Yang Bisa Kita Lakukan untuk Menghambat Perubahan Iklim - Jurnal Hati

Rabu, 20 Mei 2020

Yang Bisa Kita Lakukan untuk Menghambat Perubahan Iklim

Cr : pixabay

Assalamualaikum temans,

Saya yakin, setiap perubahan sekecil apapun, selalu bermula dari diri sendiri. Kita tak mungkin melakukan sebuah perubahan besar tanpa kesadaran diri yang mendorong melakukan sesuatu. Namun dari yang kecil itu, jika dilakukan kolektif maka hal besar pun akan mudah dilakukan.

Banyak masyarakat tak menyadari bahwa cuaca esktrem di bumi iki merupakan dampak terjadinya perubahan iklim. Sebenarnya perubahan iklim sendiri adalah fenomena alam yang tak bisa kita hindari. Namun berbagai bentuk pemanasan global menjadi pendorong mempercepat perubahan iklim ini.

Kita memang tidak bisa mencegah terjadinya perubahan iklim. Hanya saja kita bisa berupaya melakukan hal hal kecil supaya perubahan iklim tidak terjadi dengan cepat seperti saat ini.
Semua bermula dari diri kita.


Hal kecil yang bisa kita lakukan untuk mengatasi perubahan iklim


Dari www.theconversations.com sebuah artikel yang tayang tanggal 21 Mei 2019 berjudul "Riset Buktikan Upaya Individu dapat atasi perubahan iklim" yang ditulis oleh Steve Westlake seorang peneliti Environment Leadership Cardiff University ini menemukan bahwa melakukan sesuatu yang berani seperti berhenti naik pesawat dapat memiliki efek kumulatif yang lebih luas karena dapat memberi pengaruh bagi orang lain serta mengubah pandangan orang tentang apa yang dipandang “normal”. Artikel yang telah dialihbahasakan oleh Las Asimi Lumban Gaol tersebut juga menyatakan bahwa dalam sebuah survei yang dilakukan oleh Steve Westlake, setengah dari responden yang mengenal seseorang telah berhenti naik pesawat demi mengatasi perubahan iklim mengatakan bahwa mereka turut mengurangi penerbangan mereka karena mencontoh perilaku kenalannya.

Lebih lanjut Steve mengatakan bahwa sekitar tiga perempat responden mengatakan bahwa contoh tersebut telah mengubah sikap mereka terhadap penerbangan dan perubahan iklim melalui beberapa cara. Efek ini meningkat jika yang melakukannya adalah orang yang terkenal, seperti akademisi atau seseorang yang terkenal di mata publik. Dalam hal ini, sekitar dua pertiga mengatakan mereka mengurangi penerbangan karena orang tersebut, dan hanya 7% yang mengatakan orang-orang tersebut tidak mempengaruhi sikap mereka.

Dari penelitian itu menguatkan bahwa kita bisa kok melakukan hal kecil yang punya dampak luar biasa. Karena setiap orang memiliki pengaruh untuk orang lain. Memulai dari diri sendiri itu butuh effort yang besar juga, apalagi jika dari lingkungan sekitar belum mendukung.

Apa saja sih yang bisa kita lakukan untuk mengurangi percepatan perubahan iklim? Ini adalah hal-hal kecil yang sudah saya lakukan untuk mengurangi pemanasan global


Hemat Listrik

cr : pixabay


Percaya atau tidak, daya listrik di rumah kami hanya menggunakan 450 watt. Karena hidup di pedesaan yang masih cukup segar udaranya, kami tak membutuhkan banyak alat pendingin udara. Jangankan AC, kipas angin pun tak ada. Atap di rumah pun cukup tinggi. Selain itu jendela model lawas yang terbuka membuat sirkulasi udara di rumah cukup baik.

Di rumah keluarga saya tak menggunakan TV, mesin cuci, maupun alat penanak nasi listrik. Penggunaan listrik di rumah kami ya hanya untuk penerangan, kulkas, setrika, dan charge ponsel dan laptop saja. Itu pun jika sudah selesai dilepas dari colokan.

Penerangan di ruangan rumah kami menggunakan lampu LED bahkan untuk kamar sekalipun. Namun semuanya disesuaikan jumlah watt nya. Jika malam tiba, semua lampu di kamar kami matikan, hanya di penerangan luar rumah, ruang keluarga dan ruang makan yang tetap menyala supaya masih ada bias cahaya masuk ke kamar-kamar. Pemakaian terbanyak biasanya terjadi di Idul Fitri karena keluarga adik-adik saya datang dan mereka tak terbiasa mematikan lampu. Coba tebak berapa biaya tertinggi untuk listrik di rumah kami saat Idul Fitri?
Rp. 70.000,-
Hemat kan?


Hemat air

Di rumah kami menggunakan air dari PDAM. Penggunaan air terbanyak untuk mencuci baju dan cuci piring. Di luar itu sekadar kebutuhan pribadi dan memasak. Namun sejak pandemi ini terjadi kebutuhan air lebih banyak lagi karena cuci muka, cuci tangan dan kaki makin sering. Meski begitu tagihan air di rumah juga tak banyak. Pemakaian reguler pun berada di kisaran angka Rp. 45.000 - 50.000. Kecuali jika Idul Fitri tiba dan adik-adik saya mudik memang bisa sampai dua kali lipat. Maklum aja, jumlah keluarga saat lebaran tambah jadi tiga kali lipat.


Re-use & Reduce

Untuk meminimalkan sampah plastik sebisa mungkin kami menggunakan wadah sendiri saat berbelanja maupun jajan. Awalnya malu juga sih ketika jajan selalu bawa wadah untuk jaga-jaga jika makanan nggak habis bisa dibawa pulang tanpa minta dibungkus. Setiap kali bepergian pun kami akan membawa tumbler (tempat air minum) supaya tak membeli minuman kemasan. Di rumah tersedia sedotan dari logam, sehingga tak menimbulkan sampah. Selain higienis, kami nggak perlu nyampah dari sedotan kan?


Memanfaatkan energi alam semaksimal mungkin.

Saya sudah bercerita jika di rumah kami tanpa mesin cuci. Pengeringan di rumah kami menggunakan energi matahari yang mudah kami dapatkan di halaman rumah. Meski agak repot saat musim hujan karena cucian sering kali tidak kering, namun kami masih bisa menganginkan pakaian di dalam rumah karena sirkulasi udara di rumah kami bagus.

Hal ini terkait dengan penghematan listrik. Siang hari sama sekali tak ada penerangan di dalam rumah karena cahaya masuk tanpa halangan, jendela terbuka yang memudahkan sirkulasi udara sehingga di rumah cukup sejuk tanpa pendingin udara.


Memanfaatkan peralatan rumah tangga yang ramah lingkungan

Sampah terbanyak adalah sampah rumah tangga. Saat memasak yang membutuhkan pembungkusan, misalnya membuat pepes dan galantin, saya selalu menggunakan daun pisang sebagai pembungkus. Kalau toh jadi sampah, namun bisa diurai dengan cepat, bahkan bisa jadi kompos kan?

Kami pun tak menyediakan tisu di dalam rumah. Sebagai gantinya kami punya banyak lap dari kain. Jika kurang, kami biasa memanfaatkan baju bekas yang sudah tak layak pakai.

Saat berbelanja kebutuhan pokok saya menyiapkan berbagai macam tas belanja berbagai macam ukuran. Tergantung saya mau belanja banyak atau sedikit.

Untuk meminimalisir sampah kami pun memilah sampah organik dan non organik. Sampah organik kami buang di lubang sampah belakang rumah supaya bisa mengurai dan menjadi kompos, sementara sampah non organik kami buang di tempat pembuangan sampah.


Selain itu kami pun menggunakan telobag, tas sampah yang terbuat dari tepung singkong sehingga bisa terurai di tanah.


Meminimalkan menggunakan kendaraan bermotor

Salah satu hikmah adanya Wabah Corona adalah berkurangnya polusi udara karena karbon monoksida yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor. Langit menjadi jauh lebih cerah dibanding sebelumnya karena anjuran stay at home. Nanti, setelah wabah ini berlalu saya sih punya keinginan untuk lebih banyak jalan kaki dibanding menggunakan kendaraan bermotor. Selain menyehatkan untuk kita, bumi juga terselamatkan dari pemanasan global.


Mengurangi pemakaian zat aerosol

Zat Aerosol adalah partikel padat yang ada di udara atau tetesan cairan. Dalam udara semestinya bersih tanpa ada partikel kecil yang menghalangi kejernihan. Hal itu terjadi pada gas chlorofluorocarbon yang mengganggu lapisan ozon di bumi.

Gas aerosol banyak juga terdapat di alat-alat atau perlengkapan rumah tangga. Misalnya obat pembasmi hama, cat kaleng, pengharum ruangan semprot atau peralatan sejenis lainnya.

Apa itu gas aerosol? Itu merupakan istilah partikel padat yang ada di udara ataupun dalam suatu tetesan cairan. Bayangkan jika di dalam udara yang semestinya bersih ternyata terdapat partikel yang bentuknya kecil sekali sehingga menghalangi dan mengurangi kejernihannya. Itulah yang terjadi pada gas chlorofluorocarbon yang mengganggu lapisan ozon bumi. Gas aerosol ditemukan pada peralatan semprot rumah tangga, seperti cat kaleng, obat pembasmi nyamuk pengharum ruangan semprot, anti karat, pembersih ruangan, deodoran dan masih banyak yang lainnya.

Bisa jadi kita nggak bisa sepenuhnya tanpa alat rumah tangga mengandung zat aerosol. Setidaknya kita meminimalisir penggunaannya. Dari sekian contoh yang saya sebut di atas, saya menggunakan deodoran saja.


Reboisasi



Reboisasi bukan berarti hanya menanam pohon kembali di hutan yang sudah gundul. Membuat penghijauan di sekitar rumah juga sudah melakukan satu bentuk reboisasi. Di daerah perkotaan bisa dilakukan dengan penanaman tumbuhan tabulampot atau mencoba menanam tumbuhan hidroponik.

Adanya tumbuhan hijau ini akan menambah oksigen dan menyerap karbon dioksida. Dengan adanya penghijauan setidaknya akan memperlambat pemanasan global yang menyebabkan perubahan iklim yang besar di bumi.


Talkshow Kantor Berita Radio tentang Hemat Energi di Tengah Pandemi



Seminggu lalu, saya menyimak talkshow di Kantor Berita Radio via streaming. Talkshow bertema Bijak Pakai Energi di Tengah Pandemi ini menghadirkan Mbak Verena Puspawardani, Direktur Program Coaction Indonesia dan Andrian Pram, penasehat Komunitas Earth Hour sebagai narasumbernya.

Menurut Verena, banyak hikmah yang terjadi di tengah pandemi ini. Ada penurunan penggunaan energi sangat signifikan di sektor industri. Penggunaan BBM juga menurun tajam. Ada dampak positif saat imbauan di rumah saja dijalankan. Udara di lingkungan kita semakin bersih, langit pun terlihat lebih cerah. Pengeluaran dan pembiayaan energi pun berkurang banyak.

Namun semua itu berbanding terbalik dengan sektor rumah tangga. Pemberlakuan School from Home dan Work from Home ini diakui oleh Kementerian ESDM membuat pemakaian energi listrik dan gas rumah tangga melonjak drastis.

Hal ini tentu saja perlu diantisipasi. Jangan sampai hanya terjadi pemindahan penggunaan energi saja dari sektor industri ke sektor rumah tangga. Kita harus lebih bijak dalam mengelola penggunaan energi selama pandemi ini berlangsung.

Peningkatan pemakaian energi sebenarnya lumrah terjadi di masa SfH dan WfH ini. Namun gunakanlah secara bijak. Verena mengimbau supaya menggunakan listrik sebijak mungkin. Gunakan seperlunya, matikan jika tak perlu. Begitu juga penggunaan gas. Masak tak perlu berlebihan. Bulan puasa keinginan konsumsi makanan berlebihan padahal volume perut juga begitu saja. Pada akhirnya sampah organik pun menumpuk karena sisa makanan yang terbuang.

Andrian dari Komunitas Earth Hour mengingatkan akan adanya vampir energi. Apa sih vampir energi ini?


Vampir energi adalah alat-alat elektronik yang sudah dimatikan namun masih mengisap energi atau standby power. Contohnya charger ponsel yang sudah tak terpakai, atau televisi yang sudah dimatikan namun masih standby, posisi kabel tidak dicabut dari colokan. Hal itu akan memakan 15 watt/jam. Ah ... Kecil, sedikit doang itu. Eit ... Kalau dibiarkan berjam-jam, dan tak cuma satu alat elektronik, jika dikalikan berapa banyak watt yang terbuang percuma kan?

Talkshow ini memberikan pencerahan nih. Bahasa yang digunakan simpel, jadi mudah dimengerti oleh siapa aja kalau menurut saya. Jika ingin mendengarkan, masih bisa kok dengerin podcast nya di https://www.kbrprime.id/podcast

Jadi, paling penting yang bisa dilakukan adalah selain edukasi tentang perubahan iklim, kita juga harus memberikan contoh pada anak-anak apa yang seharusnya dilakukan untuk menghambat pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim di bumi.

Hal kecil bisa menjadi besar. Setiap orang bisa memiliki peran untuk bumi yang kita pijak. Perubahan baik memang tak ada yang instan. Namun konsisten dan kolektif. Mencintai bumi dengan menjaga kebersihan dan tak membebaninya dengan berbagai sampah dan pembuangan energi akan memiliki dampak positif. Baik untuk diri sendiri atau orang lain. Kapan lagi kita memiliki peran kalau bukan sekarang?

Saya sudah berbagi pengalaman soal climate change. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Climate Change” yang diselenggaraakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis”. Syaratnya, bisa Anda lihat di https://bit.ly/LombaBlogIklimKBRfeatIIDN








Tidak ada komentar: