Dompet Dhuafa, Membentang Kebaikan untuk Menebar Manfaat - Jurnal Hati

Selasa, 30 Januari 2018

Dompet Dhuafa, Membentang Kebaikan untuk Menebar Manfaat




Siapa yang tak kenal Dompet Dhuafa? Sebuah lembaga yang menjadi pelopor lembaga zakat yang sudah mempunyai cabang di setiap provinsi di Indonesia. Dompet Dhuafa yang berawal dari rubrik di Harian Umum Republika dalam perjalanannya ternyata mendapat sambutan yang luar biasa. Kolom kecil yang mengajak masyarakat untuk turut serta pada sebuah gerakan kepedulian. 

Ternyata pengumpulan dana di masyarakat lewat gerakan kepedulian yang diinisiasi oleh Harian Republika ini mengalami kemajuan yang signifikan. Hal ini membuat Dompet Dhuafa pun dilegalkan menjadi aktivitas formal yang dikelola oleh Keluarga Peduli di Republika.

Dompet Dhuafa pun makin profesional dalam kepengelolaannya. Makin banyak program-program kepedulian yang tak hanya bersifat lokal namun sudah menasional. Bahkan sudah sampai ke luar Indonesia. Bantuan dana yang disalurkan tak hanya bersifat tunai namun sudah mengembangkan program yang lebih besar seperti ekonomi, pendidikan, kesehatan dan bantuan bencana. Di tahun 2001, Dompet Dhuafa pun dikukuhkan sebagai Lembaga Amil Zakat Nasional oleh pemerintah.


Blogger & Journalist Gathering


Tanggal 22-23 Januari 2018 kemarin saya mengikuti acara Blogger and Journalist Gathering. Pertemuan pertama di Lokal Resto Gejayan Yogyakarta tersebut mengusung tema “Eating, Travelling and Share Great Stories with Dompet Dhuafa” ini menghadirkan Bp. Bambang Suherman, Resources and mobilization Director Dompet Dhuafa. 



Pak Bambang menyatakan bahwa keberadaan Dompet Dhuafa di Jogja pada awalnya adalah menginisiasi korban beberapa bencana alam yang terjadi seperti gempa Mei 2006 dimana seluruh kegiatan baik dari sisi ekonomi maupun pendidikan lumpuh total. Lantas adanya erupsi Merapi 2010 yang membuat penduduk harus berada di tempat tinggal sementara sekitar tiga bulan. 

Dompet Dhuafa mencoba untuk recovery aktivitas sosial dan perekonomian dengan masih terus menggalang dana. Dompet Dhuafa pun mengajak keterlibatan korban dalam pemulihan bencana menjadikan obyek menjadi subyek. Dompet Dhuafa membuka ruang bantu dalam mindset masyarakat bahwa nilai kemanusiaan Indonesia adalah tolong menolong. Hal itulah yang dijadikan Dompet Dhuafa konsep untuk penanganan bencana. 

Dompet Dhuafa tentunya tak berjalan sendiri. Ada mitra-mitra yang digandeng untuk syiar kebaikan. Media dan blogger sebagai jurnalis masyarakat menjadi salah satu ujung tombak untuk menebar manfaat. Kolaborasi dengan berbagai media inilah yang diharapkan bisa membangun masyarakat dengan saling memberikan informasi secara benar. 



Care Visit

Hari kedua kami pun diajak untuk care visit. Care visit adalah program kunjungan ke berbagai kegiatan perekonomian binaan Dompet Dhuafa. Care visit ini bertujuan untuk memberikan semangat kepada para binaan. Siapapun yang sudah berusaha dalam berkarya membutuhkan apresiasi dari orang lain. Saat apresiasi yang didapatkan membesar, maka semangat berkarya pun makin terpantik. Selain itu care visit juga menjadi laporan yang tak resmi bagi muzakki. Mereka mengetahui bagaimana zakat, infak, serta shadaqah yang dikeluarkan dipertanggungjawabkan oleh Dompet Dhuafa. 

Jika teman-teman pembaca bekerja di sebuah kantor atau dari instansi manapun, mau komunitas ataupun sekolah-sekolah ingin membuat sebuah kegiatan yang berbeda, bisa lho menghubungi Dompet Dhuafa. Ada kegiatan ‘cuti berbagi’ atau ‘libur berbagi’, sebuah kegiatan tak hanya melulu having fun, namun ada nilai kebaikan yang ditebarkan melalui kegiatan ini. Kegiatan yang biasanya dinamai dengan bakti sosial ataupun dana CSR dari sebuah perusahaan tak ada salahnya sesekali untuk kegiatan social trip semacam care visit ini.

Blogger dan awak media pun berkumpul di hotel Neo+ Awana. Bersama teman-teman dari Dompet Dhuafa Yogyakarta kami diajak untuk mengunjungi sentra batik binaan mereka yang berdekatan dengan makam para raja Jogja. Tujuan kami adalah Sentra Batik Berkah Lestari yang terletak di Dusun Karangkulon, Giriloyo, Wukirsari Imogiri, Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta 55782, telepon 0813-2817-4522. Dengan menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit kami pun sampai di tujuan. 



Kegiatan ini ternyata berbarengan dengan Scarf Magazine yang bekerjasama dengan Wardah dan Mamahke Jogja yang sedang mengadakan libur berbagi.

Kegiatan dibuka oleh Pak Bambang dan dilanjutkan oleh Mbak Temmy Sumarlin, desainer label fashion muslimah Temiko sekaligus pimpinan redaksi Scarf Magazine. Dan yang terakhir adalah paparan dari Mbak Erni, pengelola Batik Berkah Lestari.

photo by : Siti Hairul


Menurut Mbak Erni, pendahulu dari dusun Karangkulon memang pembatik keraton sehingga yang dihasilkan merupakan motif batik keraton. Di luar itu batik tulis halus yang dihasilkan sangat berkualitas. Ada 50 pembatik dan semuanya adalah perempuan.

Mulai 2007 pasca gempa Jogja 2006 Berkah Lestari mendapat kepercayaan dari Dompet Dhuafa. Mereka diberikan pengetahuan bagaimana mengelola sebuah usaha, sehingga penduduk tak hanya menjadi buruh, namun mengajari menjadi wirausaha.



Saya dan peserta care visit pun diberikan kesempatan untuk belajar membatik. Masing-masing telah diberikan kain yang telah berpola. Tugas kami adalah mengoles pola itu dengan malam yang sudah dicairkan. Memegang canting, mengoleskan malam cair ke kain ternyata butuh kesabaran dan ketelatenan yang luar biasa. Pantas saja kalau batik tulis harganya sedemikian tinggi. Lha wong saya yang baru beberapa menit membatik saja sudah merasa capek dan ingin menyerah. 

hasil batik saya yang sebagian dikerjain pembatik Berkah Lestari :)

Selain pelatihan batik, saya berkesempatan untuk memotret kegiatan yang berlangsung di sana. Eh ... ada photobooth nya lho. Dan photobooth nya pun unik, sesuai dengan kegiatan batik yang ada di sana.



Sungguh mengesankan. Kesan yang saya dapat lebih dalam lagi ketika tiba-tiba muncul Chikita Fauzi, brand ambassador Wardah, seorang public figure putri pasangan artis di era 80-an. Perempuan cantik yang humble dan sungguh santun. Pakaian yang ia kenakan pun longgar dan menutup aurat. Ia tak segan berfoto bersama kami. 

foto berdua yang ke-5. Photo by Dedek Mini

Ia melayani permintaan kami dengan foto bergantian dengan sabar. Kesan pribadi yang hangat pun melekat ketika ia hafal nama anak-anak yang ikut ibunya dalam kegiatan care visit ini.

“Aisha cantik ...”

“Pandan ... Jangan lari! Mau kemana?”

“Aila ... adiknya dijagain, gih!”


Satu lagi yang membuat saya ‘nyes’ di hati. Perempuan murah senyum ini tak meninggalkan shalatnya. Ia pun tak buru-buru kembali memoles bedak di wajahnya.. Ia membiarkan wajahnya polos setelah berwudhu. Dan buat saya melihat hal seperti itu kecantikannya tambah seribu persen.



Terima kasih Dompet Dhuafa, telah mengajak kami untuk mengenal hal lain dalam hidup ini. Seperti kata sebuah hadis :

Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi orang-orang yang bersikap tidak ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain (HR Thabrani dan Daruquthni)











4 komentar:

  1. Alhamdulillah semakin banyak lembaga zakat yang terpercaya seperti DOmpet Duafa ini ya mbak irfa, karena kadang orang bingung mau menyalurkan sedekahnya kemana.

    BalasHapus
  2. Makin banyak tahu tentang Dompet Dhuafa. Makasih sharingnya mbak.

    BalasHapus
  3. Waah keren ya dompet dhuafa..ada desa binaannya juga..jadi makin percaya dan nggak bingung mau menyalurkan sedekah kemana..

    BalasHapus
  4. Keren dompet dhuafa tak hanya memberi ikanya tapi juga alat pancingnya 😀

    BalasHapus

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih