2020 - Jurnal Hati

Minggu, 12 Januari 2020

Catatan Kecil Tentangmu, Mbak Tih ...

Seminggu telah berlalu. Ternyata aku menghitung berapa lama kamu pergi. Harapku kamu sudah tenang di sana, melihat kami dari jauh dengan senyummu. Aku pernah menuliskan tentangmu di awal kisah terakhirmu. Namun hari ini, aku ingin bercerita tentangmu kembali. 

Mungkin memang tak banyak memori tentangmu. Dari sekian lama kita bersahabat bisa dihitung dengan jari kita bertemu setelah sama-sama berkeluarga.

Bukannya aku tak ikhlas. Terkadang ada rasa sesal mengapa sering kali aku membatalkan mengunjungimu karena waktu. Padahal Juli kemarin, hatiku berbisik supaya aku datang ke rumahmu saat kamu minta aku datang. Sayangnya aku yang tak bisa mengukur waktu. Aku merasa terlalu malam saat itu jika berkunjung.

Aku bersyukur, ada di masa-masa terakhirmu. Mendapatkan kabar sakitmu, bertemu denganmu dalam kondisi mudah tertawa meski sel-sel ganas itu perlahan namun cepat menjeratmu. Melihat sinar matamu yang berkilat karena semangat.

Aku menjengukmu pertama kali 5 hari setelah diagnosa sakitmu tegak. Kamu kaget begitu tahu aku datang pagi itu. 

"Kamu tahu darimana Fa? Mbak No ya?" Begitu cecarmu. Aku tersenyum dan mengajakmu ngobrol hal yang lain. Ngecengin ponakanmu yang saat itu ikut menunggumu. Hari itu penuh tawa. Meski begitu aku membaca kegundahanmu, saat kamu bertanya tentang teman kita yang meninggal tiga hari sebelum hari itu.

"Fahrur yang mana to Fa?" Tanyamu.
"Anak A2 mbak, ketua osis."
"Kok aku nggak inget ya Fa? Mana fotonya?"

Aku menunjukkan foto teman kita. Namun kamu tetap tak ingat. Padahal semua orang pasti ingat karena teman kita pernah mendapatkan jabatan tertinggi di organisasi siswa di sekolah. Dengan enteng kamu bertanya tentangnya. Aku jawab sepengetahuanku. Sempat aku mengalihkan pembicaraan. Namun pertanyaanmu setelah itu membuatku harus berhati-hati.

"Kamu ketemu mbak No kapan to?"
"Kemarin mbak, pas njenguk putrane mb Inayah."
"Kok iso tekan kono? Putrane mbak Inayah kenopo?"
"Ngg ..."

Aku susah untuk berbohong. Yang kita bicarakan telah tiada dua hari sebelumnya.

"Keno kanker opo Fa, putrane mbak Inayah?"
"Kelenjar getah bening mbak."
"Kondisine saiki piye? Kok iki malah dikekke aku susune?"

Aku mengalihkan pembicaraan lagi. Kamu pun curiga.
"Fa, pertanyaanku rung tok jawab lho."
"Sik endi to mbak?"
"Putrane mbak Inayah mau lho."
Aku terdiam.

"Wis dimakamke mbak."

Sejenak kamu terdiam, namun secepat itu pula kamu mengganti ekspresi wajahmu. Seperti tak terjadi apa-apa.

Hari itu aku masih melihatmu berjalan. Bahkan lebih cepat dari kami yang sehat. Namu saat itu aku tahu, kamu belum sepenuhnya bisa menerima sakit yang kamu rasakan.

Maafkan aku, sempat berbohong padamu. Saat itu aku memang sengaja membezukmu. Kukatakan padamu ada acara di kotamu. Kalau kau sadari. Aku sempat gelagapan saat kau beri aku pertanyaan. Aku hanya ingin menjaga perasaanmu saja. Informasi yang aku dapat seorang penderita kanker sering kali jadi mudah tersinggung. Serba salah. Tidak mau terlihat sakit. Itu yang dari dulu aku tahu. Kamu nggak pernah ingin terlihat lemah. Kamu selalu ingin terlihat kuat. Sesakit apapun, seluka apapun hatimu. Kamu menutup itu dengan ekspresi wajah tegasmu.

Karena kamu tak ingin terlihat sakit, itulah kenapa kamu tak mau ditengok. Bahkan olehku. Itu sudah kusampaikan ke teman-teman yang lain. Setelah itu, untuk menengokmu pun aku harus bertanya. Kalau tidak hanya menunggu info. Sampai kemudian kamu sendiri yang menghubungiku.

Lantas aku dan beberapa teman diijinkan menengokmu. Dan kamu terlihat sangat senang. Banyak tertawa, banyak bercerita. Teman SMP dan SMA yang datang bersamaku pun membuatmu lebih bersemangat. Aku sempat merekam sebentar adegan itu. Namun aku tak mengabadikan pertemuan itu dalam sebuah foto bersama. Aku tak tega. 

29 Oktober 2019, sebelum tindakan pertama

Mengabadikanmu dengan selang-selang kecil yang menempel di tubuh dan wajahmu bersama kami yang berjilbab dan berdandan rapi. Aku tak mau. Mauku, kau berfoto bersama kami di sebuah tempat yang layak sebagai background. Nanti, ada saatnya, batinku saat itu. Meski sebelah hatiku yang lain bertanya, sempatkah?

Sebuah fragmen yang tak mungkin aku lupakan hari itu. Saat kami berpamitan. Teman-teman menyalamimu lebih dulu. Aku yang terakhir berpamitan. Menatapku dengan mata berkaca-kaca, berbicara dengan suara yang bergelombang. Aku merasa kamu mengetatkan pelukanmu. Pertahananku jebol sudah. Namun aku masih berusaha untuk menahan hatiku supaya tak luluh lantak. Tak apa kamu melihat mataku direndam air mata. Namun aku masih bisa mengukir senyum untuk memberimu semangat.

Sehari setelah itu, kamu mengirimkan pesan. Kita sempat ngobrol sebentar. Kamu meminta doa, beberapa jam lagi akan ada tindakan untuk penyakitmu. Saat itu kubiarkan air mata jatuh. Toh kamu nggak lihat kan? Sejak hari itu, kesembuhanmu selalu terpanjat dalam doaku. Dalam sujudku.

Setelah tindakan itu, aku tak menghubungimu. Foto-foto perkembanganmu aku dapat dari keluargamu. Semua informasi pun aku dapat dari keluarga. Sama sekali tak menghubungimu.

Aku ingin kamu fokus dengan penyembuhanmu. Tak ingin mengganggumu dengan pertanyaan-pertanyaan tak penting. Yang paling tepat untukmu saat itu adalah doa sebanyak-banyaknya. Bahkan terkadang cenderung memaksa-Nya dengan air mata.

Lantas salah seorang teman memiliki sakit yang sama denganmu. Saat informasi support untuknya dibagikan di grup SMA, kamu yang pertama menghubungiku. Kamu yang pertama mengirim support untuknya. Katamu, "Aku tahu rasanya."

Sejujurnya, saat itu dadaku menyesak haru. Dalam sakitmu, kamu masih memikirkan orang lain. Masih peduli. Dan itu sangat kuhargai.

Kita pun bicara tentang rencana bertemu di akhir Desember ketika liburan tiba. Aku sudah menyusun rencana akan membawa sesuatu untukmu. Kita menyusun rencana. Namun rencana itu harus tertunda. Kondisimu makin menurun. Sampai kemudian tanggal 30 Desember 2019 di Paviliun Garuda RS Karyadi kita bertemu. Sehari setelah kemo pertama dilakukan.

Tubuhmu berbeda dari 2 bulan sebelumnya. Kamu menyapaku saat aku masuk ke ruanganmu. Aku tak ingin mendeskripsikan seperti apa kamu saat itu. Semua yang kulihat sudah cukup membuat dadaku sesak.

Kamu memohon maafku. Aku tak sanggup menjawab. Aku hanya memijit tangan kirimu. Bersama Mamah dan Bapak. Tak berapa lama kamu tertidur. Kemudian terbangun merasakan ketaknyamanan. Sempat kamu berbicara padaku bahwa kamu akan melakukan kemo sebanyak empat kali. Beberapa menit kemudian tertidur kembali.

Keluar dari ruanganmu air mataku tak terbendung lagi. Dengan dipeluk anak-anakku aku berjalan dan duduk di sebuah kursi kosong. Mereka membiarkan air mataku luruh. Setelah tenang, kami pun beranjak.


5 Januari 2020

Hari itu, aku merasa sedih luar biasa. Tiba-tiba saja aku merasa berbeda. Memang tak ada tangis, namun hatiku begitu hampa. Aku mencari sebab, mengapa rasaku begitu sedih. Mengapa aku merasa ada yang terampas dari hati. Sampai aku datang pada mbakku untuk bercerita. Namun tetap saja tak terurai apa penyebabnya. Sampai jam 20.30 aku di sana. Lantas aku pun pulang. Tak biasanya aku melewati depan rumahmu. Itu bukan rute yang biasanya kulewati jika pulang dari rumah kakakku.

Melambatkan kendaraanku, aku menengok rumahmu. Sepi, batinku. Aku tertegun. Kenapa aku membatin seperti itu?

Biasanya setelah bepergian aku meletakkan ponselku. Namun kali ini ponsel tetap kupegang. Membaca beberapa artikel dan scrolling media sosial. Kuletakkan sejenak. Namun hatiku memintaku mengambil ponselku lagi. Begitu ponsel ditangan kakakmu mengirim pesan. Kondisimu makin drop. Hanya bisa meminta yang terbaik untukmu. 10 menit kemudian ponselku berdering. Aku tahu. Ini pasti tentangmu.

Suaraku yang serak menyapa. Kakakmu hanya mengucap salam pun aku sudah tahu. Kami sama-sama tersedu. Namun kami mencoba mengikhlaskan. Ini yang terbaik untukmu.

Mbak Tih, Allah telah membebaskanmu dari rasa sakit. Ia telah memelukmu. Pangkuan-Nya adalah yang terbaik untukmu. Insya Allah doa-doa selalu ada untukmu.

Sister till jannah ya mbak Tih ...