Kebaya Merah dan Pornografi - Jurnal Hati Irfa Hudaya

Rabu, 16 November 2022

Kebaya Merah dan Pornografi

mencegah anak terpapar pornografi



Beberapa waktu yang lalu jadi trending topic nih tentang kebaya merah. Kirain tuh tentang pelestarian budaya. Nggak tahunya film bokep yang dibuat secara amatir oleh pasangan kekasih di sebuah hotel di Surabaya. Katanya sih, mereka bikin film bokep itu berdasarkan pesanan. Sudah ada 92 video lagi yang siap diunggah di dunia maya. Satu link video seharga 750 ribu rupiah.

Teknologi informasi yang semakin berkembang sejalan dengan kemudahan akses yang didapat saat ini membuat pornografi bukan lagi hal yang sulit didapatkan. Berbagai cara untuk menanggulangi pornografi tetap saja masih bisa jebol hanya dengan satu kata keyword.

Pernah ngobrol nih dengan salah satu kepala sekolah di SMP yang berbasis agama. Dari survey yang dilakukan pihak sekolah untuk klas 7-9 ternyata 95% anak-anak sudah terpapar pornografi . Ada yang memang sengaja mencari konten pornografi, atau tak sengaja melihat unggahan yang ada di media sosial. Dari 95% anak yang terpapar itu sekitar 2% mereka dapatkan dari laptop atau ponsel milik orang tuanya.

Yang menyedihkan. Orang tua anak anak ini merasa bersalah bukan karena menyimpan konten pornografi akan tetapi hanya karena ketidakhati-hatian dalam menyimpan atau memasang sandi untuk ponselnya. Apa yang salah dengan orang tua zaman sekarang ya, sampai merasa perlu menyimpan konten pornografi di laptop atau ponsel. Kan jadi pertanyaan baru lagi. Ada apa dengan para orang tua ini?

Bagi saya pribadi rasanya kok tak masuk akal bagi orang tua yang masih membutuhkan konten pornografi. Apakah alasannya untuk untuk keharmonisan rumah tangga? Benarkah jika menonton pornografi lantas kehidupan suami istri di tempat tidur dijamin bakal sejahtera? Di luar dari sisi agama yang sudah pasti ada larangan menonton aurat orang lain dan dosa yang akan didapatkan. Apakah akan mendapatkan kepuasan dari pengalaman seksual via virtual saja?

Bagi saya yang pernah ngalamin anak terpapar pornografi di usia SD. Pornografi seperti monster yang tak terlihat namun siap menghancurkan otak anak-anak kita. Meski hanya dalam hitungan detik, ingatan terhadap pornografi itu kuat mencengkeram di benak anak-anak. Keingintahuan terhadap hal-hal yang berbau seksualitas jadi makin besar. Bahkan dulu si Kakak sampai bisa bikin cerita tentang pornografi yang memaparnya. Ceritanya bisa dibaca DISINI

Itu dulu, 8 tahun yang lalu saat akses internet tidak semudah sekarang. Sementara saat ini jika mendengar cerita murid-murid saya di ektra jurnalistik rasanya pengen ngelus dada. Mereka sering sekali cerita jika anak laki-laki di kelas sering kali ngobrolin tentang dirty mind. Sedih nggak sih dengernya?

Apa sih yang bisa kita lakukan sebagai orang tua yang terkait dengan pornografi ini?


Yang terpenting tentu saja memperhatikan pola asuh yang kita berikan untuk anak-anak. Apakah sudah tepat pola asuh kita? Pola asuh yang keliru bisa membuat anak-anak menjadi tak dihargai, pemarah, jenuh, tertekan atau kesepian. Masih banyak lagi hal negatif yang diakibatkan oleh pola asuh yang tak tepat bagi anak-anak kita. Jika pola asuh kita sudah tepat anak-anak akan bersikap asertif. Semua hal dikomunikasikan dengan orang tua, bahkan untuk hal-hal buruk sekalipun.

Lantas saat anak-anak mengakses internet usahakan untuk melakukan pendampingan meskipun sudah melakukan pembatasan akses internet. Berikan pemahaman tentang internet sehat dan aman bagi anak. Buatlah aturan dan kesepakatan saat anak hendak menggunakan gawai. Jika anak hendak menggunakan komputer maupun ponsel, usahakan pengunaan itu berada di ruang keluarga sehingga memudahkan orang tua melakukan pengawasan.

Mengenali teman dan lingkungan serta melatih anak berkata tidak untuk ajakan pornografi. Berikan pengetahuan tentang pendidikan seksual sesuai dengan perkembangannya. Jika anak terlanjur ketahuan mengakses pornografi ajak anak untuk berdialog dan diskusi tentang dampak pornografi.

Pendidikan agama dan moral sangat penting ditanamkan sejak dini sehingga anak-anak paham mengenai konsep benar salah. Agama dan moral akan membentengi anak-anak kita dan membentuk anak-anak memiliki karakter tangguh dan mulia.

Pornografi tuh nggak kerasa langsung dampaknya. Awalnya cuma pengen jadi suka. dari suka jadi kecanduan. Dan kecanduan akan membentuk kebiasaan. hati dan pikiran yang kotor tentu saja menjadikan tubuh dan jiwa tak sehat. 
Kalau menurut kalian gimana?

Tidak ada komentar:

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih