Dilan 1990, nasehat ringan untuk remaja milenial - Jurnal Hati

Kamis, 08 Februari 2018

Dilan 1990, nasehat ringan untuk remaja milenial


Akhirnya saya terdilan juga. Setelah seharian saya berkegiatan tanpa jeda, namun melihat wajah Kakak yang kelelahan karena kegiatan menjelang UNAS membuat seorang ibu rela mengusahakan sebuah senyum supaya esok pagi ia bersemangat menghadapi esok hari.

“Aku butuh refreshing,” katanya sambil membaringkan tubuhnya sehabis maghrib.

“Mau nge-Dilan?” tanya saya. Mata kakak langsung bersinar. 

Lantas satu jam kemudian kami sudah mengantri di sebuah bioskop di mall di Magelang. Antrian sudah tak terlalu panjang. Mungkin karena nonton pas week days dan malam pula, cineplex pun tak terlalu rame.

Fix. Ini memang film untuk bernostalgia. Barengan saya nonton banyak para bapak dan ibu sepantaran saya. Namun tak ketinggalan anak-anak usia Kakak dan Adek pun lumayan banyak. Kalau para bapak dan ibu ingin bernostalgia dengan setting cerita di tahun 90-an, maka remaja-remaja ini pun bernostalgia dengan pemeran dalam film Dilan 1990.

Siapa nggak kenal Iqbal Dhiafakhri Ramadhan? Mantan anggota Coboy Junior yang dari awal kemunculannya memang dielu-elukan anak SD jaman itu. Bahkan Adek yang saat itu masih TK pun suka dengan Coboy Junior. Jangan ditanya bagaimana Kakak. Antusiasnya nonton film ini saya kira karena wajah pemeran Dilan yang cuteness overload. Jangan lupa, di film itu ada Debo, salah satu mantan idola cilik yang berasal dari Sukabumi yang punya suara jernih. Saya ingat saat itu ia selalu diantar oleh Kakak atau Mamangnya. 

Film ini membuat penonton betah dan tak mengeluarkan ponsel meski sekedar nge-cek WA doang. Saya bernostalgia dengan masa remaja saya. Saya dulu juga membaca buku serial Olga yang ditulis oleh penulis favorit abadi, Hilman Hariwijaya. Milea membaca buku itu di angkot maupun di kamarnya. Lantas melihat kamar Dilan yang memajang majalah Hai, saya pun tersenyum mengingat jaman itu sering saling meminjam dengan teman saya. Saya pinjem majalah Hai nyariin lirik lagu yang lagi hits saat itu, dan temen saya minjem majalah Aneka saya jika pengen baca cerpen. 

majalah tahun '90-an. Ada yang tahu siapa model di majalah tersebut? :D


Tak ketinggalan poster ‘billboard’ dimana saya pun pernah memasangnya di dalam kamar saya. Tak ketinggalan wardrobe untuk milea. Celana selutut dengan suspender. Jeans model baggy. Bener-bener hits di waktu itu.

Senyum saya pun tambah lebar dengan beberapa kesamaan setting film itu dengan kisah masa lalu saya. Riung Bandung, ITB dan nama guru privat Milea. Sama euy sama si mantan yang kuliah di situ dan rumahnya di daerah itu juga. Hahahaha ...

Di sepanjang film sering banget ucapan ‘aaawww’ dari depan atau belakang saya saat ada kata atau hal romantis yang dilakukan oleh Dilan. Si Kakak senyum-senyum penuh arti sementara Adek berbisik di telinga saya,” Dilan itu bikin gemes banyak orang.”

Bener banget kata si Adek. Saya yang udah emak-emak aja terbaper mendengar kalimat-kalimat yang dikatakan oleh Dilan. Seperti ada ribuan kepakan sayap kupu-kupu yang tiba-tiba mengunjungi dada. Hati saya pun terasa hangat. Mungkin sudah lama fakir rayuan gombal. Hahaha ...


Emak pun ikut terbaper, Nak :D


Nggak ada habisnya kalau ngomongin film terbaper tahun ini. Namun di satu sisi ada hal-hal yang menjadi catatan ringan untuk saya. Catatan untuk menasehati anak-anak saya yang sudah remaja. Dari awal berangkat saya sudah katakan pada anak-anak bahwa hal-hal di depan kita ada yang memang bisa dijadikan tuntunan, namun banyak juga yang hanya bisa kita jadikan tontonan.

Bukan hanya yang bisa menjadi tontonan saja tak bisa diambil manfaatnya. Hal buruk malah lebih banyak yang bisa diambil pelajarannya untuk manusia. Supaya manusia bisa jauh lebih baik dari apa yang dihadapi.

Dari Dilan, remaja sekarang bisa belajar tentang bagaimana menjadi gentleman. Laki-laki yang pemberani namun sopan terhadap orang tua. Ia juga berani bertanggung jawab terhadap hal buruk yang ia lakukan. Kasih sayang tak hanya bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hal sederhana pun bisa membuat orang lain menaruh respek pada kita. Contohnya, saat Milea sakit, Dilan mengirim tukang pijit untuk memijit Milea. Namun laki-laki tak harus gahar meski untuk mempertahankan harga diri. Saya nggak setuju sih, kalau remaja yang mukul gurunya meski sesalah apapun guru itu. Itu dilakukan oleh Dilan saat Pak Suripto menarik kerah bajunya. Jaman saya SMA dulu mana ada murid yang berani mukul? Ditatap tajam oleh seorang guru aja langsung nunduk, nggak berani ngapa-ngapain.

Nge-gang, tawuran, sepertinya sudah tak ada lagi di kota kecil saya. Namun di tahun 90-an, saya tahu ada geng-gengan, dengan muka gahar seperti yang ada di film Dilan. Setahu saya dulu ada dua geng besar di Jogja dan sekitarnya. Joxzin dan Kizruh. Banyak banget coretan dengan dua kata itu di tembok-tembok di pinggir jalan raya. Itu pengingat bagi Adek, bahwa itu bukan hal yang pantas untuk ditiru. Hanya akan melukai. Dan hal terburuk bisa saja terjadi jika terlibat dalam hal-hal seperti itu. Dan itu catatan bagi kita para orang tua untuk memilihkan lingkungan yang baik bagi anak-anak kita. Tapi saya penasaran deh, apa ya latar belakang Dilan yang pintar, romantis dan dekat dengan ibunya bisa punya lingkungan seperti itu?

Dari Milea, remaja sekarang bisa belajar menjadi anak yang mandiri. Ia punya harga diri ketika Benny, pacarnya yang berasal dari Jakarta melecehkan dengan sebutan yang tak pantas ia langsung memutuskan hubungan.  Milea menutup hati untuk orang yang tak bisa memperlakukannya dengan baik. Ia juga patuh akan kata-kata ayah dan ibunya. Tak ada perlawanan meski ia tak menyukai apa yang dikatakan orang tuanya. 

Namun ada catatan penting saya untuk Kakak dengan karakter Milea ini. Jangan pernah terbuai oleh kata-kata manis. Milea membuka diri dengan kehadiran Dilan sementara ia masih mempunyai relasi dengan Benny. Dalam hal ini, Kakak pun belajar tentang sebuah kesetiaan meski sebenarnya kurang tepat juga. Sebagai perempuan, sekuat apapun perasaan kita, cobalah untuk menahan diri untuk tak terbuka dengan apa yang kita rasakan. Perasaan perempuan terhadap laki-laki yang belum halal adalah aurat. Maka jaga perasaan yang kita punya supaya tak meliar. Dan perasaan itu akan sangat indah jika dipersembahkan untuk laki-laki yang dihalalkan untuk kita.

Film ini juga sebagai pengingat bagi saya. Saya punya anak laki-laki dan perempuan. Dalam urusan anak-anak berelasi, saya kok sepertinya nggak akan deket-deket dengan mereka yang menyukai Kakak atau Adek. Saya nggak akan seterbuka Bunda Dilan sampai mengantarkan Milea pulang dan bertemu dengan Ibu Milea. Apalagi sampai mengajak seorang remaja perempuan masuk ke kamar anak laki-laki kita. Runyam urusannya nanti.

Saya juga takkan mengijinkan Kakak berdua saja dengan lawan jenisnya kalau nggak terpaksa banget. Apalagi sampai malam. Saya akan marah besar jika Kakak main lama di rumah teman laki-laki meski di sana ada keluarganya. Saya takkan membiarkan anak saya dikenal sebagai pacar seseorang. Saya hanya mau anak saya dikenalkan sebagai istri sah dari seorang laki-laki yang bertanggung jawab terhadapnya dunia dan akhirat. (Jadi dalem banget obrolannya)



Lalu apakah film ini aman untuk remaja? Kalau saya sih film ini tetap memerlukan bimbingan orang tua. Daripada melepaskan anak-anak nonton bareng temennya, saran saya sih lebih baik orang tua menemani jika anak-anak ingin nonton film ini. Supaya pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak mereka bisa segera terjawab. Seperti saat Adek bertanya,”Jaman dulu kok kalau motoran nggak pake helm ya?”

23 komentar:

  1. Hihi TerDilan akhirnyaaa...akuh blom sempat nonton..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau nonton jangan ajakin si Alde sama Nai yak? Ajak aku ajah #eaaaaaa

      Hapus
  2. Aku belum nonton nih walaupun sempat ramai. Tapi asyik juga ya kalau dengar gombalan gombalan anak muda :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gombalan jaman dulu mbak hahaha ... Tapi emang cute nya si Iqbal nggak nguatin. Si Kakak bolak balik bilang, Ya Allah, Iqbal ini... "
      Ga bisa ngomong lagi dia

      Hapus
  3. Bagus kan mbak filmnya, aku ama suamiku aja baper, walau kita tak kenal pacaran waktu smu, kita mah langsung nikah abis kuliah ☺

    BalasHapus
  4. Suamiku ngga mau diajak nonton ini, yasudahlah aku nonton drakor saja via streaming :D

    BalasHapus
  5. Joxin dan Kizruh ya ampuuunnn...iya nge-hits banget di jamannya ya mak. Setuju soal tontonan dan tuntunan. Ada yang baik boleh diambil dan yang buruk harus ditinggal. Bagus review-nya maak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mak Ayaaa... Btw kenal Joxzin juga ternyata hahaha

      Hapus
  6. Bikin baper ya mbak gombalannya si DILAN. Pesan moralnya banyak juga ya ternyata. Makasih sharingnya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baper overload mba... Kalau nonton sendirian kasihan banget hahaha

      Hapus
  7. Aduh aku pusing bagian nasehat buat anaknya, untung anak-anakku masih kecil-kecil,haha. Cieehh Kang Adi, haha. Baru tahu Mak Irfa pernah tinggal di Bandung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan nasehatin anak. Berat. Biar aku saja hahaha...

      Hapus
  8. Aku gemashh pas udah nonton Dilan. Padahal tadinya rada undeestimate sama ceritanya yang kayaknya cheesy banget eh tapi kok malah bikin baper berhari-hari, hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hari ini aku ngeyoutube nyari hal2 yang berkaitan sama Dilan wkwkwk... Emak labil

      Hapus
  9. Wahh nonton pun sekalian untuk menuntun anak ya mbak.
    Anak.sy masih piyik2 . Nggak mungkin ajak mereka kl nonton film ini. Hehe

    BalasHapus
  10. Salam kenal ya ...
    Sun jauh jangan? ������

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam balik mbaak... Nanti aja kalau dekat :)

      Hapus
  11. Setting cerita cocok untuk ortunya, sedangkan pemeran cocok untuk anak-anak ya, Mbak, hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe ... Iya Pak, tapi tetap dengan pendampingan. Nonton tanpa bimbingan ortu dapet baper doang :)

      Hapus
  12. Mbak Irfa, ke Amplaz yukk ...eng, nganu, tapi cuma duduk-duduk aja di emperan depannya itu lho

    BalasHapus

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih