Jurnal Hati

Minggu, 22 November 2020

3 Hal Penting Untuk #StopPneumonia Anak



Di usia SD saya pernah mengalami radang paru-paru. Seingat saya saat itu saya diopname di rumah sakit selama seminggu. Panas tinggi, batuk berdahak, tidak berselera makan. Napas saya pendek-pendek, bahkan terkadang terasa sesak. 

Hasil rontgen di paru-paru saya menunjukkan putih semua. Tulang di dada hanya terlihat sedikit. Kata dokter, paru-paru saya tertutup cairan. Saya harus minum obat setiap hari untuk menghilangkan cairan itu. Tak boleh putus seharipun. Dan saya menjalani pengobatan itu selama tiga tahun.

Kata Bapak alm saat itu saya mengidap paru-paru basah. Sebuah infeksi yang diakibatkan oleh virus, bakteri ataupun jamur. Sejak mengidap penyakit itu saya memang lebih mudah sakit. Sampai saya dewasa, jika saya terkena batuk, sembuhnya lebih lama dari orang lain. Ketika seseorang batuk, biasanya seminggu sembuh, kalau saya bisa sampai dua minggu atau tiga minggu. Meskipun saya bisa beraktivitas seperti biasa. 

Dulu, penyakit yang saya alami ini dikenal dengan paru-paru basah. Namun penyakit ini juga dikenal dengan istilah lain yaitu pneumonia. Penyakit yang ciri-cirinya mirip dengan gejala Covid 19 ini ternyata masih banyak diidap oleh anak-anak di zaman milenial ini. Meski teknologi pengobatan saat ini jauh lebih berkembang dibanding saat saya mengidap pneumonia, tentu saja masih harus diwaspadai. Apalagi untuk kondisi seperti saat ini. 


Tanggal 12 November diperingati sebagai Hari Pneumonia sedunia. Nah, bulan ini di tanggal yang sama saya mengikuti webinar Peringatan Hari Pneumonia Dunia 2020, Festival Anak Sehat Indonesia yang diselenggarakan Yayasan Sayangi Tunas Cilik Save The Children. 

Save The Children aktif melakukan kampanye #StopPneumonia sejak tahun 2019. Dengan bekerja sama dengan pemerintah, ormas sipil, komunitas dan berbagai pihak lain Save The Children berusaha memberikan edukasi untuk mengatasi masalah pneumonia pada anak.




Webinar via zoom meeting ini dipandu oleh dr.Lula Kamal. Berbagai elemen masyarakat hadir mengikuti webinar ini. Mulai dari Menteri Kesehatan Dr Terawan Agus Putranto, Menteri KPPA I Gusti Ayu Bintang, dokter spesialis anak Prof.Dr.dr Soedjatmiko, Ibu Wury Ma'ruf Amin, tim penggerak PKK, berbagai komunitas bahkan sejumlah selebriti yang memang concern dengan kesehatan anak mengikuti kegiatan ini sampai selesai.

Kampanye ini bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai penyakit pneumonia ini. Bagaimana gejalanya, cara mencegah, serta bagaimana mengobatinya dijelaskan dalam webinar ini. Harapannya dengan melibatkan banyak elemen masyarakat informasi semakin tersiar secara luas. 


Seberapa bahaya pneumonia pada balita? 


Tahu tidak teman, berdasarkan riset kesehatan tahun 2013 bahwa Pneumonia di Indonesia menjadi penyebab kematian tertinggi kedua setelah bayi prematur sementara di dunia merupakan penyebab kematian nomor satu pada balita? 

Progres penanganan Pneumonia memng semakin membaik, namun besaran angka kematian yang masih cukup tinggi tetap jadi perhatian yang cukup serius.




Pneumonia menyerang paru-paru melalui bakteri, virus, dan jamur yang masuk ke hidung, lalu ke saluran napas hingga paru-paru. Hal ini menyebabkan fungsi paru-paru terganggu sehingga oksigen yang dibutuhkan oleh tubuh berkurang. Karena pneumonia berasal dari bakteri, virus dan jamur yang bisa tumbuh dimanapun. Maka bayi dan balita lebih mudah terserang karena sistem imunnya masih rendah. Apalagi bayi-balita dengan berat lahir rendah. 

Pneumonia termasuk penyakit yang menular. Seseorang yang mengidap pneumonia, berpotensi untuk menularkan pada orang lain di sekitarnya. Pneumonia bisa menular melalui udara, percikan batuk atau bersin. Bahkan bisa melalui benda yang terkena percikan tersebut. 


Gejala Pneumonia

Penanganan penyakit secara tepat tentunya dimulai dari mengenali gejala penyakit yang timbul. Keterlambatan penanganan sebuah penyakit biasanya timbul karena keterlambatan penanganan yang tepat. Untuk penanganan Pneumonia penting bagi kita untuk mengenali gejalanya 

1. Batuk berdahak

2. Pilek

3. Demam

4. Sulit Bernapas



Pencegahan dan Pengobatan Pneumonia.




Pneumonia bisa dicegah dan diobati. 3 hal penting yang harus dilakukan untuk #StopPneumonia adalah perlindungan, pencegahan, dan pengobatan.

Perlindungan anak dari pneumonia dimulai dengan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. ASI eksklusif berarti hanya ASI saja tanpa pemberian makanan atau minuman lain. Setelah 6 bulan kita bisa memberikan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang disesuaikan dengan kebutuhan gizinya. Jangan lupa, ASI masih tetap diberikan sampai usia anak 2 tahun. 

Pencegahan Pneumonia dilakukan dengan imunisasi. Imunisasi yang diberikan terutama imunisasi dasar lengkap serta menjaga kebersihan pribadi maupun lingkungan. Contohnya cuci tangan menggunakan sabun, menjaga kebersihan, menjaga sirkulasi udara yang baik, dan bebas dari asap rokok.

Pengobatan harus segera dilakukan jika menunjukkan gejala pneumonia. Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat. Memberikan asupan gizi selama sakit jangan sampai dilupakan.

Tiga hal di atas merupakan kampanye #StopPneumonia yang sedang dijalankan Save The Children. STOP merupakan kepanjangan dari

S
ASI Eksklusif selama 6 bulan, menyusui di tambah MPASI sampai 2 tahun 

T
Tuntaskan imunisasi untuk anak

Obati ke fasilitas kesehatan jika anak sakit

P
Pastikan kebercukupan gizi anak dan hidup bersih sehat.


Semoga informasi ini bermanfaat ya temans

Jumat, 23 Oktober 2020

Grand Launching Antologi Pulih


Assalamualaikum temans, 
Setiap orang memiliki luka dalam dirinya. Luka yang terkadang memang disimpan diam-diam. Luka yang tak ingin diketahui siapapun. Luka yang diharapkan menutup seiringnya waktu. 

Namun ada pula luka yang semakin lama menyesakkan hati. Semakin diharapkan sembuh namun yang terjadi sebaliknya. Semakin hari terasa perihnya. Seperti luka menganga yang ditabur garam. 

Terkadang, di posisi seperti itu harus memasang topeng bahwa semuanya baik-baik saja. Harus menyembunyikan tangis dibalik senyum dan tawa. Pura-pura baik-baik saja sementara lubang di hati makin membesar. Seolah-olah menjadi manusia tiada tanding sementara kenyataannya makin merapuh. 

Saat yang terasa sesak itu seperti hendak meledak. Pada akhirnya butuh tempat untuk mengalirkan perasaan. Berharap pertahanan diri tak melebur. Bendungan dalam diri tak jebol karena rasa sakit yang semakin mendesak untuk diuraikan. 

Manusia, siapapun dia harus sehat jiwa dan raga. Supaya tak hanya 'tampaknya' baik-baik saja. Jika memang sudah merasakan bahwa jiwanya butuh penyembuh. Maka segeralah mencari penawar bagi luka hati yang masih terbuka. 

Pilihan ada di tangan masing-masing manusia bagaimana cara memulihkan hati. Bagaimana seseorang berproses dalam memperbaiki kepingan hati yang terserak. Bisa jadi takkan sama. Takkan menjadi seutuhnya seperti di masa lampau. Namun semua itu memang harus dilalui. 

Latar Belakang Penulisan Antologi Pulih 


Ada banyak cara untuk menyembuhkan luka hati. Salah satunya adalah menulis. Alm BJ Habibie saat kehilangan istrinya pun menulis sebagai katarsis dari lukanya. Saat kehilangan Ibuk saya pun menulis untuk menghilangkan sesak dan penyesalan meski tak seratus persen mampu menyembuhkan. Selalu saja ada luka tertinggal yang hanya bisa diobati dengan waktu. Namun setidaknya beban berat itu dapat diletakkan di satu tempat meski tak sepenuhnya dilepaskan. 

Memang ada banyak cara memulihkan ruang hati. Namun dengan menulis kita tak hanya melepaskan kesedihan, namun juga membagi hal positif. Saat berbagi hikmah, insya Allah mampu memberikan inspirasi bagi orang lain. Saat yang kita lakukan memberi manfaat untuk orang lain, tentunya satu persatu kebahagiaan yang datang mampu menjadikan penawar bagi luka di hati. 

Menulis di blog atau media sosial bisa menjadi jalan bagi siapa saja untuk berbagi. Saat menulis di berbagai platform media sosial sering kali bisa menjadi jalan bagi sang penulis untuk mengurangi beban di hati. Ternyata hal ini tak luput dari perhatian mbak Widyanti Yuliandari selaku ketua Ibu Ibu Doyan Nulis Pusat. 

Banyak tulisan teman-teman di media sosial menyiratkan tentang kesedihan atau kegundahan hati. Bisa jadi itu adalah permasalahan yang sedang dihadapi. Jika setiap orang memendam permasalahan, bukankah itu akan mempengaruhi kesehatan mentalnya? Pengamatan yang dilakukan itulah memunculkan ide menulis buku antologi bertema mental illness. 

Sebuah penulisan tentang masalah kejiwaan, tentunya harus ada pendampingan supaya para penulis antologi ini mendapatkan sesuatu. Bagi para penulis, ketika masalah diungkap, ada dua hal kemungkinan yang terjadi. Yang pertama bisa menjadi katarsis, sementara yang kedua bisa menjadi masalah baru. Karena terkait dengan kesehatan jiwa maka IIDN Pusat pun bekerjasama dengan konselor untuk mendampingi penulis yang nantinya terpilih menjadi kontributor. 

Saat diumumkan audisi naskah ini, atensi dari anggota pun bagus. Banyak naskah yang masuk sehingga makin beragam kisah yang bisa dihadirkan dalam antologi ini. 

Grand Launching Antologi Pulih


17 Oktober 2020, melalui zoom meeting mulai jam 19.00-21.00. Saya telat sebentar sih, kelupaan karena ngobrol dengan anak-anak. 

Ada tiga narasumber dalam acara Bincang Pulih ini. Yang pertama tentu saja mbak Widyanti Yuliandari selaku ketua IIDN Pusat kemudian dr. Maria Rini I, Sp. Kj seorang psikiater dari Surakarta dan mbak Intan Maria Halim, S.Psi, founder Ruang Pulih. 

cr : Nyi Penengah Dewanti


Di awal acara mbak Wid membincangkan tentang bagaimana awal mula tema dan seleksi naskah antologi ini. Terpilih 25 kontributor yang merupakan anggota dari IIDN. Kisah-kisah ini terdiri dari berbagai latar belakang. Ada yang bercerita tentang apa yang terjadi pada diri sendiri. Ada pula yang bercerita tentang kisah orang lain. Kisah-kisah yang dituliskan pun ada yang sudah selesai melalui segala permasalahan, namun ada pula yang masih menjalani. 

Kontributor pun dibagi menjadi dua kelompok yaitu yang sudah benar-benar pulih dan yang belum selesai. Bagi mereka yang masuk dalam kelompok belum selesai maka ada pendampingan dari dr. Maria dan mb Intan. 



dr. Maria berbagi ilmu tentang peran serta komunitas dalam membangun kesehatan mental. Manusia adalah mahluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk memberikan dan mendapatkan. Apa yang diberikan dan didapatkan? Ya, cinta dan perhatian. 

Komunitas bisa berkontribusi dan berperan aktif dalam menjaga kesehatan mental para anggotanya. Saling berbagi cerita pun sudah menjadi bagian dalam mendukung anggotanya. Kegiatan-kegiatan positif yang dilakukan pastinya akan membuat anggota pun aktif mengikutinya. 

Setiap manusia berhak untuk mendapatkan kesehatan jiwa dan raga. Hal itu harus diupayakan.

Menurut mba Intan Maria Halim trauma yang kita miliki bukanlah kesalahan diri kita. Hanya saja ikhtiar untuk mengobati hati dan pulih merupakan tanggung jawab masing-masing. Setiap orang memiliki penyelesaian dari setiap masalah. Itu ada dalam diri masing-masing personal. Hanya saja seringkali hal itu kabur atau tertutup. 

Untuk itu dibutuhkan konselor atau pendamping untuk memberikan support. Peran konselor atau pendamping adalah membantu menguak tabir yang masih tertutup dan menemukan solusi atas permasalahan yang kita alami. 


My Children My Mood Booster 

Kenangan tentang suami. 

"De, selamat ya, bukumu terbit lagi. Coba kalau kamu punya banyak waktu luang, pasti kamu sudah menjadi penulis terkenal." 

"De, terimakasih ya sudah menjadi ibu yang hebat. Kamu sabar sekali menghadapi anak-anak." 

"De, maafkan aku ya? Selalu merepotkanmu. Aku pengen sembuh. Aku nggak mau sakit lagi." 

"De, Terimakasih sudah sabar merawatku. Nanti kalau aku sudah sembuh aku mau menemanimu jalan-jalan ke mana saja." 

"De, kenapa nggak jadi ambil S3 mu?Uangnya habis untuk terapiku, ya?" 

"De, terimakasih ya sudah rajin memasa? Tetapi kalau kamu capek, beli aja. Tidak usah masak lagi, biar bisa istrahat." 

Suara suamiku itu seolah-olah berbisik di telingaku. Setiap malam selalu terngiang. Seringkali malam sudah larut, tetapi aku belum bisa memejamkan mataku. Terbayang tatapan matanya yang teduh dan semangatnya untuk segera sembuh. Lalu rasa bersalah itu menghantam-hantam kepalaku. Menyesakkan dadaku. 

"Aku tidak apa-apa capek, Mas. Aku tidak apa-apa kurus kering. Aku tidak apa-apa tidak nerbitin buku lagi. Aku nggak papa, nggak jadi penulis terkenal.
Aku nggak papa, nggak sekolah S3. Aku nggak papa merawatmu sepanjang waktu. Menemanimu berobat seumur hidupku. Aku nggak papa Mas. Tetapi Mas jangan pergi!" 

Nggak bisa komentar banyak. Tidak mengalami hal itu pun sudah cukup membuat hati saya sesak. Jadi teringat pada sahabat yang sudah pergi empat tahun yang lalu. Meninggalkan semua yang mencintainya.


Titik Balik 

Aku sesungguhnya terluka. Aku bersedih. Aku tak sanggup hidup sendiri. Aku ibu yang rapuh. Aku ibu yang tidak kuat. Aku tidak strong.
Aku tidak mampu mengurus keempat anakku. Aku rapuh. 

Aku selalu saja begitu yang tak mampu menghadapi kenyataan. Hingga akhirnya aku tersadar ketika anakku mengatakan bahwa ia membutuhkanku. Ia tidak mau kehilanganku. 

Setiap kesedihan itu datang, aku membayangkan anak-anakku.
Keempat anakku yang begitu pintar, sabar dan memahamiku.
Mereka sungguh sabar menerima takdir ini.
Kenapa aku tidak bisa?

Writing Is Healing 

Waktu memang tak pernah menyembuhkan luka. Namun waktu menemaniku melewati semua luka dan semua rasa kehilanganku.
Aku mensugesti diriku untuk bangkit.
Untuk sembuh dan untuk kuat. 

Aku membaca banyak buku tentang healing. Aku bergabung dengan komunitas ibu tunggal yang mana aku bisa mengetahui banyak kisah. Ternyata masih banyak wanita yang lebih menderita daripada aku. 

Aku juga mengikuti banyak seminar, pelatihan dan apapun tentang healing.
Aku juga berkonsultasi dengan pakarnya tentang apa yang sebaiknya aku lakukan.
Agar aku bisa segera move on dan tidak terpuruk. 

Salah satu saran yang aku terima adalah aku diminta untuk mengerjakan hal-hal yang aku sukai.
Aku sangat suka membaca novel, mendengarkan musik, dan yang paling kusukai adalah menulis. 

Menulis adalah hobiku sejak dulu, dan sempat kutinggalkan ketika aku terpuruk kehilangan. Pada akhirnya aku berhasil menuliskan kisahku ini dengan baik. Semua ini karena bimbingan ruang pulih yang aku ikuti. Hingga aku bisa semakin pulih dan semakin kuat. 

Terimakasih IIDN yang telah menjembatani semua ini. Aku ingin menjadi manusia yang siap menyambut masa depan dengan bahagia. Bukan manusia yang tinggal dalam kenangan, dan menutup mata pada kenyataan. 

Heal the pass, be the present and run to the future. 


Salut dengan Mbak Triana Dewi yang menuliskan kisahnya sedemikian mengharukan. Mematahkan hati, namun juga membangun kembali patahannya. Tak hanya menguras hati, namun memberikan makna pada tulisannya. Tak mudah bagi mereka yang terluka untuk bangkit sesegera mungkin. Akan selalu ada proses yang tak sebentar untuk memberi kekuatan. Semoga Allah selalu melindungi mb TD dan keluarga. 


Sekelumit kisah

Setelah kehilangan Ibuk, dua tahun kemudian saya kehilangan sahabat terdekat yang sudah mengganti peran orang tua saya. Cukup lama saya kehilangan arah. Sampai akhirnya menuliskannya dalam blog. Itu pun masih belum cukup mengobati luka. 

Saya lebih suka memendam kesedihan karena tak ingin membuat keluarga bersedih. Sering kali menyusut air mata di tengah malam. Apalagi saat beliau hadir di mimpi setiap kali saya memiliki masalah besar. 

Tahun lalu, kembali beliau datang dalam mimpi. Saat itu ada sebuah masalah yang sedang saya hadapi. Namun dalam mimpi itu beliau tersenyum dan menepuk bahu saya.
"Proud of You, Nduk. Aku tahu kamu mampu menyelesaikan ini semua. Aku yakin. Titip ini ya?" 
Dalam mimpi beliau menyerahkan sebuah berkas. Di dalamnya berisi foto keluarganya. 

Kata-kata itu begitu jelas. Bahkan sampai sekarang saya masih teringat mimpi itu. Dan yang membuat saya takjub, keluarganya setahun ini makin dekat dengan keluarga saya. Bahkan untuk hal-hal penting mereka minta pendapat saya. Apakah ini yang beliau titipkan untuk saya? Wallahu a'lam.

Waktu memang obat alami penyembuh luka hati. Kita tak bisa menghindari luka. Namun kita bisa memilih untuk mengalami penderitaan atau tidak. 

Pemesanan Antologi "Pulih"



Bagi temen-temen yang menginginkan buku ini masih bisa kok. Hubungi saja mbak Fitria Rahma selaku penanggung jawab buku antologi ini. Atau kalau kenal dengan para kontributor bisa kok pesen lewat salah satunya. Bisa juga tuh kontak nomor telpon yang tertera di atas. Yuk cuss...

Minggu, 04 Oktober 2020

5 Cara Sederhana Menjaga Kesehatan Jiwa dan Raga


Assalamualaikum temans, 

Yang namanya sehat jasmani dan rohani itu emang jadi prioritas utama bagi manusia. Itu bener-bener jadi salah satu anugerah terbaik yang Allah berikan untuk manusia. 

Dengan kesehatan kita bisa merasakan yang namanya bersyukur. Bersyukur masih bisa ngerasain nikmatnya makan meski seadanya. Masih bisa menikmati tidur nyenyak di rumah tanpa harus menggunakan springbed mahal. 

Supaya memiliki badan dan jiwa yang sehat, manusia itu butuh ikhtiar. Namanya badan itu seperti mesin. Butuh bensin, butuh oli, butuh dipanasin, perlu diservice, perlu juga dicuciin supaya kinclong. Sementara jiwa manusia ya perlu asupan vitamin bahagia supaya bisa memandang kehidupan dengan lebih positif. 

Nah, supaya bisa memandang hidup lebih positif, tentunya kesehatan jiwa dan raga itu kudu dijaga. Ada kok cara-cara sederhana menjaga kesehatan jiwa dan raga 


1. Menjaga asupan makanan dengan gizi seimbang 

Untuk usia jelita seperti saya harusnya sudah banyak mengatur makanan. Sudah nggak zamannya lagi enak di lidah, embuh di badan. Sekarang ini banyak banget makanan yang jauh banget dari kata sehat. Lemak jenuh tinggi, gula tinggi, dan rendah serat. Dan itu mudah sekali kita temukan di sekitar kita. 

Makanan seimbang itu terdiri dari zat gizi yang berupa karbohidrat, protein, vitamin & mineral, lemak dan serat. 
Dalam setiap piring saji kita setiap harinya kebutuhan dari zat-zat gizi tersebut harus dipenuhi. Namun dengan komposisi dan jumlahnya yang harus dibatasi. Apalagi bagi orang-orang yang sudah memiliki riwayat kesehatan yang memerlukan pengaturan pola makan yang lebih ketat. 

Misalnya saya pernah memiliki riwayat kolesterol yang tinggi serta pernah mendapatkan tindakan medis terkait dengan tumor yang pernah bersarang di tubuh. 

Saya pun mengganti minyak goreng di rumah dengan minyak kelapa. Meski sudah menggunakan minyak kelapa, saya tetap membatasi masakan menggunakan minyak, apalagi memasak dengan metode deep fried. Saya juga menghindari masakan yang dibakar, karena khawatir akan jumlah kandungan karsinogennya. 


2. Olah Raga

Pernah membaca sebuah artikel bahwa kehidupan manusia modern saat ini yang cenderung sedentery life, membuat mereka begitu mudah terpapar penyakit. Mager itu jadi penyakit tersendiri bagi manusia dan menjauhkan dari kehidupan yang sehat. Padahal melakukan aktivitas dan meluangkan waktu untuk berolahraga itu benar-benar membuat tubuh lebih fresh. 

Berolahraga itu nggak butuh banyak waktu kok. Dalam seminggu kita cuma butuh 150 menit untuk menjaga kebugaran. Dari 10.080 menit kehidupan kita dalam satu minggu, kita cuma butuh 1% aja supaya tubuh kita jauh-jauh dari penyakit. 

Olahraga juga nggak kudu mahal. Jalan kaki keliling kompleks atau angkat beban tanpa alat di rumah pun sudah cukup membantu kok. Emang ada angkat beban tanpa alat? Ada. Bebannya ya dari tubuh kita sendiri. Contohnya push up, set up, squat, plank, dan masih banyak gerakan lain yang termasuk angkat beban tanpa alat. 





3. Istirahat yang cukup

Ada empat macam istirahat yang bisa kita lakukan untuk memberikan tubuh kita hak menghilangkan rasa penat yaitu istirahat fisik, psikis, sosial dan spiritual.

a. Istirahat fisik
Bukan berarti kita duduk di sofa namun mata tak lepas dari TV atau gadget bisa memenuhi kebutuhan fisik kita. Namun benar-benar berhenti dari aktivitas kita. Tidur nyenyak selama 6-8 jam sudah cukup memberikan hak tubuh kita. 

b. Istirahat psikis
Nggak bisa dipungkiri, setiap manusia pasti penuh dengan masalah. Namanya juga hidup, pasti ada aja persoalan yang perlu mendapatkan solusi. Refreshing dengan bersepeda santai, jalan-jalan ringan, rekreasi ke tempat-tempat yang nyaman dan sejuk, atau cukup meluangkan waktu bercanda dengan keluarga bisa mengistirahatkan mental kita dan menjauhkan dari stres. 

c. Sosialisasi
Manusia itu mahluk sosial. Mahluk yang butuh orang lain. Ngobrol dengan tetangga, sahabat, saudara, atau komunitas pun bisa mengistirahatkan badan dan pikiran kita. 

d. Spiritual
Berkomunikasi dengan Tuhan, melakukan kegiatan-kegiatan spiritual pasti membuat hati kita jauh lebih nyaman, apalagi dengan berbagai masalah yang melingkupi. Kedekatan kita dengan Sang Pencipta pasti melahirkan banyak solusi dan hikmah yang membuat kita sebagai manusia lebih mensyukuri nikmat-Nya. Saat rasa syukur hadir di hati, tentunya rasa ikhlas akan mudah ditemukan. Jika rasa tenteram itu kita punyai, yakin deh tubuh kita pun merasakan lebih nyaman dan sehat. 


4. Menjaga kebersihan

Saat Wabah Corona ini terjadi, manusia di dunia disadarkan pentingnya menjaga kebersihan. Contoh kecilnya adalah cuci tangan. Sebenarnya kan kegiatan cuci tangan ini sudah digaungkan oleh pemerintah jauh-jauh hari. Sejak kecil pun kita diajari orang tua untuk selalu cuci tangan dan kaki setiap pulang ke rumah. 
Penyakit itu sering kali datang karena hal-hal kecil di sekitar kita. Salah satunya adalah sampah. Untuk itu, jaga kebersihan dari diri kita sendiri meski dari hal-hal yang ringan. 


5. Mengendalikan stres

Mensana in corpore sano. Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Kesehatan jiwa itu sangat berpengaruh pada kesehatan raga. Setiap kali manusia dalam keadaan stres daya tahan tubuhnya pasti akan menurun. Jika tubuh melemah akan sangat mudah terserang penyakit. 

Dalam diri manusia itu punya hormon kortisol yang berfungsi membantu tubuh melawan peradangan dan berbagai penyakit. Jika seseorang mengalami stres yang berat maka terjadi pelepasan hormon kortisol secara terus menerus yang menyebabkan kemampuan sistem kerja hormon tersebut berkurang. 

Untuk itu, manusia perlu mengendalikan stres dengan baik. Banyak cara kok untuk mengendalikan stres. Bisa dengan olahraga, mendekatkan diri dengan sang pencipta, berbagi dengan keluarga atau sahabat, dan banyak hal positif lainnya yang bisa dilakukan. 

Jika ikhtiar sudah dilakukan ...

Berbagai ikhtiar sehat sudah dilakukan. Ada ikhtiar lain yang seharusnya penting kita lakukan juga yaitu mengatur keuangan yang berkaitan dengan kesehatan. 

Idealnya setiap keluarga memiliki asuransi kesehatan sebagai perlindungan keluarga. Perlindungan ini sebagai upaya jaga-jaga seandainya hal buruk terjadi. Hanya saja tak semua keluarga memiliki privilage membeli asuransi kesehatan sebagai proteksi. 

Saya pernah berada di posisi itu. Jangankan untuk berhemat, wong untuk makan aja kalau diitung ya kurang. Bagaimana cara mengatur duit yang seiprit, dijerengin lagi supaya cukup bener-bener bikin menjerit meski dalam hati. 

Qodarullah, kok ya Allah itu baik banget. Kondisi keuangan keluarga minim, tapi diberikan sehat yang maksimal. Yang kami lakukan adalah menjaga supaya tetap memiliki sisi bahagia dalam hidup. Yang kami lakukan saat itu ya menjaga jiwa dan raga seperti poin-poin yang saya tulis di atas. Meski untuk asupan bergizi seimbang ya nggak bisa bener-bener dipenuhi. Namun dalam seminggu selalu diusahakan semua gizi seimbang itu bisa diberikan untuk keluarga. 


Nah ... Belajar dari kejadian dua bulan lalu saat tiba-tiba harus menjalani lumpectomy. Ada sih asuransi kesehatan dari kantor suami. Namun saya sempat lupa meninggalkan uang untuk ART di rumah belanja kebutuhan toiletris. ART di rumah akhirnya menggunakan uang-uang receh yang saya kumpulkan di atas kulkas. 

Sepertinya menyisihkan uang-uang receh pun bisa menolong lho. Mulai dari memisahkan pecahan 200 an, 500 an, 1000 an dan 2000 an bisa membantu lho jika kita benar-benar nggak punya budget khusus untuk menabung. 

Stay safe and keep healthy ya temans

Selasa, 15 September 2020

8 Drakor Lawas yang Menarik Ditonton



Assalamualaikum temans

Saya penikmat drama korea sejak pertama kali drakor masuk ke Indonesia. Seingat saya drama korea yang pertama masuk ke Indonesia tahun 2000 an adalah Winter Sonata yang dimainkan oleh Bae Young Jun dan Le Min Kyung. Setelah itu ada Endless Love (Autumn in My Heart) yang dimainkan oleh Song Seung Hun, Won Bin dan Song Hye Kyo. Setelah itu ada What Happened in Bali, Hotelier, Jewel in the Palace, Queen Seon Deok, dan banjir drama korea yang masuk ke stasiun televisi Indonesia mulai tahun 2004. 

Selama beberapa tahun entah berapa drakor sudah saya tonton, baik yang tayang di Indonesia atau enggak. Pernah dalam fase laptop nyala semaleman buat maraton drakor. Bener-bener begadang, apalagi kalau sudah baca sinopsisnya duluan di blog-blog yang ngebahas tentang sinopsis drakor (yang cenderung spoiler)

Karena nggak berhenti nonton drakor, nularlah kebiasaan itu ke si Kakak. Dulu saya sama sekali nggak ngefilter apa yang Kakak lihat. Bayangan saya sih, yang penting saya dampingin aja. Si Kakak terpapar drakor sejak usia tujuh tahun. Kebangetan banget deh saya. 

Melihat perkembangan yang kurang baik pada si Kakak karena terpapar budaya asing, akhirnya saya menyapih diri sendiri untuk stop nonton drakor. Hanya saja si Kakak sudah kadung cinta dengan budaya negeri ginseng itu. Nggak cuma drakornya, tapi juga musik dan bahasa. Saat SMP dia sudah bisa nulis dan membaca huruf hangeul. Sekarang sedikit-sedikit ia bisa mengartikan bahasa korea yang tertulis dalam huruf hangeul. Semuanya ia pelajari dengan otodidak. 

Ada beberapa drama korea yang buat saya tak terlupa. Entah karena aktor dan aktrisnya ataupun alur cerita yang menurut saya memikat. Meski sekarang mereka sudah jadi ahjussi dan ahjumma, buat saya mereka tetap terlihat menarik. Coba deh, lihat saja Song Seun Hun yang sekarang berusia 45 tahun, Jo Sang Wook yang sudah berusia 42 tahun, lalu Ha Ji Won dan Soo Ae yang usianya sudah 40 tahun ke atas masih kelihatan awet muda. Coba deh dijejerin sama Lee Jung Suk yang main di W-Two Worlds atau Romance is a Bonus Book. Nggak kelihatanlah kalau umur mereka jauh (maksa banget)

Di luar drama-drama yang akan saya sebutkan masih banyak banget drama-drama lawas yang masih menarik untuk dilihat. Misalnya saeguk semacam The Moon That Embraces The Sun, Empress Ki, Jang Ok Jung, atau K-drama yang berlatar medis semacam Good Doctor. 


Kuy, simak 8 drakor lawas yang menarik versi saya


What happened in Bali (2004)




Drama ini bertabur bintang deh. Ada Jo In Sung, Ha Ji Won, serta So Ji Sub yang saat ini masih eksis menjadi aktor dan aktris papan atas di Korea Selatan. Kehadiran pemain-pemain baru tak membuat nama-nama mereka tenggelam. 

Dari judulnya udah ketahuan kan ya, kalau menggunakan Bali sebagai setting cerita? Setting tempat ini sebenarnya hanya di awal dan akhir cerita saja sih. Meski tak begitu mengekspos keindahannya, namun Bali tak sekadar tempelan belaka. Nuansanya tetap tergambar di film itu. O ya, drama korea ini juga dikenal dengan judul Memories of Bali

Lee So Jung (Ha Ji Won) seorang gadis yatim piatu. Untuk menghidupi dirinya ia bekerja sebagai pemandu wisata. Saat memandu wisata di Bali ia bertemu dengan Jung Jae Min (Jo In Sung, Kang In Wook (So Ji Sub) dan Choi Young Jo (Park Ye Jin) yang sedang berlibur di Bali. Jae Min adalah anak seorang konglomerat yang sudah bertunangan dengan Young Jo. Sementara itu In Wook adalah karyawan dari perusahaan milik keluarga Jae Min. 

Jae Min memanfaatkan So Jung untuk memancing kecemburuan Young Jo. Sementara itu So Jung mau aja didekati Jae Min karena butuh uang. Tak disangka mereka jatuh cinta beneran. Namun keluarga Jae Min tak menyukai So Jung, bahkan ingin melenyapkannya. 

In Wook yang tinggal sebelahan dengan So Jung pun jatuh cinta padanya. Ia berusaha melindungi So Jung dari keluarga Jae Min yang tak menyukainya. Ia berusaha menjauhkan So Jung dan Jae Min dengan segala cara, sampai cara paling licik sekalipun. 

Kalau banyak orang bilang bahwa hidup ini tak seindah drama korea, mereka kudu nonton drakor yang satu ini. Kalau udah nonton, kira-kira masih punya pendapat yang sama nggak ga?


Prosecutor Princess (2010)




Beberapa waktu yang lalu drakor ini ditayangkan kembali oleh salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. Drama bergenre komedi romantis ini ngulik tentang dunia hukum di Korea Selatan. 

Kim Yo Seon cute banget di drakor ini. Beda banget dengan peran sebelumnya di tahun 2009 sebagai Kim Sun Hwa, seorang agen rahasia Korea Utara di Iris, drama korea yang bergenre action thriller. 

Di Prosecutor Princess ini ia berperan sebagai Ma Hye Ri, seorang jaksa muda yang polos, naif, ceria dan shopaholic. Meski ia adalah lulusan fakultas hukum sebuah universitas terkenal di Korsel tak lantas membuatnya dihargai saat bekerja di kejaksaan. Penampilannya yang mewah dan cheerful membuat semua orang memandang remeh kemampuannya.

Pertemuannya dengan Seo In Woo (Park Shi Hoo) seorang pengacara membuatnya belajar banyak hal. Ia belajar tentang hukum dan kehidupan. Ia tak menyangka persahabatan yang berubah jadi cinta dengan Seo In Woo menjadi rumit karena masa lalu orang tua keduanya.

Pas nonton Prosecutor Princess ini, saya tergila-gila dengan soundtrack nya Good Bye My Princess. Kayaknya dulu sampai hapal deh hahaha ... 

Menikmati drakor ini kayak nikmatin kripik yang crunchy. Renyah namun berasa. Romantisnya dapet, komedinya meski nggak bikin ngakak sengakak-ngakaknya, tapi tetap bikin senyum dan ketawa di banyak episodenya. Ada kesedihan menjelang ending, sempet mrebes mili dikit. Tapi endingnya ya bikin senyum-senyum sih. Ada beberapa part yang lebay sih, tapi nggak lantas ganggu banget. Masih nyaman untuk dinikmati kok.


Cinderella Stepsister (2010)




Moon Geun Young selalu jadi aktris favorit buat saya. Wajahnya yang sendu membuat siapapun bakalan jatuh sayang padanya. Wajahnya menjadi benchmark saya membuat karakter tokoh waktu menulis novel ketiga yang batal naik cetak namun sudah dibeli putus hehehe ...

Moon Geun Young menurut saya sukses memerankan seorang gadis yang cerdas namun sarkas. Gadis yang terlihat tanpa emosi, namun sebenarnya menyimpan kerinduan pada kasih sayang tulus. 

Di drakor ini Moon Geun Young beradu akting dengan Chun Jung Myun, Seo Woo dan Taecyon, anggota boyband 2PM. Meski saat itu masih pendatang baru, Taecyon keren juga mainnya sebagai second male. 

Seo Woo sendiri bermain bagus sebagai seorang gadis manja dan drama queen. Wajahnya yang cantik dan terlihat menyenangkan hati membuatnya terlihat seperti princess. Penampilan mereka sungguh menipu dan membuat penonton gemas.

Harusnya Song Eun Jo (Moon Geun Young) bahagia saat ibunya menikah kembali dengan seseorang yang baik dan kaya. Namun pernikahan itu tak membuatnya lebih baik karena merasa kasih sayang ibunya diambil oleh Hyo Sun, adik tirinya. Ia menjadi gadis pemberontak dan emosional. 

Persaingan antara Eun Jo dan Hyo Sun tetap berlangsung sampai mereka dewasa. Apalagi mereka menyukai laki-laki yang sama, Hong Ki Hoon (Chun Jung Myun) Ditambah lagi sosok Ki Hoon yang menyimpan misteri sedikit demi sedikit terkuak. 

Konflik drama keluarga dibalut dengan percintaan dan dunia usaha dikemas apik dalam melodrama ini. Seperti biasa, saya banjir air mata kayak nonton drakor yang lain pas nonton Cinderella's sister ini. 


Pasta (2010)




Gong Hyo Jin termasuk salah satu aktris drakor favorit saya selain Moon Geun Young dan Kim Tae Hee. Wajahnya yang manis dan aktingnya totalitas banget membuatnya sering mendapatkan penghargaan. Banyak dramanya yang dapet rating bagus, termasuk Pasta, sebuah drama bertema kuliner ini.

Seo Yo Kyung (Gong Hyo Jin) bercita-cita menjadi koki terkenal. Karirnya dimulai dari asisten koki di restoran La Sfera. Ia berangkat paling awal dan pulang paling akhir. Namun ia selalu bekerja dengan penuh semangat. 

Choi Hyun Wook (Lee Sun Gyun) seorang koki lulusan seni kuliner dari Italia menjadi koki baru di La Sfera. Ia seseorang yang keras dan temperamental. Dengan mudah ia membentak atau membanting hasil karya anak buahnya jika plattingnya jelek.

Awalnya Yo Kyung yang takut-takut berhadapan dengan Hyun Wook, kemudian kayak frenemy, lantas saling suka tuh bikin gemoy lah. Belum lagi banyak persoalan di dapur yang harus memisahkan perasaan pribadi dengan urusan kerja. 

Konflik yang terjadi di dapur sebuah restoran ternyata asyik juga dikulik. Yang saya suka dengan drama korea tuh ketika menyajikan drama dengan tema tertentu misalnya kuliner, nggak sekadar tempelan doang. Bener-bener detil. Misalnya istilah sous-chef. Kirain saya sous chef itu adalah chef yang khusus bikin saus. Nggak tahunya itu adalah istilah bagi orang kedua pengendali dapur dibawah executive chef. 


My Princess (2011)




Duh ... Kalau sama Song Seung Hun ini saya sudah jatuh sayang sejak ia main di Autumn in My Heart, drakor yang masuk ke Indonesia sekitar tahun 2000. Makin kesini makin ganteng aja dia, meski masih jomblo di usia 45. 

Di K-dramanya yang ke 13 ini Song Seun Heun bermain dengan Kim Tae Hee, perempuan cantik istri Rain, seorang aktor dan penyanyi dari negara ginseng itu. 

My Princess ini berkisah tentang Lee Seol (Kim Tae Hee), seorang gadis ceria dan lucu. Karena kondisinya yang jauh dari kata berharta, ia bekerja paruh waktu supaya bisa kuliah di sebuah universitas ternama. Ia sering berkhayal menjadi seorang putri kerajaan yang kaya raya. 

Pertemuannya dengan Park Hae Yong (Song Seun Heun) membawanya pada kenyataan bahwa ia adalah cucu buyut terakhir Kaisar Sunjong dari dinasti Chosun. Ia pun dibawa ke sebuah istana yang tertutup dari publik dan harus belajar menjadi seorang seorang putri penerus dinasti Chosun.

Ada cinta segi empat, iri dan dengki, ketamakan, serta ketulusan membawa drama korea ini dalam keseruan. Gelombang emosinya dapet banget. Dari ketawa ngakak, tiba-tiba sebel sama Oh Yon Joo, lalu kayak dapet vitamin ngeliatin Nam Jung Woo. Gado-gado banget lah kalau nonton drama korea ini.

Kim Tae Hee juga berakting natural. Kocak berat saat berperan menjadi Lee Seol. Wajahnya yang cantik tanpa operasi plastik ini emang mempesona. Coba aja sekarang, lihat dramanya di tahun 2020, Hi Bye Mama. Nggak beda jauh kan? 

Drama komedi romantis ini memberi kita banyak pelajaran dalam hidup meski disampaikan dengan cara sedemikian ringan. Bahwasanya kebahagiaan itu tidak melulu diletakkan pada kekuasaan ataupun kekayaan. Ketulusan dan kesetiaan menjadi faktor penting dalam memenuhi tangki hati kita dengan cinta.


Thorn birds (2012)




Drama Korea yang dibintangi oleh Han Hye Jin, Kim Min Jung dan Joo Sang Wook. Drama ini bercerita tentang perjuangan gadis yatim piatu Seo Jung Eun (Han Hye-jin) mencapai cita-citanya sebagai seorang artis terkenal. Bersahabat dengan Han Yoo Kyung sejak kecil. Namun persahabatan itu putus karena sebuah masalah. Yoo Kyung pun pergi ke luar negeri dan kembali dengan posisinya yang cukup bagus di dunia perfilman. Sayangnya ia masih menyimpan dendam pada Jung Eun sehingga berusaha menghalanginya merintis jalan menjadi seorang artis. 

Bertemu dengan Lee Young Jo membuat konflik di antara dua gadis ini meruncing. Silang sengkarut antara persahabatan, rindu, cinta dan benci menjadi bumbu dari drama korea yang pernah masuk ke Indonesia di tahun 2013.

Drama ini mengajarkan saya arti kasih sayang yang tak terputus oleh apapun. Seberapapun dendam dan benci seseorang, namun akan selalu luluh pada kasih sayang yang tulus 



Queen of Ambition (2012)




Cinta akan menjadi indah jika engkau tulus. Sekali kau mengucapkan emosi tak terkendali akan tumbuh.

Ini adalah salah satu quote yang diucapkan oleh Soo Ae dengan wajahnya yang dingin dalam perannya sebagai Joo Da Hae, seorang perempuan miskin yang memiliki keinginan kuat untuk mengubah nasib. Sayangnya keinginan yang berlebihan itu menjadikannya seorang perempuan yang ambisius, dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.

Hidup yang awalnya menyedihkan untuknya, ditambah pelecehan seksual yang dilakukan oleh sang ayah tiri membuatnya jadi perempuan berdarah dingin, mengorbankan apapun, bahkan suami yang mempertaruhkan hati dan jiwa untuk Joo Da Hae. 

Drakor ini menjadi salah satu drakor favorit saya. Soo Ae, yang berwajah lembut aktingnya luar biasa. Meski berperan menjadi tokoh antagonis, namun tak lantas membuat penonton membenci. Penonton malah mengasihani Da Hae. 

Drama ini berakhir dengan kesedihan. Namun juga kelegaan. Bahwa kejahatan yang disimpan serapi apapun pasti ada celah untuk terbuka. 


49 days (2011)



Drama romantis ini adalah drama korea yang pertama kali ditonton si Kakak. Drama yang dimainkan oleh Nam Gyu Ri, Jung Il Soo, Lee Yo Won, dan Jo Hyun Jae ini menguras air mata sedari awalnya. Sebuah drama fantasi, konsepnya keren banget, dan buat saya unforgetable banget. 

Shin Ji Hyun (Nam Gyu Ri) adalah seorang wanita yang mempunyai hidup yang mendekati sempurna. Ia berwajah jelita, keluarga yang kaya raya, orang tua yang sangat menyayangi, seorang tunangan yang menawan dan mencintainya, serta sahabat-sahabat yang setia. 

Namun semuanya berubah drastis saat Ji Hyun mengalami kecelakaan lalu lintas. Ia mengalami koma. Namun dalam komanya ia diberikan kesempatan untuk dapat hidup dengan syarat bisa menemukan 3 orang yang menangis untuknya dengan hati yang tulus. Ia harus mengumpulkan air mata 'tulus' itu dalam waktu 49 hari. 

Untuk melaksanakan misinya, Ji Hyun meminjam tubuh So Yi Kyung (Lee Yo Won) yang hidup tanpa emosi. Malaikat maut mengawasi apapun yang ia lakukan. Kehidupan yang dijalani Ji Hyun pun menjadi sangat berat karena harus melakukan apapun sendiri menghidupi dirinya sendiri. Hanya sahabatnya Han Kang (Jo Hyun Jae) menjadi penolongnya di masa-masa sulit.

Dalam hidup sering kali kita menemukan hal-hal di luar pemikiran kita. Banyak kejutan yang hadir dalam setiap sketsa hidup yang dihadirkan oleh Sang Maha Kuasa. Sering kali Tuhan memberikan manusia kesempatan untuk memperbaiki kehidupan. Hanya saja manusia mampu membaca kesempatan itu atau tidak. 



Aktor drama korea favorit


Kehadiran Lee Jung Suk, Yoo Ah In, Ji Chang Wook, Park Bo Gum, Kim So Hyun, bahkan Cha Eun Wook atau Nam Joo Hyuk tak membuat saya goyah. Bagi saya Song Seung Heun menjadi aktor drakor favorit saya. Bukan hanya karena wajahnya yang ganteng, namun eksistensinya di dunia entertainment sejak tahun 1995 sampai sekarang masih tetap terjaga. Di tahun ini ia main di drama korea berjudul Dinner Mate yang diproduksi oleh MBC. Harapan saya sih, aktor dan aktris senior ini masih selalu berkarya, apalagi sekarang penikmat drakor nggak melulu anak muda kan? 

Thanks for reading ya temans, stay safe keep healthy ya?













Rabu, 09 September 2020

Kota Lama, Wisata Semarang yang Murah Meriah



Assalamualaikum temans, 

Kalau pas berkunjung ke Semarang nengok mertua, saya dan keluarga pasti nyempetin main ke Kota Lama. Buat saya dan anak-anak, Kota Lama tuh selalu jadi tujuan wisata keluarga buat kami, dengan dua anak remaja. 

Anak-anak yang sudah remaja kan nggak butuh lagi area luas buat lari-larian, atau puas-puasin main air. Yang mereka butuhkan ya eksis di media sosial dong. Rata-rata remaja sekarang kan takut kalau nggak sama dengan temen-temennya yang selalu update kemana aja mereka pergi. Jadi kalau sekarang main sama anak-anak udah nggak rempong lagi. Udah ketahuan maunya ngapain. 

Jadi, kalau berwisata ngajak anak-anak yang sudah remaja apalagi coba yang dicari kalau bukan tempat-tempat yang instagramable? Mereka akan sibuk cari spot sendiri-sendiri. Terkadang spot yang menarik buat saya dipandang B aja oleh anak-anak. Begitu juga sebaliknya. Spot yang menurut saya jelek, bagi anak-anak bisa jadi sesuatu yang unik. 

Kalau si Adek diajak wisata spot foto gitu, doi ya ngikut gimana si Kakak aja. Tugasnya tuh nemenin. Difoto juga kurang suka. Kecuali kalau si Kakak yang maksa. Tapi begitu mau difoto, dia bakal tampil maksimal. Printilannya banyak. Berpuluh-puluh foto akan diulang kalau dia merasa belum sreg. Entah senyumnya kurang bagus, matanya nggak fokus. Pokoknya ada aja yang dikomenin. 

Sementara kalau si Kakak suka pada spot foto yang agak horor. Sayanya sudah merinding disko, dianya ngajak aja ke gedung-gedung tua yang suasananya bikin bulu kuduk berdiri. Pernah suatu saat, lebaran hari pertama, sudah sore pula, dia ngajak ke Kota Lama. Alasannya, biar feel horornya dapet. 




Bener aja. Sampai di Kota Lama menjelang jam 17.00. Kami mengejar cahaya supaya nggak horor-horor amat. Dia kegirangan nemuin spot-spot horor, sementara saya celingukan, berharap ada orang yang lewat. Ya namanya juga lebaran hari pertama. Untuk umat muslim biasanya masih riweh dengan urusan silaturahmi dengan sanak saudara. 

Kami sempat bertemu dengan wisatawan yang memang memanfaatkan momen menghindari keramaian. Nggak berapa lama, mereka juga kabur. Mungkin ngerasain bulu kuduk yang mulai berdiri seiring cahaya kian meredup. 

Nah ... Lebaran berikut, si Kakak minta ke Kota Lama lagi. Namun kali ini nggak nyari spot horor lagi. Banyak perubahan yang menjadikan Kota Lama makin diminati oleh wisatawan. 

Hanya selisih setahun banyak banget perubahan yang membuat Kota Lama makin menyenangkan untuk dikunjungi. 




Berbagai cafe bertebaran, spot foto makin banyak, Lebaran hari pertama tahun lalu Kota Lama pun ramai oleh wisatawan dadakan. Ada yang sekadar lewat kemudian mampir. Ataupun sengaja ke sana seperti kami saat itu. 

Beberapa masyarakat pun menyediakan spot foto. Tinggal membayar Rp. 10.000,- atau Rp. 15.000,- bisalah foto romantis bersama pasangan atau keluarga. Kalau pengen yang gratisan sepanjang area jalanan bisa jadi spot foto yang menarik. 

Lebaran tahun ini kami melewatkan momen berkunjung ke wisata Semarang. Pandemi membuat saya dan keluarga tidak mengunjungi sanak saudara satupun. Bagaimanapun juga kami menjaga supaya semuanya tetap aman dan nyaman. 

Stay Safe and Keep Healthy ya temans

Minggu, 23 Agustus 2020

Ada tumor di payudara saya


Tumor?

Sering kali saya begidik mendengar kata tersebut. Entahlah, mungkin ada sedikit trauma di diri saya. Beberapa orang dekat dan teman mengalami hal itu membuat saya lebih baik tidak membicarakan ketika ada topik tersebut melewati pendengaran saya.

Seorang sahabat, udah kayak sodara. Ia sudah saya anggap pengganti orang tua mengalami tumor otak. Tak pernah terlihat sakit sebelumnya. Hanya dua bulan sebelum terdeteksi mengidap tumor otak yang ganas ia memperlihatkan tanda-tanda. Sempat berpamitan. Sebelum pada akhirnya ia drop sampai dipanggil oleh Sang Pencipta empat tahun yang lalu.

Kemudian Yaya, anak sahabat saya, mbak Atih sahabat saya. Ani, teman SMP dan SMA saya. Sempat menguatkan hati untuk memberikan support pada mbak Atih dan Ani. Yang paling terasa adalah saat saya memberikan support pada mbak Atih. Benar benar membolakbalikkan hati.

Lantas, kurang dari sebulan yang lalu, saya terdeteksi mengidap tumor payudara. Rasanya tak percaya. Benjolan yang baru teraba ketika saya bercanda dengan Kakak dan sisi di benjolan itu tidak sengaja tersodok tangan Kakak. Rasa nyeri yang benar-benar saya rasakan saat itu membawa sebuah kenyataan. Ada tumor payudara di tubuh saya.

Rasanya tidak percaya. Menangis pun saya tak bisa. Saya melewati fase denial. Saya menyangkal. Bagaimana bisa saya yang rajin berolah raga dan mengonsumsi makanan sehat bisa ada tumornya?

Saya mencoba tenang. Tak memperlihatkan emosi di rumah. Saya tak mau anak-anak terpengaruh, secara kami terbiasa bertiga di rumah setiap harinya. Berkegiatan seperti biasa. Bercanda seperti biasa, meski anak-anak merasakan sedikit perbedaan.

Saya menjalani pemeriksaan setelah dirujuk ke Rumah Sakit Umum Kota Magelang. Bersyukurnya saya, dokter di faskes 1 adalah ibu teman sekelas Adek. Beliau mengirim rujukan ke rumah sakit tipe B dengan pertimbangan di sana ada pemeriksaan mammografi. Kalau rumah sakit tipe C baru menggunakan USG untuk mendeteksi pemeriksaan.

Hari Jumat saya bertemu dokter bedah umum. Diagnosa awal adalah tumor jinak. Kemungkinan tumor itu bersarang di payudara saya sudah satu tahun. Sudah besar. Tak hanya sebesar kelereng. Sang dokter langsung meminta saya untuk cek lab hari itu juga. Ada pemeriksaan darah dan rontgen. Tindakan medis dilaksanakan hari Selasa, setelah hasil cek lab keluar dan diserahkan ke dokter hari Senin.

Sejak awal terdeteksi saya hanya bercerita pada suami, anak-anak, adik-adik dan dua sahabat terdekat yang sudah saya anggap sebagai kakak. Saya menjaga hati supaya tenang, tak banyak informasi masuk sehingga menggoyahkan hati. Saya ingin fokus. Menyiapkan diri dan keluarga supaya bisa bertahan. Lantas dalam perjalanan menuju rumah sakit sebelum tindakan medis barulah saya mengabari beberapa sahabat di circle terdekat.

Mempersiapkan hati anak-anak itu yang paling menguras hati. Berusaha tak menangis itu sebuah perjuangan yang berat. Melihat si Kakak meneteskan air mata di tengah doanya. Memeluk saya dengan erat. Berusaha untuk menahan diri supaya tangisnya tak meledak. Dengan mata yang berkaca-kaca si Adek pun memeluk saya setelah berdoa. Pemandangan emosional itu membuat saya berusaha berbicara dengan suara yang tak bergetar. Sesekali menarik napas dengan maha berat. It was work out. Meski dada mau pecah rasanya.


Menjelang Tindakan Medis.

Program tindakan medis dilakukan hari Selasa. Namun Senin sore saya sudah harus stand by di RS. Was wasnya dobel karena rumah sakit itu merupakan rumah sakit rujukan Covid. Setiap saat melihat nakes memakai APD lengkap keluar masuk membawa pasien.

Saya menempati kamar Anyelir 1. Meski BPJS saya harusnya menempati kelas 2, saya tetap berusaha berhati-hati untuk tidak sharing kamar atau toilet dengan orang lain. Walaupun sebelum masuk bangsal semua pasien selalu melewati rapid test. Lebih baik saya menambah biaya demi keamanan semuanya, kan? O ya, sebagai informasi tambahan sekarang ini jika hendak rawat inap di RS harus melakukan rapid test terlebih dahulu. Selain itu pihak keluarga juga menandatangani pernyataan bahwa pasien tidak boleh dijenguk sama sekali. Penunggu pasien pun maksimal 2 orang.

Bakda Maghrib sedikit drama terjadi. Adek tiba-tiba chat saya begini.


Saya yang panikan pun langsung VCall ke Adek. Makin panik ketika melihat Adek menangis. Adek itu nggak pernah nangis kalau menahan sakit. Lha kok ini bisa nangis tersedu-sedu. PakSu pun langsung pulang ke rumah.

Hati saya embuh rasanya. Melihat Adek menangis, Kakak yang ikut meneteskan air mata sambil mengelus kepala Adek. Sementara saya sendiri harus menyiapkan mental untuk tindakan medis esok hari. Jantung tak segera reda berdebum. Alhamdulillah, nggak berapa lama, pakde nya anak-anak yang ada di sebelah rumah mengabari kalau Adek sudah mendingan. Meski nggak sepenuhnya tenang, setidaknya jantung saya sudah nggak jedag jedug lagi.


Tindakan Medis

Mulai jam 06.00 infus mulai terpasang di tangan saya. Jarumnya jauh lebih besar dari jarum infus yang biasa saya lihat. Sampai delapan hari pasca tindakan medis pun bekas lukanya masih terlihat. Baju operasi pun sudah mulai dipakai di waktu yang sama.

Jadwal operasi di RSU Tidar tak bisa saya ketahui dengan pasti. Semua berdasar on calling dari ruang operasi. Sampai pukul 09.00 saya tanyakan ke perawat pun masih belum ada jawaban. Sampai kemudian pukul 10.15 beberapa perawat masuk ke ruangan saya. Inilah waktu saya menjalani tindakan medis tersebut. Penutup kepala dipasang, begitu juga dengan masker. PakSu membersamai saya sampai depan pintu ruang operasi.

Sejujurnya saya takut. Mau operasi sesimpel apapun perasaan takut mati itu pasti menyelusup dalam hati. Kata bagaimana dan jika selalu melintas dalam pikiran. Saya pun memejamkan mata. Bertahlil. Berpasrah. Tempat saya berbaring pun mulai didorong memasuki sebuah tempat dengan hawa dingin yang menusuk tulang.

Saya nggak mau membuka mata. Saya tak mau melihat berbagai alat dan lampu di ruangan itu. Sekitar 15 menit persiapan dilakukan. Lantas saya mendengar suara sang dokter bedah. Seorang perawat berkata pada saya, 

"Ibu, berdoa ya? Semoga tindakan hari ini berjalan lancar dan ibu kembali sehat."

Saya mengangguk. Tahlil tak berhenti terucap. Sesuatu masuk ke dalam tubuh saya. Saya tahu. Itulah saatnya. Lantas saya tak ingat apa-apa lagi.

Saya terbangun saat mendengar adzan. Mata saya berkejap. Merasakan balutan di dada begitu kuat. Nyeri bekas sayatan terasa.

"Shalat ..," desis saya.

"Ini masih di ruang operasi, Bu. Sabar ya, sebentar lagi kembali ke bangsal."

Total waktu tindakan medis kurang dari 1,5 jam. Bersyukurnya saya, tidak disertai penyulit sehingga operasi pun berjalan lebih cepat dari perkiraan.


Alhamdulillah ...

Selang beberapa waktu saya pun keluar dari ruang operasi, dan dipindah ke ranjang pasien yang sudah disiapkan oleh bangsal. Dari sudut mata saya menangkap senyum PakSu yang menunggu di balik pintu.

Efek bius bertahan sampai esok pagi. Saya lebih banyak tertidur meski tak lama. Beberapa kali video call dengan keluarga supaya mereka sudah merasa tenang. Dan membalas beberapa WA beberapa sahabat. Meski pada akhirnya sulit membalas satu persatu. Tapi saya usahakan untuk membalas semua WA yang masuk keesokan harinya.


Pasca tindakan medis

Dokter visite sekitar jam 07.30. Dari awal beliau sudah mengatakan bahwa tumor tersebut Insya Allah tumor jinak. Hal itu ditandai dengan :

1. Ada batas yang jelas

2. Benjolan bisa bergerak kesana kemari

3. Permukaan halus

4. Saat puting ditekan tidak ada cairan yang keluar

5. Tidak ada gangguan kulit disekitar payudara, misal bersisik, gatal, atau puting melesak ke dalam.


Saya harus menunggu beberapa jam untuk administrasi. Infus pun dicopot sekitar pukul 10.00. Sebelum infus dicopot pun saya sudah bisa beraktivitas ringan seperti makan atau ke toilet sendiri tanpa bantuan.

Saya pun pulang dari rumah sakit bakda Ashar. Di rumah anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Salah satu yang saya syukuri adalah saya mendapatkan tindakan medis saat anak-anak sudah besar. Semua pekerjaan rumah dihandel oleh anak-anak, terutama si Kakak. Semua tugas yang terkait dengan belanja mingguan dan urusan perdapuran Kakak lakuin dengan baik banget.

Terkadang merasa kasihan juga pagi hari dia sudah bangun, cuci piring dan peralatan lain. Setelah itu ia harus prepare untuk memasak sarapan. Selesai memasak ia harus bersiap untuk masuk kelas dan mengerjakan tugas-tugas sekolah. Belum selesai mengerjakan tugas, ia harus memasak untuk siang hari.

Trenyuh, pasti. Nggak pernah saya dengar ia mengeluh. Berusaha selalu membuat saya tersenyum. Bicara pada adiknya pun pelan, nggak ada ngegasnya sama sekali. Si Adek juga nurut banget. Mau bantuin segala macam urusan rumah tangga yang dilakuin Kakaknya.

Sejujurnya ya pengen banget bisa bantuin. Apa daya, saya sendiri untuk melakukan sesuatu pun lebih banyak menggunakan tangan kiri. Masih banyak hal-hal yang saya lakukan selalu butuh bantuan. Dan itu bikin saya down banget.


Perasaan seorang pasien

Kelemahan seseorang yang terbiasa mandiri itu ketika berada di posisi pasien menjadi merasa tidak berdaya, merasa tidak berguna. Itu saya rasakan ketika saya harus selalu dibantu untuk mandi, memakai baju, dan menyiapkan beberapa hal. Terkadang berusaha untuk tidak merepotkan ternyata nggak berhasil.

Kepercayaan diri berada di titik yang paling rendah. Sensitif dengan kata-kata yang terucap dari lawan bicara. Baperan. Overthinking. Mudah tersinggung, apalagi terkait dengan komentar dari beberapa orang yang menjenguk dan mendoakan.

Saya memang menerima tamu yang ingin menjenguk dan mendoakan. Saya anggap itu adalah wujud cinta dan perhatian. Apalagi doa-doa yang terpanjat selalu mengalir untuk saya demi kesehatan dan kesempurnaan pemulihan. Kita nggak pernah tahu juga darimana doa-doa itu akan diijabah Allah.

Hanya saja kita nggak bisa menutup bibir orang lain untuk berkomentar apa saja. Bisa jadi yang dikatakan akan saya terima dengan biasa aja kalau kondisi saya sehat wal afiat. Tapi status sebagai 'pasien' membuat saya mudah sekali memasukkan berbagai kalimat ke dalam hati.

Misalnya ada yang berkomentar, "Eh ... Lha dene, nggak papa. Bisa jalan gitu kok. Ngapain sampai opname?"

Saya menerjemahkannya gini.

"Emange saya kudu tiduran? Emangnya lebih seneng saya nggak bisa ngapa-ngapain?"

Atau ada saudara yang nggak bisa ngebedain tumor jinak dan ganas, udah mangkel aja, berasa didoain yang enggak-enggak.

Emosi yang naik turun itu bikin saya inget alm ibuk pun ketik mengalami stroke pertama jadi pribadi yang susah dimengerti. Ibuk gampang marah, sementara kami yang merawat juga kelelahan karena keterbatasan kemampuan berkomunikasi yang efektif.

8 hari pasca operasi saya mengalami fase emosi yang naik turun. Serba salah. Nggak bisa nangis, mungkin karena gengsi juga, nggak pengen terlihat lemah. Sampai kemudian di satu hari seorang teman menengok dengan berbagai wejangan tentang menu makanan, dan treatment yang bisa saya lakukan. Apa yang disampaikan sebenarnya baik. Namun tidak dengan penerimaan saya.

Saya menangis. Pertama kali menangis dan mengeluarkan uneg-uneg di depan suami dan Kakak. Ngomong nggak pakai filter. Beberapa hal yang sebenarnya ingin saya tahan akhirnya keluar juga. Meskipun setelah beberapa waktu saya mengucap istighfar dan memohon ampun, mencabut kata-kata yang sempat terucap. Takut aja, gimana kalau kata-kata yang kurang baik itu diijabah Allah?

Dengan kejadian ini, saya pun memahami. Kesehatan itu nggak cuma mahal, tetapi juga sangat berharga. Rasa sakit selalu diiringi oleh emosi yang sering kali meledak-ledak, dan sulit dikendalikan. Perasaan 'kamu nggak ada di posisiku' lebih dominan.

Saya sudah berusaha untuk mengontrol emosi ketika berhadapan dengan mereka yang memberi perhatian. Namun sering kali kalah oleh kata yang terucap dari orang lain. Lantas saya pun seperti menyerahkan remote kontrol emosi saya pada orang lain. Mudah tersulut dengan informasi yang tidak saya kehendaki.

Dalam kondisi seperti ini saya bersyukur karena dimengerti oleh keluarga dan sahabat terdekat. Simpati dan empati jadi obat hati paling besar yang bisa menenangkan.


12 hari pasca tindakan medis

All is well.

Salah satu penyemangat saya adalah perawat homecare yang rutin datang dua hari sekali merawat luka. Orangnya masih muda, cekatan, tegas dan informatif.

Namanya mbak Shafa. Ia bekerja di sebuah rumah sakit di Jogja, dan bersertifikasi sebagai perawat luka. Saya baru tahu ternyata tak semua perawat memiliki ijin praktek home care.

"Di luar kuasa Allah, kesembuhan itu bukan dari dokter ataupun saya. Kami, tenaga medis hanya membantu, Bu. Kesembuhan itu berasal dari keyakinan pasien sendiri. Semangat itu nggak dari orang lain, Bu. Semua berasal dari diri sendiri."

Kata-kata itu selalu diulang setiap kali merawat luka. Hal itu membuat saya ingin sesegera bisa beraktivitas seperti biasa. Di hari ke 10, saya mulai bisa mandi sendiri (mandi bebek, karena luka tidak ditutup dengan perban anti air), mulai menyiapkan makanan sendiri, dan membantu Kakak di dapur.


Hari ini hari ke 12 pasca operasi. Insya Allah kondisi badan sudah makin baik. Kangen sekali bisa ngezumba seperti biasa. Kangen bisa menemani si Kakak puasa Daud, setelah berhari-hari harus konsumsi obat di jam-jam tertentu sehingga belum bisa kembali berpuasa. Kondisi emosi juga mulai stabil. Ini salah satu yang sangat saya syukuri. Tiga hari lagi saya harus kontrol kembali. Insya Allah jahitan akan diambil dan hasil PA akan keluar. Semoga semuanya aman terkendali.

O ya, hampir kelupaan. Mungkin ini bisa jadi pertimbangan saat teman-teman menjenguk seorang pasien.

1. Jangan banyak bertanya mengenai rasa sakitnya, kecuali si pasien sendiri yang ingin bercerita.

2. Ajak berbicara tentang hal-hal yang membuatnya bersemangat misalnya ngomongin passionnya atau hal-hal yang disukai.

3. Hindari membicarakan orang lain yang memiliki sakit yang lebih parah

4. Tidak perlu memberikan informasi seputar kesehatan atau alternatif kesehatan. Si pasien biasanya sudah memiliki pilihan atau referensi sendiri.

5. Mendoakan adalah pilihan terbaik jika menengok pasien.


Semangat sehat ya temans ...