Kontribusi Keluarga dalam Pendidikan di Era Millenial - Jurnal Hati

Selasa, 14 Agustus 2018

Kontribusi Keluarga dalam Pendidikan di Era Millenial


Hampir empat tahun yang lalu, anak sulung saya pernah terpapar pornografi. Anak perempuan saya. Usianya saat itu belum genap 12 tahun. Saya tak pernah membayangkan jika Kakak, begitu saya memanggil anak sulung saya, pernah menonton tayangan yang tak layak ia lihat ketika masih berada di bangku SD. Padahal saya sudah sangat berhati-hati sekali dengan penggunaan internet di dalam rumah. Saya benar-benar tegas dalam membuat aturan penggunaan teknologi informasi di dalam rumah. Anak saya terpapar konten negatif ketika berada di luar rumah bersama temannya satu SD sesama perempuan. 

Saat itu setidaknya seminggu sekali anak saya dan temannya membuat tugas kelompok. Saya tak mengijinkan anak saya menggunakan fasilitas daring di luar rumah. Meski tak terbersit dalam pikiran saya tentang hal negatif, saya tetap merasa aman ketika anak-anak berselancar di dunia maya melalui fasilitas dalam rumah. 

Satu ketika anak saya pamit akan mengerjakan tugas di warnet. Kondisi saya yang sedang mengerjakan pekerjaan membuat saya tak berkonsentrasi dengan apa yang diucapkan oleh anak saya. Saya lengah, sampai melupakan aturan yang selama itu sudah berlaku. 

Saya ingat, tiga kali ia pamit untuk pergi ke warung internet di dekat rumah. Sebenarnya yang ketiga kalinya saya sudah tak enak hati. Antara mengijinkan dan tidak. Melihat tatapannya memohon, saya tak tega menolak. Saya pun mengijinkannya. 

Satu minggu setelahnya. Tiba-tiba saja saya ingin menata buku-buku Kakak yang berserakan. Di antara buku-buku itu terselip sebuah buku tulis warna merah jambu. Entah mengapa, hati saya tergerak untuk mengambil buku itu kemudian membukanya. 

Sebuah cerita Kakak tuliskan dalam buku itu. Saat itu ia memang sangat suka menulis cerita. Saya senang mengetahui kemampuan menulisnya semakin bagus. Namun sampai di halaman yang ketiga jantung saya mau copot rasanya. Tangan saya pun bergetar. Kakak menuliskan adegan yang tak pernah saya bayangkan ia mampu menerjemahkan ke dalam sebuah tulisan. 

Kakak menuliskan adegan yang hanya boleh dilakukan oleh laki-laki dan perempuan dalam ikatan perkawinan. Saya pening seketika. Berbagai pertanyaan pun muncul di kepala saya. Bagaimana bisa Kakak menuliskan hal seperti itu? 

Saya terkejut luar biasa. Tak mungkin Kakak bisa menuliskan adegan sedetil itu jika belum pernah sama sekali melihat. Saya yakin ia melihat adegan seperti itu tak hanya sekali. Ini pukulan berat bagi saya. berbagai pikiran buruk langsung menyerang kepala. Saya merasa gagal menjadi orang tua. 

Yang saya lakukan saat itu adalah berbicara pada suami. Karena beliau bekerja di luar kota sehingga hanya seminggu sekali di rumah kami pun sepakat sayalah yang akan berbicara pada Kakak. Suami akan banyak mendampingi ketika berada di rumah. 

Kakak menangis saat ia tahu saya sudah membaca buku berwarna merah jambu itu. Antara takut jika saya marah dan bersalah membuat ia hanya bisa meminta maaf. Sejatinya ia tahu bahwa yang ia lakukan itu salah. Namun ia tak bisa menolak ketika temannya membuka konten dewasa di aplikasi youtube, kemudian memintanya menuliskan dalam sebuah cerita. 

Lantas saya dan Kakak ngobrol panjang sampai tengah malam setelah ia lebih tenang. Meski saya harus banyak mengucap istighfar dan menarik napas panjang berulang kali. Apalagi di bagian cerita temannya sudah sering membuka tautan itu di telepon genggam milik kakaknya. Mirisnya lagi, temannya adalah anak seorang pendakwah. 

Bayangkan, saya berbicara tentang syahwat pada anak klas enam SD yang tadinya hanya mengenal film kartun produksi negara tetangga. Menerjemahkan hal-hal yang berbau seksual dalam bahasa yang dipahami anak terasa begitu sulit. Air mata saya jatuh kala ia mengatakan ada yang menggelitik di bawah perut ketika ia melihat konten yang hanya tayang tak lebih dari satu menit. 

Sebelumnya saya membayangkan membicarakan hal ini ketika Kakak sudah berada di bangku SMP klas 9 saat transisinya menuju SMA. Namun perkiraan saya meleset. Saya sudah harus berbicara jauh lebih awal. 

Sebenarnya, saya termasuk ibu yang tidak mudah memberikan fasilitas pada anak apalagi yang terkait dengan dunia digital. Di usia SD anak-anak sama sekali tidak saya ijinkan mempunyai gawai sendiri. Jika ingin membuat tugas, di rumah sudah ada fasilitas yang bisa digunakan. Jaringan internet tersedia, begitu juga dengan komputer jinjing. Semua anggota keluarga bisa memakai fasilitas itu di ruang keluarga dimana layarnya menghadap ke ruangan sehingga bisa dilihat oleh siapapun. Hal ini memang untuk mengantisipasi kemungkinan anak-anak membuka konten yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Saya yang sudah sedemikian tegas memberi batasan pun masih kecolongan. Bagaimana mereka yang dengan mudah memberikan gawai pada anak-anak dengan alasan kasih sayang? 

Kejadian itu membuat saya trauma. Saya jadi semakin berhati-hati. Lantas semakin menyadari bahwa keluarga menjadi bagian terpenting dalam pendidikan anak. Sudah semestinya keluarga berbagi tugas dan saling mendukung dengan satuan pendidikan untuk menjadikan anak-anak kita pribadi yang berkarakter mulia. 

Keluarga adalah pusat peradaban. 


Keluarga adalah institusi terkecil dimana kita bisa membangun kebudayaan. Orang tua menjadikan anak sebagai agen perubahan menuju kebaikan. Pembiasaan pada anak dalam membangun kepribadian yang berkarakter. 

Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak-anak. Saat mereka membuka mata keluarga lah yang dilihat oleh anak-anak. Mereka menjadi kamera yang akan merekam segala hal yang terjadi dalam keluarga. Pola asuh yang diterapkan dalam keluarga akan membentuk karakter anak yang akan dibawa sampai dewasa nanti. 

Mentransfer keilmuan menjadi keharusan untuk sebuah keluarga. Penanaman keimanan atau agama, ilmu, karakter dan pendidikan budaya (pembiasaan) selalu dilakukan dalam sebuah keluarga di mulai saat anak-anak usia dini. Semua pembelajaran pendidikan dimulai dari tahapan dengan jenjang usia. 

Menjadi pusat peradaban bagi anak-anak berarti memberikan apapun yang dibutuhkan mereka. Kebutuhan fisik berupa sandang, pangan dan papan idealnya tersedia dengan baik. Namun tak berhenti sampai di situ saja. Keluarga melimpahi anak-anak dengan kasih sayang, pendidikan moral serta keteladanan yang berjalan terus menerus sehingga kebutuhan jiwanya terpenuhi. 

Mendidik tidak mendadak. 

Memiliki anak yang berprestasi dan berkualitas menjadi dambaan setiap keluarga. Tak salah pula setiap orang tua menginginkan kesempurnaan bagi putra dan putrinya. Anak adalah investasi. Oleh karena itu untuk investasi jangka panjang ini harus selalu diikhtiarkan. Semua melalui proses. 

Tak ada proses yang instan. Begitu juga saat kita memberikan pendidikan untuk anak dalam keluarga. Ada beberapa metode yang bisa dilakukan orang tua dalam pendidikan dalam keluarga. 

1. Memberikan keteladanan bukan hanya sekadar contoh. 
Anak-anak tak belajar dari apa yang masuk dalam telinga mereka, namun apa yang dilihat oleh mata. Memberikan contoh hanyalah cukup pada tataran bisa melakukan. Namun keteladanan yang konsisten itulah yang dibutuhkan oleh anak-anak. Contohnya saja mengajak anak shalat. Anak kecil pun diberikan contoh gerakan shalat beberapa kali tentunya akan segera hafal. Jika menginginkan anak yang rajin shalat tentunya orang tua terlebih dahulu yang memberikan keteladanan. 

2. Membentuk tanggung jawab dengan memberikan penugasan. 
Tanggung jawab berkaitan dengan pengajaran kemandirian. Berlatih bertanggung jawab salah satunya dengan memberikan anak penugasan. Dimulai dari tugas yang paling sederhana, misalnya anak yang masih balita membawa piring bekas makannya sendiri ke wastafel. Kemudian jenjang usia lebih tinggi bisa diberikan tugas yang lebih berat. 

3. Memberikan nasihat 
Nasihat tak bisa diabaikan begitu saja. Meski orang tua sudah memberikan keteladanan dan membentuk tanggung jawab, hati pun pantas diketuk dengan nasihat. Nasihat yang disampaikan secara baik, lembut dan menyenangkan tentu saja akan disimpan dalam alam bawah sadar anak. 

Nasihat yang diberikan tak harus menunggu kita melalui kejadian. Sifat dari nasihat adalah preventif. Seperti sebuah pepatah yang mengatakan lebih baik mencegah sebuah penyakit daripada mengobati. 
Kita sebagai orang tua tak boleh bosan memberikan nasihat bagi anak-anak. Fitrahnya manusia adalah mudah melupakan. Jadi nasihat yang berulang-ulang akan menjadi pengingat bagi anak-anak. 

4. Memberikan penghargaan dan hukuman 
Anak adalah manusia yang berproses menjadi dewasa. Dalam perjalanannya sering kali membutuhkan tantangan untuk pembuktian. Terkadang tantangan tersebut membuatnya jatuh dalam kesalahan. 

Anak perlu diberikan penghargaan ketika berprestasi dan diberikan hukuman saat melakukan kesalahan. Prestasi bukan berarti selalu memenangkan kejuaraan. Memenangkan hawa nafsunya pun merupakan sebuah prestasi. 

Sebuah hukuman bisa diberikan untuk memberikan efek jera sekaligus melatih keberanian anak untuk menanggung resiko. Hal ini berkaitan dengan rasa tanggung jawab sebagai manusia. Ketika anak dikenakan hukuman bukan hanya hukuman fisik. Bisa jadi hukuman yang diberikan adalah teguran yang disesuaikan dengan tingkat kesalahan atau kelalaian anak. 

Orang tua tak boleh melakukan pembiaran saat anak melakukan kesalahan. Hal itu hanya akan membuat anak menjadi pecundang. 

Tantangan keluarga era milenial 


Dunia terus berputar. Anak-anak pun bertumbuh. Tak bisa dielakkan lagi bahwa masyarakat dengan segala teknologi pun semakin berkembang. Informasi pun pergerakannya semakin cepat. Hal ini membawa banyak perubahan dalam tatanan masyarakat maupun dunia. 

Kita melihat bagaimana teknologi dan informasi berkolaborasi sedemikian dahsyatnya. Arus informasi mengguyur anak-anak kita sedemikian hebatnya. Sehingga anak-anak yang hidup di zaman sekarang begitu akrab dengan teknologi informasi. Bahkan teknologi informasi menjadi satu kebutuhan penting, kalau tak bisa dikatakan kebutuhan pokok di luar sandang, pangan dan papan. 

Gawai menjadi barang terpenting bagi anak-anak. dimana terdapat berbagai macam media sosial maupun aplikasi di dalamnya. Informasi apapun bisa dicari dengan peramban. Tak ketinggalan permainan daring maupun luring. Hanya mengandalkan jempol dunia pun berada dalam genggaman. Keasyikan yang didapat jika tak dikontrol oleh orang tua akan menjadi bumerang. Teknologi informasi yang seharusnya bermanfaat pun jika tanpa batasan akan menjadi candu. Tentunya hal itu membawa dampak buruk bagi anak-anak. Begitu banyak kejadian penyalahgunaan teknologi yang mengakibatkan berbagai masalah dalam diri anak-anak. Mulai dari masalah perilaku, kecanduan, perundungan, ataupun kemauan belajar yang menipis. Ini menjadi PR besar bagi kita para orang tua 

Banyak orang tua yang cemas dengan perkembangan teknologi informasi saat ini. Namun lebih banyak lagi orang tua yang tak menyadari bahwa bahaya mengintip anak-anak kita melalui gawai yang diberikan dengan alasan kasih sayang. Namun apakah sebagai orang tua kita berhenti pada cemas saja dan tak melakukan apapun untuk menjaga anak-anak? 

Banyak hal yang bisa kita lakukan tanpa mengurangi keceriaan anak-anak. Keluarga menjadi rumah bagi anak-anak dimana mereka bisa pulang. Orang tua yang asyik buat anak-anak, kakak atau adik yang bisa menjadi tempat mencurahkan hati merupakan dambaan anak manapun. Keluarga yang hangat akan menjadi wahana pendidikan terbaik untuk anak selain satuan pendidikan. 

Sebenarnya sebagai orang tua kita sangat berhak untuk mengontrol aktivitas daring anak-anak kita meski mereka sudah berada di usia menuju dewasa. Namun semua itu harus dilakukan karena keikhlasan bukan keterpaksaan. Bagaimana anak-anak kita bisa mengikhlaskan? 

Semua diawali dengan kesepakatan. Saat orang tua memberikan atau mengijinkan anak memiliki gawai sendiri ada hal-hal yang bisa disepakati. 


1. Kepemilikan 
Saat anak-anak masih berada di usia SD saya sama sekali tak memperbolehkan anak memiliki gawai. Jika mereka akan berkomunikasi dengan teman maka mereka akan menggunakan milik suami atau milik saya. Saya memperbolehkan mereka memiliki gawai ketika mereka mulai SMP. Memiliki gawai pun jika tabungan mereka cukup untuk membeli. Maka gawai yang mereka punyai adalah seharga tabungan mereka, atau saya hanya menambah maksimal 20% dari harga gawai yang akan dibeli. 

2. Kerahasiaan 
Pengalaman saya saat membuat kesepakatan dengan anak adalah saya harus mengetahui sandi dan diperbolehkan membuka gawai mereka. Jika kesepakatan pertama ini tak terjadi maka anak-anak tak bisa memiliki gawai. 

3. Waktu. 
Waktu menggunakan gawai berlaku untuk anak SMP maupun SMA. Mulai hari Minggu sampai hari Jumat waktu penggunaaan gawai maksimal saat adzan Maghrib berkumandang. Jika setelah itu mereka membutuhkan menggunakan gawai maka gawai sayalah yang akan mereka pakai. Itu pun tetap terbatas. Namun di hari Sabtu saya memberikan sedikit kebebasan menggunakan gawai sampai jam 21.00. Hari Minggu anak-anak boleh menggunakan gawai jika pekerjaan rumah yang menjadi tugas mereka telah selesai sampai Adzan Maghrib berkumandang. Waktu kesepakatan penggunaan gawai pun berlaku untuk saya. Saya pun harus meletakkan gawai di saat jam belajar anak karena menemani mereka. Namun untuk saya ada kelonggaran untuk mengecek chat karena suami berada di luar kota. 

4. Tempat 
Ruang keluarga adalah tempat khusus bagi anak-anak untuk menggunakan gawai. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan mereka membuka konten negatif. 

5. Memilih aplikasi 
Saya dan anak-anak bersepakat memilih aplikasi apa yang akan diunduh pada gawai mereka. Saya pun memberikan pandangan dan kontrol apalagi yang berkaitan dengan permainan. Saya hanya mengijinkan anak mengunduh dan memasang satu permainan dalam gawai mereka. Jika ingin permainan yang lain, maka mereka harus mencopot permainan lama. Khusus untuk aplikasi youtube saya menyetel untuk mode terbatas serta memasang aplikasi parental control untuk meminimalisir konten negatif tampil saat mereka berselancar di dunia maya. 

6. Media sosial 
Kami masing-masing hanya memiliki satu akun untuk satu jenis media sosial. Kamipun harus saling mengikuti akun media sosial masing-masing. Hal ini bisa menjadi kontrol anak-anak jika ingin mengunggah sesuatu. Saya pun diperbolehkan mengetahui sandi media sosial milik anak-anak. Itu menjadi syarat bagi anak-anak jika ingin memiliki media sosial. 

Lalu bagaimana jika kesepakatan dilanggar oleh anak-anak? Akan ada pemberlakuan hukuman dengan menarik gawai mereka lebih awal atau tidak memperbolehkan mereka menggunakan gawai dengan waktu tertentu. Jika kesalahan berulang terus menerus, maka gawai mereka akan saya titipkan ke sekolah dalam jangka waktu tertentu. 

Lantas jika tak memakai gawai mereka tidak mati gaya?

Saya rasa tidak. Setiap selesai shalat Maghrib kami mengaji kemudian ngobrol seru. Kadang obrolan kami pindah ke meja makan. Anak-anak akan bergantian bercerita tentang kejadian di sekolah baik yang menyenangkan atau tidak. Kadang menjelang tidur pun kami berkumpul berbicara tentang hal-hal ringan namun bermakna. Keterbukaan dan kesabaran dalam membersamai anak-anak pasti akan berbuah manis.


Sementara itu untuk prestasi belajarnya kami membuat kontrak belajar. Berapa nilai yang mampu dicapai oleh anak-anak di setiap mata pelajarannya. Mereka sendiri yang menentukan target nilai. Nilai itulah yang menjadi acuan dari prestasi mereka.


Hal itu sejalan dengan kerjasama yang sudah dilakukan dengan satuan pendidikan dimana anak-anak bersekolah. Saya bersyukur karena satuan pendidikan dimana anak-anak bersekolah secara berkala mengadakan pertemuan antara wali murid dan sekolah. Untuk memudahkan komunikasi pun telah dibentuk grup di media sosial baik secara angkatan maupun kelas. Komunikasi dengan wali kelas pun berjalan dengan nyaman sehingga semangat membangun kualitas anak-anak pun selalu terjaga.

Anak adalah kamera di sekeliling kita. Jika anak tak lagi merasa kita menjadi teladan bagi mereka, maka medialah yang akan menggantikan peran kita sebagai orang tua. Ikhlaskah kita saat anak-anak menjadikan barang yang berada dalam genggaman mereka sebagai pengganti orang tua? 
#sahabatkeluarga

Referensi :

Falah, Saiful, 2014. Parents Power : Membangun Karakter anak melalui Pendidikan Keluarga, Penerbit Republika
Keluarga Gama Mandiri, 2018. Seminar Parenting "Mempersiapkan Generasi Emas"
Pentingnya membangun Komunikasi Efektif Orang Tua - Sekolah.
https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4918




4 komentar:

  1. Mmg agak susah y mbak membatasi gawai PD anak2 ..aku jg kerasa..kdg plg sekolah mereka bukannya ngobrol ma ortu malah pedangnya gadget.kdg suka jealous ma gadget.tp sekrg klu mlm anak2 g kubolehin pegang gadget.tak suruh gambar ..

    BalasHapus
  2. Anak-anak terpapar konten negatif itu juga jadi kekhawatiranku mbak Ir. Apalagi sejak SMP si kakak tuh sering banget ngerjain tugas di warnet. Adiknya juga, dia termasuk gadget greak. Sekarang ini sudah aku batasi banget. Kalo mau pake gadget, di rumah dan bareng sama aku atau ayahnya. Semoga Allah melindungi anak-anak kita dari pengaruh negatif saat berada di luar rumah ya mbak

    BalasHapus
  3. Wah saya ikut deg-deg-an membacanya, mba. Dulu waktu SD atau SMP ya saya lupa, saya juga pernah membaca novel dewasa. Nggak sengaja karena cover dan judulnya semacam novel teenlit tapi ada adegan dewasa. Saya takut bilang orang tua, orang tua pun mempercayakan ke saya karena mereka lihat justru bagus saya hobi membaca.


    Hal itu jadi pelajaran untuk saya jadi ortu harus mendampingi anak termasuk menanyakan apa yang dia baca, apa yang dia lihat di internet.

    Makasih sharingnya mba, bermanfaat sekali.

    BalasHapus
  4. Gawai, gadget dan medsos ibarat dua sisi mata pedang ya mbak irfa, di sisi lain banyak kinten negatif, di sisi lainnya jiga dipkai belajar juga bisa semisal aplikasi ruang guru dll.

    BalasHapus

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih