Desember 2018 - Jurnal Hati

Minggu, 09 Desember 2018

Menjauhkan Anak dari Bahaya Penyalahgunaan Narkoba


Sebut saja namanya Dodo. Ia seumuran dengan Adek, anak bungsu saya yang sekarang duduk di bangku klas 7. Rumahnya 50 meter dari rumah saya. Kalau kita hitung umurnya sekarang sekitar 12 atau 13 tahun tahun. 

Jika Adek tumbuh dengan teman-teman di sekolah dan tempatnya mengaji, tidak dengan Dodo. Benar, beberapa kali ia terlihat bersama teman-teman sekolahnya. Namun tidak bermain kelereng atau sepak bola. Mengayuh sepeda rame-rame pun tidak. Ia mengendarai sepeda motor. 

Ia mulai mengendarai motor sejak umur 10 tahun. Saat Adek klas 5 SD masih lebih sering bermain di halaman. Ketika Adek dan beberapa temannya bermain sepak bola di depan rumah, si Dodo ini wira wiri naik motor sambil beratraksi dengan motornya. Sering banget saya ketemu si Dodo ngebut di jalanan. Bersama teman-temannya yang membonceng di jok belakang. Jumlahnya kalau nggak dua ya tiga anak. Kebayang kan umur berapa anak-anak itu sampai jok motor bisa untuk empat anak? 

Betapa susahnya menasihati Dodo. Kalau nggak dimaki dengan kata berawalan huruf B, ia malah ‘ngece’ yang menasehati. Bahkan pakdenya pun dimaki dengan hewan berkaki empat. Rasanya gedeg sama anak ini. saking gedegnya, beberapa kali si Dodo jatuh naik motor nggak ada yang nolong. Untungnya saja cuma lecet-lecet. Tidak pernah ia mengalami luka serius. 

Gayanya makin bertambah saat ada rokok di tangan. Tak punya rasa sungkan sedikitpun dengan orang yang menegurnya. 

“Biarin, beli pakai duitku sendiri kok, meh ngopo Dhe?” tantangnya pada si Pakdhe yang nggak bosen-bosennya menasehati. 

Sayangnya jika hal ini disampaikan kepada ibunya rasanya kok sia-sia. Bukannya berterima kasih karena memberikan info tentang anaknya. Si ibu malah membela si Dodo. Salah-salah malah terjadi pertengkaran dengan ibunya. Para tetangga pun jadi malas berurusan dengan keluarga si Dodo. 

Di pertengahan Adek duduk di klas lima SD di kampung saya sempat geger. Si Dodo ditangkap polisi. Banyak yang tak paham mengapa ia sampai ditangkap polisi. Dua hari kemudian barulah kami, para tetangga mendapatkan info. Ia terlibat peredaran narkoba. Rupanya teman mainnya tak cuma yang seumuran. Ternyata ia sering nongkrong di tetangga kampung bersama beberapa laki-laki berusia duapuluhan. Sayangnya ia salah memilih teman. 

Saya nggak habis pikir, kok bisa narkoba merambah ke desa saya. Lha di desa kan segmen masyarakatnya kebanyakan low end. Daya beli pun rendah. Yang mau make siapa? Begitu pikiran saya saat itu. 


Dua tahun kemudian saya baru mengerti. 


5 Desember 2018, saya dan teman-teman blogger Jogja diundang oleh BNN Kabupaten Sleman mengikuti acara Forum Komunikasi BNN. Kepala BNN Kabupaten Sleman AKBP Siti Alfiah, S.Psi, SH., MH memberikan begitu banyak informasi yang memberikan pemahaman baru bagi saya mengenai narkoba.

Saat ini penyalahgunaan narkoba telah menyusup ke lapisan masyarakat. Jika di tahun-tahun sebelumnya penyalahgunaan narkoba dimulai usia 15 tahun, atau usia awal SMA, data tahun 2015 di Kabupaten Sleman pelaku penyalahgunaan narkotika di mulai usia 10 sampai 59 tahun. Peredaran narkoba sudah masuk ke dalam pelosok desa dan anak-anak sekolah dasar. 


Yang mengagetkan lagi, ternyata bandar narkoba menetapkan wilayah pedesaan menjadi jalur masuknya peredaran narkoba. Pedesaan menjadi wilayah strategis dalam penyelundupan narkoba. Karena apa? Pembangunan infrastruktur di pedesaan mengalami ketertinggalan dibanding wilayah perkotaan. Hal ini menjadikan pemerintah desa fokus pada pembangunan fisik dan kurang memperhatikan penyakit-penyakit sosial yang tanpa disadari sudah mulai menggeliat. 

kota tempat tinggal saya termasuk dalam jalur peredaran narkoba :(

Pernah melihat bentuk narkoba nggak? Jujur, saya sendiri baru kali ini lho, ngerti seperti apa sih tembakau gorila seperti apa.



Saya juga baru tahu ternyata ada ekstasi dengan bentuk gambar minion yang lucu. Sedih nggak sih, kalau narkoba yang beredar sekarang kemasannya menarik?



Masyarakat memang sudah semestinya menyadari betapa saat ini darurat narkoba memang harus digaungkan. Mengingat kejadian si Dodo anak tetangga saya, sudah semestinya anak-anak usia SD mulai diberikan pengetahuan mengenai penyalahgunaan narkoba. Sekolah bisa bekerjasama dengan BNN atau kepolisian di kabupaten setempat untuk memberikan penyuluhan.




Keluarga adalah institusi terkecil dalam masyarakat. Keluarga adalah benteng utama dari segala hal yang bernama keburukan. Kedekatan antara orang tua dan anak sudah tak bisa diabaikan. Menjalin komunikasi positif antara orang tua dan anak akan menjadikan anak-anak kita lebih waspada tentang hal-hal yang berada di sekitar kita. 

Tantangan bagi anak-anak laki-laki terasa lebih berat. Solidaritas yang salah tempat menjadi pintu bagi anak-anak laki-laki terjerumus dalam hal-hal yang menyesatkan. Sementara bagi anak perempuan harus lebih kuat dalam menjaga dirinya. Seringkali bisikan setan dianggap angin dari surga. 

Sementara kita para orang tua harus bisa menjadi orang tua yang mengikuti perkembangan anak. Jangan sampai lost generation dengan anak-anak kita sehingga menimbulkan kesenjangan. 
Dan jangan lupa selalu mendoakan. 





Sabtu, 01 Desember 2018

Wonderful Indonesia : Wonderful Place, Wonderful People

Assalamualaikum Temans, 

Jika teman-teman mendengar kata Wonderful Indonesia, kira-kira apa yang terbayang di benak kalian? 

Ketika saya bertanya pada suami, jawaban yang cepat meluncur dari bibirnya adalah keindahan alam Indonesia. Tak diragukan lagi, Indonesia memiliki berbagai tempat indah yang baru bisa saya kunjungi di dunia maya saja. Contohnya saja Pulau Cinta yang berada di Gorontalo, ataupun Teluk Kiluan yang berada di Tanggamus Lampung. Destinasi wisata Indonesia yang berkembang menjadikan Indonesia menjadi surga bagi penikmat traveling. 

Zaman sekarang, media sosial menjadi kekuatan sendiri dalam mempromosikan apapun. Kawasan wisata alternatif pun banyak bertebaran di media sosial. Coba saja teman-teman mencari melalui tagar tentang pariwisata Indonesia, maka bermunculan foto-foto cantik yang kadang saya sendiri tak mengetahui tempatnya dimana meski dekat dengan alamat rumah saya. 

Pariwisata Indonesia saat ini tak terbatas di Candi Borobudur, Danau Toba, Pantai Parang Tritis, Pantai Ancol, Taman Mini Indonesia Indah, Kepulauan Seribu, ataupun Pantai Kuta. Semakin banyak masyarakat di Indonesia yang sadar wisata sehingga membuat destinasi wisata yang dekat tempat tinggal. Selain tak perlu jauh-jauh untuk melepas penat, biaya rekreasi pun kian terjangkau. 

Contohnya saja di daerah saya Kabupaten Magelang. Jika di masa kecil saya hanya mengenal sedikit tempat wisata yaitu Candi Borobudur atau Candi Mendut. Saat ini semakin banyak alternatif wisata yang sayang kalau hanya dilewatkan. 

Jika teman-teman ingin traveling di Kabupaten Magelang, semakin banyak pilihan wisata yang tak bisa dinikmati hanya satu hari. 

Punthuk Setumbu 
Sebuah kawasan yang tak jauh dari Candi Borobudur patut teman-teman kunjungi. Banyak turis dari luar negeri yang mengunjungi Punthuk Setumbu. Nirwana Sunrise, begitu mereka menyebut kawasan ini. Jika ingin mengunjungi kawasan ini, kita perlu effort yang lebih dibanding mengunjungi kawasan lain. Selain kita memerlukan bangun lebih awal dari biasanya, pendakian ke puncak punthuk tersebut yang memakan waktu sekitar 20 menit dengan jalan yang menanjak menjadikan keindahan di puncak semakin berharga. 


Punthuk setumbu menyajikan keindahan matahari terbit. Keindahan itu hanya bisa kita lihat sekian menit sebelum matahari benar-benar muncul. Momen berharga inilah yang dinikmati oleh pengunjung. Tak hanya pecinta fotografi yang berjejalan ingin mengabadikan momen tersebut. Saat saya ke sana pengunjung dari benua Eropa maupun Asia lumayan banyak. 

Selain momen harga yang dinikmati, pengunjung juga bisa berfoto dengan pemandangan pagi yang indah. Banyak spot foto yang sayang kalau dilewatkan. 

Punthuk Setumbu juga dekat dengan Gereja Ayam, salah satu tempat syuting film Ada Apa dengan Cinta 2 yang ngehits itu. Teman-teman bisa jalan kaki selama 10 menit dari Puncak Punthuk Setumbu untuk mencapai Gereja Ayam. 

Balkondes 
Di Kawasan Kecamatan Borobudur ada banyak balkondes yang dibangun oleh beberapa perusahaan. Alternatif wisata ini juga patut teman-teman pertimbangkan untuk melepas lelah dan menikmati berbagai macam permainan atau kuliner. Misalnya saja balkondes Wanurejo. Tempat ini semakin sering dipakai untuk acara-acara perusahaan ataupun penduduk lokal jika ingin mempunyai hajatan. Saya pernah menuliskan tentang balkondes ini di SINI. 


Selain Balkondes Wanurejo, ada juga Balkondes Ngadirejo, Balkondes Tuksongo, Balkondes Majaksingi, Balkondes Wringin Putih, dan yang terakhir dibangun adalah Balkondes Tegalarum. Ada 20 Balkondes yang bisa teman-teman kunjungi, atau sekedar menginap jika ingin menikmati suasana. 

Wisata Air. 
Teman-teman tentunya tak asing dengan rafting dan tubing bukan? Di Kabupaten Magelang punya dua jalur rafting yang bisa dinikmati yaitu jalur Kali Elo atau Kali Progo dengan kesulitan yang berbeda-beda. 

Ada juga tubing yang bisa dinikmati melalui wisata kecamatan Muntilan di Kali Blongkeng atau beberapa area di Kecamatan Sawangan, di Desa Tampir. Jika anda mengajak anak usia balita, tentunya lebih aman jika memilih tubing menjadi wisata air.



Di tengah perjalanan rafting anda biasanya akan beristirahat di sebuah tempat. Kuliner yang disajikan adalah kelapa muda dan jajanan pasar. Jika tubing yang dipilih maka setelah perjalanan kuliner tersebut bisa dinikmati setelah anda berbasah-basah di sungai. 

Wisata Selfie. 
Ingin sekedar foto dengan background yang instagramable? Teman-teman bisa memilih. Ada Jungyard di sebelah Balkondes Wanurejo dengan berbagai macam mobil atau motor kuno yang unik. Taman Dewari dan Taman Ramadanu di Kecamatan Salam dan Ngluwar akan memberikan keindahan bunga dalam setiap foto yang diambil. Tak lupa wisata Kulon Ndeso di Sokorini Muntilan yang memanjakan pengunjung melewati area persawahan di bawah jembatan yang mereka lewati. 



Wonderful People 

Bicara Wonderful Indonesia, tak bisa dilewatkan bagaimana saya dan banyak masyarakat di Indonesia berinteraksi. Lupakanlah jika kita melihat di dunia maya orang-orang saling menyerang, menebar hoax, ataupun menjatuhkan. Di kehidupan nyata saya tak pernah mengalami kehidupan yang riweh yang membuat hati panas. 

Saya hidup di tempat yang masih kental dengan adab dan kebudayaan. Sebuah kota kecil yang meski bertambah bising karena pembangunan fisik dan penambahan penduduk yang tak lagi bisa dihindari. Namun toleransi di antara kami masih bisa terjaga dengan baik. 

Di Kecamatan Mungkid, sebuah vihara berdiri di tengah tempat yang mayoritas adalah masyarakat Muslim. Di Muntilan Tempat Peribadatan hanya dipisahkan oleh jalan yang tak lebih dari 8 meter. Sekolah berbasis Nasrani dan Muslim berdampingan serta bersaing secara sehat. Saling menjaga saat merayakan hari besar masing-masing. 

Menghormati perbedaan bukan lantas saling mengikuti ritual agama lain. Toleransi terbesar yang ada di hati manusia adalah mempersilakan orang lain melakukan ritual keyakinannya tanpa ada gangguan apapun. 

Itulah sejatinya wonderful people yang menjadi bagian dari wonderful Indonesia.