Jurnal Hati

Minggu, 09 Desember 2018

Menjauhkan Anak dari Bahaya Penyalahgunaan Narkoba


Sebut saja namanya Dodo. Ia seumuran dengan Adek, anak bungsu saya yang sekarang duduk di bangku klas 7. Rumahnya 50 meter dari rumah saya. Kalau kita hitung umurnya sekarang sekitar 12 atau 13 tahun tahun. 

Jika Adek tumbuh dengan teman-teman di sekolah dan tempatnya mengaji, tidak dengan Dodo. Benar, beberapa kali ia terlihat bersama teman-teman sekolahnya. Namun tidak bermain kelereng atau sepak bola. Mengayuh sepeda rame-rame pun tidak. Ia mengendarai sepeda motor. 

Ia mulai mengendarai motor sejak umur 10 tahun. Saat Adek klas 5 SD masih lebih sering bermain di halaman. Ketika Adek dan beberapa temannya bermain sepak bola di depan rumah, si Dodo ini wira wiri naik motor sambil beratraksi dengan motornya. Sering banget saya ketemu si Dodo ngebut di jalanan. Bersama teman-temannya yang membonceng di jok belakang. Jumlahnya kalau nggak dua ya tiga anak. Kebayang kan umur berapa anak-anak itu sampai jok motor bisa untuk empat anak? 

Betapa susahnya menasihati Dodo. Kalau nggak dimaki dengan kata berawalan huruf B, ia malah ‘ngece’ yang menasehati. Bahkan pakdenya pun dimaki dengan hewan berkaki empat. Rasanya gedeg sama anak ini. saking gedegnya, beberapa kali si Dodo jatuh naik motor nggak ada yang nolong. Untungnya saja cuma lecet-lecet. Tidak pernah ia mengalami luka serius. 

Gayanya makin bertambah saat ada rokok di tangan. Tak punya rasa sungkan sedikitpun dengan orang yang menegurnya. 

“Biarin, beli pakai duitku sendiri kok, meh ngopo Dhe?” tantangnya pada si Pakdhe yang nggak bosen-bosennya menasehati. 

Sayangnya jika hal ini disampaikan kepada ibunya rasanya kok sia-sia. Bukannya berterima kasih karena memberikan info tentang anaknya. Si ibu malah membela si Dodo. Salah-salah malah terjadi pertengkaran dengan ibunya. Para tetangga pun jadi malas berurusan dengan keluarga si Dodo. 

Di pertengahan Adek duduk di klas lima SD di kampung saya sempat geger. Si Dodo ditangkap polisi. Banyak yang tak paham mengapa ia sampai ditangkap polisi. Dua hari kemudian barulah kami, para tetangga mendapatkan info. Ia terlibat peredaran narkoba. Rupanya teman mainnya tak cuma yang seumuran. Ternyata ia sering nongkrong di tetangga kampung bersama beberapa laki-laki berusia duapuluhan. Sayangnya ia salah memilih teman. 

Saya nggak habis pikir, kok bisa narkoba merambah ke desa saya. Lha di desa kan segmen masyarakatnya kebanyakan low end. Daya beli pun rendah. Yang mau make siapa? Begitu pikiran saya saat itu. 


Dua tahun kemudian saya baru mengerti. 


5 Desember 2018, saya dan teman-teman blogger Jogja diundang oleh BNN Kabupaten Sleman mengikuti acara Forum Komunikasi BNN. Kepala BNN Kabupaten Sleman AKBP Siti Alfiah, S.Psi, SH., MH memberikan begitu banyak informasi yang memberikan pemahaman baru bagi saya mengenai narkoba.

Saat ini penyalahgunaan narkoba telah menyusup ke lapisan masyarakat. Jika di tahun-tahun sebelumnya penyalahgunaan narkoba dimulai usia 15 tahun, atau usia awal SMA, data tahun 2015 di Kabupaten Sleman pelaku penyalahgunaan narkotika di mulai usia 10 sampai 59 tahun. Peredaran narkoba sudah masuk ke dalam pelosok desa dan anak-anak sekolah dasar. 


Yang mengagetkan lagi, ternyata bandar narkoba menetapkan wilayah pedesaan menjadi jalur masuknya peredaran narkoba. Pedesaan menjadi wilayah strategis dalam penyelundupan narkoba. Karena apa? Pembangunan infrastruktur di pedesaan mengalami ketertinggalan dibanding wilayah perkotaan. Hal ini menjadikan pemerintah desa fokus pada pembangunan fisik dan kurang memperhatikan penyakit-penyakit sosial yang tanpa disadari sudah mulai menggeliat. 

kota tempat tinggal saya termasuk dalam jalur peredaran narkoba :(

Pernah melihat bentuk narkoba nggak? Jujur, saya sendiri baru kali ini lho, ngerti seperti apa sih tembakau gorila seperti apa.



Saya juga baru tahu ternyata ada ekstasi dengan bentuk gambar minion yang lucu. Sedih nggak sih, kalau narkoba yang beredar sekarang kemasannya menarik?



Masyarakat memang sudah semestinya menyadari betapa saat ini darurat narkoba memang harus digaungkan. Mengingat kejadian si Dodo anak tetangga saya, sudah semestinya anak-anak usia SD mulai diberikan pengetahuan mengenai penyalahgunaan narkoba. Sekolah bisa bekerjasama dengan BNN atau kepolisian di kabupaten setempat untuk memberikan penyuluhan.




Keluarga adalah institusi terkecil dalam masyarakat. Keluarga adalah benteng utama dari segala hal yang bernama keburukan. Kedekatan antara orang tua dan anak sudah tak bisa diabaikan. Menjalin komunikasi positif antara orang tua dan anak akan menjadikan anak-anak kita lebih waspada tentang hal-hal yang berada di sekitar kita. 

Tantangan bagi anak-anak laki-laki terasa lebih berat. Solidaritas yang salah tempat menjadi pintu bagi anak-anak laki-laki terjerumus dalam hal-hal yang menyesatkan. Sementara bagi anak perempuan harus lebih kuat dalam menjaga dirinya. Seringkali bisikan setan dianggap angin dari surga. 

Sementara kita para orang tua harus bisa menjadi orang tua yang mengikuti perkembangan anak. Jangan sampai lost generation dengan anak-anak kita sehingga menimbulkan kesenjangan. 
Dan jangan lupa selalu mendoakan. 





Sabtu, 01 Desember 2018

Wonderful Indonesia : Wonderful Place, Wonderful People

Assalamualaikum Temans, 

Jika teman-teman mendengar kata Wonderful Indonesia, kira-kira apa yang terbayang di benak kalian? 

Ketika saya bertanya pada suami, jawaban yang cepat meluncur dari bibirnya adalah keindahan alam Indonesia. Tak diragukan lagi, Indonesia memiliki berbagai tempat indah yang baru bisa saya kunjungi di dunia maya saja. Contohnya saja Pulau Cinta yang berada di Gorontalo, ataupun Teluk Kiluan yang berada di Tanggamus Lampung. Destinasi wisata Indonesia yang berkembang menjadikan Indonesia menjadi surga bagi penikmat traveling. 

Zaman sekarang, media sosial menjadi kekuatan sendiri dalam mempromosikan apapun. Kawasan wisata alternatif pun banyak bertebaran di media sosial. Coba saja teman-teman mencari melalui tagar tentang pariwisata Indonesia, maka bermunculan foto-foto cantik yang kadang saya sendiri tak mengetahui tempatnya dimana meski dekat dengan alamat rumah saya. 

Pariwisata Indonesia saat ini tak terbatas di Candi Borobudur, Danau Toba, Pantai Parang Tritis, Pantai Ancol, Taman Mini Indonesia Indah, Kepulauan Seribu, ataupun Pantai Kuta. Semakin banyak masyarakat di Indonesia yang sadar wisata sehingga membuat destinasi wisata yang dekat tempat tinggal. Selain tak perlu jauh-jauh untuk melepas penat, biaya rekreasi pun kian terjangkau. 

Contohnya saja di daerah saya Kabupaten Magelang. Jika di masa kecil saya hanya mengenal sedikit tempat wisata yaitu Candi Borobudur atau Candi Mendut. Saat ini semakin banyak alternatif wisata yang sayang kalau hanya dilewatkan. 

Jika teman-teman ingin traveling di Kabupaten Magelang, semakin banyak pilihan wisata yang tak bisa dinikmati hanya satu hari. 

Punthuk Setumbu 
Sebuah kawasan yang tak jauh dari Candi Borobudur patut teman-teman kunjungi. Banyak turis dari luar negeri yang mengunjungi Punthuk Setumbu. Nirwana Sunrise, begitu mereka menyebut kawasan ini. Jika ingin mengunjungi kawasan ini, kita perlu effort yang lebih dibanding mengunjungi kawasan lain. Selain kita memerlukan bangun lebih awal dari biasanya, pendakian ke puncak punthuk tersebut yang memakan waktu sekitar 20 menit dengan jalan yang menanjak menjadikan keindahan di puncak semakin berharga. 


Punthuk setumbu menyajikan keindahan matahari terbit. Keindahan itu hanya bisa kita lihat sekian menit sebelum matahari benar-benar muncul. Momen berharga inilah yang dinikmati oleh pengunjung. Tak hanya pecinta fotografi yang berjejalan ingin mengabadikan momen tersebut. Saat saya ke sana pengunjung dari benua Eropa maupun Asia lumayan banyak. 

Selain momen harga yang dinikmati, pengunjung juga bisa berfoto dengan pemandangan pagi yang indah. Banyak spot foto yang sayang kalau dilewatkan. 

Punthuk Setumbu juga dekat dengan Gereja Ayam, salah satu tempat syuting film Ada Apa dengan Cinta 2 yang ngehits itu. Teman-teman bisa jalan kaki selama 10 menit dari Puncak Punthuk Setumbu untuk mencapai Gereja Ayam. 

Balkondes 
Di Kawasan Kecamatan Borobudur ada banyak balkondes yang dibangun oleh beberapa perusahaan. Alternatif wisata ini juga patut teman-teman pertimbangkan untuk melepas lelah dan menikmati berbagai macam permainan atau kuliner. Misalnya saja balkondes Wanurejo. Tempat ini semakin sering dipakai untuk acara-acara perusahaan ataupun penduduk lokal jika ingin mempunyai hajatan. Saya pernah menuliskan tentang balkondes ini di SINI. 


Selain Balkondes Wanurejo, ada juga Balkondes Ngadirejo, Balkondes Tuksongo, Balkondes Majaksingi, Balkondes Wringin Putih, dan yang terakhir dibangun adalah Balkondes Tegalarum. Ada 20 Balkondes yang bisa teman-teman kunjungi, atau sekedar menginap jika ingin menikmati suasana. 

Wisata Air. 
Teman-teman tentunya tak asing dengan rafting dan tubing bukan? Di Kabupaten Magelang punya dua jalur rafting yang bisa dinikmati yaitu jalur Kali Elo atau Kali Progo dengan kesulitan yang berbeda-beda. 

Ada juga tubing yang bisa dinikmati melalui wisata kecamatan Muntilan di Kali Blongkeng atau beberapa area di Kecamatan Sawangan, di Desa Tampir. Jika anda mengajak anak usia balita, tentunya lebih aman jika memilih tubing menjadi wisata air.



Di tengah perjalanan rafting anda biasanya akan beristirahat di sebuah tempat. Kuliner yang disajikan adalah kelapa muda dan jajanan pasar. Jika tubing yang dipilih maka setelah perjalanan kuliner tersebut bisa dinikmati setelah anda berbasah-basah di sungai. 

Wisata Selfie. 
Ingin sekedar foto dengan background yang instagramable? Teman-teman bisa memilih. Ada Jungyard di sebelah Balkondes Wanurejo dengan berbagai macam mobil atau motor kuno yang unik. Taman Dewari dan Taman Ramadanu di Kecamatan Salam dan Ngluwar akan memberikan keindahan bunga dalam setiap foto yang diambil. Tak lupa wisata Kulon Ndeso di Sokorini Muntilan yang memanjakan pengunjung melewati area persawahan di bawah jembatan yang mereka lewati. 



Wonderful People 

Bicara Wonderful Indonesia, tak bisa dilewatkan bagaimana saya dan banyak masyarakat di Indonesia berinteraksi. Lupakanlah jika kita melihat di dunia maya orang-orang saling menyerang, menebar hoax, ataupun menjatuhkan. Di kehidupan nyata saya tak pernah mengalami kehidupan yang riweh yang membuat hati panas. 

Saya hidup di tempat yang masih kental dengan adab dan kebudayaan. Sebuah kota kecil yang meski bertambah bising karena pembangunan fisik dan penambahan penduduk yang tak lagi bisa dihindari. Namun toleransi di antara kami masih bisa terjaga dengan baik. 

Di Kecamatan Mungkid, sebuah vihara berdiri di tengah tempat yang mayoritas adalah masyarakat Muslim. Di Muntilan Tempat Peribadatan hanya dipisahkan oleh jalan yang tak lebih dari 8 meter. Sekolah berbasis Nasrani dan Muslim berdampingan serta bersaing secara sehat. Saling menjaga saat merayakan hari besar masing-masing. 

Menghormati perbedaan bukan lantas saling mengikuti ritual agama lain. Toleransi terbesar yang ada di hati manusia adalah mempersilakan orang lain melakukan ritual keyakinannya tanpa ada gangguan apapun. 

Itulah sejatinya wonderful people yang menjadi bagian dari wonderful Indonesia.


Kamis, 29 November 2018

Antarkan Kebaikan bersama Paxel



Tanggal 24 November 2018 saya bersama para blogger Jogja diajak menghadiri syukuran sekaligus berkenalan dengan sebuah jasa pengiriman sameday service yang bernama Paxel. Acara itu bertempat di Linglung Cafe & Eatery di daerah Condong Catur.
Blogger gathering kali ini sungguh spesial. Kenapa? Banyak hal inspiratif yang saya dengar dari para pembicara.

Acara dibuka oleh Pak Bryant Cristanto, co founder Paxel mengantarkan kami untuk lebih mengenal Paxel. Undangan kepada blogger ini merupakan wujud syukur dari Paxel karena mulai beroperasi di Jogja.

Kemudian Bapak Djohari Zein, sang founder pun berbagi kepada kami. Nggak asing dengan nama Djohari Zein kan? Yup ... Sebelum mendirikan Paxel beliau merupakan CEO dari JNE, sebuah perusahaan yang sudah puluhan tahun eksis di dunia jasa kurir. Setelah mengundurkan diri dan berkedudukan sebagai pemegang saham di perusahaan tersebut, Bapak Djohari Zein masih tetap menginginkan berbuat sesuatu.

Flashback dengan kisah masa lalu Pak Djauhari. Di tahun 1998 ketika Indonesia mengalami krisis ekonomi besar-besaran. Tak terkecuali dengan Perusahaan yang sedang Bp. Djauhari pimpin saat itu . Banyak perusahaan memecat karyawan untuk mengurangi beaya.
Namun tidak bagi Bp Djauhari. Beliau mengingat salah satu surat dalam Al Quran yaitu surrah Al Maun. Isi surrah itu salah satunya adalah anjuran untuk memberikan bantuan dan memberi makan orang-orang yang tidak mampu.

Di saat perusahaan lain memecat karyawan, Pak Djohari membuat kebijakan untuk membagi beras bagi karyawannya. Prinsip beliau bahwa kebaikan yang ditebar akan selalu memberikan lebih bagi manusia yang melakukannya.

10 tahun kemudian online shop pun tumbuh subur. Bagaimana dengan perusahaan yang dikelola Pak Djohari? Tentu saja perusahaan tersebut melesat menjadi jasa pengiriman terbaik di Indonesia.
Saat ini E-commerce berkembang begitu pesat. Hal ini ditangkap sebagai peluang oleh Pak Djohari dan kawan-kawan. Pada prinsipnya, jika ingin melakukan usaha jangan dimasukkan ke dalam keranjang yang sama.

Untuk itulah Paxel hadir. Paxel menjadi berita gembira bagi mereka yang kecewa dengan layanan pengiriman. Kirim paket melalui Paxel akan terkirim dalam waktu 24 jam. Delivery yang akan diantarkan oleh hero bisa diatur jam berapa akan dikirim atau diterima. Jika alamat tak diketemukan, maka kiriman akan masuk ke loker yang disediakan oleh Paxel di area logistik tertentu.



Biasanya ekspedisi tertentu melarang customer mengirim makanan basah. Tidak dengan Paxel. Paxel lebih fleksibel karena kualitas layanannya yang menjanjikan barang diterima di hari yang sama. Bagaimana jika waktu pengiriman terlambat? Akan ada penggantian biaya kirim. Keterlambatan 2 menit sekalipun tak bisa ditoleransi.

Sharing hari itu makin berkesan dengan hadirnya mbak Valencia Mieke Randa, seorang bloger hits dan selebtwit. Beliau bercerita tentang kiprahnya bersama Rumah Harapan, sebuah rumah singgah untuk anak-anak yang sakit dari keluarga yang tidak mampu. Sebuah cerita yang membuat saya merinding adalah kala ada seorang anak yang sudah divonis berumur pendek karena menderita kanker. Saran dokter untuk membuat anak itu bahagia dituruti oleh volunteer dari Rumah Harapan. Anak itu ingin bertemu dengan seseorang yang menginspirasinya menjadi guru Bahasa Inggris. Ketika keinginan anak itu tercapai, ia begitu bahagia.

Kebahagiaan itu ternyata mengiringi mukjizat dari Sang Maha Kuasa. Awalnya berat badan anak itu hanya 15 kg perlahan mulai bertambah. Beberapa bulan kemudian diperiksa oleh dokter. Sang dokter pun gemetar karena tak percaya saat mengecek kesehatan anak itu. Dalam tubuh anak itu bersih dari sel kanker.
Begitu banyak kesempatan untuk berbuat baik. Kitalah menjadi rantai dari kebaikan itu sendiri. Ketika kita menolong orang lain sebenarnya kita sedang menolong diri sendiri. Yakinlah bahwa Tuhan membuka pintu rizki manusia yang mempunyai niat tulus. Karena sejatinya kita bisa menjadi pengantar kebaikan untuk orang lain.

Salah satu yang paling mengesankan di sesi ini adalah .... Twitter saya difollow mbak Valencia (nari-nari panggil hujan)



Ternyata Paxel telah bekerjasama dengan 100 komunitas. Untuk donasi atau pengiriman barang ke komunitas yang disupport tersebut akan digratiskan. Bahkan saat ini jika ada 25 pengiriman, maka akan bertambah lagi 1 orang dalam komunitas itu yang akan disupport penuh oleh Paxel.

Memang, Paxel tak punya dana CSR seperti perusahaan lain. Kenapa? Karena Paxel melakukan kegiatan sosial setiap hari. Kebaikan yang ingin dihadirkan Paxel adalah berkembang bersama untuk berkontribusi terhadap bangsa. Kebaikan dan kebahagiaan memang perlu kita antarkan bagi siapapun yang membutuhkan. Dalam setiap kebahagiaan selalu terselip kebaikan.



Sayangnya saya tinggal di luar kota yang belum terjangkau layanan Paxel. Ketika teman-teman blogger mencoba melakukan pengiriman paket, saya hanya menonton saja. Bukan karena tak mau. Namun saya berempati serta bersimpati jika hero Paxel harus melakukan perjalanan jauh sampai ke provinsi sebelah. Saya memahami akan keterbatasan. Jadi, memberikan empati dan simpati menjadi salah satu bagian dari #antarkan kebaikan bukan?


Rabu, 17 Oktober 2018

 Ibu 'jelita' menjaga kesehatan


Assalamualaikum Temans, 

Sejak lahirnya si Kakak saya memutuskan untuk menjadi full time mom. Bukan berarti saya akan nyinyir pada ibu-ibu yang memutuskan untuk bekerja dari jam 09.00 – 17.00. Saya salut sekali dengan mereka yang bisa membagi waktu secara baik sehingga urusan rumah tangga takkan terabaikan. Saya memandang diri sendiri bahwa managemen waktu saya begitu buruk. Daripada saya mengorbankan banyak hal karena saya yang sering banget nggak konsisten lebih baik saya memilih. Dan pilihan itu tentunya sudah dipertimbangkan masak. 

Meski predikat saya fulltime mom, kok ya saya ini termasuk perempuan pengacara. Perempuan nganggur yang banyak acara. Di setiap jenjang usia selalu saja punya banyak hal yang ingin saya lakukan. Di usia tiga puluhan saya hobi banget ikut kegiatan parenting. Saya paham banget kelemahan saya, makanya saya pengen jadi orang tua yang baik untuk anak. Meski sering banyak gagalnya ketika materi parenting saya terapkan di rumah. 

Belum lagi coba-coba usaha sendiri yang endingnya enggak banget. Sering banget merugi dan managemen usaha yang buruk ikut memperparah usaha yang saya rintis. 

Belajar berkarya




Lantas di usia pertengahan tiga puluh lima ini saya mencoba untuk belajar menulis. Telat banget ya? Akan tetapi saya benar-benar menikmati prosesnya. Saya tak lantas terburu menginginkan punya karya sendiri yang bisa dipajang di media sosial. Gapaian prestasi yang paling membanggakan untuk seseorang yang belajar menulis adalah terbitnya buku solo. Saya tetap mencoba untuk menyerap ilmu dari mereka yang sudah lama bergerak di bidang ini. Tak ketinggalan mengikuti komunitas-komunitas tempat para penulis berkumpul sehingga pelan-pelan bisa membangun jaringan. 

Meski saat itu sudah mulai banyak self publishing hati kecil saya tetap menginginkan penerbit mayorlah yang menerbitkan buku saya. Di tahun-tahun saya belajar menulis itu buku yang diterbitkan sendiri oleh penulisnya masih banyak yang acak-acakan. Tanpa ada editing, pengerjaan pra cetak yang tidak standar, sampai cetakan buku yang kurang memadai. Untuk itulah saya bersabar barang sebentar. 

Lantas pelan-pelan saya membangun cita-cita saya. Setapak demi setapak karya antologi saya nangkring di toko buku. Sampai di buku antologi yang ketiga saya ingin sekali membuat buku solo.Alhamdulillah saya dipertemukan oleh seorang penulis buku yang tak sayang membagi ilmu. Saya pun belajar menulis secara privat pada beliau. Alhamdulillah sampai hari ini sudah tiga buku solo saya sudah mencicipi nikmatnya bersaing dengan buku lain di jaringan toko buku yang ada di seluruh Indonesia. 

Di usia merambat kepala empat saya belajar menulis di blog. Bersabar dalam rentang waktu setahun akhirnya blog yang saya bangun pelan-pelan ini mulai menghasilkan. Mengikuti berbagai acara bersama komunitas-komunitas blogger pun membuat saya berasa muda kembali. Bagaimana tidak, saya belajar sesuatu yang menjadi minat anak-anak saya seperti fotografi, membuat video pendek sampai optimasi media sosial. Bagi saya yang hidup di pedesaan hal-hal seperti itu adalah kebaruan. 

Di balik banyaknya kegiatan yang pernah saya jalani, pada akhirnya saya kembali ke rumah untuk membersamai anak-anak. Saat itu Kakak kelas 9 dan Adek kelas 6 sehingga membutuhkan perhatian lebih karena mereka sama-sama akan menghadapi ujian negara. Yang tak terduga saat usia melewati angka empat adalah kesehatan yang menurun. Praktis saya jadi lebih banyak di rumah karena acara-acara yang melibatkan blogger berada di Yogyakarta. Sementara saya tinggal di Magelang. Saya memilih acara jika hendak terlibat. 

Dari setiap kejadian saya tetap mensyukuri. Meski kesehatan menurun saya masih bisa melakukan perjalanan dengan jarak yang tak terlalu jauh. Saat anak-anak melewati UN, kemudian mendaftar sekolah lanjutan. Qodarullah, si Kakak diterima di SMA Negeri di luar keinginannya. Kakak diterima di SMA yang jauh dari rumah dengan kesulitan transportasi. Mau tak mau saya harus mengantar dan menjemput Kakak sembari memberikan motivasi supaya legawa menjalaninya. 

Ibu pengacara yang sibuk 

Hikmah dari kesehatan yang menurun saya kemudian diminta aktif di Muhammadiyah ranting Gunungpring, tempat saya tinggal. Di awali dari kegiatan pra jabatan penerimaan guru baru di SMA Taruna Muhammadiyah yang baru didirikan. Bulan April dan Mei 2018 saya seperti punya kantor dan harus stand by dari jam 09.00 – 17.00. Selesai kegiatan tersebut jeda empat bulan Muhammadiyah Ranting Gunungpring punya gawe besar. Pengurus Pusat Muhammadiyah memberi amanah menjadi penyelenggara LPCR Expo II. Banyak hal yang dikompetisikan dalam acara ini. Mulai dari kegiatan ranting dan cabang Muhammadiyah terbaik, stand expo terbaik, serta kompetisi film pendek dan essay terbaik. 

Saya berada di bagian kesekretariatan. Dari satu setengah bulan sebelum berlangsungnya acara sudah berjibaku dengan komputer, printer, dan surat menyurat. Menyusun proposal sampai ngeprint proposal yang jumlahnya ratusan. Belum lagi dengan surat menyurat dan segala media kit yang akan dibagikan saat acara. Saya yang sebelumnya sudah mengurangi kegiatan pun harus aktif lagui dari pagi sampai sore, bahkan kadang malam pun saya harus kembali lagi ke sekretariatan. Dekat sih dari rumah. Namun tetap saja badan saya kaget dengan ritme kerja yang baru. Tubuh kurang istirahat jadi lebih ringkih. Belum lagi kalau rapat koordinasi sampai malam. Udara dingin sering kali membuat perut kembung dan masuk angin. 

Sebenarnya keluhan utama saya dari dulu adalah nggak tahan kena angin. Selain itu asam lambung juga sering sekali naik jika sedang banyak kegiatan atau sedang banyak pikiran. Akibatnya mual dan muntah jadi langganan. Sudah begitu sering pula kalau kena pedas sedikit langsung diare. Nah ... saya ini orangnya nggak tahan dengan obat-obatan. Bisa jadi kalau minum obat karena pahitnya akhirnya nggak ketelan deh obatnya. 

Namun sekarang saya nggak worried lagi deh kalau ada masalah itu. Kenapa? Udah nemuin sesuatu yang bisa ngebantu saya banget mengatasi rasa begah di perut dan masuk angin. Sesuatu itu adalah minuman sari jahe yang dibuat dari resep tradisional serta diproduksi minus pengawet. Meski minuman ini mengandung pemanis buatan yang disebut dengan sukralosa, namun tak mempunyai efek pada metabolisme karbohidrat, kontrol glukosa darah jangka pendek ataupun panjang, maupun pelepasan insulin. Sukralosa itu pemanis buatan tanpa kalori, sehingga boleh digunakan penggunaannya pada makanan dan minuman di hampir 80 negara termasuk Indonesia dan disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) 

Namanya Sari Jahe Herbadrink Sugar Free. Kandungan jahe alaminya manfaatnya banyak banget buat tubuh. Sari Jahe ini menghangatkan tubuh sehingga terasa nyaman dan memberikan efek relaksasi. Jahe pun bermanfaat meredakan masuk angin, kembung dan mengurangi rasa mual. 

Meski diproduksi dengan teknologi tinggi racikan Sari Jahe Herba Drink Free ini tak mengurangi cita rasa kenikmatan minuman herbal dari alam. Kualitasnya begitu terjaga. Lagi pula diproduksi secara praktis dan higienis sehingga saat kita menyeduh benar-benar bersih tanpa endapan. 



Selain Sari Jahe, ada varian lain dari Herba drink yang diproduksi oleh PT. Konimex yaitu : 

1. Sari Temu Lawak Herba Drink yang bermanfaat untuk memelihara fungsi hati, meningkatkan stamina dan memperbaiki fungsi pencernaan. 

2. Sari Kunyit Asam Herba Drink yang bermanfaat untuk menyegarkan tubuh,mengatasi bau badan, serta masalah menstruasi seperti nyeri perut timbulnya jerawat dan memperlancar haid. 

3. Sari Kunyit Asam Sirih plus Madu Herba Drink yang bermanfaat untuk menyegarkan tubuh,mengatasi bau badan, serta masalah menstruasi seperti nyeri perut timbulnya jerawat memperlancar haid serta mel;indungi organ kewanitaan 

4. Chrysanthemum Herba Drink yang bermanfaat meredakan gangguan panas dalam, dan tambahan madu yang membantu menambah kekuatan tubuh. 

5. Sari Beras Kencur Herba Drink yang bermanfaat memberikan kesegaran bagi tubuh yang lelah dan lesu. 

6. Kopi Ginseng Herba Drink yang mempunyai manfaat meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh. 

7. Wedang Uwuh Herba Drink mempunyai manfaat menghangatkan dan memberi efek relaksasi pada tubuh. 

Selain varian reguler ada produk herbadrink dengan sugar free yaitu : 

1. Sari Jahe Sugar Free 

2. Sari Temu Lawak Sugar Free 

3. Crhrysanthemum Sugar Free 

4. Lidah Buaya Sugar Free yang bermanfaat untuk memelihara peencernaan dan melancarkan buang air besar 

Well, nggak bisa dipungkiri usia kepala empat adalah usia jelita (jelang lima puluh tahun) dimana kesehatan memang mulai menjadi kendala dalam berkegiatan. Namun bukan berarti menjadikan usia ini hambatan dalam berkarya dan bermanfaat untuk orang lain bukan? 







Kamis, 23 Agustus 2018

Yang Istimewa di Puri Asri Hotel & Resort Magelang


Sebagai orang Magelang, rasanya saya kok ‘ndeso’ sekali nggak pernah main-main ke Puri Asri Hotel Magelang. Terakhir kali menginap di Puri Asri Hotel hampir 14 tahun yang lalu, saat kantor suami mengadakan family gathering. Ketika itu pun si Kakak masih bayi sehingga sama sekali tak bisa menikmati keindahan yang ditawarkan di sana. Sekedar pindah tidur aja. 

Kebetulan banget nih beberapa waktu lalu saya diajakin Mbak Muna untuk menginap dan mengikuti upacara dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ke-73. Gegap gempita dong saya. Event langka gitu loh. Kapan lagi menikmati keunikan tujuhbelasan di pinggir Kali Progo? 

Tanggal 16 Agustus 2018 saya pun meluncur ke Puri Asri Hotel. Di sana sudah ada Mara, Diko serta Koko teman-teman blogger dan vlogger dari Semarang. Di sana Mas Yudha, sang sales marketing manager dan staf menyambut dengan ramah. 

Lantas kami pun diajak melihat suasana di Hotel dan resort seluas 9Ha dengan di atas tanah seluas 22Ha. Kebayang capeknya kalau kita pengen jalan-jalan kan? Apalagi dengan kontur tanah terasering yang naik turun. 

Dibanding membayangkan capeknya naik turun, saya lebih suka menikmati keindahan yang tersaji di depan mata ketika diajak jalan-jalan oleh Mas Arif, sales marketing Puri Asri Hotel. Dengan menaiki shuttle kami diajak untuk melihat-lihat beberapa jenis layanan kamar yang dimiliki oleh Puri Asri Hotel 

The Royal Village 


Puri Asri Hotel memiliki 12 kamar Royal Suite dengan luas 86m2 di setiap kamarnya. Di setiap area The Royal Village terdapat dua kamar dengan satu kolam renang. Jika hanya ingin bersantai sambil menikmati pemandangan di pagi ataupun sore hari, anda tinggal keluar kamar dan menikmatinya di teras. 

Untuk menghubungan Royal Village satu dengan yang lainnya sebuah jalan setapak yang tentunya sayang sekali anda lewatkan untuk tidak berfoto di jalan tersebut.



Penthouse Suite 

Kapan ya, saya bisa menikmati second honeymoon di sini? Tempat ini recomended banget buat para honeymooners yang menginginkan area privat dengan keindahan alam yang luar biasa indah. Dilengkapi dengan jacuzzi serta kolam renang privat tentunya semakin membuat suasana makin romantis. 



Tak ketinggalan sebuah patio bagi anda yang menginginkan sekedar duduk-duduk menikmati sunset atau bersantai bersama pasangan. Mewah dan istimewa deh pokoknya. 

The New Executive 

Saya dan teman sekamar, Noorma ditempatkan di Anyelir New Executive 151. Kamar ini bikin betah deh. Kamar yang cukup luas untuk dua orang dengan TV LED dilengkai dengan kulkas, almari pakaian, safety box, aminities room lengkap dengan sandalnya. Sandalnya swallow pula, kayak yang dipakai di rumah ya? Kali aja nih, pihak Puri Asri Hotel nyediain sandal swallow supaya kami ngerasa homy banget. (hahaha ...kidding) 


Sempat ada dramanya nih. Saya pas mau masuk rest room kebetulan pintunya masih tertutup. Saya sempat menjerit kaget soalnya si pintu ternyata menggunakan kaca cermin, sehingga pas mau masuk rest room berasa ketemu sama orang lain. Untung aja deh nggak nyampe pingsan. Bisa berjilid dramanya nanti. 

Yang wow banget dari kamar yang saya tempati adalah pemandangan di luar. Saya disuguhi Gunung Sindoro yang biru beserta awan-awan yang berjalan. Wuaaahhh ... berasa ngeliat lukisan aja deh. Maha Besar Allah yang telah melukis alam begitu indahnya. 

High Tea dan Breakfast di Pringgodani Resto 



High Tea 

Kalau masalah makanan, duh ... gimana ya? Saya nih tukang makan. Jadi kalau nyemil tuh rasanya cuma enak sama enak banget. Jadi setelah diajak jalan-jalan muterin fasilitas kamar di Puri Asri, kami para blogger dan vlogger dipersilakan untuk menikmati high tea di Pringgodani Resto. Banyak banget finger food yang disajikan. Ada cemilan tradisional, ada pula kue-kuean khas bule gitu. 


Di barisan kue khas tradisional ada onde-onde, serabi kuah, lemper, kue kaca mata, rujak serta lumpia sayur. Onde-onde dan lumpia sayur menjadi pilihan saya. Lumpia sayur yang disajikan beserta sambal bangkok kalau buat saya pas banget. Soalnya saya nggak begitu suka makanan yang banyak banget bumbunya. Lalu onde-onde, kue yang dibuat dari tepung beras dengan isian kacang ijo dan dibalut wijen rasanya juga nggak eneg. Manisnya pas, dan isian kacang ijonya lumer di lidah. 

Sementara untuk international finger food, saya ambil semuanya deh. Kemaruk hahaha ... Ada delight cake, kayaknya sih (cheese cake dan tiramisu cake) pudding, serta bitterballen. Rahasia lho, untuk cheese cake dan vanilla cake nya saya ngambil dua kali lho. Rasanya super deh kalau di mulut saya. Mau cake atau creamnya semuanya lezatto deh. 

Selain menikmati high tea, pemandangan dari balkon Pringgodani Resto emang warbiyasak. Saya yang niatnya mau ngambil foto sunset sampai lupa lho. 


Breakfast 

Kalau menginap di hotel, saya paling senang menikmati makan paginya. Namanya juga tukang makan, segala macam yang tersedia sebagian besar pasti dicoba. Mulai dari buah, bread and waffle, serta buffet akan saya ambil meski sedikit. 

Menu breakfast di Puri Asri Hotel kalau menurut saya lumayan lengkap. Buffet tradisional maupun western tersedia. Ada pula yang tersedia menu stall seperti gudeg, pecel, bubur, soto serta omelet tersedia. Tak ketinggalan tumpeng merah putih disajikan istimewa untuk memperingati hari ulang tahun Republik Indonesia. 



Jika tak suka makanan tradisional yang pastinya tak lepas dari nasi, kita bisa mengambil bread & wafel atau cereal. Bisa juga menyantap salad yang bisa pilih sendiri isinya maupun sausnya. 

Untuk minuman, tersedia juice dan infuse water. Jika kita menginginkan minuman lain, ada teh atau kopi yang akan membuat badan terasa lebih hangat. 

Semuanya komplit tersedia di Pringgodani Resto. Jangan tanya deh rasanya. Kalau buat saya yang sudah nyicipin buffet dan roti, saya akan bilang sarapannya endes surendes. 



Apung Chinese Restaurant 


Sebelum paginya mengikuti upacara memperingati kemerdekaan RI, saya dan teman-teman diundang untuk makan malam di Apung Chinese Restaurant. Restaurantnya unik banget karena berada di tengah kolam. Saya merasa deja vu deh. Belasan tahun yang lalu saat family gathering kantor suami makan paginya di tempat ini. 

Suasana oriental terbangun dari hiasan yang ada di restaurant itu. Lampion dan hiasan lain berwarna merah dan emas mendominasi. Kami pun bergiliran berfoto di jembatan kayu menuju Apung Chinese Restaurant. 

Kemudian acara di mulai. Setelah menyanyikan lagu-lagu perjuangan, Mas Bimo Captain Restaurant pun memberikan informasi mengenai chinese food yang akan dihidangkan untuk makan malam. Pertama kali yang diinformasikan adalah kehalalan dari makanan ini. Pihak Puri Asri sampai mengundang chef dari Malaysia untuk memberikan semacam training kepada para chef untuk memasak chinese food yang halal. 

Pertama kali kami menikmati chinese tea. Kalau di China, penyajian teh yang dilakukan oleh penyaji makanan untuk tuangan pertama adalah mencuci peralatan yang akan dipakai selama perjamuan. Lantas penyajian kedua untuk diminum dan akan disajikan oleh penyaji makanan. 


Sajian kedua adalah sechuan soup. Soup yang terdiri dari jamur, asinan sayur serta tofu ini kuahnya terasa asam dan pedas. Warnanya kecoklatan, dan disajikan panas. Kalau buat saya yang sudah beberapa tahun ini menghindari makanan bercabai, maka Sechuan soup ini terlalu pedas buat saya. 

Kemudian disajikan secara berurutan adalah oriental fried rice, pandan chicken dan pok coy tofu shitake. Buat saya yang nggak terlalu suka makanan yang spicy maka oriental fried rice ini cocok sekali di lidah. Begitu juga dengan pandan chicken, ayam panggang yang terbungkus daun pandan. Teksturnya yang empuk sehingga bumbu pun merasuk ke dalam daging ayam. Manisnya tidak membuat eneg di lidah. 

Pok Coy Tofu Shitake menjawab kerinduan saya untuk makan sayuran. Yang namanya orang ‘ndeso’ itu kalau belum ketemu sayur kayak belum ketemu pacar (lebay). Perpaduan saus tiram dan jahe membut sausnya terasa unik. Saya suka sekali dengan jamurnya yang terasa moist di dalam mulut. 

Sajian berikut adalah Beef cinto, Singaporean prawn curry, serta hongkong roasted duck. Beef Cinto kalau menurut saya sih, mirip dengan beef teriyaki. Hanya saja disajikan dengan irisan yang lebih besar. Sausnya sih oke, merasuk sampai ke dalam daging. Namun buat saya yang suka pada makanan empuk, maka Beef Cinto ini terasa alot untuk gigi saya. Saya harus mengunyah begitu lama supaya bisa menelan daging sapi impor ini. 


Sementara untuk Singaporean prawn curry berasa banget karinya. Ada pedesnya dan bumbunya merasuk ke dalam udang. Suka banget sama makanan ini, karena tidak berasa amis seperti makanan laut lainnya. 

Saya memberikan penghargaan yang tinggi deh buat Chef Puri Asri Hotel. Saya yang nggak doyan pada masakan berbahan bebek ternyata mau lho makan Hongkong Roasted Duck lebih dari sepotong. Teksturnya empuk dan moist di mulut. Enggak berasa eneg dan amis lho. Great Job! 

Yang terakhir kami pun menyantap pudding saus mangga dan pudding strawberry. Buat saya penyuka makanan manis, puding saus mangganya nggak kemanisan, cocok buat dessert malam itu. 

Upacara, Rafting, dan dhahar kembul 

Setelah sarapan di Pringgodani Resto kami pun menuju ke Sungai Progo untuk mengikuti upacara memperingati kemerdekaan RI yang ke-73. Kami memakai pelampung dan helm untuk rafting. Peserta upacara sih berdiri di pinggir Sungai. Sementara petugas dan inspektur upacara lah yang turun ke sungai. Benernya pengen lho ikut nyempung ke sungai. Seru aja, memperingati hari penting dengan sesuatu yang beda. 

Selesai upacara diadakan lomba-lomba yang semuanya dilakukan di sungai. Ada pukul bantal, makan kerupuk, juga tarik tambang yang dilakukan di atas perahu rafting. Seru banget loh. Yangg ngeliat aja ikut ketawa hepi. 


Kami dikasih kejutan lho! Progo Rafting dan Puri Asri Hotel mengajak kami untuk short trip rafting. Yeeeaayyyy! Saya yang sudah beberapa kali ikutan rafting pun excited. Selama ini kalau saya ikutan rafting lokasinya di Sungai Elo, sementara sekarang saya akan mengarungi Sungai Progo yang jeramnya lebih banyak. Asyik deh main air saling nyiratin air dengan tim lain. 

Selesai rafting kami pun diajak untuk dhahar kembul di pinggir Sungai Elo. Yang namanya orang laper, apapun yang disajikan semua terasa nikmat. Klubanan, tempe, teri, ayam dan krupuk pun bersatu padu dalam perut kami. 

Terima kasih Mbak Muna yang sudah mengajak untuk ikut serta di acara seru kali ini. Terima kasih banget buat Mas Yudha, teman-teman Puri Asri Hotel, serta Progo Rafting yang sudah memberikan kegembiraan dan keriaan di liburan kami. Nggak nolak deh kalau diundang lagi (plak!) 

Pengen menikmati liburan di Puri Asri Hotel? 

Silakan meluncur ke sini deh : 

Hotel Puri Asri Magelang 
Jl. Cempaka no 9 Magelang 56122 
Telp : 0293- 365115 Fax. 0293 - 364400 







Selasa, 14 Agustus 2018

Kontribusi Keluarga dalam Pendidikan di Era Millenial

Hampir empat tahun yang lalu, anak sulung saya pernah terpapar pornografi. Anak perempuan saya. Usianya saat itu belum genap 12 tahun. Saya tak pernah membayangkan jika Kakak, begitu saya memanggil anak sulung saya, pernah menonton tayangan yang tak layak ia lihat ketika masih berada di bangku SD. Padahal saya sudah sangat berhati-hati sekali dengan penggunaan internet di dalam rumah. Saya benar-benar tegas dalam membuat aturan penggunaan teknologi informasi di dalam rumah. Anak saya terpapar konten negatif ketika berada di luar rumah bersama temannya satu SD sesama perempuan. 

Saat itu setidaknya seminggu sekali anak saya dan temannya membuat tugas kelompok. Saya tak mengijinkan anak saya menggunakan fasilitas daring di luar rumah. Meski tak terbersit dalam pikiran saya tentang hal negatif, saya tetap merasa aman ketika anak-anak berselancar di dunia maya melalui fasilitas dalam rumah. 

Satu ketika anak saya pamit akan mengerjakan tugas di warnet. Kondisi saya yang sedang mengerjakan pekerjaan membuat saya tak berkonsentrasi dengan apa yang diucapkan oleh anak saya. Saya lengah, sampai melupakan aturan yang selama itu sudah berlaku. 

Saya ingat, tiga kali ia pamit untuk pergi ke warung internet di dekat rumah. Sebenarnya yang ketiga kalinya saya sudah tak enak hati. Antara mengijinkan dan tidak. Melihat tatapannya memohon, saya tak tega menolak. Saya pun mengijinkannya. 

Satu minggu setelahnya. Tiba-tiba saja saya ingin menata buku-buku Kakak yang berserakan. Di antara buku-buku itu terselip sebuah buku tulis warna merah jambu. Entah mengapa, hati saya tergerak untuk mengambil buku itu kemudian membukanya. 

Sebuah cerita Kakak tuliskan dalam buku itu. Saat itu ia memang sangat suka menulis cerita. Saya senang mengetahui kemampuan menulisnya semakin bagus. Namun sampai di halaman yang ketiga jantung saya mau copot rasanya. Tangan saya pun bergetar. Kakak menuliskan adegan yang tak pernah saya bayangkan ia mampu menerjemahkan ke dalam sebuah tulisan. 

Kakak menuliskan adegan yang hanya boleh dilakukan oleh laki-laki dan perempuan dalam ikatan perkawinan. Saya pening seketika. Berbagai pertanyaan pun muncul di kepala saya. Bagaimana bisa Kakak menuliskan hal seperti itu? 

Saya terkejut luar biasa. Tak mungkin Kakak bisa menuliskan adegan sedetil itu jika belum pernah sama sekali melihat. Saya yakin ia melihat adegan seperti itu tak hanya sekali. Ini pukulan berat bagi saya. berbagai pikiran buruk langsung menyerang kepala. Saya merasa gagal menjadi orang tua. 

Yang saya lakukan saat itu adalah berbicara pada suami. Karena beliau bekerja di luar kota sehingga hanya seminggu sekali di rumah kami pun sepakat sayalah yang akan berbicara pada Kakak. Suami akan banyak mendampingi ketika berada di rumah. 

Kakak menangis saat ia tahu saya sudah membaca buku berwarna merah jambu itu. Antara takut jika saya marah dan bersalah membuat ia hanya bisa meminta maaf. Sejatinya ia tahu bahwa yang ia lakukan itu salah. Namun ia tak bisa menolak ketika temannya membuka konten dewasa di aplikasi youtube, kemudian memintanya menuliskan dalam sebuah cerita. 

Lantas saya dan Kakak ngobrol panjang sampai tengah malam setelah ia lebih tenang. Meski saya harus banyak mengucap istighfar dan menarik napas panjang berulang kali. Apalagi di bagian cerita temannya sudah sering membuka tautan itu di telepon genggam milik kakaknya. Mirisnya lagi, temannya adalah anak seorang pendakwah. 

Bayangkan, saya berbicara tentang syahwat pada anak klas enam SD yang tadinya hanya mengenal film kartun produksi negara tetangga. Menerjemahkan hal-hal yang berbau seksual dalam bahasa yang dipahami anak terasa begitu sulit. Air mata saya jatuh kala ia mengatakan ada yang menggelitik di bawah perut ketika ia melihat konten yang hanya tayang tak lebih dari satu menit. 

Sebelumnya saya membayangkan membicarakan hal ini ketika Kakak sudah berada di bangku SMP klas 9 saat transisinya menuju SMA. Namun perkiraan saya meleset. Saya sudah harus berbicara jauh lebih awal. 

Sebenarnya, saya termasuk ibu yang tidak mudah memberikan fasilitas pada anak apalagi yang terkait dengan dunia digital. Di usia SD anak-anak sama sekali tidak saya ijinkan mempunyai gawai sendiri. Jika ingin membuat tugas, di rumah sudah ada fasilitas yang bisa digunakan. Jaringan internet tersedia, begitu juga dengan komputer jinjing. Semua anggota keluarga bisa memakai fasilitas itu di ruang keluarga dimana layarnya menghadap ke ruangan sehingga bisa dilihat oleh siapapun. Hal ini memang untuk mengantisipasi kemungkinan anak-anak membuka konten yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Saya yang sudah sedemikian tegas memberi batasan pun masih kecolongan. Bagaimana mereka yang dengan mudah memberikan gawai pada anak-anak dengan alasan kasih sayang? 

Kejadian itu membuat saya trauma. Saya jadi semakin berhati-hati. Lantas semakin menyadari bahwa keluarga menjadi bagian terpenting dalam pendidikan anak. Sudah semestinya keluarga berbagi tugas dan saling mendukung dengan satuan pendidikan untuk menjadikan anak-anak kita pribadi yang berkarakter mulia. 

Keluarga adalah pusat peradaban. 


Keluarga adalah institusi terkecil dimana kita bisa membangun kebudayaan. Orang tua menjadikan anak sebagai agen perubahan menuju kebaikan. Pembiasaan pada anak dalam membangun kepribadian yang berkarakter. 

Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak-anak. Saat mereka membuka mata keluarga lah yang dilihat oleh anak-anak. Mereka menjadi kamera yang akan merekam segala hal yang terjadi dalam keluarga. Pola asuh yang diterapkan dalam keluarga akan membentuk karakter anak yang akan dibawa sampai dewasa nanti. 

Mentransfer keilmuan menjadi keharusan untuk sebuah keluarga. Penanaman keimanan atau agama, ilmu, karakter dan pendidikan budaya (pembiasaan) selalu dilakukan dalam sebuah keluarga di mulai saat anak-anak usia dini. Semua pembelajaran pendidikan dimulai dari tahapan dengan jenjang usia. 

Menjadi pusat peradaban bagi anak-anak berarti memberikan apapun yang dibutuhkan mereka. Kebutuhan fisik berupa sandang, pangan dan papan idealnya tersedia dengan baik. Namun tak berhenti sampai di situ saja. Keluarga melimpahi anak-anak dengan kasih sayang, pendidikan moral serta keteladanan yang berjalan terus menerus sehingga kebutuhan jiwanya terpenuhi. 

Mendidik tidak mendadak. 

Memiliki anak yang berprestasi dan berkualitas menjadi dambaan setiap keluarga. Tak salah pula setiap orang tua menginginkan kesempurnaan bagi putra dan putrinya. Anak adalah investasi. Oleh karena itu untuk investasi jangka panjang ini harus selalu diikhtiarkan. Semua melalui proses. 

Tak ada proses yang instan. Begitu juga saat kita memberikan pendidikan untuk anak dalam keluarga. Ada beberapa metode yang bisa dilakukan orang tua dalam pendidikan dalam keluarga. 

1. Memberikan keteladanan bukan hanya sekadar contoh. 
Anak-anak tak belajar dari apa yang masuk dalam telinga mereka, namun apa yang dilihat oleh mata. Memberikan contoh hanyalah cukup pada tataran bisa melakukan. Namun keteladanan yang konsisten itulah yang dibutuhkan oleh anak-anak. Contohnya saja mengajak anak shalat. Anak kecil pun diberikan contoh gerakan shalat beberapa kali tentunya akan segera hafal. Jika menginginkan anak yang rajin shalat tentunya orang tua terlebih dahulu yang memberikan keteladanan. 

2. Membentuk tanggung jawab dengan memberikan penugasan. 
Tanggung jawab berkaitan dengan pengajaran kemandirian. Berlatih bertanggung jawab salah satunya dengan memberikan anak penugasan. Dimulai dari tugas yang paling sederhana, misalnya anak yang masih balita membawa piring bekas makannya sendiri ke wastafel. Kemudian jenjang usia lebih tinggi bisa diberikan tugas yang lebih berat. 

3. Memberikan nasihat 
Nasihat tak bisa diabaikan begitu saja. Meski orang tua sudah memberikan keteladanan dan membentuk tanggung jawab, hati pun pantas diketuk dengan nasihat. Nasihat yang disampaikan secara baik, lembut dan menyenangkan tentu saja akan disimpan dalam alam bawah sadar anak. 

Nasihat yang diberikan tak harus menunggu kita melalui kejadian. Sifat dari nasihat adalah preventif. Seperti sebuah pepatah yang mengatakan lebih baik mencegah sebuah penyakit daripada mengobati. 
Kita sebagai orang tua tak boleh bosan memberikan nasihat bagi anak-anak. Fitrahnya manusia adalah mudah melupakan. Jadi nasihat yang berulang-ulang akan menjadi pengingat bagi anak-anak. 

4. Memberikan penghargaan dan hukuman 
Anak adalah manusia yang berproses menjadi dewasa. Dalam perjalanannya sering kali membutuhkan tantangan untuk pembuktian. Terkadang tantangan tersebut membuatnya jatuh dalam kesalahan. 

Anak perlu diberikan penghargaan ketika berprestasi dan diberikan hukuman saat melakukan kesalahan. Prestasi bukan berarti selalu memenangkan kejuaraan. Memenangkan hawa nafsunya pun merupakan sebuah prestasi. 

Sebuah hukuman bisa diberikan untuk memberikan efek jera sekaligus melatih keberanian anak untuk menanggung resiko. Hal ini berkaitan dengan rasa tanggung jawab sebagai manusia. Ketika anak dikenakan hukuman bukan hanya hukuman fisik. Bisa jadi hukuman yang diberikan adalah teguran yang disesuaikan dengan tingkat kesalahan atau kelalaian anak. 

Orang tua tak boleh melakukan pembiaran saat anak melakukan kesalahan. Hal itu hanya akan membuat anak menjadi pecundang. 

Tantangan keluarga era milenial 


Dunia terus berputar. Anak-anak pun bertumbuh. Tak bisa dielakkan lagi bahwa masyarakat dengan segala teknologi pun semakin berkembang. Informasi pun pergerakannya semakin cepat. Hal ini membawa banyak perubahan dalam tatanan masyarakat maupun dunia. 

Kita melihat bagaimana teknologi dan informasi berkolaborasi sedemikian dahsyatnya. Arus informasi mengguyur anak-anak kita sedemikian hebatnya. Sehingga anak-anak yang hidup di zaman sekarang begitu akrab dengan teknologi informasi. Bahkan teknologi informasi menjadi satu kebutuhan penting, kalau tak bisa dikatakan kebutuhan pokok di luar sandang, pangan dan papan. 

Gawai menjadi barang terpenting bagi anak-anak. dimana terdapat berbagai macam media sosial maupun aplikasi di dalamnya. Informasi apapun bisa dicari dengan peramban. Tak ketinggalan permainan daring maupun luring. Hanya mengandalkan jempol dunia pun berada dalam genggaman. Keasyikan yang didapat jika tak dikontrol oleh orang tua akan menjadi bumerang. Teknologi informasi yang seharusnya bermanfaat pun jika tanpa batasan akan menjadi candu. Tentunya hal itu membawa dampak buruk bagi anak-anak. Begitu banyak kejadian penyalahgunaan teknologi yang mengakibatkan berbagai masalah dalam diri anak-anak. Mulai dari masalah perilaku, kecanduan, perundungan, ataupun kemauan belajar yang menipis. Ini menjadi PR besar bagi kita para orang tua 

Banyak orang tua yang cemas dengan perkembangan teknologi informasi saat ini. Namun lebih banyak lagi orang tua yang tak menyadari bahwa bahaya mengintip anak-anak kita melalui gawai yang diberikan dengan alasan kasih sayang. Namun apakah sebagai orang tua kita berhenti pada cemas saja dan tak melakukan apapun untuk menjaga anak-anak? 

Banyak hal yang bisa kita lakukan tanpa mengurangi keceriaan anak-anak. Keluarga menjadi rumah bagi anak-anak dimana mereka bisa pulang. Orang tua yang asyik buat anak-anak, kakak atau adik yang bisa menjadi tempat mencurahkan hati merupakan dambaan anak manapun. Keluarga yang hangat akan menjadi wahana pendidikan terbaik untuk anak selain satuan pendidikan. 

Sebenarnya sebagai orang tua kita sangat berhak untuk mengontrol aktivitas daring anak-anak kita meski mereka sudah berada di usia menuju dewasa. Namun semua itu harus dilakukan karena keikhlasan bukan keterpaksaan. Bagaimana anak-anak kita bisa mengikhlaskan? 

Semua diawali dengan kesepakatan. Saat orang tua memberikan atau mengijinkan anak memiliki gawai sendiri ada hal-hal yang bisa disepakati. 


1. Kepemilikan 
Saat anak-anak masih berada di usia SD saya sama sekali tak memperbolehkan anak memiliki gawai. Jika mereka akan berkomunikasi dengan teman maka mereka akan menggunakan milik suami atau milik saya. Saya memperbolehkan mereka memiliki gawai ketika mereka mulai SMP. Memiliki gawai pun jika tabungan mereka cukup untuk membeli. Maka gawai yang mereka punyai adalah seharga tabungan mereka, atau saya hanya menambah maksimal 20% dari harga gawai yang akan dibeli. 

2. Kerahasiaan 
Pengalaman saya saat membuat kesepakatan dengan anak adalah saya harus mengetahui sandi dan diperbolehkan membuka gawai mereka. Jika kesepakatan pertama ini tak terjadi maka anak-anak tak bisa memiliki gawai. 

3. Waktu. 
Waktu menggunakan gawai berlaku untuk anak SMP maupun SMA. Mulai hari Minggu sampai hari Jumat waktu penggunaaan gawai maksimal saat adzan Maghrib berkumandang. Jika setelah itu mereka membutuhkan menggunakan gawai maka gawai sayalah yang akan mereka pakai. Itu pun tetap terbatas. Namun di hari Sabtu saya memberikan sedikit kebebasan menggunakan gawai sampai jam 21.00. Hari Minggu anak-anak boleh menggunakan gawai jika pekerjaan rumah yang menjadi tugas mereka telah selesai sampai Adzan Maghrib berkumandang. Waktu kesepakatan penggunaan gawai pun berlaku untuk saya. Saya pun harus meletakkan gawai di saat jam belajar anak karena menemani mereka. Namun untuk saya ada kelonggaran untuk mengecek chat karena suami berada di luar kota. 

4. Tempat 
Ruang keluarga adalah tempat khusus bagi anak-anak untuk menggunakan gawai. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan mereka membuka konten negatif. 

5. Memilih aplikasi 
Saya dan anak-anak bersepakat memilih aplikasi apa yang akan diunduh pada gawai mereka. Saya pun memberikan pandangan dan kontrol apalagi yang berkaitan dengan permainan. Saya hanya mengijinkan anak mengunduh dan memasang satu permainan dalam gawai mereka. Jika ingin permainan yang lain, maka mereka harus mencopot permainan lama. Khusus untuk aplikasi youtube saya menyetel untuk mode terbatas serta memasang aplikasi parental control untuk meminimalisir konten negatif tampil saat mereka berselancar di dunia maya. 

6. Media sosial 
Kami masing-masing hanya memiliki satu akun untuk satu jenis media sosial. Kamipun harus saling mengikuti akun media sosial masing-masing. Hal ini bisa menjadi kontrol anak-anak jika ingin mengunggah sesuatu. Saya pun diperbolehkan mengetahui sandi media sosial milik anak-anak. Itu menjadi syarat bagi anak-anak jika ingin memiliki media sosial. 

Lalu bagaimana jika kesepakatan dilanggar oleh anak-anak? Akan ada pemberlakuan hukuman dengan menarik gawai mereka lebih awal atau tidak memperbolehkan mereka menggunakan gawai dengan waktu tertentu. Jika kesalahan berulang terus menerus, maka gawai mereka akan saya titipkan ke sekolah dalam jangka waktu tertentu. 

Lantas jika tak memakai gawai mereka tidak mati gaya?

Saya rasa tidak. Setiap selesai shalat Maghrib kami mengaji kemudian ngobrol seru. Kadang obrolan kami pindah ke meja makan. Anak-anak akan bergantian bercerita tentang kejadian di sekolah baik yang menyenangkan atau tidak. Kadang menjelang tidur pun kami berkumpul berbicara tentang hal-hal ringan namun bermakna. Keterbukaan dan kesabaran dalam membersamai anak-anak pasti akan berbuah manis.


Sementara itu untuk prestasi belajarnya kami membuat kontrak belajar. Berapa nilai yang mampu dicapai oleh anak-anak di setiap mata pelajarannya. Mereka sendiri yang menentukan target nilai. Nilai itulah yang menjadi acuan dari prestasi mereka.


Hal itu sejalan dengan kerjasama yang sudah dilakukan dengan satuan pendidikan dimana anak-anak bersekolah. Saya bersyukur karena satuan pendidikan dimana anak-anak bersekolah secara berkala mengadakan pertemuan antara wali murid dan sekolah. Untuk memudahkan komunikasi pun telah dibentuk grup di media sosial baik secara angkatan maupun kelas. Komunikasi dengan wali kelas pun berjalan dengan nyaman sehingga semangat membangun kualitas anak-anak pun selalu terjaga.

Anak adalah kamera di sekeliling kita. Jika anak tak lagi merasa kita menjadi teladan bagi mereka, maka medialah yang akan menggantikan peran kita sebagai orang tua. Ikhlaskah kita saat anak-anak menjadikan barang yang berada dalam genggaman mereka sebagai pengganti orang tua? 
#sahabatkeluarga

Referensi :

Falah, Saiful, 2014. Parents Power : Membangun Karakter anak melalui Pendidikan Keluarga, Penerbit Republika
Keluarga Gama Mandiri, 2018. Seminar Parenting "Mempersiapkan Generasi Emas"
Pentingnya membangun Komunikasi Efektif Orang Tua - Sekolah.
https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4918