Jurnal Hati Irfa Hudaya

Jumat, 03 Maret 2017

Gongso telur & Lovestory

Saat ini saya tinggal di Magelang coret, tepatnya di kota kecil yang punya merk Muntilan. Tahu dong, kuliner khas Muntilan?
Emping? Tentu tidak. Jangan harap saya menyebut makanan itu sebagai makanan khas Muntilan meski secara official sering disebut-sebut oleh Mak Uniek sebagai bingkisan wajib *peace MakNik 😃
Ada tape ketan berwarna hijau muda yang manis dan menghangatkan perut, yangko Muntilan yang rasanya mirip moci, krasikan maupun jenang yang bentuk dan rasanya sama dengan dodol. Tak ketinggalan Mie jawa yang endes nya sedemikian rupa dan menurut lidah saya mengalahkan rasa mie manapun se Indonesia Raya.

Namun saat ini saya nggak akan cerita tentang kuliner khas Muntilan dan sekitar. Saya justru pengen cerita tentang makanan khas Semarang, daerah asal suami saya. Sebuah cerita yang mengikuti kuliner semarangan ini yang pada akhirnya menjadi salah satu dari sekian banyak makanan favorit keluarga kami.

Throwback to 17 years ago

Minggu, 12 Februari 2017

Perpustakaan Jalanan di salah satu sudut Tugu Jogjakarta

Berpuluh-puluh tahun yang lalu, saat masih tinggal di Jogja dengan status mahasiswi, saya sering berangan-angan bisa berfoto di tengah perempatan yang menghubungkan Jalan Diponegoro, Jalan AM Sangaji, Jalan Sudirman dan Jalan Mangkubumi. Saat itu tak ada yang berani melangkah ke tengah-tengah perempatan itu. Meski sebuah tugu berdiri tegak di sana. Jikalau ingin hunting foto, saya bersama teman-teman hanya berani berdiri di pinggiran yang saat itu masih berupa trotoar di depan toko-toko kecil yang berjualan tiket kendaraan baik kapal maupun pesawat terbang.

Angan-angan saya pun akhirnya terkabul berpuluh tahun kemudian. Dalam sekali seumur hidup saya malmingan di Tugu Jogja beberapa minggu lalu di sela mengisi workshop selama dua hari di Jogja. Di perempatan itu, saya bersama Mbak Indah, sahabat saya si penulis cerita anak ini merasakan sensasi berfoto di tengah perempatan itu. Namanya emak hobi eksis, mau di kanan kiri adanya dedek unyu bin emesh udah nggak peduli. Pokoknya foto sepuasnya.

Rabu, 01 Februari 2017

Karya terbaru: Ya Allah Aku Rindu Ibu


Hanya bisa bersyukur untuk hari ini. Ketika dua hari yang lalu saya dikabari bahwa buku yang dikerjakan keroyokan naik cetak, buku solo yang saya kerjakan dua tahun lalu ini akhirnya terbit juga. Banyak hal yang terjadi di masa itu, Lantas kesabaran pun akan membayar segala perasaan negatif saat itu.

Buku ini adalah persembahan seorang anak kepada sang ibu. Sebuah tulisan untuk menyembuhkan lukanya ketika si anak merasa sangat kehilangan. Ketika si anak mengingat bahwa dirinya menjadi tokoh antagonis dalam hidup sang ibu. Penyesalan dan rasa bersalah yang terus saja membebani hati. Hanya ada dua pilihan saat itu. Menulis, atau menyesal tiada henti.

Pengen ngintip karya terbaru saya? Boleh ... Silakan dibaca prolognya ya?

Selasa, 31 Januari 2017

Nge-Grup, Manfaat atau Madharat?
sumber: www.pixelpro.com.co

Saya yakin saat ini hampir semua pengguna ponsel melakukan grouping di media sosial. Di awali dari grup di facebook, kemudian BBM,  sampai media sosial yang sekarang ini paling banyak dipakai pengguna ponsel  berbasis android yaitu whatsapp. Teman saya bahkan sampai punya 40 grup di whatsapp.  Belum lagi grup di telegram yang bisa memuat sampai 5000 kontak dalam grup. Bisa ngebayangin peningnya kalau ponsel nggak di mute mode.

Rabu, 18 Januari 2017

Arem-arem Bakmi Mewah ala Emak Malas

Saya dan suami adalah teman sekampus. Teman main basket juga. Sejak kami mulai lebih dekat, teman-teman satu geng sudah menebak kalau kami akan berjodoh. Kata mereka kami mirip. Mata kami sama-sama kecil cenderung sipit, kulit juga sama-sama sejenis dengan kulit orang-orang asia timur, sama-sama banyak ketawa, bahkan se-gigi-giginya pun mirip. Iya, mirip berantakannya.  Tebakan teman-teman kami ternyata benar. Tiga tahun setelah itu kami menikah. Nah ... saat itulah terlihat betapa kami dua pribadi yang jauh dari mirip.


Saya orangnya super berantakan. Namanya bersih-bersih rumah itu malesnya luar biasa. Suami itu paling suka yang namanya nyapu halaman, menata rumah, nyabutin rumput di halaman belakang, pokoknya betah banget yang namanya bersih-bersih. Saya cerewetnya parah, sementara suami kalemnya pol polan. Saya irit garis keras (aka pelit hahaha) sementara suami gampang ngeluarin dompet. Dia kalau mandi lamanya bukan main, sementara saya mandi lima menit kayaknya juga udah cukup bagus.

Belum lagi masalah selera makan. Saya suka makanan manis, dia hobi cemilan gurih. Dia suka masakan berkuah, saya suka yang garing-garing. Dan yang paling parah, dia pecinta mie instan, sementara saya makan sesendok aja sudah sukses bikin saya mual.

Selasa, 10 Januari 2017

Bonding Kakak dan Adek.

Diambil dari profile picture Aqiella Rifka SM

Saya melihat bonding antara Kakak dan Adek lebih kuat dari yang saya bayangkan ketika Kakak Study Tour. Kelihatan sekali kalau dia terpengaruh oleh ketiadaan Kakak di rumah. Maklum saja, sejak kecil Kakak dan Adek memang jarang sekali terpisah dalam jangka waktu yang lama. Pulang sekolah pun, jika salah satu tak tampak sepasang sepatunya yang lainnya akan segera menanyakan.
“Kakak kok belum pulang? Ekstra po?” atau “Adek kok nggak pulang-pulang? Main bola po?”

Kakak dan Adek tidur terpisah sejak Kakak mendapatkan haidnya. Namun mereka tetap selalu bersama jika berada di rumah. Entah bermain games atau sekedar menonton tayangan film  di youtube yang sudah saya pilihkan. Adek lebih sering datang ke kamar Kakak. Untuk belajar , sekadar bercanda atau menggoda. Jarak usia yang terpaut hanya dua tahun membuat saya merasa mengasuh dua remaja dalam satu waktu.

Mereka sering curhat-curhatan. Dengan embel-embel pesan,”Jangan bilang Bunda ya? Malu.”
Namun pesan itu sebenarnya tidak berlaku, karena keduanya pasti cerita ke saya. Siapa yang Kakak sukai, siapa yang suka ke Kakak, berapa banyak teman perempuan yang suka ke Adek, atau berapa kali si Adek dapet surat mereka lebih tahu duluan.

Hari Ahad sore, Kakak berangkat study tour. Adek sudah lebih pendiam dari biasanya. Adek minta ikut mengantar Kakak ke sekolah. Melihat Kakak bertemu teman-temannya kemudian selfi, Adek hanya cukup memandang lewat gerbang sekolah. Saya tahu, ia mulai kehilangan. Dan malamnya Adek tidur jauh lebih awal.

Senin pagi, saat berangkat sekolah saya tanya ke Adek.
“Adek kangen sama Kakak?”
“Agak kangen. Eh ... Biasa aja ding.”

Saya tahu, mungkin saja ia menyembunyikan perasaannya. Terbukti setelah pulang sekolah sampai menjelang tidur  ia mati gaya. Seperti orang bingung, mau ngerjain apapun serba salah.

Selasa pagi, setelah mengantar Adek berangkat sekolah, saya menge-charge baterai ponsel satu persatu. Saat mengambil ponsel lama saya yang sudah saya hibahkan ke Adek, saya pun tertawa. Biasanya ia akan memasang fotonya atau foto pemandangan sebagai wallpapernya. Entah kapan, saya sendiri nggak merhatiin, ternyata Adek telah menggantinya dengan foto  si Kakak. Bukan kebiasaannya. Namun saya memahami, perasaan paling dalamnya ia merindukan si Kakak.



Selasa sore, saya tak terlalu memperhatikan Adek yang keluar masuk kamar si Kakak. Saya pikir ia mengambil barangnya yang tertinggal di kamar Kakak. Setelah saya pulang takziah dari Jogja saya barulah saya mengamati. Ternyata Adek belajar di kamar Kakak. Ia melakukan hal-hal yang biasa dilakukan bersama Kakak. Saya kira setelahnya ia akan berpindah ke kamarnya sendiri jika sudah ngantuk seperti biasanya.

Ternyata tidak. 
Saat saya terbangun dini hari, saya menemukan kamar Adek kosong. Ketika saya tengok ke kamar Kakak, Adek tertidur pulas di sana.


Pagi ini ketika Kakak pulang, Adek menyambut dengan suka cita. Saat hendak sarapan, ia mempersilakan si Kakak mengambil makanannya lebih dahulu dan menyuguhkan jus jambu untuk si Kakak. Ia pun mengambil duduk di sebelah Kakak, mendengarkan si Kakak bercerita mendominasi pagi kami hari ini. Wajah Adek terlihat lega. Saat berangkat ke sekolah ia pun banyak tersenyum dan mencium punggung tangan tanpa mengganggu atau menggoda si Kakak.

Memang ada kalanya mereka bertengkar sampai salah satu menangis. Kadang mereka berebut perhatian saya. Saling mengadu jika salah satu melakukan kesalahan. Bagi saya itu sibling rivalry. Mereka mencoba mengambil hati saya. Namun saya berusaha mengatakan untuk menyelesaikan persoalan mereka sendiri tanpa melibatkan saya selama yang mereka ceritakan adalah hal yang remeh temeh. Tapi tetap saja, perselisihan mereka takkan berlangsung lama. Dalam hitungan menit mereka akan bersama lagi. Kembali tertawa seperti biasanya.

Kakak dan Adek adalah saudara sedarah. Mereka terikat oleh nasab yang sama. Namun jika kebersamaan mereka tak dipupuk sedari awal, ikatan persaudaraan akan melonggar. Bahkan tak mungkin kata saudara hanya sekedar predikat semata.

Saya lebih sering membeli satu barang untuk dipakai bergantian oleh mereka. Jarang sekali saya membelikan barang yang sama masing-masing satu orang. Kecuali untuk kebutuhan primer sekolahnya. Mereka akan memakai bergantian. Supaya mereka mengerti berempati dan bersimpati kepada orang lain. Juga memahami arti berbagi.

Selamat Hari Rabu ya, keep spirit to write, keep on pray