Desember 2018 - Jurnal Hati Irfa Hudaya

Rabu, 26 Desember 2018

Workshop Content Creator Sahabat Keluarga: Menyerap ilmu dari pakarnya

Assalamualaikum temans, 

Ketika tawaran mengikuti kegiatan Sahabat Keluarga di sebuah grup FB, sebenarnya saya tertarik untuk mendaftar. Hanya saja ketika salah satu syarat adalah bersama anak usia dibawah 12 tahun saya pun mundur teratur. Ya kan anak ragil saya usia sudah menjelang 13 tahun, sudah ABG, laki-laki pula. Mana mau dia diminta duduk manis mendengarkan dongeng bercampur dengan bocah-bocah usia tujuh tahunan. 

Namun yang namanya rejeki itu selalu ada jalan untuk menyambangi. Mak Injul salah satu founder Kumpulan Emak Blogger nyolek saya, nawarin ikut kegiatan ini. Dalam hati saya kegirangan. Saya pernah mengikuti acara yang diadakan oleh Sahabat Keluarga dari Kemendikbud di Jakarta Oktober lalu. Materi keren begitu juga dengan narasumbernya saat itu membuat saya ingin terlibat di setiap acara yang diadakan oleh Sahabat Keluarga. Ngobrol dengan anak-anak dan melakukan bargaining position, akhirnya exit permit saya pun turun dari anak-anak dan suami. Beres. 

Semakin excited deh saya membaca undangan yang terkirim beberapa hari sebelum acara. Narasumbernya ada Gola Gong cuy. Siapa sih di zaman saya remaja tak mengenal cerpen-cerpennya yang selalu muncul di majalah Hai, Aneka Yess, Anita Cemerlang, maupun Mode. Yakin 1000% kalau saya rugi sampai melewatkan acara ini. 

Pelajaran ringan namun berharga 



Hari pertama adalah pembukaan program workshop untuk blogger dan pegiat pendidikan. Semestinya acara dibuka jam 20.00. Namun Dr. Soekirman, Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga Direktorat Jenderal PAUD dan Pendidikan Masyarakat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tertunda lebih dari satu jam kedatangannya karena pesawat yang mengalami penundaan penerbangan. Namun waktu kami tak terbuang percuma. Sambung rasa yang dimajukan itu ternyata memberikan saya banyak informasi. 

Di berbagai daerah telah diupayakan pelibatan keluarga dalam menjalankan sebuah pendidikan. Namun ini bukan hal yang mudah karena tak semua orang tua memahami bahwa pendidikan tak hanya menjadi tanggung jawab satuan pendidikan dan dinas terkait. Tak kurang-kurangnya praktik baik dalam dunia pendidikan ini disosialisasikan oleh pemerintah bekerjasama dengan stake holder kepada masyarakat. Contohnya saja di Sleman. Penerapan jam belajar masyarakat dari pukul 19.00-21.00 sudah ditetapkan dalam peraturan gubernur. Karena sudah disahkan oleh gubernur maka pengaturan jam belajar wajib dilaksanakan. Penerapan jam belajar tersebut mampu mengurangi tindak kriminal remaja, atau setidaknya mengendalikan anak-anak di hari-hari mereka bersekolah. 

Tindakan keren lain seperti pemerintah Kulonprogo mengenai pelarangan iklan rokok secara terbuka patut diapresiasi. Semua pemangku kebijakan akan saling terkait dalam menjauhkan anak dari tembakau. Dari sisi agama, terutama agama Islam lewat MUI telah mengeluarkan fatwa haram tentang rokok, BNN sudah memberikan peringatan bahwa rokok adalah pintu gerbang bagi anak untuk mengenal narkoba. 

Untuk itulah blogger dilibatkan dalam kegiatan workshop pendidikan keluarga ini. Blogger begitu dekat dengan dunia remaja yang digital minded. Untuk itu blogger pun diajak untuk menjadi content creator, memberikan edukasi bagi orang tua maupun anak muda yang kemungkinan sulit dijangkau oleh pemerintah. 

Bermain peran 

Cr : Fuji Rahman Nugroho

Memulai workshop di hari kedua dalam rangkaian kegiatan ini memberikan keyakinan bahwa saya akan menikmati kegiatan ini tanpa kantuk. Tokoh literasi yang satu ini pasti memberikan keseruan dalam memberikan materi. Layaknya saya membaca Balada si Roy yang membuat adrenalin saya terpacu. 

Gola Gong dan Balada Si Roy tak bisa dipisahkan. Saat saya membaca Balada si Roy, bayangan saya tentang Gola Gong saat itu adalah laki-laki gahar semacho si Roy. Namun yang saya temui jauh dari bayangan saya. akan tetapi semua kisah yang ia ceritakan mengharubiru perasaan. Membuat saya merasa malu karena kesempurnaan fisik yang saya miliki tak sekuku hitamnya apa yang telah Kang Heri Hendrayana Harris lakukan terkait dengan gerakan literasi. 

Benar-benar menyenangkan. Kami peserta workshop content creator diminta untuk berkelompok dan membuat simulasi keluarga. Ada ayah, ibu, anak, pembantu dan sopir. Dalam simulasi itu juga diminta untuk setiap keluarga memiliki masalah yang harus dipecahkan. 

Saya pun menjadi bagian dari keluarga Bambang. Kami memiliki satu anak yang kami manjakan dengan berbagai fasilitas dan materi. Tentu saja hal ini menjadi kendala bagi keluarga untuk menjadikan anak kami mempunyai karakter yang baik. Benar saja, saat permainan komunikasi menyampaikan pesan, terjadi distraksi di keluarga kami sehingga pesan yang sampai tak sesuai dengan pesan awal. 

Kemudian setiap keluarga diminta untuk simulasi jalan bareng ke Transmart yang berada di depan hotel. Mencoba mengasah kepekaan setiap anggota keluarga pada apa yang dilihat di sana. Sayangnya keluarga Bambang pulangnya pun jalan sendiri-sendiri. Saya salut dengan keluarga Pak Joy yang kompak jalan bareng sampai pulang ke hotel. 

Menulis Esai 



Menurut Gola Gong, untuk memahami apa itu esai bukan berarti dengan menghafalkan definisinya. Esai merupakan pendapat pribadi, tentu saja terkait dengan subjektivitas penulis itu sendiri. Esai merupakan sebuah gagasan baru. Ibaratnya sebuah jendela, penulislah yang membuka sehingga memberikan pemahaman baru bagi pembaca. 

Esai berasal dari keberagaman ide. Ibarat kata esai adalah kuliner, maka tergantung selera lidah masing-masing. Begitu juga dengan esai. Setiap penulis bebas memilih topik dan mengeluarkan pendapatnya. Meski begitu dalam tulisan sebuah esai tak hanya mengeluarkan pendapat saja. Namun esai juga memberikan solusi tanpa harus menyakiti pihak lain. 

Apa bedanya dengan feature? 

Esai memberikan rasa dan emosi dalam setiap tulisannya. Sementara feature memberikan pemaparan sebuah gagasan namun tak boleh melibatkan emosi di dalamnya. 

Bagaimana kita menggali ide untuk membuat sebuah esai? 

Ide ada dimana saja. Bahkan ide sering kali berada di depan mata kita. Dalam rumah kita sendiri. Misalnya kegelisahan kita terhadap anak-anak yang mendapatkan media exposure sedemikian kuatnya. Bagaimana anak-anak kita tetap happy dengan berbagai macam tayangan yang ada di semua media baik media massa ataupun media digital. Namun sebagai orang tua kita juga merasa aman mereka takkan terpapar tayangan sampah. 

Jangan lupa dengan 5 W + 1 H untuk menggali ide. Fakta dan data pasti diperlukan untuk menggali ide lantas menuliskannya. Tentu saja ide itu bisa dibuktikan sehingga kevalidannya dalam tingkatan shahih. 

Tingkatkan kepekaan mata kita. Mata adalah kamera. Arahkan kamera kita pada obyek yang kita sukai. Pilih angle terbagus menurut kita. karena sejatinya kita tak bisa memotret semua yang ada di depan kita. 

Proses menulis Esai 

1. Persiapan menulis. 

Untuk mempersiapkan data kita perlu untuk riset lapangan dan pustaka. Riset lapangan untuk melakukan survey dan observasi. Kita juga bisa melakukan wawancara di lokasi tempat kita melakukan survey untuk mendapatkan data. Jangan lupakan riset pustaka. Berbagai fasilitas pustaka mudah kita dapatkan. Kita bisa mengakses internet ataupun media massa dan buku. Hal ini berfungsi untuk mencari rujukan dan menguatkan tulisan. 

2. Menulis 

Setelah semua bahan terkumpul kita bisa membuat outline. Berdasarkan tema dan topik yang kita tentukan, data yang didapatkan, kita bisa memulai memilah dan memilih apa saja yang harus kita tuliskan. Outline berfungsi untuk membatasi tulisan kita. Maksud membatasi adalah supaya tulisan tak melebar dan keluar dari ide asal. Outline akan membantu kita menulis dengan rapi dan sistematis. 

3. Revisi 

Setiap tulisan perlu kita endapkan. Setelah kita berperan sebagai penulis, maka ini saatnya kita berperan sebagai pembaca. Tak ada karya bagus yang tak melewati revisi. Semua karya yang baik pasti melalui sebuah penyuntingan. 



How to make a movie 

Cr: Fuji Rahman Nugroho


Setelah bersama Kang Gola Gong, kami pun diajak ke Tebing Breksi. Bukan hanya untuk berwisata, namun di tempat ini pun kami mendapatkan materi. Kali ini kami diajak untuk membuat film pendek dengan narasumber Mas Iqbal dari film maker muslim. 
Cr : Fuji Rahman Nugroho

Sebelumnya saya pernah menonton karya dari film maker muslim yang bertitel Cinta Subuh. Sudah beberapa tahun lalu sih. Anak-anak saya yang sudah mulai beranjak remaja pun pernah menonton film pendek ini. Nggak nyangka aja, ternyata film itu berbudget Rp. 200,000,- doang. 

Di Tebing Breksi kami dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok diwajibkan membuat sebuah video satu menit dengan tema kebebasan. Saya satu kelompok dengan Mak Lusi, Mak Ety dan Mak Dian. 

Ketika kelompok lain sudah menentukan kerangka cerita, kelompok kami masih saja kebingungan meski sudah brainstorming dengan Mas Iqbal. Dengan modal 20 menit kami harus sudah selesai mengambil gambar. Kami berempat berjalan menuju Tebing Breksi pun masih belum mempunyai ide cerita. 

Obrolan ringan antar emak ini ternyata mencetuskan ide bagaimana membuat sesuatu yang kontras dengan Tebing Breksi yang terlihat gahar. Saya pun dipilih teman-teman untuk menjadi talent. Kalau menurut Mak Lusi sih karena warna feminin melekat di saya yang waktu itu memakai jilbab dan rok berwarna pink. Iya lho, kayaknya saya paling meriah deh dibanding teman-teman yang lain. Di luar warna pink yang saya pakai, ada manset warna kuning, tas warna merah, tak ketinggalan sepatu kets warna biru toska. Ajib ya ootd saya? ^_^ 



Dan soooooo hepi bekerja sama dengan emak-emak keren ini. Mak Ety yang gigih mengambil gambar, ngikutin saya yang kegirangan naik turun bebatuan dan tebing. Beliau juga yang melakukan editing video. Mak Lusi yang bikin narasi kece dan editing video jugak. Tak lupa Mak Dian yang mengisi voice over. Suaranya adem benerrr ... kayak ubin masjid. 

Membuat karya film itu nggak sesimpel yang dibayangkan orang. Kita harus tahu siapa segmen yang dituju. Dari segmen yang dituju itu kita pun harus memilih pesan apa yang ingin disampaikan. Dan seperti umumnya sebuah film, pesan yang disampaikan harus terasa ringan, netral, dan tidak menggurui. 

Cr: Fuji Rahman Nugroho

Tiga hari dua malam begitu sarat dengan ilmu. Sebagai blogger saya harus mulai belajar membuat konten dalam bentuk video. Ada sebagian orang yang tak menyukai membaca. Mereka lebih menyukai gerak gambar visual sebagai sumber literasinya. Itu tidak salah. Mungkin karena pembiasaan saja. Dan ini adalah kesempatan bagi saya dan blogger lainnya untuk menebar manfaat lewat konten yang kita buat. 

Pengen deh bisa bikin channel video blog tentang parenting remaja. Ide saya sih memindahkan obrolan ringan saya dengan anak-anak yang biasanya di meja makan dan tempat tidur ke sebuah konten. Sayangnya anak-anak masih belum mau diajak bekerja sama. Dikiranya simboknya merasa kurang eksis sehingga pengen ikutan ngevlog. Ealah .... 

Semoga bermanfaat ya sharing saya kali ini. Keep spirit to write ya temans

Kamis, 13 Desember 2018

Rencana Wisata ke Kaki Gunung Sindoro


Akhirnya libur telah tiba. Hanya saja sampai menjelang akhir bulan saya masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan. Sementara Paksu juga tidak mungkin diharapkan untuk cuti karena pengabdi perbankan sampai tanggal 31 Desember besok harus lembur untuk laporan akhir tahun. 

Nggak papalah. Meski nggak bisa liburan panjang setidaknya di sela kesibukan masih ada waktu untuk traveling walaupun nggak pake nginep. Bersyukur juga nih, hari Ahad besok ada undangan pernikahan saudara di Temanggung. Jadi sekalian aja deh buat jalan-jalan menikmati liburan meski masih lumayan panjang. 

Jadilah si Kakak dan Adek googling tempat mana saja yang akan kami kunjungi. Meski kami hidup di kampung, tetep saja kalau jalan memilih wisata alam. Solider sama Paksu yang setiap hari berkutat dengan kertas dan laptop yang memerihkan mata. 

Ada beberapa alternatif tempat yang akan kami kunjungi nih. 

Embung Kledung 

Embung Kledung ini adalah kolam reservoir yang terletak di pinggir jalan Parakan – Wonosobo. Di dalam kolam ini terdapat berbagai macam ikan hias yang cantik. Selain kolam reservoir, di dekat Embung Kledung juga terdapat perkebunan hortikultura. Jika berkunjung ke sana, kita bisa menikmati berbagai kebun sayuran segar juga pepohonan Jambu. 

cr: www.kledung.kledung.temanggungkab.go.id


Tempat ini tak memiliki penginapan komersial. Jika ingin bermalam, bersiap-siap saja dengan tenda beserta peralatan berkemah lainnya untuk menikmati malam indah di pinggir Embung Kledung. 


Wisata Alam Posong 

Tempat ini perlu berterima kasih kepada riuhnya media sosial. Berbagai foto cantik di destinasi wisata ini bertebaran di instagram maupun media sosial lainnya. Biasanya jika sudah viral akan menggerakan orang-orang yang lewat jalur ke Temanggung untuk mampir dan menikmati. 

cr: www.ngetripyuk.com


Lokasi ini berada di lereng Gunung Sindoro. Hijaunya pohon dan gunung yang menjulang membuat tempat ini indah untuk menjadi background saat pengunjung mebgambil foto. Tempat ini terlihat sangat indah saat sunrise. Pengunjung akan menikmati matahari yang menyembul di balik gunung sumbing. Tak jarang samudra awan turun menghiasi keindahan sunrise di Wisata Alam Posong. 

Selain di Temanggung, pengen juga melipir ke kabupaten tetangga yaitu Wonosobo. Pengen banget ke tempat wisata legendaris seperti Bukit Sikunir, Telaga Warna, Telaga Pengilon, Kawah Sikidang, Candi Arjuna, atau wisata sejarah lain di area ini. Namun jika hanya beberapa jam di sana tentu saja tak cukup waktu untuk eksplore destinasi wisata tersebut. 

Pilihan Kakak dan Adek jatuh pada Kebun Teh Tambi Wonosobo

Kebun Teh ini merupakan peninggalan zaman Belanda yang sampai sekarang masih dirawat dan dikelola oleh perusahaan milik pemerintah. Kebun Teh ini cukup populer. Jika ingin ke Dataran Tinggi Dieng, maka kita akan melewati kebun teh ini karena letaknya berada di jalan utama menuju Dataran Tinggi Dieng. 

cr: www.wisatadiengwonosobo.com


Jika ingin menginap, tempat ini telah dilengkapi oleh dengan penginapan yng nayamn dengan fasilitas yang komplit. Jika menginap di sana, ada pemandu yang akan menemani kita berkeliling melihat perkebunan dan pabrik teh Tambi sendiri. Kita akan diajak melihat para pemetik teh bekerja sampai melihat proses pembuatan teh mulai dari daun hingga teh siap saji. Kayaknya tepat banget deh kalau dalam waktu dekat ini berkunjung ke sana. Jika musim hujan tiba, daun teh sedang dalam keadaan hijau hijaunya. 

Jika ada diantara teman-teman yang ingin ke sana, coba deh googling paket wisata dieng. Masih banyak lagi kok tempat-tempat menarik yang layak banget untuk dikunjungi.

Minggu, 09 Desember 2018

Menjauhkan Anak dari Bahaya Penyalahgunaan Narkoba


Sebut saja namanya Dodo. Ia seumuran dengan Adek, anak bungsu saya yang sekarang duduk di bangku klas 7. Rumahnya 50 meter dari rumah saya. Kalau kita hitung umurnya sekarang sekitar 12 atau 13 tahun tahun. 

Jika Adek tumbuh dengan teman-teman di sekolah dan tempatnya mengaji, tidak dengan Dodo. Benar, beberapa kali ia terlihat bersama teman-teman sekolahnya. Namun tidak bermain kelereng atau sepak bola. Mengayuh sepeda rame-rame pun tidak. Ia mengendarai sepeda motor. 

Ia mulai mengendarai motor sejak umur 10 tahun. Saat Adek klas 5 SD masih lebih sering bermain di halaman. Ketika Adek dan beberapa temannya bermain sepak bola di depan rumah, si Dodo ini wira wiri naik motor sambil beratraksi dengan motornya. Sering banget saya ketemu si Dodo ngebut di jalanan. Bersama teman-temannya yang membonceng di jok belakang. Jumlahnya kalau nggak dua ya tiga anak. Kebayang kan umur berapa anak-anak itu sampai jok motor bisa untuk empat anak? 

Betapa susahnya menasihati Dodo. Kalau nggak dimaki dengan kata berawalan huruf B, ia malah ‘ngece’ yang menasehati. Bahkan pakdenya pun dimaki dengan hewan berkaki empat. Rasanya gedeg sama anak ini. saking gedegnya, beberapa kali si Dodo jatuh naik motor nggak ada yang nolong. Untungnya saja cuma lecet-lecet. Tidak pernah ia mengalami luka serius. 

Gayanya makin bertambah saat ada rokok di tangan. Tak punya rasa sungkan sedikitpun dengan orang yang menegurnya. 

“Biarin, beli pakai duitku sendiri kok, meh ngopo Dhe?” tantangnya pada si Pakdhe yang nggak bosen-bosennya menasehati. 

Sayangnya jika hal ini disampaikan kepada ibunya rasanya kok sia-sia. Bukannya berterima kasih karena memberikan info tentang anaknya. Si ibu malah membela si Dodo. Salah-salah malah terjadi pertengkaran dengan ibunya. Para tetangga pun jadi malas berurusan dengan keluarga si Dodo. 

Di pertengahan Adek duduk di klas lima SD di kampung saya sempat geger. Si Dodo ditangkap polisi. Banyak yang tak paham mengapa ia sampai ditangkap polisi. Dua hari kemudian barulah kami, para tetangga mendapatkan info. Ia terlibat peredaran narkoba. Rupanya teman mainnya tak cuma yang seumuran. Ternyata ia sering nongkrong di tetangga kampung bersama beberapa laki-laki berusia duapuluhan. Sayangnya ia salah memilih teman. 

Saya nggak habis pikir, kok bisa narkoba merambah ke desa saya. Lha di desa kan segmen masyarakatnya kebanyakan low end. Daya beli pun rendah. Yang mau make siapa? Begitu pikiran saya saat itu. 


Dua tahun kemudian saya baru mengerti. 


5 Desember 2018, saya dan teman-teman blogger Jogja diundang oleh BNN Kabupaten Sleman mengikuti acara Forum Komunikasi BNN. Kepala BNN Kabupaten Sleman AKBP Siti Alfiah, S.Psi, SH., MH memberikan begitu banyak informasi yang memberikan pemahaman baru bagi saya mengenai narkoba.

Saat ini penyalahgunaan narkoba telah menyusup ke lapisan masyarakat. Jika di tahun-tahun sebelumnya penyalahgunaan narkoba dimulai usia 15 tahun, atau usia awal SMA, data tahun 2015 di Kabupaten Sleman pelaku penyalahgunaan narkotika di mulai usia 10 sampai 59 tahun. Peredaran narkoba sudah masuk ke dalam pelosok desa dan anak-anak sekolah dasar. 


Yang mengagetkan lagi, ternyata bandar narkoba menetapkan wilayah pedesaan menjadi jalur masuknya peredaran narkoba. Pedesaan menjadi wilayah strategis dalam penyelundupan narkoba. Karena apa? Pembangunan infrastruktur di pedesaan mengalami ketertinggalan dibanding wilayah perkotaan. Hal ini menjadikan pemerintah desa fokus pada pembangunan fisik dan kurang memperhatikan penyakit-penyakit sosial yang tanpa disadari sudah mulai menggeliat. 

kota tempat tinggal saya termasuk dalam jalur peredaran narkoba :(

Pernah melihat bentuk narkoba nggak? Jujur, saya sendiri baru kali ini lho, ngerti seperti apa sih tembakau gorila seperti apa.



Saya juga baru tahu ternyata ada ekstasi dengan bentuk gambar minion yang lucu. Sedih nggak sih, kalau narkoba yang beredar sekarang kemasannya menarik?



Masyarakat memang sudah semestinya menyadari betapa saat ini darurat narkoba memang harus digaungkan. Mengingat kejadian si Dodo anak tetangga saya, sudah semestinya anak-anak usia SD mulai diberikan pengetahuan mengenai penyalahgunaan narkoba. Sekolah bisa bekerjasama dengan BNN atau kepolisian di kabupaten setempat untuk memberikan penyuluhan.




Keluarga adalah institusi terkecil dalam masyarakat. Keluarga adalah benteng utama dari segala hal yang bernama keburukan. Kedekatan antara orang tua dan anak sudah tak bisa diabaikan. Menjalin komunikasi positif antara orang tua dan anak akan menjadikan anak-anak kita lebih waspada tentang hal-hal yang berada di sekitar kita. 

Tantangan bagi anak-anak laki-laki terasa lebih berat. Solidaritas yang salah tempat menjadi pintu bagi anak-anak laki-laki terjerumus dalam hal-hal yang menyesatkan. Sementara bagi anak perempuan harus lebih kuat dalam menjaga dirinya. Seringkali bisikan setan dianggap angin dari surga. 

Sementara kita para orang tua harus bisa menjadi orang tua yang mengikuti perkembangan anak. Jangan sampai lost generation dengan anak-anak kita sehingga menimbulkan kesenjangan. 
Dan jangan lupa selalu mendoakan. 





Sabtu, 01 Desember 2018

Wonderful Indonesia : Wonderful Place, Wonderful People

Assalamualaikum Temans, 

Jika teman-teman mendengar kata Wonderful Indonesia, kira-kira apa yang terbayang di benak kalian? 

Ketika saya bertanya pada suami, jawaban yang cepat meluncur dari bibirnya adalah keindahan alam Indonesia. Tak diragukan lagi, Indonesia memiliki berbagai tempat indah yang baru bisa saya kunjungi di dunia maya saja. Contohnya saja Pulau Cinta yang berada di Gorontalo, ataupun Teluk Kiluan yang berada di Tanggamus Lampung. Destinasi wisata Indonesia yang berkembang menjadikan Indonesia menjadi surga bagi penikmat traveling. 

Zaman sekarang, media sosial menjadi kekuatan sendiri dalam mempromosikan apapun. Kawasan wisata alternatif pun banyak bertebaran di media sosial. Coba saja teman-teman mencari melalui tagar tentang pariwisata Indonesia, maka bermunculan foto-foto cantik yang kadang saya sendiri tak mengetahui tempatnya dimana meski dekat dengan alamat rumah saya. 

Pariwisata Indonesia saat ini tak terbatas di Candi Borobudur, Danau Toba, Pantai Parang Tritis, Pantai Ancol, Taman Mini Indonesia Indah, Kepulauan Seribu, ataupun Pantai Kuta. Semakin banyak masyarakat di Indonesia yang sadar wisata sehingga membuat destinasi wisata yang dekat tempat tinggal. Selain tak perlu jauh-jauh untuk melepas penat, biaya rekreasi pun kian terjangkau. 

Contohnya saja di daerah saya Kabupaten Magelang. Jika di masa kecil saya hanya mengenal sedikit tempat wisata yaitu Candi Borobudur atau Candi Mendut. Saat ini semakin banyak alternatif wisata yang sayang kalau hanya dilewatkan. 

Jika teman-teman ingin traveling di Kabupaten Magelang, semakin banyak pilihan wisata yang tak bisa dinikmati hanya satu hari. 

Punthuk Setumbu 
Sebuah kawasan yang tak jauh dari Candi Borobudur patut teman-teman kunjungi. Banyak turis dari luar negeri yang mengunjungi Punthuk Setumbu. Nirwana Sunrise, begitu mereka menyebut kawasan ini. Jika ingin mengunjungi kawasan ini, kita perlu effort yang lebih dibanding mengunjungi kawasan lain. Selain kita memerlukan bangun lebih awal dari biasanya, pendakian ke puncak punthuk tersebut yang memakan waktu sekitar 20 menit dengan jalan yang menanjak menjadikan keindahan di puncak semakin berharga. 


Punthuk setumbu menyajikan keindahan matahari terbit. Keindahan itu hanya bisa kita lihat sekian menit sebelum matahari benar-benar muncul. Momen berharga inilah yang dinikmati oleh pengunjung. Tak hanya pecinta fotografi yang berjejalan ingin mengabadikan momen tersebut. Saat saya ke sana pengunjung dari benua Eropa maupun Asia lumayan banyak. 

Selain momen harga yang dinikmati, pengunjung juga bisa berfoto dengan pemandangan pagi yang indah. Banyak spot foto yang sayang kalau dilewatkan. 

Punthuk Setumbu juga dekat dengan Gereja Ayam, salah satu tempat syuting film Ada Apa dengan Cinta 2 yang ngehits itu. Teman-teman bisa jalan kaki selama 10 menit dari Puncak Punthuk Setumbu untuk mencapai Gereja Ayam. 

Balkondes 
Di Kawasan Kecamatan Borobudur ada banyak balkondes yang dibangun oleh beberapa perusahaan. Alternatif wisata ini juga patut teman-teman pertimbangkan untuk melepas lelah dan menikmati berbagai macam permainan atau kuliner. Misalnya saja balkondes Wanurejo. Tempat ini semakin sering dipakai untuk acara-acara perusahaan ataupun penduduk lokal jika ingin mempunyai hajatan. Saya pernah menuliskan tentang balkondes ini di SINI. 


Selain Balkondes Wanurejo, ada juga Balkondes Ngadirejo, Balkondes Tuksongo, Balkondes Majaksingi, Balkondes Wringin Putih, dan yang terakhir dibangun adalah Balkondes Tegalarum. Ada 20 Balkondes yang bisa teman-teman kunjungi, atau sekedar menginap jika ingin menikmati suasana. 

Wisata Air. 
Teman-teman tentunya tak asing dengan rafting dan tubing bukan? Di Kabupaten Magelang punya dua jalur rafting yang bisa dinikmati yaitu jalur Kali Elo atau Kali Progo dengan kesulitan yang berbeda-beda. 

Ada juga tubing yang bisa dinikmati melalui wisata kecamatan Muntilan di Kali Blongkeng atau beberapa area di Kecamatan Sawangan, di Desa Tampir. Jika anda mengajak anak usia balita, tentunya lebih aman jika memilih tubing menjadi wisata air.



Di tengah perjalanan rafting anda biasanya akan beristirahat di sebuah tempat. Kuliner yang disajikan adalah kelapa muda dan jajanan pasar. Jika tubing yang dipilih maka setelah perjalanan kuliner tersebut bisa dinikmati setelah anda berbasah-basah di sungai. 

Wisata Selfie. 
Ingin sekedar foto dengan background yang instagramable? Teman-teman bisa memilih. Ada Jungyard di sebelah Balkondes Wanurejo dengan berbagai macam mobil atau motor kuno yang unik. Taman Dewari dan Taman Ramadanu di Kecamatan Salam dan Ngluwar akan memberikan keindahan bunga dalam setiap foto yang diambil. Tak lupa wisata Kulon Ndeso di Sokorini Muntilan yang memanjakan pengunjung melewati area persawahan di bawah jembatan yang mereka lewati. 



Wonderful People 

Bicara Wonderful Indonesia, tak bisa dilewatkan bagaimana saya dan banyak masyarakat di Indonesia berinteraksi. Lupakanlah jika kita melihat di dunia maya orang-orang saling menyerang, menebar hoax, ataupun menjatuhkan. Di kehidupan nyata saya tak pernah mengalami kehidupan yang riweh yang membuat hati panas. 

Saya hidup di tempat yang masih kental dengan adab dan kebudayaan. Sebuah kota kecil yang meski bertambah bising karena pembangunan fisik dan penambahan penduduk yang tak lagi bisa dihindari. Namun toleransi di antara kami masih bisa terjaga dengan baik. 

Di Kecamatan Mungkid, sebuah vihara berdiri di tengah tempat yang mayoritas adalah masyarakat Muslim. Di Muntilan Tempat Peribadatan hanya dipisahkan oleh jalan yang tak lebih dari 8 meter. Sekolah berbasis Nasrani dan Muslim berdampingan serta bersaing secara sehat. Saling menjaga saat merayakan hari besar masing-masing. 

Menghormati perbedaan bukan lantas saling mengikuti ritual agama lain. Toleransi terbesar yang ada di hati manusia adalah mempersilakan orang lain melakukan ritual keyakinannya tanpa ada gangguan apapun. 

Itulah sejatinya wonderful people yang menjadi bagian dari wonderful Indonesia.