan konsep risk sharing bukan risk transfer. Antara perusahaan dan nasabah bersama-sama menanggung resiko ketika terjadinya musibah. 

10. Menjauhi praktik suap menyuap
Suap menyuap adalah kegiatan yang menguntungkan salah satu pihak, sementara pihak yang lain dirugikan. Hal itu dilarang dalam asuransi syariah karena bertentangan dengan konsep syari itu sendiri. 


Perbedaan Asuransi Konvensional dan Asuransi Syariah

Beberapa tahun belakangan produk syariah diminati oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan ada jaminan sertifikasi halal dan sesuai dengan syariat Islam. Termasuk di sektor keuangan.

Asuransi syariah merupakan asuransi dengan prinsip sesuai dengan syariat Islam yaitu tolong menolong. Seluruh peserta asuransi berkontribusi ke dana tabarru’. Jika terjadi resiko pada salah satu nasabah maka dana tersebut berfungsi sebagai perlindungan. Konsep ini disebut dengan risk sharing.

Ada hal-hal yang membedakan asuransi konvensional dan syariah. Bisa dilihat di infografis berikut.



Setelah melihat infografis di atas, saya pribadi sih sudah mempunyai pilihan produk untuk melindungi keluarga. Perlindungan yang sudah pasti akan membawa berkah keluarga


Asuransi Salam Anugerah Keluarga

Setiap keluarga selalu memiliki prioritas dalam perlindungan keluarga. Begitu banyak pilihan produk perlindungan ini sehingga terkadang konsumen malah bingung menentukan pilihan karena banyaknya produk yang sudah beredar di pasaran. Jika anda termasuk di dalamnya, sepertinya anda perlu membaca tulisan mengenai sebuah produk asuransi syariah ini.

Asuransi Salam Anugerah Keluarga merupakan produk terbaru dari PT. Sun Life Financial Indonesia, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang asuransi sejak tahun 1995. Tahun ini Asuransi Sun Life Indonesia meluncurkan produk terbaru berbasis syariah. Nggak ragu lagi kan dengan profesionalitas dari Sun Life Indonesia? Nah, produk ini bernama Asuransi Salam Anugerah Keluarga.

Asuransi syariah ini hadir sebagai proteksi bagi keluarga secara menyeluruh. Jika produk konvensional hanya memperbolehkan satu orang pemegang polis, maka Asuransi Salam Anugerah Keluarga ini memberikan wacana lain dari manfaat perlindungan perencanaan keluarga secara total. 

Asuransi Salam Anugerah Keluarga memberikan jawaban atas kebutuhan keluarga milenial. Produk ini hadir tak hanya sekadar sebagai asuransi jiwa maupun asuransi kesehatan saja. Namun juga bisa sebagai investasi keluarga. 


Mengapa memilih Asuransi Salam Anugerah Keluarga?

Cr : sunlife.id


1. Bergabung dengan Asuransi Salam Anugerah Keluarga berarti kita menghemat pengeluaran juga. 
Tak perlu banyak polis untuk melindungi keluarga. Kita hanya perlu satu polis untuk suami, istri dan dua anak. Bahkan asuransi ini dilengkapi dengan asuransi tambahan kesehatan hingga maksimal enam peserta. Mantep dong ya, udah nggak mikir seandainya ada salah satu anggota keluarga yang sakit dan butuh rawat inap?
Sering kali produk asuransi memiliki premi yang tinggi hingga sulit terjangkau oleh calon konsumen. Namun Asuransi Salam Anugerah Keluarga memiliki alternatif pilihan kontribusi yang pasti terjangkau. Ada tiga jenis kontribusi yang bisa dipilih.
a. Kontribusi Asuransi Berkala yang dibayarkan sesuai pilihan dengan frekuensi kontribusi yang dipilih. Cukup dengan Rp.9.000.000,00 per tahun nasabah sudah bisa menikmati proteksi untuk seluruh keluarga.
b. Kontribusi Top Up Berkala yang dibayarkan bersamaan dengan Kontribusi Asuransi Berkala. Fungsi Kontribusi Top Up Berkala adalah untuk investasi. Dengan Kontribusi Top Up Berkala nasabah bisa diringankan pembayarannya.
c. Kontribusi Top Up Tunggal dapat dibayarkan sewaktu-waktu sesuai keinginan peserta. Jika ingin top up, maka batas minimal pembayarannya adalah Rp. 1.500.000,00.
d. Kontribusi yang dibayarkan sudah termasuk komisi dan biaya pemasaran lain

2. Bersama Asuransi Salam Anugerah Keluarga nasabah memiliki kesempatan untuk bersedekah jariyah dan wakaf.
Apalagi yang diharapkan dari hal itu kalau bukan pahala yang terus mengalir bahkan sampai ketika raga sudah menyatu dengan tanah. 

3. Asuransi Salam Anugerah Keluarga juga melengkapi berbagai asuransi tambahan lain untuk memaksimakan perlindungan. 
Berapa banyak asuransi tambahan yang ditawarkan oleh Asuransi Salam Anugerah Keluarga?
a. Asuransi kecelakaan
b. Kematian akibat cacat atau kecelakaan
c. Penyakit Kritis
d. Santunan rawat inap dan pembedahan
e. Pembebasan Kontribusi akibat pemegang polis sakit kritis
f. Pembebasan Kontribusi akibat pemegang polis meninggal dunia
g. Pembebasan Kontribusi akibat pemegang polis cacat total tetap

4. Ada perlindungan paket asuransi kesehatan tambahan Sun Medical Platinum Syariah untuk keluarga dengan manfaat lengkap dan perlindungan sampai seluruh dunia.
Apa sih yang bisa didapatkan jika mengikuti paket asuransi kesehatan tambahan Sun Medical Platinum Syariah?
- Selain perlindungan menyeluruh dalam satu polis, nasabah akan mendapatkan fasilitas jaminan asuransi yang berlaku di wilayah yang diasuransikan. Nasabah juga mendapatkan fasiltas kamar perawatan dengan satu tempat tidur dan kamar mandi dalam hingga 365 hari per tahun. Ada juga akomodasi pendamping pasien semua umur dab berlaku untuk perawatan di dalam dan luar Indonesia.
- Jika nasabah memiliki penyakit kanker atau gagal ginjal akan mendapatkan fasilitas perawatan seperti radioterapi, kemoterapi, imunoterapi, pengobatan hormonal, rawat jalan cuci darah, ICU, serta operasi rekonstruksi akibat kanker sesuai tagihan.
- Jika ada pembedahan kecil nasabah pun mendapatkan penggantian perawatan sebelum dan sesudah pembedahan pulang hari.
- Pemegang Sun Medical Platinum Syariah juga mendapatkan perawatan di luar wilayah pertanggungan sehingga mendapatkan perlindungan dimanapun nasabah berada. Kemudian ada limit booster yang menambah batas taunan keseluruhan hingga 6x sampai dengan 40 miliar dan berlaku seumur hidup selama polis aktif.
- Nasabah pun berhak mendapatkan layanan second medical opinion. Jadi jika perlu pendapat dari tenaga medis yang berkaitan dengan perawatan ternyata difasilitasi juga oleh Asuransi Salam Anugerah Keluarga.
- Adanya fasilitas pemeriksaan kesehatan untuk penyakit kritis seperti dtroke, kanker, serta Coronary By Pass Surgery. 
5. Potensi mendapatkan surplus underwriting setiap tahun. 

Menjalankan keislaman dengan kaffah memang butuh effort yang lebih. Namun yang kita ikhtiarkan ini tak sebanding dengan ketenangan jiwa karena telah mengikuti apa yang Allah perintahkan kepada manusia. Kira-kira setelah mengetahui tentang hal ini, masihkah kita akan ingkar atas apa yang akan Allah sukai pada diri manusia?





Rabu, 22 Juli 2020

6 kecerdasan yang perlu dimiliki oleh orang tua di masa pandemi


Assalamualaikum temans
Tahun ajaran baru 2020/2021 baru saja dimulai. Kebijakan pemerintah memulai ajaran baru masih dengan pembelajaran jarak jauh. Setelah melewati semester kemarin dengan jungkir balik mengawali pembelajaran daring. Semester ini penyelenggara pendidikan sepertinya sudah lebih siap menghadapinya. 

