Jurnal Hati Irfa Hudaya: Traveling
Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Juli 2023

Ke Bukit Cinta Aku akan Kembali
Rawa Pening Baru Klinting


“Ayah besok ke Semarang ya?”
“Aku ikut boleh? Aku libur sampai Ahad lho?”
“Yo ayok.”
“Kalau Kakak ikut aku ya ikut.”
“Lho ... Kok ke Semarang semua? Bunda ikutlah.”

Paksu cuma diem aja. Niatnya antar pesanan kebab beberapa pax. Ternyata yang lain mau ngintilin. Laba nggak seberapa, rugi iya kalau kudu naik mobil. Si Kakak kayaknya bisa membaca pikiran ayahnya.

“Kita naik motor aja yuk? Sekali-kali ngerasain perjuangannya ayah naik motor Semarang Muntilan?” usul si Kakak.
“Gassss ...”

Obrolan di awal Juni lalu membuat kami benar-benar melakukan touring. Ini adalah pengalaman Kakak dan Adek naik motor ke Semarang. Tentu saja bikin mereka excited dengan perjalanannya. Sejak malam sebelum jalan mereka sudah mempersiapkan apa saja yang harus dibawa. Biasanya mereka langsung taruh barang di koper. Hari itu kami harus mempersiapkan segala sesuatunya dalam tas ransel.

Awalnya kami nggak punya tujuan. Pokoknya asal nyampe Semarang ajalah. Saya sudah membayangkan anak-anak bakal mengeluh dengan perjalanan kali ini. Bukan sesuatu yang ringan naik motor sejauh hampir 100 km yang biasa ayahnya tempuh dalam waktu tiga jam.

Dari awal Paksu sudah kasih briefing ke anak-anak. Kami sepakat setiap satu jam sekali akan berhenti untuk beristirahat. Akan tetapi kami juga menghitung waktu bahwa hari itu adalah hari Jumat sehingga Paksu menargetkan untuk sampai di Masjid Jami’ Istiqomah Ungaran untuk shalat Jumat.


Perjalanan menuju Semarang


Kami berangkat jam 09.30. Saya bonceng Paksu, Kakak bonceng Adek. Kalau melihat ekspresi mereka sih kelihatannya bahagia di awal perjalanan. Kecepatan motor pun standar aja, paling nggak 50 atau 60km/jam. Itu pun sudah bikin saya nengok melulu ke belakang.

Satu jam perjalanan kami sampai di depan Masjid Miftahul Jannah Banaran Desa Bedono Kecamatan Jambu Kabupaten Semarang. Kami pun berhenti untuk beristirahat. Ada sebuah saung yang berada di sisi utara masjid. Saung itu pun cukup luas ketika kami tempati berempat. Adek langsung tidur tengkurap di ikuti Kakak yang berbaring di sebelahnya.

“Pegel,” katanya sambil tertawa.

Perjalanan touring menuju Semarang


Di sebelah saung, berjejer beberapa penjual jajanan. Ada bakso, dawet, mie goreng, serta siomay. Harganya pun murah banget. Paksu memesan bakso empat mangkok. Satu mangkoknya seharga Rp. 5.000,-. Rasanya lumayanlah, apalagi untuk harga segitu.

Suasana di situ cukup sejuk. Mungkin karena berderet pohon-pohon tinggi yang menjadi hutan buatan. Sesekali terdengar suara burung yang terbang melintas di pohon-pohon yang tinggi menjulang. kami beristirahat sekitar 20 menit. Lantas kembali melakukan perjalanan.

Salah satu pemandangan favorit ketika melintas di area Banaran adalah kebun kopi. Mungkin juga ada pohon cokelat. Dulu pernah melihat di area itu pun ada tanaman cokelat. Terhampar luas sampai beberapa kelokan jalan. Meskipun saya hidup di desa. Melihat sawah dan pepohonan di tempat lain pun saya masih merasa takjub dengan keindahan tersebut.

Melintasi jalan utama Semarang Magelang ini sempat terganggu dengan pelebaran jalan di daerah Jambu. Sempat terjadi macet panjang. Salah satu keuntungan perjalanan kali ini adalah dengan mengendarai sepeda motor kami masih bisa mencari celah di antara kendaraan-kendaraan berstang bundar. Sempat khawatir kalau Adek dan Kakak tertinggal jauh karena Paksu yang lincah mencari celah. Saya dan Kakak pun saling mengirim shareloc terkini supaya sama-sama terpantau.

Tak berapa lama motor kami sudah berurutan. Paksu agak mempercepat laju kendaraan bermotor untuk mengejar waktu shalat Jumat. Benar saja. Saat kami memasuki halaman masjid Jami’ Istiqamah Ungaran adzan sedang berkumandang.

Turun dari sepeda motor, Kakak nggelendot ayahnya sebentar.

“Ayah kok kuat naik motor seminggu sekali bolak balik gini. Makasih ya, Yah,” kata Kakak sambil menatap ayahnya dengan rasa sayang.

Paksu tertawa dan mengelus kepala Kakak sekilas. Saat Paksu dan Adek masuk ke dalam masjid, saya dan Kakak istirahat di teras. Beberapa perempuan terlihat menunggu di sepanjang teras masjid tersebut. Kakak langsung menggelosor, mengistirahatkan punggungnya. Tak berapa lama terdengar dengkur halus si Kakak. Selama ini Kakak selalu tidur jika perjalanan ke Semarang. Sering kali lima menit mobil baru jalan ia sudah terlelap dan terbangun sudah keluar pintu tol Gayam Sari. Kali ini ia terpaksa terjaga sepanjang perjalanan.

Setelah Paksu dan Adek shalat Jumat kami melakukan perjalanan kembali. Silaturahmi ke adik suami, ke rumah eyangnya anak-anak, dan terakhir menyambangi kakak sepupu saya di Bukit Semarang Baru. Kami menginap di sana. Kami pun merencanakan sesuatu saat perjalanan pulang esok hari.

Perjalanan Menuju Bukit Cinta, Rawa Pening


Kami berangkat lebih lambat 30 menit dari rencana awal. Kakak sepupu saya ngajak olah raga dulu di danau buatan di depan cluster perumahannya. Dari BSB kami menyusuri jalan tembus menuju Ungaran via Gunungpati. Meski jalan berkelok dan naik turun lumayan tajam. waktu tempuh 25 menit kami sudah sampai di pertigaan Jalan Ungaran – Cangkiran.

perjalanan wisata Kabupaten Magelang

Kali ini kami tanpa istirahat langsung menuju sebuah tempat wisata di area Banyubiru Kabupaten Semarang. Melewati jalan lingkar setelah melewati terminal Bawen. Dari kejauhan kami sudah bisa melihat Rawa Pening yang legendaris itu.

Bukit Cinta adalah tujuan kami. Setelah satu jam perjalanan kami pun sampai di depan Gerbang Bukit Cinta dimana kita juga bisa melihat keindahan Rawa Pening. Masih sepi sih, karena kami sampai sana sekitar jam 08.30. Agak kesel lupa nggak foto area masuknya. Ada sedikit kendala saat mau masuk ke area parkir karena sistem barrier gate nya error.

Saya harus membayar Rp. 60.000,- untuk empat orang jika ingin masuk ke area wisata Bukit Cinta. Di beberapa tempat terlihat berbagai patung dan relief dari hikayat Baru Klinting. 

Rawa Pening


Tahu kan siapa si Baru Klinting? Kalau kalian suka baca cerita legenda pasti nggak asing lagi dengan si naga besar salah satu tokoh penting dalam legenda terjadinya Rawa Pening. Ada berbagai versi tentang legenda terjadinya Rawa Pening. Dan inilah salah satu cerita yang banyak berkembang di masyarakat.

Cerita Tentang Legenda Rawa Pening

Legenda Baru Klinting


Di sebuah desa bernama Ngasem yang terletak di lembah antara Gunung Telomoyo dan Gunung Merbabu, Semarang, Jawa Tengah. Tinggallah suami istri bernama Ki

Hajar dan Nyai Selakanta, yang sangat dihormati oleh masyarakat sekitar karena sikap ramah dan selalu membantu orang lain. Namun, hidup mereka belum lengkap karena belum dikaruniai seorang anak.

Suatu hari, Nyai Selakanta yang sedang merenung mengungkapkan keinginannya untuk memiliki seorang anak kepada Ki Hajar. Ki Hajar kemudian meminta izin untuk pergi bertapa di Gunung Telomoyo. Pada saat Ki Hajar pergi, Nyai Selakanta merasa mual dan muntah-muntah. Ia menduga bahwa dirinya sedang hamil. Dugaannya benar. Ia pun menyambut dengan suka cita. Ternyata setelah sembilan bulan Nyai Selakanta melahirkan. Seorang anak berupa seekor naga lahir dari rahimnya. Lantas si bayi naga itu diberi nama Baru Klinthing, mengambil nama dari salah satu pusaka suaminya.

Meskipun Baru Klinthing memiliki wujud naga. Ia memiliki kemampuan berbicara seperti manusia. Nyai Selakanta merasa malu melahirkan anak berwujud naga.Perempuan ini pun merencanakan untuk membawanya ke Bukit Tugur agar jauh dari warga desa. Sebelum pergi, Nyai Selakanta merawat Baro Klinthing secara rahasia tanpa diketahui oleh orang lain.

Baru Klinthing tumbuh dewasa dan ingin tahu tentang ayahnya. Nyai Selakanta menceritakan tentang Ki Hajar yang sedang bertapa di lereng Gunung Telomoyo. Ia meminta Baru Klinthing untuk menyusulnya dengan membawa tombak pusaka milik Ki Hajar. Itu sebagai bukti bahwa Baru Klinting adalah anak Ki Hajar dan Nyai Selakanta. Baru Klinthing menemui ayahnya di lereng Gunung Telomoyo dan membuktikan tentang hubungan mereka dengan tombak pusaka. Ki Hajar belum percaya secara sepenuhnya. Ki Hajar kemudian menyuruh Baru Klinthing untuk melingkari Gunung Telomoyo. |Hal itu dilakukan dengan mudah berkat kesaktian Baru Klinting. Ki Hajar akhirnya percaya bahwa naga tersebut adalah anaknya yang lahir dari rahim Nyai Selakanta. Ki Hajar kemudian memerintahkan anaknya untuk bertapa di Bukit Tugur supaya tubuhnya berubah menjadi manusia seutuhnya.

Sementara itu, di desa yang bernama Desa Pathok. Penduduknya kaya dan angkuh. Mereka merencanakan pesta sedekah bumi. Mereka pergi berburu dan menemukan Baru Klinthing yang sedang bertapa. Mereka menangkap dan membunuhnya. Kemudian dagingnya dimasak untuk hidangan pesta panen. Ketika warga desa sedang berpesta, datanglah seorang anak laki-laki yang penuh luka pada tubuhnya dan memiliki bau yang amis. Anak laki-laki ini adalah penjelmaan Baru Klinthing. Baru Klinthing bergabung ke dalam keramaian dan meminta makanan kepada warga, tapi tidak ada satupun warga yang mau memberinya makan. Bahkan, para warga memaki-maki dan mengusir Baru Klinthing karena baunya yang tidak sedap.

Baru Klinthing pergi meninggalkan desa dan bertemu dengan seorang janda tua bernama Nyi Latung. Janda ini kemudian memberinya makanan yang lezat. Melihat perilaku buruk penduduk desa, Baru Klinthing ingin memberi pelajaran pada mereka. Ia berpesan kepada Nyi Latung untuk mempersiapkan lesung, sebuah alat untuk menumbuk padi. Nyi Latung disarankan untuk naik ke lesung jika ada suara bergemuruh. Kemudian Baru Klinting kembali ke pesta panen.

Ia menancapkan lidi ke tanah dan meminta penduduk desa untuk mencoba mencabutnya. Awalnya masyarakat desa Pathok meremehkan. Mereka ramai-ramai mencoba. Tapi tidak ada yang bisa mencabutnya kecuali Baru Klinthing sendiri. Saat lidi dicabut, keluar air yang makin lama membesar dan menimbulkan suara bergemuruh. Semburan itu makin membesar dan menimbulkan banjir. Penduduk desa berlarian mencoba menyelamatkan diri. Akan tetapi derasnya air membuat desa terendam banjir. Desa itu kemudian berubah menjadi danau yang kemudian kita dikenal dengan Rawa Pening

Satu satunya penduduk selamat adalah Nyi Latung yang menjadikan lesungnya sebagai perahu. Baru Klinting pun kembali berubah menjadi naga yang menjaga Rawa Pening.

Setiap cerita yang beredar di masyarakat selalu memiliki pesan kebaikan. Menurut saya cerita ini berbicara tentang kesabaran, kepercayaan, dan kasih sayang. Selain itu, cerita ini juga mengajarkan nilai-nilai seperti ketekunan, kebaikan hati, penghargaan terhadap kemampuan setiap individu, cinta orang tua, memberi kesempatan pada orang lain untuk membuktikan diri, dan kepercayaan pada diri sendiri.

Bukit Cinta, Rawa Pening, Wisata Murah Meriah di Kabupaten Semarang


08.30 suasana di Bukit Cinta di hari Sabtu masih sepi. Di depan kami sepasang laki-laki dan perempuan baru saja melewati loket dan langsung berjalan menyisir pinggir danau. Sementara saya, Adek, dan Kakak naik ke arah pendopo tak jauh dari pintu masuk. Sementara Paksu berjalan-jalan menyisir danau.

“Duh ... pengen pup. Bawa sabun nggak, Nda?” tanya Kakak sambil meringis.
“Waduh, sabunnya ketinggalan di BSB je,” kata saya.
“Waduuuhh ... udah nggak tahan ini. Gimana ya?”
“Ke toilet aja. Siapa tahu ada sabun di sana.”

Si Kakak pun langsung menuju toilet yang tak jauh dari pendopo. Saya dan Adek sama-sama memotret suasana yang ada di sana. Di dekat pendopo, ada sebuah petilasan dimana ada beberapa sesaji di sana. Tertulis di sana “Petilasan Ki Godo Pameling sampai Moksa.” Konon orang-orang meminta barokah dan pesugihan di tempat ini.

Terjadinya baru klinting

Saya dan Adek menikmati pemandangan danau dari area pendopo. Bukit Brawijaya terbentang menjadi background danau Rawa Pening. Bersyukurnya pas saya di sana cuaca begitu cerah. Jadi kontras banget warna biru dan hijau mendominasi keindahan pagi itu.

Tak berapa lama Kakak datang sambil tersenyum.

“Toiletnya nggak ada sabunnya. Sayang lho. Padahal tempat udah bersih begini. Harusnya pengelola tempat ini juga mesti mikirin. Kalau ada para penjual makanan dan kita bisa dine in. Kan ada kemungkinan orang juga pengen buang hajat dan butuh pembersih yang memadai,” kata Kakak.

Iya juga sih. Mungkin itu bisa menjadi saran bagi pengelola untuk menambahkan sabun sebagai perlengkapan kebersihan. Apalagi di area wisata ini masih banyak wastafel-wastafel yang masih berfungsi. Ada baiknya jika disediakan sabun seandainya butuh cuci tangan di area wisata tanpa harus ke toilet kan?

rawa pening


Kami pun turun ke area bawah. Beberapa rombongan keluarga terlihat mulai berjalan-jalan di pinggir danau. Beberapa saya lihat anggota rombongan yang sudah lansia duduk-duduk di saung-saung yang disediakan di bawah bukit. Saung-saung itu terlihat bersih dan lumayan luas kalau digunakan untuk rombongan keluarga. Selain tempat duduk, ada beberapa stop kontak listrik yang tersedia di setiap saungnya. Lumayan juga nih, bisa sekalian ngecas ponsel kalau pas habis baterai.

legenda baru klinting

“Aku pernah baca di Bukit Cinta itu ada mitosnya ya? Tapi aku lupa,” kata Kakak sambil memotret lansekap yang ada di depannya.
“Katanya kalau lagi pedekate jangan dibawa ke sini gebetannya. Ntar nggak jadian,” jawab saya.
“Masa sih?” Kakak memastikan sambil tertawa.
“Mau nyoba?”

Kakak terkekeh. Kemudian lanjut memotret apapun yang menarik perhatiannya.

Daya Tarik Bukit Cinta Rawa Pening

Namanya juga tempat wisata. Seperti sebuah masakan, tentu saja ada signature yang tak dapat dirasakan di kuliner lain. Begitu juga Bukit Cinta. Tempat ini memiliki keistimewaan sebagai tujuan wisata.

Keindahan Alam
Seperti yang sudah saya sebutkan di atas bahwa keindahan pemandangan di area Bukit Cinta ini menjadi salah satu daya tarik. Wisatawan bisa melihat Gunung Telomoyo dan Gunung Merbabu dari kejauhan. Bukit Brawijaya yang mengelilingi kawasan danau bisa menjadi latar belakang. Nggak kalah cantiknya dengan wisata alam lain.

rawa pening


Jembatan Kayu
Menurut saya salah satu spot menarik di Bukit Cinta adalah jembatan kayu di sepanjang pinggir danau. Ada semacam aula yang bisa dipakai untuk kegiatan kesenian ataupun acara resmi. Apalagi untuk acara pernikahan entah akad maupun resepsinya. Wah ... cantik banget kayaknya apalagi pas ada sunset. Fotonya pasti keren banget. Saya banyak berfoto dengan keluarga saat di jembatan itu. Anak-anak pun sempat mengabadikan beberapa spot di jembatan itu.

Rawa Pening


Berperahu di Rawa Pening

berperahu di rawa pening

Sebenarnya sih pengen nyobain vibes naik perahu dan menikmati berada di tengah danau Rawa Pening. Sayangnya tukang perahu belum datang. Selain itu kami memiliki keterbatasan waktu karena bakda Dhuhur Adek ada kegiatan sehingga kami melewati kesempatan itu. Kalau ada kesempatan balik ke Bukit Cinta mau deh nyobain berperahu.

Berperahu di bukit cinta


Di dermaga sudah tertulis tarif-tarif berperahu. Penumpang pun diharuskan memakai pelampung untuk keamanan. Di sana disediakan banyak pelampung kok kalau pas rame-rame mau berperahu. Jadi nggak perlu khawatir tentang keselamatan penumpang ya?

Spot foto yang instagramable
Beberapa wisatawan berfoto di spot yang berada di area belakang dari Bukit Cinta. Salah satunya spot gembok cinta. Nggak cuma anak muda saja yang berfoto di area itu. saat saya ke sana malah ada rombongan keluarga dan ibu-ibu yang berfoto di area itu.

bukit cinta


Playground
Pengelola Bukit Cinta juga menyediakan area permainan anak-anak. Jika anak-anak bosan menikmati pemandangan di Bukit Cinta ajak saja di area ini. ada beberapa permainan anak-anak yang bisa membuat anak-anak bersenang-senang di sana.

Rawa Pening


Di dekat area playground ada sebuah menara. Saya sebenarnya pengen deh naik ke atas menara. Sayangnya menara itu dikunci permanen. Mungkin khawatir ada kejadian yang tak diinginkan ya? Apalagi tempatnya pun bersebelahan dengan area playground dimana anak-anak suka bereksplorasi apa saja.

RAwa Pening


Saat waktu menunjukkan pukul 09.45 kami pun beranjak pulang. Kami harus memutar jauh menuju pintu keluarnya. Kami melewati penunjuk dermaga jetski. Sayangnya belum dioperasikan. Pasti makin menarik wisatawan yang suka dengan wisata air.

Rawa Pening


“Capek Yah, kenapa kita nggak lewat sana aja yang lebih deket ke parkiran motor? Kalau gini kita kayak di prank nggak sih?” keluh Kakak sambil menunjuk loket pintu masuk.

“Namanya pintu masuk dan pintu keluar kan sudah ada jalurnya. Nggak papa sih, sekalian jalan-jalan,” kata Paksu sambil menyeret tangan Kakak.

Kami memang berjalan memutar. Bahkan harus keluar jauh dari parkiran. Bisa jadi hal ini supaya wisatawan juga melewati pedagang kuliner yang ada di area dekat pintu keluar ya? Mungkin perlu ada penataan yang lebih menyenangkan bagi kedua belah pihak. Pedagang mendapat eksposure dan wisatawan juga nggak merasa di prank harus muter jauh banget untuk sampai ke parkiran.

Salah satu wisata kuliner di Kabupaten Semarang  

Sebelum benar-benar pulang kami menyempatkan diri untuk makan di Soto Sedeep yang ada di Jalan Magelang Semarang, tepatnya Jalan Ambarawa-Magelang km. 5, Dedor Ngisrep Jambu di Kecamatan Jambu Kabupaten Semarang. Tempat itu termasuk menjadi favorit kami saat pulang dari Semarang. Tempatnya luas, pilihan lauknya pun beragam. Di tempat itu tak hanya menyediakan soto saja. Berbagai pilihan makanan pun bisa dipesan, misalnya ayam goreng, nasi goreng, Mie Jawa, Gongso dan beberapa menu lainnya.

Kuliner Kabupaten Semarang

Selain itu Soto Sedeep juga menyediakan makanan prasmanan yang menjadi alternatif bagi calon konsumen yang ingin menu rumahan. Berbagai pilihan sayur dan lauk ada di meja khusus yang berdekatan dengan semacam stall gorengan dan lauk.

Kami pun berangkat menuju Muntilan sekitar jam 11.00. Kali ini Kakak yang jadi driver saya. Karena kami tak memiliki kepentingan untuk sampai secepatnya. Kami pun jalan santai di sepanjang perjalanan.

“Ayah kuat banget ya, Nda? Bisa loh motoran kayak gini seminggu sekali. Sekali jalan hampir 100 km loh. Aku yang umurnya jauh di bawah Ayah aja capek banget rasanya. Perjuangan Ayah luar biasa, ya Nda? Jadi makin hormat dan sayang sama Ayah,” teriak Kakak mencoba mengalahkan deru angin supaya saya mendengar kata-katanya.

Matahari kian terik. Namun hati saya kok maknyes gitu denger kata-kata Kakak. Sebuah perjalanan berwisata yang mengandung banyak hikmah. Dan tentunya bakal kami ulangi lagi. Kami merasa belum puas sih eksplorasi wisata-wisata yang tak harus menyita waktu perjalanan. Next kayaknya pengen balik lagi ke Bukit Cinta buat ngerasain berperahu di tengah Rawa Pening. Siapa tahu jetski nya juga sudah mulai beroperasi. Ngebayangin nyobain jetski aja udah bikin hepi. Menurut kalian, kami harus mampir kemana nih kalau pas touring lewat area Kabupaten Semarang?

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Lomba Blog Pesona Wisata Kabupaten Semarang

Minggu, 29 Januari 2023

Angkringan yang Wajib Dicoba di Jogja Selatan
Wisata di Nanggulan



Siapa yang saat ini nggak tahu yang namanya angkringan. Dimanapun tempat saat ini bertebaran angkringan-angkringan yang menjual nasi bungkus yang lebih dikenal sebagai sego kucing karena sedikit porsinya. Sebanyak dengan orang-orang zaman dulu memberi makan kucing dengan nasi yang dicampur dengan ikan asin.

Angkringan sendiri merupakan jenis gerobak untuk menjual berbagai macam nasi, gorengan dan lauk. Tak ketinggalan teh, kopi, jahe atau susu jahe sebagai minuman khas yang dijual di angkringan. Si penjual pun menyediakan tempat baik berupa bangku atau menggelar tikar di sekitar gerobak untuk mereka yang ingin makan di tempat.

Katanya sih angkringan itu dari kata 'methangkring', yang berarti duduk di bangku dengan kaki sebelah diangkat. Nah, orang-orang yang jajan di angkringan biasanya menikmati nasi, lauk atau gorengan itu posisi enaknya kalau makan ya seperti itu. Kalau merhatiin, coba lihat cara orang Sumatera atau Sulawesi duduk saat menikmati makanan.

Kalau dulu zaman kuliah, kami para mahasiswa di zamannya menyebut dengan kucingan. Kata itu diambil dari sego kucing yang dijual di sana. Mahasiswa zaman dulu identik dengan hal-hal yang murah meriah dan mengenyangkan. Nah, kucingan itu sering jadi tongkrongan mahasiswa untuk ngobrol bahkan saat itu obrolan politik pun sering kali terdengar di sana.

Berpuluh tahun kemudian angkringan menjadi ciri khas Jogja. Bahkan Joko Pinurbo mengatakan bahwa Jogja terbuat dari rindu pulang dan angkringan. Berapa banyak angkringan sekarang bertebaran di penjuru kota Jogja. Namun harga yang dipasang tak seramah dulu. Saya pernah jajan di angkringan Tugu yang ada di jalan Mangkubumi. Ternyata harga yang dipatok cukup tinggi. Memang nasi bungkus yang disajikan lebih banyak dibanding nasi kucing yang biasanya dijual. Namun harga lauk dan gorengannya cukup membuat saya terbelalak. Apalagi harga minuman teh atau jahe sudah serupa dengan harga yang dipatok oleh rumah makan. Angkringan sudah menjadi bagian dari pariwisata di Jogja.



Angkringan yang wajib dicoba di Jogja selatan

Rumah makan di Nanggulan



Di daerah Pronosutan Nanggulan, berbagai tempat makan dengan menyajikan view pegunungan Menoreh bertebaran. Salah satunya yang sering saya kunjungi adalah Geblek Menoreh.

Konsep sajiannya ya seperti angkringan. Namun pilihan nasinya sudah makin beragam. Begitu juga dengan lauk dan camilan yang dijual di sana.

Mereka juga menyediakan makanan alternatif yang biasa dipesan seperti bakso atau seblak.

Wisata di Jogja


Kalau masalah rasa sih ya standar. Namun istimewanya di sana tempat makan yang langsung melihat persawahan dan pegunungan. Bahkan bagi yang suka olahraga ada track yang bisa digunakan untuk jogging atau sepedaan.

Pronosutan wisata Jogja


Tempat ini juga menyediakan persewaan sepeda dan otopet. Ada juga ATV jika hanya ingin sekadar menyusuri area Pronosutan. Banyak juga rombongan yang sengaja datang untuk berolahraga kemudian mampir di Geblek Menoreh ini.

Wisata di Jogja



Karena yang disajikan di sini adalah pemandangan dengan area persawahan maka kalau dateng jangan pas masa panen. Sawahnya ya nggak kelihatan indah. Tapi saat tanaman padi berumur 1,5 - 2 bulan itu kelihatan indah kayak lukisan di zaman dulu.

Ada yang mau ke sini? Kabar-kabari ya? Ntar kita eksplor wisata dan kuliner di daerah ini ya?










Rabu, 09 September 2020

Kota Lama, Wisata Semarang yang Murah Meriah



Assalamualaikum temans, 

Kalau pas berkunjung ke Semarang nengok mertua, saya dan keluarga pasti nyempetin main ke Kota Lama. Buat saya dan anak-anak, Kota Lama tuh selalu jadi tujuan wisata keluarga buat kami, dengan dua anak remaja. 

Anak-anak yang sudah remaja kan nggak butuh lagi area luas buat lari-larian, atau puas-puasin main air. Yang mereka butuhkan ya eksis di media sosial dong. Rata-rata remaja sekarang kan takut kalau nggak sama dengan temen-temennya yang selalu update kemana aja mereka pergi. Jadi kalau sekarang main sama anak-anak udah nggak rempong lagi. Udah ketahuan maunya ngapain. 

Jadi, kalau berwisata ngajak anak-anak yang sudah remaja apalagi coba yang dicari kalau bukan tempat-tempat yang instagramable? Mereka akan sibuk cari spot sendiri-sendiri. Terkadang spot yang menarik buat saya dipandang B aja oleh anak-anak. Begitu juga sebaliknya. Spot yang menurut saya jelek, bagi anak-anak bisa jadi sesuatu yang unik. 

Kalau si Adek diajak wisata spot foto gitu, doi ya ngikut gimana si Kakak aja. Tugasnya tuh nemenin. Difoto juga kurang suka. Kecuali kalau si Kakak yang maksa. Tapi begitu mau difoto, dia bakal tampil maksimal. Printilannya banyak. Berpuluh-puluh foto akan diulang kalau dia merasa belum sreg. Entah senyumnya kurang bagus, matanya nggak fokus. Pokoknya ada aja yang dikomenin. 

Sementara kalau si Kakak suka pada spot foto yang agak horor. Sayanya sudah merinding disko, dianya ngajak aja ke gedung-gedung tua yang suasananya bikin bulu kuduk berdiri. Pernah suatu saat, lebaran hari pertama, sudah sore pula, dia ngajak ke Kota Lama. Alasannya, biar feel horornya dapet. 




Bener aja. Sampai di Kota Lama menjelang jam 17.00. Kami mengejar cahaya supaya nggak horor-horor amat. Dia kegirangan nemuin spot-spot horor, sementara saya celingukan, berharap ada orang yang lewat. Ya namanya juga lebaran hari pertama. Untuk umat muslim biasanya masih riweh dengan urusan silaturahmi dengan sanak saudara. 

Kami sempat bertemu dengan wisatawan yang memang memanfaatkan momen menghindari keramaian. Nggak berapa lama, mereka juga kabur. Mungkin ngerasain bulu kuduk yang mulai berdiri seiring cahaya kian meredup. 

Nah ... Lebaran berikut, si Kakak minta ke Kota Lama lagi. Namun kali ini nggak nyari spot horor lagi. Banyak perubahan yang menjadikan Kota Lama makin diminati oleh wisatawan. 

Hanya selisih setahun banyak banget perubahan yang membuat Kota Lama makin menyenangkan untuk dikunjungi. 




Berbagai cafe bertebaran, spot foto makin banyak, Lebaran hari pertama tahun lalu Kota Lama pun ramai oleh wisatawan dadakan. Ada yang sekadar lewat kemudian mampir. Ataupun sengaja ke sana seperti kami saat itu. 

Beberapa masyarakat pun menyediakan spot foto. Tinggal membayar Rp. 10.000,- atau Rp. 15.000,- bisalah foto romantis bersama pasangan atau keluarga. Kalau pengen yang gratisan sepanjang area jalanan bisa jadi spot foto yang menarik. 

Lebaran tahun ini kami melewatkan momen berkunjung ke wisata Semarang. Pandemi membuat saya dan keluarga tidak mengunjungi sanak saudara satupun. Bagaimanapun juga kami menjaga supaya semuanya tetap aman dan nyaman. 

Stay Safe and Keep Healthy ya temans

Selasa, 23 Juni 2020

Girls Activities : Traveling Berdua dengan Si Kakak


Assalamualaikum temans, saya yakin banyak di antara kalian sering melakukan traveling bersama keluarga. Sayang banget keseruan hanya dinikmati sendiri kan? 

Pernah nggak punya pengalaman traveling bersama anak-anak tanpa keluarga lengkap? Kayaknya kurang asyik ya, traveling nggak barengan semua anggota keluarga? Rasanya beda banget, kepikiran aja pada anggota keluarga yang nggak ikutan menikmati tempat wisata yang menyenangkan.

Saya pernah nih, traveling berdua dengan si Kakak. Traveling tipis-tipis aja. Sebenarnya juga nggak direncanakan jauh-jauh hari. Serba mendadak. Mengganti kebahagiaan si Kakak yang saya rampas #tsaahh …

Jadi awalnya setelah kenaikan kelas tahun lalu, si Kakak mau jalan sama geng SMP nya ke sebuah pantai di Purworejo. Saya nanya dong, ada yang ngedampingin nggak? Ternyata enggak. Jadi rencananya mereka bertujuh ini mau naik taksi online ke pantai. Lalu mau nginep di tempat salah satu Bude dari temannya. Padahal saat itu cuaca lagi kurang bersahabat. 

Saya keberatan dong. Perjalanan hampir dua jam, ke satu tempat yang sama sekali belum pernah disambangi. Udah gitu pakai nginep pula. Ya ketar ketir dong sayanya. Saya emang rada protektif sama anak cewek.

Si Kakak ngambek lah. Apalagi baca di WAG member geng nya dibolehin sama ortu. Dia doang yang nggak dibolehin.

"Aku tuh sepi, Bunda ada event terus, Adek di Semarang. Masa aku nggak kemana-mana. Bosen."

Iya juga sih. Waktu itu emang ada beberapa event dalam minggu-minggu itu yang bikin saya ninggalin si Kakak di rumah sendirian. 

"Ya wis, yok ikutan Bunda aja po? Nanti abis acara kalau mau ngemall kemana, mau makan, mau beli buku boleh wis," rayu saya.

"Aku maunya nginep."

Namanya nginep nggak bakal mau nginep cuma di rumah saudara atau temen. Pasti maunya staycation. Nginepnya di hotel. Dia tahu Mamak pas ikutan banyak event berarti punya 'uang jajan' lebih. Makanya ia berani 'malak' Mamak.

Akhirnya setelah sepakat pikniknya cukup di Jogja aja kami pun bikin itinary mau ke mana aja.

Kami naik motor berdua. Pertimbangan saya kenapa naik motor karena kami cuma mau city tour aja. Lagian pas liburan tahun ajaran baru jalan-jalan di Jogja pasti penuh dan macet. Naik mobil pasti bikin kesel doang.

Berangkat dari Muntilan sudah agak siangan sih, sekitar jam 10.00 Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Situs Warungboto. Situs Warungboto merupakan cagar budaya yang letaknya di belakang Kebun Binatang Gembira Loka, tepatnya berada di Jalan Veteran no. 77 Jogjakarta. 


Situs Warungboto


Situs ini dahulunya adalah tempat pesanggrahan keluarga kerajaan. Tempat ini dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I dan diteruskan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono II. Ruang, lorong, pintu dan jendela ini terlihat artistik. Ada segaran, kolam, dan kebun yang dulunya dinikmati oleh keluarga kerajaan.

Sebelum dipugar tempat ini merupakan puing-puing bangunan yang terbengkalai. Dengan dibantu oleh arkeolog sampai tahun 2017 masih ada gedung yang harus direhab, disesuaikan dengan arsitektur tahun 1875. 

Mengunjungi situs ini tak dipungut tiket masuk karena masih dikelola oleh masyarakat setempat. Paling bayar parkir kendaraan doang. Petilasan ini sekarang ramai dikunjungi wisatawan baik dalam atau luar negeri. Sering juga digunakan untuk prewedding. Kecil sih tempatnya, namun lumayan eksotis lah. Mirip seperti Taman Sari. 

Setelah dari Situs Warungboto, kami makan pecel dan gado-gado di Sagan. Warung makan ini sudah terkenal sejak zaman saya kuliah di Jogja. Namanya 'gado-gado Bu Bagyo.'


Warung Bu Bagyo

IG : @mosyakur


Tempat ini selalu penuh pelanggan. Mulai orang kantoran sampai mahasiswa ngantri di tempat itu. Menu best sellernya gado-gado dan lotek. Namun warung ini juga menyediakan nasi goreng juga. Untuk minuman ada beberapa pilihan selain es teh. Jika ke tempat ini kalian bisa memilih es jeruk atau menu jus buah. O ya, jika nggak ingin makan besar di sini juga menyediakan es pisang ijo. Cukup kenyang porsinya. Kalau di Gado-gado Bu Bagyo, saya lupa diet deh. Bakwannya markotop. 


Hotel Orlen


Jam 14.00 akhirnya saya dan Kakak Check in ke Hotel Orlen, sebuah hotel yang tak jauh dari Gado gado Bu Bagyo. Hotel ini berada di Yap Square, Jalan C. Simanjuntak. Meski hotelnya kecil, tapi buat saya cukup nyaman untuk menginap. Apalagi cuma gegoleran nonton TV plus ditinggal-tinggal melulu karena rencana kami akan ke toko buku setelah makan malam. 

O ya, sementara si Kakak menikmati staycation, saya mengundang beberapa teman di kamar hotel. Kami belajar menulis cerita anak dari mbak Yayan Rika Harari. Doi adalah editor novel Laskar Pelangi yang terkenal itu. Sekarang beliau banting setir menulis cerita anak. Pokoknya nggak mau rugi deh saya. Menyenangkan hati si Kakak, namun ada hal lain yang bisa saya dapat.

Sampai Maghrib kami belajar menulis cerita anak. Setelah itu kami makan malam di Pondok Cabe, tempat makan favorit saya kalau ke Jogja


Pondok Cabe 



Pondok Cabe ini buat saya jadi andalan kalau mau ketemuan sama temen. Harganya terjangkau, tempatnya cozy, dan pilihan makanannya banyak. Kalau masalah rasa sih sebenarnya standar, kalau menurut saya. Dengan uang 50 ribu kita bisa menikmati makan malam plus snack untuk dua orang.

Ada banyak menu yang ditawarkan. Mulai paket penyetan sampai paket snack dan minum. Kalau kurang puas ada banyak lauk yang bisa dipilih misalnya pepes jamur, tahu dan nila atau gurami ayam manis. Kalau hanya ingin mengudap ada roti bakar, pisang bakar, mendoan, roti jala, atau singkong keju. Pilihan minuman pun beragam. Mau float atau minuman jejamuan seperti kunir asem atau beras kencur ada di sana.

Setelah dari Pondok Cabe kami ke Gramedia, tak jauh dari tempat itu. Nggak lama kami di sana, si Kakak pengen balik hotel. Mau nonton drakor di KBS katanya … 

Baru aja sampai hotel, seorang teman SMP menyambangi kami di hotel. Nggak tahunya bawa dua paket makanan dari Yoshinoya dan beberapa snack. Surganya Kakak banget itu. Drakor dan full of logistic.


Jalan Malioboro


Keinginan Kakak berikutnya adalah foto di Plang Jalan Malioboro. Sering ke Malioboro namun belum pernah sama sekali foto di tempat itu. Pagi banget kami ke Jalan Malioboro, memburu sepi aja.

Sebelum jam 05.30 kami sudah membelah jalanan. Jarak tempuh Hotel Orlen sampai Malioboro nggak nyampe 10 menit. Ternyata di tempat itu sudah mulai ada beberapa wisatawan yang berfoto-foto di Plang Jalan Malioboro.

Saya biarkan si Kakak sepuasnya foto di tempat itu. Beberapa kali sempat berpindah tempat, mencari spot foto yang Jogja banget. Lalu saya ketemuan dengan salah satu teman yang sedang berada di hotel sekitar Malioboro juga. Saya tawarkan ke Kakak mau kemana doi nggak mau. Pengen tidur lagi katanya. Alhasil setelah menikmati sarapan di hotel, kami pun naik menunggu waktu check out.

Ternyata si Kakak nggak jadi tidur. Doi scrolling instagram. Pengen ke Chingu Cafe, sebuah cafe bernuansa Korea. Banyak juga yang nyebut Little Seoul. Akhirnya kami pun berkemas sekitar jam 10.00. Mampir sebentar di tempat psikolog Kakak, lalu meluncur ke Chingu Cafe.


Chingu Cafe


Tempat ini berada di Jalan Pandega Karya 18 Jogjakarta. Satu deret dengan Warung Steak dan Kopi Tiam. Tempat ini mengutamakan kenyamanan pengunjung. Mau masuk ke gedungnya kami harus antri di luar.

Kami diminta menulis nama dan berapa orang yang akan makan di tempat itu. Ada beberapa pilihan, di ruang ber AC atau tidak. Untungnya kami antre nggak terlalu lama. 

Masuk ke tempat ini saya maklum kenapa Kakak pengen banget di tempat ini. Ada foto Park Bo Gum di sana. Rasanya memang kayak main ke tempat syuting drama korea. 

Tempat ini dipenuhi oleh remaja seusia Kakak. Ya wajar saja. Spot foto begitu banyak. Wong saya aja girang banget bisa foto-foto melulu. 

Nah … giliran lihat menu, saya yang rada puyeng. Untuk ukuran saya ya agak bunyi lah makanannya. Ngeluarin uang 150k masih belum kenyang hahahaha … Tapi tetep worthed sih menurut saya. Masakan dan minumannya ala Korea banget lah. Udah gitu sudah ada sertifikasi halal pula. 

Pengen juga nanti, kalau semuanya sudah aman kami sekeluarga makan di sana. Ada banyak pilihan menu yang ditawarkan yang namanya aja saya nggak bisa nyebutin. Waktu itu cuma dipilihin si Kakak aja. 

O ya, saya terkesan banget sama minumannya. Es teh dikasih manisan jeruk. Rasanya beda banget. Lagi-lagi, saya nggak tahu namanya. 

Meski traveling ke kota yang biasa dikunjungi, namun cukup membuat saya terhibur. Bisa mengembalikan tawa si Kakak, membuatnya tak menyesal gagal pergi bareng gengnya itu satu kebahagiaan buat Mamak protektif. Ini semua menjadi permata pengalamanku dan si Kakak yang tak bisa dilupakan.







Selasa, 10 Maret 2020

Wisata Impian  di Sulawesi


Assalamualaikum temans,

Dulu saya sangat takut dengan wisata yang berkaitan dengan air dan pantai. Serius, saya tuh kayak takut aja lihat pantai dengan ombak yang bergulung-gulung. Saya kayak nggak bisa melihat indahnya pantai. Waktu kecil saya sering baca berita-berita tentang anak yang tenggelam di pantai sehingga saya takut main ke pantai. Bahkan sampai saya dewasa sekalipun. Saya lebih baik jauh-jauh dari apa yang namanya pantai. Bahkan saat kuliah ada mata kuliah fotografi sunset, saya bingung bukan kepalang. Musibah yang terjadi di pantai ternyata mencengkeram benak saya begitu lama. 

Dan di suatu waktu akhirnya saya dikenalkan pada wajah pantai yang menyenangkan dan indah. Pasir putih, air yang bening, karang yang kokoh, dan cakrawala yang membiru membuat mindset saya pun berubah. Saya mulai berani mendekat pada riak-riak air yang bermain di sekitar kaki saya. Berani berjalan di pantai dengan pasir putih di sepanjang mata memandang. Menikmati ombak yang berkejaran di kejauhan. Saya pun jatuh cinta pada pantai. Lantas menjadikan pantai sebagai salah satu pilihan destinasi wisata jika liburan tiba. 

Sayangnya, pantai yang saya datangi masih seputar Jogja saja. Mau melakukan perjalanan jauh kok masih agak kesulitan menunggu suami mengambil cuti panjang. Ada pekerjaan yang tak bisa dilakukan oleh rekannya sehingga saya dan anak-anak pun kudu sabar menunggu. Akhirnya yang bisa dilakukan adalah wisata online, melihat berbagai tempat wisata di dunia maya. Berbekal foto-foto ciamik yang tergelar di internet, mau tak mau jadi punya wishlist berwisata ke suatu tempat. Pengen tahu traveling impian keluarga kami nggak?


Traveling Impian

Saya punya beberapa saudara dan sahabat yang tinggal di Sulawesi. Jarang banget bisa ketemu kalau lebaran. Akhirnya pun berandai-andai seandainya sampai di pulau satu ini. ada beberapa tempat yang ingin kami kunjungi, dan semuanya wisata di perairan. Mana saja yang pengen kami kunjungi? Cus lanjut baca yak?



Pulau Sombori


Gara-gara obrolan dengan seorang teman tentang wisata ini, saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Pulau Sombori meski baru lewat dunia maya. Pulau Sombori ini berada di Kabupaten Morowali Sulawesi Tengah. Pulau ini memiliki keindahan alam yang nggak bisa diucapkan dengan kata-kata. Banyak wisatawan lokal maupun mancanegara mengunjungi tempat ini. 

Di Pulau Sombori tidak ada sinyal ataupun listrik yang memadai. Jadi kalau berwisata di daerah itu siap-siap tak bisa dihubungi atau menghubungi orang lain. Namun keindahannya bisa bikin lupa dengan hal itu. Di gugusan Pulau Karang yang ditumbuhi pepohonan rimbun pasti akan mengingatkan kita dengan Raja Ampat di Papua. Meski hanya dikenal dengan miniaturnya saja, Pulau Sombori gak kalah keren dibandingkan dengan Raja Ampat. 

Warna airnya berwarna tosca dan juga pulau karang di sekitarnya membuat pulau ini disebut Phi Phi Island versi Indonesia. Ada juga spot foto yang populer dinamai rumah nenek. Hal itu dikarenakan tempat itu dihuni seorang diri oleh nenek-nenek. Rumah yang dibangun di atas air ini punya view air yang bening banget kayak kristal. Jadi pengen nyebur kan ya?

Banyak yang memprediksi jika Pulau Sombori ini akan jadi destinasi wisata populer di Indonesia karena keindahan yang tak kalah dengan tempat wisata lain. Mantul banget kan ya?


Tanjung Bira


Tanjung Bira berada di Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan, tepatnya 0 km dari Kota Bulukumba. 

Tanjung Bira tak hanya terkenal karena keindahan pantainya saja, namun dikenal sebagai tempat pembuatan kapal tradisional khas Sulawesi Selatan. Wisatawan bisa melihat proses pembuatan kapal tersebut di pinggiran pantai.

Kawasan wisata Pantai Tanjung Bira sudah dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Ada persewaan perlengkapan menyelam, rumah makan, kamar mandi yang nyaman, persewaan motor, dan pelabuhan kapal ferry yang digunakan untuk mengantar para wisatawan yang ingin menyelam di Pulau Selayar. Untuk penginapan pun tersedia villa maupun penginapan yang bisa disewa dengan harga yang variatif, tergantung fasilitas yang ditawarkan.

Wisatawan di kawasan wisata Tanjung Bira bisa melakukan banyak hal di sana. Yang paling diminati tentu saja snorkeling maupun diving menikmati keindahan bawah laut. Ada beberapa spot keindahan bawah laut di pantai ini. Spot di kisaran Pulau Liukang Loe, sebuah pulau kecil di seberang barat Tanjung Bira merupakan salah satu spot terbaik. 

Selain menikmati keindahan bawah laut wisatawan juga bisa saja menghabiskan waktu di Tanjung Bira sekedar berjemur di bawah matahari atau menyaksikan sunrise maupun sunset. .


Wakatobi


Siapa yang tak kenal Taman Nasional Wakatobi. Wisatawan mancanegara pun mengakui bahwa Wakatobi merupakan salah satu surga dunia bawah laut yang berada di Indonesia. Pemandangan yang memukau itu membuat Wakatobi menjadi salah satu destinasi wisata populer di Pulau Sulawesi. 

Keanekaragaman hayati laut dan karang menjadi prioritas konservasi laaut di Indonesia, termasuk di Taman Nasional Wakatobi ini. Apalagi ada 112 jenis karang dan 13 famili yang ditemukan di Wakatobi. Belum lagi kekayaan ikan yang dimiliki taman nasional ini sebanyak 93 jenis ikan yang jarang dimiliki oleh laut lain. Tak ketinggalan beberapa jenis burung laut seperti Angsa batu Coklat, Cerek Melayu, serta Raja Udang Erasia bersarang di sana. Beberapa jenis penyu pun menjadikan taman nasional ini sebagai rumah mereka. 

Mupeng ke sana? Nabung yuk?











Selasa, 08 Oktober 2019

Wisata ke Magelang bareng Traveloka Xperience

Borobudur tuh adanya di Kabupaten Magelang. Tapi banyak wisatawan yang mengira bahwa Borobudur adalah bagian dari tempat wisata di Yogyakarta. Lagian biro perjalanan wisata lebih banyak yang ngegabungin wisata Kabupaten Magelang dengan Yogyakarta. Jadi banyak yang salah kaprah gitu deh. 

Namun sekarang Kabupaten Magelang juga lagi getol getolnya promosiin wisata setempat. Ada banyak penawaran dalam paket wisata tersebut. Sunrise di Punthuk Setumbu, Gereja Ayam, Arung Jeram, dan Borobudur sendiri dijadikan satu paket wisata tersendiri. 

Nah, ngobrolin sunrise di Punthuk Setumbu tuh butuh perjuangan lho. Kalau teman-teman pengen ke sana, saya saranin untuk menginap di area Borobudur saja. Sekarang banyak kok tempat menginap bagi wisatawan. Sebelum Subuh wisatawan harus sudah berangkat ke dusun Kurahan Kelurahan Karang Rejo. Jika teman-teman adalah muslim atau muslimah, saya sarankan untuk shalat Subuh di area Punthuk Setumbu. Ada musholla di area parkir Punthuk Setumbu. Atau jika ingin berjamaah secara rombongan, ada Masjid sekitar 500 meter dari area parkir Punthuk Setumbu. 

Harga tiket masuk ke Punthuk Setumbu sekitar 20-50 ribu. Wisatawan lokal dan wisatawan mancanegara dibedain harganya. Asik lagi kalau wisatawan berasal dari sekitar kecamatan Borobudur. Dapet diskon tuh dari pengelola.


Mulai loket penjualan tiket wisatawan tuh sudah tahu kalau jalannya nanjak terus. Perjuangan juga bisa sampai ke atas. Sekitar 20 menit perjalanan menuju puncak Punthuk Setumbu. Biasanya di hari Jumat sampai Minggu Punthuk Setumbu penuh oleh wisatawan. Banyak juga wisatawan yang pegang kamera DSLR dengan lensa segede gaban (canda deng). Kudu sabar nungguin si sunrise muncul. Kan munculnya juga nggak lama. 

Sebenarnya gambling juga ngelihat sunrise gitu. Kalau cuaca bagus pasti bisa ngelihat apa yang dibilang orang “nirwana sunrise”. Lha kalau pas mendung? Ya dapetnya sejleret doang. Belum lagi kalau pas hujan. Khawatir juga baliknya. Ya gimana? Jalannya tuh masih tanah gitu. Tanah liat pula. Kan mlesetin. 

Meski begitu, wisatawan tetep hepi. Seandainya nggak begitu puas dengan melihat sunrise, kalau sudah agak terang kita bisa kok melihat indahnya Borobudur dari kejauhan. Hijaunya pepohonan, birunya langit. Tetep surga deh. 

O ya, ada spot-spot bagus untuk foto-foto tuh di atas. Sukaaa banget sama ayunannya. Meski agak keder juga, takut jatuh. Tapi insya Allah safe kok, karena ada sabuk pengamannya. Coba deh lihat foto-foto saya waktu naik ayunan. Tetep kelihatan bahagia kan? (Ngikik) 

O ya, Banyak tempat untuk melihat sunrise di area Borobudur. Termasuk di atas Candi sendiri. Sekarang dibuka untuk umum deh melihat sunrise dari atas Candi Borobudur. Sekarang ada paket tur untuk melihat sunrise dari Borobudur, Gereja Ayam dan Junkyard Auto Park. Langsung aja cek ke Traveloka Xperience . Ada banyak lagi paket yang ditawarkan. Wisatawan bisa memilih paket wisata tersebut, disesuaikan dengan kantong masing-masing deh. 

Atau pengen naik VW doang, jalan-jalan di sekitar desa wisata Borobudur? Bisaaaaa ... Wisatawan akan mengunjungi berbagai macam tempat, tergantung oleh pemandu tournya. Bisa mengunjungi desa bahasa, kerajinan gerabah, atau membatik. Ada kok kampung pembatik di sekitar Borobudur. Mau ah, #Xperienceseru bareng keluarga bersama Traveloka. Harganya mulai Rp. 384.000,- per orang aja nih.

Traveloka Xperience 

Teman-teman tahu nggak kalau Traveloka ngembangin layanan terbaru? Ada 12 fitur mengenai gaya hidup dan liburan yang bisa diakses oleh pengguna layanan. Kita bisa menikmati pengalaman baru yang pasti seru banget. Ada atraksi, bioskop, spa dan kecantikan, event, hiburan, olahraga, taman bermain, transportasi, beli paket data atau pulsa, makanan dan minuman, bahkan kursus atau workshop. 

Kenapa kita mesti nyobain Traveloka Xperience

Ada banyak pengalaman seru yang di dunia yang sayang kalau kita lewatin. Beragam aktivitas mulai nonton konser sampai ikutan workshop bisa dijabanin. Kapan lagi kan kita bisa punya banyak pengalaman seru yang nggak bisa dilupain meski sekali seumur hidup? 

Selain pengalaman yang bisa kita cobain, ada beragam cara pembayaran yang bisa kita pilih. Bisa loh pakai Traveloka Pay Later untuk pemesanan dan mengatur pembayaran. Bisalah kalau duit mepet tetep bisa nyari pengalaman baru. Udah gitu kita nggak banyak buang waktu karena semua dalam satu genggaman doang. Praktis, cepet, dan nggak perlu antri pula. 

Pake Traveloka Xperience tuh ngurangin stres karena panik banget-banget deh. Ya gimana enggak, Customer Service nya 24 jam stand by siap bantuin kita kalau ada kesulitan. Pokoknya menikmati banget deh. 

Nah, tahun depan kan pas lebaran adik-adik pulang kampung bawa pasukan nih. Nah, udah ancang-ancang nyiapin wisata di deket deket aja. Males macetnya juga kalau musti ke luar kota. Apalagi bawa balita sampai empat anak tuh ajib banget. Kayaknya seru juga arung jeram atau naik VW Combi jalan-jalan seputar Borobudur. Ponakan-ponakan yang terbiasa hidup di kota besar pasti bakalan excited dengan suasana pedesaan yang ditawarkan. 

Kemarin sih udah ngobrol sama adik tuh, ngerancang mau kemana, lha si adik malah kudet, nggak ngerti tuh apa Xperience Traveloka. Kudu diajarin nih kalau mau ceki-ceki 

1. Unduh aplikasi traveloka atau buka website nya


2. Pilih aja fitur Xperience


3. Tentuin aja fitur apa yang mau dipilih 

4. Ubah tanggalnya


5. Isiin data pemesan


6. Pilih cara pembayaran




Tuh, nggak ribet kan? Gitu deh liburan ala Traveloka Xperience. Nyaman banget kan, nggak perlu antri beli tiket, tinggal pilih aja mau kemana dan dimana. Terus seru-seruan deh sama keluarga. Wiiiii .... Surga dunia deh.