November 2020 - Jurnal Hati

Minggu, 22 November 2020

3 Hal Penting Untuk #StopPneumonia Anak



Di usia SD saya pernah mengalami radang paru-paru. Seingat saya saat itu saya diopname di rumah sakit selama seminggu. Panas tinggi, batuk berdahak, tidak berselera makan. Napas saya pendek-pendek, bahkan terkadang terasa sesak. 

Hasil rontgen di paru-paru saya menunjukkan putih semua. Tulang di dada hanya terlihat sedikit. Kata dokter, paru-paru saya tertutup cairan. Saya harus minum obat setiap hari untuk menghilangkan cairan itu. Tak boleh putus seharipun. Dan saya menjalani pengobatan itu selama tiga tahun.

Kata Bapak alm saat itu saya mengidap paru-paru basah. Sebuah infeksi yang diakibatkan oleh virus, bakteri ataupun jamur. Sejak mengidap penyakit itu saya memang lebih mudah sakit. Sampai saya dewasa, jika saya terkena batuk, sembuhnya lebih lama dari orang lain. Ketika seseorang batuk, biasanya seminggu sembuh, kalau saya bisa sampai dua minggu atau tiga minggu. Meskipun saya bisa beraktivitas seperti biasa. 

Dulu, penyakit yang saya alami ini dikenal dengan paru-paru basah. Namun penyakit ini juga dikenal dengan istilah lain yaitu pneumonia. Penyakit yang ciri-cirinya mirip dengan gejala Covid 19 ini ternyata masih banyak diidap oleh anak-anak di zaman milenial ini. Meski teknologi pengobatan saat ini jauh lebih berkembang dibanding saat saya mengidap pneumonia, tentu saja masih harus diwaspadai. Apalagi untuk kondisi seperti saat ini. 


Tanggal 12 November diperingati sebagai Hari Pneumonia sedunia. Nah, bulan ini di tanggal yang sama saya mengikuti webinar Peringatan Hari Pneumonia Dunia 2020, Festival Anak Sehat Indonesia yang diselenggarakan Yayasan Sayangi Tunas Cilik Save The Children. 

Save The Children aktif melakukan kampanye #StopPneumonia sejak tahun 2019. Dengan bekerja sama dengan pemerintah, ormas sipil, komunitas dan berbagai pihak lain Save The Children berusaha memberikan edukasi untuk mengatasi masalah pneumonia pada anak.




Webinar via zoom meeting ini dipandu oleh dr.Lula Kamal. Berbagai elemen masyarakat hadir mengikuti webinar ini. Mulai dari Menteri Kesehatan Dr Terawan Agus Putranto, Menteri KPPA I Gusti Ayu Bintang, dokter spesialis anak Prof.Dr.dr Soedjatmiko, Ibu Wury Ma'ruf Amin, tim penggerak PKK, berbagai komunitas bahkan sejumlah selebriti yang memang concern dengan kesehatan anak mengikuti kegiatan ini sampai selesai.

Kampanye ini bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai penyakit pneumonia ini. Bagaimana gejalanya, cara mencegah, serta bagaimana mengobatinya dijelaskan dalam webinar ini. Harapannya dengan melibatkan banyak elemen masyarakat informasi semakin tersiar secara luas. 


Seberapa bahaya pneumonia pada balita? 


Tahu tidak teman, berdasarkan riset kesehatan tahun 2013 bahwa Pneumonia di Indonesia menjadi penyebab kematian tertinggi kedua setelah bayi prematur sementara di dunia merupakan penyebab kematian nomor satu pada balita? 

Progres penanganan Pneumonia memng semakin membaik, namun besaran angka kematian yang masih cukup tinggi tetap jadi perhatian yang cukup serius.




Pneumonia menyerang paru-paru melalui bakteri, virus, dan jamur yang masuk ke hidung, lalu ke saluran napas hingga paru-paru. Hal ini menyebabkan fungsi paru-paru terganggu sehingga oksigen yang dibutuhkan oleh tubuh berkurang. Karena pneumonia berasal dari bakteri, virus dan jamur yang bisa tumbuh dimanapun. Maka bayi dan balita lebih mudah terserang karena sistem imunnya masih rendah. Apalagi bayi-balita dengan berat lahir rendah. 

Pneumonia termasuk penyakit yang menular. Seseorang yang mengidap pneumonia, berpotensi untuk menularkan pada orang lain di sekitarnya. Pneumonia bisa menular melalui udara, percikan batuk atau bersin. Bahkan bisa melalui benda yang terkena percikan tersebut. 


Gejala Pneumonia

Penanganan penyakit secara tepat tentunya dimulai dari mengenali gejala penyakit yang timbul. Keterlambatan penanganan sebuah penyakit biasanya timbul karena keterlambatan penanganan yang tepat. Untuk penanganan Pneumonia penting bagi kita untuk mengenali gejalanya 

1. Batuk berdahak

2. Pilek

3. Demam

4. Sulit Bernapas



Pencegahan dan Pengobatan Pneumonia.




Pneumonia bisa dicegah dan diobati. 3 hal penting yang harus dilakukan untuk #StopPneumonia adalah perlindungan, pencegahan, dan pengobatan.

Perlindungan anak dari pneumonia dimulai dengan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. ASI eksklusif berarti hanya ASI saja tanpa pemberian makanan atau minuman lain. Setelah 6 bulan kita bisa memberikan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang disesuaikan dengan kebutuhan gizinya. Jangan lupa, ASI masih tetap diberikan sampai usia anak 2 tahun. 

Pencegahan Pneumonia dilakukan dengan imunisasi. Imunisasi yang diberikan terutama imunisasi dasar lengkap serta menjaga kebersihan pribadi maupun lingkungan. Contohnya cuci tangan menggunakan sabun, menjaga kebersihan, menjaga sirkulasi udara yang baik, dan bebas dari asap rokok.

Pengobatan harus segera dilakukan jika menunjukkan gejala pneumonia. Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat. Memberikan asupan gizi selama sakit jangan sampai dilupakan.

Tiga hal di atas merupakan kampanye #StopPneumonia yang sedang dijalankan Save The Children. STOP merupakan kepanjangan dari

S
ASI Eksklusif selama 6 bulan, menyusui di tambah MPASI sampai 2 tahun 

T
Tuntaskan imunisasi untuk anak

Obati ke fasilitas kesehatan jika anak sakit

P
Pastikan kebercukupan gizi anak dan hidup bersih sehat.


Semoga informasi ini bermanfaat ya temans