Merapi dan Kota Kecil Kami - Jurnal Hati

Rabu, 23 Mei 2018

Merapi dan Kota Kecil Kami




Sejujurnya saya takut saat Merapi kembali beraktivitas dengan letusan freatiknya yang frekuensinya lebih sering akhir-akhir ini. Hujan abu tipis pun mulai terjadi. Biasanya di pagi hari. Mendung abu-abu menggantung. Dan penduduk di lingkungan saya pun mulai memakai masker jika bepergian menggunakan kendaraan bermotor. Rasa pedih di mata pun mulai terasa jika beraktivitas di luar rumah tanpa kaca mata.

Saya, dan banyak orang lain yang tinggal di kawasan terdampak bahaya letusan Gunung Merapi sepertinya trauma dengan Letusan Merapi di tahun 2010 yang menewaskan banyak orang serta menghancurkan beberapa tempat di lereng Gunung Merapi. Kenangan tentang bencana Merapi tersebut mau tidak mau memang meninggalkan jejak di alam bawah sadar kami, penduduk yang termasuk dalam Kawasan Rawan Bencana.

Benar sejak kecil saya dan mereka yang tinggal di kawasan bahaya merapi ring tiga sudah akrab dengan hujan abu ataupun pasir. Namun tak separah saat letusan Merapi 5 November 2010. Beberapa hari sebelum letusan itu beberapa tempat di Kabupaten Magelang mengalami pemutusan aliran listrik dan air. Lantas setelahnya sekitar tiga minggu barulah listrik dan air bersih kembali didapatkan.

depan rumah

belakang rumah

Hujan abu dan pasir setiap hari. Bahkan saat letusan terbesar di bulan November 2010 tersebut hujan lumpur pun terjadi. Pohon-pohon tak kuat berdiri. Semalaman kami tak bisa tidur saat kaum lelaki ronda. Setiap saat mendengar dahan yang roboh dan pohon bambu patah yang bunyinya seperti suara senjata api ditembakkan. Ketika pagi hari, kami menemukan pemandangan yang belum pernah kami lihat sebelumnya.

Depan halaman

Lumpur di depan rumah sampai di atas mata kaki. Kami sulit berjalan menggunakan alas kaki karena takut terpeleset. Anak-anak yang ketakutan. Beberapa rumah yang menggunakan kanopi sudah ambruk tak kuat. Begitu juga dengan garasi rumah saya pun mengalami atapnya jebol. Alhamdulillah, tidak mengenai mobil yang terparkir di bawahnya.

Tempat saya, Muntilan saat itu seperti kota mati. Begitu lengang. Tak satupun toko yang buka. Desa saya beberapa kampung menjadi tempat untuk mengungsi masyarakat yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana di Ring 1 dan 2. Banyak bantuan datang untuk pengungsi. Namun beberapa penduduk sekitar kesulitan mendapatkan sembako. Bahkan sempat ada salah satu penduduk yang pingsan karena kelaparan.


Seminggu setelahnya, beberapa toko sembako mulai buka meski pintu toko tertutup sebagian. Abu masih beterbangan. Gundukan pasir di pinggir jalan masih teronggok tinggi. Setiap hari penduduk yang berada dipinggir jalan bergotong royong menyingkirkan abu dan pasir. Selama dua bulan lebih Muntilan dan sekitarnya berjibaku dengan abu di jalanan. Sampai 6 bulan jalanan di area tersebut masih terasa sangat berdebu.
2 bulan pasca bencana, lumpur dan pasir yang memadat sehingga halaman rumah nambah tingggi 15cm

Belum habis abu di jalanan lantas di beberapa tempat dikejutkan oleh datangnya lahar dingin yang datang melalui Kali Putih, Kali Lamat, Kali Senowo, juga Kali Pabelan. Dampak terparah dari lahar dingin adalah kawasan yang dilewati oleh Kali Putih dan Kali Pabelan. Lahar dingin yang melalui Kali Putih masuk ke areal perumahan di daerah Pendem Jumoyo, Salakan, serta Sirahan di Kecamatan Salam. 





Kawasan Tamanagung dan Adikarto Muntilan pun ikut terguyur lahar dingin sehingga beberapa rumah hancur. Lahar dingin pun menghancurkan saluran irigasi sawah yang berada di pinggir Kali Pabelan sehingga sampai sekarang sawah di areal tersebut kesulitan mendapatkan air.




30 Maret 2011, Rabu Malam, Semua Jembatan yang berada di Kali Pabelan terputus. Ada sekitar 5 atau 6 jembatan yang menghubungkan Kecamatan Muntilan dan Kecamatan Dukun ke kecamatan Mungkid dan Kecamatan Sawangan hilang diterjang lahar dingin. Bahkan salah satu jembatan yang menjadi lalu lintas antar provinsi pun tak kuat menahan laju lahar dingin, sementara yang satunya penyangga sudah retak dan miring. Beberapa hari setelah dievaluasi jembatan yang miring tersebut hanya bisa dilewati sepeda motor saja.

Jembatan Pabelan berada di jalan Provinsi Jogja - Magelang


Satu jembatan Pabelan yang miring

Perasaan takut memang tak boleh dibiarkan supaya tak menimbulkan dampak psikologis yang lebih banyak. Bagaimanapun juga ketika pilihan kita tinggal di area seperti ini memang harus menyiapkan hati jika sewaktu-waktu bencana kembali datang.  Selain menyiapkan hal-hal penting harus selalu ada di rumah satu lagi yang terpenting adalah berdoa.

Saya yakin, akan selalu ada hikmah di setiap kejadian. Semoga saja abu yang keluar dari mulut Merapi bisa lebih menyuburkan tanah-tanah kami semua.

16 komentar:

  1. Agak pangling lihat kali Mbelan pascasarjana bencana 2005. Sekarang sungai jadi lebar banget ya. Dulu suka main air disana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Weh... Mak Ika orang mana to kok sampai main ke Kali Belan?

      Hapus
  2. Semoga diparingi kuat dan tabah ya utk yg tinggal di seputaran Merapi. Iya, semoga materi vulkanik yg keluar dari perut Merapi bisa menambah kesuburan tanah tanpa harus merenggut korban lagi.

    BalasHapus
  3. sedih ya liat bencana alam seperti ini. InsyaAllah nanti tidak ada korban jiwa lagi ya mba..

    BalasHapus
  4. Di balik bencana tetap ada berkah tersembunyi ya Mba. InsyaAllah ke depannya tanah jadi lebih subur. Semoga orang2 yg tinggal dekat kawasan rawan bencana diberikan kekuatan dan ketabahan lebih, rezekinya juga

    BalasHapus
  5. Daerahku terdampak juga mba..tengah malam, pas november itu daerahku hujan krikil+bau belerang...

    Jam 2 dinihari aku ke Bantul..

    Semoga yang sekarang sekedar batuk2 kecil aja ya mba..

    BalasHapus
  6. Semoga senantiasa dlm lindungan Allah, Mbak. Aamiin.

    BalasHapus
  7. Semoga senantiasa dalam lindungan Allah ya mbak Irfa dan keluarga. Selalu ada hikmah di balik bencana Dan ujian.

    BalasHapus
  8. Semoga semuanya dalam lindungan Allah SWT y mba... Saya juga deg2an kalo ada kabar ttg Merapi krn ada ponakan2 di Jogja..

    BalasHapus
  9. Aku beberapa kali lewat sana sebelum dan sesudah bemcana th 2010 itu mba. Merinding dengan bencana alam itu. Namun Allah maha Adil ya, mmeberikan kesubiran dan rejeki di balik bencana. Semoga dampak bencana merapi tak lebih dahsyat lagi. Dan masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak sabar dan kuat

    BalasHapus
  10. Subhanallah, stay safe ya mbak irfa

    BalasHapus
  11. Aamiin yra, semoga ke depannya baik-baik aja ya, mbak

    BalasHapus
  12. Aku merinding Mbak bacanya. Ditambah gambar2 yang Mbak tampilkan. Secara nggak langsung menyadarkanku bahwa hidupku mah nggak sekuat mbak dan orang2 yang kena dampak Gunung Merapi. Kami di sini belajar jadi orang yg lebih tanggung lebih dari sebelumnya.

    BalasHapus
  13. ngeri ya mbak bencana merapi....tp sebenarnya enak juga ya kalau pas liat2 pemandangan pegunungan plus kesuburannya...smoga merapi tidak marah lagi ya

    BalasHapus
  14. Semoga letusan Merapi tidak terjadi seperti sedahsyat 2010 lalu.
    Bencana hebat itu juga sempat membuat kota keluargaku lumpuh total,sementara saat itu aku masih merantau di luar kota .. aku mau pulkam tapi tak ada sarana transportasi melayani ke kotaku.
    Yang ada aku cemas luar biasa nunggu kabar terus dari keluargaku.

    BalasHapus

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih