Jurnal Hati Irfa Hudaya: Parenting
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Agustus 2025

Peran Merdeka Berpikir dan Mindfulness dalam Mengasuh Anak
mindfulness

Assalamualaikum temans

Saya dibesarkan dalam keluarga yang cukup demokratis. Meski ibu saya termasuk strict parent. Bapak saya memberi banyak ruang bagi anak yang tiga-tiganya berjenis kelamin perempuan.

Saya ingat di waktu kecil kami semua dilatih belajar bulu tangkis. Saya masuk dalam sebuah klub bulu tangkis untuk pemula meski saat itu pesertanya lebih banyak laki-lakinya. Benar-benar dari awal banget. Bukan hanya main saja. Akan tetapi teknik-teknik yang diajarkan. Seperti teknik forehand, back hand, loob, smash ataupun netting.

Saya dan adik-adik juga diajari untuk melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh laki-laki. Nggak sampai pasang genteng sih. Tapi saat itu jarang ada anak perempuan yang melakukannya seperti ganti bohlam, menggergaji, nyuci kendaraan serta angkat-angkat barang yang lumayan berat.

Kedekatan saya dengan Bapak ternyata mempengaruhi pola pikir saya. Kebiasaan saya ngobrol dengan Bapak membuat saya bebas bertanya apa saja. Bahkan saya tak punya rasa takut untuk mengkritik atau protes. Tentunya dengan kata-kata yang sopan ya? Bapak pun nggak masalah jika saya mengutarakan rasa sedih, kecewa atau marah pada beliau.

Tak hanya terkait dengan pola komunikasi. Menyikapi masalah pun bisa seselow itu. Misalnya saat saya dibully oleh teman-teman perempuan saat SD. Meski di awal saya sempat menangis karena nggak punya teman. Lama-lama saya bersikap bodo amat. Saya berpikir bahwa teman saya tak hanya mereka. Saya masih punya teman yang lain. Saya pun akhirnya lebih banyak berteman dengan laki-laki sampai kuliah.

merdeka berpikir


Bapak membebaskan saya memilih kegiatan yang saya mau. Passion saya pun didukung penuh. Ketika saudara saya dipaksa untuk masuk jurusan akuntansi saat kuliah. Bapak support pilihan saya di jurusan komunikasi karena saya pengen bekerja di stasiun televisi meski tak kesampaian.

Beliau memberikan tantangan terkait dengan passion saya. Seandainya tulisan saya dimuat di media. Bapak akan membelikan saya mesin ketik terbaru saat saya SMP. Saya semangat banget nulis cerpen saat itu. Meski tulisan saya dimuat sebuah majalah dua atau tiga tahun kemudian. Bapak pun memenuhi janji.

Apa yang dilakukan Bapak bukan hanya terkait dengan parenting saja. Akan tetapi Bapak membuka cakrawala berpikir. Bahwa antara laki laki dan perempuan memiliki hak yang sama. Kemerdekaan dalam berpikir milik manusia dan tak mengenal kasta.

Setiap orang butuh merdeka dalam berpikir

berpikir


Bagi saya merdeka berpikir itu bebas memiliki pendapat, ide, sudut pandang tanpa harus dipengaruhi orang lain. Merdeka berpikir juga berarti berani menyampaikan pemikiran kita pada orang lain, memberikan kritik dan tidak takut saat berbeda dengan orang lain.

Bebas dan berani. Bukan berarti bebas sebebas-bebasnya. Atau berani sevulgar-vulgarnya. Ada koridor yang bernama bijaksana dan mengedepankan simpati dan empati. Jika toh menyampaikan hal-hal yang tak kita setujui, tentunya sebagai manusia yang beradab mengedepankan kata-kata yang sopan tanpa harus menjatuhkan orang lain.

Merdeka berpikir akan membuat kita lebih kritis dalam memandang sesuatu. Karena pemikiran logis dan terbuka akan memudahkan kita lebih kreatif ketika menemukan solusi. Kita akan lebih percaya diri saat mengemukakan pendapat yang berbeda karena memahami apa yang ada di kepala kita. Dan tentunya lebih bertoleransi terhadap perbedaan karena memiliki pemikiran yang terbuka tanpa harus menghakimi.

Apa yang Bapak ajarkan pada saya ternyata mempengaruhi cara saya mendidik anak. Saya pun berusaha memberikan kebebasan pada anak-anak apalagi yang terkait dengan kreativitas. Contohnya saat anak saya main di luar rumah. Mereka bakal bereksplorasi dengan tanah, kerikil dan berbagai benda yang ada disekitarnya. Alih-alih melarang mereka main kotor-kotoran. Saya memfasilitasi dengan barang-barang penunjang lain untuk mereka bereksplorasi dengan aman.

Sering kali orang tua melarang anak bermain kotor-kotoran, atau memilihkan anak sesuatu yang kurang diminati. Hal itu akan membentuk penjara pikiran pada anak-anak. Penjara pikiran hanya akan membatasi anak dalam bereksplorasi sehingga menutup kreativitas anak-anak dalam mencari tahu akan sesuatu.

Merdeka berpikir untuk anak memberikan ruang bagi mereka untuk berbagai hal yang bisa mereka pelajari tak hanya di bangku sekolah.

Belajar dari kesalahan.
Saat anak melakukan kesalahan sebagai orang tua tak perlu kita memarahi. Biarkan anak menemukan letak kesalahannya dengan bantuan kita sebagai orang tua. Saat mereka menemukan apa atau letak kesalahannya. Dorong dan dampingi mereka untuk memperbaiki kesalahan dan tak mengulangi kembali.

Memiliki pendapat sendiri yang terkait dengan pendirian dan ketegasan dalam bersikap atau mengambil keputusan.
Anak memiliki pendapat sendiri dan tidak menelan mentah-mentah informasi yang datang. Ia akan memiliki kekritisan dalam berpikir dan mempertanyakan. Ia akan memiliki ketegasan dalam bersikap. Tidak sekadar ikut-ikutan teman. Dan mereka memiliki pendirian yang kuat.

Pengembangan potensi lebih maksimal
Passion anak itu berbeda-beda. Jangankan dengan orang tuanya. Saudara kembar pun tetap saja masing-masing memiliki minat dan bakat yang berbeda. Saat orang tua membebaskan anak untuk menggali potensi. Ia akan secara cepat menemukan dimana kelebihannya. Tinggal kita sebagai orang tua memberikan dukungan dan support penuh. Yang penting tidak menyalahi nilai agama maupun masyarakat.

Sebagai support system anak, orang tua pun harus memiliki keterbukaan dalam berpikir dan belajar untuk mengikuti perkembangan zaman. Jangan sampai kita terjebak dalam pemikiran-pemikiran kolot yang akan menghambat kita memberikan dorongan pada anak-anak. Di sinilah peran mindfulness terasa penting bagi orang tua.

Apa sih mindfulness itu?

Secara garis besar mindfulness bisa diartikan sebagai sebuah kesadaran penuh yang sedang kita alami tanpa menghakimi atau bereaksi secara berlebihan. Kita cukup fokus pada momen yang sedang terjadi dan tak perlu menghakimi. Kelihatannya mudah ya? Tapi jika kita sebagai orang tua mampu melakukan hal ini, ini bakal jadi super parents sih menurut saya.

Bagaimana mindfulness membantu kita sebagai orang tua menerapkan merdeka berpikir?

mindfulness


Menghindarkan dari reaksi yang impulsif.
Sering kali saat anak-anak melakukan kesalahan kita langsung memarahi mereka atau panik sebagai reaksi pertama kita. Hal ini biasanya tidak efektif mengatasi persoalan. Itulah saat mindfulness bekerja dalam diri orang tua. Kita bisa berhenti sejenak, menarik napas. Kemudian berpikir lebih dalam. Apakah jika marah akan menyelesaikan persoalan? Apakah kepanikan kita membuat keadaan menjadi baik atau malah memperburuk? Kesadaran untuk memberikan jeda ini akan memberi waktu kita untuk memilih respons yang baik bukan sekadar bereaksi.

Hadir di sisi anak.
Kehadiran orang tua tak hanya dari sisi fisik saja. Fisik bisa jadi berada di sebelah anak. Akan tetapi pikiran berkutat dengan pekerjaan, urusan tagihan, pekerjaan dan berbagai urusan yang belum selesai. Mindfulness akan membantu kita sebagai orang tua bisa mendengarkan apa yang ingin anak-anak sampaikan. Fokus pada mereka. Mendengarkan setiap kata, melihat ekspresinya. Lantas mencoba memahami perasaan mereka tanpa terganggu oleh apapun. Hal ini akan membuat anak merasa dihargai dan menjadi anak yang percaya diri.

Menjadi role model buat anak
Sejatinya orang tua adalah idola bagi anaknya. Mereka akan meniru apapun yang mereka lihat dari orang tuanya. Seperti layaknya spons yang dicelupkan ke air. Untuk itu perlunya orang tua menjadi teladan bagi anak-anak dalam bersikap dan berpikir. Ketika orang tua memiliki kemampuan mengelola emosi dengan baik si anak tentunya akan belajar dari apa yang mereka saksikan dalam diri orang tua.

Jika merdeka berpikir menjadi tujuan. Maka mindfulness adalah prosesnya dan alat untuk mencapai tujuan. Untuk mencapai tujuan diperlukan usaha dalam mewujudkannya.

Jangan takut salah saat mendidik anak-anak karena kita bukanlah orang tua yang sempurna. Akan tetapi menjadi orang tua yang memiliki kesadaran penuh dengan merdeka berpikir akan membuka jalan anak-anak dan memberikan ruang untuk tumbuh dan berkembang ke arah yang lebih baik.



Minggu, 30 Oktober 2022

Saat anak sudah nggak badmood lagi
tips mengatasi badmood


Assalamualaikum temans

Ngadepin anak-anak yang sudah SMA dan kuliah memang tak serepot waktu anak-anak masih SD. Banyak banget yang berubah. Saat anak mulai SMA tuh sudah kudu banyak negosiasi kalau ada hal-hal yang nggak pas aja antara orang tua dan anak. Semuanya masih bisa diobrolin.

Tapi tetep aja ada tuh yang kadang bikin kesel. Kalau mereka pas bad mood sedikit aja bikin mereka kesel, langsung menarik diri dan mengeram di kamar. Nggak bisa nyalahin juga sih. Daripada marah-marah nggak jelas kan ada baiknya juga mereka masuk kamar menenangkan diri.

Dulu sayanya suka nggak peka. Anak-anak lagi badmood malah saya ajak bercanda. Jadinya kan kesel banget. makanya daripada saya berusaha tapi nggak berhasil bikin anak-anak baikan. Mendingan saya nunggu mood mereka membaik dengan sendirinya.

Saya jadi hapal kebiasaan anak-anak kalau lagi bad mood. Si Adek kalau bad mood biasanya akan tidur lebih banyak daripada biasanya. Kalau pulang sekolah langsung masuk kamar langsung tidur, biasanya dia lagi nggak mau diganggu. Saya biarin aja, ntar dibangunin pelan-pelan kalau sudah Maghrib.

Sementara kalau Kakak, dia bakal makan lebih banyak dari biasanya. Tiba-tiba aja dia keluar rumah trus balik-balik bawa jajanan segambreng lalu dimakan sendiri di ruang tamu. Dia akan menyendiri untuk beberapa lama. Dan saya biasanya ngebiarin sampai dianya yang datang ke saya.

Anak sudah nggak badmood


Ciri-ciri mood Kakak sudah lebih baik :
1. Bernyanyi mengikuti musik kesukaannya
Kalau pas moodnya jelek rumah jadi sepi banget karena dia nggak nyalain musik kesukaannya yang cenderung up beat. K-pop yang dia suka cenderung lagu dengan notasi tinggi jadi kalau ngikuti dia bakal mengencangkan suara mengikuti musiknya. Kalau dia sudah nyanyi-nyanyi berarti moodnya nya udah balik.
2. Nonton film di ruang keluarga
Kamar jadi tempat privacy buat dia. Jadi ketahuan banget kalau lagi bad mood dia bakal nutup pintu kamar meskipun nggak dikunci. Kalau sudah asik di ruang keluarga berarti dia udah nggak papa.
3. Masak
Masaknya bukan yang ribet-ribet. Seringnya bikin camilan no bake yang gampang dan cepet dimakan. Kalau udah gitu, dia bakal bikin sejumlah orang yang berada di rumah.
4. Olah raga
Kalau udah denger gedebak gedebuk di ruang tamu, berarti dia lagi work out. Dia bakal ngikutin gerakan-gerakan yang ada di channelnya Emy Wong.
5. Ngajak ngobrol
Dia anak yang receh banget. Apa aja bisa bikin dia ketawa. Makanya kalau dia sudah mulai ngereceh berarti dia sudah baik-baik saja.

Sementara kalau Adek sudah moodnya membaik :
1. Tiduran di sofa ruang tengah
Sofa di ruang tengah sering jadi rebutan buat ngapain aja. Apalagi wifi paling kenceng ya di ruang tengah. Kalau Adek udah tiduran di situ ya berarti dia baik-baik aja.
2. Dengerin musik
Bedanya Adek sama Kakak pas dengerin musik ya kalau Adek dengerin doang nggak ngikutin lagunya kayak Kakak. Bahkan kadang dia make headset pas dengerin lagu-lagu kesukaannya.
3. Nge-game
Adek nggak bakalan ngegame kalau nggak enak hati. Salah satu pertanda dia baikan ya dia sudah ngegame meskipun berada di di kamar.
4. Main futsal bareng temen
Dia punya jadwal futsal secara reguler dengan temannya. Kalau pas badmood dia nggak bakal ikutan futsal. Katanya mainnya nanti jelek.
5. Mendekati ibunya dan minta saya bercerita apa aja
Kalau pas saya lagi berbaring di kamar, dia bakalan berbaring di sisi saya. Sesekali memeluk kemudian dia akan meminta saya bercerita apa aja yang bisa bikin dia ketawa. Sejak SMP Adek memang lebih tertutup dibanding saat SD. Akan tetapi setiap kali punya masalah ia akan datang ke saya meskipun tak harus ada solusi. Biasanya dia hanya butuh support yang membuatnya lebih tenang.

Gimana dengan buah hati teman-teman? Ada yang sama dengan anak-anak saya nggak?





Senin, 22 November 2021

Peran Orang Tua dalam Meningkatkan Prestasi Anak


Saat SMP, si Kakak termasuk anak underachiever. Prestasi belajarnya sering kali berada di level tiga terbawah. Saya geregetan banget menghadapi Kakak saat itu. Memberikan motivasi belajar nggak ada kurangnya. Memberikan fasilitas untuk les di luar sekolah pun saya berikan. Namun tetap saja saat lulus SMP nilai Ujian Nasionalnya berada di urutan 20 terbawah paralel.

Akhirnya, si Kakak tidak bisa bersekolah di tempat yang diinginkan karena saat itu nilai UN masih menjadi acuan. Ia bersekolah di tempat yang jauh dari rumah dengan prestasi sekolah yang biasa-biasa saja. Saat kelas 10 nggak kurang-kurangnya saya memberikan motivasi supaya kejadian di masa SMP tak terulang lagi.

Sampai satu kejadian besar terjadi dan melibatkan Kakak. Saya pun dipanggil oleh pihak sekolah untuk menyelesaikan masalah dan mencari solusi. Awalnya saya denial dengan keadaan ini. merasa diri saya adalah ibu yang gagal, nggak bisa mendidik anak dengan baik.

Saya pun mencari solusi. Salah satunya saya menemui psikolog. Ternyata bukan hanya Kakak yang harus diperbaiki kondisinya. Ternyata saya juga. Semua hal yang terjadi bersumber pada hambatan emosi yang terjadi di antara saya dan Kakak. Dan itu tidak saya sadari. Saya merasa komunikasi saya dengan Kakak berjalan baik. Saya mengira Kakak terbuka dengan saya. Ternyata hubungan saya dan Kakak tak semulus yang saya kira.

Banyak rahasia yang tersimpan dalam diri Kakak yang saya tak tahu. Banyak sikap dan perilaku saya yang menyakiti hati Kakak tanpa saya sadari. Apalagi lisan saya yang terkadang kurang terkontrol. Pelan-pelan saya dan Kakak pun sama-sama memperbaiki diri.

Sejak kejadian itu hubungan saya dan Kakak jauh lebih baik. Kakak menjadi lebih terbuka meski saya harus banyak berusaha. Sebagai orang tua saya juga harus lebih pintar mengerem mulut supaya tak terlontar kata-kata yang membuat Kakak menjauh dari saya. Berusaha untuk menjaga kondisi. Hingga pelan-pelan Kakak mulai berprestasi.

Nilai akademiknya melesat jauh. Selama enam semester berada di SMA ia tak lepas dari peringkat 10 besar. Ia pun memiliki prestasi non akademik yang membuat sekolahnya memenangkan kejuaraan di tingkat kabupaten. Tak berhenti di situ saja. Ia pun berhasil masuk ke perguruan tinggi negeri melalui Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri.

Tak hanya nilai akademiknya yang berkembang. Ia menjadi pribadi yang dewasa. Jauh melebihi ekspektasi saya. Buat saya itu sebuah anugerah yang tak terkira.

Ternyata mendorong anak untuk berprestasi tak hanya melalui fasilitas yang disediakan ataupun sekadar memotivasi. Ada hal-hal lain di luar itu yang bisa mendorong anak untuk berprestasi. Salah satunya komunikasi yang efektif.

Selain komunikasi yang positif orang tua juga perlu memastikan bahwa anak tercukupi nutrisinya dengan baik sehingga badan anak pun sehat dan terjaga staminanya. Begitu juga dengan imun tubuhnya yang harus terjaga apalagi dalam kondisi pandemi seperti sekarang ini.

Mendampingi anak belajar pun menjadi faktor bagi orang tua dalam mendorong anak-anak berprestasi. Saat anak-anak merasa kesulitan ia tahu bahwa orang tuanya bisa diandalkan. Jikalau tak menemukan jawaban yang benar, setidaknya ada diskusi antara anak dan orang tua sehingga anak tidak merasa diabaikan.

Saya tak ingin kecolongan yang kedua kali. Terhadap Adek saya lebih bisa mengontrol sikap. Apalagi Adek laki-laki. Mau tak mau saya harus lebih banyak belajar lagi supaya anak-anak nyaman dan merasa aman dekat orang tuanya.

Dalam pembelajaran di masa pandemi ini mau tak mau segala fasilitas pembelajaran harus disiapkan. Mulai dari telepon seluler maupun laptop harus tersedia. Meski tak harus mahal, namun dua peralatan itu memang sangat dibutuhkan saat ini. Dan saya pun bersiap hunting pembelajaran online untuk Adek karena ia merasa belum cukup mendapatkan pembelajaran dari sekolah yang terbatas.




Pembelajaran Online

Saat ini pembelajaran online begitu banyak pilihan. Satu sama lain memiliki kelebihan dan kekurangan. Saya yakin semua yang ditawarkan bagus. Tinggal preferensi anak yang menentukan bimbingan belajar online yang mana yang nyaman menurutnya.

Beberapa waktu lalu saya membuka website salah satu bimbingan belajar online. Namanya Kelas Pintar. Kelas Pintar menggunakan pendekatan personal melalui metode penyampaian materi yang disesuaikan dengan karakter anak. Anak yang memiliki pola pembelajaran visual, audio maupun kinestetik terakomodasi semuanya.

Yang jarang ditemukan di pembelajaran online lain Kelas Pintar ini mengintegrasikan murid, guru dan orang tua. Bimbingan belajar online ini berfokus untuk menguatkan dan mensinergikan peran guru, sekolah dan orang tua dalam proses pembelajaran siswa dalam sebuah platform.

Platform ini merekam proses belajar siswa untuk digunakan sebagai bahan analisa bagi guru, orang tua dan sekolah dalam memahami karakter, potensi, dan kesulitan siswa dalam belajar.

Ada berbagai solusi yang ditawarkan bagi anak. Ia bisa masuk kelas reguler. Ia pun bisa bertanya pada guru di Kelas Pintar. Dengan mudahnya ia bisa mengakses ribuan soal untuk pembelajaran. Ia pun bisa belajar menggunakan android TV jika sudah berlangganan paket soal.

Untuk guru pun ada solusi untuk kemudahan belajar mengajar. Ada paket untuk penjelasan materi menyeluruh dalam bentuk audio visual, video animasi dan e-book. Ini akan memudahkan guru dalam mencari bahan ajar untuk murid-muridnya di masa pandemi.

Semoga kita dimudahkan dalam mendampingi anak-anak supaya bisa lebih berprestasi ya?

Minggu, 07 November 2021

Mempersiapkan Anak Memasuki Dunia Kerja
aplikasi siap kerja



Setiap anak pasti akan tumbuh dan dewasa. Tak selamanya akan selalu berada di sisi orang tuanya. Dan tugas orang tua mempersiapkan anak untuk memiliki karakter tangguh sehingga saat dewasanya nanti ia akan menjadi anak yang mandiri dan tangguh. Mandiri secara finansial dan kuat secara mental. Ia juga harus memiliki kemampuan bertahan dan daya saing yang akan menjadi bekal hidupnya kelak.

Apa saja sih yang harus dipersiapkan oleh orang tua untuk melatih anaknya mempersiapkan masa depannya?

1. Pantang menyerah
Seringkali orang tua memiliki pendapat bahwa si anak harus memiliki kehidupan yang bahagia dengan fasilitas yang serba ada. Orang tua tak ingin si anak mengalami susahnya orang tua di masa lalu saat ingin memiliki sesuatu begitu sulit. Padahal sesuatu yang mudah didapat tidak akan mendidik anak memiliki jiwa pantang menyerah. Sesuatu yang selalu tersedia akan menjadikan anak manja dan hanya bisa merengek saat ingin memiliki sesuatu.

2. Sederhana
Pernah melihat anak yang selalu memiliki barang dengan kualitas terbaik dan dengan mudahnya akan berganti karena bosan?
Hal itu dikarenakan orangtua memanjakan anak dan tak mengenalkan gaya hidup sederhana. Sederhana bukan berarti harus sama dengan orang lain yang tak memiliki apa-apa. Namun bisa berperilaku yang sesuai dengan kebutuhan utamanya. Jika anak dikenalkan dengan pola hidup sederhana maka ia pun terdidik menjadi anak yang hemat dan tidak boros karena mampu menyisihkan yang ia miliki untuk ditabung.

3. Kemandirian
Sebelum mereka memasuki fase mandiri secara finansial, anak harus dilatih melakukan apapun sendiri. Mulai dari kebutuhan fisiknya secara bertahap dan mandiri secara pemikiran. Anak tak harus selalu menuruti saran orang tua. Namun ia memiliki pilihan dan tentunya setiap pilihan ada resiko yang harus ditanggung.

4. Mulai dari nol
Memulai itu tak ujug-ujug berada di tengah. Semuanya dimulai dari bawah. Hal yang sama ditanamkan pada anak bahwa menjadi pemimpin itu harus merasakan menjadi bawahan. Untuk mencapai puncak seseorang itu harus merangkak dari bawah. Ia juga harus dikenalkan dengan kegagalan. Karena setiap fase kegagalan akan membentuk karakter gigih. Mulai kenalkan anak dengan pekerjaan yang simpel dengan menggunakan otot sampai pekerjaan yang harus memeras otak.

5. Menyeimbangkan kecerdasan intelektual dengan kecerdasan spiritual dan emosional.
Anak yang pintarnya luar biasa akan timpang saat tak dibekali dengan agama dan akhlak atau budi pekerti. Anak yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan spiritual tentunya akan memantik kecerdasan lain yaitu kecerdasan emosional. Anak yang dibekali tiga kecerdasan tersebut akan memiliki value di dirinya. Ia akan mengedepankan integritas dan kejujuran di dirinya. Tak hanya mengejar ambisi semata. Ia juga mampu mengendalikan emosi sehingga menjadi pribadi yang kuat tak mudah patah oleh emosi negatif.

6. Ilmu dan praktek
Setiap orang tua pasti memiliki ilmu dan kehidupan yang luar biasa. Saat anak siap menerima, maka transferlah keilmuan orang tua dan kenalkan anak dengan apa yang bisa ia praktekkan. Jika orang tua sendiri tak memiliki ilmu yang cukup, maka kenalkan anak untuk bisa mendapatkan ilmu dan praktek dari mana saja. Apalagi di era digital seperti saat ini begitu banyak start up. Kursus online ada dimana-mana. Tak harus yang berbayar. Kursus online gratis bisa ditemukan di banyak tempat sekarang.


Berkenalan dengan Aplikasi QuBisa

kursus online gratis


Saat ini saya memiliki anak yang sudah memasuki bangku kuliah. Karena pandemi, perkuliahan pun masih dilakukan secara online. Apakah itu merupakan cara belajar efektif dengan pembelajaran online saja?
Kalau saya yang merupakan generasi X ya merasa bahwa pembelajaran tatap muka itu ya perlu banget. Apalagi perkuliahan yang mengharuskan mahasiswa berpraktek contohnya saja fotografi.

Berbeda dengan pendapat anak saya yang merupakan generasi Z. Menurutnya sekarang tuh belajar gak ribet. Semua bisa dipelajari melalui online. Lagi pula untuk meningkatkan kemampuan tuh nggak hanya melalui perkuliahan saja. Mahasiswa perlu upskilling dan reskilling sehingga mampu mengenali potensi yang ada dalam dirinya. Proses itu akan membuat mahasiswa lebih maju dan berkembang karena sudah menyiapkan diri lebih dini untuk menghadapi dunia kerja nantinya.

Lantas Saya pun dikenalkan pada sebuah aplikasi belajar online. Menurutnya ini adalah sebuah aplikasi siap kerja yang memberikan banyak pandangan positif. Karena ia tahu saya bermain sosial media ia pun menyarankan saya untuk membuka aplikasi tersebut dan memilih kelas online cara meningkatkan personal branding.
Aplikasi tersebut adalah QuBisa.



Tentang QuBisa

QuBisa merupakan platform untuk pendidikan dan pembelajaran. Sekarang ini semua orang ingin mendapatkan informasi yang cepat dan praktis termasuk di dunia pendidikan. Dan QuBisa hadir untuk memberikan wadah bagi mereka yang ingin update pengetahuan dan meningkatkan kemampuan dengan berbagai kursus dan kelas yang bisa dinikmati banyak orang.

QuBisa memberikan tempat bagi lulusan baru atau profesional muda untuk upskilling dan reskilling supaya menjadi orang yang kompeten dan kompetitif. Dengan pendidikan dan pelatihan yang diberikan oleh QuBisa diharapkan pengguna aplikasi siap kerja ini menemukan Road Map karier sesuai pasion mereka.

Belajar Gak Ribet kok pakai aplikasi QuBisa. Coba deh buka di jelajah QuBisa

aplikasi siap kerja



Ketrampilan Sukses Milenial (KSM)
Program ini akan membantu pengguna menguasai kemampuan personal dan berbagai bidang karir yang dibagi berbagai kategori yaitu Kemampuan dasar, Agilitas, Kepemimpinan, Inovasi, dan Pengembangan diri

Ketrampilan Digital Milenial (KDM)
Ketrampilan Digital Milenial ini akan membantu pengguna menguasai topik digital terkini dari pemula sampai ahli yang terbagi dalam beberapa kategori yaitu Perkembangan Digital, Produktivitas Digital, Analisis Data Digital, Komunikasi dan Kolaborasi Digital, Keamanan Informasi Digital, dan Publikasi Konten Digital.

Assesment
Dengan Asesment dari QuBisa pengguna bisa mengukur seberapa kekuatan pemahaman terhadap ketrampilan digital dan ketrampilan sukses milenial saat ini.

belajar gak ribet
hasil asessment saya



Goes to Kampus
QuBisa bersama pusat karir yang berada di berbagai perguruan tinggi bekerjasama dalam mempersiapkan mahasiswa yang kompetitif dan siap menghadapi masa depan. Diharapkan mereka bisa meningkatkan kompetensi di lingkungan kerja yang makin menantang ini.

Microlearning
Salah satu cara belajar efektif secara online adalah dengan menggunakan microlearning. Instrukturnya adalah para ahli di bidangnya. Didukung dengan visualisasi yang menarik tentunya membuat para peserta merasa senang dan fokus pada apa yang disampaikan.

Tak hanya terkait dengan karir dan pekerjaan misalnya cara meningkatkan personal branding. Namun hal-hal terkait dengan keluarga dan relationship pun tersedia. Bagaimana menjadi orang tua yang baik, komunikasi efektif dengan pasangan, dan masih banyak hal lain yang terkait dengan hubungan antar manusia.

Pengguna Aplikasi QuBisa bisa memaksimalkan belajar dengan kelas terpopuler, Kelas siap kerja, kelas pengembangan karir, kursus, webinar, juga sertifikasi. Meski nggak semua produknya kursus online gratis. Kalau toh berbayar juga nggak nyekik leher kok. Masih sangat terjangkau kalau menurut saya.


Cara menggunakan Aplikasi QuBisa
1. Mudah banget kok kalau kalian ingin menggunakan Aplikasi QuBisa ini.
2. Unduh Aplikasi di app store atau Play Store
3. Jika belum memiliki akun daftar dahulu di aplikasi QuBisa.
4. Jika sudah memiliki akun bisa langsung login dan langsung tampil halaman muka aplikasi ini
5. Pilih kelas yang diinginkan dan klik daftar
6. Banyak pilihan kelas yang bisa diikuti baik gratis maupun berbayar

Buat orang yang menuju setengah baya seperti saya aplikasi ini termasuk mudah digunakan. Tak harus melalui proses yang ribet sehingga saya pun cukup nyaman menggunakannya. Video yang dipergunakan di setiap kelas pun tak harus panjang-panjang sehingga tak membosankan. Cukup asyik mendengar dan melihat video pembelajaran ini.


Pengalaman mengikuti kelas di Aplikasi QuBisa

Saya memilih mengikuti Kelas Optimasi Whatsapp Bisnis untuk jualan online dengan instruktur Michael Pranajaya, founder Matrix Asia Consulting. Selama 10 tahun beliau aktif di dunia training & Development.

cara belajar efektif



Ada 12 video yang bisa kita lihat dan dipelajari untuk mengoptimalkan aplikasi yang biasa digunakan untuk berkomunikasi. Video itu membahas tentang bagaimana dunia menggunakan sosial media. Jika ingin serius menggunakan WA bisnis maka harus mengenali berbagai macam fitur yang tak dimiliki oleh WA biasa. Dalam video tersebut pun diajari waktu terbaik untuk mengunggah jualan menggunakan WA bisnis. Selain itu juga diajari waktu waktu terbaik jika ingin menggunakan facebook.

Michael mengenalkan fungsi e-catalog dan memberikan contoh bagaimana menggunakan e-catalog pada aplikasi WA bisnis. Bahkan tutorialnya pun ada. Menurut saya sih meskipun simpel tapi bermanfaat banget. Apalagi bagi saya yang memiliki rencana membuat usaha online.

Dari sini saya pun belajar bahwa hal kecil pun perlu kita pelajari karena hal besar berawal dari sesuatu yang kecil ataupun simpel.


Yang diperoleh saat menggunakan QuBisa

aplikasi siap kerja



Buat saya upskilling dan reskilling melalui Aplikasi QuBisa begitu nyata. Bahkan bagi saya yang mendekati usia matang pun masih merasa perlu mendapatkan ilmu karena belajar itu sepanjang hayat. Belajar tak harus berpindah tempat itu sungguh memudahkan. Dan ternyata saya menikmati itu.

Kita bisa memilih apa yang kita butuhkan melalui aplikasi belajar online ini. Seandainya tak memiliki dana berlebih bisa kok memilih yang gratis. Pilihannya pun cukup banyak. Dengan Aplikasi QuBisa saya mendapatkan ilmu dan wawasan baru. Bahkan keterampilan yang mungkin selama ini saya remehkan meski saya tak memahami. Saya seperti memiliki berbagai gelas kosong saat belajar bersama instruktur yang memberikan pemahaman dengan jelas dan mudah dipahami.

Saya perlu berterima kasih. Di usia seperti sekarang ternyata masih bisa belajar berbagai macam pengembangan diri dan keterampilan melalui aplikasi. Banyak orang di usia saya yang sudah malas untuk belajar karena merasa sudah cukup. Dan semangat untuk belajar adalah sebuah rahmat bagi saya.

For Your Information, ada kompetisi blog yang bertema “Memulai Karir Lebih Percaya Diri bersdama Aplikasi Siap Kerja QuBisa.” Ada total hadiah sebanyak 10 juta rupiah untuk para pemenang. Jangan sampai kelewatan ya? Deadline nya sampai tanggal 10 Desember 2021. Masih lama sih, tapi jangan ditunda-tunda. Ntar kelewat lagi.

qubisa



#AplikasiSiapKerja

#AplikasiBelajarOnline

#BelajarGakRibet

#BlogCompetitionQuBisa

#AkuBisaKamuBisa

Selasa, 25 Mei 2021

Colearn, Aplikasi Belajar Online untuk Anak-anak yang Ingin Jago Matematika


Assalamualaikum temans,

Saat masa sekolah pelajaran yang paling saya sukai adalah mata pelajaran bahasa. Mau bahasa Indonesia, Bahasa Inggris atau bahasa asing nilai saya pasti tinggi. Ngerjain tugas pun semangatnya bukan main. Kebalikannya saat saya bertemu dengan pelajaran yang berkutat dengan angka. Rasanya ngantuk aja kalau ikut pelajarannya itu.

Beneran, saya tuh benci pelajaran matematika dan fisika. Melihat angka dan rumus kepala saya auto pening. Udah berasa malas aja mau ngerjain soal latihan kalau belajar. Makanya nilai saya nggak pernah tinggi untuk dua pelajaran itu. Selalu saja nilai terendah yang saya dapat.

Saya nggak ingin berulang ke anak-anak saya. Untuk si Kakak alhamdulillah ia menyukai matematika meski nggak suka fisika. Masuk jurusan IPS pun nilai matematikanya cukup tinggi dibanding mata pelajaran lain. Nggak harus ikut les ia sudah cukup paham dengan pelajaran matematika.

Namanya dua anak kan pasti beda ya? Kalau si Kakak masih menyukai matematika, adik persis dengan saya. Meski saya sekolahkan di tempat yang sama dengan Kakak, ia menyerah kalau urusan dengan angka. Sebelum pandemi saya mengundang guru privat khusus matematika. Meski nggak secepat si Kakak, Adek pun mulai paham dengan pelajaran tersebut. Sampai kemudian pandemi membuat berantakan seluruh rencana yang telah kami susun. Mendatangkan guru privat termasuk hal yang beresiko.

Akhirnya saya mengandalkan pertemuan daring dengan gurunya. Adek kelimpungan lagi. Nilai-nilai matematikanya pun terjun bebas. Saya yang pening. Apalagi saat ini menjelang lulus SMP, memasuki masa SMA yang tentu saja pelajaran Matematika bakal lebih rumit lagi.


Mengenal Colearn

Pernah selintas lihat iklan Colearn di media sosial, namun belum kepikiran untuk membuka. Namun saat lihat postingan Donna Agnesia saya jadi kepo. Kayaknya beda sama aplikasi pembelajaran online lain. Jadilah saya download aplikasi itu dan mendaftarkan atas nama si Adek.



Di Colearn ada fitur live class. Kami pun penasaran, kayak apa sih bentuk live class ini. Kami pun berencana mengikuti live class trial setelah sebelumnya nyariin jadwal dan yang Adek anggap sesuai kebutuhannya.

Meski daring, rasanya kayak tatap muka gitu. Si Adek jadi semangat lagi buat belajar. Selama ini meski ada pembelajaran langsung via daring ia merasa kurang memahami materi. Pembelajaran selama 40 menit daring, terkadang susah masuk saat zoom membuat pembelajaran pun terputus putus.




Di live class ini anak-anak diajari mengerjakan soal dengan menyenangkan.




Mentor dan guru juara yang memberikan pemahaman dengan bahasa yang mudah dimengerti membuat anak-anak pun merasa mudah untuk mengerjakan.

Tempo hari saya dan Adek sempat mengikuti live class trial Colearn. Waktu itu ada live class persiapan masuk klas 10. Wah ... Seneng banget. Meski kami dalam perjalanan, kami tetap nggak mau ketinggalan materi yang menarik buat Adek.




Walaupun Adek rencananya masuk ke IPS, akan tetapi ia pengen juga nilai matematikanya tinggi seperti Kakak.

Jika ingin mengikuti live class, ada jadwal-jadwal dan materi materi yang bisa dipilih. Dengan mentor dan guru juara, anak-anak akan belajar layaknya bersama kakak-kakak. Nggak berasa kayak sama guru deh. Jadi anak-anak berasa main dengan peer group nya. Main-main namun berada dalam lingkungan belajar yang positif tentunya.

Di luar live class, ada juga lho Mabar (Matematika Bareng) dan Colearn+. Ini adalah sesi belajar sama Mentor CoLearn, biar CoFriends tambah jago dan pede. Belajar tuh serunya ya rame-rame. Jadi kalau gabung di Colearn bisa kenalan sama CoFriends lainnya di komunitas Discord CoLearn.

O ya, penting banget nih. Belajar di CoLearn+ gratis! Di CoLearn+, CoFriends bisa ikutan kelas inspirasi, dapet tips dan trik buat belajar dan persiapin karir dari sekarang, dan nggak kalah penting, belajar Bahasa Inggris rame-rame. Tuh kan … serunya nggak gimick.



Mentor yang mengajar di live class ini sudah banyak pengalaman. Kalau pengen tahu tinggal klik aja di foto pengisi live classnya. Reputasinya nggak kaleng-kaleng deh.

Setelah ikut live class Adek pun mulai membuka fitur-fitur yang ada dalam aplikasi ini.

Selain fitur live class yang membahas soal dan peserta bisa bertanya secara langsung ada dua fitur lagi yang bisa dipergunakan.

Foto soal




Setelah memotret soal yang ingin ditanyakan dan mengunggahnya akan ada video pembahasan tentang soal yang ditanyakan. Sepertinya fitur ini satu-satunya di aplikasi pembelajaran online ya?

Jadi setelah mengunggah soal yang ditanyakan ada banyak video yang memiliki tipe mirip ataupun sama. Kalian tinggal klik, maka videonya akan langsung jalan. Miriplah sama youtube. Bisa diputar dan dihentikan sementara. Bagi anak yang butuh pemahaman lebih lama akan lebih paham karenanya. Ada penjelasan tentang konsep yang mudah dimengerti oleh anak-anak yang dianggap lemah matematika sekalipun.

Selain dua fitur itu ada lagi fitur latihan soal. Ada banyak latihan soal yang bisa dikerjakan supaya bisa makin jago ngerjain soal matematika.



Di fitur latihan soal ini ada banyak soal dari beberapa pelajaran. Ada matematika, fisika, kimia dan bahasa Inggris. Wah ... Kirain tadi cuma perangkaan doang. Ternyata ada juga pelajaran bahasa. Bisa untuk refreshing Adek nih, secara ia suka banget pelajaran Bahasa Inggris.

Ketika mencoba mengerjakan soal namun tak paham dengan yang dimaksud, bisa pencet kata kuncinya. Nanti akan muncul penjelasan dan pembahasan dari soal tersebut.

Seandainya jawaban yang dikerjakan salah, tinggal pencet solusi akan muncul cara pengerjaan dan pembahasannya secara lengkap.

Era milenial begini orang tua pun harus turut aktif memilihkan yang terbaik buat anak-anaknya. Begitu juga dengan aplikasi belajar online. Bukan hanya harga yang murah namun tak tepat sasaran. Perlu juga bagi kita orang tua melihat dimana sih kelemahan anak-anak kita.

Tahun ajaran baru emang baru dimulai bulan Juli 2021. Apa salahnya kita mempersiapkan hal terbaik untuk anak-anak kita? Kan nggak papa sedia payung sebelum hujan kan?

Colearn memberikan potongan istimewa jika teman-teman ingin mendaftar untuk paket-paket belajarnya. Sekarang kalau daftar live class nya bisa dapet potongan harga sampai 40% plus gratis kelas ekstra persiapan ujian mulai tanggal 24 Mei 2021. O ya, diskon gede ini berlangsung cuma sampai akhir Mei 2021. Tuh kan ... Kalau saya nggak mikir dua kalilah. Kan investasi untuk keberlangsungan sekolah anak-anak juga. Apa lagi yang ditunggu? Download deh aplikasi Colearn di playstore ataupun apple store buat ngedapetin banyak benefit untuk anak-anak kita.




Jumat, 08 Januari 2021

Pendidikan Anak Remaja di Era Pandemi



Assalamualaikum temans, 

Pandemi ini sudah berjalan satu tahun. Belum ada tanda-tanda pandemi ini segera pergi. Di berbagai tempat malah kondisinya makin parah. 

Di kabupaten Magelang, setelah sekian lama dikategorikan sebagai daerah merah, minggu ini sudah mulai berganti warna menjadi orange. Dari data yang ada kecamatan dengan resiko penularan sedang berada di kecamatan empat kecamatan yaitu Salaman, Borobudur, Bandongan dan Mertoyudan. Satu kecamatan sudah zero pasien covid, sementara kecamatan lainnya beresiko rendah. Agak khawatir juga pasca liburan begini. Khawatir aja ada penambahan pasien pasca liburan lalu. Harapannya sih semua orang menati protokol kesehatan sehingga bisa meminimalisir penularan. 


Meski berita tersebut termasuk menggembirakan, ada juga berita duka melingkupi keluarga besar saya. Salah satu anggota keluarga besar, seorang dokter akhirnya syahid setelah tertular dari pasien. Semoga beliau husnul khotimah.


Apa kabar dengan anak-anak di rumah? Bagaimana dengan para ibu di rumah? 

Sejujurnya saya pun sudah lelah. Menghadapi dua remaja di rumah memang tak seberat jika mendampingi pembelajaran jarak jauh pada anak usia SD. Saya harus banyak bersyukur karena anak masih relatif tertib saat pembelajaran jarak jauh. Namun banyak berkurang kualitasnya. 

Nggak bisa dipungkiri pandemi ini mengubah banyak hal, termasuk di rumah. Era new normal terjadi juga dalam keluarga. Banyak value yang bergeser dalam pendidikan dan pengasuhan anak. Contohnya, karena cuaca dingin di rumah membuat anak-anak malas mandi jika hendak pembelajaran. Biasanya bakda shalat shubuh mereka melakukan persiapan sekolah, di saat pembelajaran jarak jauh pasca shalat Shubuh pun tidur lagi. Bangun pun menjelang pembelajaran. 

Gadget yang biasanya terpegang di sore hari, saat ini terpegang tanpa jeda. Tahun lalu nggak kepikiran game online, akhir-akhir ini si Adek pun minta izin untuk main game online. Alasannya sudah menjelang 15 tahun. Sudah bisa mengontrol diri nggak main game online melulu. 

Akhirnya saya mengizinkan. Dengan catatan hanya satu game online yang dia unduh. Itu pun di HP saya. Kontrol tak hanya berada di tangannya. Namun dari saya juga sebagai orang tua. 

Marah nggak kalau tiba-tiba saya minta HPnya? Sama sekali nggak. Kadang ia minta waktu untuk menyelesaikan satu term permainan. Setelah itu akan ia serahkan. Waktu bermainnya pun menunggu saya tak menggunakan HP. Itu salah satu cara mengajarkan anak untuk bersabar dan tahu diri. 

Saya tak terlalu berharap banyak dengan nilai akademis anak-anak. Pada akhirnya ketika ia melaksanakan pendidikan di rumah, maka mengajarkan life skill merupakan hal terpenting yang bisa kita ajarkan pada anak-anak. Makna parenting di masa pandemi ini begitu terasa. Menjadi orang tua. Menjadi rumah untuk hati anak-anak. 

Untuk si Kakak sih, masalah life skill sudah auto pilot. Sudah teruji pasca saya operasi tumor payudara. Ia sudah mampu menggantikan peran saya mengurus rumah tangga. 


Sebenarnya Adek pun ya nggak gagap-gagap amat dengan pekerjaan rumah tangga. Setiap kali saya memintanya melakukan pekerjaan rumah tangga ada kalimat yang sering kali saya ulang untuk memotivasinya.

"Di luar negeri tuh bayar asisten rumah tangga mahal banget. Kalau Adek nanti sekolah di luar negeri, Adek udah terbiasa melakukan sendiri. Jadi nggak keluar biaya lebih banyak lagi."

Dan Adek pun sudah nggak pernah lagi mempertanyakan kenapa ia mesti melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh kaum perempuan. Di rumah ia sudah terbiasa menjemur pakaian seluruh anggota keluarga. Ia pun paham kapan harus mengangkat jemuran saat sudah kering atau karena mendung menggantung.




Menyapu lantai saat ART libur sudah biasa ia lakukan. Memetik sayuran saat saya meminta pertolongan pun sudah terampil. Bahkan saat saya dan Kakak puasa sunnah, ia terbiasa menyiapkan makan siang sendiri. Memang masih masakan sederhana. Paling suka ia membuat omelet telur atau nasi goreng. Terkadang saya menyetok bumbu nasi goreng siap pakai. Namun saat stok habis, Adek tahu bagaimana meracik bumbu nasi goreng. Rasanya pun lumayan. 




Selain life skill,  hikmah adanya pandemi ini saya dan anak-anak makin memahami dan kedekatan pun semakin bertambah. Kalau dulu kami mengobrol saat makan dan menjelang tidur. Sekarang kapan aja kami bisa ngobrol. Lha bosen ngikut daring aja bisa langsung nyamperin simboknya. Ngobrol random setiap hari. Makin terlihat anak-anak bertumbuh jiwa dan raganya.

Salah satu yang saya syukuri adalah Kakak dan Adek makin dekat. Saling menolong saat pembelajaran daring. Nggak pernah bertengkar. Karena sudah terbiasa berbagi, mereka nggak egois sama sekali. Kalau toh ada keributan kecil karena salah satu gabut dan mengganggu yang lainnya. 

Namun tetap ada yang membuat saya galau. Tahun ini Kakak akan lulus SMA dan Adek lulus SMP. Sama-sama mencari institusi pendidikan yang baru. Tempo hari waktu ke Semarang Kakak minta dianterin ke universitas negeri yang ada di sana. Lihat-lihat dari mobil doang. Setidaknya ia punya bayangan jika hendak kuliah di Semarang seberapa jauh jarak dari rumah eyangnya ke kampus-kampus itu. 

Si Kakak masih galau dengan jurusan yang hendak ia pilih. Meski saya memberikan arahan, tetap si Kakak yang memilih sesuai minat bakatnya. 

Sementara si Adek sudah mantap memilih jurusan IPS saat SMA nanti. Sejujurnya saya berharap ia memilih jurusan IPA untuk sekolah lanjutannya. Hanya saja saya harus legowo. Bukan saya yang sekolah. Saya memilih si Adek sekolah dengan bahagia. Tidak akan saya memaksa burung untuk bisa berenang. Takkan pernah saya meminta ikan untuk belajar terbang. Yang terpenting ia menjadi yang terbaik versi dirinya.

Semoga semuanya berjalan lancar ya temans. Mohon doanya.




























Senin, 14 Desember 2020

Menghindarkan anak menjadi korban atau pelaku pelecehan seksual


Assalamualaikum temans,

Dulu, ketika saya membaca berita tentang pelecehan seksual hati saya begitu mendidih. Sering kali merasa geregetan mengapa si korban tak berani melaporkan tentang peristiwa buruk yang menimpanya. Namun saat saya sendiri mengalaminya, saya baru memahami. Betapa rasa sakit di hati itu tak terkatakan. Jangankan melapor, mengingat saja sudah cukup membuat tubuh bergetar karena marah dan sakit hati. Bahkan hal-hal traumatis seperti itu bisa sekali membuat mental terganggu.

Dua kali saya mendapatkan kejadian buruk. Verbal dan fisik. Meski kejadian itu menimpa saya berpuluh tahun yang lalu. Namun ada rasa sakit yang sampai sekarang belum pulih secara sempurna. Merasa lebih baik tak mengingat apalagi membincangkannya. Perlu waktu yang lama untuk berani berbagi cerita. Karena saya butuh menata hati. Supaya lebih siap dalam menerima dan berdamai dengan luka yang lama tersimpan.

Saat itu saya masih kuliah. Pulang dari kampus sekitar pukul 20.30 karena ada mata kuliah yang saya ambil waktu belajarnya setelah maghrib. Sebenarnya jarak dari kampus menuju rumah kakak saya tidak jauh. Bahkan termasuk jalur ramai. Namun ada titik tertentu merupakan area pemakaman terbesar di Semarang dengan penerangan yang kurang sehingga terlihat remang-remang.

Saya mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Sampai lepas lampu merah tiba-tiba ada tiga sepeda motor memepet saya. Satu di depan, satu di samping, satu lagi di belakang. Yang berada di samping berboncengan. Mereka memandangi saya dari atas ke bawah. Dengan pandangan yang menjijikkan. Alarm di hati berbunyi. Jantung saya tak karuan. Mau menggebah motor saya pun tak bisa. Khawatir jika saya nekad motor yang saya kendarai malah jatuh. Pasti hal yang lebih buruk akan terjadi. 

"Ayo, Mbak, ikut kami. Nanti enak-enak lho," kata pembonceng motor di sebelah saya. 

Saya berusah mencari celah untuk melepaskan diri. Namun mereka rupanya lebih tahu. Mereka lebih merapat lagi sehingga tak ada jalan untuk pergi. Yang saya usahakan saat itu bagaimana motor masib tetap stabil sambil berpikir apa yang harus saya lakukan. 

"Ayo to mbak, nggak usah jual mahal gitu." 

Saya tak merespon. Bertahan mengendarai motor dengan pelan supaya tak oleng butuh perjuangan. Mau berteriak takut kalau yang di belakang saya bertindak nekad. Mata saya berusaha memotret situasi di sekeliling sambil tetap berpikir jernih. 

"Mau berapa to Mbak? Nanti tak bayar kok."

Mendengar kalimat itu spontan saya menengok ke arah suara. Darah saya mendidih. Saya tak terima. Mereka masih cengar cengir memandangi saya dengan gestur yang memuakkan. 

Ini sudah mendekati perempatan. Jalan yang saya ambil lurus ke depan. Tiga motor ini masih saja sangat dekat dengan motor saya. Saya pun pura-pura menyalakan lampu sein motor ke kanan. Tiga motor itu melakukan hal yang sama. Ini adalah kesempatan dalam hitungan detik. Meski khawatir jika tindakan saya membahayakan bagi motor lain. 

Saya melihat celah. Ketika mereka lengah, saya pun mengubah lampu sein kemudian mengambil jalan lurus lalu masuk ke perumahan. Saya pun bernapas lega. Namun sakit hati dan marah masih tertanam di hati. Hanya bisa menangis saat itu. Saya ditawar orang di jalan. Padahal saya sudah memakai pakaian yang menutup aurat. Apakah ada yang salah dengan pakaian saya? Saat itu saya memakai celana jins, hem lengan panjang, jilbab yang menutup kepala dan tas ransel di punggung saya. Mengapa pakaian tertutup masih membuat orang lain berpikiran nakal tentang saya?

Hari-hari selanjutnya saya meminta suami yang statusnya saat itu masih seorang sahabat untuk mengawal saya pulang. Paling nggak berada di belakang saya sampai perempatan menuju perumahan. Rasa takut itu tak juga hilang. Meski sakit hati perlahan-lahan menipis. 


Setahun berikutnya.

Saat itu euforia politik sedang terjadi. Kebebasan berpolitik yang diinginkan oleh banyak pihak terbuka lebar. Sebuah partai yang dulunya ditekan oleh pemerintah mendapatkan simpatisan yang cukup besar. Apalagi di Semarang. 

Konvoi di jalan dengan memenuhi jalur. Tak menyisakan sedikit pun bagi orang-orang yang berlawanan arah. Pun di saat itu masyarakat tak pernah tahu akan ada arak-arakan dari arah mana karena belum ada media sosial sebagai sarana informasi. Tahu-tahu sudah terjebak saja di satu ruas jalanan.

Itu yang saya alami. Sepulang menemani sahabat saya yang baru saja di wisuda. Tahu-tahu sebuah partai telah memenuhi jalan. Saya yang bersimpangan arah pun minggir. Bahkan sampai naik ke trotoar. Takut aja kalau dimaki-maki karena tidak mau minggir.

Yang tak pernah saya duga. Beberapa laki-laki cepat sekali berlari ke arah saya. Lantas meremas salah satu bagian tubuh saya.

Saya menjerit. Tapi jeritan itu tak ada apa-apanya dibanding raungan motor dan teriakan mereka. Seketika itu air mata jatuh tanpa bisa saya tahan. Perjalanan pulang saya lalui dengan tubuh gemetar. Air mata terus berderai hari itu. 

Yang saya rasakan saat itu adalah perasaan terhina dan kotor. Belum pernah sekalipun ada laki-laki yang menyentuh kulit saya. Rasanya tak ada artinya lagi saya menutup seluruh aurat saya. 

Apa salah saya? Saya sudah menutup tubuh dengan pakaian longgar dari ujung rambut sampai ujung kaki. Masih saja tak bisa menghalangi pikiran mesum mereka. 

Saat itu saya sempat membenci diri sendiri. Benci karena tak bisa melindungi diri sendiri. Kecewa karena tak bisa berkata apa-apa. Setiap kali teringat selalu saja gemetaran dan merasa nista karena sudah terjamah laki-laki. Sering tiba-tiba merasa sesak napas dan sulit menangis. 

Cukup lama saya merasakan ketakutan terhadap mereka yang berombongan di jalan. Sampai berpuluh tahun berlalu pun saya masih merasakan trauma.Lebih baik sama sekali tidak melihat, walaupun di media sekalipun. 

Yang saya rasakan itu hanya bagian yang sangat kecil dibandingkan dengan pelecehan seksual yang makin sering terjadi. Di kampung saya seorang anak TK mendapatkan pelecehan seksual dari seorang kakek yang belum beristri. Seorang teman di masa remajanya juga hampir mengalami perkosaan dari guru ekstrakurikulernya. Dan keponakan saya diajak melakukan hubungan kelamin sesama jenis oleh teman bermainnya. Untung saja dia menolak. Saya tak bisa membayangkan jika keponakan saya melakukan itu hanya karena takut kehilangan teman.

Siapapun bisa saja menjadi korban maupun pelaku pelecehan seksual. Tua, muda, atau bahkan anak-anak. Apapun jenis kelaminnya. 

Sebagai orang tua ya wajar kan kalau saya, anda, siapapun saat mendengat berita tentang pelecehan seksual yang saat ini marak terjadi?


Menghindarkan anak dari perilaku pelecehan


Tak memungkiri, pelecehan seksual bisa terjadi di mana saja. Tak terkecuali institusi yang seharusnya merupakan tempat ternyaman untuk setiap manusia. Tak sedikit pelecehan seksual terjadi di sekolah bahkan di rumah. Pelaku dan korban saling mengenal, bahkan bisa jadi berhubungan darah. 

Ketakutan bahwa hal itu bisa menimpa anak kita membuat para orang tua harus semakin hati-hati. Apalagi pelecehan seksual itu bisa juga terjadi melalui dunia maya. Teknologi informasi yang mengguyur kita hari ini bisa menjadi tempat yang menyeramkan bagi sebagian anak-anak kita.

Sebagai orang tua kita hanya bisa membekali anak-anak kita. Bagaimana menghindarkan mereka dari menjadi korban ataupun pelaku pelecehan seksual. Apa saja yang bisa kita berikan pada anak-anak kita?

Hal paling dasar untuk bekal anak kita adalah teladan dari orang tua. Komunikasi yang nyaman antara anak dan orang tua adalah hal prinsip sebagai dasar keterbukaan dalam keluarga. Keteladanan timbul dari komunikasi yang baik dalam keluarga. 

Ada hal-hal sederhana namun penting bisa kita berikan pada anak-anak kita. Bagaimana hal sederhana ini bisa menghindarkan mereka menjadi korban dari pelecehan seksual.


Memberikan edukasi seksual pada anak sejak dini.

Sudah banyak sekali artikel pembahasan tentang memberikan edukasi seksual pada anak-anak. Ya ... Edukasi seksual bukan secara vulgar memberikan informasi tentang hubungan seksual. Namun memberikan pemahaman pada anak dalam mengenali tubuhnya sendiri. 

a. Ini tubuhku.
Kita berikan pemahaman pada anak bahwa tubuhnya tidak sembarangan disentuh. Jika orang lain hendak menyentuh, maka harus meminta izin pada si anak. Orang lain tidak boleh sembarangan menyentuh tubuh si anak meskipun orang terdekat sekalipun.
Beritahukan pada anak tentang fungsi tubuh yang ditutupi pakaian dalam. Ajarkanlah anak mengatakan tidak dan menolak apabila ada orang lain yang hendak menyentuhnya.

b. Merasakan sentuhan baik dan sentuhan buruk.
Anak-anak biasanya senang mendapatkan sentuhan fisik dari orang lain. Sentuhan baik adalah kontak fisik yang tak membahayakan. Sementara sentuhan buruk adalah sentuhan pada tempat yang tak semestinya, misalnya dada ataupun alat kelamin. Tempat-tempat itu terlarang untuk disentuh. 

c. Rahasia yang buruk
Terkadang anak suka sekali diajak main rahasia-rahasiaan. Namun beritahukan pada anak jika ada rahasia yang membuat sakit, sedih, atau marah itu adalah rahasia buruk yang harus segera diberitahukan pada orang tua.

d. Mencari perlindungan
Beritahukan anak bahwa orang tua atau guru bisa menjadi perlindungan untuk mereka dari hal-hal yang buruk. 

e. Bekali anak dengan pengetahuan seksual sesuai umurnya. 
Saat ini banyak anak yang sudah mulai mendapatkan menstruasi di usia 10 tahun. Saat usia di bawah itu anak sudah harus mendapatkan pengetahuan tentang reproduksi secara sederhana. 

f. Bekali anak dengan kemampuan beladiri. 
Kemampuan beladiri bukan berarti harus bisa melakukan gerakan karate ataupun pencak silat. Kemampuan beladiri secara verbal atau merasakan insting jika ada orang yang berniat buruk segera menjauhi. Keduanya bisa dilatih dan diajarkan pada anak.


Orang tua mendampingi anak dalam kegiatan sehari-hari

Memang tak bisa selama 24 jam anak-anak berada dalam pengawasan orang tua. Namun pendampingan tak hanya secara fisik. Ada quality time orang tua dan anak dalam membangun komunikasi. Pengawasan paling efektif dari orang tua terhadap anak adalah komunikasi yang intensif. Komunikasi dua arah yang memberikan ruang pada kedua belah pihak untuk melakukan bargaining position. Selalu ada win win solution untuk mengatasi segala permasalahan. 


O ya, jangan sampai kita berfokus pada menghindarkan anak sebagai korban saja. Anak kita pun punya potensi menjadi pelaku. 

Banyak terjadi mereka yang menjadi pelaku adalah korban sebelumnya. Untuk memutus mata rantainya ada beberapa hal yang harus kita berikan pada anak-anak kita.

a. Ajak anak untuk mengenali dan melatih emosi dalam diri mereka.
Anak diajak untuk merasakan rasa senang, sedih, kecewa, marah, ataupun malu. Ajak pula anak mengenali rasa bangga dan bersalah setiap kali ia melakukan sesuatu yang buruk. Meski begitu ajarkan pula mereka untuk memaafkan dan berusaha untuk tak mengulanginya kembali. 

b. Ajarkan berempati pada orang lain.
Pelaku pelecehan seksual biasanya tak memiliki empati pada orang lain. Yang ia pikirkan adalah dirinya sendiri. Melatih anak untuk berempati pada orang lain dimulai dari mencari bahan bacaan yang terkait dengan sikap terpuji dan mengajak berbicara dari hati ke hati.


c. Ajarkan pada anak laki-laki untuk selalu menghormati kaum perempuan
Salah satu cara mengajarkan perilaku ini adalah memberikan pandangan positif mengenai kedudukan laki-laki dan perempuan di hadapan Tuhan adalah sama. Yang membedakan hanyalah ibadah dan akhlaknya. 


Keteladanan orang tua menjadi kunci. 

Sebaik apapun yang kita ajarkan pada anak, namun kita tak memberikan role model yang baik tetap saja itu hanya akan berlalu tanpa pernah menetap dalam pikiran dan hati anak-anak kita. Untuk itu orang tua harus selalu memberikan contoh pada anak meskipun tak mungkin bisa sempurna. 


Bekali anak-anak kita dengan agama.

Ilmu tanpa agama akan buta. Agama tanpa pengetahuan akan lumpuh. Keduanya saling bersinergi dalam membangun pondasi akhlak anak-anak supaya menjadi anak yang cerdas dan berkarakter. 

Pelecehan seksual bukan perkara baju terbuka atau nafsu yang tak bisa dicegah. Semuanya terkait dengan pembangunan jiwa anak-anak kita. Memang tak mudah di tengah gempuran teknologi informasi dimana semuanya terpampang nyata di depan mata. Mereka adalah kita di masa yang akan datang. Jangan sampai salah menerapkan pola asuh pada mereka, ara generasi milenial. 






Rabu, 22 Juli 2020

6 kecerdasan yang perlu dimiliki oleh orang tua di masa pandemi


Assalamualaikum temans
Tahun ajaran baru 2020/2021 baru saja dimulai. Kebijakan pemerintah memulai ajaran baru masih dengan pembelajaran jarak jauh. Setelah melewati semester kemarin dengan jungkir balik mengawali pembelajaran daring. Semester ini penyelenggara pendidikan sepertinya sudah lebih siap menghadapinya. 

Di SD tempat saya biasa mengasuh anak-anak kelas menulis sudah lebih siap. Pihak sekolah memiliki tim untuk membuat video pembelajaran dan dikirim via grup WA walimurid. Video pembelajaran pun tak terlalu lama waktunya supaya anak tak cepat bosan. Selain video pembelajaran, ada penugasan yang dikirim bersamaan dengan video. Penugasan pun tak begitu banyak sehingga lebih meringankan tugas wali murid dalam mendampingi anak belajar. 

Sejujurnya saya tak banyak mengalami hiruk pikuk pembelajaran jarak jauh. Hanya semester kemarin waktu awal adaptasi pembelajaran daring saja saya sempat ikut gedubrakan menyiapkan apapun kebutuhan anak-anak. Sekarang anak-anak sudah SMP dan SMA klas terakhir. Sudah auto pilot semua, apalagi pihak sekolah juga jauh lebih siap. 

Di SMP anak saya menggunakan live facebook untuk hafalan Al Quran di pagi hari dari jam 06.30 - 07.00. Setelah itu anak dipersilakan untuk shalat Dhuha dan mulai membelajaran jam 07.30. Selain menggunakan facebook dan youtube, pembelajaran menggunakan zoom dan microsoft 365 sebagai pengganti tatap muka. 

Biasanya ada penugasan setelah itu. Dalam satu hari ada 3 mata pelajaran. Namun untuk beberapa penugasan, apalagi yang terkait dengan pelajaran keislaman, kemuhammadiyahan dan Bahasa Arab memang agak kesulitan karena menggunakan huruf hijaiyah. Laptop saya laptop tua, belum support dengan font hijaiyah hehehe ... 

Sementara untuk SMA anak saya menggunakan google classroom, zoom, kulwap via WAG dan quizizz untuk ulangan. Biasanya yang menggunakan kulwap adalah guru-guru sepuh yang kurang akrab dengan teknologi informasi. Untuk tanya jawab bisa menggunakan voice note. Dan sejauh ini yang dikeluhkan anak-anak ya sinyal yang kadang nggak stabil. 

Melihat teman-teman menjadi guru kreatif di dunia maya bagi putra putri mereka, saya bisa membayangkan bahwa orang tua, khususnya ibu harus benar benar siap menghadapi pembelajaran jarak jauh. Tak hanya menghadapi pembelajaran jarak jauh saja, namun segala aspek kehidupan di masa pandemi ini. Ada beberapa kecerdasan yang perlu dimiliki oleh orang tua dalam menghadapi pandemi ini. Bagaimanapun juga, orang tua adalah modelling untuk anak. Maka apapun yang dilakukan oleh orang tua akan cepat diserap oleh anak. Apa yang dikatakan oleh orang tua, sikap orang tua, bagaimana orang tua mengatasi masalah merupakan pembelajaran bagi anak saat di rumah. 

Ada 6 kecerdasan pokok yang harus dimiliki oleh orang tua dalam proses pembelajaran anak.

1. Kecerdasan teknologikal. Menjadi orang tua saat ini harus melek teknologi karena sudah merupakan kebutuhan yang tak bisa ditawar lagi. Segala lini kehidupan di masa pandemi ini pasti menggunakan teknologi informasi, khususnya pembelajaran. Bagaimana jadinya jika orang tua tak memiliki kecerdasan teknologikal, sementara anak masih butuh bantuan dan pendampingan saat menggunakan gawai?

2. Kecerdasan kontekstual. Orang tua harus mampu mengedukasi, bisa memahamkan, serta memanfaatkan secara efektif semua kemungkinan yang akan terjadi pada situasi dan kondisi dimanapun anak berada. Misalnya bagaimana anak-anak jika harus kembali bersekolah di masa transisi. Anak dipahamkan untuk mematuhi protokol kesehatan, memperhatikan kembali bagaimana guru menjelaskan materi dan semua yang berkaitan dengan new normal serta apa yg akan dihadapi ke depan.

3. Kecerdasan sosial dan emosional. Kecerdasan ini merupakan kemampuan dalam mengelola hubungan dengan orang lain dan mengelola emosi pribadi. Perlunya anak diberikan pemahaman di saat-saat mendatang jika kembali bersekolah anak diajarkan bagaimana jika berinteraksi dengan teman, guru dan lingkungan. 

4. Kecerdasan generatif. Kecerdasan ini merupakan kemampuan dalam membaca dan menangkap kesempatan atau peluang. Di masa pandemi ini tentunya anak-anak sudah jenuh dengan situasi yang tak menentu. Sering kali anak-anak pengen berkreasi, membuat sesuatu ataupun melakukan hal-hal yang merupakan passion mereka. Orang tua harus memfasilitasi apa yang ingin dilakukan oleh anak, dan tak berhenti seandainya sekolah dengan tatap muka dilakukan. Pembiasaan baik tetap harus berjalan. Ajak anak untuk selalu meningkatkan kemampuan yang dimiliki sehingga anak semakin mahir melakukan apa yang mereka sukai. 

5. Kecerdasan eksploratif transformational. Kecerdasan ini merupakan kemampuan mengeksplorasi kesempatan dan berani melakukan perubahan perubahan. Orang tua perlu mengajari anak untuk menerima perubahan yang terjadi secara cepat di masa pandemi ini. Tak hanya pembelajaran, namun juga interaksi yang dilakukan baik saat daring maupun nanti jika kembali luring. Hal ini menjadikan orang tua perlu memberikan contoh bagaimana menjadi pribadi yang mudah beradaptasi. 

6. Kecerdasan Moral. Kecerdasan ini adalah kemampuan untuk bekerja menggunakan nilai-nilai universal dalam kehidupan. Tolak ukur dari kecerdasan ini adalah ketika orang tua mampu melatih anak memiliki sosial dan emosional yang baik maka kecerdasan moral pun akan terbentuk dengan baik pula. Apa yang dipikirkan ataupun dirasakan anak akan muncul dalam perilaku-perilaku yang sesuai. Jika orang tua mampu beradaptasi dengan baik untuk dirinya sendiri, menyesuaikan diri dengan positif, meregulasi emosi dan membiasakan pola dengan baik, maka dengan mudah akan mengedukasi anak. Anak itu biasanya mengcopas kebiasaan orang tuanya. 

Pembelajaran di masa pandemi ini tidak hanya berkutat dengan pembelajaran akademik. Namun orang lain akan memberikan respek yang lebih saat anak pun memiliki kemampuan non akademik yang tergali dan tereksplorasi dengan bagus. Saat orang tua tak membatasi pembelajaran anak hanya pada buku semata, maka anak akan mendapatkan hal-hal baru dan menyenangkan yang akan memberikan mereka bekal di suatu hari nanti.