Februari 2023 - Jurnal Hati Irfa Hudaya

Selasa, 28 Februari 2023

Happy Birthday Blogger Gandjel Rel!
Selebrasi dan Sharing session ulang tahun blogger gandjel rel


Ulang tahun Komunitas Gandjel Rel yang ke delapan ini sungguh istimewa buat saya. Jauh-jauh hari saya niatkan untuk datang bertemu kembali dengan teman-teman lama. Teman rasa saudara yang tak bertemu sejak pandemi datang.

Ketika informasi tentang selebrasi dan sharing session itu diposting di WA grup, langsung saja saya transfer HTM untuk mengikuti acara tersebut. Pokoknya nggak pake lama. Biar saya nggak punya kesempatan untuk ragu-ragu lagi karena sebenarnya pun jadwal kegiatan saya pun cukup padat untuk hari-hari itu. Tanggal 25 Februari 2023 saya lingkari gede di kalender. Bahwa tanggal itu saya nggak bisa diganggu. Meski saya juga cenat cenut nyambi ngurusin penerbitan buku yang digagas oleh sebuah SD dimana saya menjadi guru jurnalistiknya.

Jauh-jauh hari saya sudah matur ke suami tentang acara saya tersebut. Saya bakal datang di H-1 acara Komunitas Gandjel Rel. Rencana saya datang ke Semarang tanggal 24 Februari 2023. Saya pun sudah mempersiapkan bakal kemana aja di tanggal itu.


H-1 (Silaturahmi Day)

Qodarullah saat prepare keberangkatan, berita lelayu datang dari jamaah masjid dimana saja beribadah. Mau nggak mau saya tunda barang sebentar keberangkatan saya dan datang ke tempat takziah. Nggak lama, sekadar menyolatkan jenazah seorang ibu yang menderita gagal ginjal beberapa tahun belakangan ini. setelah itu saya pun langsung ke terminal Magelang diantar oleh Adek. Bukan apa-apa. Sekarang tuh bis antar provinsi susah dapetnya. Nggak kayak dulu yang tiap 30 menit ada.

Sebuah keberuntungan juga saya dapet bis yang sudah penuh sehingga tidak harus ngetem di berbagai tempat. Saya sampai di Ungaran sekitar jam 7.58. Kok turun Ungaran? Iya, ada yang perlu dibicarakan dengan salah satu founder Gandjel Rel terkait dengan obrolan kami sebelumnya. Perkiraan saya sampai Ungaran sekitar jam 09.00 ternyata bisa datang jauh lebih pagi.

Sampai Dhuhur saya di Ungaran, lantas menuju tempat tujuan kedua. Sudah lama banget pengen mengunjungi sahabat satu ini. 17 tahun nggak ketemu. Bukan karena nggak niat. Tiap kali ke Semarang pengen banget ke sana. Karena tempat tinggalnya jauh dari rute perjalanan tiap kali ke Semarang, jadinya harus bener-bener meluangkan waktu. Alhamdulillah bisa ketemu. Ada tangis di tengah tawa. Apalagi beliau baru saja ditinggal belahan hati. Nggak lama juga di sana. Pokoknya udah ketemu dulu lah. Besok lagi kalau ada kesempatan mampir lagi.

Tujuan saya yang ketiga adalah ke mantan kantor. Ketemu partner yang hampir dua tahun nggak ketemu juga. Nostalgia dan ngobrolin teman-teman yang sudah memiliki kehidupan yang berbeda. Vibes kantor yang nggak berubah-ubah. Hari itu benar-benar jadi Silaturahmi Day buat saya. Sebagai penutup silaturahmi hari itu saya menginap di rumah sepupu saya.

Selebrasi dan Sharing Session Ulang Tahun Komunitas Blogger Gandjel Rel

Saya sudah siap dari pagi untuk berangkat ke Warung Kopi Alam dimana acara Gandjel Rel diadakan. Sayangnya sedari pagi hujan mengguyur kota Semarang bagian barat. Menunggu selama satu jam nggak berhenti akhirnya saya naik grab car secara mantel suami cuma ada satu.

Sampai venue acara sudah berlangsung. Bang Odi sebagai narasumber dalam sharing session Public Speaking For Blogger sedang memaparkan materi. Kami diajak mengikuti permainan untuk berpasangan saling mengenalkan diri menggunakan huruf abjad yang sudah kami pilih sebelumnya. Kebayang aja kan buat yang dapet huruf X ketika mengenalkan diri?

Untuk ukuran seorang blogger saya nggak banyak ambil foto saat itu. Saya menikmati pertemuan demi pertemuan dengan para sahabat. Terasa banget kerinduan teman-teman untuk berkumpul dalam sebuah acara. Senyum, tawa, dan pelukan hangat tak lepas dari hari itu. Pandemi ternyata memberikan hikmah. Bahwa sebagai manusia kita adalah makhluk sosial yang tak bisa berdiri sendiri. Kita memerlukan orang lain untuk menghangatkan hati meski hanya sekadar obrolan remeh dan begitu ringan.

Selamat Ulang Tahun Blogger Gandjel Rel. Banyak doa yang terpanjat untuk usia komunitas ini. Sewindu membuktikan bahwa komunitas ini tetap eksis dan makin banyak membernya. semoga makin banyak proyek yang bisa dikerjakan oleh member, panjang usia dan makin banyak menebar kebermanfaatan bagi siapapun.

Rabu, 22 Februari 2023

 Baju Kembaran, Yay or Nay?
Baju Seragam


Assalamualaikum temans

Di satu masa saya suka sekali memakai baju kembaran dengan keluarga. Apalagi waktu lebaran. Kayaknya sudah keren gitu pakai baju seragam dengan keluarga. Sering kali harus ada budget khusus untuk memakai baju dari bahan yang sama meskipun modelnya berbeda. Jauh-jauh hari saya sudah siap banget nyari bahan, model gamis atau baju koko buat anak dan suami. Menghubungi penjahit untuk ngeblock urutan jahitan soalnya di penjahit langganan saya dua bulan sebelum lebaran sudah nggak menerima jahitan lagi.

Di masa yang lain saya menolak mengikuti ajakan salah seorang teman untuk mengikuti arisan. Bukan karena saya nggak mampu bayar setoran arisannya. Saya yang nggak kuat mengikuti lifestyle nya. Bajunya sih modal drescode doang. Lha jilbabnya setiap bulan selalu kembaran. Dan minimal pembelian jilbab itu paling nggak 250k. buat saya itu overprice untuk sebuah jilbab yang modelnya pun kurang pas buat saya. Entah khimar yang panjangnya sampai ke betis atau jilbab scarf dengan banyak motif yang menurut saya kurang menutup dada. Belum lagi baju seragam yang ganti setahun sekali dengan budget jutaan.


Semangat berseragam yang mengendur

Baju Seragam



Semangat saya untuk berseragam bersama keluarga makin mengendur. Ketika anak-anak dalam masa pertumbuhan menuju remaja cepat sekali baju-baju itu tak muat. Sering kali baju baru dipakai empat bulan sudah kekecilan. Entah badannya yang nggak muat, lengan jadi kependekan. Akhirnya ketika hendak memakai baju itu barengan biasanya si adek bakal beda sendiri karena malu pakai seragam kekecilan. Malu karena dilihat juga jadi kurang pantas.

Lagian saya juga makin banyak pakaian-pakaian seragam entah dari komunitas atau organisasi keagamaan yang saya ikuti. Belum lagi dengan arisan wali murid yang saya ikuti (satu-satunya) yang sering kali berganti seragam dua tahun sekali dan biasanya dipakai sekadar foto doang sekali dua kali abis itu nggak kepakai lagi. Sayang banget kan? Apalagi kalau dihitung-hitung pengeluaran membuat pakaian seragam jauh lebih mahal daripada beli jadi dengan kualitas yang lebih bagus.

Setelah itu saya sangat jarang punya baju kembaran dengan keluarga lagi. Apalagi setelah anak-anak sudah remaja dan memasuki masa dewasa. Saya dan anak-anak berbeda selera dalam memilih pakaian. Kakak dan Adek monokrom mania. Sementara sudah sejak kapan hari saya masuk dalam barisan cewek kue. Kalau Paksu jangan ditanya ya? Doi untuk urusan baju nggak pernah ribet. Nah, karena perbedaan selera itu membuat saya nggak mau menghabiskan uang sekadar memenuhi keinginan saya kelihatan kompak dalam sebuah keluarga. Daripada Adek dan Kakak hanya make baju kembaran sekali abis itu jadi penghuni lemari kan?


Baju kembaran, yay or nay?


Jika baju kembaran dalam artian seragam sekolah saya sepakat sih. Selain supaya anak-anak terlihat rapi. Seragam juga merupakan identitas sekolah. Setidaknya saat anak-anak memakai baju seragam mereka akan berusaha menjaga attitude dimanapun mereka berada karena memakai identitas sekolah. Berseragam sesuai waktunya juga melatih kedisiplinan bagi anak. Misalnya kalau anak saya yang sudah SMA, setiap hari Senin dan Selasa memakai baju osis. Rabu memakai batik identitas sekolah yang atasannya model kemeja. Kemudian hari kamis memakai batik identitas yang atasannya model baju koko lantas hari Jumat memakai baju pramuka. Memakai seragam sekolah juga meminimalisir kesenjangan. Latar belakang siswa dari keluarga yang berbeda akan tak terlihat saat memakai seragam sekolah meski sekarang ya tetep aja kelihatan dari sepatu yang dipakai.

Akan tetapi untuk urusan di luar sekolah dan hal-hal yang dianggap formal, saya lebih suka memakai baju yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Kalau sekarang saya merasa lebih indah melihat keberagaman. Kalau toh dalam sebuah arisan supaya terlihat menarik dalam foto yang bakalan diunggah di media massa. Lebih baik dengan dresscode warna saja akan lebih memudahkan padu padan baju dan jilbab. Cukup yang ada di lemari rumah, tidak perlu menambah budget untuk properti foto. Soalnya kalau kembaran lagi kembaran lagi, itu baju-baju lama mau dikemanain?

Jumat, 17 Februari 2023

 Seberapa penting meminta maaf?
perlunya minta maaf


Assalamualaikum temans,

Setiap manusia pasti melakukan kesalahan. Sayangnya sedikit dari orang yang melakukan itu dengan mudah memohon maaf dan memperbaiki diri. Kecenderungan sebagian orang ketika melakukan kesalahan malah membuat alasan pembenar supaya orang lain memahami mengapa ia melakukan itu alih alih meminta maaf dengan tulus. Padahal jika mereka tahu. Betapa sakitnya merasakan luka yang ditorehkan. Bisa jadi hanya dengan kata maaf luka itu bisa terasa lebih ringan.

Orang tak mau minta maaf karena mereka tidak terlalu mengkhawatirkan kondisi orang yang dilukai. Menurutnya ya biasa saja. Ada juga tipe orang yang gengsi setengah mati. Ia merasa jika meminta maaf akan mengancam citra dirinya. Ada pula yang mempercayai bahwa minta maaf itu tak ada gunanya. Bagi sebagian orang minta maaf dianggap meng-highlight kesalahannya sendiri. Makanya orang lebih suka nyalahin dibanding meminta maaf.

Permintaan maaf itu tak mudah. Harus punya kesiapan mental untuk mengakui kesalahan saat melakukan proses tersebut. Adanya konsekuensi yang akan dihadapi membuat manusia pun berpikir ulang sebelum mengambil keputusan untuk meminta maaf atau tidak.

Pentingkah minta maaf itu?


Tentu saja. Permintaan maaf adalah sebuah cara mengakui kesalahan yang pernah dilakukan. Permintaan maaf itu akan meredakan konflik dan mempercepat proses rekonsiliasi di luar perasaan lega saat hal itu dilakukan. Tujuan dari minta maaf sendiri adalah memperbaiki hubungan. Kedua belah pihak sangat berperan dalam proses interpersonal ini. Jika salah satu pihak masih menyimpan dendam rekonsiliasi belum tentu dapat terwujud.

Minta maaf itu membebaskan dari ikatan negatif terhadap pelanggaran perilaku terhadap orang lain. Jika suatu saat seseorang yang dilukai sudah memaafkan itu artinya orang itu sudah melepaskan perasaan buruk terhadap kesalahan yang sudah diperbuat oleh orang yang melukainya.

Bagaimana jika tidak meminta maaf dengan cara yang baik dan benar?


Tentunya akan ada keraguan dan tak bisa mengembalikan kepercayaan orang sepenuhnya. Ketulusan akan diragukan dan kepercayaan sulit didapatkan. Tentunya akan berdampak bagi hubungan kedua belah pihak.

Menjaga hubungan baik itu perlu banget. Apalagi jika sudah menginjak usia dewasa. Dalam kedewasaan yang bakal dilalui seseorang. Penting banget bagi manusia untuk memiliki hubungan yang sehat baik dengan pasangan, keluarga pertemanan atau relasi dalam pekerjaan.

Cara meminta maaf yang baik


Ada beberapa langkah cara untuk meminta maaf yaitu

Memiliki keberanian dan niat. Sangat penting bagi orang yang hendak meminta maaf itu memiliki tekad untuk meminta maaf atas dasar ketulusan. Perlu banget dipikirkan bagaimana kata yang akan diucapkan supaya tak salah memilih kata yang akan membuat kondisi makin runyam.

Lugas. Kesungguhan akan terlihat saat permintaan maaf dilakukan tidak bertele-tele. Bicarakan yang sudah diperbuat sehingga perlu meminta maaf. Susun diksi atau jika perlu hafalkan perkataan yang akan disampaikan pada orang yang dimintai maaf.

Proses pemaafan butuh waktu. Berikan space untuk mereka yang dilukai. Mereka butuh waktu dan proses untuk menerima kesalahan dan legowo memberikan pemaafan. Pastikan sudah benar-benar dipikirkan konsekuensi yang bakal diterima. Jika belum ada respon tak perlu terburu buru melakukan tindakan lain yang bisa jadi memperburuk keadaan.Jika mereka belum siap membuka hati tak apa. Tak perlu diusik sehingga memperparah luka. Proses setiap manusia itu berbeda-beda.

Tidak mengulang kesalahan yang sama. Penyesalan terbaik adalah tak membiarkan kesalahan itu kembali terulang. Membuat komitmen dan mengubah perilaku demi kebaikan sangat penting untuk dilakukan. Jika hal itu gagal, jangan harap mereka akan memberikan kepercayaan. Takkan ada lagi kesempatan kedua ketiga dan seterusnya.

Seorang sahabat pernah mengingatkan pada saya bahwa meminta maaf tidak perlu disertai dengan pembelaan diri. Ucapkan maaf dengan tulus, biarkan mereka memproses luka yang pernah ditorehkan. Jika masih ada omongan nggak baik tentang kita anggap saja sebagai kaffarat dari apa yang kita lakukan. Bukankah setiap kesalahan memiliki konsekuensi? Bagaimanapun juga seseorang yang berani melakukan kesalahan juga berani menanggung resikonya.






Minggu, 12 Februari 2023

Menulis vs Berbicara di Depan Umum
belajar public speaking

Assalamualaikum temans
Sejak dulu saya memahami bahwa saya bukan orang yang mudah untuk mengkomunikasikan sesuatu di depan publik. Setiap kali presentasi tugas kuliah saya sudah blank aja. Rasanya kalau sudah maju di depan kelas semua yang sudah saya pikirkan langsung terbang terbawa angin. Hal ini membuat saya selalu jadi pengonsep atau sekadar tukang ketik dalam setiap tugas kelompok saat kuliah.

Hal itu ternyata terbawa dalam pekerjaan. Sebagai Account Executive di Surat Kabar Harian Bisnis Indonesia perwakilan Jateng & DIY seharusnya saya lebih sering melakukan presentasi. Sayangnya tiap kali saya melakukan presentasi di depan klien jarang sekali bisa langsung mendapatkan target.

Saya pun mengubah strategi. Saya paham jika kelebihan saya dalam berkomunikasi adalah komunikasi interpersonal. Saya adalah pendengar yang baik. Makanya saya berusaha mendapatkan kepercayaan secara personal dari klien yang saya temui. Saya berusaha maintain ke perusahaan-perusahaan via manager humasnya. Sesekali melakukan kunjungan sekadar ngobrol ini dan itu.

Ternyata hal itu lebih efektif buat saya. Ketika mereka sudah merasa dekat dengan saya. Sangat mudah untuk masuk dan ngobrolin tentang pekerjaan. Bahkan terkadang saya mendapatkan privilege dari klien. Ketika baru saja nikah, tiba-tiba saja di kantor sudah ada voucher menginap gratis di sebuah hotel bintang lima. Saat saya hamil, salah satu manager humas hotel bintang lima di Semarang mengundang saya untuk makan di restorannya gara-gara saya nyeletuk pengen makan tiramisu. Nggak sekadar makan di tempat. Saat itu saya langsung dibawain lima buah tiramisu untuk dibawa pulang padahal harga satu slice saat itu bisa untuk beli tiket travel PP Muntilan Semarang.

Menemukan dunia tulis menulis

Saya bersyukur pernah bekerja di Bisnis Indonesia. Meskipun kerjaan saya adalah marketing, saya sering diajari oleh wartawan untuk menulis di Bisnis Indonesia Minggu yang rubriknya lebih ringan. Sekadar menulis profil pengusaha, atau tempat-tempat makan yang ada di Semarang. Meskipun tulisan saya dirombak total. Tapi saya sudah cukup senang mendapatkan kesempatan untuk belajar menulis di tahun 2001-2003.

Setelah vakum di tahun 2004-2009 karena fokus ke keluarga. Saya ketemu lagi dengan Aan Wulandari, seorang penulis buku bacaan anak. Selain ia adalah teman SMA, ia juga saudara dari jalur Bapak. kebetulan juga ibunya rekan kerja. Ia yang mendorong saya untuk mengikuti audisi-audisi menulis. Tentu saja di awal saya menemukan banyak kegagalan. Namun saya tetap belajar. Dan facebook memberikan banyak jalan untuk belajar. Menemukan komunitas menulis buat saya seperti ‘surga’ untuk belajar. Saya kudu banyak berterima kasih pada facebook karena lewat media sosial ini saya menemukan passion saya yaitu menulis.

Bertahun-tahun belajar menulis akhirnya saya menemukan jalan. Tulisan saya tuh fiksi banget. makanya saya fokus untuk menulis novel. Genre yang saya pilih sampai sekarang ya novel biografi atau sejarah. Sebenarnya ironis juga. Saat sekolah saya nggak suka pelajaran sejarah. Eh, sekarang kudu baca buku sejarah yang tebelnya kayak bantal.

Sampai tahun ini saya telah menulis beberapa naskah novel. Alhamdulillah sampai sekarang sudah ada lima naskah yang sudah dibukukan, meski salah satunya adalah sebuah memoar untuk kalangan sendiri. Ada beberapa yang antri terbit di penerbit mayor dan sekarang pun masih proses menulis naskah pesanan dari penerbit. Alhamdulillah, mendapat kepercayaan dari sebuah penerbit itu sesuatu yang langka bagi saya.

Tahun 2017, saya menemukan jalan lain untuk tetap menulis saat saya pernah vakum menulis novel. Saya mulai serius ngeblog setelah beberapa tahun blog saya tak pernah diisi. Saya termasuk telat ngeblog nih. Ketika teman-teman sudah banyak mendapatkan pekerjaan via blog, saya baru memulainya kembali. Untungnya saya menemukan komunitas Gandjel Rel, dimana saya sudah mengenal para founder sebelumnya dari komunitas menulis lain. Saya banyak belajar ngeblog dari mereka yang sudah lebih dulu aktif menulis sebagai citizen journalism.

Belajar bicara di depan umum

penyiar radio komunitas

Tahun 2013 -2014 saya pernah menjadi penyiar di radio komunitas. Kesukaan saya pada musik terakomodir di situ. Mengapa saya mau jadi penyiar? Buat saya ini sebuah tantangan. Sudah sejak lama pengen belajar bisa berbicara di depan umum, akhirnya mendapat kesempatan. Saya anggap menjadi penyiar itu adalah latihan untuk berbicara di depan orang banyak. Yang pasti menjadi penyiar itu menguntungkan juga, karena wajah kita nggak ada yang ngeliat. Tapi apa yang kita katakan didengar oleh banyak orang.

Awalnya ya kikuk banget. ngomong sama mic doang. Bingung mau ngomongin apa. Pertama siaran saya ketik semua yang mau saya omongin sampai setitik komanya. Setiap kali siaran saya mesti bawa laptop. Pokoknya berasa bawa prompter sendirilah. Selama dua minggu saya bawa laptop untuk mengurangi awkward dan groginya saya sebagai penyiar. Dan senengnya saya waktu itu banyak pendengar yang merespon

Saya siaran setiap jam 06.30 – 08.00. Setiap pagi saya muterin lagu-lagu yang nge-beat. Di sela-sela muterin lagu saya biasa ngobrolin parenting. Biasanya saya baca tips-tips parenting yang diambil dari internet. Dari siaran radio itu banyak orang yang akhirnya bertanya tentang kepengasuhan anak saat saya siaran. Dan saya pun sering kebingungan ngejawabnya. Bagaimanapun saya bukan profesional. Takut salah jawab aja waktu itu.

Kesempatan sebagai pembicara

menjadi narasumber di berbagai acara

Menulis buku dan blog ternyata membawa saya mendapatkan kesempatan lain sebagai narasumber. Awalnya narasumber untuk kepenulisan sebuah kisah inspiratif. Disusul bagaimana menulis novel dan berbagai hal yang terkait kepenulisan. Membagi pengalaman menulis novel apalagi menulis novel sejarah itu risetnya ampun-ampunan. Nggak bisa sembarangan ambil referensi. Apalagi saat menulis sebuah novel sejarah dengan tokoh orang terdekat Rasulullah yang penuh dengan kontroversi.

Di luar tentang kepenulisan saya pun pernah mengisi workshop tentang peran perempuan dan media sosial. Sebuah ortom organisasi keagamaan yang mengundang saya menjadi salah satu pembicara dalam acara tersebut. Saya menyanggupi hal itu karena nggak lepas juga dari kegiatan saya sebagai blogger yang nggak sekadar menulis di blog tapi kudu aktif di media sosial juga.

Ada lagi tantangan sebagai pembicara terkait dengan pemberdayaan perempuan. Saat itu Perpustakaan Kota Yogyakarta yang mengundang salah satu narasumber dari IIDN Yogyakarta. Awalnya sih ada mbak Deassy M Destiani, seorang penulis yang juga pelaku UMKM yang menjadi narasumber. H-1 kegiatan Mbak Deassy harus masuk ke rumah sakit untuk melakukan tindakan medis.

Kurang dari 24 jam saya kudu mempersiapkan materi. Tadinya yang degdegan kalau nggak sesuai ekspektasi. Nggak tahunya malah seru karena pembicara pertama dari DPRD Kota Yogyakarta bisa melakukan interaksi yang aktif dengan saya. Seneng rasanya ketika mendapatkan respon positif dari mereka yang datang di acara tersebut.

Beberapa waktu yang lalu dua hari saya mengisi workshop bagi anak-anak SD. Kalau berhadapan dengan anak-anak SD tuh siapin kesabaran yang berlebih. Apalagi fokus mereka termasuk pendek. Kalau ngomongin materi melulu pasti ngobrol sendiri.

Di hari kedua materi tak begitu banyak namun waktu malah berlebih. Hal ini membuat anak-anak cenderung abai. Supaya anak-anak nggak rame saya buka sesi tanya jawab apa aja. Nggak tahunya anak-anak malah lebih suka sesi yang ini. Out of topic dari kepenulisan. Pertanyaan yang datang pun random banget. Akan tetapi anak-anak malah antusias. Waktu yang harusnya sampai jam 11.00 akhirnya menggelundung sampai jam 12.00

Berbicara di depan umum vs Menulis

Penulis Esai

Kalau menurut Mas Iqbal Aji Daryono dalam sesi Sharing bareng IIDN Jogja 28 Januari 2023 silam. Kebiasaan menulis itu sangat membantu beliau saat berbicara di depan khalayak. Ketika menjadi narasumber beliau merasa ketika berbicara di benaknya sudah tersusun kata-kata apa lagi yang hendak disampaikan kepada audience. Jadi dalam kepala seperti sudah menyimpan outline.

Sementara bagi saya berbicara dan menulis itu adalah dua hal yang berbeda. Saya lebih mudah menyampaikan pikiran dan perkataan lewat menulis dibandingkan dengan berbicara. Sering kali belibet jika berbicara di depan umum, apalagi tanpa bantuan contekan. Sering kali di rumah sudah terencana apa saja yang hendak saya katakan. Namun di acaranya sendiri apa yang sudah tersusun dalam kepala buyar sudah ketika berhadapan langsung dengan khalayak.

Kalau diminta memilih tentu saja saya lebih memilih untuk menulis dibandingkan dengan berbicara di depan umum. Hanya saja berbicara di depan umum memang bukan untuk dihindari. Namun bisa dijadikan sebagai challenge. Seberapa sih kemampuan kita untuk bisa didengarkan oleh orang lain?

Kalau ada kesempatan belajar berbicara di depan umum saya pengen banget. bagaimana sih seorang narasumber bisa menjadi pusat perhatian audience hingga mereka mau mendengarkan sampai akhir? Bagaimana caranya berbicara supaya nggak ngos-ngosan? Bagaimana memproduksi suara supaya terdengar nyaman di telinga? Bagaimana mengurangi grogi supaya fokus nggak buyar dan masih banyak endebre endebre lainnya.

O ya, tanggal 25 Februari 2023 bakalan ada acara seru nih. Komunitas Blogger Gandjel Rel akan ngerayain ulang tahun yang ke-8. Ntar bakalan ada selebrasi dan sharing session “Public Speaking for Blogger” yang diadain di Kopi Alam Jalan Singosari Timur Semarang. Wah ... sayang banget kalau sampai dilewatin yaaa?

Jumat, 10 Februari 2023

Resep Abon Bawang Goreng Pedas

 

Bawang Merah goreng alternatif lauk

Assalamualaikum temans,

Sering kali pagi hari tuh jadi momen paling hectic buat ibu-ibu yang anaknya masuk sekolah pagi. Terkadang bangun Subuh ngerasa bahwa waktu begitu kurang untuk mengurus anak-anak di pagi hari. Apalagi hari Senin. Setelah dua hari sebelumnya santai kayak di pantai. Tiba-tiba aja Senin kudu ngurusin ini itu. Satu anak berangkat kuliah, satunya lagi berangkat sekolah, ditambah Paksu yang harus berangkat kerja bakda Subuh supaya sampai ke kantor tanpa terlambat. Buat saya hari Senin begitu istimewa. Paling tidak bangun jam 3 dinihari itu waktu paling pas di hari Senin supaya bisa bernapas lega.

Biasanya di hari Senin saya memasak lebih banyak dari biasanya. Si Kakak selalu saya bekali lauk untuk dua hari supaya lebih irit uang sakunya. Begitu juga dengan Paksu. Paling tidak saya ngebawain bekal untuk makan pagi atau makan siang supaya di hari Senin itu beliau nggak ribet urusan makan setelah perjalanan jauh menuju kantor.

Karena berbagai keribetan itu saya lebih suka food preparation paling nggak untuk tiga hari. Zaman pandemi saya biasa food prep untuk satu minggu. Setelah pandemi reda paling nggak saya food prep untuk 3 atau 4 hari. Hal itu sungguh membantu ibu rumah tangga macam saya yang anaknya nggak mau dibekali makanan siap saji.

Siang tadi qodarullah saya kok lupa kalau hari Jumat semua balik. Kakak kuliah sampai hari Jumat aja, dan ayahnya weekend juga pasti di rumah. Selesai ngajar ekstra jurnalistik saya baru inget kalau di rumah nggak ada lauk sementara hujan lebat banget. Akhirnya buka-buka kulkas, ternyata saya sudah kehabisan bahan makanan. Ampuuunn ... Pelupanya saya. Biasanya Hari Jumat tuh saya sudah belanja untuk segala kebutuhan konsumsi rumah tangga sampai dengan hari Senin.

Cek-cek di kulkas ternyata masih ada bawang merah goreng dan kacang tanah. Akhirnya saya pun masak dengan bahan yang ada.


Abon bawang merah goreng pedas


Bahan bahan :
200gr bawang merah goreng
100 gr kacang tanah

Bumbu-bumbu:
3 siung bawang merah
2 siung bawang putih
5 buah cabai keriting
2 buah cabai rawit
Dua lembar daun salam
2 potong laos
Garam dan penyedap secukupnya
Asem jawa
Gula merah secukupnya
Minyak untuk menumis


Cara Membuat:

Goreng kacang tanah sampai matang. Sisihkan.

Bawang merah, bawang putih dan cabai dihaluskan. Kemudian ditumis sampai harum. Masukkan daun salam dan laos, tumis sampai matang. Masukkan sedikit air. Tambahkan gula merah dan asam jawa. Tunggu sampai mendidih dan airnya berkurang. Tambahkan garam dan penyedap secukupnya

Masukkan kacang tanah yang sudah digoreng aduk hingga tercampur rata. Kemudian masukkan bawang merah goreng, lalu aduk lagi hingga bumbu merata dan meresap. Angkat. Sajikan


Meski masakan sederhana dan seadanya ternyata anak-anak suka. Kakak dan Adek yang pulang hampir berbarengan sampai rumah langsung menyantap abon bawang merah pedas tersebut hingga tandas.

Jadi Ibu tuh emang kudu punya alternatif solusi dari segala macam persoalan. Kreativitas tanpa batas kayaknya kudu dipunyai oleh para ibu sejagat raya.

Happy weekend ya temans. Selamat berkumpul bersama keluarga