Jurnal Hati Irfa Hudaya: Tulis Menulis
Tampilkan postingan dengan label Tulis Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulis Menulis. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 November 2024

Buku Dalam Dekapan Zaman Memoar Pegiat Harmoni Bumi karya Amanda Katili Niode, Ph.D.
Amanda Katili Niode


Assalamualaikum temans,

Cantik. Begitu kesan pertama saya saat melihat cover yang dominan berwarna biru ini. Ilustrasi seorang perempuan yang membaca buku dengan nyaman di sebuah tempat duduk. Tempat duduk itu ternyata sebuah pohon yang dikelilingi air dan sedikit tumbuhan dan bunga terasa begitu feminin dan menenangkan.

Buku ini ditulis oleh Ibu Amanda Katili Niode, Ph.D, seorang pegiat harmoni bumi begitu beliau melukiskan diri. Buku ini dapat dikatakan sebagai hybrid memoir, gabungan antara memoar dan proses pengembangan diri. Tentang perjalanan pribadi dan pembelajaran dan tentunya tak lepas dari bumi dan pengalaman-pengalaman beliau di dalamnya.

Nah, sebelum bercerita tentang pengalaman membaca buku ini saya bakal informasiin dulu identitas buku ini.

Identitas Buku

Dalam Dekapan Zaman


Judul Buku : Dalam Dekapan Zaman, Memoar Pegiat Harmoni Bumi
Nama : Amanda Katili Niode, Ph.D
Penerbit : CV. Diomedia Solo
Cetakan : Pertama 2024
Jumlah Halaman : xxxviii + 420 hal
Ukuran Buku: 15 x 23 cm
ISBN : 978-623-8228-51-5
Harga : 145.000

Dalam buku Dalam Dekapan Zaman, Memoar Pegiat Harmoni Bumi terdapat 11 bab. Bab-bab ini tak harus dibaca secara berurutan seperti sebuah novel. Ya … setiap bab memang saling terkait. Namun masing-masing bab bisa berdiri sendiri. Jika teman-teman memilih membaca bab yang paling disuka terlebih dahulu. Saat membaca bab-bab secara acak teman-teman tidak akan merasa ada plot hole.

Buku Dalam Dekapan Zaman tak memberikan langkah langkah praktis dalam menjaga keberadaan bumi. Akan tetapi Ibu Amanda mengajak pembaca untuk menemukan arti dan kewajiban mereka sebagai manusia dalam pelestarian lingkungan. Bab-bab yang ada dalam buku ini meliputi :

01. Mengenal Bumi, Nilai dan Maksudnya
02. Menggalang Memoar untuk Bumi
03. Mengukir Landasan Pendidikan
04. Mengembangkan Profesi Harmoni Bumi
05. Menuju Masa Depan Berkelanjutan
06. Mendunia dalam Dialog Global
07. Membawa Perubahan dengan Kata
08. Menginspirasi dengan Climate Coaching
09. Mewacanakan Filsafat, Ilmu, dan Teknologi
10. Mengangkat Citra Kuliner Lokal
11. Menjalin Kolaborasi Pemuda

Kesan-Kesan saya saat membaca buku 'Dalam Dekapan Zaman'

Membaca buku “Dalam Dekapan Zaman, Memoar Pegiat Harmoni Bumi” karya Ibu Amanda Katili Niode buat saya sejujurnya terasa berat di Bab-bab awal. Ini terkait dengan mindset saya yang terbiasa membaca buku fiksi. Fiksi itu terasa ringan, seperti mengemut permen. Begitu disuguhi buku yang jauh dari passion membuat saya harus pelan-pelan mencerna apa yang disampaikan oleh Ibu Amanda untuk memahami apa yang ingin disampaikan oleh beliau.

Karya Amanda Katili Niode,Ph.D


Saya mengira kening saya bakal berkerut saat membaca bab-bab selanjutnya. Ternyata jauh dari perkiraan saya. Saat membaca bab-bab selanjutnya saya merasa lebih ringan dengan pilihan diksi yang dipilih oleh Ibu Amanda. Memang bukan pilihan kata yang ringan atau penuh dengan metafora. Namun hal-hal detil yang beliau tuliskan membuat saya makin mudah mengikuti apa yang menjadi pemikiran-pemikiran beliau.

Ada yang begitu menarik dan menjadi catatan bagi saya saat membaca buku ini. Beberapa hal yang relate dengan kehidupan saya sebagai seorang anak, ibu dan dan penulis lepas. Kehidupan yang membuat saya banyak bersyukur diberikan karunia oleh Yang Maha Kuasa dan bersifat personal.

Kehadiran seorang ayah dalam kehidupan putrinya.

Dalam Bab I memperlihatkan bahwa peran ayah Ibu Amanda yang aktif dalam kepengasuhan anak. Bapak John Ario Katili ditengah kesibukannya selalu menjalin komunikasi dengan Ibu Amanda. Di tengah ramainya pembahasan anak-anak yang saat ini fatherless, tak mendapati peran ayah dalam kehidupan mereka. Amanda kecil sering kali dilibatkan dalam berbagai hal penting dalam kehidupan ayahnya.
Di usianya yang berumur 3 tahun Amanda kecil ditanya tentang judul disertasi ayahnya.
“Apa judul disertasi Papa?”
“Geological Investigations on the Lassi Granit Mass Central Sumatera,” jawab Amanda kecil dengan sedikit cadel namun fasih.

Saat sang ayah menyusun pidato ilmiah yang akan disampaikan pada upacara Dies Natalis dan Hari Sarjana ITB di bulan Maret 1968 ayahnya pun bertanya pada Amanda kecil yang saat itu masih berusia 11 tahun saat tak menemukan kata yang tepat dalam penggambaran awal pidato.
“Non, apa kata yang bagus untuk menggambarkan awan?” tanya Bapak John Ario Katili.
“Mega!” sahut Amanda kecil sambil terus bermain boneka.

Sampai puluhan tahun kemudian dalam berbagai kesempatan jika Bapak John sedang memegang pidato ilmiah dan Ibu Amanda berada di dekat ayahnya.
“Ini tulisan yang kau buat waktu masih kecil,” kata Bapak John membuat sang putri pun gembira.

Saya bisa membayangkan betapa Ibu Amanda selalu mendapatkan apresiasi dari seorang ayah. Kesibukan tak membuat ayahnya lalai untuk mengisi tangkai kasih sayang untuk putrinya. Rasa dihargai dari seorang ayah membuat seorang anak perempuan jadi makin percaya diri dan membuat kemampuan anak dalam bersosialisasi lebih baik

Berkarya dalam membuat sebuah proyek bersama itu tidaklah mudah

Kebiasaan Ibu Amanda dalam membaca artikel, jurnal maupun buku dari berbagai genre membuat beliau ingin mengumpulkan memoar dari orang-orang yang terlibat dalam The Climate Reality Project, organisasi nirlaba yang didirikan oleh mantan presiden Amerika Serikat dan pemenang hadiah nobel perdamaian, Al Gore. Sejumlah relawan dari berbagai lapisan masyarakat tergabung di dalamnya. Ada lebih dari 50.000 sukarelawan yang disebut sebagai climate reality leaders tersebar di 170 negara dan sekitar 1000 orang ada di Indonesia.

Keinginan beliau pun bersambut. Naskah yang dikumpulkan oleh Climate Reality Indonesia datang dalam berbagai bahasa. Memoar yang merupakan pengalaman pribadi yang terkait dengan ilmu pengetahuan, dampak, solusi maupun aksi perubahan iklim pun disusun untuk memberikan wawasan, refleksi, inspirasi maupun menuangkan berbagai gagasan dan pemikiran yang terkait dengan kecintaan yang besar terhadap bumi.

Saya tahu, membuat karya bersama tidaklah mudah. Mengumpulkan naskah dari orang-orang yang memiliki kesibukan adalah tantangan. Setiap pengerjaan buku memiliki deadline supaya timeline pembuatan buku bisa berjalan sesuai rencana. Belum lagi jika penulis menulis dengan asal-asalan sehingga penanggung jawab harus melakukan editing maupun revisi sebelum diserahkan pada penerbit.

Belum lagi menjalin kerjasama dengan penerbit. Tak semua penerbit menyukai naskah-naskah ‘berat’ seperti yang dibuat oleh Ibu Amanda dan kawan-kawan. Sering kali penerbit lebih menyukai naskah-naskah ringan dan populer yang lebih mudah diterima oleh pasar. Sebagian penerbit akan mencari naskah yang sedang tren saat ini, dan tentu saja hal itu disukai oleh industri penerbitan.

Bersyukur sekali, Ibu Amanda menemukan penerbit yang memiliki visi yang sama untuk memberikan insight pada pembaca bagaimana mencintai lingkungan hidup dan memperjuangkannya.

Amanda Katili Niode


Pendidikan sangatlah penting untuk membuka wawasan manusia

Pendidikan bukan hanya perkara menjadi juara kelas atau ranking satu. Banyak orang-orang hebat yang saya kenal saat awal pendidikannya adalah anak yang biasa-biasa saja. Namun mereka memiliki fokus yang kuat terhadap apa yang menjadi passion mereka sehingga melejit menjadi orang yang ahli di bidangnya.

Begitu juga dengan ibu Amanda. Sampai beliau lulus SMA nilai beliau biasa-biasa saja. Nilai tertinggi yang dimiliki adalah nilai Bahasa Inggris. Akan tetapi karena sejak kecil dikenalkan tentang bumi dan alam seisinya oleh sang ayah, Ibu Amanda pun memilih jurusan Biologi di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam di Institut Teknologi Bandung.

Ibu Amanda yang di masa kecilnya suka sekali menonton film dokumenter bawah laut karya petualang samudra dari Perancis, Jacques-Yves Cousteau pun begitu menikmati sebagai mahasiswa Departemen Biologi. Belajar tentang taksonomi , membahas nomenklatur binomial, sistem penamaan ilmiah untuk hewan dan tumbuhan. Ketika perjalanan lapangan di hutan tidak hanya memperkaya ilmu pengetahuan namun juga memperdalam apresiasi terhadap keanekaragaman hayati.

Setelah lulus S-1 dan menikah, Ibu Amanda sebenarnya tak memiliki ambisi untuk mengambil pendidikan S2. Akan tetapi karena dukungannya kepada sang suami yang ingin melanjutkan pendidikan S2 di Amerika Serikat beliau pun melanjutkan S2 nya di American University, College of Art and Science dengan Interdisciplinary Studies of Ecology & Environmental Management setelah mendapatkan beasiswa dari PT Tambang Timah karena pernah menjadi konsultan di perusahaan BUMN tersebut.

Setelah itu beliau pun mengambil pendidikan doktoral setelah melalui pertimbangan suami dan sang ibunda. Beliau pun menempuh pendidikan di School of Natural Resources University of Michigan Ann Harbour pada bidang Sumber Daya Alam dengan konsentrasi Managemen Perencanaan dan Kebijakan.

Dari studi yang beliau tempuh ini membuka berbagai jalan di dunia pendidikan. Apalagi saat itu ilmu lingkungan tak begitu populer. Beliau mengajar di berbagai universitas bahkan menjadi dosen tamu di luar negeri karena ilmu yang beliau miliki. Berinteraksi dengan manusia di berbagai belahan dunia membuat beliau makin menyadari bahwa pendidikan bukan sekadar tentang pengetahuan akan tetapi juga pemberdayaan belajar yang memungkinkan individu dan masyarakat untuk berubah dan bertindak secara efektif dalam menghadapi perubahan.

Bagi saya pribadi pendidikan sangatlah penting bagi keluarga. Saya pun mendorong anak-anak untuk belajar apa yang mereka sukai. Jika menemui kesulitan di tengah jalan itu adalah tantangan dan latihan untuk mencari solusi. Apakah yang mereka pelajari nantinya akan menjadi jalan mencari rezeki atau tidak itu tidak masalah bagi saya. Rezeki sudah ada yang mengatur. Jikalau dalam hidupnya mereka mau menempuh studi lanjutan, saya akan mendukung sekali, apalagi jika ilmu yang mereka miliki bisa ditularkan dan memiliki manfaat bagi orang lain seperti Ibu Amanda.  

Mengkomunikasikan pikiran dengan kata

Memoar Pegiat Harmoni Bumi


Komunikasi adalah cara manusia untuk menyampaikan informasi, ide dan berbagai pesan baik secara verbal maupun non verbal. Manusia menyampaikan pikirannya kepada orang lain saat ini melalui berbagai media. Begitu pula manusia berperan dalam mencintai bumi dan lingkungan.

Berbagai media tumbuh secara pesat. Bermacam platform bisa difungsikan untuk bergerak memberikan edukasi karena teknologi informasi yang berkembang begitu dahsyatnya. Tinggal memilih segmen mana yang akan menjadi sasaran dari informasi yang akan disampaikan.

Dalam Bab 7 Ibu Amanda membahas tentang bagaimana semua pihak bisa turut serta melakukan campaign tentang bumi dan lingkungan hidup secara masif lewat media sosial maupun aplikasi. Melalui twitter, instagram, facebook, tiktok, threads dan media sosial lain memungkinkan melakukan penyebaran informasi secara cepat dan luas. Sementara itu jika ingin memberikan informasi yang lebih mendalam bisa menggunakan blog maupun youtube. Webinar dan podcast dapat mencakup dunia dan memberikan materi yang lebih kompleks. Film dokumenter atau fiksi science bisa menjadi media bagi penonton global yang ingin menikmati informasi secara audio visual.

Buku bergambar, buku cerita, atau komik bisa menjadi media pembelajaran bagi anak-anak untuk mengenalkan alam, lingkungan dan bagaimana cara mencintainya. Melakukan pembelajaran dengan menggunakan bahan-bahan alam yang bisa didaur ulang pun menjadi langkah nyata edukasi bagi anak-anak dalam menyelaraskan bumi dan isinya.

Semua orang bisa berperan. Semua orang bisa terlibat bahkan gen alpha sekalipun. Meskipun butuh effort yang lebih di masa ini. Namun hal ini tetap memungkinkan bagi semua orang bertutur dengan pengetahuan yang dimiliki untuk perubahan.

Sebuah perubahan tidak ada yang instan. Siapapun bisa melakukan hal itu.

Lembar demi lembar buku ini menyadarkan saya bahwa bumi ini begitu kaya akan sumber daya. Semesta ini menyediakan semua yang dibutuhkan dengan beragamnya materi yang ada di dalamnya. Tempat tinggal kita, tanah yang kita pijak dan langit yang menjadi payung bagi kita penghuni bumi.

Menjaga bumi, menyelaraskan harmoni, sudah semestinya menjadi tugas kita sebagai penghuninya. Memulai langkah kecil, dari diri kita. Membiasakan diri untuk tak menyakiti bumi, menularkan pengetahuan yang kita miliki dan memberikan teladan pada anak cucu kita bagaimana seharusnya kita mencintai ciptaan Tuhan yang telah renta dan rusak oleh penghuninya sendiri.





Sabtu, 02 November 2024

Muhammad Nazri Syahputra : Sarjana Matematika yang Memilih Jalan Menjadi Petani Hidroponik di Sumatera Utara
Petani Hidroponik Sumatra Utara
cr: radioidola.com


Laki-laki muda itu menangkup kedua belah tangan ke wajahnya. Ia menyadari bahwa tak mungkin mempertahankan apa yang telah ia perjuangkan sejak lama untuk tetap berdiri. Tenaga, pikiran, tak terkecuali uangnya pun telah ia pertaruhkan mati-matian. Namun yang sudah ia pertaruhkan ternyata tak cukup untuk membuat hal itu menjadi sesuatu yang bisa ia banggakan. Ternyata yang ia rintis dengan keringat yang menetes deras cukup untuk pembelajaran.

Kepalanya penuh dengan tanda tanya. Dadanya pun pepat dengan kekecewaan. Ia merasa perlu mengambil jeda. Supaya ia bisa berpikir jernih untuk mengambil langkah. Untuk sebuah tempat yang bernama masa depan. Meski ia belum bisa membayangkan apalagi menemukan. Seperti apa bentuk masa depan yang akan menjadi pilihannya.

Setelah ia merasa cukup dengan kekecewaan karena kegagalan usaha yang ia rintis sejak lama. Ia menyadari bahwa tangannya tak cukup dingin saat mengelola travel dan wisata. Ia perlu waktu untuk sendiri. Laki-laki itu pun menata ranselnya. Dan seperti biasa ia berpetualang seperti backpacker lainnya.

Muhammad Nazri Syahputra namanya. Lulusan Pendidikan Matematika Universitas Sumatera Utara tahun 2011 ini memilih Pulau Jawa sebagai tujuannya. Diakui atau tidak, Pulau Jawa merupakan sentral dari perkembangan Indonesia. Berbagai tren pun muncul berasal dari Pulau Jawa.

Hobi backpackernya telah mengantarnya menuju cerita hidup yang tak pernah ia sangka. Pertemuannya dengan seseorang bernama Bambang Mustari Sadino membuat jalan hidupnya berbelok arah. Setelah beberapa kali menginjakkan kaki di beberapa kota. Pada akhirnya tangan Tuhan pun menuntunnya menginjakkan kaki di kota hujan untuk belajar sesuatu yang jauh dari pikirannya.

Emas Hijau di Tanah Jawa

Pertanian Hidroponik. Bagi seorang Nazri pertanian sungguh jauh dari jangkauan pemikirannya. Kecintaannya pada hobi backpacker membuatnya mencoba jatuh bangun dengan usaha travel dan wisata. Ia pun pernah bekerja menjadi trainee provider. Namun karena rasa keingintahuan yang begitu besar. Saat Bob Sadino, lelaki yang ia temui dalam sebuah acara merekomendasikan sebuah tempat untuk belajar pertanian di Bogor. Tanpa ragu Nazri pun mempelajari pertanian khususnya hidroponik.

Ia pun belajar bagaimana memilih tanaman yang cocok dibudidayakan tanpa tanah. Cukup dengan nutrisi dan mineral serta media air yang bisa membuat sebuah area pertanian ini bisa menggunakan sedikit air dibandingkan dengan pertanian konvensional. Membandingkan sistem hidroponik yang paling tepat dan mudah diaplikasikan misalnya sepanjang akar tanaman dialiri nutrisi dalam lapisan tipis, atau akar tanaman digantung di udara lantas disemprot dengan larutan nutrisi.

Ia jadi tahu bahwa dengan pertanian hidroponik bakal meminimalisir adanya hama dan penyakit yang timbul karena kondisi tanahnya. Pemeliharaan yang tepat seperti pemeriksaan pH secara berkala, kelembaban, kadar nutrisi serta memastikan tanaman hidroponik jika ingin sehat harus mendapatkan cahaya yang cukup.

Dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2014 ia memiliki pengalaman bagaimana petani hidroponik bisa meningkatkan produk pertanian dengan hasil terbaik dan waktu yang efisien. Saat dirasa cukup, ia pun kembali ke tanah kelahirannya. Lelaki asal Deli Serdang ini pun membawa ilmu baru yang ia rasakan akan memberikan banyak manfaat bagi orang-orang yang mau belajar bersamanya.

Memulai Menggali Emas Hijau di Tanah Kelahiran

Satu Indonesia Award

Saat kembali ke Sumatera Utara, ia melihat kondisi di sekitar Tanah Karo sedang porak poranda karena letusan Gunung Sinabung. Tanah masih penuh dengan pasir dan abu vulkanik. Tentunya hal ini meresahkan bagi para petani di Tanah Karo karena harus menunggu beberapa lama untuk memulihkan tanah setelah adanya letusan. Sementara itu ekonomi harus tetap berjalan.

Nazri mengumpulkan teman-temannya. Ia mencari orang-orang yang memiliki kesamaan frekuensi untuk membuat lembaga kecil sebagai relawan. Niat awalnya untuk coba-coba dulu, mengaplikasikan ilmu yang ia dapat selama berada di Bogor. Mereka pun menyebut diri mereka relawan karena mereka belum terpikir membuat sesuatu untuk bisnis.

Pemulihan korban gunung meletus membutuhkan waktu yang tak sebentar. Dimulai oleh trauma healing serta yang paling penting adalah pemulihan ekonomi sebagai tonggak berkehidupan. Nazri dan teman-teman pun ikut serta menjadi tim trauma healing juga di luar niat awalnya hendak memperkenalkan pertanian hidroponik bagi masyarakat korban letusan Gunung Sinabung. Ternyata masyarakat di sana pun menerima Nazri dan relawan lain dengan sangat baik. Respon masyarakat terhadap pertanian hidroponik mendapat antusiasme yang sangat bagus.

Respon yang bagus ini membuat Nazri pun semakin semangat untuk mengembangkan pertanian hidroponik di Sumatera Utara. Salah satu hal yang membuatnya memiliki tekad kuat adalah obrolannya dengan masyarakat di Tanah Karo saat pendampingan. Saat ditanya anak-anak mereka berada di mana, jawaban dari banyak masyarakat di sana adalah anak-anak mereka berada di luar negeri untuk menuntut ilmu. Itu artinya pertanian bisa menjadi lumbung pendapatan yang nggak bisa dianggap main-main. Biaya untuk menyekolahkan anak-anak di luar negeri tidaklah sedikit. Namun mereka yang notabene orang-orang yang hidup di perkampungan dan mengandalkan pertanian sebagai sumber penghasilan bisa kok membiayai anak-anak bersekolah di luar negeri. Itu artinya pertanian memiliki potensi yang sangat besar jika dikembangkan dengan sungguh-sungguh.

Niat Nazri pun kian menguat. Ia berjanji pada dirinya sendiri. Ia akan mengembangkan pertanian di tanah kelahirannya ini sampai ia menutup mata kelak. Setelah pendampingan, tahun 2016 – 2017 ia membentuk Komunitas Hidroponik Sumatra Utara untuk mewadahi para peminat pertanian hidroponik. Komunitas ini terbentuk untuk membantu pemasaran dari pemberdayaan masyarakat korban letusan Gunung Sinabung.

Semakin lama masyarakat pun makin melek pertanian hidroponik. Banyak orang yang ingin belajar dengan pertanian yang tak harus mengandalkan tanah sebagai medianya. Tak hanya kaum tua yang sebelumnya sudah paham akan pertanian. Namun para kaum muda yang ingin tahu pun semakin banyak.

Mendirikan Komunitas Hidroponik Sumatera Utara dan CV. Hidro Sinergi Utama

Optimisme yang terbangun saat pendampingan masyarakat korban letusan Gunung Sinabung ini pun semakin nyata. Banyak permintaan dari masyarakat yang datang untuk membuat pelatihan-pelatihan di seluruh penjuru Sumatera Utara. Melihat peluang bisnis yang makin besar Nazri pun mendirikan CV. Hidro Sinergi Utama sebagai payung bisnisnya.

Petani Muda
cr : media sosial Nazri Syahputra dan Hidro Sinergi Utama 

CV. Hidro Sinergi Utama didirikan oleh Nazri tidak hanya berfokus pada pengembangan bisnis pribadi. Sebuah perusahaan ketahanan mandiri yang diinginkan menjadi holding company. Ada beberapa produk yang dikembangkan oleh CV Hidro Sinergi Utama. Produk tersebut di antaranya adalah
  • Sehat Hidroponik yang merupakan produk-produk segar dari sayuran dan buah-buahan.
  • Paket peralatan dan perlengkapan pertanian hidroponik
  • Paket Pelatihan reguler
  • Pembuatan kebun hidroponik dan jasa konsultan bisnis hidroponik
  • Produk-produk olahan sayuran yang ditanam sendiri di Perkebunan pribadi.
Perusahaan ini pun masih secara rutin melakukan pelatihan-pelatihan setiap bulannya. Nazri tak ingin berkembang sendirian. Ia masih turun tangan untuk memberikan pelatihan-pelatihan ke berbagai kota di penjuru Sumatera Utara. Ada 200 petani-petani binaan yang menjadi rekanan bisnisnya untuk memasok sayur dan buah-buahan ke 30 kabupaten dan kota di penjuru Sumatera Utara. 200 petani ini tidak membudidayakan tanaman yang sama. Mereka menanam sesuai dengan permintaan CV. Hidro Sinergi Utama sebagai pemasar utama produk-produk hidroponik. 

Hidro Sinergi Utama
Media sosial dan channel youtube Nazri Syahputra dan CV Hidro Sinergi Utama

Hal ini membuat produk tidak over kapasitasnya. Tidak bakalan ada yang terbuang karena semua sudah sesuai dengan permintaan pasar. Pemasaran CV. Hidro Sinergi Utama terbagi menjadi dua yaitu pemasaran langsung dan tidak langsung. Pemasaran langsung meliputi konsumen langsung, restoran dan hotel. Sementara itu pemasaran tidak langsung ke distributor meliputi supermarket dan pasar tradisional.

Sampai saat ini bisnisnya makin berkembang. Ia pun mengembangkan bisnis hidroponiknya menjadi agrowisata dimana wisatawan yang datang bisa belajar dan praktek menanam tanaman hidroponik sekaligus mengolahnya. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap makanan sehat dan terjangkau oleh siapapun.

Nazri memiliki mimpi besar. Dalam roadmap bisnisnya ia memiliki target bagaimana CV Hidro Sinergi Utama menjadi holding company bagi 1000 UMKM sehingga menyerap tenaga kerja yang cukup besar terutama untuk kaum muda yang mau bertumbuh bersama. Ia ingin anak muda di Sumatera Utara memiliki jiwa bisnis yang kuat untuk membangun pertanian yang jauh lebih besar dari hari ini. Jangkauan jangka panjangnya produk-produk pertanian dari Sumatera Utara khususnya pertanian hidroponik bisa memiliki jaringan yang kuat di seluruh Indonesia.

Kegigihannya pun membawa hasil. Ia mendapatkan penghargaan Satu Indonesia Award 2023. Acara ini diadakan oleh PT. Astra International Tbk. Satu Indonesia Award merupakan wujud apreasiasi Astra untuk para generasi muda baik individu maupun kelompok yang memiliki kepeloporan dan melakukan perubahan untuk berbagi dengan masyarakat sekitarnya dalam bidang Kesehatan, Pendidikan, lingkungan, kewirausahaan dan teknologi serta satu kategori kelompok yang mewakili lima bidang tersebut. Tentu saja hal itu sangat ia syukuri. Mengetahui ia mendapatkan penghargaan tersebut ia pun membagikan berita bahagia tersebut ke berbagai pihak supaya siapapun yang menjadi stake holdernya selalu menjaga nyala api semangat untuk tetap gigih membangun pertanian di Sumatera Utara.

Bisnis pertanian ini adalah bisnis yang memiliki rantai kehidupan yang panjang dan lama. Selama manusia hidup dan membutuhkan makanan sehat maka bisnis pertanian akan tetap terus berjalan, tak ada matinya. Harapannya anak-anak muda tak meninggalkan sektor pertanian. Saat ini mayoritas pertanian dipegang oleh masyarakat usia 40 tahun ke atas. Tugasnya sebagai petani muda menyampaikan pemikiran dan berbagai gagasan dalam sektor pertanian untuk menjaga pertanian supaya terus berkembang. Sektor pangan akan menopang pangan di seluruh negeri. Siapa lagi yang akan berrgerak untuk ketahanan pangan masyarakat kalau bukan generasi muda saat ini.

Saat ia ditanya apa yang membuat Nazri jatuh cinta pada dunia pertanian. Ia merasa ada nilai yang tak dimiliki oleh bisnis lain. Ia mengibaratkan saat menanam satu benih maka ia telah menanam satu kebaikan. Benih yang ditanam tentunya dirawat sepenuh hati hingga masa panen tiba. Sayur dan buah-buahan yang berkualitas jika dikonsumsi oleh manusia maka manusiapun akan mendapatkan manfaat dari apa yang masuk ke dalam tubuh mereka yaitu kesehatan. Sebuah kebaikan yang akan menjadi mata rantai untuk kebaikan yang lain.

Semoga kebaikan-kebaikan yang engkau semai memberikan banyak kebaikan baik di dunia maupun di akhirat ya, Nazri. Semangat berkarya, anak muda!

Referensi :

Podcast Muhammad Nazri Syahputra di Radio Idola Semarang

Channel Youtube CV Hidro Sinergi Utama (@hidrosinergiutama5124)

Channel Youtube Nazri Syahputra (@nazrisyahputra3116)

Media Sosial Muhammad Nazri Syahputra (Instagram: @nazri_hidrosinergiutama

Media Sosial Hidro Sinergi Utama (Instagram : @jualhidroponikmurah)

Diana Sari (2022) Abstrak Skripsi dengan judul “ Analisis Usaha Tani dan Pemasaran Sayuran Hidroponik (Studi Kasus : CV Hidro Sinergi Utama, Pasar 1 Tembung, Tambah Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang)

Mhd. Ariangga dan Priandani P (2020) Laporan Praktek Kerja Lapangan CV Hidro Sinergi Utama, Mengenal Tanaman Hidroponik, Teknik Budi Daya, Pembuatan Instalasi serta Pemasarannya di CV Hidro Sinergi Utama

Rabu, 15 Juni 2022

Berproses dan Berdaya bersama Ibu-ibu Doyan Nulis Wilayah Jogja
Ibu Ibu Doyan Nulis


Sejak kanak-kanak aku memiliki trust issue terhadap kaumku sendiri. Mengalami bullying sejak SD oleh kaumku sendiri membuatku tak memiliki teman perempuan. Aku lebih nyaman berteman dengan laki-laki. Belajar kelompok pun aku perempuan sendiri. Ternyata hal itu mempengaruhi mindsetku tentang perempuan. Di tambah Bapak yang menginginkan anak mbarepnya laki-laki memberiku tanggung jawab di rumah pekerjaan yang sering dilakukan oleh laki-laki. Bapak pun selalu memintaku berambut pendek dan memakai celana panjang. Beliau tak begitu suka aku memakai rok. Namun saat aku mulai kuliah, Bapak membiarkanku mulai memakai rok.

Aku menjadi begitu canggung berada di lingkungan perempuan. Hanya satu dua perempuan yang membuat nyaman yang pada akhirnya menjadikan mereka teman-teman terdekat. Dan itu ternyata berlanjut sampai dunia kerja. Aku bekerja di lingkungan yang lebih banyak laki-lakinya. Sialnya lagi, perempuan yang sekantor denganku sering membuatku nampak buruk di kantor pusat walaupun atasanku langsung tahu atas kinerjaku.

Tuntutan setelah menikah untuk bersosialisasi membuatku makin menjaga jarak dengan perempuan. Hidup di kampung membuatku serba canggung apalagi ada beberapa kejadian yang membuatku sungguh tak nyaman. Hingga kemudian datanglah segala media sosial yang datang susul menyusul. Dan aku lebih menyukai berinteraksi di media sosial. Dari media sosial aku pun menemukan dunia baru tentang perempuan.



Berproses dalam berkarya bersama Ibu-Ibu Doyan Nulis


Bermula dari minatku pada dunia kepenulisan. Salah seorang kerabat adalah penulis buku bacaan anak. Ia memberiku semangat untuk mengembangkan apa yang menjadi minatku. Tahun 2009 atau 2010. Saat aku mengunjungi mertuaku di Semarang sedikit paksaan ia memintaku datang ke rumahnya. Bertemu dengan orang-orang baru. Mereka yang memiliki minat yang sama denganku.

Bertemu dengan Mbak Dian Kristiani. Berkenalan dengan Dedew yang aku sendiri nggak tahu bahwa ia penulis buku best seller Anak Kos Dodol. Ngobrol dengan Mbak Dian Nafi yang sudah menulis berbagai judul novel. Bersalaman dengan Mbak Archa, Mbak Wati, juga Wuri yang saat itu masih menjadi newbie.

Pertemuan pertama membuat aku insecure, namun lebih bersemangat. Mereka mampu mengubah perspektifku terhadap perempuan. Aku yang awalnya memandang rendah kaumku sendiri. Meremehkan perkumpulan yang beranggotakan perempuan. Bersama mereka, Aku pun mulai bertumbuh. Aku menemukan sebuah komunitas perempuan yang benar-benar baru dan membuatku memiliki keinginan.

Aku memulai semangat belajar menulis dengan berbagai genre. Merasa kurang karena tak bisa setiap saat datang ke Semarang aku pun mencari info tentang IIDN Jogja. Beberapa kali mereka mengadakan pertemuan aku belum bisa mengikuti. Sampai kemudian akhir 2013 sebuah pertemuan di rumah Mbak Astuti Rahayu, ketua IIDN Jogja. Aku mulai bergabung. Bertemu dengan perempuan-perempuan berbagai profesi. Namun masih menyempatkan diri untuk bergerak bersama di bidang literasi.



Berproses, Berkarya, dan Berdaya bersama IIDN Jogja

Komunitas Penulis Ibu Ibu Doyan Nulis Jogja
Pertama kali gabung di IIDN Jogja akhir tahun 2013


Mengenal mereka membuatku begitu kagum. Buatku ini adalah sesuatu yang baru di mana sebelumnya aku tak memiliki lingkungan se positif ini. penghargaanku makin tinggi saat mereka yang telah memiliki karya merangkul yang masih benar-benar baru nyemplung. Berkumpul saling menukar wawasan. Saling menyemangati dalam berkarya. Memiliki semangat yang sama.

Mengenal Ety yang lulusan Teknik Kimia UGM namun tulisannya begitu menyentuh. Mbak Indah, sang peneliti di Departemen Kehutanan yang gigih melanjutkan S-3, Mbak Titin yang penuh semangat meskipun masih ngantor di Taman Nasional Gunung Merapi. Liya anggota paling muda namun senengnya luar biasa kalau ngumpul sama kami yang jauh lebih tua. Nggak bisa disebutin satu persatu bagaimana saya memotret anggota IIDN saat itu.

Namanya memang Ibu-Ibu Doyan Nulis. Namun siapapun yang belum menikah tetap boleh bergabung. Yang penting satu, perempuan. Kami yang berada di Jogja ini secara berkala mengadakan pertemuan. Sebulan sekali kami mengundang pemateri. Tak hanya pemateri dari dalam komunitas, namun kami juga mengundang pemateri dari mereka yang sudah mumpuni dalam hal tulis menulis. Jika ada penulis yang sudah senior datang ke Jogja, Kami meminta kesediaan untuk mengisi materi. Mbak Achi TM, penulis skenario film Insya Allah Sah saat datang ke Jogja langsung kami ajak untuk mengisi kopdar meskipun dadakan. Atau bekerja sama dengan komunitas penulis lain seperti Penulis Bacaan Anak. Kami bareng-bareng membuat event ketika mbak Ary Nilandari ada acara ke Jogja dan meluangkan waktu untuk megisi materi tentang menulis cerita anak.

Komunitas Penulis Ibu Ibu Doyan Nulis dan Penulis Bacaan Anak

Meski merupakan komunitas penulis, kami tak hanya belajar yang terkait dengan dunia tulis menulis saja. Namun kami juga banyak belajar tentang hal-hal yang berhubungan dengan perempuan. Pernah kami belajar membuat bros yang terbuat dari tembaga. Kami belajar dari Mbak Meta, pemilik Uparengga Galery. Atau kami belajar tentang budaya Jepang. Beberapa anggota IIDN yang pernah melanjutkan kependidikan di Jepang pun memberikan informasi. Tak lupa kami belajar membuat sushi dan memakai yukata, pakaian adat Jepang yang dipinjam dari pusat kebudayaan Jepang di Jogja. Kebetulan Mbak Dede waktu itu masih aktif sebagai guru Bahasa Jepang di sebuah SMA di Jogja. Sehingga memiliki akses untuk peminjaman berbagai macam peralatan di sana.

Belajar Budaya Jepang di Komunitas Penulis



Berkarya bersama IIDN Jogja


Di tahun 2014, Mbak Astuti Rahayu semakin sibuk. Sejak menjadi kepala sekolah di sebuah SMA terpadu di Jogja Barat membuat beliau semakin sulit membagi waktu dan pikiran. Di bulan Agustus 2014, di rumah Mbak Miftah, kami pun mengadakan pemilihan untuk pergantian pengurus IIDN Jogja. Pemilihan secara voting itu membawaku menggantikan Mbak Astuti Rahayu.

Bukan satu hal yang mudah buatku yang masih begitu baru memasuki dunia kepenulisan. Saat itu aku baru memiliki karya antologi yang jumlahnya tak seberapa. Namun teman-teman mempercayakan tongkat estafet itu. Mau tak mau aku harus lebih meng-upgrade diriku supaya teman-teman pun makin semangat berliterasi.

Di tahun itu novel pertamaku terbit lantas disusul oleh novel kedua. Dalam kopdar-kopdar yang kami adakan selain berbicara tentang materi kami juga sering mengundang penerbit menjajagi kemungkinan bekerja sama. Beberapa anggota IIDN Jogja sukses bekerjasama dengan penerbit-penerbit yang berada di Jogja.

Salah satu keberhasilan bagi IIDN Jogja adalah kami mendapatkan proyek menulis buku untuk sebuah penerbit mayor. Buku Inspirasi Nama Bayi Islami Terpopuler yang kami garap sekitar dua bulan akhirnya terbit di Gradien Mediatama, sebuah penerbit di bawah bendera Agro Group pada bulan Juni 2015.
Buku Pertama karya IIDN Jogja
Buku Karya pertama IIDN Jogja


Yang bikin teman-teman makin bersemangat waktu itu buku kami tertangkap kamera oleh salah satu program televisi yang ratingnya tinggi. Janji suci dimana Raffi Ahmad dan Nagita Slavina saat itu sedang hamil anak pertama dan mencari nama untuk anak mereka. Nggak disangka yang diambil dan nongol di tayangan tersebut adalah buku karya kami.

Buku Karya KOmunitas Perempuan


Lantas di tahun 2016 kami mendapatkan proyek dari penerbit lain untuk buku kesehatan, semacam tips kesehatan untuk anak-anak saat di rumah. Jika di Gradien Mediatama kami mendapatkan royalti, namun untuk proyek buku kesehatan ini kami jalani dengan sistem beli putus. Sayangnya buku itu tak sempat terbit meski naskah tersebut sudah dibayar penuh. Perubahan di managemen penerbitan tersebut ternyata mengubah berbagai kebijakan. Dan naskah kami ternyata mendapatkan imbasnya.

Karya kami yang ketiga adalah sebuah antologi. Antologi ini diaudisikan Desember 2017. Aku dan Ety, PJ dari antologi ini sudah merencanakan untuk terbit di tahun 2018. Sudah kami tawarkan ke beberapa penerbit mayor dan disambut dengan baik. Sayangnya waktu itu semangat kami sedang naik turun. Naskah yang sedianya akan terbit jika mencapai 100 halaman A4 terkendala. Dan naskah pun mangkrak begitu saja. Sungguh satu hal yang kami sesali bahwa kesempatan tak pernah datang untuk kedua kali.

Pandemi akhirnya menjadikan semangat berkarya hidup lagi. Naskah mangkrak itu kami poles di sana sini. Aku dan Ety membuka audisi kembali. Di tahun 2021 tercapai sudah target jumlah halaman supaya naskah itu bisa terbit. Bersyukurnya kami, dengan keterbatasan yang kami miliki, kami bisa menerbitkan sendiri karya kami.

Antologi Karya Ibu Ibu Doyan Nulis Jogja


Meski secara nominal begitu jauh yang dihasilkan dari royalti yang kami terima di buku pertama. Namun di antologi “Tuhan, Ternyata Kehilangan Itu Sesakit Ini” kami benar-benar mengurus semuanya sendiri. Dibantu oleh Mbak Oky, anggota IIDN Jogja yang lain kami melakukan self publishing. Kepuasan yang kami hasilkan pun lebih pada proses, bukan pada hasil. Dan kami, IIDN Jogja sungguh bersyukur dengan apa yang telah kami lakukan.



Berdaya bersama IIDN Jogja

Mulai tahun 2015, kami pun mendapat kepercayaan dari Perpustakaan Kota Jogjakarta menjadi partner dalam berbagai kegiatan yang diadakan oleh Perpustakaan Kota Jogjakarta. Sering kali kami mendapatkan undangan untuk mengisi kegiatan di sana. mulai dari menjadi narasumber yang terkait dengan tulis menulis, pemberdayaan perempuan maupun UMKM, atau menjadi juri dari lomba yang diadakan di sana.

Beberapa kali aku sempat diminta mengisi acara maupun menjadi juri dalam sebuah perlombaan. Terakhir bulan Maret lalu IIDN Jogja mendapatkan undangan menjadi narasumber tentang UMKM. Harusnya mbak Deassy M. Destiani, penulis, penggiat PAUD serta pengusaha UMKM sebagai narasumbernya. Qodarullah, sehari sebelum acara mbak Deassy harus melakukan tindakan medis. Sehingga secara dadakan akupun menggantikan mbak Deassy meski belum persiapan sama sekali.

Tak hanya dengan Perpustakaan Kota Jogjakarta. Kami pun sempat mengisi acara di panggung Jogja Islamic Fashion. Tema yang kami bawakan saat itu adalah bagaimana perempuan memaksimalkan waktu dan potensi untuk berkarya dari rumah. Merealisasikan yang riuh di WA group menjadi satu hal yang bermakna dan tentu saja memberikan manfaat untuk perempuan lain.

Komunitas Perempuan Ibu Ibu Doyan Nulis Jogja
Beberapa kegiatan IIDN Jogja diminta menjadi narasumber



Keunikan di IIDN Jogja

Ada yang khas IIDN Jogja banget. Kami jarang sekali mengadakan pertemuan di rumah makan atau cafe. Kami lebih nyaman mengadakan pertemuan dari rumah ke rumah. Ribet memang, namun kami begitu senang melakukan itu.

Khasnya kami adalah potluck. Setiap kali ada pertemuan salah satu yang ditunggu adalah banyaknya potluck. Terkadang yang tak sempat datang mengirimkan potluck ke rumah yang menjadi venue dari kopdar kami. Mulai dari makanan kecil hingga lauk dan sayur. Si tuan rumah tinggal menggelar tikar, menyiapkan nasi dan air minum. Yang tersaji di depan kami bisa jadi lebih banyak dari yang datang hari itu.

Namanya juga ibu-ibu. Pastilah kepikiran rumah. Nah begitulah kami, setiap kali ada kopdar yang kami bawa pulang akan jauh lebih banyak daripada yang kami bawa saat datang. Bisa banget untuk dua kali waktu makan. Kebayang kan berapa banyak bawaan kami saat sampai rumah?

IIDN itu bukan hanya Ibu-Ibu Doyan Nulis. Bisa jadi Ibu-Ibu Doyan Ngemil, Doyan Ngumpul, Doyan Ndlosor, Doyan Ngecipris, dan dedoyanan yang lain. Grup WA yang tadinya digunakan untuk koordinasi saat hendak kopdar berubah menjadi yellow pages dan wahana diskusi. Belum lagi jika berangkat kopdar kesasar. Ada di antara kami yang sering banget nyasar. Misalnya ancer-ancer tempat adalah Pasar Godean, tau-tau dia meluncur ke Pasar Gamping. Kan ya jauh banget.

Di luar kopdar-kopdar resmi sebulan sekali saat itu kami juga sering sharing. Misalnya saat salah satu di antara kami memiliki problem tentang kepengasuhan anak, IIDN Jogja punya tempat untuk berkonsultasi. Mbak Miftahul Jannah, seorang psikolog menjadi rujukan kami untuk mengurai berbagai permasalahan yang terkait dengan anak. Kami yang memiliki permasalahan yang sejenis bisa saja berkumpul ke rumah Mbak Miftah untuk ngobrol dan mencari solusi. Tak hanya yang berurusan dengan dunia saja. Namun tentang akhirat pun sering kali muncul dalam obrolan kami yang super random.



Ulang Tahun IIDN

Kami sempat terlupa kapan terakhir kali IIDN mengadakan kopdar sebelum pandemi. IIDN Jogja sempat hibernasi dalam jangka waktu yang lama. Sekian tahun berjalan begitu aktif untuk belajar membuat kami jenuh. Takdir membawa kami bersimpangan jalan. Menemukan berbagai kebahagiaan di luar dunia kepenulisan.

Kegiatannya memang vakum. Namun tidak dengan kekeluargaan kami. Grup WA kami tetap aktif sebagai tempat untuk bertanya maupun berdiskusi. Setiap kali ada yang sakit atau tertimpa musibah secepatnya kami pun melakukan open donasi. Namun begitu jarang kami membuka hal itu di sosial media. Paling tidak gambar yang kami bagi terbatas hanya di WAG saja.

Dua tahun pandemi ternyata memenuhi tangki kerinduan kami. Bertepatan dengan bulan syawal dan ulang tahun IIDN, kami pun menyempatkan diri untuk berkumpul mengurai rindu. Setelah pertemuan pertama saat pandemi di tempat Mak Enggar, pertemuan kedua ini ternyata membangkitkan semangat baru. Di Pondok Cabe Jalan Simanjuntak 28 Mei 2022 yang lalu kembali kami hadir dan memiliki keinginan untuk kembali berkarya. Merencanakan sesuatu dan ini semua begitu membahagiakan buatku.

Komunitas Perempuan


Delapan tahun menahkodai IIDN Jogja. Sejujurnya sangat ingin adanya pergantian nahkoda supaya ide-ide baru bermunculan dan IIDN Jogja makin berkembang ke depannya. Namun mereka ternyata masih nyaman dengan keadaan yang sudah berjalan sewindu ini. IIDN Jogja bukan lagi sebuah komunitas penulis melainkan sebuah keluarga baru. Keluarga yang berdaya dan memberdayakan. Dinamika kelompok yang terjadi selama satu dasa warsa ini ternyata makin mempererat kekeluargaan di antara kami. Friksi friksi kecil biasalah. Namanya juga komunitas. Iya kan?

Salah satu hal yang aku syukuri. Menemukan komunitas perempuan yang tepat tak hanya untuk berkarya dan mengembangkan diri saja. Akan tetapi bisa bermanfaat untuk orang lain. Alhamdulillah ...

Selamat Ulang Tahun yang ke 12 IIDN. Semoga masih ada dua belas tahun dua belas tahun selanjutnya untuk berkarya dan bermanfaat bagi perempuan-perempuan di Indonesia.

Selasa, 09 Februari 2021

1000 hari untuk selamanya





Ia melangkah mendekati nisan itu. Tangan kanannya membawa sebuah mini red velvet cake dengan beberapa lilin yang menyala di atasnya. Sebuah mawar putih tergenggam di tangan kirinya. Sebelum ia letakkan mawar itu di atas nisan, ia mendekatkan mawar itu ke hidungnya. 

Ia menghela napas. Kemudian berjongkok. Sejenak ia memejamkan mata. Ia menggigit bibirnya, menahan air yang hendak tumpah dari matanya.

“I hate you ...,” bisiknya sambil menatap nama yang tertera di nisan itu. Lalu ia meletakkan kue kecilnya. 

“But I miss you so much.”

Suaranya makin memelan. 
Angin sepoi meniup bunga kamboja yang berada di dekat gadis itu. 


Sehelai daun kamboja jatuh di kepalanya. Menyadarkan bahwa ia tak hanya ingin berkunjung saja.

"Kamu baik kan? Awas kalau kamu sedih di sana. Kan kamu sudah nggak sakit. Kamu sudah bahagia sama Allah. Bisa nggak bilang ke Mama supaya nggak worried lagi sama kamu?"

Matanya memburam. Ia mengatupkan rahangnya. Mencoba bertahan untuk tidak mengeluarkan air mata.

Kamu sudah pergi, Kak. Tapi kenapa kamu masih aja ngambil kasih sayang Mama semuanya? Nggak nyisain dikit aja buatku. Di pikiran dan hati Mama cuma ada kamu."

Dadanya pepat. Isak tak mampu lagi di tahan. Ia membiarkan air matanya luruh. Sampai seseorang yang melangkah dari kejauhan mendekat pun ia tak menyadari. Seseorang yang lantas berdiri tak jauh darinya. 

"Seribu hari. Hampir tiga tahun kepergianmu. Sampai umurku tujuh belas tahun hari ini. Aku tak pernah ada dalam kepala Mama. Padahal aku yang masih bernapas. Aku yang masih butuh cinta Mama. Mungkin, Mama akan mencintaiku kalau aku hanya butuh doa sepertimu, Kak."

Suaranya melirih. Meski sudah tak ada lagi yang menyumbat kerongkongannya. 

"Ayo Kak, ucapin Happy Birthday buatku. Kayak dulu-dulu. Jangan sok lupa kalau hari ini umurku udah 17. Udah kubawain kue nih, supaya kita tiup barengan."

Ia menyalakan lilin yang tadi sudah padam. Menyanyi dengan lirih. Memberikan ucapan selamat pada diri sendiri. Lantas meniupnya. 

"Udah ah, aku pulang. Di rumah ada acara 1000 hari kepergianmu. Nggak enak kalau aku telat sampai rumah. Sejujurnya, aku benci harus selalu berkala mengingatmu sudah pergi. Menyakitkan, sudah selama ini Mama tak menganggapku ada. Jangankan ulang tahunku, sekadar membangunkanku tidur pun tidak."

Ia berkemas. Kemudian berbalik hendak melangkah. Namun langkahnya terhenti. Melihat seseorang berdiri menatapnya sendu. 

Hatinya menghangat. Ingin rasanya menghambur ke dalam pelukan sosok perempuan yang menatapnya dengan berkaca-kaca. Sejenak saja keinginan itu hadir. Lantas ia mulai melangkah kembali. Meskipun kakinya seperti dijerat tali.

"Kia ..."

Langkahnya terhenti. 

"Tunggu Mama ya? Kita pulang sama-sama. Mama akan menyapa Kakak dulu."

Kembali napasnya menyesak. Ia merasa bahwa ia bukanlah pilihan. Ia membalikkan badannya.

"Kia pulang duluan aja."

Mama pun lantas membalik dan berjongkok di depan nisan kakak Kia. Membuat hati Kia semakin perih. Ia begitu ingin Mama menahan langkahnya. Namun harapan memang tak pernah berbanding lurus dengan kenyataan. Benar ucapnya tadi. Ia akan dicinta saat Mama hanya bisa berdoa. 

Ia kembali melangkah. Meninggalkan Mama yang khusuk berdoa. Air matanya meleleh satu-satu. Matanya pun memburam. Saat Kia hendak menyeberang jalan, sebuah mobil berjalan zig zag menuju ke arahnya. Ia terbelalak.

Brraaakkkk!

Benturan keras memekakkan telinga di sekitar area pemakaman itu. Mama terlonjak. Jantungnya berdebar keras.

Kia!

Mama berlari dan meraung.

"Kiaaaaaaa!"

Jantungnya makin berdebum melihat kerumunan orang di luar area pemakaman. Matanya sudah berkunang-kunang melihat sebuah mobil menabrak pohon di pinggir jalan. Semakin dekat. Semakin tak berjarak.

"Kiaaaaaaaaaa!"

Gadis itu terduduk hanya dua meter dari pohon yang dahannya patah karena tertabrak. Wajahnya pucat pasi. 

Mama pun jatuh terduduk dengan air mata berderai. Dengan sisa tenaganya ia bersujud. Mengucap syukur.

***


Rumah kembali sepi. Acara 1000 hari kepergian Leon telah berlalu. Setelah ini takkan ada lagi ritual mengingat Leon. Takkan ada lagi kesibukan menyiapkan segala hal berbau Leon. Semuanya tertinggal di hati. 

"Waktuku untuk move on," bisik perempuan usia empat puluhan tahun itu sambil mengelus foto Leon yang terpampang di dinding. Foto yang takkan berganti-ganti karena takkan ada lagi kesempatan memasang foto Leon yang makin dewasa. 

"Harusnya sudah sejak lama kamu move on, Ma." 

Mama menoleh, kemudian berjalan mendekati Papa. Dengan lembut Papa menggandeng tangan Mama. Lantas diajaknya Mama masuk ke kamar. 

"Aku pernah bilang, jangan memaksaku melupakan Leon, kan?" 

Papa tersenyum, lantas menyentuh pipi Mama pelan.

"Tak ada yang melupakan Leon. Kamu, aku ataupun Kia. Aku cuma mengingatkan. Ada Kia yang harusnya mendapatkan cinta kita penuh-penuh."

"Kia pasti paham kenapa aku begitu mencintai kakaknya."

"Ia paham kamu begitu mencintai Leon. Yang ia tak paham adalah obsesimu terhadap kenangan."

Mama menatap Papa tak suka. 

"Aku nggak pernah terobsesi terhadap apapun."

"Lalu apa namanya kalau setiap hari kamu selalu membicarakannya tak kenal waktu. Yang kamu bicarakan itu sudah nggak bernapas lagi, Ma. Harusnya kita lebih memikirkan nyawa lain yang kering dari perhatian kita."

Mata Mama memerah. Kedua tangannya mengepal erat.

"Yang sudah nggak bernapas itu pergi karena menyelamatkan nyawa lain itu, Pa!"

Mama setengah berteriak. Napasnya tersegal-segal menahan rasa sakit di dada.

Papa menghela napas. Ia berusaha memeluk, namun lengannya ditepis kasar oleh Mama.

"Jangan lupa, Ma. Kia sampai sekarang tak bisa mengingat hal itu. Ia juga mengalami trauma. Benturan di kepalanya membuat sebagian memorinya hilang. Ia takkan pernah ingat bagaimana Leon bisa tertabrak motor karena menyelamatkan Kia. Yang ia ingat hanya Leon melambaikan tangannya dan tersenyum. Ia tak ingat setelah itu ia hendak menyeberang jalan. Ia tak pernah tahu ada motor ngebut yang mendekatinya lalu Leon berlari menyelamatkannya."

Yang bertahun-tahun ingin dilupakan dihadirkan kembali oleh suaminya. Anak lelaki kebanggaannya. Yang selalu berprestasi di sekolahnya. Lelaki yang mulai mendewasa. Yang santun dan lembut mewarisi sifat ayahnya. Anak muda yang dikagumi oleh banyak lawan jenisnya. Si penyayang yang tercinta. Yang tak pernah disangka diambil paksa oleh Sang Pencipta. 

Mama tersedu. Inginnya meraung mendengar kata-kata Papa. Inginnya Mama Leon tetap hidup di rumah ini. Leon hanya pergi sebentar. Ada kegiatan OSIS atau sedang bermain basket. Leon sedang di kamarnya, lagi nggak mau diganggu. Leon sedang belajar. Leon sedang ...

Mama tak ingin kehilangan Leon. Menghadirkan Leon di rumah ini sejatinya hanya menutup lukanya karena pernah menganggap Kialah penyebab Leon pergi. Menghadirkan milyaran cinta untuk Leon di permukaan sebenarnya hanya untuk mengikis kebencian yang timbul karena Leon mengorbankan diri sendiri. 

Leon berkorban untuk adik kecilnya. Adik yang juga lahir dari rahim yang sama. Adik yang didambakan semua orang di keluarga besar. Yang kelahirannya ditunggu banyak orang karena memiliki predikat sebagai cucu perempuan satu-satunya. 

Kia ...

Sebelumnya menjadi tumpahan kasih sayang banyak orang. Setiap tahun selalu merayakan ulang tahunnya dengan berbagai hadiah serta dikelilingi orang-orang tercinta. Terakhir kalinya ia berulang tahun dipenuhi peluk dan cium adalah ulang tahunnya yang ke 14. Ketika semua orang berbahagia. Saat Mama belum terluka seperti hari ini.

Mengingat Kia membuat Mama tergugu. Sejujurnya kejadian tadi siang cukup memukul perasaannya. Betapa ia pun takut kehilangan Kia. Seperti tulang-tulangnya terlepas dari tubuh ketika mendengar suara tabrakan yang demikian keras. Napasnya sedemikian sesak karena takut kehilangan yang kedua kalinya. Sesal mulai beterbangan di kepala, mengingat kata-kata Kia yang terucap di depan nisan Leon. 

Benarkah Leon telah merampas seluruh cinta Mama? Tak ada sedikitpun yang tersisa untuk Kia? Benarkah cintanya pada Kia akan muncul saat Mama hanya bisa mendoakan saja? Apakah Mama akan menunggu cinta datang saat sudah tak mampu lagi mendekap?

Mama menggelengkan kepalanya. Benar kata Papa. Ada hati lain yang menunggu cinta. Hati lain yang begitu terluka karena diabaikan sedemikian lama. 


Tuhan ...

Jangan sampai cahaya di hatinya redup karena kesalahanku, batin Mama. 

***


Mata Kia sulit terpejam. Meski jam di dinding sudah menunjukkan pukul 02.00. Tetap saja kantuk tak segera menyapa. 

Ia masih mengingat Mama. Ekspresi Mama, kekhawatiran Mama. Meski ditunjukkan tak lama. Namun cukup membuat hatinya menghangat.

Ada percikan kasih di mata Mama. Sujud syukur disertai air mata yang meleleh saat mengetahui Kia baik baik saja cukup membuat Kia merasa. Ada harapan yang tersemai untuknya. Mendapatkan cinta yang selama ini ia anggap diambil habis oleh Kak Leon. 

Tertatihnya Mama saat berjalan mendekatinya. Dekapan erat Mama sehingga Kia pun merasakan degup jantung Mama. 

Dalam diam Kia menikmati napas Mama di kepalanya. Mensyukuri basah rambutnya karena air mata Mama. Rasanya ingin membiarkan pipinya tetap memerah karena bekas lipstik Mama. Kia makin memahami. Mama hanya butuh diberi waktu. Membiarkan Mama melepaskan Kak Leon dengan keikhlasan tanpa paksaan. 

Mama ...
Maafkan Kia ...

Ingin rasanya menghambur dalam pelukan Mama. Namun Kia tahu. Ia harus bersabar menunggu datangnya matahari. Mama pasti lelah mengurus sendiri acara 1000 hari kepergian Kak Leon. 

Tiba-tiba saja Kia memiliki rasa rindu. Untuk perempuan yang melahirkannya. Untuk perempuan yang 1000 hari ini telah terluka. Sayangnya tak ada foto Mama di kamarnya. Ia harus ke ruang keluarga untuk menatap wajah Mama. 

Namun Kia juga khawatir. Apakah rindunya akan disambut Mama. Apakah rindunya tak melukai jika besok kenyataannya tak seindah harapan? 

Kia tak ingin berandai-andai. Biarlah, jika harapannya harus tetap membumbung tinggi. Yang terpenting baginya, Kia akan memberikan waktu sebanyak yang Mama mau. 

Pelan-pelan ia keluar dari kamarnya lalu berjalan ke ruang keluarga. Tiba-tiba darahnya tersirap. Mama sedang berdiri menatap foto keluarga. 

"Kia ..."

Kia tak jadi melangkah pergi saat ia sudah membalikkan badannya. Dalam temaram lampu, ia melihat wajah kelelahan Mama dengan jelas. Mata sembab Mama tak mampu ditutupi. 

Mama melangkah mendekati Kia. Membelai rambut Kia sekilas, kemudian menatap Kia lekat-lekat sampai Kia pun jengah dibuatnya.

"Mama apaan sih?"

Mama tertawa. Sejurus kemudian mulut Mama terkatup rapat. Hidung Mama tiba-tiba memerah. Mata Mama pun berkaca-kaca. 

"Kak Leon tak pernah merampas habis cinta Mama, Ki. Mama yang tak bisa memaruh cinta Mama dengan baik."

Mama terisak. Kia masih saja mematung di depan Mama. Kia tak kuasa untuk bergerak. 

"Maafkan Mama, Ki. Mulai hari ini. Kita saling menyembuhkan luka ya?"

Sebelum Mama menyelesaikan kalimatnya, Kia sudah menghambur. Ia tak perlu memberikan Mama banyak waktu. 1000 hari sudah cukup bagi Mama. Untuk selamanya memberi cinta untuk Kia. 

"Selamat Ulang Tahun ya, Ki. Kamu pengen kado apa?"
Sejenak Mama melepas pelukan. 

Kia menatap Mama, lalu menggeleng. Kembali ia mengetatkan pelukan.

Kia tak ingin kado apapun di ulang tahunnya kali ini. Hadiah yang tak ternilai baru saja ia dapatkan dari Mama.

***

Jumat, 23 Oktober 2020

Grand Launching Antologi Pulih


Assalamualaikum temans, 
Setiap orang memiliki luka dalam dirinya. Luka yang terkadang memang disimpan diam-diam. Luka yang tak ingin diketahui siapapun. Luka yang diharapkan menutup seiringnya waktu. 

Namun ada pula luka yang semakin lama menyesakkan hati. Semakin diharapkan sembuh namun yang terjadi sebaliknya. Semakin hari terasa perihnya. Seperti luka menganga yang ditabur garam. 

Terkadang, di posisi seperti itu harus memasang topeng bahwa semuanya baik-baik saja. Harus menyembunyikan tangis dibalik senyum dan tawa. Pura-pura baik-baik saja sementara lubang di hati makin membesar. Seolah-olah menjadi manusia tiada tanding sementara kenyataannya makin merapuh. 

Saat yang terasa sesak itu seperti hendak meledak. Pada akhirnya butuh tempat untuk mengalirkan perasaan. Berharap pertahanan diri tak melebur. Bendungan dalam diri tak jebol karena rasa sakit yang semakin mendesak untuk diuraikan. 

Manusia, siapapun dia harus sehat jiwa dan raga. Supaya tak hanya 'tampaknya' baik-baik saja. Jika memang sudah merasakan bahwa jiwanya butuh penyembuh. Maka segeralah mencari penawar bagi luka hati yang masih terbuka. 

Pilihan ada di tangan masing-masing manusia bagaimana cara memulihkan hati. Bagaimana seseorang berproses dalam memperbaiki kepingan hati yang terserak. Bisa jadi takkan sama. Takkan menjadi seutuhnya seperti di masa lampau. Namun semua itu memang harus dilalui. 

Latar Belakang Penulisan Antologi Pulih 


Ada banyak cara untuk menyembuhkan luka hati. Salah satunya adalah menulis. Alm BJ Habibie saat kehilangan istrinya pun menulis sebagai katarsis dari lukanya. Saat kehilangan Ibuk saya pun menulis untuk menghilangkan sesak dan penyesalan meski tak seratus persen mampu menyembuhkan. Selalu saja ada luka tertinggal yang hanya bisa diobati dengan waktu. Namun setidaknya beban berat itu dapat diletakkan di satu tempat meski tak sepenuhnya dilepaskan. 

Memang ada banyak cara memulihkan ruang hati. Namun dengan menulis kita tak hanya melepaskan kesedihan, namun juga membagi hal positif. Saat berbagi hikmah, insya Allah mampu memberikan inspirasi bagi orang lain. Saat yang kita lakukan memberi manfaat untuk orang lain, tentunya satu persatu kebahagiaan yang datang mampu menjadikan penawar bagi luka di hati. 

Menulis di blog atau media sosial bisa menjadi jalan bagi siapa saja untuk berbagi. Saat menulis di berbagai platform media sosial sering kali bisa menjadi jalan bagi sang penulis untuk mengurangi beban di hati. Ternyata hal ini tak luput dari perhatian mbak Widyanti Yuliandari selaku ketua Ibu Ibu Doyan Nulis Pusat. 

Banyak tulisan teman-teman di media sosial menyiratkan tentang kesedihan atau kegundahan hati. Bisa jadi itu adalah permasalahan yang sedang dihadapi. Jika setiap orang memendam permasalahan, bukankah itu akan mempengaruhi kesehatan mentalnya? Pengamatan yang dilakukan itulah memunculkan ide menulis buku antologi bertema mental illness. 

Sebuah penulisan tentang masalah kejiwaan, tentunya harus ada pendampingan supaya para penulis antologi ini mendapatkan sesuatu. Bagi para penulis, ketika masalah diungkap, ada dua hal kemungkinan yang terjadi. Yang pertama bisa menjadi katarsis, sementara yang kedua bisa menjadi masalah baru. Karena terkait dengan kesehatan jiwa maka IIDN Pusat pun bekerjasama dengan konselor untuk mendampingi penulis yang nantinya terpilih menjadi kontributor. 

Saat diumumkan audisi naskah ini, atensi dari anggota pun bagus. Banyak naskah yang masuk sehingga makin beragam kisah yang bisa dihadirkan dalam antologi ini. 

Grand Launching Antologi Pulih


17 Oktober 2020, melalui zoom meeting mulai jam 19.00-21.00. Saya telat sebentar sih, kelupaan karena ngobrol dengan anak-anak. 

Ada tiga narasumber dalam acara Bincang Pulih ini. Yang pertama tentu saja mbak Widyanti Yuliandari selaku ketua IIDN Pusat kemudian dr. Maria Rini I, Sp. Kj seorang psikiater dari Surakarta dan mbak Intan Maria Halim, S.Psi, founder Ruang Pulih. 

cr : Nyi Penengah Dewanti


Di awal acara mbak Wid membincangkan tentang bagaimana awal mula tema dan seleksi naskah antologi ini. Terpilih 25 kontributor yang merupakan anggota dari IIDN. Kisah-kisah ini terdiri dari berbagai latar belakang. Ada yang bercerita tentang apa yang terjadi pada diri sendiri. Ada pula yang bercerita tentang kisah orang lain. Kisah-kisah yang dituliskan pun ada yang sudah selesai melalui segala permasalahan, namun ada pula yang masih menjalani. 

Kontributor pun dibagi menjadi dua kelompok yaitu yang sudah benar-benar pulih dan yang belum selesai. Bagi mereka yang masuk dalam kelompok belum selesai maka ada pendampingan dari dr. Maria dan mb Intan. 



dr. Maria berbagi ilmu tentang peran serta komunitas dalam membangun kesehatan mental. Manusia adalah mahluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk memberikan dan mendapatkan. Apa yang diberikan dan didapatkan? Ya, cinta dan perhatian. 

Komunitas bisa berkontribusi dan berperan aktif dalam menjaga kesehatan mental para anggotanya. Saling berbagi cerita pun sudah menjadi bagian dalam mendukung anggotanya. Kegiatan-kegiatan positif yang dilakukan pastinya akan membuat anggota pun aktif mengikutinya. 

Setiap manusia berhak untuk mendapatkan kesehatan jiwa dan raga. Hal itu harus diupayakan.

Menurut mba Intan Maria Halim trauma yang kita miliki bukanlah kesalahan diri kita. Hanya saja ikhtiar untuk mengobati hati dan pulih merupakan tanggung jawab masing-masing. Setiap orang memiliki penyelesaian dari setiap masalah. Itu ada dalam diri masing-masing personal. Hanya saja seringkali hal itu kabur atau tertutup. 

Untuk itu dibutuhkan konselor atau pendamping untuk memberikan support. Peran konselor atau pendamping adalah membantu menguak tabir yang masih tertutup dan menemukan solusi atas permasalahan yang kita alami. 


My Children My Mood Booster 

Kenangan tentang suami. 

"De, selamat ya, bukumu terbit lagi. Coba kalau kamu punya banyak waktu luang, pasti kamu sudah menjadi penulis terkenal." 

"De, terimakasih ya sudah menjadi ibu yang hebat. Kamu sabar sekali menghadapi anak-anak." 

"De, maafkan aku ya? Selalu merepotkanmu. Aku pengen sembuh. Aku nggak mau sakit lagi." 

"De, Terimakasih sudah sabar merawatku. Nanti kalau aku sudah sembuh aku mau menemanimu jalan-jalan ke mana saja." 

"De, kenapa nggak jadi ambil S3 mu?Uangnya habis untuk terapiku, ya?" 

"De, terimakasih ya sudah rajin memasa? Tetapi kalau kamu capek, beli aja. Tidak usah masak lagi, biar bisa istrahat." 

Suara suamiku itu seolah-olah berbisik di telingaku. Setiap malam selalu terngiang. Seringkali malam sudah larut, tetapi aku belum bisa memejamkan mataku. Terbayang tatapan matanya yang teduh dan semangatnya untuk segera sembuh. Lalu rasa bersalah itu menghantam-hantam kepalaku. Menyesakkan dadaku. 

"Aku tidak apa-apa capek, Mas. Aku tidak apa-apa kurus kering. Aku tidak apa-apa tidak nerbitin buku lagi. Aku nggak papa, nggak jadi penulis terkenal.
Aku nggak papa, nggak sekolah S3. Aku nggak papa merawatmu sepanjang waktu. Menemanimu berobat seumur hidupku. Aku nggak papa Mas. Tetapi Mas jangan pergi!" 

Nggak bisa komentar banyak. Tidak mengalami hal itu pun sudah cukup membuat hati saya sesak. Jadi teringat pada sahabat yang sudah pergi empat tahun yang lalu. Meninggalkan semua yang mencintainya.


Titik Balik 

Aku sesungguhnya terluka. Aku bersedih. Aku tak sanggup hidup sendiri. Aku ibu yang rapuh. Aku ibu yang tidak kuat. Aku tidak strong.
Aku tidak mampu mengurus keempat anakku. Aku rapuh. 

Aku selalu saja begitu yang tak mampu menghadapi kenyataan. Hingga akhirnya aku tersadar ketika anakku mengatakan bahwa ia membutuhkanku. Ia tidak mau kehilanganku. 

Setiap kesedihan itu datang, aku membayangkan anak-anakku.
Keempat anakku yang begitu pintar, sabar dan memahamiku.
Mereka sungguh sabar menerima takdir ini.
Kenapa aku tidak bisa?

Writing Is Healing 

Waktu memang tak pernah menyembuhkan luka. Namun waktu menemaniku melewati semua luka dan semua rasa kehilanganku.
Aku mensugesti diriku untuk bangkit.
Untuk sembuh dan untuk kuat. 

Aku membaca banyak buku tentang healing. Aku bergabung dengan komunitas ibu tunggal yang mana aku bisa mengetahui banyak kisah. Ternyata masih banyak wanita yang lebih menderita daripada aku. 

Aku juga mengikuti banyak seminar, pelatihan dan apapun tentang healing.
Aku juga berkonsultasi dengan pakarnya tentang apa yang sebaiknya aku lakukan.
Agar aku bisa segera move on dan tidak terpuruk. 

Salah satu saran yang aku terima adalah aku diminta untuk mengerjakan hal-hal yang aku sukai.
Aku sangat suka membaca novel, mendengarkan musik, dan yang paling kusukai adalah menulis. 

Menulis adalah hobiku sejak dulu, dan sempat kutinggalkan ketika aku terpuruk kehilangan. Pada akhirnya aku berhasil menuliskan kisahku ini dengan baik. Semua ini karena bimbingan ruang pulih yang aku ikuti. Hingga aku bisa semakin pulih dan semakin kuat. 

Terimakasih IIDN yang telah menjembatani semua ini. Aku ingin menjadi manusia yang siap menyambut masa depan dengan bahagia. Bukan manusia yang tinggal dalam kenangan, dan menutup mata pada kenyataan. 

Heal the pass, be the present and run to the future. 


Salut dengan Mbak Triana Dewi yang menuliskan kisahnya sedemikian mengharukan. Mematahkan hati, namun juga membangun kembali patahannya. Tak hanya menguras hati, namun memberikan makna pada tulisannya. Tak mudah bagi mereka yang terluka untuk bangkit sesegera mungkin. Akan selalu ada proses yang tak sebentar untuk memberi kekuatan. Semoga Allah selalu melindungi mb TD dan keluarga. 


Sekelumit kisah

Setelah kehilangan Ibuk, dua tahun kemudian saya kehilangan sahabat terdekat yang sudah mengganti peran orang tua saya. Cukup lama saya kehilangan arah. Sampai akhirnya menuliskannya dalam blog. Itu pun masih belum cukup mengobati luka. 

Saya lebih suka memendam kesedihan karena tak ingin membuat keluarga bersedih. Sering kali menyusut air mata di tengah malam. Apalagi saat beliau hadir di mimpi setiap kali saya memiliki masalah besar. 

Tahun lalu, kembali beliau datang dalam mimpi. Saat itu ada sebuah masalah yang sedang saya hadapi. Namun dalam mimpi itu beliau tersenyum dan menepuk bahu saya.
"Proud of You, Nduk. Aku tahu kamu mampu menyelesaikan ini semua. Aku yakin. Titip ini ya?" 
Dalam mimpi beliau menyerahkan sebuah berkas. Di dalamnya berisi foto keluarganya. 

Kata-kata itu begitu jelas. Bahkan sampai sekarang saya masih teringat mimpi itu. Dan yang membuat saya takjub, keluarganya setahun ini makin dekat dengan keluarga saya. Bahkan untuk hal-hal penting mereka minta pendapat saya. Apakah ini yang beliau titipkan untuk saya? Wallahu a'lam.

Waktu memang obat alami penyembuh luka hati. Kita tak bisa menghindari luka. Namun kita bisa memilih untuk mengalami penderitaan atau tidak. 

Pemesanan Antologi "Pulih"



Bagi temen-temen yang menginginkan buku ini masih bisa kok. Hubungi saja mbak Fitria Rahma selaku penanggung jawab buku antologi ini. Atau kalau kenal dengan para kontributor bisa kok pesen lewat salah satunya. Bisa juga tuh kontak nomor telpon yang tertera di atas. Yuk cuss...