Cerita Adek : Ketika remaja memilih bersikap tegas - Jurnal Hati

Minggu, 09 Februari 2020

Cerita Adek : Ketika remaja memilih bersikap tegas



Sedari SD sepertinya Adek punya daya tarik untuk disukai lawan jenis. Sejak klas 5 SD ada aja anak yang mengiriminya surat atau ngajak ngobrol via Direct Message. Bahkan cerita gurunya, ketika klas 6 dulu, ada beberapa anak perempuan klas 1 sering menunggunya di masjid saat shalat Dhuhur. Hanya sekadar melihatnya keluar, anak-anak itu sudah senang. 

Allah juga memberinya anugerah bahasa tulis yang bagus. Hanya menulis pesan untuk saya pun manis banget. Marah pun lebih sering menulis pesan untuk saya. Meski terkadang saya terkaget-kaget juga dengan apa yang ia tuliskan. Namun ia mampu mengendalikan diri, tidak bersuara keras, ataupun bertindak anarkis. Itu wajib saya syukuri juga, karena dahulu pernah mengalami hambatan emosi sehingga saya harus menemui profesional untuk meminta bantuan. 

Sejak klas lima SD keingintahuan tentang rasa cinta memang besar. Mungkin melihat teman-temannya sudah mulai menggunakan emoji hati merah jambu. Bahkan ada juga yang katanya 'jadian'. Selain bertanya, ia memang banyak cerita. Buat saya itu poin penting menjalin kedekatan dengan anak laki-laki. Saya tahu siapa saja perempuan yang ia sukai dan menyukainya. Sampai ia SMP klas 8, ia tetap banyak bercerita. Ia juga membolehkan saya membuka ponselnya.

Kalau waktu SD ia mendapatkan surat atau direct message di IG dari lawan jenis, sejak awal klas 7 saya lihat WA nya tak pernah sepi dari chat lawan jenis. Modusnya macam-macam. Sampai saya hafal siapa yang benar-benar tulus berteman ataupun modus. Dari bahasa chat nya pun saya tahu siapa perempuan yang tak ia sukai, namun tetap ia balas chatnya. Sopan santun aja, katanya ketika saya tanya mengapa membalas chat orang yang tak ia sukai.


Nah, si Adek ini punya perasaan spesial pada seorang temannya. Teman SD nya yang sekarang beda SMP. Bahkan sampai klas 8 ini rasanya tak berubah. Saya tahu, keduanya punya perasaan yang sama dan kuat. Karena tak pernah sekalipun punya perasaan itu ke lawan jenis yang lain. Yang saya salut, keduanya benar-benar berusaha menahan diri. Obrolan pun hanya sekedar kegiatan sekolah dan pelajaran. Saling memuji pun tidak sama sekali. Chat nya pun hanya pendek-pendek. Terkadang hanya menyemangati saat keduanya mengikuti perlombaan. 

"Semangat ya? Do the best. Chayo Lilo"
"Ok. Thanks."


"Kamu sakit ya? Syafakallah ya?
"Makasih ya? Kamu lagi ngapain?"
"Belajar. Besok ulangan."
"Semangat belajar ya? Biar bagus nilainya."

Sependek itu. Atau jika ada percakapan panjang beberapa kali ketika ia menunggu giliran berlomba. 

Sampai minggu lalu. Si Adek terlihat gelisah. Ia menyimpan ponselnya rapat-rapat. Biasanya ia cuek aja naruh ponsel. Ini kok disimpan terus. Saat saya tanya ia mengatakan tak ada hal yang penting. Lupa naruhnya, begitu alasannya. Namun tiga hari berturut-turut ia membuat story WA hanya sebuah background warna hitam. 

Sampai kemarin. Ia meminta saya membuka ponselnya. Saya diminta melihat seluruh chatnya. Saya menemukan chat dari gadis yang ia sukai. Kemudian scrolling chat nya.

"Aku boleh tanya, Lo?"
"Apa?"
"Jan marah tapi?"
"Ok."
"Kita ini sebenernya gimana?"
"Apanya?"
Emm ... Gimana ya ngomongnya? Kita itu teman atau lebih dari sekedar teman?"

"Teman. Nggak lebih."

Dari pertanyaan sampai ia menjawab 'teman' itu selisih satu jam. Ia berpikir panjang untuk menjawab bagian tersulit ini. 

Saya tahu ini berat untuknya.  Sebenarnya ia bisa memilih untuk mengatakan perasaannya kalau dia memiliki perasaan yang indah untuk gadis itu. Saya yakin gadis itu akan menerima jika Adek mengajaknya untuk merajut hati. Namun Adek memilih untuk memprioritaskan kewajibannya sebagai seorang pelajar. Ia sudah memikirkan dengan matang sebelum mengambil keputusan.

Mungkin salah satunya karena di kelas 8 ini nilainya turun drastis. Saya sih sebenarnya memahami karena ia pengurus OSIS dan sering mengikuti berbagai kejuaraan olahraga dan pramuka. Namun ia yang tak enak hati melihat nilai-nilainya jeblok. Sehingga ia merasa hal terbaik yang bisa ia lakukan untuk mendongkrak nilainya adalah tidak melibatkan urusan hati.

Pagi ini ia bercerita saat saya mengantarnya berangkat sekolah.

"Tiga hari itu aku nggak karuan rasanya. Aku bisa menahan perasaanku. Tapi aku takut dia patah hati terus nilainya jeblok.
"Padahal Adek masih suka banget ya sama dia?"
"Iyalah ... Aku pengen sama-sama fokus sekolah. Bentar lagi klas 9, terus SMA."
"Rasanya jadi anak yang tegas gimana?" Tanya saya.
" Kalau urusan ini yo sakit nggak berdarah to, Nda."
"Adek lega udah nyampein?"
"Iya. Aku galaunya udah lama. Pengen fokus sekolah, tapi yo nggak kuat sama perasaanku."
"Harapannya Adek ke depan apa?"
"Dia nggak WA aku terus, fokus sekolah. Kasihan orang tuanya kalau dia jeblok nilainya."
"Proud of you, Dek. Bunda bangga banget kamu berani bersikap tegas."

Ia tersenyum. 
"Adek nangis pas ambil keputusan?"
"Enggak. Abis itu mataku kok pedih."

Saya tertawa. Ia juga. Masih melihat matanya kurang bercahaya. Namun saya tahu ia mampu melewati semuanya. Ia anak yang kuat hati.

Saya memang melarang anak-anak berpacaran. Namun saya tak pernah melarang anak saya menyukai atau mencintai lawan jenis sejak mereka SD. Buat saya cinta atau suka kepada lawan jenisnya itu fitrah. Semuanya anugerah Allah. Kita nggak bisa meminta untuk menyukai atau mencintai seseorang. Allah lah yang memiliki kuasa atas hal itu.

Kepada anak-anak saya selalu katakan bahwa mencintai sebelum menikah bukan berarti harus memiliki. Karena jika memiliki sering kali manusia bersikap sesukanya. Bahkan terkadang merusak atas nama cinta. 

Cinta sebenarnya itu adanya ya di pernikahan. Saya katakan kalau ingin memiliki berarti siap untuk menikah. Siap menjalani kehidupan yang sering kali tak sesuai dengan harapan. Namun diridhoi oleh Allah. 

Saya katakan pada anak-anak bahwa menahan diri itu jauh lebih baik. Itu artinya kita mampu mengontrol diri dan berpikir jernih saat melakukan sesuatu. 

Alhamdulillah, semua berjalan dengan seperti yang diinginkan baik Kakak maupun Adek. Sampai hari ini. 







12 komentar:

  1. Duh duh kok aku terharu bacanya, semangat Lilo, kalau jodoh takkan ke mana, hihi jadi ingat Isyana dan suaminya itu teman sejak SMP..

    BalasHapus
  2. Wah, jarang ya anak remaja yg mau trs terang soal cinta ma bundanya..aplg anak cowok .biasanya mrk lbh memilih k temannya.. semangat y lilo.sama mb aku jg melarang anak2 pacaran mb, suka boleh.

    BalasHapus
  3. Ya ampun,, cerita cinta masa remaja. Indah, seru, & berharga. Kenangan untuk hari tua.

    BalasHapus
  4. Ya Allah, so sweet banget sih, aku jadi membayangkan bagaimana arkaan kalau besar nanti, semoga sweet juga eaaa

    BalasHapus
  5. Masyaallah abang Lilo keren deh, berkat didikan mamanya yg juga keren. Bersikap tegas gitu susah.lho, semoga kelak nadia juga bisa tegas dan tegar kek lilo

    BalasHapus
  6. Punya anak ketika mereka sudah menginjak remaja kudu jadi sahabat mereka ya mbak.. Aku suka baca tulisannya tentang anak2 ketika remaja.

    BalasHapus
  7. Ya Allah adek, kau mencintainya dalam diam. Semoga kalian sama2 menjaga hati sampai dewasa, lalu kalian berjodoh disaat yg tepat

    BalasHapus
  8. Aku terharu banget bacanya. Masa-masa remaja kan saat merah jambu suka nyelonong menyapa.. adek bisa tegas banget. Tapi dibalik anak yang keren pasti Ada ortu yang super keren..huaa mbak Irfaa.. aku merguru yo..

    BalasHapus
  9. Sweet banget, kisah kasih masa remaja. Memang belajar adalah yang utama, fokus kesana dulu ya.

    BalasHapus
  10. MasyaAllah, keren ya Lilo. masih remaja tapi pemikirannya sudah dewasa. selalu bikin tersenyum kalo baca cerita anak-anak mb Irfa

    BalasHapus
  11. aku salut jujur sama anaknya mbaak. sudah diajarkan untuk "menerima" konsep "mencintai tidak harus memiliki". karena ada banyak orang yang gak bisa paham konsep tersebut

    BalasHapus
  12. Mba Irfa emang umi idola, gumushhh
    Alhamdulillah ya anak-anak juga mengerti dan memahami.
    Lilo malah keren ya sudah dewasa padahal masih remaja jadi ingat jaman semono eaaa

    BalasHapus

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih