Selasa, 22 November 2016

Memantaskan diri di #UsiaCantik

“Kenapa sih Bunda suka banget kalau dibilang orang kelihatan muda?” tanya Kakak tempo hari ketika kami akan hang out berdua.
“Iyalah, namanya perempuan juga selalu seneng dibilang awet muda,” jawab saya sambil berdandan di depan kaca.
 “Nggak terima kalau kenyataannya udah punya uban?”

Aduh ... sulung saya ini kalau bicara suka nusuk banget. Buat saya mungkin memang karakternya yang straight to the point  menjadi penyeimbang dari si Adek yang pintar bikin saya meleleh karena pilihan kata-katanya yang manis.

Percakapan yang cukup membuat saya sejenak berhenti dari memoles bedak di wajah. Membuat saya pun berkaca dan mengamini kata-kata Kakak bahwa uban mulai terlihat di sela-sela mahkota saya.
Bagi sebagian orang, angka 40 yang tersemat dalam usia menjadikan mereka menganggap bahwa bukan lagi masanya untuk mengejar hal-hal yang bersifat duniawi. Tak lagi mengejar apa yang menjadi keinginan. Menep, kalau istilah orang jawa. Nah, ternyata, saya pun mengalami hal yang sama saat usia saya berada di akhir kepala tiga.



Tahun ini, ketika usia saya memasuki kepala empat, ucapan ulang tahun dari suami saya adalah,”Welcome to the club, ya Nda. Life begins at forty.”
Saya hanya tersenyum waktu itu.  Karena bagi saya, perubahan terbesar adalah ketika saya menginjak usia 39. Pertengahan usia cantik dimana sering kali perempuan merasa kepedeannya menurun drastis karena banyaknya perubahan pada fisik dan segala penampilan. Ketika kerut mulai muncul. Saat lemak mudah sekali singgah dan sulit untuk pergi. Dan lagu Kun Anta menjadi lagu favorit untuk menghibur diri karena penampilan fisik jauh dari idaman.

Membangun mimpi
Saya memasuki #UsiaCantik sudah lima tahun yang lalu, saat saya memilih untuk bekerja sesuai passion. Ketika buku membuat saya jatuh cinta. Meski kecintaan saya pada membaca telah terbangun sejak masa kanak-kanak.

Sebelumnya saya sempat mempunyai sebuah toko buku kecil. Itu usaha pertama saya namun dua tahun kemudian saya tutup berbarengan dengan meletusnya Gunung Merapi dan saya keguguran. Meski toko saya tutup, sudah banyak orang dan beberapa relasi mengetahui saya adalah agen buku beberapa penerbit sehingga jika ada yang membutuhkan buku tinggal menelpon saya. 


Selang beberapa tahun, saya membuka usaha laundry berpartner dengan seorang sahabat. Lagi-lagi usaha saya hanya berjalan dua tahun. Kalau yang satu ini menjadikan saya banyak pelajaran bahwa membangun usaha apapun setidaknya kita menyukai apa yang kita lakukan. Iya sih, ironis banget. Pekerjaan rumah yang paling tak saya suka adalah menyetrika. Mau tak mau, saat karyawan nggak dateng saya harus menyetrika. Laundry saya tutup karena karyawan keluar dan saya sudah capek banget menyetrika berpuluh-puluh kilo sendirian.

Sebenarnya, saat saya membuka laundry, berbarengan dengan keinginan saya untuk membangun kehidupan saya dari kecintaan saya pada dunia kepenulisan. Dimulai dari saya mengikuti training menulis lantas mencoba mengikuti berbagai macam audisi antologi. Ternyata menjalani proses bukan sesuatu yang mudah juga. Membutuhkan kesabaran berlebih untuk mencapai keinginan. Setelah sekian lama belajar akhirnya di tahun 2013 pertama kali  buku antologi saya keluar, disusul oleh dua antologi berikutnya di tahun yang sama. Saat saya menutup usaha laundry saya pun makin fokus untuk belajar menulis. Mengikuti berbagai komunitas menulis, mengikuti training menulis baik yang berbayar atau tidak, sampai mengikuti lomba menulis meski nihil hasilnya.

Saya makin bersemangat menulis naskah ketika tahun 2014 bertemu seorang penulis yang membimbing saya mengejar mimpi. Mimpi terbesar saya adalah mempunyai buku solo. Dua tahun mencoba konsisten menulis. Hasilnya 2 novel solo terbit serta satu buku keroyokan dengan teman-teman komunitas terbit di penerbit-penerbit mayor. 



Setelah itu menyelesaikan 3 naskah fiksi, dua non fiksi, dam satu lagi naskah non fiksi agama yang saya kerjakan bersama teman satu tim. Keyakinan saya, ketika saya banyak menanam, Insya Allah akan segera menuai hasil.

Upgrade kualitas diri
Setiap perempuan harus selalu upgrade dengan kemampuan yang dimiliki untuk meningkatkan kualitas diri. Begitu juga dengan saya. Saya ingin belajar ngeblog. Untuk ukuran blogger, mungkin saya termasuk terlambat memasuki dunia yang dinamis dan kekinian. Saya belajar ngeblog ketika usia mulai meninggalkan angka 39. Meski saya sudah memiliki blog dengan top level domain lebih dari dua tahun, saya membiarkan rumah maya saya lumutan karena sangat lama tak saya isi.

Setahun ini saya berusaha rutin menulis di blog saya. Awalnya saya merasa kesulitan. Saya yang biasanya menulis fiksi harus belajar menulis artikel. Kadang ide datang dari rumah, meski banyak juga yang harus dipancing dengan mengikuti berbagai macam event. Meski terkendala dengan jarak jika ada event karena saya tinggal di sebuah kota kecil. Serta keterbatasan waktu harus menemani anak-anak karena saya pejuang LDR. Saya tetap berusaha setidaknya dalam satu bulan minimal sekali saya mengikuti sebuah event di Jogja.


Lebih berpikir tentang-Nya
Ternyata, saat mengalami perpindahan angka di kepala usia saya prioritas dalam diri saya banyak yang berubah. Di luar prioritas saya yang utama untuk keluarga, ada hal-hal yang bergeser dari mindset saya. Saya ingin lebih mendekat pada Yang Maha Esa. Saya ingin beragama secara kaffah. Keinginan untuk memperkaya rohani juga semakin menguat sehingga mulai mengikuti dua kajian dalam seminggu. Hal itu membuat saya jauh lebih tenang dari tahun-tahun sebelumnya. Ada dorongan untuk mempersiapkan kehidupan setelah di dunia. Untuk menggapai kebahagiaan yang abadi. Menjadi Kekasih-Nya. Serta bermanfaat untuk orang lain.

Yang Maha Baik mengabulkan permintaan saya supaya bisa bermanfaat untuk orang lain saat bergabung di sebuah komunitas menulis. Saya menjadi pengajar tetap di sebuah kelas menulis. Bertemu dengan remaja yang punya passion sama ternyata mampu mengguggah semangat untuk berbagi.  Apalagi kemudian beberapa kali diundang sebagai narasumber. Hal ini semoga saja mampu menjaga saya untuk selalu istiqamah dalam niat dan usaha saya.



Bagi saya, #UsiaCantik adalah saat dimana saya berusaha memantaskan diri menjadi teladan bagi anak-anak. Tak hanya role model untuk pembentukan karakter dan akhlak mulia yang mereka butuhkan. Namun juga kematangan dalam berpikir dan bertindak.


Apapun yang Allah berikan adalah anugerah. Anugerah yang berupa kebahagiaan maupun kesedihan. Mereka, anak-anak saya harus memahami bahwa setiap anugerah yang telah Allah berikan harus disyukuri dan dinikmati.

Kerut di wajah serta lemak yang sungkan pergi di tubuh saya pun merupakan anugerah lho. Setidaknya dengan datangnya tanda-tanda tersebut membuat saya untuk lebih mencintai anugerah Allah ini. Seorang teman merekomendasikan saya pada sebuah produk dari L’Oreal Paris Skin Expert untuk menjaga anugerah ini.
sumber: www.weareworthit.lorealparis.co.my

Revitalift Dermalift yang mengandung tanaman Centella Asiatica, Pro-Retinol A dan Dermalift Technology mampu membantu mengurangi 27% kerutan di wajah. Selain itu sebanyak 35% produk tersebut efektif untuk meningkatkan kekencangan kulit di delapan zona utama wajah yaitu dahi, diantara alis, kontur mata, kerutan di ujung luar mata, pipi, garis senyum rahang dan juga leher.
Sepertinya sudah saatnya saya merawat wajah di #UsiaCantik supaya lebih sering lagi menebar senyum tanpa takut terlihat kerut merut di wajah. Bukankah senyum adalah shadaqah yang paling ringan?

Well, hidup ini bukan hanya berisi kesenangan dan kegembiraan semata. Di sana ada perjuangan dan air mata. Supaya kita mampu merasakan makna kesabaran dan keikhlasan. Serta Maha Besar dan Maha Rahman Rahim-Nya.

“Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L’Oreal Revitalift Dermalift.”

 



28 komentar:

  1. Uwo...keren dan Masya Allah cantik mbak yang satu ini. Pantes aja Amya suka jeles πŸ˜€
    Tetep nulis ya, jangan mandeg kayak saya. (Ealah, saya juga nulis kok, ndosen yo gawene nulis to yo πŸ˜›πŸ˜€)
    Sukses untuk karya2mu, Mbak.

    Btw, Usia Mbak Irfa hanya terpaut sedikit dgn sayah πŸ˜€*buka kartu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi mb Nunung usianya berapa?

      Hapus
    2. Aamiin mbak Nunung, sama kayak mb Tin, sekarang usianya berapa sih? 20 yak? :D

      Hapus
  2. Wow...cantikmu memang terpancar dan lebih menonjol saat dirimu cerita tentang tulisan ataupun berbaur dengan komunitasmu mbak.Ceritamu tentang usia cantikmu jadi membuat diriku bercermin dan ternyata aku merasa semakin cantik aja di usia kepala 4 ini. He he. Ternyata pakai perawatan L'Oreal to? Banyak teman merekomendasikan juga produk ini utk diriku he he he..sepertinya bisa dicoba nih. Artikelmu bagus mbak,tdk kalah dengn bahasa novelmu. He he . Moga menang yaa! Salam sukses dan sayang selalu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, sayang balik untukmu :)

      Hapus
  3. Nice sharing, mb Irfa! Yoi, keep going on your forty! Teruslah berkarya yaa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, begitu juga dirimu dengan terus menjaga Gunung Merapi :D

      Hapus
  4. Alhamdulillah ya mbak... Makin bersinar di usia cantik.. Semoga sukses selalu ya mba...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, bersinar sampai silau yang ngeliat ya mbak Tanti hahaha :D

      Hapus
  5. Setelah mencoba usaha sana sini akhirnya ketemu juga kalau lebih suka menulis daripada menyetrika ya. Semoga makin sukses, mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Saya sudah menyerahkan tongkat estafet untuk urusan setrika mbak :D

      Hapus
  6. Hahhaa.. aku juga suka dibilang lebih muda dari umurnya, Mbak. Rasanya nyesek gt kalo dibilang ga sesuai. Tapi lebih dari itu, sebaiknya memang lebih upgrade diri agar inner beauty-nya lebih terpancar.
    Menyenangkan buat orang lain tak melulu soal kecantikan. Tapi tetep aja suka dibilang cantik sih. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sering dibilang kayak kakak adik kalau lagi jalan sama si Kakak, komen Kakak,"Itu Bunda yang keliatan muda atau aku yang kelihatan tua?"
      Si Kakak suka sebel kalau ada yang komen gitu :D

      Hapus
  7. Mbak cantikkkk..aku ...padamuuuuh.
    Titip setrikaanku jg ya mbak...eh #dibalanggalon

    BalasHapus
    Balasan
    1. *Mbalangsetrika,galonkosongenteng :D

      Hapus
  8. Salut banget baca kisahnya. Makin cantik dan sukses ya mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, terima kasih doanya ya mbaa

      Hapus
  9. Barakallah Mba Irfa.. So inspiring 😍😍

    Saya lg baca Aisyah-nya lho, pinjam dr Mba Wati. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa pinjam Cerish You di mb Wati juga kayaknya :D

      Hapus
  10. Aku suka bacanya mengalir tenang dan menenangkan. Sukses dan semangat terus mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, saya semangat terus mbak, ditularin semangatnya sama temen jalan saya yang umurnya belum genap 13 tahun ini :D

      Hapus
  11. Barakallah mb irfa..
    Semoga makin produktif, bermanfaat dan menjadi teladan buat banyak orang yaa mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasi doanya ya mbaa

      Hapus
  12. Dengan makin mendekat pada Alloh, kecantikan dari dalam akan makin terpancar di usia cantik ini ya mbak 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe ... Semoga tetap istiqomah sayanya. Terima kasih sudah berkunjung

      Hapus
  13. Aiyaaa, memantaskan diri untuk menjadi teladan anak-anak. UHuk jadi malu saya. Keren banget Mbak. Ibu adalah sosok yang menjadi teladan untuk anak-anaknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan malu-malu mbak, sayanya aja masih suka malu-maluin :D

      Hapus
  14. Takjub banget sama mbak Irfa yang cantik ini dan penuh prestasi. Kapan ya kita bisa kopdar. Salam hangat untukmu selalu ya mbak ^_^

    BalasHapus

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih