2019 - Jurnal Hati

Selasa, 19 November 2019

Predator Triton 300: Laptop Pilihan untuk Hardcore Gamers

Assalamualaikum temans, 
Kalau ngobrol sama Adek, pasti deh nggak jauh-jauh dari topik anime ataupun gaming. Sering kali nggak ngeh sama apa yang diobrolin. Tapi mau nggak mau tetep harus banyak ngobrol sama remaja yang satu ini. Paling doi yang nyerocos, sayanya diem-diem googling apa yang sedang dibicarain. Biar nggak ‘krik krik’ banget lah. Namanya juga emak-emak yang gaulnya sama wajan. Wajar kalau ngobrolin Noob, Master sama Legend pake muka datar. Saking nggak pahamnya. 

Gegara dapat undangan nobar Live Streaming Final Online Qualifier Predator League 2020 mau nggak mau nyari info valid supaya nggak malu-maluin. Jadi, tanggal 16 November 2019 saya dan beberapa media mendapat undangan tersebut di Peacumber Yogyakarta. Bersama komunitas gamers saya menyaksikan pertandingan tim DOTA2 dan tim PUBG. Selain komunitas gamers, acara ini juga dihadiri oleh caster dan streamers Indonesia.


Tahun 2020 Acer kembali menyelenggarakan event e-sport terbesar se Asia Pasifik. Event ini akan digelar lebih spektakuler dan diikuti oleh banyak talenta e-sport dari berbagai negara. Ribuan tim di Asia Pasifik akan berlaga dalam dua kategori game yang dipertandingkan yaitu DOTA 2 dan Player Unknown’s Battlegrounds (PUBG) 

Gamer dari tujuh belas negara akan berlaga dalam Asia Pacific Predator League 2020 ini. Mereka berasal dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, Australia, India, Singapura, Hongkong, Macau, Japan, Korea Selatan, Taiwan, Mongolia, Srilanka, Bangladesh, dan Myanmar. Tujuh belas tim ini akan bertarung dan berkesempatan untuk memenangkan prize pool sebesar USD 400,000. Waduh ... kalau dirupiahkan bisa buat beli apa aja ya? 

Di Indonesia tahap online qualifier berlangsung selama dua bulan. Event ini berlangsung selama akhir Oktober – Desember 2019. Ada Rp. 200.000.000,- bisa didapatkan sebagai prize pool Indonesia. Selama turnamen ini berlangsung, Acer akan hadir di lima kota di Indonesia. Yogyakarta menjadi kota pertama yang disambangi oleh Acer. Bersama Brand Ambassador Predator Gaming, caster, dan komunitas ini Acer membangun relasi dan semakin memahami keinginan dan kebutuhan gamer sebagai acuan untuk inovasi mendatang. 

Melalui Online Qualifier yang pertama kali di tahun ini Predator League ingin menjangkau talenta gamers muda yang lebih luas lagi. Sekarang ini dimanapun berada para gamers dengan mudah bisa mengikuti sekaligus adu strategi keahlian untuk memenangkan pertandingan. 

Dalam acara ini saya dan beberapa teman sempat ngobrol dengan Mas Eka dari komunitas FAIJO (Fighting Gamers Jogja) Sebagian besar yang tergabung dalam komunitas ini adalah part timer gamers. Rata-rata mereka adalah mahasiswa. Dari menjadi gamer ini Mas Eka mendapatkan penghasilan tambahan. 
"Ya ... nggak banyaklah, cukup kalau untuk mahasiswa," katanya sambil tertawa. 

Mas Eka dari komunitas FAIJO

Menjadi gamers pun harus selalu berlatih. berkumpul bersama komunitas merupakan salah satu cara bagi gamers untuk berlatih. Mereka mempunyai sparring partner yang sepadan.  KAlau sering berlatih, maka refleks jari saat bermain pun akan menjadi lebih peka. 

Predator Triton 300 


Bersama dimulainya Predator League 2020, Acer memperkenalkan laptop gaming terbaru yaitu Predator Triton 300. Laptop gaming ini memiliki body yang tipis dengan performa dan fitur andalan yang dibungkus dalam desain kompak dengan solid metal casing. 

Menurut Andreas Lesmana, Gaming Product Manager Acer Indonesia laptop gaming memiliki berbagai macam jenis. Ada laptop kelas entry level untuk mereka yang menggunakan game sebagai hiburan semata. Namun ada juga yang diperuntukkan para gamers yang lebih serius. Nah, Predator Triton 300 ini ditujukan bagi hardcore gamers yang membutuhkan laptop gaming dengan spesifikasi lebih tinggi. 

Andreas Lesmana, Gaming Product Manager Acer Indonesia

Lanjut Andreas, hardcore gamers ini sering mengeluhkan tentang perangkat gaming yang cepat panas saat dipakai. Namun jika mereka menggunakan Predator Triton 300 tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Laptop ini mempunyai cooling system terbaik dengan 4th gen aeroblade 3D fan yang memiliki 59 bionic blade. Hal ini menghasilkan 45% airflow improvement. Hal ini membuat Predator Triton 300 nyaman digunakan dimanapun. Dengan desain yang tipis - hanya 20 mm saja, dan berat 2.3 kg, Predator Triton 300 cocok untuk gamers dengan mobilitas tinggi. 

Predator Triton 300 diperkuat oleh prosesor Intel® Core™generasi ke-9 yang dipasangkan dengan NVIDIA® GeForce® GTX 1650 GPU, menawarkan pengalaman visual lebih detil berkat 144Hz FHD IPS display, serta dual slot NVMe untuk solusi upgradeable yang lebih leluasa. Selain itu, laptop ini juga didukung oleh teknologi RGB keyboard yang memberikan variasi warna yang yahud jika dimainkan. 

Predator Triton 300 bisa dimiliki dengan harga mulai Rp. 16.999.9999,-. Selama periode Predator League 2020 Acer menawarkan berbagai ragam promo unggulan. Ada cashback hingga Rp. 2.000.000,- maupun hadiah langsung untuk pembelian perangkat Predator Gaming tipe tertentu. Khusus untuk pembelian Predator Triton 300 selama periode tersebut selain cashback akan mendapatkan backpack keren. Untuk info lebih lanjut langsung klik aja ke  www.acerid.com/predator


Selasa, 29 Oktober 2019

Saat Sahabat Terkena Kanker

Assalamualaikum Temans,

Saya pernah membaca bahwa menulis mampu menjadi healing bagi siapapun yang merasakan kesedihan. Saya mempercayai hal itu. Meski tak lantas membuat semua sesak di hati menghilang, setidaknya menulis mampu mengalirkan perasaan yang membuat dada terasa berat.

Setengah bulan yang lalu, ketika kakak sahabat saya menelpon. Ia berbicara mengenai penyakit adiknya. Diagnosa baru saja tegak. Kanker ovarium yang telah menyebar ke ginjal, liver dan usus. Rasanya tak percaya mendengar berita itu. Tanpa sadar air mata sudah luruh. Isak tak bisa ditahan. Sehari itu air mata saya sering kali mengalir ketika bercerita. Menumpahkan sedu sedan saat berada di kamar mandi.

Lantas saya berkomunikasi dengan teman-teman terdekat. Lalu sepakat untuk membuat grup baru, karena dalam grup alumni angkatan ada sahabat saya yang sedang sakit tersebut. Qodarullah, sebelum grup baru dibuat, berita ini telah bocor. Salah satu teman posting di grup alumni angkatan bertanya tentang kondisi sahabat saya ini. udah gitu pakai mention saya lagi. Saya dalam posisi mau mengajar jadi sewot sendiri. Langsung saja ucapan simpati membanjir di grup alumni angkatan. Saya pun ngomelin salah satu teman terdekat yang saya yakini memberikan informasi kepada si teman yang posting ucapan simpati pertama kali.

Konyol memang. Salah satu teman terdekat ini wanti-wanti untuk japri ke saya jika ingin mengetahui informasinya. Malah di posting di grup. Emak-emak emang tak ada lawan movement nya ya? Duh ...

Bukannya saya nggak memperbolehkan teman-teman mengucapkan rasa simpati. Namun yang saya jaga adalah kondisi psikologis sahabat saya yang sedang sakit. Ia dalam fase denial. Belum menerima sepenuhnya bahwa penyakit inilah yang bersarang di tubuhnya. Masih banyak pemberontakan di dalam batinnya. Dalam posisi ini, seandainya membaca rasa simpati itu, bukankah itu bisa membuatnya beranggapan bahwa orang lain sedang membenarkan sakitnya? Saya yang termasuk orang terdekat saja tak berani memberikan ucapan itu, apalagi menghubunginya. Semua hal saya komunikasikan kepada keluarga.

Kondisi psikologis pasien kanker sering kali berdampak pada fisiknya. Banyak sekali hal buruk terjadi karena pasien kanker tak bisa mengelola emosi. Salah satu usaha untuk menyetabilkan kondisi tubuhnya adalah membuatnya terhibur, tertawa tanpa melihat air mata saat berhadapan dengannya.

Grup baru pun dibuat. Kemudian beberapa informasi pun saya sampaikan. Ada juga yang saya keep sendiri. Lantas sepakat membuat gerakan support untuk sahabat saya ini. beberapa hari kemudian saya pun bezuk sahabat saya. Ia banyak bercerita. Saya pun memahami yang diinginkan. Ia belum ingin dijenguk, kecuali teman-teman terdekatnya. Ia memilih siapa yang bisa datang padanya. Hal ini menjaga kondisi tubuh serta kestabilan emosinya. Saya menghormatinya. Bahkan ketika keluarga mengatakan bahwa ia menginginkan untuk tak dijenguk siapapun saya tetap menghormati keputusannya. Hanya si sakit yang paham dengan kondisi tubuhnya.

Saya tetap berkomunikasi dengan keluarga sahabat saya. Hal-hal detil kami komunikasikan. Meski saya tahu dimana ia dirawat, saya tak lantas nekad untuk datang menemuinya. Saya menunggu waktu. Sampai ia bersedia untuk menemui yang ingin menjenguknya.

Dalam kurun waktu 10 hari saya membuka kesempatan bagi teman-teman yang ingin berpartisipasi. Saya pun aktif japri ke beberapa teman SMP atau SMA yang mengenalnya, serta kakak kelas. Beberapa teman saya persilakan untuk nyolek teman yang lain. Meski ada suara sumbang yang membuat saya mengelus dada.

“Sorry ya, apakah kondisi finansialnya tidak baik?” atau pertanyaan, “Dia kekurangan ya?”

Well, yang namanya pengobatan kanker meskipun memakai kartu BPJS kan nggak semua obat dan tindakan dicover. Bayangkan, hanya untuk tes darah saja keluarga pasien kanker harus mengeluarkan uang minimal satu jutaan. Sementara itu pemeriksaan darah kan berkali-kali. Belum tindakan biopsi yang memakan beaya minimal sembilan juta rupiah. Lalu bagaimana dengan tindakan kemoterapi? Biasanya pasien kanker melakukan kemoterapi sebanyak 16 kali. Satu kali kemoterapi beaya yang harus dikeluarkan adalah 7-9 juta. Silakan dikalikan ya, berapa biaya yang harus dikeluarkan? Belum lagi tindakan operasi atau apapun.



Support untuknya telah terkumpul. Bersama beberapa teman saya menyampaikan amanah. Dari obrolan dengan keluarga itu saya sempat mendengar ada teman saking inginnya menjenguk sampai menghubungi si pasien sendiri. Tentu saja ditolak oleh pasien kan? Annoying banget ya?

Sebagai manusia sehat, saya tak bisa memungkiri betapa inginnya saya bertemu dengannya, menghibur, menunjukkan rasa empati dan simpati. Selain itu saya juga ingin sekali bersilaturahmi sekaligus mendoakan supaya ia bisa pulih kembali seperti sedia kala. Itu ketika saya memposisikan sebagai manusia sehat. Bagaimana dengan si sakit?

Si sakit merasa tak ingin merepotkan. Ia juga tak ingin dikasihani. Ia tak bisa istirahat karena menemui tamu. Meski dalam kondisi berbaring, bagi penderita kanker cukup membuatnya lelah berbicara dan menemui si tamu. Belum lagi rasa iri yang muncul. Mereka sehat, mengapa aku yang sakit?

Belum lagi obrolan, pertanyaan dan saran dari pembezuk. Sering kali yang disampaikan malah membuatnya stres dan depresi. Padahal kondisi seperti itu harus dihindari. Pasien kanker harus dalam keadaan tenang dan stabil. Mau tanggung jawab nih kalau menjenguk malah bikin si pasien stres atau depresi?

Sahabat saya pagi ini mengirimkan pesan untuk saya. Meski hanya sekadar berterima kasih dan memohon doa. Membuat air mata saya jatuh saat itu juga. Membirukan hati sampai saat ini. Namun membuat hari ini penuh doa yang ingin dilangitkan.

Pada akhirnya, doa dari jauh menjadi hal terbaik yang bisa dilakukan. Bawa namanya dalam setiap shalat akan lebih bermakna dibandingkan si pasien mengetahui bahwa kita berempati. Setulus-tulusnya doa adalah ketika hanya Allah yang mengetahui. Allah lebih paham apapun niat kita. Dan saya yakin, si pasien pun paham ratusan, bahkan ribuan doa dari kerabat akan dilangitkan untuknya.

Minggu, 20 Oktober 2019

Perpisahan yang Indah Antara Ibu dan Anak

Assalamualaikum temans,

Berulang kali saya menyaksikan perempuan adalah mahluk terkuat di bumi. Tak hanya kekuatan fisik yang dimiliki, namun juga kekuatan hati. Betapa tubuh yang sepertinya terlihat ringkih, lemah dan halus, memiliki tenaga yang berlipat saat dihadapkan pada satu situasi. Dari hati yang sering merapuh tersimpan ketangguhan emosi saat menghadapi berbagai persoalan.

Sepuluh hari yang lalu.
Saya menyaksikan seorang ibu dengan hati bajanya mendampingi sang putri. Mendampingi putrinya melakukan sebuah perjalanan. Sebuah perjalanan yang satu hari nanti akan dialami oleh orang lain. Menuju ke haribaan-Nya. 

Sang putri setahun ini dianugerahi Allah. Sebuah penyakit, Insya Allah menggugurkan segala dosa-dosanya. Kanker kelenjar getah bening. Segala macam pengobatan sudah dilakukan. Terakhir kali, dua minggu sebelumnya radiasi pun tak memberikan efek apapun setelah kemoterapi tak membuat sel kankernya menurun. Dokter sudah menyatakan bahwa pengobatan sudah terminal. Selesai. Keluarga pun boleh membawa pulang sang putri.

Yaya, nama gadis itu. Ia adalah teman masa kecil si Kakak. Dari TK dan SD mereka bermain bersama. Gadis cantik, mungil dan cerdas. Gadis yang memiliki kemauan belajar yang tinggi. Ia pun sering mewakili sekolah untuk bidang di luar akademik. Ia anak yang berbakat. Sejak klas 10, ia terdiagnosa mengidap kanker kelenjar getah bening. Banyak rumor yang bertebaran mengenai stadium kankernya hingga batas umur perkiraan dokter. Saya tak mau mempercayai. Sampai Mbak Iin, ibu Yaya mengabari saya. 

Begitu tahu kondisi Yaya, si Kakak langsung ingin menjenguk. Namun Mbak Iin meminta saya untuk mendoakan dari rumah. Setiap kali ada yang menjenguk, kondisinya lantas drop. Yaya tak menginginkan dikasihani. Ia tak mau mendapatkan rasa simpati yang terlalu besar. Ia ingin dianggap seperti anak-anak yang lain. Saya pun melakukan apa yang Mbak Iin katakan. Saya tak ingin membebani hati anak usia 16 tahun dengan keinginan saya menunjukkan rasa empati.

Saya sudah sering memberi informasi kepada siapapun yang ingin menjenguk. Sayangnya, tak semuanya menyepakati saya. Ada yang memaksa datang menjenguk. Sangat disayangkan memang. Namun saya tak bisa melakukan apa-apa. Saya sudah berusaha.

Informasi tentang Yaya saya selalu saya dapatkan dari Mbak Iin ibunya. Bagaimana proses kemoterapi yang seharusnya 16 kali ternyata hanya dilakukan sebanyak 8 kali karena kondisi tubuh Yaya yang semakin tak memungkinkan untuk menerima pengobatan tersebut. Lantas radiasi tetap tak mampu membuat sel kankernya berubah jumlahnya. Bahkan kondisinya diperburuk oleh jantung yang membengkak.

Sampai di kondisi itu, Kakak selalu memaksa ingin menjenguk. Namun saya tetap tak mengijinkan. Yaya tak menginginkan ditengok apalagi dengan kondisi bengkak di tubuhnya. Saya bisa memahami. Remaja, dalam kondisi apapun pasti menginginkan terlihat dalam kondisi terbaiknya. 

Menghormati keputusan menjadi ketetapan hati saya. Mendoakan di penghujung shalat menjadi doa terbaik. Selalu mengajak Kakak untuk mendoakan. Berempati dalam diam. Itu adalah sikap terbaik yang saya lakukan. Informasi terakhir yang saya dapatkan dari mbak Iin adalah kondisi Yaya tak bisa berkomunikasi dengan baik. Doa-doa pun terlantun. Menata hati untuk segala kemungkinan. 

Sabtu 12 Oktober 2019. Hari itu berbagai berita sedih datang silih berganti. Di mulai dari teman SMA saya yang berpulang karena gagal ginjal. Lantas salah satu sahabat semasa SMP dan SMA saya terkena kanker, dan sudah metastase ke ginjal dan liver. Air mata tertumpah saat mendapatkan foto terakhir sahabat saya tersebut. Namun saya tetap optimis. Hanya Allah yang menyembuhkan. Allah yang menyediakan obatnya. 

Sore itu, saat saya berada dalam rapat organisasi keagamaan. Saya dikabari Yaya dalam kondisi kritis. Tanpa pertimbangan apapun, saya langsung pergi ke rumah Yaya bersama Kakak. Tangan Yaya sudah disedekapkan di dada. Lantunan kalimat tauhid sudah disuarakan di telinga Yaya. 

Mbak Iin, ibunda Yaya begitu kuat mendampingi. Meski dengan pipi yang sekali-kali membasah. Tatap matanya terpaku di wajah Yaya. Begitu juga Yaya. Mata mereka saling menatap. Memberi kesempatan untuk mengukir wajah. Memahat ingatan. Sebuah proses perpisahan yang indah namun membirukan hati.

Tatapan yang tak lepas. Namun jika bukan ibunya, tatap mata Yaya akan lurus ke depan. Jika ia mendengar suara ibunya, matanya akan mencari. Saat menemukan wajah ibunya. matanya seakan terpatri. 

Wajah Kakak sudah basah oleh air mata. Saya pun memintanya untuk mengaji. Mengaji surah apapun, bukan ayat-ayat tertentu. Bukan untuk mempercepat proses sakaratul mautnya karena semua detik adalah ketentuan Allah. Saya memintanya mengaji karena di kondisi seperti itu siapapun butuh ketenangan. 

Napas mulai melemah. Lantunan ayat Allah dan kalimat syahadat tak terputus. Adzan maghrib berkumandang sehingga beberapa kerabat yang menunggu pun ijin untuk bersujud senja itu. Kakak saya minta segera shalat kemudian kembali ke kamar untuk mengaji. Mbak Iin pun turun dari tempat tidur untuk bersujud. Tinggal saya, budenya Yaya dan Anya di kamar itu. 

Budenya melantunkan kalimat syahadat di telinga kanan. Saya membisikkan di telinga kiri. Sayup-sayup suara Kakak mengaji diselingi isaknya. Air mata meleleh di pipi Yaya. Lantas sekali ia menarik napas, kemudian suara itu tak terdengar lagi. 
Yaya sudah pulang. Pada sang pencipta. 

Mbak Iin yang baru mengambil air wudhu pun masuk ke kamar dengan wajah bingung. Air mata tak tertahan lagi. Saya memeluk untuk menguatkan. Lantas tubuhnya limbung dalam pelukan saya. Sejenak tak sadarkan diri. Saya membisikkan istighfar di telinganya. Saya tahu rasanya kehilangan. Sesiap apapun. Tulang-tulang rasanya tak mampu menopang tubuh.

Mungkin hanya lima atau sepuluh menit mbak Iin tak mampu mengangkat tubuh. Ia membuka mata, kemudian bangkit. Menatap Yaya penuh kasih. Mengusap dan mencium pipi Yaya sebentar. Kemudian ia keluar kamar, melakukan shalat Maghrib. Tak berapa lama, ia pun turut memandikan putri tercintanya. Tanpa air mata. Menerima tamu dengan wajah ikhlas. 

Yaya diantar dengan segenap cinta dari keluarga dan sahabat-sahabatnya. Sehari kemudian, hampir semua teman SD, SMP dan SMA datang ke rumah maupun makamnya. Ia dicintai banyak orang. Sampai akhir hayatnya.

Menuliskan kisah ini, mau tak mau hati saya pun sesak oleh rasa haru. Hanya doa dalam hati yang mampu saya ucapkan. Bahkan saat Sabtu kemarin Mbak Iin berkunjung ke rumah, sayalah yang mrebes mili. Bagaimana tidak? Yaya sudah berpamitan. Ia sudah meminta sang ibu untuk mengikhlaskan. Ia siap seandainya sewaktu-waktu Allah menghendaki. Masya Allah ... Begitu mengagumkan.

Kekuatan itu bukan berasal dari tubuh kekar. Namun berasal dari seseorang yang memiliki ketegaran. Ia yang selalu disebut ibu. 










Selasa, 08 Oktober 2019

Wisata ke Magelang bareng Traveloka Xperience

Borobudur tuh adanya di Kabupaten Magelang. Tapi banyak wisatawan yang mengira bahwa Borobudur adalah bagian dari tempat wisata di Yogyakarta. Lagian biro perjalanan wisata lebih banyak yang ngegabungin wisata Kabupaten Magelang dengan Yogyakarta. Jadi banyak yang salah kaprah gitu deh. 

Namun sekarang Kabupaten Magelang juga lagi getol getolnya promosiin wisata setempat. Ada banyak penawaran dalam paket wisata tersebut. Sunrise di Punthuk Setumbu, Gereja Ayam, Arung Jeram, dan Borobudur sendiri dijadikan satu paket wisata tersendiri. 

Nah, ngobrolin sunrise di Punthuk Setumbu tuh butuh perjuangan lho. Kalau teman-teman pengen ke sana, saya saranin untuk menginap di area Borobudur saja. Sekarang banyak kok tempat menginap bagi wisatawan. Sebelum Subuh wisatawan harus sudah berangkat ke dusun Kurahan Kelurahan Karang Rejo. Jika teman-teman adalah muslim atau muslimah, saya sarankan untuk shalat Subuh di area Punthuk Setumbu. Ada musholla di area parkir Punthuk Setumbu. Atau jika ingin berjamaah secara rombongan, ada Masjid sekitar 500 meter dari area parkir Punthuk Setumbu. 

Harga tiket masuk ke Punthuk Setumbu sekitar 20-50 ribu. Wisatawan lokal dan wisatawan mancanegara dibedain harganya. Asik lagi kalau wisatawan berasal dari sekitar kecamatan Borobudur. Dapet diskon tuh dari pengelola.


Mulai loket penjualan tiket wisatawan tuh sudah tahu kalau jalannya nanjak terus. Perjuangan juga bisa sampai ke atas. Sekitar 20 menit perjalanan menuju puncak Punthuk Setumbu. Biasanya di hari Jumat sampai Minggu Punthuk Setumbu penuh oleh wisatawan. Banyak juga wisatawan yang pegang kamera DSLR dengan lensa segede gaban (canda deng). Kudu sabar nungguin si sunrise muncul. Kan munculnya juga nggak lama. 

Sebenarnya gambling juga ngelihat sunrise gitu. Kalau cuaca bagus pasti bisa ngelihat apa yang dibilang orang “nirwana sunrise”. Lha kalau pas mendung? Ya dapetnya sejleret doang. Belum lagi kalau pas hujan. Khawatir juga baliknya. Ya gimana? Jalannya tuh masih tanah gitu. Tanah liat pula. Kan mlesetin. 

Meski begitu, wisatawan tetep hepi. Seandainya nggak begitu puas dengan melihat sunrise, kalau sudah agak terang kita bisa kok melihat indahnya Borobudur dari kejauhan. Hijaunya pepohonan, birunya langit. Tetep surga deh. 

O ya, ada spot-spot bagus untuk foto-foto tuh di atas. Sukaaa banget sama ayunannya. Meski agak keder juga, takut jatuh. Tapi insya Allah safe kok, karena ada sabuk pengamannya. Coba deh lihat foto-foto saya waktu naik ayunan. Tetep kelihatan bahagia kan? (Ngikik) 

O ya, Banyak tempat untuk melihat sunrise di area Borobudur. Termasuk di atas Candi sendiri. Sekarang dibuka untuk umum deh melihat sunrise dari atas Candi Borobudur. Sekarang ada paket tur untuk melihat sunrise dari Borobudur, Gereja Ayam dan Junkyard Auto Park. Langsung aja cek ke Traveloka Xperience . Ada banyak lagi paket yang ditawarkan. Wisatawan bisa memilih paket wisata tersebut, disesuaikan dengan kantong masing-masing deh. 

Atau pengen naik VW doang, jalan-jalan di sekitar desa wisata Borobudur? Bisaaaaa ... Wisatawan akan mengunjungi berbagai macam tempat, tergantung oleh pemandu tournya. Bisa mengunjungi desa bahasa, kerajinan gerabah, atau membatik. Ada kok kampung pembatik di sekitar Borobudur. Mau ah, #Xperienceseru bareng keluarga bersama Traveloka. Harganya mulai Rp. 384.000,- per orang aja nih.

Traveloka Xperience 

Teman-teman tahu nggak kalau Traveloka ngembangin layanan terbaru? Ada 12 fitur mengenai gaya hidup dan liburan yang bisa diakses oleh pengguna layanan. Kita bisa menikmati pengalaman baru yang pasti seru banget. Ada atraksi, bioskop, spa dan kecantikan, event, hiburan, olahraga, taman bermain, transportasi, beli paket data atau pulsa, makanan dan minuman, bahkan kursus atau workshop. 

Kenapa kita mesti nyobain Traveloka Xperience

Ada banyak pengalaman seru yang di dunia yang sayang kalau kita lewatin. Beragam aktivitas mulai nonton konser sampai ikutan workshop bisa dijabanin. Kapan lagi kan kita bisa punya banyak pengalaman seru yang nggak bisa dilupain meski sekali seumur hidup? 

Selain pengalaman yang bisa kita cobain, ada beragam cara pembayaran yang bisa kita pilih. Bisa loh pakai Traveloka Pay Later untuk pemesanan dan mengatur pembayaran. Bisalah kalau duit mepet tetep bisa nyari pengalaman baru. Udah gitu kita nggak banyak buang waktu karena semua dalam satu genggaman doang. Praktis, cepet, dan nggak perlu antri pula. 

Pake Traveloka Xperience tuh ngurangin stres karena panik banget-banget deh. Ya gimana enggak, Customer Service nya 24 jam stand by siap bantuin kita kalau ada kesulitan. Pokoknya menikmati banget deh. 

Nah, tahun depan kan pas lebaran adik-adik pulang kampung bawa pasukan nih. Nah, udah ancang-ancang nyiapin wisata di deket deket aja. Males macetnya juga kalau musti ke luar kota. Apalagi bawa balita sampai empat anak tuh ajib banget. Kayaknya seru juga arung jeram atau naik VW Combi jalan-jalan seputar Borobudur. Ponakan-ponakan yang terbiasa hidup di kota besar pasti bakalan excited dengan suasana pedesaan yang ditawarkan. 

Kemarin sih udah ngobrol sama adik tuh, ngerancang mau kemana, lha si adik malah kudet, nggak ngerti tuh apa Xperience Traveloka. Kudu diajarin nih kalau mau ceki-ceki 

1. Unduh aplikasi traveloka atau buka website nya


2. Pilih aja fitur Xperience


3. Tentuin aja fitur apa yang mau dipilih 

4. Ubah tanggalnya


5. Isiin data pemesan


6. Pilih cara pembayaran




Tuh, nggak ribet kan? Gitu deh liburan ala Traveloka Xperience. Nyaman banget kan, nggak perlu antri beli tiket, tinggal pilih aja mau kemana dan dimana. Terus seru-seruan deh sama keluarga. Wiiiii .... Surga dunia deh. 



Kamis, 03 Oktober 2019

Mebo – Mederma, Sahabat Para Emak Mengatasi Luka

Yang namanya emak-emak tuh nggak bisa jauh-jauh sama yang namanya luka. Biasanya sih seputar luka gores atau luka bakar ringan. Kalau nggak kena pisau ya luka bakar kena minyak panas atau uap air panas. Kalau nggak ngalamin sendiri ya pasti urusan luka anak dong ya? Entah karena jatuh, kena air atau uap panas, atau kalau ada anak yang suka tantangan nyobain kenalan sama api. 

Kalau dulu sih andalan saya kalau kena luka bakar ringan ya pasti pakai pasta gigi. Turun temurun deh dari orang tua jaman dulu kalau kena luka bakar ringan langsung deh oles oleh pakai pasta gigi. Padahal diolesin pasta gigi ya efek awal rasa semriwing dari mint. Tapi lama-lama kan ya rasa panas dan pedih tetep aja nggak mau hilang. Ada sih beberapa merk obat oles untuk luka bakar ringan. Tetapi kandungan dari obat oles itu jarang dari bahan-bahan alami. Padahal yang namanya emak-emak ya pingin gitu punya obat luka bakar yang berbahan natural gitu. 

Nah, kebetulan banget, saya dan beberapa teman blogger mendapatkan undangan untuk menghadiri talkshow Women’s Community yang digagas Combiphar. Barengan dengan Komunitas Ibu Ibu Profesional Yogyakarta kami mengikuti kegiatan tersebut di hari Sabtu, 28 September2019. Talkshow yang bertajuk “Regret Comes Later” Bebas beraktivitas di rumah dengan meminimalkan resiko luka bakar ringan diadakan di Edelweiss Room, The Rich Hotel Yogyakarta. 

Menurut dr. Bayu Suhartadi, SpBP-RE, pembicara di talkshow tersebut luka bakar merupakan kerusakan pada kulit yang sering disebabkan oleh panas dan bisa menyakitkan hingga mengakibatkan gejala : 
  • Kulit memerah 
  • Kulit mengelupas 
  • Luka melepuh 
  • Kulit hangus 
  • Pembengkakan 
Nah, akibat dari komplikasi dari luka bakar ini adalah timbulkan bekas luka, infeksi dan kontraktur, kelainan otot atau sendi di bawah kulit. Apa saja sih yang menyebakan terjadinya luka bakar? Ada beberapa faktor yang menyebabkan luka bakar yaitu : 
  • Terbakar api secara langsung 
  • Peradangan karena uap atau cairan 
  • Zat-zat kimiawi 
  • Tersengat listrik 
  • Radiasi
Proses penyembuhan luka bakar sangat tergantung dari pertolongan pertama yang diberikan. Waktu krusial pertolongan luka bakar terletak pada empat jam pertama sebelum bertambah parah dan terinfeksi. 

Sebenarnya bagaimana penanganan luka bakar yang bisa kita lakukan di saat empat jam pertama tersebut? Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan yatu : 
  • Segara lepas baju pasien. Tujuannya untuk mempersingkat lama kontak dengan baju 
  • Secepatnya didinginkan dengan air bersih suhu normal. Cari sumber air bersih terdekat, tetapi jangan air dingin. Siram/basuh dengan air mengalir agar panas tidak menempel terlalu lama. 
  • Keringkan bagian yang terkena luka bakar. Jika sudah didinginkan segera keringkan bagian yang terkena luka bakar dengan lembut. 
  • Berikan salep luka bakar pada bagian yang terkena luka bakar. Oleskan secara tipis salep luka bakar pada bagian yang terkena luka bakar. 
  • Apabila area luka bakar cukup luas dan sudah muncul tanda kemerahan atau melepuh segera dirujuk di rumah sakit atau dokter. 
Mitos yang beredar untuk menyembuhkan luka bakar ada yang dioleskan es batu, pasta gigi, kecap atau telur. Tapi benarkah itu semua bisa mengatasi luka bakar di dalam rumah? 

Untung banget nih, saya dikenalin produk dari Combiphar untuk mengatasi luka bakar ringan. Bisa jadi produk ini menjadi solusi luka bakar bagi keluarga di Indonesia. Produk itu bernama Mebo dan Mederma.



Mebo

Mebo mengandung zat aktif Coptidis Rhizoma , Phellodenri chinensis, Scutellaride radix, Sesame Oil, Beeswax. Produk ini berbahan tumbuhan sehingga aman untuk kulit. 

Scutellariae radix, Coptidis Rhizoma, Phellodenri chinensis berfungsi sebagai anti-inflamasi, anti-infeksi, dan membantu regenerasi sel. Kombinasi Sesame Oil/Minyak Wijen dan Beeswax mempunyai prinsip mendinginkan luka. Panas yang berlebih dari area luka baka pada saat dioleskan akan diserap oleh Mebo sehingga akan mengurangi tingkat keparahan luka bakar. Sesame oil dapat melindungi area luka bakar sehingga mencegah penguatan air dari area luka dan membuat area luka menjadi lebih lembab/moist. Area luka yang moist akan membantu proses regenerasi sel lebih cepat sehingga penyembuhan berjalan dengan baik. Proses penyembuhan luka yang berjalan baik akan meminimalkan kemungkinan terjadinya bekas luka. 

Apa sih bedanya Mebo dengan salep lainnya? 
  • Efektif untuk luka bakar 
  • Meminimalkan bekas luka dan rasa sakit 
  • Membuat area luka bakar MOIST(lembab) dan tidak kering 
  • Non- Antibiotik Kimia 
Mebo dipercaya mampu mempercepat penyembhuan luka bakar sekitar 4-7 hari dengan minimal bekas luka dan sakit. Mebo pun mendapatkan rekomendasi dokter di Indonesia. Dan yang terpenting adalah mengandung bahan alami tanpa antibiotik kimia. 

Mederma, pilihan produk untuk Scar Treatment 

Sebelum melahirkan Adek, saya punya keloid yang tebalnya sebesar jari kelingking. Iya memang, tebel dan mengganggu. Keloid itu berasal dari bekas luka melahirkan Kakak. Jangan ditanya deh rasanya. Sering kali terasa mengganggu kenyamanan karena tiba-tiba terasa nyeri. 

Waktu lahiran Adek, oleh dokter saya diberikan salep. Harga sudah lumayan tinggi untuk ukuran obat oles yang beratnya hanya 10mg. Dalam hati sih menggerutu, lha obat oles saat itu kok di atas seratus ribu rupiah. Ya saya tandain kan, obat kok mahalnya bukan main untuk zaman itu. Namanya Mederma. 

Ternyata, obat oles itu bikin bekas luka sectio Adek mulus. Sama sekali nggak timbul keloid. Surprise dong dengan hasilnya. Setelah kejadian itu saya infoin ke adek-adek supaya pakai Mederma. Eh ... adik saya ngeyel. Katanya ada scar treatment lain yang harganya jauh lebih murah. Jadinya pas lahiran anak pertama dia pake scar treatment yang murah. Hasilnya, masih ada keloid yang muncul dan mengganggu. Barulah setelah lahiran anak kedua dia pakai Mederma. 

Nah, sebenarnya Scar itu apa sih? Scar merupakan salah satu komplikasi dari luka bakar. Ini adalah proses alami untuk penutupan luka dikarenakan operasi maupun kecelakaan. 

Ada beberapa tahapan yang terjadi setelah terjadi perlukaan menjadi scar. 

Fase Exudative/Inflamasi 
  • Berlangsung selama 72 hari 
  • Pembersihan luka dan reaksi inflamasi untuk melawan infeksi 
Fase Prolifferas 
  • Berlangsung selama 14 hari 
  • Praliferasi sel untuk membentuk jaringan granulasi 
Fase Maturasi/Remodelling 
  • Berlangsung selama 4 tahun 
  • Pembentukan skar dan epitelisas oleh keratinocytes 

Ada beberapa jenis jenis scar yang biasanya muncul di kulit manusia 
  • Scar fungsional 
  • Scar atrofi 
  • Scar hipertofi 
  • Scar keloid 

Mederma menggunakan bahan alami seperti ekstrak bawang yang mengandung Cepalin, Allium Cepae menjadi anti peradangan dan memperbaiki tampilan dan struktur scar. Allantoinnya berfungsi untuk meningkatkan hidrasi dan mengurangi rasa gatal. Lalu Mederma juga mengandung aloe vera yang berfungsi untuk memberikan kelembaban dan mencerahkan kulit. 

Cara penggunaan Mederma untuk hasil terbaik 
  • Untuk luka baru gunakan Mederma 3-4 kali sehari sekurangnya selama delapan minggu. Sementara untuk luka lama gunakan Mederma 3-4 kali sehari sekurangnya selama 3-6 bulan. 
  • Gunakan hanya ke luka yang sudah tertutup 
  • Di mulai dari tengah ke arah sisi luar. Gel dipijat lembut pada scar 
  • Dilanjutkan dengan gerakan memutar kecil sampai Mederma diabsorbsi seluruhnya 
Mengapa kita memilih Mederma? 
  • Produk pilihan untuk perawatan bekas luka oleh Dokter Indonesia ( Sumber:Indonesia Medical Data Index 2018) 
  • Secara signifikan membantu proses penyembuhan luka dalam 8 minggu pemakaian untuk bekas luka baru 
  • Mederma tidak hanya bekerja di permukaan kulit tapi juga meresap dan memperbaiki bekas luka hingga ke dalam kulit sehingga perawatan lebih efektif dan menyeluruh 
  • Gel mengandung bahan alami ekstrak onion, allantoin, dan aloe vera 
  • Telah dipasarkan di Indonesia COMPIBHAR sejak tahun 2002 
Karena saya sudah membuktikan, jadi nggak bakalan saya pakai produk lain. Siapkan Mebo dan Mederma di kotak P3K di rumah kita untuk solusi luka bakar dan scar treatment. 

Cooking Class 


Acara ini jadi favoritnya anak-anak dan ibu-ibu yang menjadi peserta talkshow saat itu. Chef Rahmat dari The Rich Hotel selain memasak juga memberikan tips aman memasak di dapur. 
  • Agar sirkulasi udara tetap terjaga, maka dapur disarankan untuk memiliki ventilasi udara 
  • Usahakan posisi kompor bisa berdekatan dengan bak cuci piring. Hal itu dikarenakan untuk memudahkan menjangkau air seandainya terjadi hal-hal yang tak diinginkan. 
  • Posisikan kompor setinggi pinggang atau disesuaikan dengan tinggi si pengguna dapur 
  • Selalu sediakan kitchen towel yang bersih. Kitchen towel ini banyak fungsinya. Bisa untuk menghindari uap panas serta mengelap peralatan masak yang basah. Kondisikan peralatan masak dalam keadaan kering karena jika basah membahayakan saat menggunakan minyak untuk menggoreng. 
  • Tunggu masakan sampai selesai. Jangan sering ditinggal karena berbahaya. Iya kalau gosong doang, lha kalau sampai kebakaran, kan mengerikan ya? Hmm ... Kok berasa tersindir sih? 
Semoga artikel ini bermanfaat ya temans.

#mebocombiphar #medermacombiphar #mebomedermawomenscommunity #combiphar #Yogyakarta

Senin, 30 September 2019

Literasi Digital untuk Generasi Milenial

Kita sering kali tak menyadari bahwa dunia berputar begitu cepat. Anak-anak kita pun bertumbuh. Segala hal di dunia ini mengalami perkembangan sedemikian pesat. Tak terkecuali dengan teknologi informasi. Pergerakan informasi di dunia pun semakin lama bertmbah cepat sehingga membawa banyak perubahan dan tatanan dalam masyarakat. 

Pernahkah kita menyadari bahwa teknologi dan informasi terjalin sedemikian hebatnya? Betapa arus informasi mengguyur anak-anak kita sedemikian dahsyatnya. Mereka yang termasuk dalam generasi digital native ini tak mau ketinggalan sedikitpun dengan apa yang berkaitan dengan teknologi informasi. Bisa dikatakan bahwa teknologi informasi saat ini menjadi bagian dari kebutuhan pokok selain sandang, papan dan pangan. 

Anak-anak di berbagai tingkatan usia pun terjangkit dengan virus Fear Of Missing Out atau biasa disebut FOMO. ‘Virus’ yang menyerang supaya selalu mengetahui apa yang saat ini menjadi tren di kalangan mereka. Betapa galaunya mereka jika tak memiliki informasi yang sama dengan teman-teman sebaya. Kecemasan akan ketidakeksisan mereka di kalangan pertemanan menjadi salah satu masalah tersendiri. Hal itu membuat anak-anak kita begitu khawatir jika tidak berdekatan dengan sebuah alat yang bernama gawai. 

Belum lagi terkait dengan media sosial. Teknologi informasi menghubungkan yang jauh menjadi lebih dekat. Yang tak mungkin menjadi mungkin. Yang tak terlihat lantas terpampang di media sosial. Informasi pun menyebar sedemikian cepatnya. Apalagi jika informasi negatif 

Sebagai orang tua, baik orang tua di rumah atau pendidik di sekolah mau tak mau harus menyamakan langkah dengan anak-anak yang berada dalam generasi digital native. Generasi yang lahir setelah tahun 1990 ini begitu mengakrabi teknologi. Segala proses informasi dan cara berpikir generasi ini pun terpengaruh dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat. Tak bisa dipungkiri dengan kecepatan teknologi informasi yang tak terduga inilah membuat kita yang lahir sebelum tahun 1990 pun sering mengalami gegar teknologi. 

Apa yang perlu kita lakukan untuk menghindari kesenjangan pengetahuan tentang teknologi informasi? 

Salah satunya cara yang perlu kita lakukan adalah ‘menjadi mereka’. Banyak hal yang harus kita pahami untuk mendekati ‘menjadi mereka’. Sejajar dengan mereka dalam pengetahuan. Mencari informasi yang lebih valid dengan keberadaan teknologi informasi ini karena sejatinya dengan pesatnya perkembangan selalu ada dua kutub yang bertentangan. Dampak positif dan negatif. 


LITERASI DIGITAL 


Efek negatif tanpa perlu dicari akan datang dengan sendirinya begitu mudah. Namun mengoptimalkan efek positif memang perlu diusahakan. Salah satunya adalah memanfaatkan teknologi informasi untuk literasi. 

Pemanfaatan teknologi komunikasi dalam dunia literasi pun makin dikembangkan. Kita bisa melihat begitu banyak referensi yang kita dapat dari kegiatan daring. Begitu banyak perusahaan sudah cukup lama memberikan informasi melalui situs web. Begitu juga dengan instansi pemerintah yang telah berbenah diri dengan berbagi informasi melalui situs resmi. Hal ini tentu saja membantu masyarakat pada umumnya untuk mengakses informasi yang terjamin validasinya. Dengan begitu bagaimana mengembangkan literasi digital bagi generasi milenial saat ini? 

Setiap individu perlu memahami arti pentingnya literasi digital saat ini. tak hanya mereka yang berada dalam generasi milenial ini. Namun kita sebagai orang tua atau pendidik perlu melek literasi digital. Literasi digital sama pentingnya dengan membaca ataupun menulis. Di zaman yang memiliki akses tak terbatas dalam teknologi informasi ini kita harus berhati-hati saat mendampingi anak-anak. Tentu saja pola pikir dan perilaku yang dilakukan generasi milenial ini berbeda dari generasi sebelumnya. untuk itu perlu diberikan pemahaman bagi anak-anak kita ini untuk lebih bertanggung jawab dalam penggunaan informasi maupun berinteraksi dengan sebaya. 

Apa saja yang orang tua atau pendidik informasikan tentang literasi digital bagi anak-anak? 

1. Pemanfaatan internet secara baik 
Teknologi tanpa batas membuat siapapun bisa mengakses informasi dari belahan dunia paling ujung sekalipun. Masyarakat Indonesia jika ingin mengetahui tentang budaya dari bangsa lain tinggal mengetikkan kata kunci dalam sekejap ribuan atau bahkan jutaan informasi siap digali. Karena tanpa batas itulah maka perlu memahamkan bagi anak-anak kita bahwa diperlukan pengendalian diri ketika berselancar di dunia maya. 
Banyak hal yang akan mereka temui di sana. Salah satunya adalah pornografi mudah tersaji di depan mata. Jika anak-anak kita belum masuk usia remaja, maka akan mudah bagi kita membatasi akses. Bisa dengan memasang aplikasi parental control di gawai, atau pembatasan konten yang tersedia di beberapa media sosial. Dengan mudah kita bisa memblokir konten yang tak sesuai dengan usia anak-anak. 
Jika anak-anak kita sudah remaja, maka yang wajib kita lakukan adalah pembangunan karakter dan pemahaman akan internet baik yang akan mempengaruhi perilaku mereka. Standar moral yang berlaku di masyarakat dan efek negatif dari kecerobohan dalam memanfaatkan teknologi informasi perlu disampaikan. Bantu anak-anak kita untuk lebih arif dalam mencerna dunia digital. 

2. Ajak anak untuk membuat konten yang kreatif 
Saat ini media sosial menjadi primadona. Sekedar untuk hiburan, bersosialisasi atau untuk berbisnis. Banyak juga yang memanfaatkan pertemanan sebagai catatan harian atau bersilaturahmi. Yang tak kalah penting dari pemanfaatan media sosial adalah untuk mencari pengetahuan dan berbagi. 
Karena banyak hal yang bisa kita lakukan dengan media sosial, tak ada salahnya mengajak anak tak hanya bersenang-senang, namun berbagi hal yang positif. Arahkan anak untuk memilih media mana yang akan digunakan untuk membuat sebuah konten. Konten yang sarat pesan moral pun bisa dibuat dengan tampilan yang menghibur. 

3. Saring sebelum membagi infomasi. 
Sering sekali tanpa berpikir panjang kita membagikan unggahan orang lain yang dianggap penting untuk diketahui oleh relasi kita. padahal unggahan tersebut belum tentu benar validasinya. Sering kali berita bohong atau biasa disebut hoax malah menjadi viral karena banyak yang membagikan. Tak hanya di satu media sosial saja. Namun karena semangat berbagi begitu tinggi maka hoax pun jadi beredar lewat berbagai media sosial. 
Semangat berbagi memang perlu dipelihara. Namun hal itu bisa menjadi bumerang karena kecerobohan kita sebagai manusia. Sering kali semangat berbagi itu tidak dibarengi dengan semangat klarifikasi. Untuk itulah, sebagai orang yang lebih dewasa kita harus semakin hati-hati dan bijak dalam penggunaan teknologi komunikasi dalam hal ini media sosial. 
Anak pun harus dibiasakan untuk tak langsung mempercayai berita ataupun informasi yang sedang beredar di masyarakat. Sikap yang tenang dalam menghadapi informasi, mencari referensi serta klarifikasi tentunya akan membuat anak terhindar dari paparan informasi yang salah maupun kecenderungan berita provokatif. Lantas ajaklah anak untuk berpikir mengenai seberapa besar manfaat atau madharatnya jika membagi informasi yang diterima. 

4. Kenalkan pada anak-anak kita kejahatan di dunia maya. 
Kejahatan di dunia maya yang lebih dikenal dengan sebutan cyber crime sebenarnya merupakan kejahatan konvensional dengan memanfaatkan teknologi. Misalnya penjualan barang fiktif di media sosial. Setelah korban mengirimkan sejumlah uang untuk pembayaran, barang tak kunjung datang. Hal tersebut masuk dalam kategori penipuan dan bisa diperkarakan ke meja hijau. 
Berhati-hati saat menggunakan akun. Apalagi yang meminta memasukkan pengguna dan sandinya. Pencurian akun terjadi dimana-mana, apalagi yang terkait dengan internet banking. Belum lagi kejahatan seksual yang berkedok dibalik manisnya media sosial. 
Mengingatkan tentang kehati-hatian dalam berselancar di dunia maya merupakan hal yang wajib dilakukan oleh orang tua dan pendidik. Lebih baik kita ingatkan untuk tindakan preventif bukan? 

5. Memanfaatkan literasi digital untuk pendidikan 
Gawai tak hanya dipakai sebagai alat komunikasi dan menghibur diri. Dari gawai pun kita bisa menawarkan pendidikan bagi anak-anak. Banyak buku elektronik yang bisa dimanfaatkan oleh orang tua dan pendidik sebagai referensi belajar anak. Bahkan sekarang ada pula aplikasi belajar yang bisa dipakai oleh anak-anak di gawai yang dimiliki. 
Literasi digital juga juga bisa digunakan sebagai alat pembelajaran. Konten-konten yang disediakan oleh pemerintah, swasta, bahkan jurnalis masyarakat begitu mudah ditemui dalam satu genggaman tangan. 
Literasi digital diharapkan akan mendorong anak-anak untuk lebih berkomunikasi secara aktif. Harapannya mereka akan menjadi pribadi yang kritis namun juga kreatif. Pembelajaran tak hanya satu arah. Namun anak-anak pun bisa secara aktif menemukan hal-hal baru yang tentu saja bisa memacu kreativitas dan memiliki jiwa kompetensi yang tinggi. 


Sebagai orang tua, kita lebih bijak dalam menyikapi perkembangan zaman. Kitalah yang akan membantu dan mengarahkan mereka dalam menghadapi berputarnya zaman. Kita dampingi mereka untuk mengoptimalkan efek positif serta menyaring dan meminimalisir efek negatif dari teknologi informasi. 

Keterlibatan keluarga dan satuan pendidikan tentu saja sangat penting dalam kegiatan literasi digital ini. Dua pihak pun terkait satu sama lain dengan satu kepentingan yaitu membangun karakter anak. Literasi digital merupakan salah satu dari sekian banyak faktor menjadikan anak-anak berkarakter kuat. 

Orang tua dan pendidik harus bijak dalam menyampaikan batasan dalam memanfaatkan teknologi informasi. Banyak hal yang bisa dilakukan tanpa mengurangi kehausan mereka akan tantangan dan kebaruan. 

Minggu, 29 September 2019

Peran Keluarga dan Komunitas dalam Membudayakan Literasi

Aku berterimakasih kepada kau, Aqila.
Jika saja kau tak pernah merasa sakit hati. Jika saja kau tak pernah merasa kesepian, sendiri, dan terpuruk. Aku takkan pernah mengenal diriku yang sekarang. Jika dulu kau tak melakukan sesuatu yang konyol, aku tak pernah tahu hikmah yang dapat kuambil dari perbuatanmu dulu. Sungguh, aku sangat berterima kasih. Jika dulu Aqila yang kukenal, hanya bisa merengek dan manja, kini ia telah tumbuh menjadi gadis yang lebih kuat. Lebih tangguh menghadapi cobaan. 
Itu adalah cuplikan kalimat yang dirangkai anak sulung saya. Di suatu masa, saat memulai membenahi hati setelah sekian lama terpuruk. Ia mengalami hal yang kurang mengenakkan di sekolah. Sesuatu yang tak pernah ia sangka. 

Saat itu, ia tak sanggup berkata-kata. Komunikasi dengan saya pun melalui tulisan. Dari komunikasi non verbal itulah saya coba tulis ulang di laptop. Kemudian saya minta ia melanjutkan tulisan untuk mengalirkan rasa sedih dan sakitnya. Sampai satu minggu ia menulis. Saya pun takjub. Senarai kalimat yang ia tuliskan untuk mengurangi luka hatinya sampai lima belas halaman A4. Wow sekali. 

Kemudian saya mengajaknya berdiskusi. Membincangkan seandainya ia meneruskan tulisannya. Berandai andai yang ia tuliskan menjadi naskah buku. Lantas mencoba memberikan pandangan jika ia memiliki karya. 

Ada kerlip bintang di matanya. Saya membaca semangat baru saja tergambar di sana. Lantas kami mencoba membuat outline. Apa yang ingin ia tuliskan. Berbagai keresahan yang ia lihat atau temui. Cara pandangnya saat menemui masalah. Harapan yang ia miliki untuk melanjutkan kehidupan setelah terpuruk. Hikmah yang bisa ia ambil setelahnya. 

Ia pun memilih beberapa buku untuk ia baca. Mencari sendiri referensi yang ia butuhkan. Mungkin ada dua atau tiga buku yang ia baca sampai habis. Kemudian melihat konten motivasi di youtube. Setelah itu, seusai sekolah, ia akan menyalakan laptop dan tenggelam dalam tulisan-tulisannya. 

Saya tak menyangka. Ia merampungkan naskahnya. 120 halaman dalam waktu dua bulan. Saat merampungkan naskahnya, ia belum genap berusia lima belas tahun. Buat saya ini menakjubkan. Bukan naskah novel yang ia tuliskan. Motivasi remaja menjadi genre tulisannya. 

Saya pun mengirimkan naskah tersebut ke sebuah penerbit. Tiga bulan kemudian sebuah jawaban yang membuat saya bersujud karena rasa syukur terkirim ke surat elektronik saya. Sebuah penerbit besar akan menerbitkan naskah anak sulung saya dan akan diedarkan di toko buku seluruh Indonesia. Saat ini buku motivasi remaja karya anak saya masih dalam proses penerbitan. Hal itu memberikan suntikan semangat anak saya untuk kembali berkarya.


Ya, saya takjub akan kemampuannya menulis naskah dengan waktu yang lumayan pendek untuk anak seusianya. Namun saya menyadari bahwa yang ia lakukan melalui proses yang panjang. Kemampuan mengolah diksi bukan hanya masalah bakat. Hal itu takkan muncul begitu saja dalam diri setiap manusia. Kekayaan diksi hadir ketika seseorang banyak membaca. 

Sulung saya termasuk anak yang hobi membaca dari kecil. Sejak bayi saya membacakan cerita dari buku anak yang saya beli. Lantas beberapa buku dengan bahan hard cover saya sediakan di rumah. Ketika berusia dua tahun ia suka sekali membuka buku-buku tersebut. Aktivitas membuka buku ternyata menjadi keasyikan tersendiri baginya. Sehingga saat ia berada di usia emasnya, buku pun menjadi mainan terbaik baginya. 

Ia mampu membaca dengan lancar di usia 4,5 tahun. Bukan karena saya memaksanya untuk mengenal huruf. Namun ia memiliki keinginan membaca buku cerita anak bergambar yang setiap bulan saya belikan. Ketertarikannya pada buku sejak usia dini semakin meningkat. Klas 1 SD pun ia sudah mulai membaca novel anak. 

Saya sempat kewalahan karena kebutuhannya terhadap membaca novel semakin tinggi. Klas tiga SD pun ia sudah tak mau membaca buku novel anak yang hanya berjumlah 100 halaman. Saya ingat, ia mulai membaca novel Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye ketika duduk di bangku kelas tiga SD yang memiliki 200 halaman. 

Ternyata, kesukaannya pada buku pun menular pada adiknya. Meski minatnya tak setinggi kakaknya. Si adik pun tak mau kalah untuk urusan membaca. Toko buku pun menjadi tempat favorit untuk rekreasi. Setiap bulan jadi memiliki anggaran untuk membeli buku. Sampai-sampai jumlah mainan yang dimiliki jauh lebih sedikit dibandingkan buku. 

Kebiasaan belanja buku masih terjaga sampai sekarang mereka tumbuh menjadi remaja. Setiap kali jalan-jalan toko buku tetap berada di urutan pertama untuk dikunjungi. Mereka bisa berjam-jam berada di toko buku. 


Budaya Literasi Keluarga Tidak Instan 

Literasi dasar memang tak sebatas membaca dan menulis. Namun literasi itulah yang diajarkan orang tua pertama kali pada anaknya. Membaca dan menulis merupakan bagian dari komunikasi. Anak pun belajar berkomunikasi melalui komunikasi verbal dan non verbal dari orang tuanya. 

Anak belajar berekspresi sedih, marah dan bahagia dari orang tua. Mereka akan menangkap secara detil ekspresi orang tua. Senyum yang merekah, tawa gembira, atau tangis yang tersedu. Anak menangkap ekpresi orang tua saat membacakan buku cerita. Itulah literasi baca tulis pertama yang dipelajari oleh anak. 

Tak ada yang mendadak dalam sebuah keberhasilan. Semua melalui proses yang panjang. Begitu juga dengan kegiatan anak dalam membaca dan menulis. Semua itu tak lepas dari usaha dan teladan orang tua. Coba lihat di rak buku kita. seberapa banyak kita membelikan bahan bacaan yang tepat untuk anak-anak kita. Seringkah kita memberikan teladan pada anak untuk menyukai kegiatan literasi? Seberapa lama kita duduk dan membaca buku dalam sehari? Pertanyaan-pertanyaan itu sering saya lontarkan pada teman sesama wali murid yang mengeluhkan anaknya tak suka membaca. 


Bagaimanapun juga, anak adalah peniru ulung. Mereka layaknya kain putih yang siap menyerap. Apakah tinta yang kita tuangkan? Atau air bersih yang kita basuhkan. Peran keluarga sangat penting dalam budaya literasi. Dukungan penuh dalam berliterasi akan membentuk budaya dalam keluarga. Nah, kira-kira apa sih yang bisa dilakukan keluarga dalam membudayakan literasi di rumah? 

1. Mengenalkan buku pada anak sejak dini 
Pembiasaan anak untuk akrab dengan buku sejak dini merupakan langkah pertama bagi orang tua untuk membentuk kecintaan anak pada membaca. Saat ini sudah banyak produsen buku yang terbuat dari kain untuk pengenalan pertama di saat anak usia 0-2 tahun. Dengan gambar yang lucu, serta kain berwarna-warni tentu saja akan merangsang anak untuk bereksplorasi.


Di usia anak memasuki jenjang 2-3 tahun, kita bisa menyediakan boardbook. Boardbook yang terbuat dari bahan yang tebal dan sulit sobek akan membantu anak kenal warna, bentuk, huruf dan angka. Bisa jadi anak masih dibacakan. Namun keterlibatan anak bersama boardbook ini akan mengikat cinta anak pada buku. Jangan lupa. Dekatkan buku dengan jangkauan anak supaya ia bisa mengambil buku berulang kali. Tak mengapa meski hanya dijadikan mainan. 
Memasuki usia pra sekolah kita bisa memulai menyediakan buku cerita bergambar untuk anak-anak. Mungkin saja saat itu kita masih membacakan cerita. Namun ia akan tertarik pada gambar yang berwarna, jalan cerita dalam buku itu, bahkan mampu menangkap setiap pesan moral yang disampaikan dari buku tersebut. setiap proses yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan. 

2. Memiliki waktu untuk membaca buku bersama 
Saat anak-anak masih usia balita, maka membacakan buku menjadi keharusan bagi orang tua. Orang tua pun berusaha menjadi pendongeng yang baik buat anak-anak. Namun saat anak sudah masuk usia SD dengan kemampuan membacanya sudah jauh lebih bagus, maka orang tua pun membarengi anak dengan kegiatan yang sama. Di waktu senggang dan tak ada kegiatan di luar rumah, orang tua pun menyempatkan diri untuk membaca buku. Paling baik kegiatan itu dilakukan di ruang keluarga, karena sudah pasti terlihat oleh anak-anak. Jika itu sudah menjadi kebiasaan, tentu saja anak-anak akan mengikuti sepanjang diberikan fasilitas yang sama. Kebiasaan orang tua akan menular dengan cepat. 

3. Menyediakan perpustakaan kecil di rumah 
Menyediakan perpustakaan kecil di rumah akan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk anak dalam berliterasi. Buku untuk anak-anak diletakkan di rak paling bawah supaya mudah dijangkau oleh tangan mungilnya. Sangat baik jika jumlahnya sering diperbaharui. Berbagai ragam bacaan disediakan. Alangkah bagusnya saat orang tua menyediakan buku dengan jenis genre yang berbeda-beda. Dengan berbagai macam buku yang kita sediakan, maka pengetahuan anak pun makin beragam. 

4. Ajak anak ke Perpustakaan dan toko buku 
Perpustakaan dan toko buku akan menjadi tempat bermain yang mengasyikkan buat anak jika sudah suka membaca. Sekarang banyak perpustakaan telah menyediakan ruangan khusus untuk anak-anak. Berbagai buku disediakan. Ruangan pun didesain khusus supaya anak-anak betah berada di sana. Toko buku pun menyediakan rak khusus buku anak dengan desain yang lucu sehingga menarik perhatian anak. 

Saat anak-anak sudah menjadikan membaca adalah sebuah kebutuhan, maka tak ada salahnya keluarga mengenalkan pada budaya menulis. Biasanya anak yang suka membaca memiliki daya imajinasi yang tinggi. Hal-hal yang anak baca tak cukup memuaskan kebutuhannya berimajinasi. Sering kali anak yang suka membaca memiliki dorongan untuk menuliskan imajinasinya. 

Cobalah periksa semua buku tulis yang dimiliki anak-anak kita. buka halaman belakangnya. Seringkali anak memulai menulis sesuatu di halaman belakang buku tulis yang biasa dipakai di sekolah. Mungkin hanya satu atau dua paragraf. Namun hal itu cukup memberitahu kita bahwa mereka memiliki minat untuk menulis. 

Anak saya memulai menulis dari hal-hal kecil. Saat kelas satu SD ia sering kali menulis surat untuk saya. Ia pun memiliki catatan harian. Segala perasaan ia tumpahkan di catatan harian tersebut. lantas ketika bosan dengan pelajaran, ia akan membuat tulisan satu atau dua paragraf di halaman belakang. Hal itu ternyata cukup membuat mood nya naik kembali. 

Saya pun memberikan waktu padanya untuk memakai laptop. Saat masih berada di bangku SD ia memiliki waktu untuk menulis setelah pulang sekolah. meski tak lama. Sering pula apa yang ia tuliskan tak selesai. Namun hal itu membuatnya terlatih untuk menulis. 

Menulis bisa menjadi katarsis. Dengan menulis semua orang bisa menumpahkan perasaan yang dimiliki. Rasa sedih, gembira, marah, atau kegelisahan. Ada kelegaan yang dirasakan saat telah menumpahkan ke dalam sebuah tulisan. Segala emosi yang dimiliki akan mengalir, sehingga tak memenuhi hati dan pikiran. Biasanya, setiap orang yang menulis memiliki kemampuan mengelola emosi yang baik. 


Peran Komunitas dalam berliterasi 

Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Hadis ini banyak menginspirasi orang untuk bergerak membagi kebaikan. Kebaikan yang disebarkan ke masyarakat bisa apa saja. Jika mereka yang memiliki harta, maka hartalah yang akan memberikan kebaikan untuk sang pemiliknya. Mereka yang memiliki ilmu tentu saja menjadi jariyahnya nanti ketika membagi ilmu yang bermanfaat. Atau mereka yang memiliki tenaga berlebih maka ia akan menyedekahkan tenaganya untuk membantu sesama demi kemaslahatan bersama. 

Berbagi pun menjadi hal yang biasa dilakukan dalam masyarakat. Ketika beberapa orang berkumpul memiliki minat dan keinginan yang sama, maka sebuah kelompok masyarakat pun terbentuk untuk menebarkan manfaat. Begitu juga dalam gerakan berliterasi. 

A. Komunitas Ibu Ibu Doyan Nulis 

Sebuah komunitas yang digagas oleh Indari Mastuti tahun 2011 di Bandung. Awalnya ia membentuk Komunitas Ibu Ibu Doyan Nulis atau biasa disingkat IIDN merupakan komunitas online. Komunitas ini awalnya menggunakan media sosial facebook untuk melakukan aktivitasnya. Seiring perjalanannya, komunitas daring ini pun memiliki koordinator wilayah di beberapa kota besar, misalnya Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Makasar dan Sumatera. Ada juga anggota IIDN yang berada di luar negeri. 



Komunitas ini anggotanya perempuan semua. Meski namanya Ibu Ibu Doyan Nulis, perempuan yang belum menikah pun tetap diijinkan untuk mengikuti komunitas ini. 

Tujuan didirikannya IIDN ini adalah memberdayakan para ibu untuk memiliki kemampuan menulis. Sering kali IIDN mengadakan pelatihan menulis secara daring melalui grup di facebook. Materi yang diberikan pun beragam. Ada pelatihan menulis cerpen, artikel, atau sekedar menulis status untuk berjualan. Ada juga pelatihan menulis blog, menulis buku fiksi dan non fiksi, serta pelatihan menggunakan PUEBI dengan benar. 

Saat kepengurusan wilayah terbentuk di beberapa kota, maka awalnya hanya kenal di dunia maya, lantas sering mengadakan pertemuan untuk saling berbagi. Kalau yang namanya ibu-ibu, maka pelatihan yang dilakukan biasanya yang terkait dengan kegiatan para ibu. Apalagi ibu-ibu yang tergabung di wilayah beragam profesinya. 

IIDN di wilayah Jogja termasuk salah satu yang lumayan aktif kegiatannya. Sesama anggota saling bertukar ilmu. Setiap pertemuan anggota pun bergiliran mengisi materi. Biasanya pertemuan diisi dengan berbagi pengalaman. Pengalaman yang dibagi dalam bidang apa saja, tak hanya pengalaman menulis. Misalnya memasak, kecantikan, kesehatan, parenting, atau smartphone fotografi. Sering juga ketika anggota menerbitkan buku baru, maka kegiatan pun diisi dengan bedah buku. 

Namun jika dibutuhkan dan dikehendaki oleh anggota, IIDN Jogja pun mengadakan workshop menulis. Terkadang tak cuma anggota saja yang mengikuti, namun dibuka untuk umum. Workshop menulis yang pernah diadakan adalah menulis novel, menulis buku non fiksi, merancang outline atau kerangka buku, menulis cerita anak, parenting, serta motivasi. Jika dibutuhkan, IIDN Jogja mengundang pemateri dari luar komunitas. 

IIDN Jogja pun terbuka untuk diajak bekerjasama. Kerjasama yang sudah berjalan adalah menjadi pemateri dalam beberapa kegiatan di Perpustakaan Kota Jogjakarta. Pernah juga bekerjasama dengan beberapa sekolah untuk kegiatan literasi anak serta mengisi acara di sebuah radio di Jogja.



IIDN Jogja juga sudah pernah menerbitkan buku di sebuah penerbit dengan jaringan penjualan nasional. penjualannya pun lumayan. Promo dari buku tersebut lumayan terdongkrak karena artis Raffi Ahmad waktu istrinya hamil anak pertama membeli buku karya IIDN Jogja tersebut dalam sebuah acara di televisi nasional


B. Komunitas Jendela Jogja 
Negeri ini bukan hanya butuh pemuda pencari solusi. Tetapi butuh banyak pemuda yang berani membawa perubahan. 
Quote tersebut sejalan dengan pemikiran para mahasiswa yang tergabung dalam komunitas Jendela Jogja yang bergerak di bidang pendidikan anak. Tiga misi utama komunitas ini adalah membentuk kemandirian belajar anak melalui kebiasaan membaca buku, memusatkan pembelajaran pendidikan alternatif di perpustakaan, dan memberikan pengetahuan gratis kepada anak-anak Indonesia melalui kegiatan non formal yang mengasah kreativitas dan kemampuan motorik anak. 

Jendela Jogja berdiri sekitar tahun 2011. Awal berdirinya komunitas ini adalah bentuk keprihatinan para relawan mahasiswa saat terjadinya letusan Gunung Merapi 2011. Waktu itu mereka melihat anak-anak di pengungsian membutuhkan alat-alat untuk belajar. Lantas para mahasiswa mengumpulkan buku-buku untuk didistribusikan ke beberapa pengungsian. 

Ternyata respon dari masyarakat begitu bagus. Lantas kegiatan ini pun dijadikan agenda tetap. Beberapa orang yang menjadi pionir kegiatan ini membuat komunitas Jendela Jogja. Mereka mengumpulkan donasi berupa buku-buku bekas yang masih layak untuk dikumpulkan dan didistribusikan ke beberapa tempat yang membutuhkan. 

Komunitas Jendela Jogja memiliki agenda tetap mingguan. Mereka memiliki desa binaan yang memiliki minat membaca, namun kekurangan bahan bacaan. Untuk itu komunitas ini pun mengirim sejumlah buku untuk dipinjamkan beberapa waktu. kemudian dengan waktu yang telah ditetapkan, maka akan ada relawan komunitas yang akan mengatur sirkulasi buku. Buku-buku yang telah dipinjamkan akan diganti dengan buku yang lain. 


Tak hanya itu. Para relawan pun menyempatkan diri untuk mengajar anak-anak di sana untuk belajar. Anak anak belajar banyak hal selain terkait dengan pembelajaran di sekolah. Ada belajar menari, membuat mainan, menggambar, dan beberapa kegiatan lain. 

Relawan yang sudah lulus kuliah dan kembali ke kota kelahirannya pun tak ingin berhenti untuk berbagi. Lantas mereka pun membentuk cabang dari Komunitas Jendela ini. Beberapa cabang yang sudah terbentuk yaitu Jakarta, Bandung, Jember, Malang dan Lampung. 


Peran serta masyarakat dalam membudayakan literasi memang tak bisa diabaikan. Bermanfaat dan berbagi menjadi nama tengah mereka yang tak kenal lelah menyedekahkan waktu. tak pernah ada kata terlambat jika kita ingin berperan aktif dalam masyarakat, apalagi untuk menggerakkan literasi. 

Ada banyak cara bagi kita berpartisipasi aktif membudayakan literasi. Di mulai dari diri sendiri, keluarga, lantas berperan aktif dalam masyarakat. Tak ada kata terlambat. Saling bergenggaman tangan kita budayakan literasi demi anak cucu di kemudian hari. 

#SahabatKeluarga 
#LiterasiKeluarga 



Rabu, 18 September 2019

Tips Mengajak Remaja Mengonsumsi Makanan Sehat
Cr : pixabay

Saat ini semakin banyak kasus penyakit degeneratif menyerang orang-orang di usia produktif. Bahkan tak sedikit pula kasus remaja berpenyakit yang dahulu hanya diidap oleh orang-orang yang berusia senja. Tak terhitung pula remaja yang mengalami obesitas dikarenakan pola makan buruk yang tak segera diperbaiki. Di luar faktor genetik yang membuat remaja mengalami obesitas, faktor gaya hidup dan malas melakukan aktivitas fisik atau yang biasa mereka sebut mager (malas gerak) menjadikan mereka sulit untuk mengontrol berat badan.

Menjalani hidup sehat bukanlah satu hal instan yang dapat dijalani dengan mudah. Hidup sehat hanya akan menjadi sebuah slogan dalam sebuah keluarga jika seluruh anggotanya tak melakukan pola hidup yang sama. Semuanya berawal dari orang tua.

Begitu banyak makanan cepat saji tersedia di berbagai tempat. Jajanan yang kaya akan gula dan garam pun sangat mudah ditemui, bahkan di warung dekat rumah sekalipun. Jika tak ada keteladanan dari orang tuanya untuk mengonsumsi makanan sehat mustahil memberikan pemahaman kepada anak yang sudah remaja.

Ada beberapa tips yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mengajak remaja mengonsumsi makanan sehat. 


Mewajibkan sarapan di rumah
Remaja cenderung melewatkan sarapan karena terburu-buru atau merasa masih kenyang. Padahal sarapan sangat penting untuk meningkatkan memori jangka pendek. Jika sarapan nasi beserta lauk pauk dianggap terlalu kenyang, orang tua bisa menyiapkan buah-buahan, sereal, atau roti gandum untuk sarapan tanpa memakan banyak waktu.

Membawakan bekal dari rumah
Ini sangat penting bagi remaja, apalagi bagi mereka yang bersekolah dengan sistem full day. Namun jangan salah juga, menyiapkan bekal dengan lauk cepat saji seperti nugget atau sosis. Makanan dengan minim minyak sangat dianjurkan, misalnya rebusan telur atau pepes. Peran orang tua dalam menyiapkan bekal menjadi penentu dari sukses tidaknya remaja mengonsumsi makan sehat.

Menyediakan camilan sehat
Terkadang remaja tak suka makan berat. Mereka lebih menyukai kegiatan ngemil. Ganti cemilan yang digoreng dengan minyak banyak, biskuit berkadar gula tinggi dan keripik bergaram tinggi dengan buah-buahan segar, biskuit rendah lemak namun tinggi serat atau susu rendah lemak. Camilan tersebut selain memberikan rasa kenyang lebih lama juga lebih sehat untuk tubuh.

Bekali remaja dengan air putih jika bepergian
Rasa haus biasanya sangat sulit tahan. Remaja tentu saja akan mencari penghilang dahaga yang mudah ditemui di sekitarnya. Begitu banyak minuman berkadar gula tinggi dijual bebas. Jika anak masih sulit minum air putih, cobalah menambahkan irisan lemon, jeruk nipis atau anggur untuk memberikan rasa pada bekal air minumnya.

Ajak remaja turun ke dapur untuk mempersiapkan makan untuk keluarga.
Remaja biasanya sangat suka bereksplorasi. Mencari resep makanan sehat kemudian mengeksekusi tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi mereka. Ajak mereka terlibat dalam menentukan menu makan keluarga setiap harinya. 

Bekali remaja dengan pengetahuan tentang gaya hidup sehat
Ajak remaja untuk mengenali jenis-jenis makanan dengan berbagai zat yang terkandung di dalamnya. Tak ketinggalan pemahaman akan berbagai kelebihan dan kekurangan jenis makanan yang dikenali. Biasakan mereka membedakan mana makanan yang bermanfaat bagi tubuh atau hanya akan menumpuk menjadi sampah, bahkan jika dikonsumsi terus menerus akan mengakibatkan penyakit yang tak ringan.


Menjaga kesehatan tubuh berarti memberi asupan makanan dengan gizi seimbang. Bukan berarti tak boleh memanjakan lidah. Namun tetap saja ada batasan-batasan yang harus dikoreksi dalam setiap makanan yang masuk ke dalam tubuh. Lebih baik mencegah daripada mengobati.