Mitigasi Iklim : Berawal dari hal-hal yang kecil - Jurnal Hati Irfa Hudaya

Kamis, 14 Oktober 2021

Mitigasi Iklim : Berawal dari hal-hal yang kecil




Assalamualaikum temans

Sebagai remaja 90 an dan saat ini sudah memiliki anak usia muda, saya pun harus mampu mengimbangi pemikiran dan pengetahuan mereka. Kalau toh tak bisa sejajar, setidaknya saya nggak kudet-kudet amat dengan apa yang sedang ngehype. Kalau toh saya nggak bisa ikutan Lalisa dance challenge, setidaknya saya tahu kalau kurama hewan sahabat Naruto telah meninggal dan jadi trending topic di twitter. Saya juga tahu kalau Naruto sudah punya anak. Jadi nggak cuma mengenal Naruto dengan ikat kepala ijo saat anak-anak saya masih duduk di bangku SD.

Menjadi seorang ibu dengan dua anak usia 17 dan 15 tahun, saya kudu banyak diskusi dengan mereka. Nggak selalu memberikan nasihat. Namun lebih banyak menyediakan telinga dan menggali pemahaman. Bukan lagi dogma dan doktrin karena akan selalu mendapatkan bantahan atau pertanyaan kritis. Mereka sudah memiliki mindset dan pendapat yang pastinya berbeda satu sama lain.

Obrolan kami di rumah random banget. Mulai hal-hal receh yang mengundang gelak tawa namun juga isu-isu yang berkembang di masyarakat di dalam negeri atau di dunia. Contohnya politik di dalam negeri atau perubahan iklim dunia.

Mereka terpikir bahwa dunia sudah menua. Sudah seharusnya manusia memperlakukan dunia dengan hati-hati. Hal-hal yang bisa dilakukan sendiri atau dalam kelompok kecil dalam mitigasi iklim. Karena mereka meyakini bahwa hal besar itu berawal dari hal kecil. Wih ... #MudaMudiBumi ini sepertinya sudah memahami apa yang harus dilakukan ya?


Mitigasi iklim ala anak-anak saya

Kita semua tahu bahwa tiga negara penyumbang emisi gas rumah kaca adalah Amerika Serikat, Cina dan Indonesia. Sayangnya perubahan iklim ini tak banyak disadari oleh masyarakat baik di negeri kita sendiri atau masyarakat dunia. Berbagai macam usaha untuk mengurangi resiko terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca telah banyak dicoba oleh pemerintah maupun kelompok pecinta lingkungan. Melakukan yang terbaik .

Sebenarnya ada hal-hal nyata yang bisa dilakukan. Tak hanya sekedar slogan semata. Hal-hal nyata itu di mulai dari rumah. Sepertinya it is #TimeforActionIndonesia.

Apa aja sih yang dilakukan oleh anak-anak saya sebagai implementasi dari slogan yang sering digaungkan oleh banyak orang yaitu #UntukmuBumiku?


Menggunakan alat yang bisa dipakai ulang

Sedari mereka bersekolah di PAUD saya membiasakan mereka untuk tidak jajan di luar. Selalu membawa jajanan dan minuman dari rumah. Ternyata hal itu terbawa hingga sekarang. Anak saya yang kuliah sering membawa botol minum kemanapun pergi. Dan si bungsu membawa botol minum serta makan siang dari rumah sebelum adanya pandemi. Dengan membawa alat makan yang bisa dipakai berulang kali tentunya mengurangi sampah non organik yang sulit diurai oleh tanah.


Menghemat listrik.

Ini adalah hal kecil yang sering terlupakan. Sepertinya hal kecil ini sudah menjadi kebiasaan masyarakat umum. Ada beberapa hal yang kami lakukan saat berada di rumah. Contohnya mematikan lampu saat matahari sudab muncul. Mencabut charger HP atau laptop saat tak dipakai.


Mengurangi penggunaan kendaraan bermotor terutama untuk bepergian jarak pendek. 

Kami biasa berjalan kaki. Selain menghemat bahan bakar dan mengurangi polusi. Dengan jalan kaki kami bisa berolahraga kardio untuk menyehatkan jantung.


Selain hal-hal kecil yang bisa kita lakukan di rumah ada lagi nggak sih supaya mitigasi iklim berjalan dengan baik? Ya ada dong. Bisa kok mempersiapkan anak-anak muda ini untuk berperan dalam mitigasi iklim.


Mengajak anak muda untuk agribisnis.

Tak banyak kita temui anak muda yang belajar tentang pertanian, perikanan maupun peternakan. Anak-anak muda saat ini lebih tertarik untuk mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan teknologi. Padahal agribisnis kalau ditekuni juga bisa memberikan penghidupan yang layak selama menekuninya.

Sebuah angin segar kala menemui anak-anak muda saat ini berbisnis tanaman hias. Aglonema sedang naik daun sementara itu permintaan tanaman anggrek pun masih stabil di daerah saya.


Pengelolaan bank sampah

Tentang bank sampah ini sudah banyak yang melakoninya. Di daerah saya bank sampah dikelola oleh ibu-ibu di sebuah kampung. Meski punya berbagai kesibukan namun di tempat itu pengelolaan sampah dilakukan.


Membuat rumah yang banyak bukaan sehingga cahaya mudah masuk

Jika saya masih punya kesempatan untuk membangun rumah kembali, pengen banget saya membuat rumah dengan dapur dan ruang makan di tempat terbuka. Ada taman kecil yang berfungsi sebagai pemanis dan memberikan oksigen yang lebih banyak bagi pengguna rumah. Kebayang nih, indahnya rumah dengan banyak bukaan. Paling nggak bisa hemat listrik karena cahaya mudah masuk sehingga tak harus memberikan penerangan tambahan di siang hari.


Kalau kata anak saya, "Saya bersumpah akan menjaga bumi ini mulai dari hal-hal yang kecil. "

Itu bukan hal yang gampang dilakuin juga lho. Karena nggak semua orang bisa ngelakuin yang dilakukan oleh anak-anak saya juga. Kita nggak bisa mengharapkan orang lain bersikap sama seperti yang kita inginkan. Yang bisa kita kerjakan adalah memulai dari diri sendiri.

Yuk ... Jaga bumi ini dimulai dari yang paling mudah.



















1 komentar:

Dewi Rieka mengatakan...

Iya dari hal kecil dan sederhana tapi berarti ya juga menumbuhkan kesadaran pada anak kalau bumi perlu dilindungi