Minggu, 14 Mei 2017

Alternatif oleh-oleh khas Jogja : Mamahke Jogja


Tentang Mamahke Jogja


Assalamualaikum ...

7 Mei 2017 lalu, saya dan beberapa teman blogger, vlogger, media dan citizen journalist lainnya mendapatkan undangan untuk test food di sebuah brand kuliner baru Mamahke Jogja. Jika mendengar kata mamahke Jogja, Apa yang ada di benak kalian?

Sepanjang perjalanan dari Magelang menuju Jalan Tamanan Jogja saya berpikir mengapa kata mamahke Jogja menjadi pilihan bagi Hanung Bramantyo dan Zaskia Adya Mecca sebagai brand dari bisnis kulinernya yang berada di kota destinasi wisata ini. Bayangan saya pertama kali brand itu berasal dari kata ‘Mamah ke Jogja’. Namun ketika saya ingat bahwa Zaskia dipanggil Bia oleh anak-anaknya, saya pun mengutak atik lagi. Penasaran dengan filosofi dari brand ini.



Saat berbelok ke Jalan Kadipaten, tiba-tiba lampu pun berkedip di otak saya. Bisa jadi mamahke jika ditulis dengan huruf Jawa, ‘ke’ nya tidak menggunakan sandangan pepet seperti pada kata merak , tapi menggunakan taling, seperti pada kata enak.

Bukankah kata ‘mamah’ itu berasal dari Bahasa Jawa yang artinya dikunyah? Oalah ... Mamahke aka dikunyahin. Oke, terjawab sudah rasa penasaran saya akan arti brand kuliner satu ini. Dan memang itulah yang dimaksud oleh Hanung mengenai filosofi brand kulinernya tersebut.


Ide membuka Mamahke Jogja itu muncul saat Zaskia yang aktif jika ke Jogja jadi mati gaya. Saat di Jakarta Zaskia sibuk dengan kegiatan bisnis dan urusan rumah tangga, ketika sedang berkunjung di Jogja ia bingung jika tak melakukan apapun karena setelah jam sepuluh pagi sudah tak ada kegiatan yang bisa membuatnya sibuk. Lantas ia pun bertanya pada sang mertua yang mempunyai bisnis katering untuk megajarinya membuat sesuatu. Sesuatu ini harus bisa dijadikan lahan bisnis sehingga ketika Zaskia datang ke Jogja, ia bisa produktif seperti biasanya. Sang mama pun mengajarinya membuat kue, namun oleh Zaskia dibuat lebih kekinian.

Ia melihat sahabat-sahabatnya yang sudah lebih dulu terjun di bidang kuliner. Ia pun mencoba konsultasi dengan Irwansyah yang sukses membuat Napoleon Medan, Palembang Lamonde serta Surabaya Snowcake. Lantas mereka pun membuat konsep untuk bisnis kuliner Zaskia.


Jika Zaskia konsentrasi pada produk yang akan diproduksi, maka Hanung lah yang membuat branding Mamahke. Mulai dari membuat logo, memilih nama, sampai pihak-pihak yang diajak kerjasama dalam promo Mamahke. Menurut Hanung, jika hendak berjualan di Jogja, maka janganlah menggunakan pola pikir orang Jakarta. Meski nantinya yang dijual adalah produk modern, namun tetap saja rasanya tetap Jogja banget. Untuk itu logo, tagline, dan soundtrack tetap mencirikan kejogjaannya.

Lokalitas yang dibidik oleh Hanung bukan hanya pada bahan yang digunakan untuk membuat kue seperti gandum atau kacang hijau yang termasuk sebagai salah satu bahan utama, namun yang terpenting adalah wisdomnya, kesederhanaan sebuah produk yang tidak neko-neko.

Mamahke dibuat sebagai produk yang simpel. Seperti bakpia yang bentuknya kecil sehingga bisa dimakan langsung tanpa harus repot menggigit terlalu banyak. Mamahke meski memiliki ukuran yang panjang seperti produk kue sejenis, namun saat dijual sudah dalam kondisi terpotong-potong dalam kemasannya sehingga jika konsumen membeli lantas dijalan ingin mencoba, ia tak perlu repot-repot untuk memotong lagi.


Produk-produk Mamahke Jogja

Mengapa Hanung dan Zaskia memilih kue sebagai bisnis?

Hanung adalah pecinta masakan jawa. Setiap pulang ke Jogja kuliner menjadi salah satu tujuan utama berwisata. Ada soto, brongkos, sate klatak, ayam goreng, serta tak lupa gudeg. Dari sekian kuliner yang ada, Hanung dan Zaskia belum menemukan dssert yang pas untuk mereka. Bakpia pasti menjadi pilihan selain es krim, namun alternatif kue yang manisnya pas di lidah belum mereka temukan. Dan Mamahke hadir menjadi salah satu pilihan dessert ataupun oleh-oleh yang khas Jogja karena disetiap kuenya ada rasa kacang hijau yang menjadi bahan utama.

Bicara mengenai bentuk Mamahke, lapisan paling bawah adalah cake yang dilapisi filling, kemudian puff pastry dengan diolesi filling kembali. Setelah itu cake menutup filling, dan yang paling atas adalah toping. Ada enam varian yang bisa dipilih oleh konsumen yaitu chocolate, Green tea choco, Cheese, red velvet, tiramisu dan choco banana.



Beneran lho, Zaskia ini orang yang sigap dan ogah berpangku tangan. Ia sendiri yang turun membagikan produk Mamahke kepada kami. Tak hanya itu, ia pun tanpa sungkan membagi air minum dan terbuka untuk menerima saran dan kritikan.


Saya mencoba dua jenis yaitu tiramisu dan choco banana. Bagi saya softcake nya lembut, manisnya pas nggak bikin eneg, puff pastry nya crunchy dan gurih. Untuk varian tiramisu menurut saya tambah sedikit lagi supaya rasanya lebih nendang. Sedangkan varian choco banana bagi saya rasanya juara. Saya pernah makan produk lain dengan varian choco banana, tapi rasanya tak senendang Mamahke punya. Rasa pisangnya terasa lumer di mulut, dan coklatnya ... nyoklat banget. Produk ini aman di suhu ruang tiga sampai empat hari, sementara jika diletakkan dalam chiller bisa lima sampai tujuh hari.

Jadi gimana? Pengen nggak? Kalau pengen dapetin Mamahke datang aja ke gerainya mulai tanggal 19 Mei 2017 di Jl. Tamanan KT 1/329 Jogjakarta, sekitar seratus meter dari pintu masuk Taman Sari. Mamahke buka mulai jam 07.00 – 22.00. Siap-siap aja untuk ngedapetin privilege. Kira-kira mau nolak engga kalau diajakin dinner bareng keluarga Hanung Bramantyo jika beruntung termasuk sebagai sepuluh pembeli pertama?

Jogja adalah kota pariwisata. Tanpa menunggu liburan, sudah bisa dipastikan Jogja selalu penuh oleh orang-orang yang ingin berkunjung merasakan atmosfir kota Jogja. Mereka tentu saja tak hanya ingin mengunjungi tempat-tempat tertentu. Kuliner khas pun akan selalu diburu. Buah tangan pastinya selalu dicari. Dan Mamahke punya kesempatan untuk mencuri celah dibalik produk kekinian yang sekarang sedang ngehits. 

11 komentar:

  1. Pengeeeen... nitip swami ah yang lagi di Jogja

    BalasHapus
  2. Bisa online nggak sih mak? Ngiler

    BalasHapus
  3. Wah pada bilang varian banana chohonya enak, jadi penasaran

    BalasHapus
  4. Berbelok ke kadipaten, monggo mampir rumah saya buat ke Mamahke bareng mak hihihi....
    Pisang coklat always jadi favorit yaaa ������

    BalasHapus
  5. Mau nyoba ah, seneng tambah banyak pilihan oleh2 dr Jogja

    BalasHapus
  6. Ini sama kayak Bandung Makuta juga ngga sih, Mba. Aku pengin deh nyicipin semoga pas ke Jogja bisa nyobain si Mamahke ini

    BalasHapus
  7. Sekarang banyak artis merambah dunia kulineran ya mba..
    Btw, penasaran sm kue2 nya. Btw...mmng cuma kue ya mb..maksudnya nggak plus cemil2 lain?

    BalasHapus
  8. Aku lnagsung catet alamatnya, mupeng ngincipi abis baca ulasanmu mba

    BalasHapus
  9. wah baru tahu soal mamahke Jogja. Pengen tahu kelezatannya hmmm

    BalasHapus
  10. Di Bogor kuenya Shireen apa ya, antrenya reeek..lelaah..

    BalasHapus
  11. Waah, tahu gitu kemarin nitip ya mbak :D :D

    BalasHapus

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih