Melahirkan di Tengah Pandemi - Jurnal Hati

Senin, 22 Juni 2020

Melahirkan di Tengah Pandemi


Assalamualaikum temans
Allah selalu punya cara membuat kita bersyukur. Selalu ada dua sisi yang di hadapkan Allah pada manusia. Susah dan senang, sakit dan sehat, bahagia dan kesedihan, dan masih banyak lagi dua sisi yang bertentangan namun selalu bersisian. 

Mengambil hikmah akan membuat manusia makin bersyukur atas apa yang Allah perlihatkan. Termasuk dalam memandang wabah yang sedang terjadi di seluruh dunia ini. 

Ini adalah cerita salah satu sahabat saya. Ia tak pernah tahu. Ketika kebahagiaan hendak mendapatkan anak ketiganya ternyata harus berhadapan dengan kondisi yang memprihatinkan. Ia tak pernah menyangka harus melahirkan di tengah pandemi. Dalam status ODP pula.

Ia menjalani Long Distance Marriage. Suaminya bekerja di sebuah kota di Jawa Timur. Sementara ia dan anak-anak tinggal di Yogya. Menjalani kehamilan tanpa pendampingan dari suami pun sebenarnya sudah cukup berat meski dalam kondisi normal. Apalagi di tengah merebaknya Virus Corona di dunia. Belum lagi dua anak lain yang butuh pendampingan. Tentu saja bukan hal yang mudah untuknya. 

Dari awal kehamilan ia sudah terbiasa kontrol di sebuah rumah sakit ibu dan anak di dekat rumah. Rencana melahirkan pun berada di rumah sakit tersebut. Sayangnya, pandemi datang dua bulan sebelum ia melahirkan. 

Bisa dibayangkan betapa bingungnya seorang ibu yang tinggal jauh dari suami, hendak melahirkan pula. Ia tak bisa membayangkan bagaimana nanti ketika melahirkan. Ia tinggal jauh dari keluarganya sendiri dan keluarga suami. Bagaimana dengan dua anaknya yang lain jika ia melahirkan? Apakah bisa ia menitipkan pada tetangga, setidaknya untuk empat hari karena dokter sudah memastikannya melahirkan secara sectio? Apakah tidak merepotkan secara rumah tetangganya pun tak lebih besar dari rumahnya dan kondisi di perumahan banyak yang sudah usia lanjut.

Di tengah kebingungannya ia masih mendapatkan omongan yang kurang mengenakkan dari tetangga. Pemahaman yang salah dan berlebihan mengenai covid-19 membuatnya makin stress karena dijapri tetangga. 

Akhirnya ia dan suami memilih jalan yang beresiko. Suaminya pulang ke Yogya. Resiko yang akan dihadapi adalah ia dan suami statusnya akan menjadi ODP. Tak ada pilihan lain. Menjelang hari H suaminya pun pulang ke Yogya. 

Setelah sampai di Yogya sang suami pun melapor ke kelurahan dan puskesmas terdekat. Setelah itu ia dan suami datang ke rumah sakit tempatnya berencana melahirkan. Ia pun jujur dengan kondisinya bahwa suami datang dari luar kota. Mau tak mau ia pun mendapatkan status ODP karena kedatangan suami dari zona merah.

Tak disangka di RSIA tempat ia  hendak melahirkan keberatan jika seorang pasien ODP akan melahirkan di tempat ini. Pihak rumah sakit tak memiliki bangsal untuk isolasi pasien terkait dengan covid 19. Statusnya sebagai ODP mengharuskan rumah sakit menempatkannya di kamar isolasi. Ia pun disarankan untuk melahirkan di rumah sakit rujukan covid. 

Hari itu juga ia pun dirujuk ke rumah sakit rujukan covid. Bayangannya melahirkan dengan pendampingan suami sirna sudah.

Ia pun ditempatkan di sebuah bangsal isolasi dimana tak seorangpun diperbolehkan masuk. Pintu kamarnya dikunci dari luar. Perawat yang masuk ke kamarnya pun memakai seragam APD lengkap. Hanya jam-jam tertentu perawat dan tenaga kesehatan lain masuk ke ruang perawatan. 

Serangkaian test darah dilalui, termasuk covid test. Ia harus menunggu sampai hasilnya keluar. Alhamdulillah, covid test nya negatif.

Namun ia tak langsung bisa melahirkan. Sampai lebih dari tiga hari menunggu jadwal sectio. Ada prosedur kesehatan dan administrasi yang lumayan panjang. Mau tak mau harus dilalui.

Tiga hari kemudian tindakan sectio dilakukan. Meski jika standar normal  ibu dan anak dirawat gabung, untuk pasien ODP ternyata harus terpisah. Si anak ditempatkan di ruang khusus juga terpisah dari sang ibu. Setelah hendak pulang barulah si anak bisa diambil. Ia pun tetap harus melakukan karantina mandiri 14 hari sebelum pulang ke rumah atas permintaan tetangganya.

Ia pun karantina mandiri di sebuah hotel. Untung saja suaminya bekerja di bidang perhotelan sehingga dari relasinya mendapatkan kamar dengan harga jauh dari publish rate. Ia pun bisa bernapas lega ketika karantina mandiri selesai, ia bisa berada di rumah. Meski masih ada omongan tetangga yang kurang menyenangkan.

Mengedukasi masyarakat memang tak mudah. Apalagi untuk masyarakat usia paruh baya yang lebih menyukai tulisan-tulisan hoax yang beredar melalui WA group. Padahal jika mereka mau, banyak sekali situs kesehatan yang memberikan edukasi dengan sekali klik, misalnya Halodoc.

Berbagai tips dan pengetahuan kesehatan banyak sekali dibagikan di situs Halodoc. Jika makin tertarik, bisa mengunduh aplikasinya yang sudah tersedia di playstore. Banyak fasilitas yang bisa diakses melalui aplikasi ini. Untuk konsultasi dengan dokter pun mudah sekali diakses. Jika mau membeli obat pun bisa melalui Halodoc. Zaman sekarang apapun bisa dilakukan dengan jari dan jempol kita.

Stay safe and keep healthy ya temans?
Wassalamualaikum











Tidak ada komentar: