2020 - Jurnal Hati

Senin, 27 Juli 2020

Asuransi Salam Anugerah Keluarga, perlindungan keluarga secara menyeluruh berbasis syariah


Assalamualaikum temans,

Suami saya pernah bekerja di sebuah bank konvensional. Sementara di saat yang sama saya mulai aktif mengikuti taklim dan kajian-kajian keislaman. Dalam kajian-kajian yang saya ikuti pun pernah membahas tentang ekonomi Islam. Awalnya saya anggap itu sebagai bagian dari keilmuan. Namun semakin lama saya pun semakin risau. Bagaimanapun juga sistem perekonomian terbaik menurut agama saya ya yang sesuai syariah. 

Ternyata kerisauan itu tak hanya melanda hati saya. Begitu juga dengan suami. Dengan gaji yang cukup untuk kehidupan rumah tangga dengan dua dapur, karena saya dan suami tinggal beda kota, saya sama sekali tak punya tabungan yang cukup. Nggak tahu penghasilan itu larinya kemana. Bahkan dengan penghasilan yang cukup kami mempunyai hutang yang cukup besar untuk ukuran keluarga kami. 

Kerisauan kami sebenarnya adalah hidayah kecil yang dihadirkan Allah. Namun kami menolak hidayah yang datang memanggil. Suami masih berkutat dengan pekerjaan yang terkait dengan riba dan hal-hal yang bersifat syubhat. Sampai di satu waktu, ada hal-hal yang tak bisa dikendalikan oleh suami di kantor membuat suami pun berkeputusan untuk resign. 

Menjalani hidup dalam keprihatinan itu tak mudah. Banyak godaan yang datang pada keluarga kami. Banyak pekerjaan yang sesuai pengalaman kerjaan suami datang. Semuanya sama. Berasal dari perbankan konvensional. Sedih rasanya. Saat kami membutuhkan penghasilan sekadar menyambung hidup ternyata yang datang adalah sesuatu yang kami hindari. Kami mencoba bertahan. Sampai kemudian sebuah tawaran dari perbankan syariah datang pada suami. Meski dengan gaji yang lebih kecil dari pekerjaan sebelumnya, suami terlihat lebih tenang. Alhamdulillah Allah mencukupkan rezeki dari pintu-pintu yang tak kami kira.

Sedikit demi sedikit kami pun mulai menata perekonomian keluarga dengan berpatokan pada hukum-hukum Islam. Termasuk salah satunya adalah mempertimbangkan mengikuti asuransi syariah sebagai perlindungan dari keluarga kami. 

Mengapa asuransi syariah?



Dalam prinsip syariah ada nilai-nilai keislaman yang harus dipenuhi dan dipatuhi. Karena dalam Islam ada kepastian dalam prinsip beragama. Hal-hal yang syubhat akan selalu dihindari. Beberapa prinsip syar’i yang terkandung dalam asuransi syariah adalah :

1. Menjalankan prinsip tauhid.
Ini adalah poin utama yang harus dipahami. Niat dasar memiliki asuransi bukan semata meraih keuntungan namun ikut serta dalam menerapkan prinsip syariah dalam berasuransi. Asuransi syariah bertujuan untuk saling tolong menolong, bukan sarana perlindungan semata ketika mengalami resiko di kemudian hari.

2. Mengamalkan prinsip keadilan
Keadilan di sini adalah antara perusahaan asuransi dan nasabah harus berkeadilan terkait dengan hak dan kewajibannya. Tidak ada yang merasa dirugikan ataupun didzalimi atas penggunaan produk asuransi tersebut.

3. Prinsip tolong menolong
Satu poin penting dalam asuransi syariah adalah tolong menolong. Sesame nasabah saing berderma dan saling membantu. Jika ada nasabah yang mengalami musibah perusahaan asuransi bertindak sebagai pengelola dana saja. 

4. Ada prinsip kerjasama
Perusahaan asuransi merupakan pengelola dana antar nasabah. Kerjasama ini dilakukan sesuai dengan akad yang telah disepakati sejak awal oleh kedua belah pihak. Dengan begitu keduanya melaksanakan hak dan kewajiban dengan seimbang.

5. Berlandaskan prinsip amanah
Antara perusahaan asuransi dan nasabah harus benar-benar jujur. Perusahaan jujur dengan pengelolaan dana, nasabah jujur jika mengajukan klaim. Perusahaan asuransi tak diperbolehkan semena-mena dalam mencari keuntungan dan mengambil keputusan.

6. Memiliki prinsip saling ridha
Keridhaan menjadi prinsip utama dalam setiap transaksi. Nasabah ridha dananya dikelola oleh perusahaan asuransi. Sementara perusahaan asuransi pun ridha dengan amanah yang diterima dari nasabah. Perusahaan pun harus mengelola dana nasabah dengan ketentuan yang berlaku.

7. Prinsip menghindari riba
Dalam asuransi syariah dana dari nasabah yang dibayarkan wajib diinvestasikan dalam berbagai bisnis tertentu yang sesuai dengan prinsip syariah. 

8. Menghindari maysir
Secara harafiah kata maysir adalah memperoleh sesuatu tanpa kerja keras dan mendapatkan keuntungan tanpa bekerja. Hal ini merujuk pada perjudian atau gambling. Asuransi syariah menerapkan system risk sharing dalam pelayanannya.

9. Menghindari gharar
Secara harfiah gharar berarti ketidakjelasan. Dalam asuransi syariah menggunakan konsep risk sharing bukan risk transfer. Antara perusahaan dan nasabah bersama-sama menanggung resiko ketika terjadinya musibah. 

10. Menjauhi praktik suap menyuap
Suap menyuap adalah kegiatan yang menguntungkan salah satu pihak, sementara pihak yang lain dirugikan. Hal itu dilarang dalam asuransi syariah karena bertentangan dengan konsep syari itu sendiri. 


Perbedaan Asuransi Konvensional dan Asuransi Syariah

Beberapa tahun belakangan produk syariah diminati oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan ada jaminan sertifikasi halal dan sesuai dengan syariat Islam. Termasuk di sektor keuangan.

Asuransi syariah merupakan asuransi dengan prinsip sesuai dengan syariat Islam yaitu tolong menolong. Seluruh peserta asuransi berkontribusi ke dana tabarru’. Jika terjadi resiko pada salah satu nasabah maka dana tersebut berfungsi sebagai perlindungan. Konsep ini disebut dengan risk sharing.

Ada hal-hal yang membedakan asuransi konvensional dan syariah. Bisa dilihat di infografis berikut.



Setelah melihat infografis di atas, saya pribadi sih sudah mempunyai pilihan produk untuk melindungi keluarga. Perlindungan yang sudah pasti akan membawa berkah keluarga


Asuransi Salam Anugerah Keluarga

Setiap keluarga selalu memiliki prioritas dalam perlindungan keluarga. Begitu banyak pilihan produk perlindungan ini sehingga terkadang konsumen malah bingung menentukan pilihan karena banyaknya produk yang sudah beredar di pasaran. Jika anda termasuk di dalamnya, sepertinya anda perlu membaca tulisan mengenai sebuah produk asuransi syariah ini.

Asuransi Salam Anugerah Keluarga merupakan produk terbaru dari PT. Sun Life Financial Indonesia, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang asuransi sejak tahun 1995. Tahun ini Asuransi Sun Life Indonesia meluncurkan produk terbaru berbasis syariah. Nggak ragu lagi kan dengan profesionalitas dari Sun Life Indonesia? Nah, produk ini bernama Asuransi Salam Anugerah Keluarga.

Asuransi syariah ini hadir sebagai proteksi bagi keluarga secara menyeluruh. Jika produk konvensional hanya memperbolehkan satu orang pemegang polis, maka Asuransi Salam Anugerah Keluarga ini memberikan wacana lain dari manfaat perlindungan perencanaan keluarga secara total. 

Asuransi Salam Anugerah Keluarga memberikan jawaban atas kebutuhan keluarga milenial. Produk ini hadir tak hanya sekadar sebagai asuransi jiwa maupun asuransi kesehatan saja. Namun juga bisa sebagai investasi keluarga. 


Mengapa memilih Asuransi Salam Anugerah Keluarga?

Cr : sunlife.id


1. Bergabung dengan Asuransi Salam Anugerah Keluarga berarti kita menghemat pengeluaran juga. 
Tak perlu banyak polis untuk melindungi keluarga. Kita hanya perlu satu polis untuk suami, istri dan dua anak. Bahkan asuransi ini dilengkapi dengan asuransi tambahan kesehatan hingga maksimal enam peserta. Mantep dong ya, udah nggak mikir seandainya ada salah satu anggota keluarga yang sakit dan butuh rawat inap?
Sering kali produk asuransi memiliki premi yang tinggi hingga sulit terjangkau oleh calon konsumen. Namun Asuransi Salam Anugerah Keluarga memiliki alternatif pilihan kontribusi yang pasti terjangkau. Ada tiga jenis kontribusi yang bisa dipilih.
a. Kontribusi Asuransi Berkala yang dibayarkan sesuai pilihan dengan frekuensi kontribusi yang dipilih. Cukup dengan Rp.9.000.000,00 per tahun nasabah sudah bisa menikmati proteksi untuk seluruh keluarga.
b. Kontribusi Top Up Berkala yang dibayarkan bersamaan dengan Kontribusi Asuransi Berkala. Fungsi Kontribusi Top Up Berkala adalah untuk investasi. Dengan Kontribusi Top Up Berkala nasabah bisa diringankan pembayarannya.
c. Kontribusi Top Up Tunggal dapat dibayarkan sewaktu-waktu sesuai keinginan peserta. Jika ingin top up, maka batas minimal pembayarannya adalah Rp. 1.500.000,00.
d. Kontribusi yang dibayarkan sudah termasuk komisi dan biaya pemasaran lain

2. Bersama Asuransi Salam Anugerah Keluarga nasabah memiliki kesempatan untuk bersedekah jariyah dan wakaf.
Apalagi yang diharapkan dari hal itu kalau bukan pahala yang terus mengalir bahkan sampai ketika raga sudah menyatu dengan tanah. 

3. Asuransi Salam Anugerah Keluarga juga melengkapi berbagai asuransi tambahan lain untuk memaksimakan perlindungan. 
Berapa banyak asuransi tambahan yang ditawarkan oleh Asuransi Salam Anugerah Keluarga?
a. Asuransi kecelakaan
b. Kematian akibat cacat atau kecelakaan
c. Penyakit Kritis
d. Santunan rawat inap dan pembedahan
e. Pembebasan Kontribusi akibat pemegang polis sakit kritis
f. Pembebasan Kontribusi akibat pemegang polis meninggal dunia
g. Pembebasan Kontribusi akibat pemegang polis cacat total tetap

4. Ada perlindungan paket asuransi kesehatan tambahan Sun Medical Platinum Syariah untuk keluarga dengan manfaat lengkap dan perlindungan sampai seluruh dunia.
Apa sih yang bisa didapatkan jika mengikuti paket asuransi kesehatan tambahan Sun Medical Platinum Syariah?
- Selain perlindungan menyeluruh dalam satu polis, nasabah akan mendapatkan fasilitas jaminan asuransi yang berlaku di wilayah yang diasuransikan. Nasabah juga mendapatkan fasiltas kamar perawatan dengan satu tempat tidur dan kamar mandi dalam hingga 365 hari per tahun. Ada juga akomodasi pendamping pasien semua umur dab berlaku untuk perawatan di dalam dan luar Indonesia.
- Jika nasabah memiliki penyakit kanker atau gagal ginjal akan mendapatkan fasilitas perawatan seperti radioterapi, kemoterapi, imunoterapi, pengobatan hormonal, rawat jalan cuci darah, ICU, serta operasi rekonstruksi akibat kanker sesuai tagihan.
- Jika ada pembedahan kecil nasabah pun mendapatkan penggantian perawatan sebelum dan sesudah pembedahan pulang hari.
- Pemegang Sun Medical Platinum Syariah juga mendapatkan perawatan di luar wilayah pertanggungan sehingga mendapatkan perlindungan dimanapun nasabah berada. Kemudian ada limit booster yang menambah batas taunan keseluruhan hingga 6x sampai dengan 40 miliar dan berlaku seumur hidup selama polis aktif.
- Nasabah pun berhak mendapatkan layanan second medical opinion. Jadi jika perlu pendapat dari tenaga medis yang berkaitan dengan perawatan ternyata difasilitasi juga oleh Asuransi Salam Anugerah Keluarga.
- Adanya fasilitas pemeriksaan kesehatan untuk penyakit kritis seperti dtroke, kanker, serta Coronary By Pass Surgery. 
5. Potensi mendapatkan surplus underwriting setiap tahun. 

Menjalankan keislaman dengan kaffah memang butuh effort yang lebih. Namun yang kita ikhtiarkan ini tak sebanding dengan ketenangan jiwa karena telah mengikuti apa yang Allah perintahkan kepada manusia. Kira-kira setelah mengetahui tentang hal ini, masihkah kita akan ingkar atas apa yang akan Allah sukai pada diri manusia?





Rabu, 22 Juli 2020

6 kecerdasan yang perlu dimiliki oleh orang tua di masa pandemi


Assalamualaikum temans
Tahun ajaran baru 2020/2021 baru saja dimulai. Kebijakan pemerintah memulai ajaran baru masih dengan pembelajaran jarak jauh. Setelah melewati semester kemarin dengan jungkir balik mengawali pembelajaran daring. Semester ini penyelenggara pendidikan sepertinya sudah lebih siap menghadapinya. 

Di SD tempat saya biasa mengasuh anak-anak kelas menulis sudah lebih siap. Pihak sekolah memiliki tim untuk membuat video pembelajaran dan dikirim via grup WA walimurid. Video pembelajaran pun tak terlalu lama waktunya supaya anak tak cepat bosan. Selain video pembelajaran, ada penugasan yang dikirim bersamaan dengan video. Penugasan pun tak begitu banyak sehingga lebih meringankan tugas wali murid dalam mendampingi anak belajar. 

Sejujurnya saya tak banyak mengalami hiruk pikuk pembelajaran jarak jauh. Hanya semester kemarin waktu awal adaptasi pembelajaran daring saja saya sempat ikut gedubrakan menyiapkan apapun kebutuhan anak-anak. Sekarang anak-anak sudah SMP dan SMA klas terakhir. Sudah auto pilot semua, apalagi pihak sekolah juga jauh lebih siap. 

Di SMP anak saya menggunakan live facebook untuk hafalan Al Quran di pagi hari dari jam 06.30 - 07.00. Setelah itu anak dipersilakan untuk shalat Dhuha dan mulai membelajaran jam 07.30. Selain menggunakan facebook dan youtube, pembelajaran menggunakan zoom dan microsoft 365 sebagai pengganti tatap muka. 

Biasanya ada penugasan setelah itu. Dalam satu hari ada 3 mata pelajaran. Namun untuk beberapa penugasan, apalagi yang terkait dengan pelajaran keislaman, kemuhammadiyahan dan Bahasa Arab memang agak kesulitan karena menggunakan huruf hijaiyah. Laptop saya laptop tua, belum support dengan font hijaiyah hehehe ... 

Sementara untuk SMA anak saya menggunakan google classroom, zoom, kulwap via WAG dan quizizz untuk ulangan. Biasanya yang menggunakan kulwap adalah guru-guru sepuh yang kurang akrab dengan teknologi informasi. Untuk tanya jawab bisa menggunakan voice note. Dan sejauh ini yang dikeluhkan anak-anak ya sinyal yang kadang nggak stabil. 

Melihat teman-teman menjadi guru kreatif di dunia maya bagi putra putri mereka, saya bisa membayangkan bahwa orang tua, khususnya ibu harus benar benar siap menghadapi pembelajaran jarak jauh. Tak hanya menghadapi pembelajaran jarak jauh saja, namun segala aspek kehidupan di masa pandemi ini. Ada beberapa kecerdasan yang perlu dimiliki oleh orang tua dalam menghadapi pandemi ini. Bagaimanapun juga, orang tua adalah modelling untuk anak. Maka apapun yang dilakukan oleh orang tua akan cepat diserap oleh anak. Apa yang dikatakan oleh orang tua, sikap orang tua, bagaimana orang tua mengatasi masalah merupakan pembelajaran bagi anak saat di rumah. 

Ada 6 kecerdasan pokok yang harus dimiliki oleh orang tua dalam proses pembelajaran anak.

1. Kecerdasan teknologikal. Menjadi orang tua saat ini harus melek teknologi karena sudah merupakan kebutuhan yang tak bisa ditawar lagi. Segala lini kehidupan di masa pandemi ini pasti menggunakan teknologi informasi, khususnya pembelajaran. Bagaimana jadinya jika orang tua tak memiliki kecerdasan teknologikal, sementara anak masih butuh bantuan dan pendampingan saat menggunakan gawai?

2. Kecerdasan kontekstual. Orang tua harus mampu mengedukasi, bisa memahamkan, serta memanfaatkan secara efektif semua kemungkinan yang akan terjadi pada situasi dan kondisi dimanapun anak berada. Misalnya bagaimana anak-anak jika harus kembali bersekolah di masa transisi. Anak dipahamkan untuk mematuhi protokol kesehatan, memperhatikan kembali bagaimana guru menjelaskan materi dan semua yang berkaitan dengan new normal serta apa yg akan dihadapi ke depan.

3. Kecerdasan sosial dan emosional. Kecerdasan ini merupakan kemampuan dalam mengelola hubungan dengan orang lain dan mengelola emosi pribadi. Perlunya anak diberikan pemahaman di saat-saat mendatang jika kembali bersekolah anak diajarkan bagaimana jika berinteraksi dengan teman, guru dan lingkungan. 

4. Kecerdasan generatif. Kecerdasan ini merupakan kemampuan dalam membaca dan menangkap kesempatan atau peluang. Di masa pandemi ini tentunya anak-anak sudah jenuh dengan situasi yang tak menentu. Sering kali anak-anak pengen berkreasi, membuat sesuatu ataupun melakukan hal-hal yang merupakan passion mereka. Orang tua harus memfasilitasi apa yang ingin dilakukan oleh anak, dan tak berhenti seandainya sekolah dengan tatap muka dilakukan. Pembiasaan baik tetap harus berjalan. Ajak anak untuk selalu meningkatkan kemampuan yang dimiliki sehingga anak semakin mahir melakukan apa yang mereka sukai. 

5. Kecerdasan eksploratif transformational. Kecerdasan ini merupakan kemampuan mengeksplorasi kesempatan dan berani melakukan perubahan perubahan. Orang tua perlu mengajari anak untuk menerima perubahan yang terjadi secara cepat di masa pandemi ini. Tak hanya pembelajaran, namun juga interaksi yang dilakukan baik saat daring maupun nanti jika kembali luring. Hal ini menjadikan orang tua perlu memberikan contoh bagaimana menjadi pribadi yang mudah beradaptasi. 

6. Kecerdasan Moral. Kecerdasan ini adalah kemampuan untuk bekerja menggunakan nilai-nilai universal dalam kehidupan. Tolak ukur dari kecerdasan ini adalah ketika orang tua mampu melatih anak memiliki sosial dan emosional yang baik maka kecerdasan moral pun akan terbentuk dengan baik pula. Apa yang dipikirkan ataupun dirasakan anak akan muncul dalam perilaku-perilaku yang sesuai. Jika orang tua mampu beradaptasi dengan baik untuk dirinya sendiri, menyesuaikan diri dengan positif, meregulasi emosi dan membiasakan pola dengan baik, maka dengan mudah akan mengedukasi anak. Anak itu biasanya mengcopas kebiasaan orang tuanya. 

Pembelajaran di masa pandemi ini tidak hanya berkutat dengan pembelajaran akademik. Namun orang lain akan memberikan respek yang lebih saat anak pun memiliki kemampuan non akademik yang tergali dan tereksplorasi dengan bagus. Saat orang tua tak membatasi pembelajaran anak hanya pada buku semata, maka anak akan mendapatkan hal-hal baru dan menyenangkan yang akan memberikan mereka bekal di suatu hari nanti.

Selasa, 14 Juli 2020

Taaruf dan Menikah Muda dalam Pandangan Seorang Remaja


Masih anget nih, viralnya Dinda Hauw dan Rey Mbayang yang menikah melalui proses taaruf dan di usia yang relatif masih muda. Dinda Hauw tahun ini 23 tahun, sementara si suami 21 tahun. Banyak netizen yang berusia sepantar mereka pun kebaperan dan berharap bisa melakukan hal yang sama. Tambah rame lagi saat diketahui netizen jika Dinda Hauw tidak bisa masak mie instan.



Saya sebagai orang tua yang memiliki anak perempuan dan laki-laki tentunya memiliki pandangan dan harapan. Namun pandangan dan harapan itu tetap saja tak bisa saya paksakan pada anak-anak. Mereka tetaplah pribadi yang memiliki pola pikir dan keinginan yang berbeda dari orang tuanya. Meski kewajiban orang tua mengarahkan anak sampai mereka siap memiliki kapal sendiri. 

Beberapa kali saya membaca di timeline media sosial mengenai pro dan kontra netizen mengenai hal ini. Sampai pada akhirnya ada pertengkaran khas netizen tentang taaruf, menikah muda, serta harus tidaknya perempuan bisa turun ke dapur. 

Berbagai sudut pandang pun dikemukakan oleh netizen. Mulai dari taaruf itu adalah hal yang diwajibkan oleh agama Islam untuk mengenal siapa yang hendak kita nikahi, lalu pandangan bahwa menikah muda itu hanya emosi semata, nggak punya logika, hingga kesiapan lelaki dan perempuan saat hendak melangkah ke jenjang pernikahan. 

Bagi saya yang tahun ini menjalani 19 tahun membagi hidup dengan suami, sangat paham bahwa pernikahan itu tidak hanya melulu soal perasaan. Ada komitmen yang harus dijaga. Berparuh waktu dengan berbagai kewajiban dan hak yang melekat. Ada kebutuhan yang harus terpenuhi, baik bagi pasangan maupun anak-anak. Ada pengorbanan besar yang harus dilakukan dari masing-masing pihak.

Meski begitu, rasa pun harus tetap terpelihara. Seperti tumbuhan, jika bibit disemai tetaplah harus mendapatkan air dan pupuk hingga bisa tumbuh subur. Cinta memang bukan yang utama, namun bagaimana mampu bertahan kalau sudah punya cinta? Masih mampukah menjaga komitmen? Masih mampukah untuk berkorban?

Saya sempat ngobrol dengan Kakak tentang hal ini. Ini adalah pandangan si Kakak, pelajar klas 12, dengan usia belum genap 17 tahun.

"Kak, menurutmu gimana viralnya Dinda Hauw sama suaminya?

"Yang mana?"

"Yaaaa ... Ramenya itu."

"Yang taaruf, nikah muda, nggak bisa masak, atau viralnya?"

Eh ... Si Kakak memetakan masalah itu sendiri-sendiri ternyata. 

"Ya semuanyalah."

"Ini menurutku. Sebenarnya taaruf dan nikah muda itu bisa dilakukan oleh siapapun. Mau seleb atau bukan. Kan banyak juga di sekitar kita yang ngelakuin itu. Masalahnya Dinda itu seleb. Dilihat banyak orang. Orang-orang kebaperan. Diuwuin. Direpost. Abis itu yang kontra ngejulidin. Kalau pendapatku, netijen itu ya nggak usah berlebihan. Seneng ya boleh, doain ya boleh. Tapi ya nggak usah terus kepenginan. Jalan hidup orang kan beda-beda. Nggak usah kepengenan sama hidup orang lain. Yakin aja kalau Allah itu sudah nentuin takdirnya ya harus begitu."


"Terus kalau masalah taaruf gimana Kak? Kan katanya kenal sebentar, jadi nggak bisa memahami satu sama lain?"

Kalau menurutku, kenal atau tidak itu tergantung sama kejujuran masing-masing. Mau pacaran setahun dua tahun sampai lima tahun, kalau nggak jujur ya sama aja pacarnya nggak kenal beneran. Baik di depan doang. Aku ngeliat temen-temenku yang punya pacar tuh kayak punya effort lebih supaya dilihat baik, dianggap perhatian, dianggap sempurna. Padahal kan nggak ada orang yang sempurna kan? Kalau taaruf, mestinya ya yang sesuai dengan ketentuan agama. Bukan pacaran dibalut dengan agama. Alasannya diskusi agama, chatting sampai pagi. Alasannya saling mengingatkan, tapi jadi baper. Jadi merasa kangen, kudu ngobrol melulu. Ya bubar taarufnya. Kenal sebentar, tapi jujur, jadi diri sendiri. Itu kan malah lebih baik.


"Terus itu ada yang bilang Laudya Cintya Bella bercerai karena belum kenal satu sama lain."

Nggak jaminan juga ah. Dulu Bunda pernah cerita, ada temen Bunda pacaran 12 tahun nggak jadi nikah. Temen Bunda ada juga tuh yang pacaran 7 tahun nikahnya 2 tahun terus cerai. Tante Ica, kenal 3 minggu terus nikah, ya bahagia aja tuh. Kita kan nggak pernah tahu kehidupan orang lain. Ngelihat juga di sosmed doang. Tiba-tiba udah ngejudge aja. 


"Kalau nikah muda, kamu ngedukung nggak?" 

Kalau orang sudah punya niat baik, niatnya ibadah ya didukung to Nda? Kan memilih yang halal dibanding yang haram. Agama sudah mengatur. Kalau sudah mampu mau ngapain kalau memang sudah ada yang sreg. Daripada pacaran. Nggak mungkin to pacaran cuma liat-liatan doang? Pasti dipegang. Tuh ... Temenku yang pacaran pegangan tangan, ada yang pelukan, kissing ... Hiiy ... Kalau kebablasan gimana?"

"Terus kalau masalah umur, Lha ukuran muda setiap orang kan beda-beda to, Nda? Contohnya, orang meninggal di umur 30 banyak yang bilang masih muda kok sudah meninggal. Giliran umur 30 belum nikah dibilang sudah tua. Anggapan muda kan nggak sama setiap orang. Coba menurut Bunda, umur yang cukup untuk menikah tuh umur berapa?"

"25 mungkin"

"Menurut Bunda itu udah nggak muda?"

"Bukan nggak muda, sudah cukup umur lah."

"Bisa jadi Nda, untuk zaman milenial ini umur segitu tuh masih banyak yang pengen dikejar. Entah sekolah lagi, entah kerja yang giat. Banyak yang belum pengen menikah karena merasa masih muda."


"Tapi katanya kalau nikah muda itu cuma mikir perasaan doang, belum dewasa maunya ena ena aja?"

"Ah... Kata siapa? Dewasa tuh nggak lihat umur ah. Banyak juga orang yang umurnya udah banyak nggak dewasa kalau ngomong. Banyak juga tuh orang dewasa yang tingkahnya persis anak-anak. Dewasa kan nggak mandang umur to Nda? Jadi menurutku umur tuh nggak bisa dijadiin ukuran seseorang itu dewasa atau enggak."


"Terus masalah nggak bisa masak gimana?"

"Bunda dulu pas nikah udah bisa masak belum?"

"Ya nggak seperti sekarang. Bisanya ya yang standarlah, masak sop, oseng-oseng. Tapi seringnya masih labil rasanya."

"Tapi kok mau nikah kenapa? Kan belum pinter masak?"

"Karena merasa sudah waktunya. Kalau pacaran kelamaan takut kebablasan."

"Berarti nikah itu nggak kudu siap semuanya kan?"

"Iyalah ... Nikah kan berproses. Belajar terus."

"Kan ... Bunda juga bilang nikah itu belajar terus? Berarti nggak papa to, nikah belum bisa masak? Kan bisa belajar. Tapi kalau aku sih pengennya kalau nikah nanti aku bisa masak, paling nggak tujuh macem lah. Biar tiap hari menu masakannya nggak itu itu terus. Kalau belum bisa juga, masih ada go food ini.


"Kalau Kakak pengen nikah muda nggak?"

Dia berpikir sebentar. Kemudian katanya,

"Nggak tahu kalau nanti Allah murah hati memberiku jodoh di umurku yang masih sedikit. Tapi kalau sekarang aku merasa banyak banget yang pengen aku raih. Masih banyak yang pengen aku kejar. Aku punya tujuan yang pengen banget aku wujudkan. Tapi aku nggak pengen juga nikah di umur yang sudah banyak."


"Kira-kira kamu mau nikah umur berapa?"

"25 ... Eh ... 27 mungkin. Eh ... Nggak tahulah. Pokoknya aku nggak maulah nikah pas masih kuliah. Pokoknya udah bikin keluargaku bahagia aja."


Si Kakak memang punya pandangan positif tentang taaruf dan menikah muda. Ia tak melihat kasus Salmafina Sunan dan Taqy Malik sebagai referensi bahwa taaruf dan menikah muda itu buruk. Banyak di lingkaran keluarga dan pertemanan saya yang memberikan contoh baik berkaitan dengan dua hal itu.

Adik saya memutuskan akan menikah hanya setelah 3 minggu perkenalan. Meski ada jeda waktu 3 bulan karena permintaan Ibuk untuk mempersiapkan. Beberapa sepupu saya menikah di usia 21 atau 22 tahun, alhamdulillah mereka tetap harmonis sampai sekarang. Belum lagi saat melihat mbak Ita, salah satu sahabat saya, istri Mas Sakti, ex gitaris Sheila on 7 yang memutuskan menikah hanya sekali bertemu. Saat menikah pun ia masih berusia 21 tahun. Sekarang jangan ditanya harmonisnya rumah tangga beliau berdua. 

Ia punya referensi tentang perceraian itu karena adanya masalah yang berat dalam keluarga. Nggak memandang umur. Karena penyikapan terhadap masalah tergantung pada pribadi masing-masing. 

Kalau menurut teman-teman gimana? 

Senin, 13 Juli 2020

Mahalini dan Nuca, duet milenial yang sukses bikin baper penikmat musik Indonesia

Assalamualaikum temans

Jumat malem, 10 Juli 2020 kayaknya jadi hari bahagianya Sobat Nuca dan Mylinz serta para shipper Nuca dan Mahalini, finalis Indonesian Idol sesi 10. Gimana enggak, setelah beberapa lagu dicover oleh mereka dan menuai pujian kali ini mereka membuat cover sebuah lagu sampai dijadiin video clip pula. Banyak banget yang gercep nontonin tayangan perdana dari MV mereka. Terbukti sampai saya menulis artikel ini lagu yang sempat di-remake oleh RAN sudah nangkring di 20 trending youtube dengan 873.000 viewer dalam tiga hari. Wow kan?

Saya kok ya pas kebetulan buka youtube, dan tayangan perdana ini muncul di beranda paling atas. Saya pun tidak melewatkan tayangan ini, secara sebelumnya saya juga menikmati duet ini di beberapa channel dan instagram mereka sendiri.

Pastinya saya memiliki ekspektasi saat menonton tayangan ini. Dan ini adalah pendapat saya tentang music video Kulakukan Semua Untukmu yang dibawakan oleh Nuca dan Mahalini


Review cover lagu Kulakukan Semua Untukmu

Waktu nonton konten di channel Mahalini saat mereka jaming, saya bisa nebak kalau mereka bakal cover lagu ini dari intro gitar yang dimainkan oleh Nuca. Secara lagu ini dulunya happening banget di kala saya masih kuliah. Fathur dan Nadila membawakan lagu ini dengan keuwuan di masanya awal tahun 2000. Dengan klip ceria dan warna warni di masa itu pun Fathur dan Nadila dishipperin. Penasaran juga nungguin cover lagu ini. Dan pas muncul di timeline, auto klik aja.

Menurut saya musiknya yang full band hampir sama dengan musik lagu ini di tahun 2000, hanya saja di cover Nuca dan Mahalini lebih modern dan catchy. Cover ini sepertinya ingin menghadirkan keceriaan dalam romantisme. Cinta yang menyenangkan. Cinta tanpa beban.

Lagu yang easy listening memang akan mudah banget diterima telinga. Apalagi suara Nuca memang khas bikin lagu enak didengerin. Begitu juga dengan suara Mahalini yang merdu dan biasanya memiliki teknik yang tinggi terdengar lebih ringan. Nggak banyak kejutan yang dihadirkan di duet ini, meski ada beberapa bagian di chorus harmonisasi ala Mahalini dan Nuca terdengar, hanya saja kurang kedengeran di telinga.

Sebenernya sih saya pengen banget dengerin duet mereka seperti biasanya yang penuh harmonisasi. Duet mereka tuh rasanya udah ngeblend banget dari awal. Coba deh dengerin waktu mereka di akhir Idol. Ada bagian di mana mereka duet satu bagian nyanyiin Amin Paling Serius di RCTI+ dan Lebih dari Egoku di sela grand final Indonesian Idol 10. Harmoninya sudah gas pol itu. Pas, nggak ada yang lebih dominan. Pembagian suaranya juga ciamik.

Kalau tentang klip nya, ya jangan ditanya. Yakin banget Sobat Nuca dan Mylinz udah jejeritan melihat keuwuan mereka. Lha saya yang umurnya nggak jauh dari orang tua mereka aja suka melihat klipnya. Menyenangkan melihat mereka berdua berakting layaknya pasangan. Mau sekadar akting atau memang jadi pasangan beneran, untuk pendatang baru di dunia entertainment menurut saya sudah terasa nuansa yang memerahjambukan hati. Mahalini kelihatan natural banget, sementara Nuca masih kelihatan 'dibimbing' oleh Mahalini.

Kenapa saya bilang dibimbing? Kayaknya semua orang tahu deh, Nuca sama sekali belum pernah pacaran. Belum punya pengalaman how to thread a girl friend. Sementara Mahalini sudah punya pengalaman bagaimana memperlakukan seorang lover, jadi kelihatan lebih ekspresif. Coba deh perhatiin ekspresi Mahalini kalau menatap Nuca. Persis orang jatuh cinta beneran.

Meski begitu, saya appreciate banget ke Nuca. Banyak banget perubahan dari Nuca di Idol sampai sekarang. Ia kelihatan lebih cair, lebih memiliki ekspresi. Saya yakin, untuk memperlihatkan perubahan besar, Nuca punya effort yang kuat. Kebayang kan, waktu di Idol dia kelihatan canggung di lingkaran cewek-cewek finalis Idol dan ekspresinya yang flat aja. Atau lihat deh di channel nya, pas dihukum menelpon Mahalini waktu bikin konten sama mamanya.

Nuca yang introvert, canggung, dan kalem sekarang kelihatan lebih ceria di klip Kulakukan Semua Untukmu. Lebih berekspresi. Menggelitiki Mahalini, memeluk, tersenyum, menatap. Meski belum seekspresif Mahalini, namun saya salut. Bagaimanapun juga, ia berada di dunia entertainment. Ia harus lebih luwes. Perjalanan karirnya masih panjang jika ingin berada di dunia yang ingar bingar ini. Harus ada banyak hal yang perlu dikompromikan. Ia harus banyak belajar. Dan saya yakin ia pasti mampu.


Harapan untuk Nuca dan Mahalini

Cr : @mahaliniraharja

Sejak melihat beberapa duet jarak jauh mereka berdua di IG, saya yakin mereka akan jadi duet fenomenal di zaman milenial ini jika serius melakukan project bareng. Kecerdasan bermusik mereka tak perlu diragukan lagi. Cara mereka melakukan harmoni lagu itu jempol banyak. Sayang banget kalau nggak diseriusin, begitu pikir saya beberapa bulan yang lalu.

Ternyata harapan saya pun Insya Allah terlaksana. Di mulai duet saat konser kebersamaan, lalu jaming di channel youtube mereka berdua, sampai keluar music video ini. Seandainya untuk konten channel youtube mereka diisi dengan cover lagu pun saya rasa viewernya bisa ratusan ribu, bahkan bisa jutaan melihat besarnya animo pada pasangan duet ini. Hanya saja, saya lebih suka jika mereka melakukan harmonisasi yang penuh di lagu-lagu yang mereka bawakan. Mahalini dan Nuca sama-sama memiliki teknik menyanyi yang tinggi, dan suara yang mampu membaperkan siapa saja yang mendengar. Sayang kalau nggak ditampilkan secara maksimal. 

Pilihan lagu-lagu romantis tentunya jadi pilihan teratas. Namun pengen juga sesekali mereka cover lagu-lagu lama macam I Wanna Take Forever Tonight nya Peter Cetera dan Crystal Benard, atau Endless Love nya Lionel Richie dan Diana Ross. Atau boleh lah lagu-lagu Indonesia yang lebih akrab di telinga macam Aku dan Dirimu nya Ari Lasso dan Bunga Citra Lestari.

Selamat menikmati perjalanan di industri hiburan tanah air ya Mahalini dan Nuca? Terima kasih telah membuat mamak mamak ini baper tiada akhir. Yang belum melihat keuwuan mereka, boleh deh klik channel youtube Nuca di bawah ini.













Jumat, 10 Juli 2020

Jemunak dan Blendrang, kuliner khas Desa Gunungpring

Assalamualaikum temans

Setiap daerah punya makanan khas masing-masing. Di Muntilan semua orang sudah tahu bahwa tape ketan itu ya trademark nya Muntilan. Padahal selain tape ketan, Muntilan pun terkenal dengan kuliner lain yaitu buntil.



Di Muntilan, Buntil merupakan jenis kuliner yang biasa dikonsumsi sebagai lauk. Makanan ini terbuat dari kelapa yang masih muda. Dagingnya nggak selunak yang biasa digunakan untuk melepas dahaga. Dagingnya lebih keras, namun jika diperas belum begitu bersantan. Kelapa ini biasa dipakai untuk bumbu kluban, trancam, atau nasi megono. 

Kelapa itu dibumbuin kemudian dibungkus dengan daun talas, kemudian diikat supaya tak lepas ketika direbus dengan santan berbumbu sampai air habis. 

Sekarang kuliner itu nggak melulu menggunakan daun talas untuk pelapis luar, namun sudah banyak juga yang memasak buntil menggunakan daun ketela maupun pepaya. Di desa saya, Desa Gunungpring pun ada dua makanan tradisional yang nggak saya temuin di tempat lain. Namanya Blendrang dan Jemunak.

Jemunak

Cr : detik.com

Jemunak ini hanya ada ketika bulan Ramadhan. Kuliner manis yang dibuat dari campuran ketela pohon, beras ketan, dan kelapa parut yang ditumbuk hingga halus. Biasanya disajikan dengan juruh, kuah dari gula jawa dan dibungkus menggunakan daun pisang.

Jemunak yang paling terkenal adalah bikinan Mbah Mul. Meski ada orang lain yang mencoba membuat jemunak, namun tak bisa menyaingi gurihnya buatan Mbah Mul. Sama-sama menggunakan telo kaporo (jenis ketela yang katanya enak banget. Saya sendiri nggak bisa bedain mana telo kaporo mana yang bukan) dan beras ketan kutuk, namun nggak ada yang bisa menyaingi halusnya tumbukan mbah Mul. 

Telo Kaporo, beras ketan Kutuk, dan kelapa parut ini ditumbuk dalam lumpang yang besar. Alu yang digunakan mbah Mul menggunakan alu yang terbuat dari kayu yang lumayan berat. Umurnya pun sudah berpuluh-puluh tahun. Waktu saya kecil saya senang melihat Mbah Mul kakung dan putri bergantian menumbuk. Bunyi "jleb ... jleb" yang ditimbulkan saat alu mengenai bahan makanan itu buat saya kok menyenangkan. Nggak sebentar lho menumbuk tig bahan itu supaya benar-benar halus. Seingat saya mereka menumbuk sekitar 4 jam supaya jemunak ini halus dan kenyal. 

Sayangnya sekarang mbah Mul putri sudah sepuh. Untuk berjalan saja sudah susah. Maklum yuswonya sudah hampir 90 tahun. Namun mbah Mul putri masih sehat, masih bisa berbicara dengan jelas. Mbah Mul kakung sudah sedo beberapa tahun lalu, setelah sebelumnya sudah pikun. Sekarang ada Mbak Yih dan Mbak Wah yang meneruskan usaha Mbah Mul. 

Mbak Wah sedang membungkus jemunak (cr: Suara Merdeka)


Blendrang


Buat saya Blendrang terepic adalah buatan Lik Nganah. Jajanan saat saya kecil ini dimakan menggunakan lempeng telo, semacam kerupuk yang terbuat dari ketela pohon. Kalau menggunakan lempeng, maka Blendrangnya tanpa balung. Namun jika Blendrang dengan balung, maka saya akan mendapatkan pincukan Blendrang beserta tulang kambing yang bisa saya sedot sumsum tulangnya. Nikmat banget

Blendrang ini sempat menghilang dari peredaran makanan tradisional ketika Lik Nganah berpulang. Selain itu makanan tradisional di desa saya mulai tergerus oleh zaman yang menyukai makanan modern seperti roti dan lainnya. Namun sekitar 10 tahun yang lalu mulai ada yang jualan blendrang di sebuah kampung, arah selatan dari kampung saya. 

Pernah nyobain. Tapi saya masih terbayang Blendrangnya Lik Nganah yang gurih dan creamy. Nggak bergerindil sama sekali. 

Blendrang ini terbuat dari tulang kambing atau ayam yang masih ada sedikit daging yang menempel, dengan bumbu bawang merah, bawang putih, cabai rawit, jahe dan kencur. Tulang direbus sampai daging yang menempel lunak beserta bumbu halus yang sudah ditumis. Setelah mendidih ditambahkan tepung terigu yang dilarutkan dan dimasukkan ke dalam rebusan tulang. Lalu masukkan santan kental sedikit saja.Rebusan ini diaduk terus sampai tak ada yang bergerindil. Setelah itu dihidangkan hangat-hangat

Blendrang makin nikmat disajikan dengan kerupuk. Jika kepedasannya kurang, maka bisa ditambahkan sambal yang terbuat dari cabe rawit merah. Sekarang ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi untuk menikmati Blendrang, di antaranya Blendrang Stand di Jl. KH. Dalhar, Karaharjan Gunungpring atau di Dusun Bentaro.

Saya bersyukur, ketika banyak anak muda yang mulai belajar membuat kuliner khas Indonesia. Bagaimanapun juga kuliner salah satu aset bagi bangsa. Saya punya harapan, kuliner Indonesia tak hanya rendang yang bisa mendunia. 

Selasa, 23 Juni 2020

Girls Activities : Traveling Berdua dengan Si Kakak


Assalamualaikum temans, saya yakin banyak di antara kalian sering melakukan traveling bersama keluarga. Sayang banget keseruan hanya dinikmati sendiri kan? 

Pernah nggak punya pengalaman traveling bersama anak-anak tanpa keluarga lengkap? Kayaknya kurang asyik ya, traveling nggak barengan semua anggota keluarga? Rasanya beda banget, kepikiran aja pada anggota keluarga yang nggak ikutan menikmati tempat wisata yang menyenangkan.

Saya pernah nih, traveling berdua dengan si Kakak. Traveling tipis-tipis aja. Sebenarnya juga nggak direncanakan jauh-jauh hari. Serba mendadak. Mengganti kebahagiaan si Kakak yang saya rampas #tsaahh …

Jadi awalnya setelah kenaikan kelas tahun lalu, si Kakak mau jalan sama geng SMP nya ke sebuah pantai di Purworejo. Saya nanya dong, ada yang ngedampingin nggak? Ternyata enggak. Jadi rencananya mereka bertujuh ini mau naik taksi online ke pantai. Lalu mau nginep di tempat salah satu Bude dari temannya. Padahal saat itu cuaca lagi kurang bersahabat. 

Saya keberatan dong. Perjalanan hampir dua jam, ke satu tempat yang sama sekali belum pernah disambangi. Udah gitu pakai nginep pula. Ya ketar ketir dong sayanya. Saya emang rada protektif sama anak cewek.

Si Kakak ngambek lah. Apalagi baca di WAG member geng nya dibolehin sama ortu. Dia doang yang nggak dibolehin.

"Aku tuh sepi, Bunda ada event terus, Adek di Semarang. Masa aku nggak kemana-mana. Bosen."

Iya juga sih. Waktu itu emang ada beberapa event dalam minggu-minggu itu yang bikin saya ninggalin si Kakak di rumah sendirian. 

"Ya wis, yok ikutan Bunda aja po? Nanti abis acara kalau mau ngemall kemana, mau makan, mau beli buku boleh wis," rayu saya.

"Aku maunya nginep."

Namanya nginep nggak bakal mau nginep cuma di rumah saudara atau temen. Pasti maunya staycation. Nginepnya di hotel. Dia tahu Mamak pas ikutan banyak event berarti punya 'uang jajan' lebih. Makanya ia berani 'malak' Mamak.

Akhirnya setelah sepakat pikniknya cukup di Jogja aja kami pun bikin itinary mau ke mana aja.

Kami naik motor berdua. Pertimbangan saya kenapa naik motor karena kami cuma mau city tour aja. Lagian pas liburan tahun ajaran baru jalan-jalan di Jogja pasti penuh dan macet. Naik mobil pasti bikin kesel doang.

Berangkat dari Muntilan sudah agak siangan sih, sekitar jam 10.00 Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Situs Warungboto. Situs Warungboto merupakan cagar budaya yang letaknya di belakang Kebun Binatang Gembira Loka, tepatnya berada di Jalan Veteran no. 77 Jogjakarta. 


Situs Warungboto


Situs ini dahulunya adalah tempat pesanggrahan keluarga kerajaan. Tempat ini dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I dan diteruskan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono II. Ruang, lorong, pintu dan jendela ini terlihat artistik. Ada segaran, kolam, dan kebun yang dulunya dinikmati oleh keluarga kerajaan.

Sebelum dipugar tempat ini merupakan puing-puing bangunan yang terbengkalai. Dengan dibantu oleh arkeolog sampai tahun 2017 masih ada gedung yang harus direhab, disesuaikan dengan arsitektur tahun 1875. 

Mengunjungi situs ini tak dipungut tiket masuk karena masih dikelola oleh masyarakat setempat. Paling bayar parkir kendaraan doang. Petilasan ini sekarang ramai dikunjungi wisatawan baik dalam atau luar negeri. Sering juga digunakan untuk prewedding. Kecil sih tempatnya, namun lumayan eksotis lah. Mirip seperti Taman Sari. 

Setelah dari Situs Warungboto, kami makan pecel dan gado-gado di Sagan. Warung makan ini sudah terkenal sejak zaman saya kuliah di Jogja. Namanya 'gado-gado Bu Bagyo.'


Warung Bu Bagyo

IG : @mosyakur


Tempat ini selalu penuh pelanggan. Mulai orang kantoran sampai mahasiswa ngantri di tempat itu. Menu best sellernya gado-gado dan lotek. Namun warung ini juga menyediakan nasi goreng juga. Untuk minuman ada beberapa pilihan selain es teh. Jika ke tempat ini kalian bisa memilih es jeruk atau menu jus buah. O ya, jika nggak ingin makan besar di sini juga menyediakan es pisang ijo. Cukup kenyang porsinya. Kalau di Gado-gado Bu Bagyo, saya lupa diet deh. Bakwannya markotop. 


Hotel Orlen


Jam 14.00 akhirnya saya dan Kakak Check in ke Hotel Orlen, sebuah hotel yang tak jauh dari Gado gado Bu Bagyo. Hotel ini berada di Yap Square, Jalan C. Simanjuntak. Meski hotelnya kecil, tapi buat saya cukup nyaman untuk menginap. Apalagi cuma gegoleran nonton TV plus ditinggal-tinggal melulu karena rencana kami akan ke toko buku setelah makan malam. 

O ya, sementara si Kakak menikmati staycation, saya mengundang beberapa teman di kamar hotel. Kami belajar menulis cerita anak dari mbak Yayan Rika Harari. Doi adalah editor novel Laskar Pelangi yang terkenal itu. Sekarang beliau banting setir menulis cerita anak. Pokoknya nggak mau rugi deh saya. Menyenangkan hati si Kakak, namun ada hal lain yang bisa saya dapat.

Sampai Maghrib kami belajar menulis cerita anak. Setelah itu kami makan malam di Pondok Cabe, tempat makan favorit saya kalau ke Jogja


Pondok Cabe 



Pondok Cabe ini buat saya jadi andalan kalau mau ketemuan sama temen. Harganya terjangkau, tempatnya cozy, dan pilihan makanannya banyak. Kalau masalah rasa sih sebenarnya standar, kalau menurut saya. Dengan uang 50 ribu kita bisa menikmati makan malam plus snack untuk dua orang.

Ada banyak menu yang ditawarkan. Mulai paket penyetan sampai paket snack dan minum. Kalau kurang puas ada banyak lauk yang bisa dipilih misalnya pepes jamur, tahu dan nila atau gurami ayam manis. Kalau hanya ingin mengudap ada roti bakar, pisang bakar, mendoan, roti jala, atau singkong keju. Pilihan minuman pun beragam. Mau float atau minuman jejamuan seperti kunir asem atau beras kencur ada di sana.

Setelah dari Pondok Cabe kami ke Gramedia, tak jauh dari tempat itu. Nggak lama kami di sana, si Kakak pengen balik hotel. Mau nonton drakor di KBS katanya … 

Baru aja sampai hotel, seorang teman SMP menyambangi kami di hotel. Nggak tahunya bawa dua paket makanan dari Yoshinoya dan beberapa snack. Surganya Kakak banget itu. Drakor dan full of logistic.


Jalan Malioboro


Keinginan Kakak berikutnya adalah foto di Plang Jalan Malioboro. Sering ke Malioboro namun belum pernah sama sekali foto di tempat itu. Pagi banget kami ke Jalan Malioboro, memburu sepi aja.

Sebelum jam 05.30 kami sudah membelah jalanan. Jarak tempuh Hotel Orlen sampai Malioboro nggak nyampe 10 menit. Ternyata di tempat itu sudah mulai ada beberapa wisatawan yang berfoto-foto di Plang Jalan Malioboro.

Saya biarkan si Kakak sepuasnya foto di tempat itu. Beberapa kali sempat berpindah tempat, mencari spot foto yang Jogja banget. Lalu saya ketemuan dengan salah satu teman yang sedang berada di hotel sekitar Malioboro juga. Saya tawarkan ke Kakak mau kemana doi nggak mau. Pengen tidur lagi katanya. Alhasil setelah menikmati sarapan di hotel, kami pun naik menunggu waktu check out.

Ternyata si Kakak nggak jadi tidur. Doi scrolling instagram. Pengen ke Chingu Cafe, sebuah cafe bernuansa Korea. Banyak juga yang nyebut Little Seoul. Akhirnya kami pun berkemas sekitar jam 10.00. Mampir sebentar di tempat psikolog Kakak, lalu meluncur ke Chingu Cafe.


Chingu Cafe


Tempat ini berada di Jalan Pandega Karya 18 Jogjakarta. Satu deret dengan Warung Steak dan Kopi Tiam. Tempat ini mengutamakan kenyamanan pengunjung. Mau masuk ke gedungnya kami harus antri di luar.

Kami diminta menulis nama dan berapa orang yang akan makan di tempat itu. Ada beberapa pilihan, di ruang ber AC atau tidak. Untungnya kami antre nggak terlalu lama. 

Masuk ke tempat ini saya maklum kenapa Kakak pengen banget di tempat ini. Ada foto Park Bo Gum di sana. Rasanya memang kayak main ke tempat syuting drama korea. 

Tempat ini dipenuhi oleh remaja seusia Kakak. Ya wajar saja. Spot foto begitu banyak. Wong saya aja girang banget bisa foto-foto melulu. 

Nah … giliran lihat menu, saya yang rada puyeng. Untuk ukuran saya ya agak bunyi lah makanannya. Ngeluarin uang 150k masih belum kenyang hahahaha … Tapi tetep worthed sih menurut saya. Masakan dan minumannya ala Korea banget lah. Udah gitu sudah ada sertifikasi halal pula. 

Pengen juga nanti, kalau semuanya sudah aman kami sekeluarga makan di sana. Ada banyak pilihan menu yang ditawarkan yang namanya aja saya nggak bisa nyebutin. Waktu itu cuma dipilihin si Kakak aja. 

O ya, saya terkesan banget sama minumannya. Es teh dikasih manisan jeruk. Rasanya beda banget. Lagi-lagi, saya nggak tahu namanya. 

Meski traveling ke kota yang biasa dikunjungi, namun cukup membuat saya terhibur. Bisa mengembalikan tawa si Kakak, membuatnya tak menyesal gagal pergi bareng gengnya itu satu kebahagiaan buat Mamak protektif. Ini semua menjadi permata pengalamanku dan si Kakak yang tak bisa dilupakan.







Senin, 22 Juni 2020

Melahirkan di Tengah Pandemi

Assalamualaikum temans
Allah selalu punya cara membuat kita bersyukur. Selalu ada dua sisi yang di hadapkan Allah pada manusia. Susah dan senang, sakit dan sehat, bahagia dan kesedihan, dan masih banyak lagi dua sisi yang bertentangan namun selalu bersisian. 

Mengambil hikmah akan membuat manusia makin bersyukur atas apa yang Allah perlihatkan. Termasuk dalam memandang wabah yang sedang terjadi di seluruh dunia ini. 

Ini adalah cerita salah satu sahabat saya. Ia tak pernah tahu. Ketika kebahagiaan hendak mendapatkan anak ketiganya ternyata harus berhadapan dengan kondisi yang memprihatinkan. Ia tak pernah menyangka harus melahirkan di tengah pandemi. Dalam status ODP pula.

Ia menjalani Long Distance Marriage. Suaminya bekerja di sebuah kota di Jawa Timur. Sementara ia dan anak-anak tinggal di Yogya. Menjalani kehamilan tanpa pendampingan dari suami pun sebenarnya sudah cukup berat meski dalam kondisi normal. Apalagi di tengah merebaknya Virus Corona di dunia. Belum lagi dua anak lain yang butuh pendampingan. Tentu saja bukan hal yang mudah untuknya. 

Dari awal kehamilan ia sudah terbiasa kontrol di sebuah rumah sakit ibu dan anak di dekat rumah. Rencana melahirkan pun berada di rumah sakit tersebut. Sayangnya, pandemi datang dua bulan sebelum ia melahirkan. 

Bisa dibayangkan betapa bingungnya seorang ibu yang tinggal jauh dari suami, hendak melahirkan pula. Ia tak bisa membayangkan bagaimana nanti ketika melahirkan. Ia tinggal jauh dari keluarganya sendiri dan keluarga suami. Bagaimana dengan dua anaknya yang lain jika ia melahirkan? Apakah bisa ia menitipkan pada tetangga, setidaknya untuk empat hari karena dokter sudah memastikannya melahirkan secara sectio? Apakah tidak merepotkan secara rumah tetangganya pun tak lebih besar dari rumahnya dan kondisi di perumahan banyak yang sudah usia lanjut.

Di tengah kebingungannya ia masih mendapatkan omongan yang kurang mengenakkan dari tetangga. Pemahaman yang salah dan berlebihan mengenai covid-19 membuatnya makin stress karena dijapri tetangga. 

Akhirnya ia dan suami memilih jalan yang beresiko. Suaminya pulang ke Yogya. Resiko yang akan dihadapi adalah ia dan suami statusnya akan menjadi ODP. Tak ada pilihan lain. Menjelang hari H suaminya pun pulang ke Yogya. 

Setelah sampai di Yogya sang suami pun melapor ke kelurahan dan puskesmas terdekat. Setelah itu ia dan suami datang ke rumah sakit tempatnya berencana melahirkan. Ia pun jujur dengan kondisinya bahwa suami datang dari luar kota. Mau tak mau ia pun mendapatkan status ODP karena kedatangan suami dari zona merah.

Tak disangka di RSIA tempat ia  hendak melahirkan keberatan jika seorang pasien ODP akan melahirkan di tempat ini. Pihak rumah sakit tak memiliki bangsal untuk isolasi pasien terkait dengan covid 19. Statusnya sebagai ODP mengharuskan rumah sakit menempatkannya di kamar isolasi. Ia pun disarankan untuk melahirkan di rumah sakit rujukan covid. 

Hari itu juga ia pun dirujuk ke rumah sakit rujukan covid. Bayangannya melahirkan dengan pendampingan suami sirna sudah.

Ia pun ditempatkan di sebuah bangsal isolasi dimana tak seorangpun diperbolehkan masuk. Pintu kamarnya dikunci dari luar. Perawat yang masuk ke kamarnya pun memakai seragam APD lengkap. Hanya jam-jam tertentu perawat dan tenaga kesehatan lain masuk ke ruang perawatan. 

Serangkaian test darah dilalui, termasuk covid test. Ia harus menunggu sampai hasilnya keluar. Alhamdulillah, covid test nya negatif.

Namun ia tak langsung bisa melahirkan. Sampai lebih dari tiga hari menunggu jadwal sectio. Ada prosedur kesehatan dan administrasi yang lumayan panjang. Mau tak mau harus dilalui.

Tiga hari kemudian tindakan sectio dilakukan. Meski jika standar normal  ibu dan anak dirawat gabung, untuk pasien ODP ternyata harus terpisah. Si anak ditempatkan di ruang khusus juga terpisah dari sang ibu. Setelah hendak pulang barulah si anak bisa diambil. Ia pun tetap harus melakukan karantina mandiri 14 hari sebelum pulang ke rumah atas permintaan tetangganya.

Ia pun karantina mandiri di sebuah hotel. Untung saja suaminya bekerja di bidang perhotelan sehingga dari relasinya mendapatkan kamar dengan harga jauh dari publish rate. Ia pun bisa bernapas lega ketika karantina mandiri selesai, ia bisa berada di rumah. Meski masih ada omongan tetangga yang kurang menyenangkan.

Mengedukasi masyarakat memang tak mudah. Apalagi untuk masyarakat usia paruh baya yang lebih menyukai tulisan-tulisan hoax yang beredar melalui WA group. Padahal jika mereka mau, banyak sekali situs kesehatan yang memberikan edukasi dengan sekali klik, misalnya Halodoc.

Berbagai tips dan pengetahuan kesehatan banyak sekali dibagikan di situs Halodoc. Jika makin tertarik, bisa mengunduh aplikasinya yang sudah tersedia di playstore. Banyak fasilitas yang bisa diakses melalui aplikasi ini. Untuk konsultasi dengan dokter pun mudah sekali diakses. Jika mau membeli obat pun bisa melalui Halodoc. Zaman sekarang apapun bisa dilakukan dengan jari dan jempol kita.

Stay safe and keep healthy ya temans?
Wassalamualaikum











Kamis, 18 Juni 2020

New Normal Life : Apa yang Perlu Kita Siapkan untuk Anak-anak?

Assalamualaikum temans,

Adanya Covid 19 telah mengubah segala tatanan dalam berkehidupan manusia di seluruh dunia. Di Indonesia, pasien terkonfirmasi positif belum menunjukkan penurunan. Bahkan di beberapa tempat kasus positif makin menanjak. Seperti di Kabupaten Magelang, tempat saya tinggal. Beberapa waktu lalu masih banyak kecamatan yang steril pasien Covid. Namun semakin lama, di beberapa kecamatan mulai ada kasus-kasus baru.

Di kecamatan saya setelah tiga bulan steril mulai ada satu pasien positif di sebuah desa di perbatasan. Satu perempuan dengan riwayat bekerja di Jogjakarta. Satu kasus lagi yang membuat saya degdegan juga ada di kecamatan Dukun, utara kecamatan Muntilan. Seorang pasien positif covid seusia Kakak, meninggal dengan Demam Berdarah sebagai penyerta. Si anak ini tertular dari abangnya yang bekerja di Semarang. Si abang pasien ini sering pulang Sabtu dan Ahad. Sementara si abangnya sendiri adalah orang tanpa gejala, satu keluarga pun saat ini menjalani isolasi di rumah sakit.

Gimana saya nggak deg-degan. Suami saya pun pulang ke rumah Sabtu dan Ahad. Kantor si abang pasien covid yang meninggal itu pun tak jauh dari kantor suami. Sementara suami saya bekerja di perusahaan public service yang harus ketemu banyak orang. Mau nggak mau kudu cerewet setiap saat mengingatkan untuk selalu mematuhi protap kesehatan.

Khawatir itu pasti. Namun harus dihadapi. Ketakutan hanya akan menimbulkan kecemasan yang berlebihan. Mau tak mau kita harus menghadapi. Adanya pandemi ini merupakan ujian bagi kita sebagai manusia. Pemerintah sudah mempersiapkan untuk sebuah tatanan baru dalam berkehidupan. It calls New normal life.

Banyak orang yang merasa mengalami stress yang berlarut saat pandemi ini berlangsung. Saya pun sempat mengalami psikosomatis di awal terjadinya kasus covid-19 ini. Banjir informasi via media sosial dan WAG ternyata mempengaruhi kejiwaan saya sehingga mengalami kecemasan yang berlebihan. Saya mengalami batuk dan sesak napas. Beberapa hari rasanya tersiksa di malam hari mengalami sesak napas meski tak berlangsung lama. Coba tebak, apa yang membuat saya sembuh dari psikosomatis?

Menonton channel youtube masak memasak. Dari tayangan memasak yang paling gampang sampai masakan yang saya sendiri nggak tahu saya lihat. Benar-benar menghibur diri supaya tak fokus pada pergerakan statistik pasien covid saat itu.

Kita tak pernah tahu kapan si covid akan berlalu. Bisa sebulan, lima bulan, setahun atau dua tahun lagi. Bagaimanapun juga kita harus menghadapi. Peperangan dengan si covid masih belum selesai. Kita harus menyiapkan amunisi untuk menghadapi. Salah satu yang kita persiapkan adalah psikologis anak-anak.

Apa sajakah yang perlu kita persiapkan pada anak-anak kita menghadapi tatanan kehidupan yang baru?


1. Menanamkan benih resiliensi.


Resiliensi adalah kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit (Reivich dan Shatté,2002). Resiliensi sendiri dibangun dari tujuh kemampuan yang berbeda. Tak ada satupun individu yang memiliki kemampuan tersebut secara keseluruhan dengan baik.

Tujuh kemampuan itu adalah :

Regulasi emosi
Regulasi emosi merupakan kemampuan tetap tenang dalam kondisi yang penuh tekanan. Seseorang yang memiliki kemampuan ini pasti bisa mengendalikan diri saat kesal, cemas, sedih marah atau emosi negatif lainnya. Ia juga mampu mengekspresikan emosi positif maupun negatif dengan tepat dan sehat.

Pengendalian impuls
Ini adalah kemampuan mengendalikan dorongan, keinginan, kesukaan, dan tekanan yang muncul dari dalam diri seseorang. Seseorang yang memiliki pengendalian impuls rendah mengalami perubahan emosi dengan cepat dan mengendalikan perilaku dan pikiran. Ia akan mudah kehilangan kesabaran, marah, impulsif, dan berlaku agresif pada situasi yang tidak terlalu penting. Hal ini sering kali membuat orang-orang di sekitarnya merasa kurang nyaman.

Optimisme
Pribadi yang resilien adalah seseorang yang optimis. Ia punya harapan di masa depan dan percaya bahwa dirinya mampu mengontrol arah hidupnya. Individu yang optimis lebih sehat secara fisik, tidak mengalami depresi, berprestasi lebih baik dan produktif.



Empati
Seseorang yang memiliki empati menandakan bahwa ia mampu membaca emosi dan tanda psikologis dari orang lain.

Analisis penyebab masalah
Seseorang yang memiliki kemampuan mengidentifikasi penyebab-penyebab dari permasalahan seseorang adalah orang yang memiliki kepekaan dalam menganalisis penyebab masalah. Seseorang yang tak memiliki kemampuan itu maka dirinya akan sering melakukan kesalahan yang sama terus menerus.

Efikasi diri
Efikasi adalah keyakinan bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk menghadapi dan memecahkan masalah secara efektif. Seseorang yang memiliki kemampuan ini juga meyakini dirinya mampu berhasil dan sukses. Ia adalah pribadi yang tak mudah menyerah, memiliki komitmen tinggi dan selalu menemukan strategi jika ia tak berhasil. Jika terpuruk, ia akan mampu bangkit dan berusaha memperbaiki dirinya.

Peningkatan aspek positif
Resiliensi merupakan kemampuan yang meliputi peningkatan aspek positif dalam hidup. Ia akan mampu membedakan resiko yang realistis maupun tidak. Ia juga memiliki tujuan hidup dan mampu melihat gambaran besar dari kehidupan.


Bagaimana menanamkan benih resiliensi ini?

Anak harus dibiasakan menghadapi ketidaknyamanan dan menghadapi tekanan. Namun untuk menghadapi hal-hal yang tak diinginkan itu selalu mendapatkan pendampingan, support dan cinta kasih yang optimal. Anak yang tak dimudahkan, dilatih kemandiriannya sejak dini, dan berani menghadapi hal-hal yang tak menyenangkan dalam hidupnya akan menjadi pribadi yang pantang menyerah.

Resiliensi terkait dengan pola asuh. Jika orang tua menerapkan pola asuh yang salah maka benih resiliensi itu akan sulit tumbuh. Anak belajar dari pola pengasuhan dari orang tua.

Sering kali orang tua sendirilah yang yang menghambat tumbuhnya benih resiliensi pada anak. Contoh kecil dari hambatan kemandirian dari orang tua adalah ketika anak ingin makan sendiri, orang tua melarang karena akan berantakan, lama, dan kotor. Contoh lain ketika anak ingin melakukan kegiatan fisik dilarang karena orang tua khawatir anak akan kecapekan dan sakit. Jika orang tua melakukan hal itu, maka anak belajar tergantung pada orang lain karena ia tak dibiasakan melakukan sesuatu sampai mahir.

Jika kita melakukan hal itu, sama saja melatih anak untuk tidak berdaya. Padahal sebagai orang tua kita nggak bakal selamanya bisa membantu anak-anak kita.


2.Melatih anak berpikir fleksibel. 


Bagaimanapun juga orang tua menjadi teladan bagi anak-anak. Jika seseorang tak memiliki kemampuan berpikir yang lentur, maka ia akan menjadi pribadi yang kaku, yang tak memiliki alternatif saat bertemu dengan permasalahan, baik besar maupun kecil. Jika seseorang memiliki kelenturan dalam berpikir, dengan sangat mudah ia akan menemukan alternatif A, B, C sampai Z untuk menjadikan solusi dari problematikanya.

Ini terkait dengan kemampuan seseorang menjadi pribadi yang resilien. Seseorang yang memiliki resiliensi tinggi ia akan selalu menemukan pintu-pintu lain dalam menemukan jalan keluar.

Dalam pandemi ini, kita harus berlatih untuk berpikir lentur dalam menemukan peluang. Jika tak terlatih berpikir fleksibel maka kita menjadi pribadi yang rentan, pencemas, mudah mengalami stress karena yang kita pikirkan tidak sesuai dengan kenyataan yang dihadapi.

Untuk melatih anak berpikir lentur adalah memulai memberikan stimulasi sejak dini. Stimulasi tersebut berkaitan dengan kreativitas. Kita bisa memberikan peluang bagi anak-anak kita untuk berpikir kreatif.



Sebuah contoh kecil di rumah saya. Dua anak saya sudah remaja. Anak milenial biasanya tergantung dengan gadget. Bagi mereka pandemi kesempatan lebih 'rajin' berdekatan dengan gadget. Pastinya kebosanan akan dialami. Bagi anak laki-laki saya, game tak lagi satu hal yang paling menarik. Ada buku yang bisa dibaca. Setelah maraton nonton anime, ia pun mencari tontonan lain. Akhirnya ia pun tak lagi alergi. Separuh dari drama korea dengan tema action dan komedi di laptop Kakak ia tonton. Main bola sendirian, main badminton lawan tembok, dan lompat tali ia lakukan. Masih merasa bosan? Ia akan membantu saya atau kakaknya di dapur. Atau berkreasi sendiri dengan bahan-bahan yang sudah ada. Bahkan yang paling gaje menawari memijit badan saya meski hanya memainkan lemak di badan yang mirip jelly katanya.

Lain lagi dengan si Kakak. Ia sedang senang memotong kaos-kaos yang tak lagi terpakai. Ada yang dijadikan tas belanja, atau tanktop.

Beberapa bulan belakangan ia senang sekali ngedance diiringi lagu-lagu kesukaannya. Sekalian senam katanya.

Ia pun memotong beberapa kaos dijadikan baju senam. Dijahit tangan, atau sekadar dipotong doang. Ada lagi kaos lengan panjang saya yang sudah sangat kebesaran dijadikan hotpant, dipakai saat ia memakai rok di rumah. Semuanya dijahit tangan.

Sayangnya saya tak boleh memotret hasil karyanya.

Sering kali orang tua menghambat anak berpikir lentur. Misalnya, orang tua berpikir bahwa sapu hanya untuk menyapu. Padahal anak-anak bisa berimajinasi bisa terbang atau main gitar. Dengan alasan kotor anak-anak pun tak lagi bisa berimajinasi.

Yang perlu kita lakukan adalah memberikan kesempatan pada anak-anak untuk bereksplorasi. Pastinya dengan pengawasan dari orang tua. Lebih asyik lagi jika kita sebagai orang tua terlibat aktif dengan anak-anak saat mengeksplorasi kemampuannya berpikir.

Hidup ini memang tak semulus wajah Dokter Reisa Broto Asmoro. Namun kita sanggup menghadapinya bukan?