Di SD tempat saya biasa mengasuh anak-anak kelas menulis sudah lebih siap. Pihak sekolah memiliki tim untuk membuat video pembelajaran dan dikirim via grup WA walimurid. Video pembelajaran pun tak terlalu lama waktunya supaya anak tak cepat bosan. Selain video pembelajaran, ada penugasan yang dikirim bersamaan dengan video. Penugasan pun tak begitu banyak sehingga lebih meringankan tugas wali murid dalam mendampingi anak belajar. 

Sejujurnya saya tak banyak mengalami hiruk pikuk pembelajaran jarak jauh. Hanya semester kemarin waktu awal adaptasi pembelajaran daring saja saya sempat ikut gedubrakan menyiapkan apapun kebutuhan anak-anak. Sekarang anak-anak sudah SMP dan SMA klas terakhir. Sudah auto pilot semua, apalagi pihak sekolah juga jauh lebih siap. 

Di SMP anak saya menggunakan live facebook untuk hafalan Al Quran di pagi hari dari jam 06.30 - 07.00. Setelah itu anak dipersilakan untuk shalat Dhuha dan mulai membelajaran jam 07.30. Selain menggunakan facebook dan youtube, pembelajaran menggunakan zoom dan microsoft 365 sebagai pengganti tatap muka. 

Biasanya ada penugasan setelah itu. Dalam satu hari ada 3 mata pelajaran. Namun untuk beberapa penugasan, apalagi yang terkait dengan pelajaran keislaman, kemuhammadiyahan dan Bahasa Arab memang agak kesulitan karena menggunakan huruf hijaiyah. Laptop saya laptop tua, belum support dengan font hijaiyah hehehe ... 

Sementara untuk SMA anak saya menggunakan google classroom, zoom, kulwap via WAG dan quizizz untuk ulangan. Biasanya yang menggunakan kulwap adalah guru-guru sepuh yang kurang akrab dengan teknologi informasi. Untuk tanya jawab bisa menggunakan voice note. Dan sejauh ini yang dikeluhkan anak-anak ya sinyal yang kadang nggak stabil. 

Melihat teman-teman menjadi guru kreatif di dunia maya bagi putra putri mereka, saya bisa membayangkan bahwa orang tua, khususnya ibu harus benar benar siap menghadapi pembelajaran jarak jauh. Tak hanya menghadapi pembelajaran jarak jauh saja, namun segala aspek kehidupan di masa pandemi ini. Ada beberapa kecerdasan yang perlu dimiliki oleh orang tua dalam menghadapi pandemi ini. Bagaimanapun juga, orang tua adalah modelling untuk anak. Maka apapun yang dilakukan oleh orang tua akan cepat diserap oleh anak. Apa yang dikatakan oleh orang tua, sikap orang tua, bagaimana orang tua mengatasi masalah merupakan pembelajaran bagi anak saat di rumah. 

Ada 6 kecerdasan pokok yang harus dimiliki oleh orang tua dalam proses pembelajaran anak.

1. Kecerdasan teknologikal. Menjadi orang tua saat ini harus melek teknologi karena sudah merupakan kebutuhan yang tak bisa ditawar lagi. Segala lini kehidupan di masa pandemi ini pasti menggunakan teknologi informasi, khususnya pembelajaran. Bagaimana jadinya jika orang tua tak memiliki kecerdasan teknologikal, sementara anak masih butuh bantuan dan pendampingan saat menggunakan gawai?

2. Kecerdasan kontekstual. Orang tua harus mampu mengedukasi, bisa memahamkan, serta memanfaatkan secara efektif semua kemungkinan yang akan terjadi pada situasi dan kondisi dimanapun anak berada. Misalnya bagaimana anak-anak jika harus kembali bersekolah di masa transisi. Anak dipahamkan untuk mematuhi protokol kesehatan, memperhatikan kembali bagaimana guru menjelaskan materi dan semua yang berkaitan dengan new normal serta apa yg akan dihadapi ke depan.

3. Kecerdasan sosial dan emosional. Kecerdasan ini merupakan kemampuan dalam mengelola hubungan dengan orang lain dan mengelola emosi pribadi. Perlunya anak diberikan pemahaman di saat-saat mendatang jika kembali bersekolah anak diajarkan bagaimana jika berinteraksi dengan teman, guru dan lingkungan. 

4. Kecerdasan generatif. Kecerdasan ini merupakan kemampuan dalam membaca dan menangkap kesempatan atau peluang. Di masa pandemi ini tentunya anak-anak sudah jenuh dengan situasi yang tak menentu. Sering kali anak-anak pengen berkreasi, membuat sesuatu ataupun melakukan hal-hal yang merupakan passion mereka. Orang tua harus memfasilitasi apa yang ingin dilakukan oleh anak, dan tak berhenti seandainya sekolah dengan tatap muka dilakukan. Pembiasaan baik tetap harus berjalan. Ajak anak untuk selalu meningkatkan kemampuan yang dimiliki sehingga anak semakin mahir melakukan apa yang mereka sukai. 

5. Kecerdasan eksploratif transformational. Kecerdasan ini merupakan kemampuan mengeksplorasi kesempatan dan berani melakukan perubahan perubahan. Orang tua perlu mengajari anak untuk menerima perubahan yang terjadi secara cepat di masa pandemi ini. Tak hanya pembelajaran, namun juga interaksi yang dilakukan baik saat daring maupun nanti jika kembali luring. Hal ini menjadikan orang tua perlu memberikan contoh bagaimana menjadi pribadi yang mudah beradaptasi. 

6. Kecerdasan Moral. Kecerdasan ini adalah kemampuan untuk bekerja menggunakan nilai-nilai universal dalam kehidupan. Tolak ukur dari kecerdasan ini adalah ketika orang tua mampu melatih anak memiliki sosial dan emosional yang baik maka kecerdasan moral pun akan terbentuk dengan baik pula. Apa yang dipikirkan ataupun dirasakan anak akan muncul dalam perilaku-perilaku yang sesuai. Jika orang tua mampu beradaptasi dengan baik untuk dirinya sendiri, menyesuaikan diri dengan positif, meregulasi emosi dan membiasakan pola dengan baik, maka dengan mudah akan mengedukasi anak. Anak itu biasanya mengcopas kebiasaan orang tuanya. 

Pembelajaran di masa pandemi ini tidak hanya berkutat dengan pembelajaran akademik. Namun orang lain akan memberikan respek yang lebih saat anak pun memiliki kemampuan non akademik yang tergali dan tereksplorasi dengan bagus. Saat orang tua tak membatasi pembelajaran anak hanya pada buku semata, maka anak akan mendapatkan hal-hal baru dan menyenangkan yang akan memberikan mereka bekal di suatu hari nanti.

Selasa, 14 Juli 2020

Taaruf dan Menikah Muda dalam Pandangan Seorang Remaja


Masih anget nih, viralnya Dinda Hauw dan Rey Mbayang yang menikah melalui proses taaruf dan di usia yang relatif masih muda. Dinda Hauw tahun ini 23 tahun, sementara si suami 21 tahun. Banyak netizen yang berusia sepantar mereka pun kebaperan dan berharap bisa melakukan hal yang sama. Tambah rame lagi saat diketahui netizen jika Dinda Hauw tidak bisa masak mie instan.



Saya sebagai orang tua yang memiliki anak perempuan dan laki-laki tentunya memiliki pandangan dan harapan. Namun pandangan dan harapan itu tetap saja tak bisa saya paksakan pada anak-anak. Mereka tetaplah pribadi yang memiliki pola pikir dan keinginan yang berbeda dari orang tuanya. Meski kewajiban orang tua mengarahkan anak sampai mereka siap memiliki kapal sendiri. 

Beberapa kali saya membaca di timeline media sosial mengenai pro dan kontra netizen mengenai hal ini. Sampai pada akhirnya ada pertengkaran khas netizen tentang taaruf, menikah muda, serta harus tidaknya perempuan bisa turun ke dapur. 

Berbagai sudut pandang pun dikemukakan oleh netizen. Mulai dari taaruf itu adalah hal yang diwajibkan oleh agama Islam untuk mengenal siapa yang hendak kita nikahi, lalu pandangan bahwa menikah muda itu hanya emosi semata, nggak punya logika, hingga kesiapan lelaki dan perempuan saat hendak melangkah ke jenjang pernikahan. 

Bagi saya yang tahun ini menjalani 19 tahun membagi hidup dengan suami, sangat paham bahwa pernikahan itu tidak hanya melulu soal perasaan. Ada komitmen yang harus dijaga. Berparuh waktu dengan berbagai kewajiban dan hak yang melekat. Ada kebutuhan yang harus terpenuhi, baik bagi pasangan maupun anak-anak. Ada pengorbanan besar yang harus dilakukan dari masing-masing pihak.

Meski begitu, rasa pun harus tetap terpelihara. Seperti tumbuhan, jika bibit disemai tetaplah harus mendapatkan air dan pupuk hingga bisa tumbuh subur. Cinta memang bukan yang utama, namun bagaimana mampu bertahan kalau sudah punya cinta? Masih mampukah menjaga komitmen? Masih mampukah untuk berkorban?

Saya sempat ngobrol dengan Kakak tentang hal ini. Ini adalah pandangan si Kakak, pelajar klas 12, dengan usia belum genap 17 tahun.

"Kak, menurutmu gimana viralnya Dinda Hauw sama suaminya?

"Yang mana?"

"Yaaaa ... Ramenya itu."

"Yang taaruf, nikah muda, nggak bisa masak, atau viralnya?"

Eh ... Si Kakak memetakan masalah itu sendiri-sendiri ternyata. 

"Ya semuanyalah."

"Ini menurutku. Sebenarnya taaruf dan nikah muda itu bisa dilakukan oleh siapapun. Mau seleb atau bukan. Kan banyak juga di sekitar kita yang ngelakuin itu. Masalahnya Dinda itu seleb. Dilihat banyak orang. Orang-orang kebaperan. Diuwuin. Direpost. Abis itu yang kontra ngejulidin. Kalau pendapatku, netijen itu ya nggak usah berlebihan. Seneng ya boleh, doain ya boleh. Tapi ya nggak usah terus kepenginan. Jalan hidup orang kan beda-beda. Nggak usah kepengenan sama hidup orang lain. Yakin aja kalau Allah itu sudah nentuin takdirnya ya harus begitu."


"Terus kalau masalah taaruf gimana Kak? Kan katanya kenal sebentar, jadi nggak bisa memahami satu sama lain?"

Kalau menurutku, kenal atau tidak itu tergantung sama kejujuran masing-masing. Mau pacaran setahun dua tahun sampai lima tahun, kalau nggak jujur ya sama aja pacarnya nggak kenal beneran. Baik di depan doang. Aku ngeliat temen-temenku yang punya pacar tuh kayak punya effort lebih supaya dilihat baik, dianggap perhatian, dianggap sempurna. Padahal kan nggak ada orang yang sempurna kan? Kalau taaruf, mestinya ya yang sesuai dengan ketentuan agama. Bukan pacaran dibalut dengan agama. Alasannya diskusi agama, chatting sampai pagi. Alasannya saling mengingatkan, tapi jadi baper. Jadi merasa kangen, kudu ngobrol melulu. Ya bubar taarufnya. Kenal sebentar, tapi jujur, jadi diri sendiri. Itu kan malah lebih baik.


"Terus itu ada yang bilang Laudya Cintya Bella bercerai karena belum kenal satu sama lain."

Nggak jaminan juga ah. Dulu Bunda pernah cerita, ada temen Bunda pacaran 12 tahun nggak jadi nikah. Temen Bunda ada juga tuh yang pacaran 7 tahun nikahnya 2 tahun terus cerai. Tante Ica, kenal 3 minggu terus nikah, ya bahagia aja tuh. Kita kan nggak pernah tahu kehidupan orang lain. Ngelihat juga di sosmed doang. Tiba-tiba udah ngejudge aja. 


"Kalau nikah muda, kamu ngedukung nggak?" 

Kalau orang sudah punya niat baik, niatnya ibadah ya didukung to Nda? Kan memilih yang halal dibanding yang haram. Agama sudah mengatur. Kalau sudah mampu mau ngapain kalau memang sudah ada yang sreg. Daripada pacaran. Nggak mungkin to pacaran cuma liat-liatan doang? Pasti dipegang. Tuh ... Temenku yang pacaran pegangan tangan, ada yang pelukan, kissing ... Hiiy ... Kalau kebablasan gimana?"

"Terus kalau masalah umur, Lha ukuran muda setiap orang kan beda-beda to, Nda? Contohnya, orang meninggal di umur 30 banyak yang bilang masih muda kok sudah meninggal. Giliran umur 30 belum nikah dibilang sudah tua. Anggapan muda kan nggak sama setiap orang. Coba menurut Bunda, umur yang cukup untuk menikah tuh umur berapa?"

"25 mungkin"

"Menurut Bunda itu udah nggak muda?"

"Bukan nggak muda, sudah cukup umur lah."

"Bisa jadi Nda, untuk zaman milenial ini umur segitu tuh masih banyak yang pengen dikejar. Entah sekolah lagi, entah kerja yang giat. Banyak yang belum pengen menikah karena merasa masih muda."


"Tapi katanya kalau nikah muda itu cuma mikir perasaan doang, belum dewasa maunya ena ena aja?"

"Ah... Kata siapa? Dewasa tuh nggak lihat umur ah. Banyak juga orang yang umurnya udah banyak nggak dewasa kalau ngomong. Banyak juga tuh orang dewasa yang tingkahnya persis anak-anak. Dewasa kan nggak mandang umur to Nda? Jadi menurutku umur tuh nggak bisa dijadiin ukuran seseorang itu dewasa atau enggak."


"Terus masalah nggak bisa masak gimana?"

"Bunda dulu pas nikah udah bisa masak belum?"

"Ya nggak seperti sekarang. Bisanya ya yang standarlah, masak sop, oseng-oseng. Tapi seringnya masih labil rasanya."

"Tapi kok mau nikah kenapa? Kan belum pinter masak?"

"Karena merasa sudah waktunya. Kalau pacaran kelamaan takut kebablasan."

"Berarti nikah itu nggak kudu siap semuanya kan?"

"Iyalah ... Nikah kan berproses. Belajar terus."

"Kan ... Bunda juga bilang nikah itu belajar terus? Berarti nggak papa to, nikah belum bisa masak? Kan bisa belajar. Tapi kalau aku sih pengennya kalau nikah nanti aku bisa masak, paling nggak tujuh macem lah. Biar tiap hari menu masakannya nggak itu itu terus. Kalau belum bisa juga, masih ada go food ini.


"Kalau Kakak pengen nikah muda nggak?"

Dia berpikir sebentar. Kemudian katanya,

"Nggak tahu kalau nanti Allah murah hati memberiku jodoh di umurku yang masih sedikit. Tapi kalau sekarang aku merasa banyak banget yang pengen aku raih. Masih banyak yang pengen aku kejar. Aku punya tujuan yang pengen banget aku wujudkan. Tapi aku nggak pengen juga nikah di umur yang sudah banyak."


"Kira-kira kamu mau nikah umur berapa?"

"25 ... Eh ... 27 mungkin. Eh ... Nggak tahulah. Pokoknya aku nggak maulah nikah pas masih kuliah. Pokoknya udah bikin keluargaku bahagia aja."


Si Kakak memang punya pandangan positif tentang taaruf dan menikah muda. Ia tak melihat kasus Salmafina Sunan dan Taqy Malik sebagai referensi bahwa taaruf dan menikah muda itu buruk. Banyak di lingkaran keluarga dan pertemanan saya yang memberikan contoh baik berkaitan dengan dua hal itu.

Adik saya memutuskan akan menikah hanya setelah 3 minggu perkenalan. Meski ada jeda waktu 3 bulan karena permintaan Ibuk untuk mempersiapkan. Beberapa sepupu saya menikah di usia 21 atau 22 tahun, alhamdulillah mereka tetap harmonis sampai sekarang. Belum lagi saat melihat mbak Ita, salah satu sahabat saya, istri Mas Sakti, ex gitaris Sheila on 7 yang memutuskan menikah hanya sekali bertemu. Saat menikah pun ia masih berusia 21 tahun. Sekarang jangan ditanya harmonisnya rumah tangga beliau berdua. 

Ia punya referensi tentang perceraian itu karena adanya masalah yang berat dalam keluarga. Nggak memandang umur. Karena penyikapan terhadap masalah tergantung pada pribadi masing-masing. 

Kalau menurut teman-teman gimana?