Jurnal Hati

Minggu, 12 Januari 2020

Catatan Kecil Tentangmu, Mbak Tih ...

Seminggu telah berlalu. Ternyata aku menghitung berapa lama kamu pergi. Harapku kamu sudah tenang di sana, melihat kami dari jauh dengan senyummu. Aku pernah menuliskan tentangmu di awal kisah terakhirmu. Namun hari ini, aku ingin bercerita tentangmu kembali. 

Mungkin memang tak banyak memori tentangmu. Dari sekian lama kita bersahabat bisa dihitung dengan jari kita bertemu setelah sama-sama berkeluarga.

Bukannya aku tak ikhlas. Terkadang ada rasa sesal mengapa sering kali aku membatalkan mengunjungimu karena waktu. Padahal Juli kemarin, hatiku berbisik supaya aku datang ke rumahmu saat kamu minta aku datang. Sayangnya aku yang tak bisa mengukur waktu. Aku merasa terlalu malam saat itu jika berkunjung.

Aku bersyukur, ada di masa-masa terakhirmu. Mendapatkan kabar sakitmu, bertemu denganmu dalam kondisi mudah tertawa meski sel-sel ganas itu perlahan namun cepat menjeratmu. Melihat sinar matamu yang berkilat karena semangat.

Aku menjengukmu pertama kali 5 hari setelah diagnosa sakitmu tegak. Kamu kaget begitu tahu aku datang pagi itu. 

"Kamu tahu darimana Fa? Mbak No ya?" Begitu cecarmu. Aku tersenyum dan mengajakmu ngobrol hal yang lain. Ngecengin ponakanmu yang saat itu ikut menunggumu. Hari itu penuh tawa. Meski begitu aku membaca kegundahanmu, saat kamu bertanya tentang teman kita yang meninggal tiga hari sebelum hari itu.

"Fahrur yang mana to Fa?" Tanyamu.
"Anak A2 mbak, ketua osis."
"Kok aku nggak inget ya Fa? Mana fotonya?"

Aku menunjukkan foto teman kita. Namun kamu tetap tak ingat. Padahal semua orang pasti ingat karena teman kita pernah mendapatkan jabatan tertinggi di organisasi siswa di sekolah. Dengan enteng kamu bertanya tentangnya. Aku jawab sepengetahuanku. Sempat aku mengalihkan pembicaraan. Namun pertanyaanmu setelah itu membuatku harus berhati-hati.

"Kamu ketemu mbak No kapan to?"
"Kemarin mbak, pas njenguk putrane mb Inayah."
"Kok iso tekan kono? Putrane mbak Inayah kenopo?"
"Ngg ..."

Aku susah untuk berbohong. Yang kita bicarakan telah tiada dua hari sebelumnya.

"Keno kanker opo Fa, putrane mbak Inayah?"
"Kelenjar getah bening mbak."
"Kondisine saiki piye? Kok iki malah dikekke aku susune?"

Aku mengalihkan pembicaraan lagi. Kamu pun curiga.
"Fa, pertanyaanku rung tok jawab lho."
"Sik endi to mbak?"
"Putrane mbak Inayah mau lho."
Aku terdiam.

"Wis dimakamke mbak."

Sejenak kamu terdiam, namun secepat itu pula kamu mengganti ekspresi wajahmu. Seperti tak terjadi apa-apa.

Hari itu aku masih melihatmu berjalan. Bahkan lebih cepat dari kami yang sehat. Namu saat itu aku tahu, kamu belum sepenuhnya bisa menerima sakit yang kamu rasakan.

Maafkan aku, sempat berbohong padamu. Saat itu aku memang sengaja membezukmu. Kukatakan padamu ada acara di kotamu. Kalau kau sadari. Aku sempat gelagapan saat kau beri aku pertanyaan. Aku hanya ingin menjaga perasaanmu saja. Informasi yang aku dapat seorang penderita kanker sering kali jadi mudah tersinggung. Serba salah. Tidak mau terlihat sakit. Itu yang dari dulu aku tahu. Kamu nggak pernah ingin terlihat lemah. Kamu selalu ingin terlihat kuat. Sesakit apapun, seluka apapun hatimu. Kamu menutup itu dengan ekspresi wajah tegasmu.

Karena kamu tak ingin terlihat sakit, itulah kenapa kamu tak mau ditengok. Bahkan olehku. Itu sudah kusampaikan ke teman-teman yang lain. Setelah itu, untuk menengokmu pun aku harus bertanya. Kalau tidak hanya menunggu info. Sampai kemudian kamu sendiri yang menghubungiku.

Lantas aku dan beberapa teman diijinkan menengokmu. Dan kamu terlihat sangat senang. Banyak tertawa, banyak bercerita. Teman SMP dan SMA yang datang bersamaku pun membuatmu lebih bersemangat. Aku sempat merekam sebentar adegan itu. Namun aku tak mengabadikan pertemuan itu dalam sebuah foto bersama. Aku tak tega. 

29 Oktober 2019, sebelum tindakan pertama

Mengabadikanmu dengan selang-selang kecil yang menempel di tubuh dan wajahmu bersama kami yang berjilbab dan berdandan rapi. Aku tak mau. Mauku, kau berfoto bersama kami di sebuah tempat yang layak sebagai background. Nanti, ada saatnya, batinku saat itu. Meski sebelah hatiku yang lain bertanya, sempatkah?

Sebuah fragmen yang tak mungkin aku lupakan hari itu. Saat kami berpamitan. Teman-teman menyalamimu lebih dulu. Aku yang terakhir berpamitan. Menatapku dengan mata berkaca-kaca, berbicara dengan suara yang bergelombang. Aku merasa kamu mengetatkan pelukanmu. Pertahananku jebol sudah. Namun aku masih berusaha untuk menahan hatiku supaya tak luluh lantak. Tak apa kamu melihat mataku direndam air mata. Namun aku masih bisa mengukir senyum untuk memberimu semangat.

Sehari setelah itu, kamu mengirimkan pesan. Kita sempat ngobrol sebentar. Kamu meminta doa, beberapa jam lagi akan ada tindakan untuk penyakitmu. Saat itu kubiarkan air mata jatuh. Toh kamu nggak lihat kan? Sejak hari itu, kesembuhanmu selalu terpanjat dalam doaku. Dalam sujudku.

Setelah tindakan itu, aku tak menghubungimu. Foto-foto perkembanganmu aku dapat dari keluargamu. Semua informasi pun aku dapat dari keluarga. Sama sekali tak menghubungimu.

Aku ingin kamu fokus dengan penyembuhanmu. Tak ingin mengganggumu dengan pertanyaan-pertanyaan tak penting. Yang paling tepat untukmu saat itu adalah doa sebanyak-banyaknya. Bahkan terkadang cenderung memaksa-Nya dengan air mata.

Lantas salah seorang teman memiliki sakit yang sama denganmu. Saat informasi support untuknya dibagikan di grup SMA, kamu yang pertama menghubungiku. Kamu yang pertama mengirim support untuknya. Katamu, "Aku tahu rasanya."

Sejujurnya, saat itu dadaku menyesak haru. Dalam sakitmu, kamu masih memikirkan orang lain. Masih peduli. Dan itu sangat kuhargai.

Kita pun bicara tentang rencana bertemu di akhir Desember ketika liburan tiba. Aku sudah menyusun rencana akan membawa sesuatu untukmu. Kita menyusun rencana. Namun rencana itu harus tertunda. Kondisimu makin menurun. Sampai kemudian tanggal 30 Desember 2019 di Paviliun Garuda RS Karyadi kita bertemu. Sehari setelah kemo pertama dilakukan.

Tubuhmu berbeda dari 2 bulan sebelumnya. Kamu menyapaku saat aku masuk ke ruanganmu. Aku tak ingin mendeskripsikan seperti apa kamu saat itu. Semua yang kulihat sudah cukup membuat dadaku sesak.

Kamu memohon maafku. Aku tak sanggup menjawab. Aku hanya memijit tangan kirimu. Bersama Mamah dan Bapak. Tak berapa lama kamu tertidur. Kemudian terbangun merasakan ketaknyamanan. Sempat kamu berbicara padaku bahwa kamu akan melakukan kemo sebanyak empat kali. Beberapa menit kemudian tertidur kembali.

Keluar dari ruanganmu air mataku tak terbendung lagi. Dengan dipeluk anak-anakku aku berjalan dan duduk di sebuah kursi kosong. Mereka membiarkan air mataku luruh. Setelah tenang, kami pun beranjak.


5 Januari 2020

Hari itu, aku merasa sedih luar biasa. Tiba-tiba saja aku merasa berbeda. Memang tak ada tangis, namun hatiku begitu hampa. Aku mencari sebab, mengapa rasaku begitu sedih. Mengapa aku merasa ada yang terampas dari hati. Sampai aku datang pada mbakku untuk bercerita. Namun tetap saja tak terurai apa penyebabnya. Sampai jam 20.30 aku di sana. Lantas aku pun pulang. Tak biasanya aku melewati depan rumahmu. Itu bukan rute yang biasanya kulewati jika pulang dari rumah kakakku.

Melambatkan kendaraanku, aku menengok rumahmu. Sepi, batinku. Aku tertegun. Kenapa aku membatin seperti itu?

Biasanya setelah bepergian aku meletakkan ponselku. Namun kali ini ponsel tetap kupegang. Membaca beberapa artikel dan scrolling media sosial. Kuletakkan sejenak. Namun hatiku memintaku mengambil ponselku lagi. Begitu ponsel ditangan kakakmu mengirim pesan. Kondisimu makin drop. Hanya bisa meminta yang terbaik untukmu. 10 menit kemudian ponselku berdering. Aku tahu. Ini pasti tentangmu.

Suaraku yang serak menyapa. Kakakmu hanya mengucap salam pun aku sudah tahu. Kami sama-sama tersedu. Namun kami mencoba mengikhlaskan. Ini yang terbaik untukmu.

Mbak Tih, Allah telah membebaskanmu dari rasa sakit. Ia telah memelukmu. Pangkuan-Nya adalah yang terbaik untukmu. Insya Allah doa-doa selalu ada untukmu.

Sister till jannah ya mbak Tih ...


Senin, 23 Desember 2019

Roru Gulung Abon, Pendatang Baru dari Semarang Roru Cake

Assalamualaikum temans, 

Semarang itu rajanya roti, kue atau bakery di Jawa Tengah. Beberapa kali merasakan produk berbahan terigu ini tak ada yang menyamai cita rasa cake, roti atau bakery seenak buatan toko-toko kue di Semarang. Makanya dulu saat adik saya nikahan, saya menggunakan lapis legit buatan salah satu toko kue dan bakery di Semarang lho sebagai sajian di stall snack. Jadi saat saya mendapatkan undangan dari Semarang Roru Cake langsung deh, cus ke Semarang, meski kudu naik motor 2,5 jam supaya tepat waktu sampai Jalan Sriwijaya. 


Dulu saya mengenal Roru cake adalah kue kekinian yang dimiliki oleh artis dari ibukota. Sempat mendapatkan cerita dari teman-teman yang sudah mencoba dan memberikan testimoni yang memuaskan. Penasaran juga sih, secara beberapa kue dengan konsep yang sama ternyata dari segi rasa kurang memuaskan. Ditambah lagi banyak kue kekinian itu gulung tikar, dan menyisakan beberapa yang masih bertahan di berbagai kota di Indonesia. 



Semarang Roru Cake termasuk kue kekinian yang bertahan cukup lama. Ditambah saat ini sudah tak menggandeng artis sebagai salah satu owner atau brand ambassadornya. Acung dua jempol untuk Semarang Roru Cake yang berani mengubah konsep dan branding. Hal ini menunjukkan keseriusan dari owner sendiri untuk menciptakan inovasi baru untuk menjadikan Roru Cake ini sebagai oleh-oleh khas Semarang. 

Saya termasuk salah satu orang yang sering belanja kue jika berlibur di Semarang. Kemasan travel pack jadi pilihan karena mudah dibawa, dan bisa dicemil di jalan. Yang kita kenal selama ini yang namanya kue ya pasti manis. Namun inovasi terbaru dari Semarang Roru cake ini bikin penasaran deh. Inovasi terbaru dari Semarang Roru Cake adalah Roru gulung abon. 



Begitu sampai di Semarang Roru Cake yang berada di Jalan Sriwijaya saya disambut oleh karyawan Semarang Roru Cake yang ramah. Mereka sibuk menata tester yang bisa kita ambil kapan saja. Saya yang belum sarapan tentu saja gelap mata nyobain beberapa produk yang cepet banget habis begitu disajikan. Ada chocomaltine yang krenyes-krenyes, oreo redvelvet dan tiramisu yang manis tapi nggak bikin eneg. Dan yang paling banyak saya ambil adalah Roru Gulung Abon yang gurih dengan limpahan abon yang buanyaaaaakkk. 




Dalam acara launching Roru Gulung Abon ini diperkenalkan owner yang saat ini berusaha untuk membuat inovasi inovasi terbaru dari Semarang Roru Cake yaitu Afiansyah Harahap, Very Hananto, Febriano Lazuardy dan Hafiz Khairul Rizal.



Menurut Afiansyah Harahap, selain memunculkan varian baru yaitu Gulung Abon, Semarang Roru Cake membuat packaging baru varian yang sudah ada menjadi travel pack sehingga harga bisa ditekan. Meski begitu bahan yang dipakai tetap saja bahan premium sehingga tak mengubah kualitas sama sekali. 


Harapan dari Afiansyah Semarang Roru Cake ini menjadi cake yang fun, diminati oleh masyarakat dan ditunggu varian- varian barunya. Semarang Roru Cake akan mengembangkan varian-varian baru ke depannya. Semarang Roru Cake akan menampung masukan dari masyarakat dan melihat animo masarakat terhadap varian-varian yang sudah ada. Ke depannya Semarang Roru Cake akan mempertimbangkan segala varian dan disesuaikan dengan lidah masyarakat Semarang supaya makin dikenal sebagai oleh-oleh dari Semarang. Selain varian rasa manis di varian kue, Semarang Roru Cake akan memberikan alternatif kue yang memiliki rasa asin dan gurih seperti Roru Gulung Abon. 

Kalau melihat foto-foto di bawah ini, kalian pilih yang mana? 






Minggu, 15 Desember 2019

HP Spectre x360: Standar Baru Laptop untuk Performa dan Keamanan

Assalamualaikum temans, 

Bagi saya yang termasuk pekerja digital, untuk piranti untuk bekerja sering kali nggak mikirin desain yang keren. Yang penting performa lumayan, dan masih masuk budget aja. Berbeda sekali dengan anak-anak saya saat memilih perangkat digital memikirkan desain yang stylish di luar performa yang mumpuni. Beda generasi beda kebutuhan ya? 

Produsen pun menjawab keinginan dari pengguna dengan meningkatkan berbagai fasilitas dan performa produk sehingga pengguna pun memiliki banyak alternatif pilihan dari sekian banyak merek yang hadir di pasaran. Dengan pengguna yang memiliki pengetahuan digital yang fasih tentunya mereka akan banyak membandingkan antara tuntutan kebutuhan, eksklusif, serta harga yang sepadan dengan produk. Produk-produk premium pun kini menjadi incaran bagi para profesional muda, pekerja digital, maupun para remaja kreatif. 

Beberapa hari yang lalu di Roaster and Bear, Harper Yogyakarta Hewlett Packard Indononesia meluncurkan laptop terbaru HP Spectre x360.



HP Spectre x360 merupakan PC konvertibel terkecil di dunia. Saya yang 10 tahun ini menggunakan laptop keluaran HP Indonesia ya semangat dong pengen tahu apa lagi yang bisa dijadiin wishlist tahun depan. 

HP Spectre x360, performa tanpa kompromi 




Melihat warnanya saja, saya sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Naksir berat sama warna hitamnya yang matte. Ngebayangin aja kalau anak-anak juga bakal naksir berat sama warna ini. Laptop berjenis convertible PC ini desainnya keren abis. Memiliki berat 1,3 kg dan bentuknya hanya 16,9mm dengan bezel display tipis nyaris borderless nggak bisa dianggap enteng loh. Layarnya yang berukuran 13,3 inchi bisa diputer sampai 3600. Menggunakan layar Amoled 4K dan FHD IPS dengan perlindungan Corning Gorilla Glass disematkan pada layar HP Spectre x360. 


Di kesempatan ini Hansen Wijaya, Consumer PC Lead Hewlett Packard Indonesia dan Catur Nugroho, Product Knowledge Hewlett Packard Indonesia memaparkan ketangguhan seri terbaru dari HP untuk kebutuhan serbaguna dari produk tersebut. 

HP Spectre x360 ini 13% lebih kecil dibandingkan generasi sebelumnya dengan rasio screen-to-body sebesar 90%. Tentunya dengan performa yang lebih meningkat. Dengan warna nightfall black dengan aksen copper luxe dan natural silver, tak ketinggalan juga desain gem-cut yang memikat. 

Posisi port USB-CTM sengaja dibuat miring. Hal ini didesain demikian supaya memberikan pengaturan kabel yang lebih baik dan menyamankan konsumen. 

HP Spectre x360 teranyar ini memiliki kinerja berlipat dibanding genre sebelumnya. Peningkatan performa ini didukung oleh prosesor quad core 10th Gen intel i7-1065G7. Processor ini berkecepatan 1,3GHz dan mempunyai kecepatan maksimal 3.9Ghz dengan bantuan intel Turbo Boost Technology. 



Dengan RAM 16 GB DDR4 bisa lancar jaya nih rendering video kalau mau bikin video pendek. Main game pun nggak ngelag mulu meskipun HP Spectre x360 ini bukan laptop gaming. Bisalah diadu dengan produk laptop gaming milik kompetitor. 

HP Spectre x360 dilengkapi dengan Intel Wi-fi 6 (802.11ax) dengan kecepatan transfer file hingga tiga kali lebih cepat dibandingkan Wi-Fi 5. Hal ini membuat koneksi tetap stabil meskipun berada di area hotspot yang digunakan bersama. 

Kalau punya penyimpanan data sampai dengan 1TB ini kira-kira apa yang bisa kita lakukan ya? Kalau saya sih bisa menyimpan data-data penting atau foto-foto pekerjaan lebih banyak dan transfer data yang lebih baik. Nah, HP Spectre x360 ini memiliki tempat penyimpanan data sebesar itu. Kalau anak saya autodownload film kayaknya nih. 

Untuk battere, HP Spectre x360 ini bisa bertahan sampai 22 jam. Atau kalau pengen mager dan rebahan bisalah nonton film sampai 16 jam. Asyiknya lagi, laptop ini sudah fast charging loh. Dari 0% sampai battere terisi 50% nya cukup 30 menit doang. 

Laptop convertible ini juga dilengkapi dengan fitur HP webcam kill switch yang menjaga pengguna dari peretasan dengan tombol on/off untuk mematikan fungsi webcam saat tidak digunakan. Selain itu ada fasilitas tombol khusus untuk menyalakan dan mematikan mikrofon. 

Untuk keamanan dan kenyamanan, pengguna dengan mudah dapat menggunakan Windows Hello untuk login dengan fitur standar seperti kamera IR terkecil HP dan pemindaian sidik jari yang terletak di papan keyboard

Harga HP Spectre x360

Jadi, kalian mau pilih yang mana?

Selasa, 19 November 2019

Predator Triton 300: Laptop Pilihan untuk Hardcore Gamers

Assalamualaikum temans, 
Kalau ngobrol sama Adek, pasti deh nggak jauh-jauh dari topik anime ataupun gaming. Sering kali nggak ngeh sama apa yang diobrolin. Tapi mau nggak mau tetep harus banyak ngobrol sama remaja yang satu ini. Paling doi yang nyerocos, sayanya diem-diem googling apa yang sedang dibicarain. Biar nggak ‘krik krik’ banget lah. Namanya juga emak-emak yang gaulnya sama wajan. Wajar kalau ngobrolin Noob, Master sama Legend pake muka datar. Saking nggak pahamnya. 

Gegara dapat undangan nobar Live Streaming Final Online Qualifier Predator League 2020 mau nggak mau nyari info valid supaya nggak malu-maluin. Jadi, tanggal 16 November 2019 saya dan beberapa media mendapat undangan tersebut di Peacumber Yogyakarta. Bersama komunitas gamers saya menyaksikan pertandingan tim DOTA2 dan tim PUBG. Selain komunitas gamers, acara ini juga dihadiri oleh caster dan streamers Indonesia.


Tahun 2020 Acer kembali menyelenggarakan event e-sport terbesar se Asia Pasifik. Event ini akan digelar lebih spektakuler dan diikuti oleh banyak talenta e-sport dari berbagai negara. Ribuan tim di Asia Pasifik akan berlaga dalam dua kategori game yang dipertandingkan yaitu DOTA 2 dan Player Unknown’s Battlegrounds (PUBG) 

Gamer dari tujuh belas negara akan berlaga dalam Asia Pacific Predator League 2020 ini. Mereka berasal dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, Australia, India, Singapura, Hongkong, Macau, Japan, Korea Selatan, Taiwan, Mongolia, Srilanka, Bangladesh, dan Myanmar. Tujuh belas tim ini akan bertarung dan berkesempatan untuk memenangkan prize pool sebesar USD 400,000. Waduh ... kalau dirupiahkan bisa buat beli apa aja ya? 

Di Indonesia tahap online qualifier berlangsung selama dua bulan. Event ini berlangsung selama akhir Oktober – Desember 2019. Ada Rp. 200.000.000,- bisa didapatkan sebagai prize pool Indonesia. Selama turnamen ini berlangsung, Acer akan hadir di lima kota di Indonesia. Yogyakarta menjadi kota pertama yang disambangi oleh Acer. Bersama Brand Ambassador Predator Gaming, caster, dan komunitas ini Acer membangun relasi dan semakin memahami keinginan dan kebutuhan gamer sebagai acuan untuk inovasi mendatang. 

Melalui Online Qualifier yang pertama kali di tahun ini Predator League ingin menjangkau talenta gamers muda yang lebih luas lagi. Sekarang ini dimanapun berada para gamers dengan mudah bisa mengikuti sekaligus adu strategi keahlian untuk memenangkan pertandingan. 

Dalam acara ini saya dan beberapa teman sempat ngobrol dengan Mas Eka dari komunitas FAIJO (Fighting Gamers Jogja) Sebagian besar yang tergabung dalam komunitas ini adalah part timer gamers. Rata-rata mereka adalah mahasiswa. Dari menjadi gamer ini Mas Eka mendapatkan penghasilan tambahan. 
"Ya ... nggak banyaklah, cukup kalau untuk mahasiswa," katanya sambil tertawa. 

Mas Eka dari komunitas FAIJO

Menjadi gamers pun harus selalu berlatih. berkumpul bersama komunitas merupakan salah satu cara bagi gamers untuk berlatih. Mereka mempunyai sparring partner yang sepadan.  KAlau sering berlatih, maka refleks jari saat bermain pun akan menjadi lebih peka. 

Predator Triton 300 


Bersama dimulainya Predator League 2020, Acer memperkenalkan laptop gaming terbaru yaitu Predator Triton 300. Laptop gaming ini memiliki body yang tipis dengan performa dan fitur andalan yang dibungkus dalam desain kompak dengan solid metal casing. 

Menurut Andreas Lesmana, Gaming Product Manager Acer Indonesia laptop gaming memiliki berbagai macam jenis. Ada laptop kelas entry level untuk mereka yang menggunakan game sebagai hiburan semata. Namun ada juga yang diperuntukkan para gamers yang lebih serius. Nah, Predator Triton 300 ini ditujukan bagi hardcore gamers yang membutuhkan laptop gaming dengan spesifikasi lebih tinggi. 

Andreas Lesmana, Gaming Product Manager Acer Indonesia

Lanjut Andreas, hardcore gamers ini sering mengeluhkan tentang perangkat gaming yang cepat panas saat dipakai. Namun jika mereka menggunakan Predator Triton 300 tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Laptop ini mempunyai cooling system terbaik dengan 4th gen aeroblade 3D fan yang memiliki 59 bionic blade. Hal ini menghasilkan 45% airflow improvement. Hal ini membuat Predator Triton 300 nyaman digunakan dimanapun. Dengan desain yang tipis - hanya 20 mm saja, dan berat 2.3 kg, Predator Triton 300 cocok untuk gamers dengan mobilitas tinggi. 

Predator Triton 300 diperkuat oleh prosesor Intel® Core™generasi ke-9 yang dipasangkan dengan NVIDIA® GeForce® GTX 1650 GPU, menawarkan pengalaman visual lebih detil berkat 144Hz FHD IPS display, serta dual slot NVMe untuk solusi upgradeable yang lebih leluasa. Selain itu, laptop ini juga didukung oleh teknologi RGB keyboard yang memberikan variasi warna yang yahud jika dimainkan. 

Predator Triton 300 bisa dimiliki dengan harga mulai Rp. 16.999.9999,-. Selama periode Predator League 2020 Acer menawarkan berbagai ragam promo unggulan. Ada cashback hingga Rp. 2.000.000,- maupun hadiah langsung untuk pembelian perangkat Predator Gaming tipe tertentu. Khusus untuk pembelian Predator Triton 300 selama periode tersebut selain cashback akan mendapatkan backpack keren. Untuk info lebih lanjut langsung klik aja ke  www.acerid.com/predator


Selasa, 29 Oktober 2019

Saat Sahabat Terkena Kanker

Assalamualaikum Temans,

Saya pernah membaca bahwa menulis mampu menjadi healing bagi siapapun yang merasakan kesedihan. Saya mempercayai hal itu. Meski tak lantas membuat semua sesak di hati menghilang, setidaknya menulis mampu mengalirkan perasaan yang membuat dada terasa berat.

Setengah bulan yang lalu, ketika kakak sahabat saya menelpon. Ia berbicara mengenai penyakit adiknya. Diagnosa baru saja tegak. Kanker ovarium yang telah menyebar ke ginjal, liver dan usus. Rasanya tak percaya mendengar berita itu. Tanpa sadar air mata sudah luruh. Isak tak bisa ditahan. Sehari itu air mata saya sering kali mengalir ketika bercerita. Menumpahkan sedu sedan saat berada di kamar mandi.

Lantas saya berkomunikasi dengan teman-teman terdekat. Lalu sepakat untuk membuat grup baru, karena dalam grup alumni angkatan ada sahabat saya yang sedang sakit tersebut. Qodarullah, sebelum grup baru dibuat, berita ini telah bocor. Salah satu teman posting di grup alumni angkatan bertanya tentang kondisi sahabat saya ini. udah gitu pakai mention saya lagi. Saya dalam posisi mau mengajar jadi sewot sendiri. Langsung saja ucapan simpati membanjir di grup alumni angkatan. Saya pun ngomelin salah satu teman terdekat yang saya yakini memberikan informasi kepada si teman yang posting ucapan simpati pertama kali.

Konyol memang. Salah satu teman terdekat ini wanti-wanti untuk japri ke saya jika ingin mengetahui informasinya. Malah di posting di grup. Emak-emak emang tak ada lawan movement nya ya? Duh ...

Bukannya saya nggak memperbolehkan teman-teman mengucapkan rasa simpati. Namun yang saya jaga adalah kondisi psikologis sahabat saya yang sedang sakit. Ia dalam fase denial. Belum menerima sepenuhnya bahwa penyakit inilah yang bersarang di tubuhnya. Masih banyak pemberontakan di dalam batinnya. Dalam posisi ini, seandainya membaca rasa simpati itu, bukankah itu bisa membuatnya beranggapan bahwa orang lain sedang membenarkan sakitnya? Saya yang termasuk orang terdekat saja tak berani memberikan ucapan itu, apalagi menghubunginya. Semua hal saya komunikasikan kepada keluarga.

Kondisi psikologis pasien kanker sering kali berdampak pada fisiknya. Banyak sekali hal buruk terjadi karena pasien kanker tak bisa mengelola emosi. Salah satu usaha untuk menyetabilkan kondisi tubuhnya adalah membuatnya terhibur, tertawa tanpa melihat air mata saat berhadapan dengannya.

Grup baru pun dibuat. Kemudian beberapa informasi pun saya sampaikan. Ada juga yang saya keep sendiri. Lantas sepakat membuat gerakan support untuk sahabat saya ini. beberapa hari kemudian saya pun bezuk sahabat saya. Ia banyak bercerita. Saya pun memahami yang diinginkan. Ia belum ingin dijenguk, kecuali teman-teman terdekatnya. Ia memilih siapa yang bisa datang padanya. Hal ini menjaga kondisi tubuh serta kestabilan emosinya. Saya menghormatinya. Bahkan ketika keluarga mengatakan bahwa ia menginginkan untuk tak dijenguk siapapun saya tetap menghormati keputusannya. Hanya si sakit yang paham dengan kondisi tubuhnya.

Saya tetap berkomunikasi dengan keluarga sahabat saya. Hal-hal detil kami komunikasikan. Meski saya tahu dimana ia dirawat, saya tak lantas nekad untuk datang menemuinya. Saya menunggu waktu. Sampai ia bersedia untuk menemui yang ingin menjenguknya.

Dalam kurun waktu 10 hari saya membuka kesempatan bagi teman-teman yang ingin berpartisipasi. Saya pun aktif japri ke beberapa teman SMP atau SMA yang mengenalnya, serta kakak kelas. Beberapa teman saya persilakan untuk nyolek teman yang lain. Meski ada suara sumbang yang membuat saya mengelus dada.

“Sorry ya, apakah kondisi finansialnya tidak baik?” atau pertanyaan, “Dia kekurangan ya?”

Well, yang namanya pengobatan kanker meskipun memakai kartu BPJS kan nggak semua obat dan tindakan dicover. Bayangkan, hanya untuk tes darah saja keluarga pasien kanker harus mengeluarkan uang minimal satu jutaan. Sementara itu pemeriksaan darah kan berkali-kali. Belum tindakan biopsi yang memakan beaya minimal sembilan juta rupiah. Lalu bagaimana dengan tindakan kemoterapi? Biasanya pasien kanker melakukan kemoterapi sebanyak 16 kali. Satu kali kemoterapi beaya yang harus dikeluarkan adalah 7-9 juta. Silakan dikalikan ya, berapa biaya yang harus dikeluarkan? Belum lagi tindakan operasi atau apapun.



Support untuknya telah terkumpul. Bersama beberapa teman saya menyampaikan amanah. Dari obrolan dengan keluarga itu saya sempat mendengar ada teman saking inginnya menjenguk sampai menghubungi si pasien sendiri. Tentu saja ditolak oleh pasien kan? Annoying banget ya?

Sebagai manusia sehat, saya tak bisa memungkiri betapa inginnya saya bertemu dengannya, menghibur, menunjukkan rasa empati dan simpati. Selain itu saya juga ingin sekali bersilaturahmi sekaligus mendoakan supaya ia bisa pulih kembali seperti sedia kala. Itu ketika saya memposisikan sebagai manusia sehat. Bagaimana dengan si sakit?

Si sakit merasa tak ingin merepotkan. Ia juga tak ingin dikasihani. Ia tak bisa istirahat karena menemui tamu. Meski dalam kondisi berbaring, bagi penderita kanker cukup membuatnya lelah berbicara dan menemui si tamu. Belum lagi rasa iri yang muncul. Mereka sehat, mengapa aku yang sakit?

Belum lagi obrolan, pertanyaan dan saran dari pembezuk. Sering kali yang disampaikan malah membuatnya stres dan depresi. Padahal kondisi seperti itu harus dihindari. Pasien kanker harus dalam keadaan tenang dan stabil. Mau tanggung jawab nih kalau menjenguk malah bikin si pasien stres atau depresi?

Sahabat saya pagi ini mengirimkan pesan untuk saya. Meski hanya sekadar berterima kasih dan memohon doa. Membuat air mata saya jatuh saat itu juga. Membirukan hati sampai saat ini. Namun membuat hari ini penuh doa yang ingin dilangitkan.

Pada akhirnya, doa dari jauh menjadi hal terbaik yang bisa dilakukan. Bawa namanya dalam setiap shalat akan lebih bermakna dibandingkan si pasien mengetahui bahwa kita berempati. Setulus-tulusnya doa adalah ketika hanya Allah yang mengetahui. Allah lebih paham apapun niat kita. Dan saya yakin, si pasien pun paham ratusan, bahkan ribuan doa dari kerabat akan dilangitkan untuknya.

Minggu, 20 Oktober 2019

Perpisahan yang Indah Antara Ibu dan Anak

Assalamualaikum temans,

Berulang kali saya menyaksikan perempuan adalah mahluk terkuat di bumi. Tak hanya kekuatan fisik yang dimiliki, namun juga kekuatan hati. Betapa tubuh yang sepertinya terlihat ringkih, lemah dan halus, memiliki tenaga yang berlipat saat dihadapkan pada satu situasi. Dari hati yang sering merapuh tersimpan ketangguhan emosi saat menghadapi berbagai persoalan.

Sepuluh hari yang lalu.
Saya menyaksikan seorang ibu dengan hati bajanya mendampingi sang putri. Mendampingi putrinya melakukan sebuah perjalanan. Sebuah perjalanan yang satu hari nanti akan dialami oleh orang lain. Menuju ke haribaan-Nya. 

Sang putri setahun ini dianugerahi Allah. Sebuah penyakit, Insya Allah menggugurkan segala dosa-dosanya. Kanker kelenjar getah bening. Segala macam pengobatan sudah dilakukan. Terakhir kali, dua minggu sebelumnya radiasi pun tak memberikan efek apapun setelah kemoterapi tak membuat sel kankernya menurun. Dokter sudah menyatakan bahwa pengobatan sudah terminal. Selesai. Keluarga pun boleh membawa pulang sang putri.

Yaya, nama gadis itu. Ia adalah teman masa kecil si Kakak. Dari TK dan SD mereka bermain bersama. Gadis cantik, mungil dan cerdas. Gadis yang memiliki kemauan belajar yang tinggi. Ia pun sering mewakili sekolah untuk bidang di luar akademik. Ia anak yang berbakat. Sejak klas 10, ia terdiagnosa mengidap kanker kelenjar getah bening. Banyak rumor yang bertebaran mengenai stadium kankernya hingga batas umur perkiraan dokter. Saya tak mau mempercayai. Sampai Mbak Iin, ibu Yaya mengabari saya. 

Begitu tahu kondisi Yaya, si Kakak langsung ingin menjenguk. Namun Mbak Iin meminta saya untuk mendoakan dari rumah. Setiap kali ada yang menjenguk, kondisinya lantas drop. Yaya tak menginginkan dikasihani. Ia tak mau mendapatkan rasa simpati yang terlalu besar. Ia ingin dianggap seperti anak-anak yang lain. Saya pun melakukan apa yang Mbak Iin katakan. Saya tak ingin membebani hati anak usia 16 tahun dengan keinginan saya menunjukkan rasa empati.

Saya sudah sering memberi informasi kepada siapapun yang ingin menjenguk. Sayangnya, tak semuanya menyepakati saya. Ada yang memaksa datang menjenguk. Sangat disayangkan memang. Namun saya tak bisa melakukan apa-apa. Saya sudah berusaha.

Informasi tentang Yaya saya selalu saya dapatkan dari Mbak Iin ibunya. Bagaimana proses kemoterapi yang seharusnya 16 kali ternyata hanya dilakukan sebanyak 8 kali karena kondisi tubuh Yaya yang semakin tak memungkinkan untuk menerima pengobatan tersebut. Lantas radiasi tetap tak mampu membuat sel kankernya berubah jumlahnya. Bahkan kondisinya diperburuk oleh jantung yang membengkak.

Sampai di kondisi itu, Kakak selalu memaksa ingin menjenguk. Namun saya tetap tak mengijinkan. Yaya tak menginginkan ditengok apalagi dengan kondisi bengkak di tubuhnya. Saya bisa memahami. Remaja, dalam kondisi apapun pasti menginginkan terlihat dalam kondisi terbaiknya. 

Menghormati keputusan menjadi ketetapan hati saya. Mendoakan di penghujung shalat menjadi doa terbaik. Selalu mengajak Kakak untuk mendoakan. Berempati dalam diam. Itu adalah sikap terbaik yang saya lakukan. Informasi terakhir yang saya dapatkan dari mbak Iin adalah kondisi Yaya tak bisa berkomunikasi dengan baik. Doa-doa pun terlantun. Menata hati untuk segala kemungkinan. 

Sabtu 12 Oktober 2019. Hari itu berbagai berita sedih datang silih berganti. Di mulai dari teman SMA saya yang berpulang karena gagal ginjal. Lantas salah satu sahabat semasa SMP dan SMA saya terkena kanker, dan sudah metastase ke ginjal dan liver. Air mata tertumpah saat mendapatkan foto terakhir sahabat saya tersebut. Namun saya tetap optimis. Hanya Allah yang menyembuhkan. Allah yang menyediakan obatnya. 

Sore itu, saat saya berada dalam rapat organisasi keagamaan. Saya dikabari Yaya dalam kondisi kritis. Tanpa pertimbangan apapun, saya langsung pergi ke rumah Yaya bersama Kakak. Tangan Yaya sudah disedekapkan di dada. Lantunan kalimat tauhid sudah disuarakan di telinga Yaya. 

Mbak Iin, ibunda Yaya begitu kuat mendampingi. Meski dengan pipi yang sekali-kali membasah. Tatap matanya terpaku di wajah Yaya. Begitu juga Yaya. Mata mereka saling menatap. Memberi kesempatan untuk mengukir wajah. Memahat ingatan. Sebuah proses perpisahan yang indah namun membirukan hati.

Tatapan yang tak lepas. Namun jika bukan ibunya, tatap mata Yaya akan lurus ke depan. Jika ia mendengar suara ibunya, matanya akan mencari. Saat menemukan wajah ibunya. matanya seakan terpatri. 

Wajah Kakak sudah basah oleh air mata. Saya pun memintanya untuk mengaji. Mengaji surah apapun, bukan ayat-ayat tertentu. Bukan untuk mempercepat proses sakaratul mautnya karena semua detik adalah ketentuan Allah. Saya memintanya mengaji karena di kondisi seperti itu siapapun butuh ketenangan. 

Napas mulai melemah. Lantunan ayat Allah dan kalimat syahadat tak terputus. Adzan maghrib berkumandang sehingga beberapa kerabat yang menunggu pun ijin untuk bersujud senja itu. Kakak saya minta segera shalat kemudian kembali ke kamar untuk mengaji. Mbak Iin pun turun dari tempat tidur untuk bersujud. Tinggal saya, budenya Yaya dan Anya di kamar itu. 

Budenya melantunkan kalimat syahadat di telinga kanan. Saya membisikkan di telinga kiri. Sayup-sayup suara Kakak mengaji diselingi isaknya. Air mata meleleh di pipi Yaya. Lantas sekali ia menarik napas, kemudian suara itu tak terdengar lagi. 
Yaya sudah pulang. Pada sang pencipta. 

Mbak Iin yang baru mengambil air wudhu pun masuk ke kamar dengan wajah bingung. Air mata tak tertahan lagi. Saya memeluk untuk menguatkan. Lantas tubuhnya limbung dalam pelukan saya. Sejenak tak sadarkan diri. Saya membisikkan istighfar di telinganya. Saya tahu rasanya kehilangan. Sesiap apapun. Tulang-tulang rasanya tak mampu menopang tubuh.

Mungkin hanya lima atau sepuluh menit mbak Iin tak mampu mengangkat tubuh. Ia membuka mata, kemudian bangkit. Menatap Yaya penuh kasih. Mengusap dan mencium pipi Yaya sebentar. Kemudian ia keluar kamar, melakukan shalat Maghrib. Tak berapa lama, ia pun turut memandikan putri tercintanya. Tanpa air mata. Menerima tamu dengan wajah ikhlas. 

Yaya diantar dengan segenap cinta dari keluarga dan sahabat-sahabatnya. Sehari kemudian, hampir semua teman SD, SMP dan SMA datang ke rumah maupun makamnya. Ia dicintai banyak orang. Sampai akhir hayatnya.

Menuliskan kisah ini, mau tak mau hati saya pun sesak oleh rasa haru. Hanya doa dalam hati yang mampu saya ucapkan. Bahkan saat Sabtu kemarin Mbak Iin berkunjung ke rumah, sayalah yang mrebes mili. Bagaimana tidak? Yaya sudah berpamitan. Ia sudah meminta sang ibu untuk mengikhlaskan. Ia siap seandainya sewaktu-waktu Allah menghendaki. Masya Allah ... Begitu mengagumkan.

Kekuatan itu bukan berasal dari tubuh kekar. Namun berasal dari seseorang yang memiliki ketegaran. Ia yang selalu disebut ibu.