Jurnal Hati Irfa Hudaya

Minggu, 18 September 2022

Pengenalan Sains dan Keragaman Budaya (Multikultural) Melalui Cooking Demo di Yogyakarta Independent School
YIS sekolah internasional di Yogyakarta

Assalamualaikum temans,
Dulu, saat Kakak berusia tiga tahun kami pernah menitipkan anak di sebuah sekolah sekaligus penitipan anak. Bayangan saya waktu itu sangat bagus baginya mengenal teman-teman yang berbeda-beda baik dari ras, suku dan agama. Namun sayangnya waktu itu pengajar mengajarkan doa-doa tak menurut kepercayaan masing-masing. sehingga si Kakak hafal doa agama lain dan menerapkannya di rumah.

Karena saya tak sepakat dengan pengajaran tersebut akhirnya saya pun memindahkannya di sebuah sekolah yang berbasis agama. Usia tiga tahun masuk dalam usia golden age. Apapun bakal diserap olehnya.

Hal-hal yang terkait dengan perbedaan saya mengajarkannya di rumah. Saya membeli beberapa buku bergambar yang saya pilih sebagai alat pembelajaran. Selain itu dalam pertemanan saya memiliki sahabat yang berbeda ras, suku dan agama. Saya sering mengajak anak-anak mengunjungi sahabat saya sehingga dari kecil anak-anak pun terbiasa bagaimana mereka bertoleransi tanpa harus mencampuradukkan perbedaan.

Mengunjungi Yogyakarta Independent School.

Sekolah IB di Yogyakarta
Hari Kamis lalu saya datang ke sebuah sekolah internasional di Yogyakarta. Setiap kali datang ke sekolah ini rasanya adem. Begitu masuk ke dalam gerbang utama sebuah danau buatan menjadi pemandangan saya. Tak ketinggalan pepohonan yang rimbun tertata rapi di areal sekolah tersebut. Kalau kata saya sih, sekolah rasa resort. Udah berasa refreshing tiap kali datang ke sekolah ini.

Masuk ke area halaman joglo yang biasanya digunakan untuk berbagai kegiatan bendera dari berbagai negara berbaris rapi. Mungkin lebih dari lima belas bendera negara yang berbeda berkibar di sana. Sepertinya ini menunjukkan bahwa siswa sekolah internasional ini berasal dari negara-negara tersebut. Bendera Indonesia terlihat menonjol. Ia terkibar dalam tiang yang tertinggi. Saya rasa ini sebuah attitude yang bagus. Dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung.

Saya rasa setiap kali berbicara tentang sekolah IB di Yogyakarta, masyarakat pun sudah tahu sekolah yang dimaksud. Di mana lagi ada sekolah yang memiliki area begitu luas dan bisa memandang Gunung Merapi di kejauhan saat cuaca cerah kalau bukan Yogyakarta Independent School.

Di sekolah ini saya melihat langsung pembelajaran Primmary Years Programme terutama untuk grade 3-6. Kebayang nggak sih teman-teman bagaimana Yogyakarta Independent School (YIS) memberikan pemahaman tentang sains bagi anak-anak?

Awalnya saya kira ada praktikum di lab atau apa gitu. Kira-kira apa ya yang dilakukan pendidik di sana untuk mengenalkan sains pada anak-anak?

Sains dalam keragaman budaya di Yogyakarta Independent School

Meski sudah melakukan pertemuan tatap muka 100% YIS tetap menerapkan protokol kesehatan. Pemakaian masker tetap digunakan oleh pengajar dan anak-anak. Fasilitas cuci tangan dengan sabun pun ada di sana. Tak kurang-kurangnya pengajar mengingatkan pada anak-anak untuk mencuci tangan. Sama sekali masker tak dilepas kecuali pada saat anak-anak makan, minum atau kegiatan luar ruang. Itu pun jika benar-benar memerlukan banyak udara yang dihirup lari-larian atau bermain bola.

Hari Kamis, 15 September 2022 anak-anak kelas 3-6 Yogyakarta Independent School belajar tentang sains. Mengenalkan anak-anak tentang sensorik pada tubuh manusia. Mereka belajar tentang indra penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan (sentuhan) serta indra perasa. Bagaimana sekolah yang menerapkan kurikulum International Baccalaureate ini mengenalkan kelima indra itu dipadukan dengan pembelajaran sains untuk anak-anak klas 3-4 dan multikulturalisme (keanekaragaman budaya) untuk anak-anak klas 5-6?

Poori Bhaji

Cooking demo. Tadinya saya belum ‘ngeh’ bagaimana sains dihubungkan dengan memasak. Namanya saya produk generasi X dalam pikiran saya sains ya laboratorium beserta gelas-gelas ukurnya. Namun saat ngobrol dengan pihak sekolah mengenai pembelajaran menghargai keberagaman itu saya baru paham bahwa pembelajaran di YIS ini memang disesuaikan dengan kondisi anak-anak yang berasal dari berbagai kebudayaan di dunia.

Saya jadi ikutan excited. Ibu Lata Duseja, wali murid dari Prisha salah satu siswa di Yogyakarta Independent School ini menjadi narasumber tentang keberagaman budaya yang tertuang dalam makanan India. Menurut Ibu Lata Duseja orang-orang India kebanyakan suka dengan sayur-sayuran karena ada larangan makan daging sapi. makanya di India banyak sekali makanan yang berbahan baku sayuran. Seperti hari Kamis lalu. Ibu Lata Duseja mengajak anak-anak dan para pendidik untuk memasak Poori Bhaji.

Poori Bhaji merupakan kuliner India yang biasanya disajikan untuk sarapan. Roti goreng yang disajikan dengan kentang yang dimasak dengan sayur lainnya. Kentang dan sayur lain yang dimasak dengan rempah-rempah khas India benar-benar menggoda indra penciuman kami yang berada di area sekolah.

Anak-anak begitu excited mengikuti tahap demi tahap Ibu Lata Duseja mengajak mereka memasak. Setelah mengolah kentang dan sayuran anak-anak diajak untuk menggiling bahan roti sampai tipis dan bulat.

YIS

Tak hanya anak-anak. Para pengajar pun mencoba menggiling roti hingga tipis. Pembelajaran yang begitu menyenangkan. Bahkan anak-anak yang tak mau pun tak dipaksa untuk mencoba melakukan yang tak ingin mereka lakukan.

sekolah international di Yogyakarta

“I’m so hungry.”
Teriak beberapa anak membaui masakan yang belum selesai untuk disajikan. Beberapa anak berusaha mendekat ingin melihat lebih dekat lagi. Saat masakan semua telah selesai. Anak-anak pun bergiliran mengambil roti dengan tertib dan makan bersama.

Saya pun ikut mencicipi Poori Bhaji. Rasanya seperti kare, namun ada beberapa rempah yang saya nggak familiar rasanya. Saya pribadi suka dengan roti goreng yang hampir mirip dengan rasa tortilla. Enggak yang crunchy, tapi tetap garing dan tak menyerap minyak.

Beberapa anak makan Poori Bhaji ini sampai tambah tiga kali. Bahkan ada yang makan roti gorengnya sampai 5 buah. Menyenangkan sekali anak-anak ini.

Sekilas Yogyakarta Independent School

Saya selalu terkesan setiap kali mengikuti kegiatan di sekolah internasional ini. Di tahun 2020 saya begitu terkesan dengan sopan santun anak-anak di sekolah ini. Kemarin saya melihat bagaimana seorang pengajar menjadi seorang teman bagi siswa di Primary Years Programme. Saat seorang siswa ingin bicara dengan pendidik, beliau pun berjongkok, supaya sejajar dengan anak didik. Berbicara dengan pelan dan banyak tersenyum.


Apa yang saya lihat itu sesuai dengan kurikulum yang dipakai oleh Yogyakarta Independent School. Sekolah serasa bermain ini menggunakan Kurikulum International Baccalaureate yang berasal dari Swiss. Kurikulum ini ditujukan untuk anak dengan usia 3-18 tahun. Kurikulum ini diterapkan untuk pre-school sampai high school. Program IB yang ditawarkan oleh YIS adalah:
  • IB Primary Years Programme (PYP) untuk usia 3-12 tahun (setara TK dan SD)
  • IB Middle Years Programme (MYP) untuk usia 11-14 tahun (setara SMP)
  • IB Diploma Programme (DP) untuk usia 15-18 tahun (setara SMA)
Kelebihan dari kurikulum ini adalah mengeksplorasi kemampuan anak di berbagai bidang. Kurikulum ini mendorong siswanya untuk berwawasan global, kreatif, mengembangkan kemampuan emosi, intelektual dan sosial. Mereka juga diharapkan berkontribusi positif terhadap lingkungan dan budayanya. Diharapkan anak-anak makin berkembang minat dan bakatnya saat berada di YIS.

Ada empat alasan lain mengapa orang tua yang berada di Yogya perlu mempertimbangkan YIS sebagai sekolah untuk pembelajaran anak-anak di luar kurikulum International Baccalaureate yang dipakai oleh sekolah-sekolah di dunia.
  1. Ada 6,5 Hektar area sekolah yang bisa dijadikan laboratorium alam bagi anak-anak. Luasnya tempat menjadikan anak merdeka dalam bereksplorasi.
  2. Lingkungan belajar yang menarik dan aman tentunya akan mempermudah siswa dalam pembelajaran. Selain itu orang tua pun tak lagi khawatir jika anak-anak melakukan atau mendapatkan sesuatu yang buruk di sekolah
  3. Biaya sekolah yang terjangkau. Untuk fasilitas-fasilitas sekolah yang disediakan dan seluruh pembelajarannya saya rasa masih masuk akal dibandingkan dengan sekolah-sekolah internasional lain.
  4. Masuk ke universitas-universitas dunia. Hal ini dikarenakan kurikulum yang dipakai sesuai dengan pembelajaran sekolah-sekolah terbaik di dunia sehingga alumni Yogyakarta Independent School lebih mudah mendapatkan kesempatan itu.
Sekolah ini emang reccomended banget. Buat teman-teman yang menginginkan putra putri bersekolah di sekolah internasional langsung aja ke kampusnya untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat.

YOGYAKARTA INDEPENDENT SCHOOL (YIS)
Jl. Tegal Mlati No. 1, Jombor Lor, Sinduadi, Mlati, Sleman,
Daerah Istimewa Yogyakarta, 55284, Indonesia 
Telp: (0274) 5305147 | WhatsApp: +628112632442

Sabtu, 03 September 2022

Kebab Isi Telur dengan Kraft Quick Melt
Camilan rumahan menggunakan keju leleh



Assalamualaikum temans
Buat saya kata September Ceria memang memiliki makna. Di bulan September ini akhirnya luka pasca operasi Tumor Mamae Sinistra (Tumor Payudara Sebelah Kiri) sudah menutup semuanya. Pengobatan pun dinyatakan selesai. Hal ini seperti memberi harapan baru untuk kembali beraktivitas seperti biasa.

September ini pun saya harus terbiasa untuk melepas Kakak kos. Meski kuliahnya hanya di Jogja, yang bisa saya tempuh kurang dari satu jam, namun karena dua tahun ini sudah terbiasa 24 jam barengan barengan jadi terasa berat rasanya. Apalagi saat saya sakit saya memang totally tergantung padanya.

Kakak, Kuliah dan Kos

Sekarang sudah mulai terbiasa memelihara rindu. Saat ia pulang rasanya seperti berpuluh tahun lalu saat pujaan hati datang berkunjung. Berbunga-bunga mendengar suara motornya masuk ke garasi. Menyambutnya di depan pintu meskipun yang ia bawa adalah baju kotor. Menyiapkan telinga saat ia riuh bercerita dengan seluruh kegiatan di kampusnya.

Senang mendengarnya bercerita. Anak yang dulu introvert parah ini sekarang sedang berusaha membuka diri. Perkuliahan, aktif di Dewan Perwakilan Mahasiswa serta pertemanan yang lebih luas membuatnya makin bersemangat mengeksplorasi kemampuan dirinya.

Tak ketinggalan cerita-cerita seputar anak kos yang kudu ngirit uang bulanan supaya bisa ‘selamat’ sampai akhir bulan. Sarapan sekadar minum susu, makan siang yang dirapel dengan makan malam. Atau jika pengen banget makan makanan yang harganya lumayan berbunyi maka ia akan membagi lauk itu dalam beberapa kali makan.

Setiap kali ia hendak pulang ke rumah saya menyiapkan sesuatu yang istimewa untuk dihidangkan di meja makan. Meskipun menggunakan apa yang sudah tersedia di kulkas. Namun selalu berusaha memahat kenangan di lidah supaya ia selalu merasa kangen dengan masakan ibunya.

Terkadang ia request makanan atau lauk jika ia pulang. Tentunya akan saya usahakan. Biasanya kami akan memasak bersama. Sambil bercerita yang muternya kayak sampai ujung dunia. Dan tentunya menerbitkan tawa.

Beberapa kali saat ia pulang kami juga membuat camilan. Biasanya sih bahan-bahannya yang ada di dapur aja. Kami menghindari keluar rumah kalau sudah punya rencana membuat sesuatu. Biasanya kalau Kakak dan saya keluar rumah ujung-ujungnya terdampar di sebuah tempat makan atau ngemall. Balik-balik sudah nggak ingat kalau mau bebikin.

Tempo hari saat saya iseng-iseng beli tortila. Saat itu saya nggak kepikir mau bikin apa. Karena saya berkunjung ke teman yang jualan frozen food. Nggak enak kalau nggak belanja di sana. Melihat tortila dengan jumlah tak banyak dan harga yang murah meriah membuat saya pun membawanya ke rumah.

Membuat camilan dengan bahan yang tersedia di rumah

Saat Kakak pulang akhir pekan lalu ia mengatakan jika ingin membeli kebab di tempat langganan kami. Saya jadi teringat kalau punya tortila di rumah. Membuka kulkas ternyata ada bahan-bahan sederhana untuk membuat kebab. Nggak papa isinya telur aja. Nanti jika ditambah dengan keju Kraft Melt tentunya akan jadi hidangan istimewa.

Si Kakak yang jiwa ngiritnya sudah mirip sama saya pun girang menemukan tortila di rumah. Ia pun segera menyiapkan bahan-bahannya. Lantas kami pun mengeksekusi bahan-bahan yang telah tersedia.

Resep Kebab isi telur

Bahan-bahan :
Kulit tortila

Isian :
Telur dadar di potong pendek
Selada diiris sedang
Bawang bombay diiris tipis
Tomat diiris tipis-tipis
Keju Kraft Quick Melt diparut

Saus :
Saus tomat
Saus sambal
Mayonaise

Kebab isi telur dengan Kraft Quick Melt



Cara membuat :

kebab dengan isian Kraft Quick Melt


  • Ambil selembar tortila. Tata di atasnya dengan telur dadare, selada, tomat serta bawang bombay yang telah diiris tipis. Setelah itu tambahkan saus tomat, saus sambal, dan mayonaise. Tak ketinggalan taburi dengan parutan Keju Kraft Quick Melt. Gulung tortila perlahan, jangan sampai tortila retak. Sisihkan.
  • Panaskan wajan dengan sedikit minyak. Goreng kebab dengan api kecil. Bolak balik sehingga warnanya kuning kecoklatan secara merata. Tak perlu waktu lama karena tortila mudah matang.
  • Hidangkan.

Mudahkan? Si Kakak pun hepi banget. Apalagi melihat lelehan Keju Kraft Quick Melt dari dalam kebab. Siang itu pun kami nggak makan nasi. Kekenyangan makan kebab isi telur dengan lelehan Kraft Quick Melt.

Sebenarnya tak hanya kebab isi telur yang kami buat. kami juga membuat Kebab isi pisang coklat plus lumeran Kraft Quick Melt di dalamnya. Sayangnya saya tak sempat memotret penampakannya. Si Kakak sudah nggak sabar memindahkannya ke dalam perut.


Mengapa memilih Kraft Quick Melt?


Keju Leleh dari Kraft



Sejak lama kami selalu memilih Kraft sebagai keju pilihan kami. Ditambah lagi dengan adanya varian Kraft Quick Melt. Meski harga lebih tinggi dibandingkan merk lain, namun lidah kami cocok dengan Keju Kraft. Rasanya pas, tak perlu ditambahkan garam saat menggunakannya di dalam olahan makanan gurih maupun manis.

Keju ini merupakan keju yang lunak, sehingga saat dipanaskan bisa meleleh dengan mudah. Cukup tiga menit maka keju ini akan langsung menggoda lidah. Digunakan sebagai toping pun akan terlihat cantik karena lelehannya tak terlalu encer maupun kental. Serba pas.

Kraft Quick Melt bisa digunakan untuk masakan gurih atau manis. Rasanya nggak bikin eneg. Pekan ini kami akan membuat puding roti. Kami akan mencoba membuat camilan ini dengan teknik memanggang Au Bien Marie. Kira-kira bakal selezat apa ya nanti?

O ya, biasanya ibu-ibu bingung nih mau masak apa di akhir pekan. Coba deh berkunjung ke bundakraft.com untuk nyari-nyari inspirasi. Jangan lupa cus eksekusi ya kalau sudah nemu resep yang cocok?

Rabu, 06 Juli 2022

Drama Operasi Tumor Payudara (2)
operasi tumor payudara sebelah kiri



Udah baca Drama Operasi Tumor Payudara yang pertama? Kalau belum, langsung klik DISINI ya?

Sekitar jam 22.00 perawat masuk ke dalam kamar. 
"Bu, puasa mulai jam dua belas malam ya, Bu. Sekarang makan aja sebanyak-banyaknya. Ibu besok puasa bisa sampai jam enam sore lho."

Baiklah ... Saya pun sahur di tengah malam dengan hasil kulineran si Kakak saat itu. 



Pagi hari sekitar jam enam sudah harus berganti dengan pakaian khusus untuk operasi. Pakaian yang nggak ada kancingnya itu lho, yang dipakainya pun dibalik. Pengalaman dua tahun lalu, pasien operasi pengangkatan tumor payudara hanya diizinkan memakai celana dalam selain pakaian operasi.

Setelah mandi saya pun mengambil pakaian dalam untuk ganti. Entahlah ... kudu ketawa atau ngomel sama si Kakak.

“Kak, yang dibawa kok CD yang bolong semua?”
“Kan Bunda nggak bilang kudu bawa CD yang mana.”
“Kalau operasi kan dibuka pakaian operasinya. Ya gimana kalau itu dokter sama perawat lihat daleman Bunda?”
“Kan nggak bilang yang mana to? Kupikir ya yang paling sering Bunda pakai aja.”

Haduhhh ...
Langsung saya WA ayahnya untuk membawakan dalaman yang masih lumayan bagus. Untung beliau baru mau berangkat sehingga terselamatkanlah saya dari daleman bolong. Sekitar jam 6.15 perawat masuk untuk memasang infus di tangan kanan saya. Sambil ngobrol dan bercanda mbak perawat.

suasana di rumah sakit

Seorang laki-laki memakai baju abu-abu tiba-tiba masuk ke dalam kamar rawat inap saya. Dengan mata yang minus 3,5 saya nggak begitu jelas melihat siapa yang masuk ke dalam kamar tiba-tiba. Posisi saya tiduran pula. Bayangan saya adalah rohaniawan yang mau ngedoain kayak di rumah sakit di Muntiilan, kota kecil saya. Saya bingung nyari jilbab, sementara mbak perawat yang masih merapikan pemasangan jarum infus di tangan saya menatap heran.

“Assalamualaikum,” suara laki-laki itu.

Sedetik saya mengenali suara itu langsung pecah tawa saya. Saya nggak ngenalin jaket abu-abu yang dipakai oleh si Ayah.

“Ealah Bu Irfa, belum di anestesi aja sudah nggak inget suaminya,” celetuk mbak perawat sambil terkekeh melihat reaksi saya. “Saya yang belum pernah lihat suaminya aja langsung paham itu suami Bu Irfa lho.”

Mbak perawat masih terkekeh saat keluar kamar. Sampai ditanya oleh perawat yang di luar. Tak berapa lama dokter Welman masuk. Beliau menandai mana yang akan di operasi.

Proses Operasi

Sekitar jam 9.55 saya mulai dibawa ke luar kamar rawat inap. Si Kakak mencandai saya.

“Aku tuh pengen tahu. Kalau Bunda pas nge-fly ngapain ya? Kan ada tuh yang nyanyi, ada juga yang curhat. Kalau bunda kira-kira perawat di ruang operasi diajak julid nggak ya?”

Jangan sampai ah...
Saya ingat waktu operasi dua tahun lalu yang saya pikirkan adalah waktu shalat karena mikir kalau operasinya lama. Dan begitu sadar saya langsung minta shalat. Kali ini begitu masuk ruang operasi saya berdzikir dalam hati.

Persiapan di ruang operasi lebih lama dari operasi yang lalu karena menunggu dokter Welman yang sedang mengoperasi pasien lain. Di tinggal sendirian di ruang operasi dengan alat yang bergelantungan begitu tetep aja bikin ati ciut. Belum lagi kondisi ruangan yang dingin banget sampai bikin badan menggigil. Tetapi saya tetap berkomunikasi dengan perawat untuk mengurangi rasa takut. Kalau dulu saya benar-benar memejamkan mata mulai masuk ke ruang operasi. Kali ini saya baru memejamkan mata ketika saya mulai dianestesi.

“Bu, operasinya sudah selesai,” lamat-lamat suara perawat masuk ke telinga saya. Lampu di atas saya sudah dipadamkan. Beberapa alat sudah di tutup dan saya merasakan perih di dada kiri. Tanpa sadar saya mengucapkan dzikir berkali-kali. Oleh perawat saya dibiarkan untuk berdzikir. Dzikir saya berhenti ketika sudah nggak nge-fly lagi.

“Ibu sudah sadar sepenuhnya ya? Proses operasi hanya tiga puluh menit, Bu. Nggak ada penyulitnya. Alhamdulillah.”
Saya tersenyum.
“Sebentar lagi Ibu pindah ke ruang perawatan.”

Saya di pindah ke sebuah ruangan. Saat menengok ke samping ada sosok yang terbaring di tempat tidur juga. Ah ... sesama pasien ini.
Tak berapa lama saya dibawa keluar. Saya pun dipindahkan ke tempat tidur yang membawa saya ke ruang perawatan. Si Ayah ternyata menunggu saya di depan ruang operasi. Melihat saya sudah sadar beliay tersenyum dan menggenggam tangan saya.

Pasca Operasi

Efek obat bius masih ada sih. Saya ngantuknya luar biasa. Praktis pasca operasi saya hanya melek untuk shalat dan membalas beberapa WA yang masuk. Sempat juga selfi sebentar, setelah itu tidur lagi. 

operasi tumor payudara


Bakda Ashar perawat masuk untuk mengukur tensi darah dan menyuntikkan antibiotik. Mereka menanyakan hal yang sama.

“Mual atau ingin muntah nggak, Bu?”
“Enggak.”
“Pusing?”
“Enggak juga.”
“Lemas?”
“Enggak juga?”
“Ada keluhan lain, Bu?”
“Laper...”

Perawat tentu aja ketawa. Saya kan memang harus puasa mulai jam 12 malam sampai dengan 6 jam pasca operasi. Selesai operasi jam 11 tentu saja jam 17.00 saya baru boleh minum seteguk seteguk. Baru 30 menit kemudian saya baru diperbolehkan untuk makan, itu pun pelan-pelan.

“Ibu kan tadi di bius total. Kalau bius total kan seluruh organ dalam juga di lemahkan. Makanya harus ada jeda 6 jam untuk memulihkan organ dalam, Bu,” kata mbak perawat yang terakhir datang bakda Ashar itu.

Ketika masanya boleh makan saya benar-benar menikmati. Orang bilang masakan paling nggak enak itu masakan rumah sakit. Kalau saya kok ngerasa enak-enak aja tuh. Semua menu yang dihidangkan oleh rumah sakit saya santap sampai habis.

“Yah, minta nambah sayur boleh nggak ya? Masih laper.”
Si Ayah geleng-geleng kepala aja. Pasiennya kemaruk.

Esok harinya si Ayah berangkat kerja dari RS. Si Kakak dan Adek dateng sebelum si ayah berangkat. Dokter Welman visitasi sekitar jam 06.30.

“Kemarin yang kami angkat adalah bekas air susu yang sudah menjadi nanah, Bu. Kenapa itu perlu diangkat? Yang kami khawatirkan jika terjadi perlengketan dan merusak jaringan sehat. Itu yang membahayakan karena bisa jebol keluar. Sekalian kantong susunya kami ambil, Bu. Sudah tidak berencana untuk hamil lagi, kan?”

Saya ketawa aja. Ya kali umur segini mau hamil lagi.
“Boleh pulang hari ini kan, dok?” tanya saya.
“Boleh.”
Hepi banget. iyalaahhh ...

Kakak dan Adek pun saya minta untuk packing. Infus dilepas sekitar jam 09,30 setelah seperangkat obat antibiotik dimasukkan ke dalam tubuh saya. Karena perban yang digunakan adalah perban plastik, saya pun bisa mandi sesuka hati.

Sekitar jam 12.30 administrasi telah selesai. Seorang petugas masuk ke dalam kamar sambil membawa bill yang harus diurus. Si Kakak lagi keluar karena membeli makanan.

“Ya udah deh, biar saya aja mbak,” kata saya.
“Ibu pasiennya kan?” si mbak petugas nanya.
“Iya mbak.”
“Biasanya kalau pasien dilarang kemana-mana dulu, Bu. Takut kenapa-napa.”

Hihihi ... Lupa euy kalau lagi jadi pasien. Akhirnya Adek yang mengurus administrasinya. Tak berapa lama Adek dateng barengan dengan Kakak.

Setelah shalat Dhuhur, kami pun pulang. Saat merasa kamar sudah bersih, saya pun ruang administrasi bangsal menyerahkan sedikit makanan buat yang ada di sana.

“Lho, Bu. Nggak usah.”
“Nggak papa. Buat semuanya kok.”

Lalu saya dan anak-anak pun melangkah pergi.

Wait ...
Kayaknya ada yang ngganjel sih. Tapi apa ya?
Saya masih mengingat-ingat apa yang salah saat menunggu taksi online. Sampai taksi online datang menjemput saya masih belum nemu apa yang ngganjel. 

Sampai 1 km dari RS. Saya memeriksa tas saya. Menemukan nota pembayaran yang masih rangkap dua.
“Lah ... kok nggak ada surat kontrolnya?”

Oalah ...
Saya lupa memberikan salah satu slip nota pembayaran ke administrasi bangsal. Biasanya saat memberikan nota itu maka pasien pun akan diberikan surat jalan untuk kontrol.

“Mas, bisa nggak kembali ke RS. Ada yang kelupaan.”
“Baik, Bu. Nggak papa.”

Untung si mas sopir baik hati. Tanpa nggrundel tetap melayani sepenuh hati. Saya kembali ke bangsal. Mbak perawat di bangsal mengenali saya.

“Mbak, maaf, saking senengnya pulang sampai lali nyerahin ini lho.”
“Lha iya, Bu Irfa kok nggenjrit mawon. Tadi ya podo ngomong, ’Lho itu lak Bu Irfa to? Itu kan pasien to, kok jalannya sudah gagah gitu?”

Saya ngekek. Selesai urusan nota dan surat kontrol saya pun benar-benar pulang ke rumah.

Operasi kali ini memang lebih ringan dibanding operasi dua tahun lalu menurut saya. Kalau dulu lukanya cukup besar sehingga menghambat saya mengurus diri sendiri, bahkan jalan pun harus sungguh berhati-hati karena gesekan lukanya terasa. Tumor payudara di kanan yang cenderung ke arah ketiak membawa pengaruh pada tangan kanan yang jadi lemas. Bahkan sampai seminggu saya baru bisa mengangkat sendok. Saya tak bisa mengangkat beban yang berat seperti gayung yang berisikan air penuh untuk sementara waktu karena terasa nyeri di lukanya saat itu.

Namun operasi kali ini berbeda. Saya nggak begitu merasakan perih ataupun gesekan di lukanya. Entah karena lukanya yang lebih kecil, atau karena tumor payudara kiri yang letaknya ada di belakang puting jadi nggak berpengaruh dengan syaraf atau otot di tangan. Secara fisik saya merasakan baik-baik saja. Sementara secara psikis sempat merasakan perubahan namun tak lama. Kalau dulu saya merasakan berminggu-minggu perasaan tak nyaman dan insecure. Sementara kali ini cukup sehari dua hari merasakan baper setelah itu enggak lagi. Sudah kembali seperti semula.

Tentang operasi tumor payudara pertama dan perasaan insecure saya bisa dibaca DISINI
 
Dramanya sudah usai. Meski saat menuliskan ini saya jahitan belum diambil namun saya sudah mulai melakukan berbagai aktivitas. Kalau nuruti karep ya sudah motoran kemana-mana :)

Drama Operasi Tumor Payudara (1)
operasi payudara sebelah kiri
gambar : Sasin Tipchai dari Pixabay

Dan terjadi lagi ...

Agustus 2020 saya melakukan tindakan medis pengambilan tumor di payudara sebelah kanan. Kata dr. Isti Sad, Aryanti Sp. Bedah yang menangani saya waktu itu mengatakan bahwa Tumor Mamae Dextra yang ada di tubuh saya itu sudah ada sejak setahun sebelumnya. Ukurannya pun sudah besar sebesar telur bebek. Dan pernah saya tuliskan juga cerita tentang itu DISINI.


SADARI (Periksa Payudara Sendiri)


Februari 2022, saya masih kejar deadline novel yang dipesan oleh sebuah penerbit di Bandung. Tiba-tiba saja saya merasa denyutan tak biasa di payudara sebelah kiri. Denyutan itu serupa rasanya saat kita mau haid. Padahal waktu itu saya baru saja selesai haid. Saya pun langsung curiga.

Saya angkat tangan kiri saya lalu melakukan sadari. Meraba dada sebelah kiri mencari sesuatu yang mencurigakan. Kok nggak ketemu. Lalu saya coba berbaring dan melakukan sadari kembali. Harapan saya cuma kekhawatiran doang. Akan tetapi saya kembali menemukan benjolan di payudara sebelah kiri. Letaknya lebih ke tengah dibanding benjolan payudara kanan yang cenderung ke arah ketiak.

Karena masih kecil, saya diamkan saja. Apalagi kerjaan saya masih butuh banyak perhatian. Pekerjaan yang saya lakukan mulai 17 Januari dan harus selesai 17 April dengan jumlah 400 halaman pastinya akan bakal menguras energi yang berlebih.


Pemeriksaan Tumor di RSUD Kota Magelang

Setelah Idul Fitri, saya baru ngerasa begitu terganggu dengan benjolan ini. Denyutnya makin sering. Apalagi saat itu ada saudara dan teman komunitas yang mengalami Ca Mamae membuat saya beberapa kali mengalami psikosomatis. Setiap habis bertemu atau di telp, saya seperti mengalami apa yang dialami oleh mereka. Terkadang saya merasa sakit punggung rasanya sampai seminggu seperti yang diceritakan teman saya. Lantas pertengahan bulan Juni saya memantapkan diri untuk melakukan pemeriksaan. Seperti dua tahun lalu, oleh faskes 1 di Muntilan saya pun dirujuk ke Rumah Sakit Umum Kota Magelang karena rekam medis saya sudah ada di sana.

Jumat tanggal 17 Juni 2022 saya pun ke Rumah Sakit Kota Magelang karena Jadwal dr. Isti ada setiap hari Senin, Rabu dan Jumat. Qodarullah dr Isti pun ternyata sedang melakukan pengobatan sehingga tak bisa praktek di poli bedah umum. Pemeriksaan pertama di lakukan oleh dr. Narendra, spesialis bedah onkologi

Saya yang orangnya overthinking, berjejeran dengan survivor Ca. Cerita-cerita mereka membuat saya jadi ciut. Sangkaan mereka saya mengalami dengan hal yang sama. Sebelah saya seorang ibu yang usianya mendekati 60 tahun bercerita los banget. Membuat saya begidig dengan cerita luka yang dialaminya saat itu. Alhamdulillah si ibu tinggal melakukan pengobatan satu tahun lagi. Dan saya pun berpindah bangku, saat merasa payudara saya denyutnya makin kenceng.

Oleh dr. Narendra saya dianjurkan untuk melakukan mamografi. Saat berada di radiologi saya harus antri di hari berikutnya karena jatah pemeriksaan di radiologi untuk hari itu dan Sabtu sudah full. Nggak papa juga batin saya, karena hari Senin saya harus datang ke spesialis bedah.

Senin 20 Juni 2022 saya datang ke RS jam 07. 15. Antrian daftar saya sampai 43. Saya pun naik ke lantai 4 menunggu pendaftaran. Saya lihat antrian masih lama. Lantas saya pun turun ke lantai satu di bagian radiologi.

“Dr. nya datang jam 08.30 ya Bu?” kata petugas di radiologi. Saya pun naik lagi ke lantai empat. Antrian di bagian saya masih cukup panjang. Saya menepati waktu jam 08.30 sudah duduk manis di radiologi.

“Dr. nya datang jam 09.00 bu.”

Baiklah ... Saya kembali lagi naik ke lantai empat untuk antri pendaftaran. Saya kudu banyak bersabar karena antrian di atas begitu lama. Karena masyarakat kita selalu menggunakan waktu Indonesia bagian karet, saya pun turun jam 09.30 ke radiologi.

“Ibu, dokter radiologi sedang rapat. Ini pemeriksaan ada dua kali, mamografi dan USG. Mari bu, saya lakukan mamografinya dulu.”

Alhamdulillah ... setidaknya saya wira wiri naik turun lift nggak sia-sia kali ini. Pemeriksaan mamografi dilakukan oleh perawat di sana.

“Benjolannya sudah lama, Bu?”
“Baru beberapa bulan.”
“Ada saudara yang kena kanker Bu?”
“Ada .... tapi ...”
“Kalau ada saudara yang kena kemungkinan kena juga besar, Bu.”

Saya auto ngedrop. Padahal yang saya maksud saudara itu bukan saudara sedarah. Saya males membalas omongan mbak perawat. Saya cukup memasang muka ramah meski hati nggrundel luar biasa.

“Kenapa ya mbak, sekarang saya dianjurkan mamografi sementara dua tahun lalu saya melakukan USG Rontgen?” tanya saya ke mbak perawat.
“Oh ... Mamografi itu digunakan untuk perempuan yang usianya 45 tahun ke atas. Untuk yang payudaranya sudah lembek.”

Dalam hati ya ngekek. Kok ya kudu dijelasin kalau payudara wanita usia 45 tahun sudah lembek gitu lho.
Pemeriksaan mamografi tuh serasa seperti memindai payudara. Saya tak merasakan sakit meski scan itu seperti berjalan di atas payudara pasien. Sebuah kotak kecil yang akan memindai payudara pasien dari tiga sisi. Sisi kanan, kiri dan depan. Biasanya pemeriksaan itu dilakukan di kedua payudara bukan hanya di bagian yang dikeluhkan saja.

Begitu selesai melakukan mamografi saya kembali naik ke atas. Sebelumnya mbak perawat mengatakan jika si dokter akan melakukan kegiatan lain setelah jam 11.00. saya di wanti-wanti untuk datang kembali sekitar jam 10.30.

Pas naik ke atas, belum juga dapet giliran. Lantas saya duduk di dekat ibu-ibu yang ngobrol seru. Ibu-ibu sesama pasien ini pun mengajak mengobrol. Untungnya obrolan mereka emak banget, jadi bisa nyambung lah. Sampai jam 10.30 saya harus ke bawah lagi. Salah satu ibu itu mau mengantrikan jika giliran saya datang.

Saat saya sampai di radiologi saya dipersilakan untuk menunggu dokter di ruang pemeriksaan USG dan mamografi. Si perawat sudah meminta saya berbaring dan melepas baju. Lantas mbak perawat memberikan selimut untuk menutup tubuh sementara dokter belum datang. Ruangan yang dingin membuat nyaman banget dalam selimut tebal. Rasanya sampai terkantuk-kantuk menunggu dokter. Ketika mbak dokter radiologi masuk, saya sempat terlelap sehingga beliau pun tertawa saat membangunkan saya.

Beliau melakukan pemeriksaan USG. Persis kalau kita melakukan pemeriksaan USG kehamilan. Dari pemeriksaan USG ternyata nggak hanya di payudara sebelah kiri. Namun di payudara sebelah kanan pun ada tumornya, namun kecil-kecil tak sampai 1cm. ada dua, namun kemungkinan diambil kecil karena untuk diameter sekian tak nampak saat dioperasi.

Sementara di payudara sebelah kiri ada dua tumor yang ukurannya sekitar 2cm dan tumor itu berdempetan.

Saya terkesan dengan dr Fajar, dokter radiologi di RSUD Kota Magelang. Dengan tutur kata yang lembut beliau menerangkan dan memperlihatkan apa saja yang perlu saya ketahui. menurut beliau dengan USG payudara sebelah kiri saya itu menunjukkan insya Allah itu adalah tumor jinak.

Tumor payudara
hasil pemeriksaan USG dan Mamografi di radiologi

Ciri-cirinya adalah batas gambar yang jelas antara massa tumor dengan jaringan sehat. Massa tumor yang full hitam di gambar USG tersebut. Sementara jaringan sehat adalah gambar yang bergaris-garis. Sementara jika tumor itu kemungkinan membahayakan adalah jika gambar di USG itu batasnya bergerigi atau tak ada batas yang jelas antara massa tumor dan jaringan sehatnya.

Saya masih harus menunggu hasil analisa dari dokter radiologi sehari kemudian. Kontrol saya dengan dokter Welman pengganti dr. Isti akhirnya dilakukan hari Jumat tanggal 24 Juni 2022 karena tanggal 22 saya harus menghadiri undangan acara wisuda siswa siswi Yogyakarta Independent School.

Bertemu dengan dokter Welman beliau menjelaskan apa yang bisa dilakukan. Bahwa tumor ya nggak ada obatnya untuk mengecilkan.

“Ibu siap untuk operasi?”

Pertanyaan yang sudah bisa saya duga. Dan sejatinya saya pun sudah siap melakukan itu lagi. Bukan apa-apa, meski benjolannya tidak besar, namun menurut saya cukup mengganggu dalam kondisi-kondisi tertentu. Kalau sudah merasa terganggu bisa jadi overthinking dan mengganggu keseluruhan aktivitas saya.

Dokter menjadwalkan saya operasi hari Senin, 27 Juni 2022. Namun saat saya ke TPPRI, administrasi yang terkait dengan rawat inap dan pemeriksaan lainnya, ternyata kamar klas 1 full. BPJS saya memang untuk kelas 2. Saya sengaja memilih kamar rawat inap untuk kelas 1. Posisinya adalah saya mendapatkan kabar dari suami bahwa untuk bulan Juni tak bisa mengambil cuti karena ada penilaian kantor di akhir bulan. Mau tak mau saya membawa dua anak untuk menjaga saya.

Kenapa harus dua anak yang ke RS? Bukannya udah gede-gede? Salah satu kan bisa jaga rumah?
Well ... Si Adek tuh persis seperti saya. Anaknya overthinking. Saat operasi dua tahun yang lalu baru ia mengalami ketegangan di leher. Ia kesakitan sampai menangis dan reda saat ayahnya pulang ke rumah. Disarankan oleh Mbak Yana, mbak saya yang psikolog itu. lebih baik Adek di bawa sekalian supaya tahu kondisi ibunya tak seburuk yang dibayangkan. Pengalaman itu membuat saya mengambil keputusan upgrade kamar supaya lebih nyaman buat anak-anak. Kalau Kakak ya jelas, ia jauh lebih paham untuk merawat orang sakit. Selain karena lebih dewasa, perempuan biasanya lebih peka untuk urusan itu.

Jumat itu antrian masih 20 yang inden untuk kamar klas 1. Pihak rumah sakit akan menghubungi jika sudah sampai giliran saya. Perkiraan saya kayaknya Senin belum OP. Lihat antriannya segitu. Apalagi di administrasi cerita kalau kepulangan pasien sekitar 3-4 pasien untuk saat itu. artinya saya masih punya kesempatan menyelesaikan pekerjaan yang DL nya akhir bulan.

Saya pun ngebut ngedit naskah novel yang kurang 7 bab. Menyelesaikan pekerjaan blog yang tertunda. Menyelesaikan tulisan untuk meramaikan event Komunitas Gandjel Rel meskipun masih belepotan tulisannya. Nggak papa, yang penting ikut ngeramein aja wis.

Hari Senin 27 Juni 2022, saya mendapatkan informasi dari pihak RS bahwa antrian masih 9. Saya memutuskan untuk tetap menunggu antrian saja. Bayangan saya, mungkin dua hari lagi saya baru bisa masuk. Dan saya masih bisa menyelesaikan pekerjaan saya yang tinggal sedikit.

Selasa pagi, saya menyelesaikan semua pekerjaan yang DL nya bulan ini. Lega, dan merasa butuh refreshing karena selama beberapa hari nggak lepas dari laptop. Ingat janji saya untuk membelikan bahan untuk baju Kakak kuliah. Selama ini mencari baju yang style nya pas buat Kakak kok sering nggak nemu ukurannya. Akhirnya meski nanti biaya akan jauh lebih mahal saya pun membelikan bahan untuk pakaian Kakak kuliah. Dua bulan lagi kampusnya akan melakukan tatap muka. Mau tak mau persiapan kudu dilakukan.

Berangkat ke Jogja saya sempat mikir. Jangan-jangan saya ke Jogja Rumah Sakit kasih info kalau kamar udah ada. Tapi kekhawatiran tersebut saya pangkas. Orang antrian masih sembilan juga. Saya asyik aja main ke Teh Vanny trus mampir di tempat mbak Ita. Biasalah, kalau main ke Nyonya Sakti tuh dapat banyak pencerahanlah tentang keimanan.

Abis shalat Ashar saya buka WA.

Duengggg ...

pesan dari RSUD


Ada WA dari pihak RS kalau saya harus masuk ke RS jam 16.30. sementara waktu itu pukul 15.40. buru-buru pamit sama mbak Ita setelah sebelumnya meminta masuk RS jam 17.00. Ngebutlah saya balik ke rumah. Asumsi sampai rumah 45 menit dan berangkat lagi ke RS sekitar 20 menit. Cukuplah waktunya. Di jalan saya sempat WA ke Kakak untuk menyiapkan kebutuhan saya. Jalanan padat merayap. Maklumlah, waktunya orang-orang pulang kerja kan? Kudu sabar dan hati-hati. Apalagi di kepala berkecamuk berbagai macam pikiran.

Sampai rumah si Kakak belum mandi. Ngomellah saya. Dari pagi lho dia belum mandi. Akhirnya saya dan Adek berangkat duluan, Si Kakak nyusul untuk nyiapin barang-barang yang belum masuk ke tas. Adek lumayan ngebut ngejar waktu jam 17.00 sampai rumah sakit. Sengebut-ngebutnya Adek tetep nggak bisa ngelawan macet di sore hari. Alhamdulillah sampai RS jam 16.59 lalu mengantri sebentar di loket TPPRI (Tempat Penerimaan Pendaftaran Rawat Inap)

Saya pun diminta untuk melakukan tes darah dan swab antigen. Lalu menunggu untuk pemeriksaan rontgen. Antrian lumayan banyak saat itu.

Agak mellow juga waktu Kakak belum dateng si Adek yang biasanya cool di tempat umum, ini ngelendot sambil mainan HP. Pas saya perhatiin ternyata dia mrebes mili.

“Bunda lak nggak papa to, Dek,” bisik saya. 
Dia cuma menghela napas sambil menghapus air matanya. Ah ... Dia selalu gitu. Nggak tegaan kalau ibunya kenapa-napa.

Proses persiapan masuk kamar rawat inap lumayan panjang. Sekitar jam 19.30 saya baru bisa masuk ke kamar rawat inap. Bener-bener bersyukur saya punya temen komunitas layaknya saudara. Mbak Umi, yang tergabung di IIDN Jogja dan rumahnya di Magelang sempat menemani dan membawakan barang yang Kakak lupa bawa. Bantal dan sajadah dibawa mbak Umi di luar snack-snack pengganjal perut. Bahkan beliau membelikan bantal baru. Ga bisa bales banget mbak Umi. Kecup banyak buatmu.

Si Ayah akhirnya diberi kesempatan untuk menemani saya operasi oleh atasannya meski sehari doang. Namun oleh Kakak beliau diminta istirahat di rumah, gantian dengan si Kakak. Biar si Ayah bisa nemenin operasi. Dan si Adek pun bareng dengan ayah pulang ke rumah. Ayah jemput Adek di depan RS karena penunggu pasien hanya boleh dua orang.

Kesempatan buat si Kakak saat nunggu saya di RSUD Kota Magelang. Samping rumah sakit adalah Mie Gacoan. Sebelahnya lagi McD. Depan McD ada Superindo. 200m dari McD Domino Pizza dan Brownies Amanda. Apalagi yang ia tunggu kalau bukan kulineran?

Biar nggak kepanjangan saya tulis di bagian ke dua ya? Masih mau baca? Langsung klik DISINI

Minggu, 26 Juni 2022

7 Hal yang Membuat Saya Malas Nulis Blog
tips mengatasi malas menulis


Katanya blogger? Tapi kok males ngeblog?


Beberapa kali sentilan sentilun ini lewat di WAG Blogger Gandjel Rel. Saya pribadi ya ngerasa tersentil sih. Tapi nggak trus bikin baper lalu left grup lah. Orang grupnya seru kok. Sayang banget kalau jadi orang baperan gitu.

Iya nih, udah beberapa bulan ini saya ngeblog kalau pas ada job aja. Paling banter sebulan sekali. Bahkan kalau pas ga ada job ya blognya kosong melompong dalam satu bulan. Kayaknya bingung aja mo nulis apa. Selain itu lagi fokus ngerjain naskah buku yang jumlahnya 400 halaman (mabok benerrr) jadi selama empat bulan harus ngerem fokus pada satu hal aja karena dikejar DL.

Ngeliat blog 6 bulan ini isinya kayak pasar, kok jadi malu gitu. Dulu tuh sering banget kalau suntuk atau pengen curhat langsung nulis di blog meskipun nggak ada penghasilannya. Pokoknya suka suka banget. Lalu kenal duit via ngeblog awalnya bikin semangat. Apalagi sosial media pun bisa digunakan untuk mencari penghasilan. Seiring lebih banyak kerjaan yang terkait dengan sosial media yang lain lama-lama feel untuk nulis di blog kok jadi terbang. Banyak yang ngerasain nggak sih?


Apa sih yang bikin males ngeblog?


Ini kalau saya ya, ada beberapa hal yang bikin males aja buka laptop. Padahal ya bisa aja nulis via HP meski nggak nyaman di luar faktor banyak alesan :)

1. Nggak punya ide
Ini nih alasan yang paling sering datang. Meski ide bisa datang dari mana saja, nggak semua orang dengan mudah memunculkan ide kreatif dalam kepalanya. Apalagi untuk orang yang cenderung menggunakan otak kiri dalam berpikir. Memang perlu waktu juga sih memunculkan ide dalam kepala. Apalagi kalau hal itu yang jadi hambatan utamanya.

2. Kebanyakan scroll sosmed
Ini saya banget kalau pas kerjaan rumah udah selesai semua. Yang pertama kali dibuka adalah sosmed. Maklum yang namanya ibu rumah tangga kan butuh banyak refreshing, ya to? Begitu kesempatan leyeh-leyeh terbuka, langsung deh mager di sofa, buka segala macam sosmed mulai dari IG, twitter, FB, youtube sampai tiktok. Gonta ganti aja terus sampai-sampai kedengeran Adzan Dhuhur berkumandang

3. Nggak PD
Ah ... tulisan kek gini pas nggak ya? Kayaknya nggak cocok deh. Itu terlalu curhat banget. Kayaknya nggak pas deh kalau ini pake jurus story telling. Ini bagusnya ala-ala esai gitu. Ah ... Bleh ... saya biasa banget gitu apalagi kalau kaitannya sama lomba blog. Makanya jarang banget ikut lomba blog karena ngerasa nggak PD sama tulisan sendiri.

4. Terlalu banyak mikir
Ini ada kaitannya sama nggak pede sama tulisan sendiri sih. Bingung aja ngatur sudut pandang tulisan mau dibikin kayak apa. Lalu mikir mau bikin judul yang clickbait kok kayaknya norak banget. Tiap hari mikir doang, tau-tau DL sudah mepet. Begitu mepet, akhirnya pasrah nggak ikutan. Dan blog pun makin lumutan.

5. Sedang dalam tekanan
Saya kalau pas ada problem pribadi biasanya off dari kegiatan tulis menulis. Jangankan mau nulis ngapa-ngapain aja males. Suntuk, karena kepala rasanya mau pecah. Butuh beberapa waktu bisa ngembaliin mood yang sudah hancur.

6. Fokus pada hal lain
Tahun lalu saya bener-bener fokus mendampingi anak. Adek lulus SMP dan Kakak lulus SMA. Mendampingi Adek tuh terasa berat waktu mulai pendaftaran SMA aja, banyak dramanya. Tapi mendampingi Kakak butuh waktu yang lebih panjang karena menyiapkannya masuk jenjang pendidikan selanjutnya. Harus stand by pas dia butuh cerita, kapanpun ia butuh diskusi harus siap sedia, kadang mood swingnya muncul jadi bikin emaknya bete berat. Belum lagi kudu ngepuk-puk waktu gagal SNMPTN. Diskusi berminggu-minggu ternyata nggak dipakai sama anak, kek gitu tuh melelahkan dan menghabiskan energi.

7. Terlalu banyak ngelihat rumput tetangga.
Kapan hari ikutan belajar tentang blogging. Sumpah ... meskipun udah ada tutorialnya tetep aja nggak mudeng. Lihat DA dan PA stagnan lalu takjub lihat blog orang lain yang melesat langsung dapet job banyak bikin ati ciut. Belum urusan pasang ini dan pasang ono.
Kudu ngerti daleman blog sendiri dong....
Haishhh ... mau ganti template aja kudu bayar orang, terlalu banyak lihat milik orang lain tuh kadang jadi malas dan menyerah. Udahlah ... makin ngenes aja.

Kalau udah tahu apa yang bikin males, kira-kira ada nggak tips ala saya ngatasin males nulis blog? Ada lah ... tapi nggak semua orang kudu sama dengan saya ya? Kalau saya biasanya kayak gini nih : 

a. Menentukan motivasi
Motivasi terbesar saya buat ngeblog ya punya penghasilan. Meskipun baru bisa buat jajan dan belum bisa beli mobil dari ngeblog (aamiin kenceng nih). Kalau rupiah udah ada di kepala saya, biasanya saya maksain diri buat nulis biar tugasnya segera selesai. Pokoknya yang di brief dikerjain, jangan terlalu mepet DL.

b. Banyak baca atau ngobrol dengan orang lain
Baca artikel orang, buku atau sekadar ngobrol ngejulidin orang lain tuh bisa loh dibikin tulisan. Beberapa kali saya nulis di blog setelah dengerin anak-anak curhat, atau lihat sesuatu di sosmed. Atau ngalamin hal-hal sedih atau menggembirakan sehingga merasa perlu diabadikan di blog. Beberapa tulisan di blog yang banyak dibaca orang adalah cerita pribadi dan mencoba mengikat makna dengan menulis di blog

c. Menghindari buka sosmed
Niatnya nulis. Tapi kalau kelamaan scrolling pasti nggak jadi nulis. Kalau udah niat nulis biasanya saya jauhkan dari HP. Atau jika terpaksanya nulis pake HP ya fokus nulis sekali duduk selesai. Soalnya kalau terputus di tengah jalan biasanya yang terjadi adalah buntu mau nulis apa lagi.

d. Menulis semampunya
Tulisan saya modelnya story telling. Ya udah sih, maksimalkan aja kemampuan di situ. Kalau bisanya curhat ya biarin aja, selama kita bisa milih mana yang pantes buat dicurhatin atau enggak. Mau nyobain model jurnal ilmiah ya dadah-dadah ke kamera aja. Lha daripada maksa trus nggak jadi? Yang pasti ajalah kalau saya.

e. Pasang kaca mata kuda
Ketika orang lain ngomongin DA dan PA, saya milih mlipir aja. Daripada saya stress duluan karena SS makin gendut. Kalau emang blog kita fokus di kontennya, nggak usah mikirin segala macam yang bikin kita males ngerjain. Apa kata orang bodo amat. Gitu sih kalau saya.

f. Memberi reward untuk diri sendiri
Pernah nggak kasih hadiah diri sendiri kalau abis nulis di blog atau selesai bab waktu bikin naskah buku? Saya sering banget ngelakuin itu meskipun nilainya kecil. Kadang jadi motivasi untuk segera nyelesain tulisan karena pengen sesuatu. misalnya lagi pengen ngemil es krim harga lima ribuan. Begitu selesai nulis ya langsung cus jajan. Remeh banget ya jadinya?

Niat kalau nggak dibarengin usaha ya sia-sia aja. Sayang aja kalau blog yang udah dibayar tiap tahunnya nggak bisa balik modal. Kecuali kalau pengen buang duit sih :)
Udah ah ... julidnya mulai keluar nih. Semoga yang saya obrolin kali ini punya nilai meskipun cuma seujung upil aja. Stay healthy and keep on writing yes?

Sabtu, 25 Juni 2022

   The Sounds Of Music : Wisuda siswa siswi Yogyakarta Independent School 2022
International Baccalaureate


Tahun 2021 Adek dan Kakak sama-sama lulus dari baju putih biru dan putih abu-abu. Namun sayangnya pandemi merenggut keceriaan mereka menyongsong proses pendewasaan. Sekolah Adek tak seperti biasanya merayakan sebuah kelulusan. Wisuda yang biasanya diadakan begitu meriah di tempat yang spesial, saat itu sekolah mengambil keputusan untuk mengadakan wisuda drive thru. Wisudawan dan wisudawati di drop di depan panggung, menerima bukti kelulusan dan sekadar foto di panggung. Padahal sebelumnya begitu banyak rangkaian acara, termasuk membaca hafalan surah terpanjang yang sudah dihafalkan oleh mereka.

Masih mendingan Adek yang melaksanakan prosesi wisuda. Sekolah si Kakak sama sekali tak mengadakan wisuda dikarenakan saat itu Corona varian Delta sedang rame-ramenya menyerang. Begitu banyak kasus paparan corona virus yang membuat masyarakat kehilangan orang-orang tercinta. Pandemi saat itu yang sudah berlangsung 1.5 tahun memangkas begitu banyak rencana. Padahal ia sudah menyiapkan kebaya cantik warna dusty pink untuk wisudanya saat SMA. Sayang sekali.



Yogyakarta Independent School Graduation Ceremony 2022


Tahun 2022 ini setelah berbagai kasus coronavirus mereda sekolah-sekolah yang berada di Indonesia menggelar acara wisuda bagi siswa yang sudah selesai menempuh jenjang pendidikan terakhir. Begitu juga dengan Yogyakarta Independent School. Sekolah IB di Yogyakarta yang sebagian besar siswanya adalah anak-anak dari ekspatriat menggelar wisuda untuk seluruh jenjang pendidikan mulai dari TK B sampai dengan klas 12.

Rabu, 22 Juni 2022 bertempat di Grand Ballroom Sheraton Hotel Yogyakarta perayaan pesta wisuda tahunan ini diselenggarakan. Seluruh undangan yang hadir menggunakan dresscode ala-ala vintage. Seru banget lihat para undangan menggunakan pakaian zaman oldies namun tetep keren.

Selain merayakan wisuda, Yogyakarta Independent School atau biasa disebut YIS memberikan penghargaan kepada para siswa atas prestasi yang telah diraih sekaligus merupakan awal dimulainya fase khusus setelah dua tahun melaksanakan pembelajaran secara online.

Pelaksanaan wisuda ini masih dilakukan dengan protokol kesehatan. Para undangan yang datang pun masih tetap memakai masker dan mencuci tangan dengan hand sanitizer yang disediakan di pintu masuk. Ada juga termometer otomatis untuk mengukur suhu badan para undangan. Sebelum masuk banyak undangan yang memanfaatkan photobooth untuk mengabadikan kebahagiaan ini.

Wisuda di Sheraton Hotel



Pukul 17.30 acara pun dimulai. Dibuka dengan lagu Indonesia Raya menunjukkan bahwa sebagai sekolah satuan pendidikan kerjasama YIS tetap menjunjung tinggi nilai kebangsaan dan nasionalisme untuk membentuk siswa memiliki wawasan global namun tak melupakan identitas diri meskipun dalam pendidikan menerapkan kurikulum internasional. Sementara bagi siswa yang berkewarganegaraan asing momen ini menjadi bagian pembelajaran terhadap bumi yanhg dipijak, Indonesia.

Parade bendera dari negara para siswa YIS yang diikuti oleh para wisudawan masuk ke ruangan. Ada lebih dari 10 bendera yang berkibar di ruangan itu. 23 siswa berbaris rapi mengikuti bendera-bendera tersebut.

Sekolah internasional di Yogyakarta


Kepala Sekolah Yogyakarta Independent School, Bapak Ismail Sumantri, mengantar wisuda kali ini dengan ucapan terima kasih kepada siswa, wali murid dan seluruh stakeholder yang ada. Tahun ini adalah transformasi dari pembelajaran secara daring menjadi pembelajaran tatap muka. Anak-anak dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab terlibat dalam proses belajar. Tanpa dukungan keluarga tentunya yang dicapai oleh siswa siswi YIS takkan seluar biasa ini.

Wisuda sekolah international di Yogyakarta 2022



Setelah itu sambutan dari Bapak Elia Nugraha Ekanindita selaku Diploma Programme Coordinator. Dalam sambutannya Beliau mengatakan bahwa YIS memiliki siswa yang memiliki bakat yang begitu bagus di bidang akademik dan sangat berkomitmen. Di luar itu YIS juga memberikan fasilitas bagi anak-anak yang memiliki bakat luar biasa di bidang lain. Dan itu adalah tantangan bagi satu-satunya sekolah yang menggunakan kurikulum International Baccalaureate supaya lebih banyak yang terlibat dalam pengembangan aksi dan kreativitas dari segenap civitas akademika Yogyakarta Independent School.

Disusul sambutan oleh Ibu Kencana Devia Candra selaku Middle Years Programme Coordinator. Beliau menyampaikan bahwa anak-anak YIS yang mengikuti pendidikan setara dengan sekolah menengah pertama ini memiliki pencapaian yang sangat bagus di tahun ini dan berprestasi di hampir semua kurikulum. Beliau menyadari bahwa beberapa waktu ini dengan pembelajaran hybrid begitu berat dengan adanya pemberian tugas dan tenggat waktu. Namun yang dilakukan oleh pihak sekolah adalah mempersiapkan anak-anak di MYP ini untuk membangun dasar yang kuat dalam mempersiapkan anak-anak ke jenjang berikutnya.

Pesan beliau kepada anak-anak yang telah menyelesaikan pendidikan di Middle Years Programme ini bahwa tantangan yang terkait dengan ketrampilan dan pengetahuan menanti anak-anak. Harapan beliau dan pihak sekolah supaya anak-anak memiliki tujuan dan gigih meraih mimpi yang tinggi meskipun jalan yang akan dilalui menguji kesabaran.

Sebuah quote dari Greta Thunberg dikutip oleh Ibu Veronica Swanti sebagai Primary Years Programme Coordinator: “You are never too small to make a difference.” Hal itu mewakili bagaimana siswa yang setara dengan pendidikan anak usia dini dan sekolah dasar belajar dalam berbagai kegiatan di Yogyakarta Independent School. Mereka diajak untuk berpikir kritis dalam berinisiatif maupun melakukan tindakan. Mereka bekerjasama dalam pembelajaran dan berbagi dengan apa yang mereka miliki.

Prosesi wisuda anak-anak YIS menurut saya seru banget. Musik yang digunakan untuk pengiring membuat yang hadir di sana ikut bergembira. Misalnya untuk anak-anak usia TK menggunakan lagu Roar yang dipopulerkan oleh Katty Perry. Terlihat anak-anak pun begitu senang berjalan di panggung bersama teman-temannya.

Sekolah internasional di Yogyakarta


Selesai prosesi wisuda anak-anak Preschool sampai kelas 11 menyajikan pertunjukan musikal yang bertajuk Sound of Music. Hal ini memberi pesan akan harapan dan optimisme yang ingin dibagikan kepada orang lain.

Siswa-siswi sekolah internasional di Yogyakarta ini memberikan penampilan yang seru. Ada gerak dan lagu dari anak-anak Preschool yang mengundang tawa. Mengundang semangat dengan musik dari Queen, lagu We Will Rock You. Ada juga mash up beberapa lagu tiktok yang dibawakan secara bergantian oleh siswa dari MYP dan DP. Terlihat banget vibes generasi Z dan generasi Alpha dalam pertunjukan mashup ini.

Sekolahj internasional yang menggunakan kurikulum IB

Semakin malam semakin seru. Ada beberapa dance yang dibawakan oleh anak-anak MYP. Mulai Dance Cover dengan lagu Fearless dari Le Sserafim, girlband dari Korea, Uptown Funk dari Bruno Mars, serta yang mengundang banyak applause adalah dance yang menggunakan lagu dari Christina Aguillera, Moulin Rouge dan lagu I Feel Good dari James Brown. Kostum dan gaya dance yang dipakai membawa kami para penonton kembali ke tahun 60-an. Dengan wig dan celana cutbray mereka bergoyang diiringi tepuk tangan para penonton.

Pertunjukan berakhir sekitar pukul 19.30. Rangkaian acara yang diakhiri dengan penampilan seluruh peserta yang menyanyikan sebuah lagu perpisahan. Setelah itu dilanjutkan dengan gala dinner dan ramah tamah.

Raut kegembiraan terpancar dari seluruh hadirin yang ada di situ. Raut kebanggaan dari wajah wali murid dari YIS membuat saya banyak belajar. Penghargaan dan apresiasi terhadap apa yang dilakukan anak-anak akan membuat mereka menjadi pribadi yang percaya diri dan matang.

Terima kasih Yogyakarta Independent School. Selamat menebar kebaikan untuk siapapun yang ada di sana.


Tentang Yogyakarta Independent School.

Sekolah internasional di Yogyakarta



Berbicara mengenai Yogyakarta Independent School saya jadi ingat anak Mbak Atik, sahabat saya, Ribie yang telah berpulang karena pandemi ini. Ribie dan adiknya Nayla pun bersekolah di YIS sejak kepulangan mbak Atik dari Madrid. Beliau beberapa kali bercerita mengenai anak-anak yang berkembang dan tumbuh bersama YIS.

Yogyakarta Independent School telah berdiri sejak tahun 1989. Sebelum tahun 2014 YIS menggunakan nama Yogyakarta International School. Pergantian nama tersebut membuat YIS menjadi sekolah yang lebih terbuka dalam menerima siswa dengan keragaman negara, budaya, suku maupun agama. Sebelumnya lebih banyak warga asing yang bersekolah di YIS. Akan tetapi sekarang banyak juga WNI yang bergabung bersama YIS dalam pelaksanaan pendidikannya.

Yogyakarta Independent School beroperasi di bawah yayasan dan berbadan hukum. Izin resmi sudah dimiliki dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Selain itu YIS juga sudah terakreditasi. Sekolah yang berada di kawasan Jombor ini merupakan anggota East Asia Regional Council of Overseas School (EARCOS). EARCOS merupakan organisasi dewan sekolah untuk regional Asia Timur dimana anggotanya menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama selama program pendidikan.

Yis merupakan satu-satunya sekolah berkurikulum International Baccalaureate (IB) di Yogyakarta. Kurikulum ini berasal dari Swiss dan ditujukan untuk anak-anak dengan usia 3-18 tahun. Program IB yang ditawarkan oleh Yogyakarta Independent School adalah :

  1. IB Primary Years Programme (PYP) untuk anak usia 3-12 tahun (setara dengan preschool dan SD)
  2. IB Middle Years Programme (MYP) untuk usia 11-14 tahun (setara SMP)
  3. IB Diploma Programme (DP) untuk usia 15-18 tahun (setara SMA)

Apa yang menjadi kelebihan kurikulum ini sehingga digunakan oleh Yogyakarta Independent School?

Kurikulum ini lebih mengeksplorasi kemampuan anak di berbagai bidang. Tak hanya menitikberatkan pada kemampuan sains, matematika atau bahasa saja. Namun kurikulum ini mendorong siswa untuk berwawasan global, kreatif mampu mengembangkan kemampuan emosi, intelektual dan sosial. Harapannya siswa bisa berkontribusi positif terhadap lingkungan dan budayanya. Dengan kurikulum ini minat dan bakat anak akan semakin berkembang sesuai dengan yang diinginkan.

Kebetulan banget nih sekarang tahun ajaran baru kan? Kalau buat saya YIS ini reccomended banget buat teman-teman yang pengen mengeksplorasi anak-anak tak hanya di bidang akademik saja. Jika teman-teman pengen tahu dan langsung melihat area sekolah yang ramah anak banget silakan datang aja ke

Yogyakarta Independent School

Jl. Tegal Mlati No 1 Jombor Lor, Sinduadi, Mlati, Sleman

Daerah Istimewa Yogyakarta, 55284, Indonesia

Telp. +6282241044242 / (0274) 5305147 dan 5305148