Tiktok, Generasi Z, dan Orang Tua - Jurnal Hati

Selasa, 10 Juli 2018

Tiktok, Generasi Z, dan Orang Tua


Assalamualaikum Temans,
Beberapa hari belakangan di timeline media sosial saya rame banget nanggapin diblokirnya sebuah aplikasi yang banyak digemari anak ABG saat ini. Aplikasi itu bernama tiktok.
Aplikasi ini awalnya muncul di negeri Cina, dan banyak sekali pengguna dari Tiongkok sebelum aplikasi ini tersedia dalam bahasa Inggris maupun Indonesia. Sementara Tiktok sendiri dibuat oleh raksasa digital bytedance yang menyediakan fasilitas memberikan efek unik bagi pengguna saat membuat video pendek.

cr :www.gadgetren.com

Aplikasi ini memiliki dukungan musik yang bisa digunakan oleh pengguna untuk menari, gaya bebas,dan masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk mendorong kreativitas anak muda menjadi kreator konten.

Lantas kenapa anak-anak ABG ini sangat menyukai aplikasi Tiktok?
ABG jaman sekarang yang biasa dikenal dengan generasi Z dimana generasi ini terpengaruh oleh teknologi yang terus berkembang, internet serta media sosial. Tiga hal ini turut mempengaruhi sifat umum anak-anak yang berada di generasi Z yaitu sangat tergantung pada teknologi, menerima banyak perbedaan serta ingin memiliki pengalaman yang lebih dari orang lain.

Generasi ini menyukai pekerjaan yang terkait dengan passionnya. Mereka berusaha menjadikan passionnya sebagai lahan untuk berkreasi dan wirausaha. Jarang sekali anak dijaman ini ketika ditanya cita-citanya lantas menjawab ingin menjadi pegawai negeri.

Coba tanyakan pada anak-anak sekarang yang ‘mengonsumsi’ media sosial tentang cita-cita. Kalau di jaman saya dulu informasi berkembang terlebih dahulu di perkotaan, sehingga anak-anak di desa terlihat cupu dan kurang gaul. Sekarang teknologi informasi berkembang begitu cepat sehingga tak ada bedanya hidup di kota maupun di desa. Saya udah nemuin anak sepantaran ponakan saya ketika ditanya cita-citanya jadi apa, jawabnya pengen jadi youtuber.  Kemudian jika ditanya kembali mengapa ingin jadi youtuber, jawabannya adalah pengen terkenal dan banyak duit. Hei ... anak umur delapan tahunan udah kenal duit nih.

Balik lagi ke Tiktok. Kenapa bahasan tentang Tiktok rame banget? Kasus yang lagi anget sih ada seleb tiktok yang punya follower sampai ratusan ribu ngadain meet and greet. Untuk bisa berfoto dengan si seleb tiktok ini ada htmnya, sebesar Rp80.000,00.

Si seleb tiktok ini namanya Bowo. Katanya sih kalau di tiktok anaknya kelihatan ganteng dan  ngegemesin. Makanya ia punya banyak fans. Dan fans nya inilah merespon keberadaan Bowo dengan komen yang berlebihan.

Selain fans, haters Bowo ini juga makin mem-viralkan keberadaannya sehingga tadinya ibu-ibu yang nggak tahu tiktok itu apaan ikut-ikutan berkomentar. Ikut share ke berbagai media sosialnya hanya melihat postingan fans atau haters si Bowo.

Yuk, kita obrolin tentang fenomena ini

Generasi Z ini merupakan generasi yang kebanyakan terkena syndrom FOMO. Fear of missing out. Takut kalau nggak apdet. Takut kalau dia nggak kayak temen-temennya yang ngerti info apa aja. Takut nggak eksis. Syndrom FOMO nggak cuma terjadi pada generasi Z lho. Kita yang berada di generasi post boomers banyak yang khawatir banget kalau nggak apdet sehingga ponsel berbasis android pun selalu di tangan. Kayaknya takut banget kalau satu jam ketinggalan berita.

Nah, menjadi terkenal juga menjadi cita-cita si Bowo. Kalau ngelihat vlog nya Arief Muhammad si Bowo ini masih kelihatan anak-anak. Nonton TV nggak pernah, tapi hobi banget main tiktok. Karena apa? Tiktok menjadi jalan untuk dikenal orang. Untuk eksis. Dan menurut Bowo, Tiktok itu menjadi bagian dari karyanya.

Sebagai orang dewasa yang nggak doyan tiktok, awalnya saya tertawa. Namun berkaca pada anak-anak saya yang ingin selalu diapresiasi sekecil apapun, saya bisa memahami bagaiaman seorang anak ingin eksis. Ingin dipandang lebih dari yang lain. Dan itu tak cuma terjadi pada anak-anak kan?

Ketika seseorang dipandang mempunyai kelebihan, maka anak-anak pun memuja. Seperti generasi post boomers yang tergila-gila pada Tomy Page. Layaknya generasi ‘90an mendewakan New Kids On The Block atau Gun ‘N’ Roses. Seperti saya yang menyetel dan mengikuti nyanyian mereka dengan keras lagu-lagu Bon Jovi, Europe, ataupun White Lion. Bagaimana perasaan kita saat itu? Mereka hebat luar biasa kan?

Nah, ketika anak-anak kita begitu tergila-gila pada seleb tiktok, selebgram atau whatever lah, apakah kita akan mencaci maki mereka? Nggak kan?
Dalam otak remaja bagian amygdala lah yang memegang kendali dalam diri mereka. Amygdala berkaitan dengan emosional mereka. Itulah mengapa remaja ini sangat impulsif, ada keinginan agresi dalam diri mereka namun juga punya ketakutan yang besar terhadap apa yang dianggap mengancam.  
Wajarkah mereka menuhankan Bowo, menginginkan menjual ginjal ibu mereka, atau melepas keperawanan untuk si Bowo?
Tentu saja tidak. Mereka reaktif terhadap keberadaan Bowo yang dianggap ‘mereka’ banget. Yang memahami kebutuhan mereka akan hiburan dan idola. Lantas ketika idola mereka tak seganteng tampilan di  media sosial lantas diseranglah dengan makian yang bikin mata kita sepet. Ya iyalah, aslinya nggak ganteng. Aslinya item. Kayak kita nggak pernah pake aplikasi Camera 360 atau beautification pada gawai aja. Kecantikan atau kegantengan bisa naik sampai 80% kan?

Remaja, anak-anak kita ini butuh teladan dari kita orang tuanya. Pendidikan karakter tak hanya dibentuk di sekolah. Paling utama bagi remaja adalah bagaimana keluarga memberikan support system yang bagus bagi anak-anak. Ayah yang berperan menjadi penjaga moral, membentuk sifat baik bagi anak-anaknya. Ibu sebagai sumur kasih sayang, yang siap kapan pun menimba cinta untuk anak-anak dan diguyurkan perlahan sehingga cinta itu meresap dalam diri anak-anak.

Jika orang tua tak ingin anaknya hanya bergaul dengan gawai, bagaimana dengan orang tua? Siapkah meletakkan gadget dan keasyikan ngobrol di WA grup untuk mendengarkan cerita ringan atau keluh kesah anak dan menyiapkan kata-kata yang tepat untuk menenteramkan? Jika orang tua berang dengan keberadaan tiktok, mengapa tak ada yang marah dengan keberadaan bigo live yang sering disalahgunakan?

Menjadi orang tua yang asyik buat anak sebenarnya juga anugerah tersendiri bagi kita orang tuanya. Apalagi sekarang gawai merupakan rival orang tua dalam membangun kedekatan dengan anak-anak. Terkadang kita sudah merasa dekat namun tak memahami apa yang sedang mereka lakukan atau sukai. Taukah kita tentang wattpad, webtoon, tiktok, hypstar, bigo, atau musical.ly? pernah nggak kita mencoba googling tentang BTS, Wanna One, Alan Walker atau Anne Marie? Tahu Tom Holland atau Deadpool? Pernah nggak buka i-flix atau Viu bersama anak-anak?

Memang tak mudah menjadi orang tua. Tak ada sekolahnya. Tetaplah menjadi orang tua yang tenang, tidak gumunan, kalau kata Bapak saya. Jangan sampai kita mempunyai jejak yang buruk di sosial media. Anak adalah cerminan orang tua. Bagaimana anak akan respek ketika orang tua tanpa tabayyun share berita hoax atau malah memviralkan hal yang tak perlu?

Orang tua berang melihat anak-anak dan remaja kita menuhankan Bowo. Tak pernahkah orang tua menuhankan pekerjaan atau kesenangan sehingga mengabaikan anak-anak?
Yuk, introspeksi diri. Sudahkah kita menjadi orang tua yang benar-benar bermanfaat untuk anak-anak kita kemarin, hari ini dan di masa depan nanti?



9 komentar:

  1. Kalau ngebaca ini, kayaknya anak zaman sekarang ga kenal yang namanya kelereng, main bentengan dll. Taunya, social media dan internet. Iya ga sih? :(

    BalasHapus
  2. Setuju banget mba, orang tua harus jadi contoh di rumah kalo ingin anaknya tak menuhankan gadget. Eh aku aja juga lihat kondisi di rumah kalo megang gadget. Kalo anak2 sedang bikin tugas, ya seenggaknya aku pegang buku untuk dibaca ��

    BalasHapus
  3. Hiks...baca tulisan ini berasa ngaca, Mbak. Dan sepertinya aku juga kena nih sama FOMO. Ya Allah, jauh sama gadget pas sama anak itu memang kudu niat banget ya.

    BalasHapus
  4. Saya yakin anak-anak yang frontal berkarya di media sosial adalah anak-anak yang kurang bimbingan atau orang tuanya gaptek. Jadi ada semacam "jarak" diantara mereka. Saya nggak pernah ikutan bully karena tahu menjadi orang tua itu nggak semudah bacotan netizen. Kita lah orang tua yang mau nggak mau "nyemplung" di dunia anak jaman sekarang.

    BalasHapus
  5. Tulisannya menyentuh bgt mbak..jd self reminder u lbh deket ma anak2 di era gadget mania.

    BalasHapus
  6. Wah ada Wanna One disebut, aku terpanggil �� ya mba setuju banget. Aku pernah baca untuk memblokir app/website butuh miliaran. Mending buat edukasi anak2 aja ya..

    BalasHapus
  7. Setiap generasi memang punya idolanya masing2 ya. Dulu saya rasanya sebel banget kalo ortu saya jelek2in F4. Atau ngatain lagunya bon jovi gedumbrangan..😂 jadi sekarang berusaha memahami saja idola anak2 jaman sekarang. Yg penting kita jaga agar ttp di koridor yg benar. Tapi kalau sampai seperti fans nya bowo itu ya.... duh gimana ya...

    BalasHapus
  8. Duh..sy jg katrok ternyata mba, ngga ngeh sm beberapa app yg mba sebut tadi hiks

    BalasHapus
  9. Jadi orang tua dimasa kini emang lebih sulit ya mba, duhh

    nyiapin diri dan mental jauh-jauh hari seblum jadi orang tua itu makannya perlu banget. Nggak ada sekolahnya solanya

    BalasHapus

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih