Selasa, 31 Januari 2017

Nge-Grup, Manfaat atau Madharat?

sumber: www.pixelpro.com.co

Saya yakin saat ini hampir semua pengguna ponsel melakukan grouping di media sosial. Di awali dari grup di facebook, kemudian BBM,  sampai media sosial yang sekarang ini paling banyak dipakai pengguna ponsel  berbasis android yaitu whatsapp. Teman saya bahkan sampai punya 40 grup di whatsapp.  Belum lagi grup di telegram yang bisa memuat sampai 5000 kontak dalam grup. Bisa ngebayangin peningnya kalau ponsel nggak di mute mode.




Kalau saya sih, nggak begitu banyak nge-grup di whatsapp. Ada beberapa grup organisasi baik keagamaan, kepenulisan maupun sosial. Beberapa komunitas menulis baik komunitas penulis buku maupun blogger pun ada dalam aplikasi whatsapp saya. Kemudian ada juga grup kerjaan, grup keluarga, dan yang terbanyak sepertinya grup alumni. Saya hitung ada sekitar 24 grup. Nggak semua grup aktif sih. Namun ada juga grup yang aktifnya kayak ngeronda.  Bayangkan, begitu grup dibuat, 3 hari berturut-turut setiap pagi saya ngecek sekitar 2000 chat yang masuk dari grup itu hanya dalam hitungan jam. Lama-lama ponsel sering hang dan boros banget batere nya.  Padahal kerjaan saya banyak yang make ponsel juga.  Tahu sendiri kan buzzer militan ini mantengin notif kerjaan di grup? Meleng sebentar, kuota habis deh. Kesel banget kan, kalau tawaran kerjaan kelewat gara-gara ponsel di charge atau malah mati?

sumber: www.ariesadhar.com

Ada juga grup yang bikin emosi jiwa. Yang diposting di situ isinya hoax semua. Kalau bukan hoax ya hal-hal yang nggak ada kaitannya dengan grup tersebut. Misalnya politik. Saya memang cenderung apatis terhadap apa-apa yang berkaitan dengan politik. Informasi politik bagi saya sudah menjadi bagian dari industri media, apalagi media online. Ada yang menganggap bahwa informasi politik menjadi bagian dari pembelajaran berpolitik. Namun menurut saya tidak. Kita yang sedikit banyak memahami bagaimana pergerakan industri media digital akan berpuluh kali berpikir untuk membagi tautan. Bisa jadi yang kita share bukanlah satu kebenaran. Itu hanyalah tulisan pesanan. Tahu sendiri, penulis konten web sekarang ini bagaikan jamur di musim hujan.  Dan banyak juga kan, penulis konten yang mengesampingkan validitas sebuah data?

Selain grup per-hoax-an, yang sering bikin emosi naik berlipat-lipat adalah jika ada member grup yang ngomongnya nggak aturan. Kalau ini sih, biasanya kaum adam yang ngobrol di grup dengan pilihan kata yang kurang nyaman dibaca oleh kaum hawa. Ada lagi nih, yang sering bikin eneg kalau lihat postingan meme yang menjijikkan atau foto kekerasan. Apalagi gambar atau video yang menjurus ke pornografi. Saya cermati sih, biasanya itu member grup-grup alumni yang hobi posting gambar atau video yang menurut saya tak pantas untuk dilihat maupun dibagikan. Kesel sebenarnya, tapi gimana ya? Ponsel memang barang pribadi yang harus terjaga privacy-nya. Namun ponsel saya kan sering dipakai krucil juga. Untuk hiburan mereka kadang lihat-lihat foto. Kalau pas bisa bersih-bersih foto di galeri ponsel sih aman, lha kalau pas yang megang si krucil?

Sebenarnya sih, asyik juga buat saya dengan adanya grup. Kadang informasi datang lebih cepat dari grup dibanding dengan media lainnya. Ada beberapa grup yang buat saya mirip seperti yellow pages dan bank data. Bahkan sekedar ngecek informasi hoax atau tidak pun ada dalam grup tersebut.  Grup ini isinya momih syantik semua. Apapun bisa ditanyakan. Misalnya tentang kesehatan. Ada anggota grup yang mumpuni, dan welkam banget saat ditanyain di situ. Penjelasan panjang dan detil, sehingga informasi yang dibutuhkan tercukupi. Bahasan parenting pun sering banget diobrolin di situ. Jika mau nyari barang yang dibutuhkan sekitaran Jogja, lempar aja pertanyaan di grup tersebut. Nggak pake lama, alternatif informasi yang dibutuhkan akan cepat muncul. Atau ada yang disorientasi lokasi? Meski ada GPS, namun petunjuk arah dari grup ini kadang lebih valid.

Saya merasa adem saat berada dalam grup kajian Tafhimul Quran. Kebetulan, saya satu-satunya emak-emak yang berada dalam grup tersebut. Lainnya bapak-bapak sepuh hahaha ... Grup ini menjadi pengingat saya kalau lagi baperan. Namanya grup kajian sih ya, isinya kan memang hal-hal yang ada kaitannya dengan ibadah dan fikih. Grup ini layaknya sebuah alarm. Setidaknya otak saya yang berdebu bisa lebih bersih dan kinclong dari pikiran-pikiran kotor yang menyapa.

Ada juga grup khusus pemantik tawa. Nah, kalau ini memang hanya berisi teman-teman yang dekat, yang sudah sangat paham pribadi masing-masing. Untuk grup sejenis itu member nya tidak banyak, dan biasanya telah menyepakati  aturan-aturan tak tertulis. Biasanya grup yang begini sudah nggak pake pencitraan. Apa adanya. Dan saya lebih nyaman berada dalam grup yang isinya perempuan semua.
Sebaiknya bagaimana sih, jika kita berada dalam sebuah grup?

Kalau versi saya nih :
  1. Hindari membagi tautan yang kita sendiri belum tahu benar kebenarannya. Pikirkan baik-baik jika kita hendak membagi tautan ke sebuah grup. Apakah bermanfaat untuk member grup, ataukah malah membuat orang lain tak nyaman? Kadang kala, semangat kita untuk berbagi tidak dibarengi dengan semangat berempati pada anggota grup sendiri. Kalau perlu bertabayyun (klarifikasi) terlebih dahulu akan jauh lebih baik.
  2. Berpikir dua kali untuk mengunggah foto atau meme. Jangan sampai foto atau meme yang kita unggah dianggap melecehkan meski niatan kita hanya sekedar bercanda. Jangan sekali-kali mengunggah foto, video, atau meme yang berbau pornografi dan kekerasan. Selain untuk menjaga martabat kita dari pandangan negatif teman, sebenarnya tak ada manfaatnya SAMA SEKALI jika kita mengunggah pornografi atau kekerasan. Apa sih yang diharapkan jika mengunggah hal-hal seperti itu? Bukannya itu hanya sekedar cari perhatian supaya dikomentari member grup yang lain?
  3. Bercanda dalam grup tak ada yang melarang. Namun jika grup itu tak hanya berjenis kelamin yang sama dengan kita, ada baiknya tetap menjaga kesopanan. Selalu ada etika saat kita berbicara maupun bercanda. Jangan sampai orang lain keluar dari grup karena risih atau eneg dengan candaan atau obrolan kita. Mengembangkan sikap simpati dan empati menjadi hal yang penting saat kita bersosialisasi, termasuk di dalam sebuah grup.
  4. Membatasi waktu. Biasanya, jika grup baru dibentuk, apalagi grup alumni ramenya bukan main. Obrolan nggak berbatas waktu, sampai lupa memikirkan anggota lain yang terganggu dengan obrolan tersebut. 
  5. Jika ingin meninggalkan grup, ada baiknya berpamitan. Ini termasuk bagian dari beretika dalam bermedia sosial.
Manfaat dan madharat nge-grup itu kita sendiri yang bisa merasakan. Kalau saya, jika grup itu memberikan rasa aman, membuat kita menjadi lebih baik daripada sebelumnya, dan bisa saling menjaga tali silaturahmi tentunya akan memberikan banyak manfaat. Apalagi jika grup yang isinya bagi-bagi kerjaan. Wuiiii ... Saya akan betah di situ deh. Namun jika sebuah grup hanya bikin emosi jiwa dan lebih banyak hal buruk yang kita dapatkan, untuk apa dipertahankan?

21 komentar:

  1. Saya membatasi grup di WA mba. Hape pingsan. Belum lagi grup lainnya. Sejauh ini saya ikut grup yang sesuai dengan minat. biar nggak emosi jiwa ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe ... Iyaaa mbak, kemarin hape sudah wafat karena kebanyakan aplikasi dan grup, ketika punya hape lagi bisa untuk menyortir grup ternyata. makasih udah berkunjung ya mbaa

      Hapus
  2. Saya cuman masuk grup alumni kuliah saya mbak, itupun saya yg bikin grup tsb. Grup lainnya saya pelan2 pamit out. Ganggu dan gak jelas pembahasannya. Bener tuh kdg ada yg share artikel gak jelas sumbernya. Kyak gtu kadang malah jd media menyebarkan berita hoax dan isu-isu negatif. Jadi kita memang harus lebih selektif milih grup yg kita ikuti :)

    BalasHapus
  3. Yang aku pertahankan cuma group keluarga, ortu murid & ibu2 RT. Group blogger cuma Jogja aja. Lainnya cuma kalau ada job atau project. Begitu job selesai, langsung pamitan baik2 & saya pesan kalau ada job lagi silakan invite kembali. Selama ini okey saja. Saya nggak punya banyak waktu utk becandaan, apalagi cuma basa basi tanya kabar tiap pagi heheeee...

    BalasHapus
  4. Aku termasuk yg pilih2 bgt utk gabung ama grub.. Pokoknya kalo di grub itu isinya cm hoax aja, aku lgs kluar sih mba. Kmrn itu aku kluar dr grub temen smu, ya krn isinya nyebar link fitnah semua.. Males bacanya..

    Trs aku kluar jg tuh dr grub kluarga.. Aku blak2an aja bilang aku g suka baca isi grub yg hanya ribut soal politik. Bye! :p

    Skr grub yg hny mau aku ikutin cm 2 di wa, dan 1 di fb :D. Aman... Tenang.. Isinya jg bikin adem.

    BalasHapus
  5. klo aku enggan untuk gabung group2 begitu.. hp bunyi terus klo gabung group2 gitu....

    BalasHapus
  6. aku cuma ikut grup yg kasih info penting2 dan bnyk org sibuk/pendiam..masih damailah bagi baterai..

    BalasHapus
  7. aku kalo akunya ga ngaman aku juga keluar group mba.

    BalasHapus
  8. Grupku insyaAllah bermanfaat semua mba, hehe 2grup belajar, 2grup jalan2 😂

    BalasHapus
  9. Saya cuma masuk grup wa gandjel rel iidn semarang aja heuheu ama bbm grup rt, soalnya ntar hp kolaps jika semua diikutin, ama boros paket internet heuheu, jadi gak ikutan alumni smu, atau kuliah, grup pengajian rw juga karena sudah ada undangan disebar dan gak ikut grup rw 😁

    BalasHapus
  10. aku pernah keluar dt grup alumni sekolah gegara gak nyaman, malah dimasukin lagi. mau keluar dari grup PKK gak enak...padahal aku gak ditanya mau masuk apa enggak

    BalasHapus
  11. Aih aku ni yang kecanduan ngobrol di grup WA hihi, sekarang dibatasi grup yang benar2 perlu aja, bahaya hihi

    BalasHapus
  12. Aku hampir semua grup di mute mba. Yg enggak cuma grup temen deket aka geng hehe. Alhamdulillah ga terlalu nyepam sih, paling kalo ada event tertentu jadi banyak promosi. Maklum anak kuliahan

    BalasHapus
  13. Jadi ingat grup alumni SMA yang sering bikin baler gegara sering pada share yang ga jelas, guyonan yang saru gitu.. Rasane pengen left. Tapi berhubung aku yang buat grup itu, jadinya ga left tapi jarang banget buka grup.

    Setuju banget, kalau ga manfaat mending left

    BalasHapus
  14. Dulu pas lagi baru ngehitsnya telegram aku langsung instal dan masuk grup komunutas blogger. Saking banyaknya anggota, yaitu tadi hapeku langsung koleps mbak. Sekarang tak hapus. Kalau saat ini ada sih 3 grup. Salah satunya grup keluarga. Nah ini sering banget yg BC berita yg masih diragukan kebenarannha. Sudah ku kasih tahu jgn asal share e dia nya susah dibilangin. Ya sudah di mute aja nih hape.

    BalasHapus
  15. Grups whatssapp ku hanya 10 biji Mba', kalo anggotanya banyak laki yg nggak ku kenal langsung izin left, risih soalnya.. :)
    Nice sharing Mba'.. :)

    BalasHapus
  16. Tfs ya mb hendaknya berpamitan klo mo left y

    BalasHapus
  17. Noted Mba Irfa. Aku termasuk yg membatasi grup WA, cr yg bener2 akan lebih bnyk manfaat ketimbang mudharatnya, apalagi klo di grup itu aku cuma silent reader dan kdg grundel ngebatin krn postingan yg ga sesuai. Biasanya aku tipe yg menegur, gatel soalnya klo ada yg hobi ngabisin kuota biat sebar hoax dan yg aromanya menebar kebencian. Klo ditegur ga mempan, mending left. Hal yg negatif itu nular soalnya, hehehe

    BalasHapus
  18. Aku udah nyortir grup WA, tapi kok masih banyakkk. Tapi yg aku ikuti ini bermanfaat semua. Jadi sayang kalo mau left :)

    BalasHapus
  19. Nice tips mbak Irfaa... :)

    BalasHapus
  20. Nggak punya grup mbak :) cuma grup keluarga saja di wa :) saya sibuk ngeblog :D ha ha ha..*kidding..tapi bener loh

    BalasHapus

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih