Self Love dalam Buku Karya Si Kakak : Be Strong, Be Brave Be Happy With Allah - Jurnal Hati

Rabu, 03 Juni 2020

Self Love dalam Buku Karya Si Kakak : Be Strong, Be Brave Be Happy With Allah



Assalamualaikum temans,

Yang paling membirukan hati untuk saya adalah ketika menemani Kakak bangkit dari keterpurukan. Saat ia melakukan sebuah kesalahan. Ketika banyak orang tak percaya namun ia harus menghadapi. 

Saya harus menerima kenyataan. Ketika semuanya terbuka. Setelah kejadian itu saya menemukan berbagai lubang hati Kakak diakibatkan oleh kesalahan saya sebagai orang tua. Kesalahan yang tak saya sadari. Memukul jiwanya. Melukai egonya. Menenggelamkan hati sehingga saya dan Kakak berjarak. Dan jarak itu tak saya sadari begitu jauh. 

Foto-foto saat itu nuansa dark semua

Yang saya ucapkan saat itu.
"Apa yang sudah Kakak lakukan itu sebuah kesalahan. Kakak harus bertanggung jawab. Kakak harus menanggung resikonya. Namun apapun kesalahanmu, Bunda tetap sayang. Semua ini tak lepas dari kesalahan Bunda juga. Ayo ... Kita hadapi sama-sama. Kita harus berani menghadapinya."

Setiap pagi, kami harus berpelukan untuk menguatkan. Setiap hendak berangkat ke sekolah, Kakak memohon saya untuk tidak berangkat. 

"Aku nggak sanggup."

Begitu bisiknya. Saya tuntun ia menata bukunya. Saya ambilkan kembali baju seragamnya. Saya raih jemarinya mengantarnya ke kamar mandi. Saya tunggui. Meski isak yang selalu terdengar di dalam sana. 

Setiap kali saya menjemput sekolah, air mata sudah terkumpul di pelupuk matanya. Dua minggu kejadian itu terus berulang. Sampai kemudian ia menonton video motivasi dari Karin Novilda. Ia menyadari, ia tak baik-baik saja sejak lama. Namun ia menutup dengan keceriaan yang selalu ia tampilkan. Dan saya tak menyadari bahwa ia menyimpan luka sejak lama.

Aku tak pernah tahu apa yang dinamakan mental ilness. Sore ini aku menyadari. Aku mengalaminya. Ternyata aku tak bisa mengatasinya sendiri. Aku butuh bantuan.

Begitu tulisnya dalam sebuah catatan. Catatan yang ia tulis karena sejak kejadian yang menghempaskannya ia sulit berbicara. Ia hanya mampu berbicara sepatah atau dua patah kalimat. Kami pun berbicara lewat tulisan.

Cr : itsahealthylifestyle.org


"Mau ke psikolog?"
"Iya."
"Mau ke Budhe atau Tante Ita?"
"Terserah Bunda."
"Kakak aja yang memilih."

Ia berpikir sejenak.

"Tante Ita."

Seminggu kemudian saya dan Kakak membelah jalanan Jogja. Seorang sahabat telah menunggu kami. Seseorang yang akan menolong kami menghadapi permasalahan ini.

Ketika semuanya terlihat nyata. Ketika saya dihadapkan ternyata saya tak banyak tahu tentang Kakak. Saya yang mengira bahwa kami berdekatan hati. Ternyata kami bersekat. Kami berjarak. Ia menjauh.

Pada akhirnya, yang 'berobat' pada psikolog bukan hanya Kakak. Namun saya juga. Membenahi jaring cinta kami yang koyak. Menata kembali kepingan-kepingan hati yang terlepas. Menjalin jiwa yang terserabut. 

Saya bersyukur memiliki sahabat yang menjadi support system terbaik. Menjadi konsultan keluarga tanpa pamrih. Menjadi tempat sampah yang takkan pernah tercecer. Semoga Allah selalu menjaga mbak Ita sahabat saya ini.

Sejak saat itu, Kakak lebih lancar berbicara. Kelegaan terpancar di wajahnya.


Ia masih tetap menulis. Menuliskan kesedihan dan luka hati. Kemarahan dan kekecewaan yang masih berada dalam nurani. Sampai seminggu setelah itu, ia mampu menulis 15 halaman lebih di laptop.

"Kakak mau nulis buku nggak?"
"Mau."

Yang saya pikirkan saat itu, ia harus punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Untuk mengembalikan harga diri. Untuk menunjukkan bahwa ia mampu. Ia tak lagi bisa diremehkan orang lain. Kalau toh tulisannya nanti tak bisa masuk ke penerbit mayor, tulisannya bisa saya terbitkan lewat jalur indie. 

Saya dan Kakak pun membuat sebuah outline. Apa saja yang akan ia tuliskan. Membuat konsep bahwa tulisan ini tak hanya sebuah cerita. Namun Kakak pun harus memberikan hikmah dari setiap yang ia tuliskan. 

Kakak pun menulis setiap hari. Minimal satu halaman di pagi hari menjelang ia berangkat sekolah dan dua halaman setelah pulang sekolah. Setiap ia menyelesaikan satu bab, saya akan memberinya reward. 


Keceriaan perlahan-lahan kembali. Kali ini saya merasa keceriaannya begitu tulus. Sesekali menangis ketika mengingat apa yang pernah ia alami. Namun dengan sedikit pelukan, ia bisa kembali tersenyum.

Hampir dua bulan ia menyelesaikan tulisannya. Saya sama sekali tak boleh membacanya. Sampai akhirnya ia menggoreskan kata selesai. Ia berhasil menulis 99 halaman A4. Ia mampu menyelesaikan sebuah naskah buku di usianya genap 15 tahun, di pertengahan kelas 10.

Saya membaca naskah Kakak. Khas remaja banget. Meski di awal tulisannya terlihat terbata-bata, namun makin ke belakang makin asyik dibaca. Sampai di dua bab terakhir. Saya melihat bahwa Kakak sudah bisa menerima dirinya. Berdamai dengan hati dan pikirannya. Ia sudah mencintai diri apa adanya. Istilah kekiniannya self love.

Dua bab terakhir dalam naskahnya adalah Forgive Your Past dan Love Yourself. Dalam Bab Forgive Your Past ada sembilan sub bab yang isinya adalah berbagai perenungan bahwa setia manusia itu selalu memiliki kesalahan. Kesalahan itu tak bisa dihapus karena itu adalah jejak dari kehidupan manusia. Dan dari kesalahannya itu manusia bisa belajar memaafkan. 

Memaafkan diri sendiri adalah sesuatu yang berharga. Jika kita tak mampu memaafkan diri sendiri, bagaimana orang lain mampu memaafkan kita. Toh Allah itu Maha Pengampun. Maha Pemberi Kesempatan. Kalau Sang Pencipta saja memberi kesempatan, mengapa sebagai manusia kita tak berani mengambil yang Allah berikan?

Dalam Bab Love Yourself, si Kakak menuliskan tentang hidup yang harus dijalani. Ada tujuh sub bab tulisannya tetang bagamana seseorang bisa melakukan self love. Menyukai apapun tentang diri sendiri. Menerima kekurangan yang ada dalam diri. Berdamai dengan kesalahan diri sendiri dan orang lain. Berusaha menyembuhkan luka dengan lebih memberi perhatian pada diri sendiri. Tak perlu memikirkan apa yang jadi omongan orang lain. Selama tak bertentangan dengan norma agama dan norma sosial, biarkan saja orang mau ngomong apa. Simple nya bodo amat, nggak ganggu dan nggak dosa. Namanya like dan dislike itu dimana aja akan selalu ada. Menjadi diri sendiri, bukan yang orang lain inginkan. Biarkan saja jika ada yang tak menyukai. Kita tak mungkin bisa memaksa orang lain menyukai kita. Karena setiap pribadi adalah unik. Dan orang-orang terbaiklah yang akan selalu ada bersama kita. 

Di epilognya, ia menuliskan tentang hal ini. 

Beberapa remaja seusia saya pasti pernah mengalami depresi karena suatu hal. Rasanya tak mempunyai semangat hidup, tak berguna, dan merasa sendiri. Saya pernah mengalami semua hal itu, karena memang tidak mudah. Saya merasa hancur ketika merasa tak memiliki seorang teman pun di sisi saya.
Tapi, satu hal yang takkan saya lupakan. Saya masih memiliki keluarga yang takkan pernah meninggalkan saya. Sesalah apapun saya, serendah apapun saya, saya yakin keluarga selamanya akan selalu berada di samping dan mendukung saya untuk bangkit.
Siapa yang sanggup mengubah diri kita agar dapat bangkit lagi dari keterpurukan? Tentu saja kita sendiri. Perilaku kita tergantung pemikiran kita. Ketika kita merasa tak ada gunanya lagi untuk hidup, mungkin saja kita memilih untuk mengakhiri hidup, kan? Tapi percayalah, semua itu tidak menyelesaikan masalah kita.
Jika kita berpikiran sanggup untuk berubah, maka kita bisa melakukannya. Dan jangan pernah mengatakan tak bisa. Jika kita mengalami kegagalan ucapkanlah kita belum berhasil. Jika kita tidak menyerah untuk mendapatkan keinginan dan selalu berusaha, hasil takkan mengkhianati usaha dan kerja keras. Insya Allah saya percaya dengan hal itu.
Untuk kalian yang merasa sendiri, jangan pernah berpikir hidup kalian tak berguna. Masih banyak orang-orang yang menyayangi kalian tanpa pamrih. Masih banyak orang yang berdiri di sisi kalian tanpa kata tapi. Mereka adalah orang yang benar-benar tulus mencintai kalian.
Jangan lupakan bahwa kalian masih hidup di detik karena Yang Maha Esa. Ia Sang Maha Pemberi Hidup. Dia satu-satunya yang menawarkan hati.
Untuk kalian yang menginginkan hal terbaik di dunia ini. Dia selalu mampu memberikan solusi agar kita menjadi lebih baik.
Allah SWT.

Setahun kemudian, naskah itu terbit di penerbit Mayor. Naskah Kakak berjodoh dengan Tiga Serangkai.



Masalah penjualan saya dan Kakak nggak terlalu mikirin. Yang penting, ia memiliki portofolio. Semoga tak berhenti sampai di sini.

Well ... Saya menuliskan ini dengan mata basah. Bercerita tentang hari-hari berat itu menerbitkan rasa syukur hari ini. Kami melewati semua itu bersama-sama. Semuanya menjadi jauh lebih baik meski tetap tak sempurna. Kakak jauh berubah. Ia makin dewasa. Jauh melebihi ekspektasi saya. Ia menjadi pribadi yang apa adanya. Berani mengambil keputusan, dan berani menjadi dirinya sendiri tanpa tekanan orang lain. Ia pun memiliki cita-cita menjadi psikolog. Ia terinspirasi oleh sahabat saya yang selalu membantu orang lain.

Selalu ada pelangi setelah turun hujan bukan? 




18 komentar:

Nyonya Faruq mengatakan...

Pinter ya udah bisa bikin buku dari pengalaman hidup.Kalau saya mah rezekinya penerbit indie

Sulis Nashwa Kirana mengatakan...

Wah sebuah kisah yang sangat menyentuh bun. Akhirnya si kakak bisa bangkit dari permasalahan yang dialami hingga akhirnya bisa menunjukkan bahwa ia punya kemampuan yang bisa membuat orang tua bangga. Sungguh salut dengan perjuangan si kakak dan tentunya juga sang bunda yang selalu mendamoinginya hingga akhirnya bisa menghasilkan sebuah karya.

Yustrini mengatakan...

Bahagianya bisa bangkit dari keterpurukan. Peran orang tua sebagai pendamping dan motivator juga berperan penting untuk anak bisa kembali bersemangat.

www.derisafriani.xyz mengatakan...

Masyaallah... Saya pun membacanya dengan mata yang basah. Usap kanan, usap kiri. Menyentuh sekali. Semoga Kakak sehat selalu ya. Terus berkarya dan berarti bagi banyak orang melalui karya2mu.

Hetty mengatakan...

Mata saya aja ikut basah baca ini. Masya Allah...salut sama Bunda dan kakak, yang akhirnya bisa melewati ini semua. Hebatlah, umur 15 tahun udah bisa bikin buku 😍. Saya setua ini belom punya...hehehe

maria8181 mengatakan...

Kok saya jadi sedih bacanya. Tapi seneng juga karena kakak di usia belia sudah mampu menerbitkan buku sendiri. Semangat untuk si kakak ya bun...

Kang Syahri mengatakan...

Waah hebat nih kakak, baru usia 15 tahun udah bisa bikin buku. Bukunya juga bagus banget, tdak hanya sebuah cerita, namun dapat memberi hikmah pada orang lain melalui tulisan.

Sukses selalu ya kak...

Wenda Witrasari mengatakan...

Aku sedih banget bacanya kak dan ngebayangin kalo di posisi itu bagaimana, salut pada akhirnya kakak bisa mengatasi kesedihan dengan menulis buku sampai terbit bangkit itu udah pasti sesuatu yang sangat sulit, terus semangat ya

Susi Susindra mengatakan...

Banyak cara untuk mencintai diri sendiri dan mensyukuri keadaan diri, termasuk di antaranya membaca kisah mengharu biru gini.

Tira Soekardi mengatakan...

wah keren ini, menulis memang salah satu jalan untuk menenangkan jiwa

Anjar Sundari mengatakan...

Wuihhh kerennn, buah tak jatuh jauh dari pohonnya kan yaa. Colab mbak, colab, pasti seru tuh :)

Iya sih, masa remaja paling banyak intrik karena melibatkan emosi, pencarian jati diri, minder, takut, dan lain-lain. Lagi-lagi kuncinya adalah orangtua (ibu).

Sukses buat Kakak dan Bundanya, muuaachhh :)

Dani Ristyawati mengatakan...

MasyaAllah..keren sekali si kakak...memang self love itu pondasi dasar kita agar bisa bahagia...dan juga membahagiakan

Wuri Nugraeni mengatakan...

Insya Allah berkah, bermanfaat tulisannya ya Kak. Semangat buat Mak Ir yang setia mendampingi anaknya. Jadi deg degan gimana arkaan remaja ya

Wahyu Widyaningrum mengatakan...

Membutuhkan hati. Langsung terpaut hatiku. Kakak keren banget. Nulisnya dari hati yang terdalam banget ya mbak irfa. Anakku dibaca ceritanya aja kadang nggak mau. Sukses buat kakak...

Hidayah Sulistyowati mengatakan...

Self Love ini memang hal mendasar yang mesti disadari setiap orang ya. Termasuk memaafkan diri sendiri yang sering sulit dilakukan, apalagi kalo sampai bikiin patah semangat. Beruntung kakak punya ibu yang selalu memberikan rasa nyaman, dan memang seharusnya begini, enggak ngejudge, tapi merangkul dan membantunya dengan pertolongan profesional plus kasih sayang dari seorang ibu.

Aku bacanya aja dengan hati yang menangis haru, salut buat keberhasilan kakak

Mechta mengatakan...

Salut utk Kakak yg berhasil mengalahkan kesedihannya, bangkit dan bersinar kembali. Menulis benar2 menjadi self healing Kakak waktu itu ya mba.. Salut juga ytk mba Irfa sekelg tentunya yg telah mendampingi kakak dg baik. Terima kasih telah berbagi pengalaman ini, mba.

Marita Ningtyas mengatakan...

Hebat ih kakak, di usia semuda itu sudah bisa menemukan caranya self love. Tentunya didukung oleh ibu yang luar biasa juga... Aku belajar banyak nih dari sini, tentang unconditional love seorang ibu. Makasih banyak mbak Irfa.

Khulatul Mubarokah mengatakan...

Semoga kakak selalu dalam lindungan Allah SWT dan terus berkarya. Aamiin.