Di Ujung Kepasrahan - Jurnal Hati

Rabu, 22 April 2020

Di Ujung Kepasrahan

Cr : Pixabay


Aku menikah dengan Mas Krisna di usia yang ke-23. Pernikahan ini sebelumnya mendapat tentangan keras dari keluarga Mas Krisna. Aku berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Namun Mas Krisna memperjuangkanku meski sebenarnya aku hendak menyerah. 

Sepuluh tahun pertama pernikahan kami memang terasa begitu berat. Perbedaan ‘kasta’ yang begitu jauh menjadikan kerikil kerikil pernikahan kami semakin membanyak. Statusku sebagai dosen di universitas swasta ternama dan bersiap menempuh pendidikan S-3 tak banyak mengubah pandangan keluarga Mas Krisna terhadapku. Aku tetap saja seorang anak pesuruh SD yang hidup di kampung dengan rumah yang berdekatan dengan kandang sapi. Sementara keluarga Mas Krisna dengan segala gelar keningratannya tak pernah sedikit pun menurunkan standar menantu yang harus dilihat dari bobot bibit dan bebetnya. 

“Sejujurnya aku capek, Mas. Semua yang kulakukan untuk membuat keluarga Mas bangga tak berarti banyak.” 

Setiap kali aku mengeluhkan hal itu Mas Krisna hanya tersenyum dan memelukku. 

“Tambah lagi sabarnya, ya? Bagaimanapun juga mereka keluargaku. Aku sudah berjuang bersamamu selama sepuluh tahun ini. Kamu nggak akan menyerah to, Dik?” 

Selalu saja kata-kata Mas Krisna membuatku meleleh. Laki-laki yang katanya jatuh cinta pada pandangan pertama ketika berpapasan di lorong kampus. Dosen muda yang berani menghadap Bapak setelah aku wisuda. Aku hanya bisa terbengong tak percaya melihat dosen yang banyak digilai teman-teman kampus itu duduk di depan Bapak. Meminta ijin untuk menikahiku. 

Mas Krisna yang lembut dan penyayang. Ia benar-benar membuatku merasa dicintai. Kadang aku merasa tak bisa mengimbangi seluruh kebaikannya. Aku masih merasa sangat kurang membalas cintanya. Baktiku padanya belum seberapa. Bahkan sampai sekarang, di usia pernikahan kami yang ke tiga belas belum juga diberikan momongan, sikapnya terhadapku masih sama seperti saat awal pernikahan dulu. 

Pernikahan kami nyaris sempurna. Nyaris. Buah hati yang tak kunjung datang membuat lobang kecil dalam keluarga kami. Rindunya kami akan tangisan bayi. Betapa kami mendambakan bergantian bangun di tengah malam untuk meninabobokan ciptaan Allah yang paling sempurna. Inginnya kami direpotkan oleh banyaknya popok bayi yang basah dan kotor untuk dicuci. Begitu besar harap kami untuk bisa menimang anak yang mungkin saja akan menjadi imam shalat di kala kami sudah menjadi benda mati yang harus menyatu dengan tanah. 

Kami, terutama aku sungguh terluka dengan kalimat-kalimat yang diucapkan keluarga Mas Krisna tentang kehadiran anak di dalam keluarga kami. Mereka tak pernah tahu ketika bahasan itu mulai dibicarakan, pelan-pelan aku menyingkir sambil menyusutkan air mata. Apalagi jika Ibu secara langsung berbicara pada Mas Krisna tentang hal itu. 

“Kris, mbok kamu tuh bilang sama istrimu nggak usah ngoyo-ngoyo kerja. Perempuan punya kedudukan tinggi dalam kerjaannya juga buat apa kalau nggak bisa kasih anak sama suami? Yang lain saja sudah ndrindil sampai tiga, sementara bojomu sepuluh tahun lebih kok badannya masih kayak papan.” 
“Kami tetap berusaha, Bu.” 

Suara Mas Krisna tetap saja tenang tanpa riak yang berarti. Sementara aku sudah ingin menjerit melepaskan sakit yang semakin menyesakkan dada. 

“Usaha? Seprono seprene usaha kok ra ono hasil e. Orang jualan saja kalau berusaha tetap punya laba meski sedikit. Lha bojomu?” 
“Mungkin saya yang salah, Bu. Saya juga penelitian kemana-mana. Jadi sering capek.” 
“Lho ... kok malah nyalahke awakmu dewe? Kalau kamu itu ming urun. Bojomu yang harusnya nggak banyak kegiatan supaya subur rahimnya. Ojo-ojo bojomu ki gabuk?” 

Ya Allah ... nyeri ini semakin menjadi. Mertuaku juga seorang perempuan. Bagaimana mungkin beliau tega menyamakanku dengan padi yang tak berisi bulirnya? 

“Ibu, nyuwun pangapunten. Kami sama-sama sehat. Ini hanya masalah waktu.” 

Suara Mas Krisna mulai terdengar bergetar. Aku memahami getar suaranya. Antara rasa bersalah dan getir dengan kenyataan yang ada. Bersalah karena Mas Krisna telah berbohong tentang kesehatan kami berdua. Getir karena sulitnya ia untuk mengatakan apa yang terjadi. 

Aku pun perlahan melangkah ke belakang rumah. Satu tempat teraman buatku saat ini. Untuk menuntaskan segala tangis. Supaya saat kembali ke dalam rumah aku masih bisa tersenyum. Senyum di atas perihnya luka di hati. 

Pelukan ringan menarik tubuhku. Aku hafal kehangatannya. Saat aku menoleh ke arahnya, ia tersenyum menenangkan. Salah satu tangannya yang bebas mengusap lembut pipiku. Untuk mengusir air mataku. 

“Dik Ning yang sabar ya? Insya Allah balasannya surga,” bisiknya. 

Aku sedang berada dalam pelukan surga duniaku. Harapku bisa menepis sedikit letihku saat ini. 

*** 

Aku dan Mas Krisna bergenggaman tangan ketika dokter Arya, dokter yang menjadi tempat konsultasi membuka hasil tes kesehatan kami. Sudah yang ketiga kali kami melakukan serangkaian konsultasi untuk menghadirkan sang buah hati. Kami tak pernah menyangka. Sepertinya tubuh kami sehat-sehat saja. Namun prasangka baik kami ternyata salah. Masalah ada dalam diri kami berdua. 

Aku mengalami perlengketan salah satu kantung indung telur sehingga harus menjalani hidrotubasi untuk memperlancar jalannya indung telur. Sementara Mas Krisna sendiri pun ada masalah. Jika jumlah sel sperma normal untuk membuahi sel telur adalah 15 juta sel sperma. Mas Krisna hanya memiliki dibawah 10 juta sel sperma. 

Selain terapi, kami harus bisa menjalani hidup lebih sehat lagi. Mas Krisna pun harus berhenti merokok supaya memperbanyak jumlah sel sperma. Sementara aku harus menjalani serangkaian pengobatan. 

Jangan menanyakan rasanya ketika kantung indung telur ditiup. Tappp .... rasanya perut ini seperti ditembak alat sampai ke tenggorokan sehingga mual yang hebat langsung menyapa. Seandainya ini bukan salah satu ikhtiar kami untuk mendapatkan buah hati, aku takkan mau melakukannya. 

“Ini semua untuk kamu, calon anakku,” kataku dalam hati. Perlahan mataku pun memburam. Terasa hangat di dada saat menyapa seseorang yang masih Allah pegang ruh nya. Ia belum datang. Namun cinta untuknya sudah meluap tanpa terbendung lagi. 

Usaha apapun sudah kami tempuh. Sampai yang paling tak nyaman pun aku jalani. Kadang letih mendera kami membujuk untuk berputus asa. Lelah jiwa dan raga memaksa kami untuk menyerah. Saat semangat dan kekuatan hampir di titik nadhir, Allah selalu memperlihatkan kuasa-Nya. Ia menunjukkan betapa manusia hanya boleh berpasrah, namun tetap berikhtiar. Ayat-ayat yang terlantun dan tertulis jelas dalam kitab-Nya pelan-pelan memberikan embusan ketenangan yang membuat kami ingat bahwa kami mempunyai-Nya. 

“Jangan menyerah ya, Dik Ning?” 
Sering sekali kalimat itu menyapa telinga saat bahuku merosot melihat tespack hanya bergaris satu. Kadang kala pelukan hangat menyertai kalimat itu saat aku kedatangan tamu bulanan. Allah memang menciptakan laki-laki ini untuk menenteramkan. 

“Mas nggak kecewa?” 
Ia menggeleng. 
“Allah pasti punya maksud mengapa kita tak segera direpotkan oleh makhluk mungil yang kita impikan sejak berpuluh tahun lalu. Mungkin supaya kita lebih solid. Supaya kita lebih lama berduaan. Apalagi kita menikah tak melalui pacaran.” 
“Mengapa Mas Krisna menginginkan aku menjadi istri Mas? Kenal dekat pun tidak. Status sosial begitu jauh. Kok bisa Mas Krisna memperjuangkan aku saat itu?” 
“Ah ... Dik Ning ini ... Telinga perempuan memang selalu ingin penegasan berulang-ulang ya?” 

Aku tertawa. Sebenarnya aku pun sudah tahu jawabannya. 

“Aku hanya takut Mas.” 
“Takut apa?” 
“Manusia itu kan kekuatannya naik turun. Tak terkecuali kita. Masalah kita lebih berlipat dibanding orang lain yang sama-sama merindukan datangnya buah hati. Keluarga Mas, terutama Ibu sama sekali tak menyukaiku. Aku takut, jika suatu saat Ibu meminta bakti Mas yang membuat kita terluka. Kira-kira Mas akan sendiko dawuh dengan permintaan Ibu tidak?” 
“Maksudmu apa, Dik Ning?” 
“Jika ... Ibu meminta Mas Krisna meninggalkanku ...” 
“Tak ada yang bisa memisahkan kita, Dik. Aku sudah memilihmu. Kamu istri shalihah. Takkan mungkin aku menemukan perempuan yang baktinya melebihimu.” 
“Mas Krisna berlebihan.” 

Saya tersipu. Meski telah menikah berpuluh tahun pun telinga wanita masih membutuhkan rayuan yang melenakan. 

“Anggap saja aku berlebihan. Namun bukankah kamu tahu mengapa aku berani memintamu pada Bapak setelah wisuda saat itu? Karena kamu satu-satunya mahasiswi tak berjilbab saat itu yang berusaha shalat tepat waktu.” 

Allahku, boleh kan aku tersanjung hari ini? 

*** 


Ibu memanggil Mas Krisna untuk datang hari ini. Tiba-tiba seperti ada alarm yang menyala dalam hati. Berkedip-kedip memberikan pertanda. Ada yang tak biasa mengapa Mas Krisna sowan Ibu tanpa bersamaku. 

Ada yang berbeda di wajah Mas Krisna. Biasanya wajah itu selalu menampakkan ketenangan yang juara. Namun saat ini aku melihat keruh di wajah imamku. Aku tak banyak bertanya. Aku tak ingin memberikan lebih banyak beban di hatinya. 

Ia memandang wajahku lama. Saat aku mengangkat wajah setelah mencium punggung tangan aku melihat lapisan kaca bening di matanya. 

Buru-buru Mas Krisna masuk ke dalam mobil, kemudian jalan tanpa menoleh ke arahku. Namun sekilas aku menangkap punggung tangan yang mengusap matanya. Semakin hatiku bertanya-tanya. 

“Semoga bukan hal yang buruk,” bisikku pada diriku sendiri. 

Hampir tiga jam Mas Krisna di rumah Ibu. Selama itu pulalah aku tak bisa tenang ketika berada di rumah. Aku mencoba memeriksa tugas-tugas mahasiswaku. Sampai selesai pekerjaanku, Mas Krisna belum mengabariku apapun. 

Aku tak tahu kapan Mas Krisna pulang. Bangun pagi menjelang Shubuh Mas Krisna sudah terbaring di sisiku tanpa berganti pakaian. Aku menyiapkan sarapan setelah shalat Shubuh. Mas Krisna belum pulang dari masjid. secangkir kopi dan setangkup sandwich isi telur kesukaan Mas Krisna sudah aku siapkan. Sementara untukku sendiri cukup dengan air jeruk nipis beserta buah naga yang kemarin kubeli agak banyak untuk sarapanku. 

Setelah mandi dan sedikit berdandan aku keluar kamar. Mas Krisna sudah menungguku di meja makan. Aku melihat kegelisahan di matanya. Wajahnya pun masih sekeruh kemarin. Pasti ada hal berat yang ia pikirkan. 

“Mas berangkat jam berapa?” 
“Aku ngajar siang. Tetapi jam sembilan aku janjian dengan mahasiswa mau konsul skripsi.” 
“Berarti aku berangkat duluan ya?” 
“Aku antar?” 
“Tak usah. Ntar malah Mas yang terburu-buru.” 
“Aku pengen nganter kamu.” 

Aku mendongak. Suara Mas Krisna yang terdengar bergetar membuat menghentikan makan pagiku. 

“Mas ingin bicara sekarang?” 
Sejenak Mas Krisna memandangku kemudian mengalihkan tatapannya. Nafasnya terdengar berat. 

“Apa yang diminta Ibu, Mas? Tak bisakah Mas meluluskan permintaan Ibu?” 
Aku tak bisa lagi menahan rasa keingintahuanku. Kembali Mas Krisna menarik napas panjang. 

“Siapkah kamu mendengarnya, Dik Ning?” 
Jantungku berdentam-dentam. Seperti tentara hendak berperang. Aku mengangguk. Meski sebelah hatiku meragu. 

“Ibu ingin aku menikah lagi.” 
Suara Mas Krisna begitu pelan. Namun bagiku seperti hendak memecah gendang telingaku. Bahuku merosot. Tanganku pun terkulai di meja. 

“Ibu ingin ada penerus di keluarga. Seorang anak dari darahku. Kalau kamu belum bisa sampai selama ini, bagi Ibu ini bisa menjadi solusi.” 
“Kenapa hanya aku yang disalahkan jika kita belum punya anak? Mengapa Mas tak bicara kalau Mas juga bermasalah?” 

Aku mulai meninggikan suaraku. Bukan lagi meninggi. Aku berteriak. 

“Sudah, Dik Ning. Semalam sudah aku katakan ke Ibu. Namun Ibu tetap saja memintaku seperti itu.” 
“Dan Mas mau?” 

Mas Krisna terdiam. Melihat ekspresi wajahnya rasanya aku tak percaya. Aku tahu jawabannya. 

“Mas mau, kan?” 
“Aku sudah menolaknya, Dik.” 
“Tapi Ibu tetap memaksa, dan Mas nggak bisa menolak lagi karena Mas ingin berbakti kepada Ibu. Mas merasa bersalah telah memperistriku yang tak bisa memberi Mas keturunan sampai selama ini. Begitu kan?” 

Aku seperti tak mengenali diriku sendiri. Tangisku, teriakanku. Sama sekali bukan aku. 

“Dik Ning ...” 
“Silakan bertindak sesuka Mas. Aku hanya perempuan rendahan yang diangkat derajatnya oleh keluarga Pulunggono yang berdarah biru. Tak sama seperti darahku.” 

Dengan kasar aku beranjak dan masuk ke dalam kamar. Mas Krisna menyusulku, namun dengan sigap aku lebih dulu keluar. Mas Krisna terus memanggilku. Tanpa menoleh lagi aku keluar dari rumah. Saat seorang tukang ojek melintas, tanpa babibu aku mencegatnya dan langsung naik ke atas motor. Aku meminta tukang ojek menuju satu tempat. Namun bukan ke arah kampus. 

Dua jam kemudian aku berada di tempat ini. Di bawah rindangnya pohon kamboja aku bersimpuh. Sudah dua tahun berlalu ia yang sangat aku kasihi terbujur kaku di dalam sana. Meninggalkan orang-orang yang mencintainya. 

Matahari makin tinggi menyadarkanku bahwa bukan hanya tempat ini yang ingin aku datangi. Setelah kembali melantunkan doa aku pun beranjak. Dengan gontai aku berjalan menyusuri jalan yang tak beraspal. Langkah kakiku menuntunku ke sebuah rumah sederhana dengan kebun kecil di belakang rumah. 

Duduk di lincak belakang rumah membuatku memutar kenangan. Meski hidup di kampung dengan segala bentuk keprihatinan yang kualami bersama Bapak, Emak dan Nanik adikku tak menghalangi kami untuk berbahagia. Tak ada kesulitan untuk terbahak bersama. Apalagi dengan makan sego megono bersama dalam sebuah tampah kecil yang disiapkan oleh Emak. Saat itu rasanya aku berada dalam surga. 

“Lho ... Nduk? Kapan datang?” 
Sapaan laki-laki setengah baya yang memanggul pacul itu membuatku menoleh. Dengan memaksakan bibirku tersenyum aku pun menyambutnya. Saat mencium tangannya tak terasa air mataku menetes. Aku tak sanggup berkata-kata lagi. 

“Kok nggak bilang-bilang kalau mau pulang to, Nduk? Untung lho Bapak tadi masak lodeh pakai tempe bosok. Kesenenganmu toh? Sebentar yo, Bapak tak beli lauk di warung.” 
“Nggak usah, Pak. Lodeh sama tempe garit sudah cukup kok Pak.” 
“Yo wis. Bapak tak mandi dulu terus ke langgar. Kamu gawe teh dewe ya?” 

Kembali air mataku menetes. Aku merindukan laki-laki itu mendekapku. Sekarang. 

*** 



Bapak menghela napas saat aku selesai bercerita. Wajahnya tetap setenang dahulu. Tak pernah sekalipun Bapak menampakkan rasa tak suka, ataupun panik menghadapi hal-hal buruk. Betapa pintarnya Bapak mengontrol segala emosinya. Sabarnya laki-laki yang menjadi cinta pertamaku ini membuatku selalu datang padanya setiap kali punya masalah. 

“Bapak hanya akan mendengar ceritamu. Kamu bukan hak Bapak lagi. Kamu sudah jadi hak suamimu. Kalau Bapak memberi saran macam-macam itu hanya akan menambah riuh persoalan. Bicarakan dengan kepala dingin dengan suamimu. Hatimu masih panas. Mau selembut apapun suamimu bicara nggak mempan masuk ke hatimu. Wis nanti bakda Ashar Bapak antar ke terminal. Biar nggak kemalaman di jalan.” 

“Nuning mau menginap di sini saja, Pak,” tolakku. 
” Jangan. Suamimu pasti khawatir.” 
“Tapi aku nggak mau ketemu dia dulu, Pak,” rajukku seperti anak kecil. 
Rasah koyo cah cilik! Bapak akan antar kamu sampai ke dalam rumah kalian. Wis, rasah mbantah maneh!”

Aku tak jadi bersuara meski mulutku sudah membuka hendak berbicara. Kalau ketegasan Bapak sudah keluar, tak ada yang bisa melunakkannya lagi. 

Sehabis Ashar aku dan Bapak sudah berada dalam bis yang akan mengantarku pulang. Meski enggan menggantung di hati. Meski marah masih saja menyelimuti. Namun aku tetap harus pulang. 

“Jangan diulangi lagi yo Nduk? Pantang bagi perempuan pergi dari rumah tanpa ijin suaminya. Emakmu, meski marahnya seperti apa sama Bapakmu ini, tak pernah sekalipun pergi dari rumah. Ia memilih bersama kita daripada menuruti segala amarahnya. Baktinya pada Bapak tak pernah bisa dilupakan.” 

Mata Bapak meredup saat berbicara tentang Emak. Ya ... aku tahu. Cinta Bapak dan Emak memang sedemikian kuat sehingga ketika salah satu pergi, yang lainnya tak membutuhkan pasangan baru untuk menemani. 

Aku dan Bapak bercerita tentang Emak. Kadang menertawakan kekonyolan yang terjadi pada Emak. Kadang kala mata kami berkaca-kaca. Tak terasa dua jam berlalu cukup cepat sehingga saat maghrib datang kami sudah tiba di terminal kotaku. Kami pun langsung menuju mushola, lantas naik taksi online menuju rumah. 

Mas Krisna sudah di rumah. Kubiarkan ia bercakap dengan Bapak. Biarlah mereka bicara antar laki-laki. Lebih baik aku menghindar darinya. Hatiku masih sakit mengetahui ia tak punya kekuatan lagi untuk berada di pihakku. 

Aku letih. Sungguh. Mungkin ini adalah akhir dari perjuanganku. Mempertahankan pernikahan di usia yang ke-13. Ataukah takdir hanya membatasi kami bersama sampai angka 13? 

Dalam kelelahanku ini membuatku semakin sering menangis dalam sujudku. Terisak di sajadah dalam sepertiga malam. Meminta akan untuk satu hal terbaik yang bisa aku lakukan. Godaan untuk berpisah dari suamiku begitu kuat membujuk. Keinginan untuk tak lagi bertahan semakin lama semakin menguat. Apakah ini jawaban dari semua tangisku, Ya Allah? 

Hubunganku dengan Mas Krisna semakin mendingin. Kami tak lagi tidur sekamar. Bertegur sapa pun rasanya enggan. Namun aku masih tetap menyiapkan sarapan atau makan malam untuknya. Meski hanya sekali dua kali kami makan bersama. 

Dua minggu aku banyak berdialog dengan tuhanku. Tak ada petunjuk apapun. Tak ada kecondongan dari pilihan terus bersama suamiku atau berhenti bersamanya. Namun di sebuah bakda maghrib itu aku memberanikan diri menemuinya di ruang kerja. 

Kami duduk berhadapan. Matanya seredup mataku. Tarikan napasnya seberat tarikan napasku. Kami sama-sama melalui hari-hari yang lebih berat belakangan ini. Namun aku mencoba untuk memilih meski rasanya Allah belum memberikan petunjuk apapun. 

Lidahku kelu. Aku masih ragu. Apakah yang akan aku bicarakan ini menjadi keputusan paling tepat untuk kami? 

“Aku ingin bahagia, Mas,” ucapku pelan memulai pembicaraan. 
“Aku juga.” 
“Kalau kita bersama ternyata tak bisa membahagiakan semua pihak. Ada yang kecewa karena tak ada seorang pun yang bisa meneruskan trah Pulunggono darimu. Bolehkah ... aku pergi Mas?” suaraku makin pelan dan terbata. 
“Maksudmu?” 

Aku menangkap kepanikan dari suara Mas Krisna. 

“Mungkin ... takdir kita sampai di sini. Maafkan aku.” 
Mas Krisna terdiam. Menunduk. Saat ia mendongak, air mata sudah membasahi wajahnya. 

“Kalau itu bisa membahagiakanmu ...” 

Tiba-tiba saja melihat wajah Mas Krisna yang penuh air mata hatiku terasa hangat. Ia masih mencintaiku. Ia tetap mencintaiku. Ia juga seletih aku. Betapa egoisnya aku. Aku hanya melihat persoalan ini dari kaca mataku. Aku tak berjalan menggunakan sepatunya. 

Aku menghambur dalam peluknya. Erat. Saling membagi beban yang selama dua minggu ini kami tanggung sendirian. Aku akan mendampinginya. Apapun yang terjadi. Meskipun nanti ada perempuan lain di antara kami. Aku akan mengikhlaskannya. 

Seminggu kemudian Mas Krisna sudah rapi dengan batik terbaiknya. Aku yang membelikan batik tulis terbaik untuk acara pentingnya. Entahlah. Ia merasa penting atau tidak. Setidaknya Ibu terlihat gembira saat Mas Krisna mengiyakan untuk berkenalan dengan seorang perempuan yang bersedia menjadi istri keduanya. 

Aku mengantar sampai rumah Ibu. Sikap Ibu padaku masih sama. Namun pandangan matanya tak sesinis biasanya. Saat semuanya bersiap pergi, Mbak Ratih, istri Mas Dana, kakak Mas Krisna menepuk pundakku. 

“Maafkan keluarga kami, ya Dik Ning? Kalau Ibu sudah berkehendak, tak ada lagi yang bisa membantahnya. Bahkan jika seandainya arwah Romo bangkit dan melarangnya, aku yakin Ibu akan tetap menabrak larangan itu,” gurau Mbak Ratih. 

Aku tersenyum. Dan senyumku terus mengembang sampai mereka pergi menuju rumah seorang perempuan yang akan menjadi maduku. Setelah rumah Ibu sepi, aku kembali ke rumah. 

Aku berdzikir. Aku memohon pada Allah untuk memberiku keikhlasan yang tak berbatas. Kalau memang ini menjadi jalan kami, aku ingin semuanya berjalan baik-baik saja. 

Belum juga aku beranjak dari sajadah yang aku hamparkan, tiba-tiba saja aku mendengar suara Mas Krisna. 

“Dik Ning ... Dik Ning ...” 

Benar itu suara Mas Krisna. Aku heran. Kok cepat sekali acara itu berlangsung? Aku bangkit dan membukakan pintu untuknya. Belum juga pintu semua terbuka ia sudah menerobos masuk. 

“Mas?” 
Sekali angkat, aku sudah berada dalam gendongannya. Masih dengan mukena menempel di badan ia membawaku ke kamar dan pelan-pelan mendudukkanku di ranjang. Ia menggenggam tanganku erat. 

“Bagaimana acaranya, Mas?” 
“Nggak akan ada pernikahan kedua ataupun seterusnya. Jika nantinya Allah menakdirkan tak satupun keturunan lahir dari pernikahan ini bagiku tak masalah. Kita akan tua sama-sama. Sepakat, Dik Ning?” 
“Ibu bagaimana?” 
“Beliau tetap ibuku meskipun aku akan dibuang dari keluarga sekalipun. Aku tak bisa menjalani syarat-syarat yang diajukan jika aku menikahi perempuan itu.” 
“Lalu?” 
“Kita akan hidup tanpa beban. Takkan lagi konsultasi kesana kemari. Aku sudah pasrah. Aku ingin menikmati hidup tanpa ada tuntutan apapun. Bagaimana Dik? Setuju?” 

Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Kami hanya bertukar tangis. Tak ada keinginan untuk menghentikan. Yakinku ini adalah jawaban dari segala doaku. 

Setelah hari itu, kami lebih berbahagia. Lebih banyak menyisihkan waktu untuk pergi berdua. Sebulan bisa dua kali kami staycation di sebuah hotel. Pokoknya bulan madu setiap saat. 

Kami sudah sampai pada ujung kepasrahan. Tak ada lagi ikhtiar yang membuat kami terbeban untuk segera menuai hasil. Kami jalani kehidupan ini dengan kebahagiaan yang berlipat. Meski sesekali kerinduan pada tangis bayi tetap saja muncul. Namun kami realistis bahwa masalah itu ada pada kami berdua. Kami takkan lagi mendesak Allah untuk memberikan anugerah-Nya. Kami yakin bahwa Allah memberikan apa yang terbaik sesuai versi-Nya. 

Saat pasrah menjadi kata favorit kami. Ketika tak lagi memaksa Allah untuk memberikan buah hati untuk kami. Allah memberikan hadiah yang tak ternilai dalam usia pernikahan kami yang ke 14. Sebuah testpack ber-strip dua. 

*** 

Menatap parasnya membuatku makin bersyukur bahwa Allah selalu memberikan kebahagiaan diantara sejumlah ujian yang tak segera mendapat jawaban. Menimangnya menjadikanku makin percaya bahwa di antara air mata yang deras menetes Allah menghadirkan senyum untuk menghapus jutaan titik air mata yang sudah jatuh. Dan kehadirannya membawakan surga dunia di dalam keluarga kami. 

Selamat datang Krisnamurti junior. 

--- 
Selesai


ndrindil :  berurutan 
bojo : suami/istri 
seprono seprene : selama ini 
nyalahke awakmu dewe :menyalahkan diri sendiri 
mung urun : hanya menyumbang 
gabuk : arti harfiah : gabah tanpa isi. Secara istilah Jawa berarti mandul 
nyuwun pangapunten : mohon maaf 
sendiko dawuh : patuh pada keinginan 
sowan : mendatangi 
lincak : kursi panjang yang terbuat dari bambu 
Yo wis :  ya sudah 
langgar : mushalla 
gawe teh dewe : membuat teh sendiri 
Ojo koyo cah cilik : Jangan seperti anak kecil 
Wis, rasah mbantah meneh! : Sudah, tidak usah membantah lagi! 
Staycation : Istilah traveling untuk menginap di hotel

10 komentar:

Archa Bella mengatakan...

Aaaaakkk....juaraaaaakkkkkkkk....speechlesssss

Yuliad mengatakan...

Walah, keren banget mbak cerpennya. Apa sih tipsnya?

Mechta mengatakan...

Mbaaa...aku berurai air mata membacanya. Terima kasih sdh menuliskan kisah indah ini. Meski berbeda pola, kulihat ada benang yg familiar dg pola rajutan-NYA untukku..haha..

Wuri Nugraeni mengatakan...

Seperti biasa, sukses bikin mendayu-dayu, mellow, ah pokoknya gitulah mak ir

Unknown mengatakan...

Great 👍

Wahyu Widyaningrum mengatakan...

Aku nangis baca komen di ibu mertua. Untung endingnya hepi. Kalo nggak makin melelehkan dakuw...

Andri mugu mengatakan...

Andai dibuat ftvnya pasti seruuu. Seolah2 sedang menonton film pendek romantis

Hidayah Sulistyowati mengatakan...

Aku sih iyes dengan cerita karya mba Irfa ini, cakeeeep
Meski endingnya udah ketebak, tapi asik cara bertuturnya

Dani Ristyawati mengatakan...

Huaaa sedih dan melu mewek bacanya...juarak...

Dewi Rieka mengatakan...

Benar banget,kuncinya ikhlas dan pasrah ya...terharu..