Jurnal Hati Irfa Hudaya

Senin, 21 Maret 2016

Menariknya The Voice (versi saya)

Kayaknya semua orang juga sudah tahu kalau di rumah saya TV hanya menjadi pajangan di ruang keluarga. Mungkin sudah lebih dari tiga tahun saya melewati banyak tayangan di kotak ajaib itu. Kadang hal tersebut membuat Anya dan Lilo menjadi 'weird' di kalangan teman-temannya. Mereka kadang jadi nggak nyaman ketika berada dalam kelompok. 

Saya mengijinkan anak-anak untuk googling jika ingin mengetahui apa yang dibicarakan teman-temannya. Saya bolehkan mereka membuka youtube sepanjang saya juga berada di rumah. Saya bisa kontrol dan tau betul yang mereka lihat.

Akhir-akhir ini ketika saya merasa puyeng dengan naskah yang sedang saya kerjain, saya membuka tayangan The Voice di Youtube. Awalnya saya menonton The Voice Indonesia saja, namun sekali saya melihat The Voice di seluruh dunia membuat saya menjadi lebih rajin menonton The Voice.

Kamis, 17 Maret 2016

Cara Mengenali Keaslian Onderdil Motor
Sepeda motor merupakan salah satu alat transportasi yang sangat mudah digunakan. Selain praktis dan dapat membawa kita menuju tujuan, sepeda motor menjadi kendaraan yang digemari di masyarakat karena lebih bersifat pribadi tanpa harus berbagi dengan orang lain seperti di angkutan umum. Maka tak heran perawatan motor  yang maksimal dilakukan oleh pemilik kendaraan roda dua ini agar awet dan enak dipakai. Setiap bulan biasanya pemilik akan melakukan servis pada kendaraannya. Selain itu juga mengganti oli apabila kilometer di speedometer telah menunjukkan angka tertentu serta melakukan perawatan lainnya di bengkel. Namun apabila tidak melakukan perawatan dengan baik, biasanya sepeda motor akan cepat rusak pada bagian tertentu dan harus mengganti onderdil motor tersebut.

Rabu, 17 Februari 2016

Gen W Academy

Di masa remaja, saya pernah berangan-angan. Bagaimana ya rasanya bisa belajar menulis cerpen dengan baik seperti yang biasa saya baca di majalah remaja? Saya sudah cukup bosan dengan pelajaran yang itu-itu aja. Setiap kali bosan dengan pelajaran apapun, saya tinggal membuka bagian belakang buku tulis saya dan sibuk sendiri membuat sebuah tulisan. Apa aja. Entah hanya cerpen beberapa paragraf atau penggalan puisi. 

Saya selalu menunggu setiap pelajaran Bahasa Indonesia. Itu saatnya bersenang-senang. Apalagi jika ada tugas yang kadang membuat teman lain mengeluh. Padahal bagi saya, itu saatnya saya bersorak. Membuat esai, menulis puisi, bahkan membaca puisi menjadi saat yang paling menggairahkan. Bagaimana tidak, di pelajaran tersebut saya terbiasa dengan nilai-nilai tertinggi. Karena pelajaran itulah yang membuat saya menjadi juara II baca puisi tingkat kabupaten saat berada di sekolah menengah pertama. 

Namun itu semua tak membuat saya cukup puas. Saya ingin seperti Donatus A Nugroho, Gola Gong, Nurhayati Pujiastuti, Inun' NA, Jun Kuncoro, Zara Zettira, atau Gustin Suradji yang cerpennya selalu muncul di majalah remaja saat itu. Dimanakah mereka belajar ya? Punya guru privat nggak ya, supaya tulisan mereka mampu mengayun-ayun perasaan pembaca? 

Senin, 01 Februari 2016

Menjadi newbie
Sebenarnya saya masih agak ragu untuk kembali aktif berorganisasi dimana keluarga saya bernaung. Saya merasa sudah cukup saya mengaktualisasikan diri di komunitas menulis yang saya ikuti mulai dari tahun 2013 yaitu IIDN. Saya merasa IIDN adalah rumah saya, baik dalam berkarya maupun berkelompok. Dan saya memang sangat menikmati 'gokil bareng' bersama sahabat-sahabat saya di IIDN. Wadah dimana kami saling support untuk melakukan hal-hal terbaik dan berusaha bermanfaat untuk orang lain.

Awalnya Ibuk almh yang aktif di Aisyiyah. Beberapa tahun lalu pernah ada yang berkata bahwa saya kurang cocok untuk aktif di Aisyiyah. Kata beliau, " Kamu akan kesulitan mengikuti ritme ibu-ibu sepuh di sana. Kamu yang terbiasa bergerak cepat dan dinamis pasti akan bosan mengikuti kegiatan ibu-ibu yang kebanyakan sudah pensiunan dan nggak terlalu banyak aktivitas. Lebih baik kamu aktif di FKMM saja. Kamu akan berkembang nantinya."

Dan memang, saya sama sekali tak bersentuhan dengan anak organisasi dibawah payung Muhammadiyah itu. Selain merasa belum jadi warga Muhammadiyah beneran karena nggak punya NBM :) , saya juga ngerasa belum saatnya bergabung di sana. Masih banyak tempat untuk saya berkelompok yang satu visi dengan saya. Apalagi ada beberapa hal yang membuat saya akhirnya benar-benar menjauh dari aktivitas organisasi itu. Sampai kemudian Ibuk almh meninggal.

Minggu, 17 Januari 2016

(Latepost) Curhatan si Kakak
   Seminggu lalu, Kakak pulang sekolah dengan muka ditekuk. Biasanya masuk rumah mengucap salam dengan suara yang ceria. 
    
    "Assalamualaikum."
    Adek yang sedang maem pun memandang saya, kemudian turun dari kursi menyambut kakaknya. Tanpa memandang Adeknya, Kakak langsung masuk kamar, sementara Adek hanya memandang punggung kakaknya. Mungkin kecewa, ditegur pun enggak.
    "Kakak marah po?"

   Saya hanya tersenyum dan meminta Adek untuk melanjutkan makannya. Adek pun makan sambil   bercerita seharian di sekolah ngapain aja. Nggak berapa lama, Kakak pun menghempaskan tubuhnya ke kursi di sebelah saya. Namun masih terdiam. Biasanya sih, begitu ketemu saya, dari mulutnya akan keluar cerita seru sepulang sekolah.
 

Kamis, 03 Desember 2015

Kecerdasan yang dianaktirikan
Bangga sekaligus bersyukur saat Anya dinyatakan lolos menjadi peserta Akademi Remaja Kreatif Indonesia 2015 yang diselenggarakan oleh Penerbit Mizan dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Saya nggak nyangka aja. Umurnya belum genap dua belas tahun. Harus bersaing dengan ratusan peserta dari seluruh penjuru remaja dari tanah air, Bisa menjadi bagian dari 100 peserta bagi saya dia sudah menjadi pemenang. 

Awalnya memilih kategori menulis skenario ketika mengirimkan karyanya. Namun ketika lolos, ia masuk ke kategori menulis cerpen bersama 49 remaja lain. Ada 32 siswa SMA dan 18 siswa SMP yang nantinya akan bersaing di kategori menulis cerpen. Saya takkan membebaninya dengan tuntutan apapun. Yang penting dia bisa enjoy dan bersenang-senang di karantina ARKI tanggal  9-12 Desember 2015 nanti. 

Excited pasti. Dan saya sering ketawa dengan pertanyaan-pertanyaan polosnya. Khas cah ndeso. Bagaimana matanya berbinar ketika browsing sendiri dimana ia akan tidur. Ia membayangkan main air di bathub. Berenang di kolam renang. Yang paling bikin saya ketawa ketika ia bertanya,"Kalau tidur di hotel gitu, abis nyuci baju, dimana njemurnya?"