Peran Keluarga dan Komunitas dalam Membudayakan Literasi - Jurnal Hati

Minggu, 29 September 2019

Peran Keluarga dan Komunitas dalam Membudayakan Literasi


Aku berterimakasih kepada kau, Aqila.
Jika saja kau tak pernah merasa sakit hati. Jika saja kau tak pernah merasa kesepian, sendiri, dan terpuruk. Aku takkan pernah mengenal diriku yang sekarang. Jika dulu kau tak melakukan sesuatu yang konyol, aku tak pernah tahu hikmah yang dapat kuambil dari perbuatanmu dulu. Sungguh, aku sangat berterima kasih. Jika dulu Aqila yang kukenal, hanya bisa merengek dan manja, kini ia telah tumbuh menjadi gadis yang lebih kuat. Lebih tangguh menghadapi cobaan. 
Itu adalah cuplikan kalimat yang dirangkai anak sulung saya. Di suatu masa, saat memulai membenahi hati setelah sekian lama terpuruk. Ia mengalami hal yang kurang mengenakkan di sekolah. Sesuatu yang tak pernah ia sangka. 

Saat itu, ia tak sanggup berkata-kata. Komunikasi dengan saya pun melalui tulisan. Dari komunikasi non verbal itulah saya coba tulis ulang di laptop. Kemudian saya minta ia melanjutkan tulisan untuk mengalirkan rasa sedih dan sakitnya. Sampai satu minggu ia menulis. Saya pun takjub. Senarai kalimat yang ia tuliskan untuk mengurangi luka hatinya sampai lima belas halaman A4. Wow sekali. 

Kemudian saya mengajaknya berdiskusi. Membincangkan seandainya ia meneruskan tulisannya. Berandai andai yang ia tuliskan menjadi naskah buku. Lantas mencoba memberikan pandangan jika ia memiliki karya. 

Ada kerlip bintang di matanya. Saya membaca semangat baru saja tergambar di sana. Lantas kami mencoba membuat outline. Apa yang ingin ia tuliskan. Berbagai keresahan yang ia lihat atau temui. Cara pandangnya saat menemui masalah. Harapan yang ia miliki untuk melanjutkan kehidupan setelah terpuruk. Hikmah yang bisa ia ambil setelahnya. 

Ia pun memilih beberapa buku untuk ia baca. Mencari sendiri referensi yang ia butuhkan. Mungkin ada dua atau tiga buku yang ia baca sampai habis. Kemudian melihat konten motivasi di youtube. Setelah itu, seusai sekolah, ia akan menyalakan laptop dan tenggelam dalam tulisan-tulisannya. 

Saya tak menyangka. Ia merampungkan naskahnya. 120 halaman dalam waktu dua bulan. Saat merampungkan naskahnya, ia belum genap berusia lima belas tahun. Buat saya ini menakjubkan. Bukan naskah novel yang ia tuliskan. Motivasi remaja menjadi genre tulisannya. 

Saya pun mengirimkan naskah tersebut ke sebuah penerbit. Tiga bulan kemudian sebuah jawaban yang membuat saya bersujud karena rasa syukur terkirim ke surat elektronik saya. Sebuah penerbit besar akan menerbitkan naskah anak sulung saya dan akan diedarkan di toko buku seluruh Indonesia. Saat ini buku motivasi remaja karya anak saya masih dalam proses penerbitan. Hal itu memberikan suntikan semangat anak saya untuk kembali berkarya.


Ya, saya takjub akan kemampuannya menulis naskah dengan waktu yang lumayan pendek untuk anak seusianya. Namun saya menyadari bahwa yang ia lakukan melalui proses yang panjang. Kemampuan mengolah diksi bukan hanya masalah bakat. Hal itu takkan muncul begitu saja dalam diri setiap manusia. Kekayaan diksi hadir ketika seseorang banyak membaca. 

Sulung saya termasuk anak yang hobi membaca dari kecil. Sejak bayi saya membacakan cerita dari buku anak yang saya beli. Lantas beberapa buku dengan bahan hard cover saya sediakan di rumah. Ketika berusia dua tahun ia suka sekali membuka buku-buku tersebut. Aktivitas membuka buku ternyata menjadi keasyikan tersendiri baginya. Sehingga saat ia berada di usia emasnya, buku pun menjadi mainan terbaik baginya. 

Ia mampu membaca dengan lancar di usia 4,5 tahun. Bukan karena saya memaksanya untuk mengenal huruf. Namun ia memiliki keinginan membaca buku cerita anak bergambar yang setiap bulan saya belikan. Ketertarikannya pada buku sejak usia dini semakin meningkat. Klas 1 SD pun ia sudah mulai membaca novel anak. 

Saya sempat kewalahan karena kebutuhannya terhadap membaca novel semakin tinggi. Klas tiga SD pun ia sudah tak mau membaca buku novel anak yang hanya berjumlah 100 halaman. Saya ingat, ia mulai membaca novel Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye ketika duduk di bangku kelas tiga SD yang memiliki 200 halaman. 

Ternyata, kesukaannya pada buku pun menular pada adiknya. Meski minatnya tak setinggi kakaknya. Si adik pun tak mau kalah untuk urusan membaca. Toko buku pun menjadi tempat favorit untuk rekreasi. Setiap bulan jadi memiliki anggaran untuk membeli buku. Sampai-sampai jumlah mainan yang dimiliki jauh lebih sedikit dibandingkan buku. 

Kebiasaan belanja buku masih terjaga sampai sekarang mereka tumbuh menjadi remaja. Setiap kali jalan-jalan toko buku tetap berada di urutan pertama untuk dikunjungi. Mereka bisa berjam-jam berada di toko buku. 


Budaya Literasi Keluarga Tidak Instan 

Literasi dasar memang tak sebatas membaca dan menulis. Namun literasi itulah yang diajarkan orang tua pertama kali pada anaknya. Membaca dan menulis merupakan bagian dari komunikasi. Anak pun belajar berkomunikasi melalui komunikasi verbal dan non verbal dari orang tuanya. 

Anak belajar berekspresi sedih, marah dan bahagia dari orang tua. Mereka akan menangkap secara detil ekspresi orang tua. Senyum yang merekah, tawa gembira, atau tangis yang tersedu. Anak menangkap ekpresi orang tua saat membacakan buku cerita. Itulah literasi baca tulis pertama yang dipelajari oleh anak. 

Tak ada yang mendadak dalam sebuah keberhasilan. Semua melalui proses yang panjang. Begitu juga dengan kegiatan anak dalam membaca dan menulis. Semua itu tak lepas dari usaha dan teladan orang tua. Coba lihat di rak buku kita. seberapa banyak kita membelikan bahan bacaan yang tepat untuk anak-anak kita. Seringkah kita memberikan teladan pada anak untuk menyukai kegiatan literasi? Seberapa lama kita duduk dan membaca buku dalam sehari? Pertanyaan-pertanyaan itu sering saya lontarkan pada teman sesama wali murid yang mengeluhkan anaknya tak suka membaca. 


Bagaimanapun juga, anak adalah peniru ulung. Mereka layaknya kain putih yang siap menyerap. Apakah tinta yang kita tuangkan? Atau air bersih yang kita basuhkan. Peran keluarga sangat penting dalam budaya literasi. Dukungan penuh dalam berliterasi akan membentuk budaya dalam keluarga. Nah, kira-kira apa sih yang bisa dilakukan keluarga dalam membudayakan literasi di rumah? 

1. Mengenalkan buku pada anak sejak dini 
Pembiasaan anak untuk akrab dengan buku sejak dini merupakan langkah pertama bagi orang tua untuk membentuk kecintaan anak pada membaca. Saat ini sudah banyak produsen buku yang terbuat dari kain untuk pengenalan pertama di saat anak usia 0-2 tahun. Dengan gambar yang lucu, serta kain berwarna-warni tentu saja akan merangsang anak untuk bereksplorasi.


Di usia anak memasuki jenjang 2-3 tahun, kita bisa menyediakan boardbook. Boardbook yang terbuat dari bahan yang tebal dan sulit sobek akan membantu anak kenal warna, bentuk, huruf dan angka. Bisa jadi anak masih dibacakan. Namun keterlibatan anak bersama boardbook ini akan mengikat cinta anak pada buku. Jangan lupa. Dekatkan buku dengan jangkauan anak supaya ia bisa mengambil buku berulang kali. Tak mengapa meski hanya dijadikan mainan. 
Memasuki usia pra sekolah kita bisa memulai menyediakan buku cerita bergambar untuk anak-anak. Mungkin saja saat itu kita masih membacakan cerita. Namun ia akan tertarik pada gambar yang berwarna, jalan cerita dalam buku itu, bahkan mampu menangkap setiap pesan moral yang disampaikan dari buku tersebut. setiap proses yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan. 

2. Memiliki waktu untuk membaca buku bersama 
Saat anak-anak masih usia balita, maka membacakan buku menjadi keharusan bagi orang tua. Orang tua pun berusaha menjadi pendongeng yang baik buat anak-anak. Namun saat anak sudah masuk usia SD dengan kemampuan membacanya sudah jauh lebih bagus, maka orang tua pun membarengi anak dengan kegiatan yang sama. Di waktu senggang dan tak ada kegiatan di luar rumah, orang tua pun menyempatkan diri untuk membaca buku. Paling baik kegiatan itu dilakukan di ruang keluarga, karena sudah pasti terlihat oleh anak-anak. Jika itu sudah menjadi kebiasaan, tentu saja anak-anak akan mengikuti sepanjang diberikan fasilitas yang sama. Kebiasaan orang tua akan menular dengan cepat. 

3. Menyediakan perpustakaan kecil di rumah 
Menyediakan perpustakaan kecil di rumah akan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk anak dalam berliterasi. Buku untuk anak-anak diletakkan di rak paling bawah supaya mudah dijangkau oleh tangan mungilnya. Sangat baik jika jumlahnya sering diperbaharui. Berbagai ragam bacaan disediakan. Alangkah bagusnya saat orang tua menyediakan buku dengan jenis genre yang berbeda-beda. Dengan berbagai macam buku yang kita sediakan, maka pengetahuan anak pun makin beragam. 

4. Ajak anak ke Perpustakaan dan toko buku 
Perpustakaan dan toko buku akan menjadi tempat bermain yang mengasyikkan buat anak jika sudah suka membaca. Sekarang banyak perpustakaan telah menyediakan ruangan khusus untuk anak-anak. Berbagai buku disediakan. Ruangan pun didesain khusus supaya anak-anak betah berada di sana. Toko buku pun menyediakan rak khusus buku anak dengan desain yang lucu sehingga menarik perhatian anak. 

Saat anak-anak sudah menjadikan membaca adalah sebuah kebutuhan, maka tak ada salahnya keluarga mengenalkan pada budaya menulis. Biasanya anak yang suka membaca memiliki daya imajinasi yang tinggi. Hal-hal yang anak baca tak cukup memuaskan kebutuhannya berimajinasi. Sering kali anak yang suka membaca memiliki dorongan untuk menuliskan imajinasinya. 

Cobalah periksa semua buku tulis yang dimiliki anak-anak kita. buka halaman belakangnya. Seringkali anak memulai menulis sesuatu di halaman belakang buku tulis yang biasa dipakai di sekolah. Mungkin hanya satu atau dua paragraf. Namun hal itu cukup memberitahu kita bahwa mereka memiliki minat untuk menulis. 

Anak saya memulai menulis dari hal-hal kecil. Saat kelas satu SD ia sering kali menulis surat untuk saya. Ia pun memiliki catatan harian. Segala perasaan ia tumpahkan di catatan harian tersebut. lantas ketika bosan dengan pelajaran, ia akan membuat tulisan satu atau dua paragraf di halaman belakang. Hal itu ternyata cukup membuat mood nya naik kembali. 

Saya pun memberikan waktu padanya untuk memakai laptop. Saat masih berada di bangku SD ia memiliki waktu untuk menulis setelah pulang sekolah. meski tak lama. Sering pula apa yang ia tuliskan tak selesai. Namun hal itu membuatnya terlatih untuk menulis. 

Menulis bisa menjadi katarsis. Dengan menulis semua orang bisa menumpahkan perasaan yang dimiliki. Rasa sedih, gembira, marah, atau kegelisahan. Ada kelegaan yang dirasakan saat telah menumpahkan ke dalam sebuah tulisan. Segala emosi yang dimiliki akan mengalir, sehingga tak memenuhi hati dan pikiran. Biasanya, setiap orang yang menulis memiliki kemampuan mengelola emosi yang baik. 


Peran Komunitas dalam berliterasi 

Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Hadis ini banyak menginspirasi orang untuk bergerak membagi kebaikan. Kebaikan yang disebarkan ke masyarakat bisa apa saja. Jika mereka yang memiliki harta, maka hartalah yang akan memberikan kebaikan untuk sang pemiliknya. Mereka yang memiliki ilmu tentu saja menjadi jariyahnya nanti ketika membagi ilmu yang bermanfaat. Atau mereka yang memiliki tenaga berlebih maka ia akan menyedekahkan tenaganya untuk membantu sesama demi kemaslahatan bersama. 

Berbagi pun menjadi hal yang biasa dilakukan dalam masyarakat. Ketika beberapa orang berkumpul memiliki minat dan keinginan yang sama, maka sebuah kelompok masyarakat pun terbentuk untuk menebarkan manfaat. Begitu juga dalam gerakan berliterasi. 

A. Komunitas Ibu Ibu Doyan Nulis 

Sebuah komunitas yang digagas oleh Indari Mastuti tahun 2011 di Bandung. Awalnya ia membentuk Komunitas Ibu Ibu Doyan Nulis atau biasa disingkat IIDN merupakan komunitas online. Komunitas ini awalnya menggunakan media sosial facebook untuk melakukan aktivitasnya. Seiring perjalanannya, komunitas daring ini pun memiliki koordinator wilayah di beberapa kota besar, misalnya Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Makasar dan Sumatera. Ada juga anggota IIDN yang berada di luar negeri. 



Komunitas ini anggotanya perempuan semua. Meski namanya Ibu Ibu Doyan Nulis, perempuan yang belum menikah pun tetap diijinkan untuk mengikuti komunitas ini. 

Tujuan didirikannya IIDN ini adalah memberdayakan para ibu untuk memiliki kemampuan menulis. Sering kali IIDN mengadakan pelatihan menulis secara daring melalui grup di facebook. Materi yang diberikan pun beragam. Ada pelatihan menulis cerpen, artikel, atau sekedar menulis status untuk berjualan. Ada juga pelatihan menulis blog, menulis buku fiksi dan non fiksi, serta pelatihan menggunakan PUEBI dengan benar. 

Saat kepengurusan wilayah terbentuk di beberapa kota, maka awalnya hanya kenal di dunia maya, lantas sering mengadakan pertemuan untuk saling berbagi. Kalau yang namanya ibu-ibu, maka pelatihan yang dilakukan biasanya yang terkait dengan kegiatan para ibu. Apalagi ibu-ibu yang tergabung di wilayah beragam profesinya. 

IIDN di wilayah Jogja termasuk salah satu yang lumayan aktif kegiatannya. Sesama anggota saling bertukar ilmu. Setiap pertemuan anggota pun bergiliran mengisi materi. Biasanya pertemuan diisi dengan berbagi pengalaman. Pengalaman yang dibagi dalam bidang apa saja, tak hanya pengalaman menulis. Misalnya memasak, kecantikan, kesehatan, parenting, atau smartphone fotografi. Sering juga ketika anggota menerbitkan buku baru, maka kegiatan pun diisi dengan bedah buku. 

Namun jika dibutuhkan dan dikehendaki oleh anggota, IIDN Jogja pun mengadakan workshop menulis. Terkadang tak cuma anggota saja yang mengikuti, namun dibuka untuk umum. Workshop menulis yang pernah diadakan adalah menulis novel, menulis buku non fiksi, merancang outline atau kerangka buku, menulis cerita anak, parenting, serta motivasi. Jika dibutuhkan, IIDN Jogja mengundang pemateri dari luar komunitas. 

IIDN Jogja pun terbuka untuk diajak bekerjasama. Kerjasama yang sudah berjalan adalah menjadi pemateri dalam beberapa kegiatan di Perpustakaan Kota Jogjakarta. Pernah juga bekerjasama dengan beberapa sekolah untuk kegiatan literasi anak serta mengisi acara di sebuah radio di Jogja.



IIDN Jogja juga sudah pernah menerbitkan buku di sebuah penerbit dengan jaringan penjualan nasional. penjualannya pun lumayan. Promo dari buku tersebut lumayan terdongkrak karena artis Raffi Ahmad waktu istrinya hamil anak pertama membeli buku karya IIDN Jogja tersebut dalam sebuah acara di televisi nasional


B. Komunitas Jendela Jogja 
Negeri ini bukan hanya butuh pemuda pencari solusi. Tetapi butuh banyak pemuda yang berani membawa perubahan. 
Quote tersebut sejalan dengan pemikiran para mahasiswa yang tergabung dalam komunitas Jendela Jogja yang bergerak di bidang pendidikan anak. Tiga misi utama komunitas ini adalah membentuk kemandirian belajar anak melalui kebiasaan membaca buku, memusatkan pembelajaran pendidikan alternatif di perpustakaan, dan memberikan pengetahuan gratis kepada anak-anak Indonesia melalui kegiatan non formal yang mengasah kreativitas dan kemampuan motorik anak. 

Jendela Jogja berdiri sekitar tahun 2011. Awal berdirinya komunitas ini adalah bentuk keprihatinan para relawan mahasiswa saat terjadinya letusan Gunung Merapi 2011. Waktu itu mereka melihat anak-anak di pengungsian membutuhkan alat-alat untuk belajar. Lantas para mahasiswa mengumpulkan buku-buku untuk didistribusikan ke beberapa pengungsian. 

Ternyata respon dari masyarakat begitu bagus. Lantas kegiatan ini pun dijadikan agenda tetap. Beberapa orang yang menjadi pionir kegiatan ini membuat komunitas Jendela Jogja. Mereka mengumpulkan donasi berupa buku-buku bekas yang masih layak untuk dikumpulkan dan didistribusikan ke beberapa tempat yang membutuhkan. 

Komunitas Jendela Jogja memiliki agenda tetap mingguan. Mereka memiliki desa binaan yang memiliki minat membaca, namun kekurangan bahan bacaan. Untuk itu komunitas ini pun mengirim sejumlah buku untuk dipinjamkan beberapa waktu. kemudian dengan waktu yang telah ditetapkan, maka akan ada relawan komunitas yang akan mengatur sirkulasi buku. Buku-buku yang telah dipinjamkan akan diganti dengan buku yang lain. 


Tak hanya itu. Para relawan pun menyempatkan diri untuk mengajar anak-anak di sana untuk belajar. Anak anak belajar banyak hal selain terkait dengan pembelajaran di sekolah. Ada belajar menari, membuat mainan, menggambar, dan beberapa kegiatan lain. 

Relawan yang sudah lulus kuliah dan kembali ke kota kelahirannya pun tak ingin berhenti untuk berbagi. Lantas mereka pun membentuk cabang dari Komunitas Jendela ini. Beberapa cabang yang sudah terbentuk yaitu Jakarta, Bandung, Jember, Malang dan Lampung. 


Peran serta masyarakat dalam membudayakan literasi memang tak bisa diabaikan. Bermanfaat dan berbagi menjadi nama tengah mereka yang tak kenal lelah menyedekahkan waktu. tak pernah ada kata terlambat jika kita ingin berperan aktif dalam masyarakat, apalagi untuk menggerakkan literasi. 

Ada banyak cara bagi kita berpartisipasi aktif membudayakan literasi. Di mulai dari diri sendiri, keluarga, lantas berperan aktif dalam masyarakat. Tak ada kata terlambat. Saling bergenggaman tangan kita budayakan literasi demi anak cucu di kemudian hari. 

#SahabatKeluarga 
#LiterasiKeluarga 



27 komentar:

  1. MasyaAlloh keuntungan dari hobi membaca dan berliterasi membuahkan hasil untuk anaknya ya mbak irfa, jadi sebuah karya yang bisa menghasilkan pundi-pundi, lanjutkan dek ya semangat :)

    BalasHapus
  2. Aaakkk bangga banget sama sulungnya mba Irfa. Semoga dilancarkan ya mbaak dan berlanjut ke karya2 selanjutnya. Aku mengakui nulis buku itu nggak mudah :")) ini tips2nya juga bakalan kepake banget. Cita2ku jg punya keluarga cinta baca dan tulis. Amiin...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, semoga nanti pas udah ada anak-anak bisa terbiasa dengan buku ya mbak

      Hapus
  3. setuju banget, kadang arkaan juga minta dibacain buku, tapi kadang aku tolak karena lelah, hahaha, ibu macam apa ini? huhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahah ... Dulu Anya minta belajar baca karena beberapa aku nolak bacain buku 😆

      Hapus
  4. Nah ini, jujur membudayakan literasi di rumahku masih agak susah nih, dan cara yang paling ampuh sebenernya adalah dengan memberikan contoh kepada anak2 ya, Mba. Kalau kita lebih banyak pegang hape, begitupula anak kita. Jadi, mulai sekarang kudu banyak pegang buku dan bacain mereka cerita2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang emaknya pegang hp, anaknya baca buku. Emak kan perlu ngejob 😆

      Hapus
  5. Mbaaa...jempol 4 buat Aqila, juga buat Kelg mba yg telah berhasil menuntun anak2 shg cinta membaca dan menulis. Saya jadi ingat,kesukaan saya membaca adalah juga karena sejak kecil Bapak-Ibu membiasakannya kepada kami..

    BalasHapus
  6. Betul banget, orang tua yang mengakrabkan buku pada anak, nanti anak bisa bergaul di komunitas agar makin semangat berkarya ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti jadi anak gaul yang doyan buku :)

      Hapus
  7. Masyaallah, semangat buat Aqila. Kamu adalah survivor sejati yang menjawab semuanya dengan karya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, semoga bisa terus berkarya mb

      Hapus
  8. Barokallah keren banget mba Irfa
    Menuruni bakat orang tuanya ya. Aku jadi pengen menerapkan kelak kalau ada anak hahaah.
    Harus mengakrabkan anak sama buku nih.

    BalasHapus
  9. Selamat kakak Aqila. Bunda juga mau menerapkan tipsnya nih biar Aira suka membaca dan pintar menulis seperti kakak Aqila. Skrg anakku 2 tahun mbak. Ini mau dikenalkan ke perpustakaan desa ☺

    BalasHapus
  10. Setuju, keluarga adalah kunci utama literasi pada anak..dari keluarga merembet ke komunitas dan akan semakin berkembang.. hidup pejuang literasi...

    BalasHapus
  11. MasyaAllah... Barakallah.. Keren Kakak udah punya buku sendiri. Jadi keluarga penulis nih ����

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, semoga bisa bertahan lama :)

      Hapus
  12. Mba Anya hebat nih, ga jauh-jauh lah ya dari simboknya yang piawai dalam mengolah kata-kata.

    Bener banget, menulis bisa jadi katarsis untuk menumpahkan segala rasa. Aku jadi ingat, hobi menulis segala sesuatu di buku, termasuk bikin cerita dan skenario ala ala yang dilakukan anak wedokku nggak jauh beda dengan yang kulakukan sejak jaman SD dulu. Semuanya berawal dari kegemaran membaca buku di keluarga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya makNik, menjaga pikiran positif dengan menulis :)

      Hapus
  13. Si sulung keren bgt mb irfa, berkat ibunya ya ini, dr bayi udah dibacain buku hari2 ditemani buku. Semoga kelak aqila mnjadi novelis besar mba ��

    BalasHapus
  14. Tiap membaca tulisan mbak Irfa cerita tentang sulung, membuat daku suka terharu, betapa ya anak itu bisa membuat banyak perubahan di diri kita.
    Anakku yang sulung sekarang malah malas nulis, keasyikan foto. Sukses selalu untuk mbak Anya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mak Injul, sama anak sulung tuh nano nano banget. Makasih doanya yaaa... Semoga putri-putri Mak Injul juga selalu sukses dengan passionnya

      Hapus

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih