Bersahabat dengan Bumi : Mengurangi Dampak Perubahan Iklim - Jurnal Hati Irfa Hudaya

Minggu, 03 April 2022

Bersahabat dengan Bumi : Mengurangi Dampak Perubahan Iklim

bersahabat dengan bumi



Perubahan iklim tentu menjadi masalah bagi kita dalam sehari-hari. Rasanya, iklim dulu sangat nyaman dan terasa segar. Tapi,kenapa semakin bertembah tahun iklim berubah menjadi lebih panas, ya? Nggak hanya itu, bahkan di desa pun udara sudah tidak sesegar saat dulu. Ada apa dengan bumi ini?

Aku masih ingat, waktu aku kecil tidak banyak kendaraan dan bangunan yang dibangun di pinggir jalan. Semua masih terlihat hijau dan segar. Ketika aku berjalan melewati jalan raya, bahkan akupun mungkin bisa bermain di tengah jalan saking sepinya. Tapi, sekarang nggak mungkin banget. Banyak warung makanan dibuka, saling memadati jalanan raya. Walaupun aku tahu mereka pasti mencari nafkah, rasanya sudah terlalu banyak orang membuka warung kecilnya masing-masing dan mungkin kepadatan warga yang terus meningkat?

Kalian pasti sudah tahu tentang perubahan iklim yang menyebabkan es di kutub sana mencair. Ditambah lagi, cuaca yang kadang agak mengkawatirkan juga, ya? Sedikit-sedikit cuaca sangat terik, namun setelah itu hujan berkepanjangan yang tidak akan berhenti dalam kurun waktu yang dekat. Apalagi di Indonesia, kondisi di Indonesia pula sebenarnya dapat menyebabkan penyakit bagi manusia. Pada saat musim penghujan, tentu akan banyak bakteri dan virus yang berkembang, apalagi di tempat yang lembap. Sedangkan di saat musim kemarau, kondisi di suatu wilayah pasti akan mengalami kekeringan karena suhu bumi yang meningkat dan dapat mengakibatkan kondisi pernapasan manusia memburuk. Padahal, cuaca ekstrim juga bisa membuat daya tubuh manusia menjadi mudah sakit, kan?

Nah, sumber dari BMKG sendiri menyatakan kalau ada peningkatan temperatur rata-rata di Indonesia. Kenaikan temperatur ini punya dampak yang besar dalam pola musim. Jadi, yang harusnya musim penghujan dan musim kemarau terjadi pada saat bulan-bulan tertentu, menjadi bergeser ke bulan berikutnya.

Perubahan iklim tidak hanya berdampak pada bumi saja, namun juga bagi manusia. Kenaikan suhu bumi dapat menyebabkan perubahan alam, seperti mengeringnya sumur dan kualitas air yang menurun. Kesehatan manusia bisa terganggu nih, kalau terus-terusan mengalami perubahan iklim yang ekstrem.






Padahal, perubahan iklim seperti ini bukan hal yang tiba-tiba terjadi, loh. Manusia juga ikut berperan dalam perubahan iklim. Kok bisa? Semua hal tentu ada penyebabnya, kan? Termasuk ketika manusia banyak menggunakan kendaraan yang menghasilkan karbon monoksida sehingga terjadi pencemaran udara. Nah, aktivitas yang dilakukan manusia seperti ini dapat menyebabkan terjadinya peningkatan gas rumah kaca dan menyebabkan suhu tubuh bumi meningkat.


bersahabat dengan bumi


Lalu, apa yang bisa kita lakuin buat mencegah perubahan iklim menjadi lebih ekstrim? Kita bisa nih, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Karena komponen yang menyebabkan peningkatan gas rumah kaca salah satunya adalah karbon monoksida, kan? Jika kita pergi ke suatu tempat yang jaraknya tidak terlalu jauh, kita bisa berjalan ke tempat tersebut tanpa harus menggunakan kendaraan. Lumayan, kan, sekalian bisa berolahraga. Lalu, kita juga bisa menggunakan tas atau kantong belanja untuk mengurangi penggunaan plastik. Jika kita tidak terlalu butuh menggunakan AC, bisa nih kita kurangi penggunaannya. Dan jika kita mampu, kita bisa melakukan reboisasi atau tebang pilih. Jadi, tebangnya tidak asal ya?

Tentu sebagai manusia, kita juga perlu banget untuk memberitahu sesama tentang perubahan iklim tersebut. Pencegahan yang dilakukan oleh kelompok lebih baik dibanding sendirian saja, kan? Kita bisa memberitahu kepada orang lain pengetahuan tentang perubahan iklim tanpa menghakiminya. Sebagai contoh, kita bisa mengajak orang lain untuk berkebun bersama, memberinya tas go green, atau mengajaknya untuk mengikuti event tentang pencegahan perubahan iklim di sosial media. Edukasi dilakukan di sosial media salah satunya mengunggah konten tentang perubahan iklim disertai tagar #UntukmuBumiku dan #TeamUpforImpact agar semakin banyak orang yang mengikuti pencegahan perubahan iklim di bumi. Walaupun hanya sedikit orang yang tertarik dengan upaya pencegahan tersebut, setidaknya sedikit jauh lebih baik daripada tidak sama sekali, kan?



Tidak ada komentar: