Jurnal Hati

Rabu, 11 Juli 2018

Mendampingi Taaruf #3


Assalamualaikum Temans,
Masih ingat kan kisah Pak guru introvert dengan dedek barbie yang saya tuliskan minggu lalu? Untuk teman-teman yang belum membaca silakan membaca chapter pertama dan keduanya.

Baca juga :

Setelah minggu kemarin saya bersama banyak orang tua yang menghadapi drama SKTM dan zonasi yang cukup melelahkan, hari ini saya pengen refreshing nih, menulis tentang kisah saya saat mendampingi taaruf.

Mendampingi taaruf itu ternyata bikin baper sendiri. Saat pak guru introvert mengatakan sulit kemudian saya WA berkali-kali cuma centang satu saya merasa khawatir. Mengapa ia mengatakan sulit setelah saya minta ia matur ke bapak dan ibunya ya? Atau jangan-jangan orang tua pak guru introvert ini kurang suka terhadap sosok dedek barbie?

Jika tidak suka, apa ya yang kurang disukai dari sosok dedek barbie ini? Apa karena terlihat masih terlalu muda sehingga orang tua pak guru introvert menginginkan sosok yang lebih dewasa? Atau karena dedek barbie berasal dari keluarga yang sederhana sementara keluarga pak guru introvert berasal dari keluarga terpandang?

Pikiran fiksi saya pun mengembara kemana-mana. Saya sendiri juga bingung. Jika dedek barbie ditolak oleh keluarga pak guru introvert, saya pasti patah hati beneran. Pastinya juga malu dan merasa nggak enak banget, memberikan harapan bagi seorang perempuan baik yang saya yakini shalihah.
Keesokan harinya saya teringat bahwa saya harus memastikan pengisi acara untuk acara halal bihalal yang akan diselenggarakan di rumah. Nah ... pengisi acara ini adalah bapak dari pak guru introvert memberikan taushiyah ringan untuk keluarga besar saya. Pagi-pagi saya meluncur ke rumah pak guru introvert untuk menemui bapaknya. Meski pengen juga rasanya sekalian nemuin pak guru introvert. Tapi saya berusaha untuk tak ikut campur karena sudah ranah keluarga. Bagaimanapun juga saya adalah orang luar.

Si ibu yang menemui. Ternyata si bapak sudah berangkat takziah ke Jogja beberapa menit yang lalu. Sejenak saya ngobrol ringan dengan sang ibu, kemudian saya pun mohon diri.

“Eh ... Mbak, aku mau nanya.”
“O... Nggih Bu, tentang apa?”

Feeling saya, ini tentang pak guru introvert. Eh ... beneran, saya setengah mati menahan jantung saya yang berdegup lebih kencang. Kayak saya yang ditanya sama calon mertua.

“Ceritane anakku itu gimana to?”
“Oh ... sudah matur ya Bu?”
“Iya ... lha tapi yo saya sama bapak yo harus mikir panjang to? Bayangin aja mbak, lha tiba-tiba nodong orang tua buat nglamarin anak orang dan tiga bulan kemudian harus nikah. Yo kaget to mbak? Kami kan yo nggak bisa terburu-buru gitu. Dari keluarga yang sana minta tiga bulan lagi nikah to?”

Sepertinya ada miskomunikasi nih.
“Kan belum ketemu Bu, jadi belum tahu keinginan dari pihak perempuan seperti apa. Kan baru tanggal 1 besok mau ketemu.”
“Lho, kok katanya dari keluarga sana minta tiga bulan? Kami ya keberatan wong belum ada persiapan sama sekali. Lagi pula kalau minta tiga bulan yo kami pas repot wong adike juga lahiran.”

Duh ... jangan-jangan saya yang salah ngomong ya? Perasaan kemarin waktu ngobrol sama pak guru introvert itu saya nerangin kalau proses taaruf itu nggak lama. Yang sudah-sudah tiga bulan kemudian menikah.
“Nyuwun ngapunten, Bu. Mungkin putro njenengan salah paham dengan omongan saya. saya yang minta maaf. Kemarin kalau kata tiga bulan itu datang dari saya. kami ngobrol kemudian saya sampaikan kalau biasanya proses taaruf itu tiga bulan terus nikah. Biasanya lho Bu. Tapi kan semua tergantung rembugan dua keluarga nggih? Lha ini juga belum ketemu sama pihak perempuan. Tanggal 1 besok baru mau ketemuan. Nanti saya dan satu lagi temen yang nemenin ketemunya.”
“ Oalah ... gitu ceritanya. Lha kemarin sampai rodo panas pas bicara sama saya dan bapaknya. Ngotot gitu. Ya kan pertimbangannya Bapak dan saya kan yang namanya pihak laki-laki kan ke sana nggak cuma bawa badan. Memang dalam Islam itu kalau mau menikah dipermudah. Tetapi kita yo orang Jawa, harus mrajakke keluarga. Ada peningset, oleh-oleh, juga uang dapur. Uang dapur yo nggak mungkin seratus dua ratus ribu to?”

Well, I got the point. Sulit yang dikatakan pak guru introvert hanya masalah waktu.

“Tapi nggak keberatan sama sosoknya Ustadzah **** kan Bu?”
“Yang mana to orangnya? Yang waktu penutupan itu jadi MC? Lak yo yang cantik itu to? Kami sih seneng aja. Wong berasal dari lingkungan yang bisa dipertanggungjawabkan. Nggak masalah kok sama pilihannya.”

Wuih ... sebagian rasa berat yang tadinya membebani pundak hilang seketika. Saya pun bisa bernapas lega. Lantas sang ibu meminta saya untuk bicara dengan pak guru introvert.

“Dari semalem nggak mau keluar kamar. Dia kalau lagi nggak enak hati pasti mengurung diri gitu. Itu lho yang bikin saya khawatir. Takut kalau dia stress. Saya sampai bilang sama Bapak, ‘mbok ya dituruti ajalah Pak, masalah uang nanti bisa dicari-cariin gitu. Kalau anaknya stress piye?’ Lha si Bapak malah bilang, ‘nggak mungkin stress. Kayak nggak punya agama aja’. Gitu mbak.”

Saya tersenyum. Mau sedewasa apapun seorang anak, ibu akan selalu mengkhawatirkan.

“Njenengan bicara sama anakku aja ya? Biar tak panggilin.”
Saya mendengar sang ibu mengetok kamar pak guru introvert. Nggak ada jawaban sama sekali. Bolak balik beliau mengatakan ada saya di ruang tamu pun pak guru introvert nggak segera keluar kamar.

“Kayak gitu lho, Mbak. Gimana saya nggak takut kalau dia stress? Saya aja ngadepin begini stress sendiri. Dia itu sebenarnya dewasa pemikirannya. Tapi untuk masalah ini kok dia jadi kayak anak-anak. Bayangin mbak, lha minta nikah kok kayak minta dibeliin balon, sak deg sak nyet (istilah jawa : harus sekarang).”
“Nanti saya WA aja Bu, anaknya.”

Sang ibu masih berjuang mengetok pintu kamar pak guru introvert. Akhirnya si pak guru introvert keluar kamar juga. Tebakan saya sampai jam segini dia belum mandi.
Wajahnya ditekuk. Ia duduk di samping saya sambil melipat tangan. Rahangnya terlihat mengeras. Ia sama sekali tak memandang saya maupun ibunya. Tatapnya kosong.


“Le, Ibu sudah dengar cerita dari Mbak Irfa. Ibu tuh nggak keberatan sama pilihanmu. Malah seneng kamu sudah punya pilihan. Tapi kan semua itu nggak bisa cepet-cepet. Butuh biaya. Pakai uang to, nggak pake daun. Lha nek cuma pake daun yo ayok, kita ngunduh daun di depan rumah itu bisa terkumpul banyak.”

Sebenarnya saya pengen ketawa mendengar sang ibu berbicara. Tapi melihat mata pak guru introvert berkaca-kaca saya kasih kode ke ibu untuk berhenti berbicara dahulu.

‘Yo wis mbak, sekecakke. Saya tak cuci piring dulu,” kata sang ibu dan beranjak pergi.
Saya mengajak bicara pak guru introvert. Nggak ada respon sama sekali. Hanya serin menarik napas berat. Matanya terus berkaca-kaca. Saya bicara panjang pun ekspresinya masih begitu.

“Kalau kamu diem aja, aku nggak ngerti maumu apa. Kalau kamu diem aja, yang sakit kamu sendiri. Nggak ada yang memahami,” kata saya.
Ia mencoba bersuara. Namun tercekat di tenggorokan. Ia menarik napas berkali-kali. Lantas dengan terbata-bata ia berbicara.
“Saya itu dua kali ditolak perempuan karena kondisi saya.  Sekarang ada yang mau, tapi kok dipersulit.”

Air matanya meleleh sudah. Ia tersedu. Saya speechless. Bingung mau bilang apa. Lah gimana? Suami aja nggak pernah nangis di depan saya. Laki-laki yang sering saya bujuk untuk diem kalau nangis Cuma si Adek. Lha ini? Anak orang pula.

Pelan saya sentuh punggungnya. Rasanya kok kayak ngadepin Adek kalau pas ngambek yak?
“Bukan dipersulit. Ini cuma masalah waktu, bisa dibicarakan. Bapak sama ibu cuma minta waktu. Aku yakin kok, dari pihak Ustadzah **** bisa memahami. Mereka pasti juga butuh waktu. Mereka kan bukan dari keluarga yang kaya raya yang jika nikah besok langsung bisa nyiapin gedung sampai kateringnya. Wis to, yang tenang,” bujuk saya.

Pak guru introvert terdiam. Ia menghapus air matanya. Saya tersenyum kecil. Biasanya saya melihat pak guru introvert ini sebagai pribadi yang tenang, kalem, dan cool. Lha kok sekarang saya melihat sisi lain yang nggak pernah terbayang oleh saya.

“Kamu takut kehilangan Ust **** yo?” tebak saya.
Dia mengangguk.

“Cinta pake banget ya sama Ust ****?”
Ia kembali mengangguk-anggukkan kepalanya. Fix. Saya sedang ngadepin Adek kalau pas ngambek J

“Yo wis, semua udah jelas masalah Bapak sama ibu. Nanti tanggal 1 semua dibicarakan,”  kata saya.
“Nggih,” ucapnya lirih.
Sehari kemudian saya dapet WA dari sang ibu.
“Anakku sudah ngurusin anggreknya. Sudah mau keluar kamar. Sudah ke masjid juga.”

Tanggal 1 Juni 2018
Saya datang duluan di sebuah rumah makan. Rumah makan itu berada di sebuah kecamatan antara temat tinggal saya dan dedek berbie. Nggak kejauhan buat saya ataupun buat si dedek berbie, biar nggak kemalaman. Setelah itu Pak guru introvert yang datang. Ia senyum-senyum, namun dari gesture nya saya  tahu bahwa ia gelisah.

Nggak berapa lama Ustadzah Anne dan dedek berbie dateng. Ekspresi dedek berbie saat itu kelihatan malu. Saat bersalaman dengan saya tangannya terasa dingin.
“Ust Irfaaaa ... saya maluuuuuu. Pulang aja yaaaaa?”

Saya ketawa dengan ekspresi spontannya. Pak guru introvert pun tertawa mendengar kata-kata Dedek berbie. Kemudian setelah sempat berbasa basi sebentar, saya pun membuka pembicaraan. Awalnya mungkin agak kagok juga. Dulu di SMA boarding school mereka bisa bicara santai. Dengan kondisi yang berbeda begini ada awkward moment nya, saat mereka berdua bicara tidak saling memandang. Dedek berbie ngomong ke pak guru introvert, yang dipandang wajah saya.

Giliran pak guru introvert bicara, bibirnya kelihatan bergetar. Mata pun tak berani langsung menatap dedek berbie. Saya dan ustadzah Anne ketawa aja melihat kondisi begini. Sesekali kami menggoda membuat mereka tersipu.

Mereka bernegosiasi. Sifat apa yang bisa diterima dan tidak. Kondisi apa yang bisa dimaklumi dan tidak. Apa yang diinginkan pak guru introvert, atau apa yang tak diinginkan oleh Dedek berbie. Suasana pun mulai cair. Ceria dan lucunya Dedek berbie membawa pengaruh juga ke pak guru introvert. Mulai bergurau yang membaperkan hati.

“Saya orangnya nggak bisa ngatur uang. Uang yang saya pegang sering banget habis, nggak ketauan kemana. Kadang beli-beli barang yang nggak seharusnya saya beli,” kata Pak guru introvert satu saat berkata.
“Oh... gampang, nanti saya yang atur,” canda dedek berbie.
Pak guru introvert tertawa.

“Saya tuh sering banget kesasar. mau berapa kali berkunjung ke satu tempat selalu saja nyasar. Mau ke rumah temen sampai harus di jemput karena kesasar jauh,” kata dedek berbie.
“Besok-besok saya yang nganter. Saya boncengin,” ujar pak guru introvert sambil tertawa.

Dedek berbie meminta waktu paling nggak 6 bulan untuk mempersiapkan pernikahan. Ia ingin menabung karena baru saja bekerja. Ia tak ingin terlalu memberatkan orang tua di perniakahannya nanti. Sesederhana apapun sebuah pernikahan, tetap harus diumumkan melalui perjamuan walimah.
Mereka pun sepakat bahwa lebaran hari ketiga pak guru introvert akan datang ke rumah dedek berbie untuk bicara pada orang tua dedek berbie.

Paginya, saat bertemu ibu pak guru introvert di kuliah subuh saya ditodong untuk cerita. Ada kilatan bahagia di mata sang ibu mendengar cerita saya. Ia pun tertawa mendengar cerita saya.
“Semalem dia nyetel lagunya udah ganti lagu-lagu cinta, Mbak. Sebelumnya lagu sik embuh. Gedubrakan tiada tara,” kata sang ibu. Saya pun ngikik berdua.

Alhamdulillah, akhir bulan lalu, dedek berbie sudah dikhitbah oleh keluarga pak guru introvert. Dalam waktu dekat mereka akan melangsungkan pernikahan. Semoga last forever deh dan sakinah mawaddah warrahmah. Last forever tapi enggak sakinah ngapain juga. Iya kan?


Selasa, 10 Juli 2018

Tiktok, Generasi Z, dan Orang Tua

Assalamualaikum Temans,
Beberapa hari belakangan di timeline media sosial saya rame banget nanggapin diblokirnya sebuah aplikasi yang banyak digemari anak ABG saat ini. Aplikasi itu bernama tiktok.
Aplikasi ini awalnya muncul di negeri Cina, dan banyak sekali pengguna dari Tiongkok sebelum aplikasi ini tersedia dalam bahasa Inggris maupun Indonesia. Sementara Tiktok sendiri dibuat oleh raksasa digital bytedance yang menyediakan fasilitas memberikan efek unik bagi pengguna saat membuat video pendek.

cr :www.gadgetren.com

Aplikasi ini memiliki dukungan musik yang bisa digunakan oleh pengguna untuk menari, gaya bebas,dan masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk mendorong kreativitas anak muda menjadi kreator konten.

Lantas kenapa anak-anak ABG ini sangat menyukai aplikasi Tiktok?
ABG jaman sekarang yang biasa dikenal dengan generasi Z dimana generasi ini terpengaruh oleh teknologi yang terus berkembang, internet serta media sosial. Tiga hal ini turut mempengaruhi sifat umum anak-anak yang berada di generasi Z yaitu sangat tergantung pada teknologi, menerima banyak perbedaan serta ingin memiliki pengalaman yang lebih dari orang lain.

Generasi ini menyukai pekerjaan yang terkait dengan passionnya. Mereka berusaha menjadikan passionnya sebagai lahan untuk berkreasi dan wirausaha. Jarang sekali anak dijaman ini ketika ditanya cita-citanya lantas menjawab ingin menjadi pegawai negeri.

Coba tanyakan pada anak-anak sekarang yang ‘mengonsumsi’ media sosial tentang cita-cita. Kalau di jaman saya dulu informasi berkembang terlebih dahulu di perkotaan, sehingga anak-anak di desa terlihat cupu dan kurang gaul. Sekarang teknologi informasi berkembang begitu cepat sehingga tak ada bedanya hidup di kota maupun di desa. Saya udah nemuin anak sepantaran ponakan saya ketika ditanya cita-citanya jadi apa, jawabnya pengen jadi youtuber.  Kemudian jika ditanya kembali mengapa ingin jadi youtuber, jawabannya adalah pengen terkenal dan banyak duit. Hei ... anak umur delapan tahunan udah kenal duit nih.

Balik lagi ke Tiktok. Kenapa bahasan tentang Tiktok rame banget? Kasus yang lagi anget sih ada seleb tiktok yang punya follower sampai ratusan ribu ngadain meet and greet. Untuk bisa berfoto dengan si seleb tiktok ini ada htmnya, sebesar Rp80.000,00.

Si seleb tiktok ini namanya Bowo. Katanya sih kalau di tiktok anaknya kelihatan ganteng dan  ngegemesin. Makanya ia punya banyak fans. Dan fans nya inilah merespon keberadaan Bowo dengan komen yang berlebihan.

Selain fans, haters Bowo ini juga makin mem-viralkan keberadaannya sehingga tadinya ibu-ibu yang nggak tahu tiktok itu apaan ikut-ikutan berkomentar. Ikut share ke berbagai media sosialnya hanya melihat postingan fans atau haters si Bowo.

Yuk, kita obrolin tentang fenomena ini

Generasi Z ini merupakan generasi yang kebanyakan terkena syndrom FOMO. Fear of missing out. Takut kalau nggak apdet. Takut kalau dia nggak kayak temen-temennya yang ngerti info apa aja. Takut nggak eksis. Syndrom FOMO nggak cuma terjadi pada generasi Z lho. Kita yang berada di generasi post boomers banyak yang khawatir banget kalau nggak apdet sehingga ponsel berbasis android pun selalu di tangan. Kayaknya takut banget kalau satu jam ketinggalan berita.

Nah, menjadi terkenal juga menjadi cita-cita si Bowo. Kalau ngelihat vlog nya Arief Muhammad si Bowo ini masih kelihatan anak-anak. Nonton TV nggak pernah, tapi hobi banget main tiktok. Karena apa? Tiktok menjadi jalan untuk dikenal orang. Untuk eksis. Dan menurut Bowo, Tiktok itu menjadi bagian dari karyanya.

Sebagai orang dewasa yang nggak doyan tiktok, awalnya saya tertawa. Namun berkaca pada anak-anak saya yang ingin selalu diapresiasi sekecil apapun, saya bisa memahami bagaiaman seorang anak ingin eksis. Ingin dipandang lebih dari yang lain. Dan itu tak cuma terjadi pada anak-anak kan?

Ketika seseorang dipandang mempunyai kelebihan, maka anak-anak pun memuja. Seperti generasi post boomers yang tergila-gila pada Tomy Page. Layaknya generasi ‘90an mendewakan New Kids On The Block atau Gun ‘N’ Roses. Seperti saya yang menyetel dan mengikuti nyanyian mereka dengan keras lagu-lagu Bon Jovi, Europe, ataupun White Lion. Bagaimana perasaan kita saat itu? Mereka hebat luar biasa kan?

Nah, ketika anak-anak kita begitu tergila-gila pada seleb tiktok, selebgram atau whatever lah, apakah kita akan mencaci maki mereka? Nggak kan?
Dalam otak remaja bagian amygdala lah yang memegang kendali dalam diri mereka. Amygdala berkaitan dengan emosional mereka. Itulah mengapa remaja ini sangat impulsif, ada keinginan agresi dalam diri mereka namun juga punya ketakutan yang besar terhadap apa yang dianggap mengancam.  
Wajarkah mereka menuhankan Bowo, menginginkan menjual ginjal ibu mereka, atau melepas keperawanan untuk si Bowo?
Tentu saja tidak. Mereka reaktif terhadap keberadaan Bowo yang dianggap ‘mereka’ banget. Yang memahami kebutuhan mereka akan hiburan dan idola. Lantas ketika idola mereka tak seganteng tampilan di  media sosial lantas diseranglah dengan makian yang bikin mata kita sepet. Ya iyalah, aslinya nggak ganteng. Aslinya item. Kayak kita nggak pernah pake aplikasi Camera 360 atau beautification pada gawai aja. Kecantikan atau kegantengan bisa naik sampai 80% kan?

Remaja, anak-anak kita ini butuh teladan dari kita orang tuanya. Pendidikan karakter tak hanya dibentuk di sekolah. Paling utama bagi remaja adalah bagaimana keluarga memberikan support system yang bagus bagi anak-anak. Ayah yang berperan menjadi penjaga moral, membentuk sifat baik bagi anak-anaknya. Ibu sebagai sumur kasih sayang, yang siap kapan pun menimba cinta untuk anak-anak dan diguyurkan perlahan sehingga cinta itu meresap dalam diri anak-anak.

Jika orang tua tak ingin anaknya hanya bergaul dengan gawai, bagaimana dengan orang tua? Siapkah meletakkan gadget dan keasyikan ngobrol di WA grup untuk mendengarkan cerita ringan atau keluh kesah anak dan menyiapkan kata-kata yang tepat untuk menenteramkan? Jika orang tua berang dengan keberadaan tiktok, mengapa tak ada yang marah dengan keberadaan bigo live yang sering disalahgunakan?

Menjadi orang tua yang asyik buat anak sebenarnya juga anugerah tersendiri bagi kita orang tuanya. Apalagi sekarang gawai merupakan rival orang tua dalam membangun kedekatan dengan anak-anak. Terkadang kita sudah merasa dekat namun tak memahami apa yang sedang mereka lakukan atau sukai. Taukah kita tentang wattpad, webtoon, tiktok, hypstar, bigo, atau musical.ly? pernah nggak kita mencoba googling tentang BTS, Wanna One, Alan Walker atau Anne Marie? Tahu Tom Holland atau Deadpool? Pernah nggak buka i-flix atau Viu bersama anak-anak?

Memang tak mudah menjadi orang tua. Tak ada sekolahnya. Tetaplah menjadi orang tua yang tenang, tidak gumunan, kalau kata Bapak saya. Jangan sampai kita mempunyai jejak yang buruk di sosial media. Anak adalah cerminan orang tua. Bagaimana anak akan respek ketika orang tua tanpa tabayyun share berita hoax atau malah memviralkan hal yang tak perlu?

Orang tua berang melihat anak-anak dan remaja kita menuhankan Bowo. Tak pernahkah orang tua menuhankan pekerjaan atau kesenangan sehingga mengabaikan anak-anak?
Yuk, introspeksi diri. Sudahkah kita menjadi orang tua yang benar-benar bermanfaat untuk anak-anak kita kemarin, hari ini dan di masa depan nanti?



Rabu, 04 Juli 2018

Sahabat Generasi Maju, Dukungan SGM Eksplor terhadap perkembangan potensi buah hati

Tanggal 30 Juni 2018 yang lalu saya menghadiri siaran pers yang menghadirkan teman-teman dari media dan blogger yang diadakan oleh SGM Eksplor di Gedung Kotak Taman Pintar Jogjakarta. Suasana begitu rame karena acara ini berbarengan dengan kegiatan festival sahabat generasi maju Yogyakarta.

Di awal siaran pers yang mengusung tema Dukung Potensi Si Kecil Jadi Anak Generasi Maju Melalui Pemenuhan Nutrisi Dan Edukasi ini dikatakan bahwa sebagai orang tua yang mengharapkan anak mempunyai masa depan yang terbaik biasanya mereka akan berusaha dengan berbagai cara supaya anak mendapatkan kesempatan untuk kehidupan yang lebih baik. Karena anak adalah pribadi yang unik, maka orang tua perlu memahami berbagai tahapan perkembangan anak, aspek apa saya yang mempengaruhi tumbuh kembang anak, serta menajamkan potensi yang dipunyai anak untuk mendukung menjadi anak generasi maju.


Astrid Prasetyo, Marketing Manager SGM Eksplor menjelaskan bahwa Selama lebih dari 50 tahun SGM Eksplor mendukung orang tua Indonesia melengkapi kebutuhan nutrisi anak dan mengadakan edukasi nutrisi secara rutin. Hal ini untuk mendukung si kecil supaya memiliki lima potensi prestasi anak generasi maju yang cerdas, kreatif, tumbuh tinggi dan kuat, supel, mandiri serta percaya diri. Hal ini sejalan dengan visi SGM Eksplor bahwa setiap anak berhak memiliki masa depan yang lebih baik sehingga memudahkan mereka menggapai cita-cita.

Apa yang disampaikan oleh Astrid Prasetyo ini diamini oleh Psikolog Anak dan Keluarga Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Psi., Psi., yang akrab dipanggil Mbak Nina. Beliau mengatakan bahwa orang tua harus menggali lima aspek pertumbuhan anak yaitu fisik, kognitif, emosi, bahasa dan sosial yang saling terkait satu sama lain supaya tumbuh kembang anak lebih optimal. Orang tua dan lingkungan diharapkan untuk selalu menstimulasi kelima aspek tersebut secara bertahap. Hal itu perlu dilakukan karena pertumbuhan anak bukanlah sesuatu yang instan, namun melalui sebuah proses yang harus dikembangkan sejak dini. Mbak Nina juga menjelaskan bahwa lima potensi prestasi anak generasi maju yaitu cerdas kreatif, tumbuh tinggi dan kuat, supel, mandiri, dan percaya diri merupakan pengejawantahan dari perkembangan lima aspek dasar pertumbuhan anak. 


Sesuai dengan komitmen SGM Eksplor di bidang pendidikan, sebagai wujud nyata diadakanlah berbagai kegiatan untuk mengajak orang tua merayakan dan mendukung potensi prestasi yang dimiliki oleh setiap anak Indonesia. 

Sahabat Generasi Maju
Kegiatan ini dilakukan melalui media sosial yaitu facebook dimana orang tua diajak untuk menceritakan potensi prestasi putra putri mereka dengan mengunggah foto dan cerita mulai 19 april 2018 sampai dengan Juli 2018. Para orang tua ini memiliki kesempatan mendapatkan total beasiswa sebesar satu miliar untuk 25 pemenang. Penjurian grand final untuk memilih 25 pemenang akan dilakukan pada tanggal 27-29 Juli 2018 di Sumarecon Mall Bekasi. 

Festival Sahabat Generasi Maju
Rangkaian kegiatan Festival Sahabat Generasi Maju akan diadakan di 4 kota besar di Indonesia yaitu Yogyakarta, Surabaya, Medan dan Bandung. Yogyakarta mendapat kesempatan pertama kali mengadakan Festival Sahabat Generasi Maju yang bertempat di Taman Pintar Yogyakarta. Festival Sahabat Generasi Maju merupakan area rekreasi edukatif untuk anak dan keluarga dimana orangg tua selain bisa menstimulasi potensi anak. Berbagai permainan edukatif tersebar di area Taman Pintar. 

Ada area panggung untuk anak-anak tampil menari , bernyanyi maupun atraksi lainnya. 


Sementara di gedung kotak ratusan anak-anak didampingi oleh orang tua mengikuti lomba mewarnai. 

Ada juga arena kreativitas untuk menstimulasi potensi kreativitas anak




Tersedia arena olah raga untuk anak-anak yang aktif




Tak ketinggalan minimobi dimana anak-anak bisa beraktivitas dengan berbagai permainan edukatif yang ditujukan untuk edukasi nutrisi dan stimulasi otak anak. Minimobi ini sudah berkeliling ke 8000 area di Indonesia lho.




Kami pun diajak berkeliling ke sebuah wahana edukatif yang dinamakan Jejak Nutrisi dimana anak-anak akan diajak untuk memahami bagaimana pembuatan susu SGM dengan permainan yang menarik dan edukatif.


Sayangnya nih, anak-anak udah remaja semua. Ponakan juga jauh. Kalau misalnya dekat pasti deh hepi banget saya ajakin ke kegiatan ini.

Jumat, 29 Juni 2018

Mendampingi Taaruf (Chapter #2)

Assalamualaikum Temans,

Sudah baca tulisan saya tentang mendampingi taaruf chapter 1? Nah tulisan ini adalah kelanjutan nih. Untuk chapter 1 nya bisa dibaca DISINI.
Saya memang sengaja memotong jadi beberapa bagian. Bukan karena yang baca biar penasaran. Namun saya khawatir tulisan yang terlalu panjang akan terasa membosankan. Jadi, siap ngikutin kelanjutannya kan?

Pak guru introvert mengirimkan 11 lembar tulisan tentang biodatanya setelah saya kritik biodatanya mirip orang ngelamar pekerjaan. Saya katakan padanya bahwa yang bekerja untuk menuliskan biodata ini bukan otak, namun hati. Eh ... beneran. Pak guru introvert ini membuat sebuah tulisan yang menyentuh. Bahkan ia sukses membuat saya meneteskan air mata.

Dimulai dari tulisan ini. Kalau pembaca menganggap tulisan ini hasil editan saya, itu salah besar. saya sama sekali tak mengedit tulisannya. Ia menulis dengan hati.

Pendidikan                  :Bapak dan Ibu saya adalah sarjana. Sementara saya sempat berkuliah selama beberapa tahun  di UNY tapi tidak sampai selesai. Walaupun bapak menginginkan anak-anaknya menjadi sarjana, namun yang paling ditekankan oleh bapak adalah apapun pekerjaan anak-anaknya harus bisa memberi manfaat bagi masyarakat sekitar dan memiliki nilai/makna.            Bagi saya pengalaman pernah kuliah selama 4 tahun memberikan banyak pelajaran berharga bagi saya. Salah satunya adalah bagaimana pelajaran-pelajaran agama dan teori-teori yang saya dapatkan di kelas ternyata tidak cukup membuat saya menjadi orang yang bisa berislam secara kaffah. Selama enam tahun saya menjalani kehidupan pesantren dengan nilai-nilai relijius yang tinggi. Tapi begitu lulus dari pondok dan memasuki bangku perkuliahan, saya mengalami gagap budaya.            Di pesantren saya terbiasa dengan peraturan-peraturan yang mengikat untuk santri, sehingga ibadah dan kebiasaan relijius saya bisa terjaga dengan baik. Tapi kemudian saya menemukan sesuatu yang berkebalikan ketika memasuki dunia luar. Di luar tidak ada lagi peraturan-peraturan ketat yang mengontrol, saya merasa bebas bisa melakukan ini-itu yang tidak bisa saya lakukan di pondok. Saya mulai masuk kedalam pergaulan yang negatif. Apalagi mayoritas teman kuliah saya tidak memiliki dasar pendidikan agama yang kuat. Sebenarnya saya bisa memilih teman pergaulan lain yang lebih baik, tapi rasa jenuh dengan kehidupan di pondok membuat saya enggan untuk mendekati mereka yang suka berkumpul dalam forum-forum keagamaan.
            Empat tahun dalam masa perkuliahan saya mengalami masa-masa yang menurut saya paling kelam dalam hidup saya. Walaupun secara akademik kuliah saya tetap berjalan dengan baik, tapi nilai-nilai Islam yang ada dalam diri saya mulai luntur. Saya mulai sering meninggalkan shalat dan lebih suka nongkrong di warung kopi, main kartu dan sebagainya. Saya mulai dekat dengan hal-hal yang dilarang dalam agama Islam. Bergaul dengan peminum, bergaul dengan pemakai narkoba, bergaul dengan segala yang buruk dan dilarang dalam agama Islam. Tapi Alhamdulillah walaupun teman pergaulan saya seperti itu saya tidak pernah mencicipi sedikitpun barang-barang yang diharamkan oleh agama Islam.            Pada tahun keempat kuliah saya mulai mengalami titik jenuh dalam kehidupan saya yang seperti itu. Waktu itu adalah proses awal saya mengerjakan tugas akhir. Tapi saya merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidup saya. Saya merasa hampa. Saya merasa apa yang saya lakukan empat tahun di bangku kuliah tidak memiliki manfaat apapun kecuali pengetahuan-pengetahuan yang bertambah tapi tidak bisa saya aplikasikan dalam kehidupan saya. Tidak ada sesuatu yang bermanfaat yang bisa saya bagi untuk orang lain.
            Pada satu momen, ingatan-ingatan masa kecil saya kemudian muncul dan terbayang di depan saya dengan jelas. Ingatan ketika bapak menggandeng tangan saya ke masjid. Ingatan ketika bapak mengajari saya mengeja huruf arab di papan tulis. Ingatan ketika bapak mengantar saya pertama kali masuk ke pondok. Ingatan ketika bapak memberi saya uang yang hanya cukup untuk naik bis kembali ke pondok karena waktu itu bapak memang tidak memiliki uang lagi. Semua memori-memori dari masa kecil saya dengan bapak membuat saya sadar kalau saya selama ini hanya melakukan hal-hal bodoh dan sia-sia.
            Akhirnya saya memutuskan untuk istirahat dari bangku perkuliahan dan mencari kegiatan-kegiatan lain di rumah. Mencoba menata kembali diri saya. Enam tahun di pondok ditambah empat tahun di bangku perkuliahan membuat saya merasa asing dengan lingkungan sekitar ketika saya kembali ke rumah. Saya mulai beradaptasi lagi dengan lingkungan tempat tinggal saya. Butuh beberapa bulan untuk saya mulai terbiasa dengan lingkungan tempat tinggal saya. Saya mulai mencoba kembali untuk ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan masjid, mengikuti kajian-kajian yang diselenggarakan oleh masjid.            Tidak berselang lama, Alhamdulillah saya ditawari untuk membantu di SD Muhammadiyah Gunungpring. Awalnya hanya untuk membantu mengajar anak-anak mengaji di jam pagi, tapi kemudian diminta juga untuk membantu mengajar di jam siang setelah shalat dhuhur. Keigatan-kegiatan tersebut kemudian menjadi rutinitas harian saya sampai kemudian saya mulai lupa dengan tugas akhir saya. Sempat bapak bertanya dan meminta saya untuk menyelesaikan tugas akhir saya. Saya juga sempat mencoba kembali memulai untuk menyelesaikan tugas akhir saya.            Tapi saya mulai mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas akhir saya. Selain karena saya sudah mulai jarang ke kampus, saya juga membatasi berkomunikasi dengan teman-teman saya di kampus. Saya mulai kehilangan ritme dalam menyelesaikan tugas akhir. Dalam jangka waktu yang cukup lama saya tidak bersinggungan dengan tugas-tugas akademik kampus. Saya juga tidak mempunyai teman untuk diajak bertukar pikiran. Saya mulai menikmati dan terbiasa dengan kegiatan harian saya dirumah yang bagi saya membuat saya lebih bahagia.

Tulisan itu membuat saya berkaca-kaca. Buat saya, ini istimewa. Ia merelakan kehilangan sesuatu yang bisa membanggakan untuk agama. Ia meninggalkan lingkungan yang baginya telah menjauhkan dari rasa syukur buat seorang anak muda bukanlah sesuatu yang mudah. Namun ia bisa melakukan itu.

Jangan khawatir, ia sudah berencana untuk kembali ke bangku kuliah. Ia akan kembali ke bangku kuliah yang berkaitan dengan keilmuan Islam yang menurutnya akan lebih banyak bermanfaat untuk murid, keluarga dan masyarakat.

Satu lagi tulisannya yang sukses membuat saya meneteskan air mata. Tulisan ini di bagian akhir dari biodatanya.

Catatan :

Saya pernah ditanya mau punya istri yang seperti apa. Saya yang saat itu memang belum memiliki rencana untuk menikah hanya memberi jawaban yang umum, istri yang bagus agamanya dan cantik. Sudah itu saja. Tapi waktu demi waktu saya mulai memikirkan kembali sosok istri yang saya inginkan.

Kemudian ingatan-ingatan tentang ibu ketika mendampingi bapak dalam fase-fase yang berat di keluarga kami muncul kembali. Ibu saya bukan tipe ibu yang kalem. Kadang-kadang menjengkelkan kami. Tapi saat itu saya kemudian ingat bagaimana kesetiaan ibu terhadap bapak. Bagaimana ibu terus mencoba kuat dan tegar didepan anak-anaknya. Semua yang menjengkelkan luruh sudah.

Ketika saya kelas 5 SD, Bapak sakit parah. Itu tahun kedua bapak sakit dan kondisi bapak terus menurun dari waktu ke waktu. Saat itu bulan Ramadhan, dan bapak menghabiskan bulan itu di Rumah Sakit. Malam hari sebelum bapak masuk RS, saya sempat melihat ibu saya menangis di kamar dan mencoba ditenangkan oleh orang-orang. Saya baru tahu kalau waktu itu secara medis bapak sudah tidak memiliki harapan untuk sembuh. Badan bapak sudah sangat kurus, bahkan terlihat jelas tulang-tulang di badan bapak. Penyakit yang diderita bapak juga tidak kunjung ketahuan. Tidak ada lagi makanan yang bisa masuk ke perut bapak. Tapi ibu masih mencoba yang terbaik untuk kesembuhan bapak. Akhirnya bapak dirawat di RS lagi. Selama beberapa minggu di RS kondisi bapak semakin menurun. Ibu masih tetap setia menemani bapak pada fase itu.
Saya ingat suatu hari ibu pulang ke rumah. Ibu kemudian mengajak saya dan adik ke pasar untuk beli sandal dan baju baru. Saat itu ibu tidak menampakkan rasa cemas di wajahnya. Karena tidak punya kendaraan, kami naik andong ke pasar. Sorenya, ibu kembali lagi ke RS menemani bapak. Setelah itu bapak mulai mengalami masa-masa kritis. Sampai kemudian tim dokter mengambil keputusan untuk mengoperasi bapak. Waktu itu tengah malam. Dan operasi dilakukan secara mendadak. Dokter memberi tahu kalau operasi bapak kemungkinannya kecil untuk berhasil dan ibu diminta untuk siap-siap dengan kemungkinan terburuk. Saya tidak tahu bagaimana perasaan ibu saat mengambil keputusan waktu itu. Tapi akhirnya bapak dioperasi. Saya baru tahu kalau bapak dioperasi keesokan paginya. Dan Alhamdulillah operasi bapak berhasil. Saya juga tidak tahu bagaimana bahagianya ibu ketika itu. Yang pasti saat itu ibu adalah orang yang paling bahagia dan bersyukur dengan kesembuhan bapak.
Saya tidak tahu seberat apa kesulitan-kesulitan yang akan saya alami dalam kehidupan keluarga saya nanti. Saya hanya berharap dan berdo’a kalau istri saya nanti adalah orang yang kuat, tegar, dan setia seperti ibu. Rela jatuh-bangun bersama, yang bersedia menemani saya melewati cobaan-cobaan, yang bisa menguatkan ketika saya goyah.

Ia mencintai ibunya. Sangat. Setiap laki-laki yang mencintai ibunya saya yakin akan memuliakan istrinya. Ia takkan egois menjadikan seorang istri sebagai konco wingking saja. Namun pastinya ia akan menjadi support system istri yang paling bisa diandalkan.

Membaca tulisan Pak guru introvert membuat saya yakin. Ia akan mulus melalui tahapan taaruf ini. Ini baru dua bagian tulisannya. Sementara yang membuat hati saya meleleh tak cuma itu. Jika orang tua dedek barbie membaca, bener deh, pasti ikut kebaperan seperti saya.
Lantas biodata itu saya kirimkan ke ustadzah Anne. Ust Anne mengatakan bahwa biodata itu akan dikirimkan ke dedek barbie malam hari saja setelah tarawih. Saya tanyakan ke pak guru introvert kapan mau dikirim. Katanya begini.


Namun saya nggak sabar. Saat kultum tarawih malam itu saya kirimkan biodata dedek barbie ke pak guru introvert. Saya kaget juga. Kok WA saya langsung centang biru. Saya pun tertawa sendiri. Kami sebenarnya tak biasa membawa ponsel ke masjid. Kayaknya force majeur nih, nggak sabaran semua untuk mengirim dan menerima gambaran masa depan (#eaaaaaa)

Malem itu saya WA Ust Anne. Keesokan harinya  Ustadzah Anne bales WA saya.





Beberapa hari kemudian saya ketemu Pak guru introvert di parkiran masjid. Meski ia tak banyak bicara, namun saya melihat kilatan bahagia di matanya. Ia bertanya kelanjutan dari taaruf ini. Saya pun menjelaskan bahwa biasanya yang namanya taaruf itu nggak lama kemudian khitbah kemudian akad.  Prosesnya sekitar tiga bulanan.
“Sudah sejauh ini, sudah saatnya disampaikan ke Bapak dan Ibu yo?” kata saya.
“Nggih, Mbak. Paling do kaget yo, ngerti-ngerti saya prosesnya sampai seperti ini.”
“Mature alon-alon. Biar nggak ngageti banget. Kamu siap ketemuan tanggal  1 kan?”
“Insya Allah, Mbak.”

Saya pun berkoordinasi dengan Ust Anne untuk pertemuan itu. Sehari kemudian saya mengabari pak guru introvert.

“Kamu siap ketemu tanggal 1 kan? Pihak beliau Insya Allah siap.”

Tak ada jawaban dari pak guru introvert. Hanya centang satu. Bukber di masjid pun pak guru introvert nggak kelihatan. Ada perasaan nggak enak di hati saya. Tapi saya nggak mau mikir macem-macem.
Selepas maghrib Pak guru introvert membalas WA saya.

“Mbak, saya bingung. Ini kok sulit ...”

Duh ... apalagi ini?
Saya WA lagi pak guru introvert berkali-kali namun WA saya hanya centang satu. Saya khawatir. Apakah orang tua pak guru introvert keberatan dengan sosok dedek barbie? Saya nggak yakin. Saya mengenal orang tua pak guru introvert. Keluarga mereka bukanlah keluarga yang pilih-pilih dalam bergaul. Mereka memandang orang selalu dari sisi positifnya. Lalu apa yang sulit?

Malam itu saya kepikiran banget. Apa yang salah ya dengan proses ini? Sepertinya Allah begitu memudahkan jalan mereka untuk bertaaruf. Ada apa ini?

Tengah malam itu saya menggelar sajadah. Saya hanya ingin berdoa. Bahkan saya tak tahu apakah saya shalat tahajud ataupun shalat hajat. Saya melangitkan doa untuk pak guru introvert dan si dedek barbie. Tak terasa pipi saya pun basah.

Well ... saya ada acara nih. Nyambung chapter 3 yak?

Kamis, 28 Juni 2018

Mendampingi Taaruf (#1)



Assalamualaikum Temans,
Sebelumnya pengen ngucapin Taqobbalallaahu minna waminkum. Semoga puasa, ibadah dan seluruh amalan kita di Bulan Ramadhan diterima oleh Allah SWT dan diberikan bertemu kembali dengan Ramadhan tahun depan.

Ramadhan tahun ini buat saya sungguh spesial. Saya tak pernah menyangka saya akan menjadi bagian dari satu hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Menjadi perantara taaruf. Ini spesial buat saya, karena saya pribadi tak melakukan taaruf ketika berkenalan dengan suami sampai menikah. Masih jaman jahiliyah lah 20 tahun yang lalu (kosa kata yang saya pilih jika saya dan anak-anak membahas tentang larangan berpacaran).

And this is the story goes ..
Mulai Februari 2018 saya dilibatkan oleh pengurus organisasi sosial keagamaan dimana biasa beraktivitas untuk menjadi panitia pendirian SMA boarding school yang sedang dirintis oleh yayasan. Sekolah ini direncanakan sebagai kelanjutan dari sekolah yang sudah ada yaitu SD dan SMP. Dua sekolah yang sarat prestasi ini mempunyai ‘adik baru’ dimana semua stakeholder dilibatkan.

Dari sedikit orang yang terlibat itu saya lebih sering bertugas bersama salah seorang pak guru SD. Kami sudah akrab sebelumnya. Selain karena berada dalam jamaah masjid yang sama serta tetanggaan, ia juga pecinta buku. Ia pembaca buku-buku saya. Bahkan setelah membaca Cherish You, novel kedua saya ia mengatakan jadi pengen sesegera mungkin menyempurnakan separuh dari agamanya.

Obrolan kami pun selalu nyambung karena kesamaan minat. Pak guru ini aslinya seseorang yang introvert. Ia jarang sekali bisa ngobrol seru dengan orang lain. Jarak umur dengan saya pun jauh. Saya masuk SMA dianya baru lahir. Dia pun lebih suka memanggil saya ‘mbak’ ketimbang ‘bu’.

Di sela-sela tugas inilah kami sering mengobrol. Beberapa kali ia bicara tentang keinginannya untuk menikah. Bahkan saat seleksi guru dan karyawan SMA boarding school ini kami sempat ‘menyeleksi’ siapa saja yang cocok dengan kriterianya. Ada satu orang yang ‘lolos’ sesuai kriteria, hanya saja ia tak lolos di seleksi lanjutan menjadi pengajar di SMA tersebut.

Ketika seleksi selesai, tugas kami tak berhenti sampai di situ. Kegiatan pra jabatan selama sebulan penuh menanti. Orang-orang yang terlibat pun semakin banyak. Sebagian kecil guru SD dan SMP pun terlibat aktif. Rata-rata saya sudah mengenal baik karena mereka guru Kakak dan Adek juga. Bahkan beberapa sudah akrab sehingga kegiatan pra jabatan pun makin seru.

Saya dan Ustadzah Anne, salah satu guru SMP tandem di administrasi. Karena Ustadzah Anne juga aktif mengajar dan jadi panitia PPDB di SMP, membuat saya lebih sering stand by di sekretariat. Ustadzah Anne wira wiri juga. Kalau pas nggak ngajar ke sekretariat.

Seminggu kegiatan berlangsung, ternyata ada beberapa guru yang harus stand by di SD dan SMP karena tugas terkait dengan ujian nasional yang akan berlangsung dalam waktu dekat. Lantas beberapa guru pun bertukar tugas. Termasuk salah satu bu guru baru di SMP.

Pertama melihatnya, saya merasa sudah familiar. Kalau melihat performance nya sih kayaknya belum pantes jadi guru (maafkeun ^_^ ) Pembawaannya ceria dan rame. Sosoknya yang imut dengan wajah yang menarik dipandang pun membuat suasana sekretariat bertambah segar.

Saya mulai membaca kecenderungan pada si pak guru yang saya ceritakan sebelumnya. Sering kali saat si bu guru ceria itu datang dan mengobrol dengan saya, ia akan mendekat. Meski sering tak memandang si bu guru, tapi saya membaca gesture nya bahwa ada ketertarikan. Si pak guru introvert ini sering memasang telinga. Selalu ada senyum tipis mengembang saat mendengar bu guru ceria bercerita.

Ternyata yang membaca ketertarikan pak guru introvert bukan hanya saya. Dua teman kantor si pak guru yang notabene sudah ibu-ibu pun notice akan sikap pak guru itu. Kalau di sekretariat hanya kami berempat, ramelah kami menggoda si pak guru yang terlihat semakin malu ketahuan isi hatinya. 
Sampai-sampai kami punya julukan tersendiri untuk bu guru ceria tersebut. Dedek barbie. Sesuai dengan tubuhnya yang imut dan wajah yang cantik tipikal boneka barbie.Namun jika ada orang lain kami sadar diri. Apalagi jika bu guru ceria datang. Pak guru introvert pun aman dari gangguan kami.

Satu malam, saat Adek hari pertama opname di rumah sakit. Saya nggak bisa tidur meski Adek sudah mulai terlelap. Ketika membuka salah satu media sosial, saya yang biasanya cuek tiba-tiba kepoin story nya pak guru introvert. Begitu melihat saya langsung ketawa.


Pak guru introvert ini mengambil foto dari sebuah sofa yang berada di ruang itu. Sementara di sudut itu saya dan Ustadzah Anne biasanya duduk mengerjakan administrasi, sementara si Dedek barbie duduk di kursi yang berderet atau depan komputer. Ustadzah Anne dalam waktu dekat mau menikah. Siapa lagi coba yang dimaksud si pak guru introvert? Lantas saya pun reply story nya


Seminggu mendampingi Adek di rumah sakit saya tak mengikuti perkembangan pak guru introvert dan Dedek barbie. Meski beberapa panitia yang tukang nongkrong di sekretariat cerita jika mereka terlihat lebih akrab dari sebelumnya. Saya fokus pada penyembuhan Adek. Gimana nggak fokus, Adek sendiri harus UN di RS. Kondisi panas badan sampai 39,5C dan harus ngerjain UN itu buat saya perjuangan yang luar biasa.
Setelah Adek keluar dari RS dan masuk sekolah, barulah saya kembali beraktivitas di kegiatan pra jabatan guru dan karyawan SMA boarding school tersebut. Beberapa hari kemudian barulah saya ada kesempatan ngobrol dengan si pak guru introvert.
“Gimana, mau beneran sama dia?” tanya saya.
“Ya iyalah, mbak. Tapi saya minder je. Dia cantik gitu. Pasti banyak yang ndeketin. Apalah saya ini mbak,” katanya sambil tersenyum.
“Ah ... kamu nih, mbok ya diperjuangkan gitu lho.”
“Tapi kalau sudah punya saya balik badan ya?”
“Sudah punya dalam artian apa? Nek sudah dikhitbah yo memang sudah nggak boleh digangguin. Lha nek mung pacaran yo masih ada kesempatan,” goda saya.
Si Pak guru tertawa.

“Bagaimanapun juga saya nggak mau jadi pengganggu, mbak.”
“Kalau misalnya masih single mau berusaha to?”
“Enggih, mbak.”
“Tak bantuin, tapi aku nggak mau kalau model pacaran gitu. Taaruf mau nggak?”
Pak guru itu terdiam beberapa lama.

“Saya belum pernah taarufan ki mbak.”
“Ya sekarang harus ubah mindset. Aku juga punya anak perempuan. Kalau ada yang ndeketin nggak serius aku yo nggak boleh. Piye?”
“Saya pasrah mbak Irfa saja gimana baiknya.”

Saya pun lantas kasak kusuk nyari informasi. Yang jelas saya nanyain Ustadzah Anne lah. Wong saya lihat Dedek barbie kemana-mana berdua sama Ustadzah Anne. Untungnya Ustadzah Anne orangnya kooperatif, mau diajakin kerjasama nyariin infomasi. Meski awalnya pas nanya-nanya ke saya juga cuma saya senyumin.

Ternyata Dedek barbie masih single. Sebelumnya pernah dekat dengan seseorang, namun kurang disetujui oleh orang tuanya. Lantas dilepaslah meski berat awalnya. Pandangan positif saya langsung terbentuk mendengar ia patuh pada kata-kata orang tuanya.

“Kalau misalnya ada yang pengen serius taaruf, beliau kerso nggak ya?” tanya saya pada Ustadzah Anne. Mata Ustadzah Anne membola.

“Dari lingkungan SMA ya Bu?”
“Adalah, Ust. Tanyain aja dulu,” senyum saya.
“Saya penasaran, Bu. Nanti saya tanyakan. Saya kalau ditanya siapa yang ngajak taaruf njawabnya apa, Bu?” dengan muka polos Ustadzah Anne bertanya. (Ketahuan tidak biasa bermain drama ^_^)
“Apa ya, Ust? Temen gitu aja po?”
“Lha kalau saya nggak kenal masa saya bilang temen saya? Jangan-jangan saya juga kenal ya Bu?”
Saya ketawa. Gantian Ust Anne yang kepo.

Dua hari kemudian Ustadzah Anne memberikan informasi.
“Kata beliau mau tanya orang tua dulu, Bu. Manut orang tua baiknya gimana.”
“Setidaknya beliau nggak nolak,” kata saya.
“Iya, Bu. Tapi saya kepo banget. Siapa Bu, yang ngajak taarufan?”
“Nanti juga tahu.”

Saat itu saya juga ikutan gelisah. Kayak sayanya yang mau taaruf aja. Beberapa hari kemudian jawaban pun datang. Sebuah jawaban yang membuat saya bisa menarik napas lega.
“Bu, beliau mau taaruf. Nanya ke saya lagi siapa orangnya. Ya saya tetep ngomong temen saya, meski saya sendiri juga nggak tahu siapa orangnya.”
Kami tertawa.

“Terus gimana, Bu, kalau sudah ada kesanggupan untuk taaruf?”
“Biasanya sih tukar biodata. Kalau sudah baca biodatanya terserah nanti mau melanjutkan atau enggak.”
“Biodatanya kayak apa ya, Bu?”

Sejujurnya, saya juga bingung. Lha saya sendiri juga belum pernah melakukan itu. Gimana mau ngasih pandangan biodata seperti apa yang mau ditukar?
“Nanti coba saya carikan ya ust?”
“Iya Bu. Tapi ngomong-ngomong, saya belum boleh tahu juga nih Bu, yang mana orangnya?”
Saya terbahak. Ustadzah Anne belum hilang keponya. Saat saya menyebut nama si pak guru introvert lagi-lagi matanya membola.
“Semoga berjodoh ya, Bu. Saya kok cocok kalau dua orang ini bisa bertaaruf. Jadi semangat nih, Bu.”

Berita baik pun lantas saya sampaikan kepada Pak guru introvert. Dia sudah kehilangan kata-kata. Antara seneng tapi juga mau bingung, mau nulis apa di biodatanya nanti. Lantas saya pun mencari bentuk form taaruf. Saya pun nyoba nanya ke Mbak Kayla, salah satu penulis buku yang sudah biasa mendampingi taaruf. Tak ketinggalan browsing juga untuk melihat seperti apa sih biodata taaruf itu. Saya baru tahu lho kalau ternyata ada juga yang memakai seperti formulir gitu.

Saya pun mencoba menyusun sendiri dari referensi yang sudah baca, kemudian saya kirimkan ke pak guru introvert dan Ustadzah Anne. Dua hari kemudian Ustadzah Anne mengabari jika si dedek barbie siap menukar biodata. Sementara si pak guru introvert masih bingung dan sering bertanya poin-poin yang harus dituliskan. Saya hanya berpesan bahwa di biodata itu harus jujur apa adanya. Tak boleh ditutupi. Lebih terbuka lebih baik. Sehari kemudian si Pak guru introvert mengirimkan biodata ke saya. Sayanya mesem aja, karena biodatanya mirip jika melamar pekerjaan.

“Jangan kayak orang mau ngelamar kerja dong ah. Ditambahinlah! Yang bagian ini ditambahin. Yang itu diceritain kenapa bisa begitu. Jangan lupa keinginanmu seperti apa.”
Saya cerewet banget seperti pembimbing skripsi. Lantas tengah malam, si pak guru introvert ini mengirimkan biodatanya. 11 halaman, dan lebih banyak narasinya.

“Editin yang bagus ya mbak?” pintanya lagi.

Lantas saya pun membaca biodata Pak guru introvert. Saya terhanyut dengan pilihan diksinya yang bagus. Seperti membaca sebuah kisah inspiratif. Ada dua bagian yang membuat saya meneteskan air mata. Tulisan ini perfect, batin saya.

Mau tahu bagian mana yang membuat saya meneteskan air mata? Tunggu di chapter 2 nya ya?