Selasa, 14 November 2017

Mengajak Anak Bermain Media Sosial Secara Sehat



Assalamualaikum Temans,

Terkadang kita sebagai orang tua sudah membatasi anak untuk tak terlalu bersentuhan dengan jagat maya. Apalagi untuk anak-anak yang masih berusia dibawah 13 tahun. Namun apa mau dikata, anak malah sering lebih pintar atau lebih update dibanding orang tuanya. Contohnya aja saya. Punya akun instagram tuh setelah Kakak lebih dahulu menggunakannya. Mau tak mau saya pun ikutan menggunakan akun instagram untuk mengontrol apapun yang diunggah oleh Kakak.


Saya termasuk ibu yang cerewet dalam mengontrol media sosial anak. Kalau kata si Kakak saya kepo maksimal. Hobi banget ngepo akun siapa yang mengikuti dan diikuti oleh Kakak. Stalking pertemanan Kakak di facebook meski sekarang jarang banget dibuka. Saya lihat seluruh unggahannya. Jika saya rasa mengkhawatirkan saya pun meminta Kakak untuk tak lagi mengikuti ataupun berteman. Sejauh ini sih Kakak lumayan kooperatif. Sekarang nggak terlalu mengkhawatirkan. Jauh jika dibandingkan beberapa tahun lalu, yang membuat saya protektif sekali terhadap Kakak.

Baca juga : Ketika Anak Terpapar Pornografi


Apa saja sih yang sering saya cerewetin sama anak mengenai media sosial?

1. Foto yang diunggah
Jika hendak mengunggah foto wefie maupun selfie saya perbolehkan dengan batasan tertentu. Tentang pakaian, ekspresi, maupun background harus sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Biarin aja deh dibilang jaim. Saya katakan pada Kakak jika apa yang kita tampilkan di media sosial menjadi persona bagi kita. Branding itu yang akan melekat di masyarakat. Seperti itulah masyarakat akan memandang kita.

2. Caption
Sama seperti foto yang diunggah. Caption yang dituliskan pun jangan sampai menyinggung orang lain. Jangankan mengumpat, curhat di media pun jangan sampai dilakukan. Sebuah larangan keras untuk mengumbar aib siapapun di media sosial.

3. Pertemanan maupun siapa yang diikuti
Untuk akun anak saya memang menyarankan untuk diprivat saja. Hanya yang berada dalam lingkaran pertemanan saja yang bisa melihat unggahannya. Pertemanan dan siapa yang diikuti pun menjadi pertimbangan. Berteman atau mengikuti orang-orang yang dikenal saja. Atau jika tak kenal maka orang-orang yang memberikan pengaruh baik atau tokoh inspiratif yang boleh ia undang dalam pertemanan atau diikuti. Boleh banget kalau mau mengikuti teman-teman emaknya yang expert dalam bidangnya. Setidaknya bisa memberikan gambaran baginya jika ia mengembangkan passionnya.

4. Membatasi waktu anak menggunakan sosial media.
Hari-hari sekolah saya melarang anak menggunakan gadget. Jika hanya ngintip sebentar saya perbolehkan namun menggunakan gadget saya. Saya memperbolehkan anak menggunakan internet bergantian di hari Sabtu dan Ahad. Itupun saya batasi. Bagi Kakak yang mempunyai ponsel, saya memang tak mengisikan paket data secara reguler. Jika saat-saat penting saja saya mengisikan paket data untuk anak. Jika mereka membutuhkan bisa tethering dari gadget saya. 

Saya juga mengajukan syarat bagi anak jika hendak browsing ataupun menggunakan aplikasi yang lain di dunia maya seperti youtube, webtoon, ataupun wattpad. Untuk penggunaan internet harus menggunakan laptop yang berada di ruang keluarga dan menggunakan internet ketika saya berada di rumah. Jika ingin membaca wattpad atau webtoon, saya harus tahu apa yang ia baca. Jika saya rasa nyerempet ke hal-hal yang bikin 'horor' saya sarankan untuk mencari yang lain saja. 

Saran dan larangan takkan berhasil tanpa adanya kesadaran untuk menggunakan internet dengan sehat. Memberikan kesadaran pada anak menjadi PR bagi orang tua. Orang tua adalah tauladan bagi anak. Ketika orang tua menggunakan internet secara sehat, anak pun akan mengikuti apa yang dilakukan oleh orang tuanya.

Kalau Mbak Dedew, si emaknya AKD dan Mbak Ningrum gimana? Rempong kayak saya juga nggak ya?

5 komentar:

  1. Memang perlu mak pengawasan & kontrol dari orangtua. Cerewet dikit gak pa2 kan demi kebaikan anak juga ;)

    BalasHapus
  2. Wah penting nih di catat, buat bekal kalau nanti anak-anak dah beranjak remaja.
    Makasih sharingnya mbak

    BalasHapus
  3. Buat anak bisa instal aplikasi kakatu mbak bisa proteksi dari konten dewasa

    BalasHapus
  4. Makasih tipsnya mbaak, iya kudu ekstra ketat ni ngawasin bocah medsosan..

    BalasHapus

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih