Selalu ada senyum dalam sebuah kesedihan - Jurnal Hati

Senin, 08 September 2014

Selalu ada senyum dalam sebuah kesedihan

Dia telah pergi. Dan tak akan kembali. Untuk awal dari perjalanan. Perjalanan menuju keabadian. Dia telah bahagia. Dia berada di sisi Sang Pencipta. Tapi aku di sini, masih selalu menggulirkan air mata. Untuk sebuah kenangan. Kenangan yang terpahat seumur hidupku.

Akankah di sana ia mengenangku? Akankah di sana ia merindukanku?
Bayangannya tak mau hilang dari mataku. Senyumnya, cara berjalannya, cara bicaranya. Dan sungguh ... aku masih teringat ekspresinya di hari-hari terakhirnya.

Aku kehilangan.
Aku pernah merasakan kehilangan. Tapi tidak sesakit ini. Aku pernah merasa hampa, tapi tidak sekosong ini. Tak pernah aku menatap nanar pada sesuatu yang mengingatkanku padanya. Tak pernah ...

Takkan ada yang sama setelah ia berlalu. Semua akan terasa berbeda. Dan di hati ini, penyesalan masih terus bertalu. Orang lain mungkin akan mudah untuk mengatakan sebuah kata ikhlas. Sementara aku, masih tak mampu untuk melakukan itu.



Kata orang, ia terlihat cantik. Hidungnya yang mancung, dagunya yang seperti lebah bergantung. Bibirnya yang penuh, mengukir sebuah senyum. Meski sangat tipis.

Banyak orang tak percaya akan kepergiannya. Banyak orang menyaksikan betapa ia tak pernah meninggalkan shalat jamaah Shubuhnya. Sahabat-sahabatnya bersaksi betapa ia selalu berangkat ke majlis taklim seminggu tiga kali. Dan aku menyaksikan, beberapa hari sebelum serangan itu datang, ia mengkhatamkan bacaan Al-Qurannya, entah untuk yang keberapa kali, aku tak mampu menghitungnya.

Ia meninggalkanku catatan-catatan pengajiannya. Ia pernah berkata, hanya buku-buku itu yang akan ia tinggalkan untukku karena ia tak mampu meninggalkan harta benda untukku.

Jauh-jauh hari ia sudah merancang apa saja yang harus aku lakukan jika sewaktu-waktu ia dipanggil Sang Pencipta. Ia menyebut nama siapa saja yang akan memandikannya. Ia menyebut nama siapa yang akan memimpin untuk mendoakannya. Ia ingin sebuah upacara sederhana jika ia pergi. Dan ia tak mau aku menghamburkan uang untuk sesuatu yang tak ada dalam agama. Semuanya harus sesuai tuntunan agama.

Aku bangga padanya. Bangga atas semua pencapaiannya. Betapa banyak orang menangis karena kepergiannya. Dan aku tau, banyak orang mencintainya.

Ibu ... selalu aku katakan, aku sayang sekali sama Ibu.
Sangat...
Selalu ...

2 komentar:

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih