5 Hal Yang Membuat Novel Romance Menjadi Buku Favorit Saya - Jurnal Hati Irfa Hudaya

Minggu, 23 Oktober 2022

5 Hal Yang Membuat Novel Romance Menjadi Buku Favorit Saya

mengapa perempuan suka novel romantis

Assalamualaikum temans, 

Dari enam karya solo saya empat di antaranya sudah terbit. Satu karya sedang dalam proses terbit. Sementara satu naskah non fiksi mangkrak di penerbit. Tiga di antaranya adalah novel biografi Islami.

Sebenarnya proses ini tidak saya sengaja. Sebelumnya karya saya berupa antologi dan mejeng di jaringan toko buku se Indonesia cukup membanggakan. Namun saat karya antologi ketiga terbit saya merasa sudah saatnya harus naik kelas. Saya bertekad untuk membuat naskah solo.

Proses Menulis Karya Solo

Qodarullah, di komunitas IIDN Jogja ada seorang penulis yang membuka bimbingan menulis gratis. Tentunya nggak mau rugi dong. Saya pun mendaftar dan menyetorkan contoh tulisan. Nah, mentor saya ini sebenarnya penulis naskah non fiksi islami. Peserta bimbingan beliau biasanya juga penulis naskah non fiksi islami. Beliau tertarik memberi mentoring ke saya karena dari tulisan saya terasa sekali fiksinya. Lalu beliau mengajak saya diskusi. Tentang genre buku yang saya sukai dan keinginan buku solo seperti apa yang saya inginkan

Jujurly saat itu saya masih galau. Melihat si Kakak yang hobi baca novel. Saya kekurangan referensi. Saya ingin memberikan bacaan sehat untuk anak saya. Lalu beliau menyarankan saya membaca sirah nabawiyah.

Saya disarankan menulis novel biografi. Akan tetapi ambil sisi romantismenya saja. Saya pun memilih profil Aisyah RA, istri Rasulullah yang usianya paling muda. Pertimbangan saya waktu itu, dengan kemudaan yang dimiliki Aisyah tentunya sejalan dengan semangat anak saya yang menginjak usia remaja.

Novel yang telah dan akan terbit

Singkat cerita novel The Beloved Aisyah terbit. Sambutan novel tersebut cukup bagus. Lantas karya saya yang lain terbit, meskipun bukan novel biografi. Sayangnya penjualan novel tersebut kurang nendang meskipun materi novel itu menurut saya layak mendapatkan apresiasi. Setelah Cherish You dan memoar saya Ya Allah Aku Rindu Ibu, kembali terbit novel biografi istri Rasulullah lagi. Kali ini saya memilih Khadijah sebagai tokoh yang saya tuliskan. Khadijah, First Love Never Dies ini di tahun 2020 menjadi nominasi lima novel islami terbaik versi Islamic Book Fair. Nggak nyangka juga bisa bareng-bareng jadi nominasi dengan penulis penulis besar seperti Kang Abik.

Tahun ini saya menulis novel biografi lagi. Kali ini salah satu dari khulafaurrosyidin. Berat banget rasanya menulis novel tersebut. Meskipun ada bumbu romance nya. Tapi tetap saja sisi maskulinitas yang lebih dikedepankan. Saya membaca tak kurang dari 10 buku yang jadi referensi saya dalam menulis. Tiga bulan proses kepenulisan ditambah sebulan revisi itu sungguh melelahkan.

Apakah setelah menuliskan novel bertema sejarah lantas membuat saya jatuh cinta pada buku sejenis?

Ternyata enggak juga. Pilihan buku favorit saya tetap jatuh pada genre romance. Ada beberapa hal yang membuat saya menyukai novel romance :
1. Cerita yang mengaduk emosi
Hampir semua novel romance memberikan gelombang emosi di hati pembaca. Ada bahagia, sedih, kecewa, marah, dan terharu bercampur jadi satu. Membuat pembaca gemes dengan alurnya.
2. Bahasanya ringan dan mudah dicerna
Novel romance tak membuat pembaca kening berkerut karena pilihan diksi yang simpel dan manis. Meski ada bahasa yang bermajas metafora, namun tak membuat pembaca mikir terlalu dalam. Cukup mengikuti yang tertulis di novel tersebut.
3. Karakter di novel romance lebih realistis meski kadang terlihat begitu sempurna.
Banyak novel yang memiliki karakter hitam dan putih. Protagonis dan antagonis. Namun tak jarang juga novel romance yang memperlihatkan sisi abu-abu di setiap karakternya. Hal itu banyak kita temukan di real life sehingga terasa lebih dekat dengan pembaca.
4. Adegan-adegannya manis sering kali menghanyutkan pembaca.
Saya paling tersentuh saat membaca adegan romantis tanpa skinship. Tidak mudah bagi penulis menuliskan adegan seperti itu. Diksinya pasti jempolan jika penulis mampu menuliskan adegan tersebut
5. Pesan moral yang diselipkan tidak menggurui dan terasa ringan.
Pesan moral dalam novel romance terselip dalam adegan atau dialog. Bagi pembaca itu lebih berpengaruh dibandingkan ayat kitab suci maupun motivasi dari motivator paling hebat manapun.

Kalau kalian gimana?

Tidak ada komentar:

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih