Mei 2020 - Jurnal Hati

Sabtu, 30 Mei 2020

Kesamaan Pola Parenting Zaman Dulu dan Sekarang dalam Menumbuhkan Minat Baca Anak

Assalamualaikum temans,

Kata Ibuk saya suka sekali membuka surat kabar yang dibawa Bapak pulang. Saya suka melihat gambar dan bertanya tentang huruf dan angka. 

"Ini huruf apa?"
"Ini bacanya gimana?"

Itu pertanyaan yang sering muncul saat melihat Headline surat kabar hari itu. Saya inget banget, Bapak sering membawa Suara Merdeka. Saat itu kami belum mampu berlangganan. Bapak biasanya meminjam surat kabar dari kantor saat pulang, dan dikembalikan keesokan harinya sambil berangkat ke kantor. 

Lalu Bapak pun membeli papan tulis kecil. Fungsinya buat saya menulis menirukan huruf dari surat kabar. Zaman itu anak TK belum terbebani oleh calistung. Sekolah isinya ya bermain dan bernyanyi.

Dari surat kabar itu saya belajar mengeja.
"Su A Ra Mer De Ka."

Begitu saya mengeja. Setelah sukses membaca nama surat kabar, saya pun suka membaca headline Suara Merdeka. Saya membaca dengan keras. Kata Ibuk, saya melonjak kegirangan jika sukses membaca tulisan-tulisan itu. Apalagi dengan tulisan-tulisan panjang. Saya sendiri sudah lupa-lupa ingat saat itu. Kata Ibuk, itu terjadi saat saya masuk TK besar. Paling nggak ya usia lima tahunan lah.

Yang paling saya ingat adalah ketika Ibuk menuliskan arti surah Al Fatikhah di papan tulis. Saya sangat suka membaca tulisan itu berulang-ulang. Bahkan mencoba mendeklamasikan ala ala saya. Sampai akhirnya saya pun hafal terjemahan Surah Al Fatikhah tersebut. Lalu di acara akhirussanah TK, saya pentas membacakan terjemahan itu. 


Kecintaan Kakak pada membaca

Belajar dari orang tua, saya pun tak memaksakan anak untuk belajar calistung si Kakak ketika masih belajar di PAUD. Namun sejak dini saya menyediakan buku-buku berbahan hard cover untuk permainan si Kakak. Ternyata buku-buku yang sering ia buka sejak usia dua tahun itu menumbuhkan minat baca si Kakak. 

Awalnya ia suka melihat gambar dan warna. Saya sering mengajaknya ke toko buku. Bahkan supaya bisa membeli buku dengan diskon yang lumayan banyak, saya sampai membuka toko buku kecil di kota saya. Meski kemudian toko kecil itu saya tutup karena minat baca di kota saya masih minim, namun saya memiliki relasi untuk mendapatkan buku yang lebih murah atau mendapatkan diskon lebih besar.

Relasi pertama saya adalah distributor Mizan dan Agro grup. Anak-anak paling suka jika saya ke Distributor Mizan grup. Kenapa? Karena di sana ada Mizan Book Store, semacam display dari semua buku-buku yang tergabung dalam Mizan grup. 

Di Mizan Book Store (MBS) pengunjung anak dimanjakan. Ada display khusus anak dengan penataan yang membuat anak-anak betah. Display pictorial book dibuat seperti loko kereta api. Ada kursi-kursi kecil jika anak-anak ingin membaca di sana. Dan sebuah sofa warna merah bagi orang dewasa yang ingin membaca buku jika berkunjung ke sana. Saya paling suka membaca buku parenting di sana. Banyak pilihan tentang cara mendidik anak di sana. 

Si Kakak bisa betah satu sampai dua jam di sana. Setiap kali saya mengambil buku di sana si Kakak pasti ikut. Awalnya sih lihat-lihat. Karena sering melihat pictorial book, si Kakak pun bersemangat belajar membaca sendiri.

Selain melihat pictorial book, saya suka membacakannya buku. Disertai dengan ekspresi di suara dan mimik muka layaknya pendongeng, hal itu ternyata membuat si Kakak sangat suka. 

Kesukaan Kakak pada buku membuatnya lancar membaca di usia lima tahun. Bahkan di usia 5,5 tahun ia sudah mulai membaca novel anak. Lantas di usia tujuh tahun ia sudah membaca novel karya Tere Liye, Hafalan Shalat Delisa. Kebutuhannya membaca buku memang gila-gilaan saat itu. Ketika kls 6 SD, ia membaca buku tentang sirah sebanyak 500 halaman selama dua hari. 

Si Adek pun akhirnya ngikut si Kakak. Melihat Kakaknya anteng baca buku, ia pun tertular menyukai buku meskipun beda genre. Kalau si Kakak suka baca novel sejak usia SD, ia lebih suka komik. Namun mulai SMP ini ia suka membaca novel-novel yang berhalaman tebal. Namun ia kurang menyukai novel yang berbasis media sosial. Ia lebih menyukai novel karya Ary Nilandari atau bacaan bergenre personal literature semacam karya Raditya Dika. 

Dari pengalaman saya sebagai anak atau orang tua dalam memupuk minat baca anak, saya melihat kesamaan bahwa minat baca itu tidak datang dengan sendirinya. Orang tua harus berperan aktif dalam menyediakan fasilitas meningkatkan kecintaan anak pada buku. Bapak dan Ibuk saya tak pernah mengenal apa itu parenting ketika memupuk minat saya pada membaca. Yang mereka tahu ketika anak menyukai huruf ataupun angka, maka mereka menyediakan fasilitasnya. Fasilitas tak harus membeli. Contohnya seperti Bapak saya yang meminjam surat kabar dari kantor supaya bisa saya baca. 

Selain memberikan fasilitas orang tua juga harus terlibat dalam memupuk minat anak terhadap membaca. Jika anak hanya diberikan fasilitas tanpa pendampingan, saya yakin anak juga takkan tertarik pada fasilitas yang disediakan. Bagaimanapun juga anak melihat keteladanan. Jika orang tua lebih memilih melihat televisi atau bermain gadget, masihkah ada harapan anak-anak kita cinta akan membaca?

Rabu, 20 Mei 2020

Yang Bisa Kita Lakukan untuk Menghambat Perubahan Iklim
Cr : pixabay

Assalamualaikum temans,

Saya yakin, setiap perubahan sekecil apapun, selalu bermula dari diri sendiri. Kita tak mungkin melakukan sebuah perubahan besar tanpa kesadaran diri yang mendorong melakukan sesuatu. Namun dari yang kecil itu, jika dilakukan kolektif maka hal besar pun akan mudah dilakukan.

Banyak masyarakat tak menyadari bahwa cuaca esktrem di bumi iki merupakan dampak terjadinya perubahan iklim. Sebenarnya perubahan iklim sendiri adalah fenomena alam yang tak bisa kita hindari. Namun berbagai bentuk pemanasan global menjadi pendorong mempercepat perubahan iklim ini.

Kita memang tidak bisa mencegah terjadinya perubahan iklim. Hanya saja kita bisa berupaya melakukan hal hal kecil supaya perubahan iklim tidak terjadi dengan cepat seperti saat ini.
Semua bermula dari diri kita.


Hal kecil yang bisa kita lakukan untuk mengatasi perubahan iklim


Dari www.theconversations.com sebuah artikel yang tayang tanggal 21 Mei 2019 berjudul "Riset Buktikan Upaya Individu dapat atasi perubahan iklim" yang ditulis oleh Steve Westlake seorang peneliti Environment Leadership Cardiff University ini menemukan bahwa melakukan sesuatu yang berani seperti berhenti naik pesawat dapat memiliki efek kumulatif yang lebih luas karena dapat memberi pengaruh bagi orang lain serta mengubah pandangan orang tentang apa yang dipandang “normal”. Artikel yang telah dialihbahasakan oleh Las Asimi Lumban Gaol tersebut juga menyatakan bahwa dalam sebuah survei yang dilakukan oleh Steve Westlake, setengah dari responden yang mengenal seseorang telah berhenti naik pesawat demi mengatasi perubahan iklim mengatakan bahwa mereka turut mengurangi penerbangan mereka karena mencontoh perilaku kenalannya.

Lebih lanjut Steve mengatakan bahwa sekitar tiga perempat responden mengatakan bahwa contoh tersebut telah mengubah sikap mereka terhadap penerbangan dan perubahan iklim melalui beberapa cara. Efek ini meningkat jika yang melakukannya adalah orang yang terkenal, seperti akademisi atau seseorang yang terkenal di mata publik. Dalam hal ini, sekitar dua pertiga mengatakan mereka mengurangi penerbangan karena orang tersebut, dan hanya 7% yang mengatakan orang-orang tersebut tidak mempengaruhi sikap mereka.

Dari penelitian itu menguatkan bahwa kita bisa kok melakukan hal kecil yang punya dampak luar biasa. Karena setiap orang memiliki pengaruh untuk orang lain. Memulai dari diri sendiri itu butuh effort yang besar juga, apalagi jika dari lingkungan sekitar belum mendukung.

Apa saja sih yang bisa kita lakukan untuk mengurangi percepatan perubahan iklim? Ini adalah hal-hal kecil yang sudah saya lakukan untuk mengurangi pemanasan global


Hemat Listrik

cr : pixabay


Percaya atau tidak, daya listrik di rumah kami hanya menggunakan 450 watt. Karena hidup di pedesaan yang masih cukup segar udaranya, kami tak membutuhkan banyak alat pendingin udara. Jangankan AC, kipas angin pun tak ada. Atap di rumah pun cukup tinggi. Selain itu jendela model lawas yang terbuka membuat sirkulasi udara di rumah cukup baik.

Di rumah keluarga saya tak menggunakan TV, mesin cuci, maupun alat penanak nasi listrik. Penggunaan listrik di rumah kami ya hanya untuk penerangan, kulkas, setrika, dan charge ponsel dan laptop saja. Itu pun jika sudah selesai dilepas dari colokan.

Penerangan di ruangan rumah kami menggunakan lampu LED bahkan untuk kamar sekalipun. Namun semuanya disesuaikan jumlah watt nya. Jika malam tiba, semua lampu di kamar kami matikan, hanya di penerangan luar rumah, ruang keluarga dan ruang makan yang tetap menyala supaya masih ada bias cahaya masuk ke kamar-kamar. Pemakaian terbanyak biasanya terjadi di Idul Fitri karena keluarga adik-adik saya datang dan mereka tak terbiasa mematikan lampu. Coba tebak berapa biaya tertinggi untuk listrik di rumah kami saat Idul Fitri?
Rp. 70.000,-
Hemat kan?


Hemat air

Di rumah kami menggunakan air dari PDAM. Penggunaan air terbanyak untuk mencuci baju dan cuci piring. Di luar itu sekadar kebutuhan pribadi dan memasak. Namun sejak pandemi ini terjadi kebutuhan air lebih banyak lagi karena cuci muka, cuci tangan dan kaki makin sering. Meski begitu tagihan air di rumah juga tak banyak. Pemakaian reguler pun berada di kisaran angka Rp. 45.000 - 50.000. Kecuali jika Idul Fitri tiba dan adik-adik saya mudik memang bisa sampai dua kali lipat. Maklum aja, jumlah keluarga saat lebaran tambah jadi tiga kali lipat.


Re-use & Reduce

Untuk meminimalkan sampah plastik sebisa mungkin kami menggunakan wadah sendiri saat berbelanja maupun jajan. Awalnya malu juga sih ketika jajan selalu bawa wadah untuk jaga-jaga jika makanan nggak habis bisa dibawa pulang tanpa minta dibungkus. Setiap kali bepergian pun kami akan membawa tumbler (tempat air minum) supaya tak membeli minuman kemasan. Di rumah tersedia sedotan dari logam, sehingga tak menimbulkan sampah. Selain higienis, kami nggak perlu nyampah dari sedotan kan?


Memanfaatkan energi alam semaksimal mungkin.

Saya sudah bercerita jika di rumah kami tanpa mesin cuci. Pengeringan di rumah kami menggunakan energi matahari yang mudah kami dapatkan di halaman rumah. Meski agak repot saat musim hujan karena cucian sering kali tidak kering, namun kami masih bisa menganginkan pakaian di dalam rumah karena sirkulasi udara di rumah kami bagus.

Hal ini terkait dengan penghematan listrik. Siang hari sama sekali tak ada penerangan di dalam rumah karena cahaya masuk tanpa halangan, jendela terbuka yang memudahkan sirkulasi udara sehingga di rumah cukup sejuk tanpa pendingin udara.


Memanfaatkan peralatan rumah tangga yang ramah lingkungan

Sampah terbanyak adalah sampah rumah tangga. Saat memasak yang membutuhkan pembungkusan, misalnya membuat pepes dan galantin, saya selalu menggunakan daun pisang sebagai pembungkus. Kalau toh jadi sampah, namun bisa diurai dengan cepat, bahkan bisa jadi kompos kan?

Kami pun tak menyediakan tisu di dalam rumah. Sebagai gantinya kami punya banyak lap dari kain. Jika kurang, kami biasa memanfaatkan baju bekas yang sudah tak layak pakai.

Saat berbelanja kebutuhan pokok saya menyiapkan berbagai macam tas belanja berbagai macam ukuran. Tergantung saya mau belanja banyak atau sedikit.

Untuk meminimalisir sampah kami pun memilah sampah organik dan non organik. Sampah organik kami buang di lubang sampah belakang rumah supaya bisa mengurai dan menjadi kompos, sementara sampah non organik kami buang di tempat pembuangan sampah.


Selain itu kami pun menggunakan telobag, tas sampah yang terbuat dari tepung singkong sehingga bisa terurai di tanah.


Meminimalkan menggunakan kendaraan bermotor

Salah satu hikmah adanya Wabah Corona adalah berkurangnya polusi udara karena karbon monoksida yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor. Langit menjadi jauh lebih cerah dibanding sebelumnya karena anjuran stay at home. Nanti, setelah wabah ini berlalu saya sih punya keinginan untuk lebih banyak jalan kaki dibanding menggunakan kendaraan bermotor. Selain menyehatkan untuk kita, bumi juga terselamatkan dari pemanasan global.


Mengurangi pemakaian zat aerosol

Zat Aerosol adalah partikel padat yang ada di udara atau tetesan cairan. Dalam udara semestinya bersih tanpa ada partikel kecil yang menghalangi kejernihan. Hal itu terjadi pada gas chlorofluorocarbon yang mengganggu lapisan ozon di bumi.

Gas aerosol banyak juga terdapat di alat-alat atau perlengkapan rumah tangga. Misalnya obat pembasmi hama, cat kaleng, pengharum ruangan semprot atau peralatan sejenis lainnya.

Apa itu gas aerosol? Itu merupakan istilah partikel padat yang ada di udara ataupun dalam suatu tetesan cairan. Bayangkan jika di dalam udara yang semestinya bersih ternyata terdapat partikel yang bentuknya kecil sekali sehingga menghalangi dan mengurangi kejernihannya. Itulah yang terjadi pada gas chlorofluorocarbon yang mengganggu lapisan ozon bumi. Gas aerosol ditemukan pada peralatan semprot rumah tangga, seperti cat kaleng, obat pembasmi nyamuk pengharum ruangan semprot, anti karat, pembersih ruangan, deodoran dan masih banyak yang lainnya.

Bisa jadi kita nggak bisa sepenuhnya tanpa alat rumah tangga mengandung zat aerosol. Setidaknya kita meminimalisir penggunaannya. Dari sekian contoh yang saya sebut di atas, saya menggunakan deodoran saja.


Reboisasi



Reboisasi bukan berarti hanya menanam pohon kembali di hutan yang sudah gundul. Membuat penghijauan di sekitar rumah juga sudah melakukan satu bentuk reboisasi. Di daerah perkotaan bisa dilakukan dengan penanaman tumbuhan tabulampot atau mencoba menanam tumbuhan hidroponik.

Adanya tumbuhan hijau ini akan menambah oksigen dan menyerap karbon dioksida. Dengan adanya penghijauan setidaknya akan memperlambat pemanasan global yang menyebabkan perubahan iklim yang besar di bumi.


Talkshow Kantor Berita Radio tentang Hemat Energi di Tengah Pandemi



Seminggu lalu, saya menyimak talkshow di Kantor Berita Radio via streaming. Talkshow bertema Bijak Pakai Energi di Tengah Pandemi ini menghadirkan Mbak Verena Puspawardani, Direktur Program Coaction Indonesia dan Andrian Pram, penasehat Komunitas Earth Hour sebagai narasumbernya.

Menurut Verena, banyak hikmah yang terjadi di tengah pandemi ini. Ada penurunan penggunaan energi sangat signifikan di sektor industri. Penggunaan BBM juga menurun tajam. Ada dampak positif saat imbauan di rumah saja dijalankan. Udara di lingkungan kita semakin bersih, langit pun terlihat lebih cerah. Pengeluaran dan pembiayaan energi pun berkurang banyak.

Namun semua itu berbanding terbalik dengan sektor rumah tangga. Pemberlakuan School from Home dan Work from Home ini diakui oleh Kementerian ESDM membuat pemakaian energi listrik dan gas rumah tangga melonjak drastis.

Hal ini tentu saja perlu diantisipasi. Jangan sampai hanya terjadi pemindahan penggunaan energi saja dari sektor industri ke sektor rumah tangga. Kita harus lebih bijak dalam mengelola penggunaan energi selama pandemi ini berlangsung.

Peningkatan pemakaian energi sebenarnya lumrah terjadi di masa SfH dan WfH ini. Namun gunakanlah secara bijak. Verena mengimbau supaya menggunakan listrik sebijak mungkin. Gunakan seperlunya, matikan jika tak perlu. Begitu juga penggunaan gas. Masak tak perlu berlebihan. Bulan puasa keinginan konsumsi makanan berlebihan padahal volume perut juga begitu saja. Pada akhirnya sampah organik pun menumpuk karena sisa makanan yang terbuang.

Andrian dari Komunitas Earth Hour mengingatkan akan adanya vampir energi. Apa sih vampir energi ini?


Vampir energi adalah alat-alat elektronik yang sudah dimatikan namun masih mengisap energi atau standby power. Contohnya charger ponsel yang sudah tak terpakai, atau televisi yang sudah dimatikan namun masih standby, posisi kabel tidak dicabut dari colokan. Hal itu akan memakan 15 watt/jam. Ah ... Kecil, sedikit doang itu. Eit ... Kalau dibiarkan berjam-jam, dan tak cuma satu alat elektronik, jika dikalikan berapa banyak watt yang terbuang percuma kan?

Talkshow ini memberikan pencerahan nih. Bahasa yang digunakan simpel, jadi mudah dimengerti oleh siapa aja kalau menurut saya. Jika ingin mendengarkan, masih bisa kok dengerin podcast nya di https://www.kbrprime.id/podcast

Jadi, paling penting yang bisa dilakukan adalah selain edukasi tentang perubahan iklim, kita juga harus memberikan contoh pada anak-anak apa yang seharusnya dilakukan untuk menghambat pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim di bumi.

Hal kecil bisa menjadi besar. Setiap orang bisa memiliki peran untuk bumi yang kita pijak. Perubahan baik memang tak ada yang instan. Namun konsisten dan kolektif. Mencintai bumi dengan menjaga kebersihan dan tak membebaninya dengan berbagai sampah dan pembuangan energi akan memiliki dampak positif. Baik untuk diri sendiri atau orang lain. Kapan lagi kita memiliki peran kalau bukan sekarang?

Saya sudah berbagi pengalaman soal climate change. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Climate Change” yang diselenggaraakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis”. Syaratnya, bisa Anda lihat di https://bit.ly/LombaBlogIklimKBRfeatIIDN








Minggu, 03 Mei 2020

Yang Dirindukan di Ramadhan dan Idul Fitri Kali Ini



Assalamualaikum temans, 

Allah itu selalu menyiapkan skenario terbaik bagi umat-Nya. Meski sering kali umat-Nya menganggap yang Ia persiapkan adalah hal buruk dalam hidup. Umat-Nya selalu terlupa bahwa selalu ada pelangi setelah badai.

Begitu juga dengan adanya wabah Corona ini. Yakin banget, di antara kita masih saja hadir sejumlah keluhan. Mulai para ibu yang tensi tinggi ngajarin anak, anak yang mager akut karena nggak sekolah, belum lagi Bapak-bapak yang kesulitan bekerja. 

Pernah nggak sih, terpikir bahwa ini adalah jawaban dari keluhan kita di masa lalu? Saya baru terpikir ketika hal ini diungkapkan oleh Kakak. 

"Aku kalau capek banget sama kegiatan sekolah tuh pernah mikir gini, Nda. Seandainya sekolahnya bisa di rumah, nggak harus mandi karena dingin kalau mandi pagi. Liburan sebulan di rumah, marathon nonton drakor, wah ... Mesti surga banget. Allah ternyata ngabulin doaku, Nda. Aku loh, dikasih libur sebulan. Beneran aku marathon drakor setiap hari. Drakor yang nggak kutonton ya cuma The World of Married aja karena ratingnya 21th. Sekarang begini, aku loh masih ngeluh. Dasar manusia ya?"

Bener juga apa kata si Kakak. Sejak Adek sekolah sampai sore saya sering kali kesepian. Adek juga sudah nggak mau dijemput, kecuali kalau pas minta. Saya ngerasa kehilangan momen manis kebersamaan dengan anak-anak. Dan saya pun pernah berangan-angan, kapan ya, saya bisa ngumpul bareng anak-anak 24/7?

Allah menjawab angan-angan saya dengan adanya pandemi ini. Kami nggak kemana-mana. Bener-bener di rumah. Paling keluar rumah kalau belanja kebutuhan pokok. Selain itu ya ngruntel aja bertiga. 

Saya kangen nge-event. Rindu saya mengajar anak-anak ekstra jurnalistik. Hati saya meletup-letup ingin sekali ke masjid. Namun saya masih kudu banyak bersabar lagi. Jika Allah menghendaki, tak ada yang tak mungkin. Bisa saja bulan depan situasi sudah lebih kondusif kan?


Ramadhan kali ini

Ramadhan yang berbeda. Namun tetap istimewa. Tak ada jamaah tarawih atau buka bersama di masjid tempat kami biasa beribadah. Peribadahan di bulan suci ini semuanya dilakukan di rumah. 

Jangan tanyakan betapa kangennya saya beribadah di masjid. Sejak physical distancing diterapkan saya sudah tak ke masjid sama sekali meski masjid tempat saya beribadah masih menyelenggarakan shalat fardhu berjamaah dengan berbagai ketentuan. Masjid hanya menerima jamaah yang sehari-hari memang beribadah di situ. Setiap hari lantai dan dinding disemprot dengan desinfektan. Jamaah membawa sajadah sendiri, dan shaf jamaah pun diatur sedemikian rupa sehingga berjarak. Saya takut ke masjid karena awal physical distancing saya sempat batuk. Saya takut nular ke yang lain apalagi banyak jamaah sepuh di sana. Saya juga berjaga-jaga. Saya pernah bermasalah dengan paru-paru di masa kecil. Makanya di masa seperti ini saya menjaga diri sendiri dulu.

Namun saya masih bisa melihat suasana Ramadan dihadirkan di masjid Mujahidin, tempat saya dan keluarga biasa berjamaah. Meski tak ada buka bersama, masjid tetap menyediakan takjil. Kami diberikan kupon sejumlah anggota keluarga. Dengan kupon itu kami bisa mengambil takjil. 


Kalau Ramadhan sebelumnya makan besar disediakan setiap hari Sabtu, kali ini masjid menyediakan makan besar seminggu tiga kali. Kalau Ramadhan sebelumnya hanya mempersiapkan takjil sebanyak 250 paket, Ramadhan dalam pandemi ini menyediakan 400 paket lebih. Percaya atau tidak, infak takjil melebihi ramadhan-ramadhan sebelumnya. Belum lagi mereka yang bershadaqah untuk jamaah yang terdampak wabah Corona. Ternyata orang yang rizkinya lapang ataupun sempit sama-sama berlomba-lomba untuk mendapatkan pahala. 


Hikmah Ramadhan tahun ini

Ramadhan memang belum berlalu. Namun dari awal kehadirannya sudah memberikan hal yang harus saya syukuri. Karena ayahnya di Semarang, mau tak mau Adek harus menjadi imam bagi saya dan Kakak. 

Bukan hal mudah bagi Adek menjadi imam. Karena selama ini ia selalu shalat di masjid dan sekolah secara berjamaah. Mau tak mau ia harus mengumpulkan hafalannya. Barulah ketahuan, hafalan juz 30 nya banyak yang sudah hilang. Banyak yang terlupa karena di SMP nya kewajiban yang dimiliki adalah menghafal juz 29 dan juz 28 kalau sudah lolos di juz 29.



Akhirnya, saya mendengarnya membaca surah di juz 29 ketika menjadi imam tarawih. Biasanya ia tak mau didengarkan ketika menghafal. Ia akan menutup pintu kamarnya rapat-rapat. 

Mungkin saya yang lebay sualay. Mendengar hafalannya saya kok mbrambang. Ada rasa bangga ketika mengimami saya dan Kakak. Apalagi Ahad kemarin saat ayahnya pulang ia bergantian menjadi imam. Ah ... Adek sudah gedhe, bathin saya. 

Hikmah lain adalah kami berkomitmen untuk memperbaiki pola makan. Selama ini konsumsi makanan waktu Ramadhan ya yang enak di lidah, embuh buat kesehatan. Akhirnya sekarang menu seimbang pun dijalankan. Mengurangi banget minuman dan kudapan manis juga gorengan. Wajib banget nyiapin air putih yang lebih banyak.

Menu sahur

Kalau saya Ramadhan ini juga mengurangi karbo. Untuk sahur saya nggak konsumsi karbo. Ternyata enak banget di tubuh. Nggak lemes sama sekali. Saya menambah air putih yang saya konsumsi. 


Lebaran tahun ini

Biasanya sebelum Ramadhan saya sudah membuat list persiapan Lebaran. Meski saya nggak mesti beli baju baru, saya pasti beliin baju buat Adek. Dianya pas masa pertumbuhan, jadi cepet banget kemejanya kesempitan. 

Tahun ini sangatlah berbeda. Saya kayaknya nggak pusing nyiapin apapun buat lebaran. Saya nggak sowan mertua. Nggak mau nyoba-nyoba juga sih. Khawatir aja kan, ntar di tengah perjalanan diminta putar balik oleh yang berwajib? Ikuti anjuran pemerintah dulu ajalah. Paling nitipin buah tangan buat mertua via suami. Karena adik-adik saya dan keluarga tidak mudik, logistik yang ada pun hanya buat keluarga. Terus nelangsa banget. Tahun ini di kulkas tanpa ada pancake durian, durian Medan, bika ambon Zulaikha, Bolu Meranti. Nggak ada juga rendang asli dari Sumatera, malbi, pempek, pisang coklat dan kopi Lampung. Ah ... Jadi ngiler kan?

Sejatinya di bulan Syawal tuh saya seneng sekali silaturahmi. Biasanya sih ke tempat adik-adiknya simbah, budhe, sepupu-sepupu saya, apalagi yang open house, dan sahabat-sahabat rasa keluarga. Namun silaturahmi tahun ini diganti secara online saja. Masih bisa video call untuk mengeliminir rasa rindu meski sejatinya tak bisa mengganti nikmatnya bertemu secara fisik. Namun kita semua sudah sama-sama tahu dan saling memahami. Sampai saudara-saudara yang sepuh sekalipun. 

Untuk jualan suami, masih ada sih stock emping, kacang bawang, mete, peyek dan wallens (sus kering isi coklat). Namun persediaan kami tak banyak. Kalau biasanya kami bisa menjual sampai 150 kg emping, sampai sepertiga Ramadhan ini kami baru mempersiapkan 1/5 dari tahun kemarin. Takut juga kalau nggak kejual kan? Meski begitu saya tetap yakin, Allah Maha Kaya. Seandainya bukan dari pintu satu ini rezeki kami mengalir, Ia akan memberi rezeki dari pintu manapun sepanjang kami ikhtiar. Bukankah kita wajib ikhtiar sebelum bertaqwa?

Ya ... Hati ini menyimpan banyak kerinduan. Yang terberat buat saya kali ini adalah tak bertemu adik-adik saya yang semuanya tinggal di Pulau Sumatera. Hanya setahun sekali bertemu. Namun tahun ini Allah belum mengijinkan kami melepas rindu. 

Semoga Allah segera memberikan kita keindahan ya? Stay safe, stay healthy and keep stronger ya temans?