Berproses dan Berdaya bersama Ibu-ibu Doyan Nulis Wilayah Jogja - Jurnal Hati Irfa Hudaya

Rabu, 15 Juni 2022

Berproses dan Berdaya bersama Ibu-ibu Doyan Nulis Wilayah Jogja

Ibu Ibu Doyan Nulis


Sejak kanak-kanak aku memiliki trust issue terhadap kaumku sendiri. Mengalami bullying sejak SD oleh kaumku sendiri membuatku tak memiliki teman perempuan. Aku lebih nyaman berteman dengan laki-laki. Belajar kelompok pun aku perempuan sendiri. Ternyata hal itu mempengaruhi mindsetku tentang perempuan. Di tambah Bapak yang menginginkan anak mbarepnya laki-laki memberiku tanggung jawab di rumah pekerjaan yang sering dilakukan oleh laki-laki. Bapak pun selalu memintaku berambut pendek dan memakai celana panjang. Beliau tak begitu suka aku memakai rok. Namun saat aku mulai kuliah, Bapak membiarkanku mulai memakai rok.

Aku menjadi begitu canggung berada di lingkungan perempuan. Hanya satu dua perempuan yang membuat nyaman yang pada akhirnya menjadikan mereka teman-teman terdekat. Dan itu ternyata berlanjut sampai dunia kerja. Aku bekerja di lingkungan yang lebih banyak laki-lakinya. Sialnya lagi, perempuan yang sekantor denganku sering membuatku nampak buruk di kantor pusat walaupun atasanku langsung tahu atas kinerjaku.

Tuntutan setelah menikah untuk bersosialisasi membuatku makin menjaga jarak dengan perempuan. Hidup di kampung membuatku serba canggung apalagi ada beberapa kejadian yang membuatku sungguh tak nyaman. Hingga kemudian datanglah segala media sosial yang datang susul menyusul. Dan aku lebih menyukai berinteraksi di media sosial. Dari media sosial aku pun menemukan dunia baru tentang perempuan.



Berproses dalam berkarya bersama Ibu-Ibu Doyan Nulis


Bermula dari minatku pada dunia kepenulisan. Salah seorang kerabat adalah penulis buku bacaan anak. Ia memberiku semangat untuk mengembangkan apa yang menjadi minatku. Tahun 2009 atau 2010. Saat aku mengunjungi mertuaku di Semarang sedikit paksaan ia memintaku datang ke rumahnya. Bertemu dengan orang-orang baru. Mereka yang memiliki minat yang sama denganku.

Bertemu dengan Mbak Dian Kristiani. Berkenalan dengan Dedew yang aku sendiri nggak tahu bahwa ia penulis buku best seller Anak Kos Dodol. Ngobrol dengan Mbak Dian Nafi yang sudah menulis berbagai judul novel. Bersalaman dengan Mbak Archa, Mbak Wati, juga Wuri yang saat itu masih menjadi newbie.

Pertemuan pertama membuat aku insecure, namun lebih bersemangat. Mereka mampu mengubah perspektifku terhadap perempuan. Aku yang awalnya memandang rendah kaumku sendiri. Meremehkan perkumpulan yang beranggotakan perempuan. Bersama mereka, Aku pun mulai bertumbuh. Aku menemukan sebuah komunitas perempuan yang benar-benar baru dan membuatku memiliki keinginan.

Aku memulai semangat belajar menulis dengan berbagai genre. Merasa kurang karena tak bisa setiap saat datang ke Semarang aku pun mencari info tentang IIDN Jogja. Beberapa kali mereka mengadakan pertemuan aku belum bisa mengikuti. Sampai kemudian akhir 2013 sebuah pertemuan di rumah Mbak Astuti Rahayu, ketua IIDN Jogja. Aku mulai bergabung. Bertemu dengan perempuan-perempuan berbagai profesi. Namun masih menyempatkan diri untuk bergerak bersama di bidang literasi.



Berproses, Berkarya, dan Berdaya bersama IIDN Jogja

Komunitas Penulis Ibu Ibu Doyan Nulis Jogja
Pertama kali gabung di IIDN Jogja akhir tahun 2013


Mengenal mereka membuatku begitu kagum. Buatku ini adalah sesuatu yang baru di mana sebelumnya aku tak memiliki lingkungan se positif ini. penghargaanku makin tinggi saat mereka yang telah memiliki karya merangkul yang masih benar-benar baru nyemplung. Berkumpul saling menukar wawasan. Saling menyemangati dalam berkarya. Memiliki semangat yang sama.

Mengenal Ety yang lulusan Teknik Kimia UGM namun tulisannya begitu menyentuh. Mbak Indah, sang peneliti di Departemen Kehutanan yang gigih melanjutkan S-3, Mbak Titin yang penuh semangat meskipun masih ngantor di Taman Nasional Gunung Merapi. Liya anggota paling muda namun senengnya luar biasa kalau ngumpul sama kami yang jauh lebih tua. Nggak bisa disebutin satu persatu bagaimana saya memotret anggota IIDN saat itu.

Namanya memang Ibu-Ibu Doyan Nulis. Namun siapapun yang belum menikah tetap boleh bergabung. Yang penting satu, perempuan. Kami yang berada di Jogja ini secara berkala mengadakan pertemuan. Sebulan sekali kami mengundang pemateri. Tak hanya pemateri dari dalam komunitas, namun kami juga mengundang pemateri dari mereka yang sudah mumpuni dalam hal tulis menulis. Jika ada penulis yang sudah senior datang ke Jogja, Kami meminta kesediaan untuk mengisi materi. Mbak Achi TM, penulis skenario film Insya Allah Sah saat datang ke Jogja langsung kami ajak untuk mengisi kopdar meskipun dadakan. Atau bekerja sama dengan komunitas penulis lain seperti Penulis Bacaan Anak. Kami bareng-bareng membuat event ketika mbak Ary Nilandari ada acara ke Jogja dan meluangkan waktu untuk megisi materi tentang menulis cerita anak.

Komunitas Penulis Ibu Ibu Doyan Nulis dan Penulis Bacaan Anak

Meski merupakan komunitas penulis, kami tak hanya belajar yang terkait dengan dunia tulis menulis saja. Namun kami juga banyak belajar tentang hal-hal yang berhubungan dengan perempuan. Pernah kami belajar membuat bros yang terbuat dari tembaga. Kami belajar dari Mbak Meta, pemilik Uparengga Galery. Atau kami belajar tentang budaya Jepang. Beberapa anggota IIDN yang pernah melanjutkan kependidikan di Jepang pun memberikan informasi. Tak lupa kami belajar membuat sushi dan memakai yukata, pakaian adat Jepang yang dipinjam dari pusat kebudayaan Jepang di Jogja. Kebetulan Mbak Dede waktu itu masih aktif sebagai guru Bahasa Jepang di sebuah SMA di Jogja. Sehingga memiliki akses untuk peminjaman berbagai macam peralatan di sana.

Belajar Budaya Jepang di Komunitas Penulis



Berkarya bersama IIDN Jogja


Di tahun 2014, Mbak Astuti Rahayu semakin sibuk. Sejak menjadi kepala sekolah di sebuah SMA terpadu di Jogja Barat membuat beliau semakin sulit membagi waktu dan pikiran. Di bulan Agustus 2014, di rumah Mbak Miftah, kami pun mengadakan pemilihan untuk pergantian pengurus IIDN Jogja. Pemilihan secara voting itu membawaku menggantikan Mbak Astuti Rahayu.

Bukan satu hal yang mudah buatku yang masih begitu baru memasuki dunia kepenulisan. Saat itu aku baru memiliki karya antologi yang jumlahnya tak seberapa. Namun teman-teman mempercayakan tongkat estafet itu. Mau tak mau aku harus lebih meng-upgrade diriku supaya teman-teman pun makin semangat berliterasi.

Di tahun itu novel pertamaku terbit lantas disusul oleh novel kedua. Dalam kopdar-kopdar yang kami adakan selain berbicara tentang materi kami juga sering mengundang penerbit menjajagi kemungkinan bekerja sama. Beberapa anggota IIDN Jogja sukses bekerjasama dengan penerbit-penerbit yang berada di Jogja.

Salah satu keberhasilan bagi IIDN Jogja adalah kami mendapatkan proyek menulis buku untuk sebuah penerbit mayor. Buku Inspirasi Nama Bayi Islami Terpopuler yang kami garap sekitar dua bulan akhirnya terbit di Gradien Mediatama, sebuah penerbit di bawah bendera Agro Group pada bulan Juni 2015.
Buku Pertama karya IIDN Jogja
Buku Karya pertama IIDN Jogja


Yang bikin teman-teman makin bersemangat waktu itu buku kami tertangkap kamera oleh salah satu program televisi yang ratingnya tinggi. Janji suci dimana Raffi Ahmad dan Nagita Slavina saat itu sedang hamil anak pertama dan mencari nama untuk anak mereka. Nggak disangka yang diambil dan nongol di tayangan tersebut adalah buku karya kami.

Buku Karya KOmunitas Perempuan


Lantas di tahun 2016 kami mendapatkan proyek dari penerbit lain untuk buku kesehatan, semacam tips kesehatan untuk anak-anak saat di rumah. Jika di Gradien Mediatama kami mendapatkan royalti, namun untuk proyek buku kesehatan ini kami jalani dengan sistem beli putus. Sayangnya buku itu tak sempat terbit meski naskah tersebut sudah dibayar penuh. Perubahan di managemen penerbitan tersebut ternyata mengubah berbagai kebijakan. Dan naskah kami ternyata mendapatkan imbasnya.

Karya kami yang ketiga adalah sebuah antologi. Antologi ini diaudisikan Desember 2017. Aku dan Ety, PJ dari antologi ini sudah merencanakan untuk terbit di tahun 2018. Sudah kami tawarkan ke beberapa penerbit mayor dan disambut dengan baik. Sayangnya waktu itu semangat kami sedang naik turun. Naskah yang sedianya akan terbit jika mencapai 100 halaman A4 terkendala. Dan naskah pun mangkrak begitu saja. Sungguh satu hal yang kami sesali bahwa kesempatan tak pernah datang untuk kedua kali.

Pandemi akhirnya menjadikan semangat berkarya hidup lagi. Naskah mangkrak itu kami poles di sana sini. Aku dan Ety membuka audisi kembali. Di tahun 2021 tercapai sudah target jumlah halaman supaya naskah itu bisa terbit. Bersyukurnya kami, dengan keterbatasan yang kami miliki, kami bisa menerbitkan sendiri karya kami.

Antologi Karya Ibu Ibu Doyan Nulis Jogja


Meski secara nominal begitu jauh yang dihasilkan dari royalti yang kami terima di buku pertama. Namun di antologi “Tuhan, Ternyata Kehilangan Itu Sesakit Ini” kami benar-benar mengurus semuanya sendiri. Dibantu oleh Mbak Oky, anggota IIDN Jogja yang lain kami melakukan self publishing. Kepuasan yang kami hasilkan pun lebih pada proses, bukan pada hasil. Dan kami, IIDN Jogja sungguh bersyukur dengan apa yang telah kami lakukan.



Berdaya bersama IIDN Jogja

Mulai tahun 2015, kami pun mendapat kepercayaan dari Perpustakaan Kota Jogjakarta menjadi partner dalam berbagai kegiatan yang diadakan oleh Perpustakaan Kota Jogjakarta. Sering kali kami mendapatkan undangan untuk mengisi kegiatan di sana. mulai dari menjadi narasumber yang terkait dengan tulis menulis, pemberdayaan perempuan maupun UMKM, atau menjadi juri dari lomba yang diadakan di sana.

Beberapa kali aku sempat diminta mengisi acara maupun menjadi juri dalam sebuah perlombaan. Terakhir bulan Maret lalu IIDN Jogja mendapatkan undangan menjadi narasumber tentang UMKM. Harusnya mbak Deassy M. Destiani, penulis, penggiat PAUD serta pengusaha UMKM sebagai narasumbernya. Qodarullah, sehari sebelum acara mbak Deassy harus melakukan tindakan medis. Sehingga secara dadakan akupun menggantikan mbak Deassy meski belum persiapan sama sekali.

Tak hanya dengan Perpustakaan Kota Jogjakarta. Kami pun sempat mengisi acara di panggung Jogja Islamic Fashion. Tema yang kami bawakan saat itu adalah bagaimana perempuan memaksimalkan waktu dan potensi untuk berkarya dari rumah. Merealisasikan yang riuh di WA group menjadi satu hal yang bermakna dan tentu saja memberikan manfaat untuk perempuan lain.

Komunitas Perempuan Ibu Ibu Doyan Nulis Jogja
Beberapa kegiatan IIDN Jogja diminta menjadi narasumber



Keunikan di IIDN Jogja

Ada yang khas IIDN Jogja banget. Kami jarang sekali mengadakan pertemuan di rumah makan atau cafe. Kami lebih nyaman mengadakan pertemuan dari rumah ke rumah. Ribet memang, namun kami begitu senang melakukan itu.

Khasnya kami adalah potluck. Setiap kali ada pertemuan salah satu yang ditunggu adalah banyaknya potluck. Terkadang yang tak sempat datang mengirimkan potluck ke rumah yang menjadi venue dari kopdar kami. Mulai dari makanan kecil hingga lauk dan sayur. Si tuan rumah tinggal menggelar tikar, menyiapkan nasi dan air minum. Yang tersaji di depan kami bisa jadi lebih banyak dari yang datang hari itu.

Namanya juga ibu-ibu. Pastilah kepikiran rumah. Nah begitulah kami, setiap kali ada kopdar yang kami bawa pulang akan jauh lebih banyak daripada yang kami bawa saat datang. Bisa banget untuk dua kali waktu makan. Kebayang kan berapa banyak bawaan kami saat sampai rumah?

IIDN itu bukan hanya Ibu-Ibu Doyan Nulis. Bisa jadi Ibu-Ibu Doyan Ngemil, Doyan Ngumpul, Doyan Ndlosor, Doyan Ngecipris, dan dedoyanan yang lain. Grup WA yang tadinya digunakan untuk koordinasi saat hendak kopdar berubah menjadi yellow pages dan wahana diskusi. Belum lagi jika berangkat kopdar kesasar. Ada di antara kami yang sering banget nyasar. Misalnya ancer-ancer tempat adalah Pasar Godean, tau-tau dia meluncur ke Pasar Gamping. Kan ya jauh banget.

Di luar kopdar-kopdar resmi sebulan sekali saat itu kami juga sering sharing. Misalnya saat salah satu di antara kami memiliki problem tentang kepengasuhan anak, IIDN Jogja punya tempat untuk berkonsultasi. Mbak Miftahul Jannah, seorang psikolog menjadi rujukan kami untuk mengurai berbagai permasalahan yang terkait dengan anak. Kami yang memiliki permasalahan yang sejenis bisa saja berkumpul ke rumah Mbak Miftah untuk ngobrol dan mencari solusi. Tak hanya yang berurusan dengan dunia saja. Namun tentang akhirat pun sering kali muncul dalam obrolan kami yang super random.



Ulang Tahun IIDN

Kami sempat terlupa kapan terakhir kali IIDN mengadakan kopdar sebelum pandemi. IIDN Jogja sempat hibernasi dalam jangka waktu yang lama. Sekian tahun berjalan begitu aktif untuk belajar membuat kami jenuh. Takdir membawa kami bersimpangan jalan. Menemukan berbagai kebahagiaan di luar dunia kepenulisan.

Kegiatannya memang vakum. Namun tidak dengan kekeluargaan kami. Grup WA kami tetap aktif sebagai tempat untuk bertanya maupun berdiskusi. Setiap kali ada yang sakit atau tertimpa musibah secepatnya kami pun melakukan open donasi. Namun begitu jarang kami membuka hal itu di sosial media. Paling tidak gambar yang kami bagi terbatas hanya di WAG saja.

Dua tahun pandemi ternyata memenuhi tangki kerinduan kami. Bertepatan dengan bulan syawal dan ulang tahun IIDN, kami pun menyempatkan diri untuk berkumpul mengurai rindu. Setelah pertemuan pertama saat pandemi di tempat Mak Enggar, pertemuan kedua ini ternyata membangkitkan semangat baru. Di Pondok Cabe Jalan Simanjuntak 28 Mei 2022 yang lalu kembali kami hadir dan memiliki keinginan untuk kembali berkarya. Merencanakan sesuatu dan ini semua begitu membahagiakan buatku.

Komunitas Perempuan


Delapan tahun menahkodai IIDN Jogja. Sejujurnya sangat ingin adanya pergantian nahkoda supaya ide-ide baru bermunculan dan IIDN Jogja makin berkembang ke depannya. Namun mereka ternyata masih nyaman dengan keadaan yang sudah berjalan sewindu ini. IIDN Jogja bukan lagi sebuah komunitas penulis melainkan sebuah keluarga baru. Keluarga yang berdaya dan memberdayakan. Dinamika kelompok yang terjadi selama satu dasa warsa ini ternyata makin mempererat kekeluargaan di antara kami. Friksi friksi kecil biasalah. Namanya juga komunitas. Iya kan?

Salah satu hal yang aku syukuri. Menemukan komunitas perempuan yang tepat tak hanya untuk berkarya dan mengembangkan diri saja. Akan tetapi bisa bermanfaat untuk orang lain. Alhamdulillah ...

Selamat Ulang Tahun yang ke 12 IIDN. Semoga masih ada dua belas tahun dua belas tahun selanjutnya untuk berkarya dan bermanfaat bagi perempuan-perempuan di Indonesia.

14 komentar:

innoviebercerita mengatakan...

Selamat ultah IIDN Jogja. Tetap semangat berkarya.

atikmp mengatakan...

Terus berjaya IIDN pusat dan Jogja. Memang asik teman2 di IIDN Jogja.Pertemanan rasa saudara. Love you all

Mechta mengatakan...

Alhamdulillah ya mba..menjadi bagian dr komunitas yg sangat berperan dlm perkembangan pribadi kita, sungguh merupakan salah satu hal yg patut kita syukuri.. BTW, selamat ultah IIDN..sukses selalu ya..

Siti Faridah mengatakan...

Selamat ulang tahun IIDN. Semoga semakin jaya dan menghasilkan banyak karya. Asik ya bisa kopdar dengan Kak Achi TM. Kalau aku pernah baca novel Kak Achi TM aja nih, Mbak.

Lulu Khodijah mengatakan...

Selamat ulang tahun IIDN Jogja. Sukaa liat ibu ibu berkarya. Aku setuju nih pernyataan yg menghargai prosel, ga cuma hasilnya aja. Apapun yg terjadi kalo udah suka ya dijabanin aja :)

momtraveler mengatakan...

Udah lama juga ya mbak IIDN Jogja karyanya juga udah banyak. Support dr temen2 bikin semangat berkarya terus ya mbak. Ditungfu karya2 kerennya

Uniek Kaswarganti mengatakan...

Selamat ulang tahun untuk IIDN yaa... salam untuk teman-teman di Jogja yang terus aktif menulis. Belum pernah nih ketemuan dengan teman-teman dari IIDN Jogja, aku kenalnya kok ya sama tukang supir-e thok ik. :))

Yuni Bint Saniro mengatakan...

Itulah ya mbak. Kenapa begitu penting mencari lingkungan yang positif? Karena kita bisa underestimate pada semua hal. Padahal yang bikin kita keki hanya sebagian kecil doang.

Selamat ulang tahun IIDN.

Nyi Penengah mengatakan...

Selamat ultah IIDN jogja
Terus menginspirasi dan menebarkan prestasi
IIDN ini komunitas nulis pertama yang kuikuti jalan aku di HK mba.

Wahyu Suwarsi mengatakan...

Sukses untuk IIDN Jogja.
Sukses juga untuk mbak Irfa.

Saraah Megha mengatakan...

Awal belajar blog juga via IIDN dan ternyata memang dalam komunitas yang isinya sesama perempuan terasa sekali women support womennya ya mbak

Aga mengatakan...

Selamat ulang tahun IIDN jogja. Enak yah bisa punya komunitas sefrekuensi. Semoga panjang umur dan menghasilkan karya karya yang terbaik. Amin

Marita S Ningtyas mengatakan...

IIDN juga jadi komunitas pertama yg support langkahku di dunia literasi. Dari bikin buku pertama sampai terjun ke blogging. Thank u IIDN.

Dewi Rieka mengatakan...

Jadi kangen menulis bersama Iidn Semarang deh terus pengen kopdar ala potluck kayak zaman baheula, semoga kita tetap semangat berkarya dan berbagi ilmu dan wawasan yaa..