Untukmu, Ibu - Jurnal Hati

Senin, 01 September 2014

Untukmu, Ibu

Aku tau dia mencintaiku. Cinta yang tumpah ruah untukku. Cinta yang kadang menyakitkan. Cinta yang sering menyesakkan. Cinta yang membangkitkan amarah. Namun sebenarnya cintanya tanpa pamrih. Cinta sepanjang masa. Cinta yang paling tulus dan tak mungkin terganti.

Dia yang kini terbaring dengan selang-selang yang tergantung di sekitarnya. Diam, tak berdaya. Sungguh, aku merindukan suaranya. Aku merindukan ia bersuara. Ia yang dulu tak pernah berhenti bercerita. Dia yang selalu banyak bicara. Dia yang selalu ingin aku dengarkan. Namun aku sering tak memperdulikan apa yang ia katakan. Karena aku merasa capek untuk mendengarkan.

Sekarang giliranku yang berbicara. Aku kini yang selalu bercerita di telinganya. Apa kegiatanku hari itu, apa yang akan kulakukan untuknya. Aku melafalkan asma Allah di telinganya semampuku, mengajaknya berdzikir. Aku juga selalu menyampaikan padanya siapa yang datang ingin melangitkan doa. Apa yang aku lakukan, takkan mungkin bisa mengganti cinta yang selalu ia ulurkan untukku.

Aku tau dia mendengarku. Ketika aku melafalkan asma Allah, kadang setitik air mata bergulir dari matanya yang terpejam. Dari nafasnya yang saat ini memberat, aku tau ia menarik nafasnya seirama dengan lafal Allah yang aku lantunkan. Ini menjadi satu kolaborasi yang luar biasa. Suaraku dan tarikan nafasnya.

Aku hanya bisa menyesali kini. Ketika ia masih mampu melengkingkan suaranya, aku kadang meresponnya dengan tak semestinya. Ketika ia masih mampu memberikan cintanya, aku sering tak menerima dengan keikhlasanku. Aku sebenarnya sangat tahu bahwa itu karena cinta. Tapi aku yang merasa bukan anak-anak ini memahami dari sisi yang selalu berbeda.



Harusnya aku yang tanggap ketika ia mengeluhkan tak enak badan. Aku menganggap itu sebagai hal yang wajar. Ketika ia mengeluhkan rasa dingin di sekujur tubuhnya, aku menganggap bahwa aku juga merasakan hal yang sama. Ketika ia banyak tidur karena ingin istirahat supaya sehat karena tanggal 6 September salah satu sepupunya menikah, aku hanya mengiyakan.

Sabtu, saat Shubuh tiba, ia masih berjamaah di Masjid. Ia pun masih pengajian ke taklimnya seperti biasa di Sabtu pagi. Ia menamatkan bacaan AlQur'annya. Dan ia masih bercanda dengan tetangga siang itu. Ashar, saat aku bangun tidur siang karena sebelumnya aku berusaha mengerjakan pekerjaanku hingga larut, ia mengatakan bahwa ia muntah dan mual berkali-kali. Ia memintaku mengerokinya, namun aku menolak. Aku menawarkan untuk ke dokter, dan gilirannya menolak. Maghrib kami semua jamaah di rumah, dan makan malam bersama. Malam harinya ketika aku ke kamarnya, ia mengatakan bahwa ia sudah baikan. Aku pun merasa tenang.

Minggu, adzan Shubuh. Aku melewati kamarnya menuju kamar mandi untuk berwudhu, aku mendengar suaranya yang hendak muntah lagi. Dalam posisi duduk ia muntah, kemudian berbaring lagi. Aku tawarkan untuk ke RS ia hanya diam, kemudian bangkit hendak buang air kecil. Aku memintanya menundanya barang sebentar, dan Shalat Shubuh lebih dulu, kemudian kembali ke kamarnya. Dia masih muntah-muntah. Aku menawarkannya untuk buang air kecil, ia hanya mengatakan,"Kosik." (Sebentar), lalu berbaring lagi.

Hanya semenit, kemudian ia mengulurkan tangannya padaku, meraba dari ujung lengan sampai telapak tangan. Dari tangan kiri, kemudian berganti tangan kanannya. Lalu dua telapak tangannya dikaitkan. Semenit kemudian mulutnya berbusa, dan akupun berteriak meminta suamiku untuk menyiapkan mobil. Aku berteriak pada anakku untuk memanggil sepupu di sebelah rumahku. Semenit kemudian, ia tak sadarkan diri.

Ya Allah ...
Semua itu adalah Kuasa-Mu. Lagi-lagi penyesalan datang karena ketidakpekaanku. Beberapa minggu ini, jika aku keluar rumah, ia berulang kali menelponku aku berada di mana. Berulang kali jika aku ke Jogja dia memintaku cepat pulang. Biasanya ia hanya telpon aku sekali menanyakan keberadaanku.

Ia pun seperti mengajakku 'berdamai'. Kami sama-sama keras, sering kali saat silang pendapat suara kami jadi naik oktaf. Namun nggak lama, kami ngobrol lagi seperti nggak terjadi apa-apa. Beberapa minggu lalu, ketika aku tidur siang, ia berbaring di sebelahku. Berbaring menyamping menghadapku, dan tersenyum. Tak biasanya. Jika hendak mengajakku bercerita, ia hanya duduk di pinggir ranjang. Setelah puas bercerita, ia akan keluar kamarku dan melakukan aktivitas lainnya.

Ia sempat menemaniku mengetik ketika aku mencoba menepati schedule ku hingga larut. Sempat ia membaca draftku, meski ia tak memahami apa yang aku tulis. Dan ia sering kali mengekoriku kemana aku pergi. Seperti anak-anak. Ia begitu manja akhir-akhir ini.

Allahku... Berikan yang terbaik untuknya. Aku akan menerima semuanya dengan lapang dada. Meski rasanya pahit dan menyakitkan. Aku tahu, Kau memberikan ini semua juga karena Kau cinta.

Ibu... Tak ada yang bisa aku katakan kecuali ... Aku sayang sama Ibu. Sangat ...

Tidak ada komentar:

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih