Jurnal Hati

Rabu, 03 Juni 2020

Self Love dalam Buku Karya Si Kakak : Be Strong, Be Brave Be Happy With Allah


Assalamualaikum temans,

Yang paling membirukan hati untuk saya adalah ketika menemani Kakak bangkit dari keterpurukan. Saat ia melakukan sebuah kesalahan. Ketika banyak orang tak percaya namun ia harus menghadapi. 

Saya harus menerima kenyataan. Ketika semuanya terbuka. Setelah kejadian itu saya menemukan berbagai lubang hati Kakak diakibatkan oleh kesalahan saya sebagai orang tua. Kesalahan yang tak saya sadari. Memukul jiwanya. Melukai egonya. Menenggelamkan hati sehingga saya dan Kakak berjarak. Dan jarak itu tak saya sadari begitu jauh. 

Foto-foto saat itu nuansa dark semua

Yang saya ucapkan saat itu.
"Apa yang sudah Kakak lakukan itu sebuah kesalahan. Kakak harus bertanggung jawab. Kakak harus menanggung resikonya. Namun apapun kesalahanmu, Bunda tetap sayang. Semua ini tak lepas dari kesalahan Bunda juga. Ayo ... Kita hadapi sama-sama. Kita harus berani menghadapinya."

Setiap pagi, kami harus berpelukan untuk menguatkan. Setiap hendak berangkat ke sekolah, Kakak memohon saya untuk tidak berangkat. 

"Aku nggak sanggup."

Begitu bisiknya. Saya tuntun ia menata bukunya. Saya ambilkan kembali baju seragamnya. Saya raih jemarinya mengantarnya ke kamar mandi. Saya tunggui. Meski isak yang selalu terdengar di dalam sana. 

Setiap kali saya menjemput sekolah, air mata sudah terkumpul di pelupuk matanya. Dua minggu kejadian itu terus berulang. Sampai kemudian ia menonton video motivasi dari Karin Novilda. Ia menyadari, ia tak baik-baik saja sejak lama. Namun ia menutup dengan keceriaan yang selalu ia tampilkan. Dan saya tak menyadari bahwa ia menyimpan luka sejak lama.

Aku tak pernah tahu apa yang dinamakan mental ilness. Sore ini aku menyadari. Aku mengalaminya. Ternyata aku tak bisa mengatasinya sendiri. Aku butuh bantuan.

Begitu tulisnya dalam sebuah catatan. Catatan yang ia tulis karena sejak kejadian yang menghempaskannya ia sulit berbicara. Ia hanya mampu berbicara sepatah atau dua patah kalimat. Kami pun berbicara lewat tulisan.

Cr : itsahealthylifestyle.org


"Mau ke psikolog?"
"Iya."
"Mau ke Budhe atau Tante Ita?"
"Terserah Bunda."
"Kakak aja yang memilih."

Ia berpikir sejenak.

"Tante Ita."

Seminggu kemudian saya dan Kakak membelah jalanan Jogja. Seorang sahabat telah menunggu kami. Seseorang yang akan menolong kami menghadapi permasalahan ini.

Ketika semuanya terlihat nyata. Ketika saya dihadapkan ternyata saya tak banyak tahu tentang Kakak. Saya yang mengira bahwa kami berdekatan hati. Ternyata kami bersekat. Kami berjarak. Ia menjauh.

Pada akhirnya, yang 'berobat' pada psikolog bukan hanya Kakak. Namun saya juga. Membenahi jaring cinta kami yang koyak. Menata kembali kepingan-kepingan hati yang terlepas. Menjalin jiwa yang terserabut. 

Saya bersyukur memiliki sahabat yang menjadi support system terbaik. Menjadi konsultan keluarga tanpa pamrih. Menjadi tempat sampah yang takkan pernah tercecer. Semoga Allah selalu menjaga mbak Ita sahabat saya ini.

Sejak saat itu, Kakak lebih lancar berbicara. Kelegaan terpancar di wajahnya.


Ia masih tetap menulis. Menuliskan kesedihan dan luka hati. Kemarahan dan kekecewaan yang masih berada dalam nurani. Sampai seminggu setelah itu, ia mampu menulis 15 halaman lebih di laptop.

"Kakak mau nulis buku nggak?"
"Mau."

Yang saya pikirkan saat itu, ia harus punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Untuk mengembalikan harga diri. Untuk menunjukkan bahwa ia mampu. Ia tak lagi bisa diremehkan orang lain. Kalau toh tulisannya nanti tak bisa masuk ke penerbit mayor, tulisannya bisa saya terbitkan lewat jalur indie. 

Saya dan Kakak pun membuat sebuah outline. Apa saja yang akan ia tuliskan. Membuat konsep bahwa tulisan ini tak hanya sebuah cerita. Namun Kakak pun harus memberikan hikmah dari setiap yang ia tuliskan. 

Kakak pun menulis setiap hari. Minimal satu halaman di pagi hari menjelang ia berangkat sekolah dan dua halaman setelah pulang sekolah. Setiap ia menyelesaikan satu bab, saya akan memberinya reward. 


Keceriaan perlahan-lahan kembali. Kali ini saya merasa keceriaannya begitu tulus. Sesekali menangis ketika mengingat apa yang pernah ia alami. Namun dengan sedikit pelukan, ia bisa kembali tersenyum.

Hampir dua bulan ia menyelesaikan tulisannya. Saya sama sekali tak boleh membacanya. Sampai akhirnya ia menggoreskan kata selesai. Ia berhasil menulis 99 halaman A4. Ia mampu menyelesaikan sebuah naskah buku di usianya genap 15 tahun. 

Saya membaca naskah Kakak. Khas remaja banget. Meski di awal tulisannya terlihat terbata-bata, namun makin ke belakang makin asyik dibaca. Sampai di dua bab terakhir. Saya melihat bahwa Kakak sudah bisa menerima dirinya. Berdamai dengan hati dan pikirannya. Ia sudah mencintai diri apa adanya. Istilah kekiniannya self love.

Dua bab terakhir dalam naskahnya adalah Forgive Your Self dan Love Yourself. Dalam Bab Forgive Your Past ada sembilan sub bab yang isinya adalah berbagai perenungan bahwa setia manusia itu selalu memiliki kesalahan. Kesalahan itu tak bisa dihapus karena itu adalah jejak dari kehidupan manusia. Dan dari kesalahannya itu manusia bisa belajar memaafkan. 

Memaafkan diri sendiri adalah sesuatu yang berharga. Jika kita tak mampu memaafkan diri sendiri, bagaimana orang lain mampu memaafkan kita. Toh Allah itu Maha Pengampun. Maha Pemberi Kesempatan. Kalau Sang Pencipta saja memberi kesempatan, mengapa sebagai manusia kita tak berani mengambil yang Allah berikan?

Dalam Bab Love Your Self, si Kakak menuliskan tentang hidup yang harus dijalani. Menyukai apapun tentang diri sendiri. Menerima kekurangan yang ada dalam diri. Berdamai dengan kesalahan diri sendiri dan orang lain. Berusaha menyembuhkan luka dengan lebih memberi perhatian pada diri sendiri. Tak perlu memikirkan apa yang jadi omongan orang lain. Selama tak bertentangan dengan norma agama dan norma sosial, biarkan saja orang mau ngomong apa. Simple nya bodo amat, nggak ganggu dan nggak dosa. Namanya like dan dislike itu dimana aja akan selalu ada. Menjadi diri sendiri, bukan yang orang lain inginkan. Biarkan saja jika ada yang tak menyukai. Kita tak mungkin bisa memaksa orang lain menyukai kita. Karena setiap pribadi adalah unik. Dan orang-orang terbaiklah yang akan selalu ada bersama kita. 

Di epilognya, ia menuliskan tentang hal ini. 

Beberapa remaja seusia saya pasti pernah mengalami depresi karena suatu hal. Rasanya tak mempunyai semangat hidup, tak berguna, dan merasa sendiri. Saya pernah mengalami semua hal itu, karena memang tidak mudah. Saya merasa hancur ketika merasa tak memiliki seorang teman pun di sisi saya.
Tapi, satu hal yang takkan saya lupakan. Saya masih memiliki keluarga yang takkan pernah meninggalkan saya. Sesalah apapun saya, serendah apapun saya, saya yakin keluarga selamanya akan selalu berada di samping dan mendukung saya untuk bangkit.
Siapa yang sanggup mengubah diri kita agar dapat bangkit lagi dari keterpurukan? Tentu saja kita sendiri. Perilaku kita tergantung pemikiran kita. Ketika kita merasa tak ada gunanya lagi untuk hidup, mungkin saja kita memilih untuk mengakhiri hidup, kan? Tapi percayalah, semua itu tidak menyelesaikan masalah kita.
Jika kita berpikiran sanggup untuk berubah, maka kita bisa melakukannya. Dan jangan pernah mengatakan tak bisa. Jika kita mengalami kegagalan ucapkanlah kita belum berhasil. Jika kita tidak menyerah untuk mendapatkan keinginan dan selalu berusaha, hasil takkan mengkhianati usaha dan kerja keras. Insya Allah saya percaya dengan hal itu.
Untuk kalian yang merasa sendiri, jangan pernah berpikir hidup kalian tak berguna. Masih banyak orang-orang yang menyayangi kalian tanpa pamrih. Masih banyak orang yang berdiri di sisi kalian tanpa kata tapi. Mereka adalah orang yang benar-benar tulus mencintai kalian.
Jangan lupakan bahwa kalian masih hidup di detik karena Yang Maha Esa. Ia Sang Maha Pemberi Hidup. Dia satu-satunya yang menawarkan hati.
Untuk kalian yang menginginkan hal terbaik di dunia ini. Dia selalu mampu memberikan solusi agar kita menjadi lebih baik.
Allah SWT.

Setahun kemudian, naskah itu terbit di penerbit Mayor. Naskah Kakak berjodoh dengan Tiga Serangkai.



Masalah penjualan saya dan Kakak nggak terlalu mikirin. Yang penting, ia memiliki portofolio. Semoga tak berhenti sampai di sini.

Well ... Saya menuliskan ini dengan mata basah. Bercerita tentang hari-hari berat itu menerbitkan rasa syukur hari ini. Kami melewati semua itu bersama-sama. Semuanya menjadi jauh lebih baik meski tetap tak sempurna. Kakak jauh berubah. Ia makin dewasa. Jauh melebihi ekspektasi saya. Ia menjadi pribadi yang apa adanya. Berani mengambil keputusan, dan berani menjadi dirinya sendiri tanpa tekanan orang lain. Ia pun memiliki cita-cita menjadi psikolog. Ia terinspirasi oleh sahabat saya yang selalu membantu orang lain.

Selalu ada pelangi setelah turun hujan bukan? 




Sabtu, 30 Mei 2020

Kesamaan Pola Parenting Zaman Dulu dan Sekarang dalam Menumbuhkan Minat Baca Anak

Assalamualaikum temans,

Kata Ibuk saya suka sekali membuka surat kabar yang dibawa Bapak pulang. Saya suka melihat gambar dan bertanya tentang huruf dan angka. 

"Ini huruf apa?"
"Ini bacanya gimana?"

Itu pertanyaan yang sering muncul saat melihat Headline surat kabar hari itu. Saya inget banget, Bapak sering membawa Suara Merdeka. Saat itu kami belum mampu berlangganan. Bapak biasanya meminjam surat kabar dari kantor saat pulang, dan dikembalikan keesokan harinya sambil berangkat ke kantor. 

Lalu Bapak pun membeli papan tulis kecil. Fungsinya buat saya menulis menirukan huruf dari surat kabar. Zaman itu anak TK belum terbebani oleh calistung. Sekolah isinya ya bermain dan bernyanyi.

Dari surat kabar itu saya belajar mengeja.
"Su A Ra Mer De Ka."

Begitu saya mengeja. Setelah sukses membaca nama surat kabar, saya pun suka membaca headline Suara Merdeka. Saya membaca dengan keras. Kata Ibuk, saya melonjak kegirangan jika sukses membaca tulisan-tulisan itu. Apalagi dengan tulisan-tulisan panjang. Saya sendiri sudah lupa-lupa ingat saat itu. Kata Ibuk, itu terjadi saat saya masuk TK besar. Paling nggak ya usia lima tahunan lah.

Yang paling saya ingat adalah ketika Ibuk menuliskan arti surah Al Fatikhah di papan tulis. Saya sangat suka membaca tulisan itu berulang-ulang. Bahkan mencoba mendeklamasikan ala ala saya. Sampai akhirnya saya pun hafal terjemahan Surah Al Fatikhah tersebut. Lalu di acara akhirussanah TK, saya pentas membacakan terjemahan itu. 


Kecintaan Kakak pada membaca

Belajar dari orang tua, saya pun tak memaksakan anak untuk belajar calistung si Kakak ketika masih belajar di PAUD. Namun sejak dini saya menyediakan buku-buku berbahan hard cover untuk permainan si Kakak. Ternyata buku-buku yang sering ia buka sejak usia dua tahun itu menumbuhkan minat baca si Kakak. 

Awalnya ia suka melihat gambar dan warna. Saya sering mengajaknya ke toko buku. Bahkan supaya bisa membeli buku dengan diskon yang lumayan banyak, saya sampai membuka toko buku kecil di kota saya. Meski kemudian toko kecil itu saya tutup karena minat baca di kota saya masih minim, namun saya memiliki relasi untuk mendapatkan buku yang lebih murah atau mendapatkan diskon lebih besar.

Relasi pertama saya adalah distributor Mizan dan Agro grup. Anak-anak paling suka jika saya ke Distributor Mizan grup. Kenapa? Karena di sana ada Mizan Book Store, semacam display dari semua buku-buku yang tergabung dalam Mizan grup. 

Di Mizan Book Store (MBS) pengunjung anak dimanjakan. Ada display khusus anak dengan penataan yang membuat anak-anak betah. Display pictorial book dibuat seperti loko kereta api. Ada kursi-kursi kecil jika anak-anak ingin membaca di sana. Dan sebuah sofa warna merah bagi orang dewasa yang ingin membaca buku jika berkunjung ke sana. Saya paling suka membaca buku parenting di sana. Banyak pilihan tentang cara mendidik anak di sana. 

Si Kakak bisa betah satu sampai dua jam di sana. Setiap kali saya mengambil buku di sana si Kakak pasti ikut. Awalnya sih lihat-lihat. Karena sering melihat pictorial book, si Kakak pun bersemangat belajar membaca sendiri.

Selain melihat pictorial book, saya suka membacakannya buku. Disertai dengan ekspresi di suara dan mimik muka layaknya pendongeng, hal itu ternyata membuat si Kakak sangat suka. 

Kesukaan Kakak pada buku membuatnya lancar membaca di usia lima tahun. Bahkan di usia 5,5 tahun ia sudah mulai membaca novel anak. Lantas di usia tujuh tahun ia sudah membaca novel karya Tere Liye, Hafalan Shalat Delisa. Kebutuhannya membaca buku memang gila-gilaan saat itu. Ketika kls 6 SD, ia membaca buku tentang sirah sebanyak 500 halaman selama dua hari. 

Si Adek pun akhirnya ngikut si Kakak. Melihat Kakaknya anteng baca buku, ia pun tertular menyukai buku meskipun beda genre. Kalau si Kakak suka baca novel sejak usia SD, ia lebih suka komik. Namun mulai SMP ini ia suka membaca novel-novel yang berhalaman tebal. Namun ia kurang menyukai novel yang berbasis media sosial. Ia lebih menyukai novel karya Ary Nilandari atau bacaan bergenre personal literature semacam karya Raditya Dika. 

Dari pengalaman saya sebagai anak atau orang tua dalam memupuk minat baca anak, saya melihat kesamaan bahwa minat baca itu tidak datang dengan sendirinya. Orang tua harus berperan aktif dalam menyediakan fasilitas meningkatkan kecintaan anak pada buku. Bapak dan Ibuk saya tak pernah mengenal apa itu parenting ketika memupuk minat saya pada membaca. Yang mereka tahu ketika anak menyukai huruf ataupun angka, maka mereka menyediakan fasilitasnya. Fasilitas tak harus membeli. Contohnya seperti Bapak saya yang meminjam surat kabar dari kantor supaya bisa saya baca. 

Selain memberikan fasilitas orang tua juga harus terlibat dalam memupuk minat anak terhadap membaca. Jika anak hanya diberikan fasilitas tanpa pendampingan, saya yakin anak juga takkan tertarik pada fasilitas yang disediakan. Bagaimanapun juga anak melihat keteladanan. Jika orang tua lebih memilih melihat televisi atau bermain gadget, masihkah ada harapan anak-anak kita cinta akan membaca?

Rabu, 20 Mei 2020

Yang Bisa Kita Lakukan untuk Menghambat Perubahan Iklim
Cr : pixabay

Assalamualaikum temans,

Saya yakin, setiap perubahan sekecil apapun, selalu bermula dari diri sendiri. Kita tak mungkin melakukan sebuah perubahan besar tanpa kesadaran diri yang mendorong melakukan sesuatu. Namun dari yang kecil itu, jika dilakukan kolektif maka hal besar pun akan mudah dilakukan.

Banyak masyarakat tak menyadari bahwa cuaca esktrem di bumi iki merupakan dampak terjadinya perubahan iklim. Sebenarnya perubahan iklim sendiri adalah fenomena alam yang tak bisa kita hindari. Namun berbagai bentuk pemanasan global menjadi pendorong mempercepat perubahan iklim ini.

Kita memang tidak bisa mencegah terjadinya perubahan iklim. Hanya saja kita bisa berupaya melakukan hal hal kecil supaya perubahan iklim tidak terjadi dengan cepat seperti saat ini.
Semua bermula dari diri kita.


Hal kecil yang bisa kita lakukan untuk mengatasi perubahan iklim


Dari www.theconversations.com sebuah artikel yang tayang tanggal 21 Mei 2019 berjudul "Riset Buktikan Upaya Individu dapat atasi perubahan iklim" yang ditulis oleh Steve Westlake seorang peneliti Environment Leadership Cardiff University ini menemukan bahwa melakukan sesuatu yang berani seperti berhenti naik pesawat dapat memiliki efek kumulatif yang lebih luas karena dapat memberi pengaruh bagi orang lain serta mengubah pandangan orang tentang apa yang dipandang “normal”. Artikel yang telah dialihbahasakan oleh Las Asimi Lumban Gaol tersebut juga menyatakan bahwa dalam sebuah survei yang dilakukan oleh Steve Westlake, setengah dari responden yang mengenal seseorang telah berhenti naik pesawat demi mengatasi perubahan iklim mengatakan bahwa mereka turut mengurangi penerbangan mereka karena mencontoh perilaku kenalannya.

Lebih lanjut Steve mengatakan bahwa sekitar tiga perempat responden mengatakan bahwa contoh tersebut telah mengubah sikap mereka terhadap penerbangan dan perubahan iklim melalui beberapa cara. Efek ini meningkat jika yang melakukannya adalah orang yang terkenal, seperti akademisi atau seseorang yang terkenal di mata publik. Dalam hal ini, sekitar dua pertiga mengatakan mereka mengurangi penerbangan karena orang tersebut, dan hanya 7% yang mengatakan orang-orang tersebut tidak mempengaruhi sikap mereka.

Dari penelitian itu menguatkan bahwa kita bisa kok melakukan hal kecil yang punya dampak luar biasa. Karena setiap orang memiliki pengaruh untuk orang lain. Memulai dari diri sendiri itu butuh effort yang besar juga, apalagi jika dari lingkungan sekitar belum mendukung.

Apa saja sih yang bisa kita lakukan untuk mengurangi percepatan perubahan iklim? Ini adalah hal-hal kecil yang sudah saya lakukan untuk mengurangi pemanasan global


Hemat Listrik

cr : pixabay


Percaya atau tidak, daya listrik di rumah kami hanya menggunakan 450 watt. Karena hidup di pedesaan yang masih cukup segar udaranya, kami tak membutuhkan banyak alat pendingin udara. Jangankan AC, kipas angin pun tak ada. Atap di rumah pun cukup tinggi. Selain itu jendela model lawas yang terbuka membuat sirkulasi udara di rumah cukup baik.

Di rumah keluarga saya tak menggunakan TV, mesin cuci, maupun alat penanak nasi listrik. Penggunaan listrik di rumah kami ya hanya untuk penerangan, kulkas, setrika, dan charge ponsel dan laptop saja. Itu pun jika sudah selesai dilepas dari colokan.

Penerangan di ruangan rumah kami menggunakan lampu LED bahkan untuk kamar sekalipun. Namun semuanya disesuaikan jumlah watt nya. Jika malam tiba, semua lampu di kamar kami matikan, hanya di penerangan luar rumah, ruang keluarga dan ruang makan yang tetap menyala supaya masih ada bias cahaya masuk ke kamar-kamar. Pemakaian terbanyak biasanya terjadi di Idul Fitri karena keluarga adik-adik saya datang dan mereka tak terbiasa mematikan lampu. Coba tebak berapa biaya tertinggi untuk listrik di rumah kami saat Idul Fitri?
Rp. 70.000,-
Hemat kan?


Hemat air

Di rumah kami menggunakan air dari PDAM. Penggunaan air terbanyak untuk mencuci baju dan cuci piring. Di luar itu sekadar kebutuhan pribadi dan memasak. Namun sejak pandemi ini terjadi kebutuhan air lebih banyak lagi karena cuci muka, cuci tangan dan kaki makin sering. Meski begitu tagihan air di rumah juga tak banyak. Pemakaian reguler pun berada di kisaran angka Rp. 45.000 - 50.000. Kecuali jika Idul Fitri tiba dan adik-adik saya mudik memang bisa sampai dua kali lipat. Maklum aja, jumlah keluarga saat lebaran tambah jadi tiga kali lipat.


Re-use & Reduce

Untuk meminimalkan sampah plastik sebisa mungkin kami menggunakan wadah sendiri saat berbelanja maupun jajan. Awalnya malu juga sih ketika jajan selalu bawa wadah untuk jaga-jaga jika makanan nggak habis bisa dibawa pulang tanpa minta dibungkus. Setiap kali bepergian pun kami akan membawa tumbler (tempat air minum) supaya tak membeli minuman kemasan. Di rumah tersedia sedotan dari logam, sehingga tak menimbulkan sampah. Selain higienis, kami nggak perlu nyampah dari sedotan kan?


Memanfaatkan energi alam semaksimal mungkin.

Saya sudah bercerita jika di rumah kami tanpa mesin cuci. Pengeringan di rumah kami menggunakan energi matahari yang mudah kami dapatkan di halaman rumah. Meski agak repot saat musim hujan karena cucian sering kali tidak kering, namun kami masih bisa menganginkan pakaian di dalam rumah karena sirkulasi udara di rumah kami bagus.

Hal ini terkait dengan penghematan listrik. Siang hari sama sekali tak ada penerangan di dalam rumah karena cahaya masuk tanpa halangan, jendela terbuka yang memudahkan sirkulasi udara sehingga di rumah cukup sejuk tanpa pendingin udara.


Memanfaatkan peralatan rumah tangga yang ramah lingkungan

Sampah terbanyak adalah sampah rumah tangga. Saat memasak yang membutuhkan pembungkusan, misalnya membuat pepes dan galantin, saya selalu menggunakan daun pisang sebagai pembungkus. Kalau toh jadi sampah, namun bisa diurai dengan cepat, bahkan bisa jadi kompos kan?

Kami pun tak menyediakan tisu di dalam rumah. Sebagai gantinya kami punya banyak lap dari kain. Jika kurang, kami biasa memanfaatkan baju bekas yang sudah tak layak pakai.

Saat berbelanja kebutuhan pokok saya menyiapkan berbagai macam tas belanja berbagai macam ukuran. Tergantung saya mau belanja banyak atau sedikit.

Untuk meminimalisir sampah kami pun memilah sampah organik dan non organik. Sampah organik kami buang di lubang sampah belakang rumah supaya bisa mengurai dan menjadi kompos, sementara sampah non organik kami buang di tempat pembuangan sampah.


Selain itu kami pun menggunakan telobag, tas sampah yang terbuat dari tepung singkong sehingga bisa terurai di tanah.


Meminimalkan menggunakan kendaraan bermotor

Salah satu hikmah adanya Wabah Corona adalah berkurangnya polusi udara karena karbon monoksida yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor. Langit menjadi jauh lebih cerah dibanding sebelumnya karena anjuran stay at home. Nanti, setelah wabah ini berlalu saya sih punya keinginan untuk lebih banyak jalan kaki dibanding menggunakan kendaraan bermotor. Selain menyehatkan untuk kita, bumi juga terselamatkan dari pemanasan global.


Mengurangi pemakaian zat aerosol

Zat Aerosol adalah partikel padat yang ada di udara atau tetesan cairan. Dalam udara semestinya bersih tanpa ada partikel kecil yang menghalangi kejernihan. Hal itu terjadi pada gas chlorofluorocarbon yang mengganggu lapisan ozon di bumi.

Gas aerosol banyak juga terdapat di alat-alat atau perlengkapan rumah tangga. Misalnya obat pembasmi hama, cat kaleng, pengharum ruangan semprot atau peralatan sejenis lainnya.

Apa itu gas aerosol? Itu merupakan istilah partikel padat yang ada di udara ataupun dalam suatu tetesan cairan. Bayangkan jika di dalam udara yang semestinya bersih ternyata terdapat partikel yang bentuknya kecil sekali sehingga menghalangi dan mengurangi kejernihannya. Itulah yang terjadi pada gas chlorofluorocarbon yang mengganggu lapisan ozon bumi. Gas aerosol ditemukan pada peralatan semprot rumah tangga, seperti cat kaleng, obat pembasmi nyamuk pengharum ruangan semprot, anti karat, pembersih ruangan, deodoran dan masih banyak yang lainnya.

Bisa jadi kita nggak bisa sepenuhnya tanpa alat rumah tangga mengandung zat aerosol. Setidaknya kita meminimalisir penggunaannya. Dari sekian contoh yang saya sebut di atas, saya menggunakan deodoran saja.


Reboisasi



Reboisasi bukan berarti hanya menanam pohon kembali di hutan yang sudah gundul. Membuat penghijauan di sekitar rumah juga sudah melakukan satu bentuk reboisasi. Di daerah perkotaan bisa dilakukan dengan penanaman tumbuhan tabulampot atau mencoba menanam tumbuhan hidroponik.

Adanya tumbuhan hijau ini akan menambah oksigen dan menyerap karbon dioksida. Dengan adanya penghijauan setidaknya akan memperlambat pemanasan global yang menyebabkan perubahan iklim yang besar di bumi.


Talkshow Kantor Berita Radio tentang Hemat Energi di Tengah Pandemi



Seminggu lalu, saya menyimak talkshow di Kantor Berita Radio via streaming. Talkshow bertema Bijak Pakai Energi di Tengah Pandemi ini menghadirkan Mbak Verena Puspawardani, Direktur Program Coaction Indonesia dan Andrian Pram, penasehat Komunitas Earth Hour sebagai narasumbernya.

Menurut Verena, banyak hikmah yang terjadi di tengah pandemi ini. Ada penurunan penggunaan energi sangat signifikan di sektor industri. Penggunaan BBM juga menurun tajam. Ada dampak positif saat imbauan di rumah saja dijalankan. Udara di lingkungan kita semakin bersih, langit pun terlihat lebih cerah. Pengeluaran dan pembiayaan energi pun berkurang banyak.

Namun semua itu berbanding terbalik dengan sektor rumah tangga. Pemberlakuan School from Home dan Work from Home ini diakui oleh Kementerian ESDM membuat pemakaian energi listrik dan gas rumah tangga melonjak drastis.

Hal ini tentu saja perlu diantisipasi. Jangan sampai hanya terjadi pemindahan penggunaan energi saja dari sektor industri ke sektor rumah tangga. Kita harus lebih bijak dalam mengelola penggunaan energi selama pandemi ini berlangsung.

Peningkatan pemakaian energi sebenarnya lumrah terjadi di masa SfH dan WfH ini. Namun gunakanlah secara bijak. Verena mengimbau supaya menggunakan listrik sebijak mungkin. Gunakan seperlunya, matikan jika tak perlu. Begitu juga penggunaan gas. Masak tak perlu berlebihan. Bulan puasa keinginan konsumsi makanan berlebihan padahal volume perut juga begitu saja. Pada akhirnya sampah organik pun menumpuk karena sisa makanan yang terbuang.

Andrian dari Komunitas Earth Hour mengingatkan akan adanya vampir energi. Apa sih vampir energi ini?


Vampir energi adalah alat-alat elektronik yang sudah dimatikan namun masih mengisap energi atau standby power. Contohnya charger ponsel yang sudah tak terpakai, atau televisi yang sudah dimatikan namun masih standby, posisi kabel tidak dicabut dari colokan. Hal itu akan memakan 15 watt/jam. Ah ... Kecil, sedikit doang itu. Eit ... Kalau dibiarkan berjam-jam, dan tak cuma satu alat elektronik, jika dikalikan berapa banyak watt yang terbuang percuma kan?

Talkshow ini memberikan pencerahan nih. Bahasa yang digunakan simpel, jadi mudah dimengerti oleh siapa aja kalau menurut saya. Jika ingin mendengarkan, masih bisa kok dengerin podcast nya di https://www.kbrprime.id/podcast

Jadi, paling penting yang bisa dilakukan adalah selain edukasi tentang perubahan iklim, kita juga harus memberikan contoh pada anak-anak apa yang seharusnya dilakukan untuk menghambat pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim di bumi.

Hal kecil bisa menjadi besar. Setiap orang bisa memiliki peran untuk bumi yang kita pijak. Perubahan baik memang tak ada yang instan. Namun konsisten dan kolektif. Mencintai bumi dengan menjaga kebersihan dan tak membebaninya dengan berbagai sampah dan pembuangan energi akan memiliki dampak positif. Baik untuk diri sendiri atau orang lain. Kapan lagi kita memiliki peran kalau bukan sekarang?

Saya sudah berbagi pengalaman soal climate change. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Climate Change” yang diselenggaraakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis”. Syaratnya, bisa Anda lihat di https://bit.ly/LombaBlogIklimKBRfeatIIDN








Minggu, 03 Mei 2020

Yang Dirindukan di Ramadhan dan Idul Fitri Kali Ini



Assalamualaikum temans, 

Allah itu selalu menyiapkan skenario terbaik bagi umat-Nya. Meski sering kali umat-Nya menganggap yang Ia persiapkan adalah hal buruk dalam hidup. Umat-Nya selalu terlupa bahwa selalu ada pelangi setelah badai.

Begitu juga dengan adanya wabah Corona ini. Yakin banget, di antara kita masih saja hadir sejumlah keluhan. Mulai para ibu yang tensi tinggi ngajarin anak, anak yang mager akut karena nggak sekolah, belum lagi Bapak-bapak yang kesulitan bekerja. 

Pernah nggak sih, terpikir bahwa ini adalah jawaban dari keluhan kita di masa lalu? Saya baru terpikir ketika hal ini diungkapkan oleh Kakak. 

"Aku kalau capek banget sama kegiatan sekolah tuh pernah mikir gini, Nda. Seandainya sekolahnya bisa di rumah, nggak harus mandi karena dingin kalau mandi pagi. Liburan sebulan di rumah, marathon nonton drakor, wah ... Mesti surga banget. Allah ternyata ngabulin doaku, Nda. Aku loh, dikasih libur sebulan. Beneran aku marathon drakor setiap hari. Drakor yang nggak kutonton ya cuma The World of Married aja karena ratingnya 21th. Sekarang begini, aku loh masih ngeluh. Dasar manusia ya?"

Bener juga apa kata si Kakak. Sejak Adek sekolah sampai sore saya sering kali kesepian. Adek juga sudah nggak mau dijemput, kecuali kalau pas minta. Saya ngerasa kehilangan momen manis kebersamaan dengan anak-anak. Dan saya pun pernah berangan-angan, kapan ya, saya bisa ngumpul bareng anak-anak 24/7?

Allah menjawab angan-angan saya dengan adanya pandemi ini. Kami nggak kemana-mana. Bener-bener di rumah. Paling keluar rumah kalau belanja kebutuhan pokok. Selain itu ya ngruntel aja bertiga. 

Saya kangen nge-event. Rindu saya mengajar anak-anak ekstra jurnalistik. Hati saya meletup-letup ingin sekali ke masjid. Namun saya masih kudu banyak bersabar lagi. Jika Allah menghendaki, tak ada yang tak mungkin. Bisa saja bulan depan situasi sudah lebih kondusif kan?


Ramadhan kali ini

Ramadhan yang berbeda. Namun tetap istimewa. Tak ada jamaah tarawih atau buka bersama di masjid tempat kami biasa beribadah. Peribadahan di bulan suci ini semuanya dilakukan di rumah. 

Jangan tanyakan betapa kangennya saya beribadah di masjid. Sejak physical distancing diterapkan saya sudah tak ke masjid sama sekali meski masjid tempat saya beribadah masih menyelenggarakan shalat fardhu berjamaah dengan berbagai ketentuan. Masjid hanya menerima jamaah yang sehari-hari memang beribadah di situ. Setiap hari lantai dan dinding disemprot dengan desinfektan. Jamaah membawa sajadah sendiri, dan shaf jamaah pun diatur sedemikian rupa sehingga berjarak. Saya takut ke masjid karena awal physical distancing saya sempat batuk. Saya takut nular ke yang lain apalagi banyak jamaah sepuh di sana. Saya juga berjaga-jaga. Saya pernah bermasalah dengan paru-paru di masa kecil. Makanya di masa seperti ini saya menjaga diri sendiri dulu.

Namun saya masih bisa melihat suasana Ramadhan dihadirkan di masjid Mujahidin, tempat saya dan keluarga biasa berjamaah. Meski tak ada buka bersama, masjid tetap menyediakan takjil. Kami diberikan kupon sejumlah anggota keluarga. Dengan kupon itu kami bisa mengambil takjil. 


Kalau Ramadhan sebelumnya makan besar disediakan setiap hari Sabtu, kali ini masjid menyediakan makan besar seminggu tiga kali. Kalau Ramadhan sebelumnya hanya mempersiapkan takjil sebanyak 250 paket, Ramadhan dalam pandemi ini menyediakan 400 paket lebih. Percaya atau tidak, infak takjil melebihi ramadhan-ramadhan sebelumnya. Belum lagi mereka yang bershadaqah untuk jamaah yang terdampak wabah Corona. Ternyata orang yang rizkinya lapang ataupun sempit sama-sama berlomba-lomba untuk mendapatkan pahala. 


Hikmah Ramadhan tahun ini

Ramadhan memang belum berlalu. Namun dari awal kehadirannya sudah memberikan hal yang harus saya syukuri. Karena ayahnya di Semarang, mau tak mau Adek harus menjadi imam bagi saya dan Kakak. 

Bukan hal mudah bagi Adek menjadi imam. Karena selama ini ia selalu shalat di masjid dan sekolah secara berjamaah. Mau tak mau ia harus mengumpulkan hafalannya. Barulah ketahuan, hafalan juz 30 nya banyak yang sudah hilang. Banyak yang terlupa karena di SMP nya kewajiban yang dimiliki adalah menghafal juz 29 dan juz 28 kalau sudah lolos di juz 29.



Akhirnya, saya mendengarnya membaca surah di juz 29 ketika menjadi imam tarawih. Biasanya ia tak mau didengarkan ketika menghafal. Ia akan menutup pintu kamarnya rapat-rapat. 

Mungkin saya yang lebay sualay. Mendengar hafalannya saya kok mbrambang. Ada rasa bangga ketika mengimami saya dan Kakak. Apalagi Ahad kemarin saat ayahnya pulang ia bergantian menjadi imam. Ah ... Adek sudah gedhe, bathin saya. 

Hikmah lain adalah kami berkomitmen untuk memperbaiki pola makan. Selama ini konsumsi makanan waktu Ramadhan ya yang enak di lidah, embuh buat kesehatan. Akhirnya sekarang menu seimbang pun dijalankan. Mengurangi banget minuman dan kudapan manis juga gorengan. Wajib banget nyiapin air putih yang lebih banyak.

Menu sahur

Kalau saya Ramadhan ini juga mengurangi karbo. Untuk sahur saya nggak konsumsi karbo. Ternyata enak banget di tubuh. Nggak lemes sama sekali. Saya menambah air putih yang saya konsumsi. 


Lebaran tahun ini

Biasanya sebelum Ramadhan saya sudah membuat list persiapan Lebaran. Meski saya nggak mesti beli baju baru, saya pasti beliin baju buat Adek. Dianya pas masa pertumbuhan, jadi cepet banget kemejanya kesempitan. 

Tahun ini sangatlah berbeda. Saya kayaknya nggak pusing nyiapin apapun buat lebaran. Saya nggak sowan mertua. Nggak mau nyoba-nyoba juga sih. Khawatir aja kan, ntar di tengah perjalanan diminta putar balik oleh yang berwajib? Ikuti anjuran pemerintah dulu ajalah. Paling nitipin buah tangan buat mertua via suami. Karena adik-adik saya dan keluarga tidak mudik, logistik yang ada pun hanya buat keluarga. Terus nelangsa banget. Tahun ini di kulkas tanpa ada pancake durian, durian Medan, bika ambon Zulaikha, Bolu Meranti. Nggak ada juga rendang asli dari Sumatera, malbi, pempek, pisang coklat dan kopi Lampung. Ah ... Jadi ngiler kan?

Sejatinya di bulan Syawal tuh saya seneng sekali silaturahmi. Biasanya sih ke tempat adik-adiknya simbah, budhe, sepupu-sepupu saya, apalagi yang open house, dan sahabat-sahabat rasa keluarga. Namun silaturahmi tahun ini diganti secara online saja. Masih bisa video call untuk mengeliminir rasa rindu meski sejatinya tak bisa mengganti nikmatnya bertemu secara fisik. Namun kita semua sudah sama-sama tahu dan saling memahami. Sampai saudara-saudara yang sepuh sekalipun. 

Untuk jualan suami, masih ada sih stock emping, kacang bawang, mete, peyek dan wallens (sus kering isi coklat). Namun persediaan kami tak banyak. Kalau biasanya kami bisa menjual sampai 150 kg emping, sampai sepertiga Ramadhan ini kami baru mempersiapkan 1/5 dari tahun kemarin. Takut juga kalau nggak kejual kan? Meski begitu saya tetap yakin, Allah Maha Kaya. Seandainya bukan dari pintu satu ini rezeki kami mengalir, Ia akan memberi rezeki dari pintu manapun sepanjang kami ikhtiar. Bukankah kita wajib ikhtiar sebelum bertaqwa?

Ya ... Hati ini menyimpan banyak kerinduan. Yang terberat buat saya kali ini adalah tak bertemu adik-adik saya yang semuanya tinggal di Pulau Sumatera. Hanya setahun sekali bertemu. Namun tahun ini Allah belum mengijinkan kami melepas rindu. 

Semoga Allah segera memberikan kita keindahan ya? Stay safe, stay healthy and keep stronger ya temans?

Kamis, 30 April 2020

Menjauhkan Anak dari Bullying
Cr : pixabay

"Kenapa sih, kalian milih ekskul Jurnalistik?"

Saya selalu bertanya motivasi anak-anak kelas Jurnalistik dimana saya mengajar. Sebagian dari peserta jurnalistik mengikuti ekstra tersebut karena suka membaca dan menulis.

"Aku nggak mau ikut ekskul lain yang banyak anak laki-lakinya," kata Keano lirih.

Kata-kata Keano membuat saya menatapnya lebih lekat.

"Kenapa? Kan seneng banyak temannya di sana?"
"Nggak ah, Bu. Aku dibilang banci. Terus dibilang lemah karena nggak bisa ngelakuin."

Saya menghela napas. Ingat sebuah cerita di masa lampau.

"Yang bilang pelatihnya?"
"Bukan, anak-anak yang di sana."

Keano, seseorang yang bertubuh tinggi besar untuk ukuran klas 3 SD. Badannya lebih besar dari anak kelas 4 atau 5. Ia sering mendapatkan verbal bullying dari teman atau kakak kelasnya. Hanya karena ia tak seperti teman-temannya yang lincah bermain menggunakan fisik ia dibilang lemah. Karena ia ceriwis, banyak berbicara lantas dibilang banci. Kayak perempuan.

Terkadang, ada yang mengatainya gajah atau kudanil. Ia tak berani melawan, karena merasa anak baru. Ia merasa tak berada dalam lingkungannya.

Padahal menurut saya Keano itu anaknya manis. Penuh perhatian. Ia juga senang berbagi dengan teman-temannya. Sering kali saat kelas jurnalistik kami dibagi coklat. Ia pun pintar jualan. Anak marketing banget lah.

Setelah itu, beberapa anak pun bercerita tentang kejadian yang tak mengenakkan, baik di rumah atau di sekolah. Terkadang mereka merasa ternyata orang-orang terdekat malah yang paling sering melakukan bullying. Entah teman dekat, saudara, bahkan orang tua sendiri. Sering kali itu tak disadari oleh orang tua.

Bullying pada anak bisa terjadi dimana saja. Bahkan di rumah sekalipun. Namun yang terbanyak terjadi di sekolah. Beberapa anak jurnalistik mengeluhkan tentang hal tersebut. Sayangnya orang tua sering kali abai terhadap bullying yang terjadi di sekolah, apalagi yang berbentuk verbal.

Beberapa kasus yang saya lihat ada kecenderungan bahwa bullying bisa menimpa pada anak-anak yang memiliki kondisi seperti berikut

Anak pintar
Sering kali anak pintar mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan. Sering kali ia mendapatkan perlakuan tersebut karena teman lain iri karena kemampuannya atau dipuji oleh guru.

Tidak memiliki teman
Anak pendiam yang tak memiliki banyak teman sering kali menjadi sasaran karena terlihat sendiri. Karena terlihat menarik diri itu sering kali dikucilkan oleh temannya

Anak yang banyak disukai
Hampir mirip dengan anak pintar, anak yang disukai teman lain juga rentang mendapatkan bullying. Faktor iri, cemburu karena berebut perhatian juga bisa memicu pelaku melakukan bullying.

Anak berkebutuhan khusus
Anak ADHD, Autis ringan, ADD sering kali mendapatkan bullying karena sikap dan perilaku yang berbeda dari teman yang lain. Hal ini sering kali menimbulkan ketidaksukaan atau anak lain merasa terganggu dengan anak yang memiliki kebutuhan khusus. Akibatnya bullyinglah yang terjadi.

Anak yang memiliki fisik berbeda dengan yang lain
Ras yang berbeda, bentuk tubuh, bentuk wajah, dan ciri fisik yang berbeda dari anak yang lain pun bisa memicu verbal bullying.

Anak yang memiliki kondisi berbeda dengan lain
Anak yang terlahir dengan kondisi orang tua yang memiliki kekayaan atau dalam kondisi kemiskinan pun sering kali menjadi obyek verbal bullying.

Lalu bagaimana mengajari anak-anak supaya terhindar dari bullying?

Berani berkata tidak untuk melakukan hal yang tidak disukai.
Sering kali anak tidak berani menyatakan pendapatnya. Jika anak berani menolak, pelaku bullying yang akan menekannya pun akan berpikir ulang untuk melakukan hal tersebut.

Berani melawan dan membela diri
Jika diperlakukan tidak menyenangkan ajari anak untuk berkata, "Aku nggak suka kamu mengatakan hal itu/bersikap begitu"

Jika masih diperlakukan tak semestinya maka katakan, "Kalau kamu masih melakukan hal itu, aku bisa balas." Atau bisa saja katakan, "Kalau kamu masih begitu, aku akan bilang sama Bu guru."

Dorong anak memiliki teman yang lain
Sering kali pelaku bullying adalah teman terdekatnya. Anak diajari untuk memiliki teman lain sehingga tak memiliki ketergantungan pada salah satu temannya saja.

Dorong anak lebih percaya diri.
Kepercayaan diri pada anak akan memberikan keberanian untuk melakukan atau menolak sesuatu yang tak sesuai dengan hatinya.

Berani berbicara pada orang tua dan guru
Peran orang tua dan guru sangat penting. Anak akan berani membuka diri pada orang tua dan guru dikarenakan komunikasi yang bagus dan lancar. Jika komunikasi memiliki kendala maka keberanian untuk berbicara pun akan terhambat


Sebelum terlambat. Sebagai orang tua kita bangun komunikasi yang baik dengan anak-anak kita. Tak ada salahnya menempatkan diri kita sebagai sahabat dan 'partner in crime' bagi anak-anak. Anak yang memiliki cinta dan kasih sayang orang tua yang penuh tentunya akan memicu timbulnya kepercayaan diri bukan?




Rabu, 22 April 2020

Di Ujung Kepasrahan
Cr : Pixabay


Aku menikah dengan Mas Krisna di usia yang ke-23. Pernikahan ini sebelumnya mendapat tentangan keras dari keluarga Mas Krisna. Aku berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Namun Mas Krisna memperjuangkanku meski sebenarnya aku hendak menyerah. 

Sepuluh tahun pertama pernikahan kami memang terasa begitu berat. Perbedaan ‘kasta’ yang begitu jauh menjadikan kerikil kerikil pernikahan kami semakin membanyak. Statusku sebagai dosen di universitas swasta ternama dan bersiap menempuh pendidikan S-3 tak banyak mengubah pandangan keluarga Mas Krisna terhadapku. Aku tetap saja seorang anak pesuruh SD yang hidup di kampung dengan rumah yang berdekatan dengan kandang sapi. Sementara keluarga Mas Krisna dengan segala gelar keningratannya tak pernah sedikit pun menurunkan standar menantu yang harus dilihat dari bobot bibit dan bebetnya. 

“Sejujurnya aku capek, Mas. Semua yang kulakukan untuk membuat keluarga Mas bangga tak berarti banyak.” 

Setiap kali aku mengeluhkan hal itu Mas Krisna hanya tersenyum dan memelukku. 

“Tambah lagi sabarnya, ya? Bagaimanapun juga mereka keluargaku. Aku sudah berjuang bersamamu selama sepuluh tahun ini. Kamu nggak akan menyerah to, Dik?” 

Selalu saja kata-kata Mas Krisna membuatku meleleh. Laki-laki yang katanya jatuh cinta pada pandangan pertama ketika berpapasan di lorong kampus. Dosen muda yang berani menghadap Bapak setelah aku wisuda. Aku hanya bisa terbengong tak percaya melihat dosen yang banyak digilai teman-teman kampus itu duduk di depan Bapak. Meminta ijin untuk menikahiku. 

Mas Krisna yang lembut dan penyayang. Ia benar-benar membuatku merasa dicintai. Kadang aku merasa tak bisa mengimbangi seluruh kebaikannya. Aku masih merasa sangat kurang membalas cintanya. Baktiku padanya belum seberapa. Bahkan sampai sekarang, di usia pernikahan kami yang ke tiga belas belum juga diberikan momongan, sikapnya terhadapku masih sama seperti saat awal pernikahan dulu. 

Pernikahan kami nyaris sempurna. Nyaris. Buah hati yang tak kunjung datang membuat lobang kecil dalam keluarga kami. Rindunya kami akan tangisan bayi. Betapa kami mendambakan bergantian bangun di tengah malam untuk meninabobokan ciptaan Allah yang paling sempurna. Inginnya kami direpotkan oleh banyaknya popok bayi yang basah dan kotor untuk dicuci. Begitu besar harap kami untuk bisa menimang anak yang mungkin saja akan menjadi imam shalat di kala kami sudah menjadi benda mati yang harus menyatu dengan tanah. 

Kami, terutama aku sungguh terluka dengan kalimat-kalimat yang diucapkan keluarga Mas Krisna tentang kehadiran anak di dalam keluarga kami. Mereka tak pernah tahu ketika bahasan itu mulai dibicarakan, pelan-pelan aku menyingkir sambil menyusutkan air mata. Apalagi jika Ibu secara langsung berbicara pada Mas Krisna tentang hal itu. 

“Kris, mbok kamu tuh bilang sama istrimu nggak usah ngoyo-ngoyo kerja. Perempuan punya kedudukan tinggi dalam kerjaannya juga buat apa kalau nggak bisa kasih anak sama suami? Yang lain saja sudah ndrindil sampai tiga, sementara bojomu sepuluh tahun lebih kok badannya masih kayak papan.” 
“Kami tetap berusaha, Bu.” 

Suara Mas Krisna tetap saja tenang tanpa riak yang berarti. Sementara aku sudah ingin menjerit melepaskan sakit yang semakin menyesakkan dada. 

“Usaha? Seprono seprene usaha kok ra ono hasil e. Orang jualan saja kalau berusaha tetap punya laba meski sedikit. Lha bojomu?” 
“Mungkin saya yang salah, Bu. Saya juga penelitian kemana-mana. Jadi sering capek.” 
“Lho ... kok malah nyalahke awakmu dewe? Kalau kamu itu ming urun. Bojomu yang harusnya nggak banyak kegiatan supaya subur rahimnya. Ojo-ojo bojomu ki gabuk?” 

Ya Allah ... nyeri ini semakin menjadi. Mertuaku juga seorang perempuan. Bagaimana mungkin beliau tega menyamakanku dengan padi yang tak berisi bulirnya? 

“Ibu, nyuwun pangapunten. Kami sama-sama sehat. Ini hanya masalah waktu.” 

Suara Mas Krisna mulai terdengar bergetar. Aku memahami getar suaranya. Antara rasa bersalah dan getir dengan kenyataan yang ada. Bersalah karena Mas Krisna telah berbohong tentang kesehatan kami berdua. Getir karena sulitnya ia untuk mengatakan apa yang terjadi. 

Aku pun perlahan melangkah ke belakang rumah. Satu tempat teraman buatku saat ini. Untuk menuntaskan segala tangis. Supaya saat kembali ke dalam rumah aku masih bisa tersenyum. Senyum di atas perihnya luka di hati. 

Pelukan ringan menarik tubuhku. Aku hafal kehangatannya. Saat aku menoleh ke arahnya, ia tersenyum menenangkan. Salah satu tangannya yang bebas mengusap lembut pipiku. Untuk mengusir air mataku. 

“Dik Ning yang sabar ya? Insya Allah balasannya surga,” bisiknya. 

Aku sedang berada dalam pelukan surga duniaku. Harapku bisa menepis sedikit letihku saat ini. 

*** 

Aku dan Mas Krisna bergenggaman tangan ketika dokter Arya, dokter yang menjadi tempat konsultasi membuka hasil tes kesehatan kami. Sudah yang ketiga kali kami melakukan serangkaian konsultasi untuk menghadirkan sang buah hati. Kami tak pernah menyangka. Sepertinya tubuh kami sehat-sehat saja. Namun prasangka baik kami ternyata salah. Masalah ada dalam diri kami berdua. 

Aku mengalami perlengketan salah satu kantung indung telur sehingga harus menjalani hidrotubasi untuk memperlancar jalannya indung telur. Sementara Mas Krisna sendiri pun ada masalah. Jika jumlah sel sperma normal untuk membuahi sel telur adalah 15 juta sel sperma. Mas Krisna hanya memiliki dibawah 10 juta sel sperma. 

Selain terapi, kami harus bisa menjalani hidup lebih sehat lagi. Mas Krisna pun harus berhenti merokok supaya memperbanyak jumlah sel sperma. Sementara aku harus menjalani serangkaian pengobatan. 

Jangan menanyakan rasanya ketika kantung indung telur ditiup. Tappp .... rasanya perut ini seperti ditembak alat sampai ke tenggorokan sehingga mual yang hebat langsung menyapa. Seandainya ini bukan salah satu ikhtiar kami untuk mendapatkan buah hati, aku takkan mau melakukannya. 

“Ini semua untuk kamu, calon anakku,” kataku dalam hati. Perlahan mataku pun memburam. Terasa hangat di dada saat menyapa seseorang yang masih Allah pegang ruh nya. Ia belum datang. Namun cinta untuknya sudah meluap tanpa terbendung lagi. 

Usaha apapun sudah kami tempuh. Sampai yang paling tak nyaman pun aku jalani. Kadang letih mendera kami membujuk untuk berputus asa. Lelah jiwa dan raga memaksa kami untuk menyerah. Saat semangat dan kekuatan hampir di titik nadhir, Allah selalu memperlihatkan kuasa-Nya. Ia menunjukkan betapa manusia hanya boleh berpasrah, namun tetap berikhtiar. Ayat-ayat yang terlantun dan tertulis jelas dalam kitab-Nya pelan-pelan memberikan embusan ketenangan yang membuat kami ingat bahwa kami mempunyai-Nya. 

“Jangan menyerah ya, Dik Ning?” 
Sering sekali kalimat itu menyapa telinga saat bahuku merosot melihat tespack hanya bergaris satu. Kadang kala pelukan hangat menyertai kalimat itu saat aku kedatangan tamu bulanan. Allah memang menciptakan laki-laki ini untuk menenteramkan. 

“Mas nggak kecewa?” 
Ia menggeleng. 
“Allah pasti punya maksud mengapa kita tak segera direpotkan oleh makhluk mungil yang kita impikan sejak berpuluh tahun lalu. Mungkin supaya kita lebih solid. Supaya kita lebih lama berduaan. Apalagi kita menikah tak melalui pacaran.” 
“Mengapa Mas Krisna menginginkan aku menjadi istri Mas? Kenal dekat pun tidak. Status sosial begitu jauh. Kok bisa Mas Krisna memperjuangkan aku saat itu?” 
“Ah ... Dik Ning ini ... Telinga perempuan memang selalu ingin penegasan berulang-ulang ya?” 

Aku tertawa. Sebenarnya aku pun sudah tahu jawabannya. 

“Aku hanya takut Mas.” 
“Takut apa?” 
“Manusia itu kan kekuatannya naik turun. Tak terkecuali kita. Masalah kita lebih berlipat dibanding orang lain yang sama-sama merindukan datangnya buah hati. Keluarga Mas, terutama Ibu sama sekali tak menyukaiku. Aku takut, jika suatu saat Ibu meminta bakti Mas yang membuat kita terluka. Kira-kira Mas akan sendiko dawuh dengan permintaan Ibu tidak?” 
“Maksudmu apa, Dik Ning?” 
“Jika ... Ibu meminta Mas Krisna meninggalkanku ...” 
“Tak ada yang bisa memisahkan kita, Dik. Aku sudah memilihmu. Kamu istri shalihah. Takkan mungkin aku menemukan perempuan yang baktinya melebihimu.” 
“Mas Krisna berlebihan.” 

Saya tersipu. Meski telah menikah berpuluh tahun pun telinga wanita masih membutuhkan rayuan yang melenakan. 

“Anggap saja aku berlebihan. Namun bukankah kamu tahu mengapa aku berani memintamu pada Bapak setelah wisuda saat itu? Karena kamu satu-satunya mahasiswi tak berjilbab saat itu yang berusaha shalat tepat waktu.” 

Allahku, boleh kan aku tersanjung hari ini? 

*** 


Ibu memanggil Mas Krisna untuk datang hari ini. Tiba-tiba seperti ada alarm yang menyala dalam hati. Berkedip-kedip memberikan pertanda. Ada yang tak biasa mengapa Mas Krisna sowan Ibu tanpa bersamaku. 

Ada yang berbeda di wajah Mas Krisna. Biasanya wajah itu selalu menampakkan ketenangan yang juara. Namun saat ini aku melihat keruh di wajah imamku. Aku tak banyak bertanya. Aku tak ingin memberikan lebih banyak beban di hatinya. 

Ia memandang wajahku lama. Saat aku mengangkat wajah setelah mencium punggung tangan aku melihat lapisan kaca bening di matanya. 

Buru-buru Mas Krisna masuk ke dalam mobil, kemudian jalan tanpa menoleh ke arahku. Namun sekilas aku menangkap punggung tangan yang mengusap matanya. Semakin hatiku bertanya-tanya. 

“Semoga bukan hal yang buruk,” bisikku pada diriku sendiri. 

Hampir tiga jam Mas Krisna di rumah Ibu. Selama itu pulalah aku tak bisa tenang ketika berada di rumah. Aku mencoba memeriksa tugas-tugas mahasiswaku. Sampai selesai pekerjaanku, Mas Krisna belum mengabariku apapun. 

Aku tak tahu kapan Mas Krisna pulang. Bangun pagi menjelang Shubuh Mas Krisna sudah terbaring di sisiku tanpa berganti pakaian. Aku menyiapkan sarapan setelah shalat Shubuh. Mas Krisna belum pulang dari masjid. secangkir kopi dan setangkup sandwich isi telur kesukaan Mas Krisna sudah aku siapkan. Sementara untukku sendiri cukup dengan air jeruk nipis beserta buah naga yang kemarin kubeli agak banyak untuk sarapanku. 

Setelah mandi dan sedikit berdandan aku keluar kamar. Mas Krisna sudah menungguku di meja makan. Aku melihat kegelisahan di matanya. Wajahnya pun masih sekeruh kemarin. Pasti ada hal berat yang ia pikirkan. 

“Mas berangkat jam berapa?” 
“Aku ngajar siang. Tetapi jam sembilan aku janjian dengan mahasiswa mau konsul skripsi.” 
“Berarti aku berangkat duluan ya?” 
“Aku antar?” 
“Tak usah. Ntar malah Mas yang terburu-buru.” 
“Aku pengen nganter kamu.” 

Aku mendongak. Suara Mas Krisna yang terdengar bergetar membuat menghentikan makan pagiku. 

“Mas ingin bicara sekarang?” 
Sejenak Mas Krisna memandangku kemudian mengalihkan tatapannya. Nafasnya terdengar berat. 

“Apa yang diminta Ibu, Mas? Tak bisakah Mas meluluskan permintaan Ibu?” 
Aku tak bisa lagi menahan rasa keingintahuanku. Kembali Mas Krisna menarik napas panjang. 

“Siapkah kamu mendengarnya, Dik Ning?” 
Jantungku berdentam-dentam. Seperti tentara hendak berperang. Aku mengangguk. Meski sebelah hatiku meragu. 

“Ibu ingin aku menikah lagi.” 
Suara Mas Krisna begitu pelan. Namun bagiku seperti hendak memecah gendang telingaku. Bahuku merosot. Tanganku pun terkulai di meja. 

“Ibu ingin ada penerus di keluarga. Seorang anak dari darahku. Kalau kamu belum bisa sampai selama ini, bagi Ibu ini bisa menjadi solusi.” 
“Kenapa hanya aku yang disalahkan jika kita belum punya anak? Mengapa Mas tak bicara kalau Mas juga bermasalah?” 

Aku mulai meninggikan suaraku. Bukan lagi meninggi. Aku berteriak. 

“Sudah, Dik Ning. Semalam sudah aku katakan ke Ibu. Namun Ibu tetap saja memintaku seperti itu.” 
“Dan Mas mau?” 

Mas Krisna terdiam. Melihat ekspresi wajahnya rasanya aku tak percaya. Aku tahu jawabannya. 

“Mas mau, kan?” 
“Aku sudah menolaknya, Dik.” 
“Tapi Ibu tetap memaksa, dan Mas nggak bisa menolak lagi karena Mas ingin berbakti kepada Ibu. Mas merasa bersalah telah memperistriku yang tak bisa memberi Mas keturunan sampai selama ini. Begitu kan?” 

Aku seperti tak mengenali diriku sendiri. Tangisku, teriakanku. Sama sekali bukan aku. 

“Dik Ning ...” 
“Silakan bertindak sesuka Mas. Aku hanya perempuan rendahan yang diangkat derajatnya oleh keluarga Pulunggono yang berdarah biru. Tak sama seperti darahku.” 

Dengan kasar aku beranjak dan masuk ke dalam kamar. Mas Krisna menyusulku, namun dengan sigap aku lebih dulu keluar. Mas Krisna terus memanggilku. Tanpa menoleh lagi aku keluar dari rumah. Saat seorang tukang ojek melintas, tanpa babibu aku mencegatnya dan langsung naik ke atas motor. Aku meminta tukang ojek menuju satu tempat. Namun bukan ke arah kampus. 

Dua jam kemudian aku berada di tempat ini. Di bawah rindangnya pohon kamboja aku bersimpuh. Sudah dua tahun berlalu ia yang sangat aku kasihi terbujur kaku di dalam sana. Meninggalkan orang-orang yang mencintainya. 

Matahari makin tinggi menyadarkanku bahwa bukan hanya tempat ini yang ingin aku datangi. Setelah kembali melantunkan doa aku pun beranjak. Dengan gontai aku berjalan menyusuri jalan yang tak beraspal. Langkah kakiku menuntunku ke sebuah rumah sederhana dengan kebun kecil di belakang rumah. 

Duduk di lincak belakang rumah membuatku memutar kenangan. Meski hidup di kampung dengan segala bentuk keprihatinan yang kualami bersama Bapak, Emak dan Nanik adikku tak menghalangi kami untuk berbahagia. Tak ada kesulitan untuk terbahak bersama. Apalagi dengan makan sego megono bersama dalam sebuah tampah kecil yang disiapkan oleh Emak. Saat itu rasanya aku berada dalam surga. 

“Lho ... Nduk? Kapan datang?” 
Sapaan laki-laki setengah baya yang memanggul pacul itu membuatku menoleh. Dengan memaksakan bibirku tersenyum aku pun menyambutnya. Saat mencium tangannya tak terasa air mataku menetes. Aku tak sanggup berkata-kata lagi. 

“Kok nggak bilang-bilang kalau mau pulang to, Nduk? Untung lho Bapak tadi masak lodeh pakai tempe bosok. Kesenenganmu toh? Sebentar yo, Bapak tak beli lauk di warung.” 
“Nggak usah, Pak. Lodeh sama tempe garit sudah cukup kok Pak.” 
“Yo wis. Bapak tak mandi dulu terus ke langgar. Kamu gawe teh dewe ya?” 

Kembali air mataku menetes. Aku merindukan laki-laki itu mendekapku. Sekarang. 

*** 



Bapak menghela napas saat aku selesai bercerita. Wajahnya tetap setenang dahulu. Tak pernah sekalipun Bapak menampakkan rasa tak suka, ataupun panik menghadapi hal-hal buruk. Betapa pintarnya Bapak mengontrol segala emosinya. Sabarnya laki-laki yang menjadi cinta pertamaku ini membuatku selalu datang padanya setiap kali punya masalah. 

“Bapak hanya akan mendengar ceritamu. Kamu bukan hak Bapak lagi. Kamu sudah jadi hak suamimu. Kalau Bapak memberi saran macam-macam itu hanya akan menambah riuh persoalan. Bicarakan dengan kepala dingin dengan suamimu. Hatimu masih panas. Mau selembut apapun suamimu bicara nggak mempan masuk ke hatimu. Wis nanti bakda Ashar Bapak antar ke terminal. Biar nggak kemalaman di jalan.” 

“Nuning mau menginap di sini saja, Pak,” tolakku. 
” Jangan. Suamimu pasti khawatir.” 
“Tapi aku nggak mau ketemu dia dulu, Pak,” rajukku seperti anak kecil. 
Rasah koyo cah cilik! Bapak akan antar kamu sampai ke dalam rumah kalian. Wis, rasah mbantah maneh!”

Aku tak jadi bersuara meski mulutku sudah membuka hendak berbicara. Kalau ketegasan Bapak sudah keluar, tak ada yang bisa melunakkannya lagi. 

Sehabis Ashar aku dan Bapak sudah berada dalam bis yang akan mengantarku pulang. Meski enggan menggantung di hati. Meski marah masih saja menyelimuti. Namun aku tetap harus pulang. 

“Jangan diulangi lagi yo Nduk? Pantang bagi perempuan pergi dari rumah tanpa ijin suaminya. Emakmu, meski marahnya seperti apa sama Bapakmu ini, tak pernah sekalipun pergi dari rumah. Ia memilih bersama kita daripada menuruti segala amarahnya. Baktinya pada Bapak tak pernah bisa dilupakan.” 

Mata Bapak meredup saat berbicara tentang Emak. Ya ... aku tahu. Cinta Bapak dan Emak memang sedemikian kuat sehingga ketika salah satu pergi, yang lainnya tak membutuhkan pasangan baru untuk menemani. 

Aku dan Bapak bercerita tentang Emak. Kadang menertawakan kekonyolan yang terjadi pada Emak. Kadang kala mata kami berkaca-kaca. Tak terasa dua jam berlalu cukup cepat sehingga saat maghrib datang kami sudah tiba di terminal kotaku. Kami pun langsung menuju mushola, lantas naik taksi online menuju rumah. 

Mas Krisna sudah di rumah. Kubiarkan ia bercakap dengan Bapak. Biarlah mereka bicara antar laki-laki. Lebih baik aku menghindar darinya. Hatiku masih sakit mengetahui ia tak punya kekuatan lagi untuk berada di pihakku. 

Aku letih. Sungguh. Mungkin ini adalah akhir dari perjuanganku. Mempertahankan pernikahan di usia yang ke-13. Ataukah takdir hanya membatasi kami bersama sampai angka 13? 

Dalam kelelahanku ini membuatku semakin sering menangis dalam sujudku. Terisak di sajadah dalam sepertiga malam. Meminta akan untuk satu hal terbaik yang bisa aku lakukan. Godaan untuk berpisah dari suamiku begitu kuat membujuk. Keinginan untuk tak lagi bertahan semakin lama semakin menguat. Apakah ini jawaban dari semua tangisku, Ya Allah? 

Hubunganku dengan Mas Krisna semakin mendingin. Kami tak lagi tidur sekamar. Bertegur sapa pun rasanya enggan. Namun aku masih tetap menyiapkan sarapan atau makan malam untuknya. Meski hanya sekali dua kali kami makan bersama. 

Dua minggu aku banyak berdialog dengan tuhanku. Tak ada petunjuk apapun. Tak ada kecondongan dari pilihan terus bersama suamiku atau berhenti bersamanya. Namun di sebuah bakda maghrib itu aku memberanikan diri menemuinya di ruang kerja. 

Kami duduk berhadapan. Matanya seredup mataku. Tarikan napasnya seberat tarikan napasku. Kami sama-sama melalui hari-hari yang lebih berat belakangan ini. Namun aku mencoba untuk memilih meski rasanya Allah belum memberikan petunjuk apapun. 

Lidahku kelu. Aku masih ragu. Apakah yang akan aku bicarakan ini menjadi keputusan paling tepat untuk kami? 

“Aku ingin bahagia, Mas,” ucapku pelan memulai pembicaraan. 
“Aku juga.” 
“Kalau kita bersama ternyata tak bisa membahagiakan semua pihak. Ada yang kecewa karena tak ada seorang pun yang bisa meneruskan trah Pulunggono darimu. Bolehkah ... aku pergi Mas?” suaraku makin pelan dan terbata. 
“Maksudmu?” 

Aku menangkap kepanikan dari suara Mas Krisna. 

“Mungkin ... takdir kita sampai di sini. Maafkan aku.” 
Mas Krisna terdiam. Menunduk. Saat ia mendongak, air mata sudah membasahi wajahnya. 

“Kalau itu bisa membahagiakanmu ...” 

Tiba-tiba saja melihat wajah Mas Krisna yang penuh air mata hatiku terasa hangat. Ia masih mencintaiku. Ia tetap mencintaiku. Ia juga seletih aku. Betapa egoisnya aku. Aku hanya melihat persoalan ini dari kaca mataku. Aku tak berjalan menggunakan sepatunya. 

Aku menghambur dalam peluknya. Erat. Saling membagi beban yang selama dua minggu ini kami tanggung sendirian. Aku akan mendampinginya. Apapun yang terjadi. Meskipun nanti ada perempuan lain di antara kami. Aku akan mengikhlaskannya. 

Seminggu kemudian Mas Krisna sudah rapi dengan batik terbaiknya. Aku yang membelikan batik tulis terbaik untuk acara pentingnya. Entahlah. Ia merasa penting atau tidak. Setidaknya Ibu terlihat gembira saat Mas Krisna mengiyakan untuk berkenalan dengan seorang perempuan yang bersedia menjadi istri keduanya. 

Aku mengantar sampai rumah Ibu. Sikap Ibu padaku masih sama. Namun pandangan matanya tak sesinis biasanya. Saat semuanya bersiap pergi, Mbak Ratih, istri Mas Dana, kakak Mas Krisna menepuk pundakku. 

“Maafkan keluarga kami, ya Dik Ning? Kalau Ibu sudah berkehendak, tak ada lagi yang bisa membantahnya. Bahkan jika seandainya arwah Romo bangkit dan melarangnya, aku yakin Ibu akan tetap menabrak larangan itu,” gurau Mbak Ratih. 

Aku tersenyum. Dan senyumku terus mengembang sampai mereka pergi menuju rumah seorang perempuan yang akan menjadi maduku. Setelah rumah Ibu sepi, aku kembali ke rumah. 

Aku berdzikir. Aku memohon pada Allah untuk memberiku keikhlasan yang tak berbatas. Kalau memang ini menjadi jalan kami, aku ingin semuanya berjalan baik-baik saja. 

Belum juga aku beranjak dari sajadah yang aku hamparkan, tiba-tiba saja aku mendengar suara Mas Krisna. 

“Dik Ning ... Dik Ning ...” 

Benar itu suara Mas Krisna. Aku heran. Kok cepat sekali acara itu berlangsung? Aku bangkit dan membukakan pintu untuknya. Belum juga pintu semua terbuka ia sudah menerobos masuk. 

“Mas?” 
Sekali angkat, aku sudah berada dalam gendongannya. Masih dengan mukena menempel di badan ia membawaku ke kamar dan pelan-pelan mendudukkanku di ranjang. Ia menggenggam tanganku erat. 

“Bagaimana acaranya, Mas?” 
“Nggak akan ada pernikahan kedua ataupun seterusnya. Jika nantinya Allah menakdirkan tak satupun keturunan lahir dari pernikahan ini bagiku tak masalah. Kita akan tua sama-sama. Sepakat, Dik Ning?” 
“Ibu bagaimana?” 
“Beliau tetap ibuku meskipun aku akan dibuang dari keluarga sekalipun. Aku tak bisa menjalani syarat-syarat yang diajukan jika aku menikahi perempuan itu.” 
“Lalu?” 
“Kita akan hidup tanpa beban. Takkan lagi konsultasi kesana kemari. Aku sudah pasrah. Aku ingin menikmati hidup tanpa ada tuntutan apapun. Bagaimana Dik? Setuju?” 

Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Kami hanya bertukar tangis. Tak ada keinginan untuk menghentikan. Yakinku ini adalah jawaban dari segala doaku. 

Setelah hari itu, kami lebih berbahagia. Lebih banyak menyisihkan waktu untuk pergi berdua. Sebulan bisa dua kali kami staycation di sebuah hotel. Pokoknya bulan madu setiap saat. 

Kami sudah sampai pada ujung kepasrahan. Tak ada lagi ikhtiar yang membuat kami terbeban untuk segera menuai hasil. Kami jalani kehidupan ini dengan kebahagiaan yang berlipat. Meski sesekali kerinduan pada tangis bayi tetap saja muncul. Namun kami realistis bahwa masalah itu ada pada kami berdua. Kami takkan lagi mendesak Allah untuk memberikan anugerah-Nya. Kami yakin bahwa Allah memberikan apa yang terbaik sesuai versi-Nya. 

Saat pasrah menjadi kata favorit kami. Ketika tak lagi memaksa Allah untuk memberikan buah hati untuk kami. Allah memberikan hadiah yang tak ternilai dalam usia pernikahan kami yang ke 14. Sebuah testpack ber-strip dua. 

*** 

Menatap parasnya membuatku makin bersyukur bahwa Allah selalu memberikan kebahagiaan diantara sejumlah ujian yang tak segera mendapat jawaban. Menimangnya menjadikanku makin percaya bahwa di antara air mata yang deras menetes Allah menghadirkan senyum untuk menghapus jutaan titik air mata yang sudah jatuh. Dan kehadirannya membawakan surga dunia di dalam keluarga kami. 

Selamat datang Krisnamurti junior. 

--- 
Selesai


ndrindil :  berurutan 
bojo : suami/istri 
seprono seprene : selama ini 
nyalahke awakmu dewe :menyalahkan diri sendiri 
mung urun : hanya menyumbang 
gabuk : arti harfiah : gabah tanpa isi. Secara istilah Jawa berarti mandul 
nyuwun pangapunten : mohon maaf 
sendiko dawuh : patuh pada keinginan 
sowan : mendatangi 
lincak : kursi panjang yang terbuat dari bambu 
Yo wis :  ya sudah 
langgar : mushalla 
gawe teh dewe : membuat teh sendiri 
Ojo koyo cah cilik : Jangan seperti anak kecil 
Wis, rasah mbantah meneh! : Sudah, tidak usah membantah lagi! 
Staycation : Istilah traveling untuk menginap di hotel