Jurnal Hati Irfa Hudaya

Rabu, 06 Juli 2022

Drama Operasi Tumor Payudara (2)
operasi tumor payudara sebelah kiri



Udah baca Drama Operasi Tumor Payudara yang pertama? Kalau belum, langsung klik DISINI ya?

Sekitar jam 22.00 perawat masuk ke dalam kamar. 
"Bu, puasa mulai jam dua belas malam ya, Bu. Sekarang makan aja sebanyak-banyaknya. Ibu besok puasa bisa sampai jam enam sore lho."

Baiklah ... Saya pun sahur di tengah malam dengan hasil kulineran si Kakak saat itu. 



Pagi hari sekitar jam enam sudah harus berganti dengan pakaian khusus untuk operasi. Pakaian yang nggak ada kancingnya itu lho, yang dipakainya pun dibalik. Pengalaman dua tahun lalu, pasien operasi pengangkatan tumor payudara hanya diizinkan memakai celana dalam selain pakaian operasi.

Setelah mandi saya pun mengambil pakaian dalam untuk ganti. Entahlah ... kudu ketawa atau ngomel sama si Kakak.

“Kak, yang dibawa kok CD yang bolong semua?”
“Kan Bunda nggak bilang kudu bawa CD yang mana.”
“Kalau operasi kan dibuka pakaian operasinya. Ya gimana kalau itu dokter sama perawat lihat daleman Bunda?”
“Kan nggak bilang yang mana to? Kupikir ya yang paling sering Bunda pakai aja.”

Haduhhh ...
Langsung saya WA ayahnya untuk membawakan dalaman yang masih lumayan bagus. Untung beliau baru mau berangkat sehingga terselamatkanlah saya dari daleman bolong. Sekitar jam 6.15 perawat masuk untuk memasang infus di tangan kanan saya. Sambil ngobrol dan bercanda mbak perawat.

suasana di rumah sakit

Seorang laki-laki memakai baju abu-abu tiba-tiba masuk ke dalam kamar rawat inap saya. Dengan mata yang minus 3,5 saya nggak begitu jelas melihat siapa yang masuk ke dalam kamar tiba-tiba. Posisi saya tiduran pula. Bayangan saya adalah rohaniawan yang mau ngedoain kayak di rumah sakit di Muntiilan, kota kecil saya. Saya bingung nyari jilbab, sementara mbak perawat yang masih merapikan pemasangan jarum infus di tangan saya menatap heran.

“Assalamualaikum,” suara laki-laki itu.

Sedetik saya mengenali suara itu langsung pecah tawa saya. Saya nggak ngenalin jaket abu-abu yang dipakai oleh si Ayah.

“Ealah Bu Irfa, belum di anestesi aja sudah nggak inget suaminya,” celetuk mbak perawat sambil terkekeh melihat reaksi saya. “Saya yang belum pernah lihat suaminya aja langsung paham itu suami Bu Irfa lho.”

Mbak perawat masih terkekeh saat keluar kamar. Sampai ditanya oleh perawat yang di luar. Tak berapa lama dokter Welman masuk. Beliau menandai mana yang akan di operasi.

Proses Operasi

Sekitar jam 9.55 saya mulai dibawa ke luar kamar rawat inap. Si Kakak mencandai saya.

“Aku tuh pengen tahu. Kalau Bunda pas nge-fly ngapain ya? Kan ada tuh yang nyanyi, ada juga yang curhat. Kalau bunda kira-kira perawat di ruang operasi diajak julid nggak ya?”

Jangan sampai ah...
Saya ingat waktu operasi dua tahun lalu yang saya pikirkan adalah waktu shalat karena mikir kalau operasinya lama. Dan begitu sadar saya langsung minta shalat. Kali ini begitu masuk ruang operasi saya berdzikir dalam hati.

Persiapan di ruang operasi lebih lama dari operasi yang lalu karena menunggu dokter Welman yang sedang mengoperasi pasien lain. Di tinggal sendirian di ruang operasi dengan alat yang bergelantungan begitu tetep aja bikin ati ciut. Belum lagi kondisi ruangan yang dingin banget sampai bikin badan menggigil. Tetapi saya tetap berkomunikasi dengan perawat untuk mengurangi rasa takut. Kalau dulu saya benar-benar memejamkan mata mulai masuk ke ruang operasi. Kali ini saya baru memejamkan mata ketika saya mulai dianestesi.

“Bu, operasinya sudah selesai,” lamat-lamat suara perawat masuk ke telinga saya. Lampu di atas saya sudah dipadamkan. Beberapa alat sudah di tutup dan saya merasakan perih di dada kiri. Tanpa sadar saya mengucapkan dzikir berkali-kali. Oleh perawat saya dibiarkan untuk berdzikir. Dzikir saya berhenti ketika sudah nggak nge-fly lagi.

“Ibu sudah sadar sepenuhnya ya? Proses operasi hanya tiga puluh menit, Bu. Nggak ada penyulitnya. Alhamdulillah.”
Saya tersenyum.
“Sebentar lagi Ibu pindah ke ruang perawatan.”

Saya di pindah ke sebuah ruangan. Saat menengok ke samping ada sosok yang terbaring di tempat tidur juga. Ah ... sesama pasien ini.
Tak berapa lama saya dibawa keluar. Saya pun dipindahkan ke tempat tidur yang membawa saya ke ruang perawatan. Si Ayah ternyata menunggu saya di depan ruang operasi. Melihat saya sudah sadar beliay tersenyum dan menggenggam tangan saya.

Pasca Operasi

Efek obat bius masih ada sih. Saya ngantuknya luar biasa. Praktis pasca operasi saya hanya melek untuk shalat dan membalas beberapa WA yang masuk. Sempat juga selfi sebentar, setelah itu tidur lagi. 

operasi tumor payudara


Bakda Ashar perawat masuk untuk mengukur tensi darah dan menyuntikkan antibiotik. Mereka menanyakan hal yang sama.

“Mual atau ingin muntah nggak, Bu?”
“Enggak.”
“Pusing?”
“Enggak juga.”
“Lemas?”
“Enggak juga?”
“Ada keluhan lain, Bu?”
“Laper...”

Perawat tentu aja ketawa. Saya kan memang harus puasa mulai jam 12 malam sampai dengan 6 jam pasca operasi. Selesai operasi jam 11 tentu saja jam 17.00 saya baru boleh minum seteguk seteguk. Baru 30 menit kemudian saya baru diperbolehkan untuk makan, itu pun pelan-pelan.

“Ibu kan tadi di bius total. Kalau bius total kan seluruh organ dalam juga di lemahkan. Makanya harus ada jeda 6 jam untuk memulihkan organ dalam, Bu,” kata mbak perawat yang terakhir datang bakda Ashar itu.

Ketika masanya boleh makan saya benar-benar menikmati. Orang bilang masakan paling nggak enak itu masakan rumah sakit. Kalau saya kok ngerasa enak-enak aja tuh. Semua menu yang dihidangkan oleh rumah sakit saya santap sampai habis.

“Yah, minta nambah sayur boleh nggak ya? Masih laper.”
Si Ayah geleng-geleng kepala aja. Pasiennya kemaruk.

Esok harinya si Ayah berangkat kerja dari RS. Si Kakak dan Adek dateng sebelum si ayah berangkat. Dokter Welman visitasi sekitar jam 06.30.

“Kemarin yang kami angkat adalah bekas air susu yang sudah menjadi nanah, Bu. Kenapa itu perlu diangkat? Yang kami khawatirkan jika terjadi perlengketan dan merusak jaringan sehat. Itu yang membahayakan karena bisa jebol keluar. Sekalian kantong susunya kami ambil, Bu. Sudah tidak berencana untuk hamil lagi, kan?”

Saya ketawa aja. Ya kali umur segini mau hamil lagi.
“Boleh pulang hari ini kan, dok?” tanya saya.
“Boleh.”
Hepi banget. iyalaahhh ...

Kakak dan Adek pun saya minta untuk packing. Infus dilepas sekitar jam 09,30 setelah seperangkat obat antibiotik dimasukkan ke dalam tubuh saya. Karena perban yang digunakan adalah perban plastik, saya pun bisa mandi sesuka hati.

Sekitar jam 12.30 administrasi telah selesai. Seorang petugas masuk ke dalam kamar sambil membawa bill yang harus diurus. Si Kakak lagi keluar karena membeli makanan.

“Ya udah deh, biar saya aja mbak,” kata saya.
“Ibu pasiennya kan?” si mbak petugas nanya.
“Iya mbak.”
“Biasanya kalau pasien dilarang kemana-mana dulu, Bu. Takut kenapa-napa.”

Hihihi ... Lupa euy kalau lagi jadi pasien. Akhirnya Adek yang mengurus administrasinya. Tak berapa lama Adek dateng barengan dengan Kakak.

Setelah shalat Dhuhur, kami pun pulang. Saat merasa kamar sudah bersih, saya pun ruang administrasi bangsal menyerahkan sedikit makanan buat yang ada di sana.

“Lho, Bu. Nggak usah.”
“Nggak papa. Buat semuanya kok.”

Lalu saya dan anak-anak pun melangkah pergi.

Wait ...
Kayaknya ada yang ngganjel sih. Tapi apa ya?
Saya masih mengingat-ingat apa yang salah saat menunggu taksi online. Sampai taksi online datang menjemput saya masih belum nemu apa yang ngganjel. 

Sampai 1 km dari RS. Saya memeriksa tas saya. Menemukan nota pembayaran yang masih rangkap dua.
“Lah ... kok nggak ada surat kontrolnya?”

Oalah ...
Saya lupa memberikan salah satu slip nota pembayaran ke administrasi bangsal. Biasanya saat memberikan nota itu maka pasien pun akan diberikan surat jalan untuk kontrol.

“Mas, bisa nggak kembali ke RS. Ada yang kelupaan.”
“Baik, Bu. Nggak papa.”

Untung si mas sopir baik hati. Tanpa nggrundel tetap melayani sepenuh hati. Saya kembali ke bangsal. Mbak perawat di bangsal mengenali saya.

“Mbak, maaf, saking senengnya pulang sampai lali nyerahin ini lho.”
“Lha iya, Bu Irfa kok nggenjrit mawon. Tadi ya podo ngomong, ’Lho itu lak Bu Irfa to? Itu kan pasien to, kok jalannya sudah gagah gitu?”

Saya ngekek. Selesai urusan nota dan surat kontrol saya pun benar-benar pulang ke rumah.

Operasi kali ini memang lebih ringan dibanding operasi dua tahun lalu menurut saya. Kalau dulu lukanya cukup besar sehingga menghambat saya mengurus diri sendiri, bahkan jalan pun harus sungguh berhati-hati karena gesekan lukanya terasa. Tumor payudara di kanan yang cenderung ke arah ketiak membawa pengaruh pada tangan kanan yang jadi lemas. Bahkan sampai seminggu saya baru bisa mengangkat sendok. Saya tak bisa mengangkat beban yang berat seperti gayung yang berisikan air penuh untuk sementara waktu karena terasa nyeri di lukanya saat itu.

Namun operasi kali ini berbeda. Saya nggak begitu merasakan perih ataupun gesekan di lukanya. Entah karena lukanya yang lebih kecil, atau karena tumor payudara kiri yang letaknya ada di belakang puting jadi nggak berpengaruh dengan syaraf atau otot di tangan. Secara fisik saya merasakan baik-baik saja. Sementara secara psikis sempat merasakan perubahan namun tak lama. Kalau dulu saya merasakan berminggu-minggu perasaan tak nyaman dan insecure. Sementara kali ini cukup sehari dua hari merasakan baper setelah itu enggak lagi. Sudah kembali seperti semula.

Tentang operasi tumor payudara pertama dan perasaan insecure saya bisa dibaca DISINI
 
Dramanya sudah usai. Meski saat menuliskan ini saya jahitan belum diambil namun saya sudah mulai melakukan berbagai aktivitas. Kalau nuruti karep ya sudah motoran kemana-mana :)

Drama Operasi Tumor Payudara (1)
operasi payudara sebelah kiri
gambar : Sasin Tipchai dari Pixabay

Dan terjadi lagi ...

Agustus 2020 saya melakukan tindakan medis pengambilan tumor di payudara sebelah kanan. Kata dr. Isti Sad, Aryanti Sp. Bedah yang menangani saya waktu itu mengatakan bahwa Tumor Mamae Dextra yang ada di tubuh saya itu sudah ada sejak setahun sebelumnya. Ukurannya pun sudah besar sebesar telur bebek. Dan pernah saya tuliskan juga cerita tentang itu DISINI.


SADARI (Periksa Payudara Sendiri)


Februari 2022, saya masih kejar deadline novel yang dipesan oleh sebuah penerbit di Bandung. Tiba-tiba saja saya merasa denyutan tak biasa di payudara sebelah kiri. Denyutan itu serupa rasanya saat kita mau haid. Padahal waktu itu saya baru saja selesai haid. Saya pun langsung curiga.

Saya angkat tangan kiri saya lalu melakukan sadari. Meraba dada sebelah kiri mencari sesuatu yang mencurigakan. Kok nggak ketemu. Lalu saya coba berbaring dan melakukan sadari kembali. Harapan saya cuma kekhawatiran doang. Akan tetapi saya kembali menemukan benjolan di payudara sebelah kiri. Letaknya lebih ke tengah dibanding benjolan payudara kanan yang cenderung ke arah ketiak.

Karena masih kecil, saya diamkan saja. Apalagi kerjaan saya masih butuh banyak perhatian. Pekerjaan yang saya lakukan mulai 17 Januari dan harus selesai 17 April dengan jumlah 400 halaman pastinya akan bakal menguras energi yang berlebih.


Pemeriksaan Tumor di RSUD Kota Magelang

Setelah Idul Fitri, saya baru ngerasa begitu terganggu dengan benjolan ini. Denyutnya makin sering. Apalagi saat itu ada saudara dan teman komunitas yang mengalami Ca Mamae membuat saya beberapa kali mengalami psikosomatis. Setiap habis bertemu atau di telp, saya seperti mengalami apa yang dialami oleh mereka. Terkadang saya merasa sakit punggung rasanya sampai seminggu seperti yang diceritakan teman saya. Lantas pertengahan bulan Juni saya memantapkan diri untuk melakukan pemeriksaan. Seperti dua tahun lalu, oleh faskes 1 di Muntilan saya pun dirujuk ke Rumah Sakit Umum Kota Magelang karena rekam medis saya sudah ada di sana.

Jumat tanggal 17 Juni 2022 saya pun ke Rumah Sakit Kota Magelang karena Jadwal dr. Isti ada setiap hari Senin, Rabu dan Jumat. Qodarullah dr Isti pun ternyata sedang melakukan pengobatan sehingga tak bisa praktek di poli bedah umum. Pemeriksaan pertama di lakukan oleh dr. Narendra, spesialis bedah onkologi

Saya yang orangnya overthinking, berjejeran dengan survivor Ca. Cerita-cerita mereka membuat saya jadi ciut. Sangkaan mereka saya mengalami dengan hal yang sama. Sebelah saya seorang ibu yang usianya mendekati 60 tahun bercerita los banget. Membuat saya begidig dengan cerita luka yang dialaminya saat itu. Alhamdulillah si ibu tinggal melakukan pengobatan satu tahun lagi. Dan saya pun berpindah bangku, saat merasa payudara saya denyutnya makin kenceng.

Oleh dr. Narendra saya dianjurkan untuk melakukan mamografi. Saat berada di radiologi saya harus antri di hari berikutnya karena jatah pemeriksaan di radiologi untuk hari itu dan Sabtu sudah full. Nggak papa juga batin saya, karena hari Senin saya harus datang ke spesialis bedah.

Senin 20 Juni 2022 saya datang ke RS jam 07. 15. Antrian daftar saya sampai 43. Saya pun naik ke lantai 4 menunggu pendaftaran. Saya lihat antrian masih lama. Lantas saya pun turun ke lantai satu di bagian radiologi.

“Dr. nya datang jam 08.30 ya Bu?” kata petugas di radiologi. Saya pun naik lagi ke lantai empat. Antrian di bagian saya masih cukup panjang. Saya menepati waktu jam 08.30 sudah duduk manis di radiologi.

“Dr. nya datang jam 09.00 bu.”

Baiklah ... Saya kembali lagi naik ke lantai empat untuk antri pendaftaran. Saya kudu banyak bersabar karena antrian di atas begitu lama. Karena masyarakat kita selalu menggunakan waktu Indonesia bagian karet, saya pun turun jam 09.30 ke radiologi.

“Ibu, dokter radiologi sedang rapat. Ini pemeriksaan ada dua kali, mamografi dan USG. Mari bu, saya lakukan mamografinya dulu.”

Alhamdulillah ... setidaknya saya wira wiri naik turun lift nggak sia-sia kali ini. Pemeriksaan mamografi dilakukan oleh perawat di sana.

“Benjolannya sudah lama, Bu?”
“Baru beberapa bulan.”
“Ada saudara yang kena kanker Bu?”
“Ada .... tapi ...”
“Kalau ada saudara yang kena kemungkinan kena juga besar, Bu.”

Saya auto ngedrop. Padahal yang saya maksud saudara itu bukan saudara sedarah. Saya males membalas omongan mbak perawat. Saya cukup memasang muka ramah meski hati nggrundel luar biasa.

“Kenapa ya mbak, sekarang saya dianjurkan mamografi sementara dua tahun lalu saya melakukan USG Rontgen?” tanya saya ke mbak perawat.
“Oh ... Mamografi itu digunakan untuk perempuan yang usianya 45 tahun ke atas. Untuk yang payudaranya sudah lembek.”

Dalam hati ya ngekek. Kok ya kudu dijelasin kalau payudara wanita usia 45 tahun sudah lembek gitu lho.
Pemeriksaan mamografi tuh serasa seperti memindai payudara. Saya tak merasakan sakit meski scan itu seperti berjalan di atas payudara pasien. Sebuah kotak kecil yang akan memindai payudara pasien dari tiga sisi. Sisi kanan, kiri dan depan. Biasanya pemeriksaan itu dilakukan di kedua payudara bukan hanya di bagian yang dikeluhkan saja.

Begitu selesai melakukan mamografi saya kembali naik ke atas. Sebelumnya mbak perawat mengatakan jika si dokter akan melakukan kegiatan lain setelah jam 11.00. saya di wanti-wanti untuk datang kembali sekitar jam 10.30.

Pas naik ke atas, belum juga dapet giliran. Lantas saya duduk di dekat ibu-ibu yang ngobrol seru. Ibu-ibu sesama pasien ini pun mengajak mengobrol. Untungnya obrolan mereka emak banget, jadi bisa nyambung lah. Sampai jam 10.30 saya harus ke bawah lagi. Salah satu ibu itu mau mengantrikan jika giliran saya datang.

Saat saya sampai di radiologi saya dipersilakan untuk menunggu dokter di ruang pemeriksaan USG dan mamografi. Si perawat sudah meminta saya berbaring dan melepas baju. Lantas mbak perawat memberikan selimut untuk menutup tubuh sementara dokter belum datang. Ruangan yang dingin membuat nyaman banget dalam selimut tebal. Rasanya sampai terkantuk-kantuk menunggu dokter. Ketika mbak dokter radiologi masuk, saya sempat terlelap sehingga beliau pun tertawa saat membangunkan saya.

Beliau melakukan pemeriksaan USG. Persis kalau kita melakukan pemeriksaan USG kehamilan. Dari pemeriksaan USG ternyata nggak hanya di payudara sebelah kiri. Namun di payudara sebelah kanan pun ada tumornya, namun kecil-kecil tak sampai 1cm. ada dua, namun kemungkinan diambil kecil karena untuk diameter sekian tak nampak saat dioperasi.

Sementara di payudara sebelah kiri ada dua tumor yang ukurannya sekitar 2cm dan tumor itu berdempetan.

Saya terkesan dengan dr Fajar, dokter radiologi di RSUD Kota Magelang. Dengan tutur kata yang lembut beliau menerangkan dan memperlihatkan apa saja yang perlu saya ketahui. menurut beliau dengan USG payudara sebelah kiri saya itu menunjukkan insya Allah itu adalah tumor jinak.

Tumor payudara
hasil pemeriksaan USG dan Mamografi di radiologi

Ciri-cirinya adalah batas gambar yang jelas antara massa tumor dengan jaringan sehat. Massa tumor yang full hitam di gambar USG tersebut. Sementara jaringan sehat adalah gambar yang bergaris-garis. Sementara jika tumor itu kemungkinan membahayakan adalah jika gambar di USG itu batasnya bergerigi atau tak ada batas yang jelas antara massa tumor dan jaringan sehatnya.

Saya masih harus menunggu hasil analisa dari dokter radiologi sehari kemudian. Kontrol saya dengan dokter Welman pengganti dr. Isti akhirnya dilakukan hari Jumat tanggal 24 Juni 2022 karena tanggal 22 saya harus menghadiri undangan acara wisuda siswa siswi Yogyakarta Independent School.

Bertemu dengan dokter Welman beliau menjelaskan apa yang bisa dilakukan. Bahwa tumor ya nggak ada obatnya untuk mengecilkan.

“Ibu siap untuk operasi?”

Pertanyaan yang sudah bisa saya duga. Dan sejatinya saya pun sudah siap melakukan itu lagi. Bukan apa-apa, meski benjolannya tidak besar, namun menurut saya cukup mengganggu dalam kondisi-kondisi tertentu. Kalau sudah merasa terganggu bisa jadi overthinking dan mengganggu keseluruhan aktivitas saya.

Dokter menjadwalkan saya operasi hari Senin, 27 Juni 2022. Namun saat saya ke TPPRI, administrasi yang terkait dengan rawat inap dan pemeriksaan lainnya, ternyata kamar klas 1 full. BPJS saya memang untuk kelas 2. Saya sengaja memilih kamar rawat inap untuk kelas 1. Posisinya adalah saya mendapatkan kabar dari suami bahwa untuk bulan Juni tak bisa mengambil cuti karena ada penilaian kantor di akhir bulan. Mau tak mau saya membawa dua anak untuk menjaga saya.

Kenapa harus dua anak yang ke RS? Bukannya udah gede-gede? Salah satu kan bisa jaga rumah?
Well ... Si Adek tuh persis seperti saya. Anaknya overthinking. Saat operasi dua tahun yang lalu baru ia mengalami ketegangan di leher. Ia kesakitan sampai menangis dan reda saat ayahnya pulang ke rumah. Disarankan oleh Mbak Yana, mbak saya yang psikolog itu. lebih baik Adek di bawa sekalian supaya tahu kondisi ibunya tak seburuk yang dibayangkan. Pengalaman itu membuat saya mengambil keputusan upgrade kamar supaya lebih nyaman buat anak-anak. Kalau Kakak ya jelas, ia jauh lebih paham untuk merawat orang sakit. Selain karena lebih dewasa, perempuan biasanya lebih peka untuk urusan itu.

Jumat itu antrian masih 20 yang inden untuk kamar klas 1. Pihak rumah sakit akan menghubungi jika sudah sampai giliran saya. Perkiraan saya kayaknya Senin belum OP. Lihat antriannya segitu. Apalagi di administrasi cerita kalau kepulangan pasien sekitar 3-4 pasien untuk saat itu. artinya saya masih punya kesempatan menyelesaikan pekerjaan yang DL nya akhir bulan.

Saya pun ngebut ngedit naskah novel yang kurang 7 bab. Menyelesaikan pekerjaan blog yang tertunda. Menyelesaikan tulisan untuk meramaikan event Komunitas Gandjel Rel meskipun masih belepotan tulisannya. Nggak papa, yang penting ikut ngeramein aja wis.

Hari Senin 27 Juni 2022, saya mendapatkan informasi dari pihak RS bahwa antrian masih 9. Saya memutuskan untuk tetap menunggu antrian saja. Bayangan saya, mungkin dua hari lagi saya baru bisa masuk. Dan saya masih bisa menyelesaikan pekerjaan saya yang tinggal sedikit.

Selasa pagi, saya menyelesaikan semua pekerjaan yang DL nya bulan ini. Lega, dan merasa butuh refreshing karena selama beberapa hari nggak lepas dari laptop. Ingat janji saya untuk membelikan bahan untuk baju Kakak kuliah. Selama ini mencari baju yang style nya pas buat Kakak kok sering nggak nemu ukurannya. Akhirnya meski nanti biaya akan jauh lebih mahal saya pun membelikan bahan untuk pakaian Kakak kuliah. Dua bulan lagi kampusnya akan melakukan tatap muka. Mau tak mau persiapan kudu dilakukan.

Berangkat ke Jogja saya sempat mikir. Jangan-jangan saya ke Jogja Rumah Sakit kasih info kalau kamar udah ada. Tapi kekhawatiran tersebut saya pangkas. Orang antrian masih sembilan juga. Saya asyik aja main ke Teh Vanny trus mampir di tempat mbak Ita. Biasalah, kalau main ke Nyonya Sakti tuh dapat banyak pencerahanlah tentang keimanan.

Abis shalat Ashar saya buka WA.

Duengggg ...

pesan dari RSUD


Ada WA dari pihak RS kalau saya harus masuk ke RS jam 16.30. sementara waktu itu pukul 15.40. buru-buru pamit sama mbak Ita setelah sebelumnya meminta masuk RS jam 17.00. Ngebutlah saya balik ke rumah. Asumsi sampai rumah 45 menit dan berangkat lagi ke RS sekitar 20 menit. Cukuplah waktunya. Di jalan saya sempat WA ke Kakak untuk menyiapkan kebutuhan saya. Jalanan padat merayap. Maklumlah, waktunya orang-orang pulang kerja kan? Kudu sabar dan hati-hati. Apalagi di kepala berkecamuk berbagai macam pikiran.

Sampai rumah si Kakak belum mandi. Ngomellah saya. Dari pagi lho dia belum mandi. Akhirnya saya dan Adek berangkat duluan, Si Kakak nyusul untuk nyiapin barang-barang yang belum masuk ke tas. Adek lumayan ngebut ngejar waktu jam 17.00 sampai rumah sakit. Sengebut-ngebutnya Adek tetep nggak bisa ngelawan macet di sore hari. Alhamdulillah sampai RS jam 16.59 lalu mengantri sebentar di loket TPPRI (Tempat Penerimaan Pendaftaran Rawat Inap)

Saya pun diminta untuk melakukan tes darah dan swab antigen. Lalu menunggu untuk pemeriksaan rontgen. Antrian lumayan banyak saat itu.

Agak mellow juga waktu Kakak belum dateng si Adek yang biasanya cool di tempat umum, ini ngelendot sambil mainan HP. Pas saya perhatiin ternyata dia mrebes mili.

“Bunda lak nggak papa to, Dek,” bisik saya. 
Dia cuma menghela napas sambil menghapus air matanya. Ah ... Dia selalu gitu. Nggak tegaan kalau ibunya kenapa-napa.

Proses persiapan masuk kamar rawat inap lumayan panjang. Sekitar jam 19.30 saya baru bisa masuk ke kamar rawat inap. Bener-bener bersyukur saya punya temen komunitas layaknya saudara. Mbak Umi, yang tergabung di IIDN Jogja dan rumahnya di Magelang sempat menemani dan membawakan barang yang Kakak lupa bawa. Bantal dan sajadah dibawa mbak Umi di luar snack-snack pengganjal perut. Bahkan beliau membelikan bantal baru. Ga bisa bales banget mbak Umi. Kecup banyak buatmu.

Si Ayah akhirnya diberi kesempatan untuk menemani saya operasi oleh atasannya meski sehari doang. Namun oleh Kakak beliau diminta istirahat di rumah, gantian dengan si Kakak. Biar si Ayah bisa nemenin operasi. Dan si Adek pun bareng dengan ayah pulang ke rumah. Ayah jemput Adek di depan RS karena penunggu pasien hanya boleh dua orang.

Kesempatan buat si Kakak saat nunggu saya di RSUD Kota Magelang. Samping rumah sakit adalah Mie Gacoan. Sebelahnya lagi McD. Depan McD ada Superindo. 200m dari McD Domino Pizza dan Brownies Amanda. Apalagi yang ia tunggu kalau bukan kulineran?

Biar nggak kepanjangan saya tulis di bagian ke dua ya? Masih mau baca? Langsung klik DISINI

Minggu, 26 Juni 2022

7 Hal yang Membuat Saya Malas Nulis Blog
tips mengatasi malas menulis


Katanya blogger? Tapi kok males ngeblog?


Beberapa kali sentilan sentilun ini lewat di WAG Blogger Gandjel Rel. Saya pribadi ya ngerasa tersentil sih. Tapi nggak trus bikin baper lalu left grup lah. Orang grupnya seru kok. Sayang banget kalau jadi orang baperan gitu.

Iya nih, udah beberapa bulan ini saya ngeblog kalau pas ada job aja. Paling banter sebulan sekali. Bahkan kalau pas ga ada job ya blognya kosong melompong dalam satu bulan. Kayaknya bingung aja mo nulis apa. Selain itu lagi fokus ngerjain naskah buku yang jumlahnya 400 halaman (mabok benerrr) jadi selama empat bulan harus ngerem fokus pada satu hal aja karena dikejar DL.

Ngeliat blog 6 bulan ini isinya kayak pasar, kok jadi malu gitu. Dulu tuh sering banget kalau suntuk atau pengen curhat langsung nulis di blog meskipun nggak ada penghasilannya. Pokoknya suka suka banget. Lalu kenal duit via ngeblog awalnya bikin semangat. Apalagi sosial media pun bisa digunakan untuk mencari penghasilan. Seiring lebih banyak kerjaan yang terkait dengan sosial media yang lain lama-lama feel untuk nulis di blog kok jadi terbang. Banyak yang ngerasain nggak sih?


Apa sih yang bikin males ngeblog?


Ini kalau saya ya, ada beberapa hal yang bikin males aja buka laptop. Padahal ya bisa aja nulis via HP meski nggak nyaman di luar faktor banyak alesan :)

1. Nggak punya ide
Ini nih alasan yang paling sering datang. Meski ide bisa datang dari mana saja, nggak semua orang dengan mudah memunculkan ide kreatif dalam kepalanya. Apalagi untuk orang yang cenderung menggunakan otak kiri dalam berpikir. Memang perlu waktu juga sih memunculkan ide dalam kepala. Apalagi kalau hal itu yang jadi hambatan utamanya.

2. Kebanyakan scroll sosmed
Ini saya banget kalau pas kerjaan rumah udah selesai semua. Yang pertama kali dibuka adalah sosmed. Maklum yang namanya ibu rumah tangga kan butuh banyak refreshing, ya to? Begitu kesempatan leyeh-leyeh terbuka, langsung deh mager di sofa, buka segala macam sosmed mulai dari IG, twitter, FB, youtube sampai tiktok. Gonta ganti aja terus sampai-sampai kedengeran Adzan Dhuhur berkumandang

3. Nggak PD
Ah ... tulisan kek gini pas nggak ya? Kayaknya nggak cocok deh. Itu terlalu curhat banget. Kayaknya nggak pas deh kalau ini pake jurus story telling. Ini bagusnya ala-ala esai gitu. Ah ... Bleh ... saya biasa banget gitu apalagi kalau kaitannya sama lomba blog. Makanya jarang banget ikut lomba blog karena ngerasa nggak PD sama tulisan sendiri.

4. Terlalu banyak mikir
Ini ada kaitannya sama nggak pede sama tulisan sendiri sih. Bingung aja ngatur sudut pandang tulisan mau dibikin kayak apa. Lalu mikir mau bikin judul yang clickbait kok kayaknya norak banget. Tiap hari mikir doang, tau-tau DL sudah mepet. Begitu mepet, akhirnya pasrah nggak ikutan. Dan blog pun makin lumutan.

5. Sedang dalam tekanan
Saya kalau pas ada problem pribadi biasanya off dari kegiatan tulis menulis. Jangankan mau nulis ngapa-ngapain aja males. Suntuk, karena kepala rasanya mau pecah. Butuh beberapa waktu bisa ngembaliin mood yang sudah hancur.

6. Fokus pada hal lain
Tahun lalu saya bener-bener fokus mendampingi anak. Adek lulus SMP dan Kakak lulus SMA. Mendampingi Adek tuh terasa berat waktu mulai pendaftaran SMA aja, banyak dramanya. Tapi mendampingi Kakak butuh waktu yang lebih panjang karena menyiapkannya masuk jenjang pendidikan selanjutnya. Harus stand by pas dia butuh cerita, kapanpun ia butuh diskusi harus siap sedia, kadang mood swingnya muncul jadi bikin emaknya bete berat. Belum lagi kudu ngepuk-puk waktu gagal SNMPTN. Diskusi berminggu-minggu ternyata nggak dipakai sama anak, kek gitu tuh melelahkan dan menghabiskan energi.

7. Terlalu banyak ngelihat rumput tetangga.
Kapan hari ikutan belajar tentang blogging. Sumpah ... meskipun udah ada tutorialnya tetep aja nggak mudeng. Lihat DA dan PA stagnan lalu takjub lihat blog orang lain yang melesat langsung dapet job banyak bikin ati ciut. Belum urusan pasang ini dan pasang ono.
Kudu ngerti daleman blog sendiri dong....
Haishhh ... mau ganti template aja kudu bayar orang, terlalu banyak lihat milik orang lain tuh kadang jadi malas dan menyerah. Udahlah ... makin ngenes aja.

Kalau udah tahu apa yang bikin males, kira-kira ada nggak tips ala saya ngatasin males nulis blog? Ada lah ... tapi nggak semua orang kudu sama dengan saya ya? Kalau saya biasanya kayak gini nih : 

a. Menentukan motivasi
Motivasi terbesar saya buat ngeblog ya punya penghasilan. Meskipun baru bisa buat jajan dan belum bisa beli mobil dari ngeblog (aamiin kenceng nih). Kalau rupiah udah ada di kepala saya, biasanya saya maksain diri buat nulis biar tugasnya segera selesai. Pokoknya yang di brief dikerjain, jangan terlalu mepet DL.

b. Banyak baca atau ngobrol dengan orang lain
Baca artikel orang, buku atau sekadar ngobrol ngejulidin orang lain tuh bisa loh dibikin tulisan. Beberapa kali saya nulis di blog setelah dengerin anak-anak curhat, atau lihat sesuatu di sosmed. Atau ngalamin hal-hal sedih atau menggembirakan sehingga merasa perlu diabadikan di blog. Beberapa tulisan di blog yang banyak dibaca orang adalah cerita pribadi dan mencoba mengikat makna dengan menulis di blog

c. Menghindari buka sosmed
Niatnya nulis. Tapi kalau kelamaan scrolling pasti nggak jadi nulis. Kalau udah niat nulis biasanya saya jauhkan dari HP. Atau jika terpaksanya nulis pake HP ya fokus nulis sekali duduk selesai. Soalnya kalau terputus di tengah jalan biasanya yang terjadi adalah buntu mau nulis apa lagi.

d. Menulis semampunya
Tulisan saya modelnya story telling. Ya udah sih, maksimalkan aja kemampuan di situ. Kalau bisanya curhat ya biarin aja, selama kita bisa milih mana yang pantes buat dicurhatin atau enggak. Mau nyobain model jurnal ilmiah ya dadah-dadah ke kamera aja. Lha daripada maksa trus nggak jadi? Yang pasti ajalah kalau saya.

e. Pasang kaca mata kuda
Ketika orang lain ngomongin DA dan PA, saya milih mlipir aja. Daripada saya stress duluan karena SS makin gendut. Kalau emang blog kita fokus di kontennya, nggak usah mikirin segala macam yang bikin kita males ngerjain. Apa kata orang bodo amat. Gitu sih kalau saya.

f. Memberi reward untuk diri sendiri
Pernah nggak kasih hadiah diri sendiri kalau abis nulis di blog atau selesai bab waktu bikin naskah buku? Saya sering banget ngelakuin itu meskipun nilainya kecil. Kadang jadi motivasi untuk segera nyelesain tulisan karena pengen sesuatu. misalnya lagi pengen ngemil es krim harga lima ribuan. Begitu selesai nulis ya langsung cus jajan. Remeh banget ya jadinya?

Niat kalau nggak dibarengin usaha ya sia-sia aja. Sayang aja kalau blog yang udah dibayar tiap tahunnya nggak bisa balik modal. Kecuali kalau pengen buang duit sih :)
Udah ah ... julidnya mulai keluar nih. Semoga yang saya obrolin kali ini punya nilai meskipun cuma seujung upil aja. Stay healthy and keep on writing yes?

Sabtu, 25 Juni 2022

   The Sounds Of Music : Wisuda siswa siswi Yogyakarta Independent School 2022
International Baccalaureate


Tahun 2021 Adek dan Kakak sama-sama lulus dari baju putih biru dan putih abu-abu. Namun sayangnya pandemi merenggut keceriaan mereka menyongsong proses pendewasaan. Sekolah Adek tak seperti biasanya merayakan sebuah kelulusan. Wisuda yang biasanya diadakan begitu meriah di tempat yang spesial, saat itu sekolah mengambil keputusan untuk mengadakan wisuda drive thru. Wisudawan dan wisudawati di drop di depan panggung, menerima bukti kelulusan dan sekadar foto di panggung. Padahal sebelumnya begitu banyak rangkaian acara, termasuk membaca hafalan surah terpanjang yang sudah dihafalkan oleh mereka.

Masih mendingan Adek yang melaksanakan prosesi wisuda. Sekolah si Kakak sama sekali tak mengadakan wisuda dikarenakan saat itu Corona varian Delta sedang rame-ramenya menyerang. Begitu banyak kasus paparan corona virus yang membuat masyarakat kehilangan orang-orang tercinta. Pandemi saat itu yang sudah berlangsung 1.5 tahun memangkas begitu banyak rencana. Padahal ia sudah menyiapkan kebaya cantik warna dusty pink untuk wisudanya saat SMA. Sayang sekali.



Yogyakarta Independent School Graduation Ceremony 2022


Tahun 2022 ini setelah berbagai kasus coronavirus mereda sekolah-sekolah yang berada di Indonesia menggelar acara wisuda bagi siswa yang sudah selesai menempuh jenjang pendidikan terakhir. Begitu juga dengan Yogyakarta Independent School. Sekolah IB di Yogyakarta yang sebagian besar siswanya adalah anak-anak dari ekspatriat menggelar wisuda untuk seluruh jenjang pendidikan mulai dari TK B sampai dengan klas 12.

Rabu, 22 Juni 2022 bertempat di Grand Ballroom Sheraton Hotel Yogyakarta perayaan pesta wisuda tahunan ini diselenggarakan. Seluruh undangan yang hadir menggunakan dresscode ala-ala vintage. Seru banget lihat para undangan menggunakan pakaian zaman oldies namun tetep keren.

Selain merayakan wisuda, Yogyakarta Independent School atau biasa disebut YIS memberikan penghargaan kepada para siswa atas prestasi yang telah diraih sekaligus merupakan awal dimulainya fase khusus setelah dua tahun melaksanakan pembelajaran secara online.

Pelaksanaan wisuda ini masih dilakukan dengan protokol kesehatan. Para undangan yang datang pun masih tetap memakai masker dan mencuci tangan dengan hand sanitizer yang disediakan di pintu masuk. Ada juga termometer otomatis untuk mengukur suhu badan para undangan. Sebelum masuk banyak undangan yang memanfaatkan photobooth untuk mengabadikan kebahagiaan ini.

Wisuda di Sheraton Hotel



Pukul 17.30 acara pun dimulai. Dibuka dengan lagu Indonesia Raya menunjukkan bahwa sebagai sekolah satuan pendidikan kerjasama YIS tetap menjunjung tinggi nilai kebangsaan dan nasionalisme untuk membentuk siswa memiliki wawasan global namun tak melupakan identitas diri meskipun dalam pendidikan menerapkan kurikulum internasional. Sementara bagi siswa yang berkewarganegaraan asing momen ini menjadi bagian pembelajaran terhadap bumi yanhg dipijak, Indonesia.

Parade bendera dari negara para siswa YIS yang diikuti oleh para wisudawan masuk ke ruangan. Ada lebih dari 10 bendera yang berkibar di ruangan itu. 23 siswa berbaris rapi mengikuti bendera-bendera tersebut.

Sekolah internasional di Yogyakarta


Kepala Sekolah Yogyakarta Independent School, Bapak Ismail Sumantri, mengantar wisuda kali ini dengan ucapan terima kasih kepada siswa, wali murid dan seluruh stakeholder yang ada. Tahun ini adalah transformasi dari pembelajaran secara daring menjadi pembelajaran tatap muka. Anak-anak dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab terlibat dalam proses belajar. Tanpa dukungan keluarga tentunya yang dicapai oleh siswa siswi YIS takkan seluar biasa ini.

Wisuda sekolah international di Yogyakarta 2022



Setelah itu sambutan dari Bapak Elia Nugraha Ekanindita selaku Diploma Programme Coordinator. Dalam sambutannya Beliau mengatakan bahwa YIS memiliki siswa yang memiliki bakat yang begitu bagus di bidang akademik dan sangat berkomitmen. Di luar itu YIS juga memberikan fasilitas bagi anak-anak yang memiliki bakat luar biasa di bidang lain. Dan itu adalah tantangan bagi satu-satunya sekolah yang menggunakan kurikulum International Baccalaureate supaya lebih banyak yang terlibat dalam pengembangan aksi dan kreativitas dari segenap civitas akademika Yogyakarta Independent School.

Disusul sambutan oleh Ibu Kencana Devia Candra selaku Middle Years Programme Coordinator. Beliau menyampaikan bahwa anak-anak YIS yang mengikuti pendidikan setara dengan sekolah menengah pertama ini memiliki pencapaian yang sangat bagus di tahun ini dan berprestasi di hampir semua kurikulum. Beliau menyadari bahwa beberapa waktu ini dengan pembelajaran hybrid begitu berat dengan adanya pemberian tugas dan tenggat waktu. Namun yang dilakukan oleh pihak sekolah adalah mempersiapkan anak-anak di MYP ini untuk membangun dasar yang kuat dalam mempersiapkan anak-anak ke jenjang berikutnya.

Pesan beliau kepada anak-anak yang telah menyelesaikan pendidikan di Middle Years Programme ini bahwa tantangan yang terkait dengan ketrampilan dan pengetahuan menanti anak-anak. Harapan beliau dan pihak sekolah supaya anak-anak memiliki tujuan dan gigih meraih mimpi yang tinggi meskipun jalan yang akan dilalui menguji kesabaran.

Sebuah quote dari Greta Thunberg dikutip oleh Ibu Veronica Swanti sebagai Primary Years Programme Coordinator: “You are never too small to make a difference.” Hal itu mewakili bagaimana siswa yang setara dengan pendidikan anak usia dini dan sekolah dasar belajar dalam berbagai kegiatan di Yogyakarta Independent School. Mereka diajak untuk berpikir kritis dalam berinisiatif maupun melakukan tindakan. Mereka bekerjasama dalam pembelajaran dan berbagi dengan apa yang mereka miliki.

Prosesi wisuda anak-anak YIS menurut saya seru banget. Musik yang digunakan untuk pengiring membuat yang hadir di sana ikut bergembira. Misalnya untuk anak-anak usia TK menggunakan lagu Roar yang dipopulerkan oleh Katty Perry. Terlihat anak-anak pun begitu senang berjalan di panggung bersama teman-temannya.

Sekolah internasional di Yogyakarta


Selesai prosesi wisuda anak-anak Preschool sampai kelas 11 menyajikan pertunjukan musikal yang bertajuk Sound of Music. Hal ini memberi pesan akan harapan dan optimisme yang ingin dibagikan kepada orang lain.

Siswa-siswi sekolah internasional di Yogyakarta ini memberikan penampilan yang seru. Ada gerak dan lagu dari anak-anak Preschool yang mengundang tawa. Mengundang semangat dengan musik dari Queen, lagu We Will Rock You. Ada juga mash up beberapa lagu tiktok yang dibawakan secara bergantian oleh siswa dari MYP dan DP. Terlihat banget vibes generasi Z dan generasi Alpha dalam pertunjukan mashup ini.

Sekolahj internasional yang menggunakan kurikulum IB

Semakin malam semakin seru. Ada beberapa dance yang dibawakan oleh anak-anak MYP. Mulai Dance Cover dengan lagu Fearless dari Le Sserafim, girlband dari Korea, Uptown Funk dari Bruno Mars, serta yang mengundang banyak applause adalah dance yang menggunakan lagu dari Christina Aguillera, Moulin Rouge dan lagu I Feel Good dari James Brown. Kostum dan gaya dance yang dipakai membawa kami para penonton kembali ke tahun 60-an. Dengan wig dan celana cutbray mereka bergoyang diiringi tepuk tangan para penonton.

Pertunjukan berakhir sekitar pukul 19.30. Rangkaian acara yang diakhiri dengan penampilan seluruh peserta yang menyanyikan sebuah lagu perpisahan. Setelah itu dilanjutkan dengan gala dinner dan ramah tamah.

Raut kegembiraan terpancar dari seluruh hadirin yang ada di situ. Raut kebanggaan dari wajah wali murid dari YIS membuat saya banyak belajar. Penghargaan dan apresiasi terhadap apa yang dilakukan anak-anak akan membuat mereka menjadi pribadi yang percaya diri dan matang.

Terima kasih Yogyakarta Independent School. Selamat menebar kebaikan untuk siapapun yang ada di sana.


Tentang Yogyakarta Independent School.

Sekolah internasional di Yogyakarta



Berbicara mengenai Yogyakarta Independent School saya jadi ingat anak Mbak Atik, sahabat saya, Ribie yang telah berpulang karena pandemi ini. Ribie dan adiknya Nayla pun bersekolah di YIS sejak kepulangan mbak Atik dari Madrid. Beliau beberapa kali bercerita mengenai anak-anak yang berkembang dan tumbuh bersama YIS.

Yogyakarta Independent School telah berdiri sejak tahun 1989. Sebelum tahun 2014 YIS menggunakan nama Yogyakarta International School. Pergantian nama tersebut membuat YIS menjadi sekolah yang lebih terbuka dalam menerima siswa dengan keragaman negara, budaya, suku maupun agama. Sebelumnya lebih banyak warga asing yang bersekolah di YIS. Akan tetapi sekarang banyak juga WNI yang bergabung bersama YIS dalam pelaksanaan pendidikannya.

Yogyakarta Independent School beroperasi di bawah yayasan dan berbadan hukum. Izin resmi sudah dimiliki dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Selain itu YIS juga sudah terakreditasi. Sekolah yang berada di kawasan Jombor ini merupakan anggota East Asia Regional Council of Overseas School (EARCOS). EARCOS merupakan organisasi dewan sekolah untuk regional Asia Timur dimana anggotanya menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama selama program pendidikan.

Yis merupakan satu-satunya sekolah berkurikulum International Baccalaureate (IB) di Yogyakarta. Kurikulum ini berasal dari Swiss dan ditujukan untuk anak-anak dengan usia 3-18 tahun. Program IB yang ditawarkan oleh Yogyakarta Independent School adalah :

  1. IB Primary Years Programme (PYP) untuk anak usia 3-12 tahun (setara dengan preschool dan SD)
  2. IB Middle Years Programme (MYP) untuk usia 11-14 tahun (setara SMP)
  3. IB Diploma Programme (DP) untuk usia 15-18 tahun (setara SMA)

Apa yang menjadi kelebihan kurikulum ini sehingga digunakan oleh Yogyakarta Independent School?

Kurikulum ini lebih mengeksplorasi kemampuan anak di berbagai bidang. Tak hanya menitikberatkan pada kemampuan sains, matematika atau bahasa saja. Namun kurikulum ini mendorong siswa untuk berwawasan global, kreatif mampu mengembangkan kemampuan emosi, intelektual dan sosial. Harapannya siswa bisa berkontribusi positif terhadap lingkungan dan budayanya. Dengan kurikulum ini minat dan bakat anak akan semakin berkembang sesuai dengan yang diinginkan.

Kebetulan banget nih sekarang tahun ajaran baru kan? Kalau buat saya YIS ini reccomended banget buat teman-teman yang pengen mengeksplorasi anak-anak tak hanya di bidang akademik saja. Jika teman-teman pengen tahu dan langsung melihat area sekolah yang ramah anak banget silakan datang aja ke

Yogyakarta Independent School

Jl. Tegal Mlati No 1 Jombor Lor, Sinduadi, Mlati, Sleman

Daerah Istimewa Yogyakarta, 55284, Indonesia

Telp. +6282241044242 / (0274) 5305147 dan 5305148



Rabu, 15 Juni 2022

Berproses dan Berdaya bersama Ibu-ibu Doyan Nulis Wilayah Jogja
Ibu Ibu Doyan Nulis


Sejak kanak-kanak aku memiliki trust issue terhadap kaumku sendiri. Mengalami bullying sejak SD oleh kaumku sendiri membuatku tak memiliki teman perempuan. Aku lebih nyaman berteman dengan laki-laki. Belajar kelompok pun aku perempuan sendiri. Ternyata hal itu mempengaruhi mindsetku tentang perempuan. Di tambah Bapak yang menginginkan anak mbarepnya laki-laki memberiku tanggung jawab di rumah pekerjaan yang sering dilakukan oleh laki-laki. Bapak pun selalu memintaku berambut pendek dan memakai celana panjang. Beliau tak begitu suka aku memakai rok. Namun saat aku mulai kuliah, Bapak membiarkanku mulai memakai rok.

Aku menjadi begitu canggung berada di lingkungan perempuan. Hanya satu dua perempuan yang membuat nyaman yang pada akhirnya menjadikan mereka teman-teman terdekat. Dan itu ternyata berlanjut sampai dunia kerja. Aku bekerja di lingkungan yang lebih banyak laki-lakinya. Sialnya lagi, perempuan yang sekantor denganku sering membuatku nampak buruk di kantor pusat walaupun atasanku langsung tahu atas kinerjaku.

Tuntutan setelah menikah untuk bersosialisasi membuatku makin menjaga jarak dengan perempuan. Hidup di kampung membuatku serba canggung apalagi ada beberapa kejadian yang membuatku sungguh tak nyaman. Hingga kemudian datanglah segala media sosial yang datang susul menyusul. Dan aku lebih menyukai berinteraksi di media sosial. Dari media sosial aku pun menemukan dunia baru tentang perempuan.



Berproses dalam berkarya bersama Ibu-Ibu Doyan Nulis


Bermula dari minatku pada dunia kepenulisan. Salah seorang kerabat adalah penulis buku bacaan anak. Ia memberiku semangat untuk mengembangkan apa yang menjadi minatku. Tahun 2009 atau 2010. Saat aku mengunjungi mertuaku di Semarang sedikit paksaan ia memintaku datang ke rumahnya. Bertemu dengan orang-orang baru. Mereka yang memiliki minat yang sama denganku.

Bertemu dengan Mbak Dian Kristiani. Berkenalan dengan Dedew yang aku sendiri nggak tahu bahwa ia penulis buku best seller Anak Kos Dodol. Ngobrol dengan Mbak Dian Nafi yang sudah menulis berbagai judul novel. Bersalaman dengan Mbak Archa, Mbak Wati, juga Wuri yang saat itu masih menjadi newbie.

Pertemuan pertama membuat aku insecure, namun lebih bersemangat. Mereka mampu mengubah perspektifku terhadap perempuan. Aku yang awalnya memandang rendah kaumku sendiri. Meremehkan perkumpulan yang beranggotakan perempuan. Bersama mereka, Aku pun mulai bertumbuh. Aku menemukan sebuah komunitas perempuan yang benar-benar baru dan membuatku memiliki keinginan.

Aku memulai semangat belajar menulis dengan berbagai genre. Merasa kurang karena tak bisa setiap saat datang ke Semarang aku pun mencari info tentang IIDN Jogja. Beberapa kali mereka mengadakan pertemuan aku belum bisa mengikuti. Sampai kemudian akhir 2013 sebuah pertemuan di rumah Mbak Astuti Rahayu, ketua IIDN Jogja. Aku mulai bergabung. Bertemu dengan perempuan-perempuan berbagai profesi. Namun masih menyempatkan diri untuk bergerak bersama di bidang literasi.



Berproses, Berkarya, dan Berdaya bersama IIDN Jogja

Komunitas Penulis Ibu Ibu Doyan Nulis Jogja
Pertama kali gabung di IIDN Jogja akhir tahun 2013


Mengenal mereka membuatku begitu kagum. Buatku ini adalah sesuatu yang baru di mana sebelumnya aku tak memiliki lingkungan se positif ini. penghargaanku makin tinggi saat mereka yang telah memiliki karya merangkul yang masih benar-benar baru nyemplung. Berkumpul saling menukar wawasan. Saling menyemangati dalam berkarya. Memiliki semangat yang sama.

Mengenal Ety yang lulusan Teknik Kimia UGM namun tulisannya begitu menyentuh. Mbak Indah, sang peneliti di Departemen Kehutanan yang gigih melanjutkan S-3, Mbak Titin yang penuh semangat meskipun masih ngantor di Taman Nasional Gunung Merapi. Liya anggota paling muda namun senengnya luar biasa kalau ngumpul sama kami yang jauh lebih tua. Nggak bisa disebutin satu persatu bagaimana saya memotret anggota IIDN saat itu.

Namanya memang Ibu-Ibu Doyan Nulis. Namun siapapun yang belum menikah tetap boleh bergabung. Yang penting satu, perempuan. Kami yang berada di Jogja ini secara berkala mengadakan pertemuan. Sebulan sekali kami mengundang pemateri. Tak hanya pemateri dari dalam komunitas, namun kami juga mengundang pemateri dari mereka yang sudah mumpuni dalam hal tulis menulis. Jika ada penulis yang sudah senior datang ke Jogja, Kami meminta kesediaan untuk mengisi materi. Mbak Achi TM, penulis skenario film Insya Allah Sah saat datang ke Jogja langsung kami ajak untuk mengisi kopdar meskipun dadakan. Atau bekerja sama dengan komunitas penulis lain seperti Penulis Bacaan Anak. Kami bareng-bareng membuat event ketika mbak Ary Nilandari ada acara ke Jogja dan meluangkan waktu untuk megisi materi tentang menulis cerita anak.

Komunitas Penulis Ibu Ibu Doyan Nulis dan Penulis Bacaan Anak

Meski merupakan komunitas penulis, kami tak hanya belajar yang terkait dengan dunia tulis menulis saja. Namun kami juga banyak belajar tentang hal-hal yang berhubungan dengan perempuan. Pernah kami belajar membuat bros yang terbuat dari tembaga. Kami belajar dari Mbak Meta, pemilik Uparengga Galery. Atau kami belajar tentang budaya Jepang. Beberapa anggota IIDN yang pernah melanjutkan kependidikan di Jepang pun memberikan informasi. Tak lupa kami belajar membuat sushi dan memakai yukata, pakaian adat Jepang yang dipinjam dari pusat kebudayaan Jepang di Jogja. Kebetulan Mbak Dede waktu itu masih aktif sebagai guru Bahasa Jepang di sebuah SMA di Jogja. Sehingga memiliki akses untuk peminjaman berbagai macam peralatan di sana.

Belajar Budaya Jepang di Komunitas Penulis



Berkarya bersama IIDN Jogja


Di tahun 2014, Mbak Astuti Rahayu semakin sibuk. Sejak menjadi kepala sekolah di sebuah SMA terpadu di Jogja Barat membuat beliau semakin sulit membagi waktu dan pikiran. Di bulan Agustus 2014, di rumah Mbak Miftah, kami pun mengadakan pemilihan untuk pergantian pengurus IIDN Jogja. Pemilihan secara voting itu membawaku menggantikan Mbak Astuti Rahayu.

Bukan satu hal yang mudah buatku yang masih begitu baru memasuki dunia kepenulisan. Saat itu aku baru memiliki karya antologi yang jumlahnya tak seberapa. Namun teman-teman mempercayakan tongkat estafet itu. Mau tak mau aku harus lebih meng-upgrade diriku supaya teman-teman pun makin semangat berliterasi.

Di tahun itu novel pertamaku terbit lantas disusul oleh novel kedua. Dalam kopdar-kopdar yang kami adakan selain berbicara tentang materi kami juga sering mengundang penerbit menjajagi kemungkinan bekerja sama. Beberapa anggota IIDN Jogja sukses bekerjasama dengan penerbit-penerbit yang berada di Jogja.

Salah satu keberhasilan bagi IIDN Jogja adalah kami mendapatkan proyek menulis buku untuk sebuah penerbit mayor. Buku Inspirasi Nama Bayi Islami Terpopuler yang kami garap sekitar dua bulan akhirnya terbit di Gradien Mediatama, sebuah penerbit di bawah bendera Agro Group pada bulan Juni 2015.
Buku Pertama karya IIDN Jogja
Buku Karya pertama IIDN Jogja


Yang bikin teman-teman makin bersemangat waktu itu buku kami tertangkap kamera oleh salah satu program televisi yang ratingnya tinggi. Janji suci dimana Raffi Ahmad dan Nagita Slavina saat itu sedang hamil anak pertama dan mencari nama untuk anak mereka. Nggak disangka yang diambil dan nongol di tayangan tersebut adalah buku karya kami.

Buku Karya KOmunitas Perempuan


Lantas di tahun 2016 kami mendapatkan proyek dari penerbit lain untuk buku kesehatan, semacam tips kesehatan untuk anak-anak saat di rumah. Jika di Gradien Mediatama kami mendapatkan royalti, namun untuk proyek buku kesehatan ini kami jalani dengan sistem beli putus. Sayangnya buku itu tak sempat terbit meski naskah tersebut sudah dibayar penuh. Perubahan di managemen penerbitan tersebut ternyata mengubah berbagai kebijakan. Dan naskah kami ternyata mendapatkan imbasnya.

Karya kami yang ketiga adalah sebuah antologi. Antologi ini diaudisikan Desember 2017. Aku dan Ety, PJ dari antologi ini sudah merencanakan untuk terbit di tahun 2018. Sudah kami tawarkan ke beberapa penerbit mayor dan disambut dengan baik. Sayangnya waktu itu semangat kami sedang naik turun. Naskah yang sedianya akan terbit jika mencapai 100 halaman A4 terkendala. Dan naskah pun mangkrak begitu saja. Sungguh satu hal yang kami sesali bahwa kesempatan tak pernah datang untuk kedua kali.

Pandemi akhirnya menjadikan semangat berkarya hidup lagi. Naskah mangkrak itu kami poles di sana sini. Aku dan Ety membuka audisi kembali. Di tahun 2021 tercapai sudah target jumlah halaman supaya naskah itu bisa terbit. Bersyukurnya kami, dengan keterbatasan yang kami miliki, kami bisa menerbitkan sendiri karya kami.

Antologi Karya Ibu Ibu Doyan Nulis Jogja


Meski secara nominal begitu jauh yang dihasilkan dari royalti yang kami terima di buku pertama. Namun di antologi “Tuhan, Ternyata Kehilangan Itu Sesakit Ini” kami benar-benar mengurus semuanya sendiri. Dibantu oleh Mbak Oky, anggota IIDN Jogja yang lain kami melakukan self publishing. Kepuasan yang kami hasilkan pun lebih pada proses, bukan pada hasil. Dan kami, IIDN Jogja sungguh bersyukur dengan apa yang telah kami lakukan.



Berdaya bersama IIDN Jogja

Mulai tahun 2015, kami pun mendapat kepercayaan dari Perpustakaan Kota Jogjakarta menjadi partner dalam berbagai kegiatan yang diadakan oleh Perpustakaan Kota Jogjakarta. Sering kali kami mendapatkan undangan untuk mengisi kegiatan di sana. mulai dari menjadi narasumber yang terkait dengan tulis menulis, pemberdayaan perempuan maupun UMKM, atau menjadi juri dari lomba yang diadakan di sana.

Beberapa kali aku sempat diminta mengisi acara maupun menjadi juri dalam sebuah perlombaan. Terakhir bulan Maret lalu IIDN Jogja mendapatkan undangan menjadi narasumber tentang UMKM. Harusnya mbak Deassy M. Destiani, penulis, penggiat PAUD serta pengusaha UMKM sebagai narasumbernya. Qodarullah, sehari sebelum acara mbak Deassy harus melakukan tindakan medis. Sehingga secara dadakan akupun menggantikan mbak Deassy meski belum persiapan sama sekali.

Tak hanya dengan Perpustakaan Kota Jogjakarta. Kami pun sempat mengisi acara di panggung Jogja Islamic Fashion. Tema yang kami bawakan saat itu adalah bagaimana perempuan memaksimalkan waktu dan potensi untuk berkarya dari rumah. Merealisasikan yang riuh di WA group menjadi satu hal yang bermakna dan tentu saja memberikan manfaat untuk perempuan lain.

Komunitas Perempuan Ibu Ibu Doyan Nulis Jogja
Beberapa kegiatan IIDN Jogja diminta menjadi narasumber



Keunikan di IIDN Jogja

Ada yang khas IIDN Jogja banget. Kami jarang sekali mengadakan pertemuan di rumah makan atau cafe. Kami lebih nyaman mengadakan pertemuan dari rumah ke rumah. Ribet memang, namun kami begitu senang melakukan itu.

Khasnya kami adalah potluck. Setiap kali ada pertemuan salah satu yang ditunggu adalah banyaknya potluck. Terkadang yang tak sempat datang mengirimkan potluck ke rumah yang menjadi venue dari kopdar kami. Mulai dari makanan kecil hingga lauk dan sayur. Si tuan rumah tinggal menggelar tikar, menyiapkan nasi dan air minum. Yang tersaji di depan kami bisa jadi lebih banyak dari yang datang hari itu.

Namanya juga ibu-ibu. Pastilah kepikiran rumah. Nah begitulah kami, setiap kali ada kopdar yang kami bawa pulang akan jauh lebih banyak daripada yang kami bawa saat datang. Bisa banget untuk dua kali waktu makan. Kebayang kan berapa banyak bawaan kami saat sampai rumah?

IIDN itu bukan hanya Ibu-Ibu Doyan Nulis. Bisa jadi Ibu-Ibu Doyan Ngemil, Doyan Ngumpul, Doyan Ndlosor, Doyan Ngecipris, dan dedoyanan yang lain. Grup WA yang tadinya digunakan untuk koordinasi saat hendak kopdar berubah menjadi yellow pages dan wahana diskusi. Belum lagi jika berangkat kopdar kesasar. Ada di antara kami yang sering banget nyasar. Misalnya ancer-ancer tempat adalah Pasar Godean, tau-tau dia meluncur ke Pasar Gamping. Kan ya jauh banget.

Di luar kopdar-kopdar resmi sebulan sekali saat itu kami juga sering sharing. Misalnya saat salah satu di antara kami memiliki problem tentang kepengasuhan anak, IIDN Jogja punya tempat untuk berkonsultasi. Mbak Miftahul Jannah, seorang psikolog menjadi rujukan kami untuk mengurai berbagai permasalahan yang terkait dengan anak. Kami yang memiliki permasalahan yang sejenis bisa saja berkumpul ke rumah Mbak Miftah untuk ngobrol dan mencari solusi. Tak hanya yang berurusan dengan dunia saja. Namun tentang akhirat pun sering kali muncul dalam obrolan kami yang super random.



Ulang Tahun IIDN

Kami sempat terlupa kapan terakhir kali IIDN mengadakan kopdar sebelum pandemi. IIDN Jogja sempat hibernasi dalam jangka waktu yang lama. Sekian tahun berjalan begitu aktif untuk belajar membuat kami jenuh. Takdir membawa kami bersimpangan jalan. Menemukan berbagai kebahagiaan di luar dunia kepenulisan.

Kegiatannya memang vakum. Namun tidak dengan kekeluargaan kami. Grup WA kami tetap aktif sebagai tempat untuk bertanya maupun berdiskusi. Setiap kali ada yang sakit atau tertimpa musibah secepatnya kami pun melakukan open donasi. Namun begitu jarang kami membuka hal itu di sosial media. Paling tidak gambar yang kami bagi terbatas hanya di WAG saja.

Dua tahun pandemi ternyata memenuhi tangki kerinduan kami. Bertepatan dengan bulan syawal dan ulang tahun IIDN, kami pun menyempatkan diri untuk berkumpul mengurai rindu. Setelah pertemuan pertama saat pandemi di tempat Mak Enggar, pertemuan kedua ini ternyata membangkitkan semangat baru. Di Pondok Cabe Jalan Simanjuntak 28 Mei 2022 yang lalu kembali kami hadir dan memiliki keinginan untuk kembali berkarya. Merencanakan sesuatu dan ini semua begitu membahagiakan buatku.

Komunitas Perempuan


Delapan tahun menahkodai IIDN Jogja. Sejujurnya sangat ingin adanya pergantian nahkoda supaya ide-ide baru bermunculan dan IIDN Jogja makin berkembang ke depannya. Namun mereka ternyata masih nyaman dengan keadaan yang sudah berjalan sewindu ini. IIDN Jogja bukan lagi sebuah komunitas penulis melainkan sebuah keluarga baru. Keluarga yang berdaya dan memberdayakan. Dinamika kelompok yang terjadi selama satu dasa warsa ini ternyata makin mempererat kekeluargaan di antara kami. Friksi friksi kecil biasalah. Namanya juga komunitas. Iya kan?

Salah satu hal yang aku syukuri. Menemukan komunitas perempuan yang tepat tak hanya untuk berkarya dan mengembangkan diri saja. Akan tetapi bisa bermanfaat untuk orang lain. Alhamdulillah ...

Selamat Ulang Tahun yang ke 12 IIDN. Semoga masih ada dua belas tahun dua belas tahun selanjutnya untuk berkarya dan bermanfaat bagi perempuan-perempuan di Indonesia.

Minggu, 03 April 2022

Bersahabat dengan Bumi : Mengurangi Dampak Perubahan Iklim
bersahabat dengan bumi



Perubahan iklim tentu menjadi masalah bagi kita dalam sehari-hari. Rasanya, iklim dulu sangat nyaman dan terasa segar. Tapi,kenapa semakin bertembah tahun iklim berubah menjadi lebih panas, ya? Nggak hanya itu, bahkan di desa pun udara sudah tidak sesegar saat dulu. Ada apa dengan bumi ini?

Aku masih ingat, waktu aku kecil tidak banyak kendaraan dan bangunan yang dibangun di pinggir jalan. Semua masih terlihat hijau dan segar. Ketika aku berjalan melewati jalan raya, bahkan akupun mungkin bisa bermain di tengah jalan saking sepinya. Tapi, sekarang nggak mungkin banget. Banyak warung makanan dibuka, saling memadati jalanan raya. Walaupun aku tahu mereka pasti mencari nafkah, rasanya sudah terlalu banyak orang membuka warung kecilnya masing-masing dan mungkin kepadatan warga yang terus meningkat?

Kalian pasti sudah tahu tentang perubahan iklim yang menyebabkan es di kutub sana mencair. Ditambah lagi, cuaca yang kadang agak mengkawatirkan juga, ya? Sedikit-sedikit cuaca sangat terik, namun setelah itu hujan berkepanjangan yang tidak akan berhenti dalam kurun waktu yang dekat. Apalagi di Indonesia, kondisi di Indonesia pula sebenarnya dapat menyebabkan penyakit bagi manusia. Pada saat musim penghujan, tentu akan banyak bakteri dan virus yang berkembang, apalagi di tempat yang lembap. Sedangkan di saat musim kemarau, kondisi di suatu wilayah pasti akan mengalami kekeringan karena suhu bumi yang meningkat dan dapat mengakibatkan kondisi pernapasan manusia memburuk. Padahal, cuaca ekstrim juga bisa membuat daya tubuh manusia menjadi mudah sakit, kan?

Nah, sumber dari BMKG sendiri menyatakan kalau ada peningkatan temperatur rata-rata di Indonesia. Kenaikan temperatur ini punya dampak yang besar dalam pola musim. Jadi, yang harusnya musim penghujan dan musim kemarau terjadi pada saat bulan-bulan tertentu, menjadi bergeser ke bulan berikutnya.

Perubahan iklim tidak hanya berdampak pada bumi saja, namun juga bagi manusia. Kenaikan suhu bumi dapat menyebabkan perubahan alam, seperti mengeringnya sumur dan kualitas air yang menurun. Kesehatan manusia bisa terganggu nih, kalau terus-terusan mengalami perubahan iklim yang ekstrem.






Padahal, perubahan iklim seperti ini bukan hal yang tiba-tiba terjadi, loh. Manusia juga ikut berperan dalam perubahan iklim. Kok bisa? Semua hal tentu ada penyebabnya, kan? Termasuk ketika manusia banyak menggunakan kendaraan yang menghasilkan karbon monoksida sehingga terjadi pencemaran udara. Nah, aktivitas yang dilakukan manusia seperti ini dapat menyebabkan terjadinya peningkatan gas rumah kaca dan menyebabkan suhu tubuh bumi meningkat.


bersahabat dengan bumi


Lalu, apa yang bisa kita lakuin buat mencegah perubahan iklim menjadi lebih ekstrim? Kita bisa nih, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Karena komponen yang menyebabkan peningkatan gas rumah kaca salah satunya adalah karbon monoksida, kan? Jika kita pergi ke suatu tempat yang jaraknya tidak terlalu jauh, kita bisa berjalan ke tempat tersebut tanpa harus menggunakan kendaraan. Lumayan, kan, sekalian bisa berolahraga. Lalu, kita juga bisa menggunakan tas atau kantong belanja untuk mengurangi penggunaan plastik. Jika kita tidak terlalu butuh menggunakan AC, bisa nih kita kurangi penggunaannya. Dan jika kita mampu, kita bisa melakukan reboisasi atau tebang pilih. Jadi, tebangnya tidak asal ya?

Tentu sebagai manusia, kita juga perlu banget untuk memberitahu sesama tentang perubahan iklim tersebut. Pencegahan yang dilakukan oleh kelompok lebih baik dibanding sendirian saja, kan? Kita bisa memberitahu kepada orang lain pengetahuan tentang perubahan iklim tanpa menghakiminya. Sebagai contoh, kita bisa mengajak orang lain untuk berkebun bersama, memberinya tas go green, atau mengajaknya untuk mengikuti event tentang pencegahan perubahan iklim di sosial media. Edukasi dilakukan di sosial media salah satunya mengunggah konten tentang perubahan iklim disertai tagar #UntukmuBumiku dan #TeamUpforImpact agar semakin banyak orang yang mengikuti pencegahan perubahan iklim di bumi. Walaupun hanya sedikit orang yang tertarik dengan upaya pencegahan tersebut, setidaknya sedikit jauh lebih baik daripada tidak sama sekali, kan?