Jurnal Hati Irfa Hudaya

Selasa, 09 Februari 2021

1000 hari untuk selamanya





Ia melangkah mendekati nisan itu. Tangan kanannya membawa sebuah mini red velvet cake dengan beberapa lilin yang menyala di atasnya. Sebuah mawar putih tergenggam di tangan kirinya. Sebelum ia letakkan mawar itu di atas nisan, ia mendekatkan mawar itu ke hidungnya. 

Ia menghela napas. Kemudian berjongkok. Sejenak ia memejamkan mata. Ia menggigit bibirnya, menahan air yang hendak tumpah dari matanya.

“I hate you ...,” bisiknya sambil menatap nama yang tertera di nisan itu. Lalu ia meletakkan kue kecilnya. 

“But I miss you so much.”

Suaranya makin memelan. 
Angin sepoi meniup bunga kamboja yang berada di dekat gadis itu. 


Sehelai daun kamboja jatuh di kepalanya. Menyadarkan bahwa ia tak hanya ingin berkunjung saja.

"Kamu baik kan? Awas kalau kamu sedih di sana. Kan kamu sudah nggak sakit. Kamu sudah bahagia sama Allah. Bisa nggak bilang ke Mama supaya nggak worried lagi sama kamu?"

Matanya memburam. Ia mengatupkan rahangnya. Mencoba bertahan untuk tidak mengeluarkan air mata.

Kamu sudah pergi, Kak. Tapi kenapa kamu masih aja ngambil kasih sayang Mama semuanya? Nggak nyisain dikit aja buatku. Di pikiran dan hati Mama cuma ada kamu."

Dadanya pepat. Isak tak mampu lagi di tahan. Ia membiarkan air matanya luruh. Sampai seseorang yang melangkah dari kejauhan mendekat pun ia tak menyadari. Seseorang yang lantas berdiri tak jauh darinya. 

"Seribu hari. Hampir tiga tahun kepergianmu. Sampai umurku tujuh belas tahun hari ini. Aku tak pernah ada dalam kepala Mama. Padahal aku yang masih bernapas. Aku yang masih butuh cinta Mama. Mungkin, Mama akan mencintaiku kalau aku hanya butuh doa sepertimu, Kak."

Suaranya melirih. Meski sudah tak ada lagi yang menyumbat kerongkongannya. 

"Ayo Kak, ucapin Happy Birthday buatku. Kayak dulu-dulu. Jangan sok lupa kalau hari ini umurku udah 17. Udah kubawain kue nih, supaya kita tiup barengan."

Ia menyalakan lilin yang tadi sudah padam. Menyanyi dengan lirih. Memberikan ucapan selamat pada diri sendiri. Lantas meniupnya. 

"Udah ah, aku pulang. Di rumah ada acara 1000 hari kepergianmu. Nggak enak kalau aku telat sampai rumah. Sejujurnya, aku benci harus selalu berkala mengingatmu sudah pergi. Menyakitkan, sudah selama ini Mama tak menganggapku ada. Jangankan ulang tahunku, sekadar membangunkanku tidur pun tidak."

Ia berkemas. Kemudian berbalik hendak melangkah. Namun langkahnya terhenti. Melihat seseorang berdiri menatapnya sendu. 

Hatinya menghangat. Ingin rasanya menghambur ke dalam pelukan sosok perempuan yang menatapnya dengan berkaca-kaca. Sejenak saja keinginan itu hadir. Lantas ia mulai melangkah kembali. Meskipun kakinya seperti dijerat tali.

"Kia ..."

Langkahnya terhenti. 

"Tunggu Mama ya? Kita pulang sama-sama. Mama akan menyapa Kakak dulu."

Kembali napasnya menyesak. Ia merasa bahwa ia bukanlah pilihan. Ia membalikkan badannya.

"Kia pulang duluan aja."

Mama pun lantas membalik dan berjongkok di depan nisan kakak Kia. Membuat hati Kia semakin perih. Ia begitu ingin Mama menahan langkahnya. Namun harapan memang tak pernah berbanding lurus dengan kenyataan. Benar ucapnya tadi. Ia akan dicinta saat Mama hanya bisa berdoa. 

Ia kembali melangkah. Meninggalkan Mama yang khusuk berdoa. Air matanya meleleh satu-satu. Matanya pun memburam. Saat Kia hendak menyeberang jalan, sebuah mobil berjalan zig zag menuju ke arahnya. Ia terbelalak.

Brraaakkkk!

Benturan keras memekakkan telinga di sekitar area pemakaman itu. Mama terlonjak. Jantungnya berdebar keras.

Kia!

Mama berlari dan meraung.

"Kiaaaaaaa!"

Jantungnya makin berdebum melihat kerumunan orang di luar area pemakaman. Matanya sudah berkunang-kunang melihat sebuah mobil menabrak pohon di pinggir jalan. Semakin dekat. Semakin tak berjarak.

"Kiaaaaaaaaaa!"

Gadis itu terduduk hanya dua meter dari pohon yang dahannya patah karena tertabrak. Wajahnya pucat pasi. 

Mama pun jatuh terduduk dengan air mata berderai. Dengan sisa tenaganya ia bersujud. Mengucap syukur.

***


Rumah kembali sepi. Acara 1000 hari kepergian Leon telah berlalu. Setelah ini takkan ada lagi ritual mengingat Leon. Takkan ada lagi kesibukan menyiapkan segala hal berbau Leon. Semuanya tertinggal di hati. 

"Waktuku untuk move on," bisik perempuan usia empat puluhan tahun itu sambil mengelus foto Leon yang terpampang di dinding. Foto yang takkan berganti-ganti karena takkan ada lagi kesempatan memasang foto Leon yang makin dewasa. 

"Harusnya sudah sejak lama kamu move on, Ma." 

Mama menoleh, kemudian berjalan mendekati Papa. Dengan lembut Papa menggandeng tangan Mama. Lantas diajaknya Mama masuk ke kamar. 

"Aku pernah bilang, jangan memaksaku melupakan Leon, kan?" 

Papa tersenyum, lantas menyentuh pipi Mama pelan.

"Tak ada yang melupakan Leon. Kamu, aku ataupun Kia. Aku cuma mengingatkan. Ada Kia yang harusnya mendapatkan cinta kita penuh-penuh."

"Kia pasti paham kenapa aku begitu mencintai kakaknya."

"Ia paham kamu begitu mencintai Leon. Yang ia tak paham adalah obsesimu terhadap kenangan."

Mama menatap Papa tak suka. 

"Aku nggak pernah terobsesi terhadap apapun."

"Lalu apa namanya kalau setiap hari kamu selalu membicarakannya tak kenal waktu. Yang kamu bicarakan itu sudah nggak bernapas lagi, Ma. Harusnya kita lebih memikirkan nyawa lain yang kering dari perhatian kita."

Mata Mama memerah. Kedua tangannya mengepal erat.

"Yang sudah nggak bernapas itu pergi karena menyelamatkan nyawa lain itu, Pa!"

Mama setengah berteriak. Napasnya tersegal-segal menahan rasa sakit di dada.

Papa menghela napas. Ia berusaha memeluk, namun lengannya ditepis kasar oleh Mama.

"Jangan lupa, Ma. Kia sampai sekarang tak bisa mengingat hal itu. Ia juga mengalami trauma. Benturan di kepalanya membuat sebagian memorinya hilang. Ia takkan pernah ingat bagaimana Leon bisa tertabrak motor karena menyelamatkan Kia. Yang ia ingat hanya Leon melambaikan tangannya dan tersenyum. Ia tak ingat setelah itu ia hendak menyeberang jalan. Ia tak pernah tahu ada motor ngebut yang mendekatinya lalu Leon berlari menyelamatkannya."

Yang bertahun-tahun ingin dilupakan dihadirkan kembali oleh suaminya. Anak lelaki kebanggaannya. Yang selalu berprestasi di sekolahnya. Lelaki yang mulai mendewasa. Yang santun dan lembut mewarisi sifat ayahnya. Anak muda yang dikagumi oleh banyak lawan jenisnya. Si penyayang yang tercinta. Yang tak pernah disangka diambil paksa oleh Sang Pencipta. 

Mama tersedu. Inginnya meraung mendengar kata-kata Papa. Inginnya Mama Leon tetap hidup di rumah ini. Leon hanya pergi sebentar. Ada kegiatan OSIS atau sedang bermain basket. Leon sedang di kamarnya, lagi nggak mau diganggu. Leon sedang belajar. Leon sedang ...

Mama tak ingin kehilangan Leon. Menghadirkan Leon di rumah ini sejatinya hanya menutup lukanya karena pernah menganggap Kialah penyebab Leon pergi. Menghadirkan milyaran cinta untuk Leon di permukaan sebenarnya hanya untuk mengikis kebencian yang timbul karena Leon mengorbankan diri sendiri. 

Leon berkorban untuk adik kecilnya. Adik yang juga lahir dari rahim yang sama. Adik yang didambakan semua orang di keluarga besar. Yang kelahirannya ditunggu banyak orang karena memiliki predikat sebagai cucu perempuan satu-satunya. 

Kia ...

Sebelumnya menjadi tumpahan kasih sayang banyak orang. Setiap tahun selalu merayakan ulang tahunnya dengan berbagai hadiah serta dikelilingi orang-orang tercinta. Terakhir kalinya ia berulang tahun dipenuhi peluk dan cium adalah ulang tahunnya yang ke 14. Ketika semua orang berbahagia. Saat Mama belum terluka seperti hari ini.

Mengingat Kia membuat Mama tergugu. Sejujurnya kejadian tadi siang cukup memukul perasaannya. Betapa ia pun takut kehilangan Kia. Seperti tulang-tulangnya terlepas dari tubuh ketika mendengar suara tabrakan yang demikian keras. Napasnya sedemikian sesak karena takut kehilangan yang kedua kalinya. Sesal mulai beterbangan di kepala, mengingat kata-kata Kia yang terucap di depan nisan Leon. 

Benarkah Leon telah merampas seluruh cinta Mama? Tak ada sedikitpun yang tersisa untuk Kia? Benarkah cintanya pada Kia akan muncul saat Mama hanya bisa mendoakan saja? Apakah Mama akan menunggu cinta datang saat sudah tak mampu lagi mendekap?

Mama menggelengkan kepalanya. Benar kata Papa. Ada hati lain yang menunggu cinta. Hati lain yang begitu terluka karena diabaikan sedemikian lama. 


Tuhan ...

Jangan sampai cahaya di hatinya redup karena kesalahanku, batin Mama. 

***


Mata Kia sulit terpejam. Meski jam di dinding sudah menunjukkan pukul 02.00. Tetap saja kantuk tak segera menyapa. 

Ia masih mengingat Mama. Ekspresi Mama, kekhawatiran Mama. Meski ditunjukkan tak lama. Namun cukup membuat hatinya menghangat.

Ada percikan kasih di mata Mama. Sujud syukur disertai air mata yang meleleh saat mengetahui Kia baik baik saja cukup membuat Kia merasa. Ada harapan yang tersemai untuknya. Mendapatkan cinta yang selama ini ia anggap diambil habis oleh Kak Leon. 

Tertatihnya Mama saat berjalan mendekatinya. Dekapan erat Mama sehingga Kia pun merasakan degup jantung Mama. 

Dalam diam Kia menikmati napas Mama di kepalanya. Mensyukuri basah rambutnya karena air mata Mama. Rasanya ingin membiarkan pipinya tetap memerah karena bekas lipstik Mama. Kia makin memahami. Mama hanya butuh diberi waktu. Membiarkan Mama melepaskan Kak Leon dengan keikhlasan tanpa paksaan. 

Mama ...
Maafkan Kia ...

Ingin rasanya menghambur dalam pelukan Mama. Namun Kia tahu. Ia harus bersabar menunggu datangnya matahari. Mama pasti lelah mengurus sendiri acara 1000 hari kepergian Kak Leon. 

Tiba-tiba saja Kia memiliki rasa rindu. Untuk perempuan yang melahirkannya. Untuk perempuan yang 1000 hari ini telah terluka. Sayangnya tak ada foto Mama di kamarnya. Ia harus ke ruang keluarga untuk menatap wajah Mama. 

Namun Kia juga khawatir. Apakah rindunya akan disambut Mama. Apakah rindunya tak melukai jika besok kenyataannya tak seindah harapan? 

Kia tak ingin berandai-andai. Biarlah, jika harapannya harus tetap membumbung tinggi. Yang terpenting baginya, Kia akan memberikan waktu sebanyak yang Mama mau. 

Pelan-pelan ia keluar dari kamarnya lalu berjalan ke ruang keluarga. Tiba-tiba darahnya tersirap. Mama sedang berdiri menatap foto keluarga. 

"Kia ..."

Kia tak jadi melangkah pergi saat ia sudah membalikkan badannya. Dalam temaram lampu, ia melihat wajah kelelahan Mama dengan jelas. Mata sembab Mama tak mampu ditutupi. 

Mama melangkah mendekati Kia. Membelai rambut Kia sekilas, kemudian menatap Kia lekat-lekat sampai Kia pun jengah dibuatnya.

"Mama apaan sih?"

Mama tertawa. Sejurus kemudian mulut Mama terkatup rapat. Hidung Mama tiba-tiba memerah. Mata Mama pun berkaca-kaca. 

"Kak Leon tak pernah merampas habis cinta Mama, Ki. Mama yang tak bisa memaruh cinta Mama dengan baik."

Mama terisak. Kia masih saja mematung di depan Mama. Kia tak kuasa untuk bergerak. 

"Maafkan Mama, Ki. Mulai hari ini. Kita saling menyembuhkan luka ya?"

Sebelum Mama menyelesaikan kalimatnya, Kia sudah menghambur. Ia tak perlu memberikan Mama banyak waktu. 1000 hari sudah cukup bagi Mama. Untuk selamanya memberi cinta untuk Kia. 

"Selamat Ulang Tahun ya, Ki. Kamu pengen kado apa?"
Sejenak Mama melepas pelukan. 

Kia menatap Mama, lalu menggeleng. Kembali ia mengetatkan pelukan.

Kia tak ingin kado apapun di ulang tahunnya kali ini. Hadiah yang tak ternilai baru saja ia dapatkan dari Mama.

***

Kamis, 28 Januari 2021

Ngefans di usia matang, yay or nay?


Assalamualaikum temans,

Pasca operasi tumor payudara, saya mengalami banyak hal yang saya sendiri masih kebingungan sendiri mencari jawaban. Saya kehilangan banyak hal di diri saya. Kehilangan terbesar yang saya rasakan adalah kehilangan kepercayaan diri dan semangat. Saya belum menemukan jawaban atas semua itu. 

Saya sudah merasa lelah dengan kondisi saat ini. Pandemi yang tak kunjung mereda. Situasi perekonomian yang tak makin membaik. Berbagai macam pikiran berkelindan di kepala. 

Menulis, satu hal yang sebelumnya sangat saya sukai pun saya tinggalkan. Bermula dari dua laptop yang dipakai anak-anak untuk sekolah online. Saat anak-anak sudah selesai melakukan pembelajaran, saya sudah merasa lelah dan malas untuk menyalakan laptop kembali. Benar-benar satu hal yang tak produktif. Pada akhirnya saya menghibur diri dengan bermain sosial media. 


Sebelumnya saya sering menertawakan mereka yang bermain sosial media tanpa batas. Hidup hanya untuk scrolling instagram, nonton youtube mulai dari yang sangat berfaedah sampai hal-hal terreceh, atau joget-joget tiktok nggak inget umur. 

Ternyata saya pun membuang waktu di tempat yang sama. Seperti emak-emak lain, saya bergembira ria menonton tayangan pasangan artis yang dijodohkan oleh netizen. Hampir setiap hari di berbagai sosial media saya mengikuti mereka. Dari pagi sampai malam. Ngeuwuin kelakuan mereka. Meski nggak sampai ikut menulis komentar. Hanya membaca dan menyimak saja. Saya sadar diri, sudah nggak masanya ikut serta dalam keriuhan tersebut. 

Anak-anak pun protes. Pasangan viral itu sering saya masukkan dalam obrolan dengan anak-anak. Iya sih, saya tuh biasanya kalau ngobrol dengan anak-anak ya sesuatu yang relate dengan mereka. Lha ini kok bisa berbeda banget. Meski begitu tetap tak mengubah saya.

Namun lambat laun ada sesuatu yang mengusik pikiran saya. Sering membaca postingan dan komentar dari fanbase pasangan tersebut kok membuat saya seperti pelan-pelan terbangun dari tidur. 

Mereka penggemar fanatik yang tak terima saat idolanya dikritik atau diberi saran. Menutupi kesalahan idola mereka dengan melempar kesalahan pada idola lain. Membandingkan. Dan bar bar. Bahkan ada semacam polisi yang mencari akun haters lalu mengajak anggota fanbase untuk mereport akun yang dianggap merugikan. 

Saya pun kepo, kemudian membuka beberapa akun anggota fanbase tersebut. Banyak juga yang seumuran saya berperilaku seperti bocah. Ikut menghujat orang lain yang tak sependapat. Membela idola sampai seperti pasukan berani mati. Ada apa ini? Mengapa emak-emak seumuran saya bisa berperilaku seperti itu? 

Bisa jadi, mereka mencari kebahagiaan. Banyak orang di usia saya adalah manusia-manusia yang kurang terpenuhi afeksinya. Sudah tak lagi mendapatkan pemujaan dari pasangan. Dalam kepalanya sudah penuh oleh tanggung jawab akan keluarga. Urusan suami, anak, rumah, urusan sosial, lingkungan, ataupun pekerjaan. Banyak di antara mereka kemudian lelah dan mencari kebahagiaan semu di sosial media. 

Pada akhirnya, mereka menggantungkan kebahagiaan kepada sang idola. Idola yang selalu tersorot kamera menjadi sosok sempurna yang bisa mewujudkan kebahagiaan. 

Nggak ada yang salah ketika seumuran saya memiliki idola. Saya yakin, semua orang memiliki idola di umur yang tak lagi remaja. Bahkan salah satu teman saya mbak Siti Maryamah pun viral saat Reza Rahardian membaca suratnya dengan mata yang berkaca-kaca. 

Hanya saja sebagai orang yang sudah berumur dan menjadi orang tua. Rasanya pantas sekali jika kita mampu menempatkan diri. Sewajarnya dalam bersikap ketika menjadi seorang fans. Jangan salah. Anak-anak, apalagi yang sudah menjelang dewasa pun memantau kita dalam bersosial media.


Tak ada salahnya bagi kita untuk lebih menahan dan menjaga diri dalam bersosial media.

Jumat, 08 Januari 2021

Pendidikan Anak Remaja di Era Pandemi



Assalamualaikum temans, 

Pandemi ini sudah berjalan satu tahun. Belum ada tanda-tanda pandemi ini segera pergi. Di berbagai tempat malah kondisinya makin parah. 

Di kabupaten Magelang, setelah sekian lama dikategorikan sebagai daerah merah, minggu ini sudah mulai berganti warna menjadi orange. Dari data yang ada kecamatan dengan resiko penularan sedang berada di kecamatan empat kecamatan yaitu Salaman, Borobudur, Bandongan dan Mertoyudan. Satu kecamatan sudah zero pasien covid, sementara kecamatan lainnya beresiko rendah. Agak khawatir juga pasca liburan begini. Khawatir aja ada penambahan pasien pasca liburan lalu. Harapannya sih semua orang menati protokol kesehatan sehingga bisa meminimalisir penularan. 


Meski berita tersebut termasuk menggembirakan, ada juga berita duka melingkupi keluarga besar saya. Salah satu anggota keluarga besar, seorang dokter akhirnya syahid setelah tertular dari pasien. Semoga beliau husnul khotimah.


Apa kabar dengan anak-anak di rumah? Bagaimana dengan para ibu di rumah? 

Sejujurnya saya pun sudah lelah. Menghadapi dua remaja di rumah memang tak seberat jika mendampingi pembelajaran jarak jauh pada anak usia SD. Saya harus banyak bersyukur karena anak masih relatif tertib saat pembelajaran jarak jauh. Namun banyak berkurang kualitasnya. 

Nggak bisa dipungkiri pandemi ini mengubah banyak hal, termasuk di rumah. Era new normal terjadi juga dalam keluarga. Banyak value yang bergeser dalam pendidikan dan pengasuhan anak. Contohnya, karena cuaca dingin di rumah membuat anak-anak malas mandi jika hendak pembelajaran. Biasanya bakda shalat shubuh mereka melakukan persiapan sekolah, di saat pembelajaran jarak jauh pasca shalat Shubuh pun tidur lagi. Bangun pun menjelang pembelajaran. 

Gadget yang biasanya terpegang di sore hari, saat ini terpegang tanpa jeda. Tahun lalu nggak kepikiran game online, akhir-akhir ini si Adek pun minta izin untuk main game online. Alasannya sudah menjelang 15 tahun. Sudah bisa mengontrol diri nggak main game online melulu. 

Akhirnya saya mengizinkan. Dengan catatan hanya satu game online yang dia unduh. Itu pun di HP saya. Kontrol tak hanya berada di tangannya. Namun dari saya juga sebagai orang tua. 

Marah nggak kalau tiba-tiba saya minta HPnya? Sama sekali nggak. Kadang ia minta waktu untuk menyelesaikan satu term permainan. Setelah itu akan ia serahkan. Waktu bermainnya pun menunggu saya tak menggunakan HP. Itu salah satu cara mengajarkan anak untuk bersabar dan tahu diri. 

Saya tak terlalu berharap banyak dengan nilai akademis anak-anak. Pada akhirnya ketika ia melaksanakan pendidikan di rumah, maka mengajarkan life skill merupakan hal terpenting yang bisa kita ajarkan pada anak-anak. Makna parenting di masa pandemi ini begitu terasa. Menjadi orang tua. Menjadi rumah untuk hati anak-anak. 

Untuk si Kakak sih, masalah life skill sudah auto pilot. Sudah teruji pasca saya operasi tumor payudara. Ia sudah mampu menggantikan peran saya mengurus rumah tangga. 


Sebenarnya Adek pun ya nggak gagap-gagap amat dengan pekerjaan rumah tangga. Setiap kali saya memintanya melakukan pekerjaan rumah tangga ada kalimat yang sering kali saya ulang untuk memotivasinya.

"Di luar negeri tuh bayar asisten rumah tangga mahal banget. Kalau Adek nanti sekolah di luar negeri, Adek udah terbiasa melakukan sendiri. Jadi nggak keluar biaya lebih banyak lagi."

Dan Adek pun sudah nggak pernah lagi mempertanyakan kenapa ia mesti melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh kaum perempuan. Di rumah ia sudah terbiasa menjemur pakaian seluruh anggota keluarga. Ia pun paham kapan harus mengangkat jemuran saat sudah kering atau karena mendung menggantung.




Menyapu lantai saat ART libur sudah biasa ia lakukan. Memetik sayuran saat saya meminta pertolongan pun sudah terampil. Bahkan saat saya dan Kakak puasa sunnah, ia terbiasa menyiapkan makan siang sendiri. Memang masih masakan sederhana. Paling suka ia membuat omelet telur atau nasi goreng. Terkadang saya menyetok bumbu nasi goreng siap pakai. Namun saat stok habis, Adek tahu bagaimana meracik bumbu nasi goreng. Rasanya pun lumayan. 




Selain life skill,  hikmah adanya pandemi ini saya dan anak-anak makin memahami dan kedekatan pun semakin bertambah. Kalau dulu kami mengobrol saat makan dan menjelang tidur. Sekarang kapan aja kami bisa ngobrol. Lha bosen ngikut daring aja bisa langsung nyamperin simboknya. Ngobrol random setiap hari. Makin terlihat anak-anak bertumbuh jiwa dan raganya.

Salah satu yang saya syukuri adalah Kakak dan Adek makin dekat. Saling menolong saat pembelajaran daring. Nggak pernah bertengkar. Karena sudah terbiasa berbagi, mereka nggak egois sama sekali. Kalau toh ada keributan kecil karena salah satu gabut dan mengganggu yang lainnya. 

Namun tetap ada yang membuat saya galau. Tahun ini Kakak akan lulus SMA dan Adek lulus SMP. Sama-sama mencari institusi pendidikan yang baru. Tempo hari waktu ke Semarang Kakak minta dianterin ke universitas negeri yang ada di sana. Lihat-lihat dari mobil doang. Setidaknya ia punya bayangan jika hendak kuliah di Semarang seberapa jauh jarak dari rumah eyangnya ke kampus-kampus itu. 

Si Kakak masih galau dengan jurusan yang hendak ia pilih. Meski saya memberikan arahan, tetap si Kakak yang memilih sesuai minat bakatnya. 

Sementara si Adek sudah mantap memilih jurusan IPS saat SMA nanti. Sejujurnya saya berharap ia memilih jurusan IPA untuk sekolah lanjutannya. Hanya saja saya harus legowo. Bukan saya yang sekolah. Saya memilih si Adek sekolah dengan bahagia. Tidak akan saya memaksa burung untuk bisa berenang. Takkan pernah saya meminta ikan untuk belajar terbang. Yang terpenting ia menjadi yang terbaik versi dirinya.

Semoga semuanya berjalan lancar ya temans. Mohon doanya.




























Jumat, 18 Desember 2020

5 Kelebihan Asus Zenfone 5 ZE620KL



Di tahun 2018 lalu, Asus memperkenalkan seri Asus Zenfone 5 yang terdiri dari tiga produk yaitu Asus Zenfone 5 ZE620KL, Asus Zenfone 5Z ZS620KL, serta Asus Zenfone 5Q ZC600KL. Ketiga seri Asus Zenfone 5 tersebut menawarkan kualitas kamera yang tergolong baik lengkap dengan berbagai kelebihannya masing masing. 

Tetapi yang akan dibahas disini hanya Asus Zenfone 5 ZE620KL yang dibandrol dengan harga Rp. 4 jutaan. Asus Zenfone 5 ZE620KL ini dihadirkan dengan dibekali banyak kelebihan, seperti diantaranya :


1. Perfoma Cukup Baik Untuk Gaming
Kamu tidak perlu meragukan lagi perfoma Snapdragon 636. Untuk kelas menengah, chipset ini bisa dibilang cukup mumpuni untuk digunakan bermain game. Memang chipset ini tidak sekencang Snapdragon 660, tetapi perfoma Snapdragon 636 tergolong lumayan. Perfoma Snapdragon 636 pada HP Asus Zenfone 5 ZE620KL ini kurang lebih hampir sama dengan perfoma Asus Zenfone Max Pro M1 atau Xiaomi Redmi Note 5. 

2. Kamera Dengan Fitur AI
Asus Zenfone 5 ZE620KL telah dibekali dengan kamera yang tergolong cukup baik. HP ini mengusung kamera ganda 12 MP + 8 MP dibagian belakangnya. Kameranya dilengkapi fitur AI yang tergolong cukup baik. Kamera belakang HP ini dilengkapi sensor Sony IMX363 yang mampu menangkap gambar dengan kualitas baik. 

3. Kualitas Layar Tergolong Baik
Asus Zenfone 5 ZE620KL hadir dengan mengusung layar 6.2 inci dengan resolusi Full HD+ 1080 x 2246 piksel. Layarnya yang menggunakan panel IPS dihadirkan dengan notch yang pastinya bisa dipilih untuk disembunyikan atau ditampilkan. Layar Asus Zenfone 5 ZE620KL yang mengusung panel IPS ini mampu menampilkan tampilan warna yang cerah serta lebih hidup. Reproduksi warnanya juga tampak bagus. Disediakan juga opsi untuk mengatur tingkat kecerahan layarnya. 

4. Desain Bodi Kokoh Dan Cantik
Asus Zenfone 5 ZE620KL tidak hanya hadir dengan tampilan layarnya saja yang baik, tetapi desainnya juga cantik. HP ini memiliki bodi yang cukup lain dari yang lain serta memiliki khas tersendiri. HP ini dibalut dengan desain bodi berbingkai logam yang dilapisi kaca pada bagian belakangnya. Lapisan kaca tersebut membuat HP ini tampak terlihat lebih cerah serta terasa lebih mahal. HP ini memiliki bodi yang tidak terkesan plastik dan murahan sama sekali. Bodinya juga tergolong kokoh sehingga Asus Zenfone 5 ZE620KL bisa dibilang sebagai salah satu HP yang memiliki bodi kokoh.

5. NFC Dan Fitur Lengkap Lainnya 
Asus Zenfone 5 ZE620KL memiliki fitur lengkap, bahkan tergolong paling lengkap dibandingkan dengan HP 4 jutaan lainnya. Misalnya saja ada fitur NFC yang kini sudah banyak dicari orang pada HP kelas menengah. Fitur lainnya adalah sensor pada HP ini yang tergolong cukup lengkap. Semua sensor yang dibutuhkan HP berkelas bisa ditemukan di HP ini, terkecuali Pressure Sensor dan Temperature Sensor. 

Fitur lain yang ditawarkannya adalah kelengkapan konektivitas misalnya 4G LTE, WiFi 802.11 a/b/g/b/ac, Bluetooth 5.0, dan pastinya saja GPS. Asus Zenfone 5 ZE620KL juga memiliki fitur penting bernama Noise Canceling yaitu sebuah fitur untuk menghadirkan kualitas suara panggilan yang baik. 


Dengan banyaknya fitur yang dimilikinya, sehingga tidak heran jika Asus Zenfone 5 ZE620KL ini tergolong memiliki kelebihan sebagai HP yang memiliki fitur yang memang seharusnya ada pada HP kelas menengah.

Senin, 14 Desember 2020

Menghindarkan anak menjadi korban atau pelaku pelecehan seksual


Assalamualaikum temans,

Dulu, ketika saya membaca berita tentang pelecehan seksual hati saya begitu mendidih. Sering kali merasa geregetan mengapa si korban tak berani melaporkan tentang peristiwa buruk yang menimpanya. Namun saat saya sendiri mengalaminya, saya baru memahami. Betapa rasa sakit di hati itu tak terkatakan. Jangankan melapor, mengingat saja sudah cukup membuat tubuh bergetar karena marah dan sakit hati. Bahkan hal-hal traumatis seperti itu bisa sekali membuat mental terganggu.

Dua kali saya mendapatkan kejadian buruk. Verbal dan fisik. Meski kejadian itu menimpa saya berpuluh tahun yang lalu. Namun ada rasa sakit yang sampai sekarang belum pulih secara sempurna. Merasa lebih baik tak mengingat apalagi membincangkannya. Perlu waktu yang lama untuk berani berbagi cerita. Karena saya butuh menata hati. Supaya lebih siap dalam menerima dan berdamai dengan luka yang lama tersimpan.

Saat itu saya masih kuliah. Pulang dari kampus sekitar pukul 20.30 karena ada mata kuliah yang saya ambil waktu belajarnya setelah maghrib. Sebenarnya jarak dari kampus menuju rumah kakak saya tidak jauh. Bahkan termasuk jalur ramai. Namun ada titik tertentu merupakan area pemakaman terbesar di Semarang dengan penerangan yang kurang sehingga terlihat remang-remang.

Saya mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Sampai lepas lampu merah tiba-tiba ada tiga sepeda motor memepet saya. Satu di depan, satu di samping, satu lagi di belakang. Yang berada di samping berboncengan. Mereka memandangi saya dari atas ke bawah. Dengan pandangan yang menjijikkan. Alarm di hati berbunyi. Jantung saya tak karuan. Mau menggebah motor saya pun tak bisa. Khawatir jika saya nekad motor yang saya kendarai malah jatuh. Pasti hal yang lebih buruk akan terjadi. 

"Ayo, Mbak, ikut kami. Nanti enak-enak lho," kata pembonceng motor di sebelah saya. 

Saya berusah mencari celah untuk melepaskan diri. Namun mereka rupanya lebih tahu. Mereka lebih merapat lagi sehingga tak ada jalan untuk pergi. Yang saya usahakan saat itu bagaimana motor masib tetap stabil sambil berpikir apa yang harus saya lakukan. 

"Ayo to mbak, nggak usah jual mahal gitu." 

Saya tak merespon. Bertahan mengendarai motor dengan pelan supaya tak oleng butuh perjuangan. Mau berteriak takut kalau yang di belakang saya bertindak nekad. Mata saya berusaha memotret situasi di sekeliling sambil tetap berpikir jernih. 

"Mau berapa to Mbak? Nanti tak bayar kok."

Mendengar kalimat itu spontan saya menengok ke arah suara. Darah saya mendidih. Saya tak terima. Mereka masih cengar cengir memandangi saya dengan gestur yang memuakkan. 

Ini sudah mendekati perempatan. Jalan yang saya ambil lurus ke depan. Tiga motor ini masih saja sangat dekat dengan motor saya. Saya pun pura-pura menyalakan lampu sein motor ke kanan. Tiga motor itu melakukan hal yang sama. Ini adalah kesempatan dalam hitungan detik. Meski khawatir jika tindakan saya membahayakan bagi motor lain. 

Saya melihat celah. Ketika mereka lengah, saya pun mengubah lampu sein kemudian mengambil jalan lurus lalu masuk ke perumahan. Saya pun bernapas lega. Namun sakit hati dan marah masih tertanam di hati. Hanya bisa menangis saat itu. Saya ditawar orang di jalan. Padahal saya sudah memakai pakaian yang menutup aurat. Apakah ada yang salah dengan pakaian saya? Saat itu saya memakai celana jins, hem lengan panjang, jilbab yang menutup kepala dan tas ransel di punggung saya. Mengapa pakaian tertutup masih membuat orang lain berpikiran nakal tentang saya?

Hari-hari selanjutnya saya meminta suami yang statusnya saat itu masih seorang sahabat untuk mengawal saya pulang. Paling nggak berada di belakang saya sampai perempatan menuju perumahan. Rasa takut itu tak juga hilang. Meski sakit hati perlahan-lahan menipis. 


Setahun berikutnya.

Saat itu euforia politik sedang terjadi. Kebebasan berpolitik yang diinginkan oleh banyak pihak terbuka lebar. Sebuah partai yang dulunya ditekan oleh pemerintah mendapatkan simpatisan yang cukup besar. Apalagi di Semarang. 

Konvoi di jalan dengan memenuhi jalur. Tak menyisakan sedikit pun bagi orang-orang yang berlawanan arah. Pun di saat itu masyarakat tak pernah tahu akan ada arak-arakan dari arah mana karena belum ada media sosial sebagai sarana informasi. Tahu-tahu sudah terjebak saja di satu ruas jalanan.

Itu yang saya alami. Sepulang menemani sahabat saya yang baru saja di wisuda. Tahu-tahu sebuah partai telah memenuhi jalan. Saya yang bersimpangan arah pun minggir. Bahkan sampai naik ke trotoar. Takut aja kalau dimaki-maki karena tidak mau minggir.

Yang tak pernah saya duga. Beberapa laki-laki cepat sekali berlari ke arah saya. Lantas meremas salah satu bagian tubuh saya.

Saya menjerit. Tapi jeritan itu tak ada apa-apanya dibanding raungan motor dan teriakan mereka. Seketika itu air mata jatuh tanpa bisa saya tahan. Perjalanan pulang saya lalui dengan tubuh gemetar. Air mata terus berderai hari itu. 

Yang saya rasakan saat itu adalah perasaan terhina dan kotor. Belum pernah sekalipun ada laki-laki yang menyentuh kulit saya. Rasanya tak ada artinya lagi saya menutup seluruh aurat saya. 

Apa salah saya? Saya sudah menutup tubuh dengan pakaian longgar dari ujung rambut sampai ujung kaki. Masih saja tak bisa menghalangi pikiran mesum mereka. 

Saat itu saya sempat membenci diri sendiri. Benci karena tak bisa melindungi diri sendiri. Kecewa karena tak bisa berkata apa-apa. Setiap kali teringat selalu saja gemetaran dan merasa nista karena sudah terjamah laki-laki. Sering tiba-tiba merasa sesak napas dan sulit menangis. 

Cukup lama saya merasakan ketakutan terhadap mereka yang berombongan di jalan. Sampai berpuluh tahun berlalu pun saya masih merasakan trauma.Lebih baik sama sekali tidak melihat, walaupun di media sekalipun. 

Yang saya rasakan itu hanya bagian yang sangat kecil dibandingkan dengan pelecehan seksual yang makin sering terjadi. Di kampung saya seorang anak TK mendapatkan pelecehan seksual dari seorang kakek yang belum beristri. Seorang teman di masa remajanya juga hampir mengalami perkosaan dari guru ekstrakurikulernya. Dan keponakan saya diajak melakukan hubungan kelamin sesama jenis oleh teman bermainnya. Untung saja dia menolak. Saya tak bisa membayangkan jika keponakan saya melakukan itu hanya karena takut kehilangan teman.

Siapapun bisa saja menjadi korban maupun pelaku pelecehan seksual. Tua, muda, atau bahkan anak-anak. Apapun jenis kelaminnya. 

Sebagai orang tua ya wajar kan kalau saya, anda, siapapun saat mendengat berita tentang pelecehan seksual yang saat ini marak terjadi?


Menghindarkan anak dari perilaku pelecehan


Tak memungkiri, pelecehan seksual bisa terjadi di mana saja. Tak terkecuali institusi yang seharusnya merupakan tempat ternyaman untuk setiap manusia. Tak sedikit pelecehan seksual terjadi di sekolah bahkan di rumah. Pelaku dan korban saling mengenal, bahkan bisa jadi berhubungan darah. 

Ketakutan bahwa hal itu bisa menimpa anak kita membuat para orang tua harus semakin hati-hati. Apalagi pelecehan seksual itu bisa juga terjadi melalui dunia maya. Teknologi informasi yang mengguyur kita hari ini bisa menjadi tempat yang menyeramkan bagi sebagian anak-anak kita.

Sebagai orang tua kita hanya bisa membekali anak-anak kita. Bagaimana menghindarkan mereka dari menjadi korban ataupun pelaku pelecehan seksual. Apa saja yang bisa kita berikan pada anak-anak kita?

Hal paling dasar untuk bekal anak kita adalah teladan dari orang tua. Komunikasi yang nyaman antara anak dan orang tua adalah hal prinsip sebagai dasar keterbukaan dalam keluarga. Keteladanan timbul dari komunikasi yang baik dalam keluarga. 

Ada hal-hal sederhana namun penting bisa kita berikan pada anak-anak kita. Bagaimana hal sederhana ini bisa menghindarkan mereka menjadi korban dari pelecehan seksual.


Memberikan edukasi seksual pada anak sejak dini.

Sudah banyak sekali artikel pembahasan tentang memberikan edukasi seksual pada anak-anak. Ya ... Edukasi seksual bukan secara vulgar memberikan informasi tentang hubungan seksual. Namun memberikan pemahaman pada anak dalam mengenali tubuhnya sendiri. 

a. Ini tubuhku.
Kita berikan pemahaman pada anak bahwa tubuhnya tidak sembarangan disentuh. Jika orang lain hendak menyentuh, maka harus meminta izin pada si anak. Orang lain tidak boleh sembarangan menyentuh tubuh si anak meskipun orang terdekat sekalipun.
Beritahukan pada anak tentang fungsi tubuh yang ditutupi pakaian dalam. Ajarkanlah anak mengatakan tidak dan menolak apabila ada orang lain yang hendak menyentuhnya.

b. Merasakan sentuhan baik dan sentuhan buruk.
Anak-anak biasanya senang mendapatkan sentuhan fisik dari orang lain. Sentuhan baik adalah kontak fisik yang tak membahayakan. Sementara sentuhan buruk adalah sentuhan pada tempat yang tak semestinya, misalnya dada ataupun alat kelamin. Tempat-tempat itu terlarang untuk disentuh. 

c. Rahasia yang buruk
Terkadang anak suka sekali diajak main rahasia-rahasiaan. Namun beritahukan pada anak jika ada rahasia yang membuat sakit, sedih, atau marah itu adalah rahasia buruk yang harus segera diberitahukan pada orang tua.

d. Mencari perlindungan
Beritahukan anak bahwa orang tua atau guru bisa menjadi perlindungan untuk mereka dari hal-hal yang buruk. 

e. Bekali anak dengan pengetahuan seksual sesuai umurnya. 
Saat ini banyak anak yang sudah mulai mendapatkan menstruasi di usia 10 tahun. Saat usia di bawah itu anak sudah harus mendapatkan pengetahuan tentang reproduksi secara sederhana. 

f. Bekali anak dengan kemampuan beladiri. 
Kemampuan beladiri bukan berarti harus bisa melakukan gerakan karate ataupun pencak silat. Kemampuan beladiri secara verbal atau merasakan insting jika ada orang yang berniat buruk segera menjauhi. Keduanya bisa dilatih dan diajarkan pada anak.


Orang tua mendampingi anak dalam kegiatan sehari-hari

Memang tak bisa selama 24 jam anak-anak berada dalam pengawasan orang tua. Namun pendampingan tak hanya secara fisik. Ada quality time orang tua dan anak dalam membangun komunikasi. Pengawasan paling efektif dari orang tua terhadap anak adalah komunikasi yang intensif. Komunikasi dua arah yang memberikan ruang pada kedua belah pihak untuk melakukan bargaining position. Selalu ada win win solution untuk mengatasi segala permasalahan. 


O ya, jangan sampai kita berfokus pada menghindarkan anak sebagai korban saja. Anak kita pun punya potensi menjadi pelaku. 

Banyak terjadi mereka yang menjadi pelaku adalah korban sebelumnya. Untuk memutus mata rantainya ada beberapa hal yang harus kita berikan pada anak-anak kita.

a. Ajak anak untuk mengenali dan melatih emosi dalam diri mereka.
Anak diajak untuk merasakan rasa senang, sedih, kecewa, marah, ataupun malu. Ajak pula anak mengenali rasa bangga dan bersalah setiap kali ia melakukan sesuatu yang buruk. Meski begitu ajarkan pula mereka untuk memaafkan dan berusaha untuk tak mengulanginya kembali. 

b. Ajarkan berempati pada orang lain.
Pelaku pelecehan seksual biasanya tak memiliki empati pada orang lain. Yang ia pikirkan adalah dirinya sendiri. Melatih anak untuk berempati pada orang lain dimulai dari mencari bahan bacaan yang terkait dengan sikap terpuji dan mengajak berbicara dari hati ke hati.


c. Ajarkan pada anak laki-laki untuk selalu menghormati kaum perempuan
Salah satu cara mengajarkan perilaku ini adalah memberikan pandangan positif mengenai kedudukan laki-laki dan perempuan di hadapan Tuhan adalah sama. Yang membedakan hanyalah ibadah dan akhlaknya. 


Keteladanan orang tua menjadi kunci. 

Sebaik apapun yang kita ajarkan pada anak, namun kita tak memberikan role model yang baik tetap saja itu hanya akan berlalu tanpa pernah menetap dalam pikiran dan hati anak-anak kita. Untuk itu orang tua harus selalu memberikan contoh pada anak meskipun tak mungkin bisa sempurna. 


Bekali anak-anak kita dengan agama.

Ilmu tanpa agama akan buta. Agama tanpa pengetahuan akan lumpuh. Keduanya saling bersinergi dalam membangun pondasi akhlak anak-anak supaya menjadi anak yang cerdas dan berkarakter. 

Pelecehan seksual bukan perkara baju terbuka atau nafsu yang tak bisa dicegah. Semuanya terkait dengan pembangunan jiwa anak-anak kita. Memang tak mudah di tengah gempuran teknologi informasi dimana semuanya terpampang nyata di depan mata. Mereka adalah kita di masa yang akan datang. Jangan sampai salah menerapkan pola asuh pada mereka, ara generasi milenial. 






Minggu, 22 November 2020

3 Hal Penting Untuk #StopPneumonia Anak



Di usia SD saya pernah mengalami radang paru-paru. Seingat saya saat itu saya diopname di rumah sakit selama seminggu. Panas tinggi, batuk berdahak, tidak berselera makan. Napas saya pendek-pendek, bahkan terkadang terasa sesak. 

Hasil rontgen di paru-paru saya menunjukkan putih semua. Tulang di dada hanya terlihat sedikit. Kata dokter, paru-paru saya tertutup cairan. Saya harus minum obat setiap hari untuk menghilangkan cairan itu. Tak boleh putus seharipun. Dan saya menjalani pengobatan itu selama tiga tahun.

Kata Bapak alm saat itu saya mengidap paru-paru basah. Sebuah infeksi yang diakibatkan oleh virus, bakteri ataupun jamur. Sejak mengidap penyakit itu saya memang lebih mudah sakit. Sampai saya dewasa, jika saya terkena batuk, sembuhnya lebih lama dari orang lain. Ketika seseorang batuk, biasanya seminggu sembuh, kalau saya bisa sampai dua minggu atau tiga minggu. Meskipun saya bisa beraktivitas seperti biasa. 

Dulu, penyakit yang saya alami ini dikenal dengan paru-paru basah. Namun penyakit ini juga dikenal dengan istilah lain yaitu pneumonia. Penyakit yang ciri-cirinya mirip dengan gejala Covid 19 ini ternyata masih banyak diidap oleh anak-anak di zaman milenial ini. Meski teknologi pengobatan saat ini jauh lebih berkembang dibanding saat saya mengidap pneumonia, tentu saja masih harus diwaspadai. Apalagi untuk kondisi seperti saat ini. 


Tanggal 12 November diperingati sebagai Hari Pneumonia sedunia. Nah, bulan ini di tanggal yang sama saya mengikuti webinar Peringatan Hari Pneumonia Dunia 2020, Festival Anak Sehat Indonesia yang diselenggarakan Yayasan Sayangi Tunas Cilik Save The Children. 

Save The Children aktif melakukan kampanye #StopPneumonia sejak tahun 2019. Dengan bekerja sama dengan pemerintah, ormas sipil, komunitas dan berbagai pihak lain Save The Children berusaha memberikan edukasi untuk mengatasi masalah pneumonia pada anak.




Webinar via zoom meeting ini dipandu oleh dr.Lula Kamal. Berbagai elemen masyarakat hadir mengikuti webinar ini. Mulai dari Menteri Kesehatan Dr Terawan Agus Putranto, Menteri KPPA I Gusti Ayu Bintang, dokter spesialis anak Prof.Dr.dr Soedjatmiko, Ibu Wury Ma'ruf Amin, tim penggerak PKK, berbagai komunitas bahkan sejumlah selebriti yang memang concern dengan kesehatan anak mengikuti kegiatan ini sampai selesai.

Kampanye ini bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai penyakit pneumonia ini. Bagaimana gejalanya, cara mencegah, serta bagaimana mengobatinya dijelaskan dalam webinar ini. Harapannya dengan melibatkan banyak elemen masyarakat informasi semakin tersiar secara luas. 


Seberapa bahaya pneumonia pada balita? 


Tahu tidak teman, berdasarkan riset kesehatan tahun 2013 bahwa Pneumonia di Indonesia menjadi penyebab kematian tertinggi kedua setelah bayi prematur sementara di dunia merupakan penyebab kematian nomor satu pada balita? 

Progres penanganan Pneumonia memng semakin membaik, namun besaran angka kematian yang masih cukup tinggi tetap jadi perhatian yang cukup serius.




Pneumonia menyerang paru-paru melalui bakteri, virus, dan jamur yang masuk ke hidung, lalu ke saluran napas hingga paru-paru. Hal ini menyebabkan fungsi paru-paru terganggu sehingga oksigen yang dibutuhkan oleh tubuh berkurang. Karena pneumonia berasal dari bakteri, virus dan jamur yang bisa tumbuh dimanapun. Maka bayi dan balita lebih mudah terserang karena sistem imunnya masih rendah. Apalagi bayi-balita dengan berat lahir rendah. 

Pneumonia termasuk penyakit yang menular. Seseorang yang mengidap pneumonia, berpotensi untuk menularkan pada orang lain di sekitarnya. Pneumonia bisa menular melalui udara, percikan batuk atau bersin. Bahkan bisa melalui benda yang terkena percikan tersebut. 


Gejala Pneumonia

Penanganan penyakit secara tepat tentunya dimulai dari mengenali gejala penyakit yang timbul. Keterlambatan penanganan sebuah penyakit biasanya timbul karena keterlambatan penanganan yang tepat. Untuk penanganan Pneumonia penting bagi kita untuk mengenali gejalanya 

1. Batuk berdahak

2. Pilek

3. Demam

4. Sulit Bernapas



Pencegahan dan Pengobatan Pneumonia.




Pneumonia bisa dicegah dan diobati. 3 hal penting yang harus dilakukan untuk #StopPneumonia adalah perlindungan, pencegahan, dan pengobatan.

Perlindungan anak dari pneumonia dimulai dengan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. ASI eksklusif berarti hanya ASI saja tanpa pemberian makanan atau minuman lain. Setelah 6 bulan kita bisa memberikan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang disesuaikan dengan kebutuhan gizinya. Jangan lupa, ASI masih tetap diberikan sampai usia anak 2 tahun. 

Pencegahan Pneumonia dilakukan dengan imunisasi. Imunisasi yang diberikan terutama imunisasi dasar lengkap serta menjaga kebersihan pribadi maupun lingkungan. Contohnya cuci tangan menggunakan sabun, menjaga kebersihan, menjaga sirkulasi udara yang baik, dan bebas dari asap rokok.

Pengobatan harus segera dilakukan jika menunjukkan gejala pneumonia. Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat. Memberikan asupan gizi selama sakit jangan sampai dilupakan.

Tiga hal di atas merupakan kampanye #StopPneumonia yang sedang dijalankan Save The Children. STOP merupakan kepanjangan dari

S
ASI Eksklusif selama 6 bulan, menyusui di tambah MPASI sampai 2 tahun 

T
Tuntaskan imunisasi untuk anak

Obati ke fasilitas kesehatan jika anak sakit

P
Pastikan kebercukupan gizi anak dan hidup bersih sehat.


Semoga informasi ini bermanfaat ya temans