Juni 2020 - Jurnal Hati

Selasa, 23 Juni 2020

Girls Activities : Traveling Berdua dengan Si Kakak


Assalamualaikum temans, saya yakin banyak di antara kalian sering melakukan traveling bersama keluarga. Sayang banget keseruan hanya dinikmati sendiri kan? 

Pernah nggak punya pengalaman traveling bersama anak-anak tanpa keluarga lengkap? Kayaknya kurang asyik ya, traveling nggak barengan semua anggota keluarga? Rasanya beda banget, kepikiran aja pada anggota keluarga yang nggak ikutan menikmati tempat wisata yang menyenangkan.

Saya pernah nih, traveling berdua dengan si Kakak. Traveling tipis-tipis aja. Sebenarnya juga nggak direncanakan jauh-jauh hari. Serba mendadak. Mengganti kebahagiaan si Kakak yang saya rampas #tsaahh …

Jadi awalnya setelah kenaikan kelas tahun lalu, si Kakak mau jalan sama geng SMP nya ke sebuah pantai di Purworejo. Saya nanya dong, ada yang ngedampingin nggak? Ternyata enggak. Jadi rencananya mereka bertujuh ini mau naik taksi online ke pantai. Lalu mau nginep di tempat salah satu Bude dari temannya. Padahal saat itu cuaca lagi kurang bersahabat. 

Saya keberatan dong. Perjalanan hampir dua jam, ke satu tempat yang sama sekali belum pernah disambangi. Udah gitu pakai nginep pula. Ya ketar ketir dong sayanya. Saya emang rada protektif sama anak cewek.

Si Kakak ngambek lah. Apalagi baca di WAG member geng nya dibolehin sama ortu. Dia doang yang nggak dibolehin.

"Aku tuh sepi, Bunda ada event terus, Adek di Semarang. Masa aku nggak kemana-mana. Bosen."

Iya juga sih. Waktu itu emang ada beberapa event dalam minggu-minggu itu yang bikin saya ninggalin si Kakak di rumah sendirian. 

"Ya wis, yok ikutan Bunda aja po? Nanti abis acara kalau mau ngemall kemana, mau makan, mau beli buku boleh wis," rayu saya.

"Aku maunya nginep."

Namanya nginep nggak bakal mau nginep cuma di rumah saudara atau temen. Pasti maunya staycation. Nginepnya di hotel. Dia tahu Mamak pas ikutan banyak event berarti punya 'uang jajan' lebih. Makanya ia berani 'malak' Mamak.

Akhirnya setelah sepakat pikniknya cukup di Jogja aja kami pun bikin itinary mau ke mana aja.

Kami naik motor berdua. Pertimbangan saya kenapa naik motor karena kami cuma mau city tour aja. Lagian pas liburan tahun ajaran baru jalan-jalan di Jogja pasti penuh dan macet. Naik mobil pasti bikin kesel doang.

Berangkat dari Muntilan sudah agak siangan sih, sekitar jam 10.00 Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Situs Warungboto. Situs Warungboto merupakan cagar budaya yang letaknya di belakang Kebun Binatang Gembira Loka, tepatnya berada di Jalan Veteran no. 77 Jogjakarta. 


Situs Warungboto


Situs ini dahulunya adalah tempat pesanggrahan keluarga kerajaan. Tempat ini dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I dan diteruskan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono II. Ruang, lorong, pintu dan jendela ini terlihat artistik. Ada segaran, kolam, dan kebun yang dulunya dinikmati oleh keluarga kerajaan.

Sebelum dipugar tempat ini merupakan puing-puing bangunan yang terbengkalai. Dengan dibantu oleh arkeolog sampai tahun 2017 masih ada gedung yang harus direhab, disesuaikan dengan arsitektur tahun 1875. 

Mengunjungi situs ini tak dipungut tiket masuk karena masih dikelola oleh masyarakat setempat. Paling bayar parkir kendaraan doang. Petilasan ini sekarang ramai dikunjungi wisatawan baik dalam atau luar negeri. Sering juga digunakan untuk prewedding. Kecil sih tempatnya, namun lumayan eksotis lah. Mirip seperti Taman Sari. 

Setelah dari Situs Warungboto, kami makan pecel dan gado-gado di Sagan. Warung makan ini sudah terkenal sejak zaman saya kuliah di Jogja. Namanya 'gado-gado Bu Bagyo.'


Warung Bu Bagyo

IG : @mosyakur


Tempat ini selalu penuh pelanggan. Mulai orang kantoran sampai mahasiswa ngantri di tempat itu. Menu best sellernya gado-gado dan lotek. Namun warung ini juga menyediakan nasi goreng juga. Untuk minuman ada beberapa pilihan selain es teh. Jika ke tempat ini kalian bisa memilih es jeruk atau menu jus buah. O ya, jika nggak ingin makan besar di sini juga menyediakan es pisang ijo. Cukup kenyang porsinya. Kalau di Gado-gado Bu Bagyo, saya lupa diet deh. Bakwannya markotop. 


Hotel Orlen


Jam 14.00 akhirnya saya dan Kakak Check in ke Hotel Orlen, sebuah hotel yang tak jauh dari Gado gado Bu Bagyo. Hotel ini berada di Yap Square, Jalan C. Simanjuntak. Meski hotelnya kecil, tapi buat saya cukup nyaman untuk menginap. Apalagi cuma gegoleran nonton TV plus ditinggal-tinggal melulu karena rencana kami akan ke toko buku setelah makan malam. 

O ya, sementara si Kakak menikmati staycation, saya mengundang beberapa teman di kamar hotel. Kami belajar menulis cerita anak dari mbak Yayan Rika Harari. Doi adalah editor novel Laskar Pelangi yang terkenal itu. Sekarang beliau banting setir menulis cerita anak. Pokoknya nggak mau rugi deh saya. Menyenangkan hati si Kakak, namun ada hal lain yang bisa saya dapat.

Sampai Maghrib kami belajar menulis cerita anak. Setelah itu kami makan malam di Pondok Cabe, tempat makan favorit saya kalau ke Jogja


Pondok Cabe 



Pondok Cabe ini buat saya jadi andalan kalau mau ketemuan sama temen. Harganya terjangkau, tempatnya cozy, dan pilihan makanannya banyak. Kalau masalah rasa sih sebenarnya standar, kalau menurut saya. Dengan uang 50 ribu kita bisa menikmati makan malam plus snack untuk dua orang.

Ada banyak menu yang ditawarkan. Mulai paket penyetan sampai paket snack dan minum. Kalau kurang puas ada banyak lauk yang bisa dipilih misalnya pepes jamur, tahu dan nila atau gurami ayam manis. Kalau hanya ingin mengudap ada roti bakar, pisang bakar, mendoan, roti jala, atau singkong keju. Pilihan minuman pun beragam. Mau float atau minuman jejamuan seperti kunir asem atau beras kencur ada di sana.

Setelah dari Pondok Cabe kami ke Gramedia, tak jauh dari tempat itu. Nggak lama kami di sana, si Kakak pengen balik hotel. Mau nonton drakor di KBS katanya … 

Baru aja sampai hotel, seorang teman SMP menyambangi kami di hotel. Nggak tahunya bawa dua paket makanan dari Yoshinoya dan beberapa snack. Surganya Kakak banget itu. Drakor dan full of logistic.


Jalan Malioboro


Keinginan Kakak berikutnya adalah foto di Plang Jalan Malioboro. Sering ke Malioboro namun belum pernah sama sekali foto di tempat itu. Pagi banget kami ke Jalan Malioboro, memburu sepi aja.

Sebelum jam 05.30 kami sudah membelah jalanan. Jarak tempuh Hotel Orlen sampai Malioboro nggak nyampe 10 menit. Ternyata di tempat itu sudah mulai ada beberapa wisatawan yang berfoto-foto di Plang Jalan Malioboro.

Saya biarkan si Kakak sepuasnya foto di tempat itu. Beberapa kali sempat berpindah tempat, mencari spot foto yang Jogja banget. Lalu saya ketemuan dengan salah satu teman yang sedang berada di hotel sekitar Malioboro juga. Saya tawarkan ke Kakak mau kemana doi nggak mau. Pengen tidur lagi katanya. Alhasil setelah menikmati sarapan di hotel, kami pun naik menunggu waktu check out.

Ternyata si Kakak nggak jadi tidur. Doi scrolling instagram. Pengen ke Chingu Cafe, sebuah cafe bernuansa Korea. Banyak juga yang nyebut Little Seoul. Akhirnya kami pun berkemas sekitar jam 10.00. Mampir sebentar di tempat psikolog Kakak, lalu meluncur ke Chingu Cafe.


Chingu Cafe


Tempat ini berada di Jalan Pandega Karya 18 Jogjakarta. Satu deret dengan Warung Steak dan Kopi Tiam. Tempat ini mengutamakan kenyamanan pengunjung. Mau masuk ke gedungnya kami harus antri di luar.

Kami diminta menulis nama dan berapa orang yang akan makan di tempat itu. Ada beberapa pilihan, di ruang ber AC atau tidak. Untungnya kami antre nggak terlalu lama. 

Masuk ke tempat ini saya maklum kenapa Kakak pengen banget di tempat ini. Ada foto Park Bo Gum di sana. Rasanya memang kayak main ke tempat syuting drama korea. 

Tempat ini dipenuhi oleh remaja seusia Kakak. Ya wajar saja. Spot foto begitu banyak. Wong saya aja girang banget bisa foto-foto melulu. 

Nah … giliran lihat menu, saya yang rada puyeng. Untuk ukuran saya ya agak bunyi lah makanannya. Ngeluarin uang 150k masih belum kenyang hahahaha … Tapi tetep worthed sih menurut saya. Masakan dan minumannya ala Korea banget lah. Udah gitu sudah ada sertifikasi halal pula. 

Pengen juga nanti, kalau semuanya sudah aman kami sekeluarga makan di sana. Ada banyak pilihan menu yang ditawarkan yang namanya aja saya nggak bisa nyebutin. Waktu itu cuma dipilihin si Kakak aja. 

O ya, saya terkesan banget sama minumannya. Es teh dikasih manisan jeruk. Rasanya beda banget. Lagi-lagi, saya nggak tahu namanya. 

Meski traveling ke kota yang biasa dikunjungi, namun cukup membuat saya terhibur. Bisa mengembalikan tawa si Kakak, membuatnya tak menyesal gagal pergi bareng gengnya itu satu kebahagiaan buat Mamak protektif. Ini semua menjadi permata pengalamanku dan si Kakak yang tak bisa dilupakan.







Senin, 22 Juni 2020

Melahirkan di Tengah Pandemi

Assalamualaikum temans
Allah selalu punya cara membuat kita bersyukur. Selalu ada dua sisi yang di hadapkan Allah pada manusia. Susah dan senang, sakit dan sehat, bahagia dan kesedihan, dan masih banyak lagi dua sisi yang bertentangan namun selalu bersisian. 

Mengambil hikmah akan membuat manusia makin bersyukur atas apa yang Allah perlihatkan. Termasuk dalam memandang wabah yang sedang terjadi di seluruh dunia ini. 

Ini adalah cerita salah satu sahabat saya. Ia tak pernah tahu. Ketika kebahagiaan hendak mendapatkan anak ketiganya ternyata harus berhadapan dengan kondisi yang memprihatinkan. Ia tak pernah menyangka harus melahirkan di tengah pandemi. Dalam status ODP pula.

Ia menjalani Long Distance Marriage. Suaminya bekerja di sebuah kota di Jawa Timur. Sementara ia dan anak-anak tinggal di Yogya. Menjalani kehamilan tanpa pendampingan dari suami pun sebenarnya sudah cukup berat meski dalam kondisi normal. Apalagi di tengah merebaknya Virus Corona di dunia. Belum lagi dua anak lain yang butuh pendampingan. Tentu saja bukan hal yang mudah untuknya. 

Dari awal kehamilan ia sudah terbiasa kontrol di sebuah rumah sakit ibu dan anak di dekat rumah. Rencana melahirkan pun berada di rumah sakit tersebut. Sayangnya, pandemi datang dua bulan sebelum ia melahirkan. 

Bisa dibayangkan betapa bingungnya seorang ibu yang tinggal jauh dari suami, hendak melahirkan pula. Ia tak bisa membayangkan bagaimana nanti ketika melahirkan. Ia tinggal jauh dari keluarganya sendiri dan keluarga suami. Bagaimana dengan dua anaknya yang lain jika ia melahirkan? Apakah bisa ia menitipkan pada tetangga, setidaknya untuk empat hari karena dokter sudah memastikannya melahirkan secara sectio? Apakah tidak merepotkan secara rumah tetangganya pun tak lebih besar dari rumahnya dan kondisi di perumahan banyak yang sudah usia lanjut.

Di tengah kebingungannya ia masih mendapatkan omongan yang kurang mengenakkan dari tetangga. Pemahaman yang salah dan berlebihan mengenai covid-19 membuatnya makin stress karena dijapri tetangga. 

Akhirnya ia dan suami memilih jalan yang beresiko. Suaminya pulang ke Yogya. Resiko yang akan dihadapi adalah ia dan suami statusnya akan menjadi ODP. Tak ada pilihan lain. Menjelang hari H suaminya pun pulang ke Yogya. 

Setelah sampai di Yogya sang suami pun melapor ke kelurahan dan puskesmas terdekat. Setelah itu ia dan suami datang ke rumah sakit tempatnya berencana melahirkan. Ia pun jujur dengan kondisinya bahwa suami datang dari luar kota. Mau tak mau ia pun mendapatkan status ODP karena kedatangan suami dari zona merah.

Tak disangka di RSIA tempat ia  hendak melahirkan keberatan jika seorang pasien ODP akan melahirkan di tempat ini. Pihak rumah sakit tak memiliki bangsal untuk isolasi pasien terkait dengan covid 19. Statusnya sebagai ODP mengharuskan rumah sakit menempatkannya di kamar isolasi. Ia pun disarankan untuk melahirkan di rumah sakit rujukan covid. 

Hari itu juga ia pun dirujuk ke rumah sakit rujukan covid. Bayangannya melahirkan dengan pendampingan suami sirna sudah.

Ia pun ditempatkan di sebuah bangsal isolasi dimana tak seorangpun diperbolehkan masuk. Pintu kamarnya dikunci dari luar. Perawat yang masuk ke kamarnya pun memakai seragam APD lengkap. Hanya jam-jam tertentu perawat dan tenaga kesehatan lain masuk ke ruang perawatan. 

Serangkaian test darah dilalui, termasuk covid test. Ia harus menunggu sampai hasilnya keluar. Alhamdulillah, covid test nya negatif.

Namun ia tak langsung bisa melahirkan. Sampai lebih dari tiga hari menunggu jadwal sectio. Ada prosedur kesehatan dan administrasi yang lumayan panjang. Mau tak mau harus dilalui.

Tiga hari kemudian tindakan sectio dilakukan. Meski jika standar normal  ibu dan anak dirawat gabung, untuk pasien ODP ternyata harus terpisah. Si anak ditempatkan di ruang khusus juga terpisah dari sang ibu. Setelah hendak pulang barulah si anak bisa diambil. Ia pun tetap harus melakukan karantina mandiri 14 hari sebelum pulang ke rumah atas permintaan tetangganya.

Ia pun karantina mandiri di sebuah hotel. Untung saja suaminya bekerja di bidang perhotelan sehingga dari relasinya mendapatkan kamar dengan harga jauh dari publish rate. Ia pun bisa bernapas lega ketika karantina mandiri selesai, ia bisa berada di rumah. Meski masih ada omongan tetangga yang kurang menyenangkan.

Mengedukasi masyarakat memang tak mudah. Apalagi untuk masyarakat usia paruh baya yang lebih menyukai tulisan-tulisan hoax yang beredar melalui WA group. Padahal jika mereka mau, banyak sekali situs kesehatan yang memberikan edukasi dengan sekali klik, misalnya Halodoc.

Berbagai tips dan pengetahuan kesehatan banyak sekali dibagikan di situs Halodoc. Jika makin tertarik, bisa mengunduh aplikasinya yang sudah tersedia di playstore. Banyak fasilitas yang bisa diakses melalui aplikasi ini. Untuk konsultasi dengan dokter pun mudah sekali diakses. Jika mau membeli obat pun bisa melalui Halodoc. Zaman sekarang apapun bisa dilakukan dengan jari dan jempol kita.

Stay safe and keep healthy ya temans?
Wassalamualaikum











Kamis, 18 Juni 2020

New Normal Life : Apa yang Perlu Kita Siapkan untuk Anak-anak?

Assalamualaikum temans,

Adanya Covid 19 telah mengubah segala tatanan dalam berkehidupan manusia di seluruh dunia. Di Indonesia, pasien terkonfirmasi positif belum menunjukkan penurunan. Bahkan di beberapa tempat kasus positif makin menanjak. Seperti di Kabupaten Magelang, tempat saya tinggal. Beberapa waktu lalu masih banyak kecamatan yang steril pasien Covid. Namun semakin lama, di beberapa kecamatan mulai ada kasus-kasus baru.

Di kecamatan saya setelah tiga bulan steril mulai ada satu pasien positif di sebuah desa di perbatasan. Satu perempuan dengan riwayat bekerja di Jogjakarta. Satu kasus lagi yang membuat saya degdegan juga ada di kecamatan Dukun, utara kecamatan Muntilan. Seorang pasien positif covid seusia Kakak, meninggal dengan Demam Berdarah sebagai penyerta. Si anak ini tertular dari abangnya yang bekerja di Semarang. Si abang pasien ini sering pulang Sabtu dan Ahad. Sementara si abangnya sendiri adalah orang tanpa gejala, satu keluarga pun saat ini menjalani isolasi di rumah sakit.

Gimana saya nggak deg-degan. Suami saya pun pulang ke rumah Sabtu dan Ahad. Kantor si abang pasien covid yang meninggal itu pun tak jauh dari kantor suami. Sementara suami saya bekerja di perusahaan public service yang harus ketemu banyak orang. Mau nggak mau kudu cerewet setiap saat mengingatkan untuk selalu mematuhi protap kesehatan.

Khawatir itu pasti. Namun harus dihadapi. Ketakutan hanya akan menimbulkan kecemasan yang berlebihan. Mau tak mau kita harus menghadapi. Adanya pandemi ini merupakan ujian bagi kita sebagai manusia. Pemerintah sudah mempersiapkan untuk sebuah tatanan baru dalam berkehidupan. It calls New normal life.

Banyak orang yang merasa mengalami stress yang berlarut saat pandemi ini berlangsung. Saya pun sempat mengalami psikosomatis di awal terjadinya kasus covid-19 ini. Banjir informasi via media sosial dan WAG ternyata mempengaruhi kejiwaan saya sehingga mengalami kecemasan yang berlebihan. Saya mengalami batuk dan sesak napas. Beberapa hari rasanya tersiksa di malam hari mengalami sesak napas meski tak berlangsung lama. Coba tebak, apa yang membuat saya sembuh dari psikosomatis?

Menonton channel youtube masak memasak. Dari tayangan memasak yang paling gampang sampai masakan yang saya sendiri nggak tahu saya lihat. Benar-benar menghibur diri supaya tak fokus pada pergerakan statistik pasien covid saat itu.

Kita tak pernah tahu kapan si covid akan berlalu. Bisa sebulan, lima bulan, setahun atau dua tahun lagi. Bagaimanapun juga kita harus menghadapi. Peperangan dengan si covid masih belum selesai. Kita harus menyiapkan amunisi untuk menghadapi. Salah satu yang kita persiapkan adalah psikologis anak-anak.

Apa sajakah yang perlu kita persiapkan pada anak-anak kita menghadapi tatanan kehidupan yang baru?


1. Menanamkan benih resiliensi.


Resiliensi adalah kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit (Reivich dan Shatté,2002). Resiliensi sendiri dibangun dari tujuh kemampuan yang berbeda. Tak ada satupun individu yang memiliki kemampuan tersebut secara keseluruhan dengan baik.

Tujuh kemampuan itu adalah :

Regulasi emosi
Regulasi emosi merupakan kemampuan tetap tenang dalam kondisi yang penuh tekanan. Seseorang yang memiliki kemampuan ini pasti bisa mengendalikan diri saat kesal, cemas, sedih marah atau emosi negatif lainnya. Ia juga mampu mengekspresikan emosi positif maupun negatif dengan tepat dan sehat.

Pengendalian impuls
Ini adalah kemampuan mengendalikan dorongan, keinginan, kesukaan, dan tekanan yang muncul dari dalam diri seseorang. Seseorang yang memiliki pengendalian impuls rendah mengalami perubahan emosi dengan cepat dan mengendalikan perilaku dan pikiran. Ia akan mudah kehilangan kesabaran, marah, impulsif, dan berlaku agresif pada situasi yang tidak terlalu penting. Hal ini sering kali membuat orang-orang di sekitarnya merasa kurang nyaman.

Optimisme
Pribadi yang resilien adalah seseorang yang optimis. Ia punya harapan di masa depan dan percaya bahwa dirinya mampu mengontrol arah hidupnya. Individu yang optimis lebih sehat secara fisik, tidak mengalami depresi, berprestasi lebih baik dan produktif.



Empati
Seseorang yang memiliki empati menandakan bahwa ia mampu membaca emosi dan tanda psikologis dari orang lain.

Analisis penyebab masalah
Seseorang yang memiliki kemampuan mengidentifikasi penyebab-penyebab dari permasalahan seseorang adalah orang yang memiliki kepekaan dalam menganalisis penyebab masalah. Seseorang yang tak memiliki kemampuan itu maka dirinya akan sering melakukan kesalahan yang sama terus menerus.

Efikasi diri
Efikasi adalah keyakinan bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk menghadapi dan memecahkan masalah secara efektif. Seseorang yang memiliki kemampuan ini juga meyakini dirinya mampu berhasil dan sukses. Ia adalah pribadi yang tak mudah menyerah, memiliki komitmen tinggi dan selalu menemukan strategi jika ia tak berhasil. Jika terpuruk, ia akan mampu bangkit dan berusaha memperbaiki dirinya.

Peningkatan aspek positif
Resiliensi merupakan kemampuan yang meliputi peningkatan aspek positif dalam hidup. Ia akan mampu membedakan resiko yang realistis maupun tidak. Ia juga memiliki tujuan hidup dan mampu melihat gambaran besar dari kehidupan.


Bagaimana menanamkan benih resiliensi ini?

Anak harus dibiasakan menghadapi ketidaknyamanan dan menghadapi tekanan. Namun untuk menghadapi hal-hal yang tak diinginkan itu selalu mendapatkan pendampingan, support dan cinta kasih yang optimal. Anak yang tak dimudahkan, dilatih kemandiriannya sejak dini, dan berani menghadapi hal-hal yang tak menyenangkan dalam hidupnya akan menjadi pribadi yang pantang menyerah.

Resiliensi terkait dengan pola asuh. Jika orang tua menerapkan pola asuh yang salah maka benih resiliensi itu akan sulit tumbuh. Anak belajar dari pola pengasuhan dari orang tua.

Sering kali orang tua sendirilah yang yang menghambat tumbuhnya benih resiliensi pada anak. Contoh kecil dari hambatan kemandirian dari orang tua adalah ketika anak ingin makan sendiri, orang tua melarang karena akan berantakan, lama, dan kotor. Contoh lain ketika anak ingin melakukan kegiatan fisik dilarang karena orang tua khawatir anak akan kecapekan dan sakit. Jika orang tua melakukan hal itu, maka anak belajar tergantung pada orang lain karena ia tak dibiasakan melakukan sesuatu sampai mahir.

Jika kita melakukan hal itu, sama saja melatih anak untuk tidak berdaya. Padahal sebagai orang tua kita nggak bakal selamanya bisa membantu anak-anak kita.


2.Melatih anak berpikir fleksibel. 


Bagaimanapun juga orang tua menjadi teladan bagi anak-anak. Jika seseorang tak memiliki kemampuan berpikir yang lentur, maka ia akan menjadi pribadi yang kaku, yang tak memiliki alternatif saat bertemu dengan permasalahan, baik besar maupun kecil. Jika seseorang memiliki kelenturan dalam berpikir, dengan sangat mudah ia akan menemukan alternatif A, B, C sampai Z untuk menjadikan solusi dari problematikanya.

Ini terkait dengan kemampuan seseorang menjadi pribadi yang resilien. Seseorang yang memiliki resiliensi tinggi ia akan selalu menemukan pintu-pintu lain dalam menemukan jalan keluar.

Dalam pandemi ini, kita harus berlatih untuk berpikir lentur dalam menemukan peluang. Jika tak terlatih berpikir fleksibel maka kita menjadi pribadi yang rentan, pencemas, mudah mengalami stress karena yang kita pikirkan tidak sesuai dengan kenyataan yang dihadapi.

Untuk melatih anak berpikir lentur adalah memulai memberikan stimulasi sejak dini. Stimulasi tersebut berkaitan dengan kreativitas. Kita bisa memberikan peluang bagi anak-anak kita untuk berpikir kreatif.



Sebuah contoh kecil di rumah saya. Dua anak saya sudah remaja. Anak milenial biasanya tergantung dengan gadget. Bagi mereka pandemi kesempatan lebih 'rajin' berdekatan dengan gadget. Pastinya kebosanan akan dialami. Bagi anak laki-laki saya, game tak lagi satu hal yang paling menarik. Ada buku yang bisa dibaca. Setelah maraton nonton anime, ia pun mencari tontonan lain. Akhirnya ia pun tak lagi alergi. Separuh dari drama korea dengan tema action dan komedi di laptop Kakak ia tonton. Main bola sendirian, main badminton lawan tembok, dan lompat tali ia lakukan. Masih merasa bosan? Ia akan membantu saya atau kakaknya di dapur. Atau berkreasi sendiri dengan bahan-bahan yang sudah ada. Bahkan yang paling gaje menawari memijit badan saya meski hanya memainkan lemak di badan yang mirip jelly katanya.

Lain lagi dengan si Kakak. Ia sedang senang memotong kaos-kaos yang tak lagi terpakai. Ada yang dijadikan tas belanja, atau tanktop.

Beberapa bulan belakangan ia senang sekali ngedance diiringi lagu-lagu kesukaannya. Sekalian senam katanya.

Ia pun memotong beberapa kaos dijadikan baju senam. Dijahit tangan, atau sekadar dipotong doang. Ada lagi kaos lengan panjang saya yang sudah sangat kebesaran dijadikan hotpant, dipakai saat ia memakai rok di rumah. Semuanya dijahit tangan.

Sayangnya saya tak boleh memotret hasil karyanya.

Sering kali orang tua menghambat anak berpikir lentur. Misalnya, orang tua berpikir bahwa sapu hanya untuk menyapu. Padahal anak-anak bisa berimajinasi bisa terbang atau main gitar. Dengan alasan kotor anak-anak pun tak lagi bisa berimajinasi.

Yang perlu kita lakukan adalah memberikan kesempatan pada anak-anak untuk bereksplorasi. Pastinya dengan pengawasan dari orang tua. Lebih asyik lagi jika kita sebagai orang tua terlibat aktif dengan anak-anak saat mengeksplorasi kemampuannya berpikir.

Hidup ini memang tak semulus wajah Dokter Reisa Broto Asmoro. Namun kita sanggup menghadapinya bukan?










Rabu, 03 Juni 2020

Self Love dalam Buku Karya Si Kakak : Be Strong, Be Brave Be Happy With Allah


Assalamualaikum temans,

Yang paling membirukan hati untuk saya adalah ketika menemani Kakak bangkit dari keterpurukan. Saat ia melakukan sebuah kesalahan. Ketika banyak orang tak percaya namun ia harus menghadapi. 

Saya harus menerima kenyataan. Ketika semuanya terbuka. Setelah kejadian itu saya menemukan berbagai lubang hati Kakak diakibatkan oleh kesalahan saya sebagai orang tua. Kesalahan yang tak saya sadari. Memukul jiwanya. Melukai egonya. Menenggelamkan hati sehingga saya dan Kakak berjarak. Dan jarak itu tak saya sadari begitu jauh. 

Foto-foto saat itu nuansa dark semua

Yang saya ucapkan saat itu.
"Apa yang sudah Kakak lakukan itu sebuah kesalahan. Kakak harus bertanggung jawab. Kakak harus menanggung resikonya. Namun apapun kesalahanmu, Bunda tetap sayang. Semua ini tak lepas dari kesalahan Bunda juga. Ayo ... Kita hadapi sama-sama. Kita harus berani menghadapinya."

Setiap pagi, kami harus berpelukan untuk menguatkan. Setiap hendak berangkat ke sekolah, Kakak memohon saya untuk tidak berangkat. 

"Aku nggak sanggup."

Begitu bisiknya. Saya tuntun ia menata bukunya. Saya ambilkan kembali baju seragamnya. Saya raih jemarinya mengantarnya ke kamar mandi. Saya tunggui. Meski isak yang selalu terdengar di dalam sana. 

Setiap kali saya menjemput sekolah, air mata sudah terkumpul di pelupuk matanya. Dua minggu kejadian itu terus berulang. Sampai kemudian ia menonton video motivasi dari Karin Novilda. Ia menyadari, ia tak baik-baik saja sejak lama. Namun ia menutup dengan keceriaan yang selalu ia tampilkan. Dan saya tak menyadari bahwa ia menyimpan luka sejak lama.

Aku tak pernah tahu apa yang dinamakan mental ilness. Sore ini aku menyadari. Aku mengalaminya. Ternyata aku tak bisa mengatasinya sendiri. Aku butuh bantuan.

Begitu tulisnya dalam sebuah catatan. Catatan yang ia tulis karena sejak kejadian yang menghempaskannya ia sulit berbicara. Ia hanya mampu berbicara sepatah atau dua patah kalimat. Kami pun berbicara lewat tulisan.

Cr : itsahealthylifestyle.org


"Mau ke psikolog?"
"Iya."
"Mau ke Budhe atau Tante Ita?"
"Terserah Bunda."
"Kakak aja yang memilih."

Ia berpikir sejenak.

"Tante Ita."

Seminggu kemudian saya dan Kakak membelah jalanan Jogja. Seorang sahabat telah menunggu kami. Seseorang yang akan menolong kami menghadapi permasalahan ini.

Ketika semuanya terlihat nyata. Ketika saya dihadapkan ternyata saya tak banyak tahu tentang Kakak. Saya yang mengira bahwa kami berdekatan hati. Ternyata kami bersekat. Kami berjarak. Ia menjauh.

Pada akhirnya, yang 'berobat' pada psikolog bukan hanya Kakak. Namun saya juga. Membenahi jaring cinta kami yang koyak. Menata kembali kepingan-kepingan hati yang terlepas. Menjalin jiwa yang terserabut. 

Saya bersyukur memiliki sahabat yang menjadi support system terbaik. Menjadi konsultan keluarga tanpa pamrih. Menjadi tempat sampah yang takkan pernah tercecer. Semoga Allah selalu menjaga mbak Ita sahabat saya ini.

Sejak saat itu, Kakak lebih lancar berbicara. Kelegaan terpancar di wajahnya.


Ia masih tetap menulis. Menuliskan kesedihan dan luka hati. Kemarahan dan kekecewaan yang masih berada dalam nurani. Sampai seminggu setelah itu, ia mampu menulis 15 halaman lebih di laptop.

"Kakak mau nulis buku nggak?"
"Mau."

Yang saya pikirkan saat itu, ia harus punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Untuk mengembalikan harga diri. Untuk menunjukkan bahwa ia mampu. Ia tak lagi bisa diremehkan orang lain. Kalau toh tulisannya nanti tak bisa masuk ke penerbit mayor, tulisannya bisa saya terbitkan lewat jalur indie. 

Saya dan Kakak pun membuat sebuah outline. Apa saja yang akan ia tuliskan. Membuat konsep bahwa tulisan ini tak hanya sebuah cerita. Namun Kakak pun harus memberikan hikmah dari setiap yang ia tuliskan. 

Kakak pun menulis setiap hari. Minimal satu halaman di pagi hari menjelang ia berangkat sekolah dan dua halaman setelah pulang sekolah. Setiap ia menyelesaikan satu bab, saya akan memberinya reward. 


Keceriaan perlahan-lahan kembali. Kali ini saya merasa keceriaannya begitu tulus. Sesekali menangis ketika mengingat apa yang pernah ia alami. Namun dengan sedikit pelukan, ia bisa kembali tersenyum.

Hampir dua bulan ia menyelesaikan tulisannya. Saya sama sekali tak boleh membacanya. Sampai akhirnya ia menggoreskan kata selesai. Ia berhasil menulis 99 halaman A4. Ia mampu menyelesaikan sebuah naskah buku di usianya genap 15 tahun, di pertengahan kelas 10.

Saya membaca naskah Kakak. Khas remaja banget. Meski di awal tulisannya terlihat terbata-bata, namun makin ke belakang makin asyik dibaca. Sampai di dua bab terakhir. Saya melihat bahwa Kakak sudah bisa menerima dirinya. Berdamai dengan hati dan pikirannya. Ia sudah mencintai diri apa adanya. Istilah kekiniannya self love.

Dua bab terakhir dalam naskahnya adalah Forgive Your Past dan Love Yourself. Dalam Bab Forgive Your Past ada sembilan sub bab yang isinya adalah berbagai perenungan bahwa setia manusia itu selalu memiliki kesalahan. Kesalahan itu tak bisa dihapus karena itu adalah jejak dari kehidupan manusia. Dan dari kesalahannya itu manusia bisa belajar memaafkan. 

Memaafkan diri sendiri adalah sesuatu yang berharga. Jika kita tak mampu memaafkan diri sendiri, bagaimana orang lain mampu memaafkan kita. Toh Allah itu Maha Pengampun. Maha Pemberi Kesempatan. Kalau Sang Pencipta saja memberi kesempatan, mengapa sebagai manusia kita tak berani mengambil yang Allah berikan?

Dalam Bab Love Yourself, si Kakak menuliskan tentang hidup yang harus dijalani. Ada tujuh sub bab tulisannya tetang bagamana seseorang bisa melakukan self love. Menyukai apapun tentang diri sendiri. Menerima kekurangan yang ada dalam diri. Berdamai dengan kesalahan diri sendiri dan orang lain. Berusaha menyembuhkan luka dengan lebih memberi perhatian pada diri sendiri. Tak perlu memikirkan apa yang jadi omongan orang lain. Selama tak bertentangan dengan norma agama dan norma sosial, biarkan saja orang mau ngomong apa. Simple nya bodo amat, nggak ganggu dan nggak dosa. Namanya like dan dislike itu dimana aja akan selalu ada. Menjadi diri sendiri, bukan yang orang lain inginkan. Biarkan saja jika ada yang tak menyukai. Kita tak mungkin bisa memaksa orang lain menyukai kita. Karena setiap pribadi adalah unik. Dan orang-orang terbaiklah yang akan selalu ada bersama kita. 

Di epilognya, ia menuliskan tentang hal ini. 

Beberapa remaja seusia saya pasti pernah mengalami depresi karena suatu hal. Rasanya tak mempunyai semangat hidup, tak berguna, dan merasa sendiri. Saya pernah mengalami semua hal itu, karena memang tidak mudah. Saya merasa hancur ketika merasa tak memiliki seorang teman pun di sisi saya.
Tapi, satu hal yang takkan saya lupakan. Saya masih memiliki keluarga yang takkan pernah meninggalkan saya. Sesalah apapun saya, serendah apapun saya, saya yakin keluarga selamanya akan selalu berada di samping dan mendukung saya untuk bangkit.
Siapa yang sanggup mengubah diri kita agar dapat bangkit lagi dari keterpurukan? Tentu saja kita sendiri. Perilaku kita tergantung pemikiran kita. Ketika kita merasa tak ada gunanya lagi untuk hidup, mungkin saja kita memilih untuk mengakhiri hidup, kan? Tapi percayalah, semua itu tidak menyelesaikan masalah kita.
Jika kita berpikiran sanggup untuk berubah, maka kita bisa melakukannya. Dan jangan pernah mengatakan tak bisa. Jika kita mengalami kegagalan ucapkanlah kita belum berhasil. Jika kita tidak menyerah untuk mendapatkan keinginan dan selalu berusaha, hasil takkan mengkhianati usaha dan kerja keras. Insya Allah saya percaya dengan hal itu.
Untuk kalian yang merasa sendiri, jangan pernah berpikir hidup kalian tak berguna. Masih banyak orang-orang yang menyayangi kalian tanpa pamrih. Masih banyak orang yang berdiri di sisi kalian tanpa kata tapi. Mereka adalah orang yang benar-benar tulus mencintai kalian.
Jangan lupakan bahwa kalian masih hidup di detik karena Yang Maha Esa. Ia Sang Maha Pemberi Hidup. Dia satu-satunya yang menawarkan hati.
Untuk kalian yang menginginkan hal terbaik di dunia ini. Dia selalu mampu memberikan solusi agar kita menjadi lebih baik.
Allah SWT.

Setahun kemudian, naskah itu terbit di penerbit Mayor. Naskah Kakak berjodoh dengan Tiga Serangkai.



Masalah penjualan saya dan Kakak nggak terlalu mikirin. Yang penting, ia memiliki portofolio. Semoga tak berhenti sampai di sini.

Well ... Saya menuliskan ini dengan mata basah. Bercerita tentang hari-hari berat itu menerbitkan rasa syukur hari ini. Kami melewati semua itu bersama-sama. Semuanya menjadi jauh lebih baik meski tetap tak sempurna. Kakak jauh berubah. Ia makin dewasa. Jauh melebihi ekspektasi saya. Ia menjadi pribadi yang apa adanya. Berani mengambil keputusan, dan berani menjadi dirinya sendiri tanpa tekanan orang lain. Ia pun memiliki cita-cita menjadi psikolog. Ia terinspirasi oleh sahabat saya yang selalu membantu orang lain.

Selalu ada pelangi setelah turun hujan bukan?