Senin, 16 Oktober 2017

Lima Bahan Kain Pilihan Saya Dalam Bergamis


Assalamualaikum Temans,

Saya berjilbab sudah lebih dari separuh umur saya. Alhamdulillah, hidayah datang tak melalui proses yang berliku-liku. Halangan pun bisa dikatakan tidak ada, karena saya mendapat dukungan penuh dari orang tua. Masalah pakaian saya sudah tak harus membeli baju baru karena orang tua selalu membelikan saya baju lengan panjang.


Saat SMA dan kuliah, baju kebesaran saya hem cowok dan celana jeans plus jilbab. Saya termasuk bukan gadis yang girly. Dibanding adik-adik, saya paling tomboy diantara tiga bersaudara. Setiap pekerjaan rumah yang diberikan kepada saya rata-rata pekerjaan anak laki-laki. Kebetulan kami tiga bersaudara perempuan semua. Bapak lebih sering memberikan saya tugas nyuci mobil dan nguras bak mandi dibandingkan untuk bersih-bersih rumah atau memasak.

Jadi mahmud, celana jeans tetap menjadi bagian dari fashion saya. Pikir saya jeans lebih memudahkan untuk lari-larian ngejar krucil. Waktu itu kalau lihat perempuan memakai rok ribet banget kudu ngejar krucil yang polahnya ampun-ampunan.

pernah langsing :)


Saya mulai melirik rok ketika si Adek yang saat itu sudah sekolah di TK memprotes saya. Ia menginginkan saya sesekali memakai rok jika menjemputnya sekolah.

“Bunda mbok pakai rok kayak mamanya si A.”
“Emang kenapa Dek?”
“Pengen lihat Bunda cantik pakai rok.”

Aisshhh ... siapa yang nggak meleleh diminta anak lanang make rok. Jadilah siang itu saya mulai sering memakai rok. Awalnya memang kurang nyaman, namun lama-lama nyaman juga, apalagi rok yang saya pakai berbahan soft jeans juga. Meski celana jeans juga tak saya tinggalkan.
Sekitar lima tahun yang lalu, Ibuk mulai mengajak saya ke taklim. Agak aneh juga datang ke taklim masih memakai celana jeans. Sementara rok saya juga terbatas. Mau nggak mau ketika punya rejeki saya membeli gamis khusus untuk taklim. Eh ... dipuji suami. Hidung mekar gede dong. Jadi pengen dandan mulu kalau udah dipuji begitu.

Ada satu masa titik balik saya mulai tidak memakai celana jeans. Bukan kisah yang menginspirasi atau heroik gitu sih. Ternyata tubuh saya semakin lama kok ya semakin menebal. Pakai celana jeans sudah nggak nyaman. Apalagi dua diantaranya sudah masanya pensiun.  Lalu jika ke toko sahabat saya, kok jatuh cinta melulu sama gamis dagangannya. Tumpukan gamis pun mulai membanyak di almari pakaian saya. Ditambah suami meminta saya memanjangkan jilbab, lengkaplah sudah hijrah saya meski awalnya bukan karena sebuah hidayah.

Nah ... tubuh yang semakin membesar begini memang membuat saya harus cerdas memilih bahan gamis. Saya orangnya simpel aja sih, nggak ngikutin fashion yang up to date. Kalau bisa sih, punya style fashion sendiri. Khawatir aja, kalau ikut-ikutan pakai fashion yang up to date ternyata nggak cocok baik secara penampilan atau fungsional.

Buat saya, jika membeli gamis yang paling saya utamakan adalah :
  1. Menutup aurat secara sempurna
  2. Bahan yang nyaman
  3. Model yang simple
  4. Jilbab yang mudah dipakai
  5. Harga terjangkau


Bahan gamis yang nyaman itu yang seperti apa sih?

Yang pasti bahan gamis yang paling nyaman itu yang menyerap keringat, tebal, namun tetap jatuh di badan meski nggak plek di badan. Terus bagaimana cara milihnya kalau kita beli online?
Kenali bahan kainnya dong. Jangan sampai kita cuma melihat kecantikan gamis lantas membabi buta membeli tanpa kontrol. Kalau saya sih biasanya membeli gamis yang menggunakan lima bahan kain ini :

Balotelli
Gamis saya ini sebagian besar menggunakan bahan balotelli. Balotelli serat kainnya rapat, tidak menerawang namun ringan dan adem ketika dipakai. Balotelli memiliki tekstur garisgaris, dan jika diraba agak kasar.


Katun
Kain katun adalah jenis kain yang menggunakan serat kapas alami. Kain katun memiliki keunggulan mudah menyerap keringat, dingin, tidak mudah kusut, warna juga tak mudah luntur, dan sangat nyaman digunakan sehari-hari. Katun ini banyak banget jenisnya. Mulai katun jepang, katun ima, katun rayon, katun bangkok, katun paris, katun toyobo, serta jenius

gamis katun jepang

gamis katun jenius



Lycra
Bahan kain lycra masuk ke dalam jenis bahan kain spandex. Bahan kain ini memiliki sifat ringan, nyaman, elastis dan memiliki pori-pori yang sehingga sejuk jika digunakan. Bahan ini lebih kuat dari bahan kain spandex lainnya. Kain Lycra juga memiliki kelebihan tahan terhadap detergen, lotion dan keringat.

gamis bahan lycra

Roberto Cavalli
Gamis dengan bahan ini bukan gamis yang khusus saya pakai untuk sehari-hari. Bahan Roberto Cavalli sebenarnya masuk ke dalam jenis bahan kain satin atau velvet. Kelebihan Roberto Cavalli ini lebih ringan dibanding kain velvet, namun seratnya tetap rapat sehingga tidak menerawang.  Kalau satin tampilannya mengkilat, roberto cavalli justru lebih doff, namun tetap terlihat elegan. Gamis dengan bahan roberto cavalli cocok untuk mengadiri pernikahan atau acara-acara yang lebih glamour.

gamis bahan roberto cavalli


Wolly crepe
Gamis saya yang menggunakan kain wolly crepe lebih sering saya pakai saat suasana dingin. Meski tidak panas di kulit kain yang bertekstur seperti kulit jeruk ini terasa menghangatkan sehingga jika dipakai di waktu musim kemarau tetap terasa panas. Kain ini ringan, jika dipegang terasa lembut. Namun jangan salah, meski kelihatannya tebal, namun kerapatan seratnya kurang, sehingga saya masih tetap memakai celana panjang sebagai dalaman.


Untuk bahan jilbab atau khimar saya lebih banyak menggunakan diamond crepe, wolfis atau jenis bubble pop. Saya memilih tiga jenis bahan ini karena bahan yang tidak menerawang, agak tebal dan tetap jatuh sehingga nyaman dilihat.

Silakan berburu gamis ya temans ...




10 komentar:

  1. Saya sampai saat ini belum terlalu suka pakai gamis. Tapi info ini sangat bermanfaat. Bisa saya gunakan sebagai referensi saat mulai tertarik menggunakan gamis nanti. Makasih infonya, mba Irfa.

    BalasHapus
  2. Sama Mba Irfa... aku jg sekarang suka pakai gamis dengan bahan-bahan itu, meskipun kalo baloteli sering bikin gerah sih, tapi malah punya bbrp karena harganya terjangkau. hehe

    BalasHapus
  3. Semenjak saya pake gamis.. saya gak pernah tahu jenis2 kain itu apa aja yg bagus buat gamis bun... tpi skrg udah thu nih.. hehehe

    BalasHapus
  4. saya masih belum hapal benar soal jenis kain, yang paling hapal cuma kain katun hihihi...makanya kalau lagi lihat-lihat di olshop perlu buka kamus untuk paham benar jenis kainnya :D

    BalasHapus
  5. Sama mbak sudah gak begitu nyaman pakai celana jeans lebih enak gamis dan yang tak menerawang, gamis itu enaknya badan melebar masih bisa dipakai, beberapa gamis dari bahan itu semua, aku punya Alhamdulillah, ada sebagian yang sudah dihibahkan kalau menyempit 😊

    BalasHapus
  6. wah baru tahu nih mbak yg roberto cavalli ini

    BalasHapus
  7. Keren infonya mba! Btw roberto cavalli sama maxmara hampir serupa kah kainnya?

    BalasHapus
  8. Aku sih suka yg katun Jepang mbak adem soalnya

    BalasHapus
  9. kok agak-agak lupa ya sama jenis kain, udah setahun lebih ga berurusan sama dunia perkainan, hehe.

    o iya, untuk beberapa jenis kain (saya lupa jenis apa saja), ada yang setelah dicuci atau disetrika ukurannya mengkeret atau malah longgar. Jadi perlu diperhatikan karakter jenis kain yang mau dibuat. Kan ga lucu bikin gamis tapi malah mengkeret 5 cm.

    salam kenal dari jogja

    BalasHapus
  10. Koleksi gamisnya mba Irfa kece-keceee. Aku masih blm konsisten. Kadang gamis, kadang jeans 😁😁

    BalasHapus

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih