Senin, 09 Mei 2016

AADC2 dan sindiran Rangga

Saya nggak punya ekspektasi apapun ketika malemnya saya janjian dengan sahabat IIDNers untuk nonton AADC2. Cuma pengen meet up aja dengan mbak Ind, yang baru aja dateng dari Makasar untuk kembali berjibaku layaknya superhero nyelesein disertasinya. 

Kemarin siang, saya, Mbak Ind, Mbak Tinbe dan Ety pun akhirnya berjejer menghadap layar bioskop 21 di Amplaz. Menikmati sajian gambar di depan mata tanpa harus banyak berpikir. Mengomentari kecantikan Dian Sastrowardoyo dan Titi Kamal. Menyukai eksotiknya kulit Ardinia Wirasti. Tertawa melihat akting Sissy Pricilia dan Dennis Adhiswara. Yang terpenting memberikan vitamin A untuk mata kami dengan kehadiran Nicholas Saputra, Ario Bayu serta Christian Sugiono. 


Cerita memang lebih banyak berputar tentang Rangga dan Cinta. Buat saya yang bukan warga Jogja namun hampir setiap dua kali seminggu jadi biker di Jalan Magelang Jogja, settting film itu sangat saya akrabi. Ada Wilayah Kotagede dengan mengambil tempat Pasar Kotagede dan Makam Panembahan Senopati, Sate Klathak yang bisa dicari di seputaran Jogja bagian selatan, Pantai Parangkusumo, Jalan Prawirotaman, serta area Candi Boko dimana saya pun pernah berada di tempat Rangga dan Cinta bercengkerama, 

Tak lupa Punthuk Setumbu dan Rumah Doa Bukit Rhema yang terkenal dengan sebutan Gereja Ayam. Hanya memakan waktu sepuluh menit jika berjalan kaki dari puncak Punthuk Setumbu ke Gereja Ayam. Dua tempat di Kabupaten Magelang, tak jauh dari Candi Borobudur, hanya dua puluh menit dari rumah saya pun menjadi setting perjalanan Cinta dan Rangga untuk berdamai. 

Bagaimana dengan kisah Rangga dan Cinta?
Menurut saya, pesan moral di film ini sangat ringan. Bagi saya yang lebih memperhatikan karakter-karakter tokoh di AADC2, karakter Cinta di umur tigapuluhan kurang matang sebagai perempuan. Eits ... ntar dikira spoiler deh kalau ngomongin banyak-banyak :D. 

Ada dua hal yang menggelitik ketika nonton AADC2 selain twist ending film yang bikin kami berempat ketawa lumayan panjang dan acung jempol. Yang pertama adalah kata-kata Rangga ketika Cinta datang ke New York.

"Wow ... Kamu datang, Cinta."
Kalimat dan irama Rangga berbicara kalimat itu mengingatkan saya pada Amel bungsu Mbak Ind yang selalu menyambut saya dengan kalimat yang sama ketika datang ke rumah mereka. Yang kedua adalah kata-kata Rangga saat ngobrol dengan Cinta di sebuah kafe.

"Sebenarnya saya sedang membuat sebuah buku ..."

Rasanya kode keras buat kami berempat. DL sudah di depan mata, naskah belum juga kelar. 
Rangga memang kebangetan. 
Nyindirnya kena banget.

7 komentar:

  1. Ih kirain mau cerita endingnya, ternyata DL buku toh yang makjebnya itu ? Xi...xi...xi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi ... namanya tukang nulis apapun yang berkaitan sama naskah, buku, deadline, kata belum selesai un bisa bikin baper parah

      Hapus
  2. Ih kirain mau cerita endingnya, ternyata DL buku toh yang makjebnya itu ? Xi...xi...xi...

    BalasHapus
  3. Wkwkwkw... Mba Irfa yang kamu lakukan itu jah..t

    cara menurunkan berat badan

    BalasHapus

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih