Celoteh di Hari Guru - Jurnal Hati

Rabu, 29 November 2017

Celoteh di Hari Guru


Saat saya berada di awal perkuliahan Ibuk alm pernah bercerita tentang harapan beliau terhadap saya dan adik-adik. Ibuk ingin salah satu dari kami ada yang mengikuti jejak Bapak sebagai guru.

“Kenapa Buk?” tanya saya waktu itu.
“Profesi guru itu profesi yang paling ramah untuk perempuan. Jam kerjanya nggak sampai sore. Siang sudah di rumah, jadi bisa mendampingi anak-anak. Kalau murid-murid libur, guru juga ikutan. Bisa dapat tambahan pendapatan dengan memberi les. Yang penting sesuai dengan fitrah perempuan, yaitu mendidik anak-anak.”

Namun yang namanya remaja saat itu profesi guru bukanlah menjadi sebuah pilihan. Kurang menantang, nggak dinamis. Pendapatan juga segitu-gitu aja. Makanya untuk perkuliahan di jaman saya remaja, teknik dan kedokteran menjadi jurusan yang wow. Sementara managemen, psikologi dan Bahasa Jepang menjadi jurusan favorit untuk anak-anak IPS.

Saya kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi. Dik Nisa, adik saya persis kuliah di Teknik Arsitektur, sementara Dik Rahma, adik bungsu saya kuliah di jurusan Kimia Terapan. Jauh sudah dari harapan Ibuk untuk memiliki penerus seorang guru di keluarga kami.

Seiring waktu berjalan, ternyata kami bertiga mengamini pendapat Ibuk. Kami bertiga pernah bekerja di luar rumah yang mengharuskan jam 08.00 – 17.00 berada di kantor. Belum lagi Dik Nisa yang bekerja di konsultan bisa saja waktu 24 jam masih kurang untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sebuah renungan kecil ketika kami belum mempunyai anak. Kok kayaknya nggak punya banyak waktu untuk anak-anak kami nanti ya?

Dunia tulis menulis mengantarkan saya untuk mengenal dunia mengajar. Mengajar ekstra kurikuler di sebuah SMPIT di Jogja menjadi awal bagi saya sebagai seorang guru. Saya yang bukan tipe public speaker dipaksa untuk menerangkan hal-hal yang lebih banyak saya sampaikan lewat tulisan. Biasa berkarya di jalan sunyi kemudian harus banyak berbicara di depan audiens tentunya ada kesulitan tersendiri. Namun semakin hari saya semakin menikmati. Interaksi antara seorang guru dan seorang murid ternyata menyenangkan juga.

Menjadi seorang guru harus mempunyai kesabaran yang luar biasa. Bagaimana seorang guru bisa tenang menghadapi murid yang berulah atau kelas yang serupa pasar. Bagaimana kesabaran seorang guru diuji saat menghadapi anak yang bermasalah.

Guru serupa orang tua. Ia harus menahan ucapan ketika emosi mulai menaik. Supaya ucapan itu tak menyakiti murid-murid lantas menjadi label bagi si murid itu sendiri. Guru selalu berusaha mengucapkan hal-hal baik supaya menjadi doa bagi murid-muridnya. Ucapan guru biasanya seperti titah raja bagi murid-murid yang mencintainya. Sering kali ucapan gurunyalah yang selalu dituruti seorang anak dibanding ucapan orang tuanya.

Saya jadi memaklumi mengapa sikap murid-murid Bapak sering main ke rumah. Saya lantas memahami mengapa murid-murid Bapak bisa begitu akrab, bahkan kadang cenderung kurang sopan. Karena Bapak guru yang santai. Berbicara dengan murid seperti dengan seorang teman. Dan saya tahu, dari mana asal kesabaran Bapak saat menghadapi masalah.


Ini celoteh saya dalam rangka memperingati Hari Guru tanggal 25 November kemarin. Bagaimana dengan Mba Relita dan Mbak Yuli Arinta?

4 komentar:

  1. Sama mb, dulu saya ndak pengen jadi guru dan ambil ilmu murni. Dan skrg tnyt ucapan ibu benar, jd guru waktu bisa lebih fleksibel utk mengurus klg, dan sy pengen jadi guru :(

    BalasHapus
  2. Semoga makin banyak guru yg bisa menjadi sahabat murid-muridnya sehingga makin memacu semangat mereka untuk menimba ilmu y mbak..

    BalasHapus
  3. Aih, guru idaman nih. Ngajari anak sendiri aja butuh kesabaran apalagi ngajari anak orang ya.apalagi kalau mereka anak2 gede. Hiyaa..
    Salam hormat buat semua guru :)

    BalasHapus
  4. Betul banget jadi guru harus serius tapi santai dan sabar jembar atine 😊

    BalasHapus

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih