Juni 2018 - Jurnal Hati

Jumat, 29 Juni 2018

Mendampingi Taaruf (Chapter #2)

Assalamualaikum Temans,

Sudah baca tulisan saya tentang mendampingi taaruf chapter 1? Nah tulisan ini adalah kelanjutan nih. Untuk chapter 1 nya bisa dibaca DISINI.
Saya memang sengaja memotong jadi beberapa bagian. Bukan karena yang baca biar penasaran. Namun saya khawatir tulisan yang terlalu panjang akan terasa membosankan. Jadi, siap ngikutin kelanjutannya kan?

Pak guru introvert mengirimkan 11 lembar tulisan tentang biodatanya setelah saya kritik biodatanya mirip orang ngelamar pekerjaan. Saya katakan padanya bahwa yang bekerja untuk menuliskan biodata ini bukan otak, namun hati. Eh ... beneran. Pak guru introvert ini membuat sebuah tulisan yang menyentuh. Bahkan ia sukses membuat saya meneteskan air mata.

Dimulai dari tulisan ini. Kalau pembaca menganggap tulisan ini hasil editan saya, itu salah besar. saya sama sekali tak mengedit tulisannya. Ia menulis dengan hati.

Pendidikan                  :Bapak dan Ibu saya adalah sarjana. Sementara saya sempat berkuliah selama beberapa tahun  di UNY tapi tidak sampai selesai. Walaupun bapak menginginkan anak-anaknya menjadi sarjana, namun yang paling ditekankan oleh bapak adalah apapun pekerjaan anak-anaknya harus bisa memberi manfaat bagi masyarakat sekitar dan memiliki nilai/makna.            Bagi saya pengalaman pernah kuliah selama 4 tahun memberikan banyak pelajaran berharga bagi saya. Salah satunya adalah bagaimana pelajaran-pelajaran agama dan teori-teori yang saya dapatkan di kelas ternyata tidak cukup membuat saya menjadi orang yang bisa berislam secara kaffah. Selama enam tahun saya menjalani kehidupan pesantren dengan nilai-nilai relijius yang tinggi. Tapi begitu lulus dari pondok dan memasuki bangku perkuliahan, saya mengalami gagap budaya.            Di pesantren saya terbiasa dengan peraturan-peraturan yang mengikat untuk santri, sehingga ibadah dan kebiasaan relijius saya bisa terjaga dengan baik. Tapi kemudian saya menemukan sesuatu yang berkebalikan ketika memasuki dunia luar. Di luar tidak ada lagi peraturan-peraturan ketat yang mengontrol, saya merasa bebas bisa melakukan ini-itu yang tidak bisa saya lakukan di pondok. Saya mulai masuk kedalam pergaulan yang negatif. Apalagi mayoritas teman kuliah saya tidak memiliki dasar pendidikan agama yang kuat. Sebenarnya saya bisa memilih teman pergaulan lain yang lebih baik, tapi rasa jenuh dengan kehidupan di pondok membuat saya enggan untuk mendekati mereka yang suka berkumpul dalam forum-forum keagamaan.
            Empat tahun dalam masa perkuliahan saya mengalami masa-masa yang menurut saya paling kelam dalam hidup saya. Walaupun secara akademik kuliah saya tetap berjalan dengan baik, tapi nilai-nilai Islam yang ada dalam diri saya mulai luntur. Saya mulai sering meninggalkan shalat dan lebih suka nongkrong di warung kopi, main kartu dan sebagainya. Saya mulai dekat dengan hal-hal yang dilarang dalam agama Islam. Bergaul dengan peminum, bergaul dengan pemakai narkoba, bergaul dengan segala yang buruk dan dilarang dalam agama Islam. Tapi Alhamdulillah walaupun teman pergaulan saya seperti itu saya tidak pernah mencicipi sedikitpun barang-barang yang diharamkan oleh agama Islam.            Pada tahun keempat kuliah saya mulai mengalami titik jenuh dalam kehidupan saya yang seperti itu. Waktu itu adalah proses awal saya mengerjakan tugas akhir. Tapi saya merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidup saya. Saya merasa hampa. Saya merasa apa yang saya lakukan empat tahun di bangku kuliah tidak memiliki manfaat apapun kecuali pengetahuan-pengetahuan yang bertambah tapi tidak bisa saya aplikasikan dalam kehidupan saya. Tidak ada sesuatu yang bermanfaat yang bisa saya bagi untuk orang lain.
            Pada satu momen, ingatan-ingatan masa kecil saya kemudian muncul dan terbayang di depan saya dengan jelas. Ingatan ketika bapak menggandeng tangan saya ke masjid. Ingatan ketika bapak mengajari saya mengeja huruf arab di papan tulis. Ingatan ketika bapak mengantar saya pertama kali masuk ke pondok. Ingatan ketika bapak memberi saya uang yang hanya cukup untuk naik bis kembali ke pondok karena waktu itu bapak memang tidak memiliki uang lagi. Semua memori-memori dari masa kecil saya dengan bapak membuat saya sadar kalau saya selama ini hanya melakukan hal-hal bodoh dan sia-sia.
            Akhirnya saya memutuskan untuk istirahat dari bangku perkuliahan dan mencari kegiatan-kegiatan lain di rumah. Mencoba menata kembali diri saya. Enam tahun di pondok ditambah empat tahun di bangku perkuliahan membuat saya merasa asing dengan lingkungan sekitar ketika saya kembali ke rumah. Saya mulai beradaptasi lagi dengan lingkungan tempat tinggal saya. Butuh beberapa bulan untuk saya mulai terbiasa dengan lingkungan tempat tinggal saya. Saya mulai mencoba kembali untuk ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan masjid, mengikuti kajian-kajian yang diselenggarakan oleh masjid.            Tidak berselang lama, Alhamdulillah saya ditawari untuk membantu di SD Muhammadiyah Gunungpring. Awalnya hanya untuk membantu mengajar anak-anak mengaji di jam pagi, tapi kemudian diminta juga untuk membantu mengajar di jam siang setelah shalat dhuhur. Keigatan-kegiatan tersebut kemudian menjadi rutinitas harian saya sampai kemudian saya mulai lupa dengan tugas akhir saya. Sempat bapak bertanya dan meminta saya untuk menyelesaikan tugas akhir saya. Saya juga sempat mencoba kembali memulai untuk menyelesaikan tugas akhir saya.            Tapi saya mulai mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas akhir saya. Selain karena saya sudah mulai jarang ke kampus, saya juga membatasi berkomunikasi dengan teman-teman saya di kampus. Saya mulai kehilangan ritme dalam menyelesaikan tugas akhir. Dalam jangka waktu yang cukup lama saya tidak bersinggungan dengan tugas-tugas akademik kampus. Saya juga tidak mempunyai teman untuk diajak bertukar pikiran. Saya mulai menikmati dan terbiasa dengan kegiatan harian saya dirumah yang bagi saya membuat saya lebih bahagia.

Tulisan itu membuat saya berkaca-kaca. Buat saya, ini istimewa. Ia merelakan kehilangan sesuatu yang bisa membanggakan untuk agama. Ia meninggalkan lingkungan yang baginya telah menjauhkan dari rasa syukur buat seorang anak muda bukanlah sesuatu yang mudah. Namun ia bisa melakukan itu.

Jangan khawatir, ia sudah berencana untuk kembali ke bangku kuliah. Ia akan kembali ke bangku kuliah yang berkaitan dengan keilmuan Islam yang menurutnya akan lebih banyak bermanfaat untuk murid, keluarga dan masyarakat.

Satu lagi tulisannya yang sukses membuat saya meneteskan air mata. Tulisan ini di bagian akhir dari biodatanya.

Catatan :

Saya pernah ditanya mau punya istri yang seperti apa. Saya yang saat itu memang belum memiliki rencana untuk menikah hanya memberi jawaban yang umum, istri yang bagus agamanya dan cantik. Sudah itu saja. Tapi waktu demi waktu saya mulai memikirkan kembali sosok istri yang saya inginkan.

Kemudian ingatan-ingatan tentang ibu ketika mendampingi bapak dalam fase-fase yang berat di keluarga kami muncul kembali. Ibu saya bukan tipe ibu yang kalem. Kadang-kadang menjengkelkan kami. Tapi saat itu saya kemudian ingat bagaimana kesetiaan ibu terhadap bapak. Bagaimana ibu terus mencoba kuat dan tegar didepan anak-anaknya. Semua yang menjengkelkan luruh sudah.

Ketika saya kelas 5 SD, Bapak sakit parah. Itu tahun kedua bapak sakit dan kondisi bapak terus menurun dari waktu ke waktu. Saat itu bulan Ramadhan, dan bapak menghabiskan bulan itu di Rumah Sakit. Malam hari sebelum bapak masuk RS, saya sempat melihat ibu saya menangis di kamar dan mencoba ditenangkan oleh orang-orang. Saya baru tahu kalau waktu itu secara medis bapak sudah tidak memiliki harapan untuk sembuh. Badan bapak sudah sangat kurus, bahkan terlihat jelas tulang-tulang di badan bapak. Penyakit yang diderita bapak juga tidak kunjung ketahuan. Tidak ada lagi makanan yang bisa masuk ke perut bapak. Tapi ibu masih mencoba yang terbaik untuk kesembuhan bapak. Akhirnya bapak dirawat di RS lagi. Selama beberapa minggu di RS kondisi bapak semakin menurun. Ibu masih tetap setia menemani bapak pada fase itu.
Saya ingat suatu hari ibu pulang ke rumah. Ibu kemudian mengajak saya dan adik ke pasar untuk beli sandal dan baju baru. Saat itu ibu tidak menampakkan rasa cemas di wajahnya. Karena tidak punya kendaraan, kami naik andong ke pasar. Sorenya, ibu kembali lagi ke RS menemani bapak. Setelah itu bapak mulai mengalami masa-masa kritis. Sampai kemudian tim dokter mengambil keputusan untuk mengoperasi bapak. Waktu itu tengah malam. Dan operasi dilakukan secara mendadak. Dokter memberi tahu kalau operasi bapak kemungkinannya kecil untuk berhasil dan ibu diminta untuk siap-siap dengan kemungkinan terburuk. Saya tidak tahu bagaimana perasaan ibu saat mengambil keputusan waktu itu. Tapi akhirnya bapak dioperasi. Saya baru tahu kalau bapak dioperasi keesokan paginya. Dan Alhamdulillah operasi bapak berhasil. Saya juga tidak tahu bagaimana bahagianya ibu ketika itu. Yang pasti saat itu ibu adalah orang yang paling bahagia dan bersyukur dengan kesembuhan bapak.
Saya tidak tahu seberat apa kesulitan-kesulitan yang akan saya alami dalam kehidupan keluarga saya nanti. Saya hanya berharap dan berdo’a kalau istri saya nanti adalah orang yang kuat, tegar, dan setia seperti ibu. Rela jatuh-bangun bersama, yang bersedia menemani saya melewati cobaan-cobaan, yang bisa menguatkan ketika saya goyah.

Ia mencintai ibunya. Sangat. Setiap laki-laki yang mencintai ibunya saya yakin akan memuliakan istrinya. Ia takkan egois menjadikan seorang istri sebagai konco wingking saja. Namun pastinya ia akan menjadi support system istri yang paling bisa diandalkan.

Membaca tulisan Pak guru introvert membuat saya yakin. Ia akan mulus melalui tahapan taaruf ini. Ini baru dua bagian tulisannya. Sementara yang membuat hati saya meleleh tak cuma itu. Jika orang tua dedek barbie membaca, bener deh, pasti ikut kebaperan seperti saya.
Lantas biodata itu saya kirimkan ke ustadzah Anne. Ust Anne mengatakan bahwa biodata itu akan dikirimkan ke dedek barbie malam hari saja setelah tarawih. Saya tanyakan ke pak guru introvert kapan mau dikirim. Katanya begini.


Namun saya nggak sabar. Saat kultum tarawih malam itu saya kirimkan biodata dedek barbie ke pak guru introvert. Saya kaget juga. Kok WA saya langsung centang biru. Saya pun tertawa sendiri. Kami sebenarnya tak biasa membawa ponsel ke masjid. Kayaknya force majeur nih, nggak sabaran semua untuk mengirim dan menerima gambaran masa depan (#eaaaaaa)

Malem itu saya WA Ust Anne. Keesokan harinya  Ustadzah Anne bales WA saya.





Beberapa hari kemudian saya ketemu Pak guru introvert di parkiran masjid. Meski ia tak banyak bicara, namun saya melihat kilatan bahagia di matanya. Ia bertanya kelanjutan dari taaruf ini. Saya pun menjelaskan bahwa biasanya yang namanya taaruf itu nggak lama kemudian khitbah kemudian akad.  Prosesnya sekitar tiga bulanan.
“Sudah sejauh ini, sudah saatnya disampaikan ke Bapak dan Ibu yo?” kata saya.
“Nggih, Mbak. Paling do kaget yo, ngerti-ngerti saya prosesnya sampai seperti ini.”
“Mature alon-alon. Biar nggak ngageti banget. Kamu siap ketemuan tanggal  1 kan?”
“Insya Allah, Mbak.”

Saya pun berkoordinasi dengan Ust Anne untuk pertemuan itu. Sehari kemudian saya mengabari pak guru introvert.

“Kamu siap ketemu tanggal 1 kan? Pihak beliau Insya Allah siap.”

Tak ada jawaban dari pak guru introvert. Hanya centang satu. Bukber di masjid pun pak guru introvert nggak kelihatan. Ada perasaan nggak enak di hati saya. Tapi saya nggak mau mikir macem-macem.
Selepas maghrib Pak guru introvert membalas WA saya.

“Mbak, saya bingung. Ini kok sulit ...”

Duh ... apalagi ini?
Saya WA lagi pak guru introvert berkali-kali namun WA saya hanya centang satu. Saya khawatir. Apakah orang tua pak guru introvert keberatan dengan sosok dedek barbie? Saya nggak yakin. Saya mengenal orang tua pak guru introvert. Keluarga mereka bukanlah keluarga yang pilih-pilih dalam bergaul. Mereka memandang orang selalu dari sisi positifnya. Lalu apa yang sulit?

Malam itu saya kepikiran banget. Apa yang salah ya dengan proses ini? Sepertinya Allah begitu memudahkan jalan mereka untuk bertaaruf. Ada apa ini?

Tengah malam itu saya menggelar sajadah. Saya hanya ingin berdoa. Bahkan saya tak tahu apakah saya shalat tahajud ataupun shalat hajat. Saya melangitkan doa untuk pak guru introvert dan si dedek barbie. Tak terasa pipi saya pun basah.

Well ... saya ada acara nih. Nyambung chapter 3 yak?

Kamis, 28 Juni 2018

Mendampingi Taaruf (#1)



Assalamualaikum Temans,
Sebelumnya pengen ngucapin Taqobbalallaahu minna waminkum. Semoga puasa, ibadah dan seluruh amalan kita di Bulan Ramadhan diterima oleh Allah SWT dan diberikan bertemu kembali dengan Ramadhan tahun depan.

Ramadhan tahun ini buat saya sungguh spesial. Saya tak pernah menyangka saya akan menjadi bagian dari satu hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Menjadi perantara taaruf. Ini spesial buat saya, karena saya pribadi tak melakukan taaruf ketika berkenalan dengan suami sampai menikah. Masih jaman jahiliyah lah 20 tahun yang lalu (kosa kata yang saya pilih jika saya dan anak-anak membahas tentang larangan berpacaran).

And this is the story goes ..
Mulai Februari 2018 saya dilibatkan oleh pengurus organisasi sosial keagamaan dimana biasa beraktivitas untuk menjadi panitia pendirian SMA boarding school yang sedang dirintis oleh yayasan. Sekolah ini direncanakan sebagai kelanjutan dari sekolah yang sudah ada yaitu SD dan SMP. Dua sekolah yang sarat prestasi ini mempunyai ‘adik baru’ dimana semua stakeholder dilibatkan.

Dari sedikit orang yang terlibat itu saya lebih sering bertugas bersama salah seorang pak guru SD. Kami sudah akrab sebelumnya. Selain karena berada dalam jamaah masjid yang sama serta tetanggaan, ia juga pecinta buku. Ia pembaca buku-buku saya. Bahkan setelah membaca Cherish You, novel kedua saya ia mengatakan jadi pengen sesegera mungkin menyempurnakan separuh dari agamanya.

Obrolan kami pun selalu nyambung karena kesamaan minat. Pak guru ini aslinya seseorang yang introvert. Ia jarang sekali bisa ngobrol seru dengan orang lain. Jarak umur dengan saya pun jauh. Saya masuk SMA dianya baru lahir. Dia pun lebih suka memanggil saya ‘mbak’ ketimbang ‘bu’.

Di sela-sela tugas inilah kami sering mengobrol. Beberapa kali ia bicara tentang keinginannya untuk menikah. Bahkan saat seleksi guru dan karyawan SMA boarding school ini kami sempat ‘menyeleksi’ siapa saja yang cocok dengan kriterianya. Ada satu orang yang ‘lolos’ sesuai kriteria, hanya saja ia tak lolos di seleksi lanjutan menjadi pengajar di SMA tersebut.

Ketika seleksi selesai, tugas kami tak berhenti sampai di situ. Kegiatan pra jabatan selama sebulan penuh menanti. Orang-orang yang terlibat pun semakin banyak. Sebagian kecil guru SD dan SMP pun terlibat aktif. Rata-rata saya sudah mengenal baik karena mereka guru Kakak dan Adek juga. Bahkan beberapa sudah akrab sehingga kegiatan pra jabatan pun makin seru.

Saya dan Ustadzah Anne, salah satu guru SMP tandem di administrasi. Karena Ustadzah Anne juga aktif mengajar dan jadi panitia PPDB di SMP, membuat saya lebih sering stand by di sekretariat. Ustadzah Anne wira wiri juga. Kalau pas nggak ngajar ke sekretariat.

Seminggu kegiatan berlangsung, ternyata ada beberapa guru yang harus stand by di SD dan SMP karena tugas terkait dengan ujian nasional yang akan berlangsung dalam waktu dekat. Lantas beberapa guru pun bertukar tugas. Termasuk salah satu bu guru baru di SMP.

Pertama melihatnya, saya merasa sudah familiar. Kalau melihat performance nya sih kayaknya belum pantes jadi guru (maafkeun ^_^ ) Pembawaannya ceria dan rame. Sosoknya yang imut dengan wajah yang menarik dipandang pun membuat suasana sekretariat bertambah segar.

Saya mulai membaca kecenderungan pada si pak guru yang saya ceritakan sebelumnya. Sering kali saat si bu guru ceria itu datang dan mengobrol dengan saya, ia akan mendekat. Meski sering tak memandang si bu guru, tapi saya membaca gesture nya bahwa ada ketertarikan. Si pak guru introvert ini sering memasang telinga. Selalu ada senyum tipis mengembang saat mendengar bu guru ceria bercerita.

Ternyata yang membaca ketertarikan pak guru introvert bukan hanya saya. Dua teman kantor si pak guru yang notabene sudah ibu-ibu pun notice akan sikap pak guru itu. Kalau di sekretariat hanya kami berempat, ramelah kami menggoda si pak guru yang terlihat semakin malu ketahuan isi hatinya. 
Sampai-sampai kami punya julukan tersendiri untuk bu guru ceria tersebut. Dedek barbie. Sesuai dengan tubuhnya yang imut dan wajah yang cantik tipikal boneka barbie.Namun jika ada orang lain kami sadar diri. Apalagi jika bu guru ceria datang. Pak guru introvert pun aman dari gangguan kami.

Satu malam, saat Adek hari pertama opname di rumah sakit. Saya nggak bisa tidur meski Adek sudah mulai terlelap. Ketika membuka salah satu media sosial, saya yang biasanya cuek tiba-tiba kepoin story nya pak guru introvert. Begitu melihat saya langsung ketawa.


Pak guru introvert ini mengambil foto dari sebuah sofa yang berada di ruang itu. Sementara di sudut itu saya dan Ustadzah Anne biasanya duduk mengerjakan administrasi, sementara si Dedek barbie duduk di kursi yang berderet atau depan komputer. Ustadzah Anne dalam waktu dekat mau menikah. Siapa lagi coba yang dimaksud si pak guru introvert? Lantas saya pun reply story nya


Seminggu mendampingi Adek di rumah sakit saya tak mengikuti perkembangan pak guru introvert dan Dedek barbie. Meski beberapa panitia yang tukang nongkrong di sekretariat cerita jika mereka terlihat lebih akrab dari sebelumnya. Saya fokus pada penyembuhan Adek. Gimana nggak fokus, Adek sendiri harus UN di RS. Kondisi panas badan sampai 39,5C dan harus ngerjain UN itu buat saya perjuangan yang luar biasa.
Setelah Adek keluar dari RS dan masuk sekolah, barulah saya kembali beraktivitas di kegiatan pra jabatan guru dan karyawan SMA boarding school tersebut. Beberapa hari kemudian barulah saya ada kesempatan ngobrol dengan si pak guru introvert.
“Gimana, mau beneran sama dia?” tanya saya.
“Ya iyalah, mbak. Tapi saya minder je. Dia cantik gitu. Pasti banyak yang ndeketin. Apalah saya ini mbak,” katanya sambil tersenyum.
“Ah ... kamu nih, mbok ya diperjuangkan gitu lho.”
“Tapi kalau sudah punya saya balik badan ya?”
“Sudah punya dalam artian apa? Nek sudah dikhitbah yo memang sudah nggak boleh digangguin. Lha nek mung pacaran yo masih ada kesempatan,” goda saya.
Si Pak guru tertawa.

“Bagaimanapun juga saya nggak mau jadi pengganggu, mbak.”
“Kalau misalnya masih single mau berusaha to?”
“Enggih, mbak.”
“Tak bantuin, tapi aku nggak mau kalau model pacaran gitu. Taaruf mau nggak?”
Pak guru itu terdiam beberapa lama.

“Saya belum pernah taarufan ki mbak.”
“Ya sekarang harus ubah mindset. Aku juga punya anak perempuan. Kalau ada yang ndeketin nggak serius aku yo nggak boleh. Piye?”
“Saya pasrah mbak Irfa saja gimana baiknya.”

Saya pun lantas kasak kusuk nyari informasi. Yang jelas saya nanyain Ustadzah Anne lah. Wong saya lihat Dedek barbie kemana-mana berdua sama Ustadzah Anne. Untungnya Ustadzah Anne orangnya kooperatif, mau diajakin kerjasama nyariin infomasi. Meski awalnya pas nanya-nanya ke saya juga cuma saya senyumin.

Ternyata Dedek barbie masih single. Sebelumnya pernah dekat dengan seseorang, namun kurang disetujui oleh orang tuanya. Lantas dilepaslah meski berat awalnya. Pandangan positif saya langsung terbentuk mendengar ia patuh pada kata-kata orang tuanya.

“Kalau misalnya ada yang pengen serius taaruf, beliau kerso nggak ya?” tanya saya pada Ustadzah Anne. Mata Ustadzah Anne membola.

“Dari lingkungan SMA ya Bu?”
“Adalah, Ust. Tanyain aja dulu,” senyum saya.
“Saya penasaran, Bu. Nanti saya tanyakan. Saya kalau ditanya siapa yang ngajak taaruf njawabnya apa, Bu?” dengan muka polos Ustadzah Anne bertanya. (Ketahuan tidak biasa bermain drama ^_^)
“Apa ya, Ust? Temen gitu aja po?”
“Lha kalau saya nggak kenal masa saya bilang temen saya? Jangan-jangan saya juga kenal ya Bu?”
Saya ketawa. Gantian Ust Anne yang kepo.

Dua hari kemudian Ustadzah Anne memberikan informasi.
“Kata beliau mau tanya orang tua dulu, Bu. Manut orang tua baiknya gimana.”
“Setidaknya beliau nggak nolak,” kata saya.
“Iya, Bu. Tapi saya kepo banget. Siapa Bu, yang ngajak taarufan?”
“Nanti juga tahu.”

Saat itu saya juga ikutan gelisah. Kayak sayanya yang mau taaruf aja. Beberapa hari kemudian jawaban pun datang. Sebuah jawaban yang membuat saya bisa menarik napas lega.
“Bu, beliau mau taaruf. Nanya ke saya lagi siapa orangnya. Ya saya tetep ngomong temen saya, meski saya sendiri juga nggak tahu siapa orangnya.”
Kami tertawa.

“Terus gimana, Bu, kalau sudah ada kesanggupan untuk taaruf?”
“Biasanya sih tukar biodata. Kalau sudah baca biodatanya terserah nanti mau melanjutkan atau enggak.”
“Biodatanya kayak apa ya, Bu?”

Sejujurnya, saya juga bingung. Lha saya sendiri juga belum pernah melakukan itu. Gimana mau ngasih pandangan biodata seperti apa yang mau ditukar?
“Nanti coba saya carikan ya ust?”
“Iya Bu. Tapi ngomong-ngomong, saya belum boleh tahu juga nih Bu, yang mana orangnya?”
Saya terbahak. Ustadzah Anne belum hilang keponya. Saat saya menyebut nama si pak guru introvert lagi-lagi matanya membola.
“Semoga berjodoh ya, Bu. Saya kok cocok kalau dua orang ini bisa bertaaruf. Jadi semangat nih, Bu.”

Berita baik pun lantas saya sampaikan kepada Pak guru introvert. Dia sudah kehilangan kata-kata. Antara seneng tapi juga mau bingung, mau nulis apa di biodatanya nanti. Lantas saya pun mencari bentuk form taaruf. Saya pun nyoba nanya ke Mbak Kayla, salah satu penulis buku yang sudah biasa mendampingi taaruf. Tak ketinggalan browsing juga untuk melihat seperti apa sih biodata taaruf itu. Saya baru tahu lho kalau ternyata ada juga yang memakai seperti formulir gitu.

Saya pun mencoba menyusun sendiri dari referensi yang sudah baca, kemudian saya kirimkan ke pak guru introvert dan Ustadzah Anne. Dua hari kemudian Ustadzah Anne mengabari jika si dedek barbie siap menukar biodata. Sementara si pak guru introvert masih bingung dan sering bertanya poin-poin yang harus dituliskan. Saya hanya berpesan bahwa di biodata itu harus jujur apa adanya. Tak boleh ditutupi. Lebih terbuka lebih baik. Sehari kemudian si Pak guru introvert mengirimkan biodata ke saya. Sayanya mesem aja, karena biodatanya mirip jika melamar pekerjaan.

“Jangan kayak orang mau ngelamar kerja dong ah. Ditambahinlah! Yang bagian ini ditambahin. Yang itu diceritain kenapa bisa begitu. Jangan lupa keinginanmu seperti apa.”
Saya cerewet banget seperti pembimbing skripsi. Lantas tengah malam, si pak guru introvert ini mengirimkan biodatanya. 11 halaman, dan lebih banyak narasinya.

“Editin yang bagus ya mbak?” pintanya lagi.

Lantas saya pun membaca biodata Pak guru introvert. Saya terhanyut dengan pilihan diksinya yang bagus. Seperti membaca sebuah kisah inspiratif. Ada dua bagian yang membuat saya meneteskan air mata. Tulisan ini perfect, batin saya.

Mau tahu bagian mana yang membuat saya meneteskan air mata? Tunggu di chapter 2 nya ya?

Selasa, 12 Juni 2018

Bakso Kuah Merah : Alternatif Hidangan Ramadhan dari SO GOOD

Menjelang akhir Ramadhan begini saya sering banget mellow. Begitu banyak kenangan di bulan Ramadhan tahun-tahun yang lalu dengan orang-orang terkasih. Mereka yang telah pergi meninggalkan kenangan manis di Ramadhan terakhir. Mereka memberikan kebersamaan terakhir yang indah bersama saya. 

Apalagi Ibuk. Ramadhan adalah 50 hari menjelang Ibuk dipeluk bumi. Saat anak-anak diminta liburan selama satu minggu ke rumah mertua di Semarang, saya ditahan untuk tak ikut serta. Saya diminta untuk menemani beliau. Rupanya beliau ingin memahat memori bersama saya, putri sulungnya. 

Selama satu minggu itu kami tidak memasak. Eh ... Ralat. Kami hanya memasak untuk sahur saja. Itu pun hanya sedikit. Dan tentu saja masakan selera Ibuk. Ibuk yang sama sekali tak suka pedas membuat saya sedikit tersiksa meski saya juga bukan pecinta pedas level tinggi. 

Misalnya memasak ayam buras. Bayangan saya jika memasak ayam berkuah pasti ada sedikit rasa pedas untuk mengurangi enegnya memasak ayam buras. Entah dibuat gulai pedas, rica-rica, atau tongseng ayam. Namun Ibuk lebih suka memasak opor, gulai jawa, atau sup ayam bening. 

Biasanya saya protes. Namun Ramadhan terakhir bersama Ibuk, saya nurut aja apa yang diinginkan oleh beliau. Nggak ada tuh hawa pengen berbeda dari keinginan Ibuk. Padahal sebelumnya jangan ditanya deh. 

Ramadhan Tanpa Ibuk

Sekarang adalah Ramadhan ke empat tanpa Ibuk. Saya jadi lebih jarang memasak masakan gurih seperti selera Ibuk. Tentunya sebagai ibu dan istri saya jadi lebih sering memasak menggunakan selera suami dan anak-anak yang cenderung pedas. Meski saya malahan cenderung memilih masakan tanpa cabai! (Kalau ini sih bukan karena perubahan selera. Saran dari dokter aja J ) 

Ramadhan tahun ini saya lebih suka memasak masakan yang simpel. Selain karena waktu Ramadhan ini saya membantu pemasaran barang dagangan suami, tanpa saya sadari saya lebih banyak belanja makanan cepat saji di freezer. Soalnya keinget, Ramadhan tahun lalu sering bangunnya mepet sehingga untuk menyiapkan masakan untuk sahur pun jadi gedubrakan. 

Tempo hari si Kakak pengen banget dibikinin sup kuah merah untuk berbuka puasa. Nama sup kuah merah disematkan oleh si Kakak karena memang warnanya memerah. Biasanya saya memasak sup kuah merah berbahan utama ayam atau ikan. 

Ngintip di kulkas nemunya 2 bungkus bakso produk SO GOOD. Karena bahan lain nggak ada, saya coba deh bikin bakso kuah merah dengan sedikit variasi sayur di dalamnya. 

Bakso Kuah Merah 
Bahan : 
  • 2 bungkus Bakso kuah instan SO GOOD 
  • 2 buah tomat merah 
  • 1 buah bunga kol ukuran kecil dipetik perkuntum 
  • 1 buah wortel diiris-iris 
  • 750 ml air 
  • Seledri 

Bumbu-bumbu : 
Bumbu yang dihaluskan : 
  • 2 siung bawang putih ukuran besar 
  • 3 siung bawang merah ukuran besar 
  • 2 buah cabe rawit merah 
  • 1 sdm ebi kering 
  • 1 ruas kelingking terasi 
  • 1 sdt kecap ikan 

Bumbu tambahan : 
  • 1 batang serai 
  • 3 potong lengkuas ukuran besar 
  • 2 lembar daun jeruk purut 
  • 3 buah cabai rawit utuh 
  • Garam secukupnya. 
  • Kaldu instan jika suka. 



Cara membuat : 
  • Tomat direbus sampai masak, kemudian diblender dengan air yang sudah disiapkan. Lantas disaring. Sisihkan. 
  • Haluskan ebi kering bersama terasi yang sudah dibakar matang. Tambahkan bawang merah, bawang putih, dan cabai rawit. Sisihkan. 
  • Siapkan wajan. Panaskan minyak. Tumis bumbu yang sudah dihaluskan. 
  • Setelah bumbu matang, tambahkan serai, daun jeruk, lengkuas dan cabai utuh. 
  • Tuang tomat yang sudah diblender dan disaring, tunggu sampai mendidih. Masukkan bakso kuah instan SO GOOD. 
  • Masukkan bunga kol wortel, dan seledri. Tambahkan kecap asin, garam dan kaldu jika suka. Tunggu hingga mendidih. Angkat. 
  • Sajikan selagi hangat. 
Untuk empat porsi.


Simpel banget kan? Menggunakan produk SO GOOD siap masak membuat masakan lezat menjadi lebih mudah. Kenapa sih saya kok memilih SO GOOD siap masak? 

Hasil Karya Inovasi Terbaik 
SO GOOD siap masak memiliki berbagai varian produk olahan yang bisa kita pilih sesuai dengan kebutuhan dan selera kita. Banyaknya varian SO GOOD memperlihatkan pada masyarakat tentang komitmen untuk berinovasi dalam menghasilkan produk olahan dengan cita rasa yang tinggi, enak serta mengandung protein terbaik untuk mencukupi kebutuhan gizi seimbang keluarga Indonesia. 

Kualitas Terjaga 
Proses pengolahan SO GOOD menggunakan panas hingga mencapai suhu 170 ﹾC. Tidak kurang dari 3 menit, kemudian langsung dibekukan secara cepat menggunakkan teknologi IQF untuk jaminan kesegaran, kelezatan dan nutrisi kandungan produknya. 

Enak dan kaya protein 
Ketika memilih produk makanan bagi keluarga salah satu alasannya adalah rasa yang enak dan kaya protein. SO GOOD dihasilkan dari bahan dengan kualitas terbaik dan proses berteknologi tinggi. Hal ini menjadikan olahan SO GOOD menghasilkan rasa yang maksimal serta kualitas protein yang terjaga. 

Praktis dan higienis 
So GOOD ini mudah dieksekusi oleh anak-anak sekalipun. Seandainya saya sedang tak berada di rumah sementara anak-anak kelaparan, mereka tak harus menunggu saya untuk menyediakan lauk yang lezat. Tinggal menggoreng tanpa harus ribet. 
Produk SO GOOD ini higienis. Kemasan yang menggunakan bahan terpilih dengan pengemasan yang rapih dan rapat membuat produk SO GOOD terjaga. Terbukti sejak lama saya mengkonsumsi produk tersebut tak pernah ada keluhan sama sekali terhadap anak-anak. 

Gimana? Tertarik untuk tetap nyetok SO GOOD saat lebaran? Kalau saya sih iyes. Suka yang simpel sih. 

Rabu, 06 Juni 2018

I stand with Via Vallen


Beberapa hari ini begitu ramai di dunia maya terkait dengan pemberitaan Via Vallen dan seorang pemain sepak bola asing. Bahkan dalam beberapa hari menjadi trending topic di salah satu media sosial. Di luar kontroversi yang beredar di dunia maya, saya bisa merasakan apa yang dirasakan Via Vallen ketika seseorang mengiriminya pesan yang menjurus ke pelecehan seksual. Bagi sebagian orang hal itu dianggap penyanyi dangdut yang sedang naik daun ini mencari sensasi. Ada yang menganggap ini biasa aja tak perlu dibesar-besarkan. Namun banyak juga yang bersimpati terhadapnya . Termasuk saya.

Anggaplah saya sedang alay. Namun jika belum pernah merasakan memang sulit untuk mengerti bagaimana perasaan dan posisinya. Untuk itu saya ingin bercerita pada pembaca blog saya. 

Manusia tak pernah bisa meminta diciptakan oleh Tuhan dengan fisik yang diinginkan. Semua sudah diatur oleh-Nya. Untuk mempunyai fisik yang lebih baik manusia, apalagi kaum hawa tinggal merawat ataupun memolesnya. Hanya saja manusialah yang sering tak bersyukur bahwa Tuhan telah menciptakannya dengan sebaik-baiknya bentuk hingga bagi sebagian kecil kaum perempuan yang memilih mengubahnya di meja operasi.
Tuhan juga menciptakan perempuan yang menurut pandangan ciptaan Tuhan yang lain demikian sempurna. Namun kesempurnaan yang melekat padanya itu terkadang membuatnya tak nyaman. Apalagi jika kemudian membuat lawan jenisnya berfantasi lantas berujung pada pelecehan seksual baik secara fisik maupun verbal.

Cerita seorang sahabat


Ia terlahir dengan fisik yang lebih baik dari yang lain. Tinggi semampai, mata besar namun selalu bersinar lembut. Juga bibir yang selalu mengukir senyum meski ia sedang melakukan satu hal yang serius. Sejak SD ia sering mendapatkan pelecehan dari laki-laki dewasa secara verbal. Bahkan pernah di suatu waktu hampir saja ia menjadi korban pemerkosaan dari pelatih sebuah kegiatan.

Lantas SMP dan SMA. Suitan nakal sudah sering ia dapatkan. Padahal untuk ukuran perempuan kebanyakan ia termasuk gadis yang pendiam. Meski pakaiannya tertutup rapat tetap saja tak menghentikan beberapa kaum adam untuk tak melakukan pornoaksi.
Ia sering menyalahkan dirinya sendiri. Semakin pakaiannya tertutup godaan itu semakin banyak. Bahkan sampai ia bersuami dan mempunyai anak. Tetap saja ia mendapatkan gangguan dari laki-laki, apalagi gangguan verbal.

Semua usaha untuk menghindari gangguan sudah ia lakukan. Namun tetap saja, yang namanya laki-laki dengan banyak modus datang menghampiri. Ia pun pasrah. Ternyata mempunyai wajah sempurna membuatnya tak aman.

Cerita saya


Tak pernah sekalipun terbayang di benak saya jika satu waktu saya pernah merasakan apa yang dirasakan oleh Via Vallen. Saat itu saya sudah kuliah di kota kelahiran suami saya. Ada beberapa mata kuliah yang saya ambil waktu belajarnya setelah maghrib atau Isya. Otomatis saya pun pulang dari kampus paling awal sekitar jam 20.30.

Saya sudah berjilbab saat itu. Saya tinggal di rumah sepupu saya yang berjarak 1,5 km dari kampus. Sebenarnya jalan pulang saya termasuk jalur ramai. Namun di titik-titik tertentu yang merupakan areal pemakaman terbesar di Semarang saat itu memang tak banyak penerangan sehingga suasana terlihat remang-remang.

Di tempat itulah di satu waktu saya dipepet oleh 3 pengendara sepeda motor. Depan, belakang dan samping. Mereka senyum-senyum nakal memandangi saya dari atas ke bawah. Feeling saya sudah nggak enak hingga berusaha untuk melepaskan diri. Namun agak sulit karena setiap kali saya berusaha mencari celah mereka bisa menutupnya sehingga saya pun berusaha untuk tetap stabil saat mengendarai sepeda motor.

“Mbak, ayo ikut kita. Ntar enak-enakan deh.”
Saya cuma diam berusaha tak merespon meski jantung saya sudah berdetak lebih cepat.
“Nggak usah sombong mbak. Jangan jual mahal gitu” sahut yang lain.
Saya tetap berkonsentrasi di jalan supaya bisa segera pergi dari mereka yang sudah berpikiran kotor tentang saya.
“Mau berapa sih Mbak? Aku bayar.”

Mau nangis rasanya. Marah sedih, sakit hati campur jadi satu. Tapi satu kata pun nggak bisa keluar dari mulut saya. Saya terlalu kaget saat itu. Bayangkan, saya ‘ditawar’ orang di jalan. Rasanya hina banget.

Untungnya di sebuah pertigaan, saya bisa mengambil celah meski khawatir juga jika menyerempet motor yang lain. Lega bisa lepas namun sakit hati saya tak kunjung sembuh. Sejak saat itu saya meminta suami yang ketika itu masih menjadi sahabat saya untuk mengantar jika pulang kuliah. Ia mengikuti saya dari belakang karena kami sama-sama bawa kendaraan. Kebetulan saya dan dia satu jalur pulang.

Lantas selisih setahun setelah kejadian itu ternyata saya masih mendapatkan perlakukan yang menjijikkan dari simpatisan sebuah partai besar. Saat itu  terjadi euforia kebebasan politik. Warna merah ada di mana-mana. Dan sering sekali saat kampanye menuh-menuhin jalanan.

Jaman dulu masyarakat tak bisa mengetahui jalur yang akan dilalui untuk kampanye sebelah mana saja. Begitu juga dengan saya. Saat itu baru saja pulang menemani sahabat saya yang diwisuda. Tahu-tahu simpatisan partai dari kejauhan terlihat memenuhi jalan. Mau tak mau saya pun yang bersimpangan arah dengan mereka minggir. Bahkan sampai naik ke trotoar.

Tak terduga oleh saya. tiba-tiba beberapa laki-laki dengan langkah ;lebar mendekati saya kemudian (maaf) meremas bagian belakang saya. Saya menjerit. Tapi jeritan saya tetap kalah dengan suara raungan motor dan teriakan mereka.

Perjalanan pulang menuju rumah saya lalui dengan air mata yang tak berhenti mengalir. Sampai rumah saya langsung menulis surat terbuka kepada pimpinan partai tersebut yang saya kirimkan ke media cetak. Sayangnya surat saya tak pernah ditayangkan. Namun kebencian saya pada simpatisan partai itu membuat saya sampai sekarang antipati.

Tahu nggak yang saya rasakan saat itu?

Saya merasa kotor. Saya yang belum menikah saat itu merasa sudah dijamah oleh lawan jenis saya. Benci karena saya tak bisa melindungi diri sendiri. Kecewa karena saya tak bisa bicara pada semua orang tentang hal ini. Merasa terhina, karena saya yang sudah menutup aurat pun tetap saja tak bisa menghalangi otak ngeres mereka.

Setiap perempuan mempunyai sex appeal yang menarik perhatian lawan jenisnya. Tak ada yang salah untuk hal itu. Sex appeal bisa saja muncul dari orang yang benar-benar sudah menutup rapat tubuhnya. Sayangnya, masih banyak laki-laki yang mengekspresikan ketertarikannya secara brutal sehingga banyak dari kaum kami susah untuk bisa berbicara.

Jika tubuh sudah tertutup namun masih saja lawan jenis merasakan daya tarik kaum perempuan, apakah kami masih harus dipersalahkan oleh anugerah Tuhan yang tak bisa kita pilih kepemilikannya?