Pendidikan Anak Remaja di Era Pandemi - irfahudaya.net | lifestyle blogger

Jumat, 08 Januari 2021

Pendidikan Anak Remaja di Era Pandemi




Assalamualaikum temans, 

Pandemi ini sudah berjalan satu tahun. Belum ada tanda-tanda pandemi ini segera pergi. Di berbagai tempat malah kondisinya makin parah. 

Di kabupaten Magelang, setelah sekian lama dikategorikan sebagai daerah merah, minggu ini sudah mulai berganti warna menjadi orange. Dari data yang ada kecamatan dengan resiko penularan sedang berada di kecamatan empat kecamatan yaitu Salaman, Borobudur, Bandongan dan Mertoyudan. Satu kecamatan sudah zero pasien covid, sementara kecamatan lainnya beresiko rendah. Agak khawatir juga pasca liburan begini. Khawatir aja ada penambahan pasien pasca liburan lalu. Harapannya sih semua orang menati protokol kesehatan sehingga bisa meminimalisir penularan. 


Meski berita tersebut termasuk menggembirakan, ada juga berita duka melingkupi keluarga besar saya. Salah satu anggota keluarga besar, seorang dokter akhirnya syahid setelah tertular dari pasien. Semoga beliau husnul khotimah.


Apa kabar dengan anak-anak di rumah? Bagaimana dengan para ibu di rumah? 

Sejujurnya saya pun sudah lelah. Menghadapi dua remaja di rumah memang tak seberat jika mendampingi pembelajaran jarak jauh pada anak usia SD. Saya harus banyak bersyukur karena anak masih relatif tertib saat pembelajaran jarak jauh. Namun banyak berkurang kualitasnya. 

Nggak bisa dipungkiri pandemi ini mengubah banyak hal, termasuk di rumah. Era new normal terjadi juga dalam keluarga. Banyak value yang bergeser dalam pendidikan dan pengasuhan anak. Contohnya, karena cuaca dingin di rumah membuat anak-anak malas mandi jika hendak pembelajaran. Biasanya bakda shalat shubuh mereka melakukan persiapan sekolah, di saat pembelajaran jarak jauh pasca shalat Shubuh pun tidur lagi. Bangun pun menjelang pembelajaran. 

Gadget yang biasanya terpegang di sore hari, saat ini terpegang tanpa jeda. Tahun lalu nggak kepikiran game online, akhir-akhir ini si Adek pun minta izin untuk main game online. Alasannya sudah menjelang 15 tahun. Sudah bisa mengontrol diri nggak main game online melulu. 

Akhirnya saya mengizinkan. Dengan catatan hanya satu game online yang dia unduh. Itu pun di HP saya. Kontrol tak hanya berada di tangannya. Namun dari saya juga sebagai orang tua. 

Marah nggak kalau tiba-tiba saya minta HPnya? Sama sekali nggak. Kadang ia minta waktu untuk menyelesaikan satu term permainan. Setelah itu akan ia serahkan. Waktu bermainnya pun menunggu saya tak menggunakan HP. Itu salah satu cara mengajarkan anak untuk bersabar dan tahu diri. 

Saya tak terlalu berharap banyak dengan nilai akademis anak-anak. Pada akhirnya ketika ia melaksanakan pendidikan di rumah, maka mengajarkan life skill merupakan hal terpenting yang bisa kita ajarkan pada anak-anak. Makna parenting di masa pandemi ini begitu terasa. Menjadi orang tua. Menjadi rumah untuk hati anak-anak. 

Untuk si Kakak sih, masalah life skill sudah auto pilot. Sudah teruji pasca saya operasi tumor payudara. Ia sudah mampu menggantikan peran saya mengurus rumah tangga. 


Sebenarnya Adek pun ya nggak gagap-gagap amat dengan pekerjaan rumah tangga. Setiap kali saya memintanya melakukan pekerjaan rumah tangga ada kalimat yang sering kali saya ulang untuk memotivasinya.

"Di luar negeri tuh bayar asisten rumah tangga mahal banget. Kalau Adek nanti sekolah di luar negeri, Adek udah terbiasa melakukan sendiri. Jadi nggak keluar biaya lebih banyak lagi."

Dan Adek pun sudah nggak pernah lagi mempertanyakan kenapa ia mesti melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh kaum perempuan. Di rumah ia sudah terbiasa menjemur pakaian seluruh anggota keluarga. Ia pun paham kapan harus mengangkat jemuran saat sudah kering atau karena mendung menggantung.




Menyapu lantai saat ART libur sudah biasa ia lakukan. Memetik sayuran saat saya meminta pertolongan pun sudah terampil. Bahkan saat saya dan Kakak puasa sunnah, ia terbiasa menyiapkan makan siang sendiri. Memang masih masakan sederhana. Paling suka ia membuat omelet telur atau nasi goreng. Terkadang saya menyetok bumbu nasi goreng siap pakai. Namun saat stok habis, Adek tahu bagaimana meracik bumbu nasi goreng. Rasanya pun lumayan. 




Selain life skill,  hikmah adanya pandemi ini saya dan anak-anak makin memahami dan kedekatan pun semakin bertambah. Kalau dulu kami mengobrol saat makan dan menjelang tidur. Sekarang kapan aja kami bisa ngobrol. Lha bosen ngikut daring aja bisa langsung nyamperin simboknya. Ngobrol random setiap hari. Makin terlihat anak-anak bertumbuh jiwa dan raganya.

Salah satu yang saya syukuri adalah Kakak dan Adek makin dekat. Saling menolong saat pembelajaran daring. Nggak pernah bertengkar. Karena sudah terbiasa berbagi, mereka nggak egois sama sekali. Kalau toh ada keributan kecil karena salah satu gabut dan mengganggu yang lainnya. 

Namun tetap ada yang membuat saya galau. Tahun ini Kakak akan lulus SMA dan Adek lulus SMP. Sama-sama mencari institusi pendidikan yang baru. Tempo hari waktu ke Semarang Kakak minta dianterin ke universitas negeri yang ada di sana. Lihat-lihat dari mobil doang. Setidaknya ia punya bayangan jika hendak kuliah di Semarang seberapa jauh jarak dari rumah eyangnya ke kampus-kampus itu. 

Si Kakak masih galau dengan jurusan yang hendak ia pilih. Meski saya memberikan arahan, tetap si Kakak yang memilih sesuai minat bakatnya. 

Sementara si Adek sudah mantap memilih jurusan IPS saat SMA nanti. Sejujurnya saya berharap ia memilih jurusan IPA untuk sekolah lanjutannya. Hanya saja saya harus legowo. Bukan saya yang sekolah. Saya memilih si Adek sekolah dengan bahagia. Tidak akan saya memaksa burung untuk bisa berenang. Takkan pernah saya meminta ikan untuk belajar terbang. Yang terpenting ia menjadi yang terbaik versi dirinya.

Semoga semuanya berjalan lancar ya temans. Mohon doanya.




























15 komentar:

Nurul Aldise mengatakan...

Setuju mba Irfa, masa PJJ gini adalah waktunya kita banyak mengajarkan life skill pada anak. Biar nggak banyak waktu terbuang sia-sia di rumah.

Mechta mengatakan...

Alhamdulillah ya mba..anak2 bisa mendapatkan life skill dari rumah, karena banyak juga daya lihat orang tua yg alih2 mengajarkan hal ini justru memanjakan anak dg berbagai alasan.. Terima aksih sharingnya mba.. semoga anak2 sukses selalu..

Angrumaoshi mengatakan...

Life skill itu memang penting ya dikenalkan sejak dini ke anak-anak kita terlepas dari gendernya mau perempuan atau laki-laki ya sama saja ya Mbak harus sama-sama bisa

nia nurdiansyah mengatakan...

Peer banget nih Mba, untuk anak pertamaku yg Menjelang remaja, krn aku melihatnya dia butuh sosialisasi dan bertemu dgn temen2 sebaya secara langsung, butuh belajar tatap muka juga supaya feel dr guru lebih sampai

Wuri Nugraeni mengatakan...

Setuju banget Mbak, aku juga sedang gunakan momen di rumah aja buat life skills arkaan, tapi ya masih menaruh baju kotor dan handuk setelah mandi, menaruh piring ke belakang setelah makan, yang masih kebutuhan dia sendiri. tapi kadang suka bantu aku nyapu dan ngepel lho, meski hasilnya ya gitu deh, maklumi aja hehehe

Momtraveler mengatakan...

Alhamdhulilah salah satu hikmahnya pandemi memang kita jd bisa ngajarin life skill ya mbak. Sekolah nadia juga dr awal gtu si ga cuma pelajaran akademis melulu tp diselingi adab dan life skill juga

Prananingrum mengatakan...

Sama mbak..aku jg dua anak daring semua dirmh mmg tidak semudah klu mrk sekolah biasa..aplg sambil momong si bocil. Lumayan menguras emosi. Mrk jg susah disuruh mandi hiks tp alhamdulilah mrk jg mau beres2 rmh, nyapu, cuci piring sdr, nyirami tanaman.ada plus minusnya lah. Smoga lekas berakhir y mb

Novia Domi mengatakan...

Semangat mbak Irfa.. selama masa pandemik ini kita sebagai orang tua harus semakin kreatif ya untuk mengajarkan anak-anak.. semoga kakak bisa masuk universitas yang di inginkan ya mbak.

Dewi Rieka mengatakan...

Iya Mbak, bisa mengerjakan pekerjaan rumah itu life skill ya anak-anak sudah mulai terbiasa nih mengerjakan tugas masing-masing untuk PJJ dan kerjaan rumah. Paling main game ini yang agak meresahkan tapi ya gimana nggak ada hiburan lagi hehe

Nimas Achsani mengatakan...

Setuju mbak, pjj bisa dijadikan moment buat asah soft skill anak2, selain buat latihan kemandirian juga percaya diri anak sih. Good kuck mbak

Yuni Bint Saniro mengatakan...

Iya lho. Di rumah juga pada ngajarin adik-adik urusan rumah. Yah, sekalian mereka belajar kan ya. Life skill juga kan itu.

bunsal mengatakan...

Menyenangkan sekali, adik dan kakak sudah terbiasa aktifitas keseharian. Plus hobi saling tolong menolong.
Semoga adik dan kakak, berjodoh dengan jurusan atau program yang diinginkan ya. Aamiin ya Allah

Uniek Kaswarganti mengatakan...

Semoga Kakak dan Adek sama-sama menemukan jodoh sekolah dan kampus yang sesuai dengan harapan ya. Senang deh kalau baca artikel yang menunjukkan kehangatan keluarga gini. Penginnya anak-anakku juga selalu ada di dekatku, ngobrol ngalor ngidul tiap hari. Tapi yasud laah.. ada pilihan dan resiko yang harus diterima. *komen karo mimbik2

Arina Mabruroh mengatakan...

MasyaAllah... Banyak hikmah di tengah pandemi, ya Mbak 🤗
Ikut seneng lihat kakak adik akur dan rajin2 😍

Di sini tuh banyak anak kecil, susah sekali buat ngurung anak di dalam rumah aja. Jadinya pasti keluar2 main sma temannya. Bikin waswas.

Meykke Santoso mengatakan...

Mumpung anak belajar di rumah, malah ini saatnya untuk bisa ngajarin life skill juga ya Mba, memang harus memanfaatkan waktu biar sama sama berguna ya Mba. Inspiratif malahan.