Tak ada sekolah menjadi orang tua - Jurnal Hati Irfa Hudaya

Minggu, 20 November 2016

Tak ada sekolah menjadi orang tua

Assalamualaikum Temans,
Setelah beberapa kali saya menulis artikel tentang relationship saya dengan anak-anak, ada beberapa teman yang kemudian japri. Ada yang bertanya bagaimana saya bisa dekat dengan anak-anak,  bertanya tips mendekati anak remaja, bahkan ada juga yang kemudian curhat.

Sebenarnya, hubungan kami juga nggak sempurna seperti yang dibayangkan oleh beberapa teman yang japri. Saya mengalami masa-masa sulit mendekati anak-anak, terutama si Kakak. Saya juga sempat kok ‘roadshow’ ke beberapa teman yang berprofesi sebagai psikolog karena ketidakmampuan saya menangani masalah.  Saya seperti ibu-ibu yang lain juga kok, pernah punya perasaan tak berdaya atau merasa bukan ibu yang baik untuk anak-anak.


Anak-anak selalu kita harapkan menjadi qurrota a’yun bagi kita, namun suatu saat anak-anak juga menjadi bagian dari ujian kehidupan kita saat menjadi orang tua. Dan saya pun pernah merasakan sakitnya  anak menjadi ujian bagi saya.


Namun ketika ujian itu telah berlalu, selalu ada hikmah di setiap kejadian. Saya semakin berusaha memahami Kakak lebih dari yang sebelumnya, dan menambahkan perhatian lebih banyak lagi karena Kakak tipe anak centre of attention. Anak yang ingin menjadi pusat perhatian. Merasa kurang meski saya merasa sudah memberikan kasih sayang yang sama. Dan membuatnya kurang dewasa.
Saya bersyukur, perkembangan Adek ternyata lebih dewasa daripada si Kakak. Itu membuatnya merasa punya kewajiban untuk mendampingi Kakaknya.  Ia takkan menolak ketika si Kakak minta ditemani kemanapun. Bahkan sekedar untuk foto selfie di sebuah tempat yang menurut kakak instagramable.

Saya masih berproses untuk mendekati anak-anak. Apalagi sekarang masa-masa dimana mereka banyak bertanya tentang hal-hal baru. Baik itu dari fisik, maupun lingkungan. Lingkungan yang dihadapi anak-sekarang tak hanya di lingkup keluarga, sekolah maupun pertemanan. Satu hal yang akan selalu menjadi perhatian saya saat ini adalah pergaulan di dunia maya.

Jujur, saya masih trauma. Saya takut jika yang pernah Kakak lakukan akan terulang. Tak mudah bagi saya untuk memberikan kepercayaan penuh pada si Kakak. Apa yang ia lihat dan baca pasti terpahat di memorinya.

Mampukah saya membantu Kakak melumpuhkan ingatannya tentang hal-hal yang merusak akhlak? Mampukah Kakak mengendalikan diri untuk tidak melihat atau membaca lagi secara ia pernah punya pengalaman yang wow menurutnya? Dan berbagai kecurigaan yang selalu berputar di kepala sehingga saya sangat rajin membuka gadget si Kakak.

Yang pasti, doa-doa untuknya selalu saya panjatkan. Semoga Allah menjaga hati dan pikirannya. Untuk yang lain, saya makin mendekatkan Kakak ke Adek. Jika ada hal yang sulit disampaikan pada saya, si Kakak bisa bicara pada Adeknya. Meski kadang Adek kurang memahami. Tapi itu cukup membuat Kakak merasa punya banyak tempat yang akan memberikan perhatian.


Tak ada sekolah untuk menjadi orang tua. Namun banyak ilmu yang bisa kita gali untuk menjadi orang tua yang lebih baik. Setiap manusia selalu berproses. Dan proses itu merupakan pilihan bagi kita. Menjadikan kita lebih mawas diri. Dan berusaha menerima segala ketidaksempurnaan yang dimiliki oleh anak-anak. Karena mereka juga manusia seperti kita yang ingin dipahami dan diinginkan. 

Tidak ada komentar:

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih