Selasa, 25 Juli 2017

Novel yang menginspirasi saya untuk menjaga komitmen




Pertengahan Ramadhan lalu, saya menangisi seorang teman. Meski ia bukan termasuk teman terdekat dalam inner circle saya. Namun menjadikan saya tempatnya mencurahkan hati buat saya ini sebuah kehormatan.

Ia sedang banyak belajar tentang hal yang berkaitan dengan agama. Berdialog dengan Tuhan Yang Maha Esa menjadikannya sebuah harapan untuk mengharap seluruh ridho-Nya. Ekspektasinya besar untuk bisa berserah dengan segala kesulitannya. Salah satunya adalah menjaga hati.


Perempuan ini, tahun lalu bercerita tanpa bisa terbendung lagi. Sampai tengah malam kami berdiskusi. Tentang komunikasinya dengan sang mantan kekasih di masa remaja. Tentang keluarganya. Tentang kehormatan sebagai perempuan beristri.

Kemudian teman saya ini berjanji untuk berhenti berkomunikasi dengan sang mantan. Supaya keluarganya tetap baik-baik saja. Supaya persoalan yang ada tinggal riak-riaknya. Dan saya merasa lega ketika kami kembali ngobrol ia berkata bahwa ia sudah berusaha menjauhi mantan kekasihnya.

Saya menghargai usahanya. Meski saya ingin sekali mengatakan bahwa hal terbaik adalah benar-benar berhenti berkomunikasi. Dengan apapun bentuknya. Karena sepenggal hatinya sudah mulai terhanyut. Di akhir komunikasi itu saya katakan bahwa perempuan beristri adalah hak suami. Ridho suami adalah pahalanya. Jangan sampai kita sebagai perempuan melakukan hal-hal yang tak membuat suami ridho. Apapun bentuknya.

Enam bulan setelah obrolan kami berakhir. Tepatnya pertengahan Ramadhan lalu. Saya dikejutkan oleh sebuah berita.  Teman saya, yang sudah berjanji untuk berhenti berkomunikasi dengan mantan kekasihnya pergi dari rumah. Meninggalkan suami dan ibu yang masih tinggal bersamanya. Juga dua gadis yang mulai beranjak remaja. Untuk memperjuangkan cinta lamanya. Bersama sang mantan kekasih.

Saya menangis. Ternyata diskusi sampai tengah malam itu tak mempunyai arti. Saya mengingat dua gadisnya yang hanya menangis ketika ada orang yang menanyakan sang mama. Saya tak tega melihat kepala dua anak gadisnya tertunduk malu.

Saya mencarinya. Ketika di sosmednya tak melihat apapun, saya mencoba mencari clue. Saya pun membuka semua akun pertemanannya. Juga membuka satu-satu followernya. Setelah sekian lama mencari, saya pun gemetar ketika melihat sebuah akun followernya.

Ada fotonya di sana. Bersama seorang laki-laki yang bukan suaminya. Napas saya memberat karenanya. Melihat pose layaknya seorang remaja. Saya seolah tak mengenalnya. Perempuan yang selalu bersuara lembut dan halus perangainya. Saya mencoba menghubunginya. Tak satupun pesan saya terbalas. Yang ada malah ia mulai berani mengunggah kebersamaannya bersama laki-laki itu di akun sosial medianya.

Beberapa teman menanyakan pada saya, karena di masa sekolah saya cukup dekat dengannya. Saya tak mungkin mengatakan tak tahu apa-apa. Saya hanya menjawab saya sudah tahu, namun bukan kapasitas saya untuk bercerita. Itu adalah sebuah aib. 

Tentang sebuah buku.



Kejadian itu membuat flashback tentang kejadian-kejadian di masa lampau. Baik cerita yang terjadi di sekitar saya, maupun yang saya alami. Dan membaca buku ini menjadi titik balik saya untuk berhijrah. Untuk sebuah kehidupan yang lebih baik.

Buku ini berjudul Cinta Semusim, karya Ifa Avianty. Buku ini berkisah tentang kisah cinta Fenny, Wid suaminya, dan Haris, teman masa kuliahnya. Tentang Sarah pegawai Fenny, Idris, serta Alita, istri Idris yang ternyata bersahabat dengan Fenny.

Fenomena bermain hati yang seolah menjadi gaya hidup diceritakan dengan renyah namun dengan moral of story yang kuat. Novel ini mengajak pembaca untuk mereposisi pemikiran terhadap pasangan dan menyajikan sebuah solusi yang bijak dan indah.

Buku ini menjadi sebuah pengingat bagi saya. Bahwa menjaga diri sebagai seorang istri tak bisa ditawar-tawar. Boleh kita percaya diri, bahwa kita pasti akan setia pada pasangan. Namun jangan sampai over PD sehingga membuat kita lengah. Kita tetaplah manusia yang mempunyai kelemahan. Dan kelemahan itulah kadang dimanfaatkan oleh syaitan untuk menggoda hati kita.

Potensi main hati ada di mana-mana. Bahkan dengan orang yang sama sekali tak kita sangka. Main hati, perselingkuhan bukan soal perempuan genit yang menggoda laki-laki mata keranjang. Bukan juga soal making love dengan orang lain yang bukan pasangan sah kita. Namun ini tentang kesepian yang sering kali merayapi hati. Mimpi-mimpi yang terpendam, sebuah kesempatan yang menghanyutkan, dan kepercayaan yang terlupakan.

Novel ini memberikan motivasi bagi saya bagaimana me-manage hati dengan baik. Memberikan sebuah pelajaran bahwa cinta sejati harus selalu diperjuangkan. Bahwa komitmen rumah tangga harus selalu dijaga dengan kesungguhan hati.

Hijrah yang lantas saya perjuangkan pelan-pelan. Meski banyak mendapatkan pertanyaan. Apalagi saya lebih banyak mempunyai teman laki-laki dibanding perempuan. Namun saya yakin, apa yang saya usahakan adalah yang terbaik yang bisa saya lakukan.

Saya mulai membatasi pergaulan dengan lawan jenis. Pelan-pelan menutup keran komunikasi yang tak perlu dengan mereka. Hanya di lingkaran inner circle yang suami saya ridhoi. Dan ternyata, dari semua itu membuat saya lega dan tenang. Saya mempunyai anak-anak yang sudah remaja. Saya sudah sering memberikan pemahaman pada anak-anak tentang adab bergaul dalam Islam dengan teman lawan jenis. Meski saya sangat sering mengatakan tentang adab pergaulan itu, namun akan sia-sia bukan jika saya tak memberikan contoh bagi anak-anak?

Lah ... malah curhat hehehe ....
Tema tentang buku yang menginspirasi ini diberikan oleh Mbak Vita Pusvitasari dan Mbak Anita untuk tema arisan kali ini. Semoga bermanfaat ya. Terima kasih.



10 komentar:

  1. Wow, sebagai pengingatku juga nih Mbak. AKu belum pernah baca novelnya, penasaran

    BalasHapus
  2. Semoga kita dilindungi dari godaan pesona PIL & WIL ya, Mbak. Beberapa waktu lalu juga ikut kajian tentang rumah tangga. Bahwa terkadang kita melihat keluarga lain lebih baik dari keluarga kita. Padahal sebenarnya semua itu "wang sinawang" alias semua butuh perjuangan untuk menjadikannya baik.

    BalasHapus
  3. Iya betul mbaa dulu aku juga banyak temen deket cowok, tpi setelah nikah mulai membatasi diri. Senda gurau yg terlalu intens dgn lawan jenis mnurutku juga kurang baik efeknya meski hanya trman biasa ga ada perasaan apa2.

    BalasHapus
  4. Baca ini makin penasaran dengan isi novelnya, Teh..he
    Ini ada filmnya atau gak ya, Teh?

    BalasHapus
  5. Duh, sedih banget bacanya mbaa...ngga kebayang keluarga yang ditinggalkan. Apakah sepadan ya :(

    BalasHapus
  6. Pertanyaannya adalah : Kok ada ya seorang ibu yang seperti itu. Kalau seorang wanita meninggalkan suami mungkin bisa dengan alasan yang kuat, tapi meninggalkan anak??

    Hal ini harus menjadi peringatan terutama buat diri saya sendiri mbak Ir, jangan sampai melakukan hal yang bertentangan dengan ajaran agama. Saya juga dalam proses berhijrah menjadi muslimah yang lebih baik. Saya juga mempunyai anak gadis yang pasti dia akan melihat saya sebagai contoh.

    Godaan syetan itu memang dahsyat namun iman kita harus lebih kuat kan ya. Mungkin kita harus selektif memilih dan memilah pergaulan, terutama teman di sosmed, hehe..

    Novel yang bagus ya mbak, yang bisa mengingatkan kita untuk mematuhi ajaran agama dengan benar :)

    BalasHapus
  7. Ujian berumahtangga yaa mb, macem macem. Semoga kita mampu memperjuangkan keutuhannya sampai kapanpun. Sepakat mb, seharusnya kita memang membatasi pergaulan kita dg lawan jenis apalagi bagi yg sudah menikah. Menjaga hati mmg tak mdah..

    BalasHapus
  8. Novelnya sudah ada filmnya berarti yak.. Noteku adalah: jangan over PD bahwa kita akan terus setia.. Mencegah selalu lebih baik daripada terlanjur..

    BalasHapus

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih