Remaja berbicara tentang parenting - Jurnal Hati

Selasa, 28 Januari 2020

Remaja berbicara tentang parenting


Assalamualaikum temans, 
Belum surut berita mengenai seorang pelajar SMP di Jakarta yang melakukan bunuh diri, Sabtu lalu di kota kecil saya dihebohkan dengan kasus anak klas 6 SD mengakhiri hidupnya. Menurut berita yang beredar di WAG dan berita online motif si anak tersebut menginginkan ponsel sementara orang tua menjanjikannya jika SMP nanti.

Namun informasi lain, anak ini mengalami kekerasan verbal dari teman-temannya. Umurnya 15 tahun, namun masih klas 6 SD. Beberapa kali ia tak naik kelas. Sementara teman sebayanya sudah menjelang SMA. Hal itu yang menjadi bahan bercanda teman-temannya.

Lagi-lagi kekerasan verbal melukai harga diri anak remaja sehingga melakukan sesuatu di luar pemikiran orang dewasa. Satu hal yang perlu diwaspadai karena pelaku kekerasan verbal sering kali tak menyadari bahwa yang keluar dari bibirnya itu menyakitkan.

Masyarakat pun banyak berpendapat. Tak sedikit pula komentar mengenai anak-anak milenial yang tak memiliki Adversity quotient yang tinggi. Tak memiliki kekuatan untuk bertahan dalam kondisi buruk. Anak yang lahir setelah tahun 2000 dianggap lemah karena dimanjakan oleh fasilitas dan teknologi. Sudah dianggap lemah, jauh dari unggah ungguh pula. Cobalah untuk melihat bagaimana anak-anak sekarang berkomunikasi. Caci maki bertebaran di media sosial. Banyak hal yang dulu dianggap tabu sekarang ini malah dianggap guyonan. Kreativitas tanpa batas cenderung berlebihan sehingga hampir tak ada limit mana serius mana bercanda. Semua sama saja.

Anak milenial inikah yang patut disalahkan?


Obrolan dengan Kakak

"Anak-anak belajar bullying darimana? Belajar memaki apa cuma dari TV atau internet? Yang hobi nyebar hoax siapa? Yang memberikan fasilitas siapa?"

Pertanyaan-pertanyaan Kakak itu benar-benar menohok. Ini bukan untuk membela diri karena generasinya dianggap lemah atau nggak punya etika. Namun menyadarkan betapa banyak PR bagi para orang tua untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anaknya.

Anak-anak yang hidup di zaman generasi alpha ini adalah produk produk kita. Mereka anak-anak yang lahir dari rahim kita. Tidakkah disadari bahwa kitalah yang memberikan pengaruh terbesar bagi perkembangan batin mereka?

Kata-kata yang menghakimi sering sekali kita ucapkan. Kalimat melecehkan dianggap bercanda. Tak berpikir bahwa candaan pun bisa melukai harga diri. Makian dianggap bagian dari keakraban. Bangga melanggar peraturan meski sekecil apapun. Ketakjujuran dilindungi. Kesalahan selalu dimaafkan tanpa ada konsekuensi. Siapa di antara kita yang belum pernah sama sekali melakukan satu di antara sekian hal yang sudah tertulis. Ia orang yang hebat

"Orang memutuskan melakukan suicide itu masalahnya pasti nggak cuma satu. Kompleks dan lama. Hanya orang-orang di sekitar yang nggak peka. Dianggapnya ketika orang itu tertawa ya bahagia tok. Padahal bisa jadi loh tawanya itu menutupi sakit hatinya yang sudah dalem," lanjutnya.

Saya sedang berpikir tentang bagaimana peran agama dalam kehidupan anak-anak di zaman sekarang.

"Jangan ngomongin si anak itu lemah iman juga. Lha wong anak-anak sekarang kan banyak yang ngedapetin pengertian tentang agama itu nggak tepat. Banyak juga kan orang tua bisanya cuma nasehatin doang? Padahal remaja itu butuh dikasih tahu kalau Allah itu Maha Penyayang, Maha Pengasih, Maha Lembut. Orang tua sekarang ngasih tahunya kalau anak ngelawan Allah marah. Kalau anak bandel dikit dibilang nanti Allah murka. Kalau melakukan kekhilafan dibilang nanti masuk neraka. Kenapa orang tua nggak bilang kalau Allah itu selalu kasih kesempatan kedua bagi orang yang mau berusaha jadi baik?"

Kalimat panjang itu benar-benar masuk ke hati saya. Saya pernah lho ngasih tahu anak seperti yang diomongin si Kakak waktu anak-anak masih kecil. Banyak kesalahan di masa lalu pada akhirnya membuat saya menyadari bahwa menjadi orang tua itu ya siap belajar sepanjang hayat.

"Kalau gitu menurut Kakak gimana?"

"Menurutku, orang tua tuh kudu introspeksi. Aku yakin kok kalau orang tua sudah tepat ngedidik anak, anak nggak akan berbuat macam-macam. Anak bandel, nakal, berperilaku buruk biasanya bentuk protes yang nggak nyampe ngomongnya. Bisa juga itu dampak dari orang tua memanjakan anak."

"Itu bukan hal yang mudah buat orang tua."

"Sama aja. Nggak gampang juga buat anak ngadepin masalahnya sendiri. Bayangin aja misalnya aku punya masalah sama temen, ngadu sama Bunda, malah diremehin, dianggap sepele. Ya pasti sakit hati to yo? Coba tiap aku cerita ke Bunda atau Ayah nggak respon dengan baik, kira-kira aku ngadu kemana? Banyak anak ngerasain kayak gitu, Nda. Diremehkan orang tua, harga diri anak direndahkan. Belum lagi dituntut untuk menyenangkan hati orang tua. Gimana bisa bahagia?" Ucapnya dengan raut wajah sedih.

Saya menghela napas. Saya dan Kakak pun pernah mengalami masa-masa sulit dalam berelasi. Beberapa tahun yang lalu. Selama tujuh tahun relasi kami benar-benar naik turun seperti roller coaster. Beberapa kali harus datang kepada dua orang profesional untuk membantu memperbaiki. Insya Allah sekarang jauh lebih baik, meski tetap tak bisa sempurna.

Membangun karakter anak sering kali digaungkan oleh pemerintah. Namun di masyarakat sendiri implementasi membangun karakter anak masih jauh dari pemahaman. Banyak orang menganggap bahwa mendidik anak itu akan bisa dilakukan secara naluriah. Padahal menjaga titipan Allah itu juga tak mudah.

Tegas berbeda dengan galak. Mencintai tak sama dengan memanjakan. Banyak sekali bahasa cinta yang bisa kita lakukan. Namun semuanya harus disampaikan dengan sesuai porsinya sehingga anak dan orang tua sama-sama berbahagia.













15 komentar:

Dila Kusuma mengatakan...

Super Bunda Irfa.. 🙏

Dewi Rieka mengatakan...

Duh, obrolannya dalam banget mbak, semoga bocah-bocahku bisa terbuka padaku kayak kak Anya dan mas lilo..bener deh kadang kita abai curhat anak, kurang penting, mereka jadi down karena tanggapan kita ngga antusias ya

Farida Pane mengatakan...

Setuju sama Kakak. Bagaimana pun, anak adalah cerminan orang dewasa di sekitarnya. Semakin luasnya kemudahan akses membuat semakin besar tanggung jawab kita terhadap masa depan seorang anak

Sri Untari mengatakan...

tegas beda sama galak. Itu yang susah mba. apalagi kalo rasanya dah mentok. hawane mesti keluar kalimat ancaman

wuri nugraeni mengatakan...

keren kakak anya, duh baca ini jadi deg degan gimana ya masa remaja arkaan kelak, semoga tetap bisa menjadi ibu sekaligus temannya

Weny Dyah M. mengatakan...

memang sebagai orang tua suka ga sadar, niatnya memberi tahu kalau perilaku anak salah tapi dengan kata kata yang menghakimi, justru membuat anak anak terluka dan melampiaskan lukanya ke teman sebayanya. Duh, harus banyak banget belajar tentang pengendalian emosi dan kata kata nih...

Mechta mengatakan...

Mbaa..salut banget utk kearifan Kakak. Pengamatannya dalam dan caranya mengemukakan pendapat bagus sekali.. TFS mba..membuka pikiran bahwa sisi pandang anak juga sangat penting dlm parenting ya..

Uniek Kaswarganti mengatakan...

Iya, memang berat ya mendidik anak. Tak hanya di masa sekarang, sejak dahulu kala memang menjadi orangtua adalah kewajiban untuk belajar sepanjang hayat. Tak bisa mendidik dengan sekenanya saja, asal udah kasih makan dan kebutuhan fisik. Anak juga butuh relasi yang tepat dengan orangtua. Masing-masing keluarga punya tipe relasi yang berbeda.

Marita Ningtyas mengatakan...

Duh baca kalimat- kalimat kak Anya berasa dejavu. Lucunya seteelah jadi orangtua kok ya balik lagi ada hal2 yang dulu kuprotes malah tetap kulakukan. Memang jadi ortu belajarnya sepanjang hayat.

Dani Ristyawati mengatakan...

Wah Kak Anya pemikirannya sudah dewasa banget ya dan wise..bisa menyelami dan menganalisa suatu masalah dan posisi si korban..keren bisa jadi perspektif baru dalam mengasuh anak

Nyi Penengah Dewanti mengatakan...

Alhamdulillah ya Mba Irfa anak2 terbuka banget jadi lega ya. Aku jadi belajar banyak juga bagaimana mendidik anak itu nggak gampang

utari ninghadiyati mengatakan...

Menjadi orang tua itu belajar terua menerus selama hayat dikandung badan. Benar mbak, tiap anak berbeda, saya kembali belajar mengenal si kecil yang mulai beranjak remaja. Berusaha tidak membandingkan dengan kakaknya. Intinya terus belajar.

Mara mengatakan...

Bagus bgt ini mba, mau aku share k iparku ah. Keponakanku lg korban bully scra verbal soale

Hidayah Sulistyowati mengatakan...

Aku dulu sempat gelagepan loh mbak, waktu si bungsu nanya tentang bullying yang dilakukan adik kelasnya. Bener ucapan Anya (aku bahkan sampai ndlongop bacanya) bahwa kesempatan bullying itu disediakan oleh orang tua. Bahkan untuk meniru pun mudah karena sosmed begitu banyak contohnya, dan bukan hal yang baik.

Yuliarinta mengatakan...

Super keren bisa berbicara dengan anak remajanya dengan begitu terbuka. Semoga saya juga bisa seperti itu