Empat Tahun Komunitas Gandjel Rel : Bekerjasama dengan hati - Jurnal Hati

Selasa, 05 Maret 2019

Empat Tahun Komunitas Gandjel Rel : Bekerjasama dengan hati



Assalamualaikum temans, 

Komunitas Gandjel Rel sudah berusia empat tahun. Memang, kalau diukur dari perkembangan usia anak, komunitas ini masih balita. Namun untuk ukuran sebuah komunitas dan sampai sekarang masih eksis, perlulah diacungi empat jempol. Apalagi anggota aktif pun semakin banyak. 

Komunitas blogger yang beranggotakan para ibu dan calon ibu ini awal mulanya didirikan oleh beberapa blogger yang tinggal di Semarang, Uniek Kaswarganti, Dewi Rieka, Rahmi Aziza, Wuri Nugraeni, dan si embak kantoran Lestarie pada 22 Februari 2015 ini anggotanya tak hanya mereka yang tinggal di kota Semarang. Namun beberapa anggota tinggal di luar Semarang seperti Pekalongan, Demak, Kudus, dan juga Temanggung. Eh... Magelang juga ada hehehe... 

Nah, 23 Februari 2019, Komunitas Gandjel Rel merayakan selebrasi usia empat tahunnya. Waktu diinfoin tentang acara ini dalam hati saya sudah niat banget mau ikutan. Tiga kali acara perayaan ultah Gandjel Rel saya nggak bisa ikut. Kebetulan pas ada kepentingan juga ketemu sama bumer. Jadilah saya berangkat dari Muntilan selesai shalat Subuh. Supaya bisa ngejar waktu, si Kakak pun saya minta anter ke Magelang. dari terminal Magelang saya naik bis trayek Purwokerto – Semarang. Turunnya di pintu tol Gayam. Suami sudah stand by di sana. 

Rencana sih mau berangkat gasik biar bisa ngobrol lamaan. Qodarullah bumer lagi butuh banyak waktu sama menantunya. Ya wis, dari rumah mertua pun saya berangkat diantar suami di RM Pringsewu yang berada di kawasan Kota Lama. Sudah banyak banget anggota Gandjel Rel yang datang. Rencana buat foto-foto pun buyar sudah. Malah kelupaan, keasyikan mengikuti acara yang penuh hadiah dan buah tangan. 

Acara dibuka oleh si MC yang humoris, Mbak Hartari. Mbak Hartari ini casingnya serius. Nggak tahunya kalau ngebawain acara bikin suasana jadi cair, seru dan penuh tawa. Acara semakin seru saat Agus Mulyadi, pimpinan redaksi Mojok.co ini sharing mengenai tips menulis “Menulis Sekitarmu Sebisamu.” 

Untuk membuat sebuah tulisan yang menarik, ide tulisan itu bisa berasal dari mana saja. Berada di jalan, membaca tulisan orang lain, serta kegelisahan dari diri pribadi pun bisa menjadi ide menarik yang mungkin tak terpikirkan oleh orang lain. 

Salah satu alasan seseorang membaca tulisan seorang penulis adalah karena kepiawaian memilih diksi. Setiap penulis mempunyai kemampuan memilih diksi sesuai dengan karakternya. Untuk memperbanyak diksi seorang penulis harus banyak membaca. 

Setiap penulis selalu memiliki ciri khas. Begitu juga dengan Agus Mulyadi yang akrab dipanggil Gus Mul. Ia selalu menyelipkan idiom dan kalimat berbahasa jawa dalam setiap tulisannya. Ciri khas seorang penulis lah yang menjadi pembeda tulisannya. Dari ciri khas inilah biasanya pembaca menunggu karya si penulis. 

Cara pandang juga menentukan menarik tidaknya sebuah tulisan. Sudut pandang yang sudah jamak dipakai orang akan kurang menarik perhatian pembaca. Cobalah saat menulis membuat sudut pandang yang berbeda. Sebuah cara pandang yang antimainstream namun bisa diterima oleh pembaca tentunya akan mendapatkan perhatian. 

Quote atau kutipan menjadi salah satu kunci untuk menarik perhatian pembaca. Pembaca cenderung mengingat kutipan dibanding konten tulisan itu sendiri. Jadi jika ingin menulis awali atau akhiri konten kita dengan sebuah kutipan. 



Restoran Pringsewu 


Acara Komunitas Gandjel Rel ini semakin wow karena dukungan dari Restoran Pringsewu. Jujur aja, saya baru pertama kali menikmati suasana Restoran Pringsewu yang bernuansa vintage ini. Sayang sekali saya tak bisa berlama-lama karena harus segera pulang ke Muntilan. Kayaknya wajib diulang nih. Next bolehlah ke Pringsewu lagi ngajak suamik. 

Restoran ini dulunya adalah sebuah kantor pusat milik NV Kian Gwan, milik raja gula terkaya Indonesia saat itu Oei Tiong Ham. Sebuah bangunan peninggalan sejarah ini meski digunakan untuk tempat kuliner tak lantas banyak berubah interior dan fasadnya. Hanya terlihat penambahan hiasan dan pembaharuan cat saja. 

Bangunan ini terdapat dua lantai. Menariknya di lantai atas ada balkon dimana pengunjung bisa menikmati suasana luar restoran. Mungkin kalau berkunjung di malam hari temaram lampu bisa menambah suasana romantis ya? 


Ada program baru yang diluncurkan oleh Restoran Pringsewu yaitu Teraz Oie Tiong Ham. Pengunjung bisa hang out di tempat ini mulai jam 15.00.

Cr : Tanti Mechta

Tempatnya terletak di bagian luar samping kanan pintu masuk. Ada hiasan pot dan lampu gantung di sana. Nah ... kan, jadi mupeng menikmati malam hari di kota lama? 

Ada pepatah yang mengatakan jika kamu berkumpul dengan penjual minyak wangi, maka kamu akan kecipratan wanginya. So, bersama komunitas Gandjel Rel kita berkarya bersama, bekerjasama dengan hati, dan berkumpul untuk bermanfaat bagi orang lain. 


Keep Spirit to write, Keep on pray. 








Tidak ada komentar:

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih