November 2017 - Jurnal Hati

Rabu, 29 November 2017

Celoteh di Hari Guru

Saat saya berada di awal perkuliahan Ibuk alm pernah bercerita tentang harapan beliau terhadap saya dan adik-adik. Ibuk ingin salah satu dari kami ada yang mengikuti jejak Bapak sebagai guru.

“Kenapa Buk?” tanya saya waktu itu.
“Profesi guru itu profesi yang paling ramah untuk perempuan. Jam kerjanya nggak sampai sore. Siang sudah di rumah, jadi bisa mendampingi anak-anak. Kalau murid-murid libur, guru juga ikutan. Bisa dapat tambahan pendapatan dengan memberi les. Yang penting sesuai dengan fitrah perempuan, yaitu mendidik anak-anak.”

Namun yang namanya remaja saat itu profesi guru bukanlah menjadi sebuah pilihan. Kurang menantang, nggak dinamis. Pendapatan juga segitu-gitu aja. Makanya untuk perkuliahan di jaman saya remaja, teknik dan kedokteran menjadi jurusan yang wow. Sementara managemen, psikologi dan Bahasa Jepang menjadi jurusan favorit untuk anak-anak IPS.

Saya kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi. Dik Nisa, adik saya persis kuliah di Teknik Arsitektur, sementara Dik Rahma, adik bungsu saya kuliah di jurusan Kimia Terapan. Jauh sudah dari harapan Ibuk untuk memiliki penerus seorang guru di keluarga kami.

Seiring waktu berjalan, ternyata kami bertiga mengamini pendapat Ibuk. Kami bertiga pernah bekerja di luar rumah yang mengharuskan jam 08.00 – 17.00 berada di kantor. Belum lagi Dik Nisa yang bekerja di konsultan bisa saja waktu 24 jam masih kurang untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sebuah renungan kecil ketika kami belum mempunyai anak. Kok kayaknya nggak punya banyak waktu untuk anak-anak kami nanti ya?

Dunia tulis menulis mengantarkan saya untuk mengenal dunia mengajar. Mengajar ekstra kurikuler di sebuah SMPIT di Jogja menjadi awal bagi saya sebagai seorang guru. Saya yang bukan tipe public speaker dipaksa untuk menerangkan hal-hal yang lebih banyak saya sampaikan lewat tulisan. Biasa berkarya di jalan sunyi kemudian harus banyak berbicara di depan audiens tentunya ada kesulitan tersendiri. Namun semakin hari saya semakin menikmati. Interaksi antara seorang guru dan seorang murid ternyata menyenangkan juga.

Menjadi seorang guru harus mempunyai kesabaran yang luar biasa. Bagaimana seorang guru bisa tenang menghadapi murid yang berulah atau kelas yang serupa pasar. Bagaimana kesabaran seorang guru diuji saat menghadapi anak yang bermasalah.

Guru serupa orang tua. Ia harus menahan ucapan ketika emosi mulai menaik. Supaya ucapan itu tak menyakiti murid-murid lantas menjadi label bagi si murid itu sendiri. Guru selalu berusaha mengucapkan hal-hal baik supaya menjadi doa bagi murid-muridnya. Ucapan guru biasanya seperti titah raja bagi murid-murid yang mencintainya. Sering kali ucapan gurunyalah yang selalu dituruti seorang anak dibanding ucapan orang tuanya.

Saya jadi memaklumi mengapa sikap murid-murid Bapak sering main ke rumah. Saya lantas memahami mengapa murid-murid Bapak bisa begitu akrab, bahkan kadang cenderung kurang sopan. Karena Bapak guru yang santai. Berbicara dengan murid seperti dengan seorang teman. Dan saya tahu, dari mana asal kesabaran Bapak saat menghadapi masalah.


Ini celoteh saya dalam rangka memperingati Hari Guru tanggal 25 November kemarin. Bagaimana dengan Mba Relita dan Mbak Yuli Arinta?

Selasa, 28 November 2017

Bouncer Bayi, Pilihan Tepat untuk Bayi Tenang dan Riang

 Bayi masih berada dalam tahap perkembangan untuk mencapai pada tubuh yang stabil dan sempurna. Untuk mendapatkan perkembangan tubuh yang optimal, bayi perlu diberikan kenyamanan baik pada saat bayi terjaga maupun saat bayi terlelap. Karenanya saat ini banyak sekali produk perlengkapan bayi yang bertujuan untuk memberikan kenyamanan pada bayi sehingga perkembangan tubuhnya bisa terjadi secara maksimal salah satunya adalah bouncer bayi.   

Bouncer merupakan tempat duduk bayi yang dapat diayun sehingga menyerupai kursi goyang pada manusia dewasa. Karena bayi masih belum bisa menjaga keseimbangan posisinya, bouncer disertai dengan sabuk pengaman yang dikaitkan melilit tubuh bayi di bagian perut dan dada. Dengan sabuk tersebut, bayi akan tetap berada dalam ayunan meski ayunan diberi dorongan dan bergerak berayun. Selain sabuk pengaman, terdapat holder atau pegangan yang memiliki 2 fungsi yaitu sebagai tempat pegangan bayi saat bayi sudah mulai bisa menggenggam serta sebagai pegangan orang tua saat akan memindahkan bouncer ke tempat yang lain.

Ayunan bouncer bisa diciptakan dari dorongan secara langsung menggunakan tangan ataupun ditarik menggunakan tali. Kecepatan ayunan bisa Anda atur sendiri yang disesuaikan dengan beberapa pemikiran yaitu:

  • Usia bayi.
  • Tujuan ayunan apakah untuk menidurkan ataukah untuk menenangkan bayi dari tangisan.
  • Antusias bayi terhadap ayunan.
  • Kegiatan bayi pada saat diayun, apakah sedang bermain, bercanda ataukah sedang disuapi untuk makan.


Bouncer bisa menjadi andalan ibu-ibu untuk menenangkan bayinya karena adanya ayunan yang bisa membuat bayi merasa tenang seperti ketika digendong dan diayun di buaian sang ibu. Bouncer juga bisa dijadikan tempat tidur sementara untuk bayi dengan cara menambahkan ekstra selimut sebagai alas bayi sehingga hangat dan nyaman. Untuk bayi yang sudah bisa bermain, bouncer bayi juga ada yang memiliki mainan putar di meja bagian depan bouncer sehingga anak bisa mandiri bermain dengan aman dan nyaman. Selain itu bouncer yang memiliki meja juga pilihan yang tepat saat bayi akan belajar bermain sesuatu tanpa ibu khawatir bayi merangkak kemana-mana yang berbahaya.

Harga bouncer tidaklah terlalu mahal karena bisa dibeli di angka Rp. 250 ribuan. Ibu bisa memilih warna dan motif bouncer sehingga sesuai dengan jenis kelamin dan usia bayi Anda. Pemilihan akan lebih mudah dilakukan jika ibu membeli bouncer melalui situs jual beli online terpercaya dimana ibu akan diberikan pilihan berbagai jenis bouncer dengan harga yang bervariasi. Ketahanan bahan dan keawetan bouncer sebaiknya menjadi bahan pertimbangan utama karena bouncer akan menopang berat tubuh bayi dalam waktu yang cukup lama. Selain itu bahan kain yang digunakan sebagai alas bayi juga sebaiknya dipikirkan agar ibu mendapatkan bahan yang lembut dan tidak membuat kulit bayi cepat panas.


Ada beberapa pilihan ukuran bouncer bayi yang sebaiknya ibu sesuaikan terlebih dahulu dengan badan putra-putri ibu. Biasanya pemilihan ukuran bisa dilakukan dengan melihat usia bayi dan berat badan bayi. Untuk pembelian secara langsung, ibu bisa mengajak sang bayi untuk mencoba terlebih dahulu sebelum membeli. Sedangkan untuk pembelian online, diharapkan ibu menyebutkan usia dan berat badan bayi pada sang penjual agar mendapatkan referensi yang tepat mengenai ukuran bouncer yang sesuai. Tetap awasi putra-putri ibu meski berada di dalam bouncer agar terhindar dari resiko jatuh atau makan sesuatu yang tidak semestinya karena bouncer berada di dekat meja atau perabot lainnya.

Kamis, 23 November 2017

Ketika pra remaja mendapatkan surat cinta

Assalamualaikum Temans,

Minggu ini Adek mendapatkan surat berwarna pink dan bergambar hati dari teman perempuannya. Isi surat tersebut adalah perasaan yang si gadis kecil kepada Adek. Ini sudah ketiga kalinya Adek mendapatkan surat serupa.

Kalau sebelumnya Adek cool saja nanggepinnya. Entah karena memang tak suka atau belum memahami tentang yang namanya perasaan. Ya kali, waktu itu ia masih klas 4 SD, gejolak hati mungkin tak seperti sekarang ketika ia sudah memahami perasaan suka pada lawan jenisnya.

Kali ini ia bete abis. Awalnya sih biasa aja ketika mendapatkan surat bergambar hati itu. Saya melihat effort gadis kecil itu juga lumayan gede karena ia membuat craft dari kain flanel yang dipakai sebagai amplopnya. Warnanya manis sekali, baby pink. Saat pulang membawa surat itu ia tersnyum kemudian menyerahkan kepada saya.

“Dari siapa, Dik?”

Ia menyebutkan nama. Saya pun tersenyum. Nama itu pernah saya dengar sebelumnya ketika ia bercerita tentang teman-teman sekelasnya. Saya pun membuka surat itu, lantas tertawa juga. Dulu saya mendapatkan surat yang seperti itu ketika saya sudah SMP. Di zaman saya  remaja dulu yang biasa kirim surat ke lawan jenis ya anak laki-laki. Waktu itu malunya setengah mati kalau sampai ketahuan orang jika mendapatkan surat dari lawan jenis.

Sekarang Adek membaca perasaan temannya di kelas 6 SD. Kalau sekarang terbalik. Anak perempuanlah yang mengirim surat kepada anak laki-laki. Dari cerita Adek, banyak dari teman perempuannya yang berani mengungkapkan perasaan kepada anak laki-laki yang disukai.

“Adek suka?”
“Enggak. Cuma aku nggak tega kalau nolak, Nda. Nanti dia malu.”
“Ada yang tahu dia kirim surat ke Adek?”
“Teman-temannya yang tahu.”
“Adek bilang ke temen Adek yang laki-laki?”
‘Enggak. Kasihan kalau dia jadi malu ketahuan kirim surat ke aku.”

Satu hal yang saya garisbawahi adalah Adek mempunyai empati. Ia tak ingin ada yang dipermalukan. Bahkan untuk mengatakan tidak pun ia merasa tak tega.

“Nggak usah dibalas nggak papa Dek. Tapi bilang sama anaknya kalau Adek mau berteman saja. Mau fokus sama pelajaran, nggak mikirin yang lain.”
“Aku tuh nggak bisa ngajak bicara anak perempuan, Nda. Aku ngomong kalau seperlunya aja. Kalau ditanya ya baru kujawab.”
“Berarti Adek mau balas suratnya?”
“Nggak tahu juga, pikir nanti aja.”

Dua hari setelah mendapatkan surat pertamanya,  Adek pulang ke rumah membaw surat lagi dari anak yang sama. Isi surat itu meminta jawaban. Ekspresi datar Adek menandakan ia tak tertarik untuk menanggapi.

“Mau dibalas?”

Ia mengedikkan bahu.
“Aku udah bilang sama temennya, suratnya nggak akan aku balas. Malah minta balasan. Anak perempuan itu kok ribet ya, Nda?”

Saya tertawa.

“Ah ... enggak juga. Kakak nggak kayak gitu juga kan?”
“Temen-temenku perempuan tuh kok banyak yang nyuratin anak laki-laki. Apa nggak mau po yo kalau ditolak.”
“Adek pernah nyuratin?”
“Enggak lah. Takut ketahuan Bu guru. Takut kalau Bunda sampai dipanggil ke sekolah.”
“Takut ditolak juga?” goda saya.

Ia tertawa.

“Kan Bunda pernah bilang kalau suka boleh tapi pacaran enggak. Kata Bunda kalau diterima nanti jadian. Jadian berarti kan pacaran.”

Diam-diam saya bersyukur. Nilai yang saya tanamkan ternyata masih diingat. Buat saya itu penting sekali anak-anak memegang nilai yang kita yakini. Untuk bekalnya menghadapi dunia saat menginjak dewasa nanti.


Nggak saya sangka, sehari kemudian, surat ketiga datang lagi. Kalau yang ini muka Adek kelihatan bete.
“Bunda aja yang baca. Aku besok pagi aja bacanya,” kata Adek sambil membantingkan tubuhnya ke tempat tidur.

Pengen ngelus dada sebenarnya ketika membaca surat yang ketiga. Yang ini sudah mirip debt collector minta balasan surat. Belum lagi Adek di DM oleh teman si gadis kecil ini mendesaknya untuk menerima hati.

“Malesin ya, Nda? Mosok kayak gitu. Kayak kena teror. Bunda dulu gitu juga nggak, nyuratin anak laki-laki yang Bunda suka?”

Tawa saya meledak.

“Nggak lah. Kalau Bunda, pantang perasaan Bunda diketahui duluan oleh anak laki-laki yang disuka.”
“Beda ya sama sekarang? Kids zaman now kebanyakan micin.”
“Lalu mau gimana, Dek?”
“Aku bales aja ya?”
“Emang Adek mau bilang apa?”
“Aku cuma mau bilang, we are just friend. I don’t like you.”

Saya ketawa lagi.

“Kalau Bunda yang jadi dia sakit banget lho dikasih balasan kayak gitu.”
“Kan memang aku nggak suka.”
“Tapi bukan berarti kata-katanya nyakitin Dek. Adek bisalah bicara yang lebih halus lagi.”

Semalam saya menemukan sebuah tulisan di kertas kecil. Sepertinya itu calon balasan untuk gadis kecil yang suka padanya.

Seseorang menyukai lawan jenisnya merupakan hal yang wajar. Tapi untuk sementara ini aku ingin lebih fokus pada pelajaran yang tidak kumengerti. Aku ingin lebih meningkatkan kemampuanku. Aku tidak ingin nilaiku turun seperti waktu kelas 4. Aku meminta maaf dan mengucapkan terima kasih.

Duh ... manisnya. Kalau saya yang dapat surat begitu meski ditolak saya tetep klepek-klepek loh :D

Temans, zaman sekarang kebebasan berbicara memang terbuka bagi siapa saja. Tak terkecuali kaum perempuan. Namun tetap saja untuk hal-hal yang menyangkut perasaan saya kok lebih sreg jika perempuan untuk lebih menahan diri. Saya juga punya anak perempuan. Selalu saya katakan padanya bahwa perasaan indah kita sebagai perempuan pada seorang jangan sampai diketahui banyak orang. Cukup kita, keluarga dan Allah yang tahu. Supaya kita terjaga sampai saatnya nanti.


Dan nasehat itu sampai hari ini masih sering saya sampaikan. 
Selamat hari Jumat ya, Keep on spirit!

Rabu, 22 November 2017

Muhammadiyah Ranting Gunungpring, Pemenang Ranting Terbaik Nasional Muhammadiyah Expo 2017



Assalamualaikum Temans,

Jika teman-teman mendengar sebuah desa bernama Gunungpring, saya yakin sebagian besar takkan mengetahui dimana letak desa yang berada di sebuah Kabupaten Magelang. Okelah, ada sebagian kecil yang tahu. Desa Gunungpring biasanya dikenal orang sebagai daerah Wisata Ziarah yang memang banyak dikunjungi oleh para peziarah dari Jawa Timur.

Namun dari desa ini sebuah prestasi yang tak banyak diketahui oleh masyarakat muncul. Muhammadiyah Ranting Gunungpring menjadi juara 1 ranting terbaik se-Indonesia. Penilaian ini diadakan oleh Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam kurun waktu 2016-2017.

Sebuah prestasi yang membanggakan. Prestasi besar itu tak hanya melibatkan satu atau dua personal saja. Namun semua itu tak lepas dari seluruh stake holder dari Pengurus Ranting Muhammadiyah Gunungpring Sendiri.

Kriteria penilaian sebagai ranting terbaik meliputi pembinaan jamaah, managemen organisasi, kaderisasi, pemberdayaan ekonomi masyarakat, memiliki AUM yang mencerminkan Muhammadiyah yang berkemajuan, serta daya pengaruh ke umat dan penguasaan media.

Penilaian ranting terbaik secara nasional ini tentu saja melewati berbagai tahapan. Di mulai penilaian di tingkat PDM atau setingkat Kabupaten, lantas maju ke tingkat PWM atau setara dengan provinsi barulah ke tingkat PPM atau nasional.

Apa sih yang membuat Ranting Gunungpring bisa menjadi Ranting terbaik?

1. Pembinaan jamaah
Ranting Muhammadiyah Gunungpring mempunyai binaan jamaah sekitar 11 dukuh yang aktif melakukan kajian secara berkala. Ada yang seminggu sekali, atau dua minggu sekali. Kajian ini meliputi kajian fikih, ketauhidan maupun muamalah. Masjid Mujahidin sebagai sentra kegiatan Muhammadiyah di Gunungpring pun makmur oleh kegiatan-kegiatan kajian. Mulai dari kajian anak-anak yang dilakukan setiap hari Kamis, Kajian remaja putra dan putri setiap malam Ahad, Kajian tafhimul Quran yang tak hanya diikuti oleh jamaah Gunungpring saja, namun dari beberapa daerah pun aktif mengikuti, serta kajian khusus ibu-ibu di malam Sabtu. Semua berjalan secara rutin.

2. Managemen Organisasi
Organisasi di Muhammadiyah Gunungpring diisi oleh orang-orang yang mau berjuang. Ketulusan pun menjadi nama tengah bagi mereka yang aktif untuk kemajuan Muhammadiyah. Muhammadiyah Gunungpring mempunyai teamwork yang solid. Saat inovasi diluncurkan, mereka yang mempunyai materi berlebih pun tak sayang untuk digunakan untuk kepentingan Muhammadiyah.
Muhammadiyah Gunungpring mempunyai sumber daya manusia yang profesional di bidangnya. Hal itu membuat masing-masing majelis fokus dalam pengembangannya. Meski begitu, jika ada hal yang urgent, sudah tak lagi berpikir majelis apa yang dipegang. Apa yang bisa dilakukan maka akan dikerjakan.

3. Kaderisasi dan partisipasi anak muda
Hal terberat dari sebuah organisasi, dimanapun itu adalah kaderisasi. Mendorong anak muda untuk berpartisipasi dengan ghirah yang sama besarnya menjadi PR tersendiri bagi pendahulunya. Namun bukan tak mungkin dilakukan. Hal ini sudah diantisipasi oleh Muhammadiyah Gunungpring dengan mengajak kaum muda untuk ikut serta dalam perjuangan Muhammadiyah. Pembinaan kaum muda pun sudah dimulai dengan aktifnya Angkatan Muda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah serta Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Mengikutsertakan mereka dalam kegiatan-kegiatan penting untuk menumbuhkan semangat dan kecintaan mereka pada Muhammadiyah. Tak lupa memberikan wadah bagi kaum muda untuk berkarya dan berkreasi.

4. Pemberdayaan Ekonomi Warga
Muhammadiyah Gunungpring Mempunyai Pondok Zakat Indonesia. Pondok Zakat Indonesia yang sedianya menerima dan mentasyarufkan zakat ternyata juga berfungsi untuk menyediakan permodalan bagi masyarakat sekitar. Pengembangan usaha kecil ini juga didukung oleh pelatihan kewiraswastaan yang dilakukan secara berkala. Upaya saling dukung sesama anggota pun dilakukan. Contohnya, minimarket yang dimiliki oleh beberapa anggota Muhammadiyah Gunungpring membantu pemasaran UKM milih anggota lain dengan memajang produk di minimarketnya.

5. Memiliki AUM unggulan
Muhammadiyah Gunungpring Memiliki beberapa AUM unggulan di bidang pendidikan


  • PAUD dan TK
Ada dua PAUD yakni PAUD Insan Robbani dan PAUD Mentari. Selain itu masih ada TK Aisyiyah Bustanul Athfal Mutihan, TK Aisyiyah Bustanul Athfal Wonosari serta TK Aisyiyah Bustanul Athfal Nepen.


  • Sekolah Dasar
Satu-satunya sekolah dasar Muhammadiyah yang dimiliki oleh adalah SD Muhammadiyah Gunungpring yang biasa disebut SD Mugu. Meski berada di sebuah perkampungan, namun siswa siswinya banyak yang berasal dari luar daerah, bahkan dari beda kabupaten. Hal itu bukanlah menjadi kendala, karena Muhammadiyah memiliki 18 armada antar jemput yang digunakan untuk siswa SD dan SMP.

Masalah prestasi, jangan ditanya deh SD yang punya murid lebih dari 700 anak ini. Lihatlah piala-piala yang menghiasi kantor SD Mugu. Bagaimana dengan  metode pendidikannya? Saya pernah menuliskannya di artikel lain.


  • Sekolah Menengah Pertama
Prestasi SMP yang satu ini jangan pernah diragukan. SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring ini hanya dalam waktu 3 tahun dari masa berdirinya, sudah mampu berada di urutan 3 terbaik ujian nasional untuk SMP negeri maupun swasta se Kabupaten Magelang. SMP yang dipimpin oleh Bp. Hima Sugiyarto ini mentargetkan 10 terbaik SMP negeri dan swasta se provinsi Jawa Tengah untuk siswa dan siswi angkatan 9 ini. Tertekankah dengan target-target tersebut? Sepertinya kok enggak ya? Anak-anak yang bersekolah di SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring terlihat enjoy dan betah di masa pembelajarannya.
Bisa Baca di sini : Full Day School? Why Not?


  • Sekolah Menengah Atas




Sebuah proyek yang wow bagi sebuah ranting Muhammadiyah ketika mendapatkan tantangan untuk membangun SMA Taruna Muhammadiyah Boarding School. Dalam jangka waktu satu tahun SMA ini sudah harus berjalan dan tahun ajaran mendatang sudah harus siap menerima murid baru. Bukan hal yang mudah membuat sebuah sekolah beserta asramanya, untuk 100 siswa pula. Ini Jika bukan orang-orang luar biasa yang terlibat didalamnya, tak yakin juga jika ini bisa berjalan mulus. Bersyukur sekali bahwa keterlibatan warga Muhammadiyah dalam pembangunan ini bukan hal yang main-main.

Mungkin sebagai orang awam mempertanyakan masalah finansial sehingga AUM pendidikan di Muhammadiyah Gunungpring bisa berkembang sedemikian pesatnya. Ternyata Muhammadiyah Gunungpring memberlakukan subsidi silang bagi AUM yang lebih muda. Contohnya ketika pembangunan dan pengembangan SMP Muhammadiyah Gunungpring, SD Mugu membantu sampai bisa AUM tersebut bisa mandiri.  Lantas untuk pembangunan SMA Taruna Muhammadiyah ini, SD Mugu dan SMP Mplus pun yang akan membantu segala pengembangannya nanti. Meski tak menutup mata bahwa bantuan donasi dari personal yang tak bisa dikatakan kecil juga.

Prestasi-prestasi dari AUM Pendidikan ini tak lepas dari tantangan dari Dirjen Pendidikan saat membantu proses berdirinya SMP MPlus. Bahwa sudah tak masanya lagi Muhammadiyah hanya memikirkan kuantitas namun pikirkan kualitas bagi sekolah-sekolah Muhammadiyah. Dan hal itu dijawab oleh Muhammadiyah Gunungpring.


Muhammadiyah Gunungpring takkan bisa semaju sekarang jika tak dipimpin oleh orang-orang yang think out of the box. Membangun Masjid dengan biaya sekian M, Membangun SMP Mplus, SMA Taruna Muhammadiyah, ditambah lagi sekarang dengan pembangunan Kantor Muhammadiyah Gunungpring merupakan angan semata jika tak ada action yang pasti dari orang-orang yang berani berjuang. Keberanian berspekulasi dari beberapa pengurus Muhammadiyah namun didampingi oleh orang-orang yang memiliki banyak pertimbangan sehingga membuat koridor sendiri dalam bergerak menjadikan Muhammadiyah Gunungpring ini menjadi organisasi yang dinamis.

Semoga organisasi yang digawangi oleh Bp . Rahmad Abdul Gani , Bp Sujono, Bp. Fahmi Hakim,  Bp Hima Sugiyarto,  Bp. Anis Asrono, Bp. Muhajir, Bp. Tranggono Murti, Bp Imron dan masih banyak bapak-bapak lain bisa terus melesat menjadi organisasi yang selalu bermanfaat untuk umat. 



Dan inilah dua orang dari sekian banyak yang menjadi daya ledak di Muhammadiyah Gunungpring. Berbicara dengan beliau berdua membuat ghirah saya pun melesat naik. Kalau Bapak  Muhajir  dan Bapak Tranggono Murti yang sudah purna tugas saja masih memiliki kreativitas dan inovasi yang luar biasa, apa kabar dengan kita?





Kamis, 16 November 2017

Mewujudkan Ide Kreatif Tak Hanya Sekadar Mimpi


Saya dan Kakak hobi banget berkhayal. Suka banget bikin drama satu atau dua babak. Senangnya ngobrol sama remaja begini adalah ide-ide yang keluar meski sering halu tapi bener-bener di luar dugaan. Imaginasi liar namun kreatif. Sering ngetawain, tapi juga merenung. Iya ya, andai saja kehaluan Kakak itu bisa terealisasi.

Contohnya aja gini. Banyak teman Kakak yang mengeluh sulitnya curhat dengan orang tua. Mulai karena orang tua yang nggak asik, orang tua yang otoriter, sampai orang tua yang nggak punya waktu untuk putra putrinya karena kesibukan yang menggunung.  Otomatis pelarian teman-temannya adalah bermain gadget. Karena menurut remaja-remaja ini gadget lebih asyique dibandingin orang tua. Segala aplikasi yang sudah terpasang di gadget lebih bersifat hiburan.

“Ada nggak ya, Nda, aplikasi di ponsel bisa nggantiin peran orang tua yang sibuk atau nggak asik?”

Nah ...loh ... Bingung kan?

Selasa, 14 November 2017

Mengajak Anak Bermain Media Sosial Secara Sehat


Assalamualaikum Temans,

Terkadang kita sebagai orang tua sudah membatasi anak untuk tak terlalu bersentuhan dengan jagat maya. Apalagi untuk anak-anak yang masih berusia dibawah 13 tahun. Namun apa mau dikata, anak malah sering lebih pintar atau lebih update dibanding orang tuanya. Contohnya aja saya. Punya akun instagram tuh setelah Kakak lebih dahulu menggunakannya. Mau tak mau saya pun ikutan menggunakan akun instagram untuk mengontrol apapun yang diunggah oleh Kakak.

Kamis, 02 November 2017

Ini yang Belum Terungkap Saat Berbelanja di Kota Solo
Kota Solo memang terkenal sebagai kota wisata tradisional yang tetap menawarkan beragam keunikan khas, yang tak dapat ditemui di kota lain. Setiap turis lokal yang datang ke Solo pasti berpikiran bahwa berwisata di Kota Solo itu murah meriah. Dari makanan hingga suvenir, dari naik becak hingga bus tingkat. Hal itu menjadi daya tarik sendiri untuk para wisatawan sehingga setiap musim liburan, perjalanan ke kota Solo menjadi favorit.



Source : rubik.okezone.com


Namun ternyata ada triknya bila Anda ingin berwisata unik serta berbelanja lebih murah. Tidak semua tempat belanja di Kota Solo bisa didapatkan dengan murah. Yuk, kita langsung menuju dua lokasi ini.