September 2019 - Jurnal Hati

Senin, 30 September 2019

Literasi Digital untuk Generasi Milenial

Kita sering kali tak menyadari bahwa dunia berputar begitu cepat. Anak-anak kita pun bertumbuh. Segala hal di dunia ini mengalami perkembangan sedemikian pesat. Tak terkecuali dengan teknologi informasi. Pergerakan informasi di dunia pun semakin lama bertmbah cepat sehingga membawa banyak perubahan dan tatanan dalam masyarakat. 

Pernahkah kita menyadari bahwa teknologi dan informasi terjalin sedemikian hebatnya? Betapa arus informasi mengguyur anak-anak kita sedemikian dahsyatnya. Mereka yang termasuk dalam generasi digital native ini tak mau ketinggalan sedikitpun dengan apa yang berkaitan dengan teknologi informasi. Bisa dikatakan bahwa teknologi informasi saat ini menjadi bagian dari kebutuhan pokok selain sandang, papan dan pangan. 

Anak-anak di berbagai tingkatan usia pun terjangkit dengan virus Fear Of Missing Out atau biasa disebut FOMO. ‘Virus’ yang menyerang supaya selalu mengetahui apa yang saat ini menjadi tren di kalangan mereka. Betapa galaunya mereka jika tak memiliki informasi yang sama dengan teman-teman sebaya. Kecemasan akan ketidakeksisan mereka di kalangan pertemanan menjadi salah satu masalah tersendiri. Hal itu membuat anak-anak kita begitu khawatir jika tidak berdekatan dengan sebuah alat yang bernama gawai. 

Belum lagi terkait dengan media sosial. Teknologi informasi menghubungkan yang jauh menjadi lebih dekat. Yang tak mungkin menjadi mungkin. Yang tak terlihat lantas terpampang di media sosial. Informasi pun menyebar sedemikian cepatnya. Apalagi jika informasi negatif 

Sebagai orang tua, baik orang tua di rumah atau pendidik di sekolah mau tak mau harus menyamakan langkah dengan anak-anak yang berada dalam generasi digital native. Generasi yang lahir setelah tahun 1990 ini begitu mengakrabi teknologi. Segala proses informasi dan cara berpikir generasi ini pun terpengaruh dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat. Tak bisa dipungkiri dengan kecepatan teknologi informasi yang tak terduga inilah membuat kita yang lahir sebelum tahun 1990 pun sering mengalami gegar teknologi. 

Apa yang perlu kita lakukan untuk menghindari kesenjangan pengetahuan tentang teknologi informasi? 

Salah satunya cara yang perlu kita lakukan adalah ‘menjadi mereka’. Banyak hal yang harus kita pahami untuk mendekati ‘menjadi mereka’. Sejajar dengan mereka dalam pengetahuan. Mencari informasi yang lebih valid dengan keberadaan teknologi informasi ini karena sejatinya dengan pesatnya perkembangan selalu ada dua kutub yang bertentangan. Dampak positif dan negatif. 


LITERASI DIGITAL 


Efek negatif tanpa perlu dicari akan datang dengan sendirinya begitu mudah. Namun mengoptimalkan efek positif memang perlu diusahakan. Salah satunya adalah memanfaatkan teknologi informasi untuk literasi. 

Pemanfaatan teknologi komunikasi dalam dunia literasi pun makin dikembangkan. Kita bisa melihat begitu banyak referensi yang kita dapat dari kegiatan daring. Begitu banyak perusahaan sudah cukup lama memberikan informasi melalui situs web. Begitu juga dengan instansi pemerintah yang telah berbenah diri dengan berbagi informasi melalui situs resmi. Hal ini tentu saja membantu masyarakat pada umumnya untuk mengakses informasi yang terjamin validasinya. Dengan begitu bagaimana mengembangkan literasi digital bagi generasi milenial saat ini? 

Setiap individu perlu memahami arti pentingnya literasi digital saat ini. tak hanya mereka yang berada dalam generasi milenial ini. Namun kita sebagai orang tua atau pendidik perlu melek literasi digital. Literasi digital sama pentingnya dengan membaca ataupun menulis. Di zaman yang memiliki akses tak terbatas dalam teknologi informasi ini kita harus berhati-hati saat mendampingi anak-anak. Tentu saja pola pikir dan perilaku yang dilakukan generasi milenial ini berbeda dari generasi sebelumnya. untuk itu perlu diberikan pemahaman bagi anak-anak kita ini untuk lebih bertanggung jawab dalam penggunaan informasi maupun berinteraksi dengan sebaya. 

Apa saja yang orang tua atau pendidik informasikan tentang literasi digital bagi anak-anak? 

1. Pemanfaatan internet secara baik 
Teknologi tanpa batas membuat siapapun bisa mengakses informasi dari belahan dunia paling ujung sekalipun. Masyarakat Indonesia jika ingin mengetahui tentang budaya dari bangsa lain tinggal mengetikkan kata kunci dalam sekejap ribuan atau bahkan jutaan informasi siap digali. Karena tanpa batas itulah maka perlu memahamkan bagi anak-anak kita bahwa diperlukan pengendalian diri ketika berselancar di dunia maya. 
Banyak hal yang akan mereka temui di sana. Salah satunya adalah pornografi mudah tersaji di depan mata. Jika anak-anak kita belum masuk usia remaja, maka akan mudah bagi kita membatasi akses. Bisa dengan memasang aplikasi parental control di gawai, atau pembatasan konten yang tersedia di beberapa media sosial. Dengan mudah kita bisa memblokir konten yang tak sesuai dengan usia anak-anak. 
Jika anak-anak kita sudah remaja, maka yang wajib kita lakukan adalah pembangunan karakter dan pemahaman akan internet baik yang akan mempengaruhi perilaku mereka. Standar moral yang berlaku di masyarakat dan efek negatif dari kecerobohan dalam memanfaatkan teknologi informasi perlu disampaikan. Bantu anak-anak kita untuk lebih arif dalam mencerna dunia digital. 

2. Ajak anak untuk membuat konten yang kreatif 
Saat ini media sosial menjadi primadona. Sekedar untuk hiburan, bersosialisasi atau untuk berbisnis. Banyak juga yang memanfaatkan pertemanan sebagai catatan harian atau bersilaturahmi. Yang tak kalah penting dari pemanfaatan media sosial adalah untuk mencari pengetahuan dan berbagi. 
Karena banyak hal yang bisa kita lakukan dengan media sosial, tak ada salahnya mengajak anak tak hanya bersenang-senang, namun berbagi hal yang positif. Arahkan anak untuk memilih media mana yang akan digunakan untuk membuat sebuah konten. Konten yang sarat pesan moral pun bisa dibuat dengan tampilan yang menghibur. 

3. Saring sebelum membagi infomasi. 
Sering sekali tanpa berpikir panjang kita membagikan unggahan orang lain yang dianggap penting untuk diketahui oleh relasi kita. padahal unggahan tersebut belum tentu benar validasinya. Sering kali berita bohong atau biasa disebut hoax malah menjadi viral karena banyak yang membagikan. Tak hanya di satu media sosial saja. Namun karena semangat berbagi begitu tinggi maka hoax pun jadi beredar lewat berbagai media sosial. 
Semangat berbagi memang perlu dipelihara. Namun hal itu bisa menjadi bumerang karena kecerobohan kita sebagai manusia. Sering kali semangat berbagi itu tidak dibarengi dengan semangat klarifikasi. Untuk itulah, sebagai orang yang lebih dewasa kita harus semakin hati-hati dan bijak dalam penggunaan teknologi komunikasi dalam hal ini media sosial. 
Anak pun harus dibiasakan untuk tak langsung mempercayai berita ataupun informasi yang sedang beredar di masyarakat. Sikap yang tenang dalam menghadapi informasi, mencari referensi serta klarifikasi tentunya akan membuat anak terhindar dari paparan informasi yang salah maupun kecenderungan berita provokatif. Lantas ajaklah anak untuk berpikir mengenai seberapa besar manfaat atau madharatnya jika membagi informasi yang diterima. 

4. Kenalkan pada anak-anak kita kejahatan di dunia maya. 
Kejahatan di dunia maya yang lebih dikenal dengan sebutan cyber crime sebenarnya merupakan kejahatan konvensional dengan memanfaatkan teknologi. Misalnya penjualan barang fiktif di media sosial. Setelah korban mengirimkan sejumlah uang untuk pembayaran, barang tak kunjung datang. Hal tersebut masuk dalam kategori penipuan dan bisa diperkarakan ke meja hijau. 
Berhati-hati saat menggunakan akun. Apalagi yang meminta memasukkan pengguna dan sandinya. Pencurian akun terjadi dimana-mana, apalagi yang terkait dengan internet banking. Belum lagi kejahatan seksual yang berkedok dibalik manisnya media sosial. 
Mengingatkan tentang kehati-hatian dalam berselancar di dunia maya merupakan hal yang wajib dilakukan oleh orang tua dan pendidik. Lebih baik kita ingatkan untuk tindakan preventif bukan? 

5. Memanfaatkan literasi digital untuk pendidikan 
Gawai tak hanya dipakai sebagai alat komunikasi dan menghibur diri. Dari gawai pun kita bisa menawarkan pendidikan bagi anak-anak. Banyak buku elektronik yang bisa dimanfaatkan oleh orang tua dan pendidik sebagai referensi belajar anak. Bahkan sekarang ada pula aplikasi belajar yang bisa dipakai oleh anak-anak di gawai yang dimiliki. 
Literasi digital juga juga bisa digunakan sebagai alat pembelajaran. Konten-konten yang disediakan oleh pemerintah, swasta, bahkan jurnalis masyarakat begitu mudah ditemui dalam satu genggaman tangan. 
Literasi digital diharapkan akan mendorong anak-anak untuk lebih berkomunikasi secara aktif. Harapannya mereka akan menjadi pribadi yang kritis namun juga kreatif. Pembelajaran tak hanya satu arah. Namun anak-anak pun bisa secara aktif menemukan hal-hal baru yang tentu saja bisa memacu kreativitas dan memiliki jiwa kompetensi yang tinggi. 


Sebagai orang tua, kita lebih bijak dalam menyikapi perkembangan zaman. Kitalah yang akan membantu dan mengarahkan mereka dalam menghadapi berputarnya zaman. Kita dampingi mereka untuk mengoptimalkan efek positif serta menyaring dan meminimalisir efek negatif dari teknologi informasi. 

Keterlibatan keluarga dan satuan pendidikan tentu saja sangat penting dalam kegiatan literasi digital ini. Dua pihak pun terkait satu sama lain dengan satu kepentingan yaitu membangun karakter anak. Literasi digital merupakan salah satu dari sekian banyak faktor menjadikan anak-anak berkarakter kuat. 

Orang tua dan pendidik harus bijak dalam menyampaikan batasan dalam memanfaatkan teknologi informasi. Banyak hal yang bisa dilakukan tanpa mengurangi kehausan mereka akan tantangan dan kebaruan. 

Minggu, 29 September 2019

Peran Keluarga dan Komunitas dalam Membudayakan Literasi

Aku berterimakasih kepada kau, Aqila.
Jika saja kau tak pernah merasa sakit hati. Jika saja kau tak pernah merasa kesepian, sendiri, dan terpuruk. Aku takkan pernah mengenal diriku yang sekarang. Jika dulu kau tak melakukan sesuatu yang konyol, aku tak pernah tahu hikmah yang dapat kuambil dari perbuatanmu dulu. Sungguh, aku sangat berterima kasih. Jika dulu Aqila yang kukenal, hanya bisa merengek dan manja, kini ia telah tumbuh menjadi gadis yang lebih kuat. Lebih tangguh menghadapi cobaan. 
Itu adalah cuplikan kalimat yang dirangkai anak sulung saya. Di suatu masa, saat memulai membenahi hati setelah sekian lama terpuruk. Ia mengalami hal yang kurang mengenakkan di sekolah. Sesuatu yang tak pernah ia sangka. 

Saat itu, ia tak sanggup berkata-kata. Komunikasi dengan saya pun melalui tulisan. Dari komunikasi non verbal itulah saya coba tulis ulang di laptop. Kemudian saya minta ia melanjutkan tulisan untuk mengalirkan rasa sedih dan sakitnya. Sampai satu minggu ia menulis. Saya pun takjub. Senarai kalimat yang ia tuliskan untuk mengurangi luka hatinya sampai lima belas halaman A4. Wow sekali. 

Kemudian saya mengajaknya berdiskusi. Membincangkan seandainya ia meneruskan tulisannya. Berandai andai yang ia tuliskan menjadi naskah buku. Lantas mencoba memberikan pandangan jika ia memiliki karya. 

Ada kerlip bintang di matanya. Saya membaca semangat baru saja tergambar di sana. Lantas kami mencoba membuat outline. Apa yang ingin ia tuliskan. Berbagai keresahan yang ia lihat atau temui. Cara pandangnya saat menemui masalah. Harapan yang ia miliki untuk melanjutkan kehidupan setelah terpuruk. Hikmah yang bisa ia ambil setelahnya. 

Ia pun memilih beberapa buku untuk ia baca. Mencari sendiri referensi yang ia butuhkan. Mungkin ada dua atau tiga buku yang ia baca sampai habis. Kemudian melihat konten motivasi di youtube. Setelah itu, seusai sekolah, ia akan menyalakan laptop dan tenggelam dalam tulisan-tulisannya. 

Saya tak menyangka. Ia merampungkan naskahnya. 120 halaman dalam waktu dua bulan. Saat merampungkan naskahnya, ia belum genap berusia lima belas tahun. Buat saya ini menakjubkan. Bukan naskah novel yang ia tuliskan. Motivasi remaja menjadi genre tulisannya. 

Saya pun mengirimkan naskah tersebut ke sebuah penerbit. Tiga bulan kemudian sebuah jawaban yang membuat saya bersujud karena rasa syukur terkirim ke surat elektronik saya. Sebuah penerbit besar akan menerbitkan naskah anak sulung saya dan akan diedarkan di toko buku seluruh Indonesia. Saat ini buku motivasi remaja karya anak saya masih dalam proses penerbitan. Hal itu memberikan suntikan semangat anak saya untuk kembali berkarya.


Ya, saya takjub akan kemampuannya menulis naskah dengan waktu yang lumayan pendek untuk anak seusianya. Namun saya menyadari bahwa yang ia lakukan melalui proses yang panjang. Kemampuan mengolah diksi bukan hanya masalah bakat. Hal itu takkan muncul begitu saja dalam diri setiap manusia. Kekayaan diksi hadir ketika seseorang banyak membaca. 

Sulung saya termasuk anak yang hobi membaca dari kecil. Sejak bayi saya membacakan cerita dari buku anak yang saya beli. Lantas beberapa buku dengan bahan hard cover saya sediakan di rumah. Ketika berusia dua tahun ia suka sekali membuka buku-buku tersebut. Aktivitas membuka buku ternyata menjadi keasyikan tersendiri baginya. Sehingga saat ia berada di usia emasnya, buku pun menjadi mainan terbaik baginya. 

Ia mampu membaca dengan lancar di usia 4,5 tahun. Bukan karena saya memaksanya untuk mengenal huruf. Namun ia memiliki keinginan membaca buku cerita anak bergambar yang setiap bulan saya belikan. Ketertarikannya pada buku sejak usia dini semakin meningkat. Klas 1 SD pun ia sudah mulai membaca novel anak. 

Saya sempat kewalahan karena kebutuhannya terhadap membaca novel semakin tinggi. Klas tiga SD pun ia sudah tak mau membaca buku novel anak yang hanya berjumlah 100 halaman. Saya ingat, ia mulai membaca novel Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye ketika duduk di bangku kelas tiga SD yang memiliki 200 halaman. 

Ternyata, kesukaannya pada buku pun menular pada adiknya. Meski minatnya tak setinggi kakaknya. Si adik pun tak mau kalah untuk urusan membaca. Toko buku pun menjadi tempat favorit untuk rekreasi. Setiap bulan jadi memiliki anggaran untuk membeli buku. Sampai-sampai jumlah mainan yang dimiliki jauh lebih sedikit dibandingkan buku. 

Kebiasaan belanja buku masih terjaga sampai sekarang mereka tumbuh menjadi remaja. Setiap kali jalan-jalan toko buku tetap berada di urutan pertama untuk dikunjungi. Mereka bisa berjam-jam berada di toko buku. 


Budaya Literasi Keluarga Tidak Instan 

Literasi dasar memang tak sebatas membaca dan menulis. Namun literasi itulah yang diajarkan orang tua pertama kali pada anaknya. Membaca dan menulis merupakan bagian dari komunikasi. Anak pun belajar berkomunikasi melalui komunikasi verbal dan non verbal dari orang tuanya. 

Anak belajar berekspresi sedih, marah dan bahagia dari orang tua. Mereka akan menangkap secara detil ekspresi orang tua. Senyum yang merekah, tawa gembira, atau tangis yang tersedu. Anak menangkap ekpresi orang tua saat membacakan buku cerita. Itulah literasi baca tulis pertama yang dipelajari oleh anak. 

Tak ada yang mendadak dalam sebuah keberhasilan. Semua melalui proses yang panjang. Begitu juga dengan kegiatan anak dalam membaca dan menulis. Semua itu tak lepas dari usaha dan teladan orang tua. Coba lihat di rak buku kita. seberapa banyak kita membelikan bahan bacaan yang tepat untuk anak-anak kita. Seringkah kita memberikan teladan pada anak untuk menyukai kegiatan literasi? Seberapa lama kita duduk dan membaca buku dalam sehari? Pertanyaan-pertanyaan itu sering saya lontarkan pada teman sesama wali murid yang mengeluhkan anaknya tak suka membaca. 


Bagaimanapun juga, anak adalah peniru ulung. Mereka layaknya kain putih yang siap menyerap. Apakah tinta yang kita tuangkan? Atau air bersih yang kita basuhkan. Peran keluarga sangat penting dalam budaya literasi. Dukungan penuh dalam berliterasi akan membentuk budaya dalam keluarga. Nah, kira-kira apa sih yang bisa dilakukan keluarga dalam membudayakan literasi di rumah? 

1. Mengenalkan buku pada anak sejak dini 
Pembiasaan anak untuk akrab dengan buku sejak dini merupakan langkah pertama bagi orang tua untuk membentuk kecintaan anak pada membaca. Saat ini sudah banyak produsen buku yang terbuat dari kain untuk pengenalan pertama di saat anak usia 0-2 tahun. Dengan gambar yang lucu, serta kain berwarna-warni tentu saja akan merangsang anak untuk bereksplorasi.


Di usia anak memasuki jenjang 2-3 tahun, kita bisa menyediakan boardbook. Boardbook yang terbuat dari bahan yang tebal dan sulit sobek akan membantu anak kenal warna, bentuk, huruf dan angka. Bisa jadi anak masih dibacakan. Namun keterlibatan anak bersama boardbook ini akan mengikat cinta anak pada buku. Jangan lupa. Dekatkan buku dengan jangkauan anak supaya ia bisa mengambil buku berulang kali. Tak mengapa meski hanya dijadikan mainan. 
Memasuki usia pra sekolah kita bisa memulai menyediakan buku cerita bergambar untuk anak-anak. Mungkin saja saat itu kita masih membacakan cerita. Namun ia akan tertarik pada gambar yang berwarna, jalan cerita dalam buku itu, bahkan mampu menangkap setiap pesan moral yang disampaikan dari buku tersebut. setiap proses yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan. 

2. Memiliki waktu untuk membaca buku bersama 
Saat anak-anak masih usia balita, maka membacakan buku menjadi keharusan bagi orang tua. Orang tua pun berusaha menjadi pendongeng yang baik buat anak-anak. Namun saat anak sudah masuk usia SD dengan kemampuan membacanya sudah jauh lebih bagus, maka orang tua pun membarengi anak dengan kegiatan yang sama. Di waktu senggang dan tak ada kegiatan di luar rumah, orang tua pun menyempatkan diri untuk membaca buku. Paling baik kegiatan itu dilakukan di ruang keluarga, karena sudah pasti terlihat oleh anak-anak. Jika itu sudah menjadi kebiasaan, tentu saja anak-anak akan mengikuti sepanjang diberikan fasilitas yang sama. Kebiasaan orang tua akan menular dengan cepat. 

3. Menyediakan perpustakaan kecil di rumah 
Menyediakan perpustakaan kecil di rumah akan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk anak dalam berliterasi. Buku untuk anak-anak diletakkan di rak paling bawah supaya mudah dijangkau oleh tangan mungilnya. Sangat baik jika jumlahnya sering diperbaharui. Berbagai ragam bacaan disediakan. Alangkah bagusnya saat orang tua menyediakan buku dengan jenis genre yang berbeda-beda. Dengan berbagai macam buku yang kita sediakan, maka pengetahuan anak pun makin beragam. 

4. Ajak anak ke Perpustakaan dan toko buku 
Perpustakaan dan toko buku akan menjadi tempat bermain yang mengasyikkan buat anak jika sudah suka membaca. Sekarang banyak perpustakaan telah menyediakan ruangan khusus untuk anak-anak. Berbagai buku disediakan. Ruangan pun didesain khusus supaya anak-anak betah berada di sana. Toko buku pun menyediakan rak khusus buku anak dengan desain yang lucu sehingga menarik perhatian anak. 

Saat anak-anak sudah menjadikan membaca adalah sebuah kebutuhan, maka tak ada salahnya keluarga mengenalkan pada budaya menulis. Biasanya anak yang suka membaca memiliki daya imajinasi yang tinggi. Hal-hal yang anak baca tak cukup memuaskan kebutuhannya berimajinasi. Sering kali anak yang suka membaca memiliki dorongan untuk menuliskan imajinasinya. 

Cobalah periksa semua buku tulis yang dimiliki anak-anak kita. buka halaman belakangnya. Seringkali anak memulai menulis sesuatu di halaman belakang buku tulis yang biasa dipakai di sekolah. Mungkin hanya satu atau dua paragraf. Namun hal itu cukup memberitahu kita bahwa mereka memiliki minat untuk menulis. 

Anak saya memulai menulis dari hal-hal kecil. Saat kelas satu SD ia sering kali menulis surat untuk saya. Ia pun memiliki catatan harian. Segala perasaan ia tumpahkan di catatan harian tersebut. lantas ketika bosan dengan pelajaran, ia akan membuat tulisan satu atau dua paragraf di halaman belakang. Hal itu ternyata cukup membuat mood nya naik kembali. 

Saya pun memberikan waktu padanya untuk memakai laptop. Saat masih berada di bangku SD ia memiliki waktu untuk menulis setelah pulang sekolah. meski tak lama. Sering pula apa yang ia tuliskan tak selesai. Namun hal itu membuatnya terlatih untuk menulis. 

Menulis bisa menjadi katarsis. Dengan menulis semua orang bisa menumpahkan perasaan yang dimiliki. Rasa sedih, gembira, marah, atau kegelisahan. Ada kelegaan yang dirasakan saat telah menumpahkan ke dalam sebuah tulisan. Segala emosi yang dimiliki akan mengalir, sehingga tak memenuhi hati dan pikiran. Biasanya, setiap orang yang menulis memiliki kemampuan mengelola emosi yang baik. 


Peran Komunitas dalam berliterasi 

Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Hadis ini banyak menginspirasi orang untuk bergerak membagi kebaikan. Kebaikan yang disebarkan ke masyarakat bisa apa saja. Jika mereka yang memiliki harta, maka hartalah yang akan memberikan kebaikan untuk sang pemiliknya. Mereka yang memiliki ilmu tentu saja menjadi jariyahnya nanti ketika membagi ilmu yang bermanfaat. Atau mereka yang memiliki tenaga berlebih maka ia akan menyedekahkan tenaganya untuk membantu sesama demi kemaslahatan bersama. 

Berbagi pun menjadi hal yang biasa dilakukan dalam masyarakat. Ketika beberapa orang berkumpul memiliki minat dan keinginan yang sama, maka sebuah kelompok masyarakat pun terbentuk untuk menebarkan manfaat. Begitu juga dalam gerakan berliterasi. 

A. Komunitas Ibu Ibu Doyan Nulis 

Sebuah komunitas yang digagas oleh Indari Mastuti tahun 2011 di Bandung. Awalnya ia membentuk Komunitas Ibu Ibu Doyan Nulis atau biasa disingkat IIDN merupakan komunitas online. Komunitas ini awalnya menggunakan media sosial facebook untuk melakukan aktivitasnya. Seiring perjalanannya, komunitas daring ini pun memiliki koordinator wilayah di beberapa kota besar, misalnya Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Makasar dan Sumatera. Ada juga anggota IIDN yang berada di luar negeri. 



Komunitas ini anggotanya perempuan semua. Meski namanya Ibu Ibu Doyan Nulis, perempuan yang belum menikah pun tetap diijinkan untuk mengikuti komunitas ini. 

Tujuan didirikannya IIDN ini adalah memberdayakan para ibu untuk memiliki kemampuan menulis. Sering kali IIDN mengadakan pelatihan menulis secara daring melalui grup di facebook. Materi yang diberikan pun beragam. Ada pelatihan menulis cerpen, artikel, atau sekedar menulis status untuk berjualan. Ada juga pelatihan menulis blog, menulis buku fiksi dan non fiksi, serta pelatihan menggunakan PUEBI dengan benar. 

Saat kepengurusan wilayah terbentuk di beberapa kota, maka awalnya hanya kenal di dunia maya, lantas sering mengadakan pertemuan untuk saling berbagi. Kalau yang namanya ibu-ibu, maka pelatihan yang dilakukan biasanya yang terkait dengan kegiatan para ibu. Apalagi ibu-ibu yang tergabung di wilayah beragam profesinya. 

IIDN di wilayah Jogja termasuk salah satu yang lumayan aktif kegiatannya. Sesama anggota saling bertukar ilmu. Setiap pertemuan anggota pun bergiliran mengisi materi. Biasanya pertemuan diisi dengan berbagi pengalaman. Pengalaman yang dibagi dalam bidang apa saja, tak hanya pengalaman menulis. Misalnya memasak, kecantikan, kesehatan, parenting, atau smartphone fotografi. Sering juga ketika anggota menerbitkan buku baru, maka kegiatan pun diisi dengan bedah buku. 

Namun jika dibutuhkan dan dikehendaki oleh anggota, IIDN Jogja pun mengadakan workshop menulis. Terkadang tak cuma anggota saja yang mengikuti, namun dibuka untuk umum. Workshop menulis yang pernah diadakan adalah menulis novel, menulis buku non fiksi, merancang outline atau kerangka buku, menulis cerita anak, parenting, serta motivasi. Jika dibutuhkan, IIDN Jogja mengundang pemateri dari luar komunitas. 

IIDN Jogja pun terbuka untuk diajak bekerjasama. Kerjasama yang sudah berjalan adalah menjadi pemateri dalam beberapa kegiatan di Perpustakaan Kota Jogjakarta. Pernah juga bekerjasama dengan beberapa sekolah untuk kegiatan literasi anak serta mengisi acara di sebuah radio di Jogja.



IIDN Jogja juga sudah pernah menerbitkan buku di sebuah penerbit dengan jaringan penjualan nasional. penjualannya pun lumayan. Promo dari buku tersebut lumayan terdongkrak karena artis Raffi Ahmad waktu istrinya hamil anak pertama membeli buku karya IIDN Jogja tersebut dalam sebuah acara di televisi nasional


B. Komunitas Jendela Jogja 
Negeri ini bukan hanya butuh pemuda pencari solusi. Tetapi butuh banyak pemuda yang berani membawa perubahan. 
Quote tersebut sejalan dengan pemikiran para mahasiswa yang tergabung dalam komunitas Jendela Jogja yang bergerak di bidang pendidikan anak. Tiga misi utama komunitas ini adalah membentuk kemandirian belajar anak melalui kebiasaan membaca buku, memusatkan pembelajaran pendidikan alternatif di perpustakaan, dan memberikan pengetahuan gratis kepada anak-anak Indonesia melalui kegiatan non formal yang mengasah kreativitas dan kemampuan motorik anak. 

Jendela Jogja berdiri sekitar tahun 2011. Awal berdirinya komunitas ini adalah bentuk keprihatinan para relawan mahasiswa saat terjadinya letusan Gunung Merapi 2011. Waktu itu mereka melihat anak-anak di pengungsian membutuhkan alat-alat untuk belajar. Lantas para mahasiswa mengumpulkan buku-buku untuk didistribusikan ke beberapa pengungsian. 

Ternyata respon dari masyarakat begitu bagus. Lantas kegiatan ini pun dijadikan agenda tetap. Beberapa orang yang menjadi pionir kegiatan ini membuat komunitas Jendela Jogja. Mereka mengumpulkan donasi berupa buku-buku bekas yang masih layak untuk dikumpulkan dan didistribusikan ke beberapa tempat yang membutuhkan. 

Komunitas Jendela Jogja memiliki agenda tetap mingguan. Mereka memiliki desa binaan yang memiliki minat membaca, namun kekurangan bahan bacaan. Untuk itu komunitas ini pun mengirim sejumlah buku untuk dipinjamkan beberapa waktu. kemudian dengan waktu yang telah ditetapkan, maka akan ada relawan komunitas yang akan mengatur sirkulasi buku. Buku-buku yang telah dipinjamkan akan diganti dengan buku yang lain. 


Tak hanya itu. Para relawan pun menyempatkan diri untuk mengajar anak-anak di sana untuk belajar. Anak anak belajar banyak hal selain terkait dengan pembelajaran di sekolah. Ada belajar menari, membuat mainan, menggambar, dan beberapa kegiatan lain. 

Relawan yang sudah lulus kuliah dan kembali ke kota kelahirannya pun tak ingin berhenti untuk berbagi. Lantas mereka pun membentuk cabang dari Komunitas Jendela ini. Beberapa cabang yang sudah terbentuk yaitu Jakarta, Bandung, Jember, Malang dan Lampung. 


Peran serta masyarakat dalam membudayakan literasi memang tak bisa diabaikan. Bermanfaat dan berbagi menjadi nama tengah mereka yang tak kenal lelah menyedekahkan waktu. tak pernah ada kata terlambat jika kita ingin berperan aktif dalam masyarakat, apalagi untuk menggerakkan literasi. 

Ada banyak cara bagi kita berpartisipasi aktif membudayakan literasi. Di mulai dari diri sendiri, keluarga, lantas berperan aktif dalam masyarakat. Tak ada kata terlambat. Saling bergenggaman tangan kita budayakan literasi demi anak cucu di kemudian hari. 

#SahabatKeluarga 
#LiterasiKeluarga 



Rabu, 18 September 2019

Tips Mengajak Remaja Mengonsumsi Makanan Sehat
Cr : pixabay

Saat ini semakin banyak kasus penyakit degeneratif menyerang orang-orang di usia produktif. Bahkan tak sedikit pula kasus remaja berpenyakit yang dahulu hanya diidap oleh orang-orang yang berusia senja. Tak terhitung pula remaja yang mengalami obesitas dikarenakan pola makan buruk yang tak segera diperbaiki. Di luar faktor genetik yang membuat remaja mengalami obesitas, faktor gaya hidup dan malas melakukan aktivitas fisik atau yang biasa mereka sebut mager (malas gerak) menjadikan mereka sulit untuk mengontrol berat badan.

Menjalani hidup sehat bukanlah satu hal instan yang dapat dijalani dengan mudah. Hidup sehat hanya akan menjadi sebuah slogan dalam sebuah keluarga jika seluruh anggotanya tak melakukan pola hidup yang sama. Semuanya berawal dari orang tua.

Begitu banyak makanan cepat saji tersedia di berbagai tempat. Jajanan yang kaya akan gula dan garam pun sangat mudah ditemui, bahkan di warung dekat rumah sekalipun. Jika tak ada keteladanan dari orang tuanya untuk mengonsumsi makanan sehat mustahil memberikan pemahaman kepada anak yang sudah remaja.

Ada beberapa tips yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mengajak remaja mengonsumsi makanan sehat. 


Mewajibkan sarapan di rumah
Remaja cenderung melewatkan sarapan karena terburu-buru atau merasa masih kenyang. Padahal sarapan sangat penting untuk meningkatkan memori jangka pendek. Jika sarapan nasi beserta lauk pauk dianggap terlalu kenyang, orang tua bisa menyiapkan buah-buahan, sereal, atau roti gandum untuk sarapan tanpa memakan banyak waktu.

Membawakan bekal dari rumah
Ini sangat penting bagi remaja, apalagi bagi mereka yang bersekolah dengan sistem full day. Namun jangan salah juga, menyiapkan bekal dengan lauk cepat saji seperti nugget atau sosis. Makanan dengan minim minyak sangat dianjurkan, misalnya rebusan telur atau pepes. Peran orang tua dalam menyiapkan bekal menjadi penentu dari sukses tidaknya remaja mengonsumsi makan sehat.

Menyediakan camilan sehat
Terkadang remaja tak suka makan berat. Mereka lebih menyukai kegiatan ngemil. Ganti cemilan yang digoreng dengan minyak banyak, biskuit berkadar gula tinggi dan keripik bergaram tinggi dengan buah-buahan segar, biskuit rendah lemak namun tinggi serat atau susu rendah lemak. Camilan tersebut selain memberikan rasa kenyang lebih lama juga lebih sehat untuk tubuh.

Bekali remaja dengan air putih jika bepergian
Rasa haus biasanya sangat sulit tahan. Remaja tentu saja akan mencari penghilang dahaga yang mudah ditemui di sekitarnya. Begitu banyak minuman berkadar gula tinggi dijual bebas. Jika anak masih sulit minum air putih, cobalah menambahkan irisan lemon, jeruk nipis atau anggur untuk memberikan rasa pada bekal air minumnya.

Ajak remaja turun ke dapur untuk mempersiapkan makan untuk keluarga.
Remaja biasanya sangat suka bereksplorasi. Mencari resep makanan sehat kemudian mengeksekusi tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi mereka. Ajak mereka terlibat dalam menentukan menu makan keluarga setiap harinya. 

Bekali remaja dengan pengetahuan tentang gaya hidup sehat
Ajak remaja untuk mengenali jenis-jenis makanan dengan berbagai zat yang terkandung di dalamnya. Tak ketinggalan pemahaman akan berbagai kelebihan dan kekurangan jenis makanan yang dikenali. Biasakan mereka membedakan mana makanan yang bermanfaat bagi tubuh atau hanya akan menumpuk menjadi sampah, bahkan jika dikonsumsi terus menerus akan mengakibatkan penyakit yang tak ringan.


Menjaga kesehatan tubuh berarti memberi asupan makanan dengan gizi seimbang. Bukan berarti tak boleh memanjakan lidah. Namun tetap saja ada batasan-batasan yang harus dikoreksi dalam setiap makanan yang masuk ke dalam tubuh. Lebih baik mencegah daripada mengobati.

Selasa, 10 September 2019

Mengelola Data Tanpa Khawatir dengan SanDisk



Sejak mengikuti kegiatan workshop konten kreatif di Semarang saya jadi sering merekam anak-anak, masyarakat sekitar atau teman-teman yang memiliki kegiatan menarik menggunakan smartphone yang saya miliki. Lantas beberapa aplikasi pendukung pun saya unduh untuk mengedit foto atau rekaman video tersebut. Terkadang untuk tampilan satu foto saya menggunakan tiga aplikasi pendukung. Penyimpanan smartphone pun makin lama semakin sedikit. Bisa-bisa nggak lama lagi penuh. 

Sebenarnya bisa juga sih, back up seluruh file dipindahin ke laptop. Akan tetapi saya harus mengunduh segala macam aplikasi atau software untuk mendukung aktivitas editing, sementara laptop saya termasuk laptop sepuh. Untuk render file yang tak terlalu besar byte nya pun sudah ngos-ngosan. Bagaimana jika ditambahin dengan penyimpanan back up data? Jangan sampai alat perang saya yang satu itu jadi hidup segan mati tak mau. Belum lagi kalau mau mempergunakan file lama untuk membuat sebuah konten. Harus ubek-ubek lagi mindahin file dari laptop ke smartpone. Kan, jadi nggak praktis lagi. 

Apa yang saya alami tuh ternyata nggak jauh beda dari kebiasaan orang Indonesia dalam manajemen data. Indonesia sebagai negara dengan jumlah pengguna smartphone terbanyak ke enam di dunia menjadikan Western Digital, sebuah perusahaan yang bergerak di industri teknologi informasi dan membuat sebuah survey tentang hal itu lewat Indonesian Consumer Mobile Habit and Data Management Survey. 

Sumber : Western Digital
Dari survey tersebut ditemukan bahwa :
  • Sebanyak 97% responden mengandalkan smartphone sebagai gawai utama dalam keseharian mereka. Responden yang lebih muda cenderung lebih banyak menggunakan smartphone mereka untuk lebih banyak fungsi, mulai dari gaming, navigasi, video streaming, atau berbelanja online. Menariknya, survey ini juga menunjukkan bahwa smartphone sudah menjadi pengganti ‘kamera’. Lebih dari 90% responden yang memiliki smartphone mengatakan bahwa mereka lebih sering menggunakan smartphone untuk mengambil gambar daripada untuk menelepon (87%) atau chatting (72%). Akibatnya, data yang ada pada smartphone hampir seluruhnya terdiri dari foto (98%) dan video (79%). 
  • Umumnya, masyarakat Indonesia menggunakan smartphone dengan memori internal 16-32 GB (56% responden). Namun, tentu kapasitas ini tidak akan cukup untuk menampung simpanan foto dan video yang terus bertambah di smartphone. Survei membuktikan bahwa lebih dari setengah responden mengatakan bahwa mereka hanya memiliki sisa memori 1-3 GB di smartphone mereka. Kapasitas terbatas ini menyebabkan para responden terpaksa menghapus data untuk mengosongkan kapasitas penyimpanan — dan hampir semua responden yang mengalami masalah ini mengaku merasa kesal saat ponsel mereka kehabisan kapasitas memori. 
  • Ada banyak faktor yang menyebabkan para pengguna smartphone kehilangan data mereka. Beberapa di antaranya adalah memori yang penuh sehingga mereka harus menghapus data, perangkat yang rusak, virus, file yang rusak, atau kehilangan perangkat. Walaupun sebanyak 67% responden pernah mengalami kasus kehilangan data sebelumnya, hanya sepertiga dari mereka yang rutin melakukan pencadangan atau back up data sebulan sekali (atau lebih). Ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden belum memiliki rencana atau jadwal back-up yang teratur, padahal back-up merupakan hal yang vital untuk dilakukan di era serba digital ini. 

Sebenarnya ada beberapa hal yang bisa dilakukan pengguna smartphone untuk mengelola data. 
  • Menambahkan Micro SD pada smartphone 
  • Mengelola foto atau video di media sosial 
  • Memindahkan file ke laptop 
  • Upgrade smartphone dengan penyimpanan data yang lebih besar 
  • Menggunakan USB OTG Dual Drive 

Buat saya yang paling memungkinkan sekarang ini adalah menggunakan USB OTG Dual Drive untuk mengelola data yang saya miliki. Nah ... Saya pun browsing tentang produk tersebut. Ternyata Western Digital memiliki produk yang yang layak banget untuk dimiliki. USB OTG Sandisk dual drive akan menolong banget buat kita yang suka banget sama yang praktis-praktis. 


Tentang USB OTG SanDisk Dual Drive 

USB OTG Sandisk dual drive memiliki spesifikasi teknis sebagai berikut: 
  • Kompatibel dengan smartphone atau tablet android yang mendukung USB OTG (On-The-Go) 
  • Memberikan ruang kosong dengan cepat pada smartphone atau tablet android sehingga dapat mengambil atau menyimpan gambar dan video lebih banyak 
  • Memungkinkan bagi kita untuk memindahkan dan berbagi file dari perangkat android ke komputer dekstop atau laptop 
  • Desainnya bagus, ramping, dan mudah ditarik, menawarkan fungsi kedua konektor yaitu mikro USB dan USB 3.0. Konektor USB 3.0 mempunyai kinerja yang tinggi dan kompatibel dengan port USB 2.0 
  • Kecepatan tinggi dari USB 3.0 memungkinkan kita mentransfer file dengan durasi panjang ke penyimpanan drive hingga 150MB per detik. 
  • Aplikasi SanDisk® Memory Zone tersedia dari Google Play store. Hal ini memungkinkan kita untuk melihat, mengakses, dan mencadangkan semua file dari penyimpanan smartphone ke dalam satu lokasi. Aplikasi tersebut juga bisa secara otomatis memindahkan file dari perangkat lain ke drive untuk membebaskan ruang penyimpanan. 

Spesifikasi Produk

sumber : www.sandisk.com


Detail Produk

sumber : www.sandisk.com

Nomor Produk
Kotak merah = nomor produk #SanDiskAPAC 

Kalau punya banyak file #DibuangSayang kan? Mendingan simpenin aja. Apalagi sekarang sudah ada #SanDiskAPAC yang bakal membantu mencadangkan data yang kita punya. Mudah banget ngedapetinnya. Coba aja cari di toko-toko asesories komputer yang menjual produk dari Western Digital. Toko-toko online juga sudah banyak kok yang menjual produk SanDisk USB OTG Dual Drive. 

Jadi mudah kan mengelola data yang kita miliki tanpa khawatir